Anda di halaman 1dari 3

ELEMEN KARYA EUCLID

Euklides (Euclides; hidup sekitar abad ke-4 SM)


ialah matematikawan dari Alexandria, Mesir.
Dalam bukunya yang berjudul Elemen, ia - sebagai bapak geometri mengemukakan teori bilangan dan geometri. Menurutnya satu hal yang paling
penting untuk dicatat, bahwa dalam pembuktian teorema-teorema geometri
tak diperlukan adanya contoh dari dunia nyata tetapi cukup dengan deduksi
logis menggunakan aksioma-aksioma yang telah dirumuskan.
Euclides menulis 13 jilid buku tentang geometri. Dalam buku-bukunya ia
menyatakan aksioma (pernyataan-pernyataan sederhana) dan membangun
semua dalil tentang geometri berdasarkan aksioma-aksioma tersebut. Contoh
dari aksioma Euclides adalah, "Ada satu dan hanya satu garis lurus garis
lurus, di mana garis lurus tersebut melewati dua titik". Buku-buku
karangannya menjadi hasil karya yang sangat penting dan menjadi acuan
dalam pembelajaran Ilmu Geometri.
Bagi Euclides, matematika itu penting sebagai bahan studi dan bukan
sekedar alat untuk mencari nafkah. Ketika ia memberi kuliah geometri pada
seorang raja, baginda bertanya, "Tak adakah cara yang lebih mudah bagi
saya untuk mengerti dalam mempelajari geometri?". Euclides menjawab,
"Bagi raja tak ada jalan yang mudah untuk mengerti geometri. Setiap orang
harus berpikir ke depan tentang dirinya apabila ia sedang belajar".
The Elements Euclides adalah buku karya Euclid yang terdiri dari 13 jilid.
Buku ini membahas Geometri dan dasar-dasar Teori Bilangan. Buku ini ditulis
kira-kira pada tahun 300 SM, dan menjadi semacam buku pegangan wajib
bagi setiap pelajar yang ingin mendalami matematika di Alexandria pada
masa itu.
Buku Elements Jilid I ( sering disebut dengan buku I ) isinya membahas
tentang dasar-dasar geometri, dimulai dari
definisi titik, garis, permukaan, sudut, dan seterusnya, yang kemudian diikuti
dengan lima postulatdan lima konsep umum, serta sejumlah proposisi. Jilid I
memberitahu kita bagaimana caranya membuat segitiga sama-sisi dan
memeriksa kesebangunan dua segitiga dengan berbagai pola gambar.
Buku Elements Jilid II ( Buku II ) Kajianya mengupas tentang hubungan
antara persegi-panjang dan persegi. Sifat aljabar seperti hukum distributif (P +
Q)L = PL + QL dijelaskan secara geometris. Persegi-panjang yang
panjangnya P + Q dan lebarnya L mempunyai luas (P + Q)L. Namun,
persegi-panjang ini terdiri dari dua persegi-panjang: yang pertama
panjangnya P dan lebarnya L, se-hingga luasnya PL; sementara yang kedua

panjangnya Q dan lebarnya L, sehingga luasnya QL (buat sendiri gambarnya).


Jadi luas persegi-panjang tersebut sama dengan PL + QL. Karena itu
mestilah (P + Q)L = PL + QL. Pythagoras dan para muridnya merupakan
tokoh utama di balik buku Element Jilid I dan II sebagai inspirasi yang
dituliskan oleh Euclides.
Buku Elements Jilid III ( Buku III ) didalamnya membahas tentang sifatsifat lingkaran. Bagi orang Yunani Kuno, lingkaran merupakan bangun datar
yang paling sempurna. Salah satu sifat lingkaran yang diulas dalam Jilid III
adalah bahwa garis singgung pada lingkaran di suatu titik t akan tegak
lurus dengan jari-jari lingkaran yang memotong titik t juga, keduanya melalui
satu titik pada lingkaran yaitu t
Buku Elements Jilid IV ( Buku IV ) Uraian dan ilustrasi yang menjelaskan
tentang bagaimana cara membuat persegi, segi-lima, segi-enam, dan segi-15
beraturan di dalam lingkaran ( segi-n beraturan ).Matematikawan yang
bertanggungjawab di balik Jilid III dan IV adalah Hippocrates dengan
sumbangan pemikiranya.
Buke Elements Jilid V ( Buku V ) Buku Elemen Jilid V mendasari tentang
pembahasan konsep rasio atau perbandingan senilai dan diakui sebagai
geometri terapan / kebutuhan pada waktu itu, yang pada akirnya
dikembangkan oleh Eudoxus. Sementara itu,
Buku elements Jilid VI ( Buku VI ) kajian didalamnya mengulas tentang
konsep kesebangunan dua bangun datar, yang telah di-ketahui oleh
Pythagoras dan para muridnya pada masa-masa sebelumnya.
Buku Elements Jilid VII IX ( Buku VII IX ) kajianya tampak lebih luas
berisi tentang teori dasar bilangan, yang diyakini merupakan kontribusi
Archytas. Dalam Jilid VII dibahas Algoritma Euclid untuk menghampiri
bilangan irasional seperti 3. Dalam Jilid VIII dibahas barisan geometrik.
Sementara itu dalam Jilid IX dibuktikan bahwa bilangan prima itu tak
terhingga banyaknya, dan dijelaskan bagai-mana caranya
menemukan bilangan sempurna.
Buku Elements Jilid X ( Buku X ) kajianya merupakan bagian yang tersulit
dari buku Elements, yang diyakini merupakan kontribusi Theaetetus. Dalam
Jilid X ini bentuk aljabar seperti akar dari 1 + 23 dipelajari.

Buku Elements Jilid XI XII ( Buku XI XII ) didalamnya dituliskan tentang


hal-hal yang menyoroti masalah geometri ruang ( Analit ruang ). Jilid XI
menjelaskan cara mengkonstruksi sejumlah bangun ruang, yang telah
diketahui oleh Pythagoras dan para penerusnya. Jilid XII membahas metode
penghampiran yang digagas oleh Antiphon dan Eudoxus. Dalam Jilid XII
dijelaskan bagaimana Eudoxus menghitung volume piramida, kerucut, dan
bola, tanpa bantuan Kalkulus Integral yang kita kenal sekarang.
Buku Elements Jilid XIII ( Buku XIII ) Urainya menjelaskan tentang cara
mengkonstruksi lima polihedron beraturan. Dalam Jilid XIII juga dibuktikan
bahwa tidak ada polihedron beraturan selain kelima polihedron yang telah
diketahui oleh Pythagoras dan para penerusnya (termasuk Hippasus). Sang
jenius di balik Jilid XIII adalah Theaetetus
Temuan masalah pembelajaran geometri ditingkat Sekolah Menengah Atas
(SMA) maupun Perguruan Tinggi (PT) tampaknya lebih mengedepankan
pembelajaran geometri transformasi akibatnya banyak siswa ataupun
mahasiswa tidak dapat menyelesaikan bentuk soal-soal geometri tertentu.
Seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Drs. R. Rawuh bahwa mahasiswa
beliau di ITB yang banyaknya sekitar 30 orang, seorangpun tidak dapat
mencari pusat linngkaran dari sebuah lingkaran. Fakta ini memberi gambaran
pada kita alangkah pentingnya tentang pembelajaran dan penerapan
geometri Euclid
Sumber: Wikipedia Indonesia, Ensiklopedia
http://personal.fmipa.itb.ac.id/hgunawan/files/2013/05/Bab-4-Jasa-Besar-Euclid.pdf