Anda di halaman 1dari 12

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

Kajian Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan


RTH di Jakarta
Agung Mungky Prayitna(1), Ridwan Sutriadi2)
(1)

(2)

Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK),
ITB.
Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK), ITB.

Abstrak
Kehadiran RTH di daerah perkotaan sangat penting untuk menyeimbangkan ekosistem dan
meningkatkan kualitas hidup. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa Jakarta kurang memiliki
RTH. Pemerintah tampaknya memiliki kesulitan dalam mewujudkan kondisi yang diinginkan dalam
penyediaan RTH. Oleh karena itu, ada kebutuhan untuk melibatkan pemangku kepentingan lainnya
dalam mendukung pemerintah untuk menyediakan RTH di Jakarta. Salah satu pemangku
kepentingan yang dapat diidentifikasi adalah sektor swasta. Partisipasi sektor swasta sudah dapat
terlihat melalui kehadiran RTH perkotaan yang dikembangkan dengan melibatkan dunia
usaha/perusahaan. Oleh karena itu, maka diperlukan kajian mengenai kerjasama antar pemerintah
dan swasta dalam penyediaan RTH di Jakarta. Penelitian ini mengambil lokasi di Jakarta dengan
sampel tiga RTH berupa taman, yaitu Taman Gunung Agung, Taman Daihatsu dan Ocean Ecopark
Ancol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
pemerintah dan swasta untuk melakukan kerjasama dalam penyediaan RTH. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian
menunjukkan aspek kebijakan, pembiayaan, ketersediaan lahan dan kelembagaan adalah factorfaktor yang mempengaruhi pemerintah untuk melibatkan swasta dalam penyediaan RTH. Dari sisi
swasta, ada beberapa faktor yang mempengaruhi sektor swasta untuk berpartisipasi dalam
penyediaan RTH, yaitu tanggung jawab ekonomi, tanggung jawab legal, tanggung jawab etis dan
tanggung jawab filantropi. Untuk mendorong kerjasama pemerintah dan swasta dalam penyediaan
RTH, pemerintah perlu merumuskan peraturan yang menjadi kerangka hukum utama dalam
penyediaan RTH dan mengembangkan skema baru dalam mekanisme partisipasi yang dapat
meningkatkan tingkat partisipasi sektor swasta.
Kata-kunci: kerjasama, penyediaan RTH, pemerintah, swasta

Pendahuluan
Banyak kota di dunia telah berkembang pesat
selama beberapa dekade terakhir. Kota-kota
menjadi mesin pertumbuhan kegiatan ekonomi
dan produksi dan telah menyebabkan tingginya
tingkat urbanisasi. Banyak orang yang tertarik
untuk datang ke kota karena kota menawarkan
banyak kesempatan untuk meningkatkan
kualitas hidup mereka. Situasi ini telah
meningkatkan permintaan atas lahan dalam
rangka memenuhi kebutuhan untuk perumahan
dan fasilitas lainnya. Meningkatnya permintaan

atas lahan tidak sebanding dengan lahan di


wilayah kota yang terbatas jumlahnya. Ruang
terbuka hijau (RTH) adalah salah satu lahan
yang sering dikorbankan untuk memenuhi
kebutuhan fungsi lainnya.
Ketersediaan RTH yang memadai di kawasan
perkotaan merupakan salah satu ciri kota yang
sehat, akan tetapi pada saat ini di kawasan
perkotaan, RTH masih dianggap sebagai lahan
yang tidak efisien atau tanah cadangan untuk
membangun sehingga timbul anggapan bahwa
RTH merupakan lahan sisa yang setiap saat
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 409

Kajian Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan RTH di Jakarta

dapat berubah. Di sisi lain, RTH memegang


peranan penting dalam pembangunan perkotaan
guna mewujudkan ruang yang aman, nyaman,
dan berkelanjutan terutama terkait dengan
masa depan kawasan perkotaan.
RTH merupakan elemen lingkungan yang dapat
memberikan banyak manfaat bagi warga kota.
Kurangnya RTH tersebut akan memberikan
dampak yang buruk terhadap kesehatan
masyarakat di perkotaan. Di dalam UndangUndang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang disebutkan bahwa RTH sebagai salah
satu
ruang publik harus memiliki luasan
minimal yang ideal untuk RTH perkotaan yaitu
30% dari luas total suatu wilayah kota. Luasan
ini terdiri dari 20% RTH publik dan 10% RTH
privat.
Saat ini, Jakarta hanya memiliki 9.84 % RTH
dari total luas wilayahnya (Dinas Pertamanan
dan Pemakaman DKI Jakarta, 2014). Undang No.
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
menyebutkan bahwa jumlah
ideal RTH di
wilayah perkotaan adalah jumlah 30 % dari total
luas wilayah. Oleh karena itu, pemerintah
daerah DKI Jakarta memiliki tanggung jawab
untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas
ruang hijau.
Namun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
mengalami kesulitan dalam meningkatkan
jumlah RTH. Dalam Rencana Tata Ruang
Jakarta 2000-2010, pemerintah Jakarta telah
menyiapkan target RTH sebesar 13.94 % dari
luas wilayahnya. Ini berarti bahwa mereka perlu
memberikan tambahan 4,1 % RTH dari RTH
eksisting saat ini. Dengan peningkatan luasan
RTH yang kurang dari 1 % dalam kurun waktu
10 tahun terakhir , maka akan memakan waktu
yang lama untuk kota Jakarta untuk
mewujudkan target mereka, apalagi untuk
memiliki jumlah ideal RTH sesuai kebutuhan.
Kehadiran RTH di daerah perkotaan sangat
penting untuk menyeimbangkan ekosistem dan
meningkatkan kualitas hidup. Namun, kondisi
saat ini menunjukkan bahwa Jakarta kurang
memiliki RTH. Pemerintah tampaknya memiliki
kesulitan dalam mewujudkan kondisi yang
410 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

