Anda di halaman 1dari 17

BAB II

DASAR TEORI

Pada saat pemboran eksplorasi menemukan minyak dan atau gas di suatu

struktur atau reservoir, maka salah satu hal yang segera ingin diketahui adalah

seberapa besar akumulasi minyak dan atau gas yang terkandung di dalamnya. Ada

beberapa cara atau metode perhitungan yang bisa dilakukan untuk menghitung

jumlah cadangan minyak, antara lain :

1. Metode Volumetris

2. Metode Material Balance

3. Metode Decline Curve Analysis

4. Simulasi Reservoir

Ada

banyak

faktor

yang

mempengaruhi

besar

atau

kecilnya

suatu

cadangan minyak dalam suatu reservoir antara lain yaitu karakteristik suatu

batuan reservoir, karakteristik dari fluida reservoir dan yang sangat penting yaitu

jenis tenaga dorong dari suatu reservoir untuk mendorong minyak atau gas agar

sampai ke permukaan, dan ini akan berpengaruh terhadap laju produksi dari suatu

reservoir dan umur dari reservoir tersebut. Dari keempat metode tersebut penulis

hanya menggunakan metode Decline Curve Analysis untuk memprediksi atau

meramalkan umur dan cadangan sisa dari lapangan yang akan dianalisa. Hal

tersebut dikarenakan data yang dibutuhkan dalam Decline Curve Analysis adalah

data produksi dimana data ini paling mudah didapat karena selalu dicatat dalam

tiap periode waktu tertentu. Pada lapangan yang akan dianalisa mempunyai data

penurunan produksi yang representative untuk dilakukan Decline Curve Analysis.

5

6

2.1 Definisi Cadangan

Istilah cadangan mempunyai beberapa pengertian yaitu jumlah minyak

mula-mula di reservoir (Original Oil in Place, OOIP), estimasi jumlah

cadangan minyak yang bisa diproduksikan (Estimated Ultimate Recovery,

EUR) dan estimasi cadangan tersisa (Estimated Remaining Reserve, ERR).

Berikut adalah masing-masing penjelasannya:

2.1.1 Cadangan Minyak Mula-mula (OOIP)

Original Oil In Place (OOIP) mempunyai pengertian yaitu jumlah

minyak

mula-mula yang menempati sebuah reservoir, dimana tidak ada

kaitannya dengan kelakuan

reservoir tersebut.

Apabila volume batuan

reservoir total (Vb) telah dihitung dengan bantuan peta cadangan, maka

volume minyak mula-mula yang terakumulasi di reservoir dapat dihitung

dengan

menggunakan

metode

persamaan berikut:

OOIP =

7758.A.h ϕ.(1-Swi)

Boi

atau

OOIP =

7758.BV.ϕ.(1-Swi)

Boi

Keterangan :

volumetris

yang

ditentukan

dengan

(Persamaan 2.1)

(Persamaan 2.2)

A

= Luas Reservoir, Acre

h

= Ketebalan Reservoir, ft

BV

= Bulk Volume, Acre-ft

Φ

= Porositas, fraksi

Swi

= Saturasi air awal, fraksi

Boi

= Faktor Volume Formasi Minyak awal, BBL/STB

7

Parameter-parameter yang digunakan seperti porositas, saturasi air,

bulk volume dan faktor volume formasi minyak yang digunakan pada

persamaan tersebut merupakan kondisi awal untuk masing-masing lapisan.

2.1.2 Ultimate Recovery

Ultimate Recovery merupakan suatu harga taksiran tertinggi dari

jumlah minyak di reservoir yang dapat diproduksi ke permukaan selama life

time-nya. Harga

evaluasi

terbaru

ultimate

recovery

tergantung

pada

dapat

berubah-ubah

kemajuan

teknologi.

berdasarkan

Simbol

yang

digunakan adalah Npmax untuk minyak dan Gpmax untuk gas. Penentuan

estimated ultimate recovery (EUR) dapat dilakukan dengan menggunakan

metode Decline Curve Analysis (DCA) dimana akan dipengaruhi oleh laju

alir minyak ataupun gas serta batas ekonomi limit nya.

