Anda di halaman 1dari 7

SPO

ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR

PUSKESMAS
BEBER

1.

Pengertian

2.

Tujuan

3.

Kebijakan

SPO

No. Dokumen

SPOKIA.PONED.BAYI/PB/001

No. Revisi

Tanggal Terbit

02 Januari 2015

Halaman

1/6

Ditetapkan Oleh,
Kepala UPT Puskesmas DTP
Beber,

Drs. HAERIA, SKM., MKM


Pembina
NIP. 19641213 198803 1 006

Asfiksia adalah suatu keadaanbayi tidak bernafas secara spontan dan teratur
segera setelah lahir
Umum :
Melakukan penilaian, klasifikasi pada bayi baru lahir untuk mencegah
terjadinya asfiksia bayi baru lahir
Khusus :
Mencegah terjadinya asfiksia bayi baru lahir
Melakukan penatalaksanaan asfiksia bayi baru lahir
a. Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kab. Cirebon No. ........, tgl. .....
tentang ....
b. Keputusan Kepala Puskesmas Beber No. ......., tgl. ..... tentang .....

4.

Referensi

1. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentag kesehatan Masyarakat


bahwa tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya berkewajiban
untuk mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien
2. Peraturan Mentri Kesehatan Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang
standar pelayanan minimal bidang kesehatan di Kabupaten/Kota
3. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/SK/II/2004 tentang
Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat
4. UU no 22 tahun 2003 tentang perlindungan anak
5. UU no 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah
6. KEPMENKES RI no 284/Menkes/SK/VII/2006 tentang Pedoman Buku
Kesehatan Ibu dan Anak
7. Perda no 5 tahun 2006 tentang perlindungan anak
8. KEPMENKES RI no 564/Menkes/SK/VII/2006 tentang pedoman
pelaksanaan pengembangan desa siaga
9. KEPMENKES RI no 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan
praktik bidan

5.

Prosedur

a. Persiapan Bahan dan Alat :


1. PERSIAPAN RESUSITASI BBL
Menyiapkan resusitasi BBL sebelum menolong setiap persalinan
A. Persiapan keluarga
1). Membahas dengan keluarga persiapan resusitasi BBL
B. Persiapan tempat
1). Menyiapkan ruangan yang bersih, hangat tidak ada angin dan
terang
2). Menyiapkan tempat resusitasi yang datar, rata, keras, bersih, kering
dan hangat
C. Persiapan alat resusitasi
1. Menyiapkan alat lengkap yaitu :
a. Kain 2 helai
b. Alat penghisap lendir de lee yang steril atau balon karet di
dalam box

c. Menyediakan tabung dan sungkup atau balon di dalam box


d. Jam atau pencatat waktu (stop watch) untuk mencatat waktu
e. Sarung tangan untukmencegah infeksi
2. Meletakkan kain 1 diperut ibu atau kira-kira 45 cm dari perinium
ibu
3. Menggelar kain ke 2 menutupi tempat resusitasi
4. Menggulung kain ke 3 untuk ganjal bayi
5. Meletakkan kotak alat dekat tempat resusitasi
D. Persiapan diri
1). Mengenakan alat pelindung diri pada persalinan
2). Mencuci kedua tangan dengan air mengalir dan sabun lalu
keringkan
3). Mengenakan kedua sarung tangan menjelang kelahiran
b. Langkah Langkah Prosedur :
2. PENILAIAN KEPUTUSAN TINDAKAN BBL
A. Penilaian resusitasi BBL
Penilaian resusitasi BBL sebelum lahir
1. Apakah kehamilan cukup bulan?
Sebelum bayi lahir, sesudah ketuban pecah
Penilaian resusitasi sesudah bayi lahir
1. Menilai apakah menangis atau bernafas / megap-megap
2. Menilai apakah tonus otot baik / tidak baik
B. Keputusan resusitasi BBL
1. Memutuskan resusitasi bila air ketuban bercampus mekonium
2. Memutuskan resusitasi bila kehamilan tidak cukup bulan dan atau
bayi megap-megap / tidak bernafas dan atau tonus otot tidak baik
C. Tindakan resusitasi BBl
1. Memotong tali pusat dengan cepat, tidak diikat atau dibubuhi
apapun
2. Memberi tahu keluarga minta jaga ibu, dan siap memulai
resusitasi
3. TINDAKAN RESUSITASI BBL : LANGKAH AWAL
Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap lakukan langkah berikut :
A. Jaga bayi tetap hangat
1. Menyelimuti bayi dengan kain kering
2. Memindahkan bayi terselimuti ke tempat resusitasi yang disiapkan
B. Atur posisi bayi
1. Meletakkkan bayi terlentang dengan ganjal kain di bawah
bahunya
2. Mengatur posisi kepala bayi sedikit ekstensi agar jalan nafas
terbuka
C. Isap lendir
1. Menghsap lendir dengan alat penghisap lendir de lee atau bola
karet
2. Melakukan penghisapan lendir pada mulut dulu sedalam 5cm
Melakukan hisap lendir pada hidung sampaibatas cuping hidung
3. Menhisap lendir saat ujung khateter didalam mulut dan saat
menarik khateter keluar, tidak waktu memasukannya
D. Keringkan dan rangsang bayi
1. Mengeringkan bayi mulai muka, kepala, tubuh dengan sedikit
tekanan
2. Menepuk atau menyentil telapak kaki bayi atau menggosok
punggung atau perut / dada / tungkai bayi dengan telapak tangan
3. Menyelimuti bayi dengan kain kering, muka dan dada terbuka
E. Atur posisi kepala bayi
1. Mengatur kembali posisikepala bayi agar sedikit ekstensi
2. Seluruh kegiatan langkah awal dilakukan dalam 30 detik

