Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehamilan Trimester III sering kali disebut periode menunggu dan
waspada karena ibu sudah merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya
dan mulai khawatir dengan diri dan bayinya pada saat melahirkan. Pada saat
itu juga merupakan saat persiapan aktif untuk menunggu kelahiran bayi dan
menjadi orang tua (Sofie R. 2008).
Kehamilan merupakan hal yang fisiologis. Namun kehamilan yang
normal dapat berubah menjadi patologi. Salah satu asuhan yang dilakukan
oleh bidan untuk menapis adanya resiko ini yaitu melakukan pendeteksial
dini adanya komplikasi atau penyakit yang mungkin terjadi selama hamil
muda (Yuni Kusmiati, dkk :2009).
Persiapan persalinan merupakan bagian terpenting dari proses
persalinan yang ditujukan untuk meningkatkan kesehatan optimal menjelang
persalinan dan segera dapat memberikan laktasi (Manuaba, 1998 : 141).
Persiapan persalinan meliputi persiapan fisik, psikologis dan materi.
Persiapan fisik merupakan persiapan yang berhubungan dengan aspek
persiapan tubuh untuk mempermudah persalinan dan laktasi, persiapan
psikologis adalah persiapan yang berhubungan dengan ketahanan mental
terhadap rasa takut dan kecemasan serta aspek kognitif tentang persalinan
sedangkan persiapan materi merupakan persiapan ibu dan keluarga untuk

mendukung kelancaran persalinan dari aspek finansial (Christina I, 1999 :


21).
Persalinan merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para ibu
hamil,sebuah waktu yang menyenangkan namun disisi lain merupakan hal
yang paling menebarkan. Persalinan terasa akan menyenangkan namun disisi
lain merupakan hal yang paling mendebarkan. Persaliana terasa akan
menyenangkan karena sikecil yang selama sembilan bulan bersembunyi
didalam perut anda akan muncul terlahir kedunia.

Disisi lain persalinan

menjadi mendebarkan khusus bagi calon ibu baru, dimana terbayang proses
persalinan yang menyakitkan, mengeluarkan energi yang begitu banyak dan
sebuah perjuangan yang cukup melelahkan.
Munculnya perilaku untuk melakukan persiapan persalinan didukung
oleh adanya motivasi untuk melakukan persiapan persalinan, yaitu alasan atau
dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu
(Sunaryo, 2004 : 143).
Menurut WHO (2009) sebagian Angka Kematian Ibu (AKI) yang
terjadi dapat dihindari apabila tersedia tenaga pertolongan persalinan yang
terampil. Kompetensi adalah prasyarat untuk praktek-praktek terbaik dan
memastikan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu (Canavan dalam
Cham et Ai, 2008).
Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah
masalah besar di Negara berkembang. Di Negara miskin sekitar 25 50 %
kematian wanita usia subur di sebabkan hal berkaitan dengan kehamilan.

Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama wanita muda pada
masa puncak produktifitasnya. Pada tahun 1996 Wold Heatlh Organitation
(WHO).
Dinegara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita usia subur
disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan,
nifas. WHO memperkirakan diseluruh dunia setiap tahunnya lebih dari
585.000 meninggal saat hamil atau bersalin. Berdasarkan hasil SDKI 2007
derajat kesehatan ibu dan anak di indonesia masih perlu ditingkatkan,
ditandai oleh Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 228/100.000 kalahiran hidup
(KH), dan tahun 2008, 4.692 jiwa ibu melayang dimasa kehamilan,
persalinan, dan nifas. Sedangkan angka kematian bayi (AKB) 34/1000KH,
terjadi startegis bila dibandingkan dengan SDKI 2003 yaitu 35 per 1000.
Memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat
hamil atau persalinan. di Asia Selatan, wanita kemungkinan meninggal 1:18
yang diakibatkan Oleh hamil atau persalinan selama kehidupannya, di banyak
Negara Afrika 1 : 14, sedangkan di Amerika Utara hanya 1 : 6.366 lebih dari
50% kematian terjadi di Negara berkembang sebenarnya dapat di cegah
dengan tekhnologi yang ada serta biaya relatif rendah (Sarwono, 2006 ).
Kematian pada wanita dan bersalin adalah masalah besar di negara
berkembang. Di negara berkembang sekitar 25-50% kematian terjadi pada
wanita usia subur. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama
kematian wanita usia muda pada masa puncak produktivitasnya. Angka
kematian ibu (AKI) merupakan tolak ukur untuk menilai keadaan pelayanan

obstetri disuatu negara. Bila AKI masih tinggi berarti sistem pelayanan
obstetri masih buruk, sehingga memerlukan perbaikan (Anbarwati, 2009).
Kematian ibu 90% terjadi pada saat sekitar persalinan dan 95%
penyebab kematian ibu ada adalah komplikasi obsertri yang sering tidak
diperkirakan sebelumnya, maka kebijaksaana depertemen kesehatan untuk
mempercepat penurunan AKI adalah memupayakan agar setiap persalinan
ditolong atau didampingi oleh bidan atau pelayanan obsertri sedekat mungkin
diberikan pada ibu hamil (Saifuddin, 2002). Bidan sebagai tenaga kesehatan
juga mempercepat penurunan AKI yaitu dengan salah satu usaha salah
satunya adalah pelayanan antenatal care (ANC). Pelayanan antenatal
merupakan sarana agar ibu lebih siap menghadapi persalinan (Depkes RI,
2000).
Berdasarkan survey kesehatan rumah tanggan (Depkes RI, 2010)
Ppenyebab tidak langsung kematian ibu antara lain kekurangan energi kronis
(KEK) pada kehamilan (37%), dan anemia pada kehamilan (40%), sedangkan
berdasarkan laporan rutin PWI-KIA pada tahun 2007, penyebab langsung
kematian ibu adalah akibat perdarahan (28%), eklamsia (24%), infeksi (11%),
dan lain-lain (33%).
Berdasarkan survey demografi kesehatan indonesia (SDKI) 2007
menunjukkan bahwa angka kematian ibu indonesia masih tinggi yaitu
228/100.000 kelahiran hidup (KH), sedangkan angka kematian bayi (AKB) di
indonesia juga masih relatif tinggi yaitu 34/1000 KH (Depkes RI, 2010).

AKI di provinsi aceh mencapai 209/100KH, AKB berada diatas rata


nasional yaitu mencapai 40/1000 KH (Dinkes Prov Aceh, 2009).
Sedangkan data dari Dinkes kabupaten Aceh Barat Daya ( 2012)
ditemukan bahwa jumlah sasaran ibu hamil sebesar 3.119 orang dengan
cakupan KI sebesar 2.558 orang ( 85,90% ) dan cakupan K4 1.822 orang.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pukesmas Bineh Krueng
Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya dari tahun 2012
jumlah ibu hamil 249 jiwa. Dan khusus nya pada ibu hamil trimester III
berjumlah 40 oang.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, peneliti
menemukan bahwa masyarakat di Pukesmas bineh krueng khususnya ibu
hamil pada trimester III masih sangat kurang atau tidak memperdulikan
tentang persiapan persalinannya, penulis juga menemukan sebagian ibu hamil
pada trimester III tidak mempersiap dana untuk persalinannya. Ada ibu hamil
yang mengatakan jangankan mempersiapkan dana untuk persiapan persalinan
makan sehari-hari saja tidak mencukupi, selain dari dana tersebut, dari segi
lainnya juga tidak ada persiapan, seperti beberapa orang ibu hamil disana
melakukan pernikahan dini, selain dari biaya, persiapan mentalnya pun
kurang. Rata-rata pendidikan terahkir ibu hamil disana tamatan SMA, dan
rata usia pernikahan ibu-ibu hamil di pukesmas rata-rata 18-19 tahun.

Dari penjelasan latar belakang diatas peneliti telah melakukan


penelitian mengenai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Hamil
Trimester III Terhadap Persiapan Persalinan di Pukesmas Bineh Krueng
Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.
B. Rumusan Masalah
Perumusan masalah pada penelitian ini adalah apa-apa saja faktor
yang mempengaruhi ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan, di
Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat
Daya 2013.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ibu hamil
trimester III terhadap persiapan persalinan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengaruh umur ibu hamil trimester III terhadap persiapan
persalianan
b. Mengetahui pengaruh pendidikan ibu hamil trimester III terhadap
persiapan persalinan.
c. Mengetahui pengaruh pendapatan ibu hamil trimester III terhadap
persiapan persalinan

