Anda di halaman 1dari 85

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Perairan Jepara merupakan salah satu perairan yang dimanfaatkan
dalam kegiatan sehari hari penduduk sekitar seperti mencari ikan, budidaya
rumput laut dan lain-lain. Lokasi ini juga sering digunakan untuk penelitian
mahasiswa khususnya mahasiswa Undip. Perairan Jepara yang sering
digunakan dalam penelitian mahasiswa ini adalah pantai Teluk Awur Jepara.
Pantai ini memiliki keuntungan yang memudahkan dalam penelitian. Dimana
pada pantai ini tersedia dermaga untuk kapal kecil atau sopek.
Sehingga dapat digunakan untuk memasang palem pasut, maupun
palem gelombang. Yang mana dapat memudahkan untuk penelitian metode
oseanografi. Metode oseanografi adalah metode yang digunakan untuk
mengetahui data data oseanografi maupun fenomena yang terjadi di laut.
Seperti gelombang, arus, pasang surut, kualitas perairan, sedimen transpor,
dan bathimetri. Metode ini penting untuk dipelajari mahasiswa osenaogarfi
karena dengan metode ini kita dapat mengetahui cara memperoleh data - data
osenaografi yang nantinya dapat digunakan untuk kepentingan lainnya.
I.2 Pendekatan dan Perumusan Masalah
1.
Cara mendapatkan data data oseanografi yang akurat.
2.
Faktor faktor yang mempengaruhi nilai data data oseanografi.

I.3 Tujuan dan Manfaat Praktikum


I.3.1 Tujuan
a. Gelombang
Mahasiswa dapat mengetahui cara pengambilan data tinggi dan
periode gelombang.
b. Arus Laut
1

1. Mengetahui pengukuran arus laut dengan menggunakan metode


Langrange.
2. Mengetahui

besarnya

kecepatan

arus

dengan

perhitungan

menggunakan bola duga.


3. Memahami kondisi arus di perairan Jepara.
c. Pasang Surut
1. Mahasiswa dapat menghitung MSL di Teluk Awur Jepara untuk
digunakan sebagai verifikasi batimetri.
2. Mahasiswa dapat membuat grafik pasang surut.
3. Mahasiswa dapat mengetahui tipe pasang surut di Teluk Awur
Jepara.
d. Kualitas Perairan
1. Mahasiswa mengetahui kualitas perairan.
2. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran

parameter-

parameter kualitas perairan.


e. Sedimen
Mahasiswa dapat mengetahui metode pengambilan sampel sedimen
dan menganalisa laju sedimentasi.
f. Batimetri
1. Mahasiswa dapat memahami dan melakukan langkah-langkah

I.3.2

survei batimetri sampai diperoleh hasil data yang dibutuhkan.


2. Mahasiswa mampu memahami penggunaan alat echosounder.
3. Mengoreksi nilai batimetri dengan nilai pasang surut.
Manfaat
Manfaat praktikum ini adalah mengetahui metode yang digunakan

untuk mendapatakan data data oseanografi.


I.4 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan di lapangan dan di laboratorium. Pada tanggal
13, Desember 2014 dilakukan pengambilan data lapangan di perairan Teluk
Awur Jepara. Sedangkan pengholahan data dilakukan di rumah. Lokasi
pengambilan data lapangan dapat dilihat pada Gambar peta lokasi.

Gambar 1. Peta lokasi penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Gelombang
II.1.1 Definisi gelombang
Gelombang merupakan faktor penting dalam perencanaan pelabuhan
dan bangunan pantai lainnya. Gelombang di laut dapat dibedakan menjadi
beberapa macam tergantung pada daya pembangkitnya. Gelombang
tersebut adalah gelombang angin yang dibangkitkan oleh tiupan angin di
permukaan laut, gelombang pasang surut dibangkitkan oleh gaya tarik
benda-benda langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi, gelombang
tsunami terjadi karena letusan gunung berapi atau gempa di laut,
gelombang yang dibangkitkan oleh kapal yang bergerak (Triatmodjo,
1999).
Pada umumnya gelombang terjadi karena hembusan angin di
permukaan air laut. Daerah di mana gelombang itu dibentuk disebut daerah
pembangkitan gelombang (wave generating area). Gelombang yang terjadi
di daerah pembangkitan disebut sea, sedangkan gelombang yang terbentuk
di luar daerah pembangkitan disebut swell. Ketika gelombang menjalar,
partikel air di permukaan bergerak dalam suatu lingkaran besar membentuk
puncak gelombang pada puncak lingkarannya dan lembah pada lintasan
terendah. Di bawah permukaan, air bergerak dalam lingkaran-lingkaran
yang makin kecil. Saat gelombang mendekati pantai, bagian bawah
gelombang akan mulai bergesekan dengan dasar laut yang menyebabkan
pecahnya gelombang dan terjadi putaran pada dasar laut yang dapat
membawa material dari dasar pantai serta menyebabkan perubahan profil
pantai (Triatmodjo, 1999).
4

II.1.2 Proses terbentuknya gelombang


Pertama angin bertiup di atas permukaan laut yang tenang sehingga
membentuk geelombang - gelombang kecil atau ripples. Ripples tersebut
akan membentuk kekasaran muka laut yang dapat membantu transfer energi
dari angin. Angin terus menerus berhembus sehingga gelombang yang ada
pun semakin tinggi dan besar. Jika angin terus menerus bertiup gelombang
tersebut akan mencapai titk jenuhnya atau biasa disebut dengan fully
develop sea (Triatmodjo, 1999).
Angin di atas lautan mentransfer energinya ke perairan ,menyebabkan
riak-riak, alun atau bukit, dan berubah menjadi apa yang kitasebut sebagai
gelombang. Dalam bidang oseanografi, Ombak dikenal sebagai gelombang
dalam (internal wave). Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada
ketinggian gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan
gelombang yang lebih besar. Gelombang yang menjalar dari laut dalam
(deep water) menuju ke pantai akan mengalami perubahan bentuk karena
adanya perubahan kedalaman laut.

II.1.3 Parameter gelombang

Gambar 2. Parameter Gelombang


Panjang gelombang (L) adalah jarak horizontal antara puncak tertinggi

dan puncak terendah pada puncak dan lembah gelombang.


Periode Gelombang (T) adalah waktu yang dibutuhkan oleh dua

puncak atau lembah gelombang yang berurutan melewati titik tertentu.


Kecepatan rambat gelombang (Celerity) (C) merupakan perbandingan
antara panjang gelombang dan periode gelombang (L/T). Ketika
gelombang air menjalar dengan kecepatan C, partikel air tidak turut

bergerak ke arah permabtan gelombang.


Amplitudo (a) adalah jarak antara puncak/titik tertinggi gelombang
atau lembah atau titik terendah gelombang dengan muka air tenang
(H/2).
(Pratikto, Armono, dan Suntoyo, 1996).

II.1.4 Klasifikasi gelombang


Klasifikasi berdasarkan periode
Tabel 1. Klasifikasi Gelombang

Periode

Jenis Gelombang

< 0.1 detik

Kapiler

0.1 detik 1 detik

Ultra gravitasi

1 detik 30 detik

Gravitasi

30 detik 5 menit

Infra gravitasi

5 menit 12 jam

Periode panjang

12 jam 24 jam

Pasut laut
(Pratikto, Armono, dan Suntoyo, 1996).

Klasifikasi berdasarkan kedalaman relatif

d/L < 0,05


Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombang suatu perairan
kurang dari 0,05 maka disebut sebagai gelombang perairan dangkal

atau gelombang panjang.


0,05 < d/L < 0,5
Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombangsuatu perairan
berada diantara 0,05 sampai 0,5 maka disebut sebagai gelombang

perairan menengah.
d/L > 0,5
Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombangsuatu perairan
lebih besar dari 0,5 maka disebut gelombangperairan dalam.
(Pratikto, Armono, dan Suntoyo, 1996).

II.1.5 Macam-macam metode pengukuran gelombang


Macam-macam metode pengukuran gelombang antara lain sebagai berikut :
1. Metode Langsung
Merupakan metode pengukuran gelombang pada lokasi secara
langsung (misalnya menggunakan papan berskala, meteran, serta
wave rider atau wave recorder)
2. Metode Tak Langsung

Merupakan metode pengukuran gelombang melalui informasi atau


perekaman dari citra satelit.
(Pratikto, Armono, dan Suntoyo, 1996).
II.2 Arus Laut
II.2.1 Sirkulasi arus laut
Sirkulasi dari arus laut terbagi atas dua kategori yaitu sirkulasi di
permukaan laut (surface circulation) dan sirkulasi di dalam laut
(intermediate or deep circulation). Arus pada sirkulasi di permukaan laut
didominasi oleh arus yang ditimbulkan oleh angin sedangkan sirkulasi di
dalam laut didominasi oleh arus termohalin. Arus termohalin timbul sebagai
akibat adanya perbedaan densitas karena berubahnya suhu dan salinitas
massa air laut. Perlu diingat bahwa arus termohalin dapat pula terjadi di
permukaan laut demikian juga dengan arus yang ditimbulkan oleh angin
dapat terjadi hingga dasar laut. Sirkulasi yang digerakan oleh angin terbatas
pada gerakan horisontal dari lapisan atas air laut. Berbeda dengan sirkulasi
yang digerakan angin secara horisontal, sirkulasi termohalin mempunyai
komponen gerakan vertikal dan merupakan agen dari pencampuran massa
air di lapisan dalam (Nining, 2002).
II.2.2 Jenis-jenis arus laut
Menurut Gross (1990), arus dibedakan menjadi empat golongan:
1. Arus Ekman
Arus ini disebabkan karena gesekan angin dan bergerak secara spiral
di laut dalam
2. Arus Pasang Surut
Arus disebabkan karena adanya gaya pembangkit pasang surut,
seperti bulan. Arus dengan kecepatan yang lemah, baik pada saat air
sedang pasang atau surut, umumnya terukur pada kawasan yang
dekat dengan garis pantai. Hal ini berkaitan dengan adanya gesekan
dengan dasar perairan.

3. Arus Thermohaline
Arus di sebabkan karena kemiringan atau perbedaan densitas laut
4. Arus Geostropik
Disebabkan karena terjadi keseimbangan antar gaya gradient dengan
gaya coriolis pada dua gradient yang memiliki densitas berbeda. Di
Selat Sunda arus geostrofik yang timbul akibat adanya keseimbangan
antara gaya gradient tekanan dan gaya Coriolis ini akan
menyebabkan massa air mengalir ke arah barat apabila kecepatan
arus geostrofik permukaan bernilai negatif dan mengalir ke arah
timur apabila kecepatan arus geostrofik permukaan bernilai positif.
Sedangkan menurut ahli yang lain, terdapat beberapa jenis arus,
antara lain :
1. Arus Pasang Surut
Terjadi karena perubahan permukaan air laut akibat pasang
surut. Pasang surut laut merupakan fenomena naik turunnya muka
laut secara periodic yang terjadi diseluruh belahan bumi akibat
adanya gaya pembangkit pasang surut yang utamanya berasal dari
matahari dan bulan. Kecepatan maksimum arus umumnya tercapai
pada waktu menjelang pasang dan menjelang surut. Arah pasang
surut sangat di pengaruhi oleh kondisi lingkungan atau topografi
setempat. Pada daerah pantai arus pasang surut terbesar umunya
sejajar dengan garis pantai.
2. Arus yang diakibatkan oleh angin
Merupakan arus dominan yang terjadi di lapisan permukaan
perairan laut lepas. Tiupan angin menyebabkan terjadinya
pembalikan sirkulasi air laut mengikuti pola tiupan angin. Jenis

arus mempunyai arah dan kecepatan yang berbeda sesuai dengan


pertambahan kedalaman air.
3. Arus yang dikarenakan perbedaan densitas
4. Arus yang terjadi karena adanya perbedaan ketinggian permukaan
laut secara mendatar akibat beda densitas air. Umumnya terjadi di
daerah muara. Perairan yang didominasi oleh arus jenis ini
mempunyai sirkulasi dua arah dengan arah arus lapisan permukaan
yang berdensitas lebih rendah berlawanan dengan arus di lapisan
dekat dasar perairan.
(Nining, 2002).
II.2.3 Hubungan arus laut dengan faktor hidro-oseanografi lain
a. Hubungan arus laut dengan gelombang
Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam
bidang teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut).
Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh
pada

bangunan-bangunan

pantai.