diinginkan dalam penyediaan RTH. Oleh karena


itu, ada kebutuhan untuk melibatkan pemangku
kepentingan
lainnya
dalam
mendukung
pemerintah untuk menyediakan RTH di Jakarta.
Salah satu pemangku kepentingan yang dapat
diidentifikasi adalah sektor swasta. Partisipasi
sektor swasta dapat dilihat dari RTH perkotaan
yang dikembangkan dengan keterlibatan mereka.
Partisipasi sektor swasta sudah dapat terlihat
melalui kehadiran RTH perkotaan yang
dikembangkan
dengan
melibatkan
dunia
usaha/perusahaan. Langkah-langkah mereka
perlu diikuti oleh perusahaan lain sehingga lebih
banyak perusahaan yang terlibat dalam
mendukung pemerintah untuk meningkatkan
jumlah RTH di Jakarta. Oleh karena itu,
penelitian ini mencoba untuk mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi sektor swasta
(dunia usaha) untuk berpartisipasi dalam
penyediaan RTH di Jakarta. Dalam penelitian ini,
peneliti mengambil tiga lokasi RTH berupa
taman yang dijadikan fokus penelitian, yaitu
Taman Gunung Agung, Ocean Ecopark Ancol
dan Taman Daihatsu. Pemilihan ketiga lokasi
RTH kajian tersebut berdasarkan pada
keterwakilan beberapa daerah di Jakarta dan
mekanisme yang digunakan untuk kerjasama.
Kajian Literatur
Dari berbagai referensi dan pengertian tentang
eksistensi nyata sehari-hari, maka RTH adalah
suatu lapangan yang ditumbuhi berbagai
tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari
penutup tanah, semak, perdu dan pohon
(tanaman tinggi berkayu); sebentang lahan
terbuka tanpa bangunan yang mempunyai
ukuran, bentuk, dan batas geografis tertentu
dengan status penguasaan apapun, yang
didalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu
dan tahunan (perennial woody plants), dengan
pepohonan sebagai tumbuhan pelengkap, serta
benda-benda lain yang juga sebagai pelengkap
dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan
(Purnomohadi, 1995).
Fungsi dan Manfaat RTH
RTH yang ditumbuhi oleh berbagai pepohonan
memiliki fungsi sebagai peneduh kota, tempat

Agung Mungky Prayitna

rekreasi, dan tempat interaksi sosial masyarakat


kota. Akan tetapi fungsi ekologis dan sosial RTH
banyak dialihfungsikan menjadi pemanfaatan
ruang lainnya. RTH merupakan salah satu
indikator untuk keberlanjutan suatu wilayah.
Dengan berkurangnya RTH secara bertahap
akan mengakibatkan degradasi lingkungan,
sehingga dapat menimbulkan dampak buruk
terhadap kehidupan kota. Dampak negatif yang
dapat terjadi adalah peningkatan suhu,
tingginya polusi udara, dan lainnya. Sementara
kehadiran RTH sangat penting bagi kesehatan,
kenyamanan, keamanan, dan keindahan. Peran
RTH
adalah
mengatur
suhu
udara,
meningkatkan kelembaban udara, mengurangi
kecepatan angin, mengurangi pencemaran
udara, meredam kebisingan, dan melindungi
sistem tata air (Grey dan Deneke, 1978).
Sedangkan menurut Laurie (1979), fungsi RTH
sebagai
kawasan
resapan,
pengendali
pencemaran udara, sebagai penyeimbang iklim
mikro, elemen estetika dan kenyamanan
lingkungan.
RTH, baik secara langsung maupun tidak
langsung, sebagian besar dihasilkan dari adanya
fungsi ekologis. Penyeimbang antara lingkungan
alam dengan lingkungan buatan, yaitu sebagai
penjaga fungsi kelestarian lingkungan pada
media air, tanah, dan udara serta konservasi
sumber daya hayati flora dan fauna. Kondisi
alami ini dapat dipertimbangkan sebagai
pembentuk berbagai faktor. Berlangsungnya
fungsi ekologis alami dalam lingkungan
perkotaan secara seimbang dan lestari akan
membentuk kota yang sehat dan manusiawi.
Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi
atas:
a.

b.

Manfaat langsung (dalam pengertian cepat


dan bersifat tangible), yaitu membentuk
keindahan dan kenyamanan (teduh, segar,
sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan
untuk dijual (kayu, daun, bunga, buah);
Manfaat tidak langsung (berjangka panjang
dan bersifat intangible), yaitu pembersih
udara yang sangat efektif, pemeliharaan
akan kelangsungan persediaan air tanah,
pelestarian fungsi lingkungan beserta
segala isi flora dan fauna yang ada

(konservasi hayati atau keanekaragaman


hayati).
Selain itu, dengan adanya RTH, dengan
sendirinya akan terbentuk iklim yang sejuk dan
nyaman. Kenyamanan ini ditentukan oleh
adanya saling keterkaitan antara faktor-faktor
suhu udara, kelembaban udara, cahaya dan
pergerakan angin. Hasil penelitian di Jakarta,
membuktikan bahwa suhu di sekitar kawasan
RTH (di bawah pohon teduh), dibanding dengan
suhu di luarnya, bisa mencapai perbedaan
angka sampai 2-4 derajat celcius (Purnomohadi,
1995). Iklim mikro dan suhu lokal yang
terbentuk
oleh
deretan
pepohonan
menunjukkan aliran udara masuk ke bagian
bawah di antara batang-batang pohon tersebut,
dapat menurunkan suhu antara 10-20%, antara
lain akibat terjadinya proses pernafasan dan
penguapan dari pepohonan tersebut yang
mampu mengeliminasi radiasi cahaya matahari.
(Austin, et. al (Eds), 1985).
Peran Sektor Swasta dalam Penyediaan
RTH
Penyediaan RTH tidak hanya merupakan
tanggung jawab pemerintah semata, namun
merupakan tanggung jawab dari berbagai
pelaku pembangunan yang terkait. Dalam
Undang Undang No. 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang,
telah mengatur luasan
minimal RTH di kawasan perkotaan. Pihak
swasta merupakan pelaku pembangunan
penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan.
Hal ini dikarenakan kemampuan yang mereka
miliki. Peran swasta diharapkan dapat terlibat
dalam pemanfaatan ruang perkotaan. Namun,
karena swasta memiliki karakteristik yang
berbeda, maka terdapat peran lain yang dapat
dilakukan oleh swasta, yaitu untuk tidak saja
menekankan pada tujuan ekonomi, namun juga
sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan
ruang perkotaan (Pedoman Pemanfaatan RTH di
Kawasan Perkotaan, 2006).
Menurut pedoman pemanfaatan RTH perkotan
di kawasan perkotaan, untuk mencapai peran
tersebut, terdapat beberapa hal yang dapat
dilakukan oleh pihak swasta:
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 411

Kajian Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan RTH di Jakarta

a.
b.

c.

d.
e.

f.

