Anda di halaman 1dari 5

A.

ASET TETAP
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk
digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan, dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh
masyarakat umum. Pencatatan dan penilaian aset tetap merupakan hal yang penting, karena aset tetap
memiliki nilai yang sangat signifikan dan sangat komplek. Kesalahan-kesalah dalam pencatatan aset tetap
dapat menyebabkan nilai aset tetap menjadi tidak relevan. Kesalahan-kesalahan tersebut sebagian besar
disebabkan oleh tersebarnya aset pemerintah pusat di seluruh penjuru Indonesia dan kurangnya pengetahuan
petugas pencatat di instansi masing-masing mengenai pencatatan dan penilaian aset tetap sesuai dengan
standar.
Dalam makalah ini, kami akan mengulas mengenai akuntansi aset tetap berbasis akrual pada
pemerintah pusat. Pembahasan dalam makalah ini menggunakan dasar PSAP 07 dari Lampiran I PP 71 Tahun
2010, akan tetapi untuk akuntansi aset tetap pada pemerintah pusat belum ada petunjuk teknisnya sehingga
jurnal disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
B. KLASIFIKASI ASET TETAP
Aset tetap diklasifikasikan berdasarkan kesamaan dalam sifat atau fungsinya dalam aktivitas operasi
entitas. Klasifikasi aset tetap adalah sebagai berikut:
1. Tanah yang dikelompokkan sebagai aset tetap ialah tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai
dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.
2. Gedung dan bangunan mencakup seluruh gedung dan bangunan yang diperoleh dengan maksud untuk
dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.
3. Peralatan dan mesin mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat elektonik, inventaris kantor,
dan peralatan lainnya yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12 (dua belas) bulan dan
dalam kondisi siap pakai.
4. Jalan, irigasi, dan jaringan mencakup jalan, irigasi, dan jaringan yang dibangun oleh pemerintah serta
dimiliki dan/atau dikuasai oleh pemerintah dan dalam kondisi siap dipakai.
5. Aset tetap lainnya mencakup aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam kelompok aset tetap di
atas, yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi siap
dipakai.
6. Konstruksi dalam pengerjaan mencakup aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan namun pada
tanggal laporan keuangan belum selesai seluruhnya.
Aset tetap yang tidak digunakan untuk keperluan operasional pemerintah tidak memenuhi definisi aset tetap
dan harus disajikan di pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya.
C. PENGAKUAN ASET TETAP
Aset tetap diakui pada saat manfaat ekonomi masa depan dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur
dengan handal. Untuk dapat diakui sebagai aset tetap harus dipenuhi kriteria berwujud, mempunyai masa
manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan, biaya perolehan aset dapat diukur secara andal, tidak dimaksudkan
untuk dijual dalam operasi normal entitas, dan diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.
D. PENGUKURAN ASET TETAP
Aset tetap dinilai dengan biaya perolehan. Apabila penilaian aset tetap dengan menggunakan biaya
perolehan tidak memungkinkan maka nilai aset tetap didasarkan pada nilai wajar pada saat perolehan.
Pengukuran dapat dipertimbangkan andal bila terdapat transaksi pertukaran dengan bukti pembelian aset tetap
yang mengidentifikasikan biayanya. Dalam keadaan suatu aset yang dikonstruksi/dibangun sendiri, suatu
pengukuran yang dapat diandalkan atas biaya dapat diperoleh dari transaksi pihak eksternal dengan entitas
tersebut untuk perolehan bahan baku, tenaga kerja dan biaya lain yang digunakan dalam proses konstruksi.
Biaya perolehan aset tetap yang dibangun dengan cara swakelola meliputi biaya langsung untuk
tenaga kerja, bahan baku, dan biaya tidak langsung termasuk biaya perencanaan dan pengawasan,
1

perlengkapan, tenaga listrik, sewa peralatan, dan semua biaya lainnya yang terjadi berkenaan dengan
pembangunan aset tetap tersebut.
E. PENILAIAN AWAL ASET TETAP
Barang berwujud yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aset dan dikelompokkan
sebagai aset tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Bila aset tetap diperoleh dengan
tanpa nilai, biaya aset tersebut adalah sebesar nilai wajar pada saat aset tersebut diperoleh.
Untuk keperluan penyusunan neraca awal suatu entitas, biaya perolehan aset tetap yang digunakan
adalah nilai wajar pada saat neraca awal tersebut disusun. Untuk periode selanjutnya setelah tanggal neraca
awal, atas perolehan aset tetap baru, suatu entitas menggunakan biaya perolehan atau harga wajar bila biaya
perolehan tidak ada.
1. Perolehan Secara Gabungan
Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara gabungan ditentukan dengan
mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang
bersangkutan.
2. Perolehan Dari Pertukaran Aset
Suatu aset tetap dapat diperoleh melalui pertukaran atau pertukaran sebagian aset tetap yang tidak serupa
atau aset lainnya. Biaya dari pos semacam itu diukur berdasarkan nilai wajar aset yang diperoleh yaitu
nilai ekuivalen atas nilai tercatat aset yang dilepas setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau
setara kas dan kewajiban lain yang ditransfer/diserahkan.
3. Perolehan Dari Donasi (Sumbangan)
Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan (donasi) harus dicatat sebesar nilai wajar pada saat perolehan.
Sumbangan aset tetap didefinisikan sebagai transfer tanpa persyaratan suatu aset tetap ke satu entitas,
misalnya perusahaan nonpemerintah memberikan bangunan yang dimilikinya untuk digunakan oleh satu
unit pemerintah tanpa persyaratan apapun. Penyerahan aset tetap tersebut akan sangat andal bila
didukung dengan bukti perpindahan kepemilikannya secara hukum, seperti adanya akta hibah.
F. PENGELUARAN SETELAH PEROLEHAN (SUBSEQUENT EXPENDITURES)
Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap yang memperpanjang masa manfaat atau yang
kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu
produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai tercatat aset yang bersangkutan.
G. PENGUKURAN BERIKUTNYA (SUBSEQUENT MEASUREMENT) TERHADAP PENGAKUAN
AWAL
Aset tetap disajikan berdasarkan biaya perolehan aset tetap tersebut dikurangi akumulasi penyusutan.
Apabila terjadi kondisi yang memungkinkan penilaian kembali, maka aset tetap akan disajikan dengan
penyesuaian pada masing-masing akun aset tetap dan akun ekuitas.
1. Penyusutan
Berdasarkan Buletin Teknis Nomor 06 Tentang Akuntansi Penyusutan, Penyusutan didefinisikan
sebagai penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset. Metode
Penyusutan terdiri dari tiga metode yaitu: Metode Garis Lurus, Metode Saldo Menurun Ganda dan Metode
Unit Produksi. Selain tanah dan KDP seluruh aset tetap disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik aset
tersebut.
Prasyarat yang harus dipenuhi dalam mencatat dan menyajikan penyusutan adalah sebagai berikut:
Harus dapat diidentifikasi aset yang kapasitas dan manfaatnya menurun, Harus ditetapkan nilai yang dapat
disusutkan dan Harus ditetapkan masa manfaat dan kapasitas aset tetap. Tujuan dasar dari penyusutan adalah
menyesuaikan nilai aset tetap untuk mencerminkan nilai wajarnya, disamping untuk menggambarkan
penurunan kapasitas dan manfaat yang diakibatkan pemakaian aset tetap dalam kegiatan pemerintahan.
2

Informasi Penyusutan yang harus diungkapkan dalam Laporan Keuangan adalah: Nilai Penyusutan, Metode
Penyusutan yang digunakan, Masa Manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan dan Nilai tercatat bruto dan
akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
Hal-hal khusus yang terkait dengan penyusutan: Penyusutan Pertama Kali, Pemanfaatan Aset Tetap
yang sudah seluruh nilainya disusutkan, Penghapus bukuan aset tetap, Penjualan Aset tetap yang telah
seluruhnya disusutkan, Tukar-menukar aset tetap, Perbaikan aset tetap yang menambah masa manfaat atau
kapasitas manfaat, Penyusutan atas aset secara berkelompok dan Perhitungan penyusutan aset tetap yang
diperoleh tengah tahun.
Sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, khususnya Paragraf 52 Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintah (PSAP) Berbasis Akrual Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap, Aset Tetap disajikan
berdasarkan biaya perolehan aset tersebut dikurangi akumulasi penyusutan. Penyusutan atas BMN berupa
aset tetap pada Pemerintah Pusat diatur juga oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 01/PMK.06/2013.
Penyusutan dilakukan oleh satker atas aset tetap berupa gedung dan bangunan; peralatan dan mesin;
jalan, irigasi dan jaringan; serta aset tetap lainnya berupa aset tetap renovasi dan alat musik modern dengan
menggunakan Aplikasi SIMAK BMN 2013. Aset Tetap yang direklasifikasi menjadi Aset Lainnya dalam
neraca, yaitu berupa Aset Kemitraan Dengan Pihak Ketiga dan Aset Idle, disusutkan sebagaimana layaknya
Aset Tetap.
Bedasarkan PMK diatas, penyusutan atas Aset Tetap dilakukan dengan menggunakan metode garis
lurus dan tanpa memperhitungkan adanya nilai residu. Penyusutan Aset Tetap diakumulasikan setiap semester
dan disajikan dalam akun Akumulasi Penyusutan sebagai pengurang nilai Aset Tetap.
Penyusutan per periode = Nilai yang dapat disusutkanMasa manfaat
Dimana nilai yang dapat disusutkan adalah nilai buku (nilai yang tercatat dalam pembukuan) per 31
Desember 2012 untuk Aset Tetap yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2012, nilai perolehan untuk
Aset Tetap yang diperoleh setelah 31 Desember 2012 atau nilai wajar yang merupakan nilai estimasi dalam
hal nilai perolehan tidak diketahui.
Dalam hal terjadi perubahan nilai aset tetap sebagai akibat penambahan atau pengurangan kuantitas
dan/atau nilai Aset Tetap, maka penambahan atau pengurangan tersebut diperhitungkan dalam nilai yang dapat
disusutkan.
Penentuan Masa Manfaat Aset Tetap dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor prakiraan daya
pakai; dan tingkat keausan fisik dan/atau keusangan,dari Aset Tetap yang bersangkutan. Pedoman terkait
penetapan Masa Manfaat Aset Tetap tertuang dalam bentuk Keputusan Menteri Keuangan Nomor
59/KMK.6/2013 tentang Tabel Masa Manfaat Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara Berupa Aset
Tetap Pada Entitas Pemerintah Pusat.
Masa Manfaat Aset Tetap tidak dapat dilakukan perubahan, kecuali terjadi perubahan
karateristik/penggunaan Aset Tetap, terjadi perbaikan Aset Tetap yang menambah Masa Manfaat atau
kapasitas manfaat meliputi renovasi, restorasi, dan ovehaul; atau terdapat kekeliruan dalam penetapan Masa
Manfaat Aset Tetap yang baru diketahui di kemudian hari.
2. Penilaian Kembali Aset Tetap (Revaluation)
Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena Standar
Akuntansi Pemerintahan menganut penilaian aset berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran.
Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah yang berlaku secara
nasional. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep biaya
perolehan di dalam penyajian aset tetap serta pengaruh penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan
suatu entitas. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai tercatat aset tetap dibukukan dalam akun ekuitas.
H. ASET BERSEJARAH, ASET INFRASTRUKTUR, DAN ASET MILITER
3

PSAP 07 tidak mengharuskan pemerintah untuk menyajikan aset bersejarah (heritage assets) di neraca
namun aset tersebut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Aset bersejarah harus
disajikan dalam bentuk unit dalam Catatan atas Laporan Keuangan dengan tanpa nilai. Biaya untuk perolehan,
konstruksi, peningkatan, rekonstruksi harus dibebankan dalam laporan operasional sebagai beban tahun
terjadinya pengeluaran tersebut. Beban tersebut termasuk seluruh beban yang berlangsung untuk menjadikan
aset bersejarah tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan.
Beberapa aset bersejarah juga memberikan potensi manfaat lainnya kepada pemerintah selain nilai
sejarahnya, sebagai contoh bangunan bersejarah digunakan untuk ruang perkantoran. Untuk kasus tersebut,
aset ini akan diterapkan prinsip-prinsip yang sama seperti aset tetap lainnya.
