Anda di halaman 1dari 54

Panduan

Penjaminan
Kualitas
Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Deputi Bidang Tata Lingkungan


Kementerian Lingkungan Hidup

Panduan Penjaminan Kualitas Kajian Lingkungan Hidup Strategis


Pengarah
Imam Hendargo Abu Ismoyo
Deputi Menteri Lingkungan Hidup Bidang Tata Lingkungan
Ketua Tim
Drs. Heru Waluyo, M.Com.
Asisten Kajian Kebijakan Wilayah dan Sektor
Narasumber dan Tim Penyusun
Martin Smutny PhD, Prof. Dr. Bakti Setiawan, Ir. Teti Armiati Argo, MES, Ph.D,
Ir. Hesti Nawangsidi, MSP, Prof. Dr. Kukuh Murtilaksono, Dr. Kabul Sarwoto, Ir. Arie
Djoekardi, MA, Ir. Qurie Purnamasari, MSi, Ir. Inge Retnowati, ME
Tim Editor
Ir. Qurie Purnamasari MSi, Ir. Indra Soekarjono, Ir. Inge Retnowati, ME, Tria Yuliati ST,
Ekosusi Rosdianasari, MA
Tim Pendukung
Ir. Indra Soekarjono, Rifan Asnanto, ST, MSi, Drs. Suhartono,MM, Zulkarnaen Daulay, SIP,
Erlina Daniyati, S.Hut, MSi, Oktario Prasetiawildan.
Apresiasi:
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Danish International Development Agency
(DANIDA) melalui Environmental Support Programme (ESP) Phase 2
Grafis dan Foto:
Agus Wiyono

ii

PENGANTAR

ermasalahan lingkungan hidup di Indonesia


dari waktu ke waktu nampaknya semakin
menunjukkan adanya penurunan baik dari sisi
kondisi dan kualitas lingkungannya. Berbagai program
dan instrumen pengaturan terkait lingkungan yang
telah dikembangkan sebenarnya cukup banyak,
namun nampaknya masih belum menyentuh akar
permasalahannya. Berbagai penyelesaian persoalan
lingkungan pada umumnya dilakukan pada tataran
kegiatan atau proyek, sementara pada tataran
kebijakan, rencana dan/atau program masih kurang
diperhatikan.
Kesadaran ini mendorong adanya amanah untuk
melaksanakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
(KLHS) bagi pemerintah maupun pemerintah daerah
sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dengan adanya
KLHS diharapkan dapat lebih memastikan bahwa
setiap kebijakan, rencana dan/atau program yang
ditetapkan sudah mempertimbangkan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya,
selain RPP tentang Tata cara Penyelenggaraan KLHS,
aturan umum terkait KLHS juga telah diatur dalam
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik
Indonesia (PermenLH) Nomor 09 Tahun 2011 tentang
Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis.
Pedoman umum KLHS dimaksudkan sebagai acuan
dalam pelaksanaan kajian lingkungan hidup strategis
bagi para pembuat kebijakan, rencana dan/atau
program, baik sektoral maupun kewilayahan.
Pelaksanaan KLHS untuk berbagai jenis
kebijakan, rencana dan/atau program seperti RTRW
Provinsi, RTRW Kabupaten/Kota, RPJMD dan lainlain dari waktu ke waktu sudah semakin meningkat.
Namun demikian, mengingat belum tersedianya

pedoman penjaminan kualitas KLHS menyebabkan


hasil pelaksanaan KLHS yang telah dilakukan oleh
pemerintah maupun pemerintah daerah sangat
bervariasi.
Oleh karena itu, dengan tersusunnya Pedoman
Penjaminan Kualitas Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS) diharapkan dapat mendorong
pelaksanaan KLHS yang lebih baik, baik dari aspek
kerangka logis tahapan dan mekanisme KLHS maupun
materi substansi hasil telaahannya. Penerapan
panduan ini dapat membantu pelaksanaan KLHS
dalam memenuhi berbagai ketentuan terkait KLHS.
Penjaminan kualitas KLHS merupakan sebuah
upaya untuk memastikan bahwa proses KLHS
telah dilaksanakan sesuai dengan mekanisme dan
tahapan yang dipersyaratkan termasuk substansi
hasil KLHS telah memberikan rekomendasi sehingga
prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi dasar
dan terintegrasi dalam kebijakan, rencana dan/atau
program.
Pada prinsipnya, pelaksanaan penjaminan
kualitas menjadi tanggung jawab pembuat
kebijakan, rencana dan/atau program itu sendiri.
Namun demikian publik atau pihak lain yang
berkepentingan juga dapat melakukan penilaian
kualitas KLHS. Pedoman ini dapat dimanfaatkan
bagi pembuat kebijakan, rencana dan/atau program
itu sendiri untuk mengkawal proses pelaksanaan
KLHS-nya. Selain itu, instansi yang bertanggung
jawab di bidang lingkungan hidup baik di tingkat
pusat maupun daerah dapat menggunakan
pedoman ini untuk mengkaji ulang baik kualitas
proses pelaksanaan KLHS secara menyeluruh
maupun kualitas telaahannya dalam kerangka KLHS
serta untuk mengevaluasi kualitas dan efisiensi
keseluruhan sistem KLHS. Para pengambil keputusan

iii

juga dapat menggunakannya untuk memverifikasi


obyektifitas rekomendasi KLHS yang dihasilkan.
Sedangkan publik atau pihak lainnya juga dapat
menggunakan pedoman ini untuk memverifikasi
apakah penyelenggaraan KLHS telah memberikan
kesempatan kepada masyarakat dan pemangku
kepentingan lainnya untuk urut berpartisipasi dalam
memberikan saran dan masukan serta serta dapat
diketahui sejauh mana kualitas KLHS yang telah
dilaksanakan.
Materi panduan dalam pedoman ini disusun
berdassarkan praktek internasional sekaligus
juga dapat digunakan untuk memeriksa apakah
pelaksanaan proses KLHS telah memenuhi ketentuan
yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan yang berlaku. Proses penyusunan
pedoman ini sudah melalui berbagai tahapan dari
sejak pembahasan dalam berbagai diskusi terfokus,
workshop sampai dengan uji coba pada beberapa
KLHS yang telah dihasilkan.
Namun demikian, kami menyadari bahwa
pedoman ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena
itu, masukan, saran dan kritik yang membangun
dari Bapak/Ibu/Saudara sangat kami harapkan demi
kesempurnaan pedoman ini yang dapat disampaikan
melalui qurie30@yahoo.com
Dalam kesempatan ini kami menyampaikan

iv

terima kasih kepada para pakar dan narasumber


baik nasional maupun internasional yang telah
memberikan kontribusi yang sangat baik dalam
penyusunan pedoman ini. Ucapan terima kasih
juga kami sampaikan kepada Danida, Bappenas,
Kementerian Dalam Negeri, Bappenas dan
Kementerian Pekerjaan Umum maupun Asdep
Kajian Kebijakan Wilayah dan Sektor, Kementerian
Lingkungan Hidup beserta jajarannya yang telah
membantu dan mendukung proses penyusunan
pedoman ini.
Akhir kata, semoga pedoman ini dapat berguna
dan bermanfaat dalam mendukung pelaksanaan
KLHS yang lebih baik dalam kerangka penataan
lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di
Indonesia. Tentunya menjadi harapan kita bersama
untuk dapat menyelamatkan bumi ini untuk
kesejahteraan generasi kini dan yang akan datang.
Jakarta,

Oktober 2012

Deputi Menteri Lingkungan Hidup


Bidang Tata Lingkungan

Imam Hendargo Abu Ismoyo

DAFTAR ISI

PENGANTAR......................................................................................................................................................................................................

iii

DAFTAR ISI.........................................................................................................................................................................................................

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN...........................................................................................................................................................

ix

1 PENDAHULUAN......................................................................................................................................................................................

2 GAMBARAN UMUM KUALITAS KLHS..............................................................................................................................................

3 TUJUAN PANDUAN...............................................................................................................................................................................

3.1 Penggunaan Panduan.............................................................................................................................................................

3.2 Pengguna Panduan..................................................................................................................................................................

4 PRINSIP UTAMA PENJAMINAN KUALITAS.....................................................................................................................................

11

4.1 Pemahaman terhadap Kualitas............................................................................................................................................

11

4.2 Pendekatan Penilaian Kualitas..............................................................................................................................................

12

4.3 Hasil Penilaian Kualitas............................................................................................................................................................

12

5 KRITERIA PENILAIAN KUALITAS........................................................................................................................................................

13

5.1 Kriteria untuk Tinjauan Kualitas...........................................................................................................................................

13

5.2 Kriteria Kualitas..........................................................................................................................................................................

14

A. Pengkajian Pengaruh KRP..............................................................................................................................................

14

A.1 Perancangan Proses KLHS...................................................................................................................................

14

A.1.1 Apakah ada penjelasan mengenai maksud dan tujuan KLHS?.............................................

14

A.1.2 Apakah mekanisme pelaksanaan KLHS telah direncanakan dan dirancang sesuai
dengan KRP?............................................................................................................................................

14

A.1.3 Apakah proses perencanaan KRP dipertimbangkan ketika merancang proses KLHS?

15

A.1.4 Apakah KLHS dilakukan sebagai bagian integral dari proses penyusunan KRP?

15

A.1.5 Jika pelaksanaan proses KLHS sebagai bagian integral dari proses penyusunan KRP
tidak terjadi, maka apakah ada penjelasan interaksi antara proses penyusunan KRP
dan KLHS?.................................................................................................................................................

16

A.2 Identifikasi dan Pelibatan Masyarakat dan Pemangku Kepentingan Lainnya.................................

16

A.2.1 Apakah masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang akan dilibatkan dalam
KLHS diidentifikasikan pada permulaan proses KLHS?............................................................

16

A.2.2 Apakah rencana konsultasi dan partisipasi dibuat?..................................................................

16

A.2.3 Apakah undangan, daftar hadir, notulensi atau berita acara, dari kegiatan diskusi
terbuka untuk pemangku kepentingan yang relevan?...........................................................

17

A.2.4 Apakah partisipasi dan konsultasi dengan pemangku kepentingan dalam


pelaksanaan proses KLHS dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan proses
penyiapan KRP?......................................................................................................................................

17

A.2.5 Apakah lingkup KLHS didiskusikan dengan pembuat KRP dan pemangku
kepentingan?..........................................................................................................................................

17

A.2.6 Apakah masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dikonsultasikan dengan


cara dan pada waktu yang memberikan mereka kesempatan awal dan efektif dalam
kerangka waktu yang sesuai untuk menyampaikan pendapat mereka terhadap draf
KRP dan dokumentasi KLHS?.............................................................................................................

18

A.2.7 Apakah masyarakat dan pemangku kepentingan yang relevan mempunyai


kesempatan untuk memberikan komentar dan masukan selama proses KLHS?

18

A.2.8 Apakah informasi/dokumen KLHS dapat diakses melalui media masa?..........................

18

A.2.9 Apakah pembuat KRP melakukan konferensi pers dan/atau pengumuman publik
untuk mensosialisasikan atau mengumumkan dokumentasi KLHS kepada publik
untuk mendapatkan komentar?......................................................................................................

18

A.3 Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan..............................................................................................

vi

18

A.3.1 Apakah isu-isu strategis lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan yang


diidentifikasikan dilengkapi dengan penjelasan (seperti sebab dan akibat, tingkat
keseriusan dan lokasinya)? Jika demikian, jelaskan..................................................................

18

A.3.2 Apakah ruang lingkup wilayah KLHS (yaitu kawasan yang mungkin akan terkena
pengaruh KRP) termasuk lokasi di luar batas administratif dideskripsikan?...................

19

A.3.3 Apakah deskripsi isu strategis lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan


telah didukung oleh data, informasi dan analisis yang sesuai?............................................

19

A.3.4 Apakah diterangkan dengan jelas bagaimana isu strategis telah didefinisikan?..........

20

A.3.5 Apakah tujuan yang relevan untuk isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan
diidentifikasi dan dijelaskan?............................................................................................................

20

A.3.6 Jika ada isu tertentu yang diabaikan dalam pelaksanaan KLHS, apakah diberikan dan
dijelaskan alasannya?...........................................................................................................................

20

A.4 Identifikasi KRP........................................................................................................................................................

20

A.4.1 Apakah obyek dari kajian (yaitu KRP) didefinisikan dengan jelas?......................................

20

A.4.2 Apakah maksud dan tujuan dari KRP yang ditelaah dikemukakan dengan jelas?

20

A.4.3 Apakah ada penjelasan mengenai proses KRP?.........................................................................

20

A.4.4 Apakah bagian-bagian dari KRP yang mempunyai dampak strategis lingkungan
hidup diidentifikasikan dan dijelaskan?........................................................................................

20

A.5 Telaahan Pengaruh KRP terhadap Kondisi Lingkungan Hidup di Suatu Wilayah...........................

21

A.5.1 Apakah aspek berikut ditangani dalam evaluasi?.....................................................................

21

A.5.2 Apakah kondisi lingkungan hidup wilayah (baseline) dari isu strategis pembangunan
berkelanjutan dijelaskan?..................................................................................................................

21

A.5.3 Apakah perkembangan kecenderungan pada masa lalu hingga saat ini dianalisis
untuk isu-isu strategis?........................................................................................................................

21

A.5.4 Jika hal tersebut di atas dilakukan, apakah penggerak utama (yaitu faktor yang
mempengaruhi kecenderungan) diidentifikasi?........................................................................

21

A.5.5 Apakah kecenderungan isu-isu strategis pada masa depan tanpa diterapkannya
suatu KRP dianalisis?.............................................................................................................................

21

A.5.6 Apakah wilayah yang lebih luas daripada batas-batas administrasi atau fisik dari
wilayah pengaruh KRP dipertimbangkan dalam analisis?......................................................

22

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

A.5.7 Apakah urusan dan masalah utama yang berkaitan dengan isu-isu strategis
dinyatakan dengan jelas?...................................................................................................................

22

A.5.8 Bila demikian, apakah dijelaskan jika urusan dan masalah utama tersebut dapat
dipengaruhi oleh KRP?.........................................................................................................................

22

A.5.9 Apakah KLHS dari KRP mempertimbangkan data dan informasi dari KRP lain yang
terkait (dan KLHS-nya)?.......................................................................................................................

23

A.5.10 Apakah konflik antara sasaran pengelolaan lingkungan hidup terhadap isu-isu
strategis dan tujuan KRP diidentifikasi dan dijelaskan?...........................................................

23

A.5.11 Apakah dalam analisis KLHS dijelaskan mengenai kemungkinan keterbatasan


data dan informasi yang tersedia dan mengenai potensi yang terkait dengan
ketidakpastian?.......................................................................................................................................

23

A.5.12 Apakah seluruh dampak KRP terhadap isu-isu penting lingkungan hidup/
pembangunan berkelanjutan dievaluasi dalam pengkajian?...............................................

25

A.5.13 Apakah ada dampak dari isu lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan yang
terabaikan dari evaluasi?.....................................................................................................................

25

A.5.14 Jika demikian, apakah diberikan alasannya?...............................................................................

26

A.5.15 Apakah dampak positif dan negatif keduanya dipertimbangkan?.....................................

26

A.5.16 Apakah dampak sekunder atau turunan dipertimbangkan dalam pengkajian?

26

A.5.17 Apakah dampak kumulatif dipertimbangkan dalam pengkajian?......................................

26

A.5.18 Apakah karakteristik dampak (keadaan, signifikansi, probabilitas, lingkup dan


jangkauan, frekuensi dan durasi, keterbalikkan/reversibility) dijelaskan?.......................

26

A.5.19 Apakah dampak dikuantifikasikan jika mungkin?.....................................................................

26

A.5.20 Apakah pengkajian dampak didukung oleh perhitungan, contoh, referensi kepada
kepustakaan nasional dan internasional dll.?..............................................................................

26

A.5.21 Apakah metode yang digunakan untuk mengkaji dampak dijelaskan?...........................

27

A.5.22 Apakah potensi ketidakpastian dalam pengkajian dampak dijelaskan?..........................

27

B. Perumusan Alternatif Penyempurnaan KRP............................................................................................................

27

B.1 Apakah semua alternatif yang diusulkan oleh KRP dikaji?.....................................................................

27

B.2 Apakah potensi timbulnya dampak dari setiap alternatif dideskripsikan dengan jelas?............

27

B.3 Apakah diberikan peringkat alternatif (bila disarankan oleh KRP)?....................................................

27

B.4 Apakah KLHS merekomendasikan alternatif dengan kinerja lingkungan hidup/pembangunan


berkelanjutan yang lebih baik dibandingkan dengan alternatif yang disarankan oleh KRP?...

27

B.5 Apakah ada alasan dan penjelasan mengenai alternatif yang diabaikan atau yang dipilih?...

27

C. Rekomendasi Perbaikan KRP dan Pengintegrasian Hasil KLHS........................................................................

27

C.1 Apakah rekomendasi didukung dengan penjelasannya?.......................................................................

27

C.2 Apakah rekomendasi KLHS didiskusikan dengan pembuat KRP?.....................................................

28

C.3 Apakah kesimpulan dan rekomendasi yang diberikan oleh KLHS diformulasikan secara
eksplisit?....................................................................................................................................................................

28

C.4 Apakah tindakan yang disarankan oleh KLHS untuk mencegah, mengurangi dan/atau
mengimbangi dampak negatif yang signifikan untuk semua dampak utama diidentifikasi?..

28

C.5 Apakah institusi yang bertanggungjawab untuk melaksanakan tindakan mitigasi


ditetapkan?..............................................................................................................................................................

28

C.6 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan status mengenai saran dan rekomendasi KLHS yang
mana yang telah terintegrasi dalam KRP (dalam hal KRP berubah karena KLHS)?........................

28

C.7 Apakah rekomendasi yang diberikan oleh KLHS dipertimbangkan dalam proses pengambilan
keputusan KRP?......................................................................................................................................................

29

vii

viii

C.8 Jika beberapa rekomendasi belum terintegrasi, apakah dalam keputusan persetujuan
terhadap rancangan akhir KRP diberikan penjelasan?.............................................................................

29

C.9 Apakah KLHS menyarankan indikator-indikator untuk pemantauan dampak terhadap


lingkungan hidup?................................................................................................................................................

30

C.10 Jika demikian, apakah indikator-indikator tersebut berdasarkan informasi kondisi lingkungan
hidup wilayah (baseline), indikator dan tujuan dari KRP dan/atau KLHS?.........................................

30

C.11 Ketika pemantauan mungkin mengungkapkan pengaruh buruk yang signifikan, apakah KLHS
menunjukkan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk menanggulangi pengaruh
buruk ini?..................................................................................................................................................................

30

D. Dokumentasi KLHS dan Akses Publik........................................................................................................................

31

D.1 Apakah dokumentasi KLHS jelas dan ringkas dalam tataletak dan penyajiannya?.......................

31

D.2 Apakah dokumentasi KLHS menggunakan bahasa yang mudah dan jelas dan menghindari
atau menjelaskan istilah teknis?.......................................................................................................................

31

D.3 Apakah dokumentasi KLHS berisikan ringkasan non-teknis?...............................................................

31

D.4 Apakah dokumentasi KLHS menggunakan peta dan ilustrasi lainnya, bila diperlukan?............

31

D.5 Apakah dokumentasi KLHS memuat hasil identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan
lainnya?......................................................................................................................................................................

31

D.6 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan pendekatan menyeluruh terhadap KLHS?..................

31

D.7 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan proses KLHS dan semua tahapan dan analisisnya?..

31

D.8 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan metodologi yang digunakan dalam analisisanalisis?......................................................................................................................................................................

32

D.9 Apakah dokumentasi KLHS mengidentifikasi sumber informasi, termasuk pendapat dan
penilaian ahli?.........................................................................................................................................................

32

D.10 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan siapa yang dikonsultasikan, metode apa yang
digunakan dalam kegiatan konsultasi, dan bagaimana kesimpulan dari konsultasi telah
dipertimbangkan dalam KLHS dan/atau KRP?............................................................................................

32

D.11 Apakah kesimpulan dari komunikasi dalam interaksi antara proses penyiapan KRP dan KLHS
(jika ada) didokumentasikan dengan jelas dalam dokumentasi KLHS?............................................