Menjaga keberadaan RTH


Berperan dalam pembangunan komponen
RTH buatan dengan cara memberi dana
pembangunan saja maupun turut sebagai
pelaksana pembangunan/perbaikan taman;
Memelihara
taman
dengan
biaya
pemeliharaan dan penyediaan tenga kerja
lapangan sendiri, namun memperoleh
imbalan secara tidak langsung seperti
pemasangan reklame;
Menyediakan lahan untuk penyelenggaraan
RTH;
Memberikan informasi, saran, pertimbangan
atau pendapat dalam penyelenggaraan
RTH;
Memberikan
bantuan
dalam
mengidentifikasi komponen RTH yang ada
maupun yang potensial dikembangkan.

Menurut Sutanto (2009) ada beberapa bentuk


kerjasama dengan sektor swasta yang dapat
diterapkan dalam mengembangkan RTH di
perkotaan sebagai berikut:
a.
b.
c.

Penyediaan RTH sebagai syarat untuk izin


pemanfaatan ruang
Penyediaan RTH sebagai bagian dari desain
wilayah pengembangan
Penyediaan RTH sebagai bentuk Corporate
Social Responsibility (CSR)

Piramida CSR
Salah satu definisi CSR yang terkenal adalah
yang diungkapkan oleh Carroll (1991). Carroll
mendefinisikan CSR kedalam 4 bagian yang
digambarkan dalam sebuah piramid Piramida
CSR menjelaskan mengenai tingkatan tanggung
jawab
perusahaan
dalam
melakukan
aktivitasnya. Piramida ini terdiri dari empat
jenjang, yaitu:
a.

b.

Tanggung Jawab ekonomis


Perusahaan memiliki tanggung jawab untuk
beroperasi dengan baik sebagai unit
ekonomi yang menghasilkan pendapatan
untuk
meningkatkan
keuntungannya.
Ringkasnya, make a profit.
Tanggung Jawab legal

412 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

c.

d.

Tanggung jawab ini terkait dengan


ketaatan perusahaan terhadap persyaratan
hukum. Ringkasnya, obey the law
Tanggung Jawab etis
Perusahaan diharapkan untuk merangkul
nilai-nilai etika dalam menjalankan kegiatan
usahanya. Ringkasnya, be ethical.
Tanggung Jawab filantropis
Tanggung jawab ini menekankan pada
bagaimana perusahaan dapat memberikan
kontribusi kepada masyarakat melalui
tindakan sukarela untuk kepentingan umum.
Ringkasnya, be a good corporate citizen.

Metode
Di dalam proses penelitian ini, penulis
menggunakan paradigma atau pendekatan sudi
kasus (case study). Studi kasus merupakan
paradigma penelitian yang digunakan dalam
banyak situasi yang dapat berkontribusi
terhadap pengetahuan dan fenomena yang
berhubungan (Yin, 2009) . Adapun lokasi studi
kasus yang dipilih dalam penelitian ini adalah
tiga RTH berupa taman
yang
ada
di
Jakarta, yaitu Taman Gunung Agung,
Ocean
Ecopark Ancol, dan Taman daihatsu. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode
analisis
deskriptif
kualitatif.
Dengan
menggunakan metode ini maka akan dapat
digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor
yang mempengaruhi pemerintah dan sektor
swasta untuk melakukan kerjasama dalam
penyediaan RTH di Jakarta.
Analisis
Pada analisis ini akan dibahas mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi pemerintah dan
swasta untuk melakukan kerjasama penyediaan
RTH di Jakarta. Ada tiga lokasi RTH yang dikaji,
yaitu Taman Gunung Agung, Ocean Ecopark
Ancol dan Taman Daihatsu. Profil RTH Kajian ini
dapat dilihat pada tabel 1.

Agung Mungky Prayitna


Tabel 1. Profil RTH Kajian
RTH Kajian

Variabel
Lokasi

Taman Gunung
Agung
Jl. Kwitang Raya,
Jakarta Pusat

Ocean
Ecopark
Ancol

Taman
Daihatsu

Taman Impian
Jaya
Ancol,
Jakarta Utara

Cibubur,
Jakarta Timur

Kepemilikan
Lahan

Pemerintah
Jakarta

PT.
Taman
Impian Jaya
Ancol

POLRI

Jenis RTH

Taman Kota

Taman Wisata
Alam

Taman Rekreasi

Luas
(m2)

10663

336000

1200

Jenis
RTH
menurut
kepemilikan

RTH Publik

RTH Privat

RTH Publik

Akses
publik

Tidak berbayar

berbayar

Tidak berbayar

lahan

untuk

Faktor Faktor yang Mempengaruhi


Pemerintah untuk Melibatkan Sektor
Swasta dalam Penyediaan RTH
Kebijakan
Dalam hal penyediaan RTH, pemerintah Jakarta
mengacu pada beberapa kebijakan yang terkait.
Kebijakan ini adalah kebijakan yang diterapkan
pada tingkat nasional dan di tingkat lokal itu
sendiri. Kebijakan ini dianggap memiliki efek
pada bagaimana cara pemerintah Jakarta
mengatur dan mengelola RTH perkotaan,
khususnya dalam melibatkan sektor swasta
dalam penyediaan RTH.
Pemerintah Jakarta mengelola ruangnya sesuai
dengan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang. Undang-Undang
Penataan Ruang mengatur tentang bagaimana
suatu wilayah administrasi harus mengatur
kebijakan spasial melalui rencana tata ruang. UU
Penataan Ruang menetapkan alokasi RTH
minimal sebesar 30 % dari luas wilayah. Jumlah
30 % RTH itu terdiri dari 20 % RTH publik dan
10 % RTH privat.

