Anda di halaman 1dari 3

4.

Eosinofil
Eosinofil merupakan sel bergranul spesifik dengan ukuran besar dan lonjong. Sel ini
berfungsi khusus dalam respon alergi, pertahanan terhadap parasit dan pembuangan fibrin
yang terbentuk selama inflamasi. Eosinofil memfagositosis kompleks antigen-antibodi yang
terbenuk selama reaksi alergi (Hoffbrand et al, 2005 ; Eroschenko, 2003 ; Junqeira &
Carneiro, 2007).

Berdasarkan tabel dari hasil penelitian, Semua kelompok perlakuan dan kontrol pada
penelitian ini memiliki persentase eosinofil dalam rentang normal. Rata-rata persentase
eosinofil kelompok perlakuan 3 dan 4 memiliki persentase yang lebih kecil jika dibandingkan
kelompok lainnya. Rata-rata persentase eosinofil pada kelompok perlakuan 3 dan 4 memiliki
persentase yang sama, yakni 2%. Kelompok kontrol 1(positif) dan kelompok 2(negatif)
memilki persentase yang lebih besar dibandingkan kelompok lainnya yakni sebesar 2,5%.
Pada kelompok perlakuan 1 memiliki persentase eosinofil sebesar 2,33 % dan kelompok
perlakuan 2 dengan rata-rata persentase 2,16%.

Persentase eosinofil pada semua kelompok perlakuan ekstrak jintan hitam memiliki
persentase yang lebih kecil jika dibandingkan dengan kontrol 2/negatif maupun kontrol
1/positif. Hal ini menunjukkan pengaruh dari khasiat ekstrak jintan hitam (Nigella sativa)
terhadap eosinofil. Hal ini dipengaruhi oleh senyawa yang terkandungan pada ekstrak jintan
hitam yakni flavonoid dan thymoquinone yang memiliki efek antiinflamasi (Suhendi et al,
2011 ; El-Dakhakhny et al. 2000). Senyawa flavonoid dan diketahui mampu menghambat
asam arakhidonat yang memproduksi postaglandin sehingga dapat berkhasiat sebagai
antiinflamasi (Winarsi, 2005). Pada penelitian lainnya didapatkan ekstrak jintan hitam dengan
dosis 100 mg/kg dan 200 mg/kg juga terbukti menurunkan persentase eosinofil pada mencit
yang diinfeksikan Toxocra canis (Musa et al, 2011).
Namun hasil persentase jumlah eosinofil secara statistik menunjukkan tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antar kelompok (P>0,05). Kemungkinan ini dapat diakibatkan
karena sel eosinofil yang tidak terlalu berperan dalam infeksi Plasmodium berghei. Hal ini
didukung oleh beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan penurunan jumlah eosinofil
pada penderita yang terinfeksi Plasmodium vivax dan pasien malaria serebral dan malaria
tanpa komplikasi namun meningkat jumlahnya pada penderita malaria (P.falciparum)
asimptomatik (Lee et al, 2001 ; Kurtzhals et al, 1998). Tidak meningkatnya eosinofil darah
tepi pada infeksi malaria kemungkinan dapat diakibat destruksi yang lebih cepat dan
pengumpulan di jaringan (Kurtzhals et al, 1998 ; Simon, 1997).
Adapun penelitian lain juga membuktikan bahwa secara statistik terdapat hubungan
bermakna antara eosinofilia darah tepi dengan malaria (Plasmodium falciparum) , namun jika
dikaitkan dengan kepadatan parasit penelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan
bermakna antara eosinofillia dengan tingkat kepadatan parasit. Kepadatan parasit ini
dipengaruhi oleh banyak keadaan diantaranya faktor parasit, lingkungan, dan faktor pejamu
(Saptanto, 2004). Peningkatan eosinofil yang tinggi pada umumnya diakibatkan oleh infeksi

dari parasit cacing seperti infeksi schistosomiasis atau ascariasis (Fawcet, 2000).
Peningkatan eosinofil secara umum terdapat pada alergi, infeksi parasit, flebitis, kanker pada
tulang, otak testis, ovarium, sedangkan penurunan eosinofil ditemukan pada hiperfungsi
adrenokortikal, stres dan luka bakar (Sutedjo, 2013).