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Dapat menerapkan riset kebidanan mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi ibu hamil trimester III tentang persiapan persalinan.
2. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai masukan dan bahan informasi bagi bidan setempat yang
dapat digunakan untuk pemberian penyuluhan dan konseling mengenai
persiapan persalinan pada saat antenatal care (ANC).
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan dan kajian ilmu pengetahuan dalam
meningkatkan wawasan peserta didik tentang faktor- faktor yang
mempengaruhi ibu hamil trimester III tentang persiapan persalinan.
E. Keasliaan peneliti.
Penelitian yang sama sudah pernah dilakukan oleh :
1. Sri guslena ( 2011 ) dengan judul faktor- faktor yang mempengaruhi
ibu hamil trimester III dengan persiapan persalinan di Bidan Praktet
Swasta Sinarti lambaro skep Banda Aceh Provinsi Nanggro Aceh
Darusalam, metode yang digunakan yaitu analitik dengan pendekatan
cross sectional, sampel berjumlah 36 ibu hamil, dengan teknik Sampling
menggunakan Quata sampling teknik pengumpulan data primer yaitu
dengan wawancara hasil yang diperoleh yaitu dengan 10 responden
(27%) tingkat pendidikan ibu hamil tinggi , 18 responden (50%) dengan
tingkat pendidikan menengah, dan 8 responden (22,2%) dengan tingkat

pendidikan dasar. Hasil penelitian analitik : ada pengaruh antara


pendidikan ibu hamil trimester III dengan persiapan persalinan.
2. Saputri silviana (2011) dengan judul Faktor-faktor yang mempengaruhi
ibu Hamil Trimester III terhadap persiapan persalinan, di UPT
Puskesmas Gajahan Surakarta. Metode yang di gunakan adalah Analitik
dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 36 ibu hamil,
dengan teknik Sampling menggunakan Quota Sampling, Teknik
pengumpulan data menggunakan pengumpulan data primer yaitu dengan
Kuesioner. Hasil yang diperoleh yaitu 10 responden (27,8%) dengan
tingkat pengetahuan baik. 18 responden (50%) dengan tingkat
pengetahuan cukup, dan 8 responden (22,2%) tingkat pengetahuan
kurang.
Hasil penelitian analitik : ada pengaruh antara pengetahuan ibu hamil
trimester III terhadap persiapan persalinan.
3. Dwi Setyowati (2009) dengan judul Gambaran pengetahuan ibu hamil
trimester III tentang persiapan persalinan di Bidan Praktet Swasta
Supriharini di desa garahan dikecamatan silo kabupaten jember metode
yang digunakan yaitu deskriptif dengan pendekatan cross sectional.
Teknik pengambilan sampel yaitu total sampling dengan jumlah sampel
30 ibu hamil. Teknik pengumpulan data mengunakan kuesioner. Hasil
yang diperoleh yaitu 3 responden (10 %) mempunyai pengetahuan baik,
17 responden (50%) mempunyai pengetahuan cukup, dan yang
mempunyai pengetahuan yang kurang yaitu 10 responden (33,3%).

Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan adalah lokasi dan


waktu, jumlah responden dan hasil, tahun, sedangkan persamaan dengan
penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang persiapan persalinan.

10

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian Kehamilan
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari
hari pertama haid terahkir (Saifuddin, 2002).
Menurut Sunarsih dan Dewi (2011) Kahamilan merupakan saat yang
sangat menakjubkan dalam kehidupan seorang wanita. Hal itu juga
merupakan saat yang menyenangkan ketika sebuah kehidupan baru yang
misterius bertumbuh dan berkembang didalam rahim. Sekali kehamilan
terjadi, berbagai macam efek terjadi dalam tubuh wanita, baik efek karena
perubahan hormon, bentuk tubuh, maupun kondisi emosional wanita yang
mengalami kehamilan.
Kehamilan adalah mulai dari ovulasi sampai partus lamanya 280 hari
(40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu).pembagian kehamilan
dibagi dalam 3 trimester, trimester pertama, dimulai dari konsepsi sampai 3
bulan (0-12 minggu), trimester kedua dari bulan ke empat sampai 6 bulan
(13-28 minggu), trimester ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (29 42
minggu) (Prawirohardjo, 1999).
1. Trimerter I
a) Menjalin hubungan saling pecaya
Ini merupakan langkah paling awal namun akan sangat
menentukan kualitas asuhan diwaktu-waktu berikutnya. Hubungan

11

saling percaya antara pasien dan asuhan bidan mutlak harus dapat
dipenuhi sehingga informasi dan penatalaksanaan yang diberikan oleh
bidan dapat selalu sesuai dengan data yang disampaikan pasien secara
jujur. Bisa dibayangkan jika pasien tidak dapat percaya dengan bidan
dan memberikan data yang tidak sesuai, maka jika terjadi gangguan
pada ibu, bidan tidak akan dapat mendeteksi sehingga akan berakibat
fatal yaitu salah dalam memberikan pelayanan.
b) Deteksi masalah
Pada tahap awal pemberian asuhan, bidan melakukan deteksi
kemungkinan masalah atau komplikasi yang muncul dengan
melakukan penapisan- penapisan. Beberapa diantaranya adalah
penapisan kelainan bentuk panggul pada pasien dengan tinggi badan
kurang dari 145 cm, pre-eklamsi,hipertensi dalam kehamilan, infeksi,
dan sebagainya. Penapisan ini dilakukan melalui proses pengkajian
data subjektif dan objektif serta ditunjang dengan pemeriksaan
laboratorium, USG, serta rontgen.
c) Mencegah masalah (TT dan anemia)
Pencegahan masalah anemia merupakan prioritas pertama
yang harus dilakukan oleh bidan karena anemia merupakan penyebab
utama

perdarahan

postpartum.

Berdasarkan

data

departemen

kesehatan, penyebab kematian ibu terbanyak di indonesia adalah


perdarahan. Selain anemia, bidan juga harus melakukan pencengahan

12

penyakit tetanus neonatorum karena penyakit ini memberikan peran


yang cukup besar dalam menyebabkan kematian bayi.
d) Persiapan persalinan dan kompilkasi
Meskipun proses persalinan masih cukup lama, namun bidan
tetap harus menyampaikan informasi ini seawal mungkin sehingga
pasien dan keluarga sudah mempunyai gambaran mengenai apa yang
harus direncanakan. Selain itu untuk memperdayakan pasien dan
keluarga, beberapa komplikasi yang mungkin terjadi dalam kehamilan
juga perlu disampaikan sejak dini sehingga pasien dan keluarga dapat
ikut aktif dalam pemantauan perjalanan kehamilannya.
e) Perilaku sehat (gizi, latihan /senam, kebersihan, istirahat)
Untuk informasi ini bidan perlu menyampaikan materi
perilaku hidup sehat secara terperinci karena aspek ini merupakan hal
sangat menentukan kualitas kesehatan ibu hamil.
2. Trimester II Gejala Pre-Eklampsi Ringan
Setelah bidan menyimpulkan bahwa pasien sudah cukup paham
dengan informasi yang harus diketahui pada trimester I, maka pada
trimester II ini bidan memberikan informasi yang berkaitan dengan preeklampsi ringan. Bidan mengajak pasien dan keluarga untuk aktif dalam
memantau

kemungkinan

gejala-gejala

pre-eklampsi

ringan

dalam

kehamilannya sehingga timbul tanggung jawab bagi pasein dan keluarga


untuk mempertahankan kesehatannya secara mandiri.

13

3. Trimester III
Pada Trimester ke tiga ini perut ibu sudah membesar, maka para
calon ibu sudah akan mempersiapkan untuk kehadiran si bayi baru dalam
keluarga. Pada tahap ini dimungkinkan muncul berbagai perasaan
emosional yang berbeda-beda. Kegembiraan untuk bertemu bayi baru atau
mungkin ada kekuatiran dengan kesehatan bayi. Pada saat ini calon ibu
akan mulai berfikir tentang persalinan, dengan tambahan perubahan emosi,
tubuh secara fisik juga mengalami perubahan pada trimester akhir
ini.Perubahan-perubahan tersebut meliputi sakit punggung karena beban
berat tubuh, payudara, konstipasi, pernapasan, sering kencing, masalah
tidur, varises, kontraksi perut, bengkak, kram kaki dan cairan vagina.
Sehingga pada masa ini perlu persiapan yang sangat matang dari para
calon ibu (Suririnah, 2004).
Karakteristik utama perkembangan intrauterin pada trimester ketiga
adalah penyempurnaan struktur organ khusus / detail dan penyempurnaan
fungsi berbagai sistem organ.Satu karekteristik perkembangan akhir masa
janin

adalah

perlambatan

pertumbuhan

kepala

relatif

terhadap

pertumbuhan badan. Pada awal bulan ke-3, ukuran kepala merupakan


separuh ukuran kepala bokong (crown-rump length/ CRL). Akan tetapi,
sejak awal bulan ke-5, ukuran kepala relatif berkurang menjadi sepertiga
dari CRL, sampai pada saat lahir ukuran kepala hanya seperempat dari
CRL. Hal ini disebabkan peningkatan pertumbuhan badan dan ekstremitas
bersama dengan penurunan pertumbuhan kepala (Dewi Surnarsih, 2011).

14

a) Minggu ke-28
Pada akhir minggu ke-28, panjang ubun-ubun-bokong adalah
sekitar 25 cm dan berat janin sekitar 1.100 g. Endapan lemak subkutis
meningkat sehingga janin memperoleh bentuk membulat/menggemut.
Produksi kelenjar lemak kulit juga menghasilkan lapisan vernix
caseosa yang melapisi kulit janin. Sejak usia 28 minggu lengkap, telah
terbentuk koordinasi antara sistem saraf pusat, pernapasan, dan
kardiovaskular,

meskipun

masih

sangat

minimal.