33

D.12 Apakah dokumentasi KLHS mendeskripsikan kesulitan teknis, prosedural dan lainnya?..........

33

D.13 Apakah dokumentasi KLHS memuat dokumentasi tentang konsultasi dengan pemangku
kepentingan?...........................................................................................................................................................

33

D.14 Apakah dokumen KLHS diberikan juga kepada institusi lingkungan hidup untuk referensi?..

33

6. EVALUASI KUALITAS MENYELURUH................................................................................................................................................

35

7. TINDAK LANJUT KLHS..........................................................................................................................................................................

37

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................................................................................................

39

LAMPIRAN.........................................................................................................................................................................................................

40

DAFTAR ISTILAH
DAN SINGKATAN
UUPPLH

: Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup

KLH

: Kementerian Lingkungan Hidup

Bappenas

: Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan


Pembangunan Nasional

Kemdagri

: Kementerian Dalam Negeri

KemPU

: Kementerian Pekerjaan Umum

ESP II

: Environment Support Programme II, program kerja sama Pemerintah Indonesia


dan Pemerintah Denmark - Tahap 2 Komponen 1

KLHS

: Kajian Lingkungan Hidup Strategis

QA (quality assurance)

: Penjaminan kualitas

KRP

: Kebijakan, rencana, dan/atau program

Pembuat KRP

: Lembaga Pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab terhadap


penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program yaitu kementerian
atau lembaga pemerintah non kementerian dan instansi pemerintah daerah
atau satuan kerja perangkat daerah di tingkat provinsi, kabupaten, kota, yang
bertanggung jawab untuk menyiapkan KRP

Pembuat keputusan

: Lembaga pemerintah atau perwakilan (Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat,


menteri/kepala lembaga pemerintah non kementerian, gubernur, bupati/
walikota, dan/atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan berwenang mengkualitaskan dan menetapkan
KRP dengan dan dalam bentuk peraturan

Keputusan

: Persetujuan formal atas KRP yang ditetapkan dengan peraturan

Pemangku
kepentingan

: Individu, kelompok, masyarakat, organisasi, institusi, instansi pemerintah/


pemerintah daerah, lembaga non-pemerintah/non-pemerintah daerah, dunia
usaha, universitas, yang kemungkinan terkena dampak dan/atau menpunyai
perhatian terhadap penyusunan dan pelaksanaan kebijakan, rencana dan/atau
program.

Proses perencanaan

: Penyusunan KRP melalui urutan rangkaian berbagai tahap tertentu, analisis, dan
konsultasi dengan pemangku kepentingan guna menghasilkan rancangan KRP
yang akan diputuskan dan ditetapkan dengan peraturan

ix

Pelaksana KLHS

: Pembuat KRP beserta instansi/lembaga terkait dan dapat didukung oleh tenaga
ahli yang memfokuskan tugasnya pada pelaksanaan proses KLHS bersamasama dengan anggota lainnya mengkoordinasikan proses, melakukan analisis,
memfasilitasi konsultasi dengan para pemangku kepentingan, merekam
penyelenggaraan KLHS dan mendokumentasikannya dalam dokumentasi KLHS

TOR

: Kerangka Acuan Kerja (KAK)

I.
PENDAHULUAN

ualitas KLHS terkait erat dengan efektivitas hasil proses KLHS. Sadler (1996)
mengatakan bahwa, efektivitas merujuk pada apakah sesuatu bekerja
seperti yang dimaksud dan memenuhi tujuan yang direncanakan. Tujuan
KLHS umumnya dipahami sebagai memastikan bahwa isu-isu pembangunan
berkelanjutan, termasuk pertimbangan lingkungan hidup, diinformasikan dan
diintegrasikan ke dalam pengambilan keputusan strategis dalam mendukung
pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Pengertian
ini juga sejalan dengan ketentuan Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang
menetapkan bahwa tujuan keseluruhan dari KLHS adalah untuk memastikan
bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi
dalam pengembangan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau
program.
Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, efektivitas KLHS dapat dievaluasi
terutama dalam kaitannya dengan pengintegrasian substansi hasil KLHS ke
dalam kebijakan, rencana, dan/atau program (selanjutnya disebut KRP) dan
dengan proses pengambilan keputusan yaitu proses seberapa jauh rekomendasi
KLHS telah dipertimbangkan dalam penyiapan rumusan, persetujuan dan/
atau pelaksanaan KRP. Namun, hal ini tergantung kepada kualitas KLHS. Jika
kualitas KLHS rendah, maka hasil KLHS tidak akan banyak mempengaruhi
perbaikan pengambilan keputusan KRP. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa efektivitas KLHS sangat tergantung kepada kualitas pelaksanaan proses
pengkajian atau penelaahan dampak dan/atau risiko lingkungan dari KRP yang
akan ditetapkan.

Kualitas KLHS juga dipengaruhi oleh sejumlah


faktor seperti keterkaitan antara proses KLHS
dan proses perencanaan, komposisi dari anggota
pelaksana KLHS dan kualitas tenaga ahli yang terlibat,
tingkat komunikasi antara pelaksana KLHS dan tim
perencanaan, ketersediaan dan kesesuaian data dan
informasi, penggunaan teknik analisis dampak yang
memadai, keterlibatan dan partisipasi para pemangku
kepentingan, dan proses konsultasi. Berbagai faktor
ini harus diperhatikan ketika dilakukan penilaian
kualitas KLHS.
Kualitas KLHS diharapkan akan semakin
meningkat dengan diterapkannya Panduan ini dan
dengan demikian akan meningkatkan efektivitasnya.
Selain itu, penerapan Panduan ini dapat membantu
pelaksanaan proses KLHS untuk memenuhi berbagai
ketentuan tentang KLHS sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan (bila telah
ditetapkan) Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara
Penyelenggaraan KLHS12, serta Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup No. 09/2011 tentang Pedoman
Umum KLHS.

12 Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara Penyelenggaraan


KLHS masih dalam versi draf pada waktu penyusunan draf
Panduan ini (April 2012)

Tinjauan kualitas tidak termasuk dalam proses


KLHS sebagaimana ditentukan dalam rancangan
Peraturan Pemerintah tentang KLHS. Dengan
demikian, secara umum tinjauan kualitas KLHS yang
disampaikan dalam Panduan ini dapat dianggap
tidak wajib, namun yang akan membuat kualitas
proses KLHS lebih baik.
Walaupun demikian, dianjurkan untuk melakukan
tinjauan kualitas dalam proses pengambilan
keputusan yang ada, terutama yang menyangkut
KLHS untuk rencana pembangunan jangka panjang
dan jangka menengah, rencana tata ruang, KRP
sektor nasional13 dan KRP lainnya yang menimbulkan
dampak dan/atau risiko lingkungan hidup.
Pendekatan dan prosedur rinci perlu diuraikan dalam
panduan khusus dari kementerian yang disiapkan
oleh masing-masing kementerian yang relevan (yaitu
Kemdagri, KemPU, dan Bappenas).

13 Berdasarkan pengalaman yang diperoleh melalui pelaksanaan


penjaminan kualtias di masa depan, diskusi dapat dilakukan
untuk kemungkinan mengintegrasikan tinjauan/pemeriksaan
kualitas sebagai unsur wajib dalam proses KLHS.

II.
GAMBARAN UMUM
KUALITAS KLHS

LHS memiliki berbagai bentuk, metode, instrumen, dan pendekatan yang


dapat digunakan. Namun, untuk mencapai kualitas KLHS yang baik dan
efektif, ada prinsip-prinsip tertentu yang harus diikuti dalam pelaksanaan
proses semua KLHS.
Sebagaimana disampaikan dalam draf Metodologi Penilaian Kualitas KLHS
Generik dari CIDA12, suatu kajian kualitas KLHS yang komprehensif akan menunjuk
pada tiga dimensi kritis:
1. Apakah penerapan proses KLHS konsisten dengan prinsip-prinsip dan
persyaratan prosedural yang telah disetujui dan ada dalam juridiksi tertentu?
2. Apakah penerapan proses KLHS sesuai dengan tujuan dan relevan terhadap
kebutuhan pembuatan keputusan untuk kebijakan atau rencana tertentu yang
dipertimbangkan?
3. Apakah proses terbukti mempengaruhi atau memberikan kontribusi terhadap
pengambilan keputusan (hasil segera), menghasilkan tindakan dari rencana
atau program yang berkelanjutan atau adil (hasil jangka menengah) atau
memberikan manfaat lingkungan (dan sosial) atau perbaikan (hasil jangka
panjang)?
Seperti telah diuraikan dalam bagian terdahulu, efektivitas KLHS diperoleh
dari perannya untuk memperbaiki pengambilan keputusan, dengan memberikan
masukan sehingga prinsip pembangunan berkelanjutan terintegrasi dalam KRP.
Oleh karena itu, pertanyaan kunci untuk setiap proses KLHS dapat dirumuskan
12 Sadler, B., Dalal-Clayton, B. (2010): Generic SEA Quality Review Methodology (Revised draft, April
2010). Canadian International Development Agency (CIDA)

sebagai berikut Apakah KLHS akan membuat


keputusan KRP yang lebih baik bagi pembangunan
berkelanjutan?
Bagaimanapun, kemampuan untuk memenuhi
misi ini tergantung dari kualitas KLHS. Secara umum,
agar dapat berpengaruh dan dapat membantu
memperbaiki perumusan KRP dan pengambilan
keputusan, KLHS perlu13:
Menetapkan tujuan yang jelas: Meskipun
pelaksanaan KLHS mempunyai tujuan umum
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 15 ayat
(1) UUPPLH, setiap KLHS untuk KRP tertentu
{sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat
(2)} harus mendefinisikan sasaran spesifik
dilaksanakannya KLHS dan nilai tambahnya
bagi proses perencanaan dan pengambilan
keputusan.
Diintegrasikan dengan struktur dan prosedur
penyusunan KRP yang berlaku: Pendekatan ini
dilakukan untuk memaksimalkan manfaat KLHS,
karena kesimpulan serta rekomendasi hasil KLHS
akan dapat diakomodasikan selama penyusunan
KRP.
Bersifat fleksibel, iteratif dan disesuaikan
dengan konteks: Dengan adanya berbagai
macam KRP baik menurut tingkat wilayah
perencanaan (nasional, provinsi, kabupaten,
kota, kawasan), maupun dalam hal fokus dan
isi dari KRP, maka agar pelaksanaan proses KLHS
dapat berlangsung secara efisien, pelaksanaan
proses KLHS harus disesuaikan dengan proses
dan prosedur perencanaan KRP yang berlaku,
termasuk pengaturan forum diskusi dengan para
pemangku kepentingan dan metode konsultasi
publik.
Mengkaji potensi dampak dan risiko dari
rancangan dan alternatif KRP terhadap prinsip
dan kriteria serta kerangka tujuan keberlanjutan:
Setiap KLHS perlu mengembangkan seperangkat
konteks
khusus
isu-isu
pembangunan
berkelanjutan yang didukung dengan tujuan,
prinsip dan kriteria yang relevan, yang menjadi
dasar untuk evaluasi kemungkinan dampak KRP.
Menyarankan
langkah-langkah
untuk
menghindari,
mengurangi
atau
mengkompensasi
kemungkinan
dampak
negatif yang signifikan terhadap lingkungan
13 Merujuk kepada Basic principles for SEA stipulated in Applying
Strategic Environmental Assessment: Good Practice Guidance
for Development Co-operation (OECD, 2006).

hidup, yang disebabkan pelaksanaan KRP: KLHS


seharusnya tidak hanya mengidentifikasi dampak
yang mungkin terjadi, tetapi juga mengusulkan
bagaimana potensi efek negatif dapat dihindari,
dikurangi atau dikompensasi serta bagaimana
potensi dampak positif dapat diperkuat.
Memberikan alasan yang eksplisit untuk
pemilihan alternatif yang lebih diinginkan
dan untuk dukungan terhadap perimbangan
pertukaran dampak positif dan negatif yang
signifikan : KLHS harus menerangkan dengan
jelas dan memberikan alasan untuk rekomendasi
dan sarannya (berdasarkan data, analisis, dan
sebagainya, yang sesuai).
Agar rekomendasi dan kesimpulan hasil KLHS
dapat dimengerti dan dipaparkan dengan jelas:
Agar produk KLHS dapat dipergunakan secara
efisien, dan tidak disalahartikan atau bahkan
disalahgunakan, hasil KLHS ini harus dapat
dimengerti oleh berbagai pemangku kepentingan
seperti perencana, pengambil keputusan, publik,
LSM, dan pihak lain yang berkepentingan.
Membahas keterkaitan dan perimbangan
timbal balik antara pertimbangan lingkungan
hidup, sosial dan ekonomi: KLHS tidak hanya
membahas persoalan lingkungan hidup, tetapi
juga permasalahan sosial dan ekonomi yang
terkait dengan masalah lingkungan hidup.
Melibatkan pemangku kepentingan kunci
dan
mendorong
keterlibatan
publik:
Penyelenggaraan KLHS selain harus menyediakan
peluang bagi berlangsungnya konsultasi dengan
berbagai pemangku kepentingan, juga harus
memastikan agar tanggapan, saran dan pendapat
dipertimbangkan dalam proses pengkajian, dan/
atau perumusan KRP dan/atau pengambilan
keputusan.
Menyertakan sistem penjaminan kualitas yang
efektif, lebih disukai yang independen: Untuk
memastikan bahwa kesimpulan dan rekomendasi
yang diberikan oleh KLHS didasarkan atas proses
KLHS dengan kualitas yang baik, proses KLHS
harus disertai oleh sistem penjaminan kualitas
yang efektif.
Bersifat transparan di seluruh prosesnya dan
hasilnya dikomunikasikan: Penyelenggaraan
KLHS seharusnya tidak merupakan kotak
hitam. Proses KLHS yang mencakup analisis,
data dan informasi, serta konsultasi dengan
pemangku kepentingan harus dipaparkan secara

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

jelas, termasuk atas dasar apa kesimpulan dan


rekomendasi disusun. Hasil KLHS pun perlu
dikomunikasikan dengan baik, sehingga hasil
KLHS dapat bermanfaat secara optimal sesuai
dengan tujuan penyelenggaraan KLHS.
Dilaksanakan secara efektif: KLHS harus
menggunakan pendekatan, metode, alat analisis
yang sesuai dengan konteks KRP yang menjadi
subyek KLHS.
Mendorong dilakukannya pengkajian-ulang
secara formal dan informal setelah proses
KLHS selesai dan memantau pelaksanaan KRP:

Kesimpulan dan rekomendasi yang diberikan oleh


KLHS seharusnya dipertimbangkan dan menjadi
bagian yang terintegrasi dalam pelaksanaan KRP.
Untuk memeriksa efektivitas dan efisiensi hasil
KLHS dan sejauh mana hasilnya dilaksanakan,
perlu dilakukan pemantauan terhadap proses
pelaksanaan KRP.
Membangun kapasitas penyelenggaraan dan
penggunaan KLHS: Pada tahap awal pengenalan
KLHS, setiap proses KLHS tertentu harus bermakna
sebagai sarana untuk membangun kapasitas
penyelenggaraan KLHS.

III.
TUJUAN PANDUAN

anduan ini merupakan acuan bagi pengguna panduan untuk menilai


kualitas KLHS yang memungkinkan meninjau kualitas proses KLHS dan
elemen-elemennya (konsultasi, analisis, dokumentasi, dll).

3.1. Penggunaan Panduan


Panduan ini memungkinkan untuk diterapkannya Pedoman Umum KLHS
dengan pendekatan apapun baik terintegrasi dengan atau terpisah dari, atau
berjalan secara paralel dengan proses perencanaan pembuatan KRP, atau
pengkajian setelah KRP dirancang (ex-post). Panduan ini dapat digunakan dalam
berbagai tahap pelaksanaan proses KLHS baik di awal, atau selama proses KLHS
berlangsung, atau sebelum rancangan KRP dilaporkan kepada pengambil
keputusan untuk dinilai bersama-sama dengan pendokumentasian KLHS dalam
proses pengambilan keputusan, atau sebagai bagian dari proses pengambilan
keputusan, atau setelah keputusan dibuat. Panduan ini juga dapat digunakan
ketika perencanaan proses KLHS dimulai. Dalam hal ini, kriteria kualitas yang
disarankan oleh Panduan ini diharapkan dapat membimbing mereka yang
bertanggung jawab untuk melaksanakan KLHS, untuk merancang prosedur yang
akan memenuhi kriteria (lihat Kotak 1 untuk penjelasan yang lebih rinci).

Kotak 1
Aplikasi Penilaian Kualitas KLHS
Penilaian kualitas KLHS dapat dilakukan dalam berbagai tahap pelaksanaan proses KLHS sebagai
berikut:
Pada awal KLHS: Pengetahuan tentang aspek kualitas, yang harus dicapai, akan membantu
perancangan proses KLHS yang memenuhi kualitas yang diharapkan. Kriteria kualitas selain dapat
dijadikan sebagai dasar untuk merancang dan merencanakan proses KLHS, juga dapat digunakan
untuk perumusan KAK (ToR), dll.
Selama proses KLHS berlangsung: Pelaksana KLHS dan pemangku kepentingan lainnya mungkin
perlu memverifikasi apakah tahap/analisis tertentu yang dilaksanakan dalam KLHS memiliki
kualitas yang memadai, misalnya, analisis kondisi lingkungan hidup wilayah, pengkajian dampak,
ruang lingkup konsultasi, dll. Penggunaan kriteria kualitas dapat membantu hal tersebut, dan hasil
penelaahan kualitas dapat digunakan untuk proses pelaksanaan KLHS selanjutnya.
Sebelum rancangan KRP dilaporkan kepada pengambil keputusan untuk dinilai bersamasama dengan dokumentasi KLHS dalam proses pengambilan keputusan: Penilaian kualitas
KLHS harus membuktikan bahwa proses KLHS yang dilakukan telah memenuhi kualitas yang
memadai dan bahwa dokumentasi KLHS yang disampaikan telah menyediakan informasi yang
memadai untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Penilaian kualitas KLHS penting
untuk dilakukan pada tahap ini karena rekomendasi yang dihasilkan oleh penilaian kualitas KLHS
dapat digunakan untuk menyempurnakan proses KLHS ini sendiri (misalnya, dengan melakukan
revisi dokumentasi KLHS, atau menyelenggarakan konsultasi publik tambahan, atau perbaikan
KRP, dll.).
Sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan: Pihak yang berwenang dalam proses
pengambilan keputusan (misalnya, Kemdagri dalam hal melakukan evaluasi terhadap rencana
pembangunan daerah atau KemPU dalam hal melakukan penelaahan terhadap rencana tata ruang)
dapat mengontrol kualitas dokumentasi KLHS yang diajukan bersama-sama dengan KRP sebagai
bagian dari proses legal formal.
Setelah keputusan dibuat: Penilaian kualitas KLHS yang dilakukan setelah keputusan diambil
harus difokuskan terutama terhadap pemeriksaan bagaimana hasil dan kesimpulan yang diberikan
oleh KLHS telah terintegrasi dalam pengambilan keputusan dan bagaimana hal ini akan diterapkan
dalam pelaksanaan KRP.
Dalam pelaksanaan KRP: Penilaian kualitas KLHS dilakukan untuk menelaah operasionalisasi
penerapan rekomendasi KLHS, misalnya, dalam pemantauan terhadap implikasi lingkungan, atau
dalam penerapan pertimbangan lingkungan bagi proyek-proyek tertentu (lihat Bagian 5.3).

3.2. Pengguna Panduan


Pembuat KRP adalah pengguna utama Panduan
ini baik untuk memeriksa kualitas hasil KLHS maupun
untuk mengevaluasi nilai tambah yang dihasilkan
KLHS bagi perbaikan pengambilan keputusan KRP.
Sesuai dengan prinsip self-assessment, pembuat KRP
perlu menyertakan penjaminan kualitas sebagai
bagian dari standar pelaksanaan proses KLHS
dalam pembuatan KRP. Dalam hal ini, pembuat KRP
dapat menggunakan kriteria kualitas pada waktu
merancang pelaksanaan proses KLHS (misalnya,
untuk mengatur pelaksanaan kegiatan pada tahapantahapan proses, atau untuk menyusun KAK bagi para
pakar yang akan dilibatkan).

