Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Hipertensi merupakan pembunuh tersembunyi (silent killer) dan memiliki efek
serta komplikasi serius secara sistemik. Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2010
menunjukkan prevalensi hipertensi semakin meningkat dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. Baik di negara maju maupun berkembang terjadi kecenderungan
meningkatnya prevalensi hipertensi. Hasil

National Health and Nutrition

Examination Survei (NHANES III) di Amerika Serikat tahun 2009, menunjukkan


sekitar 50 juta atau satu dari 4 organ dewasa menderita tekanan darah tinggi (tekanan
darah sistolik/TDS 90 mmHg) berdasarkan hasil satu kali pengukuran.(2) Prevalensi
hipertensi semakin meningkat dengan bertambahnya usia.1
Hipertensi merupakan suatu keadaan terjadinya peningkatan tekanan darah yang
memberi gejala berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan
lebih berat seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang
tinggi), penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung)
serta penyempitan ventrikel kiri / bilik kiri (terjadi pada otot jantung). Selain
penyakit-penyakit tersebut, hipertensi dapat pula menyebabkan gagal ginjal, penyakit
pembuluh lain, diabetes mellitus dan lain-lain. Hipertensi merupakan faktor risiko
terpenting untuk penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung, insufisiensi ginjal
dan vaskuler perifer. Faktor risiko tersebut tidak membedakan jenis kelamin dan usia.

Dibandingkan dengan penderita normotensi, risiko absolut hipertensi akan lebih


progresif dengan meningkatnya usia.1,2
Di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah yang besar dan serius. Di
samping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung meningkat di masa yang
akan datang, juga karena tingkat keganasan penyakit yang diakibatkan sangat tinggi
seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal dan lain-lain, juga menimbulkan
kecacatan permanen dan kematian mendadak. Kehadiran hipertensi pada kelompok
dewasa muda, sangat membebani perekonomian keluarga, karena biaya pengobatan
yang mahal dan membutuhkan waktu yang panjang, bahkan seumur hidup.1,2,3
Hipertensi ditunjang oleh adanya faktor risiko pada penderita, yang
kebanyakan adalah karena gaya hidup seperti konsumsi alkohol, merokok, obesitas,
kurang olahraga, stres, dan lain-lain. Hipertensi merupakan penyakit yang dapat
dicegah dengan pengaturan pola hidup yang baik. Penyuluhan dengan materi
hipertensi pada masyarakat dengan tujuan untuk menambah wawasan masyarakat
terkait cara mencegah hipertensi dan deteksi dini hipertensi.2,3

II. Permasalahan
Dari uraian di atas dapat diambil suatu permasalahan yaitu Mencegah
terjadinya hipertensi bersifat penting, karena lebih mudah dilakukan dan memiliki
dampak jangka panjang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi
batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai
faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab
hipertensi tidak diketahui (hipertensi essential). Penyebab tekanan darah meningkat
adalah peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan resistensi (tahanan) dari
pembuluh darah dari tepi dan peningkatan volume aliran darah.1,2,3
Hipertensi atau penyakit darah tinggi sebenarnya adalah suatu gangguan pada
pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh
darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Hipertensi sering kali
disebut sebagai pembunuh gelap (Silent Killer), karena termasuk penyakit yang
mematikan tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan
bagi penderitanya.1

II. Epidemiologi
Data WHO (tahun 2005) selama 10 tahun terakhir memperlihatkan bahwa
jumlah penderita hipertensi yang dirawat di berbagai rumah sakit meningkat lebih
dari 10 kali lipat. Peningkatan ini tentu saja sangat mencemaskan siapapun yang
peduli, karena penemuan kasus yang hanya dilakukan secara pasif pada masyarakat

yang tingkat pengetahuannya rendah hanyalah sebongkah gunung es yang muncul di


permukaan laut. Hal Itu berarti bahwa penemuan kasus secara pasif akan sangat tidak
berarti jika dibandingkan dengan besar penduduk dan luasnya wilayah yang terkena.
Khususnya di negara berkembang, termasuk Indonesia.2,3
Di Jawa Tengah, berdasarkan laporan rumah sakit dan puskesmas, proporsi
kasus hipertensi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dibandingkan dengan
jumlah kasus penyakit tidak menular secara keseluruhan, pada tahun 2004 proporsi
kasus hipertensi sebesar 17,34%, meningkat menjadi 29,35% di tahun 2005.
Kemudian pada tahun 2006 mengalami peningkatan menjadi 39,47%.4
III. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi dua golongan,
yaitu3,4:
III.1. Hipertensi Primer atau Esensial
Hipertensi yang tidak atau belum diketahui penyebabnya (terdapat sekitar
90% - 95% kasus). Penyebab hipertensi primer atau esensial adalah multifaktor,
terdiri dari faktor genetik dan lingkungan. Faktor keturunan bersifat poligenik dan
terlihat dari adanya riwayat penyakit kardiovaskuler dalam keluarga. Faktor
predisposisi genetik ini dapat berupa sensitifitas terhadap natrium, kepekaan terhadap
stress, peningkatan reaktivitas vaskuler (terhadap vasokonstriksi) dan resistensi
insulin.

III.2. Hipertensi sekunder atau Renal


Hipertensi yang disebabkan atau sebagai akibat dari adanya penyakit lain
(terdapat sekitar 5% - 10% kasus) penyebabnya antara lain hipertensi akibat penyakit
ginjal (hipertensi renal), hipertensi endokrin, kelainan saraf pusat, obat-obat dan lainlain.

IV. Faktor Risiko


Secara garis besar, faktor risiko hipertensi dibagi menjadi dua, yaitu dapat
dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi5:
IV.1. Faktor Risiko Dapat Dimodifikasi
Kegemukan
Konsumsi alkohol dan rokok
Obesitas
Kurang Olahraga
Stres
IV.2. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi
Usia
Genetik
Jenis Kelamin
Ras

V. Klasifikasi
Beberapa klasifikasi hipertensi3,4,5:
V.1. Klasifikasi Menurut Joint National Commite 7
Komite eksekutif dari National High Blood Pressure Education Program
merupakan sebuah organisasi yang terdiri dari 46 professionalm sukarelawan, dan
agen federal. Mereka mencanangkan klasifikasi JNC (Joint Committe on Prevention,

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure) pada tabel 1, yang
dikaji oleh 33 ahli hipertensi nasional Amerika Serikat (Sani, 2008).
Tabel 1
Klasifikasi Menurut JNC (Joint National Committe on Prevention,
Detection, Evaluatin, and Treatment of High Blood Pressure)
Kategori Tekanan Kategori
Tekanan
dan/ Tekanan
Darah
menurut Tekanan Darah Darah
atau Darah
JNC 7
menurut JNC 6 Sistol
Diastol
(mmHg)
(mmHg)
Normal
Optimal
< 120
dan
< 80
Pra-Hipertensi
120-139
atau 80-89
Nornal
< 130
dan
< 85
Normal-Tinggi
130-139
atau 85-89
Hipertensi:
Hipertensi:
Tahap 1
Tahap 1
140-159
atau 90-99
Tahap 2
160
atau 100
Tahap 2
160-179
atau 100-109
Tahap 3
180
atau 110
(Sumber: Sani, 2008)
Data terbaru menunjukkan bahwa nilai tekanan darah yang sebelumnya
dipertimbangkan normal ternyata menyebabkan peningkatan resiko

komplikasi

kardiovaskuler. Data ini mendorong pembuatan klasifikasi baru yang disebut pra
hipertensi (Sani, 2008).

V.2. Klasifikasi Menurut WHO (World Health Organization)


WHO dan International Society of Hypertension Working Group (ISHWG)
telah mengelompokkan hipertensi dalam klasifikasi optimal, normal, normal-tinggi,
hipertensi ringan, hipertensi sedang, dan hipertensi berat (Sani, 2008).
Tabel 2
Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO
Kategori
Tekanan Darah Tekanan Darah
Sistol (mmHg)
Diatol (mmHg)
Optimal

Normal
Normal-Tinggi

< 120
< 130
130-139
140-159
140-149
160-179
180
140

Tingkat 1 (Hipertensi Ringan)


Sub-group: perbatasan
Tingkat 2 (Hipertensi Sedang)
Tingkat 3 (Hipertensi Berat)
Hipertensi sistol terisolasi
(Isolated
systolic
hypertension)
Sub-group: perbatasan
140-149

< 80
< 85
85-89
90-99
90-94
100-109
110
< 90
<90

VI. Patogenesis
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada
ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi
ekskresi NaCl

(garam)

dengan cara

mereabsorpsinya

dari tubulus

ginjal.

Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan


volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan
tekanan darah.

Tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah melalui sistem sirkulasi


dilakukan oleh aksi memompa dari jantung (cardiac output/CO) dan dukungan dari
arteri (peripheral resistance/PR). Fungsi kerja masing-masing penentu tekanan darah
ini dipengaruhi oleh interaksi dari berbagai faktor yang kompleks. Hipertensi
sesungguhnya merupakan abnormalitas dari faktor-faktor tersebut, yang ditandai
dengan peningkatan curah jantung dan / atau ketahanan periferal. Selengkapnya dapat
dilihat pada bagan.

Gambar 2: Beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah


VII. Terapi
Kelas obat utama yang digunakan untuk mengendalikan tekanan darah adalah5:
1. Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menyebabkan diuresis.
Pengurangan volume plasma dan Stroke Volume (SV) berhubungan dengan
dieresis dalam penurunan curah jantung (Cardiac Output, CO) dan tekanan darah
pada akhirnya. Penurunan curah jantung yang utama menyebabkan resitensi
perifer. Pada terapi diuretik pada hipertensi kronik volume cairan ekstraseluler
dan volume plasma hampir kembali kondisi pretreatment.
b. Thiazide
Thiazide adalah golongan yang dipilih untuk menangani hipertensi, golongan
lainnya efektif juga untuk menurunkan tekanan darah. Penderita dengan fungsi
ginjal yang kurang baik Laju Filtrasi Glomerolus (LFG) diatas 30 mL/menit,

thiazide merupakan agen diuretik yang paling efektif untuk menurunkan tekanan
darah. Dengan menurunnya fungsi ginjal, natrium dan cairan akan terakumulasi
maka diuretik jerat Henle perlu digunakan untuk mengatasi efek dari peningkatan
volume dan natrium tersebut. Hal ini akan mempengaruhi tekanan darah arteri.
Thiazide menurunkan tekanan darah dengan cara memobilisasi natrium dan air
dari dinding arteriolar yang berperan dalam penurunan resistensi vascular perifer.
c. Diuretik Hemat Kalium
Diuretik Hemat Kalium adalah anti hipertensi yang lemah jika digunakan
tunggal. Efek hipotensi akan terjadi apabila diuretik dikombinasikan dengan
diuretik hemat kalium thiazide atau jerat Henle. Diuretik hemat kalium dapat
mengatasi kekurangan kalium dan natrium yang disebabkan oleh diuretik lainnya.
d. Antagonis Aldosteron
Antagonis Aldosteron merupakan diuretik hemat kalium juga tetapi lebih
berpotensi sebagai antihipertensi dengan onset aksi yang lama (hingga 6 minggu
dengan spironolakton).
1. Beta Blocker
Mekanisme hipotensi beta bloker tidak diketahui tetapi dapat
melibatkan menurunnya curah jantung melalui kronotropik negatif dan
efek inotropik jantung dan inhibisi pelepasan renin dan ginjal.
a. Atenolol, betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol merupakan
kardioselektif pada dosis rendah dan mengikat baik reseptor 1
daripada reseptor 2. Hasilnya agen tersebut kurang merangsang
bronkhospasmus dan vasokontruksi serta lebih aman dari non selektif
bloker pada penderita asma, penyakit obstruksi pulmonari kronis
(COPD), diabetes dan penyakit arterial perifer. Kardioselektivitas

10

merupakan fenomena dosis ketergantungan dan efek akan hilang jika


dosis tinggi.
b. Acebutolol, carteolol, penbutolol, dan pindolol memiliki aktivitas
intrinsik simpatomimetik (ISA) atau sebagian aktivitas agonis reseptor
.
2. Inhibitor Enzim Pengubah Angiotensin (ACE-inhibitor)
ACE membantu produksi angiotensin II (berperan penting dalam
regulasi tekanan darah arteri). ACE didistribusikan pada beberapa jaringan
dan ada pada beberapa tipe sel yang berbeda tetapi pada prinsipnya
merupakan sel endothelial. Kemudian, tempat utama produksi angiotensin
II adalah pembuluh darah bukan ginjal. Pada kenyataannya, inhibitor ACE
menurunkan tekanan darah pada penderita dengan aktivitas renin plasma
normal, bradikinin, dan produksi jaringan ACE yang penting dalam
hipertensi.
3. Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin II digenerasikan oleh jalur renin-angiotensin (termasuk
ACE) dan jalur alternatif yang digunakan untuk enzim lain seperti
chymases. Inhibitor ACE hanya menutup jalur renin-angiotensin, ARB
menahan

langsung

reseptor

angiotensin

tipe

I,

reseptor

yang

memperentarai efek angiotensin II. Tidak seperti inhibitor ACE, ARB


tidak mencegah pemecahan bradikinin.
4. Antagonis Kalsium
CCB menyebabkan relaksasi jantung dan otot polos dengan
menghambat saluran kalsium yang sensitif terhadap tegangan sehingga
mengurangi masuknya kalsium ekstra selluler ke dalam sel. Relaksasai

11

otot polos vasjular menyebabkan vasodilatasi dan berhubungan dengan


reduksi tekanan darah. Antagonis kanal kalsium dihidropiridini dapat
menyebbakan aktibasi refleks simpatetik dan semua golongan ini (kecuali
amilodipin) memberikan efek inotropik negative.
Verapamil menurunkan denyut jantung, memperlambat konduksi
nodus AV, dan menghasilkan efek inotropik negative yang dapat memicu
gagal jantung pada penderita lemah jantung yang parah. Diltiazem
menurunkan konduksi AV dan denyut jantung dalam level yang lebih
rendah daripada verapamil.
5. Alpha blocker
Prasozin, Terasozin dan Doxazosin merupakan penghambat reseptor 1
yang menginhibisi katekolamin pada sel otot polos vascular perifer yang
memberikan efek vasodilatasi. Kelompok ini tidak mengubah aktivitas
reseptor 2 sehingga tidak menimbulkan efek takikardia.
6. VASO-dilator langsung
Hedralazine dan Minokxidil menyebabkan relaksasi langsung otot
polos arteriol. Aktivitasi refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran
simpatetik dari pusat fasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah
jantung, dan pelepasan renin. Oleh karena itu efek hipotensi dari
vasodilator langsung berkurang pada penderita yang juga mendapatkan
pengobatan inhibitor simpatetik dan diuretik.
7. Inhibitor Simpatetik Postganglion
Guanethidin dan guanadrel mengosongkan norepinefrin dari terminal
simpatetik postganglionik dan inhibisi pelepasan norepinefrin terhadap

12

respon stimulasi saraf simpatetik. Hal ini mengurangi curah jantung dan
resistensi vaskular perifer .

VIII. Pencegahan
Pencegahan hipertensi dilakukan melalui dua pendekatan: i) intervensi untuk
menurunkan tekanan darah di populasi dengan tujuan menggeser distribusi tekanan
darah ke arah yang lebih rendah. ii) strategi penurunan tekanan darah ditujukan pada
mereka yang mempunyai kecenderungan meningginya tekanan darah, kelompok
masyarakat ini termasuk mereka yang mengalami tekanan darah normal dalam
kisaran yang tinggi (TDS 130-139 mmHg atau TDD 85-89 mmHg), riwayat keluarga
ada yang menderita hipertensi, obsitas, tidak aktif secara fisik, atau banyak minum
alcohol dan garam. Berbagai cara yang terbukti mampu untuk mencegah terjadinya
hipertensi, yaitu pengendalian berat badan, pengurangan asupan natrium kloride,
aktifitas alcohol, pengendalian stress, suplementasi fish oil dan serat The 5-year
primary prevention of hypertension meneliti berbagai faktor intervensi terdiri dari
pengurangan kalori, asupan natrium kloride dan alcohol serta peningkatan aktifitas
fisik. Hasil penelitian menunjukkan penurunan berat badan sebesar 5,9 pounds
berkaitan dengan penurunan TDS dan TDD sebesar 1,3 mmHg dan 1,2 mmHg.
Penelitian yang mengikut sertakan sebanyak 47.000 individu menunjukan perbedaan
asupan sodium sebanyak 100 mmo1/hari berhubungan dengan perbedaan TDS
sebesar 5 mmHg pada usia 15-19 tahun dan 10 mmHg pada usia 60-69 tahun.
Meningginya TDS dan TDD, meningkatnya sirkulasi kadar kateholamin, cortisol,

13

vasopressin, endorphins, andaldosterone, dan penurunan ekskresi sodium di urine


merupakan respons dari rangsangan stress yang akut. Intervensi pemnegdalian stress
seperti relaksasi, meditasi dan biofeedback mampu mencegah dan mengobati
hipertensi.4,5
Pengendalian Faktor Risiko Pengendalian faktor risiko penyakit jantung
koroner yang dapat saling berpengaruh terhadap terjadinya hipertensi, hanya terbatas
pada faktor risiko yang dapat diubah, dengan usaha-usaha sebagai berikut3,5:
a. Mengatasi obesitas/menurunkan kelebihan berat badan. Obesitas bukanlah
penyebab hipertensi. Akan tetapi prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar.
Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan seorang yang badannya normal. Sedangkan, pada penderita
hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat badan lebih (overweight).
Dengan demikian obesitas harus dikendalikan dengan menurunkan berat badan.
b. Mengurangi asupan garam didalam tubuh. Nasehat pengurangan garam, harus
memperhatikan kebiasaan makan penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis
akan sulit dilaksanakan. Batasi sampai dengan kurang dari 5 gram ( 1 sendok teh ) per
hari pada saat memasak.
c. Ciptakan keadaan rileks Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau
hipnosis dapat menontrol sistem syaraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan
darah.
d. Melakukan olah raga teratur Berolahraga seperti senam aerobik atau jalan cepat
selama 30-45 menit sebanyak 3 4 kali dalam seminggu, diharapkan dapat menrnbah

14

kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang ujungnya dapat mengontrol


tekanan darah.
e. Berhenti merokok Merokok dapat menambah kekakuan pembuluh darah sehingga
dapat memperburuk hipertensi. Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon
monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat
merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri, dan mengakibatkan proses
artereosklerosis, dan tekanan darah tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan erat
antara kebiasaan merokok dengan adanya artereosklerosis pada seluruh pembuluh
darah. Merokok juga meningkatkan denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk
disuplai ke otot-otot jantung. Merokok pada penderita tekanan darah tinggi semakin
meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah arteri.

15

BAB III
KESIMPULAN

Hipertensi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal


ini disebabkan makin meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Indonesia dan
makin tingginya pajanan faktor risiko, yaitu hal-hal yang mempengaruhi atau
menyebabkan terjadinya penyakit tidak menular pada seseorang atau kelompok
tertentu.
Faktor risiko hipertensi terdiri atas yang dapat dimodifikasi dan tidak dapat
dimodifikasi. Mencegah hipertensi dapat dilakukan dengan menghindari faktor risiko
yang dapat dimodifikasi seperti merokok, minum alkohol, jarang berolahraga, dan
pola makan yang tidak sehat. Seorang penderita hipertensi harus menjalani
pengobatan seumur hidup, hal ini tentu tidak lah murah. Oleh karena itu mencegah
hipertensi jauh lebih mudah dan lebih baik daripada mengobati.

16