Surfaktan

(surfuctant) terbentuk di dalam paru-paru. Mata mulai membuka dan


menutup. Ukuran janin 2/3 ukuran pada saat lahir. Janin yang lahir
pada masa ini dapat bertahan hidup, namun diperlukan tunjangan
hidup berupa perawatan intensif yang sangat baik untuk mencapai
hasil optimal.
b) Minggu ke-32
Simpanan lemak coklat berkembang dibawah kulit untuk
persiapan pemisahan bayi setelah lahir. Bayi sudah tumbuh 38-43 cm
dan panjang ubun-ubun bokong sekitar 28 cm dan berat sekitar 1.800
gr. Mulai menyimpan zat besi, kalsium, dan fostor.
c) Minggu ke-36
Pada ahkir minggu ke-36 gestasi, janin memiliki panjang
ubun-ubun bokong rata-rata yaitu 32 cm dan berat sekitar 2.500 g.
Seluruh uterus terisi oleh bayi sehingga ia tidak bisa bergerak atau
berputar banyak. Pertumbuhan kepala maksimal, lingkar kepala

15

menjadi lingkar terbesar dari pada seluruh bagian tubuh, pada bayi
laki-laki, testis mulai turun ketempatnya didalam skrotum antibodi ibu
ditransfer kebayi. Hal ini akan memberikan kekebalan untuk enam
bulan pertama sampai sistem kekebalan bayi berkerja sendiri.
4. Saat lahir
Terjadi mekanisme adaptasi berbagai struktur janin. Di
antaranya, paru yang semula kolaps karena belum terisi udara, sejak
lahir menjadi mengembangkan karena terisi udara pernapasan. Berbagai
struktur dalam sistem kardiovaskular menutup. Sejak tali pusat
diputuskan, sirkulasi feto-maternal melalui plasenta dan pembuluh
umbilikasi terputus, dan bayi terpisah dari sirkulasi ibunya.

B. Persiapan Persalinan
1. Pengertian Persiapan Persalinan
Persalian adalah kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi
yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusun dengan pengeluaran
placenta dan selaput janin dari tubuh ibu. (Sujiyatini et al, 2011).
Persiapan persalinan adalah rencana tindakan yang dibuat oleh ibu,
anggota keluarga, dan bidan, rencana ini tidak harus dalam bentuk tertulis
dan biasanya memang tidak terlulis. Rencana ini lebih hanya sekedar
diskusi untuk memastikan bahwa ibu menerirma asuhan yang ia
perlukan.dengan adanya rencana persalinan akan mengurangi kebingungan
dan kekacauan pada saat persalinan, serta meningkatkan kemungkinan ibu

16

akan menerima asuhan yang sesuai dan tepat waktu (Dewi & Surnarsih,
2011).
Persiapan Persalinan dan Kelahiran Persiapan persalinan dan
kelahiran yaitu suatu tahap dalam masa persalinan,dimana semua wanita
akan menyadari keharusan untuk melahirkan anaknya.Rencana persalinan
adalah rencana tindakan yang dibuat ibu, anggota keluarganya dan bidan.
Dengan adanya rencana persalinan akan mengurangi kebingungan dan
kekacauan pada saat persalinan dan meningkatkan kemungkinan bahwa
ibu akan menerima

asuhan yang sesuai serta tepat waktu. Persiapan

persalinan adalah hal yang penting. Dengan lahirnya sikecil, maka akan
ada begitu banyak persiapan untuk menyambutnya. Persiapan untuk
menyambut kelahiran sang buah hati meliputi pakaian, popok, hingga
aktifitas anda dalam menyusui sang bayi (Ningsih dan Arifah, 2011).
Ibu

hamil yang dalam waktu dekat akan menjalani proses

persalinan memang sebaiknya mengetahui hal-hal apa yang akan dihadapi.


Hal ini lebih kepada untuk mempersiapkan diri secara mental (psikologis),
apalagi jika proses persalinan nanti adalah pengalaman yang pertama.
Sebuah survey membuktikan bahwa ibu hamil yang mempersiapkan diri
biasanya akan mengalami lebih sedikit stress dan hasil persalinannya pun
relatif lebih baik (Gunawan, 2011).

17

a) Persiapan persalinan (Depkes RI 2007)


(1) Mempersiapkan ruang untuk persallinan dan kelahiran bayi.
Persalinan dan kelahiran bayi mungkin terjadi dirumah
(rumah ibu maupun kerabat) ditempat bidan puskesmas, polindes
atau rumah sakit, pastikan ketersedian bahan-bahan dan saranan
yang memadai. Laksanakan upaya PI sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan (JNPK-KR,2007).
Di manapun persalinan dan kelahiran bayi terjadi,
diperlukan hal-hal pokok seperti bentuk : ruangan yang hangat
dan bersih memiliki sirkulasi udara yang baik dan terlindung dari
tiupan angin, sumber air bersih dan mengalir untuk cuci tangan
dan memandikan ibu sebelum dan sesudah malahirkan.
(2) Persiapan perlengkapan bahan-bahan dan obat-obatan yang
diperlukan
Pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-bahan yang
diperlukan serta dalam keadaan siap pakai pada setiap persalinan
dan kalahiran bayi. Jika tempat persalinan dan kelahiran bayi jauh
dari fasilitas kesehatan, bawahlah semua keperluan tersebut
kelokasi persalinan. Ketidak mampuan untuk menyediakan semua
perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat esensial pada saat
diperlukan akan meningkat resiko terjadinya penyulit pada ibu
dan bayi baru lahir sehingga keadaan ini dapat membahayakan
keselamatan jiwa mereka (Rukiyah et al, 20011).

18

Pada setiap persalinan dan kelahiran bayi : periksa semua


peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan. Segera ganti
peralatan sebelum dan setelah memberikan asuhan, segera ganti
peralatan yang hilang atau rusak, periksa semua obat-obatan dan
bahan setelah menolong persalinan dan melahirkan bayi.
Menurut Sujiyatini et al (2011) Untuk mengingat hal-hal penting
dalam mempersiapkan rujukan, maka singkatan BAKSOKUDA dapat
digunakan :
B ( bidan )
Pastikan bahwa ibu dan atau bayi baru lahir didampingi oleh
penolong persalinan yang kompeten untuk melaksanakan gawatdarurat
obstetri dan bayi baru lahir untuk dibawa kefasilitas rujukan.
A ( alat )
Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan.
Perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin diperlukan jika ibu
melahirkan dalam perjalanan menuju fasilitas rujukan.
K ( keluarga )
Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terahkir ibu dan bayi
dan mengapa ibu dan bayi perlu dirujuk. Jelaskan pada mereka alasan dan
tujuan rujukan merujukan ibu kefasilitas rujukan tersebut. Suami dan
anggota keluarga yang lain harus menemani ibu dan bayi hingga ke
fasilitas rujukan.

19

S ( surat )
Berikan surat ketempat rujukan. Surat ini harus memberikan
identifikasi mengenai ibu dan bayi baru lahir, cantumkan alasan rujukan
dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang diterima ibu
dan bayi baru lahir. Sertakan juga patograf yang dipakai untuk membuat
keputusan klinik.
O ( obat )
Bawa obat-obatan esensia pada saat mengantar ibu ke fasilitas
rujukan. Obat-obatan tersebut mungkin diperlukan selama perjalanan.
K ( kendaraan )
Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk merujuk ibu
dalam kondisi cukup nyaman. Selain itu pastikan kondisi kendaraan cukup
baik untuk mencapai tujuan pada waktu yang tepat.
U ( uang )
Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang
cukup untuk membeli obat-obatan yang perlukan dan bahan-bahan yang
diperlukan selama ibu dan bayi baru lahir tinggal difasilitas rujukan.
D ( darah )
Siapkan orang yang akan menjadi pendonor darah jika transfusi
diperlukan.
b) Komponen penting persiapan persalinan
(1) Pemilahan tempat persalinan ditentukan oleh nilai risiko
kehamilan dan jenis persalinan yang direncanakan. Persalinan

20

berisiko rendah dapat dilakukan di puskesmas, polindes, atau


rumah bersalin, sedangkan persalinan berisiko tinggi harus
dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas kamar operasi,
tranfusi darah, dan perawatan bayi risiko tinggi.
(2) Persalinan dianjurkan dilaksanakan dirumah sakit umum/rumah
sakit ibu dan anak, lengkap dengan tenaga terlatih dan peralatan
yang memandai. Sarana tranportasi serta tenga kesehatan yang
masih terbatas membuat persalinan di beberapa daerah sebagai
besar masih ditolong oleh dukun bersalin dan berlangsung di
rumah. Kondisi tersebut merupakan kendala tersendiri yang masih
sulit diatasi sampai saat ini.
(3) Di luar negeri (misalnya di Amerika dan Belanda), persalinan
dapat

dilakukan

dirumah

karena

memiliki

kelebihan

dibangdingkan persalinan dirumah sakit. Suasanan rumah


membuat ibu lebih nyaman sehingga proses persalinan lebih
lancar dan peran serta suami tampak nyata diraskan. Walaupun
demikian,

persalinan

dirumah

memerlukan

dukungan

infrastruktur yang baik, serta kesiapan tenaga penolong untuk


menghadapi segala kemungkinan

yang terjadi pada saat

persalinan maupun pasca persalinan.


c) Memilih tenaga kesehatan terlatih
(1) Tenaga kesehatan yang diperolehkan menolong persalinan adalah
dokter umum, bidan, serta dokter kebidanan dan kandungan. Di

21

negara kita masih banyak persalinan yang ditolong oleh dukun


bersalin, baik yang terlatih maupun yang tidak terlatih,. Hal ini
masih menjadi kendala dimana merupakan salah satu sebab
tingginya angka kematian bayi.
(2) Pemilihan tenaga penolongan persalin ditentukan oleh pasien,
nilai risiko kahamilan, dan jenis persalinan yang akan
direncanakan bagi masing-masing pasien.
(3) Pemilihan pasien berdasar resiko dimaksudkan agar penaganan
kasus lebih terarah dan ditangani oleh tenaga yang kopeten. Pada
saat persalinan, penanganan kasus dilakukan lebih cermat lagi
dengan memperhatikan karekteristik kasus. Sebaiknya semua
kasus dianggap memiliki resiko tinggi karena tidak ada satu cara
pun yang dapat meramal bahwa persalinan tersebut pasti berjalan
normal sehingga setiap penolong persalinan akan selalu berhatihati dan mempersiapan segala sesuatunya untuk mengatasi
penyulit yang mungkin terjadi.
(4) Selain itu faktor ekonomi, agama, sosial, dan budaya kadangkadang

juga

mempengaruhi

pemilihan

tenaga

penolong

persalinan:
(a) Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi
kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama
tidak ada.
(1) Siapa pembuat keputusan utama dalam keluarga?