Rencana Tata Ruang Jakarta 2011-2030


memiliki kebijakan untuk menyediakan 30 %
RTH di Jakarta Target ini diharapkan bisa
tercapai dalam waktu 20 tahun. Salah satu
strategi untuk mewujudkannya adalah dengan
meningkatkan kuantitas dan kualitas RTH yang
didistribusikan di seluruh kawasan kota, juga
dengan mempertahankan RTH yang ada. Selain
itu, penyediaan RTH di Jakarta dicapai melalui
perubahan fungsi ruang dan wilayah yang
memiliki potensi atau ditetapkan sebagai RTH,
juga dengan mengembangkan RTH privat di
daerah pribadi yang memiliki potensi untuk
dikembangkan sebagai RTH. Pencapaian 30 %
RTH di Jakarta dilakukan melalui alokasi 14 %
RTH publik dan 16 % RTH privat.
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta
2011-2030, salah satu strategi utama dalam
pengembangan RTH adalah dengan melibatkan
dan meningkatkan partisipasi masyarakat dan
sektor swasta dalam penyediaan, peningkatkan
kualitas, dan mempertahankan RTH baik publik
maupun privat. Selain instrumen perizinan dan
insentif sebagaimana diatur dalam rencana tata
ruang,
ada
juga
peraturan
mengenai
masyarakat dan partisipasi sektor swasta yang
secara khusus mengatur tentang kemitraan di
bidang taman. Keputusan Gubernur Jakarta
Nomor 2 Tahun 2002 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Kerja Sama Kemitraan Di Bidang
Pertamanan Propinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta
mendorong keterlibatan masyarakat
dan swasta dalam mengatur, mengembangkan,
rehabilitasi, dan pemeliharaan taman kota,
koridor hijau, ornamen kota, dan jenis lain dari
RTH. Kerjasama ini dianggap sebagai salah satu
upaya untuk mewujudkan kinerja yang lebih
baik dalam penyediaan RTH khususnya di
bidang taman.
Pembiayaan
Masalah kurangnya dana sering menjadi salah
satu faktor yang menghambat penyediaan
layanan oleh pemerintah. Masalah yang sama
juga dihadapi dalam penyediaan RTH di Jakarta.
Anggaran yang tersedia tidak cukup untuk
memenuhi dana yang diperlukan untuk
mewujudkan ketentuan RTH. Situasi ini tentu
akan menghambat upaya untuk mewujudkan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 413

Kajian Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan RTH di Jakarta

jumlah RTH yang ideal. Berdasarkan Rencana


Tata Ruang Jakarta, target untuk RTH publik
telah ditetapkan sebesar 14 % dari total luas
Jakarta. Namun jumlah sebenarnya RTH publik
di Jakarta adalah sebesar 9.84 %. Ada deviasi
antara kondisi eksisting dan jumlah target
sebesar 4,16 %.

mengurangi kesenjangan antara kondisi ideal


dan aktual penyediaan RTH. Meski sampai saat
ini, kemitraan dengan sektor swasta masih
terbatas
dalam
membangun
dan
mempertahankan ruang hijau publik, karena
lahan
tersebut
masih
disediakan
oleh
pemerintah.

Dalam
memenuhi
kekurangan
tersebut,
pemerintah Jakarta harus memperoleh tanah
untuk dikembangkan menjadi RTH. Biaya
pembelian lahan sebesar 4,16 % sangat tinggi,
mengingat tingginya nilai tanah di Jakarta.
Sementara itu, pemerintah Jakarta memiliki
keterbatasan untuk menyediakan anggaran
yang memadai untuk tujuan itu.

Ketersediaan Lahan

Masalahnya
tidak
hanya
sebatas
pada
pembebasan lahan saja, namun dalam hal lain
juga menghadapi permasalahan anggaran.
Misalnya, kegiatan pemeliharaan harus dikurangi
intensitasnya karena anggaran tidak mencukupi
untuk melaksanakan pemeliharaan yang ideal.
Oleh karena itu, aktivitas pemotongan rumput
yang seharusnya dilakukan dalam setiap 3-4
minggu itu bisa dilakukan di setiap 6-8 minggu.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah
Jakarta sedang mengembangkan kemitraan
dengan sektor swasta dalam penyediaan RTH.
Berdasarkan fakta di atas, salah satu hal yang
merupakan pendorong dalam keterlibatan
sektor swasta dalam penyediaan RTH adalah
masalah pendanaan. Anggaran yang tersedia
hanya mampu menyediakan sekitar 10 hektar
lahan untuk dikembangkan sebagai RTH publik.
Hal ini terutama karena tingginya nilai tanah di
Jakarta. Sementara itu, jumlah lahan yang
dibutuhkan untuk mewujudkan target RTH
publik 14 % pada tahun 2030 adalah 2.600
hektar atau sama dengan 130 hektar/ tahun.
Oleh karena itu, pemerintah perlu didukung oleh
para pemangku kepentingan lainnya dalam
mewujudkan kinerja yang lebih baik dalam
penyediaan RTH terutama dalam mendukung
pendanaan. Salah satu alternatifnya adalah
dengan melibatkan sektor swasta yang dianggap
memiliki potensi besar dalam hal pendanaan.
Sumber daya mereka dapat digunakan untuk
414 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Saat ini sebagian besar wilayah di Jakarta telah


dikembangkan sebagai daerah dibangun.
Pemerintah Jakarta memiliki kesulitan dalam
menyediakan lahan untuk RTH di Jakarta. Hal ini
tidak hanya karena lahan sudah terbatas
jumlahnya, sebagian besar lahan di Jakarta juga
dimiliki oleh masyarakat dan sektor swasta. Oleh
karena itu, pemerintah perlu didukung oleh para
pemangku kepentingan dalam memberikan
lahan untuk penyediaan RTH.
Jumlah RTH di Jakarta sekarang adalah
6,309.89 hektar atau 9.84 % dari total luas
Jakarta. Jumlah tersebut adalah RTH yang
dimiliki dan dikelola oleh Pemda DKI yang terdiri
dari hutan lindung (241,46 hektar), hijau umum
(2,385.13 hektar), kuburan (332,97 hektar),
taman (529,26 hektar), taman rekreasi (686,10
hektar), bendungan, danau dan sungai
(1,632.53 hektar), sawah (168,35 hektar), dan
sabuk hijau pesisir (333,88 hektar). Sementara
itu, target untuk RTH publik di Rencana Tata
Ruang Jakarta 2011-2030 adalah 14 %. Ini
berarti bahwa pemerintah Jakarta harus
menyediakan sekitar 4 % atau 2.600 hektar
lahan untuk dikembangkan sebagai RTH publik.
Jakarta memiliki potensi RTH sebesar 21,517.04
hektar atau 33,38 % dari total luas . Potensi
RTH publik mencapai jumlah 9,440.35 hektar
atau 14.64 %, sedangkan potensi RTH privat
mencapai sebesar 12,076.69 hektar atau
18.74 %. Sesuai dengan angka tersebut, dapat
dilihat bahwa sebenarnya ada cukup lahan yang
potensial untuk dikembangkan menjadi RTH di
Jakarta.
Rencana tata ruang telah mengalokasikan RTH
di Jakarta sebesar 30 % yang terdiri dari 14 %
RTH publik dan 16 % ruang hijau privat.
Meskipun area untuk RTH publik telah diplot

