Anda di halaman 1dari 22

EVOLUSI ILMU KESEHATAN LINGKUNGAN DAN KAITAN EKOLOGI

DENGAN KESEHATAN MASYARAKAT


MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Kesehatan Lingkungan yang
dibimbing oleh Dr. Sueb, M.Kes.

Disusun oleh:
Offering GK-HK
Kelompok 7
Afifah Nur Aini

(130342603484)

Elsa Mega Suryani

(130342615336)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
AGUSTUS 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Evolusi, Ekologi dan Kesehatan Manusia dengan baik. Dan juga kami
berterima kasih pada Bapak Dr. Sueb, M.Kes selaku Dosen mata kuliah Kesehatan
Lingkungan

yang

telah

memberikan

tugas

ini

kepada

kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai evolusi kesehatan, ekologi dan
kesehatan manusia. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah
ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kami
berharap adanya kritik dan saran yang membangun.

Malang, Agustus 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara alamiah manusia berinteraksi dengan lingkungan. Makanan
manusia diambil dari sekitarnya, demikian pula minuman, pakaian, dan kebutuhan
lain. Tergantung taraf budayanya, manusia dapat sangat erat atau kurang erat
hubungannya dengan lingkungan hidupnya. Manusia yang primitif, secara erat
langsung berinteraksi dengan banyak elemen di lingkungan dan sangat bergantung
pada jumlah yang tersedia di alam. Mereka pun sangat terpengaruh oleh
lingkungan hidupnya. Oleh karenanya manusia primitif berpindah-pindah tempat
tinggal sesuai dengan kebutuhan makanan di lingkungan sekitar
Dengan kemajuan budaya manusia mulai dapat melakukan modifikasi
alam untuk memenuhi kebutuhannya yakni mulai bercocok tanam dan berternak.
Semakin lama pertumbuhan penduduk semakin pesat. Jumlah manusia yang
semakin bertambah disertai dengan semakin meningkatnya permintaan barang
konsumsi. Tantangan ini lalu diatasi dengan cara industrialisasi. Namun
industrialisasi disamping mempercepat ketersediaan segala kebutuhan hidup
manusia juga memberi dampak negatif terhadap manusia. Jumlah zat buangan
semakin bertambah dan jumlahnya melampaui kemampuan alam untuk
membersihkan diri. Sehingga perubahan dalam lingkungan telah menimbulkan
masalah pencemaran lingkungan yang mengganggu kesehatan manusia.
Sejak saat itu, konsep pemikiran mengenai faktor-faktor lingkungan hidup
eksternal yang mempunyai pengaruh terhadap masalah kesehatan manusia terusmenerus dipelajari dan berkembang menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut
sebagai Ilmu Kesehatan Lingkungan atau Environmental Health Science.
Kesehatan sangat penting untuk dipelihara karena kesehatan yang rendah
dipengaruhi oleh lingkungan yang kurang baik misalnya terjadinya pencemaran.
Apabila kesehatan dan lingkungan tidak dijaga dengan benar akan mempengaruhi
kemakmuran dan keberlangsungan generasi muda untuk membangun bangsa.
Hal ini yang melatarbelakangi untuk membuat makalang tentang Evolusi
Kesehatan, Ekologi dan Kesehatan Manusia. Agar terwujud kesehatan
lingkungan yang lebih baik dan menjadikan masyarakat lebih produktif.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas dapat disusun rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana ha-hal pokok yang berkaitan dengan ilmu kesehatan
2.
3.
4.
5.

lingkungan?
Bagaimana evolusi ilmu kesehatan lingkungan?
Apa manfaat mempelajari evolusi ilmu kesehatan lingkungan?
Bagaimana keterkaitan ekologi dan kesehatan manusia?
Bagaimana mekanisme pemaparan factor lingkungan terhadap kesehatan
manusia?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:
1. Mengetahui hal-hal pokok yang berkaitan dengan ilmu kesehatan
2.
3.
4.
5.

lingkungan.
Mempelajari evolusi ilmu kesehatan lingkungan.
Memahami manfaat mempelajari evolusi ilmu kesehatan lingkungan.
Mengetahui keterkaitan ekologi dan kesehatan manusia.
Mengetahui mekanisme pemaparan factor lingkungan terhadap kesehatan
manusia.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tentang Ilmu Kesehatan Lingkungan

