Anda di halaman 1dari 16

Mengenal Masa Tumbuh Kembang

Seorang Anak
Andreas Esa
NIM :102010298/ D6
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat
Alamat Korespondensi: andreasesa@yahoo.com

Pendahuluan
Anak memiliki suatu ciri khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak masa konsepsi
sampai berakhirnya masa remaja. Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel
serta jaringan intraseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti
sebagian atau keseluruhan. Jadi bersifast kuantitati sehingga demikian dapat kita ukur dengan
menggunakan satuan panjang ataupun satuan berat. Perkembangan ialah bertambahnya
kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, jadi bersifat kualitatif yang
pengukurannya jauh lebih sulit daripada pengukuran pertumbuhan. Dengan demikian, seorang
anak bukanlah dewasa kecil, oleh karena anak mempunyai cirri khas yang berbeda dengan
orang dewasa baik secara fisiologi, anatomi ataupun biokimia. Mempelajari tumbuh kembang
mempunyai tujuan umum menjaga agar seorang anak dapat tumbuh dan berkembang melalui
tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan baik secara mental, emosi, fisik dan social yang
sesuai dengan potensi yang dimilikinya agar menjadi manusia dewasa yang berguna.1

Anamnesis
Dari kasus yang ada ditemukan seorang pasien anak berusia 3 tahun 8 bulan, berat badan yang
tidak mengalami peningkatan, ketakutan dan selalu memegang tangan ibunya saat diperiksa.
Untuk kasus seperti ini ada baiknya dilakukan juga allo-anamnesis kepada orangtua untuk
menanyakan keseharian si anak seperti apa mendapat makanan yang baik gizinya, sering
ketakutan seperti ini atau tidak, apa mengalami kesulitan belajar atau tidak, serta diajukan
1

pertanyaan-pertanyan yang lebih detil dalam tes denver apabila dicurigai mengalami
gangguan perkembangan.

Pemeriksaan Antropometri
Antropometri sebagai salah satu metode untuk mengetahui status gizi dapat dilakukan dengan
mengukur beberapa parameter seperti berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar
kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak di bawah kulit. Pada anak-anak,
pemeriksaan antropometri biasanya terdiri dari pengukuran berat badan, tinggi atau panjang
badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas.
Berat badan (BB)
Berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering
digunakan dan dapat digunakan pada berbagai tingkat usia, seperti pada bayi baru
lahir, balita, anakanak bahkan dewasa. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui
massa tubuh (otot, lemak, mineral, air). Berat badan merupakan ukuran
antropometri yang sangat labil, karena massa tubuh sensitif terhadap perubahan
keadaan mendadak (sakit, kurang nafsu makan, atau berkurangnya konsumsi
makanan). Pada anak, berat badan mempunyai hubungan linear dengan tinggi
badan, sehingga dapat digunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun
status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis seperti dehidrasi, asites, edema dan
adanya tumor. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (Berat Badan
menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat perubahan berat badan
pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan
gambaran keadaan kini.

Berat badan merupakan pilihan utama karena berbagai alasan, antara lain:
1. Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat
karena perubahan-perubahan konsumsi makanan dan kesehatan.
2. Memberikan gambaran status gizi sekarang dan kalau dilakukan secara
periodik memberikan gambaran yang baik tentang pertumbuhan.
3. Merupakan ukuran antropometri yang sudah dipakai secara umum dan luas.
4. Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh ketrampilan pengukur.
2

5. Karena masalah umur merupakan faktor penting untuk penilaian status gizi,
berat badan terhadap tinggi badan sudah dibuktikan dimana-mana sebagai
indeks yang tidak tergantung umur.
6. Alat pengukur yang mudah diperoleh termasuk didaerah pedesaan dengan
ketelitian yang tinggi dengan menggunakan dacin yang sudah dikenal oleh
masyarakat.