Energi

gelombang

akan

membangkitkan arus dan mempengaruhi pergerakan sedimen dalam


arah tegak lurus pantai (cross-shore) dan sejajar pantai (longshore)
(Nining, 2002).
b. Hubungan arus laut dengan pasang surut
Gerakan air vertikal yang berhubungan dengan naik dan turunnya
pasangsurut, diiringi oleh gerakan air horizontal yang disebut dengan
arus pasang surut. Permukaan air lautsenantiasa berubah-ubah setiap
saat karena gerakan pasut,keadaan ini juga terjadi pada tempat-tempat
sempit seperti teluk dan selat, sehingga menimbulkan arus pasut (tidal
current) (Nining, 2002).

10

Naik dan turunnya permukaan laut secara periodik selama suatu


interval waktu tertentu disebut pasang surut. Pasang surut merupakan
faktor lingkungan yang paling penting yang mempengaruhi kehidupan
dizona intertidal / tanpa adanya pasang surut atau hal lain yang
menyebabkan naik dan turunnya permukaan air secara periodik zona ini
tidak akan seperti itu. Dan faktor-faktor lain akan kehilangan
pengaruhnya. Ini disebabkan kisaran yang luas pada banyak faktor fisik
akibat hubungan langsung yang bergantiaan antara keadaan terkena
udara terbuka dan keadaan yang terendam air. Jika tidak ada pasang
surut fluktuasi yang besar ini tidak akan terjadi (Nybakken,1988).
II.2.4 Macam-macam metode pengukuran arus laut
Terdapat berbagai metode untuk mengamati arus, di antaranya adalah
metode Euler dan metode Lagrange.
a

Metode Euler
Metode Euler merupakan metode pengukuran arus pada lokasi
yang tetap pada kurun waktu tertentu. Nama metode Euler sendiri
diambil dari nama matematikawan Swiss Leonhard Euler (1707-1783)
yang pertama kali merumuskan persamaan pergerakan fluida. Metode
ini dipakai pada pengukuran menggunakan current meter (Davis, 1991).

Metode Lagrange
Metode yang ditemukan oleh Joseph Lagrange (1736-1811),
seorang matematikawan Prancis ini merupakan metode

pengukuran

arus dengan mengikuti jejak suatu alat (biasanya pelampung). Metode

11

ini secara konvensional dilakukan dengan cara terjun langsung ke


lapangan untuk mendapatkan data jarak, lokasi, dan waktu pengukuran.
Karena

pergerakan pelampung yang dekat dengan permukaan laut,

gerakan pelampung sangat dipengaruhi oleh tarikan angin dan dorongan


gelombang.

Pergerakan

pelampung

tidak

terkontrol,

sehingga

memungkinkan jejaknya tidak ditemukan (Davis, 1991).


II.3 Pasang Surut
II.3.1 Pengertian pasang surut
Pasang surut merupakan fluktuasi muka air laut sebagai fungsi waktu
karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan
bulan terhadap massa air di bumi (Yunita, 2013).
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik
turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh
kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda
astronomi terutama oleh matahari, bumi, dan bulan. Pasang surut dan arus
yang dibangkitkan pasang surut sangat dominan dalam proses sirkulasi
massa air di perairan pesisir (Duxbury et al., 2002). Pengetahuan mengenai
pasang surut dan pola sirkulasi arus pasang surut di perairan pesisir dapat
memberikan indikasi tentang pergerakan massa air serta kaitannya sebagai
faktor yang dapat mempengaruhi distribusi suatu material di dalam kolom
air (Arifin, 2012).
Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah gelombang
disebut pasang rendah. Perbedaan vertikal antara pasang tinggi dan pasang
rendah disebut rentang pasang surut (tidal range). Pasang surut sering

12

disingkat dengan pasut adalah gerakan naik turunnya permukaan air laut
secara berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari,
dimana matahari mempunyai massa 27 juta kali lebih besar dibandingkan
dengan bulan, tetapi jaraknya sangat jauh dari bumi (rata-rata 149,6 juta
km) sedangkan bulan sebagai satelit bumi berjarak (rata-rata 381.160 km).
Dalam mekanika alam semesta jarak sangat menentukan dibandingkan
dengan massa, oleh sebab itu bulan lebih mempunyai peran besar
dibandingkan matahari dalam menentukan pasut. Secara perhitungan
matematis daya tarik bulan 2,25 kali lebih kuat dibandingkan matahari
(Musrifin, 2011).
II.3.2 Gaya-gaya pembangkit pasang surut
Gaya-gaya pembangkit pasang surut disebabkan oleh gaya tarik
menarik antara bumi, bulan dan matahari. Bulan memberikan gaya tarik
(gravitasi) yang lebih besar dibandingkan matahari dikarena kan posisi
bulan lebih dekat ke bumi, walaupun massa bulan jauh lebih kecil dari pada
matahari. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari
dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut.
Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara
sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari . Perbedaan
vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah disebut rentang pasang
surut (tidal range). Periode pasang surut adalah waktu antara puncak atau
lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang berikutnya. Periode
pasang laut adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak
atau lembah gelombang berikutnya. Panjang periode pasang surut
13

bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam 50 menit (Triatmodjo,


1999)
Gaya tarik menarik antara bumi dan bulan tersebut menyebabkan
sistem bumi-bulan menjadi satu sistem kesatuan yang beredar bersamasama sekeliling sumbu perputaran bersama (common axis of revolution).
Sumbu perputaran bersama ini adalah pusat berat dari sistem bumi-bulan
yang berada di bumi dengan jarak 1718 km di bawah permukaan bumi.
Selama peredaran tersebut, setiap titik di bumi beredar sekeliling pusatnya
dalam orbit berbentuk lingkaran dengan jari-jari sama dengan jari-jari dari
revolusi pusat massa bumi sekeliling sumbu perputaran bersama. Jari-jari
tersebut sama dengan jarak antara pusat massa bumi dan sumbu perputaran
bersama (Triatmodjo, 1999).
II.3.3 Klasifikasi pasang surut
Pasang surut yang terjadi pada air laut bisa dibedakan menjadi dua
jenis berdarsakan ketinggain air saat mengalami periode pasang surut,
diantaranya adalah :
1.

Pasang Laut Purnama


Keadaan pasang yang terjadi saat bumi, bulan dan matahari berada
dalam suatu garis lurus. Dalam keadaan ini, air laut akan mengalami

2.

air pasang yang sangat tinggi dengan titik surut yang sangat rendah.
Pasang Laur Perbani
Pasang terjadi saat bumi, bulan dan matahari membentuk suatu sudut
tegak lurus. Dalam keadaan ini, pasang yang terjadi hanya mengalami
sedikit kenaikan permukaan air dengan titik surut yang cukup tinggi.

14

Keadaan ini umumnya terjadi pada saat bulan berada dalam kondisi
seperempat atau tigaperempat
(Nining, 2002).
II.3.4 Muka air rata-rata (MSL)
Elevasi muka air merupakan parameter sangat penting dalam
perencanaan bangunan pantai. Beberapa proses alam yang terjadi dalam
waktu yang bersamaan membentuk variasi muka air laut dengan periode
panjang. Proses alam tersebut meliputi tsunami, gelombang badai (storm
surge), kenaikan muka air karena gelombang (wave set-up), kenaikan muka
air karena perubahan suhu global, dan pasang surut, Diantara beberapa
proses tersebut fluktuasi muka air karena badai dan tsunami (gempa) tidak
dapat ditentukan (diprediksi) kapan terjadinya, Sedangkan pasang surut
mudah diprediksi dan diukur baik besar maupun terjadinya. Fluktuasi muka
air laut karena tsunami, pasang surut dan gelombang badai adalah periodik
dengan periode berbeda, mulai dari beberapa menit (tsunami), setengah hari
atau satu hari (pasang surut), dan beberapa hari (gelombang badai).
Sedangkan kenaikan muka air laut karena perubahan suhu global selalu
bertambah dengan pertambahan waktu (Triatmodjo, 1999).
II.3.5 Metode pengamatan pasang surut
Pengamatan pasut dilakukan untuk memperoleh data tinggi muka air
laut di suatu lokasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat
ditetapkan datum vertikal tertentu sesuai untuk keperluan-keperluan
tertentu pula. Pengamatan pasut dilakukan dengan mencatat atau merekam
data tinggi muka air laut pada setiap interval waktu terntentu. Rentang

15

pengamatan pasut sebaiknya dilakukan selama selang waktu keseluruhan


periodisasi benda benda langit yang mempengaruhi terjadinya pasut telah
kembali pada posisinya semula. Rentang waktu pengamtan pasut yang
lazim dilakukan untuk keperluan praktis adalah 15 atau 29 piantan (1
piantan = 25 jam). Interval waktu pencatatan atau perekaman tinggi muka
air laut biasanya adalah 15, 30 atau 60 menit (Nining, 2002).
Cara yang paling sederhana untuk mengamati pasut dilakukan dengan
palem atau rambu pengamat pasut. Tinggi muka air setiap jam diamati
secara manual oleh operator (pencatat) dan dicatat pada suatu fomrulir
pengamatan pasut. Pada palem dilukis tanda-tanda skala bacaan dalam
satuan desimeter. Pencatat akan menuliskan kedudukan tinggi muka air laut
relatif terhadap palem pada jam-jam tertentu sesuai dnegan skala bacaan
yang tertulis pada palem. Muka air laut yang relatif tidak tenang membatasi
kemampuan pencatatan dalam menaksir bacaan skala. Walaupun demikian,
cara ini cukup efekti untuk memperoleh data pasut dengan ketelitian hinga
sekitar 2,5 cm. Tinggi palem disesuaikan dengan karakter tunggang air pada
wilayah periaran yang diamati pola pasutnya, yang biasanya sekitar 4
hingga 6 meter (Nining, 2002).
II.3.6 Dinamika Pantai Teluk Awur
Pantai Teluk Awur di wilayah jepara adalah tergolong ke dalam Pantai
Utara Jawa yang memiliki karakteristik gelombang dan arusnya yang
cenderung lemah, sehingga proses sedimentasi yang terjadi pada wilayah
Teluk Awur tersebut juga tinggi dan terbukti pada wilayah tersebut adanya

16

mercu suara yang berdiri cukup jauh dari bibir pantai yang menandakan
adanya kenaikan permukaan laut, selain itu

Pantai Teluk Awur juga

termasuk kedalam pantai yang berkarang dan memiliki pnatai yang sangat
landai (Gross, 1990).
II.3.7 Manfaat pengukuran pasang surut
Manfaat utama studi pasang surut laut sebagai pengembangan ilmu
pengetahuan serta dapat digunakan untuk meramalkan secara tepat kondisi
pasang surut laut di suatu tempat. Peramalan pasang yang baik sangat
diperlukan untuk berbagai keperluan dari masalah navigasi, hidrografi
sampai ke perencanaan bangunan laut ataupun pantai (Rahayu, 2011).
II.3.8 Data pasang surut untuk verifikasi batimetri
Permukaan air laut dipakai sebagai titik nol. Kedalaman suatu titik di
dasar perairan atau ketinggian titik di pantai mengacu pada permukaan laut
yang dianggap sebagai bidang referensi (atau datum) vertikal. Karena posisi
muka laut secara berubah, maka penentuan tinggi nol harus dilakukan
dengan merata-ratakan data tinggi muka air yang diamati pada rentang
waktu tertentu. Data tinggi muka air pada rentang waktu tertentu juga
berguna untuk keperluan peramalan pasut. Analisis data pengamatan tinggi
muka air juga akan berguna untuk mengenali karakter pasut dan fenomena
lain yang mempengaruhi tinggi muka air laut (Al Kautsar, 2013).
Gravitasi bulan merupakan pembangkit utama pasut. Walaupun massa
matahari jauh lebih besar dibanding massa bulan, namun karena jarak bulan
yang jauh lebih dekat ke bumi dibanding matahari, matahari hanya
17

memberikan pengaruh yang lebih kecil terhadap pembangkitan pasut di


bumi. Rasio massa bulan:bumi adalah sekitar 1:85, sedangkan rasio massa
bulan:matahari adalah sekitar 1:3,18x105. Jarak rata-rata pusat massa bumi
dengan pusat massa matahari adalah sekitar 98830000 mil, sedangkan jarak
rata-rata pusat massa bumi dengan pusat massa bulan adalah sekitar 238862
mil, akibatnya perbandingan gravitasi bulan dan matahari (masing-masing
terhadap bumi) adalah sekitar 1:0,46 (Al Kautsar, 2013).
II.4 Kualitas Perairan
II.4.1 Definisi kualitas perairan
Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji
berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003). Kualitas air dapat
dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter
fisik, kimia, dan mikrobiologis (Masduqi,2009).
Menurut Acehpedia (2010), kualitas air dapat diketahui dengan
melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang
dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan
warna). Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemaliharaan air sehingga
tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin
agar kondisi air tetap dalam kondisi alamiahnya.
II.4.2 Parameter-parameter yang mempengaruhi kualitas perairan
a. Parameter biologi