2.1.1 Definisi Ilmu Kesehatan Lingkungan


Ilmu kesehatan lingkungan merupakan ilmu multidisipliner yang
mempelajari dinamika hubungan interaktif antara sekelompok manusia dengan
berbagai perubahan komponen lingkungan hidup manusia yang diduga dapat
menimbulkan gangguan kesehatan. Ilmu kesehatan lingkungan juga mempelajari
upaya untuk menanggulangi dan mencegah gangguan kesehatan yang timbul
(Chandra, 2007).
2.1.2 Faktor Lingkungan yang Berpengaruh Terhadap Kesehatan
Menurut Hendrik L. Blum faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap derajat kesehatan masyarakat (Blum, 1974). Yang termasuk
ke dalam lingkungan adalah :
a. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik dapat berupa

Keadaan tanah (pegunungan, rawa, subur atau tidak subur),


Keadaan air (bersih, kotor, mudah atau sulit didapat),
Keadaan cuaca (seperti panas, dingin, lembab, atau kering), dan lain
sebagainya.

b. Lingkungan biologis

Adanya hewan atau makhluk hidup lainnya yang berguna serta yang
merugikan manusia. Yang berguna misalnya ternak, dan yang merugikan

misalnya bakteri, virus, cacing parasit, dan lain-lain.


Adanya tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi manusia berupa bahan
pangan, sedangkan yang merugikan dapat berbentuk jamur penyebab
penyakit, dan lain-lain.

c. Lingkungan sosial budaya


Lingkungan sosial budaya dapat berupa :

Tingkat pendidikan
Adat istiadat dan kepercayaan seperti tahayul, dan pantangan-pantangan

yang tidak sesuai dengan kesehatan.


Adanya lembaga-lembaga masyarakat yang dapat menjadi wadah

kerjasama.
Upacara-upacara
Struktur politik kenegaraan

d. Lingkungan ekonomi

Yang termasuk dalam lingkungan ekonomi antara lain adalah :

Struktur ekonomi
Status ekonomi

2.1.3 Tujuan dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan


Tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan dapat dibagi menjadi dua,
secara umum dan secara khusus (Chandra, 2007).
Tujuan dan ruang lingkup secara umum, antara lain:
1. Melakukan koreksi atau perbaikan terhadap segala bahaya dan ancaman pada
kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
2. Melakukan usaha pencegahan dengan cara mengatur sumber-sumber
lingkungan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan
hidup manusia.
3. Melakukan kerjasama dan menerapkan program terpadu di antara
masyarakat dan institusi pemerintah serta lembaga nonpemerintah dalam
menghadapi bencana alam atau wabah penyakit menular.
Tujuan dan ruang lingkup secara khusus meliputi usaha-usaha perbaikan
atau pengendalian terhadap lingkungan hidup manusia, yang di antaranya berupa:
1. Penyediaan air bersih yang cukup dan memenuhi persyaratan kesehatan.
2. Makanan dan minuman yang diproduksi dalam skala besar dan dikonsumsi
secara luas oleh masyarakat.
3. Pencemaran udara akibat sisa pembakaran BBM, batubara, kebakaran hutan,
dan gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan makhluk hidup lain dan
menjadi penyebab terjadinya perubahan ekosistem.
4. Limbah cair dan padat yang berasal dari rumah tangga, pertanian,
peternakan, industri, rumah sakit, dan lain-lain.
5. Kontrol terhadap arthropoda dan rodent yang menjadi vektor penyakit dan
cara memutuskan rantai penularan penyakitnya.
6. Perumahan dan bangunan yang layak huni dan memenuhi syarat kesehatan.
7. Kebisingan, radiasi dan kesehatan kerja.
8. Survei sanitasi untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program
kesehatan lingkungan.
2.2 Evolusi Ilmu Kesehatan Lingkungan
Ilmu Kesehatan Lingkungan berevolusi selama ratusan tahun mulai
sebelum perkembangan ilmu pengetahuan (pre-scientific period) dan sesudah ilmu
pengetahuan itu berkembang (scientific period) (Notoatmodjo, 2003).
a. Periode Sebelum Berkembangnya Ilmu Pengetahuan
Dari kebudayaan-kebudayaan tertua di dunia yakni Babylonia, Mesir,
Yunani dan Romawi diketahui bahwa manusia telah melakukan usaha untuk

