Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR SENYAWA

ANORGANIK
Sintesis Senyawa Koordinasi Na3(Cr(C2O4).3 H2O

Penyusun :
RATIH COMALA SARY
1301848
Jumat, 14 November 2014
Dosen :1.Dra. Hj Bayharti M.sc
2.Miftahul khair, S. Si M.Sc
3.Eka yusmaita,S. Pd, M. Pd

Asisten : 1. Rian Setiawan


2. Gusfaria palendra

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2014

SINTESIS SENYAWA KOORDINASI Na3(Cr(C2O4).3 H2O


A. TUJUAN
1. Mengetahui pembentukan senyawa koordinasi
2. Mengkarakterisasi senyawa koordinasi (penentuan titik leleh, kelarutan, dan
spektrumnya) .
B. WAKTU PELAKSANAAN
HARI / TANGGAL
: JUMAT / 14 NOVEMBER 2104
WAKTU
: 09.40 12.00 WIB
TEMPAT
: LABORATORIUM KIMIA AN ORGANIK FMIPA UNP
C. DASAR TEORI
Dalam ilmu kimia, kompleks atau senyawa koordinasi merujuk pada molekul atau
dentitas yang terbentuk dari penggabungan ligan dan ion logam. Pembentukan senyawa
kompleks memerlukan dua jenis spesi :
1.

Ion atau molekul yang sekurang kurangnya mempunyai satu pasang elektron bebas yang

memadai untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi.


2. Ion logam atau atom yang mempunyai daya tarik memadai terhadap elektron untuk
membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan gugus yang diikatnya.
Ion logam atau atom dalam senyawa kompleks dinamakan ion logam pusat atau atom
pusat, gugus yang diikat dinamakan ligan. Ligan dapat berupa ion atau molekul netral. Dalam
ligan, atom yang menempel langsung pada logam melalui ikatan kovalen koordinasi dinamakan
atom donor. Spesi koordinasi biasanya kumpulan atom dalam kurung persegi di dalam rumus
meliputi ion logam pusat plus ligan yang terikat. Bilangan koordinasi logam pusat adalah
jumlah pasangan elektron yang diterima atom pusat.
1.

Bilangan koordinasi 2, salah satu bilangan koordinasi 2 yang terkenal adalah


[Ag(NH3)2]+ , ion yang terbentuk bila senyawaan senyawaan perak diolah dengan
amonia.

2.

Bilangan koordinasi 3, contoh bilangan koordinasi 3 sangat langka sekali. Satu


satunya yang sederhana untuk logam transisi yang dikenal orang adalah anion [HgI3]- .

3.

Bilangan koordinasi 4, empat merupakan bilangan koordinasi yang umum dari


beberapa atom dan ion logam transisi. Contohnya adalah Li(H2O)4+ , BeF4- ,BF44- , dan
sebagainya.

4.

Bilangan koordinasi 5, contoh bilangan koordinasi 5 adalah langka, tetapi tidak begitu
luar biasa seperti bilangan koordinasi 3. Contoh sederhana adalah besi pentakarbonil
(Fe(CO)5).

5.

Bilangan koordinasi 6, bilangan koordinasi ini sangat penting karena hampir semua
kation membentuk kompleks koordinasi 6.

6.

Bilangan koordinasi yang lebih tinggi, bilangan koordinasi 7, 8, dan 9 tidak sering
ditemui untuk beberapa kation yang lebih besar. Kompleks dengan bilangan koordinasi
yang lebih tinggi, merupakan ciri khas dari segi stereokimia tidak kaku. (Tim Kimia An
Organik,2014)

JENIS LIGAN :
Kebanyakan ligan adalah anion atau molekul netral yang merupakan donor elektron.
Beberapa yang umum adalah F- , Cl- , Br- , CN- , NH3 , H2O, CH3OH, dan OH- . Ligan seperti ini,
bila menyumbangkan sepasang elektronnya kepada sebuah atom logam, disebut ligan
monodentat (ligan bergigi satu).
Ligan yang mengandung dua atau lebih atom, yang masing masing secara serempak
membentuk ikatan dua donor elektron kepada ion logam yang sama, disebut ligan polidentat.
Ligan ini juga disebut ligan khelat (dari bahasa Latin untuk kuku atau cakar). Karena ligan ini
tampaknya mencengkeram kation di antara dua atau lebih atom donor. Yang termasuk ligan ini
adalah ligan tri , kuadri , penta , dan heksadentat. Contoh dari ligan tridentat adalah dietilen
triamin.