Agung Mungky Prayitna

dalam rencana tata ruang sebagai RTH, namun


area tersebut dimiliki dan dikendalikan oleh
pemerintah Jakarta. Pemerintah hanya memiliki
tanah yang merupakan RTH eksisting dan
refungsi (merubah fungsi) lahan yang digunakan
sebagai fungsi lain menjadi RTH, misalnya SPBU.
Lahan yang tidak dimiliki oleh pe merintah
masih merupakan kepemilikan orang/swasta.
Oleh karena itu, pemerintah harus memperoleh
tanah dari orang/swasta untuk memenuhi
kebutuhan lahan untuk penyediaan RTH.
Dalam mengatasi masalah keterbatasan lahan,
pemerintah perlu mendorong sektor swasta
untuk lebih terlibat dalam penyediaan RTH
terutama dalam menyediakan lahan untuk RTH
di daerah privat karena sebagian besar lahan di
Jakarta yang dimiliki oleh masyarakat/swasta.
Berdasarkan fakta di atas, ketersediaan lahan
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi
pemerintah Jakarta dalam melibatkan sektor
swasta dalam penyediaan RTH.
Kelembagaan
Penyediaan RTH di Jakarta melibatkan institusi
yang berbeda dalam pemerintahan Jakarta.
Instansi teknis yang memiliki tanggung jawab
dalam
penyediaan
RTH
adalah
Dinas
Pertamanan dan Pemakaman serta Dinas
Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta. Dinas
Pertamanan dan Pemakaman bertanggung
jawab untuk taman kota, pemakaman dan, jalur
hijau. Sementara itu, Dinas Kelautan dan
Pertanian bertanggung jawab untuk daerah
pertanian dan kawasan hutan. Dinas-dinas ini
bekerja sama dengan institusi lain dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya dalam
penyediaan RTH.
Perencanaan RTH dilakukan oleh perencanaan
tata ruang sebagai bagian dari rencana pola
ruang dalam Rencana Tata Ruang Jakarta.
Perumusan rencana tata ruang itu sendiri
kemudian dikoordinasikan oleh Bappeda DKI.
Badan
ini
menjadi
pemimpin
untuk
mengkoordinasikan dan sinkronisasi penyusunan
rencana tata ruang dengan berbagai lembaga
termasuk taman Dinas Pertamanan dan

Pemakaman dan Dinas Kelautan dan Pertanian


DKI Jakarta.
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya,
instansi teknis dikoordinasikan oleh asisten
sekretaris daerah. Dinas Pertamanan dan
Pemakaman berada di bawah koordinasi asisten
pembangunan dan lingkungan hidup. Sementara
itu, Dinas Kelautan dan Pertanian berada di
bawah koordinasi Asisten Perekonomian dan
Administrasi. Instansi teknis yang berada di
bawah kewenangan asisten sekretaris provinsi
yang berbeda ini bisa mengganggu koordinasi
antara lembaga-lembaga dalam melaksanakan
penyediaan RTH di Jakarta. Kebijakan teknis
yang sedang dikembangkan oleh kedua dinas
bisa menjadi tidak sinkron/selaras karena
kurangnya koordinasi antara kedua dinas
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sektor
Swasta
untuk
Berpartisipasi
dalam
Penyediaan RTH
Taman Gunung Agung
PT. Gunung Agung, Tbk. adalah sebuah
perusahaan toko buku yang didirikan pada
tahun 1953 di Jakarta. Perusahaan ini memiliki
area bisnis yang luas dengan 32 toko buku yang
tersebar di Jawa dan Bali. Selama periode
operasi, perusahaan tidak hanya berfokus pada
operasi bisnis utamanya, tetapi juga terlibat
dalam kegiatan lain. Salah satunya adalah
keterlibatan mereka dalam pengembangan
Taman
Gunung
Agung.
Taman
ini
dikembangkan dengan kerjasama antara PT.
Gunung Agung dan Pemerintah Jakarta (Dinas
Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta).
Keterlibatan PT. Gunung Agung mengatakan
bahwa dalam pengembangan Taman Gunung
Agung Park adalah sebagai bagian dari
kontribusi sosial perusahaan. PT. Gunung Agung
ingin berpartisipasi dalam menyediakan RTH
sebagai
bentuk
kontribusinya
terhadap
masyarakat dan lingkungan. PT. Gunung Agung
juga merasa bertanggung jawab atas kondisi
hidup dan lingkungan di Jakarta. Partisipasi
dalam penyediaan RTH merupakan bentuk
tanggung jawab sosial perusahaan di samping
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 415