Di samping pembuat KRP, Panduan ini pun dapat


digunakan oleh para pemangku kepentingan lain
antara lain:
Pelaksana KLHS12 untuk menelaah secara
internal kualitas selama pelaksanaan proses
KLHS untuk meyakinkan bahwa proses KLHS
berlangsung sesuai dengan prinsip kajian dengan
kualitas baik.
Pengambil keputusan13 untuk memverifikasi
12 Dalam pelaksanaan tugasnya, pelaksana KLHS ditetapkan
oleh pembuat KRP dan biasanya terdiri dari staf pemerintah /
pemerintah daerah dan juga tenaga ahli eksternal (konsultan,
akademisi, ilmuwan).
13 Sebagai contoh, dalam rangka mengevaluasi rancangan

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

objektivitas rekomendasi KLHS (termasuk


Kemdagri dan KemPU ketika memeriksa rencana
tata ruang, rencana pembangunan jangka
panjang dan jangka menengah yang diajukan
untuk proses pengambilan keputusan).
Kementerian/lembaga lain atau instansi
sektoral untuk menunjukkan bahwa KLHS telah
dilaksanakan dalam proses pembuatan KRP
sebagaimana dipersyaratkan oleh peraturan
perundang-undangan terkait14 ketika konsep KRP
disampaikan kepada para pengambil keputusan
untuk memperoleh persetujuan. Panduan ini
juga dapat digunakan oleh Kemdagri dalam
mengevaluasi KLHS RPJPD/RPJMD, KemPU dalam
mengevaluasi KLHS rencana tata ruang, Bappenas
dalam mengevaluasi KLHS RPJPN/RPJMN dan
instansi lainnya.

KLH dan instansi lingkungan hidup daerah

untuk mengkaji ulang15 baik kualitas proses


pelaksanaan KLHS secara menyeluruh maupun
kualitas dokumentasi lingkungan hidup untuk
KLHS tertentu (misalnya sebagai salah satu
layanan dari Balai Kliring KLHS) , dan bagi KLH
maupun instansi lingkungan hidup daerah untuk
mengevaluasi kualitas dan efisiensi seluruh sistem
KLHS di Indonesia.
LSM dan publik untuk memverifikasi apakah
penyelenggaraan KLHS memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan
apakah telah efisien dalam penggunaan masukan
yang diperoleh melalui konsultasi dengan publik.
Lembaga akademik dan lembaga penelitian yang
ketika dilibatkan secara independen melakukan
penilaian kualitas proses KLHS tertentu, atau
melakukan evaluasi KLHS sebagai bagian dari
kegiatan penelitian.

peraturan daerah tentang RPJP/M Daerah atau tentang RTRW


provinsi, Kemdagri melakukan penilaian kualitas terhadap
KLHS yang menyertai RPJP/M Daerah atau RTRW provinsi
yang bersangkutan. Dalam rangka mengkaji permohonan
untuk memperoleh persetujuan substansi atas RTRW provinsi,
kabupaten/kota,
KemPU melakukan penilaian kualitas
terhadap KLHS yang menyertai RTRW yang bersangkutan. Di
samping itu, dalam pelaksanaan pembinaan teknis penyusunan
RPJP/M Daerah oleh Kemdagri atau pembinaan teknis
penyusunan atau peninjauan kembali RTRW oleh KemPU,
Panduan Penjaminan Kualitas KLHS dapat menjadi salah satu
bahan referensi.
14 Peraturan perundang-undangan terkait, misalnya, adalah
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan.

15 Hasil penilaian kualitas (diskusi, konsultasi, dll. tidak hanya


dokumentasi penilaian kualitas) dapat menjadi salah satu
bentuk layanan yang disediakan oleh Balai Kliring KLHS.

Gambar 1.
Skema Hubungan antara Proses Pembuatan KRP, Pelaksanaan Proses KLHS16 dan
Penjaminan Kualitas KLHS

KRP

KLHS

Penjaminan
Kualitas (PK)

Persiapan
Pembuatan
KRP

Persiapan
KLHS

PK terhadap
Perancangan
Proses KLHS

Proses
Pembuatan KRP

Pelaksanaan
KLHS

PK terhadap
Pelaksanaan
KLHS

Pengambilan
Keputusan

PK terhadap
Pengambilan
Keputusan

Pelaksanaan
KRP &
Pemantauan

PK untuk Evaluasi
Rekomendasi
KLHS dalam
Pelaksanaan KRP

Keterangan: Gambar 1 menggambarkan hubungan antara penjaminan kualitas


KLHS dan proses pembuatan KRP serta menunjukkan kemungkinan
penggunaan penjaminan kualitas terhadap pelaksanaan KLHS.

16 Pelaksanaan proses KLHS mengikuti mekanisme, tahapan, langkah-langkah, dan kegiatan sebagaimana ditentukan dalam Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 09/2011 tentang Pedoman Umum KLHS.

10

IV.
PRINSIP UTAMA
PENJAMINAN KUALITAS

4.1. Pemahaman terhadap Kualitas


ualitas KLHS sebagaimana dimaksud oleh Panduan ini terutama terkait
dengan praktik pelaksanaan proses KLHS yang baik di dunia internasional.
Walaupun materi Panduan ini disusun berdasarkan praktik internasional,
Panduan ini sudah dapat digunakan untuk memeriksa apakah pelaksanaan proses
KLHS telah memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh peraturan perundangundangan (Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Peraturan Pemerintah tentang Tata Cara
Penyelenggaraan KLHS dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 09
Tahun 2011 tentang Panduan Umum KLHS).
Kriteria kualitas KLHS yang tercantum dalam Panduan ini didasarkan atas kriteria
yang berasal dari ketentuan formal/normatif peraturan perundang-undangan dan
yang diangkat dari tujuan umum dan prinsip-prinsip praktik penyelenggaraan
KLHS yang baik. Kualitas KLHS ini juga mencerminkan pelaksanaan KLHS yang
ada di Indonesia12. Ketentuan peraturan perundang-undang itu sendiri sudah
merupakan standar minimum yang harus dicapai dalam penyelenggaraan
KLHS. Panduan ini diharapkan dapat menjadi acuan penilaian kualitas KLHS.
Dalam Panduan ini, aspek-aspek kunci dari sebuah praktik KLHS yang baik akan
diilustrasikan dan didukung dengan contoh-contoh singkat yang relevan dan kiat
pelaksanaannya secara praktis.

12 Praktik KLHS di Indonesia bertolak dari ketentuan peraturan perundang-undangan dan pengalaman
di dunia internasional yang telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia.

11

4.2. Pendekatan Penilaian Kualitas


Kriteria kualitas KLHS disusun berdasarkan
kriteria yang dipaparkan dalam Bagian 5 Panduan
ini, sehingga penilaian kualitas KLHS pun dilakukan
berdasarkan kriteria tersebut. Karena tidak ada
patokan kuantitatif untuk KLHS yang standar,
maka kualitas KLHS tidak dapat diukur secara
kuantitatif. Penilaian kualitas KLHS bersifat kualitatif,
yang dinyatakan dengan uraian deskriptif yang
menerangkan bagaimana aspek-aspek tertentu dari
kualitas (dalam hal ini adalah kriteria kualitas) telah
dipenuhi oleh suatu KLHS.
Informasi yang diperlukan untuk evaluasi
kemungkinan besar ditemukan dalam dokumentasi
KLHS. Data yang relevan dapat tersedia pula dari
KRP sendiri (misalnya analisis atau kesimpulan
tertentu dari konsultasi pemangku kepentingan
yang dilakukan dalam proses perencanaan KRP).
Selain itu, menjawab beberapa pertanyaan mungkin
memerlukan
komunikasi dengan pemangku
kepentingan yang terlibat dalam proses KLHS yang
dievaluasi.
Dalam hubungan ini, sangat disarankan agar
penilaian kualitas KLHS yang dilakukan oleh pembuat
KRP13 melibatkan pemangku kepentingan yang
berpartisipasi dalam proses KLHS yang dievaluasi.
Paling tidak, dokumentasi KLHS harus dibuat tersedia
kepada dan dapat diakses oleh publik dalam rangka
berbagi pandangan tentang kualitas KLHS dengan
pemangku kepentingan terkait lainnya.

13 Hal ini terutama dilakukan sebelum mengirimkan konsep


KRP bersama dengan dokumentasi KLHS kepada pengambil
keputusan dalam rangka pengambilan keputusan - lihat
penjelasan pada Bagian 4.4.

12

4.3. Hasil Penilaian Kualitas


Penjaminan kualitas yang optimal harus
menghasilkan rekomendasi bagaimana kualitas
pelaksanaan proses KLHS atau hasilnya dapat
ditingkatkan. Bagaimana hasil penilaian kualitas
KLHS digunakan, akan berbeda-beda dan tergantung
pada tahap KLHS mana penilaian ini akan diterapkan,
sebagai berikut:
1. Jika kriteria kualitas digunakan pada waktu
pelaksanaan proses KLHS sedang berlangsung,
hasil penilaian dapat segera ditindaklanjutkan
oleh pelaksana KLHS kepada tim perencana
keseluruhan.
2. Jika penilaian kualitas dilakukan pada akhir
proses pembuatan KRP yaitu sebelum konsep
KRP dan dokumentasi final KLHS dimajukan untuk
proses pengambilan keputusan, yang mana hasil
penilaian masih dapat dipertimbangkan sebelum
keputusan diambil, maka dalam hal ini, dapat saja
terjadi diperlukannya perpanjangan waktu proses
pembuatan KRP, yang memungkinkan, misalnya,
untuk melakukan analisis pelengkap, konsultasi
publik tambahan, atau untuk memberikan
informasi tambahan dalam dokumentasi KLHS.
3. Jika penilaian kualitas diterapkan ketika KRP
telah diputuskan dan ditetapkan dengan suatu
keputusan, sehingga dengan demikian proses
KLHS sudah berhenti, hasil penilaian kualitas
dapat menjadi bahan rujukan dalam rangka
evaluasi pelaksanaan KRP pada siklus perencanaan
berikutnya dan/atau penyusunan KLHS dalam
pembuatan KRP lainnya.

V.
KRITERIA
PENILAIAN KUALITAS

5.1. Kriteria untuk Tinjauan Kualitas


Penilaian kualitas dilakukan dengan menggunakan Kriteria Kualitas. Susunan
kriteria kualitas dikelompokkan ke dalam tahap pelaksanaan proses KLHS sesuai
dengan pekerjaan dan analisis yang biasa dilakukan dalam KLHS. Setiap kelompok
mencakup seperangkat pertanyaan terkait dengan aspek-aspek yang relevan dari
proses KLHS dan dokumentasi yang dikaji. Perangkat pertanyaan dibuat fleksibel,
sehingga memungkinkan untuk difokuskannya evaluasi baik pada seluruh proses
KLHS ataupun hanya pada aspek tertentu (misalnya, lingkup pengkajian, kualitas
dokumentasi KLHS, dll.).
Bagian C difokuskan terutama pada penilaian bagaimana hasil KLHS
dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan 12. Dengan demikian,
sebagian besar kriteria dalam kelompok ini baru dapat digunakan setelah
keputusan diambil (yaitu ketika hasil dan kesimpulan dari KLHS telah jelas
terintegrasi dalam keputusan).

12 Namun, beberapa pertanyaan dari Bagian C dapat pula digunakan untuk menilai kualitas

KLHS sebelum KRP yang bersangkutan diserahkan kepada pengambil keputusan untuk
disetujui. Hal ini dilakukan dengan cara memfokuskan pertanyaan pada KRP itu sendiri
dan bukan pada persetujuan KRP yaitu:

Apakah kesimpulan dan rekomendasi yang diberikan oleh KLHS telah dipertimbangkan dalam
KRP yang akan diserahkan untuk persetujuan itu?
Jika beberapa rekomendasi dan saran belum terintegrasi, apakah KRP memberikan penjelasan
mengapa?
Apakah alasan yang diberikan untuk memilih alternatif tertentu dari KRP dilakukan dengan
memperhatikan alternatif lain yang juga patut dipertimbangkan?

13

Untuk melakukan penilaian kualitas, dapat


digunakan bentuk pertanyaan seperti tercantum
dalam matriks pada Tabel 1. Bagian inti dari penilaian
dikemukakan melalui evaluasi deskriptif, yang
dituliskan dalam kolom kedua, sedangkan saran/
pendapat untuk meningkatkan kualitas KLHS
disampaikan dalam kolom ketiga.
5.2. Kriteria Kualitas
A. Pengkajian Pengaruh KRP
Pengkajian Pengaruh KRP terhadap Kondisi
Lingkungan Hidup di Wilayah Perencanaan,
dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut:
A.1 Perancangan Proses KLHS
A.1.1 Apakah ada penjelasan mengenai maksud
dan tujuan KLHS?
Dasar Pemikiran: Maksud dan tujuan serta
kegunaan KLHS harus secara spesifik dikemukakan

atau kelompok pemangku kepentingan tertentu


yang perlu dilibatkan, dll. Maksud dan tujuan KLHS
dapat lebih luas daripada yang dipersyaratkan oleh
ketentuan perundang-undangan yang ada harus
dipahami sebagai persyaratan minimum.
A.1.2 Apakah mekanisme pelaksanaan KLHS
telah direncanakan dan dirancang sesuai
dengan KRP?
Dasar Pemikiran: Ada berbagai macam KRP,
yang berbeda dalam banyak aspek seperti tingkat
perencanaan, cakupan wilayah perencanaan,
tahapan dan analisis yang dilakukan dalam tahap
persiapan pembuatan KRP, fokus dan substansi KRP,
pemangku kepentingan yang terlibat, dll. Seperti
telah disebutkan dalam bagian terdahulu, agar
masing-masing KLHS menjadi efisien, maka konteks
penyelenggaraan KLHS harus dipertimbangkan
dengan matang. Untuk itu, diperlukan perencanaan

Kotak 2
Contoh penelaahan
Pertanyaan:

Apakah maksud dan tujuan keseluruhan dari KLHS dijelaskan?

Telaahan deskriptif:

KLHS ini menyediakan informasi tentang tujuan KLHS dan ketentuan peraturan nasional
terkait. Kerangka acuan kerja KLHS (yang dilampirkan pada pendokumentasian
KLHS) menyebutkan antara lain dalam tahap persiapan pelaksanaan proses
KLHS sudah harus dapat dipastikan bahwa, untuk menjamin pembangunan yang
berkelanjutan masalah-masalah lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat
akan sepenuhnya dipertimbangkan dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang,
melalui partisipasi publik serta peningkatan derajat perlindungan kesehatan
manusia dan lingkungan hidup. Hasil KLHS akan memberikan kontribusi terhadap
proses perencanaan untuk pengambilan keputusan yang optimal. Dokumentasi
KLHS juga mencakup informasi tentang latar belakang penugasan dan instansi
yang menyelenggarakan KLHS, dll.

Penilaian:

Tercakup sepenuhnya dalam uraian

Catatan:

Pembuat KRP menyampaikan dengan jelas mengenai apa yang diharapkan dari
penyelenggaraan KLHS. Hal ini menunjukkan bahwa, pembuat KRP menyadari
peran dan kegunaan KLHS bagi pembuatan KRP.

untuk setiap penyelenggaraan KLHS. Ketika pembuat


KRP menugaskan penyelenggaraan proses KLHS, maka
terkandung harapan bahwa KLHS akan memberikan
nilai tambah bagi penyiapan konsep KRP. Hal ini
dapat mencakup, misalnya, mengenai isu-isu yang
signifikan yang perlu ditelaah dalam KLHS, persoalan
yang perlu dianalisis secara rinci, perseorangan

14

proses KLHS sebelum pelaksanaannya dimulai.


Perencanaan proses KLHS ini dapat dilakukan baik
oleh institusi pembuat KRP maupun oleh Pelaksana
KLHS.
Kesimpulan dari jawaban atas pertanyaan di
atas dapat dijadikan bahan bagi penyusunan ToR
pelaksanaan proses KLHS, yang dalam kaitannya

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

dengan tahapan proses perencanaan [pembuatan


KRP] dirinci, antara lain, ke dalam penjadwalan
kegiatan, anggaran, keahlian yang diperlukan, analisis
yang akan dilakukan, dan pemangku kepentingan
utama yang perlu dilibatkan, dll.
Perencanaan proses KLHS yang tepat akan
membantu untuk memastikan bahwa komposisi
Pelaksana KLHS sesuai dengan karakter KRP, isu
lingkungan hidup yang harus dikaji, dll.

akan mengefisiensikan penyelenggaraan KLHS karena


pelaksanaan KLHS menggunakan peluang yang
tersedia dalam penyiapan KRP serta meminimalkan
tumpang tindih yang mungkin terjadi dalam
pelaksanaan proses KLHS dan proses pembuatan
KRP (misalnya, dalam hal mengembangkan analisis
yang sama, konsultasi secara terpisah dengan
kelompok sasaran yang sama). Dengan demikian,
proses perencanaan dan KLHS dapat berhemat baik
dalam hal waktu, pemanfaatan kapasitas keahlian,

Kotak 3
Komposisi Pelaksana KLHS dalam praktik
Kepakaran dalam Pelaksana KLHS harus terkait dengan isu-isu pokok yang akan dibahas dalam KLHS.
Jika keanekaragaman hayati, misalnya, merupakan salah satu masalah yang paling penting di wilayah di
mana KRP akan diterapkan, maka tenaga ahli yang relevan perlu menjadi anggota tim. Demikian pula pakar
kesehatan harus dilibatkan dalam tim jika diperkirakan timbul dampak terhadap kesehatan masyarakat,
dll.
Bagaimana pun juga, selain keahlian teknis, tim harus mengikutsertakan kepakaran di bidang-bidang
pembuatan kebijakan, perencanaan, dan komunikasi dengan para pemangku kepentingan karena aspekaspek tersebut sangat penting dalam manajemen dan koordinasi pelaksanaan proses KLHS.

A.1.3 Apakah proses perencanaan KRP dipertimbangkan ketika merancang proses KLHS?
Dasar Pemikiran: Pada umumnya, manfaat KLHS
dapat dimaksimalkan jika pelaksanaan proses KLHS
disesuaikan dengan proses perencanaan pembuatan
KRP. Dengan demikian, proses KLHS dapat
memberikan masukan yang tepat terhadap penyiapan
KRP dan tim perencanaan dapat mengintegrasikan
masukan ini secara langsung ke dalam konsep KRP
sebelum dilaporkan kepada pengambil keputusan.
Oleh karena itu, ketika merancang proses KLHS
(tahap, analisis yang akan dilakukan, para pemangku
kepentingan yang akan terlibat, dll.) adalah penting
untuk mempertimbangkan proses penyiapan KRP
(bagaimana tahapannya, analisis yang akan dilakukan,
apakah dalam proses perencanaan sudah termasuk
konsultasi dengan pemangku kepentingan, dll.),
termasuk pula faktor ketidakpastian yang ada13. Hal ini
13 Dalam kenyataannya, tidak jarang terjadi bahwa proses
perencanaan berlangsung secara berbeda daripada yang
direncanakan semula. Analisis tertentu mungkin perlu diulang
atau ditambah dengan analisis lain. Pembahasan antarkementerian/lembaga mengenai hal tertentu mungkin perlu
dilaksanakan berulang-kali, dll. Oleh karena itu, kemungkinan
ini perlu dipertimbangkan ketika merencanakan pelaksanaan

maupun biaya (karena dalam pelaksanaan proses


KRP dan KLHS dapat berbagi data dan informasi
serta penyelenggaraan konsultasi pun dapat diatur
bersama).
A.1.4 Apakah KLHS dilakukan sebagai bagian
integral dari proses penyusunan KRP?
Dasar Pemikiran: KLHS perlu memberikan
informasi yang harus dipertimbangkan dalam
pengambilan keputusan. Jika pelaksanaan proses
KLHS dilakukan sebagai bagian terintegrasi dalam
proses perencanaan, maka kemungkinan agar
rekomendasi KLHS akan dipertimbangkan dalam
pengambilan keputusan, akan lebih besar. Dengan
demikian, pelaksanaan proses KLHS lebih efisien
karena hasilnya dimanfaatkan dalam proses
pengambilan keputusan.

proses KLHS, terutama yang terkait dengan waktu-jadwal


dan/atau anggaran (misalnya, dengan mengalokasikan untuk
pengeluaran yang tidak terduga).

