Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dahulu sangat jarang seorang anak laki-laki dibawa ke dokter hanya
karena ukuran penis yang kecil, saat ini ukuran penis yang kecil menjadi masalah
bagi orang tua si anak. Biasanya ukuran penis dihubungkan dengan kegemukan
dan dianggap ukuran penis akan normal kembali setelah berat badan turun.
Diperlukan cara mengukur panjang penis yang seragam guna mendapat nilai yang
akurat dan perlu adanya nilai standar sesuai umurnya. Selain ukuran, harus
diperhatikan juga keadaan lainnya seperti diameter, konsistensi maupun fungsi
penis itu Sendiri.
Definisi mikropenis adalah organ penis yang ukuran panjangnya kurang
dari rerata 2.5 SD. untuk usia dan perkembangan pubertasnya, tanpa disertai
kelainan struktur penis. Peran orang tua sangat diperlukan dalam tata laksana
secara keseluruhan, karena akan diperlukan biaya yang cukup mahal serta
kesiapan si orang tua untuk membantu si anak menghadapi masa depannya,
termasuk problem psikologis si anak.
Istilah mikropenis tidak digunakan bila terdapat kelainan morfologi penis
lainnya seperti hipospadia, bentuk genital ambigus termasuk male
pseudohermaphroditism. Mikropenis dapat disebabkan oleh hipogonadotropik
hipogonadism, baik isolated maupun kombinasi dengan defisiensi pituitari
lainnya, terutama defisiensi hormon pertumbuhan. Penyebab lainnya adalah
hipogonadism primer atau bentuk incomplete androgen insensitivity syndrome.
Sebagian besar mikropenis adalah idiopatik. Panjang penis saat dewasa dapat
diperkiraan dengan melihat panjang penis saat lahir. Penis yang sangat kecil sejak
permulaan (< 3 SD ), akan menimbulkan masalah seumur hidup.
Di negara maju telah banyak organisasi yang membantu orang tua dan
pasien mikropenis mempersiapkan mental dan emosional orang tua, serta
memberikan gambaran tentang mikropenis, kemudian merujuk kasus tersebut ke

ahli endokrinologi dan ahli urologi anak. Dalam tulisan ini dibahas perkembangan
penis, tandar ukuran panjang penis, etiologi, diagnosis serta tata laksana
mikropenis.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah berdasarkan masalah yang telah diuraikan di atas, maka
karya tulis ilmiah ini dirumuskan berdasarkan mikropenis dan dampak negatif
fungsi seksual yang terjadi dikehidupan sehari hari.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan tinjauan pustaka ini diharapkan mahasiswa dapat
mengerti, memahami dan menjelaskan mengenai hubungan mikropenis
dan dampak negatif fungsi seksual.
1.3.2

Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami anatomi dan histology
penis pada pria
2. Mahasiswa mampu memahami fisiologi perkembangan penis pada
3.
4.
5.
6.

pria.
Mahasiswa mampu mengetahui definisi mikropenis
Mahasiswa mampu memahami cara mendiagnosa mikropenis
Mahasiswa mampu memahami terapi mikropenis
Mahasiswa mampu memahami dampak negatif fungsi seksual

1.4 Manfaat Penelitian


Karya tulis ilmiah ini semoga bisa memberikan manfaat bagi semua pihak.
Meningkatkan pemahaman dan wawasan mengenai mikropenis dan dampak
negatif fungsi seksual
BAB II
Tinjauan Pustaka

2.1 Anatomi Penis

Gambar 1. Anatomi Sistem Reproduksi Pria


Penis adalah alat kelamin laki-laki dan berisi saluran keluar untuk bersama
urin dan cairan mani. Npenis terdiri dari tiga bdan jaringan erektil kavernosa
slindris yang diliputi oleh capsula fibrosa, yakni tunika albuginea. Di sebelah luar
tunika albuginea terdapat fascia penis profunda yang membentuk pembungkus
bersama untuk corpus spongiosum penis dan corpus cavernosum penis. Di dalam
corpus cavernosum penis melintas pars spongiosa urethra. Kedua korpus
cavernosum penis saling bersentuhan dibidang median, kecuali di sebelah dorsal
karena bercerai untuk membentuk crus masing-masing melekat ramus bersama os
pubis dan os ischii di sebelah kanan dan di sebelah kiri.
Radix penis dibentuk oleh tiga massa jaringan erektil yag dinamakan bulbus
penis, crus penis dextra dan crus penis sinistra. Corpus penis adalah bagian bebas
yang tergantung sewaktu penis berada dalam keadaan lemas. Kecuali serabut
musculus bulbus spongiosum yang menutupi bulbus penis, dan serabut musculus
ischiocavernosus pada kedua crus penis, penis tidak memiliki otot. Korpus
kavernosa penis dan uretra terdiri atas jaringan erektil ruang- ruang venosa yang