2.1.3 Recovery Factor

Recovery factor adalah besarnya minyak yang dapat diproduksikan

dengan menggunakan tenaga dorong alamiahnya. Besarnya recovery factor

ini tergantung kepada jenis tenaga dorong alamiahnya. Jadi recovery factor

merupakan perbandingan antara estimated ultimate recovery atau Npmax

berbanding Original Oil In Place (OOIP) disimbolkan dengan N.

NPmax

RF =

N

2.1.4 Remaining Reserves

(Persamaan 2.3)

Remaining reserve adalah besarnya minyak pada reservoir yang masih

belum diproduksikan sehingga dapat dikatakan cadangan minyak yang

masih dapat diambil (diproduksikan). Maka persamaan untuk menghitung

remaining reserves (RR) adalah :

8

2.2 Economic Limit

Economic limit rate (q el ) adalah batas dimana laju produksi minyak

yang dihasilkan akan meberikan penghasilan bersih yang besarnya sama

dengan biaya operasional yang dikeluarkan untuk segala keperluan sumur,

lapisan atau lapangan yang bersangkutan. Laju ekonomi limit ditentukan

dengan persamaan sebagai berikut ( Mian. M.A , “Petroleum Engineering

Handbook for the Practicing Engineer”, Volume 1) :

Handbook for the Practicing Engineer ”, Volume 1) : Keterangan : (Persamaan 2.5) WI = Working

Keterangan :

(Persamaan 2.5)

WI

= Working Interest, fraction

LOE

= Lease Operating expenses, $/well/month

NRI

= Net revenue interest, fraction

GOR

= Gas oil ratio, scf/stb

Po, Pg

= current prices of oil and gas in $/bbl and $MSC

T

= tax, fraction

Apabila kepemilikan perusahaan dimiliki oleh satu orang atau pihak

maka harga WI = 1 (100%), bila kepememilikan bersama maka harga WI

tergantung dari kepemilikan yang besarnya berdasarkan kesepakatan dari

pemilik saham.

Tax pada persamaan di atas adalah pajak

pemerintah.

Pajak

adalah

salah

satu

sumber

yang diberikan kepada

pendapatan

pemerintah.

Pemerintah mengambil bagiannya dari hasil produksi minyak dan gas bumi

melalui pajak yang dikenakan terhadap semua pemasukan kontraktor yang

didapat

dari

usahanya

tersebut.

Sistem

perpajakan

yang

dibuat

oleh

9

pemerintah dimaksudkan untuk memaksimalkan pendapatan pemerintah.

Net Revenue Interest

(NRI) didefinisikan sebagai perkalian antara

working

interest

dengan

(1-royalty

interest).

Royalty

Interest

diberikan

kepada pemerintah berdasarkan peraturan perundangan sebagai pemilik lahan

atau area yang digunakan.

2.3 Metode Decline Curve Analysis

Metode

decline

curve

merupakan

salah

satu

metode

untuk

memperkirakan besarnya cadangan minyak berdasarkan data produksi pada

periode waktu tertentu. Pada prinsipnya peramalan jumlah cadangan minyak

tersisa dengan metode ini adalah memperkirakan hasil ekstrapolasi atau

penarikan garis lurus yang diperoleh dari suatu grafik atau kurva yang dibuat

berdasarkan plotting antara data-data produksi terhadap waktu produksinya

dimana dalam penelitian ini diambil penarikan plot antara laju produksi

minyak terhadap waktu produksi

Adapun syarat-syarat dalam menganalisa kurva penurunan produksi

adalah sebagai berikut:

a. Jumlah sumur aktif kosntan

b. Selama produksi tidak ada perubahan kondisi operasi.

c. Khusus untuk sumur, tidak ada perubahan selang perforasi dari lapisan

penghasilnya dan tidak ada pekerjaan stimulasi.

d. Tidak ada masalah pada fasilitas produksi permukaannya.

Penurunan laju produksi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor,

diantaranya mekanisme pendorong reservoir, tekanan, sifat fisik batuan dan

fluida reservoar. Beberapa tipe grafik yang dapat digunakan untuk peramalan

cadangan dan produksi hidrokarbon adalah :

10

1. Laju produksi terhadap waktu (q vs t)

2. Laju produksi terhadap produksi kumulatif (q vs Np)

3. Persen perolehan minyak (Recovery Factor) terhadap produksi kumulatif

(% oil vs Np).