Selain itu ada pula yang disebut ligan bidentat, ligan ini yang paling terkenal di antara
ligan polidentat. Ligan bidentat yang netral termasuk diantaranya anion diamin, diofsin, dieter,
dan -ketoenolat, dan yang paling terkenal adalah etilendiamin, difos, dan glim.
PEMBUATAN DAN REAKSI SENYAWA KOMPLEKS :
Senyawa senyawa kompleks dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1.

Kompleks Werner, yaitu kompleks yang tidak berisi ikatan logam karbon dan kompleks

sianida.
2.

Kompleks logam karbonil atau senyawa organometalik, yaitu kompleks yang paling sedikit

berisi satu ikatan karbon.


Senyawa senyawa kompleks golongan (2) tidak mempunyai sifat garam seperti
golongan (1) dan biasanya bersifat kovalen. Zat ini umumnya larut dalam pelarut pelarut non
polar, mempunyai titik lebur dan titik didih rendah. Untuk membuat senyawa senyawa
kompleks, pertama harus diingat bahwa hasilnya harus cukup banyak, kemudian harus ada cara
yang baik untuk mengisolasi hasil tersebut.
Cara cara isolasi untuk golongan (1) antara lain :
1.

Penguapan pelarut dan pendinginan larutan yang pekat dalam campuran pendingin es

garam. Kristalisasi dapat dipercepat dengan penambahan sedikit kristal senyawa yang
bersangkutan dan dengan mengggores dinding bejana bagian dalam.
2.

Penambahan pelarut yang bercampur dengan pelarut semula, tetapi tidak melarutkan zat

yang terlarut. Pendinginan, penambahan kristal zat terlarut dan penggoresan dinding bejana
bagian dalam dapat mempercepat kristalisasi.
3.

Bila kompleksnya berupa kation ke dalam larutan dapat ditambahkan anion yang dapat

menyebabkan terjadinya endapan. Demikian pula bila kompleksnya berupa anion, dapat
ditambahkan ion logam yang menyebabkan terjadinya endapan.
Senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung paling tidak satu ion kompleks. Ion
kompleks terdiri dari satu atom pusat(central metal cation)berupa logam transisi ataupun logam
pada golongan utama, yang mengikat anion atau molekul netral yang disebut ligan (ligands).
Agar senyawa kom-pleks dapat bermuatan netral, maka ion kompleks dari senyawa tersebut,

akan bergabung dengan ion lain yang disebut counter ion. Jika ion kompleks bermu-atan positif,
maka counter ion pasti akan bermuatan negative dan sebaliknya.
Macam-macam ligan:
1.

Monodentat: menyumbangkan satu pasangan electron;

2.

Bidentat: menyumbangkan dua pasangan electron; dan

3.

Polidentat: menyumbangkan lebih dari dua pasang electron.(Efendi,2008)

WARNA SENYAWA KOMPLEKS :