menanggulangi masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Pada zaman


tersebut juga telah dibangun tempat pembuangan kotoran umum, meskipun alasan
pembuatannya bukan karena kotoran manusia dapat menularkan penyakit tetapi
karena tinja menimbulkan bau tak enak dan pandangan yang tidak sedap.
Contohnya, dari sebuah situs kuno di Roma, Itali terdapat sisa-sisa bangunan
tempat pembuangan kotoran untuk umum, terbuat dari batu yang berbentuk
tempat duduk dengan lubang ditengahnya sedangkan bagian bawahnya terhubung
dengan saluran air.

Gambar 2.1. WC umum peninggalan bangsa Romawi

Gambar 2.2. Ilustrasi suasana WC umum di zaman Romawi


Berbagai macam penyakit menular mulai menyerang sebagian besar
penduduk dunia dan merenggut banyak nyawa. Namun, karena keterbatasan ilmu

pengetahuan pada saat itu, setiap kejadian yang luar biasa selalu diasosiasikan
dengan hal-hal yang bersifat mistik.
Pada abad ke 14 (tahun 1345) pernah terjadi sebuah wabah mematikan
yang dikenal dengan nama Black Death atau Wabah Hitam. Dinamakan Black
Death karena adanya ciri khusus pada penderita berupa munculnya bintikbintik
hitam pada tubuh dan sekujur kulit pada orang yang terjangkit penyakit ini. Selain
menelan banyak korban di Benua Eropa, juga menyerang hingga ke wilayah
Timur Tengah di Asia dengan tingkat kematian mencapai 95%.
Dengan keterbatasan pengetahuan modern pada saat itu, wabah Black
Death kerap kali dikaitkan dengan kejadian mistis yang tak dapat terpecahkan
oleh akal sehat. Minimnya informasi pada masa itu membuat masyarakat
menuding kaum gypsi, dukun dan praktisi mistis sebagai penyebab utama
munculnya penyakit kutukan ini. Sehingga terjadi pembantaian besarbesaran
terhadap kaumkaum tersebut pada masa itu. Namun hal tersebut tidak
menghilangkan wabah Black Death.
Hingga saat ini, belum ditemukan kesimpulan pasti mengenai jenis
penyakit apa wabah Black Death tersebut. Kesimpulan yang dirangkum oleh
peneliti modern menyebutkan bahwa Wabah Hitam atau Black Death adalah
penyakit pes yang ditimbulkan oleh virus Yersinia pestis. Virus ini dibawa oleh
kutu bangkai tikus yang menular ke hewan mamalia.

Gambar 2.3. Ilustrasi terjadinya wabah penyakit Black Death


Penyakit kolera telah tercatat sejak abad ke 7 menyebar dari Asia
khususnya Timur Tengah dan Asia Selatan ke Afrika. India disebutkan sejak abad

ke 7 tersebut telah menjadi pusat endemi kolera. Di samping itu lepra juga telah
menyebar mulai dari Mesir ke Asia Kecil dan Eropa melalui para emigran.
Penyakit-penyakit lain yang menjadi wabah pada waktu itu antara lain
difteri, tifus, disentri dan sebagainya. Dari catatan-catatan tersebut di atas dapat
dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya penyebaran-penyebaran
penyakit menular sudah begitu meluas dan dahsyat, namun upaya pemecahan
masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum dilakukan oleh orang
pada zamannya.
b. Periode Setelah Berkembangnya Ilmu pengetahuan
Masa silih berganti, pada abad ke 19 terjadi Revolusi Industri di Inggris.
Era industrialisasi ini menimbulkan masalah baru pada masyarakat Inggris berupa
munculnya daerah permukiman kumuh, akumulasi buangan dan kotoran manusia,
masalah sosial dan kesehatan, yang terutama terjadi di kota-kota besar. Kotoran
manusia banyak dijumpai di sekeliling terutama di bawah jembatan sungai
Themes sehingga menimbulkan bau tak sedap.
Pada tahun 1832, terjadi wabah penyakit kolera yang dahsyat di Inggris
dan membawa banyak korban jiwa manusia. Masyarakat saat itu menganggap
bahwa wabah kolera terjadi akibat miasma. Teori miasma menyatakan bahwa
yang menjadi penyebab penyakit dan wabah adalah uap yang keluar dari sesuatu
yang membusuk atau dari buangan air limbah yang tergenang. Pada zaman itu
orang percaya bila seseorang menghirup miasma atau uap busuk tadi maka ia akan
terjangkit penyakit.
Dr. John Snow, seorang ahli anestesi, mendemostrasikan kegunaan
pemetaan pada kasus wabah penyakit kolera. Dr. John Snow memetakan dan
mencatat rumah-rumah orang yang sakit, dan menemukan bahwa rumah-rumah
tersebut berkelompok pada area tertentu dan memakai sumber air dari pompa
yang sama. John Snow sangat yakin, wabah kolera disebabkan sumber air yang
digunakan masyarakat. Ia mencabut pompa air yang digunakan masyarakat
sehingga sumber air tersebut tidak dapat digunakan dan wabah kolera kemudian
mereda.