dilapisi oleh sel- sel endotel utuh dan dipisahkan oleh trabekula yang terdiri atas
serat serta jaringan ikat dan sel-sel otot polos.

Gambar 2. Anatomi Penis


Penis terdiri dari 3 bagian yaitu 2 corpus cavernosum uretra, dan pada ujung
penis membentuk preputium. Corpus penis terdiri dari 2 corpus cavernosus
lateral, 1 corpus spongiosum medial dan mengelilingi uretra. Korpus kavernosum
uretra melebar pada ujungnya, membentuk glans penis. Korpus kavernosa
dibungkus oleh lapisan jaringan ikat padat kuat, yaitu tunika albuginea. Di dalam
setiap korpus yang terbungkus oleh tunika albuginea terdapat jaringan erektil
yang berupa jaringan kavernus (berongga) seperti spon. Jaringan ini terdiri atas
sinusoid atau rongga lakuna yang dilapisi oleh endotelium dan otot polos
kavernosus. Rongga lakuna ini dapat menampung darah yang cukup banyak
sehingga menyebabkan ketegangan batang penis
2.1.1 Perdarahan Arteri
Penis memperoleh darah arterial dari cabang arteria pudenda interna.
a. Arteria dorsalis penis melintas dalam alur antara kedua corpus
cavernosum penis, satu pada tiap sisi vena dorsalis profunda penis.
b. Arteria profunda penis menembus crus penis dan melintas dalam kedua
corpus cavernosum penis
c. Arteria bulbi penis memasuki bulbus penis dari kanan dan kiri.
4

2.1.2 Perdarahan Vena


Darah dari cavernae corporum cavernosorum ditampung oleh sebuah
pleksus vena yang bergabung dengan vena dorsalis penis profunda pada
fascia penis profunda. Vena dorsalis profunda penis umumnya melintas di
bagian dalam ligamentum arcuatum pubis dan memasuki plexus venosus
prostaticus. Darah dari fascia penis superficialis ditampung oleh vena
dorsalis penis superficialis dan sekanjutnya disalurkan ke vena pudenda
externa. Pembuluh limfe dari hamper seluruh penis ditampung oleh nodi
lymphoidei inguinalis superficialis.
2.2 Histologi Penis

Gambar 3. Histologi Penis


Penis terdiri atas 3 massa silindris dari jaringan erektil, uretra dandiluarnya
diliputi dengankulit (terdiri dari epidermis dan dermis). Jaringan erektil meliputi
sepasang korpuskavernosum dan korpus spongiosum yang di dalamnya terdapat
uretra. Di bagian luar korpusdikelilingi oleh jaringan ikat padat yaitu tunika
albuginea. Di luar tunika albuginea terdapat jaringan ikat longgar dan Di dalam