15

Kotak 4
Contoh penelaahan
Pertanyaan:

Apakah KLHS dilakukan sebagai bagian integral dari proses perencanaan?

Evaluasi deskriptif:

KLHS dimulai ketika draf rencana KRP telah jauh dilaksanakan, sehingga penginte
grasian hanya dimungkinkan dalam tahap perencanaan selanjutnya. Namun,
oleh karena pada tahap akhir proses perencanaan draf rencana secara signifikan
perlu dimodifikasi (karena Provinsi mengusulkan beberapa program baru untuk
dimasukkan pula ke dalam rencana), maka rekomendasi KLHS masih mungkin
untuk dipertimbangkan dalam perubahan draf rencana KRP yang diajukan untuk
pengambilan keputusan. Perubahan draf rencana ini telah mempertimbangkan
rekomendasi KLHS.

Penilaian:

KLHS dilaksanakan di sebagian proses perencanaan

Catatan:

Meskipun pelaksanaan proses KLHS dilaksanakan terlambat dari proses perencanaan,


KLHS masih memberikan masukan yang dipertimbangkan dalam pengambilan
keputusan terhadap draf rencana KRP.

A.1.5 Jika pelaksanaan proses KLHS sebagai


bagian integral dari proses penyusunan KRP
tidak terjadi, maka apakah ada penjelasan
interaksi antara proses penyusunan KRP
dan KLHS?
Dasar Pemikiran: Pada kenyataannya, sejumlah
KLHS dilakukan agak terpisah dari proses perencanaan
sebagai ex-post parsial atau sepenuhnya, yang mana
pelaksanaan proses KLHS yang lengkap dimulai
dalam tahap akhir pembuatan KRP. Atau, bahkan
dilakukan ketika proses perencanaan telah selesai,
yang mana draf akhir KRP sudah jadi dan siap diajukan
untuk disetujui. Meskipun demikian, tidak tertutup
adanya kesempatan bahwa temuan dan kesimpulan
serta rekomendasi KLHS dapat ditampung (a) dalam
rancangan KRP (jika masih mungkin), (b) dalam
persetujuan terhadap draf akhir KRP, dan/atau (c)
dalam implementasi KRP.
Dokumentasi KLHS harus secara jelas menerangkan
pelaksanaan proses KLHS dan hubungannya
dengan proses pembuatan KRP. Dokumentasi KLHS
harus menggambarkan bagaimana pengaturan
komunikasi antara proses KLHS dan proses
perencanaan, misalnya, pada tahap apa saja dari
proses KLHS memberikan masukan terhadap proses
perencanaan dan masukan apa yang diberikan.
Selain itu, dokumentasi KLHS perlu menjelaskan
jika KLHS dilaksanakan secara ex-post (apabila hal ini
yang terjadi) mengapa KLHS baru dilakukan pada
tahap ketika perencanaan telah mendekati proses
akhir atau draf KRP sudah dalam proses pengambilan

16

keputusan.
A.2 Identifikasi dan Pelibatan Masyarakat dan
Pemangku Kepentingan Lainnya
A.2.1 Apakah masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang akan dilibatkan dalam
KLHS diidentifikasikan pada permulaan
proses KLHS?
Dasar Pemikiran: Masyarakat dan pemangku
kepentingan lainnya yang mungkin perlu dilibatkan
dalam berbagai tahapan proses KLHS. Supaya
konsultasi dengan masyarakat dan pemangku
kepentingan lainnya dapat berjalan secara efektif,
perlu dipastikan bahwa semua masyarakat dan
pemangku kepentingan yang relevan diundang
untuk berpartisipasi, dan tidak ada yang terabaikan.
Identifikasi awal mengenai masyarakat dan pemangku
kepentingan lainnya akan dapat membantu supaya
situasi tersebut tidak terjadi.
A.2.2 Apakah rencana konsultasi dan partisipasi
dibuat?
Dasar Pemikiran: Perencanaan yang baik untuk
konsultasi dengan pemangku kepentingan dan
partisipasi mereka dalam proses KLHS merupakan
faktor yang penting agar pelibatan pemangku
kepentingan dapat terselenggara secara efisien. Hal
ini akan memberikan informasi terlebih dulu tentang
rencana kegiatan kepada masyarakat dan pemangku
kepentingan lainnya yang relevan, yang akan dapat
bersiap dan mulai merumuskan masukan sebelumnya.

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Ini akan membantu untuk menghindari tumpang


tindih yang mungkin terjadi dengan konsultasi
yang diselenggarakan dalam rangka penyiapan
pembuatan KRP. Rencana penyelenggaraan
konsultasi harus didiskusikan dan disepakati dengan
instansi perencanaan pada awal proses KLHS. Hal ini
juga berguna bagi Pelaksana KLHS, karena identifikasi
para pemangku kepentingan yang perlu terlibat,
tahapan proses KLHS mana mereka harus terlibat
dan mengikhtisarkan hasil yang diharapkan dari
konsultasi merupakan dasar untuk memilih wahana
dan cara konsultasi yang sesuai.

A.2.4 Apakah partisipasi dan konsultasi dengan


pemangku kepentingan dalam pelaksanaan
proses KLHS dilakukan bersama-sama dengan pelaksanaan proses penyiapan KRP?
Dasar Pemikiran: Konsultasi bersama akan
saling membawa manfaat baik untuk KLHS maupun
penyiapan KRP dalam hal (a) menghemat waktu,
kehadiran para pakar, dan sumber daya keuangan,
(b) pemangku kepentingan memperoleh informasi
tentang KRP, yang penting untuk memahami berbagai
analisis, evaluasi, kesimpulan dan rekomendasi KLHS,
dan (c) tim perencanaan dan penelaah KLHS dapat
segera merespon saran dan pendapat yang diajukan

Kotak 5
Konsultasi dengan lembaga-lembaga pemerintahan
Beberapa KLHS yang sejauh ini telah dilaksanakan di Indonesia memperlihatkan bahwa, pihak-pihak
yang diundang dalam konsultasi terutama adalah lembaga-lembaga pemerintahan seperti kementerian,
lembaga pemerintah non-kementerian, perangkat pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dll. Pihak-pihak ini
adalah kelompok pemangku kepentingan yang penting dan memang perlu dilibatkan (seperti halnya juga
sektor non-pemerintah seperti lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha). Untuk memastikan bahwa
proses KLHS dapat mengambil manfaat dari keterlibatan lembaga pemerintah adalah sangat penting untuk
memastikan bahwa, para pejabat yang diundang dan berperan-serta dalam lokakarya serta pertemuan
yang diselenggarakan benar-benar mewakili pendapat institusi mereka. Pengalaman dalam pelaksanaan
KLHS menunjukkan bahwa, dalam beberapa kasus mereka mengekspresikan pandangan pribadi mereka
yang mungkin berbeda daripada pendapat resmi lembaga.

A.2.3 Apakah undangan, daftar hadir, notulensi


atau berita acara, dari kegiatan diskusi
terbuka untuk pemangku kepentingan
yang relevan?
Dasar Pemikiran: Hasil setiap diskusi dan
konsultasi dengan publik dan stakehoders pada
setiap proses KLHS harus dibuat notulensinya dan
didokumentasikan dimana dokumen tersebut dapat
ditemukan dalam dokumen KLHS dan terbuka untuk
pemangku kepentingan yang terlibat dalam KLHS
agar dapat memberikan komentar dan masukan
(lihat Bagian D). Di dalam dokumen KLHS tersebut
harus memuat undangan, daftar hadir termasuk
tanda tangannya, notulen rapat/diskusi, dan berita
acara proses KLHS, termasuk didalamnya metoda
atau teknik pelaksanaan rapat/diskusi dan konsultasi
publik.

oleh para pemangku kepentingan serta membahas


bagaimana saran dan pendapat ini dapat diintegra
sikan dalam proses pengkajian dan/atau KRP.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa, proses
konsultasi yang dilakukan bersama-sama akan
mengefisienkan pelaksanakan keseluruhan proses
konsultasi.
A.2.5 Apakah lingkup KLHS didiskusikan dengan pembuat KRP dan pemangku kepentingan?
Dasar Pemikiran: Daftar isu yang diidentifikasi
dalam tahap pelingkupan merupakan panduan
untuk mengetahui fokus dari keseluruhan KLHS.
Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan ruang
lingkup KLHS dengan tim perencanaan serta dengan
pemangku kepentingan terkait lainnya (termasuk
instansi lingkungan hidup). Jika ruang lingkup ini
tidak didiskusikan, maka dapat terjadi bahwa isu-

17

isu pokok lain muncul kemudian ketika proses


KLHS sedang berlangsung, sehingga justru akan
mempersulit dan menunda kemajuan pelaksanaan
pengkajian.
A.2.6 Apakah masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dikonsultasikan dengan
cara dan pada waktu yang memberikan
mereka kesempatan awal dan efektif
dalam kerangka waktu yang sesuai untuk
menyampaikan pendapat mereka terhadap
draf KRP dan dokumentasi KLHS?
Dasar
Pemikiran:
Konsultasi
dengan
masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya
harus dilaksanakan selama keseluruhan proses
KLHS berlangsung. Pada tahap terakhir proses
KLHS, dokumentasi KLHS dan rancangan KRP
menjadi subjek konsultasi dengan para pemangku
kepentingan. Dalam rangka partisipasi masyarakat
dan pemangku kepentingan lainnya
mereka
harus memiliki kesempatan untuk menyampaikan
saran dan pendapat ketika semua alternatif masih
terbuka. Dengan demikian, pengkajian KRP harus
mengalokasikan ruang dan waktu yang cukup
agar saran dan pendapat yang dikemukakan para
pemangku kepentingan dapat dipertimbangkan
dalam pelaksanaan KLHS dan/atau KRP yang dikaji.
A.2.7 Apakah masyarakat dan pemangku kepentingan yang relevan mempunyai kesempatan untuk memberikan komentar
dan masukan selama proses KLHS?
Sesuai dengan pengertian KLHS yang bersifat
partisipatif, maka sangat penting semua stakeholders
yang berkaitan/relevan berkesempatan memberikan
komentar dan masukan dalam proses KLHS. Tidak
perlu dalam semua proses KLHS (yaitu mulai
dari penapisan, sampai dengan pelingkupan
kajian, analisis kondisi lingkungan hidup wilayah
dan dampak, hingga penyusunan rekomendasi
perbaikan KRP dan dokumentasi KLHS). Namun,
sangat disarankan untuk membuka proses KLHS
kepada semua pemangku kepentingan paling sedikit
dalam tahap pelingkupan dan sebelum dokumentasi
KLHS difinalkan. Cara dan bagaimana konsultasi
dengan pemangku kepentingan mungkin dapat
berbeda secara signifikan (pertemuan, diskusi, media
elektronik, media masa, mendistribusikan informasi
tercetak, dll.) dan harus direncanakan dengan hatihati sejak permulaan proses KLHS.

18

A.2.8 Apakah informasi/dokumen KLHS dapat


diakses melalui media masa?
Dasar Pemikiran: Menggunakan media masa
merupakan satu cara yang biasa untuk memberikan
akses terhadap informasi, dokumen atau, laporan
yang yang relevan dari KLHS (misalnya, informasi
tentang lokakarya publik, informasi bahwa
pelingkupan atau dokumentasi KLHS tersedia di
kantor lembaga pembuat KRP, dll.). Hal ini akan
memungkinkan untuk mendapatkan masukan dari
publik umum.
A.2.9 Apakah pembuat KRP melakukan konferensi
pers dan/atau pengumuman publik untuk
mensosialisasikan atau mengumumkan
dokumentasi KLHS kepada publik untuk
mendapatkan komentar?
Dasar Pemikiran: Lembaga pemerintah pembuat
KRP perlu aktif dalam memperoleh masukan atau
komentar terhadap dokumentasi KLHS (sebagaimana
disebutkan di atas, menggunakan media masa dapat
dipertimbangkan sebagai salah satu cara). Membuka
kesempatan untuk memberikan komentar dan
masukan terhadap pendokumentasian KLHS, akan
memberikan kesempatan untuk mendapatkan
masukan terhadap KLHS sebelum diajukan (bersama
dengan KRP) untuk pengambilan keputusan.
Mengkonsultasikan KLHS akan meyakinkan bahwa
setiap isu atau dampak yang penting tidak ada
yang terlewat dan karena itu dapat berkontribusi
terhadap transparansi dan kredibilitas proses KLHS
(dan demikian pula pengambilan keputusan).
A.3 Identifikasi Isu Pembangunan Berkelanjutan
A.3.1 Apakah isu-isu strategis lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan yang
diidentifikasikan dilengkapi dengan penjelasan (seperti sebab dan akibat, tingkat
keseriusan dan lokasinya)? Jika demikian,
jelaskan.
Dasar Pemikiran: Berbagai macam kebijakan,
rencana, dan/atau program mengandung konsekuensi tertentu terhadap lingkungan dan
pembangunan berkelanjutan (misalnya, rencana
pengembangan transportasi mempunyai dampak
yang berbeda terhadap lingkungan hidup
[keanekaragaman hayati, fragmentasi habitat,
kebisingan, dll). Oleh karena itu, pelingkupan
permasalahan yang akan dibahas perlu dilakukan
dengan tepat sebagai salah satu prasyarat dasar

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

agar penyelenggaraan KLHS dapat berlangsung


secara efisien. Apabila identifikasi isu yang akan
dibahas dapat dilaksanakan dengan baik, maka hal
ini akan membantu untuk memfokuskan pekerjaan
sesuai dengan kapasitas tenaga ahli, waktu dan
anggaran yang tersedia kepada aspek-aspek yang
sangat penting untuk mengelola lingkungan dan
mengembangkan sosio ekonomi di daerah atau
sektor terkait pada masa depan. Penentuan isuisu strategis dilakukan dengan memperhatikan
karakteristik utama dari wilayah yang dicakup KRP
(misalnya, kondisi lingkungan, permasalahan sosialbudaya, dll.) serta sifat dan isi KRP (misalnya, rencana
pembangunan wilayah, rencana pembangunan
sektoral). Daftar isu-isu strategis harus didiskusikan
seoptimal mungkin dengan perencana serta
pemangku kepentingan lainnya.

negara. Jika KRP dikeluarkan untuk dijadikan dasar


pembangunan provinsi, maka wilayah pengaruhnya
mencakup wilayah provinsi yang bersangkutan,
dan seterusnya untuk kabupaten atau kota. Namun,
wilayah pengaruh terhadap lingkungan mungkin
akan berbeda secara signifikan dengan wilayah
pengaruh yang ditimbulkan oleh pelaksanaan KRP.
Wilayah pengaruh terhadap lingkungan mungkin
hanya bersifat lokal (misalnya, areal hutan kecil
dengan keanekaragaman tanaman yang unik). Di
pihak lain, wilayah pengaruh terhadap lingkungan
dapat melampaui batas administrasi provinsi atau
bahkan negara (misalnya, dalam hal pencemaran
air dan polusi udara). Oleh karena itu, dengan
memperhatikan isi KRP dan karakteristik lingkungan
hidup daerah, pada tahap awal pelaksanaan KLHS
harus ditentukan wilayah pengaruh yang akan dikaji
dalam KLHS. Penentuan wilayah pengaruh dari

Kotak 6
Contoh evaluasi
Pertanyaan:

Apakah isu-isu kunci lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan dibahas


dengan jelas dalam KLHS?

Telaahan deskriptif:

Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup


menggariskan bahwa KLHS memuat enam kajian lingkungan,yang antara lain
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. Dengan memperhatikan karakteristik
wilayah dan nilai keanekaragaman hayati yang unik, pada tahap awal proses KLHS
seharusnya telah diidentifikasikan secara rinci isu perlindungan keanekaragaman
hayati, dan yang seharusnya telah ditindaklanjuti dalam proses KLHS dengan kajian
yang lebih dalam.

Penilaian:

Hanya sebagian isu lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan telah dibahas


dalam KLHS.

Catatan:

KLHS membahas hanya enam kriteria yang ditentukan oleh Undang-undang


Perlindungan dan Pengelolaan Lingkunan hidup dan dengan demikian aspek
penting dari perlindungan keragaman hayati telah terabaikan.

A.3.2 Apakah ruang lingkup wilayah KLHS (yaitu


kawasan yang mungkin akan terkena
pengaruh KRP) termasuk lokasi di luar
batas administratif dideskripsikan?
Dasar Pemikiran: Biasanya, suatu KRP dengan
sendirinya telah menentukan wilayah di mana
pelaksanaan KRP berlaku atau mempunyai
pengaruh (yang selanjutnya disebut wilayah
pengaruh) menurut batasan administratif. Jika
KRP dikeluarkan untuk kepentingan nasional, maka
wilayah pengaruhnya mencakup seluruh wilayah

masing-masing isu strategis menjadi dasar untuk


menjelaskan ruang lingkup wilayah KLHS secara
keseluruhan.
A.3.3 Apakah deskripsi isu strategis lingkungan
hidup / pembangunan berkelanjutan telah
didukung oleh data, informasi dan analisis
yang sesuai?
Dasar Pemikiran: Isu-isu strategis lingkungan
dalam pembangunan berkelanjutan bukanlah
dibangun berdasarkan angan-angan atau rekaan

19

semata oleh penelaah KLHS, namun harus berdasarkan


bukti empiris yang ada data-datanya, informasi yang
memadai, dan suatu kajian atau analisis lingkungan.
Isu-isu strategis lingkungan tersebut bisa didasarkan
pada pasal 16 UU32/2009 ataupun terbuka sesuai
dengan pandangan stakeholders dalam berkonsultasi
dengan penelaah KLHS. Dengan bukti empiris
isu strategis dapat dipahami lebih mudah karena
kecenderungan dampak kumulatif yang akan terjadi
di waktu mendatang setelah KRP diputuskan lebih
mudah diidentifikasi dan dianalisis untuk dapat
disusun pengelolaannya.
A.3.4 Apakah diterangkan dengan jelas bagaimana isu strategis telah didefinisikan?
Dasar Pemikiran: Penjelasan gamblang pendefinisian secara benar isu-isu strategis berdasarkan
bukti empiris atau data yang memadai diperlukan
agar dampak KRP terhadap lingkungan menjadi
terarah serta pengelolaan dampak menjadi jelas dan
mudah. Penjelasan yang gamblang dan benar sangat
terbantu dengan data dan informasi yang lengkap
dan terkait dengan isu-isu strategis. Penjelasan akan
lebih mudah dipahami bila uraiannya disusun dengan
berbagai perhitungan ilmiah secara kuantitatif atau
ilustrasi/gambar atau analogi dari kejadian di tempat
lain yang ekosistemnya mirip atau sama.
A.3.5 Apakah tujuan yang relevan untuk isu-isu
strategis pembangunan berkelanjutan diidentifikasi dan dijelaskan?
Dasar Pemikiran: Isu strategis lingkungan
hidup/pembangunan berkelanjutan yang dipilih
perlu didukung oleh tujuan yang ingin dicapai
dari dokumen formal yang ada (misalnya, UndangUndang, kebijakan nasional atau provinsi, perjanjian
internasional, dll.). Hal ini adalah untuk membuktikan
bahwa, isu-isu yang diidentifikasi itu mencakup yang
strategis dan penting.
A.3.6 Jika ada isu tertentu yang diabaikan dalam
pelaksanaan KLHS, apakah diberikan dan
dijelaskan alasannya?
Dasar Pemikiran: Seperti telah diuraikan dalam
bagian sebelumnya, setiap KLHS adalah spesifik.
KLHS akan berdayaguna jika penelaahan terkait
dengan isu-isu lingkungan hidup / pembangunan
berkelanjutan yang paling relevan. Akan tetapi, jika
ada isu tertentu disisihkan dari penelaahan, maka
harus diberikan dan dijelaskan penjelasannya. Daftar