Kajian Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan RTH di Jakarta

kegiatan lain di sosial keagamaan, olahraga, dan


lain-lain
Selain itu, sebagai imbalan atas keterlibatannya
dalam pengembangan taman, PT. Gunung
Agung
menerima
kompensasi
yang
memungkinkan mereka untuk menempatkan
logo atau identitas perusahaan mereka di taman.
PT. Gunung Agung merasa bahwa taman dapat
menjadi media yang dapat meningkatkan citra
perusahaan mereka di mata masyarakat
khususnya pelanggan. Mereka menganggap
citra perusahaan sebagai sesuatu yang penting
di dalam bisnis ritel.
Berdasarkan penjelasan di atas, ada beberapa
motif yang menjadi latar belakang perusahaan
untuk berpartisipasi dalam penyediaan ruang
terbuka hijau di Jakarta. PT. Gunung Agung
melihat bahwa partisipasi mereka sebagai
bagian dari kontribusi sosial kepada masyarakat
yang dapat diklasifikasikan sebagai tanggung
jawab Philantrofi. Kemudian, mereka juga
merasa bahwa mereka bertanggung jawab atas
kondisi hidup dan lingkungan di Jakarta yang
dapat diidentifikasi sebagai tanggung jawab etis
perusahaan. Akhirnya, kesempatan untuk
menempatkan identitas perusahaan mereka
sebagai nama taman dengan papan tanda yang
dimasukkan ke dalam beberapa bagian dari
taman sebagai upaya membangun citra
perusahaan kepada masyarakat. Dengan citra
perusahaan
yang
baik,
perusahaan
mengharapkan
untuk
mempertahankan
pelanggan dan mendapatkan pelanggan yang
lebih potensial. Motif ini dapat dikategorikan
sebagai tanggung jawab ekonomi yang mungkin
merupakan motif utama dari partisipasi mereka.
Ocean Ecopark Ancol
Ancol memiliki dua kegiatan usaha utama yaitu
properti dan rekreasi. Bisnis properti sedang
dikembangkan oleh PT. Pembangunan Jaya
Ancol, sedangkan bisnis rekreasi sedang
dikembangkan oleh PT. Taman Impian Jaya
Ancol. PT. Taman Impian Jaya Ancol memiliki
posisi sebagai anak perusahaan dari PT.
Pembangunan Jaya Ancol. Daerah rekreasi Ancol
itu sendiri memiliki beberapa unit bisnis. Unit416 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

unit bisnis tersebut mengelola berbagai jenis


kegiatan seperti daerah pantai, taman hiburan
Dunia Fantasi, fasilitas golf (sekarang menjadi
Ocean Ecopark Ancol), akomodasi, Kolam
renang, Atlantis, Gelanggang Samudera, pasar
seni, dan kerjasama dengan mitra bisnis lainnya.
PT. Taman Impian Jaya Ancol memiliki rencana
untuk meningkatkan efektivitas tanahnya.
Mereka merasa bahwa meskipun nilai tanah
meningkat, penggunaan lahan belum optimal
terutama di tanah yang sebelumnya digunakan
sebagai lapangan golf. Lapangan golf dengan
luas 33.6 hektar dianggap memiliki tingkat
rendah dari produktivitas lahan karena hanya
dikunjungi oleh jumlah pengunjung yang sedikit.
Kondisi itu berlawanan dengan apa yang terjadi
di taman Dunia Fantasi dengan luas 14,72
hektar yang bisa menarik banyak pengunjung
dan
menghasilkan
pendapatan
tertinggi,
memiliki tingkat produktivitas tanah yang tinggi.
Oleh karena itu, perusahaan memutuskan untuk
mengubah lapangan golf menjadi ecopark
sebagai
upaya
untuk
meningkatkan
produktivitas lahan. Selain itu, konversi
lapangan golf ke ecopark dimaksudkan untuk
meningkatkan akses masyarakat ke daerah yang
sebelumnya hanya bisa diakses oleh sejumlah
orang. Kehadiran ecopark diharapkan dapat
memberikan daya tarik baru bagi masyarakat
yang
terkait
dengan
lingkungan
alam.
Pengembangan Ancol Eco Park adalah bagian
dari realisasi konsep ancol hijau (green ancol)
yang sedang dikembangkan oleh PT. Taman
Impian Jaya Ancol.
Sesuai dengan konsep green ancol, perusahaan
ingin mengembangkan koridor hijau sepanjang
daerah
rekreasi
Ancol
yang
akan
menghubungkan pantai marina di sisi barat
dengan pantai carnaval di sisi timur Daerah
terbuka ini akan digunakan untuk pendidikan,
hiburan, dan kegiatan olahraga yang aktif.
Melalui konsep hijau ini, perusahaan ingin
mewujudkan RTH sebagai paru-paru untuk
daerah ancol. Ocean Ecopark Ancol adalah
bagian dari upaya untuk mewujudkan konsep
green ancol ini.

Agung Mungky Prayitna

Aksesibilitas taman menjadi perhatian utama


perusahaan. Salah satu latar belakang
pembangunan taman ini adalah karena
perusahaan ingin daerah ini untuk dapat diakses
oleh lebih banyak orang. Taman ini diharapkan
dapat memberikan daya tarik lebih kepada
pengunjung ancol yang bisa diakses secara
bebas. Selain itu, pengembangan Ocean
Ecopark Ancol adalah bentuk kepatuhan
perusahaan terhadap peraturan yang tercantum
dalam
Rencana
Tata
Ruang
Jakarta.
Berdasarkan Rencana Tata Ruang Jakarta,
daerah ini dapat dibangun dengan KDB 20 %.
Oleh karena itu, perusahaan memutuskan untuk
mengembangkan Ocean Ecopark Ancol sebagai
pengganti
lapangan
golf
karena
dapat
menghasilkan daerah yang lebih hijau dan
mempertahankan pengembangan kawasan yang
dibangun berada di bawah 20 %.
Perkembangan Ocean Ecopark Ancol juga dapat
dilihat sebagai kontribusi perusahaan untuk
penyediaan RTH di Jakarta. Mereka menyadari
bahwa Jakarta hanya memiliki sedikit daerah
yang berfungsi sebagai RTH. Oleh karena itu,
perusahaan berharap bahwa ecopark ini dapat
memainkan perannya sebagai salah satu paruparu kota dan daerah resapan air.
Berdasarkan temuan, ada beberapa motif di
balik
keputusan
perusahaan
untuk
mengembangkan ecopark ini. Pertama-tama,
perusahaan
ingin
meningkatkan
jumlah
pengunjung
ke
daerah
ancol
dengan
menciptakan daya tarik baru dalam bentuk
Ocean Ecopark Ancol yang dapat diakses oleh
semua
pengunjung
ancol.
Perusahaan
mengharapkan untuk menghasilkan lebih
banyak pendapatan dari kehadiran taman ini
karena memiliki segmen pasar yang lebih besar.
Sebelumnya daerah ini berfungsi sebagai
lapangan golf yang hanya dapat diakses dengan
sejumlah orang yang terbatas. Motif ini
berkaitan dengan tanggung jawab ekonomi
perusahaan dalam hal pengambilan keuntungan.
Kemudian, taman ini adalah bentuk kepatuhan
perusahaan terhadap peraturan dalam hal KDB
dan KDH. Daerah ini diatur dengan KDB 20 %;
maka pembangunan di kawasan ini harus
didominasi oleh area hijau. Perusahaan
mematuhi peraturan dengan mengembangkan