Gambar 2.4. Ilustrasi masyarakat London abad ke 19 yang menggunakan pompa


air yang tercemar kuman kolera (kiri) dan pompa tiruan yang dibangun di dekat
lokasi pompa asli di Broad Street London saat ini (kanan).

Gambar 2.5. Dr. John Snow

Gambar 2.6 Peta yang dibuat oleh

(15 Maret 1813-16 Juni 1858)

Dr. John Snow

Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19


mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan manusia,
termasuk kesehatan. Kalau pada abad-abad sebelumnya masalah kesehatan
khususnya penyakit hanya dilihat sebagai fenomena biologis dan pendekatan yang
dilakukan hanya secara biologis yang sempit, maka mulai abad ke 19 masalah
kesehatan adalah masalah yang kompleks. Oleh sebab itu pendekatan masalah
kesehatan harus dilakukan secara komprehensif, multisektoral.
Di samping itu pada abad ilmu pengetahuan ini juga mulai ditemukan
berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah penyakit. Louis
Pasteur telah berhasil menemukan vaksin untuk mencegah penyakit cacar, Joseph
Lister menemukan asam karbol (carbolic acid) untuk sterilisasi ruang operasi dan
William Marton menemukan eter sebagai anestesi pada waktu operasi.

2.3 Manfaat Mempelajari Evolusi Ilmu Kesehatan Lingkungan


Mempelajari kembali sejarah kasus-kasus wabah penyakit di masa lalu
bisa memberi manfaat bagi masalah-masalah penyakit di masa kini. Karena
meskipun dunia kesehatan telah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam abad
ke 21 ini, namun penyakit menular tetap menjadi penyebab utama kematian di
seluruh dunia karena: (1) muncul penyakit infeksi baru (emerging disease); dan
(2) muncul kembali penyakit menular lama (re-emerging disease) (Dalri, 2010).
Re-emerging disease adalah wabah penyakit menular yang muncul kembali
setelah penurunan yang signifikan dalam insiden dimasa lampau. Contohnya,
Oktober 2010 wabah kolera menyerang Haiti. Saat itu, lebih dari 8.000 orang
tewas dan ratusan ribu lainnya sakit akibat terjangkiti bakteri (Husnantiya, 2014).
Para peneliti telah meneliti kembali kasus lama yaitu wabah kolera yang
menyerang Inggris tahun 1832 untuk mencari pemecahan masalah penyakit kolera
yang muncul kembali di zaman modern ini. Museum Mutter telah menyimpan
enam usus penderita kolera saat terjadi wabah di Inggris tahun 1849 dan

