Anda di halaman 1dari 16

Pengaruh Religiusitas Terhadap Perilaku Penyalahgunaan NAPZA

Mutia Rizki

ABSTRAK
Objektif : Untuk mengetahui pengaruh religiusitas atau kehidupan beragama seseorang dengan
perilaku penyalahgunaan NAPZA.
Desain Studi : Laporan kasus berdasarkan pengalaman residen yang sedang dalam fase
rehabilitasi setelah mengkonsumsi narkotika selama 13 tahun.
Metode : Hasil wawancara langsung dengan salah satu residen yang sedang menjalani proses
rehabilitasi di RSKO Cibubur serta berdasarkan beberapa studi literatur.
Diskusi : Berdasarkan hasil penelitian BNN bekerjasama dengan Puslitkes UI Tahun 2011
tentang Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia, diketahui bahwa
angka prevalensi penyalahguna Narkoba di Indonesia telah mencapai 2,2% atau sekitar 3,7 - 4,7
juta orang dari total populasi penduduk (berusia 10 - 59 tahun). Terjadinya konflik batin yang
terjadi antara ajaran agama dan norma masyarakat dengan keinginan individu yang mendalam
sehingga secara psikologis menimbulkan kecemasan dan ketegangan dalam dirinya. Seiring
dengan perubahan tersebut maka akan menimbulkan banyak masalah salah satunya adalah
perilaku yang beresiko termasuk penyalahgunaan NAPZA.
Kesimpulan : Berdasarkan dimensi dimensi religiusitas yang dimiliki oleh seorang individu,
ditemukan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara religiusitas dengan perilaku
penyalahgunaan NAPZA.
Kata Kunci : Religiusitas, Perilaku Narkoba

Effect of Religiosity on Drug Abuse Behaviour


Mutia Rizki

ABSTRACT
Objective: To determine the effect of religiosity or religious life of a person with a drug abuse
behavior.
Study Design: Case report based on the experience of residents who are in the rehabilitation
phase after taking the drugs for 13 years.
Methods : The results of a live interview with one resident who is undergoing a rehabilitation
process in RSKO Cibubur and based on some literature.
Discussion : Based on the results of BNN in collaboration with UI Puslitkes of 2011 on the
National Survey of Drug Abuse Developments in Indonesia, known that the prevalence of drug
abuse in Indonesia has reached 2.2%, or about 3.7 to 4.7 million people of the total population
(aged 10-59 years). Inner conflicts that occur between religious teachings and norms of society
with the individual's desire so profound psychological cause anxiety and tension in it self. With
these changes, it will cause a lot of problems which is a risk behaviors, including drug abuse.
Conclusion : Based on the dimension of religiosity on individual life, the study found a positive
and significant relationship between religiosity and drug abuse behavior.
Keywords : Religiosity, Drug Abuse

PENDAHULUAN
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya yang telah
populer beredar dimasyarakat perkotaan maupun di pedesaan, dari berbagai lapisan usia, dan dari
berbagai kalangan ekonomi. Selain Narkoba, istilah lain yang diperkenalkan oleh Departemen
Kesehatan RI adalah NAPZA yaitu singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif
lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai
risiko yang oleh masyarakat disebut berbahaya yaitu kecanduan (adiksi). Narkoba atau NAPZA
merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama
susunan syaraf pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik,
psikis/jiwa dan fungsi sosial sehingga menimbulkan perubahan tertentu pada aktivitas mental
dan perilaku. Oleh Karena itu Pemerintah memberlakukan Undang-Undang untuk
penyalahgunaan narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun
1997 tentang Narkotika (BNN, 2012)
Perkembangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba telah menjadi permasalahan
dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan negara serta telah menjadi masalah global yang
mengancam hampir semua sendi kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara. Dampak yang
ditimbulkan sebagai akibat peredaran gelap penyalahgunaan narkoba terbukti sangat merugikan
yang dapat ditinjau dari segala aspek seperti medis, sosial, hukum, ekonomi serta
keamanan.Bahkan bila tidak ada pencegahan yang efektif dan berkelanjutan dapat
mengakibatkan bangsa kehilangan generasinya (Indrawati, 2008).
Berdasarkan estimasi dari United Nation On Drugs and Crime (UNODC) tahun 2008,
bahwa 1% penduduk Indonesia telah menyalahgunakan narkoba. Sementara data dari United
Nation Drugs Kontrol Programme (UNDCP), kurang lebih 220 juta orang di seluruh dunia telah
menggunakan jenis barang berbahaya ini, dari jumlah orang tersebut 1,5% atau sekitar 3,2 juta
orang berada di Indonesia.
Penyebab timbulnya perilaku penyalahgunaan narkoba dipengaruhi oleh berbagai faktor
internal dan eksternal salah satunya adalah tingkat religiusitas. Saat ini banyak pemberitaan baik
di media cetak maupun elektronik yang menggambarkan memudarnya nilai-nilai ajaran agama
pada diri seseorang. Kasus yang sering terjadi biasanya selalu bertentangan dengan nilai-nilai
ajaran agama, misalnya kasus pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, korupsi, dan berbagai
macam hal yang menyinggung pelanggaran nilai-nilai ajaran agama yang ada. Dan salah satu
masalah yang timbul yang sampai saat ini masih belum dapat teratasi dan sangat jelas telah
melanggar ajaran agama adalah penyalahgunaan NAPZA (Hafidz, 2012)

