Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

NAMA

WAHYU NUR ASIH

2014 4031 013

ASUHANKEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ABORTUS


INSIPIEN

A. Landasan Teori
1. Pengertian Abortus
Abortus atau keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum janin
dapat bertahan hidup, yaitu sebelum kehamilan berusia 20 minggu
atau berat janin belum mencapai 500 gram. Abortus biasanya
ditandai dengan terjadinya perdarahan pada wanita yang sedang
hamil. Dengan adanya peralatan USG, sekarang dapat diketahui
bahwa abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Yang pertama
adalah abortus karena kegagalan perkembangan janin dimana

gambaran USG menunjukkan kantong kehamilan yang kosong,


sedangkan jenis yang kedua adalah abortus karena kematian janin, di
mana janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyut
jantung atau pergerakan yang sesuai dengan usia kehamilan.
2. Etiologi
Delapan puluh persen kejadian abortus terjadi pada usia
kehamilan sebelum 12 minggu. Risiko terjadinya abortus meningkat
dengan meningkatnya jumlah kehamilan, umur ibu dan umur ayah.
Risiko ini juga meningkat jika seorang ibu langsung hamil kembali
3 bulan setelah melahirkan. Penyebab abortus dapat dibagi menjadi
3 faktor yaitu
a. Faktor janin
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik, dan ini
terjadi pada 50%-60% kasus keguguran.
b. Faktor ibu
1. kelainan endokrin (hormonal) misalnya kekurangan tiroid,
kencing manis.
2. faktor kekebalan (imunologi), misalnya pada penyakit lupus,
Anti phospholipid syndrome
3. infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak
jerman, toksoplasma , herpes, klamidia.
4. kelemahan otot leher rahim
5. Kelainan bentuk rahim.
c. Faktor Bapak
Kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat menyebabkan
abortus
3. Patofisiologi

Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan


nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas
dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum
menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat
dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu,
penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan
sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan
lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada
plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong
amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes
ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus
kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
4. Manifestasi Klinis

Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu

Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah


kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut
nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat

Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya


jaringan hasil konsepsi

Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering


nyeri pingang akibat kontraksi uterus

PATHWAY

5. Komplikasi

Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi

Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat


terjadi kelainan pembekuan darah

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Tes Kehamilan
Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus
b. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin
masih hidup
c. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion
7. Diagnosa Banding
Kehamilan etopik terganggu, mola hidatidosa, kehamilan dengan
kelainan serviks. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan
perdarahan implantasi yang biasanya sedikit, berwarna merah, cepat
terhenti, dan tidak disertai mules-mules.
8. Jenis Jenis Abortus
Jenis abortus berdasarkan gejalanya dapat dibagi menjadi 5,
yaitu:
1. Abortus Mengancam
2. Abortus insipien
3. Abortus inkomplit
4. Abortus komplit
5. Missed abortion (abortus tertahan)
B. Abortus Insipiens
1. Pengertian
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri
yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal
ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah.
Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum
atau dengan cunam ovum, disusul dengan kerokan.

Perdarahan saat awal kehamilan di mana walaupun belum ada


jaringan yang keluar namun mulut rahim sudah terbuka. Pada
keadaan seperti ini, kehamilan ini tidak dapat dipertahankan.
Jaringan di dalam rahim harus dibersihkan, baik dengan pemberian
obat ataupun dengan cara kuret. Perdarahan tersebut ringan hingga
sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih berada
dalam kavum uteri kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang
berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau
komplit selain itu Abortus Insipien. Ialah buah kehamilan yang
mati di dalam kandungan-lepas dari tempatnya- tetapi belum
dikeluarkan. Hampir serupa dengan itu, ada yang dikenal missed
Abortion, yakni buah kehamilan mati di dalam kandungan tetapi
belum ada tanda-tanda dikeluarkan.
2. Penanganan
Penanganan Abortus Insipiens meliputi :
1. Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus
dengan aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera
lakukan:
2. Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang
setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral
(dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).
3. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari
uterus.
4. Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :
5. Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa
hasil konsepsi.
6. Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan
intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan

kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil


konsepsi.
7. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data
dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan
kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ;
nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya
perdarahan pervaginam berulang
Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi
ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan
pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari
usia kehamilan.
Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah
dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di
mana tindakan tersebut berlangsung.
Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang
pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi ,
masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakitpenyakit lainnya.

Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram


dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit
turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya
dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta
keluahan yang menyertainya
Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan
anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana
keadaan kesehatan anaknya.
Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obatobatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan
elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene,
ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
Pemeriksaan fisik, meliputi :
1. Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya
terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran
dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi
terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan
kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan
ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
2. Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh
dengan jari.

Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat


kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi
uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,
memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati
turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon
nyeri yang abnormal
3. Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung
pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang
organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang
menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut
apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak
4. Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan
bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan
bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang
antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru
abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.
(Johnson & Taylor, 2005 : 39)
Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG,
biopsi, pap smear.
Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB,
apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan
menggunakan KB jenis apa.

Data lain-lain :
Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan
selama dirawat di RS.Data psikososial.
Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam
keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme
koping yang digunakan.
Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME,
dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.
2. Diagnosa Keperawatan

Devisit Volume Cairan s.d perdarahan

Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi

Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan


intrauteri

Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab

Cemas s.d kurang pengetahuan


3. Intervensi Keperwatan
a. Devisit Volume Cairan b.d Perdarahan
Tujuan :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan
output baik jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
1. Kaji kondisi status hemodinamika
Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus
memiliki karekteristik bervariasi
2. Ukur pengeluaran harian
Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian

ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal


3. Berikan sejumlah cairan pengganti harian
Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan
massif
4. Evaluasi status hemodinamika
Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui
pemeriksaan fisik
b. Gangguan Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan :
Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Intervensi :
1. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi
perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien
lebih buruk
2. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan
pulsasi organ reproduksi
3. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal
4. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan
kemampuan/kondisi klien
Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens,
istirahat mutlak sangat diperlukan
5. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
Rsional : Menilai kondisi umum klien

c. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d Kerusakan jaringan intrauteri


Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
1. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan
skala maupun dsekripsi.
2. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance
mengatasi nyeri
3. Kolaborasi pemberian analgetika
Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan
dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum
luas/spesifik
d. Resiko tinggi Infeksi b.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan
bau
Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat
dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak
enak mungkin merupakan tanda infeksi
2. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa
perdarahan
Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital

yang lebih luar


3. Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
4. Lakukan perawatan vulva
Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat
menyebabkan infeksi.
5. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda
nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin
merupakan gejala infeksi
6. Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama
se;ama masa perdarahan
Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk
kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat
memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus
meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.
e. Cemas b.d kurang pengetahuan
Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap
penyakit meningkat
Intervensi :
1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap
penyakit
Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa
cemas
2. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan

penialaian objektif klien tentang penyakit


3. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan
merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan
meningkatkan kesadaran diri klien
4. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi
menurunkan kecemasan
5. Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien
dan keluarga
Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk
meningkatkan pengetahuan dan membangun support system
keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
4. Evaluasi

Tidak terjadi deficit volume cairan, seimbang antara intake dan


output baik jumlah maupun kualitas.

Klien dapat melakukan aktifitas tanpa adanya komplikasi

Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

Tidak terjadinya kecemasan klien dan keluarga dan dapat


meningkatkan pengetahuan tentang penyakit yang ada.
Contoh kasus Klien dengan Abortus Insipiens :
Ny. A berusia 25 tahun masuk kerumah sakit dengan keluhan
nyeri abdomen dan terjadi perdarahan, diusia kehamilan 16 minggu.
Dia mengatakan sering merasa mulas, kram perut bagian bawah, dia
juga mengatakan bahwa pernah mengalami abortus sebelumnya. Ny.
A mengatakan ia merasa cemas terhadap penyakitnya tersebut

karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.


Dari pemeriksaan fisik pada abdomen tidak terdapat nyeri tekan.
Uterus dapat teraba pra abdomen.
A. Diagnosaa keperawatan
1. Deficit volume cairan b/d perdarahan
2. Gangguan aktifitas b/d kelemahan, penurunan sirkulasi
3. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d kerusakan jaringan intra
auteri.
4. Resiko tinggi infeksi b/d perdarahan, kondisi vulva lembab
5. Cemas b/d kurangnya pengetahuan.
B. Intervensi keperawatan
1. Deficit volume cairan b/d perdarahan
a. kaji kondisi status hemodinamika
b. ukur pengeluaran harian
c.
Berikan sejumlah cairan pengganti harian
d. Evaluasi status hemodinamika
2. Gangguan sktifitas b/d kelemahan, penurunan sirkulasi
a. kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktifitas
b. kaji pengaruh aktifitass terhadap kondisi uterus
c.
Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-hari.
d. bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai
kemampuan/kondisi klien.
e.
evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktifitas.
3. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d kerusakan jaringan intra
auteri
a. kaji kondisi nyeri yang dialami klien
b. jelaskan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
c.
kolaorasi pemberian analgetik

4. Resiko tinggi infeksi b/d perdarahan dengan kondisi vulva


lembab.
a. kaji kondisi keluar atau dischart yang keluar : jumlah warna dan
bau.
b. terangkan pada klien pentingnya perawtan vulva selama masa
perdarahan
c. lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
d. anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan
senggama selama masa perdarahan.
5. Cemas b/d kurangnya pengetahuan
a. kaji tingkat pengetahuan atau persepsi klien dan keluarga
terhadap penyakit.
b. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
c. terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh
klien dan keluarga
C. Implementasi
1. Devisit Volume cairan
a. Mengkaji kondisi status hemodinamika
b. Mengukur pengeluaran harian
c. Memberikan sejumlah cairan pengganti harian
d. Mengevaluasi status hemodinamika
2. Gangguan aktifitas b/d kelemahan, penurunan sirkulasi
a. Mengkaji tingkat kemampuan klien untuk beraktifitas
b. Mengkai pengaruh aktifitas terhadap kondisi uterus /
kandungan
c. Membantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktifitas seharihari

d. Membantu klien untuk melakukan tindakan sesuai


kemampuan/kondisi klien.
e.
Mengevaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan
aktifitas.
3. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d kerusakan jaringan intra
auteri
a. Mengkaji kondisi nyeri yang dialami klien
b. menerangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
c.
mengkolaborasikan pemberian analgetik
4. Resiko tinggi infeksi b/d perdarahan, kondisi vulva lembab
a. mengkaji kondisi keluaran / dischart yang keluar : jumlah,
warna, dan bau
b. menerangkan kepadan klien pentingnya perawatan vulva
selama masa perdarahan
c.
melakukan pemeriksaan biakan pada dischart
d. Menganjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan
senggama selama masa perdarahan.
5. Cemas b/d kurangnya pengetahuan
a. Mengkaji tingkat pengetahuan atau persepsi klien dan keluarga
terhadap penyakit.
b. Membantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan

c. Menerangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh


klien dan keluarga

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta
Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas,
edisi 6, EGC, Jakarta
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media
Aesculapius. Jakarta
Cunningham FG, MacDonald PC,Gant NF. Abortion. In Williams
Obstetrics 20th Ed. Appleton Lange, 1997, p 579
Arias F. Early pregnancy loss. In Practical Guide to High Risk
Pregnancy and Delivery. St Louis, Mosby Year
Book,1993, p57ng