22

(2) Siapa yang akan membuat keputusan jika pembuatan


keputusan utama tidak ada saat terjadi kegawatdarutan?
(b) Mempersiapkan

sistem

transportasi

jika

terjadi

kegawatdaruratan
(1) Banyak

ibu

yang

meninggal

karena

mengalami

komplikasi yang serius selama kehamilan. Persalinan


atau pasca persalinan dan tidak mempunyai jangkauan
transportasi yang dapat membawa mereka ketingkat
asuhan kesehatan yang dapat memberikan asuhan yang
kompeten untuk menangani masalah mereka.
(2) Setiap keluarga seharusnya mempunyai suatu rencana
transportasi untuk ibu jika ia mengalami komplikasi dan
perlu segera dirujuk ke tingkat asuhan yang lebih tinggi.
Rencana persalinan perlu dipersiapkan lebih dini dalam kehamilan,
dan harus terdiri atas elemen- elemen di bawah ini :
(1) Dimana ibu akan bersalin (desa, fasilitas kesehatan, rumah sakit)
(2) Bagaimana cara menjangkau tingkat asuhan yang lebih lanjut jika
terjadi kegawatdarutan.
(3) Kefasilitas kesehatan mana ibu akan dirujuk.
(4) Bagaiman cara mendapatkan dana jika terjadi kegawatdaruratan.
(5) Bagaimana cara mencari donor darah.
(6) Membuat rencana / pola menabung.

23

(a) Keluarga dianjurkan untuk menambung sejumlah uang untuk


persediaan dana guna asuhan selama kehamilan dan jika
kegawatduraratan.
(b) Menabung sesuai kemampuan dan terprogram.
(c) Kesepakatan bersama dalam keluarga.
(d) Program tabulin.
(7) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan
(a) Ibu dan keluarga dapat mengumpulkan barang-barang (seperti
pembalut wanita, sabun, baju ibu, baju bayi, dan lain-lain) dan
menyimpannya untuk persiapan persalinan.
(b) Beberapa rumah sakit biasanya sudah membuatkan daftar
peralatan yang harus dibawa saat datang, misalnya gurita,
peralatan mandi (sabun, sikat gigi, pasta gigi, sampo, deodoran,
bedak, sisir, pelembap bibir, handuk kecil, handuk besar),
perlengkapan pribadi (pembalut wanita, alas BH, BH untuk
menyusui, celana dalam, beberapa blus, kaos longgar/daster, dan
kaos kaki), krim puting susu, spon kecil, waslap, kain, baju bayi,
dan popok.
(c) Hendaknya dipersiapkan jauh hari sebelumnya, dimasukan
kedalam tas sehingga begitu tanda-tanda persalinan muncul, ibu
tidak panik dan dapat berlangsung mencari pertolongan (ke rumah
sakit, rumah bersalin, dan sebagainya).

24

(d) Mempersiapkan perlengkap buah hati dapat menjadi kesibukan


yang menyenangkan.
C. Membuat Rencana Persalinan
Hal-hal mengenai pembuatan rencana persalinan adalah sebagai
berikut :
1. Tempat persalinan
a) Pemilihan tempat persalinan ditentukan oleh nilai risiko kehamilan dan
jenis persalinan yang direncanakan. Persalinan berisiko rendah dapat
dilakukan di puskesmas, polindes, atau rumah bersalin, sedangkan
persalinan berisiko tinggi harus dilakukan di rumah sakit yang memiliki
fasilitas kamar operasi, tranfusi darah, dan perawatan bayi berisiko
tinggi.
b) Persalinan dianjurkan dilaksanakan di rumah sakit umum/rumah sakit
ibu dan anak, lengkap dengan tenaga terlatih dan peralatan yang
memadai. Sarana transportasi serta tenaga kesehatan yang masih
terbatas membuat persalinan di beberapa daerah sebagian besar masih
ditolong oleh dukun bersalin dan berlangsung dirumah. Kondisi
tersebut merupakan kendala tersendiri yang masih sulit diatasi sampai
saat ini.
c) Diluar negri (misalnya di Amerika dan Belanda), persalinan dapat
dilakukan di rumah karena memiliki kelebihan dibandingkan persalinan
di rumah sakit. Suasana rumah membuat ibu lebih nyaman sehingga
proses persalinan lebih lancar dan peran serta suami tampak nyata

25

dirasakan. Walaupun demikian, persalinan dirumah memerlukan


dukungan infrastruktur yang baik, serta kesiapan tenaga penolong untuk
menghadapi segala kemungkinan yang terjadi pada saat persalinan
maupun pascapersalinan (Sunarsih, 2011).
Saran untuk ibu hamil adalah melahirkan dirumah sakit besar yang
fasilitasnya lengkap tidak sepenuhnya benar. Apalagi bila selama
kehamilan, dokter yang memeriksa tidak menemukan masalah atau faktor
risiko tertentu pada ibu dan janin. Ada banyak faktor yang harus
dipertimbangkan saat calon ibu menentukan tempat ia akan melahirkan.
Selain faktor jarak, faktor biaya juga mesti dipertimbangkan.
Berbeda dengan rumah sakit khusus untuk bersalin atau klinik
bidan. Biasanya, melahirkan di rumah sakit dengan peralatan medis yang
amat lengkap tarifnya memang relatif mahal.
Faktor lain yang harus dipertimbangkan saat memilih tempat
bersalin adalah sebagai berikut :
(1) Usahakan agar jarak tempat melahirkan dengan tempat tinggal tidak
terlalu jauh. Jika dokter menyatakan calon ibu dan janinnnya dalam
kondisi yang sangat baik dan sehat. Maka boleh-boleh saja bersalin di
klinik kecil dekat rumah. Hal ini agar ibu yang akan melahirkan
segera mendapatkan penanganan secara cepat.
(2) Pilihlah klinik atau rumah bersalin yang memiliki fasilitas rujukan ke
rumah sakit yang lebih besar dan juga memiliki mobil ambulan.

26

Gunanya agar jika ibu mengalami kondisi darurat dapat segera


dilarikan dengan ambulan ke rumah sakit rujukan.
(3) Rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap, seperti NICU dan ICU.
2. Memilih penolong persalinan
a) Tenaga kesehatan
(1) Pengertian tenaga kesehatan
Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri
dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan atau
keterampilan melalui pendidikan dibidang kesehatan yang untuk
jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan. Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan (Sularsono, 2005).
(2) Definisi Bidan
Menurut Sofyan et al (2008) yang mengatakan bahwa Bidan
adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang
terakreditasi dan memenuhi kualifikasi untuk diregister, sertifikasi
dan atau secara sah mendapat lisensi untuk praktik kebidana, bidan
diakui sebagai seorang profesional yang bertanggung jawab dan
akuntabel, bermitra dengan perempuan dalam memberikan
dukungan, asuhan dan nasehat yang diperlukan selama masa
kehamilan, persalinan dan nifas, memfasilitasi kelahiran atas
tanggung jawabnya sendiri serta memberikan asuhan kepada bayi
baru lahir dan anak.