kawasan ini sebagai taman yang didominasi oleh


area hijau. Motif ini berkaitan dengan tanggung
jawab hukum perusahaan dalam mematuhi
peraturan tata ruang. Selain itu, perusahaan
sebagai bagian dari masyarakat Jakarta juga
merasa bertanggung jawab terhadap kondisi
lingkungan Jakarta yang kekurangan RTH.
Mereka ingin berkontribusi dalam penyediaan
RTH di Jakarta melalui pengembangan taman ini
yang diharapkan dapat menjadi salah satu paruparu dan daerah resapan air. Motif ini dapat
diidentifikasi sebagai tanggung jawab etis dari
perusahaan pada isu-isu lingkungan di Jakarta.
Taman Daihatsu
PT. Astra Daihatsu Motor (PT. ADM) adalah
sebuah perusahaan multinasional yang memiliki
bisnis utama dalam industri otomotif. Dalam
kegiatan bisnis sehari-hari, perusahaan ini tidak
hanya berkonsentrasi dalam memproduksi dan
menjual produk mereka, tetapi mereka juga
memiliki kepedulian dengan posisi mereka
sebagai bagian dari lingkungan sosial. Corporate
Social Responsibility (CSR) adalah konsep yang
sedang dilakukan oleh perusahaan dalam
memainkan perannya dalam masyarakat. Dalam
melakukan CSR, perusahaan memiliki 4 pilar
yang terdiri dari hijau, sehat, cerdas, dan
aktivitas yang menghasilkan pendapatan.
PT. ADM sebagai perusahaan otomotif
multinasional merasa bertanggung jawab
dengan kondisi lingkungan. Perusahaan merasa
bahwa mereka juga telah memberi kontribusi
pada polusi udara yang dihasilkan dari emisi
otomotif, meskipun produk mereka telah lulus
persyaratan tes polusi; Oleh karena itu, mereka
sangat berkomitmen untuk mendukung upaya
untuk membuat lingkungan lebih hijau karena
mereka juga melihat ada penurunan jumlah RTH
dari waktu ke waktu.
Dalam keterlibatan mereka di Taman Lalu Lintas
Cibubur, PT. ADM menjalankan dua prinsip
mereka yaitu sehat dan cerdas. Taman ini
didedikasikan untuk kepentingan umum. Ada
banyak jenis kegiatan yang terkait dengan
bidang polisi diperkenalkan di taman ini
terutama yang terkait dengan peraturan lalu
lintas. Taman ini sering dikunjungi oleh anakJurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 417

Kajian Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan RTH di Jakarta

anak sekolah sebagai bagian dari pendidikan


lalu lintas pada tahap awal. Oleh karena itu,
taman
ini
memberikan
manfaat
bagi
perkembangan sosial dan lingkungan.
Manfaat yang diterima PT. ADM dari kerjasama
dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia
adalah bahwa setiap kegiatan yang dilakukan di
taman ini selalu diliput oleh media. Selain itu,
perusahaan dapat menempatkan logo mereka
pada setiap barang yang dikontribusikan pada
Taman Lalu Lintas Cibubur (lihat gambar 5.6).
Meskipun kegiatan CSR tidak dimaksudkan
sebagai
kegiatan
promosi,
tapi
dapat
meningkatkan citra perusahaan.
Berdasarkan penjelasan di atas, ada beberapa
motif yang menjadi latar belakang PT. ADM
untuk berpartisipasi dalam penyediaan RTH.
Pertama, tanggung jawab etis adalah di mana
perusahaan
merasa
bertanggung
jawab
terhadap kondisi lingkungan di Jakarta yang
memburuk.
Mereka
berkomitmen
untuk
mendukung kegiatan lingkungan khususnya
kegiatan penghijauan. Kedua, tanggung jawab
filantropi berkaitan dengan kegiatan perusahaan
dalam pengembangan taman, karena sebagai
kontribusi perusahaan kepada masyarakat dan
bina lingkungan. Akhirnya, tanggung jawab
ekonomi berkaitan dengan citra perusahaan
yang diperoleh melalui partisipasi. Logo
perusahaan diletakkan pada setiap barang yang
dikontribusikan untuk taman. Selain itu, PT.
ADM
bisa mendapatkan publikasi gratis di
setiap acara yang digelar di taman. Citra
perusahaan
penting
untuk
membangun
kredibilitas
perusahaan
dan
memperoleh
kepercayaan dari para pemangku kepentingan.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, ada
beberapa
faktor
yang
mempengaruhi
pemerintah untuk melibatkan sector swasta
dalam penyediaan RTH, yaitu kebijakan,
pembiayaan,
ketersediaan
lahan
dan
kelembagaan. Pemerintah Jakarta mengacu
pada beberapa kebijakan baik kebijakan di
tingkat nasional dan kebijakan tingkat lokal
dalam mengatur penyediaan RTH. Undang418 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Undang Nomor 26 Tahun 2007tentang Penataan


Ruang mengatur jumlah minimal 30% RTH
harus tersedia di daerah perkotaan yang terdiri
dari 20% RTH publik dan 10% RTH privat.
Dengan
mengacu
pada
Undang-undang,
rencana tata ruang Jakarta menetapkan jumlah
30 % RTH yang terdiri dari 14% RTH publik dan
16%
ruang
hijau
privat.
Dalam
menyelenggarakan tugas dan fungsi dalam
penyediaan RTH di Jakarta, Dinas Pertamanan
dan Pemakaman DKI serta Dinas Kelautan dan
Pertanian DKI adalah instansi
yang
bertanggung jawab dalam penyediaan RTH di
Jakarta. Pemerintah Jakarta juga mencoba
untuk mengakomodasi partisipasi pemangku
kepentingan dalam penyediaan ruang terbuka
hijau melalui kemitraan dengan Keputusan
Gubernur Jakarta Nomor 2 Tahun 2002 Petunjuk
Pelaksanaan Kerja Sama Kemitraan Di Bidang
Pertamanan Propinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta.
Selain itu, dalam penyediaan RTH di Jakarta,
Pemda DKI menyadari bahwa mereka tidak
dapat melaksanakan tugas mereka sendiri.
Mereka perlu didukung oleh pemangku
kepentingan lainnya, dalam hal ini sektor swasta,
dalam mewujudkan kinerja yang lebih baik
dalam penyediaan RTH. Ada tiga faktor yang
mempengaruhi pemerintah dalam melibatkan
sektor swasta dalam penyediaan ruang terbuka
hijau yang terdiri dari kebijakan, pembiayaan,
dan ketersediaan lahan.
Untuk faktor kebijakan, rencana tata ruang
menetapkan target 14% RTH publik dan 16%
ruang hijau swasta yang mendorong pemerintah
untuk melibatkan sektor swasta dalam
mengembangkan RTH privat di lahan mereka, ,
serta untuk mendukung pemerintah dalam
penyediaan RTH publik. Kemudian untuk faktor
pembiayaan,
anggaran
pemerintah
yang
tersedia tidak cukup untuk melaksanakan
ketentuan mengenai RTH khususnya dalam
memperoleh lahan baru, oleh karena itu
keterlibatan sektor swasta dapat membantu
untuk mengurangi kesenjangan antara kondisi
ideal dan kondisi eksisting dalam penyediaan
RTH publik. Meski sampai saat ini, kemitraan
dengan sektor swasta masih terbatas dalam