F. Lakukan penilaian keputusan tindakan BBL


1. Menilai apakah bayi bernafas normal, megap-megap, atau tidak
bernafas
2. Melakukan asuhan pasca resusitasi jika bernafas normal
3. Memulai ventilasi jika megap-megap atau tak bernafas
Bila air ketuban bercampur mekonium lakukan langkah berikut :
Setelah seluruh badan bayi lahir
4. Menilai apakah menangis atau bernafas / bernafas normal /
megap-megap / tak bernafas
Jika menangis atau bernafas normal
5. Memotong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan dibubuhi
apapun dilanjutkan dengan langkah awal
Jika bayi megap-megap atau tidak bernafas
6. Membuka lebar mulut bayi, usap mulut bayi, isap lendir,
memotong tali pusat dengan cepat
7. Langkah awal
4. VENTILASI
A. Pasang sungkup
1. Memasang sungkup pada muka bayi, menutup hidung, mulut,
dagu
B. Lekukan ventilasi 2x
1. Meniup udara melalui alat tabung dan sungkup atau memompa
alat balon dan sungkup ke mulut dan hidung bayi 2 x (dengan
tekanan 30cm air)
2. Melihat apakah dada bayi mengembang saat ditiup atau dipompa,
jika dada bayi tidak berkembang
3. Memeriksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara bocor
4. Memeriksa posisi kepala dan membetulkan agar posisi sedikit
ekstensi
5. Memeriksa apakah ada cairan / lendir dimulut dan menghisap bila
ada
6. Meniup udara melalui alat tabung dan sungkup / memompa alat
balon dan sungkup ke mulut dan hidung bayi 2 x dengan tekanan
30 cm air. Jika dada bayi mengembang :
7. Melanjutkan langkah ventilasi jika dada bayi mengembang
C. Lakukan ventilasi 20 x dalam 30 detik
1. melakukan ventilasi sebanyak 20x dalam 30 detik (tekanan 20cm
air)
Lakukan penilaian keputusan tindakan BBL
2. menilai usaha nafas
Jika bernafas spontan
3. menghentikan ventilasi bertahap
4. melakukan asuhan pasca resusitasi
Jika megap-megap / tidak bernafas
5. mengulangi ventilasi sebanyak 20x dalam 30 detik
D. Hentikakn ventilasi dan nilai bayi tiap 30 detik
1. Menghentikan ventilasi setiap 30 detik
2. Menilai usaha nafas
Jika bernafas spontan
3. Menghentikan ventilasi bertahap
4. Melakukan asuhan pasca resusitasi
Jika megap-megap / tidakbernafas
5. Mengulangi resusitasi sebanyak 20x dalam 30 detik
6. Hentikan ventilasi dan nilai frekuensi jantung, nafas tiap ventilasi
30 detik
E. Jika megap=megap atau tidak bernafas sesudah 2menit resusitasi
1. Meneruskan ventilasi 20x dalam 30 detik

