Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

Fraktur Tertutup Os Femur Dextra dan Vulnus Laseratum Regio Frontalis

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Nama Mahasiswa

: Ari Filologus Sugiarto

NIM

: 11.2013.204

Dokter Pembimbing

: dr. Budi Suanto, SpB

Tanda Tangan :

Identitas
Nama

: An. X

Nomor RM

: 103783

Umur

: 9 tahun

Jenis kelamin

: laki-laki

Pekerjaan

:-

Alamat

: Bandar Lampung

Tanggal pemeriksaan

: 26 Juli 2015

Tanggal masuk RS

: 25 Juli 2015

1. Anamnesa
Keluhan Utama :
Luka robek pada kening ukuran 8cm dan kaki kanan terasa nyeri hebat dan tidak dapat
digerakkan dua jam SMRS
Riwayat penyakit sekarang :
Os mengaku 4 jam sebelumnya os terjatuh ke lubang sumur sedalam 12m saat bermain petak
umpet. Os terjatuh dalam keadaan terlentang cenderung kekanan. Kemudian os mengalami
luka robek pada kening dan terjadi perdarahan serta kaki kanan os terasa sangat nyeri dan
tidak bisa digerakkan. Saat kejadian tersebut os tidak mengalami penurunan kesadaran dan
tidak muntah. Os belum mendapat pertolongan atau minum obat sebelumnya. Os langsung
dibawa ke UGD Rymah Sakit Imanuel.
Riwayat penyakit dahulu : -

PemeriksaanFisis
Keadaan Umum

: Tampak Sakit Sedang

Status Kesadaran

: E4V5M6, compos mentis

Keadaan Jiwa

: Baik

Tanda vital

TD : 110/70 mmHg
N : 88 kali/menit
P : 20 kali/menit
S : 36.2 C
Status Generalis
Kepala

: Normocepal

Mata

:Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), RCL (+/+),


RCTL (+/+)

Hidung

: deformitas (-)

Mulut

: Sianosis (-), lidah kotor (-), hiperemis (-)

Tenggorok

: faring hiperemis (-), tonsil T1-T1


2

Telinga

: normotia, deformitas (-), sekret (-/-)

Leher

: pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-)

Thorax

: simetris S=D, sonor (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)

Cor

: ictus cordis tidak terlihat, S1-2 murni reguler, Gallop (-),


murmur (-)

Abdomen

: Supel, peristaltik (+) normal, Nyeri tekan (-)

Ekstremitas superior

: udem (-/-), gerak (+/+), kekuatan (5/5)

Ekstremitas Inferior

: udem (-/+), gerak (+/sulit dinilai), kekuatan (5/sulit dinilai)

Status lokalis

a. Terdapat luka robek ukuran 8cm di dahi


b. Regio femur Dextra
Look :Pemendekan (+), udem (+), deformitas (+), tidak terdapat luka
robek.
Feel : Nyeri tekan (+)
Movement :Nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+)
.
Pemeriksaan Penunjang
Hematologi
Hemoglobin

13 g/dl

Hematokrit

38.8%

Eritrosit

4.93 juta/ul

Trombosit

403 ribu/ul

Leukosit

22.290/ul

Rontgen : Gambaran Complete Fracture Os Femur Dextra 1/3 Medial

1. Diagnosa
Vulnus laseratum regio frontalis dan Fraktur tertutup 1/3 medial femur
dextra
2. Penatalaksanaan
Vulnus Laseratum