18

Plankton
Kelimpahan plankton yang terdiri dari phytoplankton dan
zooplankton sangat diperlukan untuk mengetahui kesuburan suatu
perairan yang akan dipergunakan untuk kegiatan budidaya. Plankton
sebagai organisme perairan tingkat rendah yang melayang-layang di
air dalam waktu yang relatif lama mengikuti pergerakan air.
Plankton pada umumnya sangat peka terhadap perubahan
lingkungan hidupnya (suhu, pH, salinitas, gerakan air, cahaya
matahari dll) baik untuk mempercepat perkembangan atau yang
mematikan.
Berdasarkan ukurannya, plankton dapat dibedakan sebagai
berikut :
o Macroplankton (masih dapat dilihat dengan mata telanjang/
biasa/tanpa pertolongan mikroskop).
o Netplankton atau mesoplankton (yang masih dapat disaring oleh
plankton net yang mata netnya 0,03 - 0,04 mm).
o Nannoplankton atau mikroplankton (dapat lolos dengan
plankton net diatas).
Berdasarkan tempat hidupnya dan daerah penyebarannya,
plankton dapat merupakan :
1. Limnoplankton (plankton air tawar/danau).
2. Haliplankton (hidup dalam air asin)
3. Hypalmyroplankton (khusus hidup di air payau)
4. Heleoplankton (khusus hidup dalam kolam-kolam)

19

5. Petamoplankton atau rheoplankton (hidup dalam air mengalir).

b. Parameter fisika
1.
Cahaya
Cahaya yang mencapai permukaan bumi dan permukaan
perairan terdiri atas cahaya langsung (direct) berasal dari matahari
dan cahaya yang disebarkan (diffuse) oleh awan (yang sebenarnya
juga berasal dari cahaya matahari). Jumlah radiasi yang mencapai
permukaan perairan sangat dipengaruhi oleh awan, ketinggian dari
permukaan air laut, letak geografis, dan musim. Penetrasi cahaya
ke dalam air sangat di pengaruhi oleh intensitas dan sudut datang
cahaya, kopndisi permukaan air, dan bahan-bahan tersuspensi di
dalam air. Cahaya matahari mencapai permukaan perairan tersebut
sebagian di serap dan sebagiannya direfleksikan kembali. Beberapa
jenis molekul, misalnya O2, O3, H2O, dan CO2 dapat menyerap
cahaya matahari , dan mengubahnya menjadi energi panas.
2.

Suhu
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang,
ketinggian dari permukaan air, waktu dalam hari, sirkulasi udara,
penutupan awan , dan aliran serta kedalaman badan air. Perubahan
suhu berpengaruh terahadap proses fisika, kimia, dan bioologi
badan air. Suhu juga sangat berperan mengendalikan kondisi
ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu
tertentu yang di sukai bagi pertumbnuhannya. Misalnya, algae dari

20

filum coloropita dan diatom tumbuh dengan baik dengan kisaran


suhu berturut-turut 30C-35C dan 20C-30C. Filum cyanopehyta
lebih dapat bertoleransi terhadap kisaran suhu yang l;ebih tinggi
dibandingkan dengan chloropyta dan diatom.
3.

Kecerahan Dan Kekeruhan


Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan.
Kecerahan

merupakan

ukuran

transparansi

perairan,

yang

ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk. Faktor


ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan
tinggi berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu
produktivitas perairan yang tinggi pula. kecerahan dan kekeruhan
merupakan parameter-parameter yang saling terkait satu sama lain.
Peningkatan konsentrasi padatan tersuspensi sebanding dengan
peningkatan konsentrasi kekeruhan dan berbanding terbalik dengan
kecerahan. Ketiga parameter tersebut mempunyai peranan yang
sangat penting dalam produktivitas perairan.
4.

Kedalaman
Faktor ini juga sangat berhubungan dengan kesuburan suatu
perairan, dan mengikat semua faktor parameter lain, hal ini karena
semakin dalam suatu perairan maka suhu semakin rendah, oksigen
semakin tinggi, tingkat kecerahan semakin kecil, dan cahaya yang
masuk ke dalam suatu perairan untuk melangsungkan terjadinnya
fotosintesis terhadap organisme yang hidup akan terbatas, dan

21

begitu

pula

sebaliknnya

apabila

suatu

perairan

tingkat

kedalamannya rendah.
c. Parameter kimia
1. pH
pH adalah cerminan derajat keasaman yang diukur dari jumlah
ion hidrogen menggunakan rumus pH = -log (H+). Air murni terdiri
dari ion H+ dan OH- dalam jumlah berimbang hingga pH air murni
biasa 7. Makin banyak banyak ion OH+ dalam cairan makin rendah
ion H+ dan makin tinggi pH. Cairan demikian disebut cairan alkalis.
Sebaliknya, makin banyak H+ makin rendah pH dan cairan tersebut
bersifat masam. pH antara 7 9 sangat memadai kehidupan bagi air
tambak. Namun, pada keadaan tertantu, dimana air dasar tambak
memiliki potensi keasaman, pH air dapat turun hingga mencapai 4
(Andayani, 2005).
pH air mempengaruhi tangkat kesuburan perairan karena
mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang
produktif, malah dapat membunuh hewan budidaya. Pada pH
rendah (keasaman tinggi), kandungan oksigan terlarut akan
berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktivitas
naik dan selera makan akan berkurang. Hal ini sebaliknya terjadi
pada suasana basa. Atas dasar ini, maka usaha budidaya perairan
akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5 9.0 dan kisaran
optimal adalah ph 7,5 8,7 (Kordi dan Andi, 2009).

22

2. Oksigan Terlarut / DO
Menurut konsentrasi gas oksigen sangat dipengaruhi oleh suhu,
makin tinggi suhu, makin berkurang tingkat kelarutan oksigen. Di
laut, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen / DO) berasal dari dua
sumber, yakni dari atmosfer dan dari hasil proses fotosintesis
fitoplankton dan berjenis tanaman laut. Keberadaan oksigen terlarut
ini sangat memungkinkan untuk langsung dimanfaatkan bagi
kebanyakan organisme untuk kehidupan, antara lain pada proses
respirasi

dimana

oksigen

diperlukan

untuk

pembakaran

(metabolisme) bahan organik sehingga terbentuk energi yang diikuti


dengan pembentukan CO2 dan H20 (Wibisono, 2005).
Oksigen yang diperlukan biota air untuk pernafasannya harus
terlarut dalam air. Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas,
sehinnga bila ketersediaannya didalam air tidak mencukupi
kebutuhan biota budidaya, maka segala aktivitas biota akan
terhambat. Kebutuhan oksigen pada ikan mempunyai kepentingan
pada dua aspek, yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu
dan kebutuhan konsumtif yang terandung pada metabolisme ikan
(Kordi dan Andi, 2009).
3. CO2
Karbondioksida (CO2), merupakan gas yang dibutuhkan oleh
tumbuh-tumbuhan air renik maupun tinhkat tinggi untuk melakukan
proses fotosintesis. Meskipun peranan karbondioksida sangat besar
bagi kehidupan organisme air, namun kandungannya yang

23

berlebihan sangat menganggu, bahkan menjadi racu secara langsung


bagi biota budidaya, terutama dikolam dan ditambak (Kordi dan
Andi, 2009).
Meskipun presentase karbondioksida di atmosfer relatif kecil,
akan

tetapi

keberadaan

karbondioksida

di

perairan

relatif

banyak,kerana karbondioksida memiliki kelarutan yang relatif


banyak (Kordi dan Andi, 2009).
4. Amonia
Makin tinggi pH, air tambak/kolam, daya racun amonia
semakin meningkat, sebab sebagian besar berada dalam bentuk
NH3, sedangkan amonia dalam molekul (NH 3) lebih beracun
daripada yang berbentuk ion (NH4+). Amonia dalam bentuk molekul
dapat bagian membran sel lebih cepat daripada ion NH 4+ (Kordi dan
Andi, 2009).
Menurut Andayani (2005), sumber amonia dalam air kolam
adalah eksresi amonia oleh ikan dan crustacea. Jumlah amonia
yang dieksresikan oleh ikan bisa diestimasikan dari penggunaan
protei netto (pertambahan protein pakan-protein ikan) dan protein
prosentase dalam pakan dengan rumus :
Amonia Nitrogen (g/kg pakan) = (1-0- NPU)(protein+6,25)(1000)
Keterangan :
NPU

: Net protein Utilization /penggunaan protein netto

Protein : protein dalam pakan


6,25

: Rati rata-rata dari jumlah nitrogen.

24

5. Nitrat nitrogen
Senyawa kimia nitrogen urea (N-urea), alga memanfaatkan
senyawa tersebut untuk pertumbuhannya sebagai sumber nitrogen
yang berasal dari senyawa nitrogen-organik. Beberapa bentuk
senyawa nitrogen (organik dan anorganik) yang terdapat dalam
perairan konsentrasinya lambat laun akan berubah bila didalamnya
ada faktor yang mempengaruhinya sehingga antara lain akn
menyebabkan suatu permasalahan tersendiri dalam perairan tersebut
(Susana, 2002).
Konsentasi nitrogen organik di perairan yang tidak terpolusi
sangat beraneka ragam. Bahkan konsentrasi amonia nitrogen tinggi
pada kolam yang diberi pupuk daripada yang hanya biberi pakan.
Nitrogen juga mengandung bahan organik terlarut. Konsentrsi
organik nitrogan umumnya dibawah 1 mg/liter pada perairan yang
tidak polutan. Dan pada perairan yang planktonnya blooming dapat
meningkat menjadi 2-3 mg/liter (Andayani, 2005)
6. Orthophospat
Menurut Andayani (2005), orthophospat yang larut, dengan
mudah tesedia bagi tanaman, tetapi ketersediaan bentuk-bentuk lain
belum ditentukan dengan pasti. Konsentrasi fosfor dalam air sangat
rendah : konsentasi ortophospate yang biasanya tidak lebih dari 520 mg/liter dan jarang melebihi 1000 mg/liter. Fosfat ditambahkan