2. Hentikan ventilasi dan nilai nafas tiap 30 detik


3. Menyiapkan rujukan bayi bersama ibunya sesuai dengan pedoman
F. Bila tidak bernafas setelah 10 menit resusitasi
Pertimbangkan menghentikan ventilasi sesudah resusitasi 10menit dan
tidak terdengan denyut jantung
5. MEMBUAT CATATAN RESUSITASI
1. Tanggal dan jam lahir
2. Kondisi bayi saat baru lahir
3. Jam mulai resusitasi
4. Tindakan resusitasi yang dilakukan
5. Hasil resusitasi
6. PEMANTAUAN DAN DUKUNGAN
Asuhan pascaresusitasi
Bila resusitasi berhasil
A. Lakukan pemantauan tanda bahaya pada bayi
1. Mengamati adanya nafas megap-megap
2. Mengamati apakah bayi merintih
3. Mengamati adanya tarikan dinding dada
4. Mengamati apakah tubuh dan bibir biru
5. Menghitung frekuensi nafas, apakah 40x permenit atau >60x
permenit
6. Menghitung frekuensi jantung apakah 120x /menit atau
>160x/menit
7. Mengamati apakah tubuh bayi pucat
8. Mengamati apakah tubuh bayi kuning
9. Mengamati apakah bayi lemas
10. Mengamati apakah bayi kejang
11. Merujuk segera bila ada salah satu tanda tanda bahay
12. Melakukan tindakan pra rujukan
B. Lakukan pemantauan dan perawatan tali pusat
13. Memantau perdarahan tali pusat jika ikatan lepas betulkan
14. Menjelaskan perawatan tali pusat yang benar
C. Bila nafas bayi dan warna kulit normal, berikan bayi kepada ibunya
15. Meletakkan bayi didada ibu (kulit ke kulit) menyelimuti keduanya
16. Membantu ibu untuk menyusui bayi dalam 1 jam pertama
17. Menganjurkan ibu untuk mengusap bayinya dengan kasih sayang
D. Pencegahan hipotermi
18. Membaringkan bayi dalam ruangan lebih darin 25C bersama
ibunya
19. Mendekap bayi dengan lekatan kulit ke kulit sesering mungkin
20. Menunda memandikan bayi sampai dengan 6-24 jam
21. Mengukur panjang badan dan lingkar kepala bayi
22. Menimbang BB terselimuti, kurangi berat selimut
23. Menjaga bayi tetap hangat selama pemeriksaan, buka selimut bayi
sebagian - sebagian
E. Pemberian Vit K
24. Memberikan suntikan Vit K1di paha kiri 1mg IM
F. Pencegahan infeksi
25. Memberikan salp mata antibiotik
26. Memberikan suntikan hepatitis B di paha kanan 0,5mg 1-2jam
setelah pemberian Vit K 1
27. Memberitahu ibu dan keluarga cara pencegahan infeksi pada bayi
G. Pemeriksaan fisik
28. melihat dan meraba kepala bayi
29. melhat mata bayi
30. melihat mulut dan bibir bayi
31. melihat dan meraba punggung bayi

32. melihat dan meraba lengan dan tungkai, gerakan tumit, menghitung
jumlah jari
33. melihat alat kelamin danmenentukan jenis kelamin, adakah kelainan
34. memastikan adakah lobang anus dan uretra, adakah kelainan
35. memastikan adakah BAB dan BAK
H. Pencatatan dan pelaporan
36. Melakukan pencatatan dan pelaporan kasus
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.

BILA PERLU RUJUKAN


Melakukan konseling untuk merujuk bayi beserta ibu dan keluarga
Melanjutkan resusitasi
Memantau tanda bahaya
Memantau tali pusat
Mencegah hipotermi
Memberikan Vit K
Mencegah infeksi
Membuat surat rujukan
Melakukan pencatatan dan pelaporan kasus

BILA RESUSITASI TIDAK BERHASIL


46. Melakukan konseling kepada ibu dan keluarga
47. Memberikan petunjuk perawatan payudara
48. Melakukan pencatatan dan pelaporan kasus

6.

Unit Terkait

ASUHA PASCA LAHIR (2 24 JAM)


A. Lakukan pemantauan tanda bahaya
1. Mengamati adanya nafas megap-megap
2. Mengamati apakah bayi merintih
3. Mengamati adanya tarikan dinding dada
4. Mengamati apakah tubuh dan bibir biru
5. Menghitung frekuensi nafas, apakah 40x/ menit atau > 60x /
menit
6. Mengamati apakah tubuh bayi pucat
7. Mengamati apakah tubuh bayikuning
8. Mengamati apakah bayi lemas
9. Mengamati apakah bayi kejang
10. Memberitahu keluarga untuk ikut memantau tanda bahaya
11. Merujuk segera bila ada salah satu tanda bahaya
12. Melakukan tindakan pra rujukan
B. Lakukan pemantauan dan perawatan tali pusat
13. Menjelaskan perawatan tai pusat yang benar
14. Memantau perdarahan tali pusat
15. Jika lepas betulkan, jika keluar nanah dan berbau, bersihkan tali
pusat dengan kasa bersih dan air hangat, oleskan gentian violet 0,5
% ataupovidon iodin 2,5%, RUJUK
C. Pencegahan hipotermi
16. Membaringkan bayi dalam ruangan lebih dari 25C bersama
ibunya
17. Mendekap bayi dengan lekatan kulit ke kulit sesering mungkin
18. Menund memandikan bayi sampai 6-24 jam
D. Konseling menyusui
19. Memberikan konseling ASI Eklusif
20. Melanjutkan menyusui
21. Memastikan posisi menyusui benar
22. Memastikan perlekatan mulut bayi ke payudara ibu benar
E. Pencatatan dan pelaporan kasus
23. Melakukan pencatatan dan pelaporan kasus
RS
Puskesmas

7.

Dokumen Terkait

8.

Diagram Alir

Posyandu
Bidan praktek swasta
Dokter spesialis anak
Buku Saku Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial
Manajemen Asfiksi Bayi Baru Lahir Untuk Bidan Tahun 2010

Puskesmas Beber

Heading Halaman 2 dst.....

8.

Diagram Alir

SPO
ASFIKSIA BAYI
BARU LAHIR

No. Dokumen : SOPKIA.PONED.BAYI/PB/001

No. Revisi : 0

Halaman :6/6