Anda di halaman 1dari 14

Anggota Kelompok 1 :

1. Novita Sari
2. Odilia Deka Yurinda
3. Rofifah
4. Triana Novita Salim
TIPE DAN FUNCTION MAKEUP COSMETICS
Ada dua tipe dan function dari makeup cosmetics, yaitu :
a. Base makeup
Face powder dan foundation
b. Point makeup
Lipstik, ronge, preparat mata (eye liner, mascara, eye shadow, eye brow), pewarna
kuku.
A. Point makeup (Lipstick)
Adapun persyaratan untuk lipstik adalah sebagai berikut (Tranggono dan Latifah,
2007):
1. Melapisi bibir secara mencukupi
2. Dapat bertahan di bibir selama mungkin
3. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket
4. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir
5. Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya
6. Memberikan warna yang merata pada bibir
7.

Penampilannya harus menarik, baik warna maupun bentuknya

8. Harus tidak toksik dan tidak berbahaya secara dermatologis.


9. Membuat bibir lembut.
10. Kelihatan berkilau dan lembut.
11. Stabil secara kimia dan fisika.

12. Mudah digunakan dan dihilangkan.


13. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak bopeng atau berbintik-bintik,
atau memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik.
14. Harus cukup keras untuk dibentuk ke dalam bentuk batangan,cukup lembut untuk
meleleh dengan cepat jika bersentuhan dengan bibir dan harus memiliki bentuk yang
tidak menetes/ keluar ke dalam tas tangan di bawah berbagai kondisi yang biasa
ditemukan.
Contoh Formulasi :
Bees Wax

10%

Carnauba Wax

8%

Honey

5%

Cetyl Alkohol

5%

Castor Oil

65%

Isopropyl Myristate

5%

Evaluasi sifat fisik :


a. Melting point
50 mg sampel lipstik dimasukkan ke dalam pipa kapiler, dinginkan dalam es selama
dua jam dan pasang termometer. Masukkan dalam beker glass yang berisi air lalu
panaskan sambil diaduk dengan stirrer. Amati gerakan sampel yang terjadi, kemudian
catat pada suhu berapa sampel mulai meleleh dan ini dikatakan sebagai titik leleh.
b. Uji lakes dan pengisi
Timbang 0,2-0,3 g sampel,panaskan dengan trikloretilen dalam beker ditutup gelas
arloji. Saring dengan Krus Gooch (tertara), cuci dengan trikloretilen, keringkan endapan
pada suhu 105 oC ad bobot konstan.
c. Softening point
Masukkan sampel lipstik dalam cincin alumunium. Pereskan masa berlebih pada
bagian atas dan bawah dengan pisau yang tajam, sehingga diperoleh lipstik berbentuk

tablet. Pindahkan dalam pendingin (6C) selama 10 menit. Keluarkan sampel dari
pendingin lalu pasangkan pada bola baja secara perlahan-lahan. Masukkan dalam beker
glass yang berisi air, panaskan sambil dilakukan pengadukan. Kontrol suhu dengan
termometer. Ketika sampel lepas dari bola baja dan jatuh kedasar beker maka itu dicatat
sebagai drajat kelembutan.
d. Stabilitas
Lipstik ditempatkan pada suhu 4C untuk diuji kestabililannya, 20-25C, 30-40C dan
diamati pengaruhnya seperti kelelehan, daya lekatnya.
e. Permeasi
Membran bibir sapi segar dicuci untuk menghilangkan material dan jaringan yang
melekat, difusi sel pada tempat yang sama, dan 50 mg masa lipstik diterapkan pada
membran. Stirrer magnetik ini (600 rpm), fase yang didapatkan dibuat isotonik dengan
dapat fosfat pH 6,4. Suhu eksperimen dijaga 32C dengan suhu sirkulasi air di dalam sel.
Sampling dilakukan dengan interval 1 jam dan dianalisis di bawah UV 220 nm selama 8
jam.
f. Standarisasi
Kurva kalibrasi obat dibuat dengan menggunakan spektrofotometri UV pada dapat
fosfat pH 6,4; 500 g/ml larutan stok allantoin dibuat pada dapar fosfat Ph 6,8.
Absorbansi terekanm pada maks 220 nm. Zat warna : fluoresein biasanya 2-3%
(pewarna utama) dan lakes biasanya 10% (penguat warna,brightening)
B. Point makeup (Perona pipi)
Persyaratan secara umum :
a. Warna menarik
b. Bau harum menyenangkan
c. Tidak lengket.
d. Tidak menyebabkan kulit tamopak berkilau.
e. Tidak menggangu kulit.
Persyaratan secara khusus :