DESKRIPSI KASUS
Mr. E berusia 32 tahun, berbadan tinggi, berkulit putih dengan perawakan yang tidak
terlalu gemuk adalah salah satu residen yang kini menjalani hari-harinya dalam tahap rehabilitasi
di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur. Mr. E beragama Katolik, pendidikan terakhir
SMA namun sempat menjadi mahasiswa di Universitas Tarumanegara selama 3 bulan, berstatus
menikah, memiliki 2 orang anak dan memiliki pekerjaan sebagai pedagang. Orangtua Mr. E
adalah pedagang yang menjadi agen mainan anak anak dan kembang api di Manado. Ia sebagai
anak pertama dari 3 bersaudara. Selama hidupnya Mr. E sering pulang pergi Manado Jakarta
dan akhirnya memiliki rumah pribadi dan tinggal di daerah Tanjung Duren, Jakarta.
Mr. E pertama kali mengkonsumsi narkoba saat masih berumur 15 tahun. Ia mengaku
bahwa ia mendapatkan barang haram tersebut dari saudaranya sendiri. Ia pun tidak menolak
pemberian tersebut dan malah asyik mengkonsumi narkoba itu bersama saudaranya. Sampai saat
ini ia mengaku sudah mencoba segala jenis NAPZA. Selama bertahun tahun ia mendapatkan
barang tersebut atas pemberian dari orang lain sampai pada akhirnya hasil dari berdagang yang ia
dapatkan digunakan untuk membeli narkoba demi memenuhi kesenangan dirinya. Ia mengaku
bahwa ia mengkonsumi narkoba tersebut di rumahnya secara diam diam. Ia tidak suka dan
malas ke diskotik karena menurutnya di dalam diskotik banyak polisi yang mengincar. Namun
dirumah, jika aksinya dilihat atau tertangkap basah oleh orang tuanya maka ia akan dihukum dan
dikurung. Keluar rumah pun harus didampingi. Walaupun begitu tetap saja hal tersebut selalu
diulangi lagi sampai pada akhirnya orang tua Mr. E membawanya ke Jakarta.
Di Jakarta, ia hanya merasakan bangku universitas selama 3 bulan. Setelah itu secara
diam diam dan berbohong kepada orang tua, ia menanggalkan statusnya sebagai mahasiswa
karena kecanduan oleh narkoba tersebut. Selama itu pula ia terus mengkonsumi narkobanya
sampai persediaan habis. Dalam 1 hari ia mampu mengkonsumsi narkoba sebanyak 4 5 kali.
Jika ia tidak mengkonsuminya ia merasakan sakit kepala dan rasa murung yang membuat hari
harinya tidak menyenangkan. Ia merasa harus mengkonsumsi narkoba ini hanya untuk membuat
dirinya merasa senang.
Mr. E mengaku bahwa selama ia menjadi seorang pecandu, ia sudah merasakan
dinginnya penjara sebanyak 2 kali. Yang pertama ia dihukum penjara di Nusa Kambangan dan
yang terakhir sekitar 2 tahun yang lalu dihukum penjara di Rutan Salemba. Namun, walaupun
sudah 2 kali masuk bui, Mr. E tidak pernah kapok dan masih ingin terus mengkonsumsi sampai
terakhir kami wawancara (11/11/2014) . Selama ia dipenjara pun ia masih mendapatkan akses
narkoba tersebut dan tidak pernah takut kepada polisi.
Mr. E pernah berhenti mengkonsumsi obat obat terlarang tersebut selama 2 tahun
karena ia menikah dan akhirnya memiliki 2 orang anak. Dalam masa pernikahannya ia menderita
Hepatitis C. Selama pengobatan ia diberikan terapi interferon untuk mengatasi Hepatitis C yang
dideritanya. Namun menurut pengakuan Mr. E efek samping dari terapi interferon tersebut
membuat ia merasakan sakit kepala, cemas, depresi dan gelisah. Oleh karena itu ia
mengkonsumsi Suboxone dan Subutex yang diminum dengan cara sublingual untuk mengurangi
efek dari rasa sakit dan kecemasan maupun kegelisahannya. Sampai pada akhirnya ia tidak bisa
lepas dari Subutex dan Suboxone dan sangat ketergantungan dan kecanduan kedua obat tersebut.
4

