Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh penambahan
jaringan kelenjar tiroid itu sendiri. Pembesaran kelenjar tiroid ini ada yang
menyebabkan perubahan fungsi pada tubuh dan ada juga yang tidak mempengaruhi
fungsi. Struma merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari, dengan
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti, struma dengan atau tanpa kelainan
fungsi metabolisme dapat didiagnosis secara tepat.(1,2)
Struma merupakan penyakit yang diakibatkan oleh kekurangan yodium
sebagai unsur utama dalam pembentukan hormon T3 dan T4 sehingga untuk
mengimbangi kekurangan tersebut, kelenjar tiroid bekerja lebih aktif dan
memnimbulkan pembesaran yang mudah terlihat di kelenjar tiroid.1
Struma dapat diklasifikasikan berdasarkan fisiologis yaitu termasuk di
dalamnya eutiroidisme, hipotiroidisme, dan hipertiroidisme. Berdasarkan morfologi
dibedakan atas struma hyperplastica diffusa, struma colloides diffusa dan struma
nodular serta berdasarkan kliis dibedakan atas struma toksik dan struma non toksik.3
Penelitian Rebecca, et al di India tahun 2005 dilakukan pemeriksaan terhadap
505 perempuan dengan usia antara 20-80 tahun ditemukan 80 orang (15,8%)
menderita disfungsi tiroid, 425 orang (84,2%) eutiroidisme, 58 orang (11,5%)
hipotiroidisme, dan 9 orang (1,8%) hipertiroidisme.4

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR TIROID
Untuk mengetahui penyakit dan kelainan tiroid, perlu diingat kembali tentang
anatomi tiroid. Anatomi dan fisiologis normal harus diketahui dan diingat kembali
sebelum terjadi perubahan anatomi dan fisiologi yang dapat berlanjut menjadi suatu
penyakit atau kelainan.
A. Anatomi Tiroid
Kelenjar tiroid terdiri dari tiga lobus, yaitu lobus dextra, lobus sinistra dan
isthmus yang terletak di bagian tengah. Kadang- kadang dapat ditemukan bagian
keempat yaitu lobus piramidalis yang letaknya di atas isthmus agak ke kiri dari garis
tengah. Lobus ini merupakan sisa jaringan embrional tiroid yang masih tertinggal.4
Kelenjar tiroid mempunyai berat sekitar 25 – 30 gram dan terletak antara
tiroidea dan cincin trakea keenam. Seluruh jaringan tiroid dibungkus oleh suatu
lapisan yang disebut true capsule.(1,2,3)

2

Saraf ini terletak di dorsal tiroid sebelum masuk ke laring. Tiroidea Ima yang merupakan cabang dari Arcus Aorta Saraf yang melewati tiroid adalah Nervus Rekurens. Tiroidea Inferior yang merupakan cabang dari A. Subclavia 3) A. 3 . Carotis Externa 2) A.Vaskularisasi kelenjar tiroid berasal dari : . 1) A. Tiroidea superior yang merupakan cabang dari A.

5 Fungsi hormon tiroid antara lain : 4 . B. Sebagian kecil T3 dan T4 bebas beredar dalam darah dan berperan dalam mengatur sekresi TSH. triiodotironin atau T3 dan kalsitonin. Thyroxin Binding Pre Albumin (TBPA) dan Thyroxin Binding Globulin (TGB). Kelenjar thyroid juga mengeluarkan calcitonin dari parafolicular cell. Fisiologi Tiroid Kelenjar tiroid merupakan suatu kelenjar endokrin yang mensekresikan hormon Tiroksin atau T4.. Di dalam darah sebagian besar T3 dan T4 terikat oleh protein plasma yaitu albumin. yang dapat menurunkan kalsium serum berpengaruh pada tulang. Hormon tiroid dikendalikan oleh thyroid-stimulating hormone ( TSH ) yang dihasilkan lobus anterior glandula hypofise dan pelepasannya dipengaruhi oleh thyrotropine-releasing hormone ( TRH ).