a. Basis

: basis yang digunakan bertujuan untuk membentuk struktur yang baik


dan memberikan rasa licin. Misalnya : talc.

b. Pigmen warna

: pewarna yang digunakan ( besi [III] oksida, titanium oksida, D&C


no.6, Ba lake.

c. Pengikat (binder) : material yang digunakan sebagai pengikat dapat meningkatkan gaya
kohesi yaitu zat kering/powder, minyak, silicon, emulsi.
d. Pengawet

: digunakan untuk mencegah kontaminasi prodeuk oleh mikroba


selama produksi, distribusi, hingga saat digunakan. Pengawet yang
digunakan (metil paraben, propel paraben dengan konsentrasi 0,050,20%).

e. Fragrance

: agar dapat menutupi bau yang tidak sedap pada bahan serta
menciptakan sesuatu ketertarikan bagi konsumen. Yang biasa
digunakan adalah soft floral fragrance.

Evaluasi sediaan :
a. Uji disperse warna

: dengan menyebarkan serbuk pada permukaan berwarna putih,


ditentukan dari keindahannya yaitu tidak boleh ada yang
tercoreng atau tidak merata.

b. Pay-off

: digunakan untuk melihat efek dengan pengaplikasian


menggunakan aplikator.

c. Uji kerapuhan
d. Uji takaran.
C. Point makeup (cat kuku)
Persyaratan yang harus dipenuhi oleh cat kuku adalah :
a) Cairan harus mudah dioleskan dengan rata
b) Tidak berlendir dan bila sudah kering tidak mengelupas.
c) Tidak mudah retak-retak dan tidak bersisik.
d) Warna harus rata dan homogen, serta stabil pada penyimpanan.
e) Harus cepat kering dan membentuk lapisan yang halus
f) Tidak berbahaya serta tidak merusak/mengiritasi kuku dan kulit sekitarnya.

Formula umum suatu cat kuku terdiri dari :


1) Primary Fil Former,adalah zat-zat yang dapat membentuk lapisan film halus pada
permukaan kuku. Suatu cat kuku yang baik adalah dapat membentuk lapisan :
Cukup tebal, viskositasnya baik, tidak terlalu kental, mudah dioleskan dan
kebasahannya baik
Halus dan mengkilat.
Melekat pada kuku dengan baik
Cukup elastis hingga tidak mudah pecah dan patah
Dapat membentuk permukaan yang keras dan kering pada waktu yang sangat
singkat
Sebagai film former yang biasa digunakan adalah selulosa nitrat yang dihasilkan
dari reaksi antara selulosa dengan HNO3, selulosa sendiri diperoleh dari sejenis
kayu, bentuknya serat putih seperrti kapas, mudah larut dalam pelarut tertentu,
mudah kering dan tidak dapat mengelupas. Selain selulosa nitrat dapat juga
digunakan selulosa aseta, selulosa asetobutirat, vinil resin, polimer metakrilat atau
polimer vinil.
2) Secondary Film Former,pada umunya tidak membentuk lapisan karena merupakan
larutan jernih mendekati air dan berguna untuk membentuk lapisan, sehingga :
Cat kuku menjadi lebih mengkilat.
Lebih tahan lama dan lebih tahan air
Lapisan yang terbentuk tipis, lembut dan liat
Selain dapat digunakan sebagai pembantu pembentuk lapisan juga dapat digunakan
sebagai dispersing agent untuk zat warna yang tidak larut. Berdasarkan asalnya
secondary film former ini dapat dibagi menjadi
a. Resin alami, berasal dari alam sebagai contoh shellac, damar, elemi, sandarak,
benzoe, copal dsb.
b. Resin sintetis, dibuat secara sintetis. Contoh : polivinil asetat, resin sulfonamida
dan formaldehida, polisteren, ester poliakrilat, polivinil asetat, kopolimer vinil
asetat dan vinil klorida.
3) Plasticizer,adalah zat-zat yang berguna untuk melembukan dan memberikan
elastisitas pada lapisan cat kuku yang terbentuk. Cat kuku pada umumnya
mengandung dua atau lebih campuran plasticizer. Sifat dari plasticizer adalah pada
konsentrasi rendah dapat membentuk lapisan tipis dan mengkilat.