27

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan


menyelesaikan pendidikan bidan yang telah diakui pemerintah dan
lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku, dicatat
(register), di beri izin secara sah untuk menjalankan praktek
(Sofyan et al, 2008).
b) Tenaga Non Kesehatan
(1) Pengertian
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan Non-medis
seringkali dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai dukun
beranak, dukun bersalin atau peraji. Pada dasarnya dukun bersalin
diangkat berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat atau
merupakan pekerjaan yang sudah turun temurun dari nenek
moyang atau keluarganya dan biasanya sudah berumur 40 tahun
ke atas (Prawirohardjo, 2005).
Menurut Niken et al (2009) yang menjelaskan bahwa
Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat yang pada
umumnya adalah seorang wanita yang mendapat kepercayaan
serta

memiliki

keterampilan

menolong

persalinan

secar

tradisional. Keterampilan tersebut diperoleh secara turun temurun,


belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus ke arah
peningkatan keterampilan serta melalui tenaga kesehatan. Dukun
bayi juga merupakan seseorang yang dianggap terampil dan

28

dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan dan


perawatan ibu dan anak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Dukun umumnya adalah kejar paket A atau
tamat SD, bisa baca tulis dengan kapasitas yang rendah, mereka
tidak mendapat ilmu tentang cara pertolongan persalinan secara
teori di bangku kuliah, tetapi mereka hanya berdasarkan
pengalaman saja. Peralatan yang digunakannya hanya seadanya
seperti memotong tali pusat menggunakan bambu, untuk
mengikat tali pusat menggunakan tali naken, dan untuk alasnya
menggunakan daun pisang (Gerungan, 2010).
(2) Cara-cara Pertolongan Oleh Tenaga Non Kesehatan
Didalam Simolol (2010) juga dijelaskan bahwa tak
berbeda dengan seorang Bidan, dukun beranak juga melakukan
pemeriksaan kehamilan melalui indra raba (palpasi). Biasanya
perempuan

yang

mengandung,

sejak

mengidam

sampai

melahirkan selalu berkonsultasi dengan dukun, bedanya dibidan


perempuan yang mengandunglah yang datang ketempat praktek
bidan untuk berkonsultasi.
Sedangkan Dukun ia sendiri yang berkeliling dari pintu ke
pintu memeriksa ibu yang hamil. Sejak usia kandungan 7 bulan
kontrol dilakukan lebih sering. Dukun menjaga jika ada
gangguan, baik fisik maupan non fisik terhadap ibu dan janinnya,
agar janin lahir normal dukun biasanya melakukan perubahan

29

posisi janin dalam kandungan dengan cara pemutaran perut


(diurut-urut), disertai doa ketika usia kandungan 4 bulan, dukun
melakukan upacara tasyakuran katanya janin mulai memiliki roh,
hal itu terasa pada perut ibu bagian kanan ada gerakan halus.
c) Memilih Tenaga Kesehatan Terlatih
(1) Tenaga kesehatan yang diperbolehkan menolong persalinan
adalah dokter umum, bidan, serta dokter kebidanan dan
kandungan. Di negara kita masih banyak persalinan yang ditolong
oleh dukun bersalin, baik yang terlatih maupun yang tidak terlaih.
Hal ini masih menjadi kendala dan merupakan salah satu sebab
tingginya angka kematian bayi.
(2) Pemilihan tenaga penolong persalianan ditentukan oleh pasien,
nilai risiko kehamilan, dan jenis persalinan yang akan
direncanakan bagi masing-masing pasien.
(3) Pemilihan

pasien

berdasarkan

risiko

dimaksudkan

agar

penanganan kasus lebih terarah dan ditangani oleh tenaga yang


kompenten. Pada saat persalinan, penanganan kasus dilakukan
lebih cermat lagi dengan memperhatikan karekteristik kasus.
Sebaiknya semua kasus dianggap memiliki risiko tingggi karena
tidak ada satu cara pun yang dapat meramalkan bahwa persalinan
tersebut

pasti berjalan normal sehingga setiap penolong

persalinan akan selalu berhati-hati dan mempersiapkan segala


sesuatunya untuk mengatasi penyulit yang mungkin terjadi.

30

(4) Selain itu, faktor ekonomi, agama, sosial dan budaya kadangkadang juga mempengaruhi pemilihan tenaga penolong persalinan
(Sunarsih, 2011).
d) Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan Diskusi dengan pasangan pada saat
awal memasuki trimester III. Karena proses persalinan merupakan hal
yang unik (dan baru bagi pasangan yang baru pertama kali
mengalaminya) Hal ini penting untuk meminimalisasi kemungkinan
konflik (Gunawan, 2010).
Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi
kegawat daruratan pada saat pengambil keputusan utama tidak ada.
e) Transportasi
Direncanakan sejak awal memasuki trimester III kehamilan.
Karena untuk mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi
kegawatdaruratan.
(1) Banyak ibu yang meninggal karena mengalami komplikasi yang
serius selama kehamilan, persalinan atau pascapersalianan dan
tidak mempunyai jangkauan transportasi yang dapat membawa
mereka ketingkat asuhan menangani masalah mereka.
(2) Setiap keluarga seharusnya mempunyai suatu rencana transportasi
untuk ibu jika ia mengalami komplikasi dan perlu segera dirujuk
ke tingkat asuhan yang lebih tinggi (Sunarsih, 2011).

31

f)

Mempersiapkan rujukan
(1) Pengertian
Rencana rujukan harus dikaji ulang pada ibu dan
keluarganya, kesepakatan ini dilakukan selama kunjungan
antenatal atau awal persalinan. Jika ibu belum membuat rencana
rujukan

selama

kehamilannya,

penting

untuk

dapat

mendiskusikan rencana tersebut dengan ibu dan keluarganya awal


persalinan. Jika timbul masalah pada saat persalinan dan rencana
rujukan belum dibicarakan, maka sering kali sulit melakukan
semua persiapan secara cepat (Sujiatini, 2010).
Jika terjadi penyulit, keterlambatan untuk merujuk
kefasilitas yang sesuai dapat membahayakan jiwa ibu atau
bayinya. Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi
tertulis semua asuhan / perawatan yang telah diberikan dan semua
hasil penilaian (termasuk patograf) untuk dibawa kefasilitas
rujukan. Jika ibu datang hanya untuk mendapatkan asuhan
persalinan dan kelahiran bayi dan ia tidak siap untuk
mendapatkan asuhan persalinan dan kelahiran bayi dan ia tidak
siap atau kurang memahami bahwa kondisinya memerlukan
upaya rujukan maka lakukan konseling terhadap ibu dan keluarga
nyan tentang perlunya memiliki rencana rujukan. Bantu mereka
mengembangkan rencana rujukan pada saat awal persalinan
(Rukiyah, 2009).

32

D. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Persiapan Persalinan


1. Umur
Umur mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya. Sehingga pengetahuan yang diperolehnya
semakin membaik pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif
dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan
persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain
itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk
membaca kemampuan intelektual. Semakin tua semakin bijaksana,
semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang
dikerjakan sehingga menambah pengetahuanya, tidak dapat mengajarkan
kepandaian baru kepada orang yang sudah tua karena mengalami
kemunduran baik fisik maupun mental. Dapat diperkirakan bahwa IQ akan
menurun sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada beberapa
kemampuan yang lain seperi misalnya kosa kata dan pengetahuan umum.
Beberapa teori berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun cukup
cepat sejalan dengan bertambahnya usia.
Umur adalah usia ibu yang secara garis besar menjadi indikator
dalam kedewasaan dalm setiap pengambilan keputusan yang mengacu
pada setiap pengalaman. Usia yang cukup dalam mengawali atau memasuki
masa perkawinan dan kehamilan akan membantu seseorang dalam
kematangan dalam menghadapi persoalan atau masalah, dalam hal ini

33

menghadapi kehamilan dan perubahan selama hamil. Demikian sebaliknya


dengan usia kurang dari 16 tahun maka kemungkinan kematangan pikiran
dan perilaku juga kurang terlebih menghadap perubahan dan adaptasi
selama kehamilan. Karakteristik pada ibu hamil berdasarkan usia sangat
berpengaruh terhadap perhatian dalam proses persalinan, dimana semakin
muda umur ibu maka semakin kurang perhatian serta pengalaman yang
dimiliki ibu hamil karena ketiksiapan ibu dalam menerima sebuah
kehamilan, selain itu usia yang masih muda sistem reproduksi yang belum
matang, sehingga akan berisiko terjadi gangguan selama kehamilan. Hal
ini akan berdampak pada persiapan persalinan yang minim dan dapat
berdampak buruk selama proses persalinan berlangsung (Anynom, 2004).
Dalam usia reproduksi sehat dikenal usia aman untuk kehamilan
dan persalinan adalah 20 sampai 30 tahun. Kematian maternal pada wanita
hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20 tahun ternyata 2 sampai 5 kali
lebih tinggi dari pada usia 20 sampai 29 tahun. Kematian maternal
meningkat kembali sesudah usia 30 sampai 35 tahun (Wiknjosastro, 2005).
Menurut teori Notoadmajo (2007), menemukan bahwa makin tua
umur seseorang maka proses-proses perkembangan mentalnya bertambah
baik, akan tetapi pada umur tertentu, bertambanhnya proses perkembangan
mental ini tidak secepat seperti ketika berumur belasan tahun. Selain itu
memang daya ingat seseorng dapat berpengaruh pada pertambahan
pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada umur-umur tertentu atau

34

menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat suatu


pengetahuan akan berkurang.
2. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur
hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan
seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
Pendidikan adalah

jenjang

pendidikan formal terdiri atas

pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar dan madrasah ibtidayah atau


bentuk lain yang sederajat, serta sekolah menengah pertama dan madrasah
sanawiyah atau bentuk lain sederajat, pendidikan menengah terdiri dari
pendidikan menengah umum dan pendidikan tinggi terdiri dari diploma,
sarjana, magister, spesialis dan dokter yang di selengarakan perguruan
tinggi (Sisdiknas, 2003).
Pendidikan Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya
seseorang menyerap dan memahami pengetahuan tentang persiapan
menghadapi persalinan yang mereka peroleh (Kodyat, 1999).
Dari kepentingan keluarga pendidikan itu sendiri amat diperlukan
seorang lebih tanggap adanya persalinan yang bermasalah atau terjadi
insiden selama proses persalinan terjadi dan keluarga dapat segera
mengambil tindakan secepatnya. Tingkat pendidikan turut menentukan
rendah tidaknya seseorang menyerap dan memakai pengetahuan) demikian

35

halnya dengan persiapan menghadapi persalinan yang mereka peroleh


(Notoadmodjo, 2003)
3. Pendapatan
Penghasilan adalah pendapatan yang didapatkan oleh seorang
dalam sebulan yang kemudian dibagikan berdasarkan jumlah anggota
keluarga (Badan Pusat Statistik, 2004).
Menurut Soetjiningsih (2004), Status sosial ekonomi adalah
kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, status sosial ekonomi
adalah gambaran tentang keadaan seseorang atau suatu masyarakat yang
ditinjau dari segi sosial ekonomi, gambaran itu seperti tingkat pendidikan,
pendapatan dan sebagainya.

