Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Perusahaan didirikan dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan
sehingga dapat memberikan kemakmuran bagi pemilik atau para pemegang
saham. Salah satu upaya untuk mencapai tujuannya, perusahaan selalu berusaha
memaksimalkan labanya. Dalam mencapai tujannya itu banyak terjadi perubahanperubahan organisatoris. Dengan bertambah besarnya perusahaan, maka
perusahaan berkembang untuk dapat mengikuti dan memenuhi kebutuhan pasar
yang berubah-ubah dan bersaing untuk memperoleh manajemen berkemampuan
terbaik. Kondisi finansial dan perkembangan perusahaan yang sehat akan
mencerminkan efisiensi dalam kinerja perusahaan menjadi tuntutan utama untuk
bisa bersaing dengan perusahaan lainnya. Dengan perkembangannya tehnologi
dan semakin meningkatnya spesialisasi dalam perusahaan, semakin banyak
perusahaan-perusahaan yang menjadi besar dimana faktor produksi modal
mempunyai arti yang penting.
Banyaknya perubahan serta persaingan yang dihadapi dunia usaha dalam
era globalisasi ini menuntut perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja
perusahaannya. Salah satu faktor yang dapat mencerminkan kinerja suatu
perusahaan adalah laporan keuangan yang merupakan salah satu sumber informasi
yang dihasilkan oleh perusahaan yang dibuat oleh pihak-pihak manajemen secara
teratur. Informasi yang terdapat dalam laporan keuangan tersebut sangat

dibutuhkan oleh para pemakai laporan keuangan baik pihak internal maupun
ekstrenal perusahaan dalam memenuhi kebutuhan mereka yang berbeda-beda.
Pertumbuhan laba tidak dapat dipastikan, maka perlu adanya suatu analisis
untuk memprediksi tingkat pertumbuhan laba. Analisis yang biasa digunakan
adalah analisis laporan keuangan yang menggunakan rasio keuangan untuk
mengukur kinerja keuangan suatu perusahaan. Penilaian atas kinerja perusahaan
dapat mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang nantinya dapat
memprediksi pertumbuhan laba pada perusahaan tersebut.
Pertumbuhan laba yang baik, mengisyaratkan bahwa perusahaan
1 pada akhirnya akan meningkatkan nilai
mempunyai keuangan yang baik, yang

perusahaan, karena besarnya dividen yang akan dibayar di masa akan datang saat
bergantung pada kondisi perusahaan.
Pertumbuhan Laba dalam manajemen keuangan diukur berdasar
perubahan laba ditahan, bahkan secara keuangan dapat dihitung berapa
pertumbuhan yang seharusnya (Sustainable Growth Rate) dengan melihat
keselarasan keputusan investasi dan pembiayaan. Pertumbuhan Laba yang
berkelanjutan adalah tingkat dimana perusahaan dapat tumbuh tergantung pada
bagaimana dukungan asset terhadap peningkatan laba ditahan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba adalah Naik turunnya
jumlah unit yang dijual dan harga jual per unit, harga pokok penjualan, biaya
usaha yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dijual, nilai rasio keuangan,
tingkat bunga pinjaman (biaya modal asing), Naik turunnya pos penghasilan oleh
variasi jumlah unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan perubahan tingkat
kebijakan dalam pemberian diskon, Naik turunnya pajak yang dipengaruhi oleh

besar kecilnya laba yang diperoleh atau tinggi rendahnya ratif pajak, Adanya
perubahan dalam metode akuntansi.
Perusahaan dengan laba bertumbuh, dapat memperkuat hubungan antara
besarnya atau ukuran perusahaan dengan tingkatan laba yang diperoleh. Dimana
perusahaan dengan laba bertumbuh akan memiliki jumlah aktiva yang besar
sehingga

memberikan

peluang

lebih

besar

didalam

menghasilkan

profitabilitasnya, Hamid (2001), merumuskan bahwa perusahaan yang bertumbuh


adalah perusahaan yang memiliki pertumbuhan margin, laba dan penjualan yang
tinggi. Menurut Musliatun (2000), dikutip oleh Sujana (2004), menyatakan
perusahaan yang memiliki total aktiva yang besar menunjukkan bahwa
perusahaan telah mencapai tahap kedewasaan.
Dividen yang bisa diperoleh oleh para investor ada dua jenis, yaitu dividen
kas dan non kas. Dividen kas (cash dividend) adalah dividen yang dibayarkan
perusahaan pada investor dalam bentuk uang tunai. Sedangkan dividen non kas
(non cash dividend) adalah dividen yang dibayarkan kepada investor dalam
bentuk saham dengan proporsi tertentu, misalnya dividen saham dan dividen
aktiva. Pada kenyataannya para investor lebih tertarik pada pembayaran dividen
dalam bentuk uang tunai, sebab dapat meminimalisir ketidakpastian atas
investasinya pada suatu perusahaan.
Peningkatan pembayaran dividen hanya dimungkinkan apabila laba yang
diperoleh perusahaan juga meningkat. Kalau perusahaan mampu meningkatkan
besarnya dividen yang dibagikan karena peningkatan laba maka pertumbuhan laba
akan mengalami penurunan (Smith and Skousen 2000 : 132).

Sektor kegiatan industri manufaktur merupakan sektor yang cukup


berprospek untuk kegiatan investasi. Hal tersebut terlihat dari industi manufaktur
yang memiliki peluang tumbuh di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional. Pasca
tahun 2020, tingkat pertumbuhannya akan mencapai 35% terhadap produk
domestik bruto (PDB) (www.BisnisIndonesia.co.id, 2008).
Pada kenyataannya, tidak semua teori yang telah dipaparkan diatas sejalan
dengan bukti empiris yang ada. Seperti yang terjadi dalam perkembangan
perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 hingga 2014.
Adapun besarnya nilai dividen dan pertumbuhan laba perusahaan manufaktur di
Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011 hingga 2014 adalah sebagai berikut:
Tabel I.1
Data Dividen Dan Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Manufaktur
Laba Bersih
EMITE
N

Dividen

2011

2012

2013

2014

2,498,565

2,520,266

1,903,088

1,970,793

2,284,080

618,833

615,627

561,869

139,473

171,192

209,006

174,468

21,077,00
0
322,289

22,742,000

22,125,000

420,088

22,297,00
0
307,611

56,615

69,343

44,374

13,473

507,382

453,405

1,171,229

15,103

5,899,506

5,753,342

4,798,778

4,839,970

4,164,304

4,839,145

5,352,625

4,048,929

AALI
AKRA
ASGR
ASII

187,735

TURI
BATA
MLBI
UNTR
UNVR

PL

2011

2012

2013

995.00

685.00

225.00

2014

2011

2012

675.00

244.00

18.77

0.87

-24.49

105.00

115.00

50.00

573.5
9

-72.91

-0.52

62.00

76.00

62.00

25.00

17.78

22.74

22.09

1,980.0
0

216.00

216.00

64.00

23.95

7.90

-1.96

14.00

23.00

22.00

4.00

19.81

30.35

-26.77

1,231.4
5

2,750.00

28.55

16.16

15.09

-7.15

22.48

24.07

6,964.57

55,576.0
0

119.00

30.09

14.52

-10.64

820.00

830.00

690.00

195.00

52.26

-2.48

-16.59

546.00

634.00

701.00

336.00

23.04

16.21

10.61

Sumber : www.idx.co.id
Pada beberapa perusahaan mengalami penurunan nilai dividen hal ini
akan berdampak berkurangnya investor dalam menginvestasikan dananya
keperusahaan tersebut dan akan mengakbibatkan menurunnya harga saham,
sementara teori peningkatan pembayaran dividen hanya dimungkinkan apabila
laba yang diperoleh perusahaan juga meningkat. Kalau perusahaan mampu