20

isu strategis yang akan dibahas harus disepakati


dengan sebaik-baiknya di antara para pemangku
kepentingan utama.
A.4 Identifikasi KRP
A.4.1 Apakah obyek dari kajian (yaitu KRP)
didefinisikan dengan jelas?
Dasar Pemikiran: KLHS seharusnya memberikan
masukan dalam perencanaan/pembuatan KRP dan
pengambilan keputusan yang terkait. Mengkaitkan
KLHS secara jelas dengan dokumen strategis tertentu
(rencana, program atau kebijakan) memungkinkan
untuk mengevaluasi pengaruh yang mungkin
dari dokumen dan dengan demikian memberikan
rekomendasi perubahan dan saran-saran untuk
dipertimbangkan, ketika menyetujui KRP. Karena
itu sebelum memulai proses KLHS, objek dari kajian
(misalnya kebijakan nasional, rencana pembangunan
provinsi, rencana tata ruang, dll.) harus didefinisikan
dengan jelas.
A.4.2 Apakah maksud dan tujuan dari KRP yang
ditelaah dikemukakan dengan jelas?
Dasar Pemikiran: Sebagaimana disebutkan
di atas, KLHS dilaksanakan terfokus terhadap KRP
tertentu (yang merupakan obyek KLHS). Pemaparan
maksud dan tujuan dari pembuatan KRP akan
memandu identifikasi isu-isu strategis, yang mungkin
dipengaruhi oleh KRP dan yang harus dibahas oleh
KLHS.
A.4.3 Apakah ada penjelasan mengenai proses
KRP?
Dasar Pemikiran: Uraian dan analisis mengenai
proses perencanaan yang akan ditempuh menjadi
dasar untuk merancang langkah-langkah pelaksanaan
proses KLHS, untuk memaksimalkan keterkaitan
antara persiapan KRP dengan KLHS. Informasi
mengenai proses perencanaan juga harus dibagi
dengan masyarakat dan pemangku kepentingan
yang relevan supaya mereka dapat memahami cara
pendekatan terhadap pelaksanaan proses KLHS.
A.4.4 Apakah bagian-bagian dari KRP yang
mempunyai dampak strategis lingkungan
hidup diidentifikasikan dan dijelaskan?.
Dasar Pemikiran: Identifikasi bagian dari KRP
yang mempunyai kemungkinan dampak terhadap
lingkungan hidup adalah penting untuk langkah KLHS
selanjutanya yang efisien. Ini memungkinkan untuk

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

memfokuskan usaha dan sumber daya yang tersedia


pada komponen KRP yang potensial signifikan dari
sudut pandang dampaknya. Dengan pertimbangan
bahwa biasanya struktur KRP di Indonesia agak rumit,
adalah penting untuk menangani semua tingkat
dari KRP yaitu dari prioritas dan tujuan kebijakan,
tindakan, sampai dengan kegiatan pembangunan
tertentu dan proyek. Langkah ini harus melibatkan
analisis permulaan dari dampak potensial, yang harus
diikuti dengan evaluasi lebih rinci dalam langkah
KLHS selanjutnya. Lebih jelas uraian bagian KRP yang
mempunyai dampak terhadap lingkungan hidup
akan mengarah pada evaluasi yang lebih mudah
dan rinci terhadap dampak dan dengan demikian
pada tindakan yang lebih akurat dan terfokus untuk
mengelola dampak ini.
A.5 Telaahan Pengaruh KRP terhadap Kondisi
Lingkungan Hidup di Suatu Wilayah
A.5.1 Apakah aspek berikut ditangani dalam
evaluasi?
a. kapasitas daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup untuk pembangunan;
b. perkiraan mengenai dampak dan risiko
lingkungan hidup;
c. kinerja layanan/jasa ekosistem;
d. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
e. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi
terhadap perubahan iklim;
f. tingkat
ketahanan
dan
potensi
keanekaragaman hayati ;
g. kajian lainnya (tergantung pada karakteristik
wilayah, kondisi dan isu pembangunan
berkelanjutan serta muatan kebijakan,
rencana, dan/atau program)
Dasar Pemikiran: Aspek-aspek dalam daftar
tersebut di atas diuraikan dalam Pasal 16 UndangUndang 32/2009, yang memberikan panduan untuk
lingkup minimal KLHS. Namun, secara optimal
kajian harus tidak terbatas hanya pada aspek-aspek
di atas, tetapi menangani semua isu yang relevan
dari KRP yang dikaji (dengan mempertimbangkan
situasi dalam sektor atau wilayah tertentu, masalah
lingkungan hidup yang penting, dll.).
A.5.2 Apakah kondisi lingkungan hidup wilayah
(baseline) dari isu strategis pembangunan
berkelanjutan dijelaskan?
Dasar Pemikiran: KLHS harus mengidentifikasi
isu-isu lingkungan yang penting dan masalah

yang perlu dibahas dalam penelaahan. Penjelasan


tentang status lingkungan hidup yang ada di wilayah
pengaruh KRP menjadi dasar dalam pelaksanaan
tahapan proses KLHS selanjutnya.
A.5.3 Apakah perkembangan kecenderungan
pada masa lalu hingga saat ini dianalisis
untuk isu-isu strategis?
Dasar Pemikiran: KLHS harus mengkaji pengaruh
KRP terhadap kondisi lingkungan hidup pada masa
depan. Dalam hubungan ini, perkiraan perkembangan
lingkungan hidup pada masa yang akan datang
dilakukan melalui analisis kecenderungan yang
terjadi pada masa lalu.
A.5.4 Jika hal tersebut di atas dilakukan, apakah penggerak utama (yaitu faktor yang
mempengaruhi kecenderungan) diidentifikasi?
Dasar Pemikiran: Pembangunan dipengaruhi
oleh sejumlah faktor. Perekonomian nasional selain
tergantung pada kinerja bisnis dan kualitas sumber
daya manusia, juga dapat sangat dipengaruhi oleh
pasar global. Demikian pula halnya dengan kualitas
udara, yang selain ditentukan oleh kondisi iklim
setempat dan karakteristik bentang alam, dll., juga
dapat dipengaruhi oleh transportasi, pengembangan
industri, atau penegakan hukum. Dikenalinya peng
gerak utama perubahan memungkinkan untuk
dilakukannya estimasi yang lebih tepat terhadap
pembangunan di masa depan. Berdasarkan
perubahan yang diharapkan dari faktor penggerak
(intensitas transportasi, pengembangan industri,
pelaksanaan peraturan baru) evolusi kualitas udara
pada masa yang akan datang dapat dijelaskan.
Kotak 7 di bawah memberikan contoh identifikasi
penggerak utama perubahan14.
A.5.5 Apakah kecenderungan isu-isu strategis
pada masa depan tanpa diterapkannya
suatu KRP dianalisis?
Dasar Pemikiran: Seperti disebutkan di atas,
KLHS harus mengkaji bagaimana implementasi
KRP dapat mempengaruhi perkembangan di masa
depan. Namun, hal ini tidak dapat dilakukan tanpa
diketahuinya kemungkinan perkembangan yang
terjadi secara evolusi pada masa depan tanpa
14 Diangkat dari Rapid Environmental Assessment for Coastal
Development in Jakarta Bay, Final Report, June 2011 (DHI Water
& Environment (S) Pte. Ltd.)

21

Kotak 7
Identifikasi penggerak utama: Penilaian Lingkungan Hidup secara Cepat terhadap
Pembangunan Pesisir di Teluk Jakarta
Jumlah nelayan di DKI Jakarta pada tahun 2009 adalah 18.947 orang; yang terdiri atas 2.366 pemilik perahu
dan 16.581 buruh. Berdasarkan status kependudukan dari 18.947 nelayan, terdapat 10.268 nelayan setempat
dan 8.678 nelayan pendatang.
Tingginya populasi nelayan berakibatkan terhadap keterbatasan fasilitas umum dan perumahan bagi para
nelayan, sehingga sisi kanal digunakan untuk menambat kapal dan permukiman informal.
Namun, jumlah nelayan dan perahu menurun. Keadaan ini terkait dengan beberapa isu:
a) Fragmentasi areal penangkapan ikan menyebabkan biaya operasi meningkat, sehingga menangkap
ikan tidak lagi menjadi pekerjaan yang menarik bagi sebagian besar nelayan;
b) Kenaikan harga BBM juga menyebabkan biaya operasi yang lebih tinggi, sehingga beberapa nelayan
beralih profesi menjadi pedagang, sopir, pekerja pabrik, dan pengemudi ojek;
c) Tingginya biaya pemeliharaan, sehingga banyak kapal rusak dan tidak dapat dioperasikan;
d) Kapal nelayan beralih-fungsi menjadi sarana transportasi umum seperti kapal pengangkut barang dan
kapal penumpang.

menerapkan KRP atau sering disebut sebagai


business as usual atau skenario nol. Berdasarkan
analisis sebelumnya (status lingkungan hidup yang
ada, analisis kecenderungan masa lalu, identifikasi
penggerak utama perubahan), KLHS harus
memperkirakan dan menjelaskan kemungkinan
pembangunan masa depan untuk isu-isu kunci
lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan,
yang diidentifikasi dalam tahap pelingkupan.
Kotak 8 memberikan panduan pertanyaan, yang
perlu dibahas dalam analisis kondisi lingkungan
hidup wilayah (baseline analysis)15.
A.5.6 Apakah wilayah yang lebih luas daripada
batas-batas administrasi atau fisik dari
wilayah pengaruh KRP dipertimbangkan
dalam analisis?
Dasar Pemikiran: Wilayah di mana suatu KRP
berlaku (wilayah dimaksud dapat meliputi wilayah
negara, provinsi, kabupaten, atau kota) lazimnya
terdefinisikan secara jelas dalam KRP itu sendiri.
Meskipun demikian, pengaruh dari KRP mungkin
melampaui batas-batas wilayah administrasi.
Sebagai contoh, kualitas air di suatu kabupaten
dapat dipengaruhi oleh perkembangan industri atau
pertanian di kabupaten lain yang terletak di hulu.
Oleh karena itu, KLHS perlu juga mempertimbangkan
15 A Practical Guide to the Strategic Environmental Assessment
Directive, UK, Office of the Deputy Prime Minister, 2005 dan
berbagai tulisan Jiri Dusik yang tidak dipublikasikan.

22

dampak yang lintas batas, sehingga analisis yang


dilakukan untuk menelaah kondisi lingkungan hidup
wilayah (baseline analysis) seharusnya tidak dibatasi
oleh batas administratif dan fisik dari KRP.
A.5.7 Apakah urusan dan masalah utama
yang berkaitan dengan isu-isu strategis
dinyatakan dengan jelas?
Dasar Pemikiran: Analisis kondisi lingkungan
wilayah (baseline) harus dapat mengidentifikasi
masalah utama lingkungan hidup/pembangunan
berkelanjutan yang ada di daerah yang akan dibahas
dalam KLHS. Jika memungkinkan, masalah ini harus
dilokalisir. Sebagian masalah lingkungan hidup
mungkin relevan bagi seluruh wilayah, sedangkan
sebagian lainnya hanya untuk area tertentu yang
lebih kecil daripada wilayah.
A.5.8 Bila demikian, apakah dijelaskan jika
urusan dan masalah utama tersebut dapat
dipengaruhi oleh KRP?
Dasar Pemikiran: Biasanya, tidak semua masalah
lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan
yang ada dan diidentifikasi melalui analisis kondisi
lingkungan hidup wilayah (baseline) dapat pengaruhi
oleh KRP. Sebagai contoh, masalah pengelolaan
sampah kota tidak dapat dipengaruhi oleh rencana
prasarana transportasi. Oleh karena itu, KLHS harus
difokuskan terutama pada isu-isu dan masalah yang
dapat dipengaruhi oleh KRP, sehingga dampak dari

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Kotak 8:
Pertanyaan untuk dibahas dalam analisis kondisi lingkungan hidup wilayah (baseline)



Seberapa baik atau burukkah kondisi lingkungan hidup saat ini? Apakah kecenderungan menunjukkan
bahwa kondisinya semakin baik atau lebih buruk?
Kekuatan penggerak utama apa yang mempengaruhi kecenderungan? Apakah penggerak utama itu
dapat dipengaruhi oleh KRP (jika demikian, bagaimana)?
Seberapa jauh kondisi saat ini dibandingkan dengan ambang yang ditetapkan atau sasaran kualitas
lingkungan hidup yang ingin dicapai?
Apa unsur-unsur sangat sensitif atau penting dari lingkungan hidup terkena dampak (misalnya,
kelompok masyarakat rentan, sumber daya alam tak terbarukan, spesies yang terancam punah, habitat
langka)
Apakah masalah yang ada dapat dibalikkan atau tidak dapat diubah, permanen atau sementara?
Bagaimana tingkat kesulitan untuk mengimbangi atau memperbaiki kerusakan?
Apakah ada pengaruh yang bersifat kumulatif atau sinergis yang signifikan dari waktu ke waktu?
Apakah pengaruh seperti itu diperkirakan akan ada pada masa depan?

pelaksanaan KRP terhadap kondisi lingkungan hidup


dapat dibahas secara efektif dalam KLHS.
A.5.9 Apakah KLHS dari KRP mempertimbangkan
data dan informasi dari KRP lain yang
terkait (dan KLHS-nya)?
Dasar Pemikiran: KRP, yang merupakan obyek
KLHS, pada umumnya merupakan bagian dari sistem
perencanaan pembangunan kewilayahan atau
sektoral secara keseluruhan. Hal ini berarti bahwa,
KRP yang ditelaah harus dikaitkan dengan KRP
lainnya, yang secara hirarkhis lebih tinggi (misalnya,
kebijakan nasional untuk program sektoral),
yang tingkatannya sama (misalnya, KRP sektoral
lainnya), atau yang tingkat pengaturannya berada
di bawahnya (misalnya, Peraturan Daerah Provinsi
tentang pelaksanaan program sektoral nasional).
Analisis hubungan antara KRP obyek KLHS dan KRP
lainnya perlu mengidentifikasi kemungkinan sinergi,
konflik, inkonsistensi serta dampak potensial dari
KRP lainnya. Analisis ini harus dimuat dalam KLHS.
Analisis hubungan antara KRP obyek KLHS dan KRP
lainnya akan membantu untuk mengetahui sasaran
pengelolaan lingkungan hidup / pembangunan
berkelanjutan yang akan dibahas dalam KLHS. Kotak
9 menunjukkan cara pendekatan untuk menganalisis
keterkaitan antara KRP yang merupakan obyek KLHS
dan KRP lain.

A.5.10 Apakah konflik antara sasaran pengelolaan lingkungan hidup terhadap isu-isu
strategis dan tujuan KRP diidentifikasi dan
dijelaskan?
Dasar Pemikiran: KLHS perlu menganalisis
hubungan (baik yang mempunyai potensi bersinergi
atau yang menimbulkan konflik) antara tujuan
KRP dan tujuan pengelolaan lingkungan hidup/
pembangunan berkelanjutan untuk isu-isu kunci
yang didefinisikan pada tahap pelingkupan. Analisis
ini terkait dengan pertimbangan terhadap isu-isu
lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan
pada tingkat strategis dari KRP, yaitu tujuan
utama dan prioritas KRP akan mencerminkan isu
lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan
yang relevan. Dengan dilakukannya analisis ini, KLHS
dapat mengoptimalkan KRP dari sudut pandang
pembangunan berkelanjutan. Selain itu, KLHS dapat
memandu perumusan KRP lebih lanjut berkenaan
dengan saran pelaksanaan pembangunan yang
spesifik dan langkah-langkahnya.
A.5.11 Apakah dalam analisis KLHS dijelaskan
mengenai kemungkinan keterbatasan
data dan informasi yang tersedia dan
mengenai potensi yang terkait dengan
ketidakpastian?
Dasar Pemikiran: Pada umumnya, KLHS tidak
seharusnya dilaksanakan untuk mengumpulkan
data primer (kecuali untuk kasus tertentu yang
masalahnya sudah sangat jelas, misalnya, data
tentang dampak negatif terhadap keanekaragaman

23

Kotak 9
Pendekatan untuk analisis hubungan antara KRP yang ditelaah dan KRP lain
KRP yang mempunyai keterkaitan dengan KRP yang ditelaah, disusun dalam suatu daftar, dalam hal
bagaimana pengaruhnya satu sama lain (misalnya, KRP lain dapat berkontribusi pada pelaksanaan KRP
yang ditelaah, dan sebaliknya).
Selanjutnya, tujuan dan prioritas KRP lain harus dianalisis secara rinci:
a) Untuk mengidentifikasi tujuan utama dan prioritas, yang relevan dengan lingkungan hidup /
pembangunan berkelanjutan,
b) Untuk menggambarkan isu-isu lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan yang relevan dengan
tujuan dan prioritas yang diidentifikasikan tersebut di butir a, dan
c) Untuk mengevaluasi relevansi keseluruhan dari KRP yang ditelaah terhadap KRP lain dengan
menggunakan skala berikut:
Kekuatan dari
Keterkaitan

Penelaahan

Tinggi (3)

KRP lain dapat secara langsung mempengaruhi atau dipengaruhi KRP yang ditelaah

Sedang (2)

KRP lain dapat secara tidak langsung mempengaruhi atau dipengaruhi KRP yang ditelaah

Rendah (1)

KRP lain hanya dapat digunakan sebagai sumber data dan informasi

Tidak ada (0)

Analisis dapat distrukturkan ke dalam format sebagai berikut:


Sasaran dan Prioritas
Utama yang relevan
Kebijakan
- Untuk memperbaiki
transporttasi prasarana transportasi
nasional
- Untuk menunjang
pergerakan masyara
kat di perkotaan
KRP

RTRW
provinsi

- Untuk mengidentifi
kasi kawasan perun
tukan pembangunan
- perumahan
- industri

Isu-isu yang relevan


- Kualitas udara
- Fragmentasi bentang
darat
- Efisiensi energi di
bidang transportasi
- Kesehatan
masyarakat
- Degradasi tanah
- Konsumsi air
- Pencemaran air
- Mata pencaharian
penduduk setempat

tanaman di suatu areal tertentu, di mana hasil


identifikasi memperlihatkan bahwa data dimaksud
tidak tersedia). Analisis kondisi lingkungan hidup
wilayah (baseline) harus didasarkan atas data yang
sudah tersedia baik data hasil pemantauan maupun
data yang ada di berbagai dokumen. Dokumendokumen ini dapat berasal dari dokumen KRP lain
di sektor yang sama atau dokumen KRP lain yang
mencakup wilayah yang sama atau dokumen lain
seperti status lingkungan hidup daerah, dokumentasi
KLHS terdahulu, dokumen KLHS dan AMDAL, rencana
pengelolaan lingkungan, dokumen ilmiah dan hasil
penelitian. Informasi kondisi lingkungan hidup

24

Relevansi
keseluruhan

Keterangan
Sasaran dan prioritas kebijakan
transportasi nasional dapat
secara langsung dilaksanakan
melalui program di tingkat
provinsi.

RTRW provinsi dapat ber


kontribusi dalam pencapaian
sasaran KRP, terutama yang
terkait dengan pengentasan
kemiskinan.

wilayah (baseline) dapat bersifat kuantitatif atau


kualitatif, dan sering berguna untuk menggabungkan
kedua jenis informasi. Namun, informasi kualitatif
perlu didukung dengan keterangan mengenai bukti
alasannya.
Data dan informasi yang tidak tersedia serta
adanya faktor ketidakpastian harus didokumen
tasikan secara jelas dalam hasil analisis kondisi
lingkungan hidup wilayah (baseline). Tidak tertutup
kemungkinan bahwa, data dan informasi yang
diperlukan, tetapi tidak tersedia ketika itu dapat
diperoleh pada tahap proses KLHS selanjutnya dari
instansi perencanaan, instansi lingkungan hidup

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

atau pemangku kepentingan lain yang terlibat.

dampak KRP16.