Status ekonomi kemungkinan besar

merupakan pembentuk gaya hidup keluarga. Pendapatan keluarga


memadai akan menunjang tumbuh kembang anak. Karena orang tua dapat
menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun skunder
(Suparyanto, 2010).
Menurut Kartono (2006), Status ekonomi adalah kedudukan
seseorang atau keluarga di masyarakat berdasarkan pendapatan per bulan.
Status ekonomi dapat dilihat dari pendapatan yang disesuaikan dengan
harga barang pokok (Suparyanto, 2010).
Tingkat perekonomian adalah perolehan uang yang diterima oleh
orang tua selama satu bulan yang berasal dari berbagai sumber dibagi
dengan jumlah anggota keluarga yang ditanggung. Tingkat pendapatan
keluarga akan mempengaruhi gaya hidup seseorang dan cara memperoleh

36

pelayanan kesehatan bila ada anggota keluarga yang sakit (Asmiadi,


2007).
Seseorang yang berasal dari keluarga berpenghasilan tinggi
cenderung lebih mudah dalam memperoleh pelayanan dan informasi
tentang kesehatan, dibandingkan dengan orang yang berasal dari keluarga
dengan penghasilan rendah. Keluarga dengan penghasilan tinggi
cenderung mendapatkan kesempatan yang lebih tinggi untuk mendapatkan
pengetahuan dan informasi tentang arti kesehatan dan manfaat pelayanan
kesehatan (Asmiadi, 2007).
Upah Minimum Provinsi (UMP) Nanggroe Aceh Darussalam tahun
2012 adalah Rp. 1.400.000.- perbulan. Ini menggambarkan bahwa
penghasilan keluarga minimal untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar
kelurga di Nanggroe Aceh Darussalam adalah Rp. 1.400.000.- perbulan.
Bila penghasilan keluarga tidak mencapai Rp. 1.400.000.- perbulan, maka
akan

sangat

sulit

untuk

memenuhi

kebutuhan

dasar

keluarga

(www.infointeraktif.com).
a) Tingkat Ekonomi
Geimar dan Lasorte (1964) dalam Friedman (2004) membagi
keluarga terdiri dari 4 tingkat ekonomi:
(1) Adekuat
Adekuat menyatakan uang yang dibelanjakan atas dasar
suatu permohonan bahwa pembiayaan adalah tanggung jawab

37

kedua orang tua. Keluarga menganggarkan dan mengatur biaya


secara ralisitis.
(2) Marginal
Pada tingkat marginal sering terjadi ketidak sepakatan dan
perselisihan siapa yang seharusnya mengontrol pendapatan dan
pengeluaran.
(3) Miskin
Keluarga tidak bisa hidup dengan caranya sendiri,
pengaturan

keuangan

didahulukannya

yang

kemewahan.

buruk
Diatas

akan

menyebabkan

kebutuhan

pokok,

manajemen keuangan yang sangat buruk dapat atau tidak


membahayakan kesejahteraan anak, tetapi pengeluaran dan
kebutuhan keuangan melebihi penghasilan.
(4) Sangat Miskin
Menejemen keuangan yang sangat jelek, termasuk
pengeluaran saja dan berhutang terlalu banyak, serta kurang
tersedianya kebutuhan dasar (Suparyanto, 2010).
b) Faktor yang Mempengaruhi Status Ekonomi
Menurut friedman (2004) faktor yang mempengaruhi status
ekonomi seseorang yaitu:
(1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh
seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah

38

suatu cita-cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang


maka makin mudah dalam memperoleh pekerjaan, sehingga
semakin banyak pula penghasilan yang diperoleh. Sebaliknya
pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang baru dikenal.
(2) Pekerjaan
Pekerjaan adalah simbol status seseorang dimasyarakat.
Pekerjaan jembatan untuk memperoleh uang dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidup dan untuk mendapatkan tempat
pelayanan kesehatan yang diinginkan.
(3) Keadaan Ekonomi
Kondisi ekonomi keluarga yang rendah mendorong ibu
hamil untuk tidak teratur dalam melakukan antenatal care.

39

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Menurut Matterson (2001), persiapan persalinan dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor diantaranya, yaitu: Umur, pendidikan, pekerjaan,
pendapatan. Dari poin di atas peneliti berminat untuk meneliti tiga poin saja.
Untuk lebih jelas, peneliti sudah menggambarkan kerangka konsep di bawah.

Variabel Independen

Variabel Dependen

Umur

Persiapan persalinan
Pendidikan

Pendapatan

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

40

B. Hipotesa Penelitian
1. Ha

: Ada pengaruh antara umur ibu hamil trimester III

terhadap persiapan
persalinan di Puskesmas

Bineh Krueng Kecamatan

Tangan-Tangan
Kabupaten Aceh Barat Daya Tahun 2013.
2. Ha

: Ada pengaruh antara pendidikan ibu hamil trimester III

terhadap
persiapan persalinan di Puskesmas

Bineh

Krueng

Kecamatan TanganTangan Kabupaten Aceh Barat Daya Tahun 2013.


3. Ha

: Ada pengaruh antara pendapatan ibu hamil trimester III

terhadap
persiapan persalinan

di Puskesmas Bineh Krueng

Kecamatan Tangan- Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya


Tahun 2013.

41

C. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No

Variabel

Dependent
1
Persiapan
Persalinan

Independent
1
Umur

Pendidikan

Defenisi Operasional

Cara Ukur

Suatu bagian terpenting


dari proses persalinan
yang ditujukan untuk
meningkatkan
kesehatan optimal
menjelang persalinan
dan segera dapat
memberikan laktasi

Wawancara
Penyebaran
Kuesioner,
- Positif > 50%,

Alat Ukur

Hasil Ukur

& Memberi - Positif


- Negatif
12
pertanyaan

Skala
Ukur

Ordina

- Negatif 50%.

Lamanya seseorang
hidup yang dihitung
sejak lahir sampai saat
dilakukanya penelitian. -

Wawancara,
& Memberi 2
Penyebaran
pertanyaan
Kuesioner
- Muda jika < 20
tahun.
- - Sedang, jika 20-30
tahun.
- Tua jika > 30
tahun.
Wawancara,
& Memberi 1

- Muda
- Sedang
- Tua

Ordina

Tingkat pendidikan

- Tinggi

Ordina

42

formal yang
ditempuh oleh ibu

Pendapatan

Pendapatan keluarga
yang diperoleh setiap
bulan atau pendapatan
yang diperoleh dari
usaha yang telah
dilakukan

Penyebaran
pertanyaan - Menengah
- Dasar
Kuesioner
- Tinggi : bila Tamat
perguruan tinggi
atau Diploma
- Menengah : bila
tamat SLTA atau
sederajat
- Dasar : bila tamat
SD atau SLTP
sederajat.
Wawancara, &
Memberi 1 - Tinggi
Ordina
Penyebaran
pertanyaan - Rendah
Kuesioner
- Tinggi, bila UMP
Rp. 1.400.000/
bulan.
- Rendah, bila UMP
< Rp. 1.400.000/
bulan

43

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Peneletian ini bersifat Analitik dengan desain cross sectional yaitu
untuk mengetahui Apa Apa Saja Faktor yang mempengaruhi ibu Hamil
Trimester III Terhadap Persiapan Persalinan.

B. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek
yang diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah
semua Ibu Hamil yang ada di Puskesmas Bineh Krueng, Kecamatan
Tangan-tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya, yaitu 40 orang. Khusus nya
pada ibu hamil trimester III.
2. Sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling pada ibu-ibu
hamil yang bertempat tinggal di puskesmas Bineh Krueng Kecamatan
Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya pada tahun 2013 yang
berjumlah 40 orang. Khusus nya pada ibu hamil trimester III.

44

C. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat
Penelitian ini dilakukan di puskesmas Bineh Krueng Kecamatan
Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.
2. Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 01 Agustus 03
Agustus 2013.