25

sebagai pupuk dalam kolam, pada awalnya tinggi orthophospat yang


terlarut dalam air dan konsentrasi akan turun dalam beberapa hari
setelah perlakuan.
Fitoplankton merupakan salah satu parameter biologi yang
erat hubungannya dengan fosfat dan nitrat. Tinggi rendahnya
kelimpahan fitoplankton disuatu perairan tergantung tergantung
pada kandungan zat hara fosfat dan nitrat. Sama halnya seprti zat
hara lainnya, kandungan fosfat dan nitrat disuatu perairan, secara
alami terdapat sesuai dengan kebutuhan organisme yang hidup
diperairan tersebut (Muchtar, 2002).
II.4.3 Metode yang digunakan untuk pengamatan kualitas perairan
a. Metode penilaian kualitas perairan
Metode yang digunakan dalam penilaian kualitas perairan contohnya
dapat menggunakan metode pengenceran, Pengenceran pada prinsipnya
hanya menambahkan pelarut saja, sehingga jumlah mol zat terlarut
sebelum pengenceran sama dengan jumlah mol zat terlarut sesudah
pengenceran. Dengan kata lain jumlah mmol zat terlarut sebelum
pengenceran sama dengan jumlah mmol zat terlarut sesudah penegenceran
atau jumlah gr zat terlarut sebelum pengenceran sama dengan jumlah gr
zat terlarut sesudah pengenceran.
b. Pendekatan baku mutu
Analisis kualitas air berdasarkan perbandingan dengan baku mutu air
secara deskriptif dan analisis menggunakan metode STORET, Penentuan
status mutu air dapat menggunakan Metode STORET (metoda ini
merupakan salah satu metoda untuk menentukan status mutu air yang

26

umum digunakan) atau Metoda Indeks Pencemaran. Dengan metoda


STORET dapat diketahui yang telah memenuhi atau melampaui baku
mutu air. Secara prinsip metoda STORET adalah membandingkan antara
data kualitas air dengan baku mutu air yang disesuaikan dengan
peruntukannya guna menentukan status mutu air. Sedangkan Metode
Indeks Pencemaran digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran
relatif terhadap parameter kualitas air yang diizinkan. Perhitungan indeks
STORET dilakukan untuk mengetahui kualitas perairan setiap titik lokasi
pengamatan sehingga akan didapatkan gambaran yang lebih komprehensif
mengenai kualitas perairan tersebut. Penilaian indeks ini terdiri dari tiga
kategori paramater kualitas air yang nantinya dijumlahkan, yaitu parameter
kualitas air fisika, kimia, dan biologi. Penilaian setiap parameter
dibedakan berdasarkan jumlah sampel, yaitu sampel di bawah, sama
dengan, atau di atas 10 kali pengambilan. Setiap parameter yang 16 diukur
dirata-ratakan dan didapatkan juga angka maksimum dan minimumnya.
Ketiga nilai tersebut kemudian dibandingkan nilai baku mutu untuk
kemudian diberi skor.
c. Pendekatan berdasarkan IMLP / WQI (Water Quality Indeks)
Untuk menyatakan kualitas air secara keseluruhan di lokasi dan waktu
tertentu berdasarkan beberapa parameter kualitas air. Tujuan dari indeks
adalah untuk mengubah data kualitas air yang kompleks menjadi informasi
yang dapat dipahami dan bisa digunakan oleh masyarakat. Jenis indeks
mirip dengan indeks

dikembangkan untuk kualitas

udara yang

menunjukkan jika itu adalah hari kualitas udara merah atau biru.

27

Penggunaan indeks untuk "kelas" kualitas air merupakan isu kontroversial


di antara para ilmuwan kualitas air. Sejumlah tunggal tidak dapat
menceritakan seluruh kisah kualitas air, ada banyak parameter kualitas air
lainnya yang tidak termasuk dalam indeks. Indeks yang disajikan di sini
tidak secara khusus ditujukan pada peraturan kesehatan atau kehidupan air
manusia. Namun, indeks air berdasarkan beberapa parameter yang sangat
penting dapat memberikan indikator sederhana kualitas air. Ini
memberikan publik gambaran umum masalah yang mungkin terjadi
dengan air di wilayah tersebut. CEKUNGAN telah meneliti beberapa jenis
indeks kualitas air dan telah menemukan satu yang digunakan oleh banyak
masyarakat untuk karakteristik kualitas air secara keseluruhan . Indeks ini
pada awalnya dikembangkan oleh Yayasan Nasional Sanitiation (NSF)
(Brown dan lain-lain, 1970). CEKUNGAN dapat merevisi indeks NSF di
masa depan untuk lebih sesuai dengan air Boulder daerah khusus.
d. Pendekatan berdasarkan struktur organisme
Cara ini telah dikenal sejak abad ke 19 dengan pemikiran bahwa
terdapat kelompok organisme tertentu yang hidup di perairan tercemar.
Jenis-jenis organisme ini berbeda dengan jenis-jenis organisme yang hidup
di perairan tidak tercemar. Kemudian oleh para ahli biologi perairan,
penge-tahuan ini dikembangkan, sehingga perubahan struktur dan
komposisi organisme perairan karena berubahnya kondisi habitat dapat
dijadikan indikator kualitas perairan (Abel, 1989: Rosenberg and Resh,
1993).

28

Metode kualitatif tertua untuk mendeteksi pencemaran secara biologis


adalah sistem saprobik (Warent, 1971) yaitu sistem zonasi pengkayaan
bahan organik berdasarkan spesies hewan dan tanaman spesifik. Hynes
(1978) ber-pendapat bahwa sistem saprobik mempunyai beberapa
kelemahan, antara lain kurang peka terhadap pengaruh buangan yang
bersifat toksik. Tidak ditemukannya makrozoobentos tertentu belum tentu
dikarenakan adanya pencemaran organik, sebab mungkin dikarenakan
kondisi fisik perairan yang kurang mendukung kehidupannya atau
kemunculannya dikarenakan daur hidupnya (Hawkes, 1979).
e. Pendekatan berdasarkan saproditas
Sistem saprobik merupakan sistem tertua yang digunakan untuk
mendeteksi pencemaran perairan dari bahan organik yang dikembangkan
oleh Kolkwitz dan Marsson (1908) in Nemerow (1991). Saprobitas
menggambarkan kualitas air yang berkaitan dengan kandungan bahan
organik dan komposisi organisme di danau. Komunitas biota bervariasi
berdasarkan waktu dan tempat hidupnya. Dalam sistem ini, suatu
organisme dapat bertindak sebagai indikator dan mencirikan perairan
tersebut (Sladecek 1979).
Sistem saprobik didasarkan pada zonasi yang berbeda yang
mengalami pengkayaan bahan organik yang dikarakteristikkan oleh
tanaman (alga) dan hewan (bentos) secara spesifik. Adanya pencemar
organik yang masuk ke dalam danau terkait dengan serangkaian waktu dan
jarak aliran yang akan menciptakan kondisi lingkungan yang bebeda di
sepanjang danau dan menghasilkan suksesi komunitas akuatik yang berbeda

29

di danau (Nemerow, 1991). Di sepanjang danau yang menerima limbah


tersebut, komunitas biota akan melakukan proses pemulihan kondisi
kualitas air.
II.5 Sedimen
II.5.1 Definisi sedimen
Beberapa pendapat mengenai pengertian sedimen
1. Pipkin (1977) menyatakan bahwa :
Sedimen adalah pecahan, mineral, atau material organik yang
ditransforkan dari berbagai sumber dan diendapkan oleh media udara,
angin, es, atau oleh air dan juga termasuk didalamnya material yang
diendapakan dari material yang melayang dalam air atau dalam
bentuk larutan kimia.
2. Pettijohn (1975) mendefinisikan
Sedimentasi sebgai proses pembentukan sedimen atau batuan sedimen
yang diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentuk atau
asalnya pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan
pengendapan berupa sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut
dangkal sampai laut dalam.
3. Gross (1990) mendefinisikan
Sedimen laut sebagai akumulasi dari mineral-mineral dan pecahanpecahan batuan yang bercampur dengan hancuran cangkang dan
tulang dari organisme laut serta beberapa partikel lain yang terbentuk
lewat proses kimia yang terjadi di laut.

30

Dapat ditarik kesimpulan bahwa sedimentasi sendiri adalah suatu proses


pengendapan material yang ditransport oleh media air, angin, es, atau
gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai
adalah hasil dan proses pengendapan material-material yang diangkut oleh
air sungai, sedangkan bukit pasir (sand dunes) yang terdapat di gurun dan
di tepi pantai adalah pengendapan dari material-material yang diangkut
oleh angin.
II.5.2 Klasifikasi sedimen
Menurut asal usul sedimen dasar laut dapat digolongkan sebagai
berikut :
1. Lithogenous
Jenis sedimen ini berasal dari pelapukan (weathering) batuan dari
daratan, lempeng kontinen termasuk yang berasal dari kegiatan vulkanik.
Hal ini dapat terjadi karena adanya suatu kondisi fisik yang ekstrim
(pemanasan dan pendinginan) terhadap batuan yang terjadi secara
berulang-ulang di padang pasir, oleh karena adanya embun-embun es
dimusim dingin, atau oleh karena adanya aksi kimia dari larutan bahanbahan yang terdapat di dalam air hujan atau air tanah terhadap
permukaan batu. Sedimen ini memasuki kawasan laut melalui drainase
air sungai.
2. Biogenous

31

Sedimen ini berasal dari organisme laut yang telah mati dan terdiri dari
remah-remah tulang, gigi-geligi, dan cangkang-cangkang tanaman
maupun hewan mikro. Komponen kimia yang sering ditemukan dalam
sediment ini adalah CaCO3 dan SiO2. Sedangkan partikel-partikel yang
sering ditemukan dalam sedimen calcareous terdiri dari cangkangcangkang foraminifera, Cocolithophore, yang disebut globerigina ooze
dan Pteropoda, yang disebut pteropod ooze. Cangkang Diatomae dan
Radiolaria merupakan kontributor yang paling penting dari partikel
Siliceous.
3. Hidrogenous
Sedimen ini berasal dari komponen kimia yang larut dalam air laut
dengan konsentrasi yang kelewat jenuh sehingga terjadi pengendapan
(deposisi) di dasar laut. Contohnya endapan Mangan (Mn) yang
berbentuk nodul, dan endapan glauconite (hydro silikat yang berwarna
kehijauan dengan komposisi yang terdiri dari ion-ion K, Mg, Fe, dan Si).
4. Cosmogenous
Sedimen ini bersal dari luar angkasa di mana partikel dari bendabenda angkasa ditemukan di dasar laut dan mengandung banyak unsur
besi sehingga mempunyai respon magnetik dan berukuran antara 10
640 m.
(Wibisono, 2005).
II.5.3 Pengambilan dan analisa sedimen

32

Metode pengambilan sampel sedimen dasar laut yang tercepat dan


termudah adalah coring. Coring adalah teknik yang digunakan untuk
membawa sedimen dari dasar laut ke pemukaan untuk di analisis Coring
dilakukan dari atas kapal dan menggunakan pipa metal panjang yang diberi
beban diatasnya. Pipa tersebut dikaitkan pada kabel panjang yang
multiguna dan bekerja sesuai prinsip jatuh bebas (sehingga disebut
dengan gravity corer) ke dalam sedimen lunak (unconsolidated) di dasar
laut. Data dari sampel core menyediakan banyak informasi tentang sejarah
resen geologi bumi sebagai contoh, perbandingan relatif saat erupsi
volkanik dan periode glasiasi. Lapisan yang tidak teratur (highly disturbed)
dapat mendokumentasi peristiwa katastropis longsoran bawahlaut yang
ditimbulkan oleh gempa bumi (Pipkin, 1977).
Metode pengambilan sampel batuan dasarlaut lainnya adalah dredging
dan grab sampling. Grab sampling adalah proses yang simpel dalam
mengangkat sedimen permukaan dari dasar laut. Dalam Grab Sampling
alat-alat yang digunakan adalah grab sampler dan core sampler. Sampel
sedimen yang diperoleh dibedakan jenisnya, kemudian diberlakukan sesuai
hasil yang ingin dicapai. Misalnya, untuk mengetahui besar butir sedimen
(Pipkin, 1977).
Untuk mengetahui beberapa lapisan sedimen pada kedalaman beberapa
meter biasanya digunakan alat Core Sampler berbentuk tabung yang
diluncurkan dari atas kapal, kemudian dilakukan analisa atau diskripsi atas
drill cuttings yang didapat (Pipkin, 1977).