korpus terdapat banyak trabekula (gabungan jaringanikat kolagen, elastin dan otot
polos). Di tengah korpus kavernosum terdapat arteri.
Jaringan erektil penis merupakan rongga vaskular iregular yang sangat
banyak dengan sistem menyerupai spons yang mendapatkan pasokan darah dari
arteriole eferen dan kemduai dialirkan ke venule eferen
Masing-masing corpus cavernosum di bungkus oleh tunica albuginea suatu
membrana fibrosa yang tebal. Vena yang mengalirkan darah dari corpus
cavernosum berada sedikit dibawah tunica albuginea. Bagian dalam corpus
cavernosum mengandung banyak trabekulae. Trabekula tersusun atas serat elastis
dan otot polos yang terbenam dalam gelondong kolagen yang tebal dan terbungus
oleh sel-sel endotel.
2.3 Fisiologi Perkembangan Penis
Perkembangan penis secara umum dibagi dalam dua tahap, yaitu intra dan
ekstra uterin. Sampai dengan minggu kedelapan di dalam kehidupan fetus,
genitalia eksterna dari kedua jenis kelamin masih sama. Diferensiasi ke arah
kelamin laki-laki tergantung pada pengaruh testosteron dan terutama
dihidrotestosteron. Pada fetus laki-laki usia 8-12 minggu, testosteron disekresi
oleh sel Leydig secara otonom, kemudian dipengaruhi oleh hCG plasenta, dan
oleh rangsangan LH pituitari fetus pada trimester ke dua. Pada tahapan ini penis
sudah lengkap terbentuk. Pituitari fetus mengambil alih fungsi kontrol dengan
melepaskan LH dan FSH.
Pada saat bayi lahir, penis telah berkembang baik. Pada pertubuhan
normal, penis mengalami perkembangan pada saat pubertas atau akil baligh.
Hormon testosterone berperan dalam perkembangan ini. Proses inilah yang akan
menentukan ukuran penis. Berdasarkan penelitian terhadap laki-laki berusia 17-18
tahun tidak ditemukan perbedaan rata-rata panjang penis antara usia 17 dan 19
tahun, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan penis berhenti
pada usia 17 tahun bahkan lebih awal.

2.4 Standar Ukuran Panjang Penis


Tabel 1. Rata-rata ukuran panjang penis dalam keadaan stretched

Pengukuran penis sebaiknya dalam keadaan diregangkan (stretched).


Pengukuran dalam keadaan lemas (flaccid) memberikan hasil yang sangat
bervariasi. Batubara J. R. melaporkan bahwa ukuran penis balita di Jakarta tidak
berbeda dengan balita ras Kaukasia, namun rerata volume testis ras Asia sedikit
lebih kecil dibandingkan ras Kaukasia.

gambar.4 distribusi ukuran penis sesuai umur


2.5 Mikropenis
2.5.1 Definisi Mikropenis
Definisi mikropenis adalah organ penis yang ukuran panjangnya
kurang dari rata-rata 2.5 SD untuk usia dan perkembangan pubertasnya,
tanpa disertai kelainan struktur penis. secara klasik, Biasanya bentuk

anatomis serta perbandingan batang penis dengan diameternya dalam batas


normal. Pengukuran penis sebaiknya dilakukan saat penis dalam keadaan
teregang dan harus pula dibedakan dengan keadaan lain yang dapat
menyebabkan penis terlihat lebih kecil, seperti pada buried penis ataupun
pada penis yang terselubungi oleh perlekatan kulit yang abnormal (webbed
penis).

Gambar 5. mikropenis
Dahulu sangat jarang seorang anak laki-laki dibawa ke dokter hanya
karena ukuran penis yang kecil, saat ini ukuran penis yang kecil menjadi
masalah bagi orang tua si anak. Biasanya ukuran penis dihubungkan dengan
kegemukan dan dianggap ukuran penis akan normal kembali setelah berat
badan turun 2-4. Diperlukan cara mengukur panjang penis yang seragam
guna mendapat nilai yang akurat dan perlu adanya nilai standar sesuai
umurnya. Selain ukuran, harus diperhatikan juga keadaan lainnya seperti
diameter, konsistensi maupun fungsi penis itu sendiri.
Peran orang tua sangat diperlukan dalam tata laksana secara
keseluruhan, karena akan diperlukan. Proses stimulasi berkelanjutan ini
bertanggung jawab atas perkembangan penis. Mikropenis terjadi akibat
gangguan atau defek hormonal pada trimester ke dua. Jika defek terjadi
pada kehamilan di bawah 14 minggu, yang mungkin terjadi adalah
pembentukan penis yang tidak sempurna dan terjadi ambigus.

Sekresi testosteron juga berpengaruh pada perkembangan penis pada


masa ekstra uterin. Pada masa neonatal kadar testosteron meningkat hingga
usia 2 sampai 3 bulan, kemudian turun perlahan dan berlanjut hingga
prapubertas. Pada masa ini terjadi penambahan panjang penis walaupun
sedikit.
Jaras hipotalamus-hipofisis-gonad (HHG) kembali aktif pada saat
awitan pubertas dan menyebabkan peningkatan kadar testosteron yang
merangsang pertambahan panjang penis. Pada masa akhir pubertas
pertumbuhan penis berhenti meskipun terjadi peningkatan testosteron,
mekanismenya belum banyak diketahui, namun androgen masih terus
berfungsi dan merangsang pertumbuhan prostat.
2.5.2 Etiologi Mikropenis
Keberhasilan tata laksana mikropenis tergantung pada Penyebab
yang heterogen, sehingga penyebabnya sering tidak diketahui. Secara
umum, etiologi mikropenis yaitu :
1) Defisiensi sekresi testosteron
a. Hipogonadotropik hipogonadisme.
Keadaan ini disebut juga gangguan gonad sekunder, sehingga
diperlukan terapi pengganti (replacement therapy) yang menetap
(irreversible). Contoh gangguan gonad sekunder adalah sindrom
Kallman, defisiensi hormon pituitari lain, sindrom Prader Willi,
sindrom Laurence Moon, sindrom Bardet Biedl, dan sindrom
Rud.
b. Hipergonadotropik hipogonadisme.
Hipergonadotropik hipogonadisme disebut juga dengan gangguan
gonad primer. Pada gangguan gonad primer terjadi produksi
androgen yang tidak adekuat karena defisiensi salah satu enzim
sintesis testosteron. Ditandai dengan peningkatan konsentrasi
gonadotropin yang disebabkan tidak adanya umpan balik negatif
dari steroid seks gonad.Penyebab terbanyak biasanya

dihubungkan dengan kelainan kariotipe dan somatik, seperti


anorchia, sindrom Klinefelter dan Poly X, disgenesis gonad,
defek hormon luteinezing, defek genetik pada steroidogenesis
testosteron, sindrom Noonan, Trisomi 21, sindrom Robinow,
sindrom Bardet Biedl, atau sindrom Laurence Moon.
2) Defek pada aksis testosteron.
Kelainan yang termasuk defek aksis testeron adalah defisiensi growth
hormone/insulin like growth factor I, defek reseptor androgen,
defisiensi 5a-reduktase, sindrom fetal hidantoin.
a. Anomali pertumbuhan
b. Idiopatik
Mikropenis idiopatik diagnosis ditegakkan jika fungsi jaras
hipotalamus gonad normal, penambahan panjang penis yang
mendekati normal sebagai respons terhadap pemberian
testosterone eksogen, dan adanya maskulinisasi normal pada masa
pubertas.
2.5.3 Diagnosa Mikropenis
Pengukuran penis dapat dilakukan dalam keadaan lemas (flaccid) dan
diregang (stretched). Wessels, dkk mendapatkan bahwa hasil pengukuran
stretched lebih mendekati ukuran sebenarnya sewaktu ereksi. Inspeksi
keadaan genital secara umum harus dilakukan sebelum pengukuran dimulai.
Biasakan meminta izin si anak jika hendak melakukan pemeriksaan.
Pengukuran sebaiknya menggunakan rol yang tipis dan keras, atau bisa juga
menggunakan spatula kayu dan pinsil untuk menandai batas pengukuran.
Pengukuran harus dilakukan dengan teliti, karena merupakan hal yang
sangat esensial dalam tatalaksana mikropenis. Penderita dibaringkan dalam
keadaan terlentang. Glans penis dipegang dengan jari telunjuk dan ibu jari,
ditarik secara vertikal sejauh mungkin. Kemudian diukur panjang penis
mulai dari basis penis (pubis) hingga glans penis, prepusium tidak ikut
diukur. Pengukuran dilakukan tiga kali dan diambil reratanya. Pada anak

10

gemuk, rol atau spatula yang dipakai harus ditekan sampai ke tulang pubis
untuk menekan lemak pubis. Hasil pengukuran yang didapat dibandingkan
dengan nilai standar.
2.5.4 Therapi Mikropenis
Pasien mikropenis harus diperiksa secara cermat menyangkut
masalah endokrinologi secara umum dan dievaluasi apakah terdapat
kelainan pada susunan saraf pusat. Ritzen dan Hintz membuat algoritme
tatalaksana mikropenis berdasarkan kelompok umur, untuk bayi baru lahir
dan anak di atas 1 tahun hingga pubertas. Dilakukan pemeriksaan terhadap
faktor androgen dan di luar androgen. Tata laksana mikropenis dibagi dalam
terapi hormonal dan pembedahan.
1) Terapi hormonal
Testosterone mengatur perkembangan dan pemeliharaan organ
seks pria dan karakteristik sekunder seks pria. Testosteron juga
menghasilkan efek sistem anabolik untuk meningkatkan erythropoietin,
produksi protein, dan retensi kalsium. Tidak ada konsensus mengenai
dosis, cara pemberian, waktu pemberian, dan lama pengobatan androgen
pada pasien dengan mikropenis. Namun, beberapa penulis seperti Conte
dkk, Bin Abbas, dkk, dan Sutherland,dkk merekomendasikan pemberian
testosteron enanthate 25-50 mg intramuskular setiap bulan, selama 3
bulan. Diharapkan rerata penambahan panjang penis sekitar 2 cm.
Pada tahun 1999, Bin-Abbas et al menunjukan bahwa 1 atau 2 dari
3 injeksi testosterone (25-50 mg) di berikan dalam interval 4 minggu
pada masa infant atau masa kanak cukup meningkatkan ukuran penis
dalam mencapai ukuran sesuai usia. Regimen yang digunakan
testosterone cypionate atau enanthate (Andro-LA, Delatest, DepoTestosterone) dengan dosis :
Tabel 2. Dosis pemberian terapi testosteron

11

WAKTU

DOSIS/ADMI

DURASI

PEMBERIAN

NISTRASI

Bayi

25mg/IM

1x/bulan dalam 3-6bulan

Anak

50mg/IM

1x/bulan dalam 3-6bulan

Remaja laki-laki
dengan
hypogonadisme :

40-50 mg/m2/dosis IM

tiap bulan

Inisiasi pubertas

100 mg/m2/dosis

IM

tiap bulan

fase pertumbuhan

100 mg/m2/dosis

IM

tiap 2 minggu

akhir
pemeliharaan virilisasi
Jika terjadi kegagalan penambahan panjang penis, Tietjen dkk.
menganjurkan untuk mengulang terapi hormonal. Hal ini berdasarkan
penemuan Tietjen dkk bahwa protein reseptor androgen dan enzim 5areduktase secara signifikan melakukan down regulation pada penis
selama periode pematangan normal. Sejak diketahui bahwa reseptor
androgen dan enzim 5a-reduktase mempunyai hubungan integral
terhadap perkembangan penis, timbul hipotesis bahwa pemberian
androgen intermiten secara teratur selama masa bayi, kanak-kanak dan
remaja sebelum masa down regulation dapat menghasilkan pertumbuhan
penis yang optimal. Pendapat Tietjien dkk didukung oleh Hussman dan
Cain yang mendapatkan kenyataan bahwa protein reseptor androgen dan
enzim 5a-reduktase berkurang secara progresif pada jaringan korpus
penis selama pertumbuhan penis normal. McAninch dan Aaronson
menganjurkan pengobatan dimulai pada usia 1 tahun dan jika gagal
diulang kembali. Pengukuran panjang penis dilakukan 2 minggu setelah
suntikan terakhir. Testosteron dapat diberikan secara oral, topikal,
transdermal, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Efek samping pemberian
testosteron dapat dikurangi dengan cara pemberian yang benar dan dosis

12

sesuai yang dianjurkan berdasarkan pengalaman penelitian. Batubara


J.R.5 mendapatkan bahwa testosteron 25 mg diberikan 4 kali setiap 3
minggu secara intramuskular tidak mempercepat usia tulang pasien
mikropenis.
2) Terapi Bedah
Tindakan operasi untuk membesarkan penis memberikan hasil
yang bervariasi. Kesulitan operasi terutama karena terbatasnya
kemampuan untuk membentuk jaringan korpus penis, untuk fungsi
ereksi dipakai penis buatan. Sebenarnya operasi yang dilaporkan
berhasil dilakukan bukanlah pada kasus mikropenis yang sebenarnya.
Hal ini memang akibat kelemahan cara mendiagnosis mikropenis itu
sendiri. Ada beberapa keadaan yang membuat penis menjadi atau
kelihatan kecil, seperti inconspicuous penis (penis yang menghilang),
yang diakibatkan oleh berbagai kondisi seperti buried penis, trapped
penis, webbed penis, concealed penis, dan diminutive penis. Pada semua
keadaan ini sirkumsisi merupakan kontraindikasi, tetapi justru banyak
dilakukan oleh dokter termasuk ahli bedah. Mereka menganggap dengan
melakukan sirkumsisi maka penis akan menjadi normal atau paling tidak
membesar. Justru hal ini akan menyulitkan apabila akan dilakukan
operasi rekonstruksi di kemudian hari, karena prepusiumberguna untuk
merekonstruksi bagian-bagian penis itu sendiri. Waktu yang tepat untuk
melakukan operasi rekonstruksi masih belum jelas. Bergeson dkk.
melakukan operasi rekonstruksi pada 13 kasus, Shenoy dkk. melakukan
operasi pada 8 kasus buried penis dengan teknik sedot lemak
(liposuction).
Selain operasi rekonstruksi, pada mikropenis yang gagal dengan
terapi hormonal, dipertimbangkan operasi penggantian jenis kelamin.
Mengenai waktu untuk melakukan penggantian kelamin masih belum
ada kesepakatan, walaupun ada penulis menganjurkan operasi dilakukan
atas kemauan si anak. Aaronson menganjurkan operasi penggantian jenis

13

kelamin pada mikropenis di bawah ukuran panjang rerata-3SD.


Woodhouse membuktikan bahwa penis kecil dengan fungsi ereksi
alamiah menghasilkan fungsi seksual yang lebih baik dibanding penis
yang diperbesar dengan operasi. Reilly dan Woodhouse menyatakan
pada akhir penelitiannya, bahwa ukuran penis yang kecil tidak dapat
menghalangi seseorang hidup seperti pria normal lainnya.
3) Edukasi pasien
Menjelaskan pasien dengan gambaran yang jelas terhadap permasalahan
anak mereka, termasuk hasil yang diharapkan dalam pengobatan.
4) Konsultasi
Konsultasi dilakukan segera setalah mengetahu bayi memiliki
micropenis, konsultasikan pada endocrinologis pediatrik. Pada
beberapa kasus, keterlibatan urologist pediatrik juga membantu.
Dukungan psychological dan layanan sosial juga bermanfaat
5) Follow-up
Monitor bayi dengan micropenis dan masalah pertumbuhan dan
perkembangan berikutnya. Bila terdapat masalah muncul, evaluasi, dan
pengobatan secara tepat. Banyak anak dengan micropenis, terutama
mereka dengan defisiensi gonadotropin, tidak memiliki pubertas spontan
atau tidak sempurna. Pada kasus tersebut, testosterone digunakan untuk
menginisiasi pubertas, dengan dosis secara bertahap meningkat hingga
mencapai dosis pengganti dewasa (adult replacement dose) yang
menirukan pubertas alami.
Pada mereka dengan hypogonadotropic hypogonadism yang
menginginkan fertilitas, hCG dan rekombinan FSH dapat diberikan
untuk memicu sekresi testosterone dan spermatogenesis pada waktu
yang tepat oleh dokter spesialis dalam pengobotan reproduktif.

2.5.5 Prognosis mikropenis

14

Prognosis laki-laki dengan micropenis akibat defisiensi


gonadotropin atau testosterone biasanya baik. Individu ini
secara umum berespon baik terhadap terapi testosterone
dan

berfungsi

normal

sebagai

seorang

yang

dewasa.

Namun, walaupun ukuran penis berpotensi memiliki ukuran


yang mendekati normal dan sensitif, infertilitas biasanya
dapat diharapkan. Prognosis lebih dipertanyakan pada anak
dengan

insensitivitas

androgen,

terutama

dengan

ambiguitas genital yang jelas.

BAB III
PEMBAHASAN

15

Mikropenis adalah suatu penyakit yang menyebabkan organ penis pria


ukuran panjangnya kurang dari rata-rata 2.5 SD sesuai usia dan perkembangan
pubertasnya dan tanpa adanya kelainan struktur penis. Berdasarkan hasil beberapa
penelitian menunjukan bahwa perkembangan penis berhenti pada usia 17 tahun
bahkan lebih awal. Pengukuran panjang penis dapat dilakukan saat penis dalam
keadaan lemas dan diregang. Tapi, hasil pengukuran saat penis diregangkan lebih
mendekati ukuran sebenarnya sewaktu ereksi. Inspeksi keadaan genital secara
umum harus dilakukan sebelum pengukuran dimulai.
Jumlah kasus mikropenis tidak diketahui secara pasti, diduga tidak semua
pasien berobat. Dalam penanganan mikropenis, terapi hormonal dengan
testosterone merupakan pilihan utama. Terapi testosteron 25 mg intramuskular
setiap 3 minggu, 4 dosis, dapat langsung diberikan sebelum pemeriksaan kadar
testosteron darah. Jika tidak terjadi penambahan panjang penis, pemberian terapi
hormonal dapat diulangi satu siklus lagi. Terapi operatif dipertimbangkan pada
kasus yang gagal dengan terapi hormonal. Sebaiknya pasien mikropenis diberi
pengobatan dalam pengawasan ahli endokrinologi anak.
Hubungan antara mikropenis dengan fungsi negative sexual dapat
menimbulkan efek medis dan psikologis. Efek psikilogis yang dihasilkan
diantaranya menimbulkan reaksi penolakan berhubungan sexual. Dan efek medis
yang ditimbulkan adalah pengurangan hormone endokrin diantaranya
berkuranganya sifat kepriaan yang muncul pada orang yang mengalami
mikropenis ini.

BAB IV
KESIMPULAN

16

4.1 Kesimpulan
Mikropenis adalah organ penis yang ukuran panjangnya kurang dari ratarata 2.5 SD untuk usia dan perkembangan pubertasnya, tanpa disertai kelainan
struktur penis. Mikropenis terjadi akibat gangguan atau defek hormonal pada
trimester ke dua. Jika defek terjadi pada kehamilan di bawah 14 minggu, yang
mungkin terjadi adalah pembentukan penis yang tidak sempurna dan terjadi
ambigus. Sekresi testosteron juga berpengaruh pada perkembangan penis pada
masa ekstra uterin. Mikropenis disebabkan oleh defisiensi sekresi testosterone
diantaranya hipogonadotropik hipogonadisme dan hipergonadotropik
hipogonadisme, defek pada aksis testosterone, anomali pertumbuhan dan
Idiopatik. Terapi mikropenis ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu terapi
hormonal dengan pemberian injeksi testosterone dan terapi pembedahan.

4.2 Saran
Peran orang tua sangat diperlukan dalam tata laksana secara keseluruhan,
karena akan diperlukan biaya yang cukup mahal serta kesiapan si orang tua
untuk membantu si anak menghadapi masa depannya, termasuk problem
psikologis si anak. Proses stimulasi berkelanjutan ini bertanggung jawab atas
perkembangan penis.
Monitor bayi dengan micropenis dan masalah pertumbuhan dan
perkembangan berikutnya. Bila terdapat masalah muncul, evaluasi, dan
pengobatan secara tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Aaronson IA. Micropenis: medical and surgical implications. J of Urol 1994;
152:4-14.

17

Achermann JC, Ozisik G, Meeks JJ. Genetic causes of human reproductive


disease. J Clin Endocrinol Metab. 2002;87:2447-2454.
Bourgeois MJ, Jones B, Waagner DC. Micropenis and congenital adrenal
hypoplasia. Am J Perinatol. Jan 1989;6(1):69-71.
Brinkmann A, Jenster G, Ris-Stalpers C. Molecular basis of androgen
insensitivity. Steroids. Apr 1996;61(4):172-5.
Danon M, Friedman SC. Ambiguous genitalia, micropenis, hypospadias, and
cryptorchidism. In: Pediatric Endocrinology. 3rd ed. Philadelphia, Pa:. WB
Saunders;1996:297-301
Moore L Keith. Anatomi Klinis Dasar. 2002. Jakarta : Hipocrates
Reilly JM, Woodhouse CRJ. Small penis and the male sexual role. J Urol 1989;
142:569-71.
Robertson J, Shilkofski N. Mean Stretched Penile Length. The Harriet Lane
Handbook. 2005;277.
Van Wyk JJ. Should boys with micropenis be rearedas girls?J Pediatr 1999;
134:537-8.
Woodhouse CRJ. Ambiguous genitalia and intersexuality- micropenis. Pediatric
urology, 1997. h. 689-93.

18