Panjang atau tinggi badan (PB atau TB)


Tinggi badan merupakan parameter yang penting bagi keadaan yang telah lalu dan
keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk mengetahui dimensi linear dari tubuh. Tinggi badan memberikan
gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil
pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama
yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada
masa balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U (tinggi badan
menurut umur), atau juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan)
jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya
dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan
gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat
yang menahun.
Mengukur panjang atau tinggi badan tergantung dari umur dan kemampuan anak
untuk berdiri. Mengukur panjang dilakukan dengan cara anak terlentang.
Sedangkan mengukur tinggi badan anak berdiri tegak.
Pengukuran tinggi badan dilakukan untuk anak berusia 2 tahun atau lebih dan anak
sudah mampu berdiri pasien yang lebih dewasa dilakukan dengan alat pengukur
tinggi (microtoise) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. Untuk bayi atau anak yang
berumur kurang dari 2 tahun, pengukuran dilakukan dengan terlentang, dengan
menggunakan alat pengukur panjang badan (infantometer).
Pada penelitian MGRs atau WHO 2005, tinggi badan lebih pendek 0,7 cm
dibandingkan dengan panjang badan. Oleh karena itu, penting untuk mengkoreksi
hasil bila pengukuran tidak dilakukan dengan cara yang sesuai untuk kelompok
umur.jadi didapatka ketentuan sebagai berikut :
3

1. Jika seorang anak berumur kurang dari 2 tahun diukur tingginya (berdiri)
maka ditambahkan 0,7 cm untuk mengkoversi menjadi panjang badan.
2. Jika seorang anak berumur 2 tahun atau lebih diukur panjang badannya
maka dikurangi 0,7 cm untuk mengkoversi menjadi tinggi badan.1,2,7

Lingkar lengan Atas (LILA)


Pengukuran lingkar lengan atas dapat digunakan untuk menggambarkan keadaan
jaringan otot dan lapisan lemak dibawah kulit. Pengukuran ini hanya sensitif
menilai keadaan gizi anak balita (disamping WUS dan ibu hamil). Indeks
pengukuran LILA bersifat sangat labil dan hanya menggambarkan keadaan gizi
masa kini. Beberapa peneliti mengklaim kemampuan mendeteksi anak KEP
dengan LILA memiliki reliabilitas yang sama dengan BB/U. Pengukuran Lingkar
lengan atas tidak dibedakan menurut umur dan jenis kelamin. Pengukuran ini
memiliki keuntungan sebagai berikut :

Mudah dan praktis, apalagi untuk sampel besar.


Sangat menguntungkan untuk screening gizi dan penilaian status gizi.

Namun metode ini juga memiliki kekurangan, antara lain


Tidak dapat memberi gambaran pertumbuhan gizi secara tepat
Secara operasional sering mengalami kesulitan pengukuran, terutama bila

anak takut dan tegang.


Baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang

memadai untuk digunakan diIndonesia


Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada TB
Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah),tetapi kurang sensitif

untuk golongan dewasa.


Kriteria penggolongan status gizi anak balita dan ambang batas (cut of points )
adalah sebagai berikut :
Gizi baik, bila LILA > 13,5 cm
Gizi kurang, bila LILA antara 12,5 13,5 cm.
Gizi buruk atau Bayi dengan KEP, bila LILA < 12,5 cm.
4

Lingkar Kepala
Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara
praktis, yang biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala
atau peningkatan ukuran kepala. Lingkar kepala terutama dihubungkan dengan
ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama
tahun pertama, akan tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan
kesehatan dan gizi. Bagaimanapun ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan
tengkorak dapat bervariasi sesuai keadaan gizi.
Pengukuran ini terutama dilakukan pada bayi sampai umur 3 tahun. Pada anak
lebih dari 3 tahun bukan mnerupakan pemeriksan yang rutin.
Prosedur pengukuran adalah sebagai berikut :
Bahan dan alat:
Pita ukur dengan lebar kurang dari1 cm, fleksibel, tidak mudah patah. 2,3
Pemeriksaan Denver II
Uji skrining yang paling sering digunakan adalah development denver screening test
(DDST). DDST memberikan penilaian empat domain perkembangan perilaku-sosial,
penyesuaian motorik halus, bahasa dan motorik kasar sejak lahir sampai umur 6 tahun. Uji
ini dilakukan dalam waktu 20-30 menit tanpa pelatihan yang luas dan peralatan yang
mahal.
Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, DDST secara efektif dapat
menidentifikasikan antara 85-100 % bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami
keterlambatan perkembangan dan pada follow up selanjutnya ternyata 89% dari
kelompok DDST abnormal mengalami kegagalan di sekolah 5-6 tahun kemudian.
DDST telah dikritik karena kurang mengidentifikasi anak dengan ketidakmampuan
perkembangan anak khususnya masalah bahasa. Uji ini bukan untuk meramalkan akan
tetapi untuk mendeteksi kemampuan anak di bawah normal dengan umur sebayanya.
Selain itu DDST bukan pula tes diagnostik atau tes IQ. 2 Uji ini kemudian diterbitkan
5

