Anda di halaman 1dari 90

Senin, 01 September 2008

dislokasi

DISLOKASI

1. PENDAHULUAN
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan me lindungi
beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Kerangka juga
berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menye diakan permukaan untuk
kaitan otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi tulang yang sangat penting bagi tubuh
kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga agar terhindar dari trauma atau
benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya patah tulang atau dislokasi tulang.
Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang
berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan
oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir
(kongenital).
2. Definisi
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan
secara anatomis (tulang lepas dari sendi)
(Brunner & Suddarth)
Keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu
kedaruratan yang membutuhkan pertolongan segera.
(Arif Mansyur, dkk. 2000)
Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang di
sertai luksasi sendi yang disebut fraktur dis lokasi.
( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138)
Berpindahnya ujung tulang patah, karena tonus otot, kontraksi cedera dan tarikan
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.

3. Klasifikasia. Dislokasi Congenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan


pertumbuhan.
b. Dislokasi PatologikAkibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misal nya
tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang
berkurang.
c. Dislokasi Traumatic :Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak
dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema
(karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat
mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak
struktur sendi, ligamen, syaraf, dan sistem vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang
dewasa.
TERMINOLOGI TRAUMA SENDI
kontusi – sprain - occult joint instability - subluksasi / dislokasi
Diposkan oleh Agustina Tri Hastuti di 22:17
03 January 2010
Askep Dislokasi
Askep Dislokasi: "

DISLOKASI

PENGERTIAN

Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang

lepas dari sendi) (brunner&suddarth).

Keluarnya (bercerainya)kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang

membutuhkan pertolongan segera. (Arif Mansyur, dkk. 2000).

Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang di sertai luksasi sendi

yang disebut fraktur dis lokasi. ( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138).

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya

komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang

seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis

membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi

rahangnya telah mengalami dislokasi.

Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha).

Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri.

Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya,

sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

KLASIFIKASI

Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Dislokasi congenital :
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.

2. Dislokasi patologik :

Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini

disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.

3. Dislokasi traumatic :

Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan

akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga

dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen,

syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :

1) Dislokasi Akut

Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar sendi.

2) Dislokasi Kronik

3) Dislokasi Berulang

Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang

minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.

Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung

tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

ETIOLOGI

Dislokasi disebabkan oleh :

1. Cedera olah raga


Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko

jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain sepak bola paling

sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari

pemain lain.

2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga

Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.

3. Terjatuh

Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin

4. Patologis : terjadinya ‘tear’ligament dan kapsul articuler yang merupakan

kompenen vital penghubung tulang

PATOFISIOLOGI

Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan ,merobek kapsul atau

menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral kaput hancur.Mesti jarang

prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan luksasio erekta (dengan tangan

mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi da bawah karakoid).

MANIFESTASI KLINIS

Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya dan segan menerima

pemeriksaan apa saja .Garis gambar lateral bahu dapat rata dan ,kalau pasien tak terlalu berotot suatu

tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Dengan cara pemeriksaan Sinar –X ( pemeriksaan X-Rays ) pada bagian anteroposterior akan

memperlihatkan bayangan yang tumpah-tindih antara kaput humerus dan fossa Glenoid, Kaput biasanya

terletak di bawah dan medial terhadap terhadap mangkuk sendi.

KOMPLIKASI

Dini

1) Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan mungkin

terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut

2) Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak

3) Fraktur disloksi

Komplikasi lanjut

1) Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu, terutama

pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi

abduksi

2) Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan leher

glenoid

3) Kelemahan otot

PENATALAKSANAAN

Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi berat.¬

Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.¬

Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi
stabil.¬

Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang berguna untuk

mengembalikan kisaran sendi¬

Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan.¬

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

Identitas dan keluhan utama¬

Riwayat penyakit lalu¬

Riwayat penyakit sekarang¬

Riwayat masa pertumbuhan¬

Pemeriksaan fisik terutama masalah persendian : nyeri, deformitas, fungsiolesa misalnya: bahu tidak dapat

endorotasi pada dislokasi anterior bahu.¬

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi

3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit

4. Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.
INTERVENSI

Dx 1

Kaji skala nyeri¬

Berikan posisi relaks pada pasien¬

Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi¬

Kolaborasi pemberian analgesic¬

Dx 2

Kaji tingkat mobilisasi pasien¬

Berikan latihan ROM¬

Anjurkan penggunaan alat Bantu jika diperlukan¬

Dx. 3

Bantu Px mengungkapkan rasa cemas atau takutnya¬

Kaji pengetahuan Px tentangh prosedur yang akan dijalaninya.¬

Berikan informasi yang benar tentang prosedur yang akan dijalani pasien¬

Dx 4

Kaji konsep diri pasien¬

Kembangkan BHSP dengan pasien¬


Bantu pasien mengungkapkan masalahnya¬

Bantu pasien mengatasi masalahnya.¬

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

Read more: http://askep-askeb.cz.cc/2010/01/askep-dislokasi.html#ixzz0hLvH63fa

Askep Dislokasi

Ditulis oleh hidayat2 di/pada Maret 31, 2009

3 Votes

DISLOKASI

PENGERTIAN

Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis

(tulang lepas dari sendi) (brunner&suddarth).

Keluarnya (bercerainya)kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan

yang membutuhkan pertolongan segera. (Arif Mansyur, dkk. 2000).

Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang di sertai luksasi

sendi yang disebut fraktur dis lokasi. ( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138).

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya

komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat

yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya

kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya.

Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.


Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul

(paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga

terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya

menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

KLASIFIKASI

Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Dislokasi congenital :

Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.

2. Dislokasi patologik :

Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis

tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.

3. Dislokasi traumatic :

Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian

jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma

yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga

merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang

dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :

1) Dislokasi Akut

Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan pembengkakan di sekitar

sendi.

2) Dislokasi Kronik

3) Dislokasi Berulang

Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan

trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan

patello femoral joint.

Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh

berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan

tarikan.

ETIOLOGI

Dislokasi disebabkan oleh :

1. Cedera olah raga

Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan hoki, serta olah raga yang

beresiko jatuh misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain

sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja
menangkap bola dari pemain lain.

2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga

Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan dislokasi.

3. Terjatuh

Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin

4. Patologis : terjadinya ‘tear’ligament dan kapsul articuler yang merupakan

kompenen vital penghubung tulang

PATOFISIOLOGI

Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan ,merobek

kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral kaput

hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan

luksasio erekta (dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi

da bawah karakoid).

MANIFESTASI KLINIS

Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan sebelahnya dan segan menerima

pemeriksaan apa saja .Garis gambar lateral bahu dapat rata dan ,kalau pasien tak terlalu berotot

suatu tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Dengan cara pemeriksaan Sinar –X ( pemeriksaan X-Rays ) pada bagian anteroposterior akan

memperlihatkan bayangan yang tumpah-tindih antara kaput humerus dan fossa Glenoid, Kaput

biasanya terletak di bawah dan medial terhadap terhadap mangkuk sendi.

KOMPLIKASI

Dini

1) Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan

mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut

2) Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak

3) Fraktur disloksi

Komplikasi lanjut

1) Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu,

terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara

otomatis membatasi abduksi

2) Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian
depan leher glenoid

3) Kelemahan otot

PENATALAKSANAAN

¬ Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan menggunakan anastesi jika dislokasi

berat.

¬ Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan dikembalikan ke rongga sendi.

¬ Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau traksi dan dijaga agar tetap dalam

posisi stabil.

¬ Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi halus 3-4X sehari yang

berguna untuk mengembalikan kisaran sendi

¬ Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa penyembuhan.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

¬ Identitas dan keluhan utama

¬ Riwayat penyakit lalu

¬ Riwayat penyakit sekarang

¬ Riwayat masa pertumbuhan

¬ Pemeriksaan fisik terutama masalah persendian : nyeri, deformitas, fungsiolesa misalnya: bahu

tidak dapat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas jaringan

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri saat mobilisasi

3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit

4. Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan perubahan bentuk tubuh.

INTERVENSI

Dx 1

¬ Kaji skala nyeri

¬ Berikan posisi relaks pada pasien

¬ Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi

¬ Kolaborasi pemberian analgesic

Dx 2

¬ Kaji tingkat mobilisasi pasien


¬ Berikan latihan ROM

¬ Anjurkan penggunaan alat Bantu jika diperlukan

Dx. 3

¬ Bantu Px mengungkapkan rasa cemas atau takutnya

¬ Kaji pengetahuan Px tentangh prosedur yang akan dijalaninya.

¬ Berikan informasi yang benar tentang prosedur yang akan dijalani pasien

Dx 4

¬ Kaji konsep diri pasien

¬ Kembangkan BHSP dengan pasien

¬ Bantu pasien mengungkapkan masalahnya

¬ Bantu pasien mengatasi masalahnya.

FRAKTUR dan DISLOKASI


Posted on 14 January 2009 by eds89r
Oleh Rohman Azzam

Pengertian
Fraktur atau patah tulang adalah keadaan dimana hubungan atau kesatuan jaringan tulang terputus. Tulang
mempunyai daya lentur (elastisitas) dengan kekuatan yang memadai, apabila trauma melebihi dari daya
lentur tersebut maka terjadi fraktur (patah tulang). Penyebab terjadinya fraktur adalah trauma, stres kronis
dan berulang maupun pelunakan tulang yang abnormal.
Bagaimana patah tulang itu terjadi ?
a. Trauma (benturan)
Ada dua trauma/ benturan yang dapat mengakibatkan fraktur, yaitu:
- Benturan langsung
- Benturan tidak langsung
b. Tekanan/stres yang terus menerus dan berlangsung lama
Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan fraktur (patah tulang) yang
kebanyakan pada tulang tibia, fibula (tulang-tulang pada betis) atau metatarsal pada olahragawan, militer
maupun penari.
Contoh: Seorang yang senang baris berbaris dan menghentak-hentakkan kakinya, maka mungkin terjadi
patah tulang di daerah tertentu.
c. Adanya keadaan yang tidak normal pada tulang dan usia
Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya proses patologis seperti tumor maka dengan energi
kekerasan yang minimal akan mengakibatkan fraktur yang pada orang normal belum dapat menimbulkan
fraktur.
Bagaimana Mengetahui Adanya Patah Tulang
1. Riwayat: Setiap patah tulang umumnya mempunyai riwayat trauma yang diikuti pengurangan
kemampuan anggota gerak yang terkena. Ingat bahwa fraktur tidak selalu terjadi pada daerah yang
mengalami trauma (tekanan).
2. Pemeriksaan:
Inspeksi (Lihat) bandingkan dengan sisi yang normal, dan perhatikan hal-hal dibawah ini:

1. Adanya perubahan asimetris kanan-kiri


2. Adanya Deformitas seperti Angulasi (membentuk sudut) atau; Rotasi (memutar)dan Pemendekan
3. Jejas (tanda yang menunjukkan bekas trauma);
4. Pembengkakan
5. Terlihat adanya tulang yang keluar dari jaringan lunak;

Palpasi (Meraba dan merasakan)


Perlu dibandingkan dengan sisi yang sehat sehingga penolong dapat merasakan perbedaannya. Rabalah
dengan hati-hati !
a. Adanya nyeri tekan pada daerah cedera (tenderness);
b. Adanya crepitasi (suara dan sensasi berkeretak) pada perabaan yang sedikit kuat;
c. Adanya gerakan abnormal dengan perabaan agak kuat.
Perhatian:
Jangan lakukan pemeriksaan yang sengaja untuk mendapat bunyi crepitasi atau gerakan abnormal, misal
meraba dengan kuat sekali.
3. Gerakan
Terdapat dua gerakan yaitu :
Aktif: Adalah pemeriksaan gerakan dimana anda meminta korban menggerakkan bagian yang cedera.
Pasif: Dimana penolong melakukan gerakan pada bagian yang cedera.
Pada pemeriksaan ini dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut:
§ Terdapat gerakan abnormal ketika menggeerakkan bagian yang cedera
§ Korban mengalami kehilangan fungsi pada bagian yang cedera. Apabila korban mengalami hal ini, maka
dapat disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu akibat nyeri karena adanya fraktur atau akibat kerusakan
saraf yang mempersarafi bagian tersebut (ini diakibatkan oleh karena patahan tulang merusak saraf
tersebut).
§ Pemeriksaan Komplikasi
Periksalah di bawah daerah patah tulang, Anda akan menemukan:
1. kulit berwarna kebiruan dan pucat;
2. denyut nadi tak teraba.
3. Selain itu pada bagian yang mengalami fraktur, otot-otot disekitarnya mengalami spasme
DISLOKASI
Pengertian
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya
komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang
seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis
membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi
rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha).
Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri.
Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya,
sendi itu akan gampang dislokasi lagi.
PEMBIDAIAN
Pertolongan Pertama pada Patah Tulang
Prinsip Pertolongan

1. mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri;


2. mencegah gerakan patah tulang yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak sekitarnya
seperti: pembuluh darah, otot, saraf dan lainnya.