2013

2014
3,56
-8,73
-16,52
-0,77
-38,97
-69,64
-98,71
0,86
-24,36

meningkatkan besarnya dividen yang dibagikan karena peningkatan laba maka


harga saham akan naik (Smith and Skousen 2000 : 132).
Pada nilai pertumbuhan laba perusahaan mengalami penurunan dari
tahun 2011-2014 hal ini menunjukkan bahwa beberapa perusahaan tersebut
dengan volume laba ditahankan yang relatif rendah terhadap assetnya dapat
menghasilkan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah yang harus mengumpulkan
lebih banyak modal sementara teori menurut Brealey Myers, (2008:120)
Pertumbuhan laba berarti bahwa sebuah perusahaan dengan volume laba yang
dapat menghasilkan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi tanpa harus
mengumpulkan lebih banyak modal.
Penelitian yang dilakukan oleh Suprihatmi dan Wahyuddin (2003) dalam
menguji pengaruh rasio keuangan dalam memprediksi pertumbuhan laba pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta, telah membuktikan
bahwa rasio-rasio keuangan yaitu debt to equity, gross profit margin, net profit
margin, inventory turnover, total assets turnover, return on investment, return on
equity secara simultan dapat mempengaruhi prediksi pertumbuhan laba. Namun
secara parsial hanya gross profit margin, inventory turnover, return on investment
dan return on equity yang berpengaruh signifikan terhadap prediksi pertumbuhan
laba. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2007) dalam
menguji enam rasio keuangan yaitu working capital to total asset, current
liabilities to inventory, operating income to total assets, total asset turnover, net
profit margin dan gross profit margin untuk memprediksi pertumbuhan laba
membuktikan bahwa tujuh rasio keuangan tersebut secara simultan mempunyai
pengaruh dalam memprediksi pertumbuhan laba. Namun secara parsial hanya

total asset turnover, net profit margin dan gross profit margin yang mempunyai
pengaruh untuk memprediksi pertumbuhan laba.
Perbedaan yang terjadi antara hasil penelitan Suprihatmi dan Wahyuddin
(2003) dengan Hapsari (2007) menunjukkan bahwa adanya ketidakkonsitenan
antara penelitian-penelitian tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Suprihatmi dan Wahyuddin (2003) menunjukkan bahwa rasio keuangan net profit
margin tidak mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap
prediksi pertumbuhan laba. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari
(2007) menunjukkan hasil yang bertolak belakang dengan penelitian Suprihatmi
dan Wahyuddin (2003) bahwa rasio keuangan net profit margin secara parsial
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prediksi pertumbuhan laba.
Ketidakkonsistenan yang terjadi antara hasil penelitian Suprihatmi dan
Wahyuddin (2003) dengan Hapsari (2007) mendorong penulis untuk meneliti
kembali penilitian mengenai pengaruh rasio keuangan terhadap prediksi
pertumbuhan laba. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah
dilakukan oleh Hapsari (2007). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya adalah (1) penelitian sebelumnya mengambil sampel di perusahaan
manufaktur sedangkan penelitian ini mengambil sampel di perusahaan manufaktur
(2) periode tahun penelitian sebelumnya adalah 2003-2005 sedangkan penelitian
ini menggunakan periode tahun 2010-2013, dan (3) jumlah rasio keuangan yang
digunakan sebagai variabel independen dalam penelitian terdahulu adalah enam
rasio keuangan sedangkan dalam penelitian ini digunakan tiga rasio keuangan
yaitu, ROA, GPM, CR..

Berdasarkan penjelasan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka


judul dari penelitian ini adalah Analisis Pengaruh Dividen Terhadap
Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI.

B. Identifikasi Masalah
Adapun peneliti mengidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut :
1. Pada beberapa perusahaan manufaktur mengalami penurunan nilai
dividen dari tahun 2011-2014
2. Pada beberapa perusahaan manufaktur mengalami penurunan nilai
pertumbuhan laba tahun 2011-2014

C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah ada
pengaruh dividen terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan manufaktur?

D. Tujuan dan Manfaat penelitian


Tujuan penelitian pada umumnya bertujuan untuk menjawab rumusan
masalah, dengan demikian tujuan penelitian ini yaitu : Untuk mengetahui
pengaruh dividen terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan manufaktur.
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara langsung maupun
tidak langsung bagi pihak-pihak yang berkepentingan antara lain :
a. Bagi penulis
Penelitian ini bermanfaat dalam memperdalam pengetahuan peneliti
tentang pertumbuhan laba yang ada dalam perusahaan.
b. Bagi Perusahaan

Perusahaan dapat mengetahui langkah-langkah yang akan diambil dalam


mengantisipasi kegiatan usahanya berdasarkan modal kerja yang tersedia
bagi

pencapaian

sasaran,

sehingga

diharapkan

terus

mengalami

perkembangan ke arah yang lebih baik sehingga dapat digunakan sebagai


bahan pertimbangan dalam hal menentukan kebijakan penyediaan modal
kerja pada masa yang akan datang.
c. Bagi perkembangan ilmu akuntansi
Referensi bagi peneliti berikutnya dalam menguji masalah yang sama di
masa mendatang.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Uraian Teoritis
1. Pertumbuhan Laba
a. Pengertian Tingkat Pertumbuhan Laba
Didalam melakukan menjalankan perusahaan mempunyai tujuan dalam
kegiatannya yaitu dengan adanya peningkatan atau Pertumbuhan Laba
perusahaan. Pertumbuhan Laba sangatlah diinginkan oleh perusahaan karena
Pertumbuhan Laba mencerminkan suatu pertumbuhan perusahaan. Perusahaan
harus mempunyai strategi yang tepat agar dapat memenangkan pasar dengan

menarik konsumen agar selalu memilih produknya. Untuk itu faktor-faktor yang
mempengaruhi penjualan harus benar-benar diperhatikan.
Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut perusahaan akan dapat
menetapkan kebijaksanaan untuk mengantisipasi kondisi tersebut, sehingga
perusahaan dapat menjual produk dalam jumlah yang besar dan volume penjualan
akan meningkat yang mengakibatkan laba perusahaan akan meningkat pula.
Dengan meningkatnya laba perusahaan, maka keuntungan yang diperoleh para
investor akan meningkat.
Menurut Indrawati dan Suhendro (2006), Pertumbuhan Laba adalah
perubahan laba ditahan dan total asset perusahaan. Menurut Devie (2003),
Pertumbuhan Laba dalam manajemen keuangan diukur berdasar perubahan laba
ditahan, bahkan secara keuangan dapat dihitung berapa pertumbuhan yang
seharusnya (Sustainable Growth Rate) dengan melihat keselarasan keputusan
investasi dan pembiayaan.
Menurut Ratnawati (2007), Pertumbuhan Laba yang berkelanjutan adalah
9

tingkat dimana perusahaan dapat tumbuh tergantung pada bagaimana dukungan


asset terhadap peningkatan laba ditahan. Selain melalui tingkat, Pertumbuhan
Laba dapat juga diukur dari pertumbuhan aset atau dengan kesempatan investasi
yang diproksikan dengan berbagai macam kombinasi nilai set kesempatan
investasi (Investment Opportunity Set).
Murni dan Andriana (2007) menyatakan, pendekatan Pertumbuhan Laba
merupakan suatu komponen untuk menilai prospek perusahaan pada masa yang
akan datang. Dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan Laba merupakan komponen
untuk menilai prospek perusahaan pada masa yang akan datang dan dalam