Beberapa aset biasanya dianggap sebagai aset infrastruktur. Walaupun tidak ada definisi yang
universal digunakan, aset ini biasanya mempunyai karakteristik yaitu: merupakan bagian dari satu sistem atau
jaringan, sifatnya khusus dan tidak ada alternatif lain penggunaannya, tidak dapat dipindah-pindahkan, dan
terdapat batasan-batasan untuk pelepasannya.
Aset infrastruktur memenuhi definisi aset tetap dan harus diperlakukan sesuai dengan prinsip-prinsip
yang ada pada Pernyataan ini. Contoh dari aset infrastruktur adalah jaringan, jalan dan jembatan, sistem
pembuangan, dan jaringan komunikasi.
Peralatan militer, baik yang umum maupun khusus, memenuhi definisi aset tetap dan harus
diperlakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada pada Pernyataan ini.
I. PENGHENTIAN DAN PELEPASAN (RETIREMENT AND DISPOSAL)
Suatu aset tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aset secara permanen dihentikan
penggunaannya dan tidak ada manfaat ekonomi masa yang akan datang. Aset tetap yang secara permanen
dihentikan atau dilepas harus dieliminasi dari Neraca dan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah tidak memenuhi definisi aset tetap dan harus
dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya.
J. PENGUNGKAPAN
Laporan keuangan harus mengungkapkan untuk masing masing jenis aset tetap sebagai berikut:
1. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat (carrying amount);
2. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan, pelepasan,
akumulasi penyusutan dan perubahan nilai jika ada, dan mutasi aset lainnya.
3. Informasi penyusutan, meliputi nilai penyusutan, metode penyusutan yang digunakan, masa manfaat atau
tarif penyusutan yang digunakan, dan nilai tercatat bruto dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir
periode.
Laporan keuangan juga harus mengungkapkan eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap,
kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan aset tetap, jumlah pengeluaran pada pos aset
tetap dalam konstruksi, dan jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.
Jika aset tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali, maka harus diungkapkan dasar peraturan
untuk menilai kembali aset tetap, tanggal efektif penilaian kembali, jika ada nama penilai independen, hakikat
setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya pengganti, dan nilai tercatat setiap jenis aset tetap.
Aset bersejarah diungkapkan secara rinci, antara lain nama, jenis, kondisi dan lokasi aset dimaksud.
K. KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN
KDP mencakup tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, serta
aset tetap lainnya yang proses perolehannya dan/atau pembangunannya membutuhkan suatu periode waktu
tertentu dan belum selesai. Perolehan aset dapat dilakukan dengan membangun sendiri (swakelola) atau
melalui pihak ketiga dengan kontrak konstruksi.
Kontrak konstruksi dapat berkaitan dengan perolehan sejumlah aset yang berhubungan erat atau saling
tergantung satu sama lain.
4

Kontrak konstruksi dapat meliputi: kontrak untuk perolehan jasa yang berhubungan langsung dengan
perencanaan konstruksi aset, seperti jasa arsitektur; kontrak untuk perolehan atau konstruksi aset; kontrak
untuk perolehan jasa yang berhubungan langsung dengan pengawasan konstruksi aset yang meliputi
manajemen konstruksi dan value engineering; kontrak untuk membongkar atau merestorasi aset dan restorasi
lingkungan.
Jika suatu kontrak konstruksi mencakup sejumlah aset, konstruksi dari setiap aset diperlakukan
sebagai suatu kontrak konstruksi yang terpisah apabila semua syarat di bawah ini terpenuhi: Proposal terpisah
telah diajukan untuk setiap aset; Setiap aset telah dinegosiasikan secara terpisah dan kontraktor serta pemberi
kerja dapat menerima atau menolak bagian kontrak yang berhubungan dengan masing-masing aset tersebut;
Biaya masing-masing aset dapat diidentifikasikan.
Konstruksi tambahan diperlakukan sebagai suatu kontrak konstruksi terpisah jika: aset tambahan tersebut
berbeda secara signifikan dalam rancangan, teknologi, atau fungsi dengan aset yang tercakup dalam kontrak
semula; atau harga aset tambahan tersebut ditetapkan tanpa memperhatikan harga kontrak semula.