A.5.12 Apakah seluruh dampak KRP terhadap


isu-isu penting lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan dievaluasi dalam
pengkajian?
Dasar Pemikiran: Ketika menentukan isuisu penting lingkungan hidup/pembangunan
berkelanjutan dalam tahap pelingkupan, maka
KLHS harus menetapkan ruang lingkup pengkajian.
Pengkajian perlu membahas dampak KRP terhadap
semua isu-isu penting. KLHS perlu mengkaji
kecenderungan perubahan terhadap kondisi
lingkungan hidup wilayah (yang dihasilkan dari
analisis baseline) yang mungkin disebabkan oleh
pelaksanaan KRP dan pelaksanaan alternatif KRP.
Pengkajian harus dapat menjelaskan pengaruh
pelaksanaan KRP terhadap kemungkinan perubahan
dari pembangunan pada masa depan dalam hal

A.5.13 Apakah ada dampak dari isu lingkungan


hidup/pembangunan berkelanjutan yang
terabaikan dari evaluasi?
Dasar Pemikiran: KLHS perlu membahas
prakiraan dampak KRP terhadap semua isu-isu utama
lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan,
yang diidentifikasikan dalam tahap pelingkupan.
Daftar isu-isu akan berbeda kasus per kasus, namun
isu-isu berikut ini harus dipertimbangkan:
- Komponen lingkungan seperti iklim, udara, air,
tanah, keanekaragaman hayati, ekosistem dan
bentang alam;
- Permasalahan yang terkait dengan populasi
manusia, misalnya, kesehatan masyarakat,
aset yang material, kekayaan dan warisan
budaya (seperti warisan budaya arsitektur dan
peninggalan arkeologi), mata pencaharian

Kualitas Lingkungan Hidup

Kotak 10
Pengaruh Pelaksanaan KRP

Berdampak
positif

Evolusi tanpa
implementasi
KRP

Berdampak
negatif

Awal
implementasi
KRP

Waktu

besaran pengaruh, skala geografis pengaruh,


jangka waktu kapan pengaruh akan terjadi, apakah
pengaruh bersifat tetap/permanen atau sementara/
temporer, positif atau negatif, mungkin terjadi atau
tidak, sering atau jarang, dan apakah atau tidak ada
efek sekunder, kumulatif dan/atau sinergis.
Kotak 10 menggambarkan bagaimana memahami

masyarakat setempat;
- Persoalan pembangunan berkelanjutan yang
lebih luas, misalnya, masalah efisiensi energi,
penggunaan sumber daya terbarukan dan
tidak terbarukan, adaptasi terhadap perubahan
iklim, kebutuhan transportasi, aksesibilitas dan
mobilitas.
16 Diadaptasi dari Wathern P. (1988): An introductory Guide
to EIA in Wathern P(ed) Environmental Impact Assessment:
Theory and Practice (pp. 1 28) Routledge, London.

25

A.5.14 Jika demikian, apakah diberikan alasannya?


Dasar Pemikiran: Jika dampak pada isu tertentu
belum dikaji (misalnya, karena tidak relevan atau
tidak signifikan), maka KLHS harus dengan jelas
menerangkan mengapa diputuskan demikian dan
penjelasan ini diperkuat dengan data dan informasi
yang relevan.
A.5.15 Apakah dampak positif dan negatif keduanya dipertimbangkan?
Dasar Pemikiran: Kemungkinan adanya dampak
positif tidak boleh diabaikan. Hasil pengkajian
atas dampak positif akan mendasari pemberian
saran tindak untuk memperkuat dampak positif
KRP terhadap lingkungan hidup/pembangunan
berkelanjutan.
A.5.16 Apakah dampak sekunder atau turunan
dipertimbangkan dalam pengkajian?
Dasar Pemikiran: KLHS tidak harus difokuskan
hanya pada dampak langsung, tetapi juga perlu
membahas dampak sekunder yang mungkin terjadi
sebagai akibat dari implementasi KRP. Dampak
sekunder dapat didefinisikan sebagai perubahan
tidak langsung atau perubahan yang diinduksikan
kepada lingkungan hidup, populasi, pertumbuhan
ekonomi dan penggunaan lahan dan dampak
lingkungan hidup lainnya yang dihasilkan dari
perubahan penggunaan lahan penduduk, populasi
dan pertumbuhan ekonomi. Atau sebagai, pengaruh
yang potensial terjadi dari kelanjutan perubahan
yang mungkin berlangsung dalam waktu yang akan
datang atau di tempat yang berbeda sebagai hasil
dari pelaksanaan tindakan tertentu17.
A.5.17 Apakah dampak kumulatif dipertimbangkan dalam pengkajian?
Dasar Pemikiran: Dibandingkan dengan AMDAL,
KLHS memiliki potensi yang lebih tinggi untuk
mengatasi dampak kumulatif yaitu dampak yang
dihasilkan dari perubahan secara bertahap oleh
tindakan pada masa lalu, sekarang atau tindakan lain
yang akan dilakukan bersama-sama dengan usulan
pembangunan. Dampak kumulatif dapat dihasilkan
dari tindakan yang secara individual kecil-kecil
tetapi secara kolektif dalam suatu periode menjadi

17 Sadler, B., McCabe, M. (2002): Environmental Impacts


Assessment Training Resource Manual (UNEP)

26

signifikan18.
A.5.18 Apakah karakteristik dampak (keadaan,
signifikansi, probabilitas, lingkup dan
jangkauan, frekuensi dan durasi, keterbalikkan/reversibility) dijelaskan?
Dasar Pemikiran: Ketika mengidentifikasi
dampak, KLHS harus menjelaskan secara rinci
karakter dampak yaitu keadaan, signifikansi,
probabilitas, lingkup dan jangkauan, frekuensi dan
durasi, keterbalikkan (reversibility).
A.5.19 Apakah dampak dikuantifikasikan jika
mungkin?
Dasar Pemikiran: Meskipun disebut strategis,
tidak berarti bahwa KLHS tidak perlu mengkuantifi
kasikan dampak jika karakter KRP memungkinkan
untuk dilakukannya kuantifikasi itu. Perencanaan tata
ruang pada tingkat lokal, yang dapat memberikan
informasi yang cukup spesifik (tentang lokasi atau
ukuran dari yang diusulkan) untuk mengkuantifikasi
dampakyang mungkin, sedangkan penelaahan
terhadap dokumen strategis yang lebih umum
(misalnya, kebijakan nasional), biasanya pengkajian
dampak dilakukan secara kualitatif. Meskipun
demikian, kualitatif tidak berarti menebak. Prediksi
perlu didukung oleh bukti seperti referensi hasil
penelitian, diskusi atau konsultasi yang digunakan
Pelaksana KLHS dalam menyimpulkan hasil
pengkajian dampak.
A.5.20 Apakah pengkajian dampak didukung
oleh perhitungan, contoh, referensi kepada
kepustakaan nasional dan internasional
dll.?
Dasar Pemikiran: Dokumentasi KLHS menyajikan
hasil pengkajian dampak serta saran yang harus
dilandasi oleh data dan informasi yang tepat dengan
didukung oleh berbagai contoh, referensi serta ilustrasi
grafis (peta, grafik), dll. yang perlu dijelaskan dalam
dokumentasi KLHS. Penyajian dokumentasi seperti
ini merupakan upaya agar instansi perencanaan atau
pembuat KRP dan pemangku kepentingan lain tidak
enggan untuk mempertimbangkan hasil pengkajian
dan saran oleh KLHS, karena tidak mengetahui dasardasarnya.

18 Sadler, B., McCabe, M. (2002): Environmental Impacts


Assessment Training Resource Manual (UNEP)

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

A.5.21 Apakah metode yang digunakan untuk


mengkaji dampak dijelaskan?
Dasar Pemikiran: Metode, pendekatan, teknik
dan alat yang digunakan untuk mengkaji dampak
harus disampaikan dengan jelas. Apabila hal-hal
tersebut tidak disampaikan dengan jelas, maka
mungkin saja instansi perencanaan atau pemangku
kepentingan lainnya akan mengabaikan kesimpulan
hasil pengkajian.
A.5.22 Apakah potensi ketidakpastian dalam
pengkajian dampak dijelaskan?
Dasar Pemikiran: Sebagaimana halnya dalam
berbagai kasus (serta analisis lainnya dalam KLHS),
pengkajian dampak dibebani dengan ketidakpastian
yang disebabkan oleh data yang tidak tersedia dalam
laporan status lingkungan hidup dan informasi yang
tidak lengkap tentang usulan pembangunan dan
tindakan yang diajukan oleh KRP, dll. Oleh karena
itu, Pelaksana KLHS harus menerangkan dengan
jelas adanya faktor ketidakpastian serta memberikan
alasan tentang asumsi yang digunakan ketika
melakukan pengkajian dampak (misalnya, dengan
skenario terbaik dan terburuk, mengemukakan
contoh-contoh dampak dari kegiatan serupa di
daerah/negara lain, referensi kepustakaan, dll).
B. Perumusan Alternatif Penyempurnaan KRP
B.1 Apakah semua alternatif yang diusulkan
oleh KRP dikaji?
Dasar Pemikiran: Ada berbagai alternatif, yang
dapat disarankan oleh KRP yang mencakup alternatif
dari tujuan dan prioritas, skenario pembangunan,
langkah-langkah alternatif. KRP dapat mengusulkan
lokasi yang berbeda untuk usulan pembangunan
tertentu atau cara yang berbeda dari implementasinya
dapat dielaborasi. KLHS seharusnya mengevaluasi
semua alternatif KRP, yang diusulkan setelah
itu alternatif yang optimal dari sudut pandang
lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan
dapat diidentifikasi dan direkomendasikan untuk
dilaksanakan. Berdasarkan evaluasi alternatif, KLHS
menyarankan perubahan yang diperlukan dari KRP,
yang dapat juga mencakup alternatif baru ( lihat
lebih lanjut Bagian C).
B.2 Apakah potensi timbulnya dampak dari
setiap alternatif dideskripsikan dengan
jelas?
Dasar Pemikiran: Semua dampak yang mungkin

signifikan perlu dideskripsikan untuk setiap alternatif


yang dikaji, sehingga memungkinkan untuk
melakukan perbandingan antara satu alternatif dan
yang lain dari sudut pandang kinerja lingkungan
hidupnya.
B.3 Apakah diberikan peringkat alternatif (bila
disarankan oleh KRP)?
Dasar Pemikiran: Pelaksanaan KLHS tidak hanya
untuk mengevaluasi KRP dan alternatifnya, melainkan
pula untuk merekomendasikan pilihan alternatif
yang optimal berdasarkan hasil evaluasi. Oleh karena
itu, KLHS harus dengan jelas menunjukkan alternatif
mana dari yang diajukan oleh KRP yang memiliki
kinerja lingkungan hidup / pembangunan berkelan
jutan yang lebih baik.
B.4 Apakah KLHS merekomendasikan alternatif
dengan kinerja lingkungan hidup/pembangunan berkelanjutan yang lebih baik
dibandingkan dengan alternatif yang
disarankan oleh KRP?
Dasar Pemikiran: Jika KLHS tidak dapat
merekomendasikan pilihan terhadap berbagai
alternatif yang disarankan KRP untuk dijabarkan lebih
lanjut atau disetujui, maka KLHS dapat mengusulkan
opsi baru. Namun, dalam kasus ini sangat penting
untuk mendiskusikan berbagai saran dari Pelaksana
KLHS dengan perencana/instansi pembuat KRP. Jika
diskusi ini tidak dilakukan, maka ada kemungkinan
besar bahwa, saran pelaksana KLHS akan ditolak.
B.5 Apakah ada alasan dan penjelasan mengenai
alternatif yang diabaikan atau yang dipilih?
Dasar Pemikiran: Instansi pembuat KRP harus
memberikan penjelasan mengapa alternatif tertentu
disisihkan atau dipilih. Jika tidak diberikan penjelasan,
maka KLHS perlu menghendaki agar penjelasan
dimaksud dapat diinformasikan.
C.

Rekomendasi Perbaikan KRP dan Pengintegrasian Hasil KLHS


C.1 Apakah rekomendasi didukung dengan
penjelasannya?
Dasar Pemikiran: Tujuan dari perumusan
rekomendasi adalah untuk meminimalkan kemungkinan dampak merugikan KRP dan meningkatkan
dampak positif. Oleh karena itu rekomendasi yang
diberikan oleh KLHS perlu jelas terkait dengan
dampak yang diidentifikasi. Untuk meningkatkan

27

kemungkinan bahwa rekomendasi akan diterima


oleh perencana dan / atau pengambil keputusan,
adalah penting untuk mempertimbangkan cara
pelaksanaan KRP dan konteks perencanaan secara
keseluruhan ketika merumuskan rekomendasi.
Rekomendasi dapat disusun dalam bentuk matriks
sederhana termasuk deskripsi singkat dari dampak,
langkah-langkah mitigasi yang disarankan dan
rekomendasi (termasuk kemungkinan alternatif dari
KRP).
C.2 Apakah rekomendasi KLHS didiskusikan
dengan pembuat KRP?
Dasar Pemikiran: Rekomendasi yang disarankan
oleh KLHS perlu dikomunikasikan dengan baik
dengan perencana (pembuat KRP), jika tidak, hal ini
sangat berisiko bahwa rekomendasi tersebut akan
diabaikan dan dengan demikian tujuan utama dari
KLHS (yaitu mengintegrasikan hasil KLHS dalam KRP
dan keputusan yang relevan) tidak akan tercapai
KLHS harus jelas menyebutkan (dalam dokumentasi
KLHS) rekomendasi mana yang telah diterima dan apa
yang merupakan alasan untuk menolak rekomendasi
tertentu (jika terjadi) misalnya karena sumber daya
terbatas.
C.3 Apakah kesimpulan dan rekomendasi yang
diberikan oleh KLHS diformulasikan secara
eksplisit?
Dasar Pemikiran: Berdasarkan pengkajian
dan analisis yang dilakukan, KLHS seharusnya
memberikan kesimpulan dan rekomendasi yang
perlu untuk dipertimbangkan dalam KRP yang dikaji
dan/atau dalam pengambilan keputusan. Kesimpulan
dan rekomendasi ini harus dirumuskan dengan jelas
dan menerangkan secara eksplisit tentang (a) apa
yang disarankan (misalnya, modifikasi tertentu dari
KRP yang dikaji, kondisi yang harus diperhatikan
oleh pengambil keputusan), (b) mengapa disarankan
(misalnya, untuk meminimalkan dampak negatif
tertentu), (c) tindakan apa yang diperlukan
(misalnya, memodifikasi tindakan tertentu dalam
KRP, memperhitungkan kondisi tertentu untuk
menerapkan tindakan dalam KRP), dan (d) siapa/
lembaga mana (misalnya, tim perencanaan, pembuat
keputusan, dll.) yang harus melakukan tindakan.

28

C.4 Apakah tindakan yang disarankan oleh


KLHS untuk mencegah, mengurangi dan/
atau mengimbangi dampak negatif yang
signifikan untuk semua dampak utama
diidentifikasi?
Dasar Pemikiran: Berdasarkan hasil pengkajian
dampak, KLHS harus menyarankan tindakan untuk
mencegah, mengurangi atau mengkompensasi
dampak negatif yang signifikan dan mengusulkan
langkah-langkah untuk meningkatkan dampak
positif. Bentuk dan karakter tindakan yang diusulkan
oleh KLHS tergantung pada jenis dampak yang
diidentifikan serta pada keadaan dan karakter KRP
yang ditelaah.
Kotak 11 memberikan contoh tindakan yang dapat
disarankan oleh KLHS.
C.5 Apakah institusi yang bertanggungjawab
untuk melaksanakan tindakan mitigasi ditetapkan?
Dasar Pemikiran: Pelaksana KLHS harus
mengkonsultasikan saran tindakan mitigasi kepada
instansi perencanaan (Pembuat KRP) serta dengan
pemangku kepentingan terkait lainnya yang relevan
(misalnya, instansi lingkungan hidup) dalam rangka
mencapai kesepakatan mengenai pelaksanaan
tindakan mitigasi. Sesuai dengan kesimpulan hasil
konsultasi, dokumentasi KLHS atau dokumen KRP itu
sendiri harus memuat penetapan pihak-pihak yang
bertanggungjawab untuk melaksanakan tindakan
mitigasi yang diusulkan.
C.6 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan
status mengenai saran dan rekomendasi
KLHS yang mana yang telah terintegrasi
dalam KRP (dalam hal KRP berubah karena
KLHS)?
Dasar Pemikiran: Situasi yang optimal adalah
bahwa, masukan KLHS sudah dipertimbangkan
ketika penyiapan KRP berlangsung, sehingga
masukan itu sudah terintegrasi ke dalam KRP pada
waktu KRP diajukan dalam prosedur pengambilan
keputusan. Di sisi lain, adalah wajar jika rekomendasi
dan saran-saran tertentu ditolak oleh pembuat
KRP, atau diintegrasikan hanya sebagian (misalnya,
karena untuk melaksanakan apa yang disarankan
KLHS, tindakan itu di luar jangkauan pembiayaan
KRP). Meskipun demikian, status akhir KLHS harus
dikomunikasikan kepada semua pemangku
kepentingan yang bersangkutan. Oleh karena itu,

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

Kotak 11
Contoh langkah-langkah mitigasi

Perubahan terhadap muatan KRP yang dikaji, dapat mencakup:


-

Modifikasi tujuan dan prioritas KRP untuk mengintegrasikan isu-isu lingkungan dan kesehatan yang
relevan ke dalam strategi dalam rangka pergeseran fokus dari rencana atau program lebih ke arah
pembangunan berkelanjutan (sebagai contoh, KLHS dapat menyarankan tujuan untuk mendukung
transportasi publik, jika rancangan rencana hanya ditujukan pada prasarana transportasi).

Modifikasi tindakan dan pembangunan tertentu yang diusulkan KRP, untuk meminimalkan atau
menghindari dampak negatif, misalnya, melalui alternatif cara pembangunan, perubahan lokasi
(misalnya, lokasi baru atau mengurangi area pembangunan), skala dan urutan/penjadwalan
waktu pembangunan (KLHS, misalnya, dapat mengusulkan agar rute jalan raya diatur kembali (rerouting)).

Modifikasi skema pelaksanaan: KLHS dapat menentukan batas-batas untuk pelaksanaan proyekproyek tertentu (misalnya, menetapkan daerah yang tidak dapat dimasuki), kriteria untuk memilih
proyek, dan/atau memberikan panduan terhadap penentuan ruang lingkup studi AMDAL untuk
proyek tertentu.

Saran untuk kompensasi (misalnya, penanaman hutan baru, memberikan kompensasi finansial kepada
orang-orang yang dimukimkan kembali, dll.)

Perubahan dalam regulasi, kerangka hukum dan/atau kelembagaan

Modifikasi KRP terkait lainnya yang relevan jika beberapa dampak tidak dapat dimitigasi melalui rencana
atau program yang dikaji.

Penetapan persyaratan prosedural terhadap tindak-lanjut KRP, misalnya, mengenai persoalan-persoalan


yang perlu dikaji dalam AMDAL untuk rencana pembangunan tertentu yang dirancang dalam KRP yang
dikaji, prioritas utama untuk rencana pengelolaan lingkungan, panduan desain untuk proyek tertentu,
dll.

dokumentasi KLHS harus memuat ringkasan tentang


semua saran dan rekomendasi terhadap KRP, yang
dihasilkan selama proses KLHS, dan menunjukkan
materi yang telah terintegrasi (dan bagaimana
materi terintegrasikan) dan materi yang telah ditolak
(beserta alasannya).
C.7 Apakah rekomendasi yang diberikan oleh
KLHS dipertimbangkan dalam proses
pengambilan keputusan KRP?
Dasar Pemikiran: Fungsi utama KLHS adalah
untuk memastikan bahwa pertimbangan lingkungan
hidup dan isu-isu pembangunan berkelanjutan
yang relevan diintegrasikan ke dalam pengambilan
keputusan strategis. Oleh karena itu, semua analisis,
evaluasi, konsultasi yang dilaksanakan dalam KLHS
dapat dilihat sebagai alat rekomendasi akhir perlu
diperkuat dan didukung oleh alat pelengkap yang
mendukung pertimbangan rekomendasi akhir yang
dibuat dalam rangka memperkuat sebanyak mungkin
rekomendasi diintegrasikan dalam KRP itu sendiri
dan dalam pengambilan keputusan yang relevan.