Mr. E masuk kedalam rehabilitasi di RSKO ini karena diantar oleh adiknya dan bukan
karena kemauannya sendiri. Saat kami mewawancarai Mr. E terlihat bahwa ia tidak bisa fokus.
Matanya bergerak kemana mana dan sering sekali tidak mendengar apa yang kami ucapkan.
Banyak hal yang masih ditutupi dan terlihat adanya ketidaksinambungan antara kami dengan
jawaban jawaban yang dilontarkan oleh Mr. E. Terlihat sedikit gerak gerik yang seperti
memancarkan kebingungan dan rasa sakit. Setelah kami mengkonfirmasi dengan Staff RSKO
setempat, Mr. E saat ini sedang dalam fase putus obat selama 2 bulan terakhir.
Dalam pengakuannya Mr. E bukan seseorang yang taat beragama. Ia jarang pergi ke
gereja atau sekedar membaca Al-Kitab untuk beribadah. Ia lebih senang menyendiri dan
mengkonsumsi obat obatan terlarang untuk menyenangkan dirinya sendiri. Lingkungan
keluarganya pun tidak pernah mendorongnya untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan atau
menyuruhnya pergi ke Gereja untuk beribadah. Karena menurutnya orang tua Mr. E memiliki
kesibukan tersendiri dan menganggap bahwa Mr. E sudah dewasa dan menentukan sendiri
pilihannya. Ia pun merasa kurang mendapatkan perhatian. Selama dalam masa rehabilitasi pun
Mr. E hanya mengikuti siraman rohani pada hari Jumat dengan membaca al-kitab namun tidak
memberikan pemahaman, keyakinan dan efek jera bagi Mr. E. Setelah selesai menjalani rehab ini
pun ia masih ingin mengkonsumsi narkoba tersebut.

DISKUSI
Religiusitas
Ada beberapa istilah untuk menyebutkan agama, antara lain religi, religion (Inggris),
religie (Belanda), religio/relegare (Latin), dan dien (Arab). Kata religion (Inggris) dan religie
(Belanda) adalah berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu bahasa Latin
religio dari akar kata relegare yang berarti mengikat (Kahmad, 2002). Ini mengandung
makna bahwa dalam religi atau agama pada umumnya memiliki aturan aturan dan kewajiban
kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemiliknya dan semua itu berfungsi untuk
mengikat seseorang atau sekelompok orang dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan
alam sekitarnya. Mangunwijaya membedakan antara istilah religi atau agama dengan
religiusitas. Jika agama menunjuk pada aspek aspek formal yang berkaitan dengan aturan dan
kewajiban, maka religiusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh seseorang
dalam hati. Berbagai pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa religiusitas menunjuk pada
tingkat keterikatan individu terhadap agamanya (Wahyuni, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa
individu telah menghayati dan menginternalisasikan ajaran agamanya sehingga berpengaruh
dalam segala tindakan dan pandangan hidupnya (Mangunwijaya, 1982).
Pembagian dimensi religiusitas menurut Glock & Stark (Wahyuni, 2003) terdiri dari lima
dimensi yaitu :
a. Dimensi keyakinan (the ideological dimension), tingkatan sejauh mana seseorang menerima
dan mengakui hal-hal yang dogmatic dalam agamanya, misalnya keyakinan adanya sifat
sifat Tuhan, adanya malaikat, surge, para Nabi, dan sebagainya.
b. Dimensi peribadatan atau praktek agama (the ritualistic dimension) yaitu tingkatan sejauh
mana seseorang menunaikan kewajiban kewajiban ritual dalam agamanya, misalnya
menunaikan shalat, zakat, puasa , haji dan sebagainya bagi umat muslim atau pergi ke
Gereja, beribadah dan mempelajari al-kitab serta hal hal baik lainnya bagi umat Kristiani.
c. Dimensi feeling atau penghayatan (the experiencal dimension) yaitu perasaan keagamaan
yang pernah dialami dan dirasakan seperti merasa dekat dengan Tuhan, tentram saat berdoa,
tersentuh mendengar ayat kitab suci, merasa takut berbuat dosa, merasa senang doanya
dikabulkan, dan sebagainya.
d. Dimensi pengetahuan agama (the intellectual dimension) yaitu seberapa jauh seseorang
mengetahui dan memahami ajaran agamanya terutama yang ada dalam kitab suci, hadist,
pengetahun tentang fiqh dan sebagainya.
e. Dimensi effect atau pengalaman (the consequential dimension) yaitu sejauh mana implikasi
ajaran agama mempengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupan social, misalnya
mendarmakan harta untuk keagamaan dan social, menjenguk orang sakit, mempererat
silaturahmi, dan sebagainya.
Menurut Subandi (Wahyuni, 2003) Pendapat itu sesuai dengan lima aspek dalam pelaksanaan
ajaran agama islam tentang aspek aspek religiusitas yaitu aspek Iman sejajar dengan aspek
belief, aspek Islam sejajar dengan religious practice, aspek Ihsan sejajar dengan religious feeling,
aspek Ilmu sejajar dengan religious knowledge, dan aspek Amal sejajar dengan religious effect.
Dapat dikatakan bahwa seserang dikatakan religious jika orang mampu melaksanakan dimensi
dimensi religiusitas tersebut dalam perilaku dan kehidupannya.
6