33

II.5.4 Karakteristik sedimen


Karakteristik sedimen akan mempengaruhi morfologi, fungsional,
tingkat laku serta nutrient hewan benthos. Dan di Perairan Teluk Awur,
Jepara banyak ditemukan cangkang dan karang mati, yang kemudian
mengendap menjadi sedimen dan terbawa arus. Hewan benthos seperti
bivalvia dan gastropoda beradaptasi sesuai dengan tipe substratnya.
Adaptasi terhadap substrat ini akan menentukan morfologi, cara makan dan
adaptasi fisiologis organisme terhadap suhu, salinitas serta faktor kimia
lainnya Di samping tipe substrat, ukuran partikel sedimen juga berperan
penting dalam menentukan jenis benthos laut. Partikel sedimen mempunyai
ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kasar sampai halus (Pipkin, 1977).
II.6 Batimetri
II.6.1 Definisi batimetri
Istilah batimetri berasal dari bahasa Yunani yaitu Bathy yang berarti
kedalaman dan metry yang berarti ilmu ukur, sehingga batimetri
didefinisikan sebagai pengukuran dan pemetaan dari topografi dasar laut
(Pipkin et.al., 1977). Batimetri merupakan ukuran tinggi rendahnya dasar
laut dimana peta batimetri memberikan infomasi mengenai dasar laut
(Nurjaya, 1991 dalam Al Kautsar, 2013). Pemanfaatan peta batimetri dalam
bidang kelautan misalnya dalam penentuan alur pelayaran, perencanaan
bangunan pantai, pembangunan jaringan pipa bawah laut.
Pengukuran kedalaman perairan secara konvensional dilakukan dengan
menggunakan metode batu duga, namun metode ini memiliki kelemahan
terutama hasil yang kurang akurat. Kemajuan teknologi yang semakin pesat
membuat metode ini sudah muali di tinggalkan dan beralih ke metode

34

pengukuran kedalaman yang mnenggunaka prinsip perambatan gelombang


bunyi. Alat yang biasa digunakan adalah Echosounder dimana alat ini
merekam waktu bolak balik yang ditempuh oleh pulsa suara dari
permukaan hingga dasar perairan. Dengan mengetahui cepat rambat
gelombang bunyi di dalam air (V) dan waktu tempuh untuk menangkap
kembali gelombang bunyi yang dilepaskan (t), maka diperoleh kedalaman
perairan (s) (Nurjaya, 1991).
II.6.2 Echosounder
Untuk perencanaan

pembangunan

di

wilayah

perairan,

maka

dibutuhkan survey hidrografi. Salah satu alat yang digunakan untuk survei
hidrografi adalah echosounder. Echosounder menggunakan prinsip akustik
untuk merekam kedalaman dasar laut. Terdapat dua tipe echosounder, yaitu
Echosounder Multi Beam dan Echosounder Single Beam. Echosounder HiTarget HD 370 merupakan jenis Single Beam. Yang membedakan kedua
tipe tersebut adalah jenis pancaran dan penerima pancaran gelombang
bunyi (Al Kautsar, 2013).
II.6.3 Metode pengukuran batimetri
Pengukuran kedalaman merupakan bagian terpenting dari pemeruman
yang menurut prinsip dan karakter teknologi yang digunakan dapat
dilakukan dengan metode mekanik, optik dan akustik (Poerbandono, 2005
dalam Al Kautsar, 2013).
1. Metode Mekanik
Metode mekanik merupakan metode yang paling awal yang
pernah dilakukan manusia untuk melakukan pengukuran kedalaman.
Metode ini sering disebut juga dengan metode pengukuran
kedalaman secara langsung. Pada beberapa kondisi lapangan
35

tertentu, misalnya daerah perairan yang sangat dangkal atau rawa,


cara ini masih cukup efektif untuk digunakan. Instrumen yang
dipakai unt uk melakukan pengukuran kedalaman dengan metode ini
adalah tongkat ukur atau rantai ukur yang dilakukan dengan bantuan
wahana apung. Bentuk dan penampilan tongkat ukur mirip seperti
rambu ukur yang dipakai untuk pengukuran sipat datar. Sedangkan
rantai ukur, karena fleksibilitas bentuknya, biasanya dipakai untuk
melakukan pengukuran kedalaman perairan yang rata-rata lebih
dalam dibanding tongkat ukur (Al Kautsar, 2013).
2. Metode Optik
Pengukuran kedalaman dengan metode optik merupakan cara
terbaru

yang

digunakan

untuk

pemeruman.

Metode

ini

memanfaatkan transmisi sinar laser dari pesawat terbang dan prinsipprinsip optik untuk mengukur kedalaman perairan. Teknologi ini
dikenal dengan sebutan Laser Airborne Bathymetry (LAB) dan telah
dikembangkan menjadi suatu sistem pemeruman oleh beberapa
negara di Amerika dan Australia. Di Kanada dikenal sistem Light
Detecting and Ranging (LIDAR), di Amerika Serikat dikenal sistem
Airborne Oceanographic LIDAR (AOL) dan Hydrographic Airborne
Laser Sounder (HALS), sedangkan di Australia dikenal sistem Laser
Airborne Depth Sounder (LADS). Teknologi LADS milik Royal
Australian Navy pernah dicobakan untuk digunakan di Indonesia
pada pertengahan tahun 90-an dengan mengambil daerah survei di

36

perairan sekitar Pulau Enggano, Bengkulu, bekerja sama dengan


BPPT dan Dishidros TNI-AL (Al Kautsar, 2013).
3. Metode Akustik
Penggunaan gelombang akustik untuk pengukuran-pengukuran
bawah air merupakan teknik yang paling populer dalam hidrografi
saat ini. Gelombang akustik dengan frekuensi 5 kHz atau 100 Hz
akan mempertahankan kehilangan intensitasnya hingga kurang dari
10% pada kedalaman 10 km, sedangkan gelombang akustik dengan
frekuensi 500 kHz akan kehilangan intensitasnya pada kedalaman
kurang dari 100 m. Secara khusus, teknik ini dipelajari dalam hidroakustik. Untuk pengukuran kedalaman, digunakan echosounder atau
perum gema yang pertama kali dikembangkan di Jerman tahun 1920
(Lurton, 2002 dalam Al Kautsar, 2013). Alat ini dapat dipakai untuk
menghasilkan profil kedalaman yang kontinyu sepanjang jalur perum
dengan keteliti an yang cukup baik.
II.6.4 Pemeruman dan pembuatan peta batimetri
Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan untuk
memperoleh gambaran (model) bentuk topografi dasar perariran (seabed
surface). Proses penggambaran dasar perairan tersebut (pengukuran,
pengolahan hingga visualisasinya) disebut sebagai survei batimetri.
Gambaran dasar perairan dapat disajikan dalam garis-garis kontur atau
model permukaan digital. Garis-garis kontur kedalaman atau model
batimetri diperoleh dengan menginterpolasikan titik-titik pengukuran
kedalaman yang tersebar pada lokasi yang dikaji. Kerapatan titik-titik

37

pengukuran kedalaman bergantung pada skala model yang akan dibuat (Al
Kautsar, 2013).

III.

MATERI DAN METODE

III.1

Mate

ri Praktikum
Materi dalam praktikum ini berupa data :
Data kecerahan perairan
Data salinitas perairan
Data suhu perairan
Data nilai pH perairan
Data Oksigen terlarut
III.2

Alat

dan Bahan
Tabel 2. Alat dan Bahan Praktikum Gelombang
No
1

Nama Alat
GPS (Global

Gambar

Fungsi
Menentukan posisi

Positioning

pengukuran

System)

gelombang

Palem

Mengukur tinggi

gelombang

gelombang

Stopwatch

Mengukur periode
gelombang

Tabel data

Mencatat hasil

praktikum

pengukuran
gelombang

38

Alat tulis

Mencatat hasil
pengukuran

Kamera

Mendokumentasikan
penelitian

Anemometer

Mengukur kecepatan
angin

Kompas tembak

Mengetahui arah angin

Tali rafia

Melihat arah angin

Tabel 3. Alat dan Bahan Praktikum Arus Laut


No
1

Nama Alat
GPS (Global
Positioning

Gambar

Fungsi
Menentukan posisi
pengukuran arus

System)
2

Current drouge

Mengukur kecepatan
arus

39

Stopwatch

Mengukur periode
gelombang

Tabel data

Mencatat hasil

praktikum

pengukuran arus

Alat tulis

Mencatat hasil
pengukuran

Kamera

Mendokumentasikan
penelitian

Kompas tembak

Mengetahui arah angin

Tabel 4. Alat dan Bahan Praktikum Pasang Surut


No
1

Nama Alat
GPS (Global

Gambar

Fungsi
Menentukan posisi

Positioning

pengukuran pasang

System)

surut

Palem pasut

Mengukur tinggi
pasang surut

Stopwatch

Mengukur periode
gelombang

40

Tabel data

Mencatat hasil

praktikum

pengukuran pasang

Alat tulis

surut
Mencatat hasil
pengukuran

Tabel 5. Alat dan Bahan Praktikum Kualitas Perairan


No
1

Nama Alat
Refraktometer

Gambar

Fungsi
Alat pengukur salinitas

pH meter

Alat pengukur nilai pH

Termometer

Mengukur suhu di
lautan

Secchi disc

Mengukur kecerahan

DO meter

Mengukur kadar
oksigen terlarut

Akuades

Kalibrasi alat
praktikum

41

Tisu

Mengeringkan alat
praktikum

Sampel air laut

Media yang akan


dijadikan pengamatan

Tabel 6. Alat dan Bahan Praktikum Sedimen


No
1

Nama Alat
Sediment
trap

Gambar

Fungsi
Tempat untuk
memerangkap sedimen
di laut

Botol

Menaruh dan mengukur


sedimen yang ada di
sediment trap

Kantung

Melindungi sediment

plastik

trap

Label

Menamai/ menanda
botol

42

Spidol

Menulis nama pada label

Tabel 7. Alat dan Bahan Praktikum Batimetri


No
1

Nama Alat
Transduser

Gambar

Fungsi
Untuk mendapatkan nilai
kedalaman, dipasang di
30 m bawah permukaan

Antenna

laut
Menangkap sinyal

GPS

satelit, mengetahui
lokasi tracking.

GPS mapper

Mengetahui lokasi dan


kedalaman dari perairan

Accu

Pengisi daya

III.3

Meto

de Praktikum
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode kuantitatif.
Metode kuantitatif adalah metode dimana data penelitiannya berupa
angka-angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2012).

43

III.4

Meto

de Pengambilan Data
III.4.1 Gelombang
a. Metode pengukuran angin
1. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
2. Mengukur kecepatan angin dengan menggunakan anemometer
tiap 15 menit sekali selama pengukuran gelombang.
3. Melihat arah datang angin dengan tali rafial yang dikaitkan ke
tiang dan mengukur arah angina dengan kompas tembak.
4. Mencatat hasil pengukuran pada tabel yang disediakan.
b. Metode pengukuran gelombang
1. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.
2. Meletakkan palem gelombang tegak lurus di lokasi perairan
yang telah ditentukan dengan menghindari adanya penghalang
gelombang ke palem.
3. Mengukur tinggi puncak dan lembah gelombang pada palem
dan periode gelombang dengan stopwatch selama waktu yang
telah ditentukan.
4. Mencatat hasil pengukuran pada tabel yang telah disediakan.
III.4.2 Arus laut
1. Ambil current drogue yang ujung talinya telah diikatkan pada
perahu.
2. Masukkan ke laut dan ulur tali sampai panjang bentangan mencapai
5 m.
3. Pegang tanda tali 5 meter pertama dan siapkan stopwatch atau jam
tangan.
4. Lepaskan tanda tali pertama (5 m) bersamaan dengan menekan
stopwatch start dan selanjutnya pegang tanda tali kedua (10 m).
5. Ulur tali agar mudah terurai.
6. Hentikan stopwatch setelah tanda tali pertama dan kedua terbentang
lurus.
7. Catat waktu yang dibutuhkan untuk membentang tali dari tanda tali
pertama sampai tali kedua.

44

8. Bidiikan kompas untuk mengetahui arah arus sejajar dengan tali


nilon current drouge.
III.4.3 Pasang surut
1. Memasang palem pasut di tempat yang memenuhi syarat
pemasangan palem pasut.
2. Mencari koordinat posisi stasiun pengamatan dengan GPS.
3. Melakukan pengamatan pasang surut.
4. Mencatat pada tabel pengamatan nilai tinggi muka air tertinggi dan
5.
6.
III.4.4
1.