C.8 Jika beberapa rekomendasi belum terintegrasi, apakah dalam keputusan persetujuan terhadap rancangan akhir KRP
diberikan penjelasan?
Dasar Pemikiran: KLHS seharusnya memiliki
karakter
untuk
memberikan
rekomendasi
perbaikan, yang berarti bahwa kesimpulan hasil
KLHS harus dipertimbangkan meskipun tidak wajib
diintegrasikan dalam KRP dan/atau pengambilan
keputusan. Mungkin ada alasan yang sah untuk
tidak menerima hasil tertentu dari KLHS (misalnya,
karena pembatasan anggaran, kurangnya kapasitas,
atau hanya karena prioritas politik yang berbeda).
Meskipun demikian, alasan penolakan itu harus
dengan jelas diterangkan dan diuraikan. Alasan
untuk mengambil alternatif tertentu yang ada
di KRP juga harus dijelaskan (terutama bila KLHS
merekomendasikan alternatif lain).

29

Kotak 12: Konteks pelaksanaan KLHS pasca-ex-post


Tinjauan terhadap pelaksanaan KLHS yang berlangsung di Indonesia memperlihatkan bahwa, banyak KLHS
dilaksanakan sebagai pengkajian pasca ex-post yaitu KLHS dilakukan untuk KRP yang telah disetujui (yang
materi teknisnya telah diproses ke dalam naskah peraturan). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
pengaruh KLHS untuk memperbaiki KRP agak terbatas, dengan kemungkinan tidak mengubah (atau sedikit
mengubah) rencana pembangunan yang telah ditetapkan.
Uraian tentang pendekatan berikut ini mungkin dapat bermanfaat dalam keadaan tertentu.
Pertama, pertanyaan tentang fungsi yang diharapkan dari penyelenggaraan KLHS pasca-ex-post untuk
setiap kasus tertentu perlu diklarifikasi terlebih dahulu. Apakah penyelenggaraan KLHS hanya untuk
mengujipenerapan KLHS yang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan KRP? Apakah penyelenggaraan
KLHS berfungsi sebagai evaluasi masa pertengahan dari KRP? Jika demikian halnya, apakah hasil KLHS
masih akan dapat digunakan dalam pelaksanaan KRP yang sedang berjalan atau rekomendasi hasil KLHS
harusnya ditujukan pada siklus perencanaan berikutnya? Siapa yang kemudian menerima (atau akan
menerima) manfaat KLHS? Apakah pemerintahan pada saat ini (yang mungkin berganti setelah pemilu)
atau pemerintahan pada masa yang akan datang (yang tidak ada pada saat ini)? Siapa yang dapat menjamin
bahwa, hasil KLHS setidaknya akan dipertimbangkan jika tidak diterima?
Semua pertanyaan di atas dan mungkin banyak yang lainnya lagi harus didiskusikan dan diklarifikasi sebelum
KLHS untuk KRP yang telah disetujui mulai dilaksanakan. Akan lebih baik, jika kesimpulan yang relevan dari
hasil diskusi dan klarifikasi itu disusun dalam suatu pernyataan tertulis yang disiapkan oleh instansi pembuat
KRP dan terbuka untuk umum.
Selanjutnya, untuk meningkatkan peluang mengintegrasikan hasil KLHS ke dalam pelaksanaan KRP yang
sedang berjalan dan/atau perencanaan pembuatan KRP untuk masa yang akan datang, komunikasi yang
intensif dengan perencana dan pengambil keputusan adalah penting, karena tidak ada jaminan secara
formal bahwa, kesimpulan KLHS akan digunakan dalam praktiknya. Rekomendasi KLHS sangat mungkin
akan digunakan jika hasil KLHS ini selain dipandang bermanfaat oleh perencana dan pengambil keputusan,
juga memenuhi kebutuhan mereka.

C.9 Apakah KLHS menyarankan indikator-indikator untuk pemantauan dampak terhadap


lingkungan hidup?
Dasar Pemikiran: KLHS harus menunjukkan cara
bagaimana memantau pengaruh KRP terhadap isu-isu
lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan
selama tahap implementasi KRP. Hal ini diperlukan
untuk mengetahui apakah rekomendasi yng
diberikan KLHS untuk perbaikan KRP telah berjalan
sesuai yang direncanakan untuk pembangunan yang
berkelanjutan.
C.10 Jika demikian, apakah indikator-indikator
tersebut berdasarkan informasi kondisi
lingkungan hidup wilayah (baseline), indikator dan tujuan dari KRP dan/atau KLHS?
Dasar Pemikiran: Indikator dan kriteria yang akan
digunakan untuk pemantauan harus mencerminkan
isu-isu pokok yang dibahas KLHS. Misalnya, jika
pengkajian menyimpulkan bahwa kualitas udara
mungkin akan terpengaruh oleh pelaksanaan KRP,

30

maka KLHS harus menyarankan indikator yang


relevan. Instansi lingkungan hidup harus dikonsultasi
pada waktu menyusun sistem pemantauan untuk
KRP tertentu, karena sebaiknya pemantauan harus
didasarkan terutama pada indikator yang sudah
ada dan sistem yang berlaku. Memperkenalkan
penggunaan indikator dan kriteria yang baru harus
secara pengecualian saja.
C.11 Ketika pemantauan mungkin mengungkapkan pengaruh buruk yang signifikan,
apakah KLHS menunjukkan tindakantindakan yang perlu dilakukan untuk
menanggulangi pengaruh buruk ini?
Dasar Pemikiran: Pemantauan dampak terhadap
lingkungan hidup dan berbagai isu pembangunan
berkelanjutan yang berlangsung selama penerapan
KRP merupakan tanggung jawab instansi pelaksana
(yang dalam hal ini biasanya adalah instansi pembuat
KRP, yang setelah disahkan, mengkoordinasikan
pelaksanaannya). KLHS perlu menyarankan berbagai

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

tindakan penanggulangan dampak negatif yang


muncul. Tindakan penanggulan yang dimaksud
termasuk, misalnya, memprakarsai perubahan KRP,
memodifikasi persyaratan untuk melaksanakan KRP
tertentu, melakukan konsultasi dengan instansi
lingkungan hidup, dll.
D. Dokumentasi KLHS dan Akses Publik
D.1 Apakah dokumentasi KLHS jelas dan ringkas
dalam tataletak dan penyajiannya?
Dasar Pemikiran: KLHS bukanlah studi akademis
atau ilmiah semata. Informasi, kesimpulan dan
rekomendasi harus disajikan dalam bentuk yang
mudah dibaca dan dimengerti. Pesan pokok yang
ingin disampaikan harus jelas dan nyata, sehingga
akan dipertimbangkan oleh para pemangku
kepentingan terkait. Informasi lain dapat diberikan
dalam lampiran.
D.2 Apakah dokumentasi KLHS menggunakan
bahasa yang mudah dan jelas dan menghindari atau menjelaskan istilah teknis?
Dasar Pemikiran: Dokumentasi KLHS merangkum
semua hasil, temuan, kesimpulan, dan rekomendasi
yang dibuat oleh KLHS. Dokumentasi KLHS berfungsi
untuk menyajikan materi tersebut kepada semua
pemangku kepentingan yang relevan. Naskah
dokumentasi yang mudah untuk dimengerti akan
membantu berlangsungnya komunikasi yang
efisien dengan para pemangku kepentingan karena
mereka memahami informasi yang dimuat dalam
dokumentasi KLHS. Hal ini juga akan meningkatkan
kemungkinan untuk dipertimbangkannya saran
dan kesimpulan oleh perencana pembuat KRP dan
pengambil keputusan.
D.3 Apakah dokumentasi KLHS berisikan
ringkasan non-teknis?
Dasar Pemikiran: Dokumentasi KLHS dapat
digunakan oleh semua pemangku kepentingan.
Beberapa dari mereka (khususnya pejabat tinggi
pemerintah, administrator, dll.) biasanya tidak punya
waktu (dan keinginan) untuk membaca seluruh
laporan. Oleh karena itu, agar pesan-pesan penting
sampai kepada mereka, ringkasan deskriptif dalam
dokumentasi KLHS harus memberikan gambaran
keseluruhan KLHS dan kesimpulan penting dari hasil
KLHS serta rekomendasi untuk perbaikan KRP.

D.4 Apakah dokumentasi KLHS menggunakan


peta dan ilustrasi lainnya, bila diperlukan?
Dasar Pemikiran: Seperti disebutkan di atas,
dokumentasi KLHS harus jelas dan dimengerti.
Untuk itu, dianjurkan agar uraian disertai dengan
ilustrasi grafis yang tepat. Peta dan gambar grafis
lainnya dapat mendukung penyajian analisis kondisi
lingkungan hidup wilayah (baseline), pengkajian dan
kesimpulan yang dibuat.
D.5 Apakah dokumentasi KLHS memuat hasil
identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya?
Dasar Pemikiran: KLHS mengandung pengertian
harus dilakukan secara partisipatif sehingga peranan
stakeholders sangat penting. Identifikasi stakeholders,
pelaksanaan dan kesimpulan setiap diskusi konsultasi
publik harus dapat ditemukan dalam dokumen KLHS.
Hasil pemetaan pemangku kepentingan hendaknya
dilampirkan dalam dokumen KLHS sebagi bukti hasil
identifikasi pemangku kepentingan.
Kotak 13 memberi contoh struktur dokumentasi
KLHS.
D.6 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan
pen-dekatan menyeluruh terhadap KLHS?
Dasar Pemikiran: Deskripsi keseluruhan pendekatan dalam pelaksanaan proses KLHS, termasuk
prosedur dan tahapan proses serta keterkaitannya
dengan proses perencanaan, memberikan informasi
dasar yang penting untuk dapat sepenuhnya
memahami hasil dan kesimpulan yang diberikan
oleh KLHS dan diringkas dalam dokumentasi KLHS.
D.7 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan
proses KLHS dan semua tahapan dan analisisnya?
Dasar Pemikiran: Dokumentasi KLHS harus
mencakup informasi tentang proses KLHS dan
semua tahap dan analisis, dari penapisan, identifikasi
masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya,
konsultasi publik, identifikasi isu-isu kunci, analisis
dampak, alternatif, hingga rekomendasi untuk
memberikan pandangan yang jelas bagi seluruh
pemangku kepentingan melalui proses yang
mana hasil dan temuan KLHS telah diperoleh dan
didasarkan.

31

Kotak 13
Kemungkinan struktur Dokumentasi KLHS

Ringkasan non-teknis, termasuk rekomendasi utama KLHS untuk dipertimbangkan dan/atau diadopsi
dalam KRP, dan ringkasan pelaksanaan proses KLHS.

Deskripsi proses KLHS, metode dan alat analisis yang digunakan, termasuk catatan mengenai
ketidaktersediaan data dan faktor ketidakpastian dalam pengkajian.

Isi, tujuan utama dan tindakan-tindakan KRP serta kaitannya dengan KRP lain.

Deskripsi lingkup KLHS, yaitu isu strategis lingkungan hidup, kesehatan / pembangunan berkelanjutan
yang terkait dengan KRP, termasuk penjelasan mengenai pemilihan isu dan sasaran penanggulangannya
yang relevan untuk setiap isu, dimensi teritorial KLHS, dll.

Deskripsi kecenderungan masa lalu, status saat ini, dan kemungkinan perkembangan isu utama pada
masa depan, dengan memperhitungkan kemungkinan tidak diimplementasikannya KRP (alternatif nol
atau skenario bisnis seperti biasa).

Hasil analisis dampak yaitu deskripsi kemungkinan pengaruh KRP terhadap lingkungan dan kesehatan
(termasuk kemungkinan dampak yang sifatnya lintas batas).

Ringkasan dari berbagai tindakan untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan terjadinya dampak
negatif dan tindakan untuk meningkatkan kemungkinan dampak positif dari pelaksanaan KRP.

Langkah-langkah pemantauan.

Rekomendasi untuk perubahan KRP (yang akan diintegrasikan dalam KRP) untuk menghindari atau
meminimalkan dampak negatif serta untuk meningkatkan dampak positif.

Lampiran
-

Sumber informasi dan data pendukung.

Ringkasan mengenai saran KLHS yang ditujukan kepada KRP dan penjelasan tentang bagaimana
saran dan rekomendasi KLHS telah dipertimbangkan dan diintegrasikan ke dalam KRP yang
disampaikan kepada pengambil keputusan untuk disetujui.

Ringkasan pendapat yang mengemuka dalam forum konsultasi dengan para pemangku
kepentingan dan partisipasi publik serta keterangan bagaimana pendapat ini telah terintegrasi
dalam dokumentasi KLHS dan/atau dokumen KRP

D.8 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan


metodologi yang digunakan dalam analisisanalisis?
Dasar Pemikiran: Deskripsi yang jelas tentang
pendekatan, metode dan alat analisis yang digunakan
dalam KLHS akan meningkatkan pemahaman
pemangku kepentingan mengenai hasil dan
kesimpulan KLHS.
D.9 Apakah dokumentasi KLHS mengiden-tifikasi
sumber informasi, termasuk pen-dapat dan
penilaian ahli?
Dasar Pemikiran: Semua pernyataan dan
kesimpulan dalam dokumentasi KLHS harus didukung
oleh keterangan mengenai sumber informasinya.
Karena jika tidak, maka pernyataan dan kesimpulan
dapat dipertanyakan oleh pembuat keputusan dan

32

para pemangku kepentingan lain.


D.10 Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan
siapa yang dikonsultasikan, metode apa
yang digunakan dalam kegiatan konsultasi,
dan bagaimana kesimpulan dari konsultasi
telah dipertimbangkan dalam KLHS dan/
atau KRP?
Dasar Pemikiran: Para pengambil keputusan
(sebagai pengguna akhir KLHS) dan semua
masyarakat dan pemangku kepentingan terkait
perlu diberitahu tentang kegiatan konsultasi yang
diselenggarakan dalam proses KLHS. Dengan
demikian, mereka dapat menilai apakah ruang
lingkup konsultasi telah memadai. Dokumentasi
KLHS juga harus merangkum berbagai pendapat
yang dikemukakan dan kesimpulan dari proses

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

konsultasi serta menunjukkan pendapat apa


yang telah diintegrasikan (dan bagaimana
mengintegrasikannya) dalam dokumentasi KLHS
dan/atau dokumen KRP yang dikaji dan pendapat
apa yang ditolak (beserta alasannya). Ikhtisar ini
berfungsi sebagai sumber untuk memverifikasi
bahwa, KLHS telah mempertimbangkan pendapat
dan saran dari pemangku kepentingan yang terlibat.
D.11 Apakah kesimpulan dari komunikasi dalam
interaksi antara proses penyiapan KRP dan
KLHS (jika ada) didokumentasikan dengan
jelas dalam dokumentasi KLHS?
Dasar Pemikiran: Proses KLHS harus transparan,
terutama mengenai masukan yang diberikan oleh
hasil KLHS dan bagaimana masukan tersebut telah
digunakan dalam penyiapan KRP. Pendokumentasian
hal ini akan menunjukkan nilai tambah dari
dilaksanakannya KLHS. Supaya nilai tambah ini lebih
optimal, Pelaksana KLHS bekerjasama dengan tim
perencanaan perlu menyiapkan dokumentasi KLHS
yang sifatnya terbuka bagi publik. Dokumentasi ini
berisi rangkuman kesimpulan dari komunikasi antara
Pelaksana KLHS dan tim perencanaan di setiap tahap
proses, misalnya, bagaimana saran atau masukan
dari KLHS telah digunakan dalam fase tertentu
dalam proses perencanaan. Selain itu, di akhir
proses KLHS, Pelaksana KLHS bekerjasama dengan
tim perencanaan perlu menyiapkan dokumentasi
yang menjelaskan bagaimana kesimpulan dari KLHS
telah terintegrasi dalam draf KRP dan jika beberapa
saran yang diajukan oleh pelaksana KLHS belum
diintegrasikan (bila demikian halnya), maka hal ini
perlu dijelaskan juga. Penjelasan ini harus dimuat
sebagai bagian dari Dokumentasi KLHS yang terbuka
bagi publik.
D.12 Apakah dokumentasi KLHS mendeskripsikan
kesulitan teknis, prosedural dan lainnya?
Dasar Pemikiran: Pelaksana KLHS kerap kali
menghadapi keterbatasan data yang tersedia,
ketidakpastian mengenai kecenderungan masa
depan dan faktor eksternal, keengganan perencana

untuk berkomunikasi, dan singkatnya waktu untuk


memberikan masukan kepada KRP, dll. Oleh karena
itu, dalam dokumentasi KLHS adalah penting
untuk dikemukakan secara jelas berbagai masalah
yang dialami, sebagai dasar agar kesimpulan dan
rekomendasi KLHS dapat dipahami dan diterima
dengan benar.
D.13 Apakah dokumentasi KLHS memuat
dokumentasi tentang konsultasi dengan
pemangku kepentingan?
Dasar Pemikiran: Untuk mendapatkan partisipasi
dan keterlibatan pemangku kepentingan yang
efisien dan dalam proses KLHS, sangat penting
bahwa tanggapan diberikan kepada komentar dan
masukan yang diterima dari pemangku kepentingan.
Pada akhir dari proses KLHS, semua informasi
yang mendokumentasikan konsultasi dengan
para pemangku kepentingan harus dimasukkan
dalam dokumentasi KLHS (dan terutama informasi
tentang bagaimana komentar dan masukan telah
dipertimbangkan dalam KLHS dan/atau KRP, serta
memberikan alasan mengapa komentar dan
masukan tertentu ditolak) dan dengan demikian
menginformasikan kepada pengambil keputusan
tentang kegiatan yang dilakukan. Pendekatan
tersebut juga secara signifikan meningkatkan
transparansi dan akuntabilitas KLHS.
D.14 Apakah dokumen KLHS diberikan juga
kepada institusi lingkungan hidup untuk
referensi?
Dasar Pemikiran: Meyakinkan bahwa KLHS
dilaksanakan merupakan tanggung jawab pembuat
KRP sesuai dengan mandat yang tertuang dalam
UU PPLH No. 32 Tahun 2009. Bila dokumentasi KLHS
disampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup
atau Badan Lingkungan Hidup Daerah (Propinsi/
Kabupaten/Kota), ini dapat dipakai sebagai referensi
untuk pemantauan implementasi KRP, yaitu apakah
sudah sesuai dengan rekomendasi yang diberikan
KLHS dan bagaimana dampak atau pengaruh nyata
KRP selama implementasinya.

33

Tabel 2
Contoh Matriks Penilaian Kualitas (termasuk contoh penilaian)
No.

Kriteria/Pertanyaan
(diisi dengan daftar
pertanyaan penilaian
kualitas yang telah dise
butkan di atas, seperti
contoh di bawah ini)

Uraian Hasil Penilaian


(diisi dengan hasil penilaian deskriptif, yang
diperoleh dari mempelajari dengan cermat
dokumentasi KLHS dan dokumen KRP)

Ringkasan Penilaian
(diisi dengan ringkasan
hasil penilaian deskriptif,
dengan skala sebagai
berikut:
Tidak dibahas

Dibahas sebagian

Komentar
(diisi dengan komentar
yang terkait dengan hasil
penilaian, misalnya saran
untuk perbaikan laporan,
tindak lanjut yang perlu
dilakukan, dll.)

Dibahas dengan
lengkap

Tidak dapat dinilai


Apakah proses
perencanaan dijelaskan?

Apakah partisipasi
dan konsultasi dengan
pemangku kepentingan
dalam KLHS dilakukan
bersama-sama dengan
proses pembuatan
rencana?
Apakah dampak pada
salah satu masalah
berikut dikecualikan
dari pengkajian: iklim,
udara, air, tanah,
keanekaragaman hayati
dan ekosistem, populasi
dan kesehatan manusia,
aset yang material,
warisan budaya termasuk
warisan budaya arsitektur
dan arkeologi, kondisi
bentang alam?
..
..
..