Agama adalah unsur terpenting dalam diri seseorang. Apabila keyakinan beragama telah
menjadi bagian integral dalam kepribadian seseorang, maka keyakinannya itulah yang akan
mengawasi segala tindakan, perkataan, dan perasaannya. Dibandingkan dengan anak anak
keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Pada masa remaja
mereka mungkin berusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam mengenai Tuhan dan
eksistensi. Perkembangan pemahaman remaja terhadap keyakinan beragama ini sangat
dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya (Desmita, 2008).
Pendapat ini diperkuat oleh Seifert dan Hoffnung, menurutnya meskipun pada awal masa
kanak kanak ia telah diajarkan agama oleh orangtua mereka, namun karena pada masa remaja
mereka mengalami kemajuan dalam perkembangan kognitif, mereka mungkin mempertanyakan
tentang kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Remaja memiliki sikap kritis terhadap
lingkungan yang sejalan dengan perkembangan intelektual yang dialaminya. Bila persoalan
tersebut gagal diselesaikan, maka para remaja cenderung untuk memilih jalan sendiri. Dalam
situasi bingung dan konflik batin menyebabkan remaja berada di persimpangan jalan. Dalam
situasi yang semacam ini, maka peluang munculnya perilaku menyimpang terbuka lebar (Bahr ;
John, 2008)
Faktor faktor yang mempengaruhi religiusitas
Religiusitas atau keagamaan seseorang ditentukan dari banyak hal, di antaranya
pendidikan keluarga, pengalaman, dan latihan-latihan yang dilakukan pada waktu kita kecil atau
pada masa kanak-kanak. Seorang remaja yang pada masa kecilnya mendapat pengalamanpengalaman agama dari kedua orang tuanya, lingkungan sosial dan teman-teman yang taat
menjalani perintah agama serta mendapat pendidikan agama baik di rumah maupun di sekolah,
sangat berbeda dengan anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan agama di masa
kecilnya, maka pada dewasanya ia tidak akan merasakan betapa pentingnya agama dalam
hidupnya. Orang yang mendapatkan pendidikan agama baik di rumah mapun di sekolah dan
masyarakat, maka orang tersebut mempunyai kecenderungan hidup dalam aturan-aturan agama,
terbiasa menjalankan ibadah, dan takut melanggar larangan-larangan agama (Syahridlo, 2004).
Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi jiwa agama atau religiusitas seseorang menurut Thoules
(Thoules,2000) , yaitu:
a. Faktor sosial
Faktor sosial yang mempengaruhi religiusitas seseorang seperti pendidikan dan pengajaran
orang tua ataupun tradisi sosial dan budaya yang berkembang dilingkungan orang yang
bersangkutan.
b. Faktor alami, moral dan afektif
Faktor ini seperti konflik, pengalaman emosional, kekecewaan terhadap sesuatu yang
melibatkan perasaan mendalam, tuntutan-tuntutan moral, baik setuju ataupun menolak moral
tersebut
c. Faktor kebutuhan

