Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Jepang adalah sebuah negara kepulauan yang terdiri dari kira-kira 4000 pulau mulai dari
Hokkaido di utara hingga Okinawa di Selatan. Ada empat pulau besar yang memiliki
populasi cukup tinggi yaitu Honshu, Hokkaido, Kyushu, dan Shikoku. Jepang beriklim
sejuk, cuaca dingin berasal dari utara dan panas berasal dari Selatan. Hampir seluruh
wilayah memiliki empat musim; dingin, gugur, semi dan panas, terutama di wilayah utara.
Area pegunungan meliputi

hampir 75% dari seluruh luas wilayahnya dan termasuk

negara yang memiliki gunung berapi yang banyak di dunia sehingga gempa sering terjadi
dan terdapat banyak titik sumber air panas (hotspring). Perkembangan budaya, ekonomi,
dan politik mengalami proses yang panjang sejak dari masa prasejarah hingga sekarang
ini.
Berbagai tipe dan fungsi bangunan yang berkembang mulai masa prasejarah, medieval
(Nara) hingga periode Edo dalam arsitektur Jepang, antara lain rumah primitif, bangunan
religius: Kuil (Shinto dan Buddha), istana dan puri, rumah toko (machiya), rumah tinggal
prajurit (rumah para samurai), vila atau paviliun bangsawan, gedung teater kabuki, rumah
tinggal petani (minka), sekolah dan rumah tempat minum teh. Semuanya memiliki
karakteristik desain tersendiri. Pertumbuhan kota-kota baru di Jepang dimulai sejak masa
Nara. Masuknya Budha pada abad ke-6 telah membuka hubungan perdagangan
internasional yang erat dengan Asia khususnya Cina yang dikuasai oleh Dinasti Tang
pada masa itu.
Hubungan dagang tersebut telah membawa pengaruh pada ekonomi, sosial, politik dan
hukum. Sehingga tidak heran bahwa perencanaan kota Heian (Kyoto) merupakan replika
yang lebih kecil

dari desain kota Cangan, ibukota Dinasti Tang. Konsep itu pula

sebelumnya telah diadopsi dalam perencanaan kota Naniwa pada tahun 645 (sekarang
Osaka), kota Fujiwara pada tahun 694 (sekarang sebelah selatan kota Nara), kota Heijo
pada tahun 710 (Nara), kota Kuni pada tahun 740, kota Nagaoka, dan kota Otsu.

PEMBAHASAN
1. Sejarah Perkembangan Arsitektur Jepang dan Tokoh Arsiteknya
Sejarah perkembangan arsitektur Jepang terjadi di beberapa periode, seperti berikut :
1) Periode Prasejarah (3000 SM 2000 SM)
2) Periode Asuka Nara (550 M 794 M)
3) Periode Heian (794 M 1185 M)
4) Periode Kamakura Muormachi (1185 M 1573 M)
5) Periode Momoyama (1573 M 1863 M)
6) Periode Edo (1573 M 1863 M)
7) Periode Restorasi Meiji Taisho (1687 M 1926 M)
8) Periode Showa (1927 M 1988 M)
9) Periode Heisei (1989 M sekarang)
Berikut adalah penjelasan dari masing-masing periode sejarah perkembangan arsitektur
Jepang :
1) Periode Prasejarah (3000 SM 2000 SM)
Pada masa prasejarah, ciri-ciri dan karakteristik rumah Austronesia sudah tampak
pada rumah Jepang. Pengaruh budaya, iklim dan alam sangat menentukan
konsep arsitektur rumah awal Jepang. Bentuk rumah tenda berdiri diatas tanah
yang dilubangi (pit dwelling) merupakan perkembangan dari rumah gua.
Kemudian, sejalan dengan perkembangan peradaban, telah
terjadinya evolusi pada bentuk dan konsep rumah.

mengakibatkan

Gbr. Sumber Google Images


Pit dwelling berevolusi menjadi pit dwelling dengan dinding, kemudian menjadi
rumah panggung (raised floor dwelling) dengan struktur kayu dan atap alangalang. Semua perangkat dan peralatan yang digunakan mengalami perubahan
dan kemajuan. Pada saat itu rumah bukan lagi semata sebagai tempat berlindung
dari panas dan hujan akan tetapi sudah menjadi penanda status sosial di dalam
masyarakat.