D. Pengumpulan Data
1. Tehnik Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
pengisian kuesioner yang sudah tersusun secara terstruktur berdasarkan
tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui apa-apa saja faktor yang
mempengaruhi Ibu Hamil Trimester III Terhadap Persiapan Persalinan.
Instrumen terdiri dari :
a)

12 soal untuk mengetahui ibu hamil trimester III terhadap persiapan


persalinan dan untuk mengukur persiapan persalinan digunakan soal
dalam berbentuk likert. Dengan penilaian secara negatif dan positif.
1) Penilaian secara positif yaitu SS (sangat setuju) diberi nilai 5, S
(setuju) diberi nilai 4, N (netral) diberi nilai 3, TS (tidak setuju)
diberi nilai 2 dan STS (sangat tidak setuju) diberi nilai 1.
2) Penilaian secara negatif yaitu STS (sangat tidak setuju) diberi
nilai 5, TS (tidak setuju) diberi nilai 4, N (netral) diberi nilai 3, S

45

(setuju) diberi nilai 2 dan SS (sangat setuju) diberi nilai 1. Hal


tersebut menggunakan kategori positif > 50%, dan negatif
50%.
b) 2 soal untuk mengetahui umur ibu hamil trimester III terhadap
persiapan persalinan dan untuk mengukur umur digunakan soal
dalam berbentuk dichotomy.
c)

1 soal untuk mengetahui pendidikan ibu hamil trimester III terhadap


persiapan persalinan dan untuk mengukur pendidikan digunakan soal
dalam berbentuk dichotomy.

d) 1 soal untuk mengetahui pendapatan ibu hamil trimester III terhadap


persiapan persalinan dan untuk mengukur pendapatan digunakan
soal dalam berbentuk dichotomy.
2. Instrumen Penelitian
a)

Data primer
Data primer dikumpulkan langsung dari responden dengan
cara

menyebarkan

kuesioner

tentang

faktor-faktor

yang

mempengaruhi ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan.


b) Data sekunder
Data sekunder berupa data terkait penelitian yang didapatkan
di Desa Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh
Barat Daya dan literature lainnya.

46

E. Pengolahan dan Analisa data


1. Pengolahan Data
Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut :
a) Editing
Kegiatan memeriksa data-data yang terkumpul apakah sudah terisi
secara sempurna atau belum benar pengisiannya untuk memperbaiki
dan melakukan pengumpulan data.
b) Coding
Memberikan kode ceklist pada jawaban yang benar dan memberikan
tanda silang pada jawaban yang salah.
c) Trasfering
Memindahkan jawaban atau kode jawaban kedalam media tertentu
misalnya master table atau kartu kode.
d) Tabulating
Mengelompokkan data berdasarkan kategori yang telah dibuat
selanjutnya masing-masing dimasukkan kedalam table distribusi
penelitian.
2. Analisa Data
Analisa data akan dilakukan secara univariat dan bivariat
a) Analisa Univariat
Analisa Univariat dilakukan terhadap pada tiap-tiap variabel
dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya

47

menghasilakan

distribusi

dan

presentase

dari

tiap

variabel

(Notoatmodjo, 2005).Menurut Budiarto (2002) data yang telah


dimasukkan kedalam tabel distribusi frekuensi ditentukan presentase
perolehan untuk masing-masing variabel, dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
p

f
100%
n

Keterangan :
P

Presentase

Frekuensi Teramati

Jumlah Sampel

100%

Bilangan Tetap

b) Analisa Bivariat
Analisa ini digunakan untuk menguji hipotesis yang diolah
dengan computer menggunakan rumus SPSS versi 15, untuk
menentukan hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen

melalui

uji

Chi-Square

Tes

(X2),

untuk

melihat

kemungkinan (CI) 0,05 % (Arikunto, 2006), dengan ketentuan bila


nilai P < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan
adanya hubungan antara variabel terkait dengan variabel bebas.
Untuk menentukan nilai P-value Chi-Square Tes (X2) tabel,
memiliki ketentuan sebagai berikut :
(1) Bila Chi-Square Tes (X2) tabel terdiri dari tabel 2 x 2 dijumpai
nilai ekspantasi (E) < 5, maka P-value yang digunakan adalah
nilai yang terdapat pada nilai fisher exact test.

48

(2) Bila Chi-Square Tes (X2) tabel terdiri dari tabel 2 x 2 tidak
dijumpai nilai ekspantasi (E) < 5, maka P-value yang digunakan
adalah nilai yang terdapat pada nilai continuity correction.
(3) Bila Chi-Square Tes (X2) tabel terdiri lebih dari tabel 2 x 2,
contohnya tabel 3 x 2, 3 x 3 dan sebagainya, maka P-value yang
digunakan adalah nilai yang terdapat pada nilai pearson chisquare (Hastono, 2001).

49

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Puskesmas Bineh Krueng berada di Kecamatan Tangan Tangan
Kabupaten Aceh Barat Daya dengan luas Kecamatan 3742 km, tinggi tempat
dengan permukan laut rata rata 15 m, Kecamatan Tangan Tangan
berbatas dengan wilayah sebagai berikut, Sebelah Utara berbatasan dengan
samudra indonesia, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Manggeng,
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Tangan Tangan, Dan Sebelah
Timur berbatasan dengan Kecamatan Suak Setia.
B. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan TanganTangan Kabupaten Aceh Barat Daya, dengan jumlah responden 40 orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuesioner yang berisi
16, sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

1. Analisa Univariat

50

a. Persiapan persalinan
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Persiapan Persalinan Pada Responden
di Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten Aceh Barat Daya
No. Persiapan Persalinan

Frekuensi

Persentase (%)

1 Negatif

22

55

2 Positif

18

45

40

100

Total

Sumber : Data Primer (Tahun 2013)

Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat bahwa dari 40 responden


mayoritas berada pada kategori negatif dalam persiapan persalinan yaitu
sebanyak 22 responden (55 %).
b. Umur
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Umur Pada Responden di Puskesmas
Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten
Aceh Barat Daya
No.

Umur

Frekuensi

Persentase (%)

1 Muda

13

32,5

2 Sedang

17

42,5

2 Tua

10

25

40

100

Total

Sumber : Data Primer (Tahun 2013)

Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa dari 40 responden


mayoritas berada pada kategori umur sedang yaitu sebanyak 17
responden (42,5 %).

51

c. Pendidikan
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Pendidikan Pada Responden di
Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten
Aceh Barat Daya
No.

Pendidikan

Frekuensi

Persentase (%)

1 Dasar

16

40

2 Menengah

14

35

3 Tinggi

10

25

40

100

Total

Sumber : Data Primer (Tahun 2013)

Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa dari 40 responden


mayoritas berada pada kategori pendidikan dasar yaitu sebanyak 16
responden (40 %).
d. Pendapatan
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Pendapatan Pada Responden di
Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten
Aceh Barat Daya
No.

Pendapatan

Frekuensi

Persentase (%)

1 Rendah

28

70

2 Tinggi

12

30

40

100

Total

Sumber : Data Primer (Tahun 2013)

52

Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa dari 40 responden


mayoritas berada pada kategori pendapatan rendah yaitu sebanyak 28
responden (70 %).
2. Analisa Bivariat
a. Pengaruh umur ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan
Tabel 5.5
Pengaruh umur ibu hamil trimester III terhadap persiapan
persalinan di Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten
Aceh Barat Daya
No.

Umur

1 Muda
2 Sedang
3 Tua
Total

Persiapan Persalinan
Negatif
Positif

Total

p_
Value

f
11
4

%
84,6
23,5

f
2
13

%
15,4
76,5

f
13
17

%
100
100

7
22

70

3
18

30

10
40

100

0,002

Sumber : Data Primer (Tahun 2013)


Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa dari 17 responden yang
berada pada kategori umur sedang positif dalam persiapan persalinan
sebanyak 76,%, dari 13 responden yang berada pada katagori umur muda
negatif dalam persiapan persalinan sebanyak 84,6%, dan dari 10
responden yang berada pada katagori umur tua negatif dalam persiapan
persalinan sebanyak 70%.
Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square diperoleh p
value 0,002 yang artinya Ha diterima atau terdapat pengaruh umur ibu
hamil trimester III terhadap persiapan persalinan di Puskesmas Bineh
Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.

53

b. Pengaruh pendidikan ibu hamil trimester III terhadap persiapan


persalinan

Tabel 5.6
Pengaruh pendidikan ibu hamil trimester III terhadap persiapan
persalinan di Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten Aceh Barat Daya
No. Pendidikan

1 Dasar
2 Menengah
3 Tinggi
Total

Persiapan Persalinan
Negatif
Positif
f
11
9
2
22

%
68,8
64,3
20

f
5
5
8

%
31,3
35,7
80

18

Total

p_
Value

f
16
14
10

%
100
100
100

0,036

40

Sumber : Data Primer (Tahun 2013)


Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa dari 16 responden yang
berada pada katagori pendidikan dasar

negatif dalam persiapan

persalinan sebanyak 68,8%, dari 14 responden yang berada pada katagori


pendidikan menengah negatif dalam persiapan persalinan sebanyak
64,3%, dan dari 10 responden yang berada pada katagori pendidikan
tinggi sebanyak 80% positif dalam persiapan persalinan.
Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square diperoleh p
value 0,036 yang artinya Ha diterima atau terdapat pengaruh pendidikan
ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan di Puskesmas Bineh
Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.
c. Pengaruh pendapatan ibu hamil trimester III terhadap persiapan
persalinan

54

Tabel 5.7
Pengaruh pendapatan ibu hamil trimester III terhadap persiapan
persalinan di Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten Aceh Barat Daya
No. Pendapatan

1
2

Rendah
Tinggi
Total

Persiapan Persalinan
Negatif
Positif
f
19
3
22

%
67,9
25

f
9
9
18

%
32,1
75

Total

p_
Value

f
28
12

%
100
100

0,032

40

Sumber : Data Primer (Tahun 2013)


Berdasarkan tabel 5.7 dapat dilihat bahwa dari 28 responden yang
berada pada katagori pendapatan rendah negatif dalam persiapan
persalinan 67,9%, dan dari 12 responden yang berada pada katagori
pendapatan tinggi positif dalam persiapan persalinan sebanyak 75%.
Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square diperoleh p
value 0,032 yang artinya Ha diterima atau terdapat pengaruh pendapatan
ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan di Puskesmas Bineh
Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.
C. Pembahasan
1. Pengaruh umur ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan
Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa dari 17 responden yang
berada pada kategori umur sedang positif dalam persiapan persalinan
sebanyak 76,5%, dari 13 responden yang berada pada katagori umur muda
negatif dalam persiapan persalinan sebanyak 84,6%, dan dari 10 responden
yang berada pada katagori umur tua negatif dalam persiapan persalinan
sebanyak 70%.