4) Pelarut,merupakan bagian yang menguap dari suatu cat kuku. Berguna untuk
mendispersikan zat-zat film former dan zat-zat lain yang tidak dapat larut serta
tak menguap hingga didapat suatu suspensi yang homogen.
5) Zat warna, penggunaannya diatur oleh undang-undang FD&C act. Pada umumnya
merupakan zat warna sintetis, sangat berguna untuk memberi efek keruh/gelap pada
lapisan dan kuku akan terlihat bagus dan indah. Persyaratan yang harus dipenuhi
oleh zat warna :
a. Tidak berbahaya, tidak larut dalam pelarut dan tidak diserap oleh kuku.
b. Warna harus sesuai dengan yang diinginkan dan stabil
c. Stabil tidak hanya terhadap cahaya tetapi juga terhadap komponen yang lain
seperti pelarut organik.
d. Tidak merangsang dan tidak menimbulkan alergi
Contoh zat-zat warna yang sering digunakan adalah: D&C red No. 6, 7, 10, 11,
12, 13, 34, campurannya dengan D&C yellow No. 5, 6 atau campuran TiO 2 + mika,
Bi oksida + mika, dan Al+mika.
6) Zat pengisi, kadang-kadang diperlukan agar terbentuk cat kuku yang transparan.
Untuk ini diperlukan zat pengisi yang berwarna seperti pelangi misalnya guanin
yang harus dilarutkan dahulu dalam butil asetat baru ditambahkan kedalam larutan
nitroselulosa. Kadang-kadang juga diperlukan zat pengisi seperti tanah liat yang tak
boleh dikotori oleh minyak atau pelarut lain hingga dapat stabil lama.
Evaluasi :
a. Lama pengeringan, dapt dilakukan dengan menipiskan sampai berat = 0,2 gram dan
garis tengah 8 cm pada sebuah lempeng gelas, taruh didalam oven dengan panas
1050C + 2 0C. Pada interval waktu tertentu ambil dengan kawat. Setelah 1 jam angkat
dinginkan dan timbang, kemudian panaskan lagi dan setelah 1 jam timbang lagi,
sampai didapat berat yang hilang dan ini, yang disebut sebagai zat yang tidak
menguap. Zat yang tidak menguap ini sangat menentukan waktu kering dari suatu cat
kuku. Waktu kering ini juga dapat diperiksa dengan mengoleskan sampel setebal 0,006
inchi pada kaca, dengan suhu 250C dan kelembaban 50%. Dengan menggunakan stop
watch hitung waktunya sampai terbentuk lapisan yang bila disentuh dengan jari bersih
tidak akan lengket.
b. Kehalusan alirannya,dapat diperiksa dengan mengoleskan pada lempeng kaca dengan
gelas pengaduk, setebal 1,5 inchi, dan dilihat harus bebas zat asing atau gumpalan.
c. Daya kilatnya, dapat disamakan dengan standar