mengawetkannya dalam alkohol. DNA kolera berhasil diekstrak dari salah satu
spesimen ini, dan memberikan informasi penting tentang evolusi kolera serta
membuka jalan untuk penelitian biologi lebih lanjut (Tien, 2014).
Perkembangan terakhir yang dilansir oleh Museum of London
Archaeology pada Maret 2013 lalu, beberapa ilmuwan akan meneliti ke 13 rangka
tengkorak yang berasal dari abad ke 13 (yang diperkirakan sebagai salah satu
korban Black Death) di Charterhouse Square, London, Inggris (Antoine and
Hillson, 2014). Hingga saat ini masih menunggu perkembangan berikutnya dari
kesimpulan final apakah wabah hitam merupakan penyakit pes atau bukan.
2.4 Keterkaitan Ekologi dan Kesehatan Manusia
Ernest Haeckel (1869), seorang ahli biologi bangsa Jerman, menggunakan
ekologi yang berasal dari kata Yunani eikos berarti rumah atau tempat hidup.
Kata tersebut secara harfiah berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan
total antara organisme dengan lingkungannya yang bersifat organik maupun
anorganik (Chandra, 2007).
Undang-undang RI No. 23 tahun 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup pasal 1 ayat (1) menyebutkan:
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengansemua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Dari pengertian di atas terlihat bahwa lingkungan hidup sangat berperan dalam
mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusi aserta
makhluk hidup lainnya. Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya
merupakan suatu proses yang wajar dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan
sampai ia meninggaldunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya
dukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Udara, air,
makanan, sandang, papan dan seluruh kebutuhan manusi harus diambil dari
lingkungan hidupnya. Kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan yang
ada didalamnya sering diistilahkan dengan daya dukung lingkungan, daya
toleransi dan daya tenggang. Lingkungan tidak dapat mendukung jumlah

kehidupan yang tanpa batas. Apabila daya dukung lingkungan itu terlampaui
maka manusia akan mengalami berbagai kesulitan (Mulia, 2005).
Pencemaran lingkungan (environmental pollution) merupakan satu dari
beberapa factor yang dapat mempengaruhi kualitas lingkungan. Undang-undang
R.I. No. 23 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
pasal 1 ayat (14) menyebutkan:
Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan
hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan
hidup yang telah ditetapkan.
Makhluk hidup, zat atau energy yang dimasukkan kedalam lingkungan hidup
tersebut biasanya merupakan sisa suatu usaha dan kegiatan manusia. Sisa suatu
usaha dan kegiatan manusia disebut juga limbah. Karena itu dikatakan bahwa
salah satu penyebab pencemaran lingkungan adalah sebagai akibat adanya limbah
yang dibuang ke dalam lingkungan hingga daya dukungnya terlampaui.
Pencemaran lingkungan tersebut merupakan sumber penyebab terjadinya
gangguan kesehata pada masyarakat.(Mulia, 2005).
Untuk mengetahui apakah telah terjadi perusakan atau pencemaran
lingkungan, indikator yang digunakan adalah baku mutu lingkungan hidup.
Undang-undang R.I. No. 23 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup pasal 1 ayat (13) menyebutkan:
Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk
hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur
pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya
tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
Di Indonesia dikenal adanya baku mutu air, baku mutu air limbah, baku mutu
udara ambien, baku mutu udara emisi dan baku mutu air laut dengan pengertian
sebagai berikut:
1. Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi,
atau komponen yang ada atau harus ada, dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya di dalam air.
2. Baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar polutan yang
ditenggang untuk dimasukkan ke media air .

3. Baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat,
energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar
yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut.
4. Baku mutu udara ambien adalah ukuran batas atau kadar zat, energi,
dan/atau komponen yang seharusnya ada, dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam udara ambien.
5. Baku mutu emisi adalah ukuran batas atau kadar polutan yang ditenggang
untuk dimasukkan ke media udara.
6. Baku mutu gangguan adalah ukuran batas unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya yang meliputi unsur getaran, kebisingan, dan
kebauan.
Untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, komponen-komponen
limbah yang dibuang ke lingkungan hidup tidak diizinkan melebihi ketentuan
yang ditetapkan dalam Baku Mutu Lingkungan Hidup.
Adapun cara untuk memulihkan kerusakan yang terjadi hal ini sesuai
Undang-undang R.I No.23 ayat 2 pasal 54 mengenai Pemulihan fungsi
lingkungan:
a. penghentian sumber pencemaran dan pembersihan unsur pencemar;
b. remediasi adalah adalah upaya pemulihan pencemaran lingkungan hidup untuk
memperbaiki mutu lingkungan hidup.
c. rehabilitasi adalah upaya pemulihan untuk mengembalikan nilai, fungsi, dan
manfaat lingkungan hidup termasuk upaya pencegahan kerusakan lahan,
memberikan perlindungan, dan memperbaiki ekosistem.
d. restorasi adalah upaya pemulihan untuk menjadikan lingkungan hidup atau
bagian-bagiannya berfungsi kembali sebagaimana semula.
e. dan cara lain.
Menurut Chandra (2007) dalam usaha pencegahan dan pengendalian efektif
terhadap penyakit, perlu dipelajari mekanisme interaksi yang terjadi antara agen
penyakit, manusia, dan lingkungannya. Interaksi tersebut antara lain:
1. Interaksi agen penyakit dengan lingkungan
Interaksi ini merupakan suatu keadaan saat agens penyakit langsung
dipengaruhi oleh lingkungan dan menguntungkan agens penyakit itu seta
terjadi pada saat prepatogenesis dari suatu penyakit. Contoh Viabilitas
bakteri terhadap sinar matahari, stabilitas vitamin yang terkandung dalam

sayuran di dalam pendingin, dan penguapan bahan kimia beracun akibat


proses pemanasan global.
2. Interaksi manusia dengan lingkungan
Interaksi ini merupakan keadaan saat manusia langsung dipengaruhi oleh
lingkungannya dan terjadi pada saat prepatogenesis dari suatu penyakit.
Contoh: udara dingin, hujan, dan kebiasaan membuat dan menyediakan
makanan.
3. Interaksi manusia dan agen penyakit
Interaksi ini merupakan suatu keadaan saat agen penyakit menetap,
berkembang biak, dan merangsang manusia untuk membentuk respon
berupa tanda-tanda dan gejala penyakit. Contoh demam, perubahan
fisiologis, pembentukan kekebalan, atau mekanisme pertahanan tubuh
lainnya. Interaksi ini dapat berupa sembuh sempurna , cacat,
ketidakmampuan, atau kematian.
4. Interaksi agen penyakit, manusia, dan lingkungan.
Interaksi ini merupakan suatu keadaan saat agens penyakit, manusia, dan
lingkungan bersama-sama saling memepengaruhi dan memeperberat satu
sama lain sehingga agens penyakit baik secara langsung maupun tidak
langsung mudah masuk ke dalam tubuh manusia.

2.5

Mekanisme

pemaparan

factor

lingkungan

terhadap

kesehatan manusia
Menurut Mulia (2005), lingkungan dapat mempengaruhi kesehatan
manusia jika manusia tersebut terpapar (exposed) dengan lingkungan yang
tercemar terutama pada tingkat yang tidak dapat ditoleransi keberadaannya. Pada
dasarnya pemaparan faktor-faktor lingkungan tersebut dapat dilihat pada bagan di
bawah ini:

Gambar 2.7 Mekanisme Pemaparan Faktor-Faktor Lingkungan (Moeler, 1992


dalam Mulia).
Lingkungan kerja merupakan tempat yang potensial mempengaruhi
kesehatan pekerja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja
antara lain factor fisik, faktor kimia, dan faktor biologis. Lingkungan kerja
ataupun jenis pekerjaan dapat menimbulkan masalah kesehatan dan penyakit
(Subaris dan Haryono, 2008).
Kulit merupakan jalur pemaparan yang paling umum dari suatu zat. Begitu
menembus kulit, zat tersebut akan memasuki aliran darh dan terbawa ke seluruh
bagian tubuh. Kemampuan suatu zat untuk menembus kulit bergantung pada daya
larut zat tersebut dalam lemak. Semakin tinggi daya larut suatu zat dan lemak,
semakin besar kemungkinannya untuk menembus kulit (Mulia, 2005).
Kulit merupakan organ terbesar manusia, kulit berfungsi untuk melindungi
jaringan dibawahnya dari cidera, mengatur suhu, menghasilkan minyak,
mentransmisikan sensasi melalui reseptor syaraf, menghasilkan dan mengabsorpsi
vitamin D (Saryono dan Widianti, 2011).
Kulit merupakan pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari
pengaruh lingkungan. Kulit sebagai organ yang berfungsi sebagai proteksi, kulit
memegang peranan penting dalam meminimalkan setiap gangguan dan ancaman
yang masuk melewati kulit (Isroin dan Andarmoyo, 2012).
Menurut Potter (2005), pemeliharaan kulit tidak terlepas dari kebersihan
lingkungan, makanan yang dimakan serta kebiasaan hidup sehari-hari.
Saluran pernafasan merupakan jalur pemaparan yang paling penting pada
lingkungan industry. Berbagi jenis zat dapat terbawa dalam udara lingkungan