2.

terendah.
Mencatat pengambilan waktu data.
Menentukan MSL.
Kualitas perairan
Data kecerahan perairan
Menggunakan secchi disk yang tepat untuk mengukur kecerahan

yang dicat hitam dan putih dalam 4 kuadran


Menenggelamkan disk pada sudut 90 pandangan mata
Menenggelamkan disk ke dalam perairan sehingga batas tidak

tampak pertama (d1)


Menenggelamkannya lagi hingga benar benar tak terlihat dan

menariknya perlahan hingga tamapk disk untuk pertama kali (d2)


Menghitung kecerahan dengan rumus d=(d1+d2)/2
Data salinitas perairan
Menyiapkan refraktometer yang akan digunakan dan
mengkalibrasinya dengan aquadest yang diteteskan pada kaca

3.

prisma dan membersihkannya dengan tissue


Mengambil sampel air laut dan meletakkannya pada kaca prisma
Mengarahkan refraktometer ke sumber cahaya
Mengamati nilai salinitas pada skala refraktometer dan

mencatatnya sebagai hasil pengamatan


Data suhu perairan
Menyiapkan Thermometer untuk mengukur suhu perairan
Mengusakan untuk menghindari kontak langsung Thermometer

dengan tangan
Mencelupkan Thermometer kedalam air selama kurang lebih 2
menit

45

Membaca nilai suhu dengan cepat dan tetap kemudian

mencatatnya sebagai hasil pengukuran


Melakukan hal yang sama sebanyak 3 kali pengulangan
Data nilai pH perairan
Menyiapkan pH meter yang akan digunakan dan mengkalibrasi

4.

elektoda menggunakan aquades hingga display pH meter

menunjukkan pH 7
Mencelupkan pH kedalam air dan mengamati nilai pH pada
display selama 30 detik dan menentukan nilai pH setelah

angkanya stabil
Mencatat nilai pH sebagai hasil pengukuran dan mengkalibrasi

pH dengan aquades.
Data Oksigen terlarut
Menyiapkan Do meter dan mengkalibrasi alat dengan aquadest

hingga nilai DO mendekati 100% dengan penyimpangan 3%.


Memasukkan probe Do meter kedalam permukaan perairan yang

akan diukur kadar O2


Membiarkan beberapa saat dan mencatat nilai yang ditunjukkan

5.

DO meter pada display sebagai hasil pengukuran


III.4.5 Sedimen
1. Meletakkan sediment trap pada tiap segmen dengan kedalaman 1
2.
3.
4.
5.

sampai 1,5 meter selama 2 hari.


Mengangkat sediment trap setelah 2 hari.
Memasukkan sedimen yang terperangkap ke dalam botol.
Memberi label pada masing-masing botol wadah sedimen.
Mengeringkan sedimen dan menghitung laju sedimentasi serta

volume sedimen.
III.4.6 Batimetri
1. Transduser dipasang pada kapal di sisi kanan atau kiri pada
kedalaman 30 m dari permukaan air.
2. Antenna GPS transmitter dipasang pada sebuah bamboo dengan arah
vertikal untuk menangkap sinyal satelit.
3. Hidupkan GPS dengan menekan tombol ON.

46

4. Setelah keluar tampilan peta, terdapat segitiga hitam terbalik ()


yang menunjukkan posisi keberadaan titik.
5. Arahkan posisi seuai alur pemeruman yang telah ditentukan.
6. Data yang diperoleh dari koordinat 30 cm untuk mendapat nilai
kedalaman yang sesungguhnya.

47

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1Hasil
IV.1.1 Gelombang
a. Data arah angin, kecepatan angin, dan gelombang
Tabel 8. Hasil pengukuran angin

Gambar 3. Windrose hasil pengukuran

48

Gambar 4. Kecepatan angin hasil pengukuran


b. Tinggi dan periode signifikan gelombang
Tinggi gelombang signifikan= 33% x 2222
= Rata-rata dari 733 data tinggi gelombang
=

5849
733

= 7.98 cm / 0.0798 m
Periode gelombang signifikan = 33% x 2222
= Rata-rata dari 7333 data tinggi gelombang
=

3635
733

= 4.96 detik

49

c. Grafik gelombang

Gambar 5. Overlay tinggi puncak dan lembah gelombang hasil pengukuran


d. Klasifikasi gelombang
Tabel 9. Data utama klasifikasi gelombang

Tabel 10. Hasil pengolahan data klasifikasi gelombang

IV.1.2 Arus laut


a. Grafik vector
Terlampir.
b. Current rose

50

Gambar 6. Hasil current rose ADCP


c. World current
a) Scatter Plot

Gambar 7. Scatter plot ADCP

b) Grafik Arus Pasut

51

Gambar 8. Arus pasang surut ADCP


IV.1.3 Pasang surut
a. Koordinat palem pasut

Gambar 9. Koordinat palem pasut

b. Data pengamatan pasut


Tabel 11. Data Pengamatan Pasang Surut

52

53

c. Kurva pasang surut

Gambar 10. Grafik Pasang Surut Hasil Pengamatan

Nilai Mean sea level (MSL)


MSL =

H
n
3782.5
32

= 118.2 cm
= 1.2 m

IV.1.4 Kualitas Perairan


a. Grafik Kecerahan

54

Gambar 11. Grafik kecerahan


b. Grafik pH

Gambar 12. Grafik pH


c. Grafik Salinitas

Gambar 13. Grafik salinitas


d. Grafik Suhu

55

Gambar 14. Grafik suhu


e. Grafik DO

Gambar 15. Grafik DO

f. Hasil Baku Mutu Air Laut berdasarkan UU No. 51 Tahun 2004


Tabel 12. Baku mutu air laut untuk wisata bahari

56

Tabel 13. Baku mutu air untuk biota laut

57

IV.1.5 Sedimen
V= r2 t
V= 3.14 * 52 * 2,5

Ls

= V / (Jumlah hari * 3.14 * r2)


Ls

= 70 / (2*3.14*52)

58

V= 196.25 ml

Ls

= 0,45 mg/ cm2/ hari

Nilai 70 didapat karena sampel tumpah di lapangan


IV.1.6 Batimetri
a. Data kedalaman Perairan
Tabel 14. Data kedalaman perairan batimetri

59

60

61

62

63

b. Peta Rencana Pemeruman

Gambar 16. Peta rencana pemeruman

64

c. Peta Batimetri

Gambar 17. Peta batimetri Teluk Awur, Jepara


IV.2Pembahasan
IV.2.1 Gelombang
a. Analisis data angin
Dari hasil pengamatan data angin selama 3 jam dari pukul 12.00 15.00 WIB, dapat diketahui bahwa angin yang berhembus memiliki
kecepatan yang cukup tinggi, berkisar antara 3.2 m/s 6.4 m/s dengan
arah datang angin adalah dari Barat Laut. Hal ini disebabkan karena
pengamatan dilakukan pada angin musim Barat dimana angin bertiup
dari benua Asia menuju benua Australia dengan membawa uap air
sehingga Indonesia bagian barat akan mengalami curah hujan tinggi
disertai angin dengan intensitas dan kecepatan yang tinggi juga. Hal ini
dibuktikan dengan keadaan cuaca di lapangan ketika dilakukan
pengukuran angin dimana cuaca mendung sepanjang hari dan terjadi

65

hujan kecil. Angin musim barat yang berhembus di atas laut memiliki
potensi untuk membangkitkan gelombang laut yang selanjutnya disebut
sebagai gelombang angin. Semakin besar kecepatan angin, durasi, dan
daerah fetch maka gelombang angin yang ditimbulkan akan memiliki
tinggi yang semakin besar.
b. Analisis data gelombang
Berdasarkan hasil pengukuran data gelombang di lapangan,
gelombang memiliki nilai tinggi maksimum sebesar 0.2 m cm dan tinggi
minimum 0 m. Gelombang yang terukur merupakan termasuk
gelombang yang dibangkitkan oleh angin. Karena gelombang ini
memiliki periode signifikan sebesar 4.98 detik. Menurut Munk (1951),
gelombang yang dibangkitkan oleh angin memiliki periode antara 0-10
detik. Sedangkan tinggi gelombang signifikan sebesar 0.0798 m. Nilai
ini sebenernya adalah nilai tinggi gelombang setelah pecah sehingga
tinggi gelombang telah mengalami penurunan.
c. Jenis dan karakteristik gelombang
Setelah dilakukan perhitungan, dapat diketahui bahwa klasifikasi
gelombang merupakan gelombang perairan menengah. Hal ini
disebabkan oleh nilai d/L sebesar 0.1. Dengan tipe gelombang adalah
gelombang angin karena memiliki periode sebesar 4.89 detik. Energi
gelombang pada pantai Teluk Awur tidak sebesar energi gelombang di
pantai Selatan Jawa, karena pantai Teluk Awur yang merupakan bagian
dari pantai Utara Jawa yang memiliki kedalaman maksimum perairan
sampai 200 meter saja dan tidak berhadapan langsung dengan Samudera.
d. Hubungan kecepatan angin dan tinggi gelombang

66

Berdasarkan hasil pengukuran antara kecepatan angin dan tinggi


gelombang. Terlihat bahwa angin sangat mempengaruhi gelombang yang
terjadi. Semakin besar kecepatan dan lama serta besar daerah tiupan
angin, maka gelombang yang terbentuk akan semakin besar. Berdasarkan
hasil pengamatan di lapangan, tinggi gelombang sebelum pecah
termasuk cukup tinggi, hal ini dapat terjadi karena pengamatan
dilakukan pada musim angin Barat dimana angin yang bertiup di atas
permukaan laut sangat cepat dan durasinya cukup lama serta dengan
daerah fetch yang cukup luas. Menurut Bayong (2004) dan Wyrtki
(1961), pada musim angin Barat dan Timur kecepatan angin cenderung
lebih kuat daripada ketika musim peralihan.
IV.2.2 Arus laut
a. Grafik vektor
Grafik vektor dapat menunjukkan arah dominan dari arus laut.
Namun, dalam pembacaannya masih terbilang sulit karena arah dan
panjang garis vektor pada setiap waktu dapat mengalami penumpukan.
Berdasarkan hasil grafik vektor yang diperoleh, dapat disimpulkan
bahwa arah dominan arus laut di perairan Teluk Awur, Jepara adalah
Barat Daya.

b. World current
a) Scatter plot
Pada hasil pengolahan data arus laut, diperoleh hasil grafik scatter.
Berdasarkan hasil grafik scatter tersebut, dapat diketahui sebaran data
arus dan hubungan kecepatan arus Utara (North Velocity) dan

67

kecepatan arus Timur (East Velocity). Berdasarkan sebaran datanya


pada grafik scatter, tidak menunjukkan hubungan atau korelasi data
yang signifikan. Hal ini terlihat dari sebaran data yang acak dan tidak
regresi. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan
antara kecepatan arus Utara dan kecepatan arus Timur.
b) Grafik arus pasut
Dengan menggunakan data dari ADCP, dilakukan pengolahan data
dengan tujuan memperlihatkan adanya hubungan arus laut dengan
pasang surut. Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, diperoleh
hasil adanya hubungan (korelasi) antara hasil arus dan hasil pasang
surut yang diperoleh. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa arus yang
terjadi di perairan tersebut dipengaruhi oleh pasang surut yang terjadi.
IV.2.3 Pasang surut
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di Perairan Teluk
Awur Jepara, pada hari Sabtu, 13 Desember 2014 mulai pukul 07.15
15.00 WIB didapatkan data pasang surut seperti yang telah terlampir pada
subbab hasil pasang surut di atas. Pengamatan dilakukan dengan interval
waktu 15 menit dengan menggunakan palem pasut yang memiliki
ketelitian 1cm. Berdasarkan hasil perolehan tersebut dapat diketahui nilai
Mean sea level (MSL) pada perairan Teluk Awur Jepara, yaitu sebesar 1.2
meter. Nilai tersebut menunjukan bahwa kondisi pasang surut pada
perairan Teluk Awur Jepara termasuk normal karena memiliki nilai MSL
yang berada pada rentang 1 1.5 meter, dimana rentang tersebut
merupakan nilai tunggang pasang surut di perairan Laut Jawa pada
umumnya.