Gbr. Sumber Google Images

Di zaman prasejarah ini, perkembangan arsitektur Jepang terjadi di 3 periode yaitu


di awal periode Yomon. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa periode Yayoi,
dan periode berikutnya adalah Tomb atau Kofun. Perjalanan dari periode-periode
tersebut memberikan banyak peninggalan tradisi berbudaya dalam bangunan
tempat tinggal, temuan dari hasil rekonstruksi arsitektur dan arkeologi yang masih
mempunyai bentuk keasliannya, yang sampai saat ini masih dapat dilacak
keberadaannya. Salah satu peninggalan dari periode Kofun adalah Koufun yaitu
makam para kaisar atau bangsawan yang dibuat membentuk gundukan besar.

Gbr. Koufun Daisen-Nintoku, koufun terbesar di dunia terletak di Osaka, Jepang


(Sumber Google Images)
Setelah ketiga periode di atas berjalan, muncul satu kepercayaan asli bangsa
Jepang yang berkembang pada waktu itu, yaitu Shinto (the Way of God). Shinto
merupakan satu kepercayaan asli (primitif) dengan sifat universal. Bentuk
bangunan kuilnya merupakan ciri khas dari arsitektur tradisional Jepang (native
architecture).
2) Periode Asuka Nara (550 M 794 M)
Pada tahun 552 M, Budisme masuk ke Jepang melalui Korea (melalui kerajaan
Paekche). Pada waktu itu Budisme berkembang sangat pesat terutama di Kota
Nara, dan perkembangan tersebut meliputi agama (dengan munculnya enam
aliran di dalam agama Buda), kebudayaan, arsitektur, seni, dan sebagainya. Pola
dan bentuk bangunan kuil-kuilnya pengaruh dari arsitektur dan budaya Cina
sangat kuat sekali, baik dari struktur bangunannya maupun bentuk tampilannya.
Perkembangan Budisme diawali sejak periode Asuka (552 M 645 M) dan

dilanjutkan pada periode Nara (646 M 793 M). Dari perjalanan kedua periode
tersebut, arsitektur kuil berkembang pesat, dan style yang muncul pada waktu itu,
adalah wayou (native style = Japanese style architecture). Merupakan style
dengan keaslian bentuk dan tampilannya mencirikan awal dari berkembangnya
arsitektur Budhis di Jepang. Dengan berbagai macam aliran dalam Budisme yang
berkembang di Kota Nara, berkembang pula berbagai macam bangunan kuil mulai
pagoda

sampai

pada

permukimannya.

Dengan

bentuk

dan

detail-detail

arsitekturnya menjadikan awal dari perkembangan arsitektur bangunan kuil-kuil di


Jepang. Salah satu contoh bangunannya adalah kuil Yakushi-ji yang berlokasi di
Prefektur Nara, Jepang.

Gbr. Kuil Yakushi-Ji (Sumber Google Images)

Gbr. Sait, Pagoda Bagian Barat Kuil Yakushi-Ji (Sumber Google Images)

3) Periode Heian (794 M 1185 M)


Pada periode Heian, ada dua sekte besar yang banyak berperan di dalam
pengembangannya. Kedua sekte tersebut adalah, sekte Shingon dan sekte
Tendai. Kedua sekte ini mengembangkan ajaran tentang esoterik Budisme (dari
aliran Mahayana) dengan mandalanya (kosmik diagram). Untuk sekte Shingon
mempunyai kompleks kegiatan yang berpusat di atas gunung Koya di propinsi
Wakayama. Sedangkan sekte Tendai berpusat di atas gunung Hie yang terletak di
perbatasan antara propinsi Kyota dan Shiga.
Pada periode ini perkembangan dari style untuk kuil-kuil Budha masih bertahan
dengan wayou (Japanese style). Bangunan-bangunan kuil dengan pola perletakan
kompleks kuilnya menjadi ciri khas pada periode tersebut. Demikian juga dengan
lukisan-lukisan dengan konsep mandalanya berkembang dengan pesat, dan
menjadi ciri dari periode tersebut. Salah satu peninggalan arsitektur pada periode
ini adalah kuil Byodoin-jin.

