Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

Judul

Distilasi Minyak Atsiri

Tujuan Percobaan : 1.Mempelajari teknik pemisahan senyawa berdasarkan perbedaan titik


didih
2.Mempelajari metode ekstraksi minyak atsiri menggunakan prinsip
hidrodistilasi.
Pendahuluan
Destilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Proses penyulingan yaitu
campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke
dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini
didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada
titik didihnya (Alimah, 2006).
Destilasi adalah proses yang digunakan untuk memisahkan campuran fluida berdasarkan
titik didih yang diikuti oleh kondensasi. Data yang diperlukan dalam penyelesaian persoalan
distilasi adalah data kesetimbangan antara fase liquid dan fase gas. Bentuk dan sumber data
kesetimbangan antara fase liquid dan fase gas diantaranya dapat digambarkan dalam bentuk
kurva kesetimbangan atau diperoleh dengan cara eksperimen. Dua fasa dikatakan berada dalam
kesetimbangan jika temperatur, tekanan, dan potensial kimia dari masing-masing komponen
yang terlibat di kedua fasa bernilai sama (Ketut, 2010).
Destilasi merupakan suatu perubahan cairan menjadi uap dan uap tersebut didinginkan
kembali menjadi cairan. Unit operasi destilasi merupakan metode yang digunakan untuk
memisahkan komponen-komponen yang terdapat dalam suatu larutan atau campuran dan
tergantung pada distribusi komponen-komponen tersebut antara fasa uap dan fasa cair. Semua
komponen tersebut terdapat dalam fasa cairan dan uap. Fasa uap terbentuk dari fasa cair melalui
penguapan (evaporasi) pada titik didihnya. Syarat utama dalam operasi pemisahan komponenkomponen dengan cara destilasi adalah komposisi uap harus berbeda dari komposisi cairan
dengan terjadi keseimbangan larutan-larutan, dengan komponen-komponennya cukup dapat
menguap. Suhu cairan yang mendidih merupakan titik didih cairan tersebut pada tekanan

atmosfer yang digunakan (Alimah, 2006).


Dasar proses destilasi adalah kesetimbangan senyawa volatil antara fasa cair dan fasa
uap. Bila zat non volatile dilarutkan kedalam suatu zat cair, maka tekanan uap zat cair tersebut
akan turun. Pada larutan yang mengandung dua komponen volatil yang dapat bercampur
sempurna, maka tekanan uap masingmasing komponen akan turun. Hukum Raoult menyatakan
bahwa

tekanan

uap

masing-masing

komponen

berbanding

langsung

dengan

fraksi

molnya.Pemisahan menggunakan destilasi sederhana seringkali tidak memuaskan karena metode


tersebut dikembangkan dengan menambahkan suatu kolom fraksinasi diantara labu didih dan
klaisen (still head) dalam perangkat alat distilasi. Pengaruh dari penambahan kolom fraksinasi
akan mempersingkat beberapa pekerjaan pemisahan dari destilasi biasa menjadi hanya satu
pekerjaan (Anwar, 2010).
Prinsip destilasi adalah memisahkan zat-zat melalui perbedaan titik didih. Proses
destilasi ini menggunakan labu destilasi sebagai destilator, kompor listrik sebagai pemanas dan
erlenmeyer sebagai tempat hasil destilasi atau destilat. Cairan yang diembunkan kembali disebut
destilat. Penempatan posisi yang salah dapat menyebabkan uap cairan misalnya etanol akan
menempel pada termometer dan tidak melewati kondensor untuk melalui proses pengembunan,
tetapi akan kembali pada labu destilasi yang berisi campuran cairan. Akibatnya, jumlah destilat
yang diperoleh tidak maksimal. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair pada titik didihnya,
dan memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang terlarut atau dari zat cair lainnya yang
mempunyai perbedaan titik didih cairan murni (Ari, 2008).
Suatu cairan dapat diuapkan dengan berbagai cara. Yang paling mudah memang
mendidihkannya sampai semua menguap dan komposisi akhirnya sama dengan cairan asalnya.
Dalam kolom destilasi, suhu menurun dengan ketinggian kolom. Komponen yang kurang atsiri
mengembun dan jatuh kembali dalam labu, tetapi yang lebih atsiri terus naik ke puncak kolom
masuk kedalam kondensor air dingin, mengembun dan dikumpulkan dalam wadah penampung
(Oxtoby, 2001).
Perbedaan sifat campuran suatu fase dengan campuran dua fase dapat dibedakan secara
jelas jika suatu cairan menguap, terutama dalam keadaan mendidih. Sebagai contoh adalah
cairan murni didalam suatu tempat yang tertutup. Pada suhu tertentu molekul-molekul cairan
tersebut memiliki energi tertentu dan bergerak bebas secara tetap dan dengan kecepatan tertentu.
Tetapi setiap molekul dalam cairan hanya bergerak pada jarak pendek sebelum dipengaruhi oleh
molekul-molekul lain, sehingga arah geraknya diubah. Namun setiap molekul pada lapisan
permukaan yang bergerak ke arah atas akan meninggalkan permukaan cairan dan akan menjadi
molekul uap. Molekul-molekul uap tersebut akan tetap berada dalam gerakan yang konstan, dan