68

Dari perolehan data tersebut, maka dapat dibuat grafik pasang surut
yang menggambarkan kondisi pasang surut di daerah Teluk Awur Jepara.
Berdasarkan hasil grafik yang terlampir, dapat diketahui bahwa jenis
pasang surut di perairan Teluk Awur Jepara adalah bertipe campuran
condong harian tunggal. Hal ini dikarenakan pada satu hari dapat terjadi
satu kali air pasang dan satu kali air surut, namun kadang-kadang dalam
sementara waktu dapat terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut
dengan tinggi dan periode yang berbeda.
Dalam aplikasinya, pengamatan pasang surut sangat penting dalam
pengolahan data pengukuran batimetri. Survey batimetri merupakan proses
pengukuran kedalaman yang ditujukan untuk memperoleh gambaran
bentuk permukaan dasar perairan. Salah satu faktor yang mempengaruhi
pengukuran batimetri adalah dinamika air laut, yaitu pasang surut. Data
pasang surut, terutama nilai MSL dapat digunakan untuk melakukan
koreksi data dari hasil pengukuran batimetri. Pengamatan pasang surut
pada survei batimetri adalah untuk

mendefinisikan bidang referensi

kedalaman (chart datum) dan rata-rata muka air laut (MSL).

IV.2.4 Kualitas perairan


1. Analisis hasil pengamatan lapangan
a. Kecerahan
Pada praktikum ini didapatkan hasil kecerahan sebesar 1.3, 1.5,
1.05. hasil ini diperoleh dari tiga kali pengukuran yang dirata rata
dengan hasil semua kelompok. Pada pengukuran pertama didapatkan

69

hasil 1.3 m nilai ini menunjujakan bahwa perairan masih agak keruh
karena dari kedalaman sekitar 5 m. hanya jarak 1.3 m saja yang dapat
terlihat begitu juga dengan pengukuran kedua dan ketiga. Namun pada
pengukuran kedua kecerahan dapat dilihat lebih jauh hingga 1.5 m.
walaupun ini masih jauh dari dasar. Kecerahan perairan ini bisa
disebabkan influks sungai yang berada disekitar pantai yang berwarna
coklat sehingga mempengaruhi air di sekitarnya. Selain itu bisa juga
disebabkan gerakan gelombang yang mengaduk sedimen dasar perairan
yang menyebabkan air semakin keruh.
b. pH
Berdasarkan pengukuran pH yang telah dilakukan semua kelompok
didapatkan hasil pada pengukuran pertama hingga ketiga sebesar 9.01,
9.06, 9.07. jika dirata rata maka akan didapatkan nilai PH sebesar
9.04. Nilai ini menandakan bahwa perairan pantai Teluk Awur Jepara
bersifat basa. Tidak hanya itu perairan ini juga berbahaya bagi
kelangsungan hidup hewan maupun tumbuhan. Karena pada PH
dibawah 4 dan diatas 9 organisme tidak akan bisa hidup (Muslim,
2014). pH yang tinggi ini bisa disebabkan rendahnya tingkat CO2 yang
bisa disebakan oleh banyaknya aktifitas fotosintesis dari tumbuhan dan
sedikitnya respirasi pada hewan di sekitar perairan tersebut.
c. Salinitas
Berdasarkan pengukuran salinitas didapatkan hasil nilai salinitas
sebesar 37 , 38 , 38 . Rata rata dari nilai ini adalah sebesar
37.8 yang mana manunjukan bahwa pantai Teluk Awur Jepara
memiliki salinitas sebesar 37.8 pada jarak sekitar 500 m dari bibir
pantai. Nilai ini menunjukan bahwa salinitas di pearairan tersebut cukup

70

tinggi. Salinitas akan semakin tinggi seiring bertambahnya kedalaman.


Namun pada pengukuran di permukaan air ini salinitas yang tinggi
disebabkan karena tingginya penguapan yang terjadi saat pengukuran
tersebut.
d. Suhu
Pada praktikum lapangan yang dilakukan, kelompok kami
mengukur suhu permukaan laut yang diukur selama 3 kali pengulangan
menggunakan termometer. Hasil dari kelompok kami, suhu permukaan
laut pada tempat sampel yaitu 29 C. Suhu permukaan terbilang hangat,
karena pada saat kelompok kami melakukan sampling kondisi cuaca
saat itu ialah cerah dengan waktu pengukuran pada jam 10.00 WIB
sehingga memungkinkan bahwa suku permukaan pada saat itu adalah
hangat.
Pengukuran suhu, tidak hanya dilakukan pada kelompok kami,
tetapi juga pada kelompok lain yang memiliki hasil pengukuran yang
berbeda, perbedaan penguran antar kelompok disebabkan karena
perbedaan waktu pengukuran dan perubahan cuaca pada saat
pengukuran.
Suhu permukaan laut dapat dipengaruhi karena adanya intensitas
cahaya matahari yang masuk, suhu di lautan akan berkurang secara
vertikal. Semakin dalam perairan secara teori maka suhu air laut akan
menurun, hal ini disebabkan karena berkurangnya intensitas cahaya
matahari yang masuk kedalam laut.
e. DO

71

Pengukuran DO dilakukan untuk mengetahui kadar oksigen terlarut


yang ada pada suatu perairan. Pada praktikum kali ini, kelompok kami
mengukur kadar oksigen terlarut dengan menggunakan DO meter,
dimana pengukuran dilakukan tiga kali pengulangan, sebelumnya DO
meter di kalibrasi sebelum dipakai dan dibersihkan dengan tissue
setelah di pakai. Kami melakukan pengukuran di perairan teluk awur
pada jam 10.00 WIB dengan kondisi cuaca pada saat itu ialah cerah
berangin.
Hasil kadar oksigen terlarut yang kelompok kami dapatkan ialah
3,633 mg/L. Hasil tersebut didapatkan karena suhu air laut pada saat
pengambilan sampel ialah hangat 29C sehingga memiliki nilai kadar
oksigen terlarut yang rendah, hal ini sesuai pendapat Effendi pada tahun
2003 yang menyatakan bahwa Hubungan antara kadar oksigen terlarut
dengan suhu ditunjukan bahwa semakin tinggi suhu, kelarutan oksigen
semakin berkurang.
Faktor lain yang menyebabkan nilai DO rendah tidaklah sebatas
suhu laut yang tinggi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh suhu, tekanan
parsial gas gas yang ada di udara maupun yang ada di air, salinitas serta
persenyawaan unsur unsur mudah teroksidasi di dalam air.
Nilai DO menunjukan kualitas di suatu perairan karena semakin
besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas
yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air
tersebut telah tercemar

72

2. Analisa perbandingan hasil pengamatan lapangan dengan standar


baku mutu
Perbandingan hasil pengamatan ini dilakukan dengan membandikan
hasil pengamatan kualitas perairan yang dilakukan di lapangan di perairan
teluk awur pada tanggal 13 Desember 2014 jam 10.00 WIB dengan
kondisi cuaca cerah berangin dibandingkan dengan standar baku mutu
kualitas perairan berdasarkan UU No. 51 Tahu 2004. Perbandingan hasil
ini dilakukan untuk mengetahui apakah kualitas perairan di Teluk Awur
sudah sesuai dengan standar baku mutu atau tidak.
Berdasarkan pada hasil yang di dapatkan bahwa hasil Ph, salinitas,
kadar oksigen terlarut dan kecerahan di perairan Teluk Awur di lokasi
sampling yang kami lakukan berada di bawah baku mutu.
Baku mutu pH di perairan ialah 6,5 8,5 dan hasil pengukuran
kelompok kami ialah 9, 0267 berbeda jauh dengan baku muku. Hal ini
dapat disebabkan karna penggunaan alat yang kurang benar sehingga
mendapatkan nilai seperti itu. Untuk nilai kadar oksigen terlarut, baku
mutu DO ialah lebih dari 5 mg/L, dan ini berbeda dengan hasil yang
didapatkan di kelompok kami yaitu 3,368 mg/L. Hal ini terjadi karena
banyaknya sampah sampah yang kami temua di permukaan laut Teluk
Awur sehinggu dapat mengurangi kadar oksigen. Nilai salinitas yang di
ukur hasilnya normal menurut baku mutu. Untuk nilai kecerahan, laut
teluk awur memiliki standar di bawa baku muku, yaitu 1,39 m sedangkan
baku mutu kecerahan ialah lebih dari 3m. Hal ini menunjukan bahwa

73

perairan Teluk Awur banyak material tersuspensi di kolom air sehingga


menurunkan kecerahan perairan.
IV.2.5 Sedimen
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju sedimen
Laju sedimentasi ini dihitung untuk mengetahui banyaknya sedimen
tersuspensi dalam satu hari. Laju sedimentasi yang didapat pada praktikum
kali ini tidak terpengaruh oleh arus dan pasut. Hal tersebut disebabkan
oleh wadah dari sedimen trap yang tertutup. Selain itu tidak adanya
gangguan dari luar misalnya gerakan manusia maupun biota lainnya.
Sehingga apabila kita menghitung laju sedimen dengan hasil yang didapat
pada praktikum ini akan logis jika waktu yang di asumsikan hanya
beberapa hari. Sedangkan apabila kita menggunakan asumsi laju
sedimentasi untuk 1 tahun maka hasilnya akan tidak logis.
b. Penyebab perbedaan nilai laju sedimen di tiap stasiun
Pada praktikum sedimentasi, dapat dilihat laju sedimentasi kelompok
2 merupakan kelompok yang memiliki laju sedimentasi paling kecil yaitu
0,45 ml/cm2/hari. Perbedaan nilai laju sedimentasi tersebut dapat terjadi
dikarenakan dasar dari perairan yang berbeda-beda ditiap stasiun. Ada
yang berpasir dan ada yang berakarang. Hal tersebut dapat mempengaruhi
banyaknya sedimen tersuspensi yang ada di kolom perairan. Kondisi dari
dasar perairan juga dapat mempengaruhi posisi dari sedimen trap itu
sendiri. Apabila posisi sedimen trap tegak lurus maka banyak sedimen
yang akan terperangkap. Dan apabila posisi dari sedimen trap tersebut

74

miring maka akan sedikit sedimen yang akan terperangkap. Hal tersebut
karena saat sedimen trap miring maka akan dipengaruhi oleh pergerakan
arus. Sehingga kondisi didalam sedimen trap tidak stabil.
c. Karakteristik perairan jepara dan hubungan dengan laju sedimen
Pada saat pengambilan sampel laju sedimentasi, daerah Jepara sedang
sering dilanda badai. Hal tersebut mempengaruhi kekeruhan dari air laut
itu sendiri. Semakin keruh perairan maka membuktikan banyak sedimen
yang berada di kolom perairan. Sehingga laju sedimentasi yang terjadi
akan semakin besar apabila kita menggunakan alat sedimen trap. Tetapi
jika kita melihat secara langsung dengan menancapkan penggaris maka
hasil yang didapat akan minus. Hal tersebut dikarenakan sedimen yang ada
didasar akan tergerus dan terbawa arus laut yang ditimbulkan oleh badai.
IV.2.6 Batimetri
a. Prinsip kerja dan cara pemakaian echosounder
Echosounder pada prinsipnya memanfaatkan gelombang akustik yang
ditembakkan oleh transducer ke arah dasar perairan. Pada praktikum
metode oseanografi ini digunakan echosounder single beam. Pada
echosounder jenis ini gelombang akustik akan ditembakkan ke arah ke
arah titik di dasar perairan dengan jarak antar titik sesuai skala yang
diinginkan. Tipe echosounder yang digunakan adalah GPS Map 585. Pada
echosounder akan ada beberapa parameter yang terukur selama
penggunaan alat, yaitu kedalaman perairan, temperatur, objek di kolom air
yang dilewati saat pengukuran, dan kecepatan kapal. Echosounder jenis ini

75

memiliki 2 jenis frekuensi, yaitu 50 kHz dan 200 kHz. Pilihan frekuensi
akan berpengaruh terhadap resolusi dan pentrasi yang dihasilkan.
Cara pemakaian echosounder diawali dengan memasang kabel
antenna GPS dan transducer ke layar monitor. Selanjutnya letakkan
antenna GPS pada titik tertinggi di perahu, kemudian pasang transducer
pada bagian belakang kapal yaitu ditempelkan pada kayu atau bambu.
Selanjutnya hidupkan layar monitor echosounder dengan menekan tombol
ON. Setelah keluar tampilan map, pada map terdapat segitiga hitam yang
menunjukkan posisi keberadaan. Arahkan posisi pergerakan perahu agar
tetap sesuai dengan jalur pengeruman yang telah diinput. Lakukan
pengukuran sesuai jalur, maka akan didapatkan data bathimetri dari
perairan tersebut. Setelah dilakukan data pengukuran, kedalaman hasil
pengukuran harus dikoreksi dengan data pasut terukur yang diukur saat
bersaamaan dengan survei bathimetri.
b. Analisis Batimetri Perairan
Setelah dilakukan pengukuran bathimetri pada perairan Teluk Awur
didapatkan 334 titik yang terukur pola dasar perairannya. Didapatkan
kedalaman hasil pengukuran berada pada interval 4.9- 0.008 meter
dibawah permukaan laut. Karakteristik pantai Teluk Awur adalah memiliki
pantai dengan kelerengan hampir datar. Hal ini menyebabkan perubahan
kedalaman pada dasar perairan semakin ke laut nilainya tidak terlalu
berbeda jauh. Kondisi dasar perairan Teluk Awur ini menyebabkan zona
gelombang pecah berada pada titik yang cukup jauh dari garis pantai.

76

Selain itu hal ini mempengaruhi perubahan elevasi pasut, dimana nilai
perubahan elevasi setiap waktunya tidak akan terlalu besar. Kondisi
kedalaman dasar perairan Teluk Awur yang hanya mencapai kedalaman
maksimal 5 m menunjukkan juga bahwa kapal dengan ukuran gross ton
yang cukup besar tidak boleh berlayar terlalu dekat dengan garis pantai.
c. Kondisi Perairan
Kondisi perairan Teluk Awur saat pengukuran adalah memiliki
gelombang yang cukup tinggi. Kondisi gelombang ini tidak lepas dari
Indonesia yang sedang memasuki musim barat. Dimana angin yang
berhembus lebih kuat, sehingga menghasilkan gelombang yang tinggi.
d. Mengapa pengukuran tidak sesuai jalur
Pengukuran yang ditempuh pada praktikum metode oseanografi tidak
sesuai jalur pengeruman. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu :
1. Pengemudi kapal yang tidak mendapat arahan
Pada

pengukuran

bathimetri

seharusnya

praktikan

harus

memberikan arahan terhadap pengemudi perahu bila tidak sesuai


jalur. Jalur yang sesuai dapat diamati melalui layar display dari
echosunder.
2. Gelombang yang besar
Faktor gelombang yang besar juga mempengaruhi pergerakan
perahu, karena ukuran perahu yang kecil akan menyebabkan
menjadi mudah terombang- ambing akibat adanya gelombang. Bila
77

sudah mengalami faktor ini biasanya perahu akan menyimpang dari


jalur rencana pengeruman. Untuk mengatasinya dapat digunakan
perahu dengan ukuran yang lebih besar atau menggunakan
echosounder yang memiliki fitur koreksi keseimbangan kiri dan
kanan kapal.

78

V.

PENUTUP

V.1 Kesimpulan
1. Untuk menentukan tinggi gelombang perlu ditentukan terlebih dahulu

2.

puncak dan lembah gelombang dengan menggunakan palem gelombang.


Untuk menentukan periode gelombang dapat dilakukan dengan

3.

menggunakan stopwatch.
Gelombang pada pantai Teluk Awur merupakan gelombang yg dibangkitkan
oleh angin dan termasuk kedalam gelombang perairan menengah.

4. Kecepatan dan arah arus dominan perairan Teluk Awur, Jepara mengarah ke
arah barat daya. Sebaran arus dan kecepatan nya terkumpul pada nilai -0.2
sampai 0.3 m/s.

5.
6.
7.

Nilai MSL di perairan Teluk Awur, Jepara adalah 119 cm.


Tingkat kecerahan perairan, dipengaruhi oleh kondisi cuaca, waktu
pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi.
Derajat keasaman (pH) adalah ukuran tentang besarnya kosentrasi ion
hidrogen dan menunjukkan apakah air itu bersifat asam atau basa dalam

8.

reaksinya.
Pada perairan Teluk Awur, nilai salinitas lebih dipengaruhi oleh tingginya
curah hujan di perairan. Sedangkan masukkan dari sungai tidak terlalu

9.

berpengaruh karena lokasi pengukuran jauh dari muara sungai.


Suhu rata rata perairan Teluk Awur adalah 28.67 . Hal ini menunjukkan
bahwa pada saat pengukuran suhu, perairan cenderung hangat.

10.

Deraj

at keasaman (pH) adalah ukuran tentang besarnya kosentrasi ion hidrogen


dan menunjukkan apakah air itu bersifat asam atau basa dalam reaksinya.

79

11.

Nilai

DO disuatu perairan, dipengaruhi oleh kecerahan, suhu dan intensitas


matahari yang masuk perairan.

12.

Untu

k pengukuran survei bathimetri diperlukan beberapa tahapan sebelum dapat


memmperoleh data. Tahapan tersebut adalah perencanaan yang meliputi
dalam jalur pengeruman, perkiraan lama pengukuran, dan biaya yang
dibutuhkan. Tahapan selanjutnya adalah pengukuran data di lapangan
bersamaan dengan pengukuran pasut dan tahapan yang terakhir adalah
koreksi data bathimetri menggunakan data pasut.

13.

Alat

echosounder dapat digunakan dalam penelitian mengenai topografi dasar


perairan dan bias juga digunakan oleh nelayan untuk efektivitas dalam
mendeteksi ikan di dalam kolom air.

14.

Kore

ksi nilai bathimetri menggunakan data pasang surut harus dilakukan untuk
mendapatkan

kedalaman

perairan

yang

sesungguhnya.

Selain

itu

pengukuran pasut juga harus dilaksanakan dalam waktu yang sama saat
melakukan survey bathimetri.
15. Laju

sedimentasi

tiap

kelompok

berbeda

dikarenakan

perbedaan

struktur.dasar laut.
16. Sesuai baku mutu perairan, perairan Teluk Awur Jepara termasuk dalam
kategori buruk.

80

V.2 Saran
1. Dalam melakukan pengambilan sampel, praktikan seharusnya melakukan
kalibrasi pada alat agar hasilnya akurat
2. Dalam melakukan pengukuran sebaiknya di lakukan dengan teliti
3. Kuasai materi sebelum melakukan sampling

81

DAFTAR PUSTAKA
Al Kautsar, Muhammad, Bandi Sasmito, Ir. Haniah. 2013. Aplikasi Echosounder
HI-TARGET HD 370 untuk Pemeruman di Perairan Dangkal (Studi Kasus
: Perairan Semarang). Jurnal Teknik Geodesi. Vol.2 (4) : 222-239.
Andayani, S. 2005. Manajemen Kualitas Air Untuk Budidaya Perairan.
Universitas Brawijaya : Malang
Arifin, Taslim, Yulius, dan M. Furqon Azis Ismail. 2012. Kondisi Arus Pasang
Surut di Perairan Pesisir Kota Makasar, Sulawesi Selatan., Vol.1(3): 183188.
Aziz, M Furqon. 2006. Gerak Air di Laut. Oseana, Volume XXXI, Nomor 4, Tahun
2006 : 9 21. www.oseanografi.lipi.go.id
Davis. 1974. Information Technology, John Wiley New York and Sons.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Cetakan Kelima. Kanisius. Yogjakarta.
Friedman, G. M., dan Sanders, J. E. 1978. Principles of Sedimentology. John
Willey & Sons, Inc. United Sates of America.
Gramedia.
Gross, M.G. 1990. Oceanography : A View of Earth. Prentice Hall. Inc.
Englewood Cliff . New Jersey .

82

Hadikusumah, P.1988. Kondisi Arus Pasang Surut di Perairan Ujung Watu Jepara
dalam Proseding Seminar Ekologi Laut dan Pesisir I. Puslitbang LIPI dan
Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI).
Kordi, K Ghufron dan Andi Baso Tancung. 2009. Pengelolaan Kualitas Air dalam
Budidaya Perairan. Rineka Cipta : Jaarta
Mahatmawati, Anugrah Dewi, Mahfud Efendi, Aries D.S., Zainul Hidayah, dan
Wahyu A.N. 2009. Perbandingan Fluktuasi Muka Air Laut Rerata (MLR)
di Perairan Pantai Utara Jawa Timur dengan Perairan Pantai Selatan
Jawa Timur. Jurnal Kelautan., Vol.2(1): 33-42.
Masduqi, E. Soedjono, N.Endah, W.Hadi. 2009. Prediction Of Rural Water
Supply System Sustainability Using A Mathematical Model. Jurnal
Purifikasi, Jurnal Teknoogi Dan Manajemen Lingkungan. Vol,10 (2) : 131139.
Muchtar, Muswerry. 2002. Fluktasi Fosfat dan Nitrat Pada Musim Peralihan di
Teluk Banten, Jawa Barat. LIPI : Jakarta
Musrifin. 2011. Analisa Pasang Surut Perairan Muara Sungai Mesjid Dumai.
Jurnal Perikanan dan Kelautan., Vol.16(1): 48-55.
Nining, S. N. 2002. Oseanografi Fisis.

Kumpulan Transparansi Kuliah

Oseanografi Fisika, Program Studi Oseanografi, ITB.


Nontji, Anugerah, Dr. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan. Jakarta
Nybakken, James W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta. PT.
Pettijohn, F. J. 1975. Sedimentary Rock. Halper and R Brother. New York.

83

Pipkin, B.W. 1977. Laboratory Exercise in Oceanography. W.H. Freeman and


Company. San Fransisco.
Poerbandono dan Djunarsjah, 2005, Survei Hidrografi, Aditama, Bandung.
Pratikto, Widi., Armono, Haryo Dwito., Suntoyo. 1996. Perencanaan Fasilitas
Pantai dan Laut. BPFE. Yogyakarta.
Purifikasi, Jurnal Teknoogi Dan Manajemen Lingkungan, Volume 10
No.2,Desember 2009.
Rahayu,

Yustina.

SP.

2011.

Perbandingan

Jaringan

Syaraf

Tiruan

BACKPROPAGATION dan ARIMA dalam Peramalan Pasang Surut (Studi


Kasus di Teluk Bintuni). IPB. Bogor
Santika, S.S. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional.
Sidjabat,M.M., 1976. Pengantar Oceanografi. Fakultas Perikanan Institute
Pertaniaan Bogor Bogor.
Sihotang, C. dan Efawani. 2006. Penuntun Praktikum Limnologi. Fakultas
Perikanan Dan Ilmu Kelautan UNRI : Pekanbaru. 26 hal.
Supply System Sustainability Using A Mathematical Model, Jurnal
Susana, Tjutju. 2002. Nitrogen Urea di Perairan Teluk Banten. LIPI : Jakarta
Syukur, A., 2002. Kualitas Air dan Struktur Komunitas Phytoplankton di Waduk
Uwai. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.
Pekanbaru. 51 hal. (tidak diterbitkan).

84

Triatmodjo, Bambang. 1999. Teknik Pantai. Yogyakarta : Beta Offset.


Wibisono, M. S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Yunita, Nurul Fatimah, Muslim, dan Lilik Maslukhah. 2013. Sebaran Silikat
secara Horizontal oleh Arus dan Pasang surut di sekitar Perairan
Pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Jurnal Oseanografi. Vol.2(1): 26-32.

85