Hampi semua senyawa senyawa kompleks mempunyai warna warna tertentu, karena
zat ini menyerap sinar di daerah tampak atau visible region. Sebab lebih lanjut ialah karena
energi sinar di daerah tampak cocok untuk promosi elektron yang ada di orbital d, dari energi
rendah ke energi tinggi. Besarnya energi untuk promosi, yaitu , tergantung dari ion pusatnya
dan tergantung dari jenis ligan. Karena itu, senyawa kompleks mempunyai warna berbeda
beda, misalnya [Ti(H2O)6]3+ berwarna ungu sedang [Cu(H2O)6]2+ berwarna biru muda. Untuk
suatu ion pusat warnanya berbeda bila ligannya berbeda, misalnya [Cu(H 2O)6]2+ berwarna biru
muda, tetapi [Cu(NH3)4(H2O)]2+ berwarna biru tua.
Bila zat menyerap warna atau panjang gelombang tertentu dari sinar tampak, zat tersebut
akan meneruskan warna komplemennya, yang nampak pada mata kita sebagai warna. Bila zat
menyerap semua warna dari sinar tampak, zat tersebut berwarna hitam. Sebaliknya bila zat sama
sekali tidak menyerap warna dari sinar tampak, zat tersebut berwarna putih.
Untuk suatu ion pusat, penggantian ligan dari ligan dengan medan lemah ke ligan dengan
medan kuat, akan memberikan yang semakin besar. Sinar yang diserap panjang gelombangnya
semakin pendek.
Di bawah ini dituliskan deret spektrokimia, yaitu daftar daftar ligan yang disusun
berdasarkan perbedaan energi yang dihasilkan dari yang kecil ke yang besar.
I < Br < S2 < SCN < Cl < NO3 < N3 < F < OH < C2O42 < H2O < NCS < CH3CN < py <
NH3 < en < 2,2-bipiridina < phen < NO2 < PPh3 < CN < CO. (Atkins,2010)
GEOMETRI SENYAWA KOMPLEKS :

Geometri senyawa kompleks bergantung pada bilangan koordinasi (jumlah ikatan


koordinasi) dan tipe hibridisasi ion pusatnya. Senyawa kompleks dengan bilangan koordinasi 2
berbentuk linier, sedangkan yang mempunyai bilangan koordinasi 6 berbentuk oktahedron.
Adapun senyawa kompleks yang mempunyai bilangan koordinasi 4 dapat berbentuk tetrahedron
dapat pula berbentuk segiempat planar. Yang berbentuk tetrahedron mengalami hibridisasi sp 3 ,
sedangkan yang berbentuk segiempat planar mengalami hibridisasi dsp2 .
Ikatan hibrida
d2sp3
sp3d2
sp3
dsp3

Bentuk Geometri
Oktahedral
Oktahedral
Tetrahedral
Segiempat Planar

Contoh
[Fe(CN)6]3[FeF6]3[Zn(NH3)4]2+
[Ni(CN)6]2-

KEGUNAAN SENYAWA KOMPLEKS :


Banyak senyawa kompleks yang digunakan didasarkan pada warna, kelarutan atau
perubahan perilaku kimiawi dari ion logam dan ligan ketika senyawa tersebut membentuk
kompleks.
Klorofil yang merupakan pigmen hijau di dalam tanaman adalah senyawa kompleks yang
mengandung magnesium. Tanaman berwarna hijau disebabkan klorofil menyerap cahaya kuning
dan memantulkan warna komplemennya yaitu hijau. Energi yang diserap dari matahari
digunakan untuk melakukan fotosintesis. Senyawa kompleks yang dipakai sebagai zat warna lain
misalnya kompleks tembaga (II) Ftalosianin biru. Kompleks ini digunakan sebagai pigmen atau
pencelup kain dalam industri tekstil pada tinta biru, blue jeans, dan cat biru tertentu.
Zat pengompleks tertentu sering digunakan untuk melunakkan air sadah sebab zat
tersebut dapat mengikat ion ion seperti Ca 2+ , Mg2+ , dan Fe2+ yang menjadikan air bersifat
sadah. Zat pengompleks yang dapat mengikat ion ion logam juga digunakan sebagai obat
obatan. Ligan polidentat seperti enterobactin yang diisolasi dari bakteri tertentu digunakan unttuk
mengendalikan kadar besi dalam darah pasien yang memiliki penyakit seperti anemia Cooley.
Obat anti kanker plationol seperti cis [Pt(NH3)2Cl2] adalah senyawa kompleks platinum (II),
merupakan zat aktif biologi dan dipercaya dapat memutuskan untai DNA, sehingga suka campur
tangan pada pembelahan sel.