kerja. Efek paparan zat melalui saluran pernafasan sangat beragam, tergantung
pada konsentrasi dan lamanya pemaparan serta status kesehatan orang yang
terpapar (Mulia, 2005).
Saluran pencernaan merupakan jalur utama masuknya zat-zat yang
mengontaminasi makanan. Zat-zat yang ditelan masuk melalui absorbs di saluran
gastrointestinal. Absorbsi zat-zat tersebut dapat berlangsung sepanjang saluran
pencernaan, tetapi lokasi utama absorpsi adalah usus halus karena fungsi
fisiologisnya di dalam mengabsorbsi zat gizi (Mulia, 2005).
Lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit, misalnya malaria. Data
WHO menyebutkan tahun 2010 tercatat 544.470 kasus malaria di Indonesia,
dimana tahun 2009 terdapat 1.100.000 kasus klinis dan tahun 2010 meningkat lagi
menjadi 1.800.000 kasus dan telah mendapat pengobatan. Pada tahun 2011,
jumlah kasus malaria di Indonesia sebanyak 256.592 orang dari 1.322.451 kasus
malaria yang diperiksa sampel darahnya dengan tingkat kejadian tahunan
1,75/1000 penduduk. Artinya, setiap 1000 penduduk terdapat 2 orang terkena
malaria ( Dirjen PP&PL Depkes RI, 2011).
Hasil penelitian Santoso, dkk. (2012) bahwa gejala klinis yang ditemukan
pada penderita malaria berupa menggigil, sakit kepala, pusing, anoreksia dan
nyeri otot. Menurut Arsin (2012) bahwa ada dua gejala malaria. Pertama, gejala
malaria ringan yakni; demam menggigil secara berkala dan biasanya disertai sakit
kepala, pucat karena kurang darah, kadang-kadang di mulai dengan badan terasa
lemah, mual/muntah tidak nafsu makan. Kedua, gejala malaria berat; kejangkejang, kehilangan kesadaran, kuning pada mata, panas tinggi, kencing berwarna
teh tua, nafas cepat, muntah terus, dan pingsan bahkan sampai koma.
Berdasarkan hasil penelitian Nurdin (2011) tingginya kejadian malaria
dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan keluarga
terhadap pencegahan dan pemberantasan malaria. Penyakit yang ditimbulkan
berkaitan dengan fenomena alam dan lingkungannya. Disinilah pentingnya peran
kesehatan lingkungan, yaitu untuk mencegah menyebarnya penyakit lewat
lingkungan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari makalah ini yaitu:
1. Ilmu kesehatan lingkungan adalah ilmu yang mempelajari dinamika
hubungan antara sekelompok manusia dengan berbagai perubahan

komponen lingkungan hidupnya yang diduga dapat menimbulkan


gangguan kesehatan, serta mempelajari upaya untuk menanggulangi dan
mencegah gangguan kesehatan yang timbul.
2. Ilmu kesehatan lingkungan mengalami evolusi sejak periode sebelum
berkembangnya ilmu pengetahuan dimana suatu wabah mematikan sering
dikaitkan dengan kejadian mistis alias kutukan. Pada periode sesudah
berkembangnya ilmu pengetahuan, hasil penelitian Dr. John Snow pada
tahun 1832 bahwa wabah kolera berasal dari sumber air yang digunakan
masyarakat membuat ilmu kesehatan lingkungan mulai didalami.
3. Manfaat mempelajari evolusi ilmu kesehatan lingkungan adalah untuk
mencari pemecahan masalah penyakit masa kini yang juga pernah muncul
di masa lalu.
4. Keterkaitan antara ekologi dan kesehatan manusia adalah
ekologi sebagai ilmu dasar untuk lingkungan. Mempelajari
interaksi antara manusia dengan lingkungannya, keduanya
saling

mempengaruhi

dan

dipengaruhi.

Semakin

baik

kondisi lingkungan maka semakin baik pula kesehatan


manusia dan sebaliknya.
5. Mekanisme
pemaparan

factor

lingkungan

terhadap

kesehatan manusia yaitu berawal dari lingkungan di sekitar


kita kemudian akan masuk ke tubuh melalui kulit, saluran
pernapasan, dan saluran pencernaan.