4. Produksi kumulatif gas terhadap produksi kumulatif minyak (Gp vs Np)

5. Tekanan reservoir terhadap waktu (P vs t)

6. P/Z vs produksi kumulatif (untuk reservoar gas)

2.3.1 Jenis Decline Curve

Tahun

1935,

S.J.

Pirson

mengklasifikasikan

persamaan

kurva

penurunan produksi atas dasar menjadi 3 jenis, yaitu ; exponential decline

curve, hyperbolic decline curve, dan harmonic decline curve. Grafik yang

umum digunakan adalah tipe pertama (q vs t) dan kedua (q vs Np) dimana

keduanya memberikan pendekatan grafis yang dinamakan decline curve.

memberikan pendekatan grafis yang dinamakan decline curve . Gambar 2.1 Beberapa Tipe Grafik Antara qo vs

Gambar 2.1 Beberapa Tipe Grafik Antara qo vs t dan qo vs Np Pada Ketiga Jenis

Decline Curve

11

1. Exponential Decline

Log rate produksi yang diplot terhadap waktu maka akan terjadi

straight line (garis lurus) pada kertas semilog, hal ini dinamakan dengan

exponential decline. Exponential decline curve disebut juga geometric

decline

atau

semilog

decline

atau

constant

percentage

decline

mempunyai ciri khas yaitu penurunan produksi pada suatu interval waktu

tertentu sebanding dengan laju produksinya. Atas dasar hubungan di atas,

apabila variabel-variabelnya dipisahkan maka dapat ditarik beberapa

macam hubungan yaitu hubungan antara laju produksi terhadap waktu

dan

hubungan

laju

produksi

terhadap

produksi

kumulatif.

Kurva

penurunan yang konstan ini hanya diperoleh bila eksponen decline adalah

nol (b=0). Secara matematis bentuk kurva penurunannya menjadi sebagai

berikut :

q = q i .e -Dt

Keterangan :

(Persamaan 2.6)

q

= Laju produksi pada waktu t, BOPD

q

i

= Laju produksi minyak pada saat terjadi decline (initial),BOPD

Di

= Initial nominal exponential decline rate, 1/waktu

t

= waktu, hari.

e

= bilangan logaritma (2,718)

ta

= umur produksi

qa

= laju produksi abandonment, BOPD

a. Nominal Exponential Decline Rate-nya (Di) adalah:

Di =

ln qi

q

t

(Persamaan 2.7)

12

b. Laju Produksi (rate production) peramalan

q = q i x e -Dt

c. Kumulatif produksi (Np)

Np =

(qi - q)

Di

(Persamaan 2.8)

(Persamaan 2.9)

d. Jika ekonomi limitnya diketahui (qabandonment) maka dapat diketahui

umur produksi hingga batas perolehan akhir yaitu :

t a =

ln

qi

qa

Di

2. Harmonic Decline

(Persamaan 2.10)

Bentuk harmonic decline curve merupakan bentuk khusus dari

hyperbolic decline dengan harga b=1. Hubungan laju produksi terhadap

waktu secara matematis:

q = q i x (1+ (Di x t)) -1

Keterangan :

(Persamaan 2.11)

q

= Laju produksi pada waktu t, BOPD

q

i

= Laju produksi minyak pada saat terjadi decline (initial),BOPD

Di

= Initial nominal exponential decline rate, 1/waktu

t

= waktu, hari.

e

= bilangan logaritma (2,718)

ta

= umur produksi

b

= Eksponen Decline.

13

a. Nominal Exponential Decline Rate-nya (Di) adalah:

Di =

qi

q

- 1

t

b. Kumulatif produksi (Np)

Np =

qi

Di ln

qi

q

(Persamaan 2.12)

(Persamaan 2.13)

c. Jika ekonomi limitnya diketahui (qabandonment) maka dapat diketahui

umur produksi hingga batas perolehan akhir yaitu :

t a =

qi

qa

-1

Di

(Persamaan 2.14)

Maka, hasil yang didapat dari metode ini adalah :

 Nilai dari decline exponent ( b ).

 Nilai dari ini initial decline ( Di ) yaitu perbandingan antara besarnya

penurunan laju produksi dalam setahun.

 Berapa lamanya jangka waktu sumur akan dapat berproduksi.

 Nilai dari kumulatif produksi maksimal suatu lapisan ( EUR ).

 Nilai dari sisa cadangan yang masih bisa diproduksikan.