FTIR

Cara membaca FTIR (FOURIER TRANSFORM INFRA RED) :


1. Tentukan sumbu X dan Y-sumbu dari spektrum. X-sumbu dari spektrum IR diberi label
sebagai "bilangan gelombang" dan jumlahnya berkisar dari 400 di paling kanan untuk
4.000 di paling kiri. X-sumbu menyediakan nomor penyerapan. Sumbu Y diberi label
sebagai "transmitansi Persen" dan jumlahnya berkisar dari 0 pada bagian bawah dan 100
di atas.
2. Tentukan karakteristik puncak dalam spektrum IR. Semua spektrum inframerah
mengandung banyak puncak. Selanjutnya melihat data daerah gugus fungsi yang
diperlukan untuk membaca spektrum.
3. Tentukan daerah spektrum di mana puncak karakteristik ada. Spektrum IR dapat
dipisahkan menjadi empat wilayah. Rentang wilayah pertama dari 4.000 ke 2.500.
Rentang wilayah kedua dari 2.500 sampai 2.000. Ketiga wilayah berkisar dari 2.000
sampai 1.500. Rentang wilayah keempat dari 1.500 ke 400.
4. Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah pertama. Jika spektrum memiliki
karakteristik puncak di kisaran 4.000 hingga 2.500, puncak sesuai dengan penyerapan
yang disebabkan oleh NH, CH dan obligasi OH tunggal.
5. Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah kedua. Jika spektrum memiliki
karakteristik puncak di kisaran 2.500 hingga 2.000, puncak sesuai dengan penyerapan
yang disebabkan oleh ikatan rangkap tiga.

6. Tentukan kelompok fungsional diserap di wilayah ketiga. Jika spektrum memiliki


karakteristik puncak di kisaran 2.000 sampai 1.500, puncak sesuai dengan penyerapan
yang disebabkan oleh ikatan rangkap seperti C = O, C = N dan C = C.
7.

Bandingkan puncak di wilayah keempat ke puncak di wilayah keempat spektrum IR lain.


Yang keempat dikenal sebagai daerah sidik jari dari spektrum IR dan mengandung
sejumlah besar puncak serapan yang account untuk berbagai macam ikatan tunggal. Jika
semua puncak dalam spektrum IR, termasuk yang di wilayah keempat, adalah identik
dengan puncak spektrum lain, maka Anda dapat yakin bahwa dua senyawa adalah
identik.(House,2008)

D. ALAT dan BAHAN


ALAT :
1. Penyaring vakum
2. Botol dengan mulut lebar
3. Aspirator

4. Sumbat Karet
5. Gelas Kimia 100 ml dan 250 ml
6. Batang Pengaduk
7. Statif
8. Pembakar Bunsen
9. Termometer
10. Kertas saring
11. Glass whool
BAHAN :
1. Kaluim Bikromat
2. Asam Oksalat
3. Aquades
4. Kalium Oksalat Monohidrat
5. Ethanol 50 %
6. Ethanol 95 %
E. CARA KERJA
1. Eksperimen Na3(Cr(C2O4).3 H2O
a. Tambahkan perlahan lahan 3,6 gram Natrium Bikromat ke dalam suspense 10 gram asam
oksalat dalam 20 mL H2O dalam gelas piala 250 mL.
b. Campuran yang berwarna orange akan terasa panas hingga hampir mendidih seiring
dengan timbulnya gas.
c. Bila reaksi telah selesai kira kira 15 menit lalu tambahkan 4,2 gram Di Sodium Oksalat
d.
e.
f.
g.

Oksalat Monohidrat ke dalam gelas piala dan panaskan sampai mendidih selama 10 menit
Biarkan gelas piala dan isinya mendingin pada suhu kamar
Tambahkan 10 mL ethanol 95% sambil di aduk dalam gelas piala.
Selanjutnya dinginkan gelas piala dan isinya dengan es sampai timbul Kristal.
Setelah pendinginan dengan es selama 15 20 menit kumpulkan Kristal dengan penyarig

vakum
h. Cuci Kristal dalam saringan dengan 3 porsi 10 mL ethanol 50 % dilanjutkan dengan 20
mL ethanol 95 % dan keringkan Kristal di udara terbuka