10

manajemen keuangan diukur berdasarkan perbandingan antara laba periode


sekarang dengan laba periode sebelumnya.
Pertumbuhan Laba adalah perubahan pada laporan keuangan per tahun.
Pertumbuhan berkaitan dengan bagaimana terjadinya stabilitas peningkatan laba
ditahan kedepan. Pertumbuhan Laba yang di atas rata-rata bagi suatu perusahaan
pada umumnya didasarkan pada pertumbuhan cepat yang diharapkan dan industri
dimana perusahaan beroperasi. Pertumbuhan Laba suatu produk sangat tergantung
dari daur hidup produk (Fabozzi 2000, Hal. 881).
b. Manfaat Pertumbuhan Laba
Menurut Amstrong (2002: 327) adapun manfaat dari Pertumbuhan Laba
adalah sebagai berikut :
1) Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban atau utang
yang segera jatuh tempo pada saat ditagih. Artinya, kemampuan untuk
membayar kewajiban yang sudah waktunya dibayar sesuai jadwal batas
waktu yang telah ditetapkan (tanggal dan bulan tertentu).
2) Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
pendek dengan aktiva lancar secara keseluruhan.
3) Untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka
pendek tanpa memperhitungkan sediaan atau piutang,
4) Untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada
dengan modal kerja perusahaan.

11

5) Untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar
utang
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba Perusahaan
Menurut Amstrong (2002: 327) ada empat tahap daur hidup produk yang
mempengaruhi Pertumbuhan Laba, yaitu:
a. Tahap Introduksi
Tahap ini mulai ketika produk baru pertama kali diluncurkan. Hal ini
membutuhkan waktu, dan Pertumbuhan Laba cenderung lambat. Dalam
tahap ini kalau dibandingkan dengan tahap-tahap yang lain, perusahaan
masih merugi atau berlaba kecil karena penjualan yang lambat dan
biaya distribusi serta promosi yang tinggi.

b. Tahap Pertumbuhan
Pada tahap ini Pertumbuhan Laba meningkat dengan cepat, laba
meningkat, karena biaya promosi dibagi volume penjualan yang tinggi,
dan juga karena biaya produksi per unit turun.
c. Tahap Menjadi Dewasa
Tahap dewasa ini berlangsung lebih lama daripada tahap sebelumnya
dan memberikan tantangan kuat bagi manajemen pemasaran. Penurunan
Pertumbuhan Laba menyebabkan banyak produsen mempunyai banyak
produk untuk dijual.
d. Tahap Penurunan

12

Penjualan menurun karena berbagai alasan, termasuk kemajuan


teknologi, selera konsumen berubah, dan meningkatnya persaingan
ketika penjualan dan laba menurun, beberapa perusahaan mundur dari
pasar. Perusahaan yang masih bertahan dapat mengurangi macam
produk yang ditawarkannya.
Pertumbuhan Laba suatu produk dari emiten tergantung dari daur hidup
produk. Jika Pertumbuhan Laba per tahun meningkat, investor akan percaya
terhadap emiten, bahwa emiten akan memberikan keuntungan di masa depan.
Kondisi tersebut terjadi jika informasi yang diperoleh investor sempurna.
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan Pertumbuhan Laba
merupakan perubahan penjualan per tahun yang stabil. Jika Pertumbuhan Laba
per tahun meningkat, investor akan percaya terhadap emiten bahwa emiten akan
memberikan keuntungan dimasa depan.
Bagi perusahaan dengan tingkat Pertumbuhan Laba dan laba yang tinggi
kecenderungan perusahaan membagikan dividen lebih konsisten dibandingkan
dengan perusahaan-perusahaan yang tingkat Pertumbuhan Labanya rendah (Hatta,
2002).
Dalam praktek, Pertumbuhan Laba itu dipengaruhi oleh beberapa faktor
sebagai berikut: (Swastha dan Irawan, 2000).
1. Return On Asset (ROA).
Return On Asset (ROA) juga merupakan suatu ukuran tentang
efektivitas manajemen dalam mengelola asetnya. Di samping itu, hasil
pengembalian asset menunjukan produktivitas dari Pertumbuhan Laba
perusahaan. Semakin kecil (rendah) rasio ini maka semakin rendah

13

tingkat Pertumbuhan Laba perusahaan, demikian pula sebaliknya.


Artinya rasio ini sangat berguna untuk mengukur efektivitas dari
Pertumbuhan Laba perusahaan.
2. Return On Equity (GPM).
Rasio laba bersih terhadap ekuitas saham biasa mengukur tingkat
pengembalian modal. GPM sangat berguna dalam meningkatkan
Pertumbuhan Laba perusahaan, dan juga manajemen karena rasio
tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari shareholder
value creation. Artinya semakin tinggi rasio GPM, semakin tinggi
pula tingkat Pertumbuhan Laba perusahaan
3. Debt To Equity Ratio (DER)
Kemampuan suatu perusahaan untuk membayar semua hutanghutangnya menunjukkan

solvabilitas suatu perusahaan. Suatu

perusahaan yang solvable berarti perusahaan tersebut mempunyai


modal atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutanghutangnya (Riyanto, 2001).
Menurut Brealey (2008:120) untuk mengukur Pertumbuhan Laba dapat
digunakan rumus sebagai berikut :

2. Dividen
a. Pengertian Dividen
Seorang investor yang menanamkan modalnya pada suatu perusahaan
tentu saja mengharapkan return atau keuntungan yang akan diperoleh dari

14

investasi yang telah dilakukannya. Keuntungan yang dapat diterima oleh investor
atau pemegang saham dari penanaman modal melalui pembelian saham suatu
perusahaan terdiri dari dua macam yaitu dividen dan capital gain.
Zaki Baridwan (2004:434) menyatakan bahwa : Dividen adalah
pembagian laba perusahaan kepada para pemegang saham yang besarnya
sebanding dengan jumlah lembar saham yang dimiliki
Menurut Bambang Riyanto (2001:265) menyatakan bahwa : Dividen
adalah aliran kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham atau equity
investors.
Pengertian capital gain menurut Agus Sartono (2001:483) menyatakan
bahwa : Capital gain adalah keuntungan yang diperoleh dari penjualan aktiva
tetap atau selisih harga jual dan harga beli surat berharga.
Menurut Husnan (2001), dividen adalah suatu hal yang kontroversial. Dia
mengelompokkan berbagai pendapat tentang dividen menjadi tiga kelompok,
yaitu:
1. Pendapat yang menginginkan dividen dibagikan sebesar-besarnya.
2. Pendapat yang mengatakan bahwa kebijakan dividen tidak relevan
3. Pendapat yang mengatakan bahwa perusahaan seharusnya justru
membagikan dividen sekecil mungkin.
Mereka yang mendukung pendapat pertama, mendasarkan diri pada
argumen bahwa harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan. Dengan
demikian, apabila dividen ditingkatkan maka harga saham akan meningkat.
Kesalahan dalam argument ini adalah bahwa peningkatan pembayaran dividen
hanya dimungkinkan apabila laba yang diperoleh perusahaan juga meningkat.