Gbr. Kuil Byodoin-jin (Sumber Google Images)


4) Periode Kamakura Muromachi (1185 M 1573 M)
Pada periode Kamakura, muncul beberapa sekte baru dalam agama Budha, di
antaranya adalah Zen Budisme yang berkembang pesat di Jepang. Waktu itu
perkembangannya melalui dua sekte besar, yaitu sekte Rinzai dan sekte Soutou.
Kedua sekte ini dibawa oleh biksu-biksu dari Jepang yang belajar ke Cina.
Membawa filosofi baru dalam Budisme yang akhirnya berkembang keseluruh

bagian dari kehidupan masyarakat Jepang, terutama dalam bidang seni dan
budaya. Periode ini campur tangan dari pemerintah militer mempunyai peran
besar, terutama dalam perkembangan dari sekte Rinzai. Dapat dikatakan, bahwa
kedua sekte yang mereka bawa dari Cina dapat masuk ke dalam kehidupan
masyarakat, termasuk arsitektur Zen yang terlihat pada bangunan kuil maupun
huniannya. Selain sekte yang berkembang melalui Zen Budisme, ada beberapa
sekte lain dari agama Budha yang juga berkembang, di antaranya sekte Judou,
sekte Joudou-shin dan sekte Nichiren. Meskipun demikian, pada awalnya
Japanese style (wayou) masih bertahan, namun dalam proses perjalanannya style
baru yang masuk dibawa dari Cina Zen style (zenshuyou) atau juga disebut
karayou (Chinese style), mengalami perkembangan pesat. Style ini berkembang
terutama pada bangunan-bangunan kuil, pola lay out bangunan ataupun detaildetail arsitektur menjadikan ciri khas bangunan Zen Budisme di Jepang. Di
samping style-style tersebut, ada beberapa kuil yang di dalam perkembangannya
menggunakan atau mengadopsi lebih dari dari satu macam style, yang diwujudkan
ke dalam sebuah bangunan. Di antaranya, adalah penggabungan dari beberapa
macam style, yaitu wayou+zenshuyou/karayou+daibutsuyou. Penggabungan
dari berbagai macam style ini juga dinamakan setchuyou (mix style/hybrid style).
Sebenarnya, pada periode Kamakura ini, style yang berkembang hanya ada dua,
yaitu zenshuyou dan daibutsuyou (great Buddha style)/tenjikuyou (Hindu style).
Contoh arsitektur pada periode kamakura adalah Kuil Osu Kanon di Nagoya,
Jepang.

Gbr. Kuil Osu Kanon di Nagoya, Jepang (Sumber Google Images)

Pada periode Muromachi, style dari zenshuyou maupun karayou masih


berkembang dengan pesatnya. Terutama pada art of garden (seni penataan
taman) dengan bentuk penataan mempunyai ciri khas dari filosofi Zen. Seni taman
ini banyak terlihat pada vihara-vihara sekte Rinzai, yang terdapat di dalam
kompleks kuil-kuil besar Zen yang berada di Kota Kyoto. Perkembangan lain yang
terjadi, adalah residential architecture (rumah tinggal), terlihat pada bangunanbangunan kuil, vila, dan rumah para samurai dengan sentuhan detail-detail
arsitektur yang khas dari Zen Budisme. Contoh arsitektur peninggalan periode
muromachi ini adalah kuil Ginkaku-ji atau Kuil Pavillium Perak di Kyoto, Jepang.

Gbr. Kuil Pavillium Perak di Kyoto, Jepang (Sumber Google Images)


5) Periode Momoyama (1573 M 1863 M)
Pada periode Momoyama, ada tiga shogun (panglima tertinggi) besar yang
mempersatukan Jepang di antaranya adalah Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi,
dan Tokugawa Leasu. Style yang berkembang pada periode ini masih bertahan
pada zenshuyou/karayou, sedangkan pada bagian lain adalah Zen painting (seni
lukis) nampak berkembang sangat pesat. Pada bagian lain dari periode ini yang
juga berkembang pesat adalah bangunan castle, perkembangannya hampir
terdapat di seluruh Kota yang ada di Jepang. Sebagian dari bangunan castle
tersebut sampai saat ini masih bertahan dan dilestarikan sebagai cagar budaya.
Ada beberapa bangunan yang sudah mengalami perubahan baik dengan cara
restorasi maupun rekonstruksi, dan bahkan menggunakan teknologi modern,
karena dengan kondisi bangunan yang ada sekarang sudah tidak mungkin lagi
untuk dipertahankan sesuai dengan struktur dan konstruksi aslinya. Contoh
peninggalan arsitektur pada zaman ini adalah Osaka Castle di Osaka, Jepang.