i. Timbang Kristal yang telah di keringkan dan simpan dalam botol film
j. Hitung secara teoritis produk yang harusnya di dapatkan dan temukan persentase hasil
(rendemen). Reaksi Cr (III) ini lambat dan hasil yang di dapatkan akan rendah jika
bekeerja terlalu cepat.
% Hasil = 100 x Hasil Yang di peroleh dalam gram / Hasil teoritis dalam gram
2. Penentuan titik leleh
a. Pipa kapiler yang terbuka kedua ujungnya , di panaskan sehingga salah ssatu ujungnya
buntu
b. Gerus sampel hingga jadi bubuk lalu masukkan sampel padat ke dalam pipa kapiler
hingga mencapai tinggi sekitar 0,5 cm . usahakan sampel mencapai bagian bawah pipa
kapiler yang tertutup atau buntu.
c. Masukkan pipa kapiler kedalam alat penentu titik leleh
d. Pastikan padatan dalam pipa bias teramati lewat kaca pembesar alat penentu titik leleh
yang tersedia
e. Nyalakan alat dan mulai mengamati kenaikan suhu lewat thermometer
f. Catatlah suhu jika padatan mulai meleleh dan catat suhu sekali lagi saat seluruh padatan
meleleh
3. Penentuan kelarutan
a. Isi tabung reaksi dengan air pada tabung 1 dan kloroform pada tabung 2
b. Tambahkan sedikit senyawa kompleks Na3(Cr(C2O4).3 H2O ke dalam masing masing
tabung di kocok campuran tersebut dalam setiap tabung
c. Di amati apakah senyawa Na3(Cr(C2O4).3 H2O larut dalam tabung 1 maupun tabung 2.
F. TABEL PENGAMATAN
Perlakuan
Sintesis senyawa Na3(Cr(C2O4).3 H2O
1. 10 gram Asam Oksalat dalam 20 mL
H2O
2. Ditambahkan 3,6 gram Natrium
Bikromat
3. Didiamkan selama 15 menit dalam
fume hood
4. Setelah di tambah 4,2 gram disodium

Keterangan
Membentuk suspensi dan ada endapan di daar
gelas kimia.
Membentuk warna orange pekat menghasilkan
gelembung gas serta terasa panas
Larutan berwanra hitam
Larutan berwarna keunguan
Membentuk warna kehijauan pekat

Oksalat Monohidrat
5. Di panaskan sampai mendidih dan
langsung didiamkan
6. Pada suhu kamar ditambahkan 10 ml
etanol 95 %
7. Didinginkan dalam bongkahan es
selama 20 menit
8. Larutan tersebut di keluarkkan dan
dicuci dengan 10 mL Ethanol 50 % dan
20 mL ethanol 95%

Larutan tetap berwarna kehijauan pekat


Larutan menjadi dingin, namun belum
membeku semuanya
Pencucian dengan ethanol bertujuan agar
Kristal tidak mengandung asam oksalat sebagai
pengotornya
Filtrat : berwarna hijau pekat
Kristal terbentuk berwarna ungu dengan berat
8,2 gram

9. Di saring
10. Di diamkan beberapa hari
Penentuan Kelarutan
1. Tabung 1 di isi dengan 5 ml Aquades

Kristal tersebut larut sempurna dalam aquades

dan beberapa bongkahan Kristal


Na3(Cr(C2O4).3 H2O
Kristal tersebut tidak larut dan mnegendap di
Tabung 2 di isi dengan 5 mL Kloroform
dasar tabung reaksi.
dan beberapa bongkahan Kristal
Na3(Cr(C2O4).3 H2O

G. PERHITUNGAN
Pembuatan Na3[Cr(C2O4)3]3H2O
Massa Na2CrO7
= 3,6 gram
Mr = 262 gram / mol
Massa H2C2O4.2H2O = 10 gram
Mr = 126 gram / mol
Massa Na2C2O4.H2O = 4,2 gram
Mr = 152 gram / mol
Mr Na3[Cr(C2O4)3]3H2O
= 351 gram / mol
Reaksi yang terjadi pada sintesis Na3[Cr(C2O4)]3H2O adalah :
Na2Cr2O7 + 7H2C2O4.2H2O + 2 K2 C2O4