15

Kalau perusahaan mampu meningkatkan besarnya dividen yang dibagikan karena


peningkatan laba maka harga saham akan naik. Meski demikian, kenaikan harga
saham tersebut adalah dikarenakan kenaikan laba, bukan karena kenaikkan
pembayaran dividen.
Manajemen dihadapkan pada keputusan untuk menentukan berapa banyak
dividen yang harus dibagikan kepada para investor. Kebijakan dividen bermula
dari bagaimana manajemen memperlakukan keuntungan yang diperoleh
perusahaan yang umumnya dari pendapatan bersih setelah pajak (EAT) dibagikan
kepada investor dalam bentuk dividen atau diinvestasikan kembali dalam
perusahaan sebagai laba ditahan. Laba ditahan merupakan salah satu dari sumber
dana yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Perusahaan
selalu menginginkan adanya pertumbuhan perusahaan di satu sisi dan
membayarkan sejumlah dividen kepada para investor di sisi lain namun kedua
tujuan ini saling bertentangan (Riyanto dalam Laksono, 2006). Dikatakan
bertentangan karena semakin tinggi dividend payout ratio (DPR) yang ditetapkan
oleh suatu perusahaan maka makin kecil dana yang tersedia untuk ditanamkan
kembali di dalam perusahaan.
b. Jenis-Jenis Dividen
Biasanya dividen dibagikan dengan interval waktu yang tetap, tetapi
kadang-kadang diadakan pembagian dividen tambahan pada waktu yang bukan
biasanya. Menurut Zaki Baridwan (2004:434) menyatakan bahwa dividen yang
dibagi oleh perusahaan bisa mempunyai beberapa bentuk sebagai berikut :
1) Dividen Kas

16

Dividen yang paling umum digunakan oleh perusahaan adalah dalam


bentuk kas. Para pemegang saham akan menerima dividen sebesar tarif per
lembar dikalikan dengan jumlah lembar yang dimiliki. Yang perlu
diperhatikan oleh pimpinan perusahaan sebelum membuat pengumuman
adanya dividen kas adalah jumlah uang kas yang ada mencukupi untuk
pembagian dividen tersebut.
2) Dividen Aktiva Selain Kas
Dividen yang dibagikan tidak selalu dalam bentuk uang tunai tetapi dapat
juga berupa aktiva surat-surat berharga atau saham perusahaan, barangbarang hasil produksi perusahaan yang membagi dividen tersebut, atau
aktiva-aktiva lain.

3) Dividen Utang
Dividen utang timbul apabila saldo laba tidak dibagi mencukupi untuk
pembagian dividen, sedangkan saldo kas yang ada tidak cukup. Sehingga
pimpinan perusahaan akan mengeluarkan dividen utang yaitu janji tertulis
untuk membayar jumlah tertentu di waktu yang akan datang. Dividen
utang ini bisa dikenai bunga bisa juga tidak.
4) Dividen Likuidasi
Adalah dividen yang dibagikan sebagian merupakan pembagian laba dan
sebagian lagi merupakan pengembalian modal. Perusahaan yang
membagikan dividen likuidasi biasanya adalah perusahaan-perusahaan
yang akan menghentikan usahanya misalnya dalam bentuk joint venture.

17

Karena usaha perusahaan akan diberhentikan maka tidak perlu


memperbesar modal.
Pembagian dividen kepada pemegang saham dapat berakibat sebagai
berikut :
1) Pembagian aktiva perusahaan dan suatu penurunan dalam jumlah modal
perusahaan seperti dalam hal dividen kas, aktiva selain kas, dan dividen
likuidasi.
2) Timbulnya suatu utang dan suatu penurunan dalam jumlah modal
perusahaan seperti dalam hal dividen utang atau dividen kas yang sudah
diumumkan tetapi belum dibayar.
3) Tidak ada perubahan dalam aktiva, utang atau jumlah modal perusahaan,
tetapi hanya menimbulkan perubahan komposisi masing-masing elemen
dalam modal perusahaan seperti dalam hal dividen saham.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dividen
Menurut Ridwan S. Sundjaja (2002 : 339) faktor-faktor yang
mempengaruhi Dividen adalah :
1) Peraturan hukum
-Peraturan mengenai laba bersih menentukan bahwa dividen dapat dibayar
dari laba tahun-tahun yang dan laba tahun berjalan.
-Peraturan mengenai tindakan yang merugikan modal. Melindungi para
kreditur, dengan melarang pembayaran dividen yang berasal dari modal
membagikan investasinya bukan membagikan keuntungannya.
-Peraturan mengenai tak mampu bayar. Perusahaan boleh tidak membayar
dividen jika tidak mampu (bangrut-jumlah hutang lebih besar daripada
jumlah harta).
2) Posisi Likuiditas

18

Laba ditahan dari tahun-tahun terdahulu sudah diinvestasikan dalam


bentuk mesin dan peralatan, persediaan dan barang-barang lainnya,bukan
disimpan dalam bentuk uang tunai. Oleh karena itu,suatu perusahaan yang
keuntungannya luar biasa mungkin saja tidak dapat membayar dividen
karena keadaan likuiditasnya. Dalam situasi seperti itu mungkin
perusahaan memutuskan untuk tidak membayar dividen dalam bentuk
uang tunai. Rasio yang digunakan untuk mengukur nya adalah rasio
lancar/current ratio yang diformulasikan sebagai berikut :
Hutang Lancar
CR=
X 100
Asset Lancar

3) Membayar Pinjaman
Jika perusahaan telah membuat pinjaman untuk memperluas usahanya atau
untuk pembiayaan lainnya maka ia dapat melunasi pinjamannya pada saat
jatuh tempo atau ia dapat menyisihkan cadangan-cadangan untuk melunasi
pinjaman itu nantinya.
4) Pengembangan Aktiva
Semakin cepat pertumbuhan perusahaan, semakin besar kebutuhannya
untuk membiayai pengembangan aktiva perusahaan. Semakin banyak dana
yang dibutuhkan dikemudian hari, semakin banyak laba yang harus
ditahan dan tidak dibayarkan.
5) Tingkat Pengembalian
Tingkat pengembalian atas asset dan equity menentukan pembagian laba
dalam bentuk dividen yang dapat digunakan oleh pemegang saham baik
ditanamkan kembali didalam perusahaan maupun di tempat lain. Didalam
penelitian ini diukur dengan return on Equity (ROE).
Laba Bersi h Setela h Pajak
ROE=
x 100
Total Modal
6) Stabilitas Keuntungan

19

Perusahaan yang keuntungannya relative teratur seringkali dapat


memperkirakan bagaimana
peerusahaan

seperti

itu

keuntungan
kemungkinan

di kemudian hari.
besar

akan

Maka

membagikan

keuntungannya dalam bentuk dividen dengan persentasi yang lebih besar


dibandingkan dengan perusahaan yang keuntungannya berfluktuasi.
Didalam penelitian ini stabilitas keuntungan diukur dengan NPM yang
diformulasikan sebagai berikut :
Penjualan
NPM=
x 100
Laba Bersi h
7) Pasar Modal
Perusahaan besar yang sudah mantap, dengan profitabilitas yang tinggi
dan keuntungan yang teratur, dengan mudah dapat masuk ke pasar modal
atau memperoleh macam-macam dana dari luar untuk pembiayaannya.
Perusahaan kecil yang masih baru adalah terlalu beresiko bagi para calon
debitur. Sebab kemampuannya untuk meningkatkan modal atau untuk
memperoleh pinjaman dari pasar modal adalah terbatas, dan untuk
membiayai operasinya ia harus menahan laba lebih banyak. Karena itu
perusahaan besar yang mantap akan mempunyai tingkat dividen yang
lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan kecil yang masih baru. Hal
ini diukur dengan earnig pershare (EPS)
Laba bersi h setela h Pajak
EPS=
x 100
Jumla h Sa h am Yang Beredar
8) Kendali Perusahaan
Jika perusahaan hanya memperluas ushanya dari pembiayaan intern maka
pembayaran dividen akan berkurang. Kebijakan ini dijalankan atas
pertimbangan bahwa menambah modal dengan menjual saham biasa akan
mengurangi pengendalian atas perusahaan itu oleh golongan pemegang
saham yang kini sedang berkuasa.