Penanganan Secara Umum

1. DRABC
2. Atasi perdarahan dan tutup seluruh luka
3. Korban tidak boleh menggerakkan daerah yang terluka atau fraktur
4. Imobilisasi fraktur dengan penyandang, pembalut atau bidai
5. Tangani dengan hati-hati
6. Observasi dan atasi syok bila perlu
7. Segera cari pertolongan medis

Fraktur dan dislokasi harus diimobilisasi untuk mencegah memburuknya cedera. Tetapi situasi yang
memerlukan Resusitasi baik pernafasan maupun jantung dan cedera kritis yang multipel harus ditangani
terlebih dahulu.
Prioritas dalam menangani fraktur:

1. fraktur spinal;
2. fraktur tulang kepala dan tulang rusuk;
3. fraktur extremitas

Perhatian:
Dalam menangani fraktur, jangan hanya terpaku pada frakturnya saja tetapi selalu mulai dengan DRABCH
dan lakukan monitoring secara periodik.
Dan selalu ingat jika Anda tidak terlatih dan tidak berpengalaman jangan melakukan reposisi baik pada
fraktur mapun pada dislokasi.
Pembidaian adalah proses yang digunakan untuk imobilisasi fraktur dan dislokasi. Pembidaian harus
memfixasi tulang yang patah dan persendian yang berada di atas dan dibawah tulang yang fraktur. Jika
yang cedera adalah sendi, bidai harus memfixasi sendi tersebut beserta tulang disebelah distal dan
proximalnya.
Tipe-tipe bidai:

1. Bidai Rigid adalah bidai yang terbuat dari kayu, plastik, alumunium atau bahan lainyang keras.
2. Bidai Soft adalah bidai dari bantal, selimut, handuk atau pembalut atau bahan yang lunak lainnya.
3. Bidai Traksi

Digunakan untuk imobilisasi ujung tulang yang patah dari fraktur femur sehingga dapat terhindari kerusakan
yang lebih lanjut. Traksi merupakan aplikasi dari kekuatan yang cukup untuk menstabilkan patah tulang
yang patah, traksi bukanlah meregangkan atau menggerakkan tulang yang patah sampai ujung-ujung tulang
yang patah menyatu.
Prinsip Pembidaian
a. Lakukan pembidaian pada bagian badan yang mengalamai cedera;
b. Lakukan juga pembidaian pada kecurigaan patah tulang, jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada atau
tidaknya patah tulang;
c. Melewati minimal 2 sendi yang berbatasan.
Syarat Pembidaian

1. Bidai harus meliputi dua sendi, sebelum dipasang diukur terlebih dahulu pada anggota badan yang
tidak sakit;
2. Ikatan jangan terlalu ketat dan jangan terlalu kendor;
3. Bidai dibalut/ dilapisi sebelum digunakan;
4. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat yang patah;
5. Jika mungkin naikkan anggota gerak tersebut setelah dibidai;
6. Sepatu, cincin, gelang, jam dan alat yang mengikat tubuh lainnya perlu dilepas.

Aturan dasar yang harus diingat ketika melakukan pembidaian:

1. Jika ragu-ragu fraktur atau tidak ‘ Bidai


2. Bidai Rigid sebelum digunakan harus dilapisi dulu;
3. Ikatlah bidai dari distal ke proximal
4. Periksalah denyut nadi distal dan fungsi saraf sebelum dan sesudah pembidaian dan perhatikan
warna kulit ditalnya;
5. Jika mungkin naikkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang.

PEMBALUTAN
Pembalut harus dipasang cukup kuat untuk mencegah pergerakan tapi tidak terlalu kencang sehingga
mengganggu sirkulasi atau menyebabkan nyeri. Dalam usaha untuk mencegah pergesekan dan
ketidaknyamanan pada kulit, penggunaan bantalan lunak dianjurkan sebelum melakukan balutan.
Pengikatan selalu dilakukan di atas bidai atau pada sisi yang tidak cedera, kalau kedua kaki bawah
mengalami cedera, pengikatan dilakukan di depan dan diantara bagian yang cedera.
Periksa dengan interval 15 menit untuk menjamin bahwa pembalut tidak terlalu kencang akibat
pembengkakan dari jaringan yang cedera. Lewatkan pembalut pada bagian lekuk tubuh seperti leher, lutut
dan pergelangan kaki jika diperlukan.
Cara Imobilisasi Fraktur
Dengan Pembalut
Gunakan pembalut lebar bila ada;

1. Taruh pembalut dibawah bagian tubuh yang terjadi fraktur;


2. Topang lengan atau tungkai dengan bidai sampai pembalut cukup memfixasi
3. Setiap 15 menit periksa agar pembalut tudak terlalu ketat
4. Periksa pembalut supaya tidak longgar

Dengan Bidai
1. Dapat dipakai benda apa saja yang kaku dan cukup panjang melewati sendi dan ujung tulang
yang patah;
2. Pakai perban bantal diantara bidai dan bagian tubuh yang dibidai;
3. Ujung-ujung lengan/tungkai dibalut di atas dan dibawah daerah fraktur. Ikatan harus cukup kuat
pada daerah yang sehat.

Filed under: FRAKTUR dan DISLOKASI | Tagged: FRAKTUR dan DISLOKASI

asuhan keperawatan multiple fraktur


By admin on January 21st, 2009
I. Pengertian.
Adalah terputuisnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berubah
trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah
tulang radius dan ulna, dan dapat berubah trauma tidak langsung, misalnya jatuh
bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.
Akibat trauma pada tulang tergantuing pada jenis trauma,kekuatan, dan
arahnya.Taruma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat
menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ketulang yang disebut patah
tulang terbuka. Patah tulang yang didekat sendi atau yang mengenai sendi dapat
menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi.

patofisiologi (klik untuk perbesar gambar)

IV. Klasifikasi patah tulang.


Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidanya hubungan antara patahan tulang denga
dunia luar, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka yang memungkinkan
kuman dari luar dapat masuk kedalam luka sampai ke tulang yang patah.
Patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya
luka dan berat ringannya patah tulang.
Patang tulang juga dapat dibagi menurut garis fraktrunya misanya fisura, patah tulang
sederhana, patah tulang kominutif ( pengecilan, patah tulang segmental,patah tulang
impaksi ), patah tulang kompresi, impresi dan patah tulang patologis.
Derajat patah tulang terbuka terbagi atas 3 macam yaitu :
1. laserasi < 2 cm bentuknya sederhana, dislokasi,fragmen, minimal.
2. Laserasi > 2 cm kontusi otot diserkitarnya bentuknya dislokasi, fragmen jelas
3. Luka lebar, rusak hebat atau hilangnya jaringan disekitarnya bentuknya kominutif,
segmental,fragmen tulang ada yang hilang
Jenis patah tulang dapat digolongkan menjadi :
1. Visura ( Diafisis metatarsal
2. Serong sederhana ( Diaphisis metacarpal )
3. Lintang sederhana ( diafisis tibia )
4. Kominutif ( Diafisis femur )
5. Segmental ( Diafisis tibia )
6. Dahan hijau ( diafisis radius pada anak )
7. Kompresi ( Korpus vertebral th. XII )
8. Impaksi ( epifisis radius distal,kolum femur lateral )
9. Impresi ( tulang tengkorak )
10. Patologis ( Tomur diafisi humerus,kurpus vertebral)

V. Komplikasi patah tulang .


Komplikasi patah tulang meliputi :
1. Komplikasi segera
Lokal :
· Kulit( abrasi l;acerasi, penetrasi)
· Pembuluh darah ( robek )
· Sistem saraf ( Sumssum tulang belakang, saraf tepi motorik dan sensorik)
· Otot
· Organ dalam ( jantung,paru,hepar, limpha(pada Fr.kosta),kandung kemih (Fr.Pelvics)
Umum :
· Ruda paksa multiple
· Syok ( hemoragik, neurogenik )
2. Komplikas Dini :
Lokal :
· Nekrosis kulit, gangren, sindroma kopartemen,trombosis vena, infeksi
sendi,osteomelisis )
Umum :
· ARDS,emboli paru, tetanus.
3. Komplikasi lama
Lokal :
· Sendi (ankilosis fibrosa, ankilosis osal )
· Tulang ( gagal taut/lama dan salah taut,distropi reflek,osteoporosisi paskah
trauma,ggn pertumbuhan,osteomelisis,patah tulang ulang)
· Otot atau tendon ( penulangan otot, ruptur tendon )
· Saraf ( kelumpuhan saraf lambat
Umum :
· Batu ginjal ( akibat mobilisasi lama ditempat tidur)

VI. Penatalaksanaan patah tulang.


Penatalaksanaan patah tulang mengikuti prinsip pengobatan kedokteran pada
umumnya yang meliputi :
a. Jangan ciderai pasien( Primum Non Nocere).
b. Pengobatan yang tepat berdasarkanb diagnosis dan prognosisnya
c. Sesuai denga hokum alam
d. Sesuai dengan kepribadian individu
Khusus untuk patah tulang meliputi :
4. Reposisi
5. Imobilisasi
6. Mobilisasi berupa latihan seluruh system tubuh.

VII. Asuhan keperawatan.


ASUHAN KEPERAWATAN
1. Riwayat perjalanan penyakit.
2. Riwayat pengobatan sebelumnya.
3. Pertolongan pertama yang dilakukan
4. Pemeriksaan fisik :
§ Identifikasi fraktur
§ Inspeksi
§ Palpasi (bengkak, krepitasi, nadi, dingin)
§ Observasi spasme otot.
5. Pemeriksaan diagnostik :
§ Laboratorium (HCt, Hb, Leukosit, LED)
§ RÖ
§ CT-Scan
6. Obat-obatan : golongan antibiotika gram (+) dan gram (-)
§ Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya fraktur :
a. Osteomyelitis acut
b. Osteomyelitis kronik
c. Osteomalacia
d. Osteoporosis
e. Gout
f. Rhematoid arthritis
PENGKAJIAN SISTEM MUSKULOSKELETAL
DATA SUBYEKTIF
§ Data biografi
§ Adanya nyeri, kekakuan, kram, sakit pinggang, kemerahan, pembengkakan,
deformitas, ROM, gangguan sensasi.
§ Cara PQRST :
o Provikatif (penyebab)
o Quality (bagaimana rasanya, kelihatannya)
o Region/radiation (dimana dan apakah menyebar)
o Severity (apakah mengganggu aktivitas sehari-hari)
o Timing (kapan mulainya)
§ Pengkajian pada sistem lain
o Riwayat sistem muskuloskeletal, tanyakan juga tentang riwayat kesehatan masa lalu.
o Riwayat dirawat di RS
o Riwayat keluarga, diet.
o Aktivitas sehari-hari, jenis pekerjaan, jenis alas kaki yang digunakan
o Permasalahan dapat saja baru diketahui setelah klien ganti baju, membuka kran dll.
DATA OBYEKTIF
§ Inspeksi dan palpasi ROM dan kekuatan otot
§ Bandingakan dengan sisi lainnya.
§ Pengukuran kekuatan otot (0-5)
§ Duduk, berdiri dan berjalan kecuali ada kontra indikasi.
§ Kyposis, scoliosis, lordosis.
PROSEDUR DIAGNOSTIK
1. X-ray dan radiography
2. Arthrogram (mendiagnosa trauma pada kapsul di persendian atau ligamen).
Anestesi lokal sebelum dimasukkan cairan kontras/udara ke daerah yang akan
diperiksa.
3. Lamnograph (untuk mengetahui lokasi yang mengalami destruksi atau
mengevaluasi bone graf).
4. Scanograph (mengetahui panjang dari tulang panjang, sering dilakukan pada
anak-anak sebelum operasi epifisis).
5. Bone scanning (cairan radioisotop dimasukkan melalui vena, sering dilakukan
pada tumor ganas, osteomyelitis dan fraktur).
6. MRI
7. Arthroscopy (tindakan peneropongan di daerah sendi)
8. Arthrocentesis (metode pengambilan cairan sinovial)
MASALAH-MASALAH YANG UMUM TERJADI
1. Gangguan dalam melakukan ambulasi.
· Berdampak luas pada aspek psikososial klien.
· Klien membutuhkan imobilisasi → menyebabkan spasme otot dan kekakuan sendi
· Perlu dilakukan ROM untuk menguragi komplikasi :
- Kaki (fleksi, inverse, eversi, rotasi)
- Pinggul (abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, rotasi)
- Lutut (ekstensi)
- Jari-jari kaki (ektensi, fleksi)
1. Nyeri; tindakan keperawatan :
· Merubah posisi pasien
· Kompres hangat, dingin
· Pemijatan
· Menguragi penekanan dan support social
· Apabila nyeri di sendi, perlu dikaji :
- Kejadian sebelum terjadinya nyeri
- Derajat nyeri pada saat nyeri pertama timbul
- Penyebaran nyeri
- Lamanya nyeri
- Intensitas nyeri, apakah menyertai pergerakan
- Sumber nyeri
- Hal-hal yang dapat mengurangi nyeri.
1. Spasme otot
· Spasme otot (kram/kontraksi otot involunter)
· Spasme otot dapat disebabkan iskemi jaringan dan hipoksia.
· Tindakan keperawatan :
a. Rubah posisi
b. Letakkan guling kecil di bawah pergelangan kaki dan lutut
c. Berikan ruangan yang cukup hangat
d. Hindari pemberian obat sedasi berat → dapat menurunkan aktivitas pergerakan
selama tidur
e. Beri latihan aktif dan pasif sesuai program
INTERVENSI
1. Istirahat
· Istirahat adalah intervensi utama
· Membantu proses penyembuhan dan meminimalkan inflamasi, pembengkakan dan
nyeri.
· Pemasangan bidai/gips.
1. Kompres hangat
· Rendam air hangat/kantung karet hangat
· Diikuti dengan latihan pergerakan/pemijatan
· Dampak fisiologis dari kompres hangat adalah :
o Perlunakan jaringan fibrosa
o Membuat relaks otot dan tubuh
o Menurunkan atau menghilangkan nyeri
o Meningkatkan suplai darah/melancarkan aliran darah.
2. Kompres dingin
· Metoda tidak langsung seperti cold pack
· Dampak fisiologis adalah vasokonstriksi dan penerunan metabolic
· Membantu mengontrol perdarahan dan pembengkakan karena trauma
· Nyeri dapat berkurang, dapat menurunkan aktivitas ujung saraf pada otot
· Harus hati-hati, dapat menyebabkan jaringan kulit nekrosis
· Tidak sampai > 30 menit.

Categories: Asuhan Keperawatan, medikal bedah


Tags: askep multiple fraktur, asuhan keperawatan multiple fraktur, fraktur
Related Posts
• ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR MANDIBULA
• ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR
• ASUHAN KEPERAWATAN HEMATOTHORAX
• ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR CERVICALIS
• Askep pasien dengan Hemofilia

25 January 2010

FRAKTUR Dan DISLOKASI


Pengertian

Fraktur atau patah tulang adalah keadaan dimana hubungan atau kesatuan jaringan tulang terputus. Tulang

mempunyai daya lentur (elastisitas) dengan kekuatan yang memadai, apabila trauma melebihi dari daya

lentur tersebut maka terjadi fraktur (patah tulang). Penyebab terjadinya fraktur adalah trauma, stres kronis

dan berulang maupun pelunakan tulang yang abnormal.

Bagaimana patah tulang itu terjadi ?

a. Trauma (benturan)

Ada dua trauma/ benturan yang dapat mengakibatkan fraktur, yaitu:

- Benturan langsung

- Benturan tidak langsung

b. Tekanan/stres yang terus menerus dan berlangsung lama

Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan fraktur (patah tulang) yang

kebanyakan pada tulang tibia, fibula (tulang-tulang pada betis) atau metatarsal pada olahragawan, militer

maupun penari.
Contoh: Seorang yang senang baris berbaris dan menghentak-hentakkan kakinya, maka mungkin terjadi

patah tulang di daerah tertentu.

c. Adanya keadaan yang tidak normal pada tulang dan usia

Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya proses patologis seperti tumor maka dengan energi

kekerasan yang minimal akan mengakibatkan fraktur yang pada orang normal belum dapat menimbulkan

fraktur.