2Na3(Cr(C2O4).3 H2O + 6CO2 + 17H2O

Awal 3,6 g : 262 g/mol 10 g : 126 g/mol 4,2 g : 152 g/ mol


0,0137 mol 0,0794 mol 0,0276 mol
- - Reaksi 0,0113 mol 0,0794 mol 0,0227 mol

0,0227 mol

Akhir 0,0024 mol

0,0227 mol

0,0049 mol

mol Na3[Cr(C2O4)3]3H2O

= massa : Mr

0,0227 mol

= massa : 351 gram/mol

massa

= 0,0227 mol x 351 gram/mol

massa

= 7,9677 gram
= 8 gram

Jadi, berat teoritis dari kristal Na3[Cr(C2O4)3]3H2O adalah 8 gram.


Dari hasil percobaan didapatkan bahwa berat kristal adalah
= 8,2 gram 1,6 gram
= 6,6 gram
Sehingga % rendemen hasilnya = berat sampel / berat teoritis x 100
= 6,6 gram / 8 gram x 100 %
= 82,5 %
H. PEMBAHASAN
Percobaan ini dilakukan untuk mensintesis senyawa kompleks Na3(Cr(C2O4).3 H2O
berdasarkan perubahan warna senyawa yang terbentuk serta mengkarakterisasi Kristal tersebut
seperti kelarutannya dan gugus fungsi yang terkandung di dalamnya menggunakan alat FTIR. .
Senyawa kompleks adalah garam yang terdiri dari kation dan anion.Senyawa kompleks juga
merupakan penggabungan 2 atau lebih senyawa yaitu logam dan ligan.Logam bertindak sebagai
atom pusat yang menyediakan orbital kosong sehingga biasa dinamakan dengan asam
lewis.Sedangkan ligan adalah atom atau molekul penggiling atom pusat yang menyediakan
sejumlah pasangan elektron bebas dan biasa dinamakan basa lewis.Ikatan yang terbentuk pada
senyawa kompleks adalah ikatan kovalen koordinasi.
Pada sintesis Na3(Cr(C2O4).3 H2O di bentuk dari senyawa Natrium Bikromat sebanyak
3,6 gram,Asam Oksalat sebanyak 10 gram, serta Disodium Oksalat Monohidrat sebanyak 4,2
gram .
Sehingga reaksi yang terjadi yaitu :
Na2Cr2O7 + 7H2C2O4.2H2O + 2 K2 C2O4

2Na3(Cr(C2O4).3 H2O + 6CO2 + 17H2O

Pada sintesis nya yang terbentuk adalah senyawa kompleks Na3(Cr(C2O4).3 H2O yang
berwarna hijau pekat saat di dinginkan di dalam bongkahan es, yang sebelumnya sudah di
tambahkan ethanol 95% yang bertujuan untuk mengikat asam oksalat yang terkandung dalam
senyawa kompleks tersebut. Setelah didinginkan Kristal yang terbentuk di cuci dengan ethanol
yang berfungsi untuk menghilangkan sisa asam oksalat yang terkandung dalam kristal.
Penggunaan ethanol di karenakan asam oksalat tidak dapat larut sempurna dalam air sehingga di
gunakan ethanol untuk membersihkannya.

Setelah Kristal didiamkan beberapa hari terbentuk bongkahan bongkahan Kristal di atas
kertas saring berwarna ungu. Warna ungu ini berasal dari ion kromat yang terkandung dalam
natrium bikromat. Ketika dilakukan penimbangan Kristal tersebut di dapat berat Kristal yaitu
sebesar 8,2 gram. Sehingga rendemennya 82,5 %.
Ketika Kristal tersebut diuji kelarutan nya dengan air dan kloroform. Kristal tersebut
larut sempurna dalam aquades, namun pada kloroform Kristal tersebut mengendap di dasar
tabung reaksi.
Hal ini dapat menjelaskan kepolaran senyawa kompleks Na3(Cr(C2O4).3 H2O yaitu
bersifat polar karena larut sempurna dalam air yang merupakan senyawa polar. Sehingga dalam
kloroform yang merupakan senyawwa kovalen non polar Kristal tersebut mengendap di dasar
tabung reaksi.
Kemudian dalam menentukan titik leleh Kristal tersebut tidak bisa di lakukan di
laboratorium ketika pratikum di karenakan titik leleh dari senyawa ini yang sangat tinggi
melebihi suhu 300 sehingga melting point yang digunakan untuk menentukan titik leleh tidak
bisa di gunakan .
Selanjutnya untuk menentukan gugus fungsi senyawa kompleks Na3(Cr(C2O4).3 H2O di
gunakan alat FTIR yang memiliki kepanjangan FOURIER TRANSFORM INFRA RED.
Tabel gugus fungsi penyusun senyawa kompleks tersebut yaitu :