1) meningkatkan kecepatan metabolisme 2) efek kardiogenik 3) simpatogenik 4) pertumbuhan dan sistem saraf 2. yaitu struma yang menimbulkan gejala klinis pada tubuh. berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi 5 .2 STRUMA Pembesaran kelenjar tiroid atau struma diklasifikasikan berdasarkan efek fisiologisnya. dan perubahan bentuk yang terjadi. Struma dapat dibagi menjadi : 1) Struma Toksik. klinis.

4) Jinak dan ganas 6 . 2) Inflamasi atau Infeksi Proses peradangan pada kelenjar tiroid seperti pada tiroiditis akut. tiroiditis subakut (de Quervain) dan tiroiditis kronis (Hashimoto). Demikian juga dengan kelenjar tiroid pada saat pertumbuhan akan dipacu untuk bekerja memproduksi hormon tiroksin sehingga lama kelamaan akan membesar. berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi a. yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid hanya mengenai salah satu lobus. b. 2) Struma Nontoksik. seperti yang ditemukan pada keganasan tiroid. 3) Neoplasma (2.6 Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh : 1) Hiperplasia dan Hipertrofi Setiap organ apabila dipicu untuk bekerja akan mengalami kompensasi dengan cara memperbesar dan memperbanyak jumlah selnya. seperti yang ditemukan pada Plummer’s disease. Nodosa. Nodosa.3. yaitu struma yang tidak menimbulkan gejala klinis pada tubuh. misalnya saat pubertas dan kehamilan.a. yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid meliputi seluruh lobus. Diffusa. seperti yang ditemukan pada endemik goiter b. seperti yang ditemukan pada Grave’s disease. Diffusa.

sistolik yang tinggi dan diastolik yang rendah sehingga menghasilkan tekanan nadi yang tinggi (pulsus celler) dan dalam jangka panjang dapat menjadi fibrilasi atrium  Tremor  Diare  Infertilitas. kelopak mata dan tungkai 7 .Struma menimbulkan gejala klinis dikarenakan oleh perubahan kadar hormon tiroid di dalam darah. amenorrhae pada wanita dan atrofi testis pada pria  Exophtalmus. tekanan sistolik yang rendah dan tekanan nadi yang lemah  Gerak tubuh menjadi lamban dan edema pada wajah. Gejala yang timbul pada hipertiroid adalah :  Peningkatan nafsu makan dan penurunan berat badan  Tidak tahan panas dan hiperhidrosis  Palpitasi.7 Gejala yang timbul pada hipotiroid adalah kebalikan dari hipertiroid :  Nafsu makan menurun dan berat badan bertambah  Tidak tahan dingin dan kulit kering bersisik  Bradikardi. Kelenjar tiroid dapat menghasilkan hormon tiroid dalam kadar berlebih atau biasa disebut hipertiroid maupun dalam kadar kurang dari normal atau biasa disebut hipotiroid.

Definisi Struma difusa toksik dapat kita temukan pada Grave’s Disease. tampaknya terdapat peran dari suatu antibodi yang dapat ditangkap reseptor TSH.8 Gambar : penderita penyakit Graves 8 . Penyakit ini juga biasa disebut Basedow.2. Penyakit ini juga ditandai dengan peningkatan absorbsi yodium radiokatif oleh kelenjar tiroid. ketidakstabilan emosi. dan polidefekasi ( sering buang air besar ). kadang terdapat juga manifestasi pada mata berupa exophthalmus dan miopatia ekstrabulbi. Walaupun etiologi penyakit Graves tidak diketahui pasti. Klinis sering ditemukan adanya pembesaran kelenjar tiroid. hipertiroidi dan eksoftalmus. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada orang muda dengan gejala seperti berkeringat berlebihan.1 Struma Difusa Toksik (2) a. tremor tangan. penurunan berat badan.2. yang menimbulkan stimulus terhadap peningkatan hormon tiroid. Trias Basedow meliputi pembesaran kelenjar tiroid difus. gangguan menstruasi berupa amenorrhea. menurunnya toleransi terhafap panas.