Bagaimana Mengetahui Adanya Patah Tulang

1. Riwayat: Setiap patah tulang umumnya mempunyai riwayat trauma yang diikuti pengurangan

kemampuan anggota gerak yang terkena. Ingat bahwa fraktur tidak selalu terjadi pada daerah yang

mengalami trauma (tekanan).

2. Pemeriksaan:

Inspeksi (Lihat) bandingkan dengan sisi yang normal, dan perhatikan hal-hal dibawah ini:

1. Adanya perubahan asimetris kanan-kiri

2. Adanya Deformitas seperti Angulasi (membentuk sudut) atau; Rotasi (memutar)dan Pemendekan

3. Jejas (tanda yang menunjukkan bekas trauma);

4. Pembengkakan

5. Terlihat adanya tulang yang keluar dari jaringan lunak;

Palpasi (Meraba dan merasakan)

Perlu dibandingkan dengan sisi yang sehat sehingga penolong dapat merasakan perbedaannya. Rabalah

dengan hati-hati !

a. Adanya nyeri tekan pada daerah cedera (tenderness);

b. Adanya crepitasi (suara dan sensasi berkeretak) pada perabaan yang sedikit kuat;

c. Adanya gerakan abnormal dengan perabaan agak kuat.

Perhatian:

Jangan lakukan pemeriksaan yang sengaja untuk mendapat bunyi crepitasi atau gerakan abnormal, misal

meraba dengan kuat sekali.

3. Gerakan

Terdapat dua gerakan yaitu :

Aktif: Adalah pemeriksaan gerakan dimana anda meminta korban menggerakkan bagian yang cedera.

Pasif: Dimana penolong melakukan gerakan pada bagian yang cedera.

Pada pemeriksaan ini dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut:

§ Terdapat gerakan abnormal ketika menggeerakkan bagian yang cedera


§ Korban mengalami kehilangan fungsi pada bagian yang cedera. Apabila korban mengalami hal ini, maka

dapat disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu akibat nyeri karena adanya fraktur atau akibat kerusakan

saraf yang mempersarafi bagian tersebut (ini diakibatkan oleh karena patahan tulang merusak saraf

tersebut).

§ Pemeriksaan Komplikasi

Periksalah di bawah daerah patah tulang, Anda akan menemukan:

1. kulit berwarna kebiruan dan pucat;

2. denyut nadi tak teraba.

3. Selain itu pada bagian yang mengalami fraktur, otot-otot disekitarnya mengalami spasme

DISLOKASI

Pengertian

Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya

komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang

seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis

membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain: sendi

rahangnya telah mengalami dislokasi.

Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha).

Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri.

Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya,

sendi itu akan gampang dislokasi lagi.

PEMBIDAIAN

Pertolongan Pertama pada Patah Tulang

Prinsip Pertolongan

1. mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri;

2. mencegah gerakan patah tulang yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak sekitarnya

seperti: pembuluh darah, otot, saraf dan lainnya.

Penanganan Secara Umum

1. DRABC

2. Atasi perdarahan dan tutup seluruh luka

3. Korban tidak boleh menggerakkan daerah yang terluka atau fraktur

4. Imobilisasi fraktur dengan penyandang, pembalut atau bidai

5. Tangani dengan hati-hati

6. Observasi dan atasi syok bila perlu


7. Segera cari pertolongan medis

Fraktur dan dislokasi harus diimobilisasi untuk mencegah memburuknya cedera. Tetapi situasi yang

memerlukan Resusitasi baik pernafasan maupun jantung dan cedera kritis yang multipel harus ditangani

terlebih dahulu.

Prioritas dalam menangani fraktur:

1. fraktur spinal;

2. fraktur tulang kepala dan tulang rusuk;

3. fraktur extremitas

Perhatian:

Dalam menangani fraktur, jangan hanya terpaku pada frakturnya saja tetapi selalu mulai dengan DRABCH

dan lakukan monitoring secara periodik.

Dan selalu ingat jika Anda tidak terlatih dan tidak berpengalaman jangan melakukan reposisi baik pada

fraktur mapun pada dislokasi.

Pembidaian adalah proses yang digunakan untuk imobilisasi fraktur dan dislokasi. Pembidaian harus

memfixasi tulang yang patah dan persendian yang berada di atas dan dibawah tulang yang fraktur. Jika

yang cedera adalah sendi, bidai harus memfixasi sendi tersebut beserta tulang disebelah distal dan

proximalnya.

Tipe-tipe bidai:

1. Bidai Rigid adalah bidai yang terbuat dari kayu, plastik, alumunium atau bahan lainyang keras.

2. Bidai Soft adalah bidai dari bantal, selimut, handuk atau pembalut atau bahan yang lunak lainnya.

3. Bidai Traksi

Digunakan untuk imobilisasi ujung tulang yang patah dari fraktur femur sehingga dapat terhindari kerusakan

yang lebih lanjut. Traksi merupakan aplikasi dari kekuatan yang cukup untuk menstabilkan patah tulang

yang patah, traksi bukanlah meregangkan atau menggerakkan tulang yang patah sampai ujung-ujung tulang

yang patah menyatu.

Prinsip Pembidaian

a. Lakukan pembidaian pada bagian badan yang mengalamai cedera;

b. Lakukan juga pembidaian pada kecurigaan patah tulang, jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada atau

tidaknya patah tulang;

c. Melewati minimal 2 sendi yang berbatasan.

Syarat Pembidaian

1. Bidai harus meliputi dua sendi, sebelum dipasang diukur terlebih dahulu pada anggota badan yang

tidak sakit;
2. Ikatan jangan terlalu ketat dan jangan terlalu kendor;

3. Bidai dibalut/ dilapisi sebelum digunakan;

4. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat yang patah;

5. Jika mungkin naikkan anggota gerak tersebut setelah dibidai;

6. Sepatu, cincin, gelang, jam dan alat yang mengikat tubuh lainnya perlu dilepas.

Aturan dasar yang harus diingat ketika melakukan pembidaian:

1. Jika ragu-ragu fraktur atau tidak ‘ Bidai

2. Bidai Rigid sebelum digunakan harus dilapisi dulu;

3. Ikatlah bidai dari distal ke proximal

4. Periksalah denyut nadi distal dan fungsi saraf sebelum dan sesudah pembidaian dan perhatikan

warna kulit ditalnya;

5. Jika mungkin naikkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang.

PEMBALUTAN

Pembalut harus dipasang cukup kuat untuk mencegah pergerakan tapi tidak terlalu kencang sehingga

mengganggu sirkulasi atau menyebabkan nyeri. Dalam usaha untuk mencegah pergesekan dan

ketidaknyamanan pada kulit, penggunaan bantalan lunak dianjurkan sebelum melakukan balutan.

Pengikatan selalu dilakukan di atas bidai atau pada sisi yang tidak cedera, kalau kedua kaki bawah

mengalami cedera, pengikatan dilakukan di depan dan diantara bagian yang cedera.

Periksa dengan interval 15 menit untuk menjamin bahwa pembalut tidak terlalu kencang akibat

pembengkakan dari jaringan yang cedera. Lewatkan pembalut pada bagian lekuk tubuh seperti leher, lutut

dan pergelangan kaki jika diperlukan.

Cara Imobilisasi Fraktur

Dengan Pembalut

Gunakan pembalut lebar bila ada;

1. Taruh pembalut dibawah bagian tubuh yang terjadi fraktur;

2. Topang lengan atau tungkai dengan bidai sampai pembalut cukup memfixasi

3. Setiap 15 menit periksa agar pembalut tudak terlalu ketat

4. Periksa pembalut supaya tidak longgar

Dengan Bidai

1. Dapat dipakai benda apa saja yang kaku dan cukup panjang melewati sendi dan ujung tulang yang

patah;

2. Pakai perban bantal diantara bidai dan bagian tubuh yang dibidai;
3. Ujung-ujung lengan/tungkai dibalut di atas dan dibawah daerah fraktur. Ikatan harus cukup kuat

pada daerah yang sehat.

Mata Kuliah : Keperawatan Dewasa II


Dosen : Ns. Ruslan, S.Kep

FRAKTUR & DISLOKASI

Disusun Oleh
Kelompok III

EDY SUPARDI
SRI MELATI
SURIYANTI
ABD. RAHMAN
SUPARLANG
SARTIKA
MARDIANA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BARAMULI PINRANG


PRODI S1 KEPERAWATAN
2009
FRAKTUR & DISLOKASI

A. DEFINISI
Fraktur adalah pemisahan atau robekan pada kontinuitas
tulang yang terjadi karena adanya tekanan yang berlebihan pada
tulang dan tulang tidak mampu untuk menahannya.
Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau
tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. (E. Oerswari, 1989 :
144).
Fraktur atau umumnya patah tulang adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh
rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347).
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh
trauma atau tenaga fisik dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan
dari tulang itu sendiri dan jaringan lunak di sekitar tulang akan
menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap, tidak lengkap.
(Arice, 1995 : 1183)
Patah tulang adalah terputusnya hubungan normal suatu
tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan.(Oswari,
2000 : 144)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa.
(Mansjoer, 2000 : 42).
B. ETIOLOGI
Penyebab fraktur / patah tulang menurut (Long, 1996 : 367)
adalah :
a. Benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan)
b. Fraktur patologik (kelemahan hilang akibat penyakit kanker,
osteophorosis)
c. Patah karena letih
d. Patah karena tulang tidak dapat mengabsorbsi energi karena
berjalan terlalu jauh.
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi
tiga yaitu :
a. Cedera traumatic
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang
sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya
menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit
diatasnya.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh
dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.
3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari
otot yang kuat.
b. Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit
dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur
dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
1) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru
yang tidak terkendali dan progresif.
2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat
infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang
progresif, lambat dan sakit nyeri.
3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh
defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan
skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi
kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin
D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus
menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas
dikemiliteran.
Etiologi Fraktur ada dua jenis, yaitu :
1. Trauma langsung, yaitu : fraktur yang terjadi karena mendapat
rudapaksa, misalnya benturan atau pukulan yang
mengakibatkan patah tulang.
2. Trauma tidak langsung, yaitu : bila fraktur terjadi, bagian tulang
mendapat rudapaksa dan mengakibatkan fraktur lain disekitar
bagian yang mendapat rudapaksa tersebut dan juga karena
penyakit primer seperti osteoporosis dan osteosarkoma.
Dari etiologi yang dapat menyebabkan fraktur dibagi menjadi
dua yaitu fraktur tertutup dan frkatur terbuka. Pada fraktur tertutup
akan terjadi kerusakan pada kanalis havers dan jaringan lunak
diarea fraktur, akibat kerusakan jaringan tersebut akan terbentuk
bekuan darah dan benang-benang fibrin serta hematoma yang akan
membentuk jaringan nekrosis. Maka terjadilah respon informasi
informasi fibroblast dan kapiler-kapiler baru tumbuh dan
membentuk jaringan granulasi. Pada bagian ujung periosteum-
periosteum, endeosteum dan sumsum tulang akan mensuplai
osteoblast, kemudian osteoblast berproliferasi membentuk
fibrokartilago, kartilago hialin dan jaringan penunjang fibrosa.
Selanjutnya akan dibentuk fiber-fiber kartilago dan matriks tulang
yang menghubungkan dua sisi fragmen tulang yang rusak,
sehingga terjadi osteogenesis dengan cepat sampai terbentuknya
jaringan granulasi.
Sedangkan pada fraktur terbuka terjadi robekan pada kulit
dan pembuluh darah, maka terjadilah perdarahan, darah akan
banyak keluar dari ekstra vaskuler dan terjadilah syok hipovolemik,
yang ditandai dengan penurunan tekanan darah atau hipotensi syok
hipovolemik juga dapt menyebabkan cardiac output menurun dan
terjadilah hipoksia. Karena hipoksia inilah respon tubuh akan
membentuk metabolisme an aerob adalah asam laktat, maka bila
terjadi metabolisme an aerob maka asam laktat dalam tubuh akan
meningkat.
C. PATOFISIOLOGI
Fraktur / patah tulang terjadi karena benturan tubuh, jatuh / trauma (long,
1996 : 356). Baik itu karena trauma langsung, misalnya : tulang kaki terbentur
bumper mobil, karena trauma tidak langsung , misalnya : seseorang yang jatuh
dengan telapak tangan menyangga. Juga bisa oleh karena trauma akibat tarikan otot
misalnya tulang patella dan dekranon, karena otot triseps dan biseps mendadak
berkontraksi. (Oswari, 2000 : 147).
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak
terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur
terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena
perlukaan di kulit. (Mansjoer, 2000 : 346).
Sewaktu tulang patah pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan
ke dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya
mengalami kerusakan. Reaksi pendarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-
sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke
tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat
patah terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk
melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru
umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru
mengalami remodelling untuk membentuk tulang sejati. (Corwin, 2000 : 299).
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan
dengan pembekakan yang tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke
ekstremitas dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol
pembengkakan dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total
dan berakibat anoksia mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot.
Komplikasi ini dinamakan syndrom kompartemen. (Brunner & Suddarth, 2002 :
2287).
Pengobatan dari fraktur tertutup bisa konservatif atau operatif. Theraphy
konservatif meliputi proteksi saja dengan mitella atau bidai. Imobilisasi dengan
pemasangan gips dan dengan traksi. Sedangkan operatif terdiri dari reposisi terbuka,
fiksasi internal dan reposisi tertutup dengan kontrol radio logis diikuti fraksasi
internal. (Mansjoer, 2000 : 348).
Pada pemasangan bidai / gips / traksi maka dilakukan imobilisasi pada bagian
yang patah, imobilisasi dapat menyebabkan berkurangnya kekuatan otot dan densitas
tulang agak cepat (Price & Willsen, 1995 : 1192).
Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi
dari imobilisasi antara lain : adanya rasa tidak enak, iritasi kulit dan luka yang
disebabkan oleh penekanan, hilangnya otot (Long, 1996 : 378).
Kurang perawatan diri dapat terjadi bila sebagian tubuh diimobilisasi,
mengakibatkan berkurangnya kemampuan perawatan diri (Carpenito, 1999 : 346).
Pada reduksi terbuka dan fiksasi interna (OKIF) fragme-fragmen tulang
dipertahankan dengan pen, sekrup, pelat, paku. Namun pembedahan meningkatkan
kemungkinan terjadi infeksi. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan
lunak dan struktur yang seluruhnya tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong
atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi (Price & Willson, 1995 : 1192).
Pembedahan yang dilakukan pada tulang, otot dan sendi dapat mengakibatkan nyeri
yang hebat (Brunner & Suddarth, 2002 : 2304).