kembali sebagai DDST-II dengan seksi bahasa yang sangat dipetluas. DDST-II dilaporkan
mempunyai sensitivitas yang lebih besar terutama untuk keterlambatan bahasa.
Frankenburg melalui DDST mengemukakan empat parameter perkembangan yang dipakai
dalam menilai perkembangan anak balita yaitu:
Personal social
Aspek ini berhubungan dengan kemandirian, bersosialisasi, dan berinterraksi

dengan lingkungannya.
Fine motor adaptive
Aspek ini berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan
dilakukan otot-otot kecil saja tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya

kemampuan untuk menggambar, memegang suatu benda, dan lain-lain.


Language
Kemampuan untuk memberikan respon pada suara, mengikuti perintah, dan

berbicara spontan
Gross motor
Aspek ini berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
Alat yang digunakan dalam test ini adalah:
Alat peraga
Benang wol merah, kismis atau manik-manik, kubus warna merah, kuning, hijau,

biru, permainan anak, botol kecil, bola tenis, bel kecil, kertas, dan pensil.
Lembar formulir DDST
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan
cara penilaiannya

7
Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap yaitu:
Tahap pertama
Secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia antara 3 bulan sampai 5

tahun yaitu:
3-6 bulan
9-12 bulan
18-24 bulan
3 tahun
4 tahun
5 tahun
Tahap kedua

Tahap ini dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan
pada tahap pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang
lengkap.
Interpretasi test denver adalah:
Normal
Tidak ada kelambatan dan maksimum dari satu kewaspadaan
Suspect
Satu atau lebih kelambatan dan/ atau dua atau lebih banyak kewaspadaan
Untestable
Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada
lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75% sampai
90% 1-3

TEORI KOGNITIF
Teori perkembangan kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang
hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan
psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang
bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan
melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini
membahas munculnya dan diperolehnya schemataskema tentang bagaimana seseorang
mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang
memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini
digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang
menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan
bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui
tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori
ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk
memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin
canggih seiring pertambahan usia:

Periode sensorimotor (usia 02 tahun)

Periode praoperasional (usia 27 tahun)


7

Periode operasional konkrit (usia 711 tahun)

Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk
mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan
tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat
bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting
dalam enam sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan
berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan
dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan
bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan
pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai
duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu
yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda
(permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan
belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk
mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal
kreativitas.
Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan
permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara
8

kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget
adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini
adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak
belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata.
Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang
orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti
mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan
semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara
usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan
berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar.
Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan
tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di
dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami
bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk
memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif
di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai
duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses
penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan adalah kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri
lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari
benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi adalah kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda
menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa
serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut.
Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua
benda hidup dan berperasaan)

Decentering adalah anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan
untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar
tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility adalah anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah,
kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa
4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi adalah memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah
tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut.
Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan
tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama
banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat egosentrisme adalah kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang
orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh,
tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu
meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu
baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti
akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu
sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget.
Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut
sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara
abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam
tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak
melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di
antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai
perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif,
penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang
tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai

10

keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap
operasional konkrit.
Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu
sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.

Universal (tidak terkait budaya)

Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang
berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan

Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis

Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari


tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)

Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan


hanya perbedaan kuantitatif

Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi
tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang
membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan
tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui
sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan
maupun proses perolehan pengetahuan tersebut.
Asimilasi merupakan proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada.
Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau
informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya.

11

Akomodasi. Bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema
akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses
ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali.
Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan
berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian
tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan
Equilibrium yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan
pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang
tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari
luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.

