Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA KLIEN Ny.

M
(82 TAHUN) DENGAN MASALAH KEPERAWATAN
NYERI KRONIK DI WISMA MELATI UPT PSLU
JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

disusun guna memenuhi tugas pada Program Pendidikan Profesi Ners (P3N)
Stase Keperawatan Gerontik

oleh
Rosalind Prihandini, S.Kep
NIM 092311101031

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014
LAPORAN PENDAHULUAN
Pertemuan ke: 3
I. Pendahuluan

tanggal: 17 April 2014

1.1 Latar belakang


Perubahan-perubahan fisiologis akan terjadi pada tubuh manusia sejalan
dengan semakin bertambahnya usia. Perubahan tubuh akan terjadi sejak awal
kehidupan manusia hingga usia lanjut pada semua organ maupun jaringan tubuh.
Tidak terkecuali keadaan demikian itu terjadi pula pada semua sistem
muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan
timbulnya beberapa golongan penyakit nyeri sendi pada lanjut usia (Ketria, 2009).
Penyakit yang banyak diderita para kelompok lanjut usia sebagai akibat dari
proses penuaan salah satunya yang menjadi masalah adalah adanya nyeri sendi
karena terbatasnya luas gerak pada persendian lutut. Lansia sering mengeluhkan
linu-linu, pegal, dan kadang-kadang terasa nyeri. Biasanya yang terkena adalah
persendian pada jari-jari, tulang punggung, sendi-sendi lutut dan panggul.
Gangguan metabolisme asam urat dalam tubuh (Gout) menyebabkan nyeri yang
sifatnya akut(Ismayadi, 2004).
Organisasi kesehatan dunia (WHO) melaporkan bahwa 20%, penduduk
dunia terserang penyakit arthritis, dimana 5-10% adalah mereka yang berusia 5-20
tahun dan 20% mereka yang berusia 55 tahun (Wijayakusuma, 2011). Banyak
lansia beranggapan bahwa tanda dan gejala nyeri yang dirasakan hanya bisa
diatasi dengan konsumsi obat. Padahal dengan self medication (senam rematik)
dapat mengurangi rasa sakit walaupun penyakit primer masih ada (Unit
Reumatologi RSUP dr.Hasan Sadikin).
Menurut American College of Rheumatology, perawatan untuk rematik
dapat meliputi terapi farmakologis, terapi non-farmakologis, dan tindakan bedah.
Pada tahun 2008 lalu, Pfizer mendukung ide kreatif dua pakar Rehabilitasi Medik
dari RSCM FKUI, Prof.DR. dr. Angela B.M Tulaar SpRM dan dr. Siti Annisa
Nuhonni SpRM yang menciptakan senam rematik yang berfungsi sebagai modal
yang akan melengkapi terapi penyakit rematik.
Penelitian lain yang mendukung teori ini berasal dari Fatkuriyah (2010),
yang meneliti tentang Pengaruh Senam Rematik terhadap Penurunan Nyeri Sendi
pada Lansia di Desa Sudimoro Kec. Tulangan Kab. Sidoarjo dengan design
penelitian quasy experimental mendapatkan hasil penelitian bahwa terdapat

pengaruh yang signifikan antara senam rematik terhadap penurunan nyeri dengan
nilai signifikansi < 0,05.
Karakteristik lansia yang berada di partial care (wisma Melati) UPT PSLU
Puger, Kabupaten Jember mengalami nyeri pada sendi di area ekstremitas bawah.
Kondisi imobilisasi semakin memperberat masalah nyeri yang dirasakan. Seluruh
aktivitas sehari-hari memerlukan bantuan dari petugas panti. Oleh karena itu
intervensi pemberian terapi senam rematik untuk lansia dirasa penting untuk
diberikan.
1.2 Data yang Perlu Dikaji
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Riwayat kesehatan
Status kesehatan saat ini
Pola aktivitas/istirahat
Pola makan/nutrisi
Pola personal hygiene
Kardiovaskuler
Neurosensori
Keamanan
Interaksi sosial

1.3 Masalah Keperawatan


Masalah keperawatan yang dapat ditemui pada klien dengan artrhitis
rheumatoid, diantaranya:
a. Nyeri kronis (00085)

1.4 Tinjauan Konsep


a. Arthritis Reumatoid
Arthritis Reumatoid merupakan sebutan orang awan untuk rematik pirai
(gout artritis). Penyakit ini merupakan gangguan metabolik karena asam urat
(uric acid) menumpuk dalam jaringan tubuh, yang kemudian dibuang melalui
urin. Pada kondisi gout, terdapat timbunan atau defosit kristal asam urat
didalam persendian (Wijayakusuma, 2011).
Arthritis rheumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang
tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikan oleh kerusakan dan proliferasi

membran sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis,


dan deformitas. Pada penyakit gout primer, 99% penyebabnya belum diketahui
(idiopatik). Diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik (proses
penuaan) dan faktor hormonal yang menyebabkan gangguan metabolisme yang
dapat mengakibatkan meningkatnya produksi asam urat atau bisa juga
diakibatkan karena berkurangnya pengeluaran asam urat dari tubuh(Utami,
2009).
Lansia sangat rentan terhadap penyakit artrhitis dikarenakan proses
penuaan dimana terjadi penurunan dalam seluruh fungsi fisiologis tubuh.
Akibat dari proses perubahan tersebut, timbunan asam urat dalam tubuh yang
normalnya 2,6-6 mg/dl mengalami peningkatan menjadi 7-8 mg/dl (Sylvia,
2006).
b. Penyebab Asam Urat
Menurut (Utami, 2009) penyebab asam urat yaitu :
1) Faktor dari luar
Penyebab asam urat yang paling utama adalah makanan atau faktor
dari luar. Asam urat dapat meningkat dengan cepat antara lain disebabkan
karena nutrisi dan konsumsi makanan dengan kadar purin tinggi.

2) Faktor dari dalam


Adapun faktor dari dalam adalah terjadinya proses penyimpangan
metabolisme yang umumnya berkaitan dengan faktor usia, dimana usia diatas
40 tahun atau manula beresiko besar terkena asam urat. Selain itu, asam urat
bisa disebabkan oleh penyakit darah, penyakit sumsum tulang dan polisitemia,
konsumsi obat obatan, alkohol, obesitas, diabetes mellitus juga bisa
menyebabkan asam urat.
b. Tanda dan Gejala Asam Urat

Pada gout biasanya serangan terjadi secara mendadak (kebanyakan


menyerang pada malam hari). Jika gout menyerang sendi-sendi yang
terserang tampak merah, mengkilat, bengkak, kulit diatasnya terasa panas
disertai rasa nyeri yang hebat, dan persendian sulit digerakan (Sylvia, 2006).
Gejala lain adalah suhu badan menjadi demam, kepala terasa sakit, nafsu
makan berkurang, dan jantung berdebar. Serangan pertama gout pada
umumnya berupa serangan akut yang terjadi pada pangkal ibu jari kaki.
Namun, gejala-gejala tersebut dapat juga terjadi pada sendi lain seperti tumit,
lutut dan siku. Dalam kasus encok kronis, dapat timbul tofus (tophus), yaitu
endapan seperti kapur pada kulit yang membentuk tonjolan yang menandai
pengendapan kristal asam urat ( Wijayakusuma, 2011).
c.

Senam Rematik
Senam Rematik merupakan latihan rentang gerak dengan teknik relaksasi
nafas dalam sebelum dan sesudah latihan untuk mengurangi nyeri pada sendi.
Senam rematik dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan gerak,
mempertahankan fungsi kekuatan dan daya tahan otot, memperlancar proses
anaerob pada ekstremitas, serta mempertahankan keseimbangan biomekanik
pada sendi. Menurut Sitti Annisa Nuhoni, Sp.RM. mengatakan bahwa hasil
yang maksimal akan dicapai jika senam rematik dilakukan 3 5 kali
seminggu secara terus-menerus.

II. Rencana Keperawatan


2.1 Diagnosa keperawatan
Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik kronik.
2.2 Tujuan umum:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 31 jam, klien
mengungkapkan nyerinya berkurang baik secara verbal maupun non verbal.
2.3 Tujuan khusus

Setelah dilakukan tindakan keperawatan, klien mengalami peningkatan


dalam kemampuan fisik dengan kriteria hasil:
a.
b.
c.
d.

Skala nyeri 1 2
Klien tidak gelisah
Ekspresi wajah rileks
TTV dalam rentang normal: TD 140/80 mmHg, N 80-100, S 36,5-37,5,
RR 18-24

III. Rancangan Kegiatan


3.1 Metode
Peragaan/demonstrasi
3.2 Media dan alat
Kursi, beban, dan bantal
3.3 Waktu dan tempat
Wisma Melati; 17 April 2014, jam 13.00 WIB
3.4 Kriteria evaluasi
a. Klien mampu memperagakan latihan rentang gerak (senam rematik) dari
awal sampai akhir
b. Skala nyeri klien berkurang
c. Klien menunjukkan ekspresi rileks

DAFTAR PUSTAKA
1. Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan: definisi dan klasifikasi
2012-2014 editor bahasa Indonesi, Barrarah dkk. EGC: 2012
2. Ismayadi. 2004. Proses Menua (Aging Proses). Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara
3. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. ECG: Jakarta.
4. Utami, Prapti, dkk, (2009). Solusi Sehat Asam Urat dan Rematik. Agromedia
Pustaka: Jakarta.