kecepatan molekul-molekul dipengaruhi oleh suhu pada saat itu (Alimah, 2006).
Ditinjau dari segi kimia fisika, minyak atsiri hanya mengandung dua golongan senyawa,
yaitu oleoptena dan stearoptena. Oleoptena adalah bagian hidrokarbon didalam minyak atsiri dan
berwujud cairan. Steroptena adalah senyawa hidrokarbon teroksigensi yang umunya berwujud
padat. Semua minyak atsiri mengandung campuaran senyawa kimia dan biasanya senyawa
tersebut sangat kompleks. Beberapa tipe senyawa organik mungkin terkandung dalam minyak
atsiri, seperti hidrokarbon, alkohol, oksida, ester, aldehida, dan eter. Komponen minyak atsiri
sangat kompleks, tetapi biasanya tidak melebihi 300 senyawa. Beberapa jenis bahan tumbuhan
di gunakan dalam pengobatan karena kandungan minyak atsirinya yaitu serai, cengkeh dan pala.
Minyak atsiri larut dengan baik di dalam lemak, sehingga kebanyakan minyak atsiri dapat
menimbulkan iritasi pada kulit dan selaput lendir. Secara konvensional ada beberapa metode
yang bisa diterapkan untuk memperoleh minyak atsiri dari tumbuhan asalnya. Metode
konvensional itu adalah penyulingan, ekspresi, ekstraksi dengan pelarut mudah menguap,
pengikatan dengan lemak padat, dan lain sebagainya (Agusta, 2000).
Minyak daun serai diperoleh dengan cara destilasi uap dari daun pohon serai. Hasil utama
daun serai adalah daun serai yang mengandung minyak atsiri dengan kualitas yang lebih bagus
bila dibandingkan dengan daunnya. Konstituen minyak daun serai dapat dibagi menjadi dua
kelompok. Kelompok pertama merupakan senyawa Fenolat dan eugenol yang merupakan
komponen paling besar. Senyawa ini mudah diisolasi dengan NaOH dan kemudian dinetralkan
dengan asam mineral. Destilat yang mempunyai titik didih 65o-110oC/mmhg ditampung
sedangkan distilat yang diperoleh berupa cairan yang berwarna kaku dan jernih (Guenther,
1963).
Prinsip Kerja
Prinsip kerja destilasi yaitu penguapan cairan dan pengembunan kembali uap tersebut
pada suhu titik didih yaitu analit dengan titik didih paling rendah yang akan menguap lebih.
dahulu.
Alat
Pisau, set alat distilasi, gelas ukur 5 mL
Bahan
Sampel, magnesiumsulfat anhidrat, batu didih
Prosedur Kerja