DAFTAR PUSTAKA
Antoine, Daniel and Hillson, Simon. 2005. Famine, the Black Death, and health in
fourteenth-century London. Archaeology International Journal.
Arsin Arsunan A, 2012. Malaria di Indonesia Tinjauan Aspek Epidemiologi.

Makassar: Masagena Press.


Blum, Hendrik L. 1974. Planning for Health, Development and Aplication of
Social Changes Theory. New York: Human Sciences Press.
Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Dalri. 2010. Emerging and Re-emerging Disease: Menghadapi Masalah
Pandemik (Online), (http://healthstalker.blogspot.com/2010/11/emergingand-re-emerging.html). Diakses tanggal 22 Agustus 2015.
Depkes RI. 2011. Pedoman Penatalaksanaann Kasus Malaria Di Indonesia.
Jakarta: Direktorat Jenderal P2PL, Depkes RI.
Dirjen PP dan PL Depkes RI, 2011.Peringatan Hari Malaria Sedunia.
Available at
http://www.infopenyakit.com/def_menu.asp?menuId=17&menutype=1
(diakses 30 Januari 2013).
Husnantiya, Muamaroh. 2014. Wabah Kolera yang Mematikan Dikhawatirkan
Kembali Menyerang Haiti (Online), (http://health.detik.com/read/2014/04/
29/104309/2568387/763/wabah-kolera-yang-mematikan-dikhawatirkankembali-menyerang-haiti). Diakses tanggal 22 Agustus 2015.
Isroin, L dan Andarmoyo, S., 2012. Personal Hygiene; Konsep, Proses dan
Aplikasi Praktik Keperawatan, Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Mulia, R.M., 2005. Kesehatan Lingkungan, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Nurdin, E. 2011. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria Di
Wilayah Tambang Emas Kecamatan IV Nagari Kabupaten Sijunjung Tahun
2011. (Skripsi). Padang : Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Notoatmodjo,

Soekidjo.

2003.

Prinsip-Prinsip

Dasar

Ilmu

Kesehatan

Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.


Potter., 2005. Fundamental Keperawatan, Edisi keempat. Jakarta: EGC.

Saryono & Widianti, A.T., 2011. Catatan Kuliah Kebutuhan dasar Manusia
(KDM), Cetakan Kedua. Yogyakarta: Nuha Medika.
Santoso, dkk 2012. Perbedaan Gejala Klinis Dan Efek Samping Pengobatan
Pada Malaria Falciparum dan Vivax Di Kabupaten Ogan Komering Ulu
(OKU) Provinsi Sumatera Selatan. (Jurnal). Baturaja : Departemen
Parasitologi, Fak.Kedokteran Univ.Gadjah Mada. Pembangunan Manusi ;
6 (2) 8-9.
Subaris, H & Haryono., 2008. Hygiene Lingkungan Kerja. Yogyakarta: Mitra
Cendikia Press.
Tien, Joseph H. 2014. John Snow's cholera outbreaks revisited: from blackboard
to bench. The Ohio State University Journal.

Kesehatan Lingkungan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia


Nomor 66 Tahun 2014 Tenatang Kesehatan Lingkungan Bab I Ketentuan Umum
Pasal 1, yaitu:
Kesehatan Lingkungan adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau
Gangguan kesehatan dari factor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas

lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial.
Tujuan Pengaturan Kesehatan Lingkungan menurut Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014 Tenatang Kesehatan Lingkungan Bab I
Ketentuan Umum Pasal 2, yaitu:
Pengaturan Kesehatan Lingkungan bertujuan untuk mewujudkan kualitas
lingkungan yang sehat, baik dari aspek fisik, kimia, biologi, maupun sosial,
yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi
tingginya.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2014
Tenatang Kesehatan Lingkungan Bab VII Peran Serta Masyarakat Pasal 58, yaitu:
1. Masyarakat berperan serta dalam penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan
untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
2. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilaksanakan melalui:
a) perencanaan,

pelaksanaan,

pemantauan,

penilaian,

dan

pengawasan;
b) pemberian bantuan sarana, tenaga ahli, dan finansial;
c) dukungan kegiatan penelitian dan pengembangan Kesehatan
Lingkungan;
d) pemberian bimbingan dan penyuluhan serta penyebarluasan
informasi; dan
e) sumbangan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan
penentuan
Lingkungan.

kebijakan

dan/atau

penyelenggaraan

Kesehatan