Suatu benda berwujud harus diakui sebagai KDP jika: besar kemungkinan bahwa manfaat ekonomi
masa yang akan dating berkaitan dengan aset tersebut akan diperoleh; biaya perolehan tersebut dapat diukur
secara andal; dan aset tersebut masih dalam proses pengerjaan.
KDP biasanya merupakan aset yang dimaksudkan digunakan untuk operasional pemerintah atau dimanfaatkan
oleh masyarakat dalam jangka panjang dan oleh karenanya diklasifikasikan dalam aset tetap. KDP
dipindahkan ke pos aset tetap yang bersangkutan jika kriteria berikut ini terpenuhi: Konstruksi secara
substansi telah selesai dikerjakan; dan Dapat memberikan manfaat/jasa sesuai dengan tujuan perolehan.
Konstruksi Dalam Pengerjaan dicatat dengan biaya perolehan. Biaya/Nilai Konstruksi dibagi menjadi
dua, yaitu:
1. Nilai konstruksi yang dikerjakan secara swakelola antara lain biaya yang berhubungan langsung dengan
kegiatan konstruksi, biaya yang dapat diatribusikan pada kegiatan pada umumnya dan dapat dialokasikan
ke konstruksi tersebut, dan biaya lain yang secara khusus dibayarkan sehubungan konstruksi yang
bersangkutan.
2. Nilai konstruksi yang dikerjakan oleh kontraktor melalui kontrak konstruksi antara lain termin yang telah
dibayarkan kepada kontraktor sehubungan dengan tingkat penyelesaian pekerjaan, kewajiban yang masih
harus dibayar kepada kontraktor berhubung dengan pekerjaan yang telah diterima tetapi belum dibayar
pada tanggal pelaporan, dan pembayaran klaim kepada kontraktor atau pihak ketiga sehubungan dengan
pelaksanaan kontrak konstruksi.
Jika konstruksi dibiayai dari pinjaman, maka biaya pinjaman yang timbul selama masa konstruksi
dikapitalisasi dan menambah biaya konstruksi, sepanjang biaya tersebut dapat diidentifikasikan dan ditetapkan
secara andal. Jumlah biaya pinjaman yang dikapitalisasi tidak boleh melebihi jumlah biaya bunga yang
dibayarkaan pada periode yang bersangkutan. Apabila pinjaman digunakan untuk membiayai beberapa jenis
asset yang diperoleh dalam suatu periode tertentu, biaya pinjaman periode yang bersangkutan dialokasikan ke
masing-masing konstruksi dengan metode rata-rata tertimbang atas total pengeluaran biaya konstruksi. Jika
kontrak konstruksi mencakup beberapa jenis pekerjaan yang penyelesaiannya jatuh pada waktu yang berbedabeda, maka jenis pekerjaan yang sudah selesai tidak diperhitungkan biaya pinjaman. Biaya pinjaman hanya
dikapitalisasi untuk jenis pekerjaan yang masih dalam proses pengerjaan.
Apabila kegiatan pembangunan konstruksi dihentikan sementara karena kondisi force majeur, maka
biaya pinjaman tidak dikapitalisasi tetapi dicatat sebagai biaya bunga pada periode yang bersangkutan.
Sebaliknya, jika pemberhentian sementara tidak disebakan oleh hal-hal yang bersifat force majeur (misalnya
karena adanya campur tangan dari pemberi kerja atau pihak yang berwenang), maka biaya pinjaman yang
dibayarkan selama masa pemberhentian sementara pembangunan konstruksi tetap dikapitalisasi.
Suatu entitas harus mengungkapkan informasi mengenai Konstruksi Dalam Pengerjaan pada akhir
periode akuntansi, meliputi rincian kontrak konstruksi dalam pengerjaan berikut tingkat penyelesaian dan
jangka waktu penyelesaiannya; nilai kontrak konstruksi dan sumber pembiayaannya; jumlah biaya yang telah
dikeluarkan; uang muka kerja yang diberikan; dan retensi.
5