Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN KALA II LAMA


Di Ruanga VK RS. dr. H. M. Ansari Saleh Banjarmasin

Tanggal 6-23 juli 2015

Oleh :
Bernadino Oktavianus Manembu S. Kep
NIM. I4B111209

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2015

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KLIEN DENGAN KALA II LAMA
Di Ruang VK RS. dr. H. M. Ansari Saleh Banjarmasin

Tanggal 6-23 juli 2015

Oleh :

Bernadino Oktavianus Manembu S. Kep


NIM. I4B111209

Banjarmasin,

Juli 2015

Mengetahui,

Pembimbing Akademik

Devi Rahmayanti, S.Kep., Ns

Pembimbing Lahan

Noordiana, S.Kep., Ns

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KALA II LAMA

A. Pengertian Persalinan Kala II Lama


Persalinan lama adalah dimana fase laten lebih dari 8 jam ,dan persalinan telah

berlangsung 12 jam atau lebih bayi belum lahir.


Persalinan kala II lama atau di sebut juga partus tak maju adalah suatu persalinan dengan
his yang adekuat namun tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan servik, turunnya

kepala dan putaran paksi selama 2 jam terakhir (Mochtar, 1998).


Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (1998), pengertian dari partus lama adalah
persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primigravida dan lebih dari 18 jam

pada multigravida. Dilatasi serviks di kanan garis waspada persalinan fase aktif
Menurut winkjosastro, 2002. Persalinan (partus) lama ditandai dengan fase laten lebih
dari 8 jam, persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi, dan

dilatasi serviks di kanan garis waspada pada partograf.


Definisi (Menurut Prof. Dr. dr. Gulardi Hanifa Winkjosastro, SPOG, 2002. Buku
PanduaPraktisPelayananKesehatanMaternaldanNeonatal)
Partus lama adalah fase laten lebih dari 8 jam. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau

lebih, bayi belum lahir. Dilatasi serviks dikanan garis waspada persalinan fase aktif.
Jadi, persalinan kala II lama adalah persalinan yang telah berlangsung selama 12 jam atau
lebih bayi belum lahir,dan his adekuat namun tidak menunjukkan kemajuan pada

pembukaan servik.
B. Etiologi
Faktor Ibu
His tidak efisien (adekuat)
Timbulnya his adalah indikasi mulainya persalinan, apabila his yang timbul
sifatnya lemah, pendek, dan jarang maka akan mempengaruhi turunnya kepala dan
pembukaan serviks atau yang sering disebut dengan inkoordinasi kontraksi otot rahim,
dimana keadaan inkoordinasi kontraksi otot rahim ini dapat menyebabkan sulitnya
kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengusiran janin dari
dalam rahim, pada akhirnya ibu akan mengalami partus lama karena tidak adanya
kemajuan dalam persalinan.

Faktor jalan lahir (pinggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor)


Penyebab partus lama sebagian besar adalah karena panggul ibu yang terlalu
sempit, atau gangguan penyakit pada tulang sehingga kepala bayi sulit untuk berdilatasi
sewaktu persalinan. Faktor genetik, fisiologis, dan ingkungan termasuk gizi
mempengaruhi perawakan seorang ibu. Perbaikan gizi dan kondisi kehidupan juga
penting karena dapat membantu mencegah terhambatnya pertumbuhan. Selain itu servik
yang terlalu kaku juga dapat berdampak pada lambannya kemajuan persalinan, karena
akibat servik yang kaku akan menghambat proses penipisan portio yang nantinya akan
berdampak pada lamanya pembukaan. Adanya tumor juga sangat berpengaruh terhadap
proses lamanya persalinan. Jika terjadi tumor di organ reproduksi khususnya pada jalan
lahir tentunya akan menghalangi proses lahirnya bayi yang kemungkinan besar akan
mengakibatkan partus lama.

Usia
Jika dilihat dari sisi biologis manusia 20 - 35 merupakan tahun terbaik wanita
untuk hamil karena selain di usia ini kematangan organ reproduksi dan hormon telah
bekerja dengan baik juga belum ada penyakit-penyakit degenerative seperti hipertensi,
diabetes, serta daya tahan tubuh masih kuat. Tidak semua ibu dengan usia kurang dari 20
tahun atau lebih dari 35 tahun dipastikan mengalami partus lama, akan tetapi pada
sebagian wanita dengan usia yang masih muda organ reproduksinya masih belum begitu
sempurna dan fungsi hormon-hormon yang berhubungan dengan persalinan juga belum
sempurna pula.
Ditambah dengan keadaan psikologis, emosional dan pengalaman yang belum
pernah dialami sebelumnya dan mempengaruhi kontraksi uterus menjadi tidak aktif, yang
nantinya akan mempengaruhi lamanya persalinan. Sedangkan pada ibu dengan usia lebih
dari 35 tahun diketahui kerja organ-organ reproduksinya sudah mulai lemah, dan tenaga
ibu pun sudah mulai berkurang, hal ini akan membuat ibu kesulitan untuk mengejan yang
pada akhirnya apabila ibu terus menerus kehilangan tenaga karena mengejan akan terjadi

partus lama (Amuriddin, 2009)


Paritas

Menurut Wiknjosastro salah satu penyebab kelainan his yang dapat menyebabkan
partus lama terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua,
sedangkan pada multipara ibu banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri.
Salah satu penyebab terjadinya partus lama menurut Moechtar (1998) adalah kelainan his,
his yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya ridak menghambat persalinan.
Kelainan his dipengaruhinya oleh herediter, emosi, dan ketakutan menghadapi
persalinan yang sering dijumpai pada primagravida. Dikatakan bahwa terdapat
kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berperitas
tinggi.

Respons stress
Stres psikologis memitiki efek fisik yang kuat pada persalinan. Hormon stres,
seperti adrenalin, berinteraksi dengan reseptor-beta di dalam otot uterus dan menghambat
kontraksi, memperlambat persalinan. Ini merupakan respons involunter ketika ibu merasa
terancam atau tidak aman, persalinannya berhenti baginya untuk mencari tempat yang
dirasakannya aman.

Faktor janin
Faktor janin (mal presentasi, malposisi, janin besar)
a. Mal presentasi dan mal posisi
Mal presentasi adalah semua presentasi janin selain varteks,sedangkan mal
posisi adalah posisi kepala janin relative terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik
referensi. Pada kejadian mal presentasi kerja uterus kontraksinya cenderung lelah dan
tidak teratur.
b. Bayi yang besar
Bayi yang besar merupakan faktor partus lama yang sangat berkaitan dengan
terjadinya malposisi dan malpresentasi, janin yang dalam keadaan malpresentasi dan
malposisi kemungkinan besar akan menyebabkan partus lama atau partus macet

C. Tanda dan gejala

Pembukaan serviks tidak melewati 3 cm sesudah 8 jam in partu


Frekuensi dan lamanya kontraksi kurang dari 3 kontraksi per 10 menit dan kurang

dari 40 detik
Kelainan presentasi

Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan, tetapi tidak ada kemajuan
penanganan

Menurut Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (1998) gejala klinik partus lama terjadi pada
ibu dan juga pada janin.
a. Pada ibu :
Ibu merasakan gelisah , letih, suhu badan meningkat, berkringat, nadi cepat,
pernafasan cepat. Di daerah lokal sering di jumpai : lingkaran bandl, edema vulva,
edema servik, cairan ketuban berbau, terdapat mekonium.
b. pada janin :
- Denyut jantung janin cepat atau hebat atau tidak teratur bahkan negative.
- Air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau- hijauan dan berbau.
- Caput succedaneum yang besar.
- Moulage kepala yang hebat .
- IUFD (intra uterin fetal death)
Menurut Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, DSOG (1998), gejala utama yang perlu
diperhatikan pada partus lama antara lain :
1. Dehidrasi
2. Tanda infeksi : temperatur tinggi, nadi dan pernapasan, abdomen meteorismus
3. Pemeriksaan abdomen : meteorismus, lingkaran bandle tinggi, nyeri segmen bawah
rahim
4. Pemeriksaan lokal vulva vagina : edema vulva, cairan ketuban berbau, cairan
ketuban bercampur mekonium

5. Pemeriksaan dalam : edema servikalis, bagian terendah sulit di dorong ke atas,


terdapat kaput pada bagian terendah
6. Keadaan janin dalam rahim : asfiksia sampai terjadi kematian
7. Akhir dari persalinan lama : ruptura uteri imminens sampai ruptura uteri, kematian
karena perdarahan atau infeksi.
D. Dampak Persalinan Lama Pada Ibu-Janin
Persalinan lama dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi salah satu atau
keduanya sekaligus.
Efek pada ibu
Infeksi Intrapartum
Infeksi bahaya yang serius yang mengancam pada ibu dan janinnya pada partus
lama, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri didalam cairan amnion menembus
amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakterimiaa dan
sepsis pada ibu dan janin. Pneumonia pada janin, akibat aspirasi cairan amnion yang
terinfeksi, adalah konsekuensi serius lainnya. Pemeriksaan serviks dengan jari tangan
akan memasukkan bakteri vagina kedalam uterus. Pemeriksaan ini harus dibatasi selama
persalinan, terutama apabila dicurigai terjadi persalinan lama.

Ruptura uteri
Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama
partus lama, terutama pada ibu dengan paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat
seksio sesarea. Apabila disproporsi antara kepala janin dan panggul sedemikian besar
sehingga kepala tidak cakap (engaged) dan tidak terjadi penurunan, segmen bawah
uterusmenjadi sangat teregang kemudian dapat menyebabkan rupture. Pada kasus ini
mungkinterbentuk cincin retraksi patologis yang dapat diraba sebagai sebuah kista
trasversal atau oblik yang berjalan melintang di uterus antara simfisis dan umbilicus.
Apabila dijumpai keadaan ini, diindikasikan persalinan perabdominam segera.

Cincin retraksi patologis


Walaupun sangat jarang, dapat timbul kontriksi atau cincin local uterus pada
persalinan yang berkepanjang. Tipe yang paling sering adalah cincin retraksi patologis
Bandl, yaitu pembebtukan cincin retraksi normal yang berlebihan. Cincin ini sering
timbul akubat persalinan yang terhambat, disertai peregangan dan penipisan berlebihan
segmen bawah uterus. Pada situasi semacam ini cincin dapat terlihat sebagai suatu
identitas abdomen dan menandakan ancaman akan rupturnya segnen bawah uterus.
Kontriksi uterus local jarang dijumpai saat ini karena terhanbatnya persalinan secara
berkepanjangan tidak lagi dibiarkan. Konstriksi local ini kadang-kadang masih terjadi
sebagai konstriksi jam pasir (haourglass constriction) uterus setelah lahirnya kembar
pertama. Pada keadaan ini, konstriksi tersebut kadang-kadang dapat dilemaskan dengan
anestesi umum yang sesuai dan janin janin dilahirkan secara normal, tetapi kadangkadang seksio sesarea yang dilakukan dengna segera menghasilkan progonis yang lebih
baik bagi kembar kedua.

Pembentukan Fistula
Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas pinggul tetapi tidak
maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak diantaranya
dan dinding panggul dapat mengalami tekanan yang berlebihan. Karena gangguan
sirkulasi, dapat terjadi narcosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan
dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau rektovaginal. Umumnya
narcosis akibat penekanan ini pada persalinan kala II yang berkepanjangan. Dulu saat
tindakan operasi ditunda selama mungkin, penyulit ini sering dijumpai, tetapi saat ini
jarang terjadi kecuali Negara-negara yang belum berkembang.

Cedera otot-otot dasar panggul


Suatu anggapan yang telah dipegang adalah bahwa cedera otot-otot dasar panggul
atau persarfan ata fasia penghubungannya merupakan konsekuensi yang tida terlelakan
pada persalinan pervaginam, terutama apabila persalinannya sulit. Saat kelahiran bayi,
dasar panggul mendapat tekanan langsung dari kepala janin serta tekanan kebawah akibat

upaya mengejan ibu. Gaya-gaya inimeregangkan dan melebarkan dasar panggul selama
melahirkan ini akan menyebabakan inkontinensa urin dan alvi serta prolaps organ
panggul.
Efek pada janin :
Partus lama itu sendiri dapat dirugikan. Apabila panggul sempit dan juga terjadi ketuban
pecah lama serta infeksi intrauterus, risiko janin dan ibu akan muncul. Infeksi intrapartum bukan
saja merupkan penyulit yang serius pada ibu, tetapi juga merupakan penyebab penting kematian
janin dan neonates. Hal ini disebakan bakteri didalam cairan amnion menembus selaput amnion
dan menginvasi desidua serta pembuluh korion, sehingga terjadi bakteremia pada ibu dan janin.
Pneumonia janin, akibat aspirasi cairan amnion yang terinfeksi, adalah konsekuensi serius
lainnya.

Kaput Suksedeneum
Apabila panggul sempit, sewaktu persalinan sering terjadi kaput suksedeneum
yang besar terjad terbawah kepala janin. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan
menyebabakan kesalahan diagnostic yang serius. Kaput hamper dapat mencapai dasar
panggul sementara kepala sendiri belum cakap.

Molase kepala janin


Akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng tulang tengkorak saling
bertumpang tindih satu sama lain disutura-sutura besar, suatu proses yang disebut molase.
Biasannya batas median tulang parietal yang berkontak dengan promotorium bertumpang
tindih dengan tulang disebelahnya; hal ini sama terjadi pada tulang-tulang frontal. Namun
tulang oksipetal terdorong kebawah tulang parietal. Perubahan-perubahan ini sering
terjadi tanpa menimbulkan kerugian yang nyata. Di lain pihak, apabila distorsi yang
terjadi mencolok, molase dapat menyebabkan robekan tentorium, laserasi pembuluh
darah janin, tanpa perdarahan intra karinial pada janin. Fraktur tengkorak kadang-kadang
dijumpai, biasanya setelah dilakukan upaya paksa pada persalinan. Fraktur ini juga dapat
terjadi pada persalinan spontan atau bahkan sekseo sesarea

E. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dilakukan pada ibu dengan kala II memanjang yaitu dapat
dilakukan partus spontan, ekstraksi vakum, ekstraksi forceps, sectio caesaria, dan lain-lain.
Penatalaksanaannya yaitu sebagai berikut :
a. Tetap melakukan Asuhan Sayang Ibu, yaitu :

Anjurkan agar ibu selalu didampingi oleh keluarganya selama proses persalinan
dan kelahiran bayinya.
Alasan : Hasil persalinan yang baik ternyata erat hubungannya dengan dukungan
dari keluarga yang mendampingi ibu selama proses persalinan (Enkin, et al,
2000).

Anjurkan ibu untuk minum selama kala II persalinan


Alasan : Ibu bersalin mudah sekali mengalami dehidrasi selama proses persalinan
dan kelahiran bayi. Cukupnya asupan cairan dapat mencegah ibu mengalami hal
tersebut (Enkin, et al, 2000).

Ada kalanya ibu merasa khawatir dalam menjalani kala II persalinan. Berikan rasa
aman dan semangat serta tentramkan hatinya selama proses persalinan
berlangsung. Dukungan dan perhatian akan mengurangi perasaan tegang,
membantu kelancaran proses persalinan dan kelahiran bayinya. Beri penjelasan
tentang cara dan tujuan dari setiap tindakan setiap kali penolong akan
melakukannya, jawab aetiap pertanyaan yang diajukan ibu, jelaskan apa yang
dialami oleh ibu dan bayinya dan hasil pemeriksaan yang dilakukan (misalnya
TD, DJJ, periksa dalam)

b. Melakukan kala II persalinan


-

Cuci tangan (Gunakan sabun dan air bersih yang mengalir)

Pakai sarung tangan DTT/steril untuk periksa dalam

Beritahu ibu saat, prosedur dan tujuan periksa dalam

Lakukan periksa dalam (hati-hati) untuk memastikan pembukaan sudah lengkap


(10cm) lalu lepaskan sarung tangan sesuai prosedur PI

Jika pembukaan belum lengkap, tentramkan ibu dan bantu ibu mencari posisi
nyaman (bila ingin berbaring) atau berjalan-jalan disekitar ruang bersalin.
Ajarkan cara bernafas selama kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan
bayinya dan catatkan semua temuan dalam partograf

Jika ibu merasa ingin meneran tapi pembukaan belum lengkap, beritahukan
belum saatnya untuk meneran, beri semangat dan ajarkan cara bernafas cepat
selama kontraksi berlangsung. Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang
nyaman dan beritahukan untuk menehan diri untuk meneran hingga penolong
memberitahukan saat yang tepat untuk itu.

Jika pembukaan sudah lengkap dan ibu merasa ingin meneran, bantu ibu
mengambil posisi yang nyaman, bimbing ibu untuk meneran secara efektif dan
benar dan mengikuti dorongan alamiah yang terjadi. Anjurkan keluarga ibu
untuk membantu dan mendukung usahanya. Catatkan hasil pemantauan dalam
partograf. Beri cukup minum dan pantau DJJ setiap 5-10 menit. Pastikan ibu
dapat beristirahat disetiap kontraksi.

Jika pembukaan sudah lengkap tapi ibu tidak ada dorongan untuk meneran,
bantu ibu untuk memperoleh posisi yang nyaman (bila masih mampu, anjurkan
untuk berjalan-jalan). Posisi berdiri dapat membantu penurunan bayi yang
berlanjut dengan dorongan untuk meneran. Ajarkan cara bernafas selama
kontraksi berlangsung. Pantau kondisi ibu dan bayi dan catatkan semua temuan
dalam partograf.

Berikan cukup cairan dan anjurkan / perbolehkan ibu untuk berkemih sesuai
kebutuhan. Pantau DJJ setiap 15 menit, stimulasi puting susu mungkin dapat
meningkatkan kekuatan dan kualitas kontraksi.

Jika ibu tidak ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit pembukaan
lengkap, anjurkan ibu untuk mulai meneran disetiap puncak kontraksi.

Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas atau jika kelahiran
bayi tidak akan segera terjadi, rujuk ibu segera karena tidak turunnya kepala
bayi mungkin disebabkan oleh disproporsi kepala-panggul (CPD).

Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah
oksigen ke plasenta. Dianjurkan mengedan secara spontan (mengedan dan
menahan nafas terlalu lama, tidak dianjurkan)

c. Jika malpresentasi dan tanda-tanda obstruksi bisa disingkirkan, berikan infus


oksitosin
d. Jika tidak ada kemajuan penurunan kepala :

Jika kepala tidak lebih dari 1/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di
stasion (O), lakukan ekstraksi vakum atau cunam

Jika kepala diantara 1/5-3/5 di atas simfisis pubis, atau bagian tulang kepala di
antara stasion (O)-(-2), lakukan ekstraksi vakum

Jika kepala lebih dari 3/5 di atas simfisis pubis atau bagian tulang kepala di atas
stasion (-2) lakukan seksio caesarea.

e. Berdasarkan penelitian Sulilowati D dengan judul keteraturan senam hamil terhadap


lama persalinan kala 2 pada ibu bersalin. Didapatkan hasil terdapat hubungan antara
senam hamil dengan lama persalinan kala II. Hal ini sesuai dengan teori bahwa
latihan senam hamil yang dilakukan secara mempunyai manfaat untuk latihan
pernafasan, latihan penguatan, dan peregangan otot-otot panggul yang mempercepat
proses persalinan.

F. Pathways

Kehamilan cukup bulan (>37 minggu)

Ibu mengejan ketika ada kontraksi

Nyeri

Tidak ada kemajuan kepala janin


Ibu kelelahan
Ansietas
Tindakan vacum ekstraksi

Perdarahan
Kekurangan Volume Cairan

Robekan serviks uteri

Resiko infeksi

G. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses persalinan
2. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai cara meneran
3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (vakum ekstraksi)
4. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan output berlebih

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian :

Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisikAnsietas


biologisberhubungan
dan kimia dengan status kesehatan dan stres
NOC :

NOC :
Comfort
level
Pola Persepsi Kesehatan dan Penanganan
Kesehatan
PolaNutrisi MetabolikPain level
Pola Eliminasi

Pain control

Anxiety control
Kekurangan Volume
Cairan berhubungan dengan output berlebih

NOC :

Coping

Fluid balance

Kriteria Hasil :
Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas

Hydration
Pola Istirahat dan TidurKtiteria Hasil :
Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cem
Nutritional
Status
: Food and
Mengekspresikan
kegembiraan
terhadap
lingkungan
sekitar
Pola Aktivitas Latihan
Vital sign dalam batas normal
Fluid Intake
NIC
PolaKognitif PersepsiTanda-tanda vital dalam batas normal
gejala nyeri
Pola Persepsi Diri KonsepMengenal
Diri
Melaporkan nyeri berkurang
Pola Seksualitas Reproduksi
Melaporkan cdapat mengontrol nyeri
Pola Koping Toleransi Stres
Pola Peran HubunganNIC :

Kriteria HasilAnxiety
:
Reduction

Mempertahankan
urinependekatan
output
Gunakan
yang menenangkan
sesuai dengan Jelaskan
usia dansemua
BB, BJprosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
urine normal, Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis

Libatkan
untuk mendampingi klien
Tidak ada tanda
tanda keluarga
dehidrasi,
Pain Management
Pola Nilai Kepercayaan
Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi
tau menggunakan alkohol sebelum kontak dengan pasien
Elastisitas
turgor
kulit baik,
Kaji tipe intensitas, karakteristik dan lokasi
nyeri

Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan

membran
mukosa lembab, tidak
Kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan
dosis analgesik

Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi

ulit, membran mukosa terhadap kemerahan dan panas

ada rasayang
haustenang
yang berlebihan
Anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan

kal. Evaluasi keadaan pasien terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum intravena.

tuan

Orientasi terhadap waktu dan


Atur sikap fowler 300 atau dalam posisi nyaman.
Ajarkan klien teknik relaksasai dan nafas tempat
dalam baik
Elektrolit,
Hb,
Hmt
dalam
batas
Anjurkan klien menggunakan mekanism koping
yang
baik
disaat
nyeri
terjadi
normal
Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan
TIO
pH urin dalam batas normal
Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan
Hilangkan atau kurangi sumber nyeri

Intake oral dan intravena adekuat


NIC :
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ort

Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin, album
Kolaborasi pemberian cairan IV
Monitor status nutrisi

Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 100cc/jam)

DAFTAR PUSTAKA

Hanifa,winkjosastro.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.


Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Llewllyn-jones, Derek. 2001. Dasa-Dasar Obstetri dan Ginekologi Edisi 6. Jakarta : EGC
Rustam, mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta : EGC
Prawirohardjo,sarwono.(2009).Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.PT.bina pustaka sarwono prawirahardjo.Jakarta
Saifuddin, A. (2010). Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta.
PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sulistiowati D, Hastutu RT, Setyoningsih T. Keteraturan Senam Hamil Terhadap Lama
Persalinan Kala 2 Pada Ibu Bersalin. Jurnal Ilmu Kebidanan vol 1(3). 2013.
NANDA International. (2012-2014). NANDA-I: Nursing Diagnoses Definitions & Classification
2009-2010. USA: Willey Blackwell Publication.
Moorhead S, Meridean M, Marion J. (2004). Nursing Outcomes Classification (NOC). Fourth
edition. USA: Mosby Elsevier.
Bulechek, Gloria M, Joanne CM. (2008). Nursing Intervention Classification (NIC). Fifth
edition. USA: Mosbie Elsevier.