Penderita mengalami ketidakstabilan 9 . fibrilasi atrium. sering terbangun di waktu malam. Peningkatan metabolisme pada sistem kardiovaskuler terlihat dalam bentuk peningkatan sirkulasi darah. penderita akan mengalami takikardia dan palpitasi. dan rangsangan saraf autonom dapat mengakibatkan kekacauan irama jantung berupa ektrasistol. dan seringkali asupan ( intake) kalori tidak mencukupi kebutuhan sehingga terjadi penurunan berat badan secara drastis. Gejala Klinis (1. Beban pada miokard. Irama nadi meningkat dan tekanan denyut bertambah sehingga menjadi pulsus celer. penderita sulit tidur.8 Pada saluran cerna sekresi maupun peristaltik meningkat sehingga sering timbul polidefekasi dan diare. dan fibrilasi ventrikel. Peningkatan metabolisme menyebabkan peningkatan kebutuhan kalori. Patofisiologi Grave’s Disease merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kelainan system imun dalam tubuh.8 Hipermetabolisme susunan saraf biasanya menyebabkan tremor.2) Gejala dan tanda yang timbul merupakan manifestasi dari peningkatan metabolisme di semua sistem tubuh dan organ yang mungkin secara klinis terlihat jelas. Zat ini menempati reseptor TSH di sel-sel tiroid dan menstimulasinya secara berlebiham. sehingga TSH tidak dapat menempati reseptornya dan kadar hormone tiroid dalam tubuh menjadi meningkat.b. dan juga dalam keadaan istirahat.8 c. antara lain dengan peningkatan curah jantung/ cardiac output sampai dua-tiga kali normal. di mana terdapat suatu zat yang disebut sebagai Thyroid Receptor Antibodies.

Hal ini disebabkan oleh gangguan elektrolit yang dipicu oleh adanya hipertiroidi tersebut.8 Pada saluran napas. dan ketakutan yang tidak beralasan yang sangat menggangu. Kelemahan otot terutama otot-otot bagian proksimal. Jaringan ikat dan jaringan lemaknya menjadi hiperplastik sehingga bola mata terdorong ke luar dan otot mata terjepit. kekacauan pikiran.emosi. Gangguan gerak otot akan menyebabkan strabismus. hipermetabolisme menimbulkan dispnea dan takipnea yang tidak terlalu mengganggu. kegelisahan. biasanya cukup mengganggu dan sering muncul secara tiba-tiba. Akibatnya terjadi eksoftalmus yang dapat menyebabkan kerusakan bola mata akibat keratitis.3) Gangguan menstruasi dapat berupa amenorea sekunder atau metrorhagia. (1.8 10 .2. Kelainan mata disebabkan oleh reaksi autoimun berupa ikatan antibodi terhadap reseptor pada jaringan ikat dan otot ekstrabulbi dalam rongga mata.

namun jika tidak segera diobati.Gambar : Skema patogenesis penyakit Graves d.9 2. Terapi definitif dapat dipilih antara pengobatan anti-tiroid jangka panjang. atau tiroidektomi. maka disebut juga Plummer’s disease. Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi dilakukan terutama jika pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid besar. Definisi Struma nodosa toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus yang disertai dengan tanda-tanda hipertiroid. seperti propil-tiourasil ( PTU ) atau karbimazol. Pembedahan yang baik biasanya memberikan kesembuhan yang permanen meskipun kadang dijumpai terjadinya hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.3) a. Pertama kali dibedakan dari penyakit Grave’s oleh Plummer. Bila tidak diobati.2. dalam 15-20 tahun dapat menjadi toksik.8 b. ablasio dengan yodium radiokatif. dalam 15-20 tahun dapat menimbulkan hipertiroid. Pembesaran noduler terjadi pada usia dewasa muda sebagai suatu struma yang nontoksik.2 Struma Nodosa Toksik (2. Tatalaksana Terapi penyakit Graves ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas/ hipertiroidi dengan pemberian antitiroid. Faktor-faktor yang 11 . Patofisiologi Penyakit ini diawali dengan timbulnya pembesaran noduler pada kelenjar tiroid yang tidak menimbulkan gejala-gejala toksisitas.

2. Definisi Struma endemik Struma endemik adalah penyakit yang ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid yang terjadi pada suatu populasi. dan diperkirakan berhubungan dengan defisiensi diet dalam harian.3 Struma Difusa Nontoksik (1. pemberian yodium radioaktif sebagai pengobatan. sulit untuk membedakan antara Grave’s disease dengan Plummer’s disease karena sama-sama menunjukan gejala-gejala hipertiroid. atau tiroidektomi. Tatalaksana Terapi yang diberikan pada Plummer’s Disease juga sama dengan Grave’s yaitu ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas/ hipertiroidi dengan pemberian antitiroid.9 d. Epidemologi Endemik goiter diperkirakan terdapat kurang lebih 12 5% pada populasi anak sekolah . Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi dilakukan terutama jika pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid besar.3) a. seperti propil-tiourasil ( PTU ) atau karbimazol.9 c. pemberian hormon tiroid dari luar. Pembedahan yang baik biasanya memberikan kesembuhan yang permanen meskipun kadang dijumpai terjadinya hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.2.mempengaruhi perubahan dari nontoksik menjadi toksik antara lain adalah nodul tersebut berubah menjadi otonom sendiri (berhubungan dengan penyakit autoimun). Terapi definitif dapat dipilih antara pengobatan anti-tiroid jangka panjang.9 2. Gejala Klinis Saat anamnesis. Yang membedakan adalah saat pemeriksaan fisik di mana pada saat palpasi kita dapat merasakan pembesaran yang hanya terjadi pada salah satu lobus. ablasio dengan yodium radiokatif.

Hal ini akan memicu peningkatan pelepasan TSH (thyroid-stimulating hormone) ke dalam darah sebagai efek kompensatoriknya.8 Goiter Difus Goiter difus adalah bentuk goiter yang membentuk satu buah pembesaran yang tampak tanpa membentuk nodul.8 b. sehingga terjadi pembesaran tiroid secara makroskopik. seperti terbukti dari beberapa penelitian. Derajat pembesaran tiroid mengikuti level dan durasi defisiensi hormon tiroid yang terjadi pada seseorang. Efek tersebut menyebabkan terjadinya hipertrofi dan hiperplasi dari sel folikuler tiroid. Goiter endemik terjadi karena defisiensi yodium dalam diet. goiter juga dapat disebabkan oleh kelainan sintesis hormon tiroid kongenital ataupun goitrogen (agen penyebab goiter seperti intake kalsium berlebihan maupun sayuran familiBrassica). oleh karena pada efek kompensatorik tersebut kebutuhan hormon tiroid terpenuhi. Kondisi itulah yang dikenal dengan goiter hipotiroid. mekanisme terjadinya goiter disebabkan oleh adanya defisiensi intake iodin oleh tubuh. Akan tetapi. Patofisiologi Umumnya. Pembesaran ini dapat menormalkan kerja tubuh. seperti defisiensi iodin endemik. Kurangnya iodin menyebabkan kurangnya hormon tiroid yang dapat disintesis. alpens. Benttuk ini biasa ditemukan dengan sifat nontoksik (fungsi tiroid normal). Selain itu. pembesaran ini tidak akan dapat mengompensasi penyakit yang ada. daerah dengan ketersediaan yodium alam dan cakupan pemberian yodium tambahan belum terlaksana dengan baik. Kejadian goiter endemik sering terjadi di derah pegnungan. oleh karena itu bentuk ini disebut juga goiter simpel.dasar/preadolescent (6-12 tahun). seperti di himalaya. Dapat juga disebut sebagai goiter koloid karena sel folikel yang membesar tesebut 13 . pada beberapa kasus.

10 Pada goiter simpel. kelenjar tiroid membesar secara difus dan simetris. Pada fase hiperplastik.9 14 .10 Sementara itu. Hipotiroidisme lebih sering terjadi pada anakanak dengan defek biosintetik sebagai penyebabnya. Contoh daerahnya adalah daerah pegunungan Alps. sementara secara histologis akan terlihat bahwa folikel dipenuhi oleh koloid serta sel epitelnya gepeng dan kuboid. yaitu hiperplastik dan involusi koloid.umumnya dipenuhi oleh koloid. yaitu konsumsi bahan yang menghambat sintesis hormon tiroid atau gangguan enzim untuk sintesis hormon tiroid yang turun secara herediter. maupun suplai makanannya mengandung sedikit iodin. air. Folikel-folikelnya dilapisi oleh sel kolumner yang banyak dan berdesakan. termasuk defek pada transfer yodium. Sebagian besar pasien tetap menunjukkan keadaan eutiroid. sehingga terjadi defisiensi iodin secara meluas di daerah teresebut. Apabila setelah itu konsumsi iodin ditingkatkan atau kebutuhan tubuh akan hormon tiroid menurun.4) Sebagian besar manifestasi klinik berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid. Andes atau Himalaya. namun sebagian lagi mengalami keadaaan hipotiroid. Kelainan ini muncul pada goiter endemik dan sporadik. walaupun pembesarannya tidak terlalu besar (hingga 100-150 gram). terdapat dua fase evolusinya. Biasanya secara makroskopik tiroid akan terlihat coklat dan translusen.10 c.10 Goiter endemik muncul di tempat yang tanah. goiter sporadik muncul lebih jarang dan dapat disebabkan oleh berbagai hal. terjadi involusi sel epitel folikel sehingga terbentuk folikel yang besar dan dipenuhi oleh koloid. Gejala Klinis (3. Akumulasi sel ini tidak sama di keseluruhan kelenjar.

yaitu dengan pemberian SoL Lugoli selama 4-6 bulan.3) a. Definisi Struma nodosa nontoksik adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme.11 15 propiltiourasil.4 Struma Nodosa Nontoksik (1. maka pembesaran asimetris ini disebut sebagai struma nodosa nontoksik. Bila ada perbaikan. fenilbutazone. Patofisiologi Struma nodosa nontoksik dapat juga disebut sebagai goiter sporadis. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui dengan jelas. Jika goiter endemis terjadi 10% populasi di daerah dengan defisiensi yodium. Bila 6 bulan sesudah pengobatan struma tidak juga mengecil maka pengobatan medikamentosa tidak berhasil dan harus dilakukan tindakan operatif. aminoglutatimid. Istilah struma nodosa menunjukkan adanya suatu proses.2. pengobatan dilanjutkan sampai tahun dan kemudian tapering off dalam 4 minggu. dan harus diwaspadai tanda-tanda keganasan yang mungkin ada. maka goiter sporadis terjadi pada seseorang yang tidak tinggal di daerah endemik beryodium rendah. Kelainan ini sangat sering dijumpai sehari-hari. Tatalaksana Tujuan dari pengobatan struma endemik adalah untuk mengecilkan struma dan mengatasi hipotiroidisme yang mungkin ada.d.2.11 b. baik fisiologis maupun patologis yang menyebabkan pembesaran asimetris dari kelenjar tiroid.9 2. Karena tidak disertai tandatanda toksisitas pada tubuh. atau . bisa terdapat gangguan enzim yang penting dalam sintesis hormon tiroid atau konsumsi obatobatan yang mengandung litium.

atau hipertiroidisme. Sewaktu menelan trakea naik untuk menutup laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena terfiksasi pada trakea. Pendorongan demikian mungkin tidak mengakibatkan gangguan pernafasan. 11 d. Yang penting pada diagnosis Struma nodosa nontoksik adalah tidak adanya gejala toksik yang disebabkan oleh perubahan kadar hormon tiroid. Tatalaksana Tindakan operatif masih merupakan pilihan utama pada Struma nodosa nontoksik. Keluhan yang ada ialah rasa berat di leher. bila subtotal maka kelenjar disisakan seberat 3 gram b. dan pada palpasi dirasakan adanya pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus.c. Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan. yaitu pengangkatan seluruh kelenjar tiroid 16 . Isthmolobektomi. Lobektomi. Walaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol ke depan. Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke arah kontra lateral. struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan pernafasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan stridor inspiratoar. Gejala Klinis Pada umumnya struma nodosa non toksik tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipo. Karena pertumbuhannya berangsur-angsur. Tiroidektomi total. Macam-macam teknik operasinya antara lain : a. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat dewasa. sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya bilateral. yaitu mengangkat satu lobus. yaitu pengangkatan salah satu lobus diikuti oleh isthmus c.

maupun gejala-gejala hipertiroid atau hipotiroidnya. Setelah itu baru ditanyakan ada tidaknya gejala-gejala hiper dan hipofungsi dari kelenjer tiroid. Perbedaannya terasa pada saat pasien diminta untuk menelan.6 Langkah-langkah Penegakkan Diagnosis Struma (2.d. yang paling pertama dilakukan adalah inspeksi. Jika benar pembesaran tiroid maka benjolan akan ikut 17 . Perlu juga ditanyakan tempat tinggal pasien dan asupan garamnya untuk mengetahui apakah ada kecendrungan ke arah struma endemik. Jika pasien mengeluhkan adanya benjolan di leher. Rekurens Laryngeus 2. Anamnesis Pada anamnesis.6 Pada palpasi sangat penting untuk menentukan apakah bejolan tersebut benar adalah kelenjar tiroid atau kelenjar getah bening. sisa jaringan 2-4 gram di bagian posterior dilakukan untuk mencegah kerusakan pada kelenjar paratiroid atau N. maka harus digali lebih jauh apakah pembesaran terjadi sangat progresif atau lamban. yaitu pengangkatan sebagian lobus kanan dan sebagian kiri. gangguan bernafas dan perubahan suara. timbul tanda-tanda gangguan pernapasan atau tidak.6 b. Sebaliknya jika pasien datang dengan keluhan ke arah gejala-gejala hiper maupun hipofungsi dari tiroid. harus digali lebih jauh ke arah hiper atau hipo dan ada tidaknya benjolan di leher. dilihat apakah pembesaran simetris atau tidak. disertai dengan gangguan menelan.4) a. keluhan utama yang diutarakan oleh pasien bisa berupa benjolan di leher yang sudah berlangsung lama. ikut bergerak saat menelan atau tidak. Tiroidektomi subtotal bilateral. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik status lokalis pada regio coli anterior.2.3.

65-1.2. Antibodi terhadap macam-macam antigen tiroid yang ditemukan pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun. lobos kiri.Mobilitas: ada atau tidak perlekatan terhadap trakea. Pemeriksaan Penunjang (1. Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid. lunak. Kadar normal untuk T3 pada orang dewasa adalah 0.Ukuran: dalam sentimeter.Lokasi: lobus kanan.3) Pemeriksaan laboratorium yang digunakan dalam mendiagnosis penyakit tiroid terbagi atas : 1. muskulus sternokleidomastoidea . Seperti antibodi tiroglobulin dan thyroid stimulating hormone antibody 3. Pemeriksaan untuk mengetahui kadar T3 dan T4 serta TSH paling sering menggunakan teknik radioimmunoassay (RIA) dan ELISA dalam serum atau plasma darah.Nyeri: ada nyeri atau tidak pada saat dilakukan palpasi . Pemeriksaan radiologis 18 .Jumlah nodul: satu (uninodosa) atau lebih dari satu (multinodosa) .bergerak saat menelan. 2. Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid.Kelenjar getah bening di sekitar tiroid : ada pembesaran atau tidak c. ismus . sementara jika tidak ikut bergerak maka harus dipikirkan kemungkinan pembesaran kelenjar getah bening leher.7 ng/dl.Konsistensinya: kistik. kenyal. Pembesaran yang teraba harus dideskripsikan: . keras . Kadar normal T4 total pada orang dewasa adalah 50-120 ng/dl. diameter panjang .

ini menunjukkan fungsi yang rendah dan sering terjadi pada neoplasma. Dari uptake dapat ditentukan teraan ukuran.  Scanning Tiroid dasarnya adalah presentasi uptake dari I 131 yang didistribusikan tiroid. Pemeriksaan histopatologis akurasinya 80%. Terakhir adalah hot nodule bila uptake lebih dari normal. Foto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea atau pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis pun sudah bisa diduga. Uptake normal 15-40% dalam 24 jam. bentuk lokasi dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid (distribusi dalam kelenjar). yaitu cold nodule bila uptake nihil atau kurang dari normal dibandingkan dengan daerah disekitarnya. Hal ini perlu diingat agar jangan sampai menentukan terapi definitif hanya berdasarkan hasil FNAB saja. Bentuk yang kedua adalah warm nodule bila uptakenya sama dengan sekitarnya. 4. d. berarti aktifitasnya berlebih dan jarang pada neoplasma. Tindakan Pembedahan 19 . mendeteksi adanya jaringan kanker yang tidak menangkap iodium dan bisa dilihat dengan scanning tiroid. Foto rontgen leher posisi AP dan lateral biasanya menjadi pilihan. menunjukkan fungsi yang nodul sama dengan bagian tiroid lain. FNAB.  USG tiroid yang bermanfaat untuk menentukan jumlah nodul. membedakan antara lesi kistik maupun padat. Dari hasil scanning tiroid dapat dibedakan 3 bentuk.

Dilanjutkan dengan tindakan debulking dan radiasi eksterna atau kemoradioterapi. Struma besar yang melekat erat ke jaringan leher sehingga sulit digerakkan yang biasanya karena karsinoma. Bila nodul tiroid suspek maligna yang operable atau suspek benigna dapat dilakukan 20 . Karsinoma yang demikian biasanya sering dari tipe anaplastik yang jelek prognosisnya.Indikasi operasi pada struma adalah : 1. Bila kasus yang dihadapi adalah inoperable maka dilakukan tidakan biopsi insisi untuk keperluan pemeriksaan histopatologis. Struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan 3. Kosmetik Kontraindikasi pada operasi struma : 1. maka dibedakan apakah kasus tersebut operable atau inoperable. Struma dengan dekompensasi kordis dan penyakit sistemik lain yang belum terkontrol 3. Pertama-tama dilakukan pemeriksaan klinis untuk menentukan apakah nodul tiroid tersebut suspek maligna atau suspek benigna. tetapi perlekatan dengan jaringan lunak leher yang luas sulit dilakukan eksisi yang baik. Struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa 2. Bila nodul tersebut suspek maligna. Perlekatan pada trakea ataupun laring dapat sekaligus dilakukanreseksi trakea atau laringektomi. Struma toksika yang belum dipersiapkan sebelumnya 2. Struma dengan gangguan kompresi 4.

tetapi jika ganas maka harus ditentukan terlebih dahulu jenis karsinoma yang terjadi. Krikotiroid. Pendit. Dispneu c. Perdarahan dari A. 21 No. http://www.. 2. Akibatnya otot-oto laring terjadi kelemahan d. Rekurens Laryngeus. 24 . Laryngeus Superior.. 2002. 1 hal 52-59. Komplikasi pembedahan tiroid : a. Akibatnya suara penderita menjadi lenih lemah dan sukar mengontrol suara nada tinggi. Kemungkinan nervus terligasi saat operasi DAFTAR PUSTAKA 1. Tiroidea superior b. et al. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Vol. Paralisis N. Brahm U. karena terjadi pemendekan pita suara oleh karena relaksasi M. 2005. Rebecca. Indian Journl Of Clinical Biochemistry. Jika setelah hasil PA membuktikan bahwa lesi tersebut jinak maka operasi selesai. Paralisis N. Thyroid of Puducherry. . Buku Ajar Fisologi Kedokteran.tindakan isthmolobektomi atau lobektomi.unboundmedicine.com/medline. Jakarta.

1997 : 15-19..B. 2005. 11.. 2007.. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Aru W. Goiter Toxic Nodular. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Penyakit Kelenjar Tiroid. Surgery at a Glance. Nengah D. Anu Bhalla. Penerbit Angkasa Offset Merdeka. EGC. Penerbit Erlangga. 2005. 7. Jakarta. Penerbit Binarupa Aksara. Edisi 6.. Jakarta. Buku Dua. 22 ..S. Jakarta.. Bandung. eMedicine. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Sudoyo. Jakarta.G. Edisi Keempat. Penerbit Erlangga. Seymour I.. 4. 2003. Jilid Satu. Pirce A. Edisi 3. Liberty Kim H. 2006. dkk. Ketut S. Kelenjar Tiroid : Buku Teks Ilmu Bedah. W.. 2000. Jakarta. 1995 : 1071-1078. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 10.M. Jonathan G. Patofisiologi. Jakarta. Davis. 5. 2006. Schteingert David E. Penyakit Kelenjar Tiroid. 6. Haznam. Endokrinologi. Neil R.3. 9.S. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. 8. Jakarta.