Gbr. Osaka Castle di Osaka, Jepang (Sumber Google Images)


6) Periode Edo (1573 M 1863 M)
Periode Edo merupakan penerusan dan perkembangan dari periode sebelumnya
(Momoyama). Dalam periode ini terlihat adanya penekanan pada detail-detail
bangunan, warna, dan ukiran baik untuk kuil maupun hunian rumah tinggal.
Machiya (rumah di perkotaan) berkembang pesat hampir di semua kota, menjadi
awal peradaban hunian kota yang sebagian besar masih bertahan sampai saat ini
di Jepang. Akhir periode ini menjadi awal dari pelestarian cagar budaya bagi
bangunan-bangunan yang di bangun periode sebelum sampai akhir periode Edo.
Berikut beberapa contoh machiya yang ada di Jepang :

Gbr. Sumber Google Images

7) Periode Restorasi Meiji Taisho (1687 M 1926 M)


Periode restorasi Meiji (1687 M - 1911 M) dan periode Taisho (1912 M 1926 M),
pengaruh dari western style (arsitektur barat) di antaranya renaissance, gothic dan
romanesque masuk ke Jepang. Style-style tersebut banyak dikembangkan untuk
bangunan-bangunan universitas, museum, peribadatan, dan kantor. Pengaruh dari
style-style peninggalan periode Meiji dan Taisho sampai saat ini masih dapat
dilihat di kota-kota besar di Jepang sebagai warisan budaya masa lalu
dipertahankan sebagai bagian dari bangunan cagar budaya mereka. Bahkan para
arsitek Jepang yang menghasilkan karyanya pada waktu itu hampir kesemuanya
menggunakan style-style tersebut sebagai bagian dari desain bangunannya.

8) Periode Showa (1927 M 1988 M)


Pada periode Showa banyak arsitek Jepang yang belajar ke Amerika dan Eropa
memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan arsitektur di Jepang.
Seperti Kunio Maekawa yang disebut sebagai bapak arsitektur modern Jepang
yang belajar ke Prancis di bawah arsitek Le Corbusier. Pengaruh besar dari hasil
belajarnya di Prancis memberikan suasana baru di Jepang dalam desain
bangunannya. Kemudian arsitek lain seperti, Kenzo Tange juga banyak
memberikan ungkapan-ungkapan baru di dalam rancangannya. Sangat berbeda
dengan native arsitektur yang tumbuh dan berkembang di Jepang sendiri.
9) Periode Heisei (1989 M sekarang)
Periode Heisei dimana post-modern mulai berkembang di Jepang (sebenarnya
post-modern di Jepang berkembang awal tahun 1980-an) dan hal ini muncul
akibat dari bubble economic. Perkembangan desain dari arsitektur post-modern
memberikan perubahan dalam perjalanan arsitektur Jepang dalam memberikan
segala

macam

bentuk-bentuk

arsitekturnya.

Dengan

sedemikian

rupa

penjelajahannya memberikan ungkapan yang sukar untuk diduga kemana arah ide
dan gagasannya. Bermunculan bagai cendawan di musim hujan bersanding
secara kontradiktif dengan ketradisionalan yang mereka punyai. Style-style telah
mengabaikan tradisi, budaya, bentuk, bahan dan ungkapannya. Menjadi tempat
berlombanya para arsitek Jepang dalam menemukan ide-ide dan gagasan baru
dalam berkreasi untuk menciptakan bentuk-bentuk barunya. Ini menjadi ciri khas
berakhirnya arsitektur post-modern di Jepang.

TOKOH ARSITEK DI JEPANG


1) Kunio Maekawa (1905 1986)
Seorang arsitek Jepang terutama dikenal untuk
bangunan Tokyo Bunka Kaikan, dan tokoh penting
dari arsitektur Jepang modern. Kunio Maekawa
lahir pada tahun 1905 di Niigata Prefecture di
Jepang. Ia masuk Sekolah Pertama Tengah Tokyo
pada tahun 1918, dan kemudian Tokyo Imperial
University pada tahun 1925. Setelah lulus pada

tahun 1928, ia melakukan perjalanan ke Prancis untuk magang dengan Le


Corbusier. Pada tahun 1930 ia kembali ke Jepang dan bekerja dengan Antonin
Raymond (mahasiswa Frank Lloyd Wright), dan pada tahun 1935 mendirikan
kantor sendiri Maekawa Kunio Associates. Rumahnya sendiri telah digambarkan
sebagai titik awal nya, di mana ia membawa ide piloti dalam rumah, untuk
menciptakan ruang bertingkat dua. Beberapa contoh karya dari Kunio Maekawa
adalah Maekawa House, Hayashibara Museum of Art, Kumamoto Prefectural
Theater, Tokyo Bunka Kaikan, dll.
2) Kenzo Tange (1913 2005)
Tange menyelesaikan studinya di Depertemen
Arsitektur Universitas Tokyo kemudian melanjutkan
studinya di Universitas Tokyo (1942-1945). Pada
tahun

1965,

Tange

meraih

gelar

Ph.D

dari

Universitas Tokyo. Sejumlah gelar Doktoral lainnya


juga dia terima dari perguruan tinggi yang berada di
Eropa, Amerika, dan Asia. Setelah mempunyai
gelar

Profesor,

Tange

menjadi

pengajar

di

Universitas Tokyo pada tahun 1946. Di samping itu,


Tange juga diminta untuk menjadi Profesor tamu di
Masschussets Institute of Technology (1959-1960),
dan Harvard University (1987).
Tange memulai karir gemilangnya pada tahun 1945 setelah dia memenangkan
sayembara terbuka, yaitu perancangan gedung Hiroshima Peace Center (HPC). Di
awal kariernya itu, berbagai prestasi yang dicapai oleh Kenzo Tange, di antaranya
dia berhasil menjadi pemenang pertama kompetisi penciptaan gedung Kenangan
Asia Timur (1942), pemenang pertama Pusat Kebudayaan Jepang di Bangkok
(1943), dan pemenang pertama kompetisi pembangunan Pusat Perdamaian
Hiroshima (1949). Karena berbagai prestasinya yang mengagumkan itu, Tange
dapat disejajarkan dengan para tokoh arsitektur modern awal generasi di atasnya
Le Corbusier, Grophius, Wight, Mies van der Rohe dan sebagainya. Contoh karya
Tange adalah Yoyogi National Gymnasium, Hiroshima Peace Memorial Museum,
Kurashiki City Hall, St. Marys Cathedral (Tokyo Cathedral) (Roman Catholic), dll.

3) Tadao Ando (1941 sekarang)


Ando pernah kuliah malam hari di Jurusan
Arsitek Osaka Institute of Technology Junior
College namun tidak sampai selesai. Great
Ando adalah nama ring sewaktu menjadi petinju
profesional.

Uang

hadiah

dari

bertinju

dipakainya untuk mengembara ke Amerika,


Eropa, Afrika, dan Asia.
Arsitektur sering dikatakan dipelajarinya secara
otodidak

dengan

mengamati

membaca

karya-karya

buku

arsitektur

dan
dalam

perjalanannya di banyak negara. Walaupun demikian, setelah lulus dari sekolah


menengah teknik, Ando pernah berkuliah di sekolah seni Setsu Mode Seminar
yang didirikan Setsu Nagasawa. Selain itu, ia pernah bekerja di sebuah biro
arsitek, serta mengikuti kursus interior secara tertulis. Beberapa contoh karya dari
Tadao Ando adalah Church of the Light, Museum Seni Prefektural Hyogo, Museum
Kesusastraan Himeji, Hyakudanen, Hotel Westin Awaji, dll.
4) Shigeru Ban (1957 sekarang)
Seorang arsitek Jepang yang dikenal karena
karya arsitektur kertasnya yang inovatif, terutama
pendaurulangan

tabung

kardus

yang

dimanfaatkan secara efisien untuk membangun


hunian bagi korban bencana alam. Ia dinobatkan
oleh majalah Time sebagai salah seorang tokoh
yang paling inovatif pada abad ke-21 dalam
bidang arsitektur dan desain.
Pada

tahun

Penghargaan

2014,

Ban

Arsitektur

menjadi
Pritzker

penerima
ke-37,

penghargaan yang paling bergengsi dalam dunia


arsitektur.

Dewan

inovasinya

dalam

juri

Pritzker

memanfaatkan

menghargai
material

dan

dedikasinya

bagi

upaya

kemanusiaan di seluruh dunia, menyebutnya sebagai "seorang guru yang tidak


hanya menjadi panutan bagi generasi muda, tetapi juga menjadi inspirasi".