2.3.2 Metode Penentuan Jenis Decline Curve

Tipe

decline

curve

ditentukan

sebelum

melakukan

perkiraan

jumlah cadangan sisa dan umur dari reservoir yang dikaji berproduksi

sampai q limit . Berdasarkan nilai b (eksponen decline), penentuan tipe decline

curve yaitu menggunakan metode Loss-Ratio, dan metode Trial Error and

X 2 -Chisquare Test.

14

Tabel 2.1 meringkas pengembangan hubungan untuk tiga tipe dari kurva

decline yang telah didiskusikan.

Tabel 2.1 Persamaan Decline Curve

yang telah didiskusikan. Tabel 2.1 Persamaan Decline Curve 1. Metode Loss-Ratio Loss Ratio (a) didefinisikan sebagai

1. Metode Loss-Ratio

Loss Ratio (a) didefinisikan sebagai laju produksi pada akhir

periode waktu produksi dibagi dengan kehilangan produksi (loss) selama

periode tersebut. Loss ratio merupakan fungsi invers dari rate of decline.

Definisi dari rate of decline (D) adalah perubahan dalam laju relatif dari

produksi

per

unit

waktu,

tanda

(-)

menunjukkan

arah

slope

yang

dihadirkan plot antara laju produksi dan waktu dari kurva logaritma.

Eksponen decline (b) adalah fungsi turunan pertama dari loss ratio.

Persamaan Loss Ratio (a) yaitu :

D 

d q

d t

q

(Persamaan 2.15)

15

a 

b 

q

(dq / dt)

d

q

dq

/

dt

dt

Langkah-langkah

perhitungan

eksponen

(Persamaan 2.16)

(Persamaan 2.17)

decline

(b)

dengan

metode loss ratio adalah sebagai berikut :

1. Membuat tabulasi yang meliputi: nomor, waktu (t), Δt, q (laju alir), Δq,

a (loss ratio), Δa, dan b.

2. Untuk kolom Δt (time), persamaannya : Δt = t 0 - t 1

3. Untuk kolom Δq (bbl/time), persamaannya : Δq n = q 0 q 1

4. Untuk kolom a (loss ratio), persamaannya : a n = -

5. Untuk kolom Δa, persamaannya : Δa n = a 2 - a 1

6. Untuk kolom b, persamaannya : b n =

d a

d t

q

d

d

q

t

7. Mengulangi prosedur perhitungan pada langkah 3 sampai langkah 6

untuk menghitung data-data selanjutnya.

8. Kemudian untuk penentuan jenis kurva decline berdasarkan nilai b

yaitu :  b b  Jumlah data
yaitu :
b
b 
Jumlah data

2. Metode Trial Error and X 2 Chisquare-Test

Metode Trial Error and X 2 -Chisquare Test yaitu memperkirakan

harga q pada asumsi berbagai macam harga b, dan kemudian menentukan

selisih

terkecil

dari

qactual

dengan

qforecast

yang

sudah

dihitung

sebelumnya. Chi-Square Test merupakan pengujian hipotesis tentang

16

dengan frekuensi harapan tertentupada setiap kasus digunakan adalah : ( fi  Fi ) 2
dengan
frekuensi
harapan
tertentupada
setiap
kasus
digunakan adalah :
(
fi
 Fi
)
2
X 2
n
Fi

(q forecast )

atau

data.

yang

didasarkan

pada

Rumus

Chi-Square

hipotesis

Test

yang

(Persamaan 2.18)

Keterangan:

fi

= data laju produksi observasi (aktual), bbl/time.

Fi

= data laju produksi forecast (perkiraan), bbl/time.

Prosedur perhitungannya sebagai berikut :

1. Buat tabulasi yang meliputi: nomor, waktu (t), q actual , kemudian q

forecast serta D i dengan berbagai harga b, dan terakhir X 2 (selisih antara

q actual dengan q forecast ).

2. Asumsikan harga b mulai 0 sampai 1 (b = 0 untuk exponential, b =

0<b<1 untuk hyperbolic, b = 1 untuk harmonic).