Seseorang beragama, karena orang tersebut membutuhkan agama sebagai sandaran, lepas
dari rasa bersalah, rasa aman, cinta kasih dan lain-lain dan tempat mengadu jika dalam
kesedihan.
d. Faktor intelektual
Faktor ini berhubungan dengan proses pemikiran verbal, terutama dalam pembentukan
keyakinan-keyakinan terhadap agama. Faktor ini sangat penting, karena akan
mengembangkan sikap agama yang positif.
Perilaku penyalahgunaan NAPZA
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya yang telah
populer beredar dimasyarakat perkotaan maupun di pedesaan, dari berbagai lapisan usia, dan dari
berbagai kalangan ekonomi. Selain Narkoba, istilah lain yang diperkenalkan oleh Departemen
Kesehatan RI adalah NAPZA yaitu singkatan dari Narkotika, Pasikotropika dan Zat adiktif
lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai
risiko yang oleh masyarakat disebut berbahaya yaitu kecanduan (adiksi). Berdasarkan hasil
penelitian BNN bekerjasama dengan Puslitkes UI Tahun 2011 tentang Survei Nasional
Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia, diketahui bahwa angka prevalensi
penyalahguna Narkoba di Indonesia telah mencapai 2,2% atau sekitar 3,7 - 4,7 juta orang dari
total populasi penduduk (berusia 10 - 59 tahun) (BNN, 2012)
Narkoba adalah zat yang menawarkan kenikmatan namun dibalik itu diam diam bisa
membunuh si pemakainya. Kalaulah selamat dari kematian efeknya bisa menimbulkan gangguan
fungsi organ tubuh. Narkotika adalah bahan bahan yang terutama memiliki dampak kerja
pembiusan atau dapat menurunkan kesadaran, juga menimbulkan gejala - gejala fisik dan psikis
jika dipakai tidak menurut ketentuan atau disalahgunakan (non medical purpose). Nyatanya zat
zat ini seringkali disalahgunakan sehingga menimbulkan efek ketagihan (addiction) dan bahkan
ketergantungan (dependence) (Weiss, 2008)
Hadjam dan Fuhrmann mengemukakan bahwa proses keterlibatan seseorang dalam
penyalahgunaan narkoba melalui beberapa tahap, yaitu :
a. Kecenderungan untuk berkenalan denga narkoba ialah menunjuk pada besarnya minat
individu terhadap informasi tentang penyalahgunaan narkoba.
b. Kecenderungan untuk coba coba, ialah menunjuk pada besarnya minat individu mencoba
untuk pertama kali setelah memperoleh informasi baik karena dorongan curiousity atau
desakan dari lingkungan.
c. Kecenderungan untuk menggunakan narkoba secara iseng yaitu besarnya minat individu
menggunakan narkoba secara berkala khususnya pada peristiwa khusus seperti pada saat
pesta dan berkumpul dengan teman-teman atau orang orang di lingkungannya.
d. Kecenderungan menggunakan narkoba secara tetap dan teratur tanpa adanya ketergantungan
ialah besarnya minat individu menggunakan narkoba secara tetap dan teratur.
e. Kecenderungan menggunakan narkoba secara tetap karena ketergantungan baik fisik maupun
psikis.

f. Kecenderungan untuk menghentikan penggunaan narkoba dengan kegiatan terapi, ialah


besarnya minat individu untuk menghentikan perilaku penyalahgunaan narkoba.
Intensi atau kecenderungan merupakan indikasi besarnya usaha individu dalam
merencanakan dan mencoba melakukan suatu perilaku. Terbentuknya perilaku ditentukan oleh
intensitas tindakan seseorang (Wahyuni, 2003)
Hubungan religiusitas dan perilaku penyalahgunaan NAPZA
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa tingkat religiusitas seseorang akan
mempengaruhi tindakan dan atau perilaku seseorang dalam hidupnya. Dalam hal ini terkait
dengan tingkat religiusitas, bahwa semakin rendah tingkat religiusitas seseorang maka akan
semakin tinggi peluang dilakukannya perilaku perilaku beresiko dan menyimpang salah
satunya adalah penyalahgunaan NAPZA (Wallace, et al., 2003)
Pada beberapa penelitian sebelumnya banyak yang memberikan hasil bahwa tingkat
religiusitas tidak mempengaruhi perilaku yang beresiko. Seperti pada penelitian yang dilakukan
oleh Hirschi dan Stark (1969) bahwa terdapat hubungan yang palsu anatara tingkat religiusitas
dengan perilaku kenakalan atau perilaku yang beresiko setelah memasukkan gender sebagai
variable control (Allen ; Celia, 2010)
Namun pada penelitian yang baru beberapa tahun terakhir, menurut Koenig dkk,
(Michael L et al., 2008) terdapat hubungan yang positif antara religiusitas dengan tingkat
perilaku kesehatan yang baik di Amerika Serikat. Di dalam hasil penilitiannya ia mengatakan
bahwa sebagian besar studi telah menemukan bahwa dimensi religiusitas tersebut seperti
kehadiran kebaktian, arti-penting agama, doa, keyakinan agama, dan keikutsertaan dalam
kelompok-kelompok agama menentukan perilaku yang terkait dengan penyalahgunaan NAPZA
dan alcohol dimana seseorang individu yang memenuhi dimensi dimensi dari religiusitas
ternyata tidak memiliki perilaku yang menyimpang seperti menjadi pecandu NAPZA dan
alcohol. Pendapat tersebut telah didokumentasikan dalam beberapa studi kasus. Orang yang
beragama atau memiliki tingkat religiusitas yang tinggi atau baik memiliki umur atau hidup yang
lebih lama dan memiliki tingkat stress yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang
memiliki tingkat religiusitas yang rendah (Sowell et all., 2000).
Dalam beberapa tahun terakhir banyak studi yang menjelaskan bahwa pengaruh dari
religiusitas memiliki hubungan yang negatif pada orang orang yang menyalahgunakan obat
atau NAPZA yang ternyata jarang mengikuti atau menghadiri kegiatan kegiatan agama seperti
beribadah di tempat suci. Jika dibandingkan dengan faktor predisposisi lainnya yang memicu
perilaku penyalahgunaan NAPZA, tingkat religiusitas memiliki nilai yang lebih berarti
dibandingkan dengan faktor keinginan, kepercayaan diri dan faktor sosial walaupun tetap tidak
lebih tinggi dari faktor kehidupan lingkungan keluarga (Bahr ; John, 2008)
Berdasarkan studi studi literatur diatas dan melihat dari kasus yang dialami oleh Mr. E,
ia berada dalam lingkungan keluarga yang paham agama namun tidak taat maka lingkungan
keluarga Mr. E memiliki dimensi keyakinan. Kedua, Mr. E mengakui agamanya adalah Katolik
maka ia memenuhi dimensi keyakinan. Namun ia jarang beribadah atau pergi ke gereja dan
9

