Anda di halaman 1dari 41

SEDIAAN SABUN CAIR ANTISEPTIK UNTUK BAYI

DENGAN ZAT AKTIF DARI BAHAN ALAM


(Makalah 3)

Diajukan utuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Formulasi


Kosmetika II

Oleh :
Nur Aji, S. Farm., Apt
NPM. 5413220025

PROGRAM MAGISTER FARMASI


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaiakan makalah dengan judul Sediaan Sabun

Cair Antiseptik Untuk Bayi Dengan Zat Aktif Dari Bahan Alam.
Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang penulis alami dalam proses
pengerjaannya, tapi penulis berhasil menyelesaikannya dengan baik.
Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata
kuliah Formulasi Kosmetika II : Prof. Dr.Hj. Teti Indrawati, MS. Apt, dan bapak Dr.
rer. nat. Deni Rahmat, Apt, yang telah membantu penulis dalam mengerjakan tugas
ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa yang
juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam
pembuatan karya ini.
Tentunya ada hal-hal yang ingin penulis berikan kepada institusi dan
masyarakat dari hasil karya ini. Karena itu penulis berharap semoga makalah ini
dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.

Jakarta, Januari 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI...

Hal.
i
ii

BAB I PENDAHULUAN...

1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang..
Rumusan Masalah.
Manfaat Makalah..
Tujuan Makalah

1
2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...

2
3

2.1.

Anatomi dan Fisiologi Kulit..


2.1.1. Epidermis ..
2.1.2. Dermis, ..
2.1.3. Susunan Kimia Kulit dan Keratin .
2.1.4. Kelenjar Sebasea dan Sebum .
2.1.5. Kelenjar Keringat dan Perspirasi
2.1.6. Fisiologi dan Biokimia Kulit ..
2.2.
Sistem Integumen Bayi ..
2.3.
Sabun
2.3.1. Bahan Baku Utama Pembuatan Sabun
2.3.2. Bahan Baku Pendukung Pembuatan Sabun ..
2.4.
Sabun Mandi Cair
2.5.
Sabun Mandi untuk Bayi
2.6.
Evaluasi Sabun
2.7.
Metode Pembuatan Sabun..
2.8.
Minyak Biji Alpukat
2.9.
Chamomile Oil.
2.10. Praformulasi Sabun Cair untuk Bayi
2.10.1. Formula
2.10.2. Monografi bahan baku
2.10.3. Prosedur Pembuatan
2.10.4. Pengemasan dan Penandaan
BAB III PEMBAHASAN...

4
4
4
4
5
5
7
7
8
11
14
16
17
20
22
23
24
24
24

ii

27
27
BAB IV PENUTUP.....
4.1.
4.2.

Kesimpulan...
Saran.

DAFTAR PUSTAKA..

iii

29
37
37
37
38

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dewasa ini minat masyarakat untuk memanfaatkan kembali bahan-bahan
alam bagi kesehatan, terutama obatobatan dari tumbuhan cenderung meningkat.
Sejalan dengan meningkatnya pemakaian tumbuh-tumbuhan sebagai obat atau bahan
obat, maka penelitian untuk membuktikan kebenaran khasiat maupun efek samping
perlu dioptimalkan.
Sabun adalah suatu sediaan yang digunakan oleh masyarakat sebagai pencuci
pakaian dan pembersih kulit. Berbagai jenis sabun yang beredar di pasaran dalam
bentuk yang bervariasi, mulai dari sabun cuci, sabun mandi, sabun tangan, sabun
pembersih peralatan rumah tangga dalam bentuk krim, padatan atau batangan, bubuk
dan bentuk cair. Sabun cair saat ini banyak diproduksi karena penggunaannya yang
lebih praktis dan bentuk yang menarik dibanding bentuk sabun lain.
Sabun bayi merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam lernak
yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa, dengan
atau tanpa bahan tambahan lain sertat idak menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan
selaput lendir6.
Dalam definisi disebutkan dengan jelas bahwa perbedaan sabun mandi bayi
adalah tidak boleh meng iritasi mata dan selaput lendir. Hal ini dikarenakan bayi
memiliki kulit dengan lapisan tanduk yang tipis dan memiliki permeabilitas yang
tinggi dibandingkan dengan orang dewasa sehingga mudah teriritasi, oleh sebab itu
dalam pemilihan bahan sabun untuk bayi memang sangat penting karena hampir
semua orang menggunakan sabun terutama dengan komponen bahan herbal yang di
anggap lebih aman untuk bayi. Kulit bayi yang tipis dan sensitif biasanya menjadi
masalah yang dapat berakibat kulit bayi kering dan mudah teriritasi. Penambahan zat
aktif bahan alam dalam sediaan sabun bayi seperti chamomile oil dan minyak biji
alpukat merupakan salah satu cara untuk menjaga kelembaban kulit bayi dan
mencegah iritasi.
Yang menjadi pertanyaan adalah formula sabun yang bagaimana, yang paling
cocok untuk bayi ? Pertanyaan seperti ini lah yang akan menjadi bahasan dalam
makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari penelitian ini adalah : formula sabun cair antiseptik
yang seperti apa yang paling cocok untuk bayi ?
1.3. Manfaat Makalah
Manfaat dari makalah ini adalah diperoleh gambaran formula sabun cair
antiseptik untuk bayi dengan bahan tambahan bahan alam.
1.4. Tujuan Makalah
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah : dapat disusun suatu formula
sabun cair antiseptik yang aman untuk bayi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Anatomi dan Fisiologi Kulit

Gambar. 2.1. Skema Penampang Kulit


Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, kulit
merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16
% berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9
meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari
letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium
minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada
telapak tangan, telapak kaki, punggung, dan bahu.1
Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar
adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan
lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang
merupakan suatu lapisan jaringan ikat. 1 Kulit terbagi atas 2 lapisan, yaitu :

2.1.1. Epidermis
Epidermis dikenal juga dengan kulit ari, yaitu lapisan kulit paling. Lapisan
ini bertanggung jawab terhadap interaksi dan komunikasi kulit dengan dunia luar dan
melindungi lapisan kulit di bawahnya. 2
2.1.2. Dermis,
Dermis adalah lapisan kulit

dibawah

epidermis.

Lapisan

ini

bertanggungjawab terhadap elastisitas dan kehalusan kulit. Selain itu lapisan dermis
juga berperan menyuplai nutrisi bagi epidermis. 2
Dermis terdiri dari dua lapisan 3:
a. Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.
b. Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.
2.1.3.

Susunan Kimia Kulit dan Keratin 3


Struktur kimia dari sel- sel epidermis manusia memiliki komponen sebagai

berikut: protein 27%; lemak 2%; garam mineral 0,5%; air dan bahan bahan larut
air 70,5%. Protein terpenting dalam kulit adalah albumin, globulin, musin, elastin,
kolagen, dan keratin. Secara kasar 40 persen dari bahan- bahan yang larut air terdiri
dari asam- asam amino bebas.
2.1.4. Kelenjar Sebasea dan Sebum 3
Kelenjar sebaceous menghasilkan sebum, zat semacam lilin, asam lemak atau
trigliserida bertujuan untuk melumasi permukaan kulit dikeluarkan melalui folikel
rambut yang mengandung banyak lipid, pada orang yang jenis kulit berminyak maka
sel kelenjar sebaseanya lebih aktif memproduksi minyak, dan bila lapisan kulitnya
tertutup oleh kotoran,debu atau kosmetik menyebabkan sumbatan kelenjar sehingga
terjadi pembengkakan. Kelenjar sebasea ini juga dapat berfungsi untuk proses difusi
(pemindahan) kandungan bahan dalam suatu produk kelapisan lebih dalam (pada
gambar dibawah terlihat kelenjar sebasea yang berwarna kuning dan disebelah
kanannya terdapat kelenjar keringat).3
2.1.5. Kelenjar Keringat dan Perspirasi 3
Ada dua jenis kelenjar keringat, yaitu3:

a. Kelenjar keringat ekrin mensekresi cairan jernih, yaitu keringat yang


mengandung 95 -97% air dan mengandung beberapa mineral.
b. Kelenjar keringat apokrin lebih besar dari pada ekrin. Menghasilkan cairan yang
agak kental serta berbau khas pada tiap orang. Terletak hanya pada daerah
tertentu seperti ketiak.
2.1.6. Fisiologi dan Biokimia Kulit 3
a. Pernafasan Kulit3
Kulit juga bernafas (respirasi) menyerap oksigen dan mengeluarkan CO2.
Namun respirasi kulit sangat lemah. Kulit lebih banyak menyerap oksigen yang
diambil dari aliran darah, dan hanya sebagian kecil yang diambil dari lingkungan
langsung. Respirasi kulit dipengaruhi oleh: Temperatur udara; Komposisi gas
disekitar kulit; Kelembaban udara; Kecepatan aliran darah ke kulit; Dilatasi
pembuluh darah kulit; Penyakkit penyakit kulit; Usia; Keadaan hormon dan
vitamin; Perubahan dalam netabolisme kulit; Pemakaian bahan kimia pada kulit.
Meskipun pengambilan oksigen oleh kulit hanya 1,5 %, dari yang
dilakukan oleh paru- paru, dan kulit hanya membutuhkan 7 % dari kebutuhan
oksigen tubuh (4 % untuk epidermis dan 3% untuk dermis).
b. Mantel Asam Kulit 3
Lapisan mantel asam kulit terbentuk dari asam asam karboksilat organik
yang membentuk garam dengan ion ion Na, K, NH4+ serta dari hasil eksresi
kelenjar sebase ,kelenjar keringat, dan asam amino dari reruntu hankreatin sel
kulit yang sudah mati. Fungsi mantel asam kulit, yaitu :
-

Sebagai buffer, yang berusaha menetralisir bahan kimia yang terlalu asam

atau terlalu alkalais yang masuk ke dalam kulit.


Membunuh dengan sifat asamnya atau setidaknya menekan pertumbuhan

mikroorganisme yang membahayakan kulit.


- Dengansifat lembabnya mencegah kekeringan kulit.
c. Mantel Lemak Kulit 3
Sebun di permukaan kulit merupakan lapisan lemak yang dihasilkan oleh
kelenjar sebasea dan sebagian kecil berasal dari sel lemak epidermis disebut
mantel lemak kulit yang terdiri atas triglisrida ,asam asam lemak, sequalene,
wax, cholesterol, dan ester esternya, fosfolipida, dan parafin.

d. Sistem Pengaturan Air Kulit 3


Permeabilitas kulit terhadap air sangat terbatas. Barrier yang mengatur
keluarnya air dari kulit tidak terletak langsung dibawah permukaan kulit, tetapi
ada di bawah lapisan stratum corneum yang diberi nama Barrier Rein.
Untuk fungsi fisiologisnya, kulit memerlukan lemak dan air, keduanya
berhubungan secara erat. Lapisan lemak dalam kulit dan bahan- bahan dalam
stratum corneum yang bersifat higroskopis dapat menyerap air dan berada dalam
hubungan yang fungsional disebut Natural Moisturaizing Factor (NMF). NMF
terdiri atas :
- Tujuh belas asam amino (termasuk glisin serin, aspargin, ornitin,
sitrulin, prolin dan lain- lain).......
- Asam pirolidon karboksilat (Predomain sebagai garam- garam
-

Natrium)..
Urea.....................
Laktat (sebagai garam natrium)...
Asam laktat, asam urokanat, glukosamin, kreatinin
Natrium....
Kalium.
Kalsium....
Fosfat- fosfat....
Klorida.
Sitrat, format, serta residu lain yang belum diketahui susunannya.

40 %
12 %
7%
12 %
12 %
5%
4%
1,5 %
0,5 %
6%
0,5 %

e. Permeabilitas dan Penetrasi Kulit 3


Reaksi positif kulit terhadap pemakain kosmetik merupakan hal yang
sangat diinginkan oleh pembuat dan lemakai kosmetik.
Berbagai cara penetrasi yang mungkin ke dalam kulit, yaitu: lewat antar
sel stratum corneum, melalui dinding saluran folikel rambut, melalui kelenjar
keringat, melalui keenjar sebasea, menembus sel sel stratum corneum.
2.2.

Sistem Integumen Bayi 4


Kulit, yang mualai berkembang selama minggu ke 11 kehamilan, terdiri dari

3 lapisan ( Epidermis, Dermis dan jaringan subkutan ) 4. pH kulit yang normal adalah

asam, (pH <5), terlihat pada anak-anak dan orang dewasa, memiliki kualitas
pelindung terhadap beberapa mikroorganisme. Saat lahir, bayi baru lahir cukup bulan
memiliki permukaan kulit yang lebih tinggi dengan pH rata-rata 6.34. Dalam waktu
4 hari pH turun dengan rata-rata dari 4,95. Mandi dan perawatan kulit lainnya
mengubah pH kulit; dan itu mungkin memakan waktu satu jam atau lebih lama untuk
menumbuhkan mantel asam setelah mandi dengan sabun alkali16. Mantel asam ini
adalah fungsi dari proses kimia dan biologis pada permukaan kulit. Pada bayi pH
kulit bayi lebih tinggi, kulit lebih tipis, dan sekresi keringat dan sebum sedikit.
Akibatnya, bayi lebih rentan terhadap infeksi kulit daripada anak yang lebih besar
dan orang dewasa. Selanjutnya, karena pelekatan yang longgar antara dermis dan
epidermis, kulit bayi dan anak anak cenderung mudah melepuh.4
Ada 10-20 lapisan stratum comeum pada orang dewasa dan bayi cukup
bulan, yang memberikan kontrol penguapan panas dan transepidermal water loss
(TEWL). Bayi prematur memiliki lapisan lebih sedikit dari stratum comeum; kurang
dari 30 minggu usia kehamilan mereka mungkin hanya 2-3 lapisan dan ekstrimnya
bayi prematur kurang dari 24 minggu usia kehamilan mungkin hampir tidak ada
stratum korneum16.
2.3.

Sabun
Sabun adalah garam alkali karboksilat (RCOONa). Gugus R bersifat

hidrofobik karena bersifat nonpolar dan COONa bersifat hidro-filik (polar). Proses
yang terjadi dalam pembuatan sabun disebut sebagai saponifikasi. Ada 2 jenis sabun
yang dikenal, yaitu sabun padat (batangan) dan sabun cair. Sabun padat dibedakan
atas 3 jenis, yaitu sabun opaque, translucent, dan transparan.5
Kandungan zat zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan
sifat dan jenis sabun. Zat- zat tersebut dapat menimbulkan efek baik yang
menguntungkan maupun yang merugikan. Oleh karena itu, konsumen perlu
memperhatikan kualitas sabun dengan teliti sebelum membeli dan menggunakannya.
7

Pada pembuatan sabun, bahan dasar yang biasa digunakan adalah : C12 C18. Jika

: < C 12
7

: Iritasi pada kulit & > C20 : Kurang larut (digunakan sebagai campuran).

Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya adalah air, gliserin, garam dan

impurity lainnya. Semua minyak atau lemak pada dasarnya dapat digunakan untuk
membuat sabun. Lemak dan

minyak nabati merupakan dua tipe ester. Lemak

merupakan campuran ester yang dibuat dari alcohol dan asam karboksilat seperti
asam stearat, asam oleat dan asam palmitat. Lemak padat mengandung ester dari
gliserol dan asam palmitat, sedangkan minyak, seperti minyak zaitun mengandung
ester dari gliserol asam oleat. 7
Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan
pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan
senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk
menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik.
Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya
natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna.7
2.3.1. Bahan Baku Utama Pembuatan Sabun7
Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah
trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan
gliserol. Masing masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan
rantai karbon panjang antara C12 (asam laurik) hingga C18 (asam stearat) pada
lemak jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah
menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan natrium hidroksida
membebaskan gliserol. Sifat sifat sabun yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan
komposisi dari komponen asam asam lemak yang digunakan. Komposisi asam lemak
yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi panjang rantai dan tingkat kejenuhan.
Pada umumnya, panjang rantai yang kurang dari 12 atom karbon dihindari
penggunaanya karena dapat membuat iritasi pada kulit, sebaliknya panjang rantai
yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun yang sukar larut dan sulit
menimbulkan busa. Terlalu besar bagian asam asam lemak tak jenuh menghasilkan
sabun yang mudah teroksidasi bila terkena udara. Alasan di atas, faktor ekonomis,
dan daya jual menyebabkan lemak dan minyak yang dibuat menjadi sabun terbatas. 7
Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih
rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga
sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur
tinggi. 7
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun
harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti: kelayakan ekonomi, spesifikasi

produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lainlain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan
sabun di antaranya :
a.
Tallow. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri
pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan
dari warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA,
bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik
biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan
kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat
adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA
dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas
b.

40C. Tallow dengan titer di bawah 40C dikenal dengan nama grease.
Lard. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam
lemak tak jenuh seperti oleat (60 - 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat
(35 - 40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi
parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang

c.

dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.


Palm Oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya digunakan
sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari
pemasakan buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga
kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika
akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan
terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan
bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan

d.

bahan lainnya.
Coconut Oil (minyak kelapa). Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang
sering digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna
kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan
(kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi,
terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang
menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam
lemak kaproat, kaprilat, dan kaprat.

e.

Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit). Minyak inti kelapa sawit
diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam
lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai
pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak
tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah dari pada

f.

minyak kelapa.
Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin). Minyak sawit stearin adalah
minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit
dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam

g.

minyak ini adalah stearin.


Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine
oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga
harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan

h.

baku.
Castor Oil (minyak jarak). Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan

i.

digunakan untuk membuat sabun transparan.


Olive oil (minyak zaitun). Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun.
Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun
yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi

j.

kulit.
Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat
sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak
kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling
melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat
yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan
stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur
sabun.
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH,

KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan
soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan
dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair
karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat)
merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak
dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).

10

Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa


tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang
dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan
kesadahan air.
Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat
mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri
dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda
sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun
dengan keunggulan tertentu.
2.3.2. Bahan Baku Pendukung Pembuatan Sabun 7,8
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan
sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun
menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam)
dan bahan-bahan aditif.
a. NaCl
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun.
Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl
yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl
yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal).
NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak
mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi,
sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan
magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas. 7
b. Bahan Aditif
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam
sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga
menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers
inert, Anti oksidan, Pewarna, dan parfum. 7
c. Builders (Bahan Penguat)
Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara
mengikat mineral mineral yang terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain
yang berfungsi untuk mengikat lemak dan membasahi permukaan dapat
berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu menciptakan

11

kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung


lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang
telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa senyawa
kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit. 7
d. Fillers Inert (Bahan Pengisi)
Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan
baku. Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar
volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku sabun semata
mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada umumnya, sebagai bahan pengisi
sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering digunakan sebagai
bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan
pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.7
e.

Pewarna
Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini
ditujukan agar memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk
mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan warna yang menarik.
Biasanya warna warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih, hijau

maupun orange. 8
f. Parfum
Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang
peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk sabun. Artinya,
walaupun secara kualitas sabun yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah
memberi parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya. Parfum untuk
sabun berbentuk cairan berwarna kekuning kuningan dengan berat jenis 0,9.
Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram (g) dapat dikonversikan ke
mililiter. Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1ml. Pada dasarnya, jenis parfum
untuk sabun dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dan parfum
ekslusif. Parfum umum mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di
masyarakat seperti aroma mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya,
produsen sabun menggunakan jenis parfum yang ekslusif. Artinya, aroma
dari parfum tersebut sangat khas dan tidak ada produsen lain yang
menggunakannya. Kekhasan parfum ekslusif ini diimbangi dengan harganya
yang lebih mahal dari jenis parfum umum. Beberapa nama parfum yang

12

digunakan dalam pembuatan sabun diantaranya bouquct deep water, alpine,


dan spring flower. 8
g. Humectan
Digunakan untuk merawat kulit agar tetap terlihat muda, yang mana
sangat erat hubungannya dengan kelembutan kulit. Bahan yang biasa
digunakan adalah : Glyserin, Propilenglikol, Sorbitol, Sodium hyaluronat,
Sodium lactat.8
h. Antioksidan
Karena sabun tersusun dari asam lemak,minyak,lilin, dimana senyawasenyawa tersebut mengandung ikatan tidak jenuh, dan sebagaimana diketahui
bahwa ikatan jenuh akan mudah teroksidasi. Reaksi tersebut ditandai dengan
adanya bau tengik atau sabun yang kita gunakan menjadi iritan terhadap
kulit. Untuk menjaga kualitas sabun dari reaksi oksidasi,diperlukan bahan
antioksidan. Bahan yang biasa digunakan adalah : Tokoferol, BHT ( dibutil
hydroxyltoluen), BHA ( butyl hydroxyanysol), Ester asam gallat, NDGA
(Nonhydroxyquaiaretic acid). Dapat digunakan tunggal atau bersama-sama,
baik juga bila ditambahkan bahan promoter antioksidan (sequestering agent).
i. Sequestering agent
Apabila logam tercampur ke dalam bahan sabun atau kosmetik, baik
secara langsung atau tidak langsung akan merendahkan kualitasnya. Ion
logam dapat merubah bau,warna atau dapat menambah oksidasi bahan
mentah yang berasal dari minyak. Selanjutnya dapat menghambat aksi
farmasi dan menyebabkan hilangnya penampilan,fungsi, dan essensinya, dan
pada sabun transparan dapat menyebabkan hilangnya transparansinya.
Senyawa yang dapat membuat pasif ion logam tersebut adalah sesquestering
agent. Bahan yang biasa digunakan adalah : EDTA, Asam phosporat, Asam
sitrat, Asam askorbat, Asam suksinat, Asam glukonat.8
2.4.

Sabun Mandi Cair


Sabun mandi cair adalah sediaan pembersih kulit berbentuk cair yang dibuat

dari bahan dasar sabun atau deterjen dengan penambahan bahan lain yang ditjinkan
dan digunakan untuk mandi tanpa menimbulkan iritasi pada kulit.
Sabun mandi merupakan garam logam alkali (biasanya
natrium atau alkali) dari asam lemak. Sabun dibuat dengan cara
mencampurkan larutan NaOH atau KOH dengan minyak atau

13

lemak. Melalui reaksi kimia NaOH/KOH mengubah minyak atau


lemak menjadi sabun, proses ini disebut saponifikasi.
Sabun termasuk salah satu jenis surfaktan yang terbuat dari
minyak atau lemak alami. Surfaktan mempunyai struktur bipolar.
Bagian kepala bersifat hidrofilik dan bagian ekor bersifat hidrofobik,
karena sifat inilah sabun mampu mengangkat kotoran (biasanya
lemak) dari badan dan pakaian. Selain itu, pada larutan surfaktan
akan

menggerombol

membentuk

misel

setelah

melewati

konsentrasi tertentu yang disebut Konsentrasi Kritik Misel (KKM).


Keberadaan sabun mandi cair (body foam) sedikit banyak telah menggeser
sabun mandi padat, dikarenakan beberapa kelebihan dari sabun mandi cair dibanding
sabun mandi padat sebagai berikut :
1. Praktis, karena sabun mandi cair dapat dikemas dalam kemasan botol, sehingga
mudah dibawa kemana saja.
2. Mudah larut dalam air (misalnya bathtube), diaduk sebentar, langsung berbusa dan
digunakan untuk mandi berendam.
3. Kesehatan, kontaminasi terhadap kuman bisa dihindari, dan menjamin bila
dibandingkan sabun mandi padat yang dipegang banyak orang alias dipakai
bersama.
Jenis sabun mandi cair ada dua yaitu : Jenis S : sabun mandi cair dengan
bahan dasar sabun. Jenis D : sabun mandi cair dengan bahan dasar deterjen.
Bahan-bahan yang biasa terdapat dalam sabun mandi adalah :
a. Minyak atau lemak
Hampir semua minyak atau lemak alami bias dibuat menjadi
sabun. Contohnya seperti minyak kelapa, minyak zaitun,
minyak sawit, minyak jagung, minyak kedelai.
b. NaOH/KOH
Berfungsi untuk mengubah minyak /lemak menjadi sabun.
c. Air
Berfungsi sebagai katalis/pelarut.n Air yang dipakai biasanya
air suling atau air kemasan. Jangan memakai air pam karena
banyak mengandung mineral.
d. Essensial dan fragrance

14

Berfungsi sebagai pengharum.


e. Pewarna
Berfungsi untuk mewarnai sabun. Bisa juga dipakai pewarna
makanan.
f. Zat aditif
Biasanya berupa rempah, herbal.

Syarat mutu dapat dilihat pada Tabel 2.1.


Tabel 2.1 Syarat Mutu Sabun Mandi Cair

2.5.

Sabun Mandi untuk Bayi


Sabun mandi bayi adalah senyawa natrium atau kalium dengan asam lernak

yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa, dengan
atau tanpa bahan tambahan lain serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit, mata dan
selaput lendir.6
Sabun bayi tidak jauh berbeda dari sabun biasa, tetapi mereka relatif
kemurnian tinggi. Kulit bayi yang lembut dan sensitif. Oleh karena itu minyak yang

15

digunakan untuk membuat sabun bayi harus bersih dan diputihkan. Tidak ada
pigmen yang diijinkan dalam sabun bayi dan aroma bahan tambahan harus minimal.
Alkali bebas yang terdapat dalam sabun bayi tidak boleh melebihi 0,05 persen sabun
biasa mungkin mengandung damar dan logam pengotor seperti nikel..9
Sabun bayi adalah sediaan kosmetika bayi yang berguna untuk menjaga
kehalusan, kelembutan, serta kesegaran kulit bayi. Pada umumnya sabun bayi
mempunyai pH 10, dibuat secara dicetak dan berbentuk putih keras, mengandung
banyak lemak dan merupakan sabun lunak sehingga tidak mengiritasi kulit.6
Karena biasanya sabun yang tidak pedih dimata ini diperuntukkan bagi bayi,
maka kandungan kalium yang sedikit itu masih cukup untuk membersihkan kotoran
pada tubuh bayi tentunya.
Berikut persyaratan sabun mandi bayi yang dipersyaratkan dalam SNl 164768-1998 dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Syarat mutu sabun mandi bayi.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

2.6.

Jenis Uji
Kadar air
Asam lemak jenuh
Alkali bebas dihitung sebagai
NaOH
atau KOH
Asam Lemak bebas dan/ atau
lemak netral
Minyak mineral
Cemaran mikroba
Angka lempeng total
Staphylococcus
Pseudomonas
Candida albicans

Satuan
%
%
%
%
Koloni/g
Koloni/g
Koloni/g
Koloni/g
Koloni/g

Persyaratan
Maks. 14
Min. 76
Maks. 0,06
Maks. 0,08
Maks. 2,5
Negatip
Maks. 5 x 102
Negatip
Negatip
Negatip
Negatip

Evaluasi Sabun
1. Keadaan
Periksa isi contoh secara visual terhadap bentuk, bau dan warna. Jumlah
2. Bahan Aktif
Timbang l0 g contoh, masukan kedalam gelas piala kemudian tambahkan
50 ml air suling, beberapa tetes larutan penunjuk metil jingga dan asam
klorida l0 % sampai semua lemak dibebaskan yang ditunjukkan dengan
timbulnya warna merah. Masukkan larutan dalam corong pemisah. Bila

16

ada endapanj angan dimasukkan kedalam corong pemisah. Larutan


diendap tuangkan dengan pelarut petroleum eter atau dietil eter atau
heksanad, iulangis ampaip elarutb erjumlahl ebih kurang l00ml. Pelarut
dikocok dan dicuci dengan air suling sampai tidak bereaksi asam (lihat
dengank ertask ongo). Pada tiap pencucian di pakai 10 ml air suling.
Pelarut dikeringkan dengan Natrium sulfat kering, saring dan masukkan
kedalaml abu lemaky angt elahd iketahuib obotnyab esertab atud idih
(W1). Pelarutd isulingd an labu lemakd ikeringkanp adas uhu 1050 C
sampaib obot tetap (W2)
Perhitungan :
Bahan aktif untuk bahan dasar sabun (asam lemak jumlah)

Keterangan :
W : bobot contoh, g
Untuk bahan dasar deterjen : 0,28 g natrium laurilsulfat (yang
sebalumnya dipanaskand alam lemari pengering pada suhu 105 0C selama
60 menit) Dimasukkan labu takar 250 ml, encerkan dengan air suling
sampai tanda garis dan kocok sampai homogen.
Molaritas larutan natrium lauril sulfat :

3. Kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH


Kelebihan alkali dapat disebabkan karena penambahn alkali yang
berlebih pada proses pembuatan sabun. Alkali bebas yang melebihi
standar dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Menurut SNI (1998), kadar
alkali bebas pada sabun, NaOH maksimum sebesar 0,06%, KOH
maksimum sebesar 0,08 %.
4. Nilai pH
Timbang contoh sebanyak 1 gram masukkan ke dalam tabung.
Tambahkan 9 ml aquadest, kemudian kocok secukupnya. Ukur pH contoh
menggunakan kertas pH atau pHmeter.
5. Bobot Jenis

17

Bersihkanp iknometerd enganc aram embilasd engana setonk emudian


dengan
dietil eter. Keringkan piknometer dan timbang. Dinginkan contohl ebih ke
dalamp iknometery angt erendama ir es, biarkan. Sampai suhu 25 0C dan
tepatkan sampai garis tera. Angkat'pinometer dari dalam rendaman air es.
diamkan pada suhu kamar dan timbang Ulangi pengerjaante rsebutd
enganm emakaia ir suling sebagaip engganti contoh.

6. Stabilitas busa
Timbang contoh sebanyak 1 gram, kemudian dimasukkan ke dalam
tabung ulir. Tambahkan 9 ml aquadest kedalamnya, kemudian kocok
selama 1 menit. Hitung tinggi busa setelah pengocokkan, diamkan selama
1 jam dan hitung tinggi busa akhir setelah didiamkan.
Stabilitas busa = Tinggi busa akhir x 100 %
Tinggi busa awal
7. Daya bersih
Kain bersih ukuran 10 x 10 cm. Timbang mentega sebanyak 1 gram
kemudian oleskan secara merata pada seluruh permukaan kain.
Tempatkan air sabun sebanyak 200 ml dalam gelas piala kemudian diukur
kekeruhannya ( A turbidimetri). Masukkan kain yang telah diolesi
mentega ke dalam gelas piala yang telah berisi air sabun tersebut dan
diamkan selama 10 menit. Air yang telah didiamkan tersebut diukur
kekeruhannya ( B turbidimetri).
Daya bersih = B-A
8. Uji organoleptik
Uji organoleptik yang dilaku-kan merupakan uji tingkat kesukaan
atau hedonik. Panelis yang diminta penilaiannya adalah panelis tidak
terlatih. Uji dilakukan terhadap warna/transparansi, tekstur, kesan kesat,
dan aroma. Skala penilaian yang digunakan adalah 1-5 dengan jumlah
panelis 30 orang.

18

2.7.
Metode Pembuatan Sabun
Metode pembuatan sabun padat ada tiga yaitu :
a. Cara dingin/ Cold proses, Minyak dan lemak dicampur dengan Lye
(kaustik dan air), kemudian diaduk sampai terjadi saponifikasi. Lama
pengadukan 30 menit dengan kecepatan 500 1500 rpm. Dalam waktu 3
jam sabun akan mengeras. Dibutuhkan waktu dua minggu agar proses
saponifikasi sempurna.
Cetakan sabun terbuat dari silikon atau berbagai jenis plastik banyak
tersedia secara komersial , walaupun banyak juga pembuat sabun yang
menggunakan kotak kardus dilapisi dengan plastik. Sabun dapat dibuat
dalam bentuk persegi panjang yang dipotong menjadi batangan.
Proses pemurnian sabun melibatkan penghilangan natrium klorida,
natrium hidroksida, gliserol dan beberapa kotoran. Komponen-komponen
ini dikeluarkan dengan cara merebus dadih sabun mentah di air dan
kembali dicurahkan dengan garam.Sebagian besar air yang kemudian
hilang dari sabun.
Minyak dan
lemak

Lye

Saponifikasi

Base soap
Gambar 2.1. Pembuatan sabun metode dingin.
b. Dalam metode pemanasan, alkali dan lemak direbus bersama-sama pada
80-100 C sampai terjadi saponifikasi, yang sebelumnya adanya
termometer modern, ditentukan oleh rasa (rasa menyengat khas lye
menghilang setelah tersapinifikasi sempurna) atau oleh mata; mata
berpengalaman dapat mengetahui bahwa tahap gel dan saponifikasi penuh
telah terjadi. Pemula dapat menemukan informasi ini melalui percobaan.
Hal ini sangat dianjurkan untuk tidak merasai sabun Anda . Lye, jika

19

tidak tersaponifikasi adalah bahan yang sangat kaustik. Sebaliknya, jalani


teknik Hot Proses yang benar dengan menggunakan termometer permen
digital atau analog akan memastikan Anda berada di suhu yang tepat.
Setelah saponifikasi selesai, sabun ini kadang-kadang terjadi endapan
larutan yang dapat diatasi dengan menambahkan garam untuk menguras
kelebihan cairan.
Saat sabun lembut dan masih panas, sendoki ke dalam cetakan.

Minyak & lemak

Lye

Saponifikasi

Larutan dan
pencampuran
Molding

Coloring, parfum,
cutting, stamping n
packaging

Chip soap

Gambar 2.2. Pembuatan sabun metode panas.


c. Semi Hot Process/ Pembuatan sabun mandi padat dengan pemanasan
hanya untuk mencairkan lemak atau minyak yang berbentuk padat
( stearic acid, tallow ) sesudah mencair minyak direaksikan dengan alkali
untuk saponifikasi. Dan tahap selanjutnya seperti proses cara dingin.
2.8.

Minyak Biji Alpukat


Kingdom : Plantae, Subkingdom : Tracheobionta, Divisi : Spermatophyta, Sub

divisi : Angiospermae, Kelas : Dicotyledoneae, Bangsa : Ranales, Keluarga : Lauraceae,


Marga : Persea, Spesies : Perseae Americana Mil.18

20

Sinonim :Alpuket (Jawa Barat), alpokat (Jawa Timur/Jawa Tengah), boah


pokat, jamboo pokat (Batak), advokat, jamboo mentega, jamboo pooan, pookat
(Lampung) 18.
Tanaman alpukat berupa pohon dengan ketinggian 3-10 m, ranting tegak dan
berambut lurus, daun berdesakan diujung ranting, bentuk bulat telur atau corong,
awalnya berbulu pada kedua belah permukaannya dan lama-kelamaan menjadi licin.
Bunga alpukat berupa malai dan terletak di dekat ujung ranting, bunganya sangat banyak
berdiameter 1-1,5 cm, bewarna kekuningan, berbulu halus dan benang sari dalam 4
karangan, buah alpukat berbentuk bola lampu sampai bulat telur, bewarna hijau
kekuningan berbintik ungu, gandul/halus, dan harum, biji berbentuk bola dan hanya
terdapat satu biji dalam 1 buah18.

Gambar 2.3 Minyak biji alpukat


Minyak biji alpukat yang diperoleh dari pemerasan atau pengekstrakan dari biji
tanaman alpukat Persea Americana. Minyak biji alpukat mengandung lemak dan
asam lemak seperti dijabarkan pada Tabel. 2.2.19
Tabel 2.2. Hasil analisis kimia minyak biji alpukat19
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

( % w/w)
73,265
15,602
6,177
1,248
0,132
0,733
0,633
0,044
0,292

Kandungan kimia
oleic acid
linoleic acid
palmitic acid
stearic acid
lauric acid
myristic acid
palmitoleic acid
margaroleic acid
Fenolat

21

10
11
12
13
2.9.

Aldehid
Chlorofil
Riboflavin
Keton

0,942
0,910
0,022

Chamomile Oil13

Gambar.2.3. Chamaemelum nobile (L.)


Chamomile (Chamaemelum nobile (L.)) atau Chamomile Jerman adalah
tumbuhan semusim dari keluarga bunga Matahari Asteraceae. Tanaman ini tumbuh
di seluruh wilayah Eropa dan wilayah Asia yang memiliki 4 musim. Chamomile juga
telah tersebar luas di Amerika Utara dan Australia oleh manusia. Chamomile
memerlukan tanah yang terbuka untuk dapat tumbuh, biasanya tumbuh secara liar di
pinggir jalan, tempat penampungan sampah, atau di ladang-ladang. Tanaman
chamomile dapat tumbuh setinggi 15 sampai 60 cm. Daunnya yang panjang dan
kecil berkelompok dua atau tiga daun dalam satu tangkai.13
Kandungan kimia utama yaitu, (-)-alpha-bisabolol and chamazulene, yang
terkandung 50-60 % minyak. Beberapa khasiat farmakologi yang terdapat pada
tanaman Chamaemelum nobile (L.) yaitu : anti-bakteri (>0,05% v/v) terhadap
Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis dan Candida albicans, anti-fungi, antiinflamasi, anti- spasmodik, anti ulser, anti-viral dan sedative.14
2.10. Praformulasi Sabun Padat untuk Bayi
2.10.1. Formula
Berikut adalah formula sabun bayi padat yang penulis rancang, dapat dilihat
pada Tabel 2.3.
Tabe 2.3.Formula sabun bayi padat

22

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Bahan
Minyak zaitun
Minyak kelapa
KOH
K2CO3
Vitamin E
Na CMC
Larutan asam sitrat 0,1 M
Avocado Seed Oil
Chamomile oil
Methyl paraben
Propyl Paraben
Aquadestilata

Jumlah

Fungsi

85 g
36 g
28 g
5g
10 ml
1g
21,67 ml
10 %
0,1 %
0,15%
0,05
Ad 100 ml

Basis Sabun
Basis sabun
Basa sabun
Basa sabun
Antioksidan
Pengental
Sequistering agent
Zat Aktif
Zat Aktif
Pengawet
Pengawet
Pelarut

2.10.2. Monografi bahan baku


Minyak zaitun

Larutan minyak agak kental berwarna jernih kekuningann , praktis


tidak larut dalam air, sedikit larut dalam 23ristal 96 %, Larut dalam
eter, kloroform, dan pelarut organik non polar lainnya. Penggunaan
sebagai basis. Stabilitas : tidak stabil jika terkana sinar matahari

langsung.
Minyak kelapa Pemerian

larutan

minyak

agak

kental

berwarna

jernih

kekuningann , praktis tidak larut dalam air, sedikit larut dalam


alcohol 96 %, Larut dalam eter, kloroform, dan pelarut organik non
polar lainnya. Penggunaan sebagai basis. Stabilitas : tidak stabil
jika terkana sinar matahari langsung. Sinonim : oleum vegetable,
oleum

neutralea,

Medium

Chain

Triglycerides.

Fungsi

pengemulsi, solvent, suspending agent, therapeutic agent. Minyak


membeku pada suhu 0 oC dan viskositas menjadi rendah bila
KOH

mendekati suhu 0 oC. OTT : polistiren, polietilen, dan polipropilen.


Physical state and appearance: Solid. (Solid pellets.); Odor:
Odorless; Molecular Weight: 56.11 g/molep. 4Color: White; pH
(1% soln/water): 13 [Basic.]; Boiling Point: Decomposition
temperature: 1384C (2523.2F); Melting Point: 380C (716F);
Specific Gravity: 2.044 (Water = 1); Dispersion Properties: See
solubility in water.
Solubility: Easily soluble in cold water, hot water. Insoluble in

23

diethyl ether.
K2CO3

Physical

state

and

appearance:

Solid.

(Powdered

solid.

Deliquescent solid.); Odor: Odorless; Molecular Weight: 138.21


g/mole; Color: White; pH (1% soln/water): Not available; Boiling
Point: Decomposes; Melting Point: 891C (1635.8F); Specific
Gravity: 2.29 (Water = 1); Dispersion Properties: See solubility in
water; Solubility: Soluble in cold water.
Vitamin E

Tocopherol tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak
seperti minyak, lemak, 24ristal, aseton, eter dan sebagainya.
Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen dan tidak
terpengaruh oleh asam pada suhu 100o C. Bila terkena oksigen di
udara, akan teroksidasi secara perlahan-lahan. Sedangkan bila

Na CMC

terkena cahaya warnanya akan menjadi gelap secara bertahap.


Warna : putih sampai krem; Rasa : Tidak berasa; Bau : Tidak
berbau; Pemerian

Serbuk/granul;

Kelarutan

Mudah

terdispersi dalam air (dalam berbagai suhu), praktis tidak larut


dalam aseton, etanol, eter dan toluene ; Titik lebur : 2270 dalam
keadaan terbakar 2520 C; Pka/Pkb : 430; Bobot jenis : 0,78 g /cm3;
pH larutan : 7 sampai 9; Stabilitas : Bersifat stabil meskipun bahan
yang tidak higroskopik dalam bentuk larutan stabil pada pH 2 10,
secara umum stabilitas dalam larutan berkisar pada pH 7-9;
Inkompatibilitas : Tidak bercampur
seperti Alumunium

dengan asam kuat, logam

presipitas terjadi pada pH<2 dan ketka

tercampur dengan etanol (95%) P Na-CMC dapat membentuk


kompleks dengan gelatin dan pectin; Fungsi : pengental
Larutan asam Larutan jernih pH 1-2, Kegunaan dalam bidang farmasi :
sitrat 0,1 M

Sequistering agent 0,3-2,0 %; larutan buffer 0,1-2,0 %; penimbul


rasa pada sediaan cair 0,3-2,0 %. Penyimpanan dalam wadah
tertutup rapat. Pada temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk

kristal berwarna putih.


Avocado Seed Harga rata-rata berat jenis, indeks bias, bilangan asam, bilangan

24

Oil

iod, dan angka penyabunan berturut-turut 0,922 gr/cc; 1,467; 0,249

mg KOH/gr; 78,232 gr Iod/100 gr; dan 181,896 mg KOH/gr. 19


Chamomile oil Pemerian cairan jernih, mudah menguap, beraroma khas.
Methyl
Sinonim : Solbrol M, Tegosept M, Nipagin M., Rumus empirik :
paraben

C8H8O3, Berat molekul : 152,15, Fungsi : antimikroba untuk


sediaan topikal 0,02%-0,3%, Pemerian : kristal putih, tidak berbau,
panas, Kelarutan : etanol 1:2, gliserin 1:60, air 1:400, OTT : besi,

Propyl

mengalami hidrolisis dengan basa lemah dan asam kuat.


Warna: Putih, Rasa: Tidak berasa, Bau: Tidak berbau, Pemerian:

Paraben

Serbuk hablur putih, Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air, larut
dalam 3,5 bagian etanol(95%)P, dalam 3 bagian aseton P, dalam
140 bagian gliserol P, dandalam 40 bagian minyak lemak, muda
larut dalam larutan alkali, Titik didih: 95oC 98oC, Bobot jenis:
180,21 g/molh.Stabilitas: Lebih mudah terurai dengan adanya udara

Aquadestilata

dari luar.
Air yang dibebaskan sesempurna mungkin dari zat anorganik
( mineral ) dibuat dengan penukar ion yang cocok. Pemerian

Berupa cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau. Kelarutan


: Bercampur dengan larutan polar. Fungsi : Pelarut
2.10.3. Prosedur Pembuatan
Prosedur yang dipilih oleh penulis adalah pembuatan sabun dengan proses
pemanasan. Adapun tahapan kerjanya yaitu :
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Timbang bahan,
3. Reaksikan fase minyak ( olive oil & Coconut oil) dengan KOH dan
panaskan 60- 70 oC aduk hingga rata hingga terbentuk basis sabun
(optimasi waktu reaksi). Setelah terbentuk sabun dinginkan .
4. Buat larutan pengental Na CMC 1 g dengan 20 ml air, setelah terbentuk
mucilage tambahkan asam sitrat & K2CO3.
5. Siapkan fase minyak avocado seed oil Vit E, Methyl Paraben dan PropHyl
Paraben dan Chamomile oil.
6. Campurkan Fase sabun dengan fase mucilage aduk rata kemudian
tambahkan fase minyak sedikit demi sedikit hingga terbentuk korpus
emulsi, setelah semua tercamput tambahkan air hingga 100 ml.
7. Masukan kedalam kemasan tidak tembus cahaya dan tertutup rapat.

25

2.10.4. Pengemasan dan Penandaan21


1. Pengemasan- pengemasan harus tertutup rapat serta bahan kemas yang
akan digunakan berdasarkan persetujuan antara suplaier dan pembeli,
dengan memperhatikan stabilitas sediaan.
2. Penandaan diberi label yang sesuai yaitu :
a. Nama produk
b. Nama industry yang memproduksi dan alamatnya.
c. Bobot bersih
d. Komposisi bahan
e. No. Batch, Lot
f. Tanggal dan tahun pembuatan/ Kasaluarsa
g. Cara pemakaian

26

BAB III
PEMBAHASAN

Tabel 3.1. Perbandingan Formula Sabun Padat


Bahan
Minyak Kelapa

F1
30 ml

KOH

16 ml

Na- CMC

1g

Jumlah
F2
F3

Fx

Fungsi

Karakteristik Bahan

Basis Sabun

Pemerian larutan minyak agak kental berwarna jernih


kekuningann , praktis tidak larut dalam air, sedikit larut
dalam alcohol 96 %, Larut dalam eter, kloroform, dan
pelarut organik non polar lainnya. Penggunaan sebagai
basis. Stabilitas : tidak stabil jika terkana sinar matahari
langsung. Sinonim : oleum vegetable, oleum neutralea,
Medium Chain Triglycerides. Fungsi : pengemulsi,
solvent, suspending agent, therapeutic agent. Minyak
membeku pada suhu 0 oC dan viskositas menjadi rendah
bila mendekati suhu 0 oC. OTT : polistiren, polietilen, dan
polipropilen.
Physical state and appearance: Solid. (Solid pellets.);
Odor: Odorless; Molecular Weight: 56.11 g/molep.
4Color: White; pH (1% soln/water): 13 [Basic.]; Boiling
Point: Decomposition temperature: 1384C (2523.2F);
Melting Point: 380C (716F); Specific Gravity: 2.044
(Water = 1); Dispersion Properties: See solubility in water.
Solubility: Easily soluble in cold water, hot water.
Insoluble in diethyl ether.

Basa Sabun

1g

Pengental
27

Warna : putih sampai krem; Rasa : Tidak berasa; Bau :

Asam Stearat

BHA

0,5 g

Sequestering agent

1g

Antioksidan

28

Tidak berbau; Pemerian : Serbuk/granul; Kelarutan :


Mudah terdispersi dalam air (dalam berbagai suhu), praktis
tidak larut dalam aseton, etanol, eter dan toluene ; Titik
lebur : 2270 dalam keadaan terbakar 252 0 C; Pka/Pkb :
430; Bobot jenis : 0,78 g /cm3; pH larutan : 7 sampai 9;
Stabilitas : Bersifat stabil meskipun bahan yang tidak
higroskopik dalam bentuk larutan stabil pada pH 2 10,
secara umum stabilitas dalam larutan berkisar pada pH 79; Inkompatibilitas : Tidak bercampur dengan asam kuat,
logam seperti Alumunium presipitas terjadi pada pH<2
dan ketka tercampur dengan etanol (95%) P Na-CMC
dapat membentuk kompleks dengan gelatin dan pectin;
Fungsi : pengental
Kristal padat berwarna kekuningan, atau kristal putih.
Agak berbau dan berasa seperti tallow. Titik didih 383 oC,
densitas0,537 g/ cm3, titik leleh 69-70 oC.
Physical state and appearance: Solid. (Waxy solid.); Odor:
Characteristic. (Slight.); Molecular Weight: 180.25 g/mole
Color: White to yellowish; pH (1% soln/water): Not
applicable; Boiling Point: 264C (507.2F) - 270 C @ 733
mm Hg; Melting Point: 48C (118.4F) - 55 C; Critical
Vapor Density: 6.2 (Air = 1); Dispersion Properties: See
solubility in water, diethyl ether; Solubility: Soluble in
diethyl ether. Insoluble in cold water, hot water. Soluble in
50% alcohol or higher, petroleum ether, propylene glycol,
fats, oils, chloroform. Solubility in Alcohol: 4 g/4 ml
alcohol. Solubility in Chloroform: 1 g/2 ml chloroform.
Solubility in Ether: 1g/1.2 ml Ether.

Lendir daun lidah buaya


Aquadestilata

6
ad 100

Zat aktif anti bakteri


Pelarut

Minyak zaitun

85 g

85 g

Basis Sabun

Minyak kelapa

36 g

36 g

Basis sabun

KOH

28g

28 g

Basa sabun

29

Cairan kental berwarna hijau


Air yang dibebaskan sesempurna mungkin dari zat
anorganik ( mineral ) dibuat dengan penukar ion yang
cocok. Pemerian : Berupa cairan jernih, tidak berwarna,
tidak berbau. Kelarutan : Bercampur dengan larutan polar.
Fungsi :Pelarut
Larutan minyak agak kental berwarna jernih kekuningann ,
praktis tidak larut dalam air, sedikit larut dalam 29ristal 96
%, Larut dalam eter, kloroform, dan pelarut organik non
polar lainnya. Penggunaan sebagai basis. Stabilitas : tidak
stabil jika terkana sinar matahari langsung.
Pemerian larutan minyak agak kental berwarna jernih
kekuningann , praktis tidak larut dalam air, sedikit larut
dalam alcohol 96 %, Larut dalam eter, kloroform, dan
pelarut organik non polar lainnya. Penggunaan sebagai
basis. Stabilitas : tidak stabil jika terkana sinar matahari
langsung. Sinonim : oleum vegetable, oleum neutralea,
Medium Chain Triglycerides. Fungsi : pengemulsi,
solvent, suspending agent, therapeutic agent. Minyak
membeku pada suhu 0 oC dan viskositas menjadi rendah
bila mendekati suhu 0 oC. OTT : polistiren, polietilen, dan
polipropilen.
Physical state and appearance: Solid. (Solid pellets.);
Odor: Odorless; Molecular Weight: 56.11 g/molep.
4Color: White; pH (1% soln/water): 13 [Basic.]; Boiling
Point: Decomposition temperature: 1384C (2523.2F);
Melting Point: 380C (716F); Specific Gravity: 2.044
(Water = 1); Dispersion Properties: See solubility in water.

Solubility: Easily soluble in cold water, hot water.


Insoluble in diethyl ether.
K2CO3

5g

5g

Basa sabun

Physical state and appearance: Solid. (Powdered solid.


Deliquescent solid.); Odor: Odorless; Molecular Weight:
138.21 g/mole; Color: White; pH (1% soln/water): Not
available; Boiling Point: Decomposes; Melting Point:
891C (1635.8F); Specific Gravity: 2.29 (Water = 1);
Dispersion Properties: See solubility in water; Solubility:
Soluble in cold water.

Aquadestilata

2527

Ad

Pelarut

100

Air yang dibebaskan sesempurna mungkin dari zat


anorganik ( mineral ) dibuat dengan penukar ion yang
cocok. Pemerian : Berupa cairan jernih, tidak berwarna,
tidak berbau. Kelarutan : Bercampur dengan larutan polar.
Fungsi :Pelarut
Form: Powder; Applications; Skin care, Hair care, Sun
care, Hygiene, Make-up; Use level: 0.5 to 5% pH of use:
28

Sepimax

zenTM

18 g

Pengental

Crosspolymer-6)
Serbuk Chlerlla

5g

Zat aktif anti bakteri

pyrenoidosa
Minyak Lavender

5 ml

Fragrance

Vitamin E

10 ml

(Polyacrylate

10 ml

Antioksidan

30

Serbuk berwarna hijau


Physical state and appearance: Liquid; Odor: odor of
lavender flowers; Color: Colorless to light yellow;
Specific Gravity: 0.875 - 0.880 (Water = 1); Vapor
Pressure: 0 kPa (@ 20C) Solubility: Insoluble in cold
water, hot water.
Tocopherol tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut

Ekstrak Etanol Kubis


PEG 400

7g
0,5 g

Viskolam SMC-20
Larutan asam sitrat 0,1

0,3 g
21,67

0,3 g
21,67

ml

ml

Zat aktif anti bakteri


Pengental

Basis/ Pengental
Sequistering agent

lemak seperti minyak, lemak, 31ristal, aseton, eter dan


sebagainya. Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen
dan tidak terpengaruh oleh asam pada suhu 100o C. Bila
terkena oksigen di udara, akan teroksidasi secara perlahanlahan. Sedangkan bila terkena cahaya warnanya akan
menjadi gelap secara bertahap.
Ekstrak berwarna coklat kehijauan, aroma khas kubis.
Physical state and appearance: Liquid. ( viscous)
Odor: Odorless; Molecular Weight: 400 (380 - 420)
g/mole; Color: Clear; Melting Point: 4C (39.2F) - 6 C.;
Specific Gravity: 1.1254 (Water = 1); Dispersion
Properties: See solubility in water; Solubility: Soluble in
cold water, hot water. Readily soluble in aromatic
hydrocarbons. Slightly soluble in aliphatic hydrocarbons.
Larutan jernih pH 1-2, Kegunaan dalam bidang farmasi :
Sequistering agent 0,3-2,0 %; larutan buffer 0,1-2,0 %;
penimbul rasa pada sediaan cair 0,3-2,0 %. Penyimpanan
dalam wadah tertutup rapat. Pada temperatur kamar, asam

Larutan Na2HPO4 0,2 M

65 ml

Buffer

Acnibio

0,0125

Pengawet

(Isothiazolone)

AC

31

sitrat berbentuk serbuk kristal berwarna putih.


Physical State: clear liqid; Odor: odorless ; pH: 8.79.3 (5% aq.sol. 20C)
Appearance : Colourless or slightly yellow liquid;
Solubility : Soluble in water, alcohol glycols and polar
solvents; PH : 20C 2,0 4,0 3,69 Density : 20C 1,10
1,15 g/ml 1,117 g/ml ; Magnesium Salts Approx.23%.

Ol. Rosae

5 gtt

Fragrance

Form: liquid ;Colour: light yellow ;Odour: Characteristic


rose odour ;Melting point / melting range: not determined ;
Boiling point / boiling range: not determined ; Flash point:
85 C ;Density: at 20 C 0,885 g/cm ; Solubility in /
Miscibility with ; Water not soluble; Materials to avoid:
Strong oxidizers, strong acids and bases

Aquadestilata

Ad

Pelarut

Air yang dibebaskan sesempurna mungkin dari zat


anorganik ( mineral ) dibuat dengan penukar ion yang
cocok. Pemerian : Berupa cairan jernih, tidak berwarna,
tidak berbau. Kelarutan : Bercampur dengan larutan polar.
Fungsi :Pelarut
Harga rata-rata berat jenis, indeks bias, bilangan asam,
bilangan iod, dan angka penyabunan berturut-turut 0,922
gr/cc; 1,467; 0,249 mg KOH/gr; 78,232 gr Iod/100 gr; dan
181,896 mg KOH/gr. 19
Pemerian cairan jernih, mudah menguap, beraroma khas.

100 ml

Avocado Seed Oil

10 %

Zat Aktif

Chamomile oil

0,1 %

Zat Aktif

32

Tabel 3.2 Karakteristik Sediaan Sabun Padat


Formul

Karakteristik

a
F117

Karakteristik sabun hasil formulasi yaitu warna merah muda, aroma


minyak kelapa,, pH asam, kadar alkali bebas 9 %, Bahan Aktif 9 %,

F2 5

bobot jenis 0,950.


Karakteristik sabun hasil formulasi yaitu warana hijau, aroma khas
lavender, viskositas 3,783 cp, pH 8,7, kerapatan 1,37 g/ml, < 10 koloni/

F3 18

gram.
Karakteristik sabun hasil formulasi yaitu warna hijau, aroma rose, pH

F4

5,5-8,5, bobot jenis 1,02.


Perkiraan karakteristik sabun yaitu warna putih tulang dan konsistensi
Cairan Kental, konsistensi padat dengan pembusaan yang banyak.
Pada formulas 1 merupakan sabun antiseptik lidah buaya dimana basis yang

digunakan adalah minyak kelapa dengan KOH dengan karakteristik dapat dilihat
pada tabel 3.2. pada formula ini sebagai pembersih digunakan sabun campuran asam
lemak dan basa, namun ada satu hal yang tidak boleh terlupakana bahwa pada
formula ini semua bahan sabun cair terpenuhi kecuali pengawet. Walaupun surfaktan
sendiri dan zat aktif memiliki daya anti bakteri tetapi untuk sediaan berair sebaiknya
digunakan pengawet.
Pada formula 2 sama halnya seperti formula 1 walaupun sudah memenuhi
kriteria untuk sabun cair tetapi dalam formulanya tidak ditambahkan pengawet dan
tidak dilakukan uji iritasi.
Untuk formula 3 formulanya sudah dilakukan pengujian iritasi pada
punggung kelinci dan hasilnya aman untuk di gunakan.
Pada formula ke empat adalah rancangan formula penulis dimana penulis
menggunakan campuran basis sabun padat olive oil, coconut oil, yang mengacu pada
formula 3 karena sudah dilakukan pengujian iritasi dan aman, selain itu pada formula
ini ditambahkan nipagin nipasol sebagai pengawet. Alasan pemilihan basis yaitu
dipilih senyawa lemak dengan asam lemak yang panjang seperti coconut oil dan oliv
oil. Karena semakin panjang rantai C pada asam lemaknya maka sifat mengiritasi
pada kulit semakin berkurang. Selain itu pada formula ke empat ini penulis

33

tambahkan zat aktif bahan alam yaitu minyak biji alpukat yang berperan sebagai
pelembab dan Chamomile oil sebagai anti bakteri.

BAB IV

34

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Sabun biasa dengan sabun bayi sangatlah berbeda formulanya terutama
dalam hal sifat dan kemurnian dari sabun bayi. Sabun bayi tidak boleh meng
iritasimata dan mukosa, sedangkan pada sabun biasa masih bias ditoleransi.
Dari hasil penelaahan formula sabun bayi bahwa sabun bayi tidak perlu terlalu
berbusa namun dapat membersihkan kotoran begitu pula dengan perkiraan
karakteristik pada formula F4 dikarenakan kandumgan lemak yang cukup tinggi
dan penambahan zat aktif Avocado seed oil dan Chamomile oil maka sabun tidak
akan terlalu berbusa.
4.2. Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya diharapka agar formula yang
penulis susun agar dapat diformulasikan dan di uji karakteristik serta afikasinya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.

Daftar Pustaka

35

1. Perdanakusuma, DS. Anatomi Fisiologi Kulit Dan Penyembuhan Luka.


Airlangga
University
School
of
Medicine.
2007.
Tersedia
:http://www.fk.unair.ac.id/attachments/1705_ANATOMI
%20FISIOLOGI%20KULIT%20DAN%20PENYEMBUHAN%20LUKA
%20Agustus%202007.pdf. Diakses pada [8 April 2014].
2. Muliyawan, D. dan Suriana, N. A-Z Tentang Kosmetik. Penerbit PT Eleksmedia
Komputindo. Jakarta. 2002
3. Tranggono, RI, dan Latifah, F. Buku Pengantar Ilmu Pengetahuan Kosmetik. PT.
Gramedia. Jakarta. 2007.
4. Goeser,
AL.
Kulit,
Rambut
dan
Kuku.
Tersedia
http://lyrawati.files.wordpress.com/2008/07/kulit-rambut-kuku-goeseryohan.pdf. Diakses pada [8 April 2014]

5. Hernani dkk. Formula Sabun Transparan Antijamur Dengan Bahan Aktif


Ekstrak Lengkuas (Alpinia galanga L.Swartz.). Bul. Littro. Vol. 21 No. 2, 2010.
6. BSNI.

Sabun

Mandi

Bayi,

SNl

16-4768-1998.

Tersedia

http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.id/files/SNI%2016-4768-1998.PDF.

Diakses pada [15 Mei 2014].


7. Andhira,

F,

Sabun

[Makalah].

Tersedia

:
http://fairuzjuwel.blogspot.com/2012/06/makalah-sabun.html . Diakses pada [15 Mei
2014 ]

8. Iin, D. Pembuatan Sabun Transparan (Makalah). Diakses pada [15 Mei 2014].
9. ________.Belajar

Membuat

Sabun
.Tersedia
http://belajarbuatsabun.wordpress.com/. Diakses pada [15 Mei 2014].

10. Janardhanan,
K.
R.
Soaps
and
Detergents.
Tersedia
:
http://www.vigyanprasar.gov.in/chemistry_application_2011/briefs/soaps_and_de
tergents.pdf. Diakses pada [ 16 Mei 2014].
11. _________.

Natural

Baby

Bath

With

Vit

E.

Tersedia

http://www.botaneco.ca/Documents/Formulations_NOV2013/Natural_B
aby_Bath_Shea_Oil_VitaminE_011_093.pdf. Diakses pada [16 Mei 2014].

36

12. Ditjen POM. 1985. Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta.Departemen.


Kesehatan RI
13. ________. Chamomile. Tersedia : http://www.herbalsafety.utep.edu/herbspdfs/chamomile.pdf. Diakses pada [16 Mei 2014].
14. _________. Matricaria chamomilla (German chamomile). Alternative Medicine
Review Volume 13, Number 1 2008.
15. Miller,K
Design
*Your
Own*
Soap
Recipe.
Tersedia
http://millersoap.com/soapdesign.html. Diakses pada [6 Juni 2014].

16. Lund, carolin et. al. Neonatal Skin Care: The Scientific Basis for Practice.
Tersedia : http://sonhs.umkc.edu/documents/nnp/neonatalskincare.pdf. Diakses
pada [6 Juni 2014].
17. Hambali, Eliza.et al Kajian Pengaruh Penambahan Lidah Buaya Terhadap mutu
Sabun Transparanran. J. Tek. Ind. Pert. Vol. 14.2 Hal. 74-79.
18. A.P Handayani, HC. Pengaruh Peningkatan Konsentrasi Ekstrak Etanol 96% Biji
Alpukat (Perseae Americana Mill) Terhadap Formulasi Sabun Padat Transparan.
Fak. Kedokteran dan Ilmu kesehatan UIN, Jakarta 2009.
19. Widioko, SA. Proses Ekstraksi Kontinyu Lawan Arah Dengan Simulasi Batch
Tiga Tahap : Pengambilan Minyak Biji Alpukat Menggunakan Pelarut N-Hexane
Dan Iso Propil Alkohol. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas
Diponegoro. 2010.
20. Raymond,c Rowe, et al.Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth
edition.Pharmaceutical Press. 2009.
21. ________. Bureu of Indian Standard .Spesification for Baby Toilet Soap.2011.

37