Beberapa contoh karya Ban adalah Furniture House di Jepang, Gereja Katolik
Takatori, Centre Pompidou-Metz, Jepangese Pavilion, Curtain Wall House, dll.
5) Toyo Ito (1941 sekarang)
Toyo Ito adalah arsitek Jepang yang dikenal
sebagai penggagas arsitektur konseptual, yang
berupaya untuk mengekspresikan dunia fisik dan
virtual secara bersamaan. Ito adalah tokoh
arsitektur

terkemuka

gagasan

kontemporer

yang
"kota

mengembangkan
simulasi",

dan

dianggap sebagai salah satu arsitek yang paling


inovatif dan berpengaruh di dunia. Beberapa
contoh karya Toyo Ito adalah Toyo Ito Museum of
Architecture, Sendai Mediatheque, Yatsushiro
Municipal Museum, Paviliun Serpentine Gallery, Matsumoto Performing Art Center,
dll.

2. Referensi Arsitektur Kontemporer Jepang dan China Dengan Ciri


Tradisional
1) Yoyogi National Gymnasium (Jepang)

Gbr. Sumber Google Images

Yoyogi

National

Gymnasium

dibangun

dengan

maksud sebagai salah satu fasilitas arena olahraga


yakni renang dan diving di Jepang guna menyambut
Olimpiade tahun 1964 yang lalu. Desain dari Yoyogi
National Gymnasium merupakan hasil kreasi dari
sang arsitek Jepang yaitu Kenzo Tange, bangunan
tersebut

merupakan

perpaduan

modern

barat

estetik

yang

dari

arsitektur

dengan

arsitektur

tradisional Jepang. Sentuhan arsitektur tradisional


Jepang pada bangunan ini berupa detail bagian atap
yang menyerupai Kuil Shinto.

Kenzo Tange

Kenzo Tange banyak belajar teknik-teknik arsitektur dari arsitektur Barat. Tetapi
dalam desainnya ia tetap kembali pada kepribadian orang Jepang, yaitu
sederhana dan menyatu pada alam. Kenzo Tange berusaha memadukan gaya
arsitektur tradisional dengan modern tanpa memisahkan nilai tradisionalnya.

Tribun beton
sebagai penyeimbang

Titik tumpu Titik tumpu

Meskipun konstruksi bangunan ini terbuat dari beton, tetapi Tange mengadopsi
kolam renang ini seperti gaya tradisional Jepang yaitu kayu dengan teknik
penyusunan unsur kayu tersebut. Tange memilih arsitekturnya dengan bebas,
gaya dan bentuknya disesuaikan menurut selera dan status sosial ekonomi
Jepang. Konsep keindahannya terlihat dari kesederhanaan, keselarasan, dan
keseimbangan yang menjadi inspirasi pada bidang bangunan. Percampuran
bentuk bangunan menghasilkan gaya tersendiri yang memperlihatkan pola pikir
akademis Tange. Perpaduan yang dibuat Tange adalah prinsip umum keindahan,
yang mempertemukan elemen yang terjalin dlam ukuran yang tepat.

2) Zhejiang Art Museum (China)

Museum yang terletak di Zhejiang, China ini di


rancang oleh Cheng Taining, salah satu arsitek
China yang menjelaskan tentang gagasan
konsep pada karyanya tentang mengeksplorasi
nilai-nilai

yang

diwarisi

dari

kebudayaan

tradisional China. Dalam membangun museum


ini secara bertahap dengan sistem filosofi dan
estetika yang memperlihatkan nilai ketimuran
sekaligus

universal

mempromosikan
kontemporer China.

dalam

rangka

pengembangan

arsitektur
Cheng Taining

Cheng telah membuat profil atap miring museum menggemakan berbagai


pegunungan dan dimanfaatkan kaca untuk memberikan kesan tembus seperti
lukisan tinta-wash Cina. Dengan luas lebih dari 35.000 meter persegi, bangunan
museum seni ini adalah yang terbesar di Cina. 14 lorong-lorong pameran akan
membawa pengunjung sekitar tiga jam untuk berjalan-jalan di sekitar museum.

Gbr. Sumber Google Images


Dalam hal ini, Cheng menerapkan unsur-unsur hubungan arsitektural dan kultural
antara perkembangan dunia arsitektur dengan nilai-nilai kebudayaan dalam
sejarah perkembangan arsitektur.

DAFTAR PUSTAKA
-

http://miasiibungsu.blogspot.com/2013/02/sejarah-perkembangan-dankonsep.html

http://miasiibungsu.blogspot.com/2013/02/sejarah-perkembangan-dankonsep.html

http://wikipedia.org

https://www.scribd.com/doc/129546707/Yoyogi-National-Gymnasium-EDITED

http://www.chinadaily.com.cn/m/hangzhou/e/2009-09/01/content_8640903.htm

Anda mungkin juga menyukai