1. Preparasi sampel. Potong-potong kecilsampel (daun, bunga, atau batang) yang sudah bersih
dan kering (dengan jumlah air minimum).
2. Persiapkan set alat distilasi.
3. Masukkan 50 g sampel ke dalam labu alas bulat 250 mL. Penuhi labu dengan aquades hingga
setengah volume total labu. Tambahkan batu didih.
4. Pasang kembali labu pada setup alat distilasi. Panaskan labu pada mantel pemanas secara
perlahan-lahan. Hentikandistilasi jika sudah diperoleh distilat sebanyak 100 mL atau telah
dipanaskan selama1-1.5 jam.
5. Catat volume distilat yang diperoleh. Biarkan distilat beberapa saat hingga nantinya
diperoleh dua fasa, aqueousphase dan organic phase. Pisahkan minyak atsiri dari air yang
ada dalam campuran distilat. Lalu tambahkan sedikit magnesium sulfat pada distilat minyak
atsiri. Peroleh minyak atsiri dengan

cara dekantasi. Catat volume minyak atsiri yang

diperoleh.
6. Hitung rendemen minyak atsiri yang diperoleh. Amati bau dan warna dari minyak atsiri
tersebut.
Waktu yang dibutuhkan
No.
1.
2.
3.
4.

Kegiatan
Preparasi alat
Memotong sampel
Destilasi sampel
Pemisahan minyak atsiri

Pukul
13.00-13.15 WIB
13.15-13.30 WIB
13.30-15.00 WIB
15.00-15.30 WIB

Waktu
15 menit
15 menit
90 menit
30 menit

Hasil
Waktu yang dibutuhkan
No
1

Kegiatan
Preparasi alat dan bahan

Pukul
13.00-13.15

Waktu
15 menit

2
3.
4.

Preparasi set up alat distilasi


Proses destilasi
Proses Identifikasi

13.15-13.30
13.30-15.30
15.30-16.00

15 menit
120 menit
30 menit

Data dan Perhitungan


Data
No
1.

Pengamatan
Massa jeruk

Hasil
2,5 gram

2.
3.
3.
4.
5.
6.

Volume minyak atsiri


Volume destilat
Warna destilat minyak atsiri
Massa kertas saring
Bau / Aroma
Suhu awal (akuades + kulit

0,1 ml
4 ml
Terbentuk 2 fase (atas: minyak, bawah: akuades)
0,35 gram
Mirip dengan aroma jeruk
30oC

7.

jeruk)
Suhu awal (tetesan pertama)

98 oC

Perhitungan

V = 0,1 mL = 0,1 cm3

minyak atsiri,

Massa minyak atsiri => m = x v


1,0660 g

cm 3

.0,1cm3

= 0,1 gram
Rendemen =
=

massa minyak atsiri


x 100
massa kulit jeruk
0,1 gram
x 100
2,5 gram

=4%
Hasil
a

Tabel Pengamatan
Bahan
2,5 gram kulit jeruk

Volume
Destilat
4 mL

Atsiri
0,1 mL

Keterangan
2 fasa, bagian atas tidak berwarna (atsiri)
bagian bawah (air),

Dokumentasi dari Hasil Praktikum

Sampel jeruk

Sampel yang di distilasi

Hasil sampel minyak atsiri


Sampel mendidih yang dipanaskan
Pembahasan
Praktikum kali ini membahas tentang distilasi minyak atsiri. Distilasi adalah suatu
metode pemisahan bahan kimia dengan cara menguapkan komponen yang mudah menguap dari
campuran cair lainnya dengan cara menguapkannya atau metode pemisahan berdasarkan
perbedaan titik didih. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu.
Pada distilasi, zat yang akan dipisahkan (mengandung minyak atsiri) akan dicampur dengan zat
lain yang memiliki titik didih yang lebih tinggi, biasanya digunakan air. Setelah dipanaskan,
maka zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu kemudian
didinginkan kembali dalam bentuk cairan. Setelah itu, akan diketahui kandungan minyak atsiri
yang diperoleh.
Percobaan ini menggunakan kulit jeruk dimana dalam kulit jeruk terkandung atsiri yang
terdiri dari berbagai komponenseperti terpen, sesquiterpen, aldehida, ester dan sterol..Rincian
komponen minyak kulit jeruk adalah sebagai berikut : limonen (94%), mirsen (2%), linalool
(0,5%), oktanal (0,5%), dekanal (0,4%), sitronelal (0,1%), neral (0,1%), geranial(0,1%),
valensen (0,05%), sinnsial (0,02%), dan sinensial (0,01%). Dengan sruktur untuk beberapa
senyawa sebagai berikut :
Nama Senyawa

Struktur

Keterangan

titik didih : 176 oC

Limonen (C10H11)

titik leleh : -74,35 oC

Geraniol

1.

Density : 889.00
kg/m

Linalol (C10H18O)

Massa molar : 154,25 g/mol

Praktikum ini bertujuan untuk memisahkan minyak atsiri dengan menggunakan prinsip
hidrodestilasi. Berdasarkan prinsip hidrodestilasi, pelarut yang digunakan adalah air karena air
dan minyak memiiki perbedaan kepolaran sehingga lebih mudah untuk dipisahkan. Selain itu
minyak dan air juga memiiki perbedaan massa jenis. Massa jenis minyak lebih kecil dari pada
air sehingga minyak berada pada lapisan atas. Waktu yang dibutuhkan untuk proses distilasi
adalah sekitar 2,5 jam. Semakin lama proses distilasi maka minyak yang akan dihasilkan akan
semakin banyak. Tahap awal yaitu menghaluskan kulit jeruk. Kulit jeruk yang digunakan
sebanyak 2,5 gram. Setelah itu kulit jeruk dimasukkan kedalam labu distilasi, ditambahkan air
secukupnya. Pemberian air tidak terlalu banyak dikarenakan zat cair akan keluar saat cairan
mulai mendidih, sehingga minyak atsiri yang dihasilkan tidak optimal atau tidak sesuai dengan
yang diharapkan. Selanjutnya yaitu dilakukan pemanasan. Pemanasan ini bertujuan untuk
mengekstraksi minyak atsiri. Pemanasan yang pertama bertujuan agar air terserap dalam poripori kulit jeruk dan dapat mengeluarkan minyak atsiri yang diakibatkan oleh adanya tekanan
osmosis. Pemanasan selanjutnya berfungsi untuk menguapkan minyak yang kemudian
menguapkan air karena titik didih minyak lebih kecil dari pada air. Minyak atsiri yang dihasilkan
terdapat pada permukaan dengan ketebalan yang sangat sedikit, ada juga minyak atsiri yang
terdapat pada dinding tepi. Minyak atsiri yang dihasilkan sangat sedikit sehingga sulit untuk
diidentifikasi. Massa minyak atsiri yang diperoleh yaitu 0,1 gram dengan volume destilat
sebanyak 4 mL. Dari hasil ini diperoleh rendemen. Rendemen ini menunjukkan jumlah produk
reaksi dari hasik reaksi kimia. Nilai rendemen ideal yaitu 100%, akan tetapi sulit untuk

dihasilkan nilai rendemen seperti itu. Terbukti dari hasil praktikum. Rendemen yang diperoleh
hanya sebesar 4%, sangat jauh dari nilai rendemen ideal.
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1. Distilasi adalah pemanasan suatu campuram melalui pemanasan untuk menguapkan
komponen-komponen yang lebih mudah menguap dan dikondensasikan.
2. Berat miyak atsiri yang diperoleh adalah sebesar 0,1 gr dan kadar minyak yang terambil dari
bahan adalah sebesar 4 %.
3. Prinsip hidrodistilasi adalah pelarut yang digunakan adalah air karena air dan minyak
memiiki perbedaan kepolaran sehingga lebih mudah untuk dipisahkan.
Referensi
Agusta, Andria. 2000. Minyak atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung : Institut Teknologi
Bandung.
Alimah, Nur. 2006. Kimia Lingkungan. Makassar : SMAK
Anwar, F., Cokorda, P., dan Mahandari. 2010. Kajian Awal Biji Buah Kepayang Masak Sebagai
Bahan Baku Minyak Nabati Kasar. Jurnal Teknologi Industri. Vol. 4. No. 2, Hal. 5.
Ari, K., dan Hadi, W. 2008. Pembuatan Etanol Dari Sampah Pasar Melalui Proses Hidrolisis
Asam Dan Fermentasi Bakteri Zymomonas Mobilis. Jurnal Teknik Lingkungan. Vol. 2.
No. 1, Hal. 6.
Guenther, Ernest. 1990. Minyak Atsiri Jjilid IVB. Jakarta : Universitas Indonesia.
Ketut,

N.

2010. Vapor-Liquid

Equilibrium

(VLE)

Water-Ethanol

Fermentantion. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 5. No. 1, Hal. 363.


Oxtoby, David W. 2001. Kimia Modern Edisi I. Jakarta : Erlangga.
Nama Praktikan
Andriana Nur Aini (131810301010)

From

Bulrush