Penyimpangan KDM
D. KLASIFIKASI FRAKTUR
Fraktur di klasifikasikan sebagai berikut :
1) Fraktur tertutup
Merupakan fraktur tanpa komplikasi dengan kulit tetap
utuh disekitar fraktur tidak menonjol keluar dari kulit.
2) Fraktur terbuka
Pada tipe ini, terdapat kerusakan kulit sekitar fraktur, luka
tersebut menghubungkan bagian luar kulit. Pada fraktur terbuka
biasanya potensial untuk terjadinya infeksi, luka terbuka ini
dibagi menurut gradenya.
Grade I : luka bersih, kurang dari 1 Cm.
Grade II : luka lebih luas disertai luka memar pada kulit dan otot.
Grade III : paling parah dengan perluasan kerusakan jaringan
lunak terjadi pula kerusakan pada pembuluh darah dan syaraf.
3) Fraktur komplit
Pada fraktur ini garis fraktur menonjol atau melingkari tulang
periosteum terganggu sepenuhnya.
4) Fraktur inkomplit
Garis fraktur memanjang ditengah tulang, pada keadaan
ini tulang tidak terganggu sepenuhnya.
5) Fraktur displaced
Fragmen tulang terpisah dari garis fraktur.
6) Fraktur Comminuted
Fraktur yang terjadi lebih dari satu garis fraktur, dan
fragmen tulang hancur menjadi beberapa bagian (remuk).
7) Fraktur impacted atau fraktur compressi
Tulang saling tindih satu dengan yang lainnya.
8) Fraktur Patologis
Fraktur yang terjadi karena gangguan pada tulang serta
osteoporosis atau tumor.
9) Fraktur greenstick
Pada fraktur ini sisi tulang fraktur dan sisi tulang lain bengkak.
E. TANDA DAN GEJALA
1. Nyeri tekan : karena adanya kerusakan syaraf dan pembuluh
darah.
2. Bengkak dikarenakan tidak lancarnya aliran darah ke jaringan.
3. Krepitus yaitu rasa gemetar ketika ujung tulang bergeser.
4. Deformitas yaitu perubahan bentuk, pergerakan tulang jadi
memendek karena kuatnya tarikan otot-otot ekstremitas yang
menarik patahan tulang.
5. Gerakan abnormal, disebabkan karena bagian gerakan menjadi
tidak normal disebabkan tidak tetapnya tulang karena fraktur.
6. Fungsiolaesa/paralysis karena rusaknya syaraf serta pembuluh
darah.
7. Memar karena perdarahan subkutan.
8. Spasme otot pada daerah luka atau fraktur terjadi kontraksi pada
otot-otot involunter.
9. Gangguan sensasi (mati rasa) dapat terjadi karena kerusakan
syaraf atau tertekan oleh cedera, perdarahan atau fragmen
tulang.
10. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous
11. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang
dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang
berdekatan.
12. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah
F. KOMPLIKASI
- Malunion : Fraktur sembuh dengan deformitas (angulasi,
perpendekan/rotasi)
- Delayed union : Fraktur sembuh dalam jangka waktu yang lebih
dari normal.
- Nonunion : Fraktur yang tidak menyambung yang juga disebut
pseudoarthritis, nonunion yaitu terjadi karena penyambungan
yang tidak tepat, tulang gagal bersambung kembali.
G. PENATALAKSANAAN
a. Medis
1) Traksi
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan
beban dengan tali pada ekstreminasi klien. Tempat tarikan
disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris
dengan sumbu tarikan tulang yang patah. Kegunaan traksi
adalah antara lain mengurangi patah tulang,
mempertahankan fragmen tulang pada posisi yang
sebenarnya selama penyembuhan, memobilisasikan tubuh
bagian jaringan lunak, memperbaiki deformitas.
Jenis traksi ada dua macam yaitu : Traksi kulit, biasanya
menggunakan plester perekat sepanjang ekstremitas yang
kemudian dibalut, ujung plester dihubungkan dengan tali
untuk ditarik. Penarikan biasanya menggunakan katrol dan
beban. Traksi skelet, biasanya dengan menggunakan pin
Steinman/kawat kirshner yang lebih halus, biasanya disebut
kawat k yang ditusukan pada tulang kemudian pin tersebut
ditarik dengan tali, katrol dan beban.
2) Reduksi
Reduksi merupakan proses manipulasi pada tulang yang
fraktur untuk memperbaiki kesejajaran dan mengurangi
penekanan serta merenggangkan saraf dan pembuluh darah.
Jenis reduksi ada dua macam, yaitu : Reduksi tertutup,
merupakan metode untuk mensejajarkan fraktur atau
meluruskan fraktur, dan Reduksi terbuka, pada reduksi ini
insisi dilakukan dan fraktur diluruskan selama pembedahan
dibawah pengawasan langsung. Pada saat pembedahan,
berbagai alat fiksasi internal digunakan pada tulang yang
fraktur.
b. Fisiotherapi
Alat untuk reimobilisasi mencakup exercise terapeutik,
ROM aktif dan pasif. ROM pasif mencegah kontraktur pada sendi
dan mempertahankan ROM normal pada sendi. ROM dapat
dilakukan oleh therapist, perawat atau mesin CPM (continous
pasive motion). ROM aktif untuk meningkatkan kekuatan otot.
c. Proses Penyembuhan Tulang
1) Fase formasi hematon (sampai hari ke-5)
Pada fase ini area fraktur akan mengalami kerusakan
pada kanalis havers dan jaringan lunak, pada 24 jam pertama
akan membentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke
area fraktur sehingga suplai darah ke area fraktur meningkat,
kemudian akan membentuk hematoma sampai berkembang
menjadi jaringan granulasi.
2) Fase proliferasi (hari ke-12)
Akibat dari hematoma pada respon inflamasi fibioflast
dan kapiler-kapiler baru tumbuh membentuk jaringan
granulasi dan osteoblast berproliferasi membentuk
fibrokartilago, kartilago hialin dan jaringan penunjang fibrosa,
akan selanjutnya terbentuk fiber-fiber kartilago dan matriks
tulang yang menghubungkan dua sisi fragmen tulang yang
rusak sehingga terjadi osteogenesis dengan cepat.
3) Fase formasi kalius (6-10 hari, setelah cidera)
Pada fase ini akan membentuk pra prakulius dimana
jumlah prakalius nakan membesar tetapi masih bersifat
lemah, prakulius akan mencapai ukuran maksimal pada hari
ke-14 sampai dengan hari ke-21 setelah cidera.
4) Fase formasi kalius (sampai dengan minggu ke-12)
Pada fase ini prakalius mengalami pemadatan
(ossificasi) sehingga terbentuk kalius-kalius eksterna, interna
dan intermedialis selain itu osteoblast terus diproduksi untuk
pembentukan kalius ossificasi ini berlangsung selama 2-3
minggu. Pada minggu ke-3 sampai ke-10 kalius akan
menutupi tulang.
5) Fase konsolidasi (6-8 Bulan) dan remoding (6-12 bulan)
Pengkokohan atau persatuan tulang proporsional tulang
ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi
lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kalius tulang akan
mengalami remodering dimanaosteoblast akan membentuk
tulang baru, sementara osteoklast akan menyingkirkan
bagian yang rusak sehingga akhirnya akan terbentuk tulang
yang menyeruapai keadaan tulang yang aslinya.
H. Manifestasi Klinik
Manifestasi Klinis Fraktur adalah nyeri, hilangnya sungsi
deformitas, pemendekan ekstremitas krepitus, pembekakan lokal
dan perubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai frogmen
tulang diimobilisasi spasme otot yang menyertai fraktur
merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk
meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa)
bukannya tetap menjadi seperti normalnya. Pergeseran fragmen
pada faktur lengan atau tungkai menyebabkan defromitas
(terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan
membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang
sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan
bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu
sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm.
4. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya
fragmen satu dengan lainnya (uji krepitus dapat kerusakan
jaringan lunak yang lebih berat).
5. Pembekakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi
sebagai akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur.
Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari
setelah cedera. ( Brunner dan Suddarth, 2001 : 2358 )
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto Rontgen
- Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara
langsung
- Mengetahui tempat dan type fraktur
- Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi
dan selama proses penyembuhan secara periodic
2. Skor tulang tomography, skor C1, Mr1 : dapat digunakan
mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak.
3. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
4. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat
( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( perdarahan bermakna pada
sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple)
Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah
trauma
5. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah
transfusi multiple atau cedera hati (Doenges, 1999 : 76 ).

J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian primer
- Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya
penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk
- Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas
terdengar ronchi /aspirasi
- Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap
lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini,
disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis
pada tahap lanjut
2. Pengkajian sekunder
Data demografi : identitas klien
Riwayat kesehatan sekarang : kejadian yang mengalami cedera.
Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat penyakit DM, TB, arthritis,
osteomielitis, dan lain-lain.
Riwayat imunisasi : Polio, Tetanus.
a. Aktivitas/istirahat
kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
Keterbatasan mobilitas
b. Sirkulasi
Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
Tachikardi
Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
Cailary refil melambat
Pucat pada bagian yang terkena
Masa hematoma pada sisi cedera

c. Neurosensori
Kesemutan
Deformitas, krepitasi, pemendekan
kelemahan
d. Kenyamanan
nyeri tiba-tiba saat cidera
spasme/ kram otot
e. Keamanan
laserasi kulit
perdarahan
perubahan warna, pembengkakan local
f. Integumen, laserasi, perdarahan edema, perubahan warna
kulit.
g. Sistem otot : kekuatan gerak koordinasi.
h. Pemeriksaan diagnostic.
Pemeriksaan ronthgen menentukan lokasi/luasnya
fraktur/trauma.
Scan tulang, tomogram, scan ct, MRI : memperlihatkan
fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak.
Arteriogram : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
Hitung darah lengkap : HT, mungkin meningkat (hemoton
sentrasi) atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi
fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Peningkatan
leukosit adalah respon stress normal setelah trauma
Diagnosa Keperawatan
a. tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan trauma
jalan nafas.
Tujuan yang ingin dicapai adalah bersihan jalan nafas efektif.
Intervensi : yang akan dilakukan adlah,
- tinggikan tempat tidur30 derajat,
- observasi frekuensi/irama pernafasan,
- observasi adanya batuk, wheezing dan edema,
- observasi tanda-tanda vital.
- Auskultasi bunyi nafas, ajarkan tekhnik nafas dalam,
- ubah posisi secara periodic,
- berikan minum2-3 liter/hari
- kolaborasi dalam pemberian oksigen.
b. resiko tinggi trauma berhubungan dengan hilangnya integritas
tulang/fraktur).
Tujuan yang akan dicapai adalah klien terhindar dari trauma.
Intervensi yang akan dilakukan adalah
- pertahanan traksi baring sesuai indikasi letakan papan dibawah
tempat tidurortopedik,
- pertahanan posisi netral pada bagian, fraktur dengan bantal,
- anjurkan klien menghindari untuk beban yang berat,
- kolaborasi dengan tim medis lain, rinthgen.
c. resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan pemasangan kawat di rahang).
Tujuan yang akan dicapai adalah gangguan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh teratasi.
Intervensi yang akan dilakukan adalah,
- timbang berat badan setiap hari,
- berikan air minum hangat bila mual,
- anjurkan klien bersandar bila makan atau minum,
- anjurkan makan dengan sedotan berikan makan sedikit tapi
sering dengan konsistensi yang sesuai,
- Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet.
d. gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot
Tujuan yang akan dicapai adalah nyeri berkurang.
Intervensi yang akan dilakukan adalah
- kaji karakteritik nyeri, lokasi dan intensitas (skala 0-10).
- Perrtahankan mobilisasi tirah baring, tinggikan bagian
ekstremitas yang nyeri, beri kompres dingin, observasi tanda-
tanda vital (TD,N,S,RR).
- Ajarkan tekhnik relaksasi,
- kolaborasi dengan dokter dalampemberian therapy analgetik.
e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
kerangka neuromuskuler).
Tujuan yang akan dicapai adalah klien mampu bermobilisasi
secara bertahap.
Intervensi yang akan dilakukan adalah
- kaji tingkat mobilitas klien,
- bantu klien dalam mobilisasi,
- ukur TD setelah aktivitas,
- bantu klien dalam gerakan pada ekstremitas yang sakit dan
tidak sakit, anjurkan klien untuk gerakan pada ekstremitas yang
tidak nyeri,
- kolaborasi dengan tim medis lain : fisiotherapy.
f. resiko tinggi integritas kulit berhubungan dengan cidera tusuk
fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat
dan sekrup
Tujuan yang akan dicapai adalah gangguan integritas kulit
teratasi.
Intervensi yang akan dilakukan adalah
- kaji keadaan luka (adanya tanda-tanda infeksi).
- Pertahankan tempat tidur kering dan bebas dari kerutan, rubah
posisi akan setiap 2 jam sekali,
- lakukan perawatan luka, observasi daerah yang terpasang
balutan, libatkan keluarga dalam perawatan luka.
g. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan pemasangan
kawat pada rahang.
Tujuan yang akan dicapai adalah klien dapat berkomunikasi,
dengan baik.
Intervensi yang akan dilakukan adalah :
tentukan luasnya ketidak mampuan berkomunikasi,
berikan pilihan cara berkomunikasi, validasi upaya arti
komunikasi, antisipasi kebutuhan, tempatkan catatan didekat
klien.
h. resiko tiggi infeksi berhubungan dengan tidak ada kuatnya
pertahan primer.
Tujuan yang akan dicapai adalah infeksi tidak terjadi.
Intervensi yang akan dilakukan adalah
- kaji kulit apakah terdapat iritasi atau robekan kontinuitas
jaringan observasi tanda-tanda vital, terutama suhu,
- observasi tanda-tanda infeksi, lakukan perawatan luka secara
septic dan antiseptic, kaji balutan luka
- kolaborasi dengan tim medis lain : laboratorium dalam
pemeriksaan darah (LED dan leukosit), kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian antibiotic.
i. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi.
Tujuan yang akan dicapai adalah klien tidak cemas lagi.
Intervensi yang akan dilakukan adalah
diskusikan tindakan keamanan, bantu mengekspresikan
ketakutan, bantu untuk mengakui kenyataan, termasuk marah,
beri penjelasan tentang peubahan wajah, berikan cermin bila
pasien menghendaki, ajarkan tekhnik manajemen stress.
j. Kurang pegetahuan tentang kondisi prognosis dan pengobatan
berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan yang akan dicapai adalah pengetahuan klien akan
bertambah.
Intervensi yang akan dilakukan adalah
kaji sejauh mana tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya,
beri pendidikan kesehatan tentang penyakitnya, beri
reinfoercement positif jika klien menjawab dengan cepat, pilih
berbagai strategi belajar seperti : tekhnik ceramah, tanya jawab
dan demonstrasikan dan tanyakan apa yang tidak diketahui klien.

MANAJEMEN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN POST OP
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan
secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian pasien Post op frakture Olecranon (Doenges, 1999) meliputi
:
a. Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit
vascular perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko
pembentukan trombus).
b. Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress
multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka
rangsang ; stimulasi simpatis.
c. Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk
hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ;
membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode
puasa pra operasi).
d. Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
e. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan
larutan ; Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan
penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker
terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi
anestesi ; Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-
obatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah /
reaksi transfuse
Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
f. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic,
antihipertensi, kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator,
diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau
tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan
rekreasional. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal,
yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga
potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op
fraktur (Wilkinson, 2006) meliputi :
Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada
pasien dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson, 2006) meliputi :
1. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak
menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan
aktual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti
kerusakan ; awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas
ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau
dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
- Nyeri berkurang atau hilang
- Klien tampak tenang.
Intervensi dan Implementasi :
a. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
b. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri
R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala
nyeri
c. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien
tentang nyeri.
d. Observasi tanda-tanda vital.
R/ untuk mengetahui perkembangan klien
e. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian
analgesic
R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik
berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.
2. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang
tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk
bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang
diinginkan.
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
Kriteria hasil :
- perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan
diri.
- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa
aktivitas tanpa dibantu.
- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Intervensi dan Implementasi :
a. Rencanakan periode istirahat yang cukup.
R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi
terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar
optimal.
b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas
secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang
tepat, mobilisasi dini.
c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih
kembali.
d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.
R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh
sebagai akibat dari latihan.
3. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang
mengalami perubahan secara tidak diinginkan.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil :
- tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. R/
mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah
dalam melakukan tindakan yang tepat.
b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah
intervensi.
c. Pantau peningkatan suhu tubuh
R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai
adanya proses peradangan.
d. d. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka
dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.
R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka
dan mencegah terjadinya infeksi.
e. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan,
misalnya debridement.
R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak
menyebar luas pada area kulit normal lainnya.
f. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung
kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
g. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme
pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.
4. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam
kemandirian, pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau
satu ekstremitas atau lebih.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil :
- penampilan yang seimbang..
- melakukan pergerakkan dan perpindahan.
- mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi,
dengan karakteristik :
0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan,
pengawasan, dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi dan Implementasi :
a. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan
peralatan.
R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
b. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas
apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
c. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
d. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan
otot.
e. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan
dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur
invasif dan kerusakan kulit
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil :
- tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a. Pantau tanda-tanda vital. R/ mengidentifikasi tanda-tanda
peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
b. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
c. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus,
kateter, drainase luka, dll.
R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
d. d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan
darah, seperti Hb dan leukosit.
R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal
bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.
6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang
terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek
prosedur dan proses pengobatan.
Kriteria Hasil :
- melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari
suatu tindakan.
- memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta
dalam regimen perawatan.
Intervensi dan Implementasi:
a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang
penyakitnya.
R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan
klien dan keluarga tentang penyakitnya.
b. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan
kondisinya sekarang.
R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien
dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa
cemas.
c. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan
nya.
R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses
penyembuhan.
d. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi
yang telah diberikan.
R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga
serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan
DISLOKASI

PENGERTIAN
Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi
berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi)
(brunner&suddarth).
Keluarnya (bercerainya)kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi
merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan
segera. (Arif Mansyur, dkk. 2000)
Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat
menyebabkan patah tulang di sertai luksasi sendi yang disebut fraktur
dis lokasi. ( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138).
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari
kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja
yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat
yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Seseorang yang tidak dapat
mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah
karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. Dengan kata lain:
sendi rahangnya telah mengalami dislokasi.
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi
sendi bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari
tempatnya, maka sendi itupun menjadi macet. Selain macet, juga
terasa nyeri. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-
ligamennya biasanya menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan
gampang dislokasi lagi.

KLASIFIKASI
Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Dislokasi congenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan
pertumbuhan.
2. Dislokasi patologik : Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar
sendi. misalnya tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini
disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.
3. Dislokasi traumatic : Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan
saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian jaringan akibat
anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi
karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari
jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi,
ligamen, syaraf, dan system vaskular. Kebanyakan terjadi pada
orang dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi :
1) Dislokasi Akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri
akut dan pembengkakan di sekitar sendi.
2) Dislokasi Kronik
3) Dislokasi Berulang
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi
dislokasi yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka
disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint
dan patello femoral joint.
Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang /
fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya ujung tulang yang patah
oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

ETIOLOGI
Dislokasi disebabkan oleh :
1. Cedera olah raga
Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah
sepak bola dan hoki, serta olah raga yang beresiko jatuh misalnya :
terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan
pemain sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan
dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap bola dari
pemain lain.
2. Trauma yang tidak berhubungan dengan olah raga
Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya
menyebabkan dislokasi.
3. Terjatuh
Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang
licin
4. Patologis : terjadinya ‘tear’ligament dan kapsul articuler yang
merupakan kompenen vital penghubung tulang
PATOFISIOLOGI
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus
terdorong kedepan ,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid
teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral kaput hancur.Mesti
jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan
menimbulkan luksasio erekta (dengan tangan mengarah ;lengan ini
hampir selalu jatuh membawa kaput ke posisi da bawah karakoid).

MANIFESTASI KLINIS
Nyeri terasa hebat .Pasien menyokong lengan itu dengan tangan
sebelahnya dan segan menerima pemeriksaan apa saja .Garis gambar
lateral bahu dapat rata dan ,kalau pasien tak terlalu berotot suatu
tonjolan dapat diraba tepat di bawah klavikula.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Dengan cara pemeriksaan Sinar –X ( pemeriksaan X-Rays ) pada
bagian anteroposterior akan memperlihatkan bayangan yang tumpah-
tindih antara kaput humerus dan fossa Glenoid, Kaput biasanya
terletak di bawah dan medial terhadap terhadap mangkuk sendi.
KOMPLIKASI
Dini
1) Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat
mengkerutkan otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang
mati rasa pada otot tesebut
2) Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak
3) Fraktur disloksi
Komplikasi lanjut
1) Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan
kekakuan sendi bahu, terutama pada pasien yang berumur 40
tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis
membatasi abduksi
2) Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau
kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid
3) Kelemahan otot
PENATALAKSANAAN
- Dislokasi reduksi: dikembalikan ketempat semula dengan
menggunakan anastesi jika dislokasi berat.
- Kaput tulang yang mengalami dislokasi dimanipulasi dan
dikembalikan ke rongga sendi.
- Sendi kemudian dimobilisasi dengan pembalut, bidai, gips atau
traksi dan dijaga agar tetap dalam posisi stabil.
Beberapa hari sampai minggu setelah reduksi dilakukan mobilisasi¬
halus 3-4X sehari yang berguna untuk mengembalikan kisaran
sendi
- Memberikan kenyamanan dan melindungi sendi selama masa
penyembuhan.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


PENGKAJIAN
- Identitas dan keluhan utama
- Riwayat penyakit lalu
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat masa pertumbuhan
- Pemeriksaan fisik terutama masalah persendian : nyeri,
deformitas,¬ fungsiolesa misalnya: bahu tidak dapat endorotasi
pada dislokasi anterior bahu.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan discontinuitas
jaringan
Intervensi
- Kaji skala nyeri
- Berikan posisi relaks pada pasien
- Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
- Kolaborasi pemberian analgesic

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan deformitas dan nyeri


saat mobilisasi
Intervensi
- Kaji tingkat mobilisasi pasien
- Berikan latihan ROM
- Anjurkan penggunaan alat Bantu jika diperlukan

3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang


penyakit
Intervensi
- Bantu Px mengungkapkan rasa cemas atau takutnya
- Kaji pengetahuan Px tentangh prosedur yang akan
dijalaninya.
- Berikan informasi yang benar tentang prosedur yang akan
dijalani pasien

4. Gangguan bodi image berhubungan dengan deformitas dan


perubahan bentuk tubuh
Intervensi
- Kaji konsep diri pasien
- Kembangkan BHSP dengan pasien
- Bantu pasien mengungkapkan masalahnya
- Bantu pasien mengatasi masalahnya.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3,


EGC, Jakarta
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3.
EGC : Jakarta.
diambil dari : http://asuhan-keperawatan-patriani. blogspot.
com/2008/07/fraktur-i.html
diambil dari : http : // blog . asuhan keperawatan . com /
blog/2009/05/28/fraktur/
diambil dari :http ://www. ilmu keperawatan. com/ asuhan_
keperawatan_fraktur.html
diambil dari http://hidayat2.wordpress.com/2009/03/31/askep-
dislokasi/

kamis, 16 april 2009

Gadar Fraktur dan Dislokasi


MAKALAH GAWAT DARURAT

DENGAN FRAKTUR DAN DISLOKASI

OLEH KELOMPOK

1. Mustakim NIM. PO 7220106045

2. Salman NIM. PO 7220106061

3. Sukmawati NIM. PO 7220106115

4. Wilmina Suitela NIM. PO 7220106078

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

FRAKTUR DAN DISLOKASI

A. Konsep Dasar Teori

1. Definisi

1.1 Fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur

terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya.

(Smelter&Bare,2002).

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price, 1995).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari trauma, beberapa

fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang menyebabkan fraktur yang

patologis (Barret dan Bryant, 1990).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasa nyeri, pembengkakan,

deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi (Doenges, 2000).

Fraktur adalah teputusnya jaringan tulang/tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh

rudapaksa.

1.2 Dislokasi

Keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis
(tulang lepas dari sendi). (brunner&suddarth).

Keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya, dislokasi merupakan suatu kedaruratan

yang membutuhkan pertolongan segera. (Arif Mansyur, dkk. 2000).

Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang di¬sertai luksasi

sendi yang disebut fraktur dis¬lokasi. ( Buku Ajar Ilmu Bedah, hal 1138).

2. Etiologi

2.1 Etiologi Fraktur

Fraktur dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :

Trauma Langsung : Kecelakaan lalu lintas¬

Trauma tidak langsung: Jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur

tulang belakang.¬

Proses penyakit (osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang patologis).¬

Menurut Oswari E (1993), fraktur terjadi karena adanya :

a. Kekerasan langsung Terkena pada bagian langsung trauma.

b. Kekerasan tidak langsung Terkena bukan padabagian yang terkena trauma.

c. Kekerasan akibat tarikan otot

Sedangkan MenurutBarbaraCLong(1996), fraktur terjadi karena adanya :

a. Benturan & cedera (jatuh, kecelakaan)

b. Fraktur patofisiologi (oleh karena patogen, kelainan)

c. Patah karena letih

2.2 Etiologi Dislokasi

Dislokasi terjadi saat ligarnen memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari

posisinya yang normnal di dalam sendi. Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau

trauma karena dapatan (acquired) atau karena sejak lahir (kongenital).

Dislokasi biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya

ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan tarikan.

Dislokasi disebabkan oleh :

1. Cedera Olah Raga

Olah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola, hoki, serta olah raga yang

beresiko jauth misalnya : terperosok akibat bermain ski, senam, volley. Pemain basket dan pemain

sepak bola paling sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari kaki karena secara tidak

sengaja menangkap bola dari pemain lain.

2. Trauma yamg tidak berhubungan dengan olah raga, benturan keras pada sendi saat kecelakaan
motor biasanya menyebabkan dislokasi

3. Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai yang licin.

4. Patologis, terjadinya ”tear” ligament dan kapsul articuler yang merupakan komponen vital

penghubung tulang.

3. Tanda dan Gejala

3.1 Fraktur

a. Look

Deformitas

- Penonjolan yang abnormal misalnya fraktur condylus lateralis humerus

- Angulasi

- Rotasi

- Pemendekan

- Odema

- Echymosis

- Laserasi

- Fungsi laesa : Hilangnya fungsi misalnya pada fraktur cruris tidak dapat berjalan dan pada fraktur

antebrachi tidak dapat menggunakan lengan.

b. Feel

- Terdapat nyeri tekan dan nyeri sumbu

- Kejang otot

- Hilang sensasi

c. Move

Krepitasi

Terasa krepitasi bila fraktur digerakkan tetapi ini bukan cara yang baik dan kurang halus. Krepitasi

timbul oleh pergeseran / beradunya ujung-ujung tulang kortikal. Pada tulang spongiosa atau tulang

rawan epifisis tidak terasa krepitasi.

Nyeri

Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun pasif.

Gangguan Fungsi

Gerakan yang tidak normal

Gerakan yang terjadi tidak pada sendi misalnya pertenganhan femur dapat digerakkan. Ini adalah

bukti yang paling penting adanya fraktur yang membuktikan adanya “putusnya kontuinitas tulang”

sesuai defenisi fraktur. Hal ini penting untuk membuat visum misalnya bila tidak ada fasilitas
pemeriksaan rontgen.