cenderung tidak perduli maka ia tidak memenuhi dimensi peribadatan. Ketiga, ia hanya
formalitas mengikuti kegiataan keagamaan yang diadakan oleh RSKO setiap hari jumat hanya 1x
dalam seminggu berupa membaca Al-Kitab. Namun Mr. E tidak memahami dan
mengamalkannya maka Mr. E tidak memenuhi dimensi feeling dan dimensi pengetahuan agama.
Setelah semua hal yang terjadi pada Mr.E termasuk merasakaan sakit karena gejala putus obat
yang dialaminya, Mr. E tidak jera dan masih ingin menggunakan narkoba maka ia tidak
memenuhi dimensi effect. Hal ini sangat sesuai dengan studi literature yang sudah ada
sebelumnya bahwa Mr. E tidak memenuhi dimensi dimensi dari religiusitas sehingga hal
tersebut menjadi faktor yang menyebabkan ia berperilaku menyimpang.
Sikap orang tua Mr. E pun yang terlihat tidak tegas karena walaupun Mr. E dihukum
kurungan dirumah namun nyatanya hal tersebut berkali kali terjadi dan hukuman itu saja yang
terus diulang oleh orang tuanya. Bahkan yang menghasut Mr. E pertama kali mengkonsumsi
narkoba adalah saudaranya sendiri dimana saudara dalam 1 keluarga seharusnya saling
mengingatkan dan mampu beribadah bersama sama. Ditambah lagi dengan usia yang masih
begitu belia Mr. E sudah terjerumus dalam perilaku yang sangat beresiko yang akhirnya
membawa ia selama 15 tahun lamanya dalam dunia gelap narkoba.
Sebenarnya kegiatan kegiatan agama dapat menjauhkan seseorang dari perilaku
perilaku yang menyimpang termasuk penyalahgunaan narkoba sendiri. Karena dengan mengikuti
kegiatan agama individu menjadi lebih aktif dan melekat pada komunitas agamanya dan karena
dalam kegiatan keagamaan diberikan pelajaran mengenai larangan larangan dan sanksi yang
diberikan kepada individu yang melakukan penyalahgunaan narkoba sehingga bagi mereka yang
jarang mengikuti kegiatan keagamaan cenderung lebih sering melakukan perilaku perilaku
yang buruk dibandingkan dengan individu yang aktif dalam kegiatan keagamaan. Kedua, dengan
mengikuti kegiatan keagamaan maka tidak ada waktu bagi individu tersebut untuk mencoba
coba atau bereksperimen dengan narkoba. Ketiga, komitmen dalam organisasi atau kelompok
kegiatan keagamaan membuat pandangan bahwa mengkonsumsi narkoba merupakan hal yang
kurang menarik. Keempat, sistem kepercayaan yang dibangun dalam kebanyakan kelompok
keagamaan menentang perbuatan penyalahgunaan narkoba dan ajaran mereka mampu
menguatkan individu untuk menentang perilaku beresiko tersebut. Singkatnya, kelompok
kelompok kegiatan keagamaan cenderung melibatkan individu dalam kegiatan yang
konvensional dan jaringan sosial yang tidak menyetujui penggunaan NAPZA (Stephen J. & John
P., 2008).
Dalam ajaran agama Islam sudah sepatutnya dan sudah merupakan kewajibannya bagi
seluruh umat alam semesta untuk terus patuh dan taat terhadap perintah perintah Allah dan
menjauhi larangan Allah. Manusia yang juga merupakan bagian dari keluarga alam semesta tidak
boleh melanggar keataan pada aturan-aturan yang ditetapkan Allah Swt. Manusia semuanya
harus seiring sejalan dengan seluruh entitas di alam semesta dalam ketaatan kepada Allah Swt
dan ketaatan kepada Allah Swt tidak akan terealisir tanpa ketaatan kepada Rasulullah Saw;
karena itulah Allah Swt berfirman,

10

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa
yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi
mereka (Qs. An-Nisa : 80)
Dari ayat Al-Quran tersebut kita dapat melihat bahwa jika kita sebagai manusia tidak taat
kepada Allah maka Allah tidak akan menjadikan Rasullullah SAW sebagai makhluk Allah yang
memelihara manusia. Itu berarti Allah tidak akan melindungi umatnya yang mangkir dari
kewajibannya dan membiarkan umatnya tersebut masuk kedalam kehidupan syaiton yang sesat
dan semakin membuka lebar peluang melakukan perilaku perilaku yang menyimpang dan akan
semakin dekat dengan neraka.
Di dalam ajaran agama islam pun telah dipaparkan dengan jelas mengenai hukum
narkoba. Para ulama sepakat haramnya mengkonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan
darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, Narkoba sama halnya dengan zat yang
memabukkan diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat
menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan (Majmu Al Fatawa,
34: 204).
Dalil-dalil yang mendukung haramnya narkoba:
Pertama: Allah Taala berfirman,


Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang
buruk (QS. Al Arof: 157). Setiap yang khobits terlarang dengan ayat ini. Di antara
makna khobits adalah yang memberikan efek negatif.
Kedua: Allah Taala berfirman,


Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan (QS. Al Baqarah: 195).

Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu (QS. An Nisa: 29).
Ketiga: Dari Ummu Salamah, ia berkata,

- -
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir
(yang membuat lemah) (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini dhoif). Jika khomr itu haram, maka demikian pula
dengan mufattir atau narkoba.
Keempat: Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
,
,

Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia di neraka
Jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di (gunung dalam) neraka itu, kekal selama
11

lamanya. Barangsiapa yang sengaja menenggak racun hingga mati maka racun itu tetap
ditangannya dan dia menenggaknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama
lamanya. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan ada
ditangannya dan dia tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama
lamanya (HR Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109).
Hadits ini menunjukkan akan ancaman yang amat keras bagi orang yang menyebabkan
dirinya sendiri binasa. Mengkonsumsi narkoba tentu menjadi sebab yang bisa mengantarkan
pada kebinasaan karena narkoba hampir sama halnya dengan racun. Sehingga hadits ini pun bisa
menjadi dalil haramnya narkoba.
Penulis yakin bahwa tidak satu agama pun yang akan mengizinkan umatnya terjerumus
dalam perilaku penyimpangan penggunaan narkoba. Seperti yang terdapat dalam ajaran agama
yang dianut oleh Mr. E. Bahwa dalam ajaran agama Kristiani menurut pandangan Al-Kitab,
Tuhan melalui firman-Nya sangat murka terhadap masalah narkoba. Agama Kristen Katolik dan
Protestan juga memandang narkoba sebagai barang haram, sebab memang dalam narkoba itu
terdapat unsur-unsur yang dapat merusak organ saraf.
Firman Tuhan yang menyatakan pandangan terhadap narkoba :
Pertama : Korintus 10:31
Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan
sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Kedua : Korintus 6:19
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait h Roh Kudus 1 yang diam di dalam kamu,
Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
Ketiga : Efesus 5:18
Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu (kata bahasa
Yunani untuk hawa nafsu berarti hidup yang disia-siakan, tidak bermoral; tidak bersusila,
berfoya-foya).
Keempat : Efesus: 5:11
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan
apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
Kelima : Matius: 16:24
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya : Setiap yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal
dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku,
Menyimak ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa umat Kristiani dilarang melakukan
perbuatan-perbuatan yang destruktif (merusak), termasuk yang di dalamnya adalah
penyalahgunaan narkoba. Sebaliknya sebagai umat Kristiani, hendaknya mengikuti jejak Yesus.
Adapun syarat untuk dapat selalu mengikuti jejak Yesus ini adalah keharusan menyangkal setiap
ajakan hawa nafsu, salah satunya menyalahgunakan narkoba (Erlina, 2013)
12