Teori Moral
Lawrence Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada
penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Kohlberg sampai pada pandangannya
setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak.
Dalam wawancara, anak-anak diberikan serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya
menghadapi dilema-dilema moral. Bagaimana anak-anak dalam penyikapi setiap cerita yang
dilakukan oleh masing-masing tokoh dalam cerita yang disampaikan oleh kohlberg. Berikut
ini adalah salah satu cerita dilema Kohlberg yang paling populer:
Konsep kunci dari teori Kohlberg, ialah internalisasi, yakni perubahan perkembangan dari
perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara
internal.
Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional
Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan
moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral,
penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.
12

Tahap 1 : Orientasi hukuman dan ketaatan ialah tahap pertama dalam teori perkembangan
moral Kohlberg. Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak
taat karena orang-orang dewasa menuntut mereka untuk taat.
Tahap 2: Individualisme dan tujuan adalah tahap kedua dari teori ini. Pada tahap ini penalaran
moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri. Anak-anak taat bila mereka ingin
taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah
apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah.
Tingkat Dua: Penalaran Konvensional
Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan
moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. Seorang mentaati
standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal)
orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.
Tahap 3: Norma-norma interpersonal, pada tahap ini seseorang menghargai kebenaran,
kepedulian, dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan
moral. Anak anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini,
sambil mengharapkan dihargai oelh orangtuanya sebagai seorang perempuan yang baik atau
laki-laki yang baik.
Tahap 4: Moralitas sistem sosial. Pada tahap ini, pertimbangan moral didasarkan atas
pemahaman aturan sosial, hukum-hukum, keadilan, dan kewajiban.
Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional
Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral
Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada
standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihanpilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.
Tahap 5: Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual, pada tahap ini seseorang mengalami
bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda
dari satu orang ke orang lain. Seseorang menyadari hukum penting bagi masyarakat, tetapi
nilai-nilai seperti kebebasan lebih penting dari pada hukum.
13

Tahap 6: Prinsip-prinsip etis universal, pada tahap ini seseorang telah mengembangkan suatu
standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Bila menghadapi
konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti suara hati, walaupun
keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi. 1,3,4

Kebutuhuan dasar seorang anak


Kebutuhan dasar seorang anak secara garis besar dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Kebutuhan fisis-biomedis (asuh)
2. Kebutuhan akan kasih saying orang tua (asih)
3. Kebutuhan akan latihan/ tangsangan/ stimulus (asah)
Kebutuhan asuh akan nutrisi adalah sangat penting. Nutrisi adalah termasuk pembangun
tubuh yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada
tahun-tahun awal pertama kehidupan dimana anak sedang mengalami pertumbuhan yang
sangat pesat terutama pada otak.
Sampai usia 6 bulan Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang paling ideal untuk bayi ditinjau
dari segi kesehatan fisis maupun psikis. ASI mempunyai kadar laktosa yang tinggi yang
diperlukan untuk otak bayi. Pertumbuhan otak manusia adalah yang paling cepat
dibandingkan pertumbuhan otak makhluk lainnya.Oleh karena itu, memerlukan zat-zat yang
sesuai dengan untuk mendorong pertumbuhan otaknya dengan sempurna.
Pada umunya kebutuhan energy adalah sebagi berikut:

Bayi rata-rata: 110 kkalori/kg BB/ hari


Anak 1-3 tahun : 100 kkalori/kg BB/ hari
Anak 4-6 tahun: 90 kkalori/kg BB/ hari
Anak 7-9 tahun: 80 kkalori/kg BB/ hari
Anak laki-laki 10-12 tahun: 60-70 kkalori/kg BB/ hari
Anak perempuan 10-12 tahun: 50-60 kkalori/kg BB/ hari
Anak laki-laki 13-18 tahun: 50-60 kkalori/kg BB/ hari
Anak perempuan 13-18 tahun: 40-50 kkalori/kg BB/ hari

Nutrien-nutrien dapat digolongkan menjadi 3 golongan yaitu:


14

1. Golongan pembangun : protein hewani dan protein nabati, dibutuhkan kira-kira 2-3
gram/ kg BB/ hari
2. Golongan sumber tanaga: karbohidrat, ubi, kentang, singkong, dsb
3. Golongan pelindung: mikro nutrient (besi, kalsium, seng, dll), vitamin-vitamin dan air
Berikan juga imunisasi sebagai pelindung anak akan infeksi-infeksi penyakit seperti imunisasi
TBC, difteri, tetnus, pertusis, polio, campak, hepatitis B dan lain sebagainya.Dengan
melaksanak imunisasi yang lengkap, diharapkan dapat mencegah timbulnya penyakitpenyakit yang yang menimbuljan kesakitan dan kematian.
Kebutuhan akan asih yaitu kebutuhan akan emosi meliputi:

Kasih sayang orang tua


Rasa aman
Harga diri
Kebutuhan akan sukses
Mandiri
Dorongan
Kebutuhan mendapat kesempatan dan pengalaman
Rasa memiliki

Kebutuhan akan stimulasi (asah) merupakan cikal bakal pendidikan dan pelatihan. Stimulasi
adalah yang sangat penting dlam tumbuh kembang anak.Yang dimaksud stimulasi di sini
adalah perangsangan yang dating dari lingkungan luar anak antara lain berupa latihan dan
bermain. Anak yang mendapat banyak stimulasi terarah dengan cepat dibandingkan anak yang
kurang mendapat stimulasi. Stimulasi harus dilaksanak dengan penuh perhatian dan kasih
saying. 1,5-7
Retardasi mental
Retardasi metanl adalah suagtu gangguan yang heterogen yang terdiri dari fungsi intelektual
yang di bawah rata-rata dan gangguan dalam kemampuan adaptif yang ditemukan orang
sebelum usia 18 tahun. Gangguan dipengaruhi oleh factor genetic, lingkungan, dan
psikososial.
Pada pemeriksaan fisik dari berbagai bagian tubuh tertentu mungkin memiliki karakteristik
tertentu pada orang retardasi mental. Sebagai contoh ukuran kepala memberikan petunjuk
terhadap berbagai keadaan seperti mikrosefali, hidrocefalus, dan sindroma down. Wajah
15

pasien mungkin memiliki beberapa stigmata retardasi mental, yang sangat mempermudah
diagnosis. Tanda fasial tersebut adalah hipertelorisme, tulang hidung yang datar, alis mata
yang menonjol, lipatan epikantus, opasitas kornea, perubahan retina, teling yang letaknya
rendah atau bentuknya aneh, lidah yang menonjol dan gangguan gigi geligi.
Kesimpulan
Tumbuh kembang masa anak adalah masa yang sangat rentan akan ketergantungan orang lain.
Berbagai asupan gizi, kasih sayang, stimulant, pengarahan dan pendidikan akan sangat
menentukan bagaimana masa depan si anak. Orangtua adalah sosok yang paling berperan
dalam menjaga, melindungi, dan membesarkan seorang anak. Jadi, tanggung jawab,
kedewasaan dan karakter sangat diperlukan sebelum menjadi orangtua yang siap
membesarkan seorang anak.

Daftar pustaka
1. Narendra MB, dkk. Tumbuh kembang anak dan remaja. Edisi ke-1. Jakarta: Sagung Seto;
2008
2. Stephen SA. Ilmu kesehatan anak Nelson. Dalam: Samik W, penyunting. Pertumbuhan
dan perkembangan. Edisi ke-15. Jakarta: EGC; 2000.p.45-85.
3. Santrok, John W. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5 Jilid 1.
Jakarta; Erlangga: 2002
4. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Edisi ke-1. Jakarta: EGC; 1995.p.10,71-2.
5. Sukman TP. Pedoman imunisasi di Indonesia. Edisi ke-3. Jakarta: Ikatan Dokter Anak
Indonesia; 2008.p.98-105.
6. Tom L, Avroy F. At a Glance neonatologi. Dalam: Amalia S, penyunting. Neonatologi:
Kedokteran perianatal, bayi baru lahir yang normal, dan bayi preterm. Jakarta: Erlangga;
2009.p.33,52-3,68.
7. Achmad DS. Ilmu gizi untuk mahasiswa dan profesi jilid II. Edisi ke-5. Jakarta: Dian
Rakyat; 2006.p.133.
8. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara; 1997

16