3. Hitung Di dengan perumpamaan :

Pada b = 0, D i =

ln qi

qt

t t

D

Pada b = 0<b<1,

i

qi

(q /q ) b t

- 1

t

b

1

i

t

Pada b = 1, Di =

qt

t t

4. Hitung q forecast yaitu :

Pada b = 0, hitung q forecast

:

Pada b = 0<b<1, hitung q forecast :

Pada b = 1, hitung q forecast

:

q n = q i e - Di.t

q n = q i (1+b Di.t) -1/b

q n = q i (1 + Di.t) -1

17

Dimana untuk harga q i = harga q actual , harga D i didapat dari langkah 3

dan harga dari t = Δt.

5. Hitung X 2 (selisih antara q actual dengan q forecast ) menggunakan rumus

Chi-Square Test, seperti persamaan dibawah ini:

X

2

n

( fi  Fi ) 2 Fi
(
fi
 Fi
)
2
Fi

Keterangan : fi = data laju produksi observasi (aktual), bbl/time.

Fi

= data laju produksi forecast (perkiraan), bbl/time.

6. Mengulangi prosedur perhitungan pada langkah 3 sampai langkah

untuk menghitung data-data selanjutnya.

7. Menentukan Σ harga X 2 yang paling kecil. Harga ΣX 2 yang paling

kecil menunjukkan kurva yang paling fit untuk mewakili titik-titik

data yang sedang dianalisa dengan harga :

Exponential Decline

Hyperbolic Decline

Harmonic Decline

:

:

:

b = 0

0<b<1

b =1

2.4 Analisa Hasil Decline Curve Analysis

Penentuan atau penarikan

Decline

Curve

Analysis

dilakukan

sesuai

dengan periode-periode yang telah ditentukan, pemilihan periode dilakukan

pada grafik log(qo) vs waktu. Untuk menganalisa dari hasil proses Decline

Curve Analysis data produksi yang harus diplot yaitu log(qo) vs kumulatif

produksi (Np). Berikut contoh analisa Decline Curve Analysis :

18

2.4.1 Hasil Penarikan Decline Curve Analysis dari Beberapa Kurva Menuju

Satu Titik

Gambar 2.2. adalah contoh hasil dari analisa Decline Curve Analysis

dimana diperoleh 2 periode sebagai dasar untuk penarikan decline. Hasil

penarikan garis Decline Curve Analysis baik untuk kurva 1 dan kurva 2

menuju

ke

satu

titik

artinya

lapangan

tersebut

sudah

mature

dan

penambanhan sumur sifatnya hanya mempercepat produksi. Laju produksi

awal dari sumur baru dapat menggunakan hasil grafik dari rata-rata laju

produksi sumuran (Gambar 3.3) atau dengan plot puncak produksi masing-

masing sumur (Gambar 3.4)

plot puncak produksi masing- masing sumur ( Gambar 3.4 ) Gambar 2.2 Contoh Penarikan Decline Curve

Gambar 2.2 Contoh Penarikan Decline Curve Analysis Menuju Satu Titik

19

19 Gambar 2.3 Penentuan Laju Produksi Awal Dari Sumur Baru Dengan Menggunakan Hasil Grafik Dari Rata-Rata

Gambar 2.3 Penentuan Laju Produksi Awal Dari Sumur Baru Dengan

Menggunakan Hasil Grafik Dari Rata-Rata Laju Produksi Sumuran

Hasil Grafik Dari Rata-Rata Laju Produksi Sumuran Gambar 2.4. Penentuan Laju Produksi Awal Dari Sumur Baru

Gambar 2.4. Penentuan Laju Produksi Awal Dari Sumur Baru dengan Plot Puncak

Produksi Masing-Masing Sumur.

 

20

2.4.2 Hasil

Penarikan

Decline

Curve

Analysis

dari

Beberapa

Kurva

Menunjukan Sejajar

Gambar 3.5 adalah contoh hasil dari analisa Decline Curve Analysis

dimana diperoleh 2 periode sebagai dasar untuk penarikan decline. Hasil

penarikan garis Decline Curve Analysis baik untuk kurva 1 dan kurva 2

menunjukan garis yang sejajar artinya lapangan tersebut masih virgin dan

penambahan sumur akan menambah cadangan. Prediksi untuk penambahan

sumur baru dilakukan dengan menarik decline sejajar mengikuti kurva 1 dan

kurva 2.

menarik decline sejajar mengikuti kurva 1 dan kurva 2. Gambar 2.5 Contoh Penarikan Decline Curve Analysis

Gambar 2.5 Contoh Penarikan Decline Curve Analysis Menunjukan Sejajar