Ada juga firman-firman yang menyatakan bahwa kesulitan untuk meninggalkan narkoba
adalah hidup dalam salib yang harus dipanggul setiap hari. Orang sudah kecanduan narkoba,
akan terasa sangat berat untuk meninggalkannya. Dengan atau tanpa disadari, si pecandu narkoba
telah meninggalkan kayu salibnya dan berjalan bersebrangan dengan Yesus. Karena telah sesat,
maka para pecandu narkoba itu akan ditegur dan diingatkan Allah, sebagaimana dinyatakan
dalam firman berikut : Menurut Agama Islam, penggunaan narkoba sangat diharamkan.
Mengapa? itu karena narkoba memiliki mudharat (daya rusak) yang sangat besar ketimbang
manfaat yang didapatkan (Erlina, 2013)

13

KESIMPULAN
Agama adalah satu hal yang paling penting dan sangat principal di dalam kehidupan seorang
manusia. Tanpa adanya ikatan agama yang kuat baik dari dalam diri individu tersebut maupun
berasal dari lingkungan individu itu, seseorang mampu kehilangan akal sehatnya dan kemudian
terjerumus dalam dunia yang gelap yang membuka peluang sangat lebar terhadap perilaku
perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan NAPZA. Dibutuhkan tingkat religiusitas yang
tinggi dan kuat agar individu mampu melindungi diri dari perilaku yang beresiko. Dengan
mengikuti kegiatan keagamaan seseorang mampu berada di jalan yang lurus yang Tuhan ridhoi
dan dapat menghindarkan diri dari perilaku penyalahgunaan NAPZA. Berdasarkan kasus yang
dialami oleh klien kami dan ditunjang dengan studi literatur yang terkait bahwa tidak
dipenuhinya dimensi dimensi religiustas maka terbuka lebarlah peluang penyimpangan
penyimpangan perilaku seperti penyalahgunaan NAPZA.

14

ACKNOWLEDGEMENT
Penulis ingin berterima kasih kepada DR. Drh. Hj. Titiek Djannatun selaku koordinator
penyusun blok elektif FK Yarsi 2014; dr. Hj. RW. Susilowati, Mkes selaku koordinator
pelaksana blok elektif FK Yarsi 2014; dr. Nasruddin Noor, SpKJ selaku dosen pengampu bidang
kepeminatan ketergantungan obat blok elektif FK Yarsi 2014; dr. Dini Widianti, MKK selaku
dosen pembimbing penulis; Ibu Lika selalu koordinator lapangan bidang pendidikan dan
pelatihan Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur, yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk dapat lebih memahami dan meninjau kasus kasus ketergantungan obat.
Dan teman teman penulis kelompok bidang kepeminatan ketergantungan obat yang telah
bekerjasama dengan baik demi suksesnya blok elektif ini.

15

DAFTAR PUSTAKA

Allen, Thomas M & Celia C. Lo. (2010). Religiosity, Spirituality and Substance Abuse. Journal
of Drug Isuess. Vol. 40. P: 433 - 459
Al-Quran Tajwid dan Terjemahannya. (2006). Jakarta: Maghfirah Pustaka
Bahr, Stephen J & John P. Hoffman. (2008). Religiosity, Peers, Adolescent Drug Use. Journal of
Drug Isuess. Vol. 0022-0426/08/03. P: 743-770
BNN. (2012).Survei Nasional Perkembangan Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia Tahun 2011.
diakses November 2014; http://bnn.go.id
Erlina, Sasgita. (2012). Narkoba dalam Pandangan Setiap Agama. diakses November 2014;
sasgitaerlina.blogspot.com
Hafidz, Muhammad Sadam. (2012). Hubungan Antara Religiusitas dan Self Control di Kalangan
Remaja.
Ismail, Wahyuni. (2010). Korelasi Antara Religiusitas Dan Aplikasi Konseling Dengan Perilaku
Penyalahgunaan Narkoba Siswa SMA Negeri di Makassar. Lentera Pendidikan. Vol. 13 No.2
. P: 121 133
Thoules, R.H. (2000). Pengantar Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Press
Wallace, John M et.al. (2003). Religion, Race, and Abstinence From Drug Use Among American
Adolescents. Occasional Paper. No.58 . P: 3 4
Weiss, Michael L , Dale D. Chitwood & Jesus Sanches. (2008). Religiosity, Drug Use, HIVRelated Risk Behaviours Among Heroin Injections. Journal of Drug Isuess. Vol. 0022
0426/08/03. P: 883 910

16