IVFD RL

Debridement + jahit luka

Ceftazidime 2x1gr iv

Ketorolac 3x1

Fraktur os Femur
Konservatif

Pasang bidai

Operatif

Konsul bedah ortopedi

3. Prognosis
Quo ad vitam

: dubia ad bonam

Quo ad sanam

: dubia ad bonam

Quo ad sanationem

: dubia ad bonam

VULNUS LACERATUM
. Pengertian.
Mansjoer (2000) menyatakan Vulnus Laseratum merupakan luka terbuka
yang terdiri dari akibat kekerasan tumpul yang kuat sehingga melampaui
elastisitas kulit atau otot. (p.219).
Vulnus laceratum adalah terjadinya gangguan kontinuitas suatu jaringan
sehingga terjadi pemisahan jaringan yang semula normal, luka robek terjadi akibat
kekerasan yang hebat sehingga memutuskan jaringan.
Jenis-jenis luka
Berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan lingkungan luar, luka dibagi menjadi
luka terbuka (Vulnus appertum) dan luka tertutup.
Berdasarkan penyebabnya, luka dibagi menjadi :
- Luka akibat trauma mekanik :
o Luka akibat benda tumpul :
a.Kontusio (luka memar atau hematom)
b.Ekskoriasi (luka lecet atau abrasi) :
i. Scratch (luka lecet gores)
ii. Friction abration (luka lecet geser)
iii. Impression (luka lecet tekan)
c. Vulnus laceratum (luka robek/ luka dengan tepi tidak
beraturan)
o Luka akibat benda tajam :
a.Vulnus scisum (luka sayat atau luka iris)
b.Vulnus punctum (luka tusuk)
o Luka akibat benda setengah tajam :
a.Vulnus morsum(luka karena gigitan binatang/bite mark )
- Luka akibat trauma fisik :
o Luka akibat trauma listrik
o Luka akibat trauma suhu :
a.Vulnus combutio (luka bakar)
b.Cedera suhu dingin
o Luka akibat trauma zat kimia
o Luka akibat trauma radiasi dan ionisasi
o Vulnus caesum (luka potong)
o Vulnus Sclopetorum (luka tembak)
Berdasarkan waktunya :
- Akut : penyembuhannya dapat diperkirakan waktunya sesuai dengan
waktu yang dibutuhkan untuk melewati fase-fase penyembuhan luka.
5

- Kronis : luka yang tidak mengalami penyembuhan (sesuai fasenya)


atau sembuhtanpa perbaikan anatomi dan fungsional yang adekuat (>3
bulan).
Berdasarkan Kedalaman dan Hilangnya Lapisan Kulit :
Stadium I
: Luka superficial (Non-branching eritem) hanya mengenai lapisan
epidermis.
Stadium II
: Luka Partial thickness epidermis + dermis bagian atas
Stadium III : Luka Full thickness hilangnya kulit keseluruhan tetapi
tidak melewati jaringan yang
mendasarinya (subkutan).
Stadium IV : Luka Full thickness mencapai lapisan otot,
tendon, tulang,destruksi luas.
2. Etiologi.
Luka dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu:
1)

Trauma mekanis yang disebabkan karena tergesek, terpotong, terbentur dan


terjepit.

2) Trauma elektris dan penyebab cidera karena listrik dan petir.


3) Trauma termis, disebabkan oleh panas dan dingin.
4)

Truma kimia, disebabkan oleh zat kimia yang bersifat asam dan basa serta zat
iritif dan berbagai korosif lainnya.

3. Patofisiologi.
Menurut Price (2006:p.36), Vulnus laserrratum terjadi akibat kekerasan
benda tumpul, goresan, jatuh, kecelakaan sehingga kontuinitas jaringan terputus.
Pada umumnya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan atau
inflamasi.reaksi peradangan akan terjadi apabila jaringan terputus.dalam keadaan
ini ada peluang besar timbulnya infeksi yang sangat hebat. Nyeri timbul karena
kulit mengalami luka infeksi sehingga terjadi kerusakan jaringan.sek-sel yang
rusak akan membentuk zat kimia sehingga akan menurunkan ambang stimulus
terhadap reseptormekano sensitif dan hernosenssitif. Apabila nyeri di atas hal ini
dapat mengakibatkan gangguan rasa nyaman nyeri yang berlanjut istirahat atau
tidur terganggu dan terjadi ketertiban gerak..
4. Tanda dan Gejala.
Tanda-tanda umum adalah syok dan syndroma remuk ( cris syndroma ),
dan tanda-tanda lokal adalah biasanya terjadi nyeri dan pendarahan. Syok sering

terjadi akibat kegagalan sirkulasi perifer ditandai dengan tekanan darah menurun
hingga tidak teraba, keringat dingin dan lemah, kesadaran menurun hingga tidak
sadar.
Syok dapat terjadi akibat adanya daerah yang hancur misalnya otot-otot
pada daerah yang luka, sehingga hemoglobin turut hancur dan menumpuk di
ginjal yang mengakibatkan kelainan yang disebut lower Nepron / Neprosis,
tandanya urine berwarna merah, disuria hingga anuria dan ureum darah
meningkat.

FRAKTUR FEMUR

I.

PENDAHULUAN
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang

rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun parsial. Fraktur tidak selalu
disebabkan oleh trauma berat; kadang-kadang trauma ringan saja dapat
menimbulkan fraktur bila tulangnya sendiri terkena penyakit tertentu. Juga trauma
ringan yang terus menerus dapat menimbulkan fraktur.1,2
Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang sebelumnya
telah mengalami proses paotologik, misalnya tumor tulang primer atau sekunder,
mieloma multipel, kista tulang, osteomielitis, dan sebagainya. Trauma ringan saja
sudah dapat menimbulakan fraktur.1
Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan tetapi terus menerus,
misalnya fraktur fibula pada pelari jarak jauh, frkatur tibia pada penari balet, dan
sebagainya.1
II.

ETIOLOGI
Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan, kita

harus mengetahui kondisi fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat
menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat
menahan kompresi dan tekanan memuntir (shearing).2
Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan
membengkok, memutar dan tarikan. Trauma dapat bersifat :

Trauma langsung

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan


terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya
bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan.

Trauma tidak langsung


Disebut trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke
daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan
tangan extensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada
keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.

Tekanan pada tulang dapat berupa :

III.

Tekanan berputar yang dapat menyebabkan fraktur bersifat spiral

atau oblik
Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur

impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi


Kompresi vertikal dapat menyebabkan fraktur komunitif atau

memecah misalnya pada bahan vertebra.


Trauma langsung disertai dengan resistensi pada satu jarak tertentu

akan menyebabkan fraktur oblik atau fraktur Z


Fraktur oleh karena remuk
Trauma karena tarikan pada ligamen atau tendo akan menarik

sebagian tulang.2
PATOFISIOLOGI
Fraktur traumatik yaitu yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba.2
Fraktur patologis dapat terjadi hanya tekanan yang relatif kecil
apabila tulang telah melemah akibat osteoporosis atau penyakit lainnya.11
Fraktur stres yang terjadi karena adanya trauma yang terus menerus
pada suatu tempat tertentu.2

IV.

ANATOMI

Gambar 1. Tulang paha, femur, tampak depan, belakang, medial


*Dikutip dari kepustakaan 3
V.

KLASIFIKASI FRAKTUR.2
Klasifikasi etiologis

Fraktur traumatik
Yang terjadi karena trauma yang tiba-tiba
Fraktur patologis
Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di
dalam tulang
Fraktur stres
Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat
tertentu.
Klasifikasi klinis

Fraktur tertutup (simple fracture)


Adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.
Fraktur terbuka (compound fracture)
Adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui lika
pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam)
atau from without (dari luar)

10

Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)


Adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya malunion,
delayed union, nonunion, infeksi tulang.
Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas :

1. Lokalisasi (gambar 2.1)


Diafisial
Metafisial
Intra-artikuler
Fraktur dengan dislokasi

Gambar 2.1. klasifikasi fraktur menurut lokalisasi


a. Fraktur diafisis
c. Dislokasi dan fraktur
b. Fraktur metafisis
d. Fraktur intra-artikule
*Dikutip dari kepustakaan 2
2. Konfigurasi (gambar 2.2)
Fraktur transversal
Faktur oblik
Fraktur spiral
Fraktur Z
Fraktur segmental
Fraktur komunitif, fraktur lebih dari dua fragmen
Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo misalnya

fraktur epikondilus humeri, fraktur patela


Fraktur depresi, karena trauma langsung misalnya pada tulang
tengkorak

11

Fraktur impaksi
Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah

pada fraktur vertebra, patela, talus, kalkaneus


Fraktur epifisis

Gambar 2.2. klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi.


a. Transversal
b. Oblik
c. Spiral
d. Kupu-kupu
e. Komunitif
f. Segmental
g. Depresi
*Dikutip dari kepustakaan 2
3. Menurut ekstensi (gambar 2.3)
Fraktur total
Fraktur tidak total (fraktur crack)
Fraktur buckle atau torus
Fraktur garis rambut
Fraktur green stick

12

Gambar 2.3. Beberapa gambaran radiologik konfigurasi fraktur


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Transversal
Oblik
Segmental
Spiral dan segmental
Komunitif
Segmental
Depresi

4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya (gambar 2.4)


Tidak bergeser (undisplaced)
Bergeser (displaced)
Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara :
a)
b)
c)
d)
e)

Bersampingan
Angulasi
Rotasi
Distraksi
Over-riding

f) Impaksi

13

Gambar 2.4

FRAKTUR PADA POROS/BATANG FEMUR.


Pada patah tulang diafisis femur biasanya pendarahan dalam cukup luas
dan besar sehingga dapat menimbulkan syok. Secara klinis penderita tidak dapat
bangun, bukan saja karena nyeri, tetapi juga karena ketidakstabilan fraktur.
Biasanya seluruh tungkai bawah terotasi ke luar, terlihat lebih pendek, dan
bengkak pada bagian proksimal sebagai akibat pendarahan ke dalam jaringan
lunak. Pertautan biasanya diperoleh dengan penanganan secara tertutup, dan
normalnya memerlukan waktu 20 minggu atau lebih.6

Gambar 4.3.a.

Gambar 4.3.b.

Comminuted mid-femoral shaft fracture

Femoral

postinternal

fixation.

shaft

fracture

*Dikutip dari kepustakaan 5

14

VI.

DIAGNOSIS
A. PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
1. Syok, anemia atau pendarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan
abdomen
3. Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.2

B. PEMERIKSAAN LOKAL
1. Inspeksi (Look)

Bandingkan dengan bagian yang sehat

Perhatikan posisi anggota gerak

Keadaan umum penderita secara keseluruhan

Ekspresi wajah karena nyeri

Lidah kering atau basah

Adanya tanda-tanda anemia karena pendarahan

15

Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk


membedakan fraktur tertutup atau terbuka

Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai


beberapa hari

Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan


kependekan

Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada


organ-organ lain

Perhatikan kondisi mental penderita

Keadaan vaskularisasi.2

2. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita
biasanya mengeluh sangat nyeri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :

Temperatur setempat yang meningkat

Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya


disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat
fraktur pada tulang

Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus


dilakukan secara hati-hati

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa


palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis
posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena Refilling

16

(pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal


daerah trauma, temperatur kulit.

Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk


mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai. 2

3. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan
secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah
yang mengalami trauma. Pada penderita dengan fraktur, setiap
gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan
tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh
darah dan saraf. 2
4. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara
sensoris dan motoris serta gradasi kelainan neurologis yaitu
neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis. Kelainan saraf
yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat
menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita
serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya. 2
5.

Pemeriksaan radiologi
Macam-macam pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan
untuk menetapkan kelainan tulang dan sendi :

Foto Polos

17

Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya


fraktur. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan
untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk
menghindarkan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi
sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.
Tujuan pemeriksaan radiologis :

Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi

Untuk konfirmasi adanya fraktur

Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi


fragmen serta pergerakannya

Untuk menentukan teknik pengobatan

Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak

Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstraartikuler

Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang

Untuk melihat adanya benda asing, misalnya peluru

Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua:

Dua posisi proyeksi, dilakukan sekurang-kurangnya yaitu


pada antero-posterior dan lateral

Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di


atas dan di bawah sendi yang mengalami fraktur

Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto


pada ke dua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis.

18

Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan


fraktur pada dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur
kalkaneus atau femur, maka perlu dilakukan foto pada
panggul dan tulang belakang.

Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya


fraktur tulang skafoid foto pertama biasanya tidak jelas
sehingga biasanya diperlukan foto berikutnya 10-14 hari
kemudian.2

Gambar 5.1. Fraktur batang femur


*Dikutip dari kepustakaan 7
Pemeriksaan radiologis lainnya :
CT-Scan

: suatu jenis pemeriksaan untuk melihat

lebih detail mengenai bagian tulang atau sendi, dengan membuat


foto irisan lapis demi lapis. Pemeriksaan ini menggunakan
pesawat khusus.8
MRI

: MRI dapat digunakan untuk memeriksa

hampir semua tulang, sendi, dan jaringan lunak. MRI dapat


digunakan untuk mengidentifikasi cedera tendon, ligamen, otot,
tulang rawan, dan tulang.9
Arthografi

: memasukkan kontras positif kedalam

rongga sendi kemudian membuat foto AP dan lateral. Kontras


yang bisa dipakai urografin dan lain-lain.7

19

Pneumoartografi

: memasukkan kontras negatif, misalnya

udara atau o2 kedalam rongga sendi. Kemudian baru kita


membuat foto.8
Bone scanning

: dengan menyuntikkan bahan radioisotop

kedalam tubuh (IV), kemudian dibuat scanning pada tulang.


Biasanya dipakai Tc 99 m (technicium pertechneteit 99 m). Bisa
dilakukan whole body bone scanning.8

VII.

PENATALAKSANAAN
Prinsip Umum
Pengobatan bedah ortopedi secara umum mengikuti prinsip dasar
pengobatan

penyakit

lainnya

dan

berpedoman

kepada

hukum

penyembuhan (law of nature), sifat penyembuhan, serta sifat manusia


pada umumya. Disamping pemahaman tentang prinsip dasar pengobatan
yang rasional, metode pengobatan disesuaikan pula secara individu
terhadap setiap penderita. Pengobatan yang diberikan juga harus
berdasarkan alasan mengapa tindakan ini dilakukan serta kemungkinan
prognosisnya.2
Secara umum prinsip pengobatan bedah ortopedi adalah :

Jangan mebuat keadaan lebih buruk bagi penderita (Iatrogenik)

Pengobatan berdasarkan pada diagnosis dan prognosis yang tepat

Pilih jenis pengobatan yang sesuai dengan keadaan penyakit penderita

Ciptakan kerja sama yang baik tanpa melupakan hukum penyembuhan


alami

Pengobatan yang praktis dan logis

Pilih pengobatan secara individu

Jangan melakukan pengobatan yang tidak perlu.2

Metode pengobatan kelainan bedah ortopedi


Pada umumnya penanganan pada bidang bedah ortopedi dapat
dibagi dalam tiga cara, yaitu:

20

1. Tanpa pengobatan
Sekurang-kurangnya 50% penderita (tidak termasuk fraktur) tidak
memerlukan tindakan pengobatan dan hanya diperlukan penjelasan
serta nasihat-nasihat seperlunya dari dokter. Tapi tidak jarang penderita
belum merasa puas bila hanya diberikan nasihat (terutama oleh dokter
umum) sehingga perlu dirujuk kedokter ahli bedah tulang untuk
penjelasan rinci tentang penyakit yang diderita dan prognosisnya.2
2. Pengobatan non-operatif

Bed Rest
Bed rest merupakan salah satu jenis metode pengobatan, baik
secara umum ataupun hanya lokal dengan mengistirahatkan
anggota gerak/tulang belakang dengan cara-cara tertentu.2

Pemberian alat bantu


Alat bantu ortopedi dapat terbuat dari kayu, aluminium atau gips,
berupa bidai, gips korset, korset badan, ortosis (brace), tongkat atau
alat

jalan

lainnya.

Pemberian

alat

bantu

bertujuan

untuk

mengistirahatkan bagian tubuh yang mengalami gangguan, untuk


mengurangi beban tubuh, membanu untuk berjalan, untuk stabilisasi
sendi atau utuk mencegah deformitas yang ada bertambah berat.
Alat bantu ortopedi yang diberikan bisa bersifat sementara dengn
menggunakan bidai, gips pada badan (gips korset), bisa juga untuk
pemakaian jangka waktu lama/permanen misalnya pemberian
ortosis, protesa, tongkat atau pemberian alat jalan lainnya untuk
menyangga bagian-bagian dari anggota tubuh/anggota gerak yang
mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada penderita.2

Pemberian obat-obatan
Pemberian obat-obatan dalam bidang ortopedi meliputi:
a. Obat-obat anti-bakteri
b. Obat-obat anti inflamasi
c. Analgetik dan sedatif
d. Obat-obat khusus

21

e. Obat-obat sitostatika
f. Vitamin
g. Injeksi lokal.2
3. Pengobatan operatif
a. Amputasi
Indikasi pelaksanaan amputasi adalah:

Mengancam kelangsungan hidup penderita misalnya pada luka


remuk (crush injury), sepsis yang berat (misalnya gangren),
adanya tumor-tumor ganas.

Kematian jaringan baik akibat diabetes melitus, penyakit


vaskuler, setelah suatu trauma, kombusio atau nekrosis akibat
dingin.

Anggota gerak tidak berfungsi sama sekali (merupakan gangguan


atau benda asingsaja), sensibilitas anggota gerak hilang sama
sekali, adanya nyeri hebat, malformasi hebat atau osteomilitis
yang disertai dengan kerusakan hebat.2

b. Eksostektomi
Ini adalah operasi pengeluaran tonjolan tulang/tulang rawan
misalnya pada osteoma tulang frontal atau osteokondroma.2
c. Osteotomi
Osteotomi

merupakan

tindakan

yang

bertujuan

mengoreksi

deformitas pada tulang, misalnya osteotomi tibial akibat malunion


pada tibia (akibat angulasi atau akibat rotasi) atau pada kubitus varus
sendi siku setelah suatu fraktur suprakondiler humeri pada anak.
Osteotomi juga untuk mengurangi rasa nyeri pada osteoartritis di
suatu sendi. Pada osteoartritis akibat genu varus misalnya, untuk
mengurangi nyeri terutama pada kompartemen medial sendi lutut
dilakukan osteotomi tinggi tibia.2
d. Osteosintesis
Osteosintesis adalah operasi tulang untuk menyambung dua bagian
tulang atau lebih dengan menggunakan alat-alat fiksasi dalam seperti
plate, screw, nail plate, wire/k-wire. Teknik osteosintesis yang

22

terkenal adalah metode AO-ASIF (Association for the Study of


Internal Fixation) yang mengadakan kursus secara teratur di Davos,
Swistzerland. Prinsip dasar metode ini adalah fiksasi rigid dan
mobilisasi dini pada anggota gerak.2
e. Bone grafting (tandur alih tulang)
Dikenal tiga sumber jaringan tulang yang dapat dipakai dalam bone
graft yaitu :

Autograft
Disebut autograft bila sumber tulang berasal dari penderita senidri
(dari kristal iliaka,kosta, femur distal, tibia proksimal atau fibula).
Daerah sumber disebut daerah donor sedangkan daerah penerima
disebut resipien.

Allograft (homograft)
Disebut allograft bila sumber tulang berasal dari orang lain yang
biasanya disimpan dalam bank tulang, misalnya setelah operasi
sendi panggul atau operasi-operasi tulang yang besar. Selain itu,
allograft juga bisa dari tulang mayat.

Xenograft (heterograft)
Disebut heterograft bila sumber tulang bukan berasal dari tulang
manusia, tetapi dari spesies yang lain.2

VIII.

PROGNOSIS
Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang
menakjubkan. Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami
fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Pengertian tentang reaksi tulang
yang hidup dan periosteum pada penyembuhan fraktur mulai terjadi segera
setelah

tulang

mengalami

kerusakan

apabila

lingkungan

untuk

23

penyembuhan memadai smapai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis yang


penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting
dalam penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu
faktor yang sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.2

DAFTAR PUSTAKA
1

American Academy of Orthopaedic Surgeons. Thighbone (femur) fracture.


[online].

2008

[cited

2011

March

3];

Available

http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00364.

from:

Rasad,

URL:

Sjahriar.

Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Iwan Ekayuda (editor), FK UI,


Jakarta, 2006. Hal 31
2

Apley GA, Solomon L. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem Apley. Edisi
ke-7. Jakarta, 1995. Widya Medika;

Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Penerbit PT Yarsif

Watampone, Jakarta, 2009. Hal 82-85, 92-94, 355-361, 364


Putz, R., Pabst. R. Atlas Anotomi Manusia Sobotta Jilid 2. Edisi 21.
Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. 2000. Hal. 276,278.

24

Weissleder, R., Wittenberg, J., Harisinghani, Mukesh G., Chen, John W.


Musculoskeletal Imaging in Primer of Diagnostic Imaging, 4th Edition.

Mosby Elsevier. United States. 2007. Page 408-410


Holmes, Erskin J., Misra, Rakesh R. A-Z of Emergency Radiology.

Cambridge University, 2004. Page 140-143


Sjamsuhidat. R., De Jong. Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah.. Edisi 2. Penerbit

Buku Kedokteran. Jakarta. 2003. Hal. 880.


James
E
Keany,
MD.
Femur

http://emedicine.medscape.com/article/824856-overview#showall
Lawrence M Davis, MD. Magnetic Resonance Imaging (MRI). In site

Fracture.

In

site

http://www.emedicinehealth.com
10 Kramer. Josef., Czerny. C., Pfirrmann. Christian W., Hofmann. S.,
Scheurecker. A. In Internal Derangements of the Hip and Proximal Femur
(Including Intra- and Extra-articular Snapping Hip). Imaging of the
Musculoskeletal System. Elsevier. 2008. In site http://imaging.consult.com

25