Anda di halaman 1dari 10

KANDIDIASIS

Dosen Pembimbing : dr Sotianingsih sp. PK

Anggota

K M Alkindi

(G1A113123)

M Rizqon Oksadika Rehan ( G1A113124)


Deswitri Ginta Sari

(G1A113125)

Arvin Aditya

(G1A113127)

Program Studi Pendidikan Dokter


Universitas Jambi
2015/2016

KANDIDIASIS
DEFENISI
Kandidiasis adalah infeksi primer atau sekunder yang disebabkan oleh genus Candidae
sp. Penyakit ini dapat terjadi di berbagai lokasi ditubuh seperti mulut, kulit, kuku, vagina hingga
organ dalam.

ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI


Kandidiasis paling tersering disebabkan oleh Candida Albicans . Candida Albicans
merupakan mikroflora normal yang berada di tubuh dengan populasi 15% - 60%. Kandidiasis
merupakan infeksi oportunis yang dimungkinkan karena menurunnya pertahanan penjamu.
Faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya kandidiasis adalah:
1. Faktor Mekanis
Faktor mekanis dapat berupa terjadinya trauma ( Luka bakar, abrasi, pemakaian
IUD, meningkatnya frekuensi koitus ) dan oklusi lokal, kelembaban atau maserasi
( gigi palsu, pakaian sintetik / ketat atau balut tertutup)
2. Faktor Nutrisi
Faktor mekanis dapat berupa avitaminosis, defisiensi zat besi dan malnutrisi.
3. Perubahan Fisiologi
Perubahan fisiologis dapat berupa umur yang masih terlalu muda atau terlalu tua,
kemudian juga dikarenakan kehamilan dan menstruasi.
4. Penyakit Sistemik
Penyakit sistemik yang berhubungan dengan terjadinya kandidiasis adalah
Diabetes Mellitus, Endokrinopathies, uremia, malignansi dan keadaan
immunodefisiensi intrinsik seperti HIV / AIDS.
5. Penyebab Latrogenik
Faktor barier lemah ( pemasangan kateter, penyalahgunaan obat iv ), radiasi sinarX, obat-obatan oral, parenteral, topical dan aerosol ( kortikosteroid dan
imunosupresi lainnya, antibiotik spectrum luas, metronidazole, transkuilaiser,
kontrasepsi oral/ estrogen, kolkhisin, phenilbutason, dan histamine-2 blocker)
6. Idiopatik

PATOGENESIS
Candidiasis merupakan flora normal di rongga mulut, traktus gastrointestinal, dan vagina
dapat bertahan hidup karena beberapa faktor, diantaranya kemampuan untuk menempel pada
mukosa dan berkompetisi dengan bakteri komensal lainnya. Jika keseimbangan antara jumlah
bakteri dan jamur terganggu, maka dapat menyebabkan peningkatkan pertumbuhan jamur atau
meningkatkan invasi bakteri. Pada penggunaan antibiotik spectrum luas, jumlah bakteri yang
menjadi competitor candida akan berkurang sehingga menyebabkan jamur candida dapat
tumbuh dengan cepat.

KLASIFIKASI
Berdasarkan letak dan tingkat keparahannya, Kandidiasis terbagi menjadi 2 golongan yaitu:
A. Kandidiasis Superficial
Kandidiasis superficial merupakan kandidiasis pada dermatomikosis superfisialis. Kandidiasis
Superficial terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Mengenai Mukosa
Oral, Vulvovaginalis, dan Balanitis.
2. Mengenai Kulit
Intertrigenosa ( Lipatan ) & generalisata, paronikhia & onkomikosis, dan daerah popok.
B. Kandidiasis Invasif
Kandidiasis invasif mengarah pada variasi yang luas dari kelainan yang berat dan invasif
seperti kandidemia, Kandidiasis diseminata, endokarditis, meningitis, endoftalmitis, dan kelainan
lain yang melibatkan organ dalam lain.

GEJALA KLINIS
A. Kandidiasis Oral
Kandidiasis oral ditandai dengan ditemukannya lesi putih tebal pada mukosa pipi,
gusi, atau lidah. Plak yang menempel ada yang dapat dikerok dan ada yang tidak,
kemudian plak dapat menimbulkan nyeri dan pendarahan. Plak dapat dilihat juga
disekitar tempat dipasangnya gigi palsu atau bahkan pada ujung mulut.

B. Kandidiasis Vulvovaginalis
Kandidiasis vulvovaginalis ditandai dengan adanya sensasi gatal dan panas pada
bagian vulva dan vagina. Kemudian ditemukan adanya sekret putih tebal seperti susu dan
adanya plak putih melekat pada vulva, vagina atau serviks. Gejala yang mungkin terjadi
adalah disuria dan dispareunia.
C. Kandidiasis balanitis
Kandidiasis balanitis ditandai dengan adanya erosi merah superficialis dan pustule
berdinding tipis diatas glans penis dan sulkus koronarium dan preputium penis (jika tidak
disirkumsisi)
D. Kandidiasis Intertriginosa
Kandidiasis Intertriginosa mengenai daerah lipatan badan, umbilicus, pannikulus,
dan dapat meluas ke kulit badan. Gejala yang timbul adalah kulit nyeri, inflamasi,
eritema, dan ada satelit vesikel/pustule, bula atau papulopustular yang pecah
menyebabkan krusta. Selain itu dapat ditemukan juga pada bagian sela jari.
E. Kandidiasis Paronikhia
Kandidiasis paronikhia menyerang pada bagian liapatan kuku proksimal dan
kutikula. Gejala khas yang timbul adalah eritema, oedema, dan cairan purulen, tebal, pus
putih, membentuk kantong yang menyebabkan infeksi kuku. Terasa nyeri pada kuku.
Biasanya terjadi pada orang yang lama terpapar air atau karbohidrat dalam waktu lama.
F. Kandidiasis Onikomikosis
Kandidiasis onikomikosis ditandai dengan adanya perubahan warna kuku
lepasnya lempeng kuku dari dasar kuku dan penebalan lempeng kuku. Jika kuku diberi
tekanan maka akan terasa nyeri. Biasasanya dapat diikuti atau tidak diikuti dengan
adanya paronikhia.
G. Kandidemia
Kandidemia ditandai dengan adanya hasil positif dari isolasi Candida spp. Pada
kultur darah. Gangguan ini memiliki spectrum luas, sehingga dapat menyebabkan banyak
komplikasi. Gejala yang timbul adalah demam namun demam tersebut tidak responsive
pada pemberian antibiotik spectrum luas. Selain itu demam juga terjadi dengan onset
mendadak disertai sepsis.

H. Kandidiasis Endophtalmitis
Merupakan komplikasi dari kandidemia dimana Candida spp. Menyerang bagian
koroid mata. Hal tersebut menyebabkan lesi pada koroid yang dapat menyebabkan
nekrosis dari retina, diikuti dengan vitreitis dan ophtalmitis. Gejala yang timbul berupa
mata merah , nyeri, visus menurun, dan unilateral.
I. Kandidiasis Diseminata Kronis
Disebut juga Kandidiasis Hepatosplenik. Gejala klinis yang timbul adalah demam
yang tidak responsive terhadap antibiotik, nyeri abdomen dan
hepatosplenomegali.

DIAGNOSIS
Penegakkan diagnosis pada kandidiasis dapat dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan
dermatologis, dan pemeriksaan penunjang.
A. Anamnesa
Anamnesa dilakukan dengan menanyakan letak ditemukannya bercak keputihan
atau adanya kemerahan pada bagian tubuh seperti pada lipatan tubuh. Bila ditemukan,
tanyakan kepada pasien apakah merasakan sensasi nyeri, perih, dan terbakar.
Setelah menanyakan tanda-tanda adanya pertumbuhan koloni Candida , penguji
selanjutnya bertanya mengenai faktor predisposisi. Faktor predisposisi dapat berupa
apakah pasien mengalami trauma di bagian ditemukannya bercak putih, nilai gizi,
penyakit sistemik, dan riwayat obat pasien. Selain itu keadaan ekonomi dan lingkungan
pasien perlu ditanyakan untuk melihat keadaan sanitasi pasien.
B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan dermatologis,
pemeriksaan tenggorok, dan pemeriksaan speculum tergantung letak dimana pasien
keluhkan.

Pemeriksaan dermatologist dilakukan dengan melihat keadaan kulit dan kuku


pasien, pemeriksaan ini membutuhkan pencahayaan yang baik dan tidak menutup
kemungkinan membutuhkan lup. Pemeriksaan tenggorok dilakukan dengan cara melihat
bagian mukosa mulut dan tenggorok pasien menggunakan bantuan lampu kepala. Untuk
pemeriksaan speculum dilakukan untuk melihat ada tidaknya jamur kandida pada bagian
organ reproduksi eksterna dan interna pada pasien.

C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:
1. Pemeriksaan Langsung KOH
Ambil / kerok bagian plak pada tubuh pasien kemudian letakkan pada object
glass. Berikan pewarna KOH 10-20% (bisa ditambahkan tinta parker superchrome
blue black). Kemudian amati dibawah mikroskop. Jika hasil positif maka terlihat
budding yeast cell(2 spora seperti angka 8) dengan atau tanpa hifa / pseudohifa.
Pseudohifa (Gambaran untaian sosis) / hifa pada infeksi membrane mukosa adalah
pathognomonis. specimen harus baru dan segera diperiksa.
2. Pengecatan Gram
Ambil / kerok plak pada bagian tubuh pasien. Kemudian letakkan pada object
glass dan lakukan pewarnaan gram. Amati dibawah mikroskop. Jika hasil positif
maka akan terlihat elemen jamur ( budding yeast cell /blastospora /blastokonidia
/blastohifa /hifa) tampak sebagai gram positif dan sporanya lebih besar dari bakteri.
3. Kultur
Pemeriksaan ini diawalidengan pengambilan sampel dari pasien, kemudian
diletakkan didalam:
a. Sabourads Dextrose Agar + Kloramfenikol + Gentamisin
b. Mycobiotic/Mycosel (Sabourads Dextrose Agar + Kloramfenikol +
Sikloheksimid)
Dalam2-3 hari akan tumbuh
4. Histopatologis
Sampel diberikan pewarnaan menggunakan PAS ( Periodic Scid-Schiff) atau
GMS ( Gomoris Methenamic Silver). Pewarnaan GMS dapat mewarnai lebih efisien
dari pewarnaan lain. Biasanya GMS digunakan bersamaan dengan H&E (
Hematoxylin dan Eosin) untuk visualisasi jamur dan melihat reaksi jaringan.
5. Serologi
Sampel yang diambil diberikan (1,3)-beta-D-glucan. (1,3)-Beta-D-glucan
merupakan komponen penting dinding sel candida yang dapat di deteksi dan
kuantifikasi pada aliran darah pasien dengan candidiasis hematogen. Selain itu

TATALAKSANA
Tatalaksana pada kandidiasis Dibagi menjadi tatalaksana umum dan Spesifik
A. Umum
1. Mengobati faktor predisposisi
2. Mengobati infeksi sekunder dengan kompres sol.sodium chloride 0,9% selama 3 hari
dan antibiotik yang tidak berspektrum luas selama 5-7 hari.
B. Kandidiasis Superficial
1. Kandidiasis Oral
a. Nystatin
Nystatin oral suspense dosis 4-6 ml (400.000-600.000), 4x/ hari sesudah makan
(ditahan di mulut selama beberapa menit sebelum ditelan) dosis bayi 2ml, 4x/hari.
Untuk kasus kronis digunakan beberapa bulan.
b. Solusio gentian violet
Solusio gentian violet 1% dioleskan 2x/hari selama 3 hari.
c. Ketokonazole
Ketokonazole tablet dosis 200-400 mg (1-2 tablet) / hari selama 2-4 minggu.
Untuk infeksi kronis perlu 3-5 minggu.
d. Itrakonazole
Itrakonazole kapsul dosis 100-200 mg (1-2 kapsul)/hari selama 4 minggu
2. Kandidiasis Vulvovaginalis
a. Nystatin
Nystatin Suppositoria vagina 1 tablet (100.000 ) / malam selama 12 hari
b. Ketokonazole
Ketokonazole Tablet dosis 200mg, 2x/hari selama 5 hari
c. Itrakonazole kapsul 100mg 2x/hari kapsul selama 2-3 hari, 2x2 kapsul selama 1
hari selang 8 jam
d. Bila terjadi rekurensi berikan tablet ketokonazole dosis 100mg(1/2 tablet)/hari
selama 6 bulan.
3. Kandida Balanitis/ Balanoposthisis
a. Mikonazole
Mikonazole krim dioleskan pagi dan malam selama 1 minggu.

4. Kandidiasis Kutis
a. Mikonazole
Mikonazole krim dioleskan 2x/hari selama 14 minggu, kultur kembali jika
negative lanjutkan selama 1-2minggu. Untuk kandidiasis paronikhia perlu 3-4
bulan.
b. Ketokonazole
Ketokonazole Tablet 1 tablet/ hari selama 1-2 minggu.
c. Itrakonazole
Itrakonazole kapsul 1x2 kapsul / hari selama 7 hari
5. Kandida Onikomikosis
a. Pulse treatment
b. Itrakonazole
Itrakonazole dosis 400 mg (2x2 kapsul)/ hari untuk 1 minggu. Istirahat 3 minggu /
siklus. Untuk kuku tangan 2 siklus,dan kuku kaki 3-4 siklus.
C. Kandidiasis Invasif
1. Kandidemia
a. Flukonazol
Flukonazole dosis 800 mg (12mg/kg) loading dose kemudian 400 mg (6mg/kg) dosis
harian.
2. Kandidiasis Endophtalmitis
a. AmB
AmB 0,7-1 mg /kg dengan 5 FC 25 mg/kg 4 kali sehari atau flukonazole 6-12
mg/hari. Pengobatan diberikan beberapa bulan hingga resolusi dari lesi.
3. Kandidiasis Diseminata Kronis
a. Flukonazole
Flukonazole dosis400mg (6mg/kg/hari) untuk pasien stabil.
a. LFAmB
LFAmB 3-5 mg/kgBB/hari. Atau AmB 0,5-0,7 mg/kg/hari untuk pasien penyakit
parah.

DAFTAR PUSTAKA
1. Setiati, Siti. Et al . 2014. BUKU AJAR ILMU PENYAKIT DALAM Jilid I Edisi
IV. Jakarta: Interna Publishing.
2. Mutiastutik, Dwi. 2013. ATLAS PENYAKIT KULIT & KELAMIN Edisi Kedua.
Surbaya : Airlangga University Press.
3. Simatupang, Maria Magdalena. 2008. CANDIDA ALBICANS. Medan :
Repository USU
4. Pappas, Peter G et al. Clinical Practice Guidelines for the Management of
Candidiasis: 2009 Update by the Unfectious Disease Society of America. IDSA
5. Ruhnke, Markus. Et al. 2011. Diagnosis and therapy of Candida infections: joint
recommendations of the German Speaking Mycological Society and the PaulEhrlich-Society for Chemoteraphy

a. Kandidiasis Oral

b. Kandidiasis Vulvovaginalis

c. Kandidiasis Balanitis

d. Kandidiasis Intertriginosa

e. Kandidiasis Paronikhia

f. Kandidiasis Onikomikosis