Ikatan
1. N-H
2. C C

Tipe Senyawa
Amina, Amida
Alkuna

Daerah Frekuensi
3389,99 cm-1 84,55 % T
2102,1 cm -1 97,92% T
2180,19 cm-1 94,82% T
2198, 32 cm-1 95,08% T
2166,36 cm-1 98,20 % T
1707,51 cm-1 64,45 % T
1668,92 cm-1 46,31 % T
1402,77cm -1 53,56%T
1316,52 cm-1 72,97 % T

3. C = O
4. C = C
5. C - H

Aldehid, Keton, Asam Karboksilat, Ester


Alkena
Alkana

6. C - O

Alkohol, Eter,Asam Karboksilat, Ester

1258, 37 cm -1 61,92 % T

7. C H
8. C - H

Cincin Aromatik

803, 96 cm -1 69,7 % T
901,97 cm-1 82,06 % T
773,23 cm-1 77,59 % T

Namun dari analisis FTIR tersebut ada dua gugus fungsi yang tidak terdapat dalam tabel
daftar gugus fungsi dengan frekuensi 1983,06 cm-1 98,11 %T dan 2050,87 cm-1 98,29 %T yang
merupakakn zat pengotor yang masih terkandung di dalam kristal senyawa kompleks tersebut.

H. KESIMPULAN
Senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung paling tidak satu ion
kompleks atau penggabung dua atau lebih senyawa logam dan ligan.
Ligan adalah molekul sederhana yang dalam senyawa kompleks bertindak sebagai
donor pasangan elektron.
Kristal Na3[Cr(C2O4)3].3H2O berwarna hitam kilat.
Dari percobaan didapatkan berat kristal 6,6 gram sedangkan berat teoritisnya 8 gram
sehingga % rendemennya 8,2 %
Kristanya Na3[Cr(C2O4)3].3H2O akan larut dalam pelarut polar (air) dan tidak

larut dalam pelarut non-polar (kloroform)

I. JAWABAN PERTANYAAN

1. Apa yang dimaksud dengan asam lewis dan basa lewis?


Asam lewis : Penerimaan pasangan elektron atau molekul yang punya orbital
kosong.
Basa lewis
pasangan

: Pendonor pasangan elektron atau molekul yang mempunyai

elektron bebas.

2. Apa yang dimaksud dengan ligan dan awan koordinasi (coodination sphere)?
Ligan : Molekul netral yang mempunyai pasangan elektron bebas.
Awan koordinasi : logam dan ligan yang berikatan koordinasi dibatasi oleh dua
kurung siku.
3. Apa yang dimaksud dengan senyawa koordinasi dan berilah contoh?
Senyawa koordinasi: Senyawa yang terbentuk dari sebuah atom pusat yang
dikelilingi dengan rapat oleh beberapa anion atau molekul netral yang terikat pada atom
pusat melalui ikatan kovalen koordinasi dan memiliki struktur tertentu.
Contoh: Hemoglobin,vitamin B12,klorofil,dan Hexaaquanikel (II).

KEPUSTAKAAN

(Tim Kimia An Organik,2014, Penuntun Pratikum Senyawa An Organik, FMIPA :UNP)


(Effendy. (2008). Teori VSEPR, Kepolaran, dan Gaya Antarmolekul. Malang: Bayumedia
Publishing)
(Shriver dan Atkins. (2010). Inorganic Chemistry Fifth Edition. Oxford University Press: New
York).
(House, J. E. (2008). Inorganic Chemistry. USA: Academic Press)