20

9) Keputusan Kebijakan Dividen


Naiknya

dividen

selalu

terlambat

dibandingkan

dengan

naiknya

keuntungan. Artinya dividen itu baru akan dinaikkan jika sudah jelas
bahwa meningkatnya keuntungan itu benar-benar mantap dan Nampak
cukup permanen. Sekali dividen naik, maka segala daya dan upaya akan
dikerahkan, supaya tingkatan yang baru itu dapat terus dipertahankan.
Husnan (2001) menyatakan bahwa dalam menentukan dividen perlu
memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
1)

Tidak benar bahwa perusahaan seharusnya membagikan dividen


sebesarbesarnya

Apabila

dana

operasi

dari

perusahaan

bisa

dipergunakan dengan menguntungkan, dividen tidak perlu dibagikan


terlalu besar (bahkan secara teoritis tidak perlu membagi dividen).
2)

Karena ada keengganan untuk menurunkan pembayaran dividen per


lembar saham, ada baiknya kalau perusahaan menentukan dividen
dalam jumlah (dan rasio payout) yang tidak terlalu besar. Dengan
demikian memudahkan perusahaan untuk meningkatkan pembayaran
dividen kalau laba perusahaan meningkat dan tidak perlu segera
menurunkan pembayaran dividen kalau laba menurun.

3)

Apabila memang perusahaan menghadapi kesempatan investasi yang


menguntungkan, lebih baik perusahaan mengurangi pembayaran
dividen dari pada menerbitkan saham baru. Penurunan pembayaran
dividen mungkin akan diikuti dengan penurunan harga saham, tetapi
apabila pasar modal efisien harga akan menyesuaikan kembali dengan

21

informasi

yang

sebenarnya

(yaitu

adanya

investasi

yang

menguntungkan).
4)

Dalam keadaan tidak terdapat biaya transaksi, tambahan kekayaan


karena kenaikan harga saham sama menariknya dengan tambahan
kekayaan karena pembayaran dividen. Masalahnya adalah bahwa untuk
merealisir uang kas, pemegang saham perlu menjual (sebagian) saham
sedangkan pembayaran dividen berarti menerima kas (yang tidak perlu
menjual saham). Sayangnya kalau pemodal menjual saham, mereka
akan terkena biaya transaksi. Dengan demikian, kalau tidak ada faktor
pajak, menerima dividen lebih menguntungkan dari pada memperoleh
capital gains. Karena itulah sekelompok pemodal mungkin memilih
saham yang membagikan dividen secara teratur.

5)

Karena pemodal juga membayar pajak penghasilan (personal tax),


maka bagi pemodal yang sudah berada dalam tax bracket yang tinggi
(diIndonesia tax bracket tertinggi adalah 30%), mungkin akan lebih
menyukai untuk tidak menerima dividen (karena harus membayar
pajak) dan memilih menikmati capital gains. Kalau sebagian besar
pemegang saham merupakan pemodal yang mempunyai tax bracket
tinggi, pembagian dividen tidak akan terlalu besar.
Berdasarkan teori dividend signaling yang dikembangkan oleh Bhattacharya

(1979), John dan Williams (1985), dan Miller dan Rock (1985). Pembagian
deviden mempunyai tujuan untuk memberikan sinyal kepada investor.
Berdasarkan teori ini, manajer atau corporate insider mempunyai informasi
mengenai masa depan perusahaan. Mereka lebih mengetahui prospek perusahaan

22

dibandingkan dengan investor dan mereka memilih deviden sebagai sinyal dari
private information. Investor mungkin dapat memperoleh sebagian informasi
dengan mudah seperti informasi laporan keuangan yang telah diaudit. Namun
informasi lain yang penting bagi perusahaan dan bersifat privat tidak dapat
diperoleh investor dan informasi tersebut juga sulit untuk dikomunikasikan
kepada investor. Keadaan tersebut menyebabkan asimetrik informasi yang
berdampak terhadap nilai pasar saham. Jika terdapat informasi yang
menguntungkan bagi perusahaan, pasar akan menilai saham perusahaan
undervalue sehingga penjualan saham akan meningkat dan harga saham akan
naik.
3. Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian terdahulu dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
N
o

Peneliti

Ancella (2013)

MIRANTI
(2013)

Paskah Ika
Nugroho
(2012)

Peni Sawitri
(2009)

Heles Puspita
(2009)

Judul

Variabel

Hasil Penelitian

Pengaruh Dividen
terhadap Potensi
Pertumbuhan Laba
Perusahaan

Dividen,
pertumbuhan
Laba

Dividen memberikan pengaruh yang positif


dan signifikan terhadap pertumbuhan laba
di masa yang akan datang

Dividen,
pertumbuhan
Laba

Dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa


dividen memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan laba

Dividen dan
Pertumbuhan
Laba
Dividen dan
pertumbuhan
laba

Hasil penelitian menunjukkan Dividen


mempunyai pengaruh yang negatif
terhadap pertumbuhan laba..
Hasil
penelitian
bahwa
dividen
berpengaruh
signifikan
terhadap
pertumbuhan laba

Dividend an
pertumbuhan
laba

Hasil penelitian menunjukkan bahwa


dividen berpengaruh negative terhada
pertumbuhah laba

Pengaruh Dividen
terhadap Potensi
Pertumbuhan Laba
Perusahaan Keluarga
Pengaruh Dividen
Perusahaan Terhadap
Pertumbuhan Laba
Dampak Dividen
Terhadap Pertumbuhan
Laba
Pengaruh Kebijakan
Dividen Terhadap
Pertumbuhan
Perusahaan

23

B. Kerangka Konseptual
Pertumbuhan adalah unsur yang esensial bagi keberhasilan dan
kehidupan

banyak

perusahaan.

Tanpa

pertumbuhan,

perusahaan

sulit

membangkitkan dedikasi (pengabdian) terhadap pencapaian tujuannya dan


menarik para manajer yang cakap. Pertumbuhan dapat bersifat internal atau
eksternal. Pertumbuhan Laba merupakan komponen untuk menilai prospek
perusahaan pada masa yang akan datang dan dalam manajemen keuangan diukur
berdasarkan perbandingan antara laba periode sekarang dengan laba periode
sebelumnya.
Menurut Swastha dan Irawan, (2000) Pertumbuhan Laba itu dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti : Rasio keuangan, rasio teknikal, kondisi keuangan
perusahaan dan kebijakan pemerintah
Dividen yang bisa diperoleh oleh para investor ada dua jenis, yaitu dividen
kas dan non kas. Dividen kas (cash dividend) adalah dividen yang dibayarkan
perusahaan pada investor dalam bentuk uang tunai. Sedangkan dividen non kas
(non cash dividend) adalah dividen yang dibayarkan kepada investor dalam
bentuk saham dengan proporsi tertentu, misalnya dividen saham dan dividen
aktiva. Pada kenyataannya para investor lebih tertarik pada pembayaran dividen
dalam bentuk uang tunai, sebab dapat meminimalisir ketidakpastian atas
investasinya pada suatu perusahaan
Menurut Smith and Skousen (2000 : 132) Peningkatan pembayaran
dividen hanya dimungkinkan apabila laba yang diperoleh perusahaan juga
meningkat. Kalau perusahaan mampu meningkatkan besarnya dividen yang

24

dibagikan karena peningkatan laba maka pertumbuhan laba akan mengalami


penurunan.
Dividen

Pertumbuhan laba

Gambar II.1
Kerangka Konseptual

C. Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Ada
pengaruh dividen terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan manufaktur

25

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian kausal. Desain penelitian
kausal merupakan desain penelitian yang bertujuan menganalisis hubungan sebab
akibat antara satu variabel dengan variabel lainnya.

Penelitian ini menguji

pengaruh dividen terhadap pertumbuhan laba.

B. Definisi Operasional
Variabel penelitian pada dasarnya adalah sesuatu hal yang berbentuk apa
saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi
tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Dividen (X)
Dividen adalah pembagian laba perusahaan kepada para pemegang
saham yang besarnya sebanding dengan jumlah lembar saham yang

26

dimiliki. Dalam penelitian ini dividen diperoleh dari laporan keuangan


perusahaan dari tahun 2010-2014
2. Pertumbuhan Laba (Y)
Pertumbuhan laba adalah perubahan laba perusahaan. Pertumbuhan
atas laba merupakan indicator penting dari penerimaan pasar dari
produk dan/atau jasa perusahaan tersebut, dimana laba yang dihasilkan
dari penjualan akan dapat digunakan untuk mengukur tingkat
pertumbuhan laba dari tahun 2010-2014

Keterangan :
Y it

= Pertumbuhan laba

Y it

= laba periode ini

Y itn

= laba periode sebelumnya

C. Tempat dan Waktu Penelitian


Adapun tempat dan waktu penelitian sebagai berikut :
Tempat : Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI
Waktu : Penelitian ini dimulai dari bulan Mei 2015 hingga Agustus 2015
Tabel III.1
Waktu Penelitian
Bulan Pelaksanaan 2015
Jadwal kegiatan

Mei

Jun

Jul

Agt

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1.Pengajuan judul
2.Pembuatan Proposal
3. Bimbingan Proposal
4. Seminar Proposal

27

5. Pengumpulan Data
6. Bimbingan Skripsi
7. Sidang Meja Hijau

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek / subjek, yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari untuk kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiono, 2004 : 72). Populasi
dalam penelitian ini adalah 141 perusahaan manufaktur yang terdafatar di Bursa
Efek Indonesia periode 2010-2014. Berikut adalah Populasi pada perusahaan
manufaktur :
Tabel III.2
Populasi Penelitian Perusahaan Manufaktur
1 Holcim Indonesia Tbk
2 Indocement Tunggal Prakasa
3 Semen Gresik (Persero) Tbk
4 Arwana Citra Mulia Tbk
5 Ashahimas Flat Glass Tbk
6 Inti Keramik Alamasri Industri Tbk
7 Keramik Indonesia Asosiasi Tbk
8 Astra Agro LestariTbk
9 Surya Toto Indonesia Tbk
10 Alumindo Light Metal Industri Tbk
11 Beton Jaya Manunggal Tbk
12 Citra Turbindo Tbk
13 Indah Aluminium Industri Tbk
14 Itamaraya Gold Industry Tbk
15 Jaya Pari Steel Tbk

28

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55

Lion Metal work Tbk


Lion Mesh Prima Tbk
Pelangi Indah Canindo Tbk
Tembaga Mulia Semanan Tbk
Gunawan Danjaya Steel Tbk
Jakarta Kyoei Steel Work Ltd Tbk
Flat Timah Nusantara Tbk
Budi Acid Jaya Tbk
colorpark Indonesia Tbk
Duta Pertiwi Nusantara Tbk
Ekadarma International Tbk
Eterindo Wahanatama Tbk
Intan Wijaya International Tbk
Resource Alam Indonesia Tbk
Indo Acidatama Tbk
Sorini Agro Asia Corporindo Tbk
Unggul Indah cahaya Tbk
Try Polyta Indonesia Tbk
Barito Pacific Tbk
Aneka Kemasindo Utama
Argha Karya Prima Ind Tbk
Asia Plast Industri Tbk
Berlina Tbk
Dynaplast Tbk
Titan Kimia Nusantara Tbk
Kageo Igar Jaya Tbk
Leyand International Tbk
Siwani Makmur Tbk
Trias Sentosa Tbk
Tunas Baru Lampung Tbk
Tunas Alfin Tbk ( share B)
Sekawan Intipratama Tbk
Yanaprima Hastapersada Tbk
Chaeron Pokphan Indonesia Tbk
Japfa Comfeed Indonesia Tbk
Malindo Feedmill Tbk
Sierad Produce Tbk
Barito Fasifik Tbk
Daya Sakti Unggul Corporation Tbk
Sumalindo Lestary Jaya Tbk

29

56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95

Surya Dumai Industries


Tirta Mahakam Resource Tbk
Fajar Surya Wisesa Tbk
Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk
Tjiwi Kimia Tbk
Suparma Tbk
Surabaya Agung Industry Pulp Tbk
Toba Pulp Lestary Tbk
Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk
Astra International Tbk
Astra Otoparts Tbk
Indo Kordsa Tbk
Gajah Tunggla Tbk
Goodyear Indonesia Tbk
Indomobil Sukses International Tbk
Indospring Tbk
Multi Prima Sejahtera Tbk
Multi starada Arah Sarana Tbk
Nypress Tbk
Prima Aloy Steel Universal Tbk
Albond Makmur Usaha Tbk
Selamat Sempurna Tbk
APAC Citra Centerex Tbk
Argo Pantes Tbk
Centex Tbk
Centex Tbk (Seri B)
Delta Dunia Petroindo Tbk
Eratex Djaja Tbk
Ever Shine Textile Industri Tbk
Hanson International Tbk
Hanson Internatinal Tbk (seri B)
Indorama Syntheties Tbk
karwell Indonesia Tbk
Pan Brothers Tbk
panasia Filament Inti Tbk
Panasia Indosyntex Tbk
Polychem Indonesia Tbk
Poly Sindo Eka Perkasa
Ricky Putra Globalindo Tbk
Roda Vivatex Tbk

30

96
97
98
99
10
0
10
1
10
2
10
3
10
4
10
5
10
6
10
7
10
8
10
9
11
0
111
11
2
11
3
11
4
11
5
11
6
11
7
11
8
11
9
12
0

Sunson Textile Manufaktur Tbk


Texmaco jaya Tbk
Tijin Indonesia Fiber Tbk
Unitex Tbk
Akr. corporindo. Tbk
Asia Pasifik Fiber Tbk
Primaindo Asia Infrastruktur Tbk
Sepatu Bata Tbk
GTT Kabel Indonesia Tbk
Jembo cable company Tbk
Kabelindo Murni Tbk
Sumi Indo kabel tbk
Voksel Elektric Tbk
Sat Nusapersada Tbk
Ades Water Indonesia Tbk
Cahaya Kalbar Tbk
Davomas Abadi Tbk
Delta Jakarta Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
Mayora Indah Tbk
Multi Bintang Indonesia Tbk
Lautan Luas Tbk
Sekar Bumi Tbk
Sekar laut Tbk
Siantar Top Tbk

31

12
1
12
2
12
3
12
4
12
5
12
6
12
7
12
8
12
9
13
0
13
1
13
2
13
3
13
4
13
5
13
6
13
7
13
8
13
9
14
0
14
1

Suba Indah Tbk


Tiga Pilar Sejahtera food Tbk
Ultra jaya Milk Ind Tbk
Gudang Garam Tbk
HM Sampoerna Tbk
Bentoel International Tbk
Ace Hardware Indonesia Tbk
Indofarma Tbk
Kalbe farma Tbk
Kimia farma Tbk
Merk Tbk
Pyridam Farma Tbk
tempo Scan Pasifik Tbk
Mustika Ratu Tbk
Unilever Indonesia Tbk
Kedaung Indah scan Tbk
Chitose Internasional Tbk
Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk
Impack Pratama Industri Tbk
Wijaya Karya Beton Tbk
Langgeng Makmur Industry Tbk

2. Sampel penelitian

32

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karekteristik yang dimilkki oleh
populasi tersebut. Jadi sampel merupakan sebagian dari populasi untuk mewakili
karakteristik populasi yang diambeil untuk keperluan penelitian. Metode
pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik purposive sampling, yaitu tehnik
pengambilan sampel berdasarkan suatu kriteria dengan pertimbangan judgement
sampling. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari Bursa Efek Indonesia yaitu
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Perusahaan tersebut memiliki data yang akurat lengkap, dan telah
menerbitkan laporan keuangan selama 4 tahun berturut-turut (20112014).
2. Perusahaan manufaktur yang memperoleh laba secara konsisten dari
tahun 2011-2014.
3. Perusahaan yang membagikan dividen dari tahun 2011-2014
Dari hasil kriteria penarikan sampel diatas maka Sampel penelitian adalah
21 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI
Tabel III-2.
Data Sampel Penelitian
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Perusahaan
Holcim Indonesia Tbk
Indocement Tunggal Prakasa
Semen Gresik (Persero) Tbk
Arwana Citra Mulia Tbk
Ashahimas Flat Glass Tbk
Inti Keramik Alamasri Industri Tbk
Keramik Indonesia Asosiasi Tbk
Astra Agro LestariTbk
Surya Toto Indonesia Tbk
Alumindo Light Metal Industri Tbk

Kriteria
2
3
x
x
x

x
x
x

x
x

33

11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

Beton Jaya Manunggal Tbk


Citra Turbindo Tbk
Indah Aluminium Industri Tbk
Itamaraya Gold Industry Tbk
Jaya Pari Steel Tbk
Lion Metal work Tbk
Lion Mesh Prima Tbk
Pelangi Indah Canindo Tbk
Tembaga Mulia Semanan Tbk
Gunawan Danjaya Steel Tbk
Jakarta Kyoei Steel Work Ltd Tbk
Flat Timah Nusantara Tbk
Budi Acid Jaya Tbk
colorpark Indonesia Tbk
Duta Pertiwi Nusantara Tbk
Ekadarma International Tbk
Eterindo Wahanatama Tbk
Intan Wijaya International Tbk
Resource Alam Indonesia Tbk
Indo Acidatama Tbk
Sorini Agro Asia Corporindo Tbk
Unggul Indah cahaya Tbk
Try Polyta Indonesia Tbk
Barito Pacific Tbk
Aneka Kemasindo Utama
Argha Karya Prima Ind Tbk
Asia Plast Industri Tbk
Berlina Tbk
Dynaplast Tbk
Titan Kimia Nusantara Tbk
Kageo Igar Jaya Tbk
Leyand International Tbk
Siwani Makmur Tbk
Trias Sentosa Tbk
Tunas Baru Lampung Tbk
Tunas Alfin Tbk ( share B)
Sekawan Intipratama Tbk
Yanaprima Hastapersada Tbk
Chaeron Pokphan Indonesia Tbk
Japfa Comfeed Indonesia Tbk

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x
x

x
x
x
x
x

34

51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90

Malindo Feedmill Tbk


Sierad Produce Tbk
Barito Fasifik Tbk
Daya Sakti Unggul Corporation Tbk
Sumalindo Lestary Jaya Tbk
Surya Dumai Industries
Tirta Mahakam Resource Tbk
Fajar Surya Wisesa Tbk
Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk
Tjiwi Kimia Tbk
Suparma Tbk
Surabaya Agung Industry Pulp Tbk
Toba Pulp Lestary Tbk
Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk
Astra International Tbk
Astra Otoparts Tbk
Indo Kordsa Tbk
Gajah Tunggla Tbk
Goodyear Indonesia Tbk
Indomobil Sukses International Tbk
Indospring Tbk
Multi Prima Sejahtera Tbk
Multi starada Arah Sarana Tbk
Nypress Tbk
Prima Aloy Steel Universal Tbk
Albond Makmur Usaha Tbk
Selamat Sempurna Tbk
APAC Citra Centerex Tbk
Argo Pantes Tbk
Centex Tbk
United Tractors Tbk
Delta Dunia Petroindo Tbk
Astra Graphia Tbk
Ever Shine Textile Industri Tbk
Hanson International Tbk
Hanson Internatinal Tbk (seri B)
Indorama Syntheties Tbk
karwell Indonesia Tbk
Pan Brothers Tbk
panasia Filament Inti Tbk

x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x

x
x
x

x
x
x
x
x
x
x

x
x
x

x
x
x
x
x
x
x

35

91
92
93
94
95
96
97
98
99
10
0
10
1
10
2
10
3
10
4
10
5
10
6
10
7
10
8
10
9
11
0
111
11
2
11
3
11
4
11
5
11
6
11
7
11

Panasia Indosyntex Tbk


Polychem Indonesia Tbk
Poly Sindo Eka Perkasa
Ricky Putra Globalindo Tbk
Roda Vivatex Tbk
Sunson Textile Manufaktur Tbk
Tunas Ridean Tbk
Tijin Indonesia Fiber Tbk
Unitex Tbk

x
x
x
x
x
x

x
x

Akr. corporindo. Tbk


Darya Faria Laboratoria Tbk
Primaindo Asia Infrastruktur Tbk
Sepatu Bata Tbk
GTT Kabel Indonesia Tbk
Jembo cable company Tbk
Kabelindo Murni Tbk
Sumi Indo kabel tbk
Voksel Elektric Tbk
Sat Nusapersada Tbk
Ades Water Indonesia Tbk
Cahaya Kalbar Tbk
Davomas Abadi Tbk
Delta Jakarta Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
Mayora Indah Tbk
Multi Bintang Indonesia Tbk
Lautan Luas Tbk
Sekar Bumi Tbk

36

8
11
9
12
0
12
1
12
2
12
3
12
4
12
5
12
6
12
7
12
8
12
9
13
0
13
1
13
2
13
3
13
4
13
5
13
6
13
7
13
8
13
9
14
0
14

Sekar laut Tbk


Siantar Top Tbk
Suba Indah Tbk
Tiga Pilar Sejahtera food Tbk
Ultra jaya Milk Ind Tbk
Gudang Garam Tbk
HM Sampoerna Tbk
Bentoel International Tbk
Ace Hardware Indonesia Tbk
Indofarma Tbk
Kalbe farma Tbk
Kimia farma Tbk
Merk Tbk
Pyridam Farma Tbk
tempo Scan Pasifik Tbk
Mustika Ratu Tbk
Unilever Indonesia Tbk
Kedaung Indah scan Tbk
Chitose Internasional Tbk
Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk
Impack Pratama Industri Tbk
Wijaya Karya Beton Tbk
Langgeng Makmur Industry Tbk

37

1
Sumber : www.idx.co.id
E. Jenis Dan Sumber Data
Jenis Data
Dalam menyelesaikan karya ilmiah ini, jenis data yang penulis kumpulkan
untuk mendukung variabel yang diteliti adalah data dokumentasi yaitu
mempelajari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan objek penelitian yang
dapat unduh/download www.idx.co.id

Sumber Data
Adapun sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini berasal dari :
Data sekunder yang merupakan data yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan
baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain.

F. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan studi dokumentasi
yaitu dengan mempelajari, mengklasifikasikan, dan mengalisis data sekunder
berupa catatancatatan, laporan keuangan, maupun informasi lainnya yang terkait
dengan lingkup penelitian ini. Data penelitian mengennai dividen dan
Pertumbuhan Laba diperoleh dari data laporan keuangan perusahaan.

G. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan mengalisis data
sekunder berupa catatan catatan, laporan keuangan, maupun informasi lainnya

38

yang terkait dengan lingkup penelitian ini. Data penelitian mengenai ROA, GPM,
CR dan Pertumbuhan Laba.
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif merupakan analisis yang paling mendasar untuk
menggambarkan keadaan data secara umum. Statistik deskriptif ini meliputi
beberapa hal sub menu deskriptif statistik seperti frekuensi, deskriptif, eksplorasi
data, tabulasi silang dan analisis rasio yang menggunakan Minimum, Maksimum,
Mean, Median, Mode, Standard Deviasi.

2. Uji Normalitas Data


Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel
terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak.
Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati
normal. Metode yang dapat dipakai untuk normalitas antara lain:
Analisis grafik dan analisis statistik. Uji normalitas dalam penelitian ini
dilakukan dengan cara analisis grafik. Normalitas dapat dideteksi dengan melihat
penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat
histogram dari residualnya: Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan
mengikuti garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi
normal (menyerupai lonceng), regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika data
menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal
atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model
regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
3. Regresi Linier Sederhana

39

Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh hubungan antara variabelvariabel independen terhadap variabel dependen dengan menggunakan analisis
regresi linear berganda. Statistik untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
menggunakan metode regresi linier berganda dengan rumus:
Y= a + bx
Dalam hal ini,
Y

= Pertumbuhan Laba

= konstanta persamaan regresi

b,

= koefisien regresi

= dividen

4. Pengujian Hipotesis
a. Uji t
Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel
independen yang terdiri atas dividen, terhadap Pertumbuhan Laba. Adapun
langkah-langkah yang harus dilakukan dalam uji ini adalah sebagai berikut:
1). Merumuskan hipotesis
H0 : tidak ada pengaruh dividen terhadap Pertumbuhan.
H1 : ada pengaruh dividen terhadap Pertumbuhan Laba, terhadap
Pertumbuhan Laba.
Jika tsig > 0,05 berarti Ho diterima dan H1 Ditolak
Jika tsig 0,05 berarti Ho ditolak. dan H1 Diterima
rxy n 2
1 r x y
t=

4. Uji Determinasi

40

Untuk mengetahui seberapa besar persentase hubungan antara variabel


bebas dengan variabel terikat, digunakan rumus uji Determinasi
D = R2 x 100 %.
Dimana:
D

= koefisien determinasi

R2

= hasil kuadrat korelasi berganda

DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robert.2007.Buku Pintar Pasar Modal Indonesia.Jakarta:Media Staff
Indonesia.
Amstrong, Gary & Philip, Kotler. 2002. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jilid
1, Alih Bahasa Alexander Sindoro dan Benyamin Molan. Jakarta:
Penerbit Prenhalindo.
Bambang Riyanto. 2009. Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan (edisi
keempat). Yogyakarta : BPFE UGM.
Basu Swastha dan Irawan. 2000. Manajemen Keuangan Modern. (Edisi kedua).
cetakan ke sebelas. Yogyakarta : Liberty Offset.
Bodie, Kane, Marcus. 2002. Investment. Buku Satu. Jakarta: Salemba Empat
Brealey, Richard A, Stewart C. Myers, dan Alan J. Marcus. 2007. Dasar-dasar
Manajemen Keuangan Perusahaan. Jilid 2. Edisi Kelima. Jakarta:
Erlangga.
Devi. 2003. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba. Jurnal Bisnis
dan Akuntansi
Fabozzi, Frank J. (2000). Manajemen Investasi. Jakarta: Salemba Empat

41

Haryanto dan Toto Sugiharto, 2003. Pengaruh Rasio Profitabilitas Terhadap


pertumbuhan laba Pada Perusahaan Industri Minuman Di Bursa Efek
Jakarta, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 8 Nomor 3, hal 142
Husein Umar, 2004, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta,
Raja Grafindo Persada.
Indrawati Titik dan Suhendro (2006) Determinasi Capital Structure pada
Perusahaan Manufaktur di Bursa EfekJakarta Periode 2000-2004,
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Vol. 3, No. 1, Hlm. 77-105
Joni dan Lina. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba.
Jurnal Bisnis dan Akuntansi
Hatta, Atika J, (2002), `Faktor-faktor yang Mempengaruhi pertumbuhan laba:
Investifasi Pengaruh Teori StakeholPertumbuhan Laba. JAAI. Vol.6.
No.2. Desember. 2002
Imam Ghozali, 2002, Metode Penelitian Bisnis. Edisi Enam, Bandung, CV.
Alfabeta.
Ita Lopolusi. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba. JAAI
Volume 6 No. 2, Desember 2002
James, C.Horne 2004. Akuntansi Lanjutan 2. Penerbit PT. Raja Grafindo. Jakarta
Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan, Edisi pertama, PT RajaGrafindo
Persada, Jakarta
Munawir, S. 2007. Analisa Laporan Keuangan, Yogyakarta : Liberty
Ratnawati. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba. JAAI
Volume 6 No. 2, Desember 2002
Sugiyono, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis,Cetakan Kesembilan, CV Alfabeta,
Bandung
Sri Hermaningsih. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan laba.
JAAI Volume 6 No. 2,
Van, Horne 2004. Accounting Economics. Translation Penerbit PT. Gramedia
Pustaka Umum Jakarta
Warsono.2003.Manajemen Keuangan Perusahaan, Jilid 1,Edisi ketiga,Cetakan
Pertama.BAPFE-Yogyakarta
Wild, John 2005. General Accounting. Translation. Penerbit Penada Media
Group. Jakarta

42

Yoko, 2000. Analisis Laporan Keuangan, Edisi pertama, PT Raja Grafindo


Persada, Jakarta