55

Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square diperoleh p value


0,002 yang artinya Ha diterima atau terdapat pengaruh umur ibu hamil
trimester III terhadap persiapan persalinan di Puskesmas Bineh Krueng
Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.
Berdasarkan hasil penelitian Khairunnisak (2012), yang berjudul
faktor-faktor yang mempengaruhi persiapan persalinan pada ibu hamil di
wilayah kerja puskesmas Lageun Kecamatan Sampoiniet Kabupaten Aceh
Jaya menunjukkan bahwa ada pengaruh umur terhadap persiapan persalinan
pada ibu hamil (p value 0,021)
Umur adalah umur ibu yang secara garis besar menjadi indikator
dalam kedewasaan dalam setiap pengambilan keputusan yang mengacu
pada setiap pengalamannya. Umur yang cukup dalam mengawali atau
memasuki masa perkawinan dan kehamilan akan membantu seseorang
dalam kematangan dalam menghadapi persoalan atau masalah, dalam hal ini
menghadapi kehamilan dan perubahan selama hamil serta mempersiapan
proses persalinan (Anynom, 2004).
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa umur
sangat berpengaruh terhadap perhatian dalam proses persalinan, dimana
semakin muda umur ibu maka semakin kurang perhatian serta pengalaman
yang dimiliki ibu hamil, karena ketidaksiapan ibu dalam menerima sebuah
kehamilan, selain itu pada umur yang masih muda sistem reproduksi juga
belum matang (Anynom, 2004).

56

Menurut peneliti, umur sangat mempengaruhi kesiapan ibu hamil


dalam persalinan. Karena pada umur yang masih muda, selain sistem
reproduksi yang belum matang keadaan psikologi ibu juga belum
sepenuhnya memiliki naluri untuk menjalani persalinan dan menjadi
seorang ibu. Begitu juga pada umur yang terlalu tua, walaupun sudah
memiliki kesiapan psikologi yang matang namun sistem reproduksi ibu
justru akan rentan terhadap kehamilan. Umur yang baik bagi seorang wanita
untuk masa kehamilan dan proses persalinan adalah 20-30 tahun. Oleh
sebab itu, wanita yang memiliki usia sedang akan lebih siap dalam
menghadapi persalinan. Karena usia sedang lebih memiliki kesiapan yang
matang terhadap persalinan baik fisik maupun psikologi.
2. Pengaruh pendidikan ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan
Berdasarkan tabel 5.6 dapat dilihat bahwa dari 16 responden yang
berada pada katagori pendidikan dasar sebanyak 68,8% negatif dalam
persiapan persalinan, dari 14 responden yang berada pada katagori
pendidikan menengah sebanyak 64,3% negatif dalam persiapan persalinan,
dan dari 10 responden yang berada pada katagori pendidikan tinggi
sebanyak 80% positif dalam persiapan persalinan,
Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square diperoleh p value
0,036 yang artinya Ha diterima atau terdapat pengaruh pendidikan ibu
hamil trimester III terhadap persiapan persalinan di Puskesmas Bineh
Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.

57

Berdasarkan hasil penelitian Khairunnisak (2012), yang berjudul


faktor-faktor yang mempengaruhi persiapan persalinan pada ibu hamil di
wilayah kerja puskesmas Lageun Kecamatan Sampoiniet Kabupaten Aceh
Jaya menunjukkan bahwa ada pendidikan terhadap persiapan persalinan
pada ibu hamil (p value 0,017)
Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan
dasar (SD, MIN, Sederajat), pendidikan menengah (SMP, MTSN,
Sederajat), dan pendidikan tinggi (Diploma, Sarjana, Magister, dll) yang
diselenggarakan perguruan tinggi (Sisdiknas, 2003).
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang disampaikan oleh
Notoatmodjo (2003), bahwa dari kepentingan keluarga pendidikan itu
sendiri sangat diperlukan. Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi lebih
tanggap adanya persalinan yang bermasalah atau terjadi inseden selama
proses persalinan terjadi dan keluarga dapat segera mengambil tindakan
secepatya. Tingkat pendidikan turut menentukan rendah tidaknya seseorang
menyerap dan memakai pengetahuan, demikian halnya dengan persiapan
menghadapi persalinan yang mereka peroleh.
Menurut peneliti, ibu hamil yang memiliki jenjang pendidikan tinggi
akan lebih siap dalam persalinan, karena seseorang yang memiliki
pendidikan tinggi akan lebih tanggap terhadap hal yang terjadi. Begitu juga
sebaliknya, seorang ibu yang memiliki pendidikan rendah, akan kurang siap
dalam menghadapi persalinan, selain karena kurang siap mengahadapi
insiden-insiden yang mungkin terjadi.

58

3. Pengaruh pendapatan ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan


Berdasarkan tabel 5.7 dapat dilihat bahwa dari 28 responden yang
memiliki pendapatan rendah sebanyak 67,9% negatif dalam persiapan
persalinan, dan

dari 12 responden yang memiliki pendapatan tinggi

sebanyak 75% positif dalam persiapan persalinan.


Hasil analisa statistik menggunakan uji chi-square diperoleh p value
0,032 yang artinya Ha diterima atau terdapat pengaruh pendapatan ibu
hamil trimester III terhadap persiapan persalinan di Puskesmas Bineh
Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat Daya.
Berdasarkan hasil penelitian Nurhayati yang berjudul hubungan
dukungan

keluarga,

pendapatan,

dan

informasi

dengan

kesiapan

mengahadapi persalinan di wilayah kerja puskesmas pasi raya kecamatan


Teunom tahun 2011 menyatakan bahwa ada hubungan pendapatan dengan
kesiapan menghadapi persalinan (p value 0,008).
Pendapatan adalah penghasilan yang didapatkan seseorang dalam
sebulan yang kemudian dibagikan berdasarkan jumlah anggota keluarga
(Badan Pusat Statistik, 2004).
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang disampaikan oleh
Asmiadi (2007) bahwa seseorang yang berasal dari keluarga yang
berpenghasilan tinggi cenderung lebih mudah dalam memperoleh
pelayanan dan informasi tentang kesehatan, dibandingkan dengan
seseorang yang berasal dari keluarga dengan penghasilan rendah.
Keluarga dengan penghasilan tinggi cederung mendapatkan kesempatan

59

yang tinggi untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi tentang arti


kesehatan dan manfaat pelayanan kesehatan.
Menurut peneliti, dengan penghasilan yang cukup, ibu hamil
memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan fasilitas yang lebih baik
dalam persalinan serta mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk
proses persalinan dan menyambut kelahiran sang bayi dengan lebih
maksimal. Berbeda dengan ibu yang memiliki pendapatan rendah, ibu
dengan pendapatan rendah walaupun sudah tahu apa-apa saja yang harus
dipersiapkan untuk proses persalinan, namun karena keterbatasan
ekonomi, maka persiapan yang dilakukanpun akan semakin minim. Oleh
karena itu pendapatan yang cukup sangat diharapkan bagi setiap
keluarga, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga untuk
persiapan persiapan yang diperlukan di masa yang akan mendatang
khususnya untuk persalinan karena pendapatan seseorang sangat
mempengaruhi persiapan persalinan dalam sebuah keluarga.

60

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian dan uji statistik tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi ibu hamil trimester III terhadap persiapan persalinan di
Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh Barat
Daya, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Ada pengaruh umur ibu hamil Trimester III terhadap persiapan persalinan di
Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan Kabupaten Aceh
Barat Daya 2013
2. Ada pengaruh pendidikan ibu hamil Trimester III terhadap persiapan
persalinan di Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten Aceh Barat Daya 2013
3. Ada pengaruh pendapatan ibu hamil Trimester III terhadap persiapan
persalinan di Puskesmas Bineh Krueng Kecamatan Tangan-Tangan
Kabupaten Aceh Barat Daya 2013

B. Saran

61

1. Bagi Peneliti
Diharapkan dengan adanya riset kebidanan mengenai faktor-faktor
yang mempengaruhi ibu hamil trimester III tentang persiapan persalinan
dapat menambah pengetahuan peneliti untuk penelitian selanjutnya.
2. Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan agar hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
informasi bagi tenaga kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas
pelayanan melalui pemberian penyuluhan dan konseling mengenai
persiapan persalinan pada saat antenatal care (ANC).
3. Institusi Pendidikan
Diharapkan bagi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan UBudiyah
khususnya Program Studi D-III Kebidanan, agar hasil penelitian ini dapat
dimanfaatkan untuk menambah khasanah ilmu kesehatan terutama tentang
persiapan

persalinan

serta

dapat

dijadikan

meningkatkan pengetahuan mahasiswi kebidanan.

bahan

bacaan

untuk