Agung Mungky Prayitna

pembangunan dan pemeliharaan RTH. Untuk


faktor ketersediaan lahan, potensi yang tinggi
dari RTH privat menunjukkan bahwa terdapat
banyak potensi RTH di daerah privat, dengan
demikian,
pemerintah
dapat
mendorong
partisipasi
swasta
terutama
dalam
mengembangkan RTH privat.
Berdasarkan tiga studi kasus RTH yang
dipelajari dalam penelitian ini, ada beberapa
faktor yang mempengaruhi sektor swasta untuk
berpartisipasi dalam penyediaan RTH. Faktorfaktor ini adalah sesuai dengan konsep piramida
CSR yang diperkenalkan oleh Carroll (1991).
Pertama-tama, tanggung jawab ekonomi
menjadi motif utama perusahaan untuk
berpartisipasi dalam penyediaan RTH. Dalam
kasus Ecopark Ancol, PT. Taman Impian Jaya
Ancol ingin meningkatkan pendapatan dengan
menarik lebih banyak pengunjung dengan
keberadaan taman ini, sementara dalam kasus
Taman Gunung Agung dan Taman Daihatsu, PT.
Gunung Agung dan PT. Astra Daihatsu Motor
berharap untuk membangun citra perusahaan
melalui
keterlibatan
mereka
dalam
pembangunan dan pemeliharaan taman. Kedua,
tanggung jawab hukum menjadi motif PT.
Taman Impian Jaya Ancol karena mereka
mengembangkan Ecopark Ancol juga sebagai
upaya untuk mematuhi izin pemanfaatan ruang.
Ketiga, tanggung jawab etis menjadi motif untuk
tiga perusahaan karena mereka merasa
bertanggung jawab dengan kondisi lingkungan
di Jakarta, sehingga mereka memutuskan untuk
berpartisipasi dalam penyediaan RTH. Keempat,
tanggung jawab filantropi menjadi motif PT.
Gunung Agung dan PT. Astra Daihatsu Motor
karena mereka menganggap keberadaan taman
yang mereka sediakan sebagai kontribusi sosial
mereka terhadap masyarakat dan lingkungan.
Rekomendasi
1.

Pemerintah DKI Jakarta harus merumuskan


peraturan daerah tentang RTH yang akan
menjadi kerangka hukum utama untuk
penyediaan RTH, penataan kelembagaan,
mekanisme untuk partisipasi, mekanisme
pengendalian dan mekanisme insentifdisinsentif.

2.

3.

4.

Pemerintah DKI Jakarta perlu kembali


merumuskan alokasi RTH menjadi proporsi
yang
dapat
meningkatkan
akses
masyarakat terhadap RTH seperti yang
dipersyaratkan
dalam
Undang-undang
Penataan Ruang, yaitu 20% RTH publik.
Pemerintah harus mengembangkan skema
baru dalam mekanisme partisipasi yang
dapat meningkatkan tingkat partisipasi
sektor swasta. Skema ini bisa dalam bentuk
perjanjian perencanaan di mana Pemda DKI
membuat perjanjian dengan pengembang
untuk menyediakan lahan dan dana
pembangunan
RTH
dengan
insentif
perizinan atau zonasi.
Partisipasi sektor swasta bermanfaat dalam
mendukung Pemda DKI untuk menyediakan
RTH. Namun, ini tidak harus menjadi
strategi utama bagi pemerintah Jakarta
dalam mengatasi masalah RTH di Jakarta.
Pemerintah Jakarta bisa mengembangkan
strategi lain dalam penyediaan RTH. Salah
satunya bisa dalam bentuk kerjasama
dengan lembaga-lembaga nasional. Sebagai
ibu kota Indonesia, Jakarta menjadi pusat
kegiatan pemerintah pusat. Sebagian besar
lembaga-lembaga nasional berbasis di
Jakarta, dan banyak dari lembaga ini
memiliki aset tanah yang terletak di Jakarta.
Kondisi ini menciptakan peluang kerjasama
dengan lembaga-lembaga nasional dalam
mengembangkan ruang hijau.

Ucapan Terima Kasih


Penulis mengucapkan terimakasih kepada
Ridwan Sutriadi, Ir., MT, Ph.D. selaku
pembimbing atas bimbingan dan pengarahan
selama penelitian
Daftar Pustaka
Austin, Richard L. Et.al (eds). (1985). The

Yearbook of Landscape Architecture, the Issue


of Energy. New York: Van Nostrand Reinhold
Company Inc.
Carroll, A.B. (1991). The Pyramid of Corporate
Responsibility: Toward the Moral Management
of Organizational Stakeholder. Business
Horizons, Vol. 34, July-August
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 419

Kajian Kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam Penyediaan RTH di Jakarta

Grey, Gene W., and Frederick C. Deneke. (1978).


History of Urban Forestry. In: Urban Forestry.
Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor
2 Tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Kerja Sama Kemitraan Di Bidang Pertamanan
Laurie, Michael. (1975). An Introduction to
Landscape Architecture, New York: American
Elsevier Publishing Company Inc.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan

420 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

New York: John Wiley & Sons Book


Company,Inc., pp. 1-9. ISBN:0-471-01515-6
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
5/PRT/M tahun 2008 tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka
Hijau di Kawasan Perkotaan
Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 1
Tahun 2012 tentang RTRW Provinsi DKI
Jakarta
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang