Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH HEMATOLOGI

ERITROPOIESIS

Di susun oleh :
1.
2.
3.
4.

ANIS MANTARI
ELSIKA VERA A
NURUL RIZKY H
VERY NUR A

(A101.17.006)
(A101.17.013)
(A101.17.022)
(A101.17.028)

AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL


SURAKARTA
TAHUN AJARAN 2013/2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Fungsi utama dari sel-sel darah merah, yang juga dikenal


sebagai

eritrosit,

adalah

mengangkut

hemoglobin,

dan

seterusnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan.


Selain mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga
mempunyai fungsi lain. Contohnya, ia mengandung banyak
sekali karbonik anhidrase, yang mengkatalisis reaksi antara
karbon dioksida dan air, sehingga meningkatkan kecepatan
reaksi bolak-balik ini beberapa ribu kali lipat. Cepatnya reaksi ini
membuat air dalam darah bereaksi dengan banyak sekali
karbon dioksida, dan dengan demikian mengangkutnya dari
jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonakt
(HCO3-). Hemoglobin yang terdapat sel dalam sel juga
merupakan dapar asam-basa (seperti juga pada kebanyakan
protein), sehingga sel darah merah bertanggung jawab untuk
sebagian besar daya pendaparan seluruh darah. Sel darah
merah normal, berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter
kirakira 7,8 mikrometer dan dengan ketebalan pada bagian
yang paling tebal 2,5 mikrometer dan pada bagian tengah 1
mikrometer atau kurang. Volume rata-rata sel darah merah
adalah 90 sampai 95 mikrometer kubik. Bentuk sel darah merah
dapat berubah-ubah ketika sel berjalan melewati kapiler.
Sesungguhnya, sel darah merah merupakan suatu kantung
yang dapat diubah menjadi berbagai bentuk. Selanjutnya,
karena sel normal mempunyai membran yang sangat kuat untuk
menampung banyak bahan material di dalamnya, maka
perubahan bentuk tadi tidak akan meregangkan membran
secara hebat, dan sebagai akibatnya, tidak akan memecahkan
sel, seperti yang akan terjadi pada sel lainnya. Seperti telah
disebutkan sebelumnya bahwa fungsi terpenting sel darah
merah adalah transpor O2 dan CO2 antara paru-paru dan

jaringan. Suatu protein eritrosit, yaitu hemoglobin, memainkan


peranan penting pada kedua proses tersebut.
B.Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah yang dibahas pada
makalah ini antara lain :
1. Apa yang dimaksud dengan eritropoiesis ?
2. Bagaimana proses pembentukan sel darah merah dalam
eritropoiesis ?
3. Apa saja komponen yang termasuk dalam eritropoiesis ?
4. Apa saja hormon yang mempengaruhi eritropoiesis ?
C.Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari penyusunan makalah ini sebagai
berikut :
1. Dapat menjelaskan apa arti dari eritropoiesis
2. Dapat menjelaskan proses pembentukan sel darah dalam
eritropoiesis
3. Dapat menjelaskan komponen yang termasuk dalam
eritropoiesis
4. Dapat menjelaskan

hormon

yang

mempengaruhi

eritropoiesis

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Eritropoesis adalah proses pembentukan eritrosit yang terjadi di sumsum
tulang hingga terbentuk eritrosit matang dalam darah tepi yang

dipengaruhi dan dirangsang oleh hormon eritropoietin (EPO) .Hormon


lain, seperti hormon androgen dan tiroid , juga menstimulasi sumsum
tulang. Pertumbuhan eritrosit dari sel yang bersifat pluripoten selesai
dalam waktu sekitar 7hari dan terdiri dari dua gambaran utama :
1. Maturasi sel
2. Pembentukan hemoglobin didalam sel
Eritropoietin adalah hormon glikoprotein yang terutama dihasilkan oleh
sel-sel interstisium peritubulus ginjal, dalam respon terhadap kekurangan
oksigen atas bahan globulin plasma, untuk digunakan oleh sel-sel induk
sumsum tulang. Eritropoietin mempercepat produksi eritrosit pada semua
stadium terutama saat sel induk membelah diri dan proses pematangan sel
menjadi eritrosit. Di samping mempercepat pembelahan sel, eritropoietin
juga memudahkan pengambilan besi, mempercepat pematangan sel dan
memperpendek waktu yang dibutuhkan oleh sel untuk masuk dalam
sirkulasi.
Setiap orang memproduksi sekitar 1012 eritrosit baru setiap hari
melalui proses eritropiesis yang kompleks dan teratur dengan baik.
Eritropiesis

berjalan

dari

sel

induk

melalui

sel

progenitor

CFUGEMM (Colony-forming unit granulocyte, erythroid, monocyte and


megakaryocyte/unit pembentuk koloni granulosit, eritroid, monosit, dan
megakariosit), BFUE (burst-forming unit erythroid/unir pembentuk letusan
eritroid), dan CFU eritroid (CFUE) menjadi prekursor eritrosit yang dapat
dikenali pertama kali di sumsum tulang, yaitu pronormoblas.
B. Proses Pembentukan Sel Darah Merah eritropoiesis
Karena ketidakmampuan eritrosit (sel darah merah) untuk proses
divisi sel untuk mengisi jumlahnya sendiri, sel-sel lama yang pecah harus
diganti dengan benar-benar sel-sel baru. Mereka bertemu kematian mereka
karena mereka tidak memiliki mesin intraseluler khusus seperti pada
umumnya, yang mengontrol pertumbuhan sel dan perbaikan, yang
mengarah ke jangka hidup yang pendek sekitar 120 hari.

Jangka hidup yang pendek ini mengharuskan proses eritropoiesis,


yaitu pembentukan sel darah merah. Semua sel darah terbentuk di sumsum
tulang. Ini adalah pabrik eritrosit, yang lunak, jaringan cellar tinggi yang
mengisi rongga internal tulang.
Selama perkembangan intrauterine, tahap awal kehidupan, eritrosit
diproduksi pertama oleh kantong kuning telur dan kemudian oleh limpa
berkembang selama bulan ketiga kehamilan, sampai sumsum tulang
terbentuk pada bulan ketujuh dan mengambil alih produksi eritrosit
eksklusif.
Diferensiasi eritrosit
Diferensiasi eritrosit berlangsung dalam 8 tahap. Ini adalah jalur di
mana eritrosit matang dari hemocytoblast menjadi eritrosit penuh. Tujuh
pertama semua berlangsung dalam sumsum tulang. Setelah tahap 7 sel
kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah sebagai retikulosit, di mana ia
kemudian matang 1-2 hari kemudian menjadi eritrosit. Tiga tahapan itu
adalah sebagai berikut:
1. Hemocytoblast, yang merupakan stem sel hematopoietik
pluripoten
2.

Myeloid progenitor umum, stem sel multipoten

3. Sitem sel unipotent


4.

Pronormoblas.

5.

Normoblast basofilik juga disebut eritroblast.

6.

normoblast Polychromatophilic

7. Orthochromatic normoblast
8.

Retikulosit

Eritrosit berasal di sumsum tulang merah dari sel punca (Stem sel)
berpotensi majemuk yang menimbulkan semua jenis sel darah. Sel punca
myeloid yang sebagian sel dibedakan menimbulkan eritrosit dan beberapa
jenis sel darah.
Erythroblasts berinti berkomitmen untuk menjadi eritrosit matang.
Sel-sel mengusir inti dan organel mereka, membuat lebih banyak ruang
untuk hemoglobin. Retikulosit adalah sel-sel darah merah yang belum
matang yang mengandung sisa-sisa organel. eritrosit matang yang
dilepaskan ke dalam kapiler.
C. Perbedaan Karakteristik Eritrosit selama eritropoiesis
Karakteristik ini dapat dilihat selama pematangan eritrosit:
Ukuran sel menurun
Volume sitoplasma meningkat
Awalnya ada inti dan karena sel matang ukuran inti berkurang sampai
hilang dengan pelarutan materi kromatin.
D. Regulasi eritropoiesis
Fungsi utama dari eritrosit adalah untuk mengangkut O2 dalam
darah, stimulus utama untuk produksi eritrosit adalah kadar O2 rendah.
Tetapi tingkat O2 rendah tidak merangsang eritropoiesis dengan bertindak
langsung pada sumsum tulang. Sebaliknya, merangsang ginjal untuk
mengeluarkan hormon erythropoietin ke dalam darah, dan hormon ini
dalam efek domino merangsang sumsum tulang untuk memproduksi
eritrosit.
Erythropoietin bekerja pada turunan dari sel-sel terdiferensiasi
yang telah berkomitmen untuk menjadi sel-sel darah merah (RBC),
merangsang proliferasi dan pematangan sel-sel menjadi eritrosit matang.

Peningkatan aktivitas erythropoietic mengangkat jumlah beredar eritrosit,


sehingga meningkatkan daya dukung O2 darah dan mengembalikan
pengiriman O2 ke jaringan tubuh normal. Setelah tingkat O2 di jaringan
ginjal dibawa kembali normal, sekresi erythropoietin ditolak sampai
dibutuhkan lagi. Ini adalah contoh dari mekanisme umpan balik negatif.
Pronormoblas adalah sel besar dengan sitoplasma biru tua, inti di
tengah dan nukleoli, serta kromatin yang sedikit menggumpal.
Pronormoblas

menyebabkan

terbentuknya

suatu

rangkaian normoblas yang makin kecil melalui sejumlah pembelahan


sel. Normoblas ini juga mengandung hemoglobin yang makin banyak
(berwarna merah muda) dalam sitoplasma; warna sitoplasma makin
biru pucat sejalan dengan hilangnya RNA dan apparatus yang
mensintesis protein, sedangkan kromatin inti menjadi makin padat. Inti
akhirnya dikeluarkan dari normoblas lanjut di dalam sumsum tulang
dan menghasilkan stadium retikulosit yang masih mengandung sedikit
RNA ribosom dan masih mampu mensintesis hemoglobin. Sel ini
sedikit lebih besar daripada eritrosit matur, berada selama 1-2 hari
dalam sumsum tulang dan juga beredar di darah tepi selama 1-2 hari
sebelum menjadi matur, terutama berada di limpa, saat RNA hilang
seluruhnya.Eritrosit matur berwarna merah muda seluruhnya, dan
berbentuk cakram bikonkaf tak berinti. Satu pronormoblas biasanya
menghasilkan 16 eritrosit matur. Sel darah merah berinti
(normoblas) tampak dalam darah bila eritropoiesis terjadi di luar
sumsum tulang (eritropiesis ektramedular) dan juga terdapat pada
beberapa penyakit sumsum tulang. Normoblas tidak ditemukan dalam
darah tepi manusia.
ERITROPOIETIN
Eritropiesis diatur oleh hormon eritropoietin. Normalnya, 90%
hormon ini dihasilkan di sel interstisial peritubular ginjal dan 10%-nya
di hati dan tempat lain. Tidak ada cadangan yang sudah dibentuk

sebelumnya, dan stimulus untuk pembentukan eritropietin adalah


tekanan O2dalam jaringan ginjal. Karena itu, produksi eritropoietin
meningkat pada anemia. Penyebab metabolik atau struktural juga dapat
membuat hemoglobin tidak dapat melepaskan O2 secara normal,
karena O2 rendah atau gangguan fungsi jantung atau paru atau
kerusakan sirkulasi ginjal mempengaruhi pengiriman O2 ke ginjal.
Eritropietin merangsang eritropiesis dengan meningkatkan
jumlah sel progenitor yang terikat untuk eritropoiesis. BFU E dan
CFUE lanjut yang mempunyai reseptor eritropoietin terangsang untuk
berproliferasi, berdiferensiasi, dan menghasilkan hemoglobin. Proporsi
sel eritroid dalam sumsum tulang meningkat dan dalam keadaan
kronik, terdapat ekspansi eritropoiesis secara anatomik ke dalam
sumsum berlemak, dan kadang-kadang ke lokasi ekstramedular. Pada
bayi, rongga sumsum tulang dapat meluas ke tulang kortikal sehingga
menyebakan deformitas tulang dengan penonjolan tulang frontal dan
protrusi maksila.
dSebaliknya peningkatan pasokan O2 ke jaringan (akibat
peningkatan masaa sel darah merah atau karena hemoglobin dapat
lebih mudah melepaskan O2 dibandingkan normalnya) menurunkan
dorongan eritropoietin. Kadar eritropoietin plasma dapat bermanfaat
dalam penegakan diagnosis klinis. Kadar eritropoietin tinggi apabila
terdapat tumor yang mensekresi eritropoietin, sehingga menyebabkan
terjadinya polisitemia. Akan tetapi, kadar eritropoietin rendah pada
penyakit ginjal berat atau polisitemia rubra vera.

HEMOGLOBIN

Fungsi utama eritrosit adalah membawa O2 ke jaringan dan


mengembalikan karbondioksida dari jaringan ke paru. Untuk mencapai
pertukaran gas

ini,

eritrosit mengandung protein

khusus, yaitu

hemoglobin. Tiap eritrosit mengandung skeitar 640 juta molekul


hemoglobin. Tiap molekul hemoglobin (Hb) A pada orang dewasa normal
(hemoglobin yang dominan dalam darah setelah usia 3-6 bulan) terdiri atas
empat rantai polipeptida 22, masing-masing dengan gugus hemenya
sendiri. Berat molekul HbA adalah 68.000. Darah orang dewasa normal
juga mngandung dua hemoglobin lain dalam jumlah kecil, yaitu HbF dan
HbA2. Keduanya juga mengandung rantai , tetapi secara berturutan,
dengan rantai dan , selain rantai . Selengkapnya dalam tabel berikut.
Tabel 1. Hemoglobin normal pada darah orang dewasa
HbA

HbF

HbA2

Struktur

22

22

22

Normal (%)

96-98

0,5-0,8

1,5-3,2

Sintesis heme terutama terjadi di mitokondria melalui suatu


rangkaian reaksi biokimia yang bermula dengan kondensasi glisin dan
suksinil koenzim A oleh kerja enzim kunci yang bersifat membatasi
kecepatan reaksi, yaitu asam -aminolevulinat (ALA) sintase. Piridoksal
fosfat (vitamin B6) adalah suatu koenzim untuk reaksi ini, yang
dirangsang oleh eritropoietin. Akhirnya, protoporfirin bergabung dengan
besi dalam bentuk ferro (Fe2+) untuk membentuk heme, masing-masing
molekul heme bergabung dengan satu rantai globin yang dibuat pada
poliribosom. Suatu tetramer yang terdiri dari empat rantai globin masingmasing dengan gugus hemenya sendiri dalam suatu kantung, kemudian
dibentuk untuk menyusun satu molekul hemoglobin.
Fungsi Hemoglobin

Eritrosit dalam darah arteri sistemik mengangkut O2 dari paru ke


jaringan dan kembali dalam darah vena dengan membawa karbondioksida
ke paru. Pada saat molekul hemoglobin mengangkut dan melepas O 2,
masing-masing rantai globin dalam molekul hemoglobin bergerak pada
satu sama lain. Kontak 11 dan 22 menstabilkan molekul tersebut.
Rantai bergeser pada kontak 12 dan 21 selama oksigenasi dan
deoksigenasi. Pada waktu oksigen dilepaskan, rantai-rantai ditarik
terpisah sehingga memungkinkan masuknya metabolit 2,3-difosfogliserat
(2,3-DPG) yang menyebabkan makin rendahnya afinitas molekul
hemoglobin terhadap oksigen.
Secara normal in vivo, pertukaran oksigen berjalan antara saturasi
95% (darah arteri) dengan tekanan oksigen arteri rata-rata sebesar 95
mmHg dan saturasi 70% (darah vena) dengan tekanan oksigen vena ratarata sebesar 40 mmHg.
ERITROSIT
Untuk mengangkut hemoglobin agar berkontak erat dengan
jaringan dan agar pertukaran gas berhasil, eritrosit yang berdiameter 8 um
harus dapat secara berulang melalui mikrosirkulasi yang diameter
minimumnya 3,5 um, untuk mempertahankan hemoglobin dalam keadaan
tereduksi (ferro) dan untuk mempertahankan keseimbangan osmotik
walaupun konsentrasi protein (hemoglobin) tinggi di dalam sel. Perjalanan
secara keseluruhan selama masa hidupnya yang 120 hari diperkirakan
sepanjang 480 km. Untuk memenuhi fungsi ini, eritrosit berbentuk cakram
bikonkaf yang fleksibel dengan kemampuan menghasilkan energi sebagai
ATP dan menghasilkan kekuatan pereduksi sebagai NADH dan NADPH.
Membran Eritrosit
Membran eritrosit terdiri atas lipid dua lapis (lipid bilayer), protein
membran integral, dan suatu rangka membran. Sekitar 50% membran

adalah protein, 40% lemak, dan 10% karbohidrat. Karbohidrat hanya


terdapat pada permukaan luar sedangkan protein dapat di perifer atau
integral, menembus lipid dua lapis.
Rangka membran terbentuk oleh protein-protein struktural yang
mencakup spektrin dan , ankirin, protein 4.1 dan aktin. Protein-protein
tersebut membentuk jaring horizontal pada sisi dalam membran eritrosit
dan penting untuk mempertahanakan bentuk bikonkaf. Spektrin adalah
protein yang terbanyak, terdiri atas dua rantai ( dan ) yang saling
mengelilingi untuk membentuk heterodimer, kemudian berkumpul sendiri
dengan posisi kepala-kepala membentuk tetramer. Tetramer ini terkait
pada aktin di sisi ekornya dan melekat pada protein band 4.1. Pada sisi
kepala, rantai spektrin melekat pada ankirin yang berhubungan
dengan band 3, protein transmembran yang bekerja sebagai saluran anion.
Protein 4.2. memperkuat interaksi ini.
Defek protein-protein tersebut dapat menjelaskan terjadinya
beberapa kelaianan bentuk eritrosit, misalnya sferositosis dan eliptositosis
herediter, sedangkan perubahan komposisi lipid akibat kelainan kongenital
atau didapat dalam kolesterol atau fosfolipid plasma dapat disertai dengan
kelainan membran yang lain. Contohnya, peningkatan kadar kolesterol dan
fosfolipid telah diperkirakan sebagai salah satu penyebab terjadinya sel
target.
Destruksi Eritrosit ada dua macam :

Destruksi Intravaskular
Jika membran eritrosit rusak di sirkulasi, maka sel darah merah

tersebut akan dihancurkan. Mekanisme kematian eritrosit seperti ini,


biasanya, terjadi dalam frekuensi yang rendah dan mungkin menjadi
mekanisme destruksi yang dominan pada beberapa gangguan hemolitik
(ABO-incompatible

transfusions dan paroxysmal

nocturnal

hemoglobinuria) dimana kompleks komplemen membuat lubang pada


membran

eritrosit,

serta

hemolysis dan microangiopathic

pada cardiac

hemolytic

valve

anemia dimana shear

stress mungkin menjadi sangat kuat sehingga dapat membuka membran


eritrosit.

Destruksi ekstravaskular

Mayoritas eritrosit didestruksi dengan dimakan oleh makrofag.


Maka jelas bahwa harus terdapat sinyal yang mengatur makrofag untuk
membedakan eritrosit normal yang lebih muda dengan eritrosit yang rusak
atau sudah tua. Sinyal tersebut terdiri dari penurunan deformabilitas dan
atau gangguan beberapa komponen permukaan eritrosit.
Penurunan

deformabilitas

terjadi

bila

eritrosit

tidak

lagi

bersirkulasi dalam bentuk cakram bikonkaf, dapat terjadi karena gangguan


viskositas cairan yang mengandung hemoglobin di dalam sel, atau karena
penyebab lain. Permukaan membran eritrosit dapat terganggu dengan
adanya ikatan antibodi dengan antigen permukaan, ikatan dengan
komponen komplemen, dan dengan gangguan kimia, biasanya oksidasi
dari komponen membran.
Eritrosit yang telah ditelan oleh sel fagosit terdegradasi oleh
lisosom menjadi lipid, protein, dan heme. Protein dan lipid akan diproses
ulang pada jalur katabolic, sedangkan heme akan dibelah oleh microsomal
heme oxygenase menjadi besi dan biliverdin. Biliverdin kemudian
dikatabolisme

menjadi

bilirubin.

Bilirubin

tersebut

kemudian

diekskresikan melalui empedu ke dalam traktus gastrointestinal dimana zat


tersebut kemudian dikonversi menjadi urobilinogen oleh reduksi bakteri.
Fraksi kecil dari urobilinogen direabsorpsi dan diekskresikan melalui urin.
Oleh karena itu, urobilinogen pada feces dan urin digunakan sebagai salah
satu indikator laju hemolisis.
Tempat pembentukan eritrosit Dalam minggu-minggu pertama
kehidupan embrio, sel-sel darah merah primitif yang berinti diproduksi di
yolk sac (kantung kuning telur). Dalam pertengahan trimester masa

gestasi, sel darah diproduksi di hati, namun terdapat juga sel-sel darah
merah yang di produksi di limpa dan kelenjar limfe. Lalu kira-kira selama
bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, sel-sel darah merah hanya di
produksi di sumsum tulang. Sumsum tulang dari semua tulang
memproduksi sel-sel darah merah sampai seseorang berusia 5 tahun; tapi
tulang panjang, kecuali bagian proksimal humerus dan tibia, menjadi
sangat berlemak dan tidak memproduksi sel-sel darah merah etalah berusia
kurang lebih 20 tahun. Setelah usia ini, kebanyakan sel darah merah
diproduksi dalam sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, sternum,
rusuk, dan ilium

DAFTAR PUSTAKA :
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-srisetyani5319-2-bab2.pdf
http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/05/metabolisme_eritrosit.pdf

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/105/jtptunimus-gdl-hestikusna5222-2-bab2.pdf

Gandasoebrata.R. Penuntun Laboratorium Klinik. Dian Rakyat. Jakarta.


1967
http://fransiscakumala.wordpress.com/2010/05/04/pemeriksaanlaboratorium-hematologi/