d. Kekerasan lapisan, dapat diperiksan dengan mengoleskan 0,006 inchi pada lempeng
kaca, keringkan pada suhu 250C selama 48 jam, kemudian pada 71 0C selama 2 jam,
dan kembali lagi 250C selama 48 jam, lalu ditekan dengan ibu jari.
e. Warna yang terbentuk, dapat diperiksa dengan mengoleskan pada lempeng kaca hitam
atau putih setebal 0,006 inchi, kemudian bandingkan dengan master colour standar
f. Pengolesan atau penggunaannya, dapat diperiksa dengan melihat setelah dioleskan,
apakah pada lapisan yang terbentuk ada gelembung udara atau tidak, dan apakah
gelembung udara tersebut cepat pecah atau tidak.
g. Ketahanannya terhadap air, dapat diperiksa dengan menggunakan 3 lempeng kaca
yang masing-masing telah diolesi dengan 0,006 inchi sampel. Keringkan dalam oven
250C selam 24 jam, taruh dalam desikator selama 24 jam dan ditimbang kemudian
lempeng ditaruh diatas penangas air 37 0C selam 24 jam, bila telah dikeringkan dengan
kertas saring lalu ditimbang apakah tahan terhadap uap air atau tidak.
h. Daya abrasinya, dapat diperiksa dengan digosok-gosokkan, apakah ada yang lepas
atau tidak.
i. Daya lengket, dapat diperiksa dengan mengoleskan pada lempeng kaca setebal 0,006
inchi keringkan selama 24 jam pada suhu kamar, lihat daya lekatnya.
j. Kekentalan atau viskositas, dapat diperiksa dengan alat viskometer Brookfield.
D. Point makeup (preparat mata)
Sediaan kosmetika mata dibagi menjadi:
1. Eyebrow pencil (pensil alis)
2. Mascara (mascara)
3. Eye shadow (pembentuk bayangan mata)
4. Eye liner (pembentuk garis mata)
5. Eye make-up remorer (penghapus make-up mata)
6. Eye Cream / Eye stick (krim mata)
7. Cover Make-Up
EYE BROW (PENSIL ALIS)
Syarat pensil alis adalah mudah dipakai, sama rata dalam pengolesan dan tidak rapuh,
penggunaan pensil alis tidak dianjurkan untuk daerah dibawah kelopak mata karena dapat
menimbulkan pigmentasi pada lapisan mukasa mata, mata menjadi merah, peradangan,
dan pandangan menjadi kabur.
Terdapat 2 tipe pensil alis, yaitu:

a) Pensil Alis Bentuk Crayon


Merupakan campuran zat warna coklat atau hitam dengan kadar tinggi.
b) Pensil Alis Bentuk Potlot
Formulanya sama dengan pensil alis bentuk crayon hanya dimasukkan ke dalam
selubung dari kayu.
Contoh formula:
Minyak kastor terhidrogenasi

46%

Minyak biji kapas terhidrogenasi

12%

Cocoa botter

8%

Minyak kastor terhidrogenasi

80%

Bahan dasar penyerap lanolin

17%

Lampblack (yang cocok)

9%

Jika pensil coklat yang dibuat maka lampblack dapat diganti dengan Umber
(sejenis tanah pewarna yang berwarna coklat kemerahan) dan sienna bakar (sejenis
tanah liat berwarna coklat kemerahan).
MASCARA (Maskara)
Maskara adalah sediaan kosmetika yang termasuk sediaan tata rias mata,
mempunyai kegunaan untuk menghitamkan dan mempertebal bulu mata dengan tujuan
untuk memperindah mata. Maskara biasanya mengandung garam acid stearic bersama
pigmen dan lanolin, paraffin serta lilin karnauba syarat mascara adalah mudah dipakai,
halus, rata hasil pengolesannya; cepat kering tapi tak kering pada wadah; tidak
melengketkan bulu mata; tidak beracun dan merangsang; pemakaian cepat dan tahan
lama. Penggunaan mascara harus hati-hati karena dapat menimbulkan rasa pedih dan
berair, mata terasa gatal dan dapat mengalami iritasi pada mata.
Jenis mascara ada 3, yaitu:
a. Maskara Bentuk Padat
Diperoleh dengan cara pengempaan atau pencetakan, dibuat dari sabun yang
dilelehkan bersama sama minyak, lilin dan zat warna sedemikian rupa hingga
diperoleh massa yang padat. Cara pemakaiannya dengan menggosokkan silikat (yang
telah dibasahi) pada permukaan padatnya sampai menempel, setelah hampir kering
diusapkan pada bulu mata.
Contoh formula :