3.2 Dislokasi

a. Deformitas

Hilangnya tonjolan tulang yang normal, misalnya trauma ekstensi dan eksorotasi pada dislokasi

anterior sendi bahu.♣

Pemendekan astau pemanjangan (misalnya dislokasi anterior sendi panggul)♣

Kedudukan yang khas untuk dislokasi t♣ertentu, misalnya dislokasi posterior sendi panggul

kedudukan endorotasi, fleksi dan aduksi.

b. Nyeri

c. Functio Laesa, misalnya bahu tidak darat endorotasi pada dislokasi anterior bahu.

4. Klasifikasi

4.1 Fraktur

a. Menurut jumlah garis fraktur

hanya terdapat satu garis fraktur→- simple fraktur

terdapat lebih dari satu garis.→- Multiple fraktur

terjadi banyak garis fraktur atau banyak fragmen kecil yang terlepas.→- Camminute fraktur

b. Menurut garis fraktur

tulang tidak terpotong secara total→- Fraktur inkomplit

tulang terpotong secara total.→- Fraktur komplit

garis fraktur hampir tak tampak sehingga bentuk tulang tak ada perubahan.→- Hair line fraktur

c. Menurut bentuk fragmen

bentuk fragmen melintang→- Fraktur transversal

bentuk fragmen miring→- Fraktur oblique

bentuk fragmen melingkar→- Fraktur spiral

d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar.

- Fraktur terbuka : fragmen tulang sampai menembus kulit

Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 (tiga) tingkat, yaitu :

1. Pecahan tulang menusuk kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka < 1 cm.

2. Kerusakan jaringan sedang, potensial infeksi lebih besar, luka > 1 cm (misalnya fraktur

Komminutive).
3. Luka besar sampai lebih kurang 8 cm, kehancuran otot kerusakan neurovaskuler, kontaminasi

besar misalnya luka tembak.

Menurut R. Gustillo, fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu :

Derajat I

- Luka < 2 cm

- Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk

- Fraktur sederhana, transversal, oblik atau kominutif ringan

- Kontaminasi minimal

Derajat II

- Laserasi > 2 cm

- Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulsi

- Fraktur kominutif sedang

- Kontaminasi sedang

Derajat III

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskuler serta

kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas :

• Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas/flap/avulsi

atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa

melihat besarnya ukuran luka.

• Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi masif.

• Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan

lunak.

- Fraktur tertutup : fragmen tulang tak berhubungan dengan dunia luar.

4.2 Dislokasi

a. Dislokasi Congenital :

Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan, Congenital dislocation berhubungan dengan

congenital deformities.

b. Dislokasi Patologis :

Akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. misal¬nya tumor, infeksi, atau osteoporosis

tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.

c. Dislokasi Traumatik :

Kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan mengalami stress berat, kematian
jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami pengerasan). Terjadi karena trauma

yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekeilingnya dan mungkin juga

merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan sistem vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang

dewasa.

Traumatic dislocation, biasanya disertai benturan keras. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi menjadi 3

yaitu:

1. Dislokasi akut umumnya terjadi pada shoulder, elbow dan hip.

2. Dislokasi kronik

3. Dislokasi berulang

Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang berlanjut dengan trauma

yang minimal, maka disebut dislokasi berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello

femoral joint.

5. Patofisiologi
6. Tahap Dan Proses Penyembuhan Tulang

a. Haematom : dari pembuluh darah yang pecah.

Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan terjadi hematoma di sekitar fraktur. Setelah 24 jam

suplai darah ke ujung fraktur meningkat, hematoma ini mengelilingi fraktur dan tidak diabsorbsi

selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi granulasi.

b. Proliferasi sel.

Sel sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur, di mana sel sel ini menjadi

precusor dari osteoblast, osteogenesis ini berlangsung terus, lapisan fibrosa periosteum melebihi

tulang. Setelah beberapa hari kombinasi dari periosteum yang meningkat dengan fase granulasi

membentuk collar di ujung fraktur.

c. Pembentukan callus

Enam sampai sepuluh hari setelah fraktur jaringan granulasi berubah dan memben¬tuk callus.

Sementara pembentukan cartilago dan matrik tulang diawali dari jaringan callus yang lunak. Callus

ini bertambah banyak, callus sementara meluas, menganyam massa tulang dan cartilago sehingga

diameter tulang melebihi normal. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak memberikan

kekuatan callus sementara ini meluas melebihi garis fraktur.

d. Ossification

Callus yang menetap / apermanen menjadikan tulang kaku karena adanya penumpukan garam

garam calcium dan bersatu bersama ujung ujung tulang. Proses ossifikasi ini mulai dari callus

bagian luar kemudian bagian dalam dan terakhir bagian tengah. Proses ini terjadi selama 3 10

minggu.

e. Konsolidasi dan Remodelling.

Pada waktu yang sama pembentukan tulang yang sebenarnya callus dibentuk dari aktivitas

osteoblast dan osteoklast. Kelebihan kelebihan tulang seperti dipahat dan diabsorbsi dari callus.
Proses pembentukan lagi ditentukan oleh beban tekanan dari otot.

7. Pemeriksaan Diagnostik

a. Rontgen

Menunjukkan lokasi / luasnya fraktur / trauma

b. Scan tulang, tonogram, CT scan / MRI

Memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak.

c. Arteriogram

Bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler

d. Hitung darah lengkap

Hematokrit mungkin meningkat atau menurun. Peningkatan jumlah sel darah putih adalah respon

stress normal terhadap trauma.

e. Kreatinin

Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal

f. Profil koagulasi

Perubahan dapat terjadi pad kehilangan darah, transfusi, multipel / cedera hati.

Pada semua tipe fraktur, proses penyembuhan fraktur berhubungan dengan proses penyembuhan

tulang. Sedangkan pada dislokasi dilakukan pemeriksaan radiologi untuk memastikan arah dislokasi

dan apakah disertai dengan fraktur.

8. Penatalaksanaan

8.1 Pengobatan pada kasus fraktur

8.1.1. Therapi konservatif

a. Proteksi saja

Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik

b. Immobilisasi saja tanpa reposisi

Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkoplit dan fraktur dengan kedudukan baik

c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips

Misalnya fraktur distal radius, immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi pergelangan

d. Traksi

Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga penuh / dipasang gips setelah tidak

sakit lagi.
8.1.2. Therapi operatif

Terapi operatif dengan reposisi secara tetrtutup dengan bimbingan radiologis.

a. Reposisi tertutup – Fiksasi externa

Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang alat fiksasi

externa.

b. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna, misalnya reposisi tertutup

fraktur condylair humerus pada anak diikuti dengan pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup

fraktur colum pada anak diikuti pinning dan immobilisasi gips. Cara ini sekarang terus berkembang

menjadi “Close Nailing” pada fraktur femur dan tibia yaitu pemasangan fiksasi interna intra

meduller (pen) tanpa membuka frakturnya.

Therapi operatif denganmembuka frakturnya

1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna

ORIF (Open reduction and internal fixation)

Keuntungan cara ini adalah : reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.

Indikasi ORIF :

a. Fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avanculair tinggi , misalnya : fraktur talus dan

fraktur collum femur

b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup, misalnya : fraktur avulsi dan fraktur dislokasi.

c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan, misalnya ; fraktur monteggia, fraktur

galeazzi, fraktur antebrachi, dan fraktur pergelangan kaki.

d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yan glabih baik dengan operasi, misalnya :

fraktur femur

2. Excisional Arthrplasty

Membuang fragmen yang patah yang memnentuk sendi, misalnya : fraktur caput radii pada orang

dewasa, dan fraktur collum femur yang dilakukan operasi.

3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis

Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis / yang lainnya.

Sesuai tujuan pengobatan fraktur yaitu untuk mengembalikan fungsi maka sejak awal harus

dipertimbangkan latihan-latihan untuk menceegah atropi otot dan keakuansendi, disertai mobilisasi

dini.

8.1.3. Pengobatan Fraktur Terbuka

Fraktur terbuka aadalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan dengan segera.

Tindakan sugah harus dimulai dari fase pra - Rumah sakit :


a. Pembidaian

b. Menghentikan perdarahan dengan verban tekan

c. Mengehentikan perdarahan besar dengan klem.

Tiba di UGD rumah sakit harus segera periksa menyeluruh oleh karena 40% dari fraktur terbuka

merupakan kasus polytrauma. Tindakan life-saving harus segera didahulukan dalam rangka kerja

terpadu (Team – work).

8.2 Pengobatan pada kasus Dislokasi

a. Lakukan reposisi segera

b. Dislokasi sendi kecil dapat diresposisi ditempat kejadian tanpa anastesi, misalnya disloksi siku,

dislokasi jari (pada fase syok). Dislokasi bahu, siku atau jari dapat direposisi dengan anastesi lokal

dan obat penenang misalnya valium.

c. Dislokasi sendi besar, misalnya panggul memerlukan anastesi umum.

Dalam penanganan kasus dislokasi dapat dilakukan dengan pemberian terapi medika mentosa,

reposisi dan program rehabilitasi yaitu sebagai berikut :

Reposisi¬

- MUA (Manipular Under General Anastesi)

- Hanging Arm Teknik

- Hipocratic Methode

- Kocher

- Eksternal Rotasi Metode :traksi pada humerus distal kemudian eksternal rotasi formarm secara

pelan-pelan.hentikan jika terjadinya nyeri.

Terapi Medika Mentosa¬

- Analgetik opioid diberikan untuk mengurangi nyeri dengan kualitas tinggi.

- Suntikan intrarticular dan anastetik regional teknik telah dilaporkan sukses membantu dalam

mereduksi dislokasi shoulder.

- Prosedural sedasi dan analgesi umumnya digunakan untuk memperoleh control nyeri yang

adekuat dan relaksan otot untuk reduksi.Prosedural sedasi dan analgesi {PSA}yang digunakan

Morphine dan midazolam memperlamlambat perawatan di department emergensi serta bebas

komplikasi.[emedicene]Etomidate,fentanyl/midazolam,ketamine, atau propofol umumnya

digunakan untuk PSA.

Program Rehabilitasi¬

a. Non operatif Rehabilatation

Penanganan rehabilitasi non operatif bertujuan untuk mengoptimalkan stabilisasi sendi bahu, sebab
komplikasi dislokasi berulang banyak terjadi.

Menghindari maneuver yang bersifat provokativ dan penguatan otot secara hati-hati merupakan

komponen penting dalam program rehabilitasi.

Minggu 0 – 2, Hindari provokatif posisi termasuk eksternal rotasi, Abduksi dan Distrak.

Immobilisasi tergantung umur

- Kurang dari 20 tahun 3-4 minggu.

- 20-30 tahun 2-3 minggu.

- Lebih dari 30- 10 hari sampai 2 minggu.

- Lebih dari 40 tahun 3-5 hari.

Program dilanjutkan secara bertahap untuk pemulihan fungsi sesuai prosedu rehabilitasi yang telah

ditetapkan.

b. Operatif Treatment

Tujuan utama rehabilitasi adalah :

- Memulihkan ROM fungsional secara full

- Meningkatkan stabilitas Dynamik.

- Kembali aktivitas yang tak dibatasi dan olahraga.

9. Komplikasi

9.1. Komplikasi Fraktur

Komplikasi dini¬

1. Lokal :

a. Vaskuler :

• Compartemen syndrome (Volkmann`s Ischemia),

• Trauma vaskular

b. Neurologis :

• Lesi medula spinalis atau staraf perifer

Komplikasi lanjut.¬

1. Kekakuan sendi / kontraktur

2. Disuse atropi otot-otot

3. Malunion

Tulang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.

4. Delayed union

Proses penyembuhan yang terus berjalan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan

normal.
5. Nonunion / Infected nonunion

Tulang tidak menyambung kembali.

6. Gangguan pertumbuhan (fraktur epifisis)

7. Osteoporosis post trauma

9.2 Komplikasi Dislokasi

a. Komplikasi Dini

Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid dan

mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut.¬

Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak.¬

b. Fraktur Dislokasi

c. Komplikasi lanjut

Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu

,terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral ,yang secara

otomatis membatasi Abduksi.¬

dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian depan

leher glenoid¬

kelemahan otot.¬

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a) Pengkajian primer

Airway¬

Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek

batuk.

Breathing¬

Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau

tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi.

Circulation¬
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung

normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap

lanjut.

b) Pengkajian sekunder

Aktivitas/istirahat¬

• kehilangan fungsi pada bagian yang terkena

• Keterbatasan mobilitas

Sirkulasi¬

• Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)

• Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)

• Tachikardi

• Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera

• Capilary refil melambat

• Pucat pada bagian yang terkena

• Masa hematoma pada sisi cedera

Neurosensori¬

• Kesemutan

• Kelemahan

• Deformitas lokal, agulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot,

terlihat kelemahan / hilang fungsi.

• Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / anxietas

Kenyamanan¬

• Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan

tulang, dapat berkurang deengan imobilisasi) tak ada nyeri akibat keruisakan syaraf.

• Spasme / kram otot (setelah immobilisasi).

Keamanan¬

• laserasi kulit

• perdarahan

• perubahan warna

• pembengkakan local

Selain pengkajian diatas, pada kasus dislokasi juga perlu dilakukan pengkajian berupa :

- Anamnesis :

• Ada trauma
• Mekanisme trauma yang sesuai, misalnya trauma ekstensi dan eksorotasi pada dislokasi anterior

sendi bahu

• Ada rasa sendi keluar

• Bila trauma minimal, hal ini dapat terjadi pada dislokasi rekurens atau habitual

• Oedema

• Sulut/tidak dapat bergerak

- Pemeriksaan Klinis :

• Deformitas

Hilangnya tonjolan tulang yang normal, misalnya deltoid yang rata pada dislokasi bahu.

Pemendekan atau pemanjangan (misalnya dislokasi anterior sendi panggul). Kedudukan yang khas

untuk dislokasi tertentu, misalnya dislokasi posterior sendi panggul kedudukan panggul endorotasi,

fleksi dan adduksi.

• Nyeri

• Funcio laesa, misalnya bahu tidak dapat endorotasi pada dislokasi bahu anterior.

2. Prioritas Keperawatan

a. Mencegah cedera tulang

b. Menghilangkan nyeri

c. Mencegah komplikasi

d. Memberikan informasi tentang kondisi / prognosis dan kebutuhan pengobatan.

3. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera pada

jaringan lunak, pemasangan alat / traksi.

b. Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka : bedah permukaan ;

pemasangan kawat, perubahan sensasi, sirkulasi, akumulasi eksresi atau sekret / immobilisasi fisik.

c. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera jaringan sekitar fraktur dan kerusakan

rangka neuromuskuler.

d. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan aliran darah; cedera

vaskuler langsung, edema berlebih, hipovolemik dan pembentukan trombus.

e. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit dan

trauma jaringan.

f. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang
informasi, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.

4. Intervensi Keperawatan

Dx.1 Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera pada

jaringan lunak, pemasangan alat / traksi.

Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan.

Kriteria Hasil :

- Klien menyatakan nyeri berkurang.

- Klien menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas terapetik sesuai indikasi

untuk situasi individual.

- Edema berkurang / hilang.

- Tekanan darah normal.

- Tidak ada peningkatan nadi dan pernapasan.

Intervensi :

1.1 Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya, dan intensitas (skala 0 – 10). Perhatikan

petunjuk verbal dan non-verbal

Rasional :

Membantu dalam mengidentifikasi derajat ketidaknyamanan dan kebutuhan untuk / keefektifan

analgesic.

1.2 Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, dan traksi.

Rasional :

Meminimalkan nyeri dan menvegah kesalahan posisi tulang / tegangan jaringan yang cedera.

1.3 Tinggikan dan sokong ekstremitas yang terkena.

Rasional :

Menurunkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan rasa nyeri

1.4 Bantu pasien dalam melakukan gerakan pasif/aktif.

Rasional :

Mempertahankan kekuatan / mobilisasi otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi otot

yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang terkena.

1.5 Berikan alternatif tindakan kenyamanan (massage, perubahan posisi).

Rasional :

Meningkatkan sirkulasi umum menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot.

1.6 Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contohnya relaksasi progresif, latihan nafas
dalam, imajinasi visualisasi dan sentuhan terapeutik.

Rasional :

Meningkatkan sirkulasi umum, mengurangi area tekanan dan kelelahan. otot.

1.7 Lakukan kompres dingin/es selama 24-48 jam pertama dan sesuai indikasi.

Rasional :

Menurunkan udema/ pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri.

1.8 Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik.

Rasional :

Diberikan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot.

Dx.2 Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka : bedah

permukaan ; pemasangan kawat, perubahan sensasi, sirkulasi, akumulasi eksresi atau sekret /

immobilisasi fisik.

Tujuan : Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi.

Kriteria Hasil :

- Penyembuhan luka sesuai waktu.

- Tidak ada laserasi, integritas kulit baik.

Intervensi :

2. 1 Kaji kulit untuk luka terbuka, kemerahan, perdarahan, perubahan warna.

Rasional :

Memberikan informasi gangguan sirkulasi kulit dan masalah-masalah yang mungkin disebabkan

oleh penggunaan traksi, terbentuknya edema.

2.2 Massage kulit dan tempat yang menonjol, pertahankan tempat tidur yang kering dan bebas

kerutan.

Rasional :

Menurunkan tekanan pada area yang peka dan resiko abrasi/kerusakan kulit.

2.3 Rubah posisi selang seling sesuai indikasi.

Rasional :

Mengurangi penekanan yang terus-menerus pada posisi tertentu.

2.4 Gunakan bed matres / air matres.


Rasional :

Mencegah perlukaan setiap anggota tubuh dan untuk anggota tubuh yang kurang gerak efektif

untuk mencegah penurunan sirkulasi.

Dx.3 Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera jaringan sekitar fraktur dan kerusakan

rangka neuromuskuler.

Tujuan : Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang.

Kriteria Hasil :

- Klien akan meningkat/ mempertahankan mobilitas pada tingkat kenyamanan yang lebih tinggi.

- Klien mempertahankan posisi /fungsional.

- Klien meningkatkan kekuatan /fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh.

- Klien menunjukkan teknik yang mampu melakukan aktifitas.

Intervensi :

3.1 Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien

terhadap imobilisasi.

Rasional :

Mengetahui persepsi diri pasien mengenai keterbatasan fisik aktual, mendapatkan informasi dan

menentukan informasi dalam meningkatkan kemajuan kesehatan pasien.

3.2 Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik/rekreasi dan pertahankan rangsang lingkungan.

Rasional :

Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian,

meningkatkan rasa kontrol diri dan membantu menurunkan isolasi sosial.

3.3 Instruksikan dan bantu pasien dalam rentang gerak aktif/pasif pada ekstremitas yang sakit dan

yang tak sakit.

Rasional :

Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan

gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi dan respon kalsium karena tidak digunakan.

3.4 Tempatkan dalam posisi telentang secara periodik bila mungkin, bila traksi digunakan untuk

menstabilkan fraktur tungkai bawah.

Rasional :

Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul.

3.5 Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan (contoh mandi dan mencukur).


Rasional :

Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan

meningkatkan kesehatan diri langsung.

3.6 Berikan/bantu dalm mobilisasi dengan kursi roda, kruk dan tongkat sesegera mungkin.

Instruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilisasi.

Rasional :

Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring (contoh flebitis) dan meningkatkan

penyembuhan dan normalisasi fungsi organ.

3.7 Awasi TD dengan melakukan aktivitas dan perhatikan keluhan pusing.

Rasional :

Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan

intervensi khusus.

3.8 Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk/napas dalam.

Rasional :

Mencegah/menurunkan insiden komplikasi kulit/pernapasan (contoh dekubitus, atelektasis dan

pneumonia).

3.9 Auskultasi bising usus.

Rasional :

Tirah baring, pengguanaan analgetik dan perubahan dalam kebiasaan diet dapat memperlambat

peristaltik dan menghasilkan konstipasi.

3.10 Dorong penigkatan masukan cairan sanpai 2000-3000 ml/hari.

Rasional :

Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko infeksi urinarius, pembentukan batu dan

konstipasi.

3.11 Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan atau rehabilitasi spesialis.

Rasional :

Berguna dalan membuat aktivitas individual/program latihan.

Dx.4 Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan aliran darah;

cedera vaskuler langsung, edema berlebih, hipovolemik dan pembentukan trombus.

Tujuan : Disfungsi neurovaskuler perifer tidak terjadi.

Kriteria Hasil :

- Mempertahankan perfusi jaringan yang ditandai dengan terabanya pulsasi.

- Kulit hangat dan kering.


- Perabaan normal.

- Tanda vital stabil.

- Urine output yang adekuat

Intervensi :

4.1 Kaji kembalinya kapiler, warna kulit dan kehangatan bagian distal dari fraktur.

Rasional :

Pulsasi perifer, kembalinya perifer, warna kulit dan rasa dapat normal terjadi dengan adanya

syndrome comfartemen syndrome karena sirkulasi permukaan sering kali tidak sesuai.

4.2 Kaji status neuromuskuler, catat perubahan motorik / fungsi sensorik.

Rasional :

Lemahnya rasa/kebal, meningkatnya penyebaran rasa sakit terjadi ketika sirkulasi ke saraf tidak

adekuat atau adanya trauma pada syaraf.

4.3 Kaji kemampuan dorso fleksi jari-jari kaki.

Rasional :

Panjang dan posisi syaraf peritoneal meningkatkan resiko terjadinya injuri dengan adanya fraktur di

kaki, edema/comfartemen syndrome/malposisi dari peralatan traksi.

4.4 Monitor posisi / lokasi ring penyangga bidai.

Rasional :

Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah/syaraf, khususnya di aksila dapat menyebabkan

iskemik dan luka permanen.

4.5 Monitor vital sign, pertahanan tanda-tanda pucat/cyanosis umum, kulit dingin, perubahan

mental.

Rasional :

In adekuat volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan.

4.6 Pertahankan elevasi dari ekstremitas yang cedera jika tidak kontraindikasidengan adanya

compartemen syndrome.

Rasional :

Mencegah aliran vena / mengurangi edema.

Dx.5 Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit dan

trauma jaringan.

Tujuan : Resiko infeksi tidak terjadi dan tidak menjadi actual.


Kriteria Hasil :

- Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.

- Bebas drainase purulen, eritema dan demam.

- Tidak ada tanda-tanda infeksi.

Intervensi :

5.1 Inspeksi kulit untuk mengetahui adanya iritasi atau robekan kontinuitas.

Rasional :

Pen atau kawat yang dipasang masuik melalui kulit dapat memungkinkan terjadinya infeksi tulang.

5.2 Kaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasa terbakar atau adanya edema,

eritema, drainase/bau tak enak.

Rasional :

Dapat mengindikasi timbulnya infeksi lokal/nekrosis jaringan dan dapat menimbulkan osteomielitis.

5.3 Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protokol dan latihan mencuci tangan.

Rasional :

Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan infeksi.

5.4 Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau

drainase yang tak enak/asam.

Rasional :

Tanda perkiraan infeksi gangren.

5.5 Kaji tonus otot, refleks tendon dalam dan kemampuan untuk berbicara.

Rasional :

Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang dan disfagia menunjukkan terjadinya tetanus.

5.6 Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan oedema lokal/eritema ektremitas cedera.

Rasional :

Dapat mengindikasikan terjadinya osteomielitis.

5.7 Lakukan prosedur isolasi.

Rasional :

Adanya drainase purulen akan memerlukan kewaspadaan luka/linen untuk mencegah kontaminasi

silang.

5.8 Berikan obat sesuai indikasi seperti antibiotik IV/topikal dan Tetanus toksoid.

Rasional :

Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditujukan pada

mikroorganisme khusus.
Dx.6 Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang

informasi, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.

Tujuan : Pemahaman dan pengetahuan klien dan keluarga bertambah.

Kriteria Hasil :

- Menyatakan pehaman kondisi, prognosis dan pengobatan.

- Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan.

Intervensi :

6.1 Kaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan datang.

Rasional :

Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi.

6.2 Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan terapis fisik bila

diindikasikan.

Rasional :

Banyak fraktur memerlukan gips, bebat atau penjepit selama proses penyembuhan. Kerusakan

lanjut dan pelambatan penyembuhan dapat terjadi sekunder terhadap ketidaktepatan pengguanaan

alat ambulasi.

6.3 Buat daftar aktivitas dimana pasien dapat melakukannya secara mandiri dan yang memrlukan

bantuan.

Rasional :

Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan dan yang memerlukan bantuan.

6.4 Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi di atas dab di bawah fraktur.

Rasional :

Mencegah kekakuan sendi, kontraktur dan kelelahan otot, meningkatkan kembalinya aktivitas

sehari-hari secara dini.

6.5 Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis.

Rasional :

Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk sembuh lengkap dan kerja sama pasien

dalam program pengobatan membantu untuk penyatuan yang tepat dari tulang.

6.6 Informasikan pasien bahwa otot dapat tampak lembek dan atrofi (massa otot kurang). Anjurkan

untuk memberikan sokongan pada sendi di atas dan di bawah bagian yang sakit dan ginakan alat

bantu mobilitas, contoh verban elastis, bebat, penahan, kruk, walker atau tongkat.

Rasional :

Kekuatan otot akan menurun dan rasa sakit yang baru dan nyeri sementara sekunder terhadap
kehilangan dukungan.

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KALIMANTAN TIMUR

JURUSAN KEPERAWATAN

dipo PENATALAKSANAAN FRAKTUR PADA


ANAK
DIPOSTING OLEH ADMIN MINGGU, 14 DESEMBER 2008

Dengan mobilitas yang tinggi disektor lalu lintas dan faktor kelalaian manusia
sebagai salah satu penyebab paling sering terjadinya kecelakaan yang dapat
menyebabkan fraktur. Penyebab yang lain dapat karena kecelakaan kerja, olah
raga dan rumah tangga.(7)
Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak, Fraktur
yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang
radius distal,dan ulna distal sedangkan fraktur pada daerah diafisis yang terjadi
sering sebagai faktur type green-stick. Daerah metafisis pada anak relatif masih
lemah sehingga fraktur banyak terjadi pada daerah ini, selebihnya dapat mengenai
suprakondiler humeri (transkondiler humeri) diafisis femur dan klavikula,
sedangkan yang lainnya jarang.(4,5)
Fraktur pada anak mempunyai keistimewaan dibanding dengan dewasa, proses
penyembuhannya dapat berlangsung lebih singkat dengan remodeling yang sangat
baik,hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta
fisiologi tulang anak yang berbeda dengan tulang orang dewasa. Selain itu proses
penyembuhan ini juga dipengaruhi oleh faktor mekanis dan faktor biologis.(6)

2.1. Definisi (7)


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang.

2.2.Anatomi dan Fisiologi (4,5,6)


Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak dengan fraktur pada
orang dewasa, perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik, dan fisiologi tulang.
Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai
daerah pertumbuhan kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang pada
dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan menyatu pada saat itulah
pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti.
Tulang panjang terdiri dari : epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan
bagian paling atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian yang lebih
lebar dari ujung tulang panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis,
sedangkan diafisis merupakan bagian tulang panjang yang di bentuk dari pusat
osifikasi primer.
Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang
mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses
pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai
arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan
berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah.
Pada anak, terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan.
Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan
menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa.
Perbedaan di atas menjelaskan perbedaan biomekanik tulang anak-anak
dibandingkan orang dewasa, yaitu :
· Biomekanik tulang
Tulang anak-anak sangat porous, korteks berlubang-lubang dan sangat mudah
dipotong oleh karena kanalis Haversian menduduki sebagian besar tulang. Faktor
ini menyebabkan tulang anak-anak dapat menerima toleransi yang besar terhadap
deformasi tulang dibandingkan orang dewasa. Tulang orang dewasa sangat kompak
dan mudah mengalami tegangan dan tekanan sehingga tidak dapat menahan
kompresi.
· Biomekanik lempeng pertumbuhan
Lempeng pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat pada metafisis yang
bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian dalamnya oleh procesus
mamilaris. Untuk memisahkan metafisis dan epifisis diperlukan kekuatan yang
besar. Tulang rawan lempeng epifisis mempunyai konsistensi seperti karet yang
besar.
· Biomekanik periosteum
Periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah mengalami
robekan dibandingkan orang dewasa.
Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling yang lebih
besar dibandingkan pada orang dewasa, sehingga tulang pada anak-anak
mempunyai perbedaan fisiologi, yaitu :
§ Pertumbuhan berlebihan (over growth)
Pertumbuhan diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi pada
pertumbuhan panjang, karena tulang rawan lempeng epifisis mengalami hiperemi
pada waktu penyambungan.
§ Deformitas yang progresif
Kerusakan permanen pada lempeng epifisis akan terjadi pemendekan atau
angulasi.
§ Fraktur total
Pada anak-anak fraktur total jarang bersifat komunitif karena tulangnya sangat
fleksibel dibandingkan orang dewasa.

2.3.Etiologi (7,6,8)
Fraktur dapat disebabkan karena oleh :
1. Trauma
2. Non Trauma
3. Stress
1. Trauma
Trauma dapat dibagi menjadi trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma
langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu,
sedangkan trauma tidak langsung bilamana titik tumpuan benturan dengan
terjadinya fraktur bergantian.

2. Non Trauma
Fraktur terjadi karena kelemahan tulang akibat kelainan patologis didalam tulang,
non trauma ini bisa karena kelainan metabolik atau infeksi.

3. Stress
Fraktur stress terjadi karena trauma yang terus-
menerus pada suatu tempat tertentu.
2.4.Klasifikasi (2,6,8)
Klasifikasi fraktur pada anak dapat dikelompokkan berdasarkan radiologis,
anatomis, klinis dan fraktur yang khusus pada anak.
A. Klasifikasi Radiologi
- Fraktur Buckle atau torus
- Tulang melengkung
- Fraktur green-stick
- Fraktur total
B. Klasifikasi Anatomis
- Fraktur epifisis
- Fraktur lempeng epifisis
- Fraktur metafisis
- Fraktur diafisis
C. Klasifikasi Klinis
- Traumatik
- Patologik
- Stress
D. Fraktur khusus pada anak
- Fraktur akibat trauma kelahiran
Fraktur yang terjadi pada saat proses kelahiran sering terjadi pada saat melahirkan
bahu bayi, (pada persalinan sungsang). Fraktur yang terjadi biasanya disebabkan
karena tarikan yang terlalu kuat yang tidak disadari oleh penolong.
- Fraktur salter-Haris
Klasifikasi salter haris untuk patah tulang yang mengenai lempeng epifisis distal
tibia dibagi menjadi lima tipe :
Tipe 1 : Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih
utuh.
Tipe 2 : Periost robek di satu sisi sehingga epifisis dan cakram epifisis lepas sama
sekali dari metafisis.
Tipe 3 : Patah tulang cakram epifisis yang melalui sendi
Tipe 4 : Terdapat fragmen patah tulang yang garis patahnya tegak lurus cakram
epifisis
Tipe 5 : Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan
kematian dari sebagian cakram tersebut.

Beberapa jenis fraktur khusus pada anak


Ada 2 jenis fraktur khusus pada anak yaitu di daerah epifisis dan di lempeng
epifisis. Fraktur epifisis jarang terjadi tanpa disertai dengan fraktur lempeng epifisis,
yang dibagi dalam :
1. Fraktur avulsi akibat tarikan ligamen
2. Fraktur kompresi yang bersifat komunitif
3. Fraktur osteokondral
Fraktur pada lempeng epifisis merupakan 1/3 dari seluruh fraktur pada anak-anak.
Lempeng epifisis berupa diskus tulang rawan yang terletak diantara epifisis dan
metafisis.
Banyak klasifikasi fraktur lempeng epifisis, yaitu menurut Poland, Salter-Harris,
Aitken, Weber, Rang dan Ogend. Tapi yang paling sering digunakan adalah menurut
Salter-Harris karena paling mudah, praktis dan memenuhi syarat untuk terapi dan
prognosis.
Klasifikasi menurut Salter-Harris dibagi dalam lima tipe, yaitu (6,7)
:
Tipe I
Epifisis dan cakram epifisis lepas dari metafisis tetapi periosteumnya masih utuh.

Tipe II
Garis fraktur melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan
akan membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga disebut
tanda Thurston-Holland.

Tipe III
Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian
sepanjang garis lempeng epifisis.

Tipe IV
Merupakan fraktur intra-intraartikuler yang melalui permukaan sendi memotong
epifisis serta seluruh lapisan lempeng epifisis dan berlanjut pada sebagian
metafisis.

Tipe V
Terdapat kompresi pada sebagian cakram epifisis yang menyebabkan kematian
dari sebagian cakram tersebut.
2.5.Diagnosa (2,6,7)

Diagnosis fraktur ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang yaitu radiologis. Pada anak biasanya diperoleh dengan
alloanamnesis dimana ditemukan adanya riwayat trauma dan gejala-gejala seperti
nyeri, pembengkakan, perubahan bentuk dan gangguan gerak. Pada pasien dengan
riwayat trauma yang perlu ditanyakan adalah waktu terjadinya, cara terjadinya,
posisi penderita dan lokasi trauma. Bila tidak ada riwayat trauma berarti
merupakan fraktur patologis.
Pada pemeriksaan fisik dilakukan :
· Look (Inspeksi)
- Deformitas : angulasi ( medial, lateral, posterior atau anterior), diskrepensi (rotasi,
perpendekan atau perpanjangan).
- Bengkak atau kebiruan.
- Fungsio laesa (hilangnya fungsi gerak)
· Feel (Palpasi)
- Tenderness (nyeri tekan) pada derah fraktur.
- Krepitasi.
- Nyeri sumbu.
· Move (Gerakan)
- Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
- Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya.
· Pemeriksan trauma di tempat lain seperti kepala, thorak, abdomen, tractus
urinarius dan pelvis.
· Pemeriksaan komplikasi fraktur seperti neurovaskular bagian distal fraktur yang
berupa pulsus arteri, warna kulit, temperatur kulit, pengembalian darah ke kapiler
(Capillary refil test), sensasi motorik dan sensorik.
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pemeriksan Radiologi. Untuk
melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Foto rontgen
minimal harus dua proyeksi yaitu AP dan lateral.

2.6.Penyembuhan Fraktur pada Anak(2,6,7,8)


Proses penyembuhan fraktur adalah suatu proses biologis alami yang akan terjadi
pada setiap fraktur. Setiap tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa
jaringan parut.
Proses penyembuhan mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan bila
lingkungannya memadai maka bisa sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis
seperti imobilisasi sangat penting untuk penyembuhan, selain itu faktor biologis
juga sangat esensial dalam penyembuhan fraktur.
Proses penyembuhan fraktur berbeda-beda pada tulang kortikal (pada tulang
panjang), tulang kanselosa (pada metafisis tulang panjang dan tulang-tulang
pendek) dan pada tulang rawan persendian.

Penyembuhan fraktur pada tulang kortikal (2,6,7,8)

Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase, yaitu :
1. Fase hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang
melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah
fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur. Hematoma
yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan terdorong dan dapat
mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi
ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur
akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin
avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Pada fase ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel-sel osteogenik yang
berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah
endosteum membentuk kalus interna sebagai aktifitas seluler dalam kanalis
medularis. Apabila terjadi robekan yang hebat pada periosteum, maka
penyembuhan sel berasal dari diferensiasi sel-sel mesenkimal yang tidak
berdiferensiasi ke dalam jaringan lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur
ini terjadi pertambahan jumlah dari sel-sel osteogenik yang memberi pertumbuhan
yang cepat pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas.
Pembentukan jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan
hematoma suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan
membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan
radiologis kalus belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah
radiolusen.
3. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap fragmen sel
dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada kondroblas membentuk
tulang rawan. Tempat osteoblast diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan
perlengketan polisakarida oleh garam-garam kalsium membentuk suatu tulang
yang imatur. Bentuk tulang ini disebut sebagai woven bone. Pada pemeriksaan
radiologi kalus atauwoven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik
pertama terjadinya penyembuhan fraktur.
4. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan diubah
menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur
lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara bertahap.
5. Fase remodeling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis medularis. Pada fase
remodeling ini, perlahan-lahan terjadi resorpsi secara osteoklastik dan tetap terjadi
proses osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan-lahan
menghilang. Kalus intermediat berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi
sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk
membentuk ruang sumsum.

Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa (3)

Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa terjadi secara cepat karena beberapa
faktor, yaitu :
1. Vaskularisasi yang cukup.
2. Terdapat permukaan yang lebih luas.
3. Kontak yang baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat.
4. Hematoma memegang peranan dalam penyembuhan fraktur.
Tulang kanselosa yang berlokalisasi pada metafisis pada tulang panjang, tulang
pendek serta tulang pipih diliputi oleh korteks yang tipis. Penyembuhan fraktur
pada daerah tulang kanselosa melalui proses pembentukan kalus interna dan
endosteal. Pada anak-anak proses penyembuhan pada daerah korteks juga
memegang peranan penting. Proses osteogenik penyembuhan sel dari bagian
endosteal yang menutupi trabekula, berproliferasi untuk membentuk woven bone
primer didalam daerah fraktur yang disertai hematoma. Pembentukan kalus interna
mengisi ruangan pada daerah fraktur. Penyembuhan fraktur pada tulang kanselosa
terjadi pada daerah dimana terjadi kontak langsung diantara kedua permukaan
fraktur yang berarti satu kalus endosteal. Apabila terjadi kontak dari kedua fraktur
maka terjadi union secara klinis. Selanjutnya woven bone diganti oleh tulang
lamelar dan tulang mengalami konsolidasi.

Penyembuhan fraktur pada tulang rawan persendian (8)

Tulang rawan hialin permukaan sendi sangat terbatas kemampuannya untuk


regenerasi. Pada fraktur intraartikuler penyembuhan tidak terjadi melalui tulang
rawan hialin, tetapi terbentuk melalui fibrokartilago.
Waktu penyembuhan fraktur(2)
Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat daripada orang
dewasa. Hal ini terutama disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis pada
periosteum dan endosteum dan juga berhubungan dengan proses remodelling
tulang pada anak sangat aktif dan makin berkurang apabila umur bertambah.
Selain itu fragmen tulang pada anak mempunyai vaskularisasi yang baik dan
penyembuhan biasanya tanpa komplikasi. Waktu penyembuhan anak secara kasar
adalah setengah kali waktu penyembuhan pada orang dewasa.
2.7.Penatalaksanaan Fraktur (2,3,7,8)

Pilihan adalah terapi konservatif atau operatif. Pilihan harus mengingat tujuan
pengobatan fraktur, yaitu : mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam jangka
waktu sesingkat mungkin.
I. Terapi Konservatif
a. Proteksi saja
Misalnya mitella untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik.
b. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan
kedudukan baik.
c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Misalnya fraktur supracondylair, fraktur colles, fraktur smith. Reposisi dapat dengan
anestesi umum atau anestesi lokal dengan menyuntikkan obat anestesi dalam
hematoma fraktur. Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap
fragmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips.
Misalnya fraktur distal radius, immobilisasi dalam pronasi penuh dan fleksi
pergelangan.
d. Traksi
Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau
dipasang gips setelah tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi
Hamilton Russel/traksi Bryant).
Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan
beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana tidak
maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk orang dewasa traksi definitif
harus traksi skeletal berupa balanced traction.
II. Terapi Operatif
a. Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis
(image intensifier, C-arm) :
1. Reposisi tertutup-Fiksasi eksterna
Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka dipasang
alat fiksasi eksterna.
2. Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna
Misalnya : reposisi fraktur tertutup supra condylair pada anak diikuti dengan
pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup fraktur collumum pada anak diikuti
pinning dan immobilisasi gips.
Cara ini sekarang terus dikembangkan menjadi “close nailing” pada fraktur femur
dan tibia, yaitu pemasangan fiksasi interna intra meduller (pen) tanpa membuka
frakturnya.
b. Terapi operatif dengan membuka frakturnya :
1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna
ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)
Keuntungan cara ini adalah :
- Reposisi anatomis.
- Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
Indikasi ORIF :
a. Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis tinggi, misalnya :
- Fraktur talus.
- Fraktur collum femur.
b. Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya :
- Fraktur avulsi.
- Fraktur dislokasi.
c. Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya :
- Fraktur Monteggia.
- Fraktur Galeazzi.
- Fraktur antebrachii.
- Fraktur pergelangan kaki.
d. Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan
operasi, misalnya : fraktur femur.
2. Excisional Arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi, misalnya :
- Fraktur caput radii pada orang dewasa.
- Fraktur collum femur yang dilakukan operasi Girdlestone.
3. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore atau yang
lainnya.
Sesuai tujuan pengobatan fraktur yaitu untuk mengembalikan fungsi maka sejak
awal sudah harus diperhatikan latihan-latihan untuk mencegah disuse atropi otot
dan kekakuan sendi, disertai mobilisasi dini. Pada anak jarang dilakukan operasi
karena proses penyembuhannya yang cepat dan nyaris tanpa komplikasi yang
berarti.
III. Pengobatan Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan
segera.
Tindakan sudah harus dimulai dari fase pra-rumah sakit :
-Pembidaian
-Menghentikan perdarahan dengan perban tekan
-Menghentikan perdarahan besar dengan klem
Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh karena 40% dari
fraktur terbuka merupakan polytrauma.
Tindakan life-saving harus selalu didahulukan dalam kerangka kerja terpadu (team
work).

DAFTAR PUSTAKA
1. Apley and Solomon, Fracture and Joint Injuries in Apley’s System of Orthopaedics
and Fractures, Seventh Edition, Butterwordh-Heinemann, London, 1993, pp. 499-
515.
2. Armis, Prinsip-prinsip Umur Fraktur dalam Trauma Sistema Muskuloskeletal,
FKUGM, Yogyakarta, hal : 1-32.
3. Berend ME, Harrelson JM, Feagin JA, Fractures and Dislocation in Sabiston Jr
DC, Texbook of Surgery The Biological Basis of Modern Surgical Practice, Fifteenth
Edition, W.B. Saunders Company, Philadelphia, 1997, pp. 1398-1400.
4. Carter MA, Anatomi dan Fisiologi Tulang dan Sendi dalam Price SA, Wilson
LM, Patofisiologi Konsep-konsep Klinis Proses- proses Penyakit, Buku II, edisi 4, EGC,
Jakarta, 1994, hal 1175-80.
5. Dorland, Kamus Kedokteran, edisi 26, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta,
1996, hal 523,638,1119.
6. Rasjad C, Trauma dalam Pengantar Ilmu Bedah Orthopaedi, Bintang Lamumpatue
Ujung Pandang, 1998, hal : 343-525
7. Reksoprodjo, S, Pemeriksaan Orthopaedi dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah
FKUI, Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta, 1995, hal : 453-471.
8. Sjamsuhidajat R, Sistem Muskuloskeletal dalam Syamsuhidajat R, de Jong
W, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 1997, hal : 1124-1286
skan oleh mustakim di 14:18

Anda mungkin juga menyukai