34

(karena tidak ada


informasinya)
Dibahas sebagian

Dokumentasi KLHS hanya memberikan


informasi umum tentang persiapan
rencana terkait dengan Strategi
Pengembangan Energi dan Aksi Nasional.
Tidak ada informasi lebih lanjut tentang
proses perencanaan yang terkait dengan
peraturan perundang-undangan di bidang
penataan ruang dan posisi dari rencana
dalam sistem penataan ruang nasional.
Dokumentasi KLHS hanya berisi daftar
rencana dan program di tingkat nasional
dan kota yang telah dipertimbangkan
dalam rencana. Akan tetapi, tidak ada
rincian lebih lanjut tentang hubungan
antara strategi ini dan peraturan di bidang
penataan ruang.
Tidak ada informasi tentang konsultasi dan Tidak dapat dinilai
hasilnya.

Semua topik masalah telah dikaji (bahkan,


ditambah dengan kajian mengenai prasa
rana, lapangan pekerjaan, kegiatan eko
nomi, geologi dan kegempaan).

Dibahas dengan
lengkap

Dokumentasi KLHS
harus dilengkapkan lagi.
Selain itu, perlu untuk
dijelaskan keterkaitan
strategi ini dengan
rencana dan program lain
terkait, terutama dengan
masalah perlindungan
lingkungan.

Instansi pembuat KRP


perlu menambahkan
lampiran dari
dokumentasi KLHS,
tentang ringkasan
laporan konsultasi yang
dilakukan dalam proses
KLHS.

VI
EVALUASI KUALITAS
MENYELURUH

valuasi deskriptif dari matriks evaluasi detail dapat secara singkat diringkas
dalam evaluasi kualitas menyeluruh (lihat Tabel 3) yand distrukturkan dalam
sembilan aspek kualitas yang ditangani kriteria detail kualitas dengan
menggunakan skala berikut ini:
Penilaian dokumen secara agregat untuk setiap aspek kualitas dapat dilakukan
dengan kriteria sebagai berikut:
Tercakup sepenuhnya
Tercakup sebagian
Tidak ada sama sekali
Tidak dapat dievaluasi (informasi yang ada tidak memungkinkan evaluasi)
Tidak relevan (aspek kualitas tidak relevan untuk KLHS yang merupakan
subyek dari tinjauan)12

12 Misalnya, bila keputusan final belum diadopsi, pertanyaan pada Bagian C tentang pembuatan
keputusan tidak dapat dijawab.

35

Tabel 3
Matriks untuk Evaluasi Kualitas Menyeluruh
Aspek Kualitas
1. Pengkajian Pengaruh KRP
1.1 Perancangan Proses KLHS
1.2 Identifikasi dan Pelibatan
Masyarakat dan Pemangku
Kepentingan Lainnya
1.3 Identifikasi Isu Pembangunan
Berkelanjutan
1.4 Identifikasi KRP
1.5 Telaahan Pengaruh KRP
terhadap Kondisi Lingkungan
Hidup di Suatu Wilayah
2. Perumusan Alternatif
Penyempurnaan KRP
3. Rekomendasi Perbaikan KRP dan
Pengintegrasian Hasil KLHS
4. Dokumentasi KLHS dan Akses
Publik

36

Penilaian
Menyeluruh

Komentar

VII
TINDAK LANJUT KLHS

elaksanaan proses KLHS biasanya berakhir ketika KRP telah disetujui.


Meskipun demikian, aspek-aspek tertentu tentang daya guna KLHS baru
dapat dilihat dalam pelaksanaan KRP untuk mana KLHS dilaksanakan. Aspekaspek ini pada dasarnya terkait dengan pelaksanaan rekomendasi dan berbagai
tindakan yang disarankan oleh KLHS (apalagi jika saran KLHS ini didukung atau
diperkuat oleh keputusan persetujuan KRP) dan dengan pemantauan. Sebagai
contoh, jika persyaratan yang disarankan KLHS untuk pembangunan proyek
tertentu diindahkan dalam praktek (misalnya, dengan dilaksanakannya AMDAL),
atau jika ada komitmen untuk melakukan pemantauan terhadap permasalahan
lingkungan yang telah dibahas KLHS, dan /atau hasil KLHS terbuka untuk umum
dan dapat diakses oleh masyarakat, dll. Jika hal-hal yang disebutkan ini terlaksana,
maka keadaan ini merupakan indikasi dari tata kelola yang baik.
Pemantauan terhadap pelaksanaan KLHS dan dampak lingkungan harus
menjadi bagian integral dari keseluruhan sistem pemantauan pelaksanaan KRP.
Bagaimanapun juga, pendekatan ini mengandaikan bahwa pelaksanaan KRP
akan dipantau [oleh instansi perencanaan atau instansi lain yang bertanggung
jawab] untuk mengetahui, misalnya, seberapa efisien pelaksanaan KRP, apakah
pengeluaran pembiayaan sesuai dengan anggaran yang dialokasikan dalam
rencana, proyek-proyek apa yang sejauh ini telah dibangun. Jika KRP tidak
mengatur sistem pemantauan, maka KLHS perlu mengusulkan sistem tertentu

37

untuk memastikan bahwa, paling tidak aspek


dampak terhadap lingkungan hidup dipantau selama
KRP dilaksanakan13. Instansi lingkungan hidup juga
dapat menyarankan kepada instansi perencanaan
atau lembaga pengawasan pembangunan untuk
memasukkan kriteria penilaian kualitas dalam sistem
pemantauan KRP dan memberikan bantuan teknis
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pemantauan.
Pertanyaan berikut ini dapat dipertimbangkan ketika
mengkaji-ulang pelaksanaan dari rekomendasi
KLHS:

13 Ketika merancang sistem pemantauan lingkungan, maka harus


dipertimbangkan keterkaitannya kepada sistem pemantauan
dan evaluasi pembangunan nasional yang dikoordinasikan
oleh Bappenas (atau kepada sistem pemantauan dan evaluasi
pembangunan daerah yang dikoordinasikan oleh Kemdagri).

38

Apakah
dalam
keseluruhan
skema
pemantauan KRP (jika skema ini ada) tercakup
indikator lingkungan hidup / pembangunan
keberkelanjutan?
Apakah ada laporan pemantauan berkala?
Jika laporan pemantauan berkala ini ada, apakah
laporan ini terbuka kepada publik?

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

DAFTAR PUSTAKA
Bonde, J., Cherp., A. (2000). Quality review package for strategic environmental assessments of land-use plans.
Impact Assessment and Project Appraisal, 18(2).
Bonvoisin, N., Dusik, J., Jurkeviciute, A, Sadler, B. (2006): Resource Manual to Support Application of the UNECE
Protocol on SEA. United Nations and Regional Environmental Center for Central and Eastern Europe
DHI Water & Environment (S) Pte. Ltd.: Rapid Environmental Assessment for Coastal Development in Jakarta
Bay, Final Report, June 2011.
Dusik, J. et all (2010). Making SEA fit for Political Culture of Strategic Decision-Making in Indonesia:
Recommendations for MOE General Guidance on SEA, ESP2 Indonesia (unpublished)
Dusik, J. (2010). Rough Guide to SEA, Internal note to the KLH ESP2, Annex 3 to the final report (unpublished)
European Commission (2001). Directive 42/2001/EC on the assessment of the effects of certain plans and
programmes on the environment
IAIA (2002): IAIA Performance Criteria for SEA.
IEMA (2003) Strategic Environmental Assessment (SEA) and Environmental Report (ER) Review Criteria
Integra Consulting Services Ltd. (2010). Expert opinion on the SEA for Detailed Spatial Plan for Hydropower
Project on the Moraa River.
Lee, N., Colley, R., Bonde, J., Simpson, J. (1999). Reviewing the quality of environmental statements and
environmental appraisals. Occasional Paper Number 55, EIA Centre, University of Manchester
Ministry of Natural Resources and Environment of Vietnam (2008). General Technical Guidelines on Strategic
Environmental Assessment in Vietnam. Ministry of Natural Resources and Environment, Hanoi.
OECD (2006). Applying Strategic Environmental Assessment: Good Practice Guidance for Development Cooperation. Organisation for Economic Co-operation and Development.
ODPM (2005). A Practical Guide to Strategic Environmental Assessment Directive. Practical guidance on
applying European Directive 2001/42/EC on the assessment of the effects of certain plans and programs
on the environment. Office of the Deputy Prime Minister, London.
Sadler, B (1996). Environmental Assessment in a Changing World: Evaluating Practice to Improve Performance.
Canadian Environmental Assessment and International Association for Impact Assessment.
Sadler, B., McCabe, M. (2002). Environmental Impact Assessment Training Resource Manual. UNEP.
Saddler, B. (2010). Final Report: International Expert Assistance for SEA Applied in National Development
Planning, unpublished material, ESP2 Indonesia (unpublished)
UNECE (2003). Protocol on Strategic Environmental Assessment to the Conventions on Environmental Impact
Assessment in a Transboundary Context
Wathern P. (1988): An introductory Guide to EIA in Wathern P(ed) Environmental Impact Assessment: Theory
and Practice (pp. 1 28) Routledge, London.

39

LAMPIRAN
Daftar Pertanyaan Penjaminan Kualitas KLHS
No.

Pertanyaan untuk Penjaminan Kualitas


BAGIAN 1: PENGKAJIAN PENGARUH KRP
Pengkajian Pengaruh KRP terhadap Kondisi Lingkungan Hidup di Wilayah Perencanaan, dilaksanakan
melalui tahapan sebagai berikut.

40

PERANCANGAN PROSES KLHS

1.1.1

Apakah ada penjelasan mengenai maksud dan tujuan KLHS?

1.1.2

Apakah mekanisme pelaksanaan KLHS telah direncanakan dan dirancang sesuai dengan KRP?

1.1.3

Apakah KLHS dilakukan sebagai bagian integral dari proses penyusunan KRP?

1.1.4

Jika pelaksanaan proses KLHS sebagai bagian integral dari proses penyusunan KRP tidak terjadi, maka
apakah ada penjelasan interaksi antara proses penyusunan KRP dan KLHS?

1.2

IDENTIFIKASI DAN PELIBATAN MASYARAKAT DAN PEMANGKU KEPENTINGAN LAINNYA

1.2.1

Apakah pemangku kepentingan yang akan dilibatkan dalam KLHS diidentifikasikan pada permulaan
proses KLHS?

1.2.2

Apakah rencana konsultasi dan partisipasi dibuat?

1.2.3

Apakah undangan, daftar hadir, notulensi atau berita acara, dari kegiatan diskusi terbuka untuk pemangku
kepentingan yang relevan?

1.2.4

Apakah partisipasi dan konsultasi dengan pemangku kepentingan dalam pelaksanaan proses KLHS dilakukan
bersama-sama dengan pelaksanaan proses penyiapan KRP?

1.2.5

Apakah lingkup KLHS didiskusikan dengan pembuat KRP dan pemangku kepentingan?

1.2.6

Apakah pemangku kepentingan dikonsultasikan dengan cara dan pada waktu yang memberikan mereka
kesempatan awal dan efektif dalam kerangka waktu yang sesuai untuk menyampaikan pendapat mereka
terhadap draf KRP dan laporan KLHS?

1.2.7

Apakah semua pemangkukepentingan yang relevan mempunyai kesempatan untuk memberikan


komentar dan masukan selama proses KLHS?

1.2.8

Apakah informasi/ dokumentasi KLHS dapat diakses melalui media masa?

1.2.9

Apakah pembuat KRP melakukan konferensi pers dan/atau pengumuman publik untuk mensosialisasikan
atau mengumumkan draf laporan KLHS kepada publik untuk mendapatkan komentar?

1.3

IDENTIFIKASI ISU PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

1.3.1

Apakah isu-isu strategis lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan yang akan ditangani KLHS
diidentifikasikan dengan jelas (seperti sebab dan akibat, tingkat keseriusan dan lokasinya)?

1.3.2

Apakah ruang lingkup wilayah KLHS (yaitu kawasan yang mungkin akan terkena pengaruh KRP) termasuk
lokasi di luar batas administrative didefinisikan?

1.3.3

Apakah deskripsi isu strategis lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan telah didukung oleh data,
informasi dan analisis yang sesuai?

1.3.4

Apakah diterangkan dengan jelas bagaimana isu strategis telah didefinisikan?

1.3.5

Apakah tujuan yang relevan untuk isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan diidentifikasi dan
dijelaskan?

1.3.6

Jika ada isu tertentu yang diabaikan dalam pelaksanaan KLHS, apakah diberikan dan dijelaskan alasannya?

1.4

IDENTIFIKASI KRP

1.4.1

Apakah obyek dari kajian (yaitu KRP) didefinisikan dengan jelas?

1.4.2

Apakah maksud dan tujuan dari KRP yang ditelaah dikemukakan dengan jelas?

Panduan Penjaminan Kualitas


Kajian Lingkungan Hidup Strategis

No.

Pertanyaan untuk Penjaminan Kualitas

1.4.3

Apakah ada penjelasan mengenai proses KRP?

1.4.4

Apakah bagian-bagian dari KRP yang mempunyai dampak strategis lingkungan hidup diidentifikasikan
dan dijelaskan.

1.5

TELAAHAN PENGARUH KRP TERHADAP KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DI SUATU WILAYAH

1.5.1

Apakah aspek berikut ditangani dalam evaluasi?


a. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan
b. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup
c. kinerja layanan/jasa ekosistem
d. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam
e. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim
f. tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati
g. aspek lain (harap dijelaskan)

1.5.2

Apakah kondisi lingkungan hidup wilayah (baseline) dari isu strategis pembangunan berkelanjutan
dijelaskan?

1.5.3

Apakah perkembangan kecenderungan pada masa lalu hingga saat ini dianalisis untuk isu-isu strategis?

1.5.4

Jika hal tersebut di atas dilakukan, apakah penggerak utama (yaitu faktor yang mempengaruhi
kecenderungan) diidentifikasi?

1.5.5

Apakah kecenderungan isu-isu strategis pada masa depan tanpa diterapkannya suatu KRP dianalisis?

1.5.6

Apakah wilayah yang lebih luas daripada batas-batas administrasi atau fisik dari wilayah pengaruh KRP
dipertimbangkan dalam analisis?

1.5.7

Apakah urusan dan masalah utama yang berkaitan dengan isu-isu strategis dinyatakan dengan jelas?

1.5.8

Bila demikian, apakah dijelaskan jika urusan dan masalah utama tersebut dapat dipengaruhi oleh KRP?

1.5.9

Apakah KLHS dari KRP mempertimbangkan data dan informasi dari KRP lain yang terkait (dan KLHS-nya)?

1.5.10

Apakah konflik antara sasaran pengelolaan lingkungan hidup terhadap isu-isu strategis dan tujuan KRP
diidentifikasi dan dijelaskan?

1.5.11

Apakah dalam analisis KLHS dijelaskan mengenai kemungkinan keterbatasan data dan informasi yang
tersedia dan mengenai potensi yang terkait dengan ketidakpastian?

1.5.12

Apakah seluruh dampak KRP terhadap isu-isu penting lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan
dievaluasi dalam pengkajian?

1.5.13

Apakah ada dampak dari isu lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan yang ditiadakan dari
evaluasi?

1.5.14

Jika demikian, apakah diberikan alasannya?

1.5.15

Apakah dampak positif dan negatif keduanya dipertimbangkan?

1.5.16

Apakah dampak sekunder atau turunan dipertimbangkan dalam pengkajian?

1.5.17

Apakah dampak kumulatif dipertimbangkan dalam pengkajian?

1.5.18

Apakah karakteristik dampak (keadaan, signifikansi, probabilitas, lingkup dan jangkauan, frekuensi dan
durasi, keterbalikkan/reversibility) dijelaskan?

1.5.19

Apakah dampak dikuantifikasikan jika mungkin?

1.5.20

Apakah pengkajian dampak didukung oleh perhitungan, contoh, referensi kepada kepustakaan nasional
dan internasional dll.?

1.5.21

Apakah metode yang digunakan untuk mengkaji dampak dijelaskan?


BAGIAN 2: PERUMUSAN ALTERNATIF PENYEMPURNAAN KRP

2.1

Apakah semua alternatif yang diusulkan oleh KRP dikaji?

2.2

Apakah potensi timbulnya dampak dari setiap alternatif dideskripsikan dengan jelas?

2.3

Apakah diberikan peringkat alternatif (bila disarankan oleh KRP)?

41

No.

Pertanyaan untuk Penjaminan Kualitas

2.4

Apakah KLHS merekomendasikan alternatif dengan kinerja lingkungan hidup / pembangunan berkelanjutan
yang lebih baik dibandingkan dengan alternatif yang disarankan oleh KRP?

2.5

Apakah ada alasan mengenai alternatif yang diabaikan atau yang dipilih?
BAGIAN 3: REKOMENDASI PERBAIKAN KRP DAN PENGINTEGRASIAN HASIL KLHS

3.1

Apakah tindakan yang disarankan oleh KLHS untuk mencegah, mengurangi dan/atau mengimbangi dampak
negatif yang signifikan untuk semua dampak utama diidentifikasi?

3.2

Apakah rekomendasi didukung dengan penjelasannya?

3.3

Apakah rekomendasi KLHS didiskusikan dengan pembuat KRP

3.4

Apakah kesimpulan dan rekomendasi yang diberikan oleh KLHS dideskripsikan secara eksplisit?

3.5

Apakah institusi yang bertanggungjawab untuk melaksanakan tindakan mitigasi ditetapkan?

3.6

Apakah laporan KRP menjelaskan status mengenai saran dan rekomendasi KLHS yang mana yang telah
terintegrasi dalam KRP (dalam hal KRP berubah karena KLHS)?

3.7

Apakah kesimpulan dan rekomendasi yang diberikan oleh KLHS dipertimbangkan dalam proses
pengambilan keputusan KRP?

3.8

Jika beberapa rekomendasi dan saran belum terintegrasi, apakah dalam keputusan persetujuan terhadap
rancangan akhir KRP diberikan penjelasan?

3.9

Apakah KLHS menyarankan indikator-indikator untuk pemantauan dampak terhadap lingkungan hidup?

3.10

Jika demikian, apakah indikator-indikator tersebut berdasarkan informasi kondisi lingkungan hidup
wilayah (baseline), indikator dan tujuan dari KRP dan/atau KLHS?

3.11

Ketika pemantauan mungkin mengungkapkan pengaruh buruk yang signifikan,, apakah KLHS
menunjukkan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan untuk menanggulangi pengaruh buruk ini?
BAGIAN 4: DOKUMENTASI KLHS DAN AKSES PUBLIK

42

4.1

Apakah laporan KLHS jelas dan ringkas dalam tataletak dan penyajiannya?

4.2

Apakah laporan KLHS menggunakan bahasa yang mudah dan jelas dan menghindari atau menjelaskan
istilah teknis?

4.3

Apakah laporan KLHS berisikan ringkasan non-teknis?

4.4

Apakah laporan KLHS menggunakan peta dan ilustrasi lainnya, bila diperlukan?

4.5

Apakah dokumentasi KLHS memuat hasil identifikasi pemangku kepentingan?

4.6

Apakah laporan KLHS memuat semua elemen yang perlu?

4.7

Apakah laporan KLHS menjelaskan pendekatan menyeluruh terhadap KLHS?

4.8

Apakah dokumentasi KLHS menjelaskan proses KLHS dan semua tahapan dan analisisnya?

4.9

Apakah laporan KLHS menjelaskan metodologi yang digunakan dalam analisis-analisis?

4.10

Apakah laporan KLHS mengidentifikasi sumber informasi, termasuk pendapat dan penilaian ahli?

4.11

Apakah laporan KLHS menjelaskan siapa yang dikonsultasikan, metode apa yang digunakan dalam
kegiatan konsultasi, dan bagaimana kesimpulan dari konsultasi telah dipertimbangkan dalam KLHS dan/
atau KRP?

4.12

Apakah kesimpulan dari komunikasi dalam interaksi antara proses penyiapan KRP dan KLHS (jika ada)
didokumentasikan dengan jelas dalam laporan KLHS?

4.13

Apakah laporan KLHS mendeskripsikan kesulitan teknis, prosedural dan lainnya?

4.14

Apakah laporan KLHS memuat dokumentasi tentang konsultasi dengan pemangku kepentingan?

4.15

Apakah dokumen KLHS diberikan juga kepada institusi lingkungan hidup untuk referensi?