Anda di halaman 1dari 11

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KONSEP REDOKS BERDASARKAN

PENINGKATAN DAN PENURUNAN BILANGAN OKSIDASI BERBASIS PROBLEM


BASED LEARNING (PBL)
A. Latar Belakang
Ilmu kimia merupakan cabang ilmu pengetahuan alam. Ilmu kimia mempelajari materi
yang meliputi struktur, sifat, komposisi dan perubahan materi serta energi yang menyertainya.
Seluruh materi yang ada di alam merupakan zat-zat kimia tanpa terkecuali. Manusia, hewan
dan tumbuhan menggunakan berbagai produk yang berkaitan dengan kimia untuk
keperluannya masing-masing. Di samping itu, ilmu kimia sering dipandang sebagai ilmu
yang sulit atau abstrak. Hal ini yang menjadi alasan peserta didik takut mempelajari kimia.
Salah satu topik dalam pembelajaran kimia di sekolah menengah atas adalah reaksi
redoks (reduksi-oksidasi). Pada kurikulum 2013, materi reaksi redoks dipelajari di kelas X
dan XII. Reaksi redoks yang dibahas di kelas X meliputi perkembangan konsep redoks,
penentuan bilangan oksidasi unsur dalam ion atau senyawa, dan tata nama senyawa.
Sedangkan, di kelas XII meliputi penyetaraan persamaan reaksi redoks, sel elekrokimia dan
potensial sel, sel elektrolisis dan Hukum Faraday, dan korosi.
Berdasarkan penelitian (Jannah, Suryadharma dan Fajaroh, 2013) mengenai studi
evaluasi pemahaman konsep reaksi redoks pada peserta didik kelas X di salah satu SMA
Negeri Malang, presentase peserta didik yang memiliki pemahaman lengkap dalam reaksi
redoks dengan indikator menentukan peristiwa oksidasi dan reduksi ditinjau dari peningkatan
dan penurunan bilangan oksidasi sebanyak 46,9 %, menentukan bilangan oksidasi unsur
dalam ion sebanyak 15,6 % dan menentukan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa
sebanyak 29,2 %. Dengan demikian dapat diketahui bahwa hanya sebagian kecil peserta didik
memahami konsep reaksi redoks. Hal ini dapat terjadi sebab peserta didik kurang memahami
pengertian reaksi redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi sehingga
peserta didik kesulitan untuk mengidentifikasi zat yang mengalami reduksi atau oksidasi
dalam suatu persamaan reaksi.
Penelitian mengenai miskonsepsi konsep redoks (Kusumawati, Enawaty, dan Lestari,
2014) menghasilkan beberapa temuan miskonsepsi diantaranya:
1. pengertian reduksi dan oksidasi berdasarkan perubahan bilangan oksidasi, dimana
peserta didik menyebutkan bahwa oksidasi adalah reaksi yang disertai dengan
penurunan bilangan oksidasi dan reduksi adalah reaksi yang disertai dengan
kenaikan bilangan oksidasi,

2. penentuan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa netral, dimana peserta didik
menuliskan biloks H adalah +1 dan biloks Mg adalah -2 dalam MgH 2, biloks unsur
Mg bebas adalah +2, biloks Mg dalam MgSO4 adalah -2,
3. penentuan bilangan oksidasi unsur dalam ion negatif, dimana peserta didik
menuliskan biloks Cr dalam Cr2O72- adalah +3 dan ada juga yang menuliskan +12
4. penentuan bilangan oksidasi unsur dalam ion positif, dimana peserta didik
menuliskan biloks V dalam VO2+ adalah +1 ada juga yang menuliskan +3
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa masih banyak konsep-konsep
dalam materi reaksi redoks yang menjadi miskonsepsi peserta didik sehingga perlu adanya
suatu pembelajaran yang dapat mengatasi permasalahan miskonsepsi peserta didik terhadap
materi redoks, khususnya konsep redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan
oksidasi.
Selain itu, pengajaran yang diberikan di kelas hanya dalam bentuk rumus-rumus saja.
Guru masih cenderung menggunakan proses pembelajaran dengan pendekatan yang berpusat
pada guru (teacher centered approach) (Pratiwi, Redjeki dan Masykuri, 2014). Hal ini
membuat peserta didik tidak termotivasi karena tidak memahami manfaat belajar redoks
dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, banyak sekali manfaat yang dapat diambil dengan
mempelajari reaksi redoks ini. Dengan mempelajari reaksi redoks, peserta didik akan
memahami bagaimana cara kerja baterai, bagaimana terjadi reaksi pencoklatan pada buahbuahan, bagaimana terjadinya korosi sehingga bisa mencegah terjadinya korosi tersebut dan
sebagainya. Materi reaksi redoks di kelas X merupakan dasar bagi pembelajaran redoks
selanjutnya. Jika reaksi redoks di kelas X tidak dimengerti peserta didik atau terjadi
miskonsepsi, maka peserta didik akan kesulitan mempelajari reaksi redoks di kelas XII.
Kurikulum 2013 menitikberatkan adanya aktivitas peserta didik dalam pembelajaran
yang didesain pada ranah pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pendekatan pembelajaran
yang digunakan hendaknya menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik. Kurikulum 2013
mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah untuk digunakan dalam proses pembelajaran.
Untuk menerapkan pendekatan ilmiah, dibutuhkan suatu model pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik pendekatan ilmiah. Model pembelajaran yang digunakan harus
menumbuhkan rasa senang peserta didik dalam pembelajaran, menumbuhkan dan
meningkatkan motivasi dalam mengerjakan tugas, dan memberikan kemudahan bagi peserta
didik untuk memahami pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik
(Pratiwi, Redjeki dan Masykuri, 2014).

Terdapat beberapa model pembelajaran yang direkomendasikan oleh Kurikulum 2013,


salah satunya adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Ciriciri utama dalam pembelajaran berbasis masalah ini adalah (1) merupakan rangkaian aktivitas
pembelajaran, artinya dalam implementasinya ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan
peserta didik. Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik terlibat komunikasi
secara aktif, mengembangkan daya pikir, mencari dan mengolah data serta menyusun
kesimpulan bukan hanya sekedar mendengarkan, mencatat atau menghafal materi pelajaran;
(2) aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Tanpa masalah
pembelajaran tidak akan terjadi; (3) pemecahan masalah dilakukan dengan pendekatan
berpikir ilmiah (Arifin (1995) dalam Pratiwi, Redjeki dan Masykuri, 2014).
Pembelajaran berbasis masalah memiliki kelebihan yaitu dapat meningkatkan interaksi
sosial dan prestasi belajar peserta didik. Sebuah temuan mendeskripsikan bahwa
pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) lebih efektif digunakan dalam
pembelajaran dibandingkan dengan pembelajaran tradisional (pembelajaran dengan berpusat
pada guru (ceramah) tanpa melibatkan keaktifan dan kreativitas peserta didik). Pembelajaran
berbasis masalah menuntut peserta didik untuk belajar aktif dan mampu memecahkan
masalah yang dibuat sendiri atau diberikan oleh pendidik. Hal ini akan membuat peserta didik
mencapai hasil belajar yang efektif. Menurut Atkinson (1992) dalam Zaduqisti (2010),
motivasi berprestasi adalah kecenderungan seseorang mengadakan reaksi untuk mencapai
tujuan dalam suasana kompetisi demi mencapai atau melebihi ukuran yang lebih baik dari
sebelumnya. Dengan adanya masalah yang harus diselesaikan peserta didik, peserta didik
perlu memperdalam pengetahuannya untuk memecahkan masalah tersebut. Kondisi seperti
ini akan merangsang peserta didik berkompetisi untuk mencapai tujuan sehingga dapat
diasumsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) mempunyai
kontribusi yang positif dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik (Zaduqisti, 2010).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti cara mengajar yang terbaik
pada materi konsep redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi dengan
judul Implementasi Pembelajaran Konsep Redoks Berdasarkan Peningkatan dan Penurunan
Bilangan Oksidasi Berbasis Problem Based Learning (PBL).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian, rumusan masalah secara umum yang dapat dikaji
adalah Bagaimana pembelajaran konsep redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan

bilangan oksidasi berbasis Problem Based Learning (PBL)?. Adapun rumusan masalah
khusus diantaranya sebagai berikut.
1. Bagaimana penguasaan konsep peserta didik terhadap konsep redoks berdasarkan
peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi?
2. Apa saja miskonsepsi yang dialami peserta didik dalam mempelajari konsep redoks
berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi?
3. Bagaimana pembelajaran yang sering diterapkan oleh para pendidik dan ahli
(dosen) pada sub pokok materi konsep redoks berdasarkan peningkatan dan
penurunan bilangan oksidasi?
C. Pembatasan Masalah
Untuk membuat penelitian menjadi terarah, peneliti membatasi penelitian pada
beberapa hal. Batasan masalah pada penelitian ini meliputi:
1. Konsep reaksi redoks yang dikaji adalah konsep redoks yang diajarkan di kelas X
semester 2;
2. Problem based learning pada penelitian ini adalah miskonsepsi yang terjadi pada
konsep reaksi redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi;
3. Konsep reaksi redoks yang diteliti hanya mencakup perkembangan reaksi redoks
berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi.
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pembelajaran konsep redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan
bilangan oksidasi. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah mengetahui penguasaan
konsep peserta didik dan miskonsepsi yang dialami peserta didik dalam mempelajari konsep
redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi; dan mengetahui
pembelajaran yang sering diterapkan pendidik dan ahli (dosen) pada konsep redoks
berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat sebagai berikut.
1. Bagi peserta didik : memahami konsep redoks berdasarkan peningkatan dan
penurunan bilangan oksidasi dengan baik
2. Bagi guru : mengetahui pembelajaran yang baik mengenai konsep redoks
berdasarkan

peningkatan

dan

diimplementasikan di sekolah

penurunan

bilangan

oksidasi

yang

dapat

3. Bagi sekolah : memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka
perbaikan pembelajaran dan peningkatan mutu proses pembelajaran, khususnya
mata pelajaran kimia
4. Bagi peneliti lain : sebagai bahan rujukan untuk meneliti inovasi pembelajaran
lainnya
F. Tinjauan Pustaka
1. Konsep dan Penguasaan Konsep
Konsep menurut Sutarto dalam Zubaidah (2010) adalah kategori yang diberikan pada
stimulus-stimulus lingkungan. Oleh karena itu, dalam pengkonsepan selalu ada kejadian
(sebagai stimulus) dalam penyajian verbal, yang sering disebut gambaran mental. Carin
dalam

Zubaidah

(2010)

mengemukakan

bahwa

konsep

adalah

gagasan

yang

digeneralisasikan dari pengalaman-pengalaman tertentu yang relevan. Menurut Ausubel,


konsep-konsep diperoleh dengan dua cara, yaitu formasi konsep (concept formation) dan
asimilasi konsep (concept assimilation). Formasi konsep merupakan bentuk perolehan
konsep-konsep sebelum anak-anak masuk sekolah. Sedangkan asimilasi konsep merupakan
cara utama untuk memperoleh konsep-konsep selama dan sesudah sekolah (Zubaidah, 2010).
Menurut definisi konseptual, penguasaan konsep IPA adalah kemampuan guru untuk
mengatasi konsep-konsep dasar IPA pada ranah kognitif sesuai dengan klasifikasi Bloom
yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Tingkat pengetahuan (knowledge)


Tingkat pemahaman (comprehension)
Tingkat penerapan (application)
Tingkat analisis (analysis)
Tingkat sintesis (synthesis)
Tingkat evaluasi (evaluation)

Penguasaan konsep merupakan penguasaan terhadap abstraksi yang memiliki satu kelas atau
objek-objek kejadian atau hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Menurut Piaget
pertumbuhan intelektual manusia terjadi karena adanya proses kontinu yang menunjukkan
keseimbangan sehingga akan tercapai tingkat perkembangan intelektual yang lebih tinggi.
Jadi, penguasaan konsep meliputi keseluruhan suatu materi karena satu dengan yang lainnya
saling berhubungan (Zubaidah, 2010).
2. Miskonsepsi
Miskonsepsi merupakan suatu konsepsi seseorang yang tidak sesuai dengan konsepsi
ilmiah yang diakui oleh para ahli (Suparno, 2005). Peserta didik yang mengalami
miskonsepsi akan melakukan kesalahan dalam belajar kimia. Kesalahan ini terjadi secara
terus menerus serta menunjukkan kesalahan dengan sumber-sumber tertentu. Secara filosofis
terjadinya miskonsepsi pada peserta didik dapat dijelaskan dengan filsafat konstruktivisme.

Filsafat konstruktivisme secara singkat menyatakan bahwa pengetahuan itu dibentuk


(dikonstruksi) oleh peserta didik sendiri dalam kontak dengan lingkungan, tantangan, dan
bahan yang dipelajari. Oleh karena pengetahuan itu adalah konstruksi peserta didik sendiri
dengan bantuan pendidik, maka peserta didik dapat membangun pengetahuan yang berbeda
dengan yang diinginkan pendidik. Menurut Suparno (2005) ada lima hal yang menjadi
penyebab miskonsepsi yaitu peserta didik, pendidik, buku teks, konteks dan metode mengajar
(Suparno, 2005).
3. Problem Based Learning (PBL)
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) merupakan bentuk
pembelajaran yang menekankan pada pengalaman belajar agar siswa dapat mengkonstruk
pengetahuannya sendiri melalui penyajian masalah sehingga mampu belajar secara mandiri
(Hidayat, 2011). Menurut Arends (dalam Hidayat, 2011), pengajaran berdasarkan masalah
merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang
otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan
inkuiri dan keterampilan tingkat lebih tinggi, dan mengembangkan kemandirian dan percaya
diri.
Pelaksanaan model PBL terdiri dari lima langkah utama yaitu: orientasi siswa pada
masalah, pengorganisasian siswa untuk belajar, penyelidikan individu maupun kelompok,
pengembangan dan penyajian hasil, serta kegiatan analisis dan evaluasi. Menurut Bridges
(dalam Wasonowati, Redjeki dan Ariani, 2014), model PBL diawali dengan penyajian
masalah, kemudian siswa mencari dan menganalisis masalah tersebut melalui percobaan
langsung atau kajian ilmiah. Melalui kegiatan tersebut aktivitas dan proses berpikir ilmiah
siswa menjadi lebih logis, teratur, dan teliti sehingga mempermudah pemahaman konsep.
Kelebihan dari model PBL, antara lain adalah:
1) Pemecahan masalah yang diberikan dapat menantang dan membangkitkan
kemampuan berpikir kritis siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan
suatu pengetahuan baru;
2) Pembelajaran dengan model PBL dianggap lebih menyenangkan dan lebih disukai
siswa;
3) Model PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran;
4) Model PBL dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan
yang mereka miliki ke dalam dunia nyata.
Para ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pembelajaran berbasis PBL, seperti
Suardana (dalam Wasonowati, Redjeki dan Ariani, 2014) berpendapat bahwa kualitas
kemampuan siswa dalam menemukan konsep dan melakukan pemecahan masalah dapat
ditingkatkan melalui pembelajaran PBL. Lightner (dalam Wasonowati, Redjeki dan Ariani,

2014) berpendapat bahwa model PBL dapat membangun dan meningkatkan tingkat
kerjasama dan komunikasi antarsiswa. Sahala (dalam Wasonowati, Redjeki dan Ariani, 2014)
berpendapat bahwa pada kegiatan pembelajaran dengan pola pembelajaran berbasis masalah
(PBL), siswa dibiasakan untuk menemukan serta mengkontruksi pengetahuannya sendiri
sehingga belajar akan menjadi lebih bermakna, dan Mergendoller dan Bellisimo (dalam
Wasonowati, Redjeki dan Ariani, 2014) berpendapat bahwa model PBL dapat meningkatkan
aktivitas siswa, dimana siswa yang mempunyai rata-rata keterampilan dan pengetahuan
rendah akan belajar lebih giat dan aktif.
4. Konsep redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi
Bilangan Oksidasi
Bilangan oksidasi adalah suatu bilangan yang menyatakan valensi atom dalam suatu
senyawa, yang dapat memiliki harga positif maupun negatif. Para pakar bersepakat
mengembangkan aturan yang berkaitan dengan bilangan oksidasi unsur, yaitu sebagai
berikut:
1. Dalam bentuk unsur atau molekul unsur, bilangan oksidasi (biloks) atom-atomnya
sama dengan nol.
Contoh: biloks Na dalam unsur Na= 0; biloks O dalam molekul O 2= 0; biloks P dalam
molekul P4= 0
2. Dalam senyawa ion, bilangan oksidasi atom-atom sama dengan muatan kation dan
anionnya.
Contoh: dalam senyawa NaCl, atom Na bermuatan +1 dan atom Cl bermuatan -1,
sehingga biloks Na= +1 dan Cl= -1
3. Bilangan oksidasi atom-atom yang lain ditentukan menurut aturan sebagai berikut:
a. Biloks atom golongan IA dalam semua senyawa adalah +1. Biloks atom golongan
IIA dalam semua senyawa adalah +2;
b. Biloks unsur golongan VIA senyawa biner adalah -2 dan biloks unsur golongan
VII A senyawa biner adalah -1, