Anda di halaman 1dari 12

SIKLUS AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Akuntansi pada dasarnya, merupakan suatu proses pengolahan informasi yang menghasilkan
keluaran berupa informasi akuntansi, yang salah satu bentuknya adalah laporan keuangan. Laporan
keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses akuntansi, yaitu aktivitas pengumpulan dan pengolahan data
keuangan untuk disajikan dalam bentuk laporan keuangan atau ikhtisar-ikhtisar lainnya yang dapat
digunakan untuk membantu para pemakainya dalam mengambil keputusan. Siklus akuntansi merupakan
suatu proses penyediaan laporan keuangan organisasi suatu periode akuntansi tertentu.
Proses Pencatatan Siklus Akuntansi
Alur proses siklus akuntansi dapat dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu:
Tahap-tahap dalam Siklus Akuntansi

Sumber : Bastian: 2006:214


Mulai dari kegiatan pencatatan sampai dengan penyajian, proses akuntansi yang terdiri dari
beberapa kegiatan sebagai berikut:
Pencatatan dan Penggolongan Bukti-bukti pembukuan dicatat dalam buku jurnal. Transaksitransaksi yang sama yang sering terjadi dicatat dalam buku jurnal khusus.
Peringkasan/pengikhtisaranTransaksi-transaksi yang sudah dicatat dan digolongkan dalam buku
jurnal, setiap bulan atau periode tertentu diringkas dan dibukukan dalam rekening-rekening buku
besar.
Penyajian/PelaporanData akuntansi yang tercatat dalam rekening-rekening buku besar akan
disajikan dalam bentuk laporan keuangan yaitu neraca, laporan surplus defisit, laporan arus kas dan
laporan perubahan ekuitas. Penyerderhanaan pekerjaan penyusunan laporan keuangan biasanya
dilakukan melalui neraca lajur (kertas kerja).
Proses akuntansi ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Bukti-bukti pembukuan dicatat dalam buku jurnal setiap terjadi transaksi secara kronologis.
Tembusan bukti-bukti pembukuan dibukukan ke dalam buku pembantu setiap terjadi transaksi. Setiap
bulan atau periode tertentu, buku jurnal dijumlah dan dibukukan ke akun-akun dalam buku besar. Setiap
akhir periode dari buku besar disusun laporan-laporan keuangan. Sistem akuntansi yang baik dapat
memastikan berjalannya proses penyusunan laporan keuangan, seperti:
1. Bukti-bukti pembukuan, yang merupakan catatan pertama dari setiap transaksi dan digunakan
sebagai dasar pencatatan dalam buku jurnal.
2. Buku-buku jurnal, sering disebut dengan buku catatan pertama, merupakan buku yang digunakan
untuk mencatat transaksi-transaksi sesuai dengan tanggal terjadinya (kronologis), dan sumber
pencatatannya berasal dari bukti-bukti pembukuan. Apabila suatu transaksi yang sama sering
terjadi, biasanya dibuatkan buku jurnal khusus yang digunakan untuk mencatat suatu jenis
transaksi tertentu seperti jurnal pengeluaran kas, dan lain-lain.
Akun-akun, buku besar, dan catatan yang ada dalam buku jurnal akan dipindahkan ke dalam
akun-akun yang sesuai. Akun-akun ini disusun dalam format yang akan memudahkan penyusunan laporan
keuangan. Kumpulan dari akun-akun ini disebut sebagai buku besar. Akun-akun dalam buku besar ini bisa
diklasifikasikan menjadi kelompok akun riil, nominal, dan campuran.
Akun riil adalah akun-akun aktiva, kewajiban, dan ekuitas yang merupakan pos-pos neraca,
sehingga akun-akun riil itu merupakan akun-akun neraca. Akun nominal adalah akun-akun pendapatan,
biaya, dan surplus/defisit yang merupakan pos-pos dalam laporan surplus/defisit, sehingga akun-akun
nominal itu merupakan akun surplus/defisit.
Akun campuran adalah akun-akun yang saldonya mengandung unsur-unsur akun riil dan nominal.
Setiap akhir periode, akun-akun campuran ini perlu dianalisis dan dipisahkan menjadi akun riil dan
nominal. Contoh akun-akun campuran adalah akun pembantu kantor yang didalamnya terdiri dari jumlah
bahan pembantu yang digunakan dan persediaan bahan pembantu.
Proses Pencatatan Siklus Akuntansi Sektor Publik
Ketika melakukan pencatatan akuntansi, basis akuntansi dan fokus pengukuran merupakan dua
hal yang penting. Basis akuntansi menentukan kapan transaksi dan peristiwa yang terjadi diakuiatau
dicatat, sedangkan fokus pengukuran menentukan aset atau kewajiban apa saja yang akan diakui dalam
neraca. Kedua hal ini juga saling berkaitan. Ketika basis kas dipilih, maka transaksi dicatat pada saat kas
diterima dan dibayarkan sehingga hanya akun kas dan ekuitas yang dilaporkan dalam Neraca. Lain halnya
ketika basis akrual yang digunakan, transaksi akan dicatat jika secara ekonomi telah terjadi, tanpa harus
menunggu kas diterima atau dibayarkan. Akibatnya, dengan basis akrual ini, akun-akun yang dilaporkan
dalam Neraca tidak sebatas akunkas saja, namun semua sumber daya yang dimiliki, utang, dan
ekuitas.Keunggulan penggunaan basis akrual ini adalah informasi yang disajikan dalam Neraca akan lebih
komprehensif karena mempresentasikan seluruh sumber daya yang dimiliki entitas.
Sayangnya, basis akrual sepenuhnya ini belum bisa diterapkan oleh semua entitas
akuntansi.Entitas pemerintah merupakan entitas yang memiliki karakteristik unik dalam basis
akuntansinya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 yang mengatur
StandarAkuntansi Pemerintahan (SAP), basis akuntansi yang digunakan entitas pemerintah adalah basis
kas menuju akrual (cash toward accrual ). Dengan basis ini, aset, kewajiban, dan ekuitas dana dicatat
dengan berbasis akrual sedangkan komponen Laporan Realisasi Anggaran seperti pendapatan, belanja,
dan pembiayaan dicatat dengan basis kas. Konsekuensi dari penggunaan basis kas menuju akrual ini
adalah
dibutuhkannya
penggunaan jurnal korolari.
Untuk
memudahkan pemahaman, penulis akan memberikan bagai- mana jurnal korolari ini digunakan.
Contoh pertama, misalnya terjadi transaksi pembelian kendaraan senilai 100.000.000 secara tunai.
Karena segala pengeluaran yang melibatkan kas harus disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran
dengan basis kas, maka transaksi ini akan dicatat dengan cara:
Dr. Belanja Kendaraan
Rp100.000.000
Cr. Kas
Rp 100.000.000

Belanja kendaraan merupakan akun nominal yang akan disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran, sedangkan kas merupakan akun riil yang akan disajikan dalam Neraca. Akibatnya,apabila
hanya jurnal tersebut yang dibuat, maka hanya akun kas yang disajikan sebagai bagianaktiva Neraca.
Padahal, menurut SAP, Neraca pemerintah harus disajikan dengan basis akrualatau memperesentasikan
semua sumber daya yang dimiliki dan tidak terbatas kas saja. Karena itulah, dibutuhkan jurnal tambahan
yaitu jurnal korolari sebagai solusi penerapan basis kasmenuju akrual ini. Masih mengacu pada transaksi
di atas, maka pencatatan yang sebaiknya adalah:
Dr. Belanja Kendaraan
Rp. 100.000.000
Cr. Kas
Rp. 100.000.000
Jurnal Korolari:
Dr. Kendaraan
Rp. 100.000.000
Cr. Ekuitas dana yang diinvestasikan dalam aset tetap
Rp. 100.000.000
Dengan adanya jurnal korolari, belanja kendaraan telah sesuai dicatat dengan basis kas dan disajikan
dalam Laporan Realisasi Anggaran. Disisi lain, Neraca telah disajikan dengan basis akrual karena
mempresentasikan semua sumber daya yang dimiliki dimana akun yang disajikandalam Neraca tidak
hanya kas dan ekuitas dana, tetapi juga aset tetap seperti kendaraan.
Contoh lain, misalnya Pemerintah Daerah melakukan pinjaman kepada Pemerintah Pusat sebesar Rp
50.000.000 yang akan jatuh tempo dalam lima tahun mendatang dengan bunga pinjaman 10% per tahun.
Pembayaran bunga dilakukan setiap tahun pada tanggal 15 januari. Jurnal yang akandibuat pada akhir
tahun berdasarkan basis akrual adalah pengakuan utang bunga yaitu sebesar Rp5.000.000
(10%*Rp50.000.000). Jurnalnya sebagai berikut:
Jurnal Korolari:
Dr. Ekuitas dana yang harus disediakan untuk pembayaranbunga Rp 5.000.000
Cr. Utang bunga
Rp 5.000.000
Sedangkan jurnal yang dibuat ketika pembayaran bunga (15 Januari) adalah:
Dr. Belanja bunga
Rp 5.000.000
Cr. Kas
Rp 5.000.000
Dr. Utang bunga
Rp 5.000.000
Cr. Ekuitas dana yang harus disediakan untuk pembayaran bunga Rp 5.000.000
Pencatatan transaksi tersebut telah sesuai dengan SAP karena telah menyajikan akun Neraca
dengan basis akrual dan menyajikan akun Laporan Reliasasi Anggaran dengan basis kas.Maka dapat
disimpulkan, jurnal korolari ini penting supaya transaksi yang melibatkan akun riilselain kas bisa tetap
disajikan dalam Neraca dan disisi lain komponen Laporan RealisasiAnggaran seperti pendapatan, belanja,
dan pembiayaan tetap dapat pula disajikan.
Dalam kaitannya dengan anggaran APBN maupun APBD, perencanaan manajerial, serta proses
pengawasan dalam entitas pemerintah dengan sistem akuntansi dapat digambarkan dalam bagan alir
dibawah ini. Bagan alir itu merupakan perpaduan antara sistem pengendalian manajemen entitas
pemerintah dengan sistem akuntansinya.
Analisis Keuangan Laporan Keuangan Sektor Publik
Laporan keuangan sektor publik merupakan representasi posisi keuangan dari transaksitransaksi yang dilakukan oleh suatu entitas sektor publik. Tujuan umum pelaporan keuangan adalah untuk
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan arus kas dari suatu entitas yang berguna
bagi sejumlah besar pemakai (wide range users) dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu entitas dalam aktivitasnya untuk mencapai tujuan.
Komponen Komponen Laporan Keuangan Sektor Publik
Laporan keuangan terdiri dari:
(a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA);
(b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL);
(c) Neraca;

(d) Laporan Operasional (LO);


(e) Laporan Arus Kas (LAK);
(f) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE);
(g) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Tujuan Dan Fungsi Laporan Keuangan Sektor Publik
Secara umum, tujuan dan fungsi laporan keuangan sektor publik adalah :
1. Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi,sosial, dan
politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban (accontability) dan pengelolaan (stewardship).
2. Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan
organisasional. Laporan keuangan untuk mendukung pembuatan keputusan ekonomi, sosial, dan
politik tersebut meliputi informasi yang digunakan untuk :
a. membandingkan kinerja keuangan aktual dengan yang dianggarkan
b. menilai kondisi keuangan dan hasil-hasil operasi
c. membantu menentukan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang terkait
dengan masalah keuangan lainnya
d. membantu dalam mengevaluasi efisiensi dan efektivitas.
Laporan keuangan sebagai sumber informasi financial memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap kualitas keputusan yang dihasilkan. Laporan keuangan merupakan tindakan pragmatis, oleh
karena itu laporan keuangan pemerintah harus dievaluasi dalam hal manfaat laporan tersebut terhadap
kualitas keputusan yang dihasilkan serta mudah tidaknya laporankeuangan tersebut oleh pemakai. Dalam
konteks akuntansi sector public, jenis informasi yang diberikan untuk pengambilan keputusan adalah
terbatas pada informasi yang bersifat financial saja, sedangkan informasi financial itu sendiri adalah
informasi yang diukur dengan satuan moneter. Secara rinci tujuan akuntansi dan laporan keuangan
organisasi pemerintah adalah :
1. Memberikan informasi keuangan untuk menemukan dan memprediksi aliran kas, saldoneraca, dan
kebutuhan sumber daya financial jangka pendek unit pemerintah.
2. Memberikan informasi keuangan untuk menentukan dan memprediksi kondisi ekonomisuatu unit
pemerintahan dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya.
3. Memberikan informasi keuangan untuk memonitor kinerja, kesesuiannya denganperaturan
perundang-undangan, kontrak yang telah di sepakati, dan ketentuan lain yangdi syaratkan.
4. Memberikan informasi untuk perencanaan dan penganggaran, serta untuk memprediksipengaruh
akuisisi dan alokasi sumber daya terhadap pencapaian tujuan operasional.
5. Memberikan informasi untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan operasional.
Perencanaan dan Penganggaran
Anggaran merupakan alat perencanaan sekaligus alat pengendalian pemerintah. Anggaran sebagai
alat perencanaan mengindikasikan target yang harus dicapai oleh pemerintah, sedangkan anggaran
sebagai alat pengendalian mengindikasikan alokasi sumber dana yang di setujui legislatif untuk
dibelanjakan. Proses penganggaran sector public melibatkan partisipasi banyak pihak, sehingga informasi
financial sangat diperlukan agar public dapat mengevaluasi anggaran yang diajukan pemerintah.
Membuat anggaran membutuhkan pertimbangan-pertimbangan teknis akuntansi yang matang. Dalam
membuat anggaran, akuntansi dibutuhkan terutama untuk mengestimasi biaya program dan memprediksi
kondisi ekonomi pemerintah dan perubahan-perubahan yang akan terjadi. Informasi akuntansi sangat
membantu dalam pemilihan program yang efektif sesuai dengan kemampuan ekonomi pemerintah.
Kinerja Manajerial dan Organisasional
Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai berdasarkan laba yang diperoleh, karena organisasi
pemerintah bukan entitas bisnis yang mencari laba. Mungkin saja pemerintah memiliki program atau
aktivitas yang dari program tersebut dihasilkan pendapatan yang lebih besar dari biayanya, sehingga
pemerintah mengalami surplus atas program tersebut. Akan tetapi, surplus yang diperoleh tidak berarrti

menunjukkan kinerja unit pemerintah yang bagus sebab harus dilihat juga apakah surplus tersebut
karena tarif yang terlalu tinggi yang dibebankan kepada public, termasuk tingkat kualitas pelayanan yang
diberikan apakah sudah memadai. Laba bukan merupakan ukuran yang relevan bagi unit pemerintah.
Akuntansi sector public berfungsi untuk memfasilitasi terciptanya alat ukur kinerja sector public
yang memadai. Ukuran kinerja sector public dapat berupa biaya program, efisiensi, dan efektivitas
program. Akuntan sector public bertanggung jawab untuk menetapkan biaya program dan menghitung
tingkatefisiensi dan efektivitas program. Pengukuran efisiensi memerlukan informasi biaya, sehingga
biaya pelayanan dapat dijadikan sebagai salah satu ukuran kinerja. Selain informasi biaya, pengukuran
efisiensi memerlukan penghitungan output atau hasil. Akan tetapi, output pada sector public lebih banyak
berupa intangible output , sehingga pengukuran efisiensi sering mengalami kesulitan. Ukuran kinerja
yang kemudian dikembangkan adalah pengukurane fektivitas. Karena sulitanya mengukur secara tepat
kinerja di sector public, maka analisis terakhir adalah dengan mempertimbangkan seberapa jauh suatu
program dan pelayanan memenuhi kebutuhan masyarakat relative terhadap biaya yang dikeluarkan.
Pemakai Laporan Keuangan Sektor Publik Dan Kepentingannya
Pada bahasan ini akan dilakukan pengklasifikasian pengguna laporan keuangan dan kebutuhan
masing-masing kelompok pengguna laporan keuangan sector public tersebut. Drebin et al. (1981)
mengidentifikasikan terdapat sepuluh kelompok pemakai laporan keuangan. Lebih lanjut Drebin
menjelaskan keterkaitan antar kelompok pemakai laporan keuangan tersebut dan menjelaskan
kebutuhannya. Kesepuluh kelompok pamakai laporan keuangan tersebut adalah:
1. Pembayar pajak (taxpayers)
2. Pemberi dana bantuan (grantors)
3. Investor
4. Pengguna jasa (fee-paying service recipients)
5. Karyawan/pegawai6. Pemasok (vendor)
6. Dewan legislatif
7. Manajemen
8. Pemilih (voters)
9. Badan pengawas (oversight bodies)
Pengklasifikasian tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa pembayar pajak, pemberi dana
bantuan, investor, dan pembayar jasa pelayanan merupakan sumber penyedia keuangan organisasi;
karyawan dan pemasok merupakan penyedia tenaga kerja dan sumber daya material; dewan legislative
dan manajemen membuat keputusan alokasi sumber daya; dan aktivitas mereka semua diawasi oleh
pemilih dan badan pengawas, termasuk level pemerintahan yanglebih tinggi.
Hak Dan Kebutuhan Pemakai Laporan Keuangan
Pada dasarnya masyarakat (publik) memiliki hak dasar terhadap pemerintah, yaitu :
a. Hak untuk mengetahui (right to know), yaitu : suatu kebijakan dan keputusan tertentu
b. Hak untuk diberi informasi (right to be informed) yang meliputi hak untuk diberi penjelasansecara
terbuka atas permasalahan-permasalahan tertentu yang menjadi perdebatan publik.
c. Hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listen to).
Laporan keuangan pemerintah merupakan hak publik yang harus diberikan oleh pemerintah, baik
pusat maupun daerah. Hak publik atas informasi keuangan muncul sebagai konsekuensi konsep
pertanggungjawaban publik. Pertanggungjawaban publik mensyaratkan organisasi publik untuk
memberikan laporan keuangan sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan (accountability &
stewardship). Setiap pemakai laporan memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda beda
terrhadap informasi keuangan yang diberikan oleh pemerintah. Bahkan di antara kelompok pemakai
laporan keuangan tersebut dapat timbul konflik kepentingan. Laporan keuangan pemerintah disediakan
untuk memberi informasi kepada berbagai kelompok pemakai, meskipunsetiap kelompok pemakai
memiliki kebutuhan informasi yang berbeda beda. Kebutuhan informasi pemakai laporan keuangan
pemerintah tersebut dapat diringkas sebagai berikut :

1. Masyarakat pengguna pelayanan publik membutuhkan informasi atas biaya, harga, dankualitas
pelayanan yang diberikan.
2. Masyarakat pembayar pajak dan pemberi bantuan ingin mengetahui keberadaan danpenggunaan dana
yang telah diberikan. Publik ingin mengetahui apakah pemerintah melakukan ketaatan fiskal dan
ketaatan pada peraturan perundangan atas pengeluaran pengeluaran yang dilakukan.
3. Kreditor dan investor membutuhkan informasi untuk menghiitung tingkat risiko, likuiditas, dan
solvabilitas.
4. Parlemen dan kelompok politik memerlukan informasi keuangan untuk melakukan
fungsipengawasan, mencegah terjadinya laporan yang bias atas kondisi keuangan pemerintah, dan
penyelewengan keuangan negara.
5. Manajer publik membutuhkan informasi akuntansi sebagai komponen sistem informasi manajemen
untuk membantu perencanaan dan pengendalian organisasi, pengukuran kinerja, dan membandingkan
kinerja organisasi antar kurun waktu dan dengan organisasi lain yang sejenis.
6. Pegawai membutuhkan informasi atas gaji dan manajemen kompensasi.
A. Pengertian Siklus Keuangan
Siklus akuntansi merupakan sistematika pencatatan transaksi keuangan, peringkasannya dan pelaporan
keuangan. Siklus ini dimulai dari transaksi yang harus didukung dengan bukti dan dicatat di Buku Jurnal,
selanjutnya diposting ke Buku Besar dan Buku Besar Pembantu. Dengan klasifikasi di Daftar Saldo,
Kertas Kerja serta Penyesuaian maka dihasilkan Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Kinerja Keuangan dan Laporan Perubahan Ekuitas.
Setelah tahap Penutupan dan dibuat Daftar Saldo Setelah penutupan serta Pembalikan, maka Neraca Awal
dapat disusun dengan baik.
B. Transaksi
Transaksi merupakan suatu kegiatan yang dapat mengubah posisi keuangan suatu entitas dan
pencatatannya memerlukan data, bukti atau dokumen pendukung dalam kegiatan operasi suatu entitas.
Pencatat transaksi akuntansi adalah sebagai berikut :
1. Pemegang Kas Bendahara Rutin (Belanja Administrasi Umum, Belanja Operasi dan Pemeliharaan
Sarana dan Prasarana Fisik)
2. Pemegang Kas
Bendahara Proyek (Belanja Modal)
3. Pemegang Kas
Bendahara Gaji
4. Pemegang Kas
Bendahara Penerima
Jenis Transaksi
1. Transaksi Kas, yaitu transaksi yang mengakibatkan pertambahan atau pengurangan kas. Contoh :
Pencairan SPMU, Penerimaan Piutang, Pembayaran Belanja Gaji, dll.
2. Transaksi Nonkas, yaitu transaksi yang mengakibatkan perubahan pada aset, utang, pendapatan,
belanja tetapi tidak mempengaruhi kas. Contoh : Penerimaan aktiva tetap dari donatur, pembebasan
utang.
Bukti Transaksi
Bukti transaksi adalah semua media pendokumentasian dari transaksi atau kejadian ekonomi. Contoh :
Kas
Surat Tanda setoran (STS), Surat Perintah Membayar (SPM)
Piutang
Daftar piutang
Persediaan
BA Penerimaan barang, daftar persediaan
Aktiva Tetap
BA Penerimaan inventaris, daftar aktiva
Utang
Surat perjanjian (Akad Kredit), dokumen penarikan pinjaman
Pendapatan
Surat Tanda Setoran (STS), Daftar Pembukuan Administratif (DPA)
Belanja
Surat Perintah Membayar (SPM), Daftar Pembukuan Administratif (DPA)
Bukti Jurnal

Bukti jurnal adalah pendokumentasian bukti transaksi ke dalam alat/ media untuk melakukan pencatatan
akuntansi. Bukti jurnal memuat kode serta sisi debet dan kredit perkiraan Buku Besar dari masing-masing
transaksi, nama dan tanda tangan/paraf dari petugas/pejabat pembuat bukti, petugas/pejabat validasi bukti,
dan petugas pembuku bukti. Bukti jurnal ini sebagai dasar melakukan pencatatan dalam Buku Jurnal.
Penggolongan Bukti Jurnal :
1. Bukti Jurnal Kas Masuk (BKM), yaitu dokumen yang mendukung jurnal penerimaan kas. Pemegang
kas pada satuan kerja perangkat daerah membuat BKM berdasarkan dokumen dasar berupa Surat
Tanda Setoran (STS) atau bukti pemotongan/pemungutan pajak-pajak pusat/negara. Bendaharawan
Umum Daerah/Pengelola Keuangan Daerah membuat BKM berdasarkan STS ke Kas daerah.
2. Bukti Jurnal Kas Keluar (BKK), yaitu dokumen yang mendukung jurnal pengeluaran kas oleh
Bendaharawan atau Kas Daerah. Pemegang Kas pada satuan kerja perangkat daerah membuat BKK
berdasarkan dokumen dasar berupa bukti-bukti pengeluaran anggaran. Pengelola Keuangan Daerah
membuat BKM mendasarkan SPM (Surat Perintah Membayar).
3. Bukti Jurnal Nonkas/Memorial (BM), yaitu dokumen yang mendukung penambahan dan atau
pengurangan terhadap pendapatan, belanja, pembiayaan, aset, utang, ekuitas dari transaksi nonkas.
C. Jurnal
Jurnal merupakan metode yang dipakai untuk mencatat, mengklasifikasikan dan meringkas data
keuangan maupun data lainnya. Data yang dicatat meliputi :
1. Tanggal transaksi
2. Kode rekening
3. Uraian
4. Jumlah debet
5. Jumlah kredit
Basis akuntansi adalah perlakuan pengakuan atas hak dan kewajiban yang timbul dari transaksi
keuangan. Perbedaan basis akan berpengaruh terhadap proses akuntansi. Terdapat dua basis yaitu (1)
basis kas adalah basis yang mengakui timbulnya hak atau kewajiban pada saat kas diterima atau
dikeluarkan. (2) basis akrual adalah basis yang mengakui adanya hak atau kewajiban pada saat
perpindahan hak lepas dari saat kas diterima atau dikeluarkan. Standar Akuntansi Pemerintahan
menggunakan basis modifikasian yang disebut dengan basis kas menuju akrual. Aset, kewajiabn, dan
utang diakui menurut basis akrual sedangkan pendapatan, belanja, dan pembiayaan diakui berdasarkan
basis kas. Agar transaksi dapat dicatat atau muncul dalam akun neraca, maka digunakan mekanisme
Jurnal Korolari dan/atau jurnal penyesuaian akhir tahun. Keguanaan jurnal korolari adalah untuk mencatat
agar transaksi yang mempengaruhi akun neraca (selain kas) dan Laporan Realisasi Anggaran dapat dicatat
pada waktu yang sama.
1. Kas dan Bank
Kas adalah alat pembayaran yang sah yang setiap saat dapat digunakan. Bank adalah tempat
penyimpan kas daerah (Kasda) atau kas di pemegang kas (PK).
2. Piutang
Piutang merupakan hak atau klaim kepada pihak ketiga yang diharapkan dapat dijadikan kas dalam
satu periode akuntansi.
3. Persediaan
Persediaan adalah barang yang dijual atau dipakai habis dalam satu periode akuntansi.
4. Investasi Jangka Panjang
Menggambarkan jumlah yang dibayarkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk : (1) penyertaan
modal pemerintah BUMD, lembaga keuangan daerah, badan hukum milik negara, badan internasional
dan badan usaha lainnya yang bukan milik daerah (2) pinjaman jangka panjang BUMD, lembaga
keuangan daerah, pemerintah pusat/daerah, dan pihak lainnya termasuk pinjaman luar negeri yang
terus dipinjamkan (3) penanaman modal dalam proyek pembangunan yang dapat dialihkan kepada
pihak ketiga (4) investasi jangka panjang lainnya yang dimiliki dengan maksud menghasilkan
pendapatan.
5. Aset Tetap

Aset tetap adalah aktiva berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari dua belas bulan dan
digunakan untuk penyelenggaraan kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
6. Dana Cadangan
Dana cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana
relatif cukup besar yang tidak dapat dibebankan dalam satu periode akuntansi.
7. Aset lain-lain
Aset lain-lain adalah aset yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam aset lancar, investasi jangka
panjang, aset tetap dan dana cadangan. Antara lain tagihan penjualan angsuran, kemitraan dengan
pihak ketiga, bangunan dalam pengerjaan.
8. Kewajiban Jangka Pendek
Kewajiban jangka pendek merupakan kewajiban yang harus dibayar kembali atau jatuh tempo dalam
satu periode akuntansi.
9. Akuntansi Utang Jangka Panjang
Utang jangka panjang merupaka utang yang harus dibayar kembali atau jatuh tempo lebih dari satu
periode lebih dari satu periode akuntansi. Dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana
yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali
pinjaman, serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat.
10. Ekuitas Dana
Ekuitas dana adalah jumlah kekayaan bersih yang merupakan selisih antara jumlah aset dengan
jumlah utang, terdiri dari :
a. Ekuitas Dana Lancar (EDL)
Merupakan selisih antara jumlah nilai aset lancar dengan jumlah nilai utang/kewajiban lancar.
Terdiri atas : siLPA Tahun Pelaporan, Akumulasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA),
cadangan untuk piutang, cadangan untuk persediaan, dana yang harus disediakan untuk
pembayaran utang jangka pendek.
b. Akuntansi Ekuitas Dana yang Diinvestasikan (EDI)
Merupakan selisih antara jumlah nilai investasi permanen, aset tetap, aset lainnya (tidak termasuk
Dana Cadangan) dengan jumlah nilai utang jangka panjang. Meliputi dana yang : diinvestasikan
dalam investasi permanen, diinvestasi dalam aset tetap, diinvestasi dalam aset lainnya, dan
sebagai rekening yang mengurangi (contra account) adalah dana yang disediakan untuk
pembayaran utang jangka panjang.
c. Akuntansi Ekuitas Dana yang Dicadangkan (EDC)
Diinvestasikan dalam dana cadangan merupakan ekuitas dana yang dicadangkan untuk tujuan
tertentu. Jadi rekening ini merupakan pasangan rekening dana cadangan.
11. Akuntansi Pendapatan
a. Pendapatan adalah peningkatan aktiva dan atau penurunan utang yang berasal dari berbagai
kegiatan periode berjalan akuntansi tertentu.
b. Pendapatan Daerah adalah semua penerimaan kas daerah dalam periode tahun anggaran tertentu
yang menjadi hak daerah.
c. Pendapatan Daerah dirinci menurut kelompok pendapatan terdiri sebagai berikut : pendapatan asli
daerah, transfer dan lain-lain pendapatan yang sah.
d. Saldo normal perkiraan buku besar pendapatan daerah adalah saldo kredit
e. Pendapatan daerah diakui dalam periode berjalan.
f.
Pengakuan Pendapatan daerah diakui dalam periode berjalan berdasarkan jumlah kas tang
diterima.
g. Pencatatan pendapatan harus dilaksanakan berdasarkan asas bruto.
h. Pengukuran pendapatan daerah menggunakan mata uang rupiah.
i. Pendapatan daerah diukur dengan mata uang asing dikonversi ke mata uang rupiah.
12. Akuntansi Belanja
a. Belanja adalah penurunan aktiva dan atau kenaikan utang yang berasal dari berbagai kegiatan
dalam satu periode akuntansi.

b. Belanja daerah adalah semua pengeluaran kas daerah dalam periode tahun anggaran tertentu
menjadi beban daerah.
c. Belanja daerah terdiri dari bagian belanja operasi, belanja modal, belanja tak terduga.
d. Saldo normal perkiraan buku besar bagian belanja daerah adalah saldo normal.
13. Akuntansi Pembiayaan
a. Pembiayaan adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah daerah, baik penerimaan maupun
pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dimaksudkan untuk menutup
defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran.
b. Saldo normal perkiraan buku besar penerimaan pembayaran adalah saldo kredit.
D. Buku Besar
Buku besar merupakan suatu buku yang berisi kumpulan rekening atau rekening yang dicatat dalam
jurnal. Buku besar dibuat oleh :
1. Pemegang kas
bendahara rutin
2. Pemegang kas
bendahara proyek
3. Pemegang kas
bendahara gaji
4. Pemegang kas
bendahara penerima
E. Format Buku Besar Bentuk T
F. Format Buku Besar Bentuk Panjang
G. Buku Besar Pembantu
Buku besar pembantu digunakan untuk mencatat rincian rekening tertentu yang ada dibuku besar, yaitu
piutang, persediaan, investasi jangka panjang, aktiva tetap dan utang.
H. Buku Besar Pembantu Kas
Buku besar pembantu kas berisi rincian pendapatan-pendapatan, misalnya pendapatan pajak reklame dan
pendapatan retribusi parkir. Terdapat dua macam buku besar pembantu kas yaitu buku besar pembantu
penerimaan kas dan buku besar pembantu pengeluaran kas.
I. Daftar Saldo
Daftar saldo merupakan daftar rekening-rekening beserta daldo yang menyertainya dalam suatu periode
tertentu.
J. Kertas Kerja
Merupakan kolom-kolom yang digunakan dalam proses akuntansi keuangan manual. Kertas kerja
dibedakan untuk Laporan Triwulan dan Laporan Tahunan.
K. Jurnal Penyesuaian
Jurnal penyesuaian adalah jurnal jurnal yang dibuat pada akhir periode anggaran atau pada saat laporan
keuangan akan disusun agar menghasilkan pengkaitan yang tepat antara pendapatan dan belanja/biaya.
Jenis penyesuaian meliputi biaya dibayar dimuka, pendapatan yang ditangguhakn, pendapatan terhimpun,
biaya terhimpun.
L. Jurnla Eliminasi
Jurnal eliminasi adalah jurnal dibuat dengan tujuan untuk mengeliminasi (menghilangkan) saldo semua
rekening timbal balik antara Pemda dan dinas. Jurnal ini dibuat dengan mendebit rekening timbal balik
yang bersaldo kredit dan mengkredit rekening timbal balik yang bersaldo debit.
M. Laporan Keuangan
Laporan keuangan menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan oleh berbagai pihak
yang berkepentingan.
Laporan keuangan berdasarkan waktu : (1) laporan keuangan triwulan (2) laporan keuangan tahunan.
Laporan keuangan berdasarkan unit kerja : (1) laporan keuangan dinas/instansi (2) laporan keuangan
konsolidasi Pemkab/Pemkot.
N. Jurnal Penutup
Jurnal penutup merupakan jurnal yang dilakukan setelah laporan keuangan selesai disusun. Biasanya
dilakukan hanya pada akhir periode anggaran tahunan. Penutupan ini menyebabkan saldo-saldo rekening
menjadi nol sehingga rekening tersebut siap kembali menerima data akuntansi berikutnya.

1. TEORI AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


Akuntansi sektor publik memiliki kaitan yang erat dengan penerapan dan perlakuan akuntansi
pada domain publik. Peranan akuntansi sektor publik di tujukan untuk memberikan pelayanan publik
dalam rangka memenuhi kebutuhan publik. Saat ini sektor publik di tuntut memperhatikan kualitas
dan profesionalisme serta Value for money dalam menjalankan aktivitasnya. Value for money
merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan tiga elemen utama utama,
yaitu Ekonomi,Efisiensi dan Efektivitas.Selain itu, tuntutan yang lain adalah perlunya akuntabilitas
dan good governance
Pengertian Akuntansi Sektor Publik
Akuntansi sektor publik merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan (purpose activity).
Tujuan akuntansi diarahkan untuk mencapai hasil tertentu, dan hasil tersebut harus memiliki manfaat.
Dari perspektif ilmu ekonomi , sektor publik dapat di pahami sebagai suatu entitas yaitu aktivitasnya
berhubungan dengan usaha menghasilkan barang dan pelayanan publik dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan hak publik. Dalam beberapa hal , akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi
pada sektor swasta.
Akuntansi sektor publik memiliki kaitan yang erat dengan penerapan dan perlakuan akuntansi
pada domain publik..domain publik sendiri memiliki wilayah yang lebih luas dan kompleks
dibandingkan dengan sektor swasta.keluasan wilayah publik tidak hanya di sebabkan luasnya jenis dan
bentuk organisasi yang berada di dalamnya, akan tetapi juga karena kompleksnya lingkungan yang
mempengaruhi lembaga-lembaga publik tersebut. Secara kelembagaan domain publik meliputi
lembaga lembaga pemerintahan (pemerintah pusat dan daerah serta unit kerja pemerintah),
peusahaan milik negara (BUMN dan BUMD), yayasan , organisasi politik dan organisasi massa,
lembaga swadaya masyarakat (LSM), Universitas dan organisasi nirlaba lainnya.
Beberapa tugas dan fungsi sektor publik sebenarnya dapat juga dilakukan oleh sektor swasta,
misalnya tugas untuk menghasilkan beberapa jenis pelayanan publik, seperti layanan komunikasi ,
penarikan pajak , pendidikan transportasi publik, dan sebagainya. Akan tetapi untuk tugas tertentu
keberadaaan sektor publik tidak dapat tergantikantikan oleh sektor swasta , misalnya fungsi birokrasi
pemerintahan . sebagai konsekuensinya , akuntansi sektor publik dalam beberapa hal berbeda dengan
akuntansi sektor swasta.
Saat ini akuntansi sektor publik di Indonesia memiliki perkembangann yang cukup berarti , salah
satunya di tandai dengan lahirnya peraturan perudang undangan yang mengatur tentang penerapan
akuntansi sektor publik khusus di pemerintahan. Perkembangan akuntansi sektor publik meliputi
bidang konsentrasi :
1. Akuntansi keuangan (financial accounting)
2. Akuntansi manajemen (management accounting)
3. Pemeriksaan (auditing)
Perkembangan akuntansi keuangan sektor publik khususnya di pemerintahan di tandai dengan adanya
standar akuntansi pemerintahan (SAP).
2. KARAKTERISTIK AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Akuntansi merupakan suatu aktivitas yang memiliki tujuan (purposive activity). Tujuan akuntansi
di arahkan untuk mencapai hasil tertentu, dan hasil tersebut harus memiliki manfaat. Akuntansi di
gunakan baik pada sektor swasta maupun sektor publik untuk tujuan tujuan yang berbeda. Dalam
beberapa hal, akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi pada sektor swasta. Perbedaan
karakteristik akuntansi tersebut disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan yang mempengaruhi.
Organisasi sektor publik bergerak dalam lingkungan yang sangat kompleks dan turbulence.
Komponen lingkungan yang mempengaruhi organisasi sektor publik meliputi faktor ekonomi, politik,
kultur dan demografi.

a. Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi yang mempengaruhi organisasi sektor publik antara lain :
Pertumbuhan ekonomi
Tingkat inflasi
Pertumbuhan pendapatan perkapita (GNP/GDP)
Struktur produksi
Tenaga kerja
Arus modal dalam negeri
Cadangan devisa
Nilai tukar mata uang
Utang dan bantuan luar negeri
Infrastruktur
Teknologi
Kemiskinan dan kesenjangan ekonomi
Sektor informal
b. Faktor Politik
Faktor politik yang mempengaruhi sektor publik antara lain :
Hubungan negara dan masyarakat
Legitimasi pemerintah
Tipe rezim yang berkuasa
Ideologi negara
Elit politik dan massa
Jaringan internasional
Kelembagaan
c. Faktor Kultural
Faktor kultural yang mempengaruhi organisasi sektor publik antara lain :
Keragaman suku, ras, agama, bahasa dan budaya
Sistem nilai di masyarakat
Historis
Sosiologi masyarakat
Karakteristik masyarakat
Tingkat pendidikan
d. Faktor Demografi
Faktor demografi yang mempengaruhi organisasi sektor publik antara lain :
Pertumbuhan penduduk
Struktur usia penduduk
Migrasi
tingkat kesehatan
3.

PERLUNYA AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


Akuntansi merupakan Aktivitas jasa untuk menyediakan informasi yang diperlukan
dalam pengambilan keputusan terkait denga kepitusan ekonomi, sosial dan politik. Pada dasarnya
akuntansi baik pada sektor swasta maupun sektor publik, dapat di bagi menjadi 2 bagian yaitu
akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.

Ruang lingkup akuntansi keuangan pemerintah meliputi semua kegiatan yang mencakup
pengumpulan data , penganalisaan , pencatatan dan pelaporan atas transaksi keuangan pemerintah
sebagai suatu entitas, serta penafsiran terhadap hasil hasilnya.
Masisi (1978) dalam Glynn (1993) menjelaskan aturan dasar sistem akuntansi keuangan sebagai
berikut :
1. Identifikasi kegiatan operasi yang relevan. Hanya kejadian dan kegiatan ekonomi yang relevan
saja yang akan di catat dalam sistem akuntansi keuangan.
2. Pengklasifikasian kegiatan operasi secara tepat;
Penentuan waktu pengakuan untuk setiap jenis operasi (timing of recognition). Pada
prinsipnya , suatu operasi dapat dicatat / atau diakui pada tahap tertentu dari proses transaksi .
misalnya pembelian dapat diakui / di catat ketika keputusan untuk membeli suatu barang di
tetapkan, pada waktu dilakukan pemesanan , ketika barang di terima , ketika faktur di terima,
ketika barang tersebut di gunakan untuk proses produksi, atau ketika telah dilakukan
pembayaran kas. Oleh karena itu harus di tetapkan kapan suatu transaksi dapat di akui/dicatat.
3. Adanya sistem pengendalian untuk menjamin reliabilitas. Sistem pengendalian ini memiliki
dua komponen yaitu komponen formal dan substansial. Komponen formal adalah pembukuan
berpasangan (double entry bookkeeping) : kesalahan akuntansi akan dapat diketahui dan
dilacak ketika jumlah sisi kredit tidak sama dengan sisi debit. Komponen substansial
merupakan mekanisme konflik kepentingan (conflict of interest) : kesalahan akuntansi muncul
ketika mempengaruhi secara negatif pihak ketiga. Sebagai contoh, jika utang tidak dicatat
dengan baik, jumlah yang dibayarkan kepada kreditor akan berbeda dengan jumlah yang
seharusnya di terima sebagaimana tercatat dalam akun piutang yang di akui kreditor.
4. Menghitung pengaruh masing masing operasi
Terdapat beberapa kesamaan akuntansi keuangan baik pada sektor publik maupun sektor
swasta. Sebagai contoh , pada kedua sektor tersebut di rekomendasikan untuk menggunakan
sistem pembukuan berpasangan dalam mencatat akun akun transaksi . kedua sektor sama
sama membutuhkan standar akuntansi keuangan sebagai pedoman pencatatan agar terdapat
perlakuan yang sama terhadap suatu transaksi. Siklus akuntansi pada kedua sektor tidak jauh
berbeda.
Akuntansi keuangan sektor publik terkait dengan tujuan dihasilkannya laporan eksternal
dan penghitungan biaya pelayanan. Oleh karena itu , akuntansi keuangan sektor publik pada
dasarnya berbicara masalah tujuan laporan keuangan sektor publik , jenis laporan keuangan
sektor publik, sistem akuntansi, standar keuangan akuntansi sektor publik, dan akuntansi biaya
sektor publik. Akuntansi biaya sektor publik sendiri bukan murni bagian dari akuntansi
keuangan sektor publik. Akuntansi biaya sektor publik merupakan hybrid dari akuntansi
keuangan dan akuntansi manajemen sektor publik.