R/ Trietanolamin. Stearat

40%

Parafin padat

30%

Cera alba

12%

Lanolin anhidrat

5%

Karbon hitam

13%

Cara pembuatan : bahan bahan diatas dilelehkan bersama sama, diaduk sedemikian
rupa sehingga diperoleh fasa atau bentuk yang diinginkan (padat).
b. Maskara Bentuk Cream
Dapat dihasilkan dari penambahan zat warna ke dalam suatu vanishing cream
atau dengan melarutkan zat warna pada minyak yang sesuai. Untuk ini diperlukan zat
pembasah yang sesuai, yang berguna untuk menurunkan tegangan permukaan,
sehingga zat warna akan menempel pada sikat. Maskara bentuk krim tidak boleh
mongering dalam penyimpanan dan harus menempel dengan balik pada bulu mata.
Maskara bentuk krim ini paling disukai oleh konsumen karena konsistensinya dan
susunannya rata, mudah digunakan, cukup cepat kering dan tahan air. Karemna bentuk
sediaan lunak maka dapat dimasukkan dalam tube dan sikatnya menempel pada tube
sehingga pemakaiannya akan lebih praktis dan tahan lama.
Contoh formula:
R/ Formula A : asam stearat

9.1%

Vaselin putih

5.5%

Minyak mineral

9.1%

Formula B : Tretanolamin

2.75%

Air

4.45%

Zat warna

9.1%

Cara pembuatan :
Formula A dipanaskan pada suhu 60C, formula B dipanaskan pada suhu 60C.
Masukkan

formula B perlahan-lahan kedalam formula A sehingga zat warna

tercampur homogen dan terbentuk massa krim.


c. Mascara Bentuk Cair
Dapat diperoleh dengan cara mensuspensikan zat warna ke dalam zat
pembawa. Bentuk ini kurang disukai karena sifatnya mudah larut dalam air dan
lengket.

Contoh formula :
R/ Resin (10% dalam alcohol)

3%

Minyak jarak

3%

Etilalkohol

84%

Zat warna

10%

Cara pembuatan :
Suspensikan zat warna (umumnya karbon hitam) kedalam larutan resin, kemudian
tambahkan zat lain (minyak jarak yang telah dilarutkan dalam alcohol), diaduk hingga
zat warna tercampur homogen.
EYE SHADOW (Pembentuk Bayangan Mata)
Eye shadow adalah sediaan kosmetika mata yang berguna untuk memberikan
latar belakang atau bayangn pada kelopak mata, sehingga mata akan kelihatan lebih
indah. Eye shadow biasanya mengandung lanolin, lil.in lebah, ceresin, kalsium
karbonat, minyak mineral, soebitan oleat dan talcum. Seperti halnya denagn sediaan
kosmetika mata lainnya, Eye shadow juga mengandung zat warna sebagai komponen
aktifnya. Untuk bayangn yang telah terang, zat utamanya adalah titanium dioksida /
seng oksida. Janistyn telah menyarankan agar diperoleh bayangan yang indah pada
Eye shadow :
Biru

: 20 bagian ultramarin, 10 bagian titanium dioksida

Hijau : 15 bagian titanium dioksida, 10 bagian kromium oksida hijau


Coklat : 30 bagian besi oksida coklat, 5 bagian titanium dioksida.
Untuk memperoleh nuansa violet (ungu). Sejumlah kecil karmin NF dapat
ditambahkan pada bayangan biru. Sedangkan untuk mendapatkan warna biru gelap,
bisa ditambahkan ultramarin dan dikurangi titanium dioksida.
Untuk memperoleh efk warna-warni, bisa ditambahkan alumunium pada
bayangan-bayangan ini. Untuk memperoleh efek emas bisa digunakan serbuk
alumunium dengan berbagai pigmen.
Bentuk-bentuk Eye shadow yang ada dalam peredaran adalah :
1. bentuk cair / liquid
2. bentuk krim cair
3. bentuk krim
4. bentuk stick / cake
5. bentuk pensil

Masing-masing bentuk diatas mempunyai keuntungan dan kerugian sendirisendiri, seperti misalnya bentuk pensil dan bentuk stick akan lebih menguntungkan
dari pada bentuk cair / krim cair.
Contoh formulanya :
Bahan dasar untuk Eye shadow krim cair
R/ Petrolatum putih serat pendek

65%

Lanolin anhidrat

5%

Keresin putih

10%

Beeswax putih

5%

Minyak mineral 65 / 75

15%

Cara pembuatan : Campurkan sejumlah titanium dioksida / seng oksida yang


diperlukan

dengan

warna-warna

dan

dengan

petrolatum

yang

telah

dilelehkankemudian giling campuran menggunakan gilingan putar. Dalam kontainer


yang terpisah, dilelehkan bersama-sama dengan bahan-bahan lain, dan tambahkan
warna dasar pada campuran tersebut, kocok campuran tersebut dengan baik. Tuangkan
campuran tersebut pada kontainer ; pekerjaan pengisian dapat dilakukan dengan
menggunakan hand filler / unit pengisi yang dikendalikan secara termostatik.
EYE LINER (Pembentukan Baris Mata)
Eye liner adalah sediaan kosmetika mata yang berguna untuk menonjolkan
garis mata pada tepi kelopak mata atas dan bawah serta mengubahkan penampilan
garis mata yang besar nampak lebih kecil. Biasanya digunakan pada sekeliling mata
dekat dengan bulu mata.
Eye liner biasanya mengandung alkanolamin, alcohol lemak, polivinil
pirolidon, eter selulosa, metil paraben, antioksidan, pewangi dan titanium dioksida.
Eye liner dalam sediaan padat mengandung 60% talcum, 30% pewarna, titanium
dioksidan dan minyak mineral untuk menghasilkan eye liner yang mengkilat dapat
ditambahkan larutan shellae, polivinil alcohol atau polivinil asetat.
Eye liner didapatkan dalam sediaan cair, krim yang dimaksudkan kedalam
botol atau berbentuk padat yang disediakan dalam bentuk pensil.
Contoh formula eye liner cair dalam American Perfumer and Cosmetics :
R/ Air

20%

Methosel HG 60-50 V

40%

Veegum

1,0%

Shelloe

1,0%

Asam oleat

1,08%

TEA

0,5%

Air

3,02%

Pigmen

18,2%

Alcohol 50-40

5,0%

Air dan zat pengawet hingga 100


EYE CREAM / EYE STICK (Krim Mata)
Krim mata adalah sediaan kosmetika yang berguna untuk melumasi daerah
sekeliling mata dengan tujuan untuk mengurangi kekeringan atau melembutkan mata.
Krim tersebut mengandung lanolin, minyak tengkawang, paraffin, setil alcohol dan
minyak karamel. Umumnya merupakan suatau emulsi air dalkam minyak (a/m).
COVER MAKE UP
Cover make-up adalah sediaan kosmetika mata yang dapat digunakan untuk
mengurangi lingkaran-lingkaran gelap / bayangan-bayangan yang terdapat dibawah
atau diatas mata.
Sediaan ini tidak boleh memberikan kilauan / kilatan pada daerah sekitar mata.
Kalau terlalu mengkilat maka lemak / minyak yang terdapat dalam formula dapat
diganti dengan talk / titat dioksida. Biasanya sediaan cover make-up warnanya seperti
warna daging (flesh colour).
Formula Umum :
1. Zat warna
Zat-zat warna dari bahan batu bara tidak dapat digunakan, dan pewarnaan
dengan sediaan ini dilakukan dengan zat warna anorganik dan zat warna alam. Zat-zat
warna utama adalah karbon hitam, besi, krom oksida dan karmin. Semua warna yang
digunakan pada kosmetika mata harus tidak larut dalam air.
Warna-warna yang sering didunakan pada kosmetika mata :
Hitam : karbon hitam, arang hitam, besi oksida hitam (F e 3 O4)
Biru

: Biru ultra marine

Hijau : Krom oksida


Coklat : Besi oksida coklat
Kuning: Oksida besi kuning
Merah : Karmin

Untuk memperoleh bayangan mata yang lebih terang biasanya ditambahkan titanium
oksida atau seng oksida.
2. Bahan Oksida dasar atau zat pembawa
a.

Petrolatum
Berwarna putih, bahan berserabut pendek, memiliki titik lebur 43C propil fisik dan
stabilitasnya memiliki stabilitas yang baik untuk produk-produk ini.
Suatu petrolatum yang bermutu tinggi tidak akan menghasilkan bau tidak enak
selama penyimpanan.

b.

Lanalin
Lanalin anhidrat miliki titik lebur 38-40 C, digunakan untuk eye shadow dan
mascara sebagai pelumas.

c.

Kresin
Merupakan campuran mikrokristal dari hidrokarbon yang tersusun

kompleks.

Kresin tersedia dalam berbagai tingkatan dengan titik lebur bermacam-macam.


Untuk produk-produk mata, biasanya digunakan kresin dengan titik lebur 68 C.
d. Karnauba
Lilin ini tersedia dalam berbagai jenis tetapi yang biasa digunakan adalah yang
berwarna kuning dengan titik lebur 85 C, telah dimurnikan dan diputihkan. Zat ini
akan membentuk lapisan yang menolak air, dan menetralkan larutan sabun dalam
air. Karnauka ini biasa digunakan pada formulasi mascara, sehingga dapat
memberikan kilauan pada bulu mata.
e. Beeswax (Lilin tawon lebah)
Berwarna putih dengan titik lebur 64 C. zat ini dapat mengeraskan sediaan dalam
penggunaannya, tanpa harus membuatnya kaku, karena fleksibelitas dan
elastisitasnya. Dalam produk-produk yang dicetak, seperti pada mascara padat,
kombinasi, lilin-lilin haruslah seimbang sehingga padatan tidak akan menyusut atau
melekat di dalam cetakan. Beeswax ini sangat baik untuk kombinasi.
f.

Asam Stearat
Terdiri dari 3 lapisan yang tercetak (triple-pressed grade), memiliki titik didih 55C.
Zat ini dapat secara mudah membentuk sabun dan dinetralisir, memberikan sabun
yang stabil yang sesuai dengan bahan-bahan hidrofilik dan lipofilik. Trietanolamin
stearat adalah jenis yang sering digunakan secara luas, meskipun pengembangan
emulgator-emulgator nonionik sekarang ini dapat menggeser posisi stearat-stearat
dimasa depan.

g.

Isopropil Miristat

Merupakan suatu ester asam lemak sintetik, cairan pucat bersih yang bebas dari
berbagai bau tidak enak. Zat ini banyak ditemukan dalam produk kosmetika
termasuk eye shadow.
h. Propilen Glikol
Suatu humektan biasa digunakan untuk eye shadow. Propilen glikal bersifat tidak
lengket dan merupakan pelumas yang baik.
i. Gom Tragakan
Suatu zat yang didapat dari Astragalus gummifer, gom tragakan merupakan zat
pengental yang digunakan untuk mencapai viskositas yang lebih besar. Dalam
bentuk serbuknya, biasa dilakukan dengan cara membasahinya dengan alcohol atau
propilen glikol, kemudian menuangkannya pelan - pelan ke dalam air sampai
terdispersi sempurna.
j. Raetil Selulosae
Merupakan suatu gomsintetik, yng terlarut dalam air dengan cara yang sama dengan
gom tragakan. Karena metil selulose adalah zat sintetik, maka viskositasnya dapat
dikendalikan dan viskositas yang konstan ini membuat metil selulosa sering
digunakan sebagai zat pengikat, zat pengental dan zat pengemulsi.
Bahan Pengawet
Meskipun semua formula tidak memerlukan bahan pengawet, namun akhirakhir ini zat pengawet sering ditambahkan pada kosmetika mata. Bahan-bahan
pengawet pilihan um\ntuk produk-produk mata adalah dari golongan alkil-p-hidroksi
benzoat.
Bahan Pewangi
Bahan pewangi digunakan hanya sebagai pencegahan ekstra melawan iritasi,
dan mencegah rangsangan pada mata, kadang-kadang dihilangkan dari kosmetik mata.
Apabila diperlukan untuk menutupi bau tertentu digunakan pewangi dari minyak atsiri
alami atau zat kimia asumatik yang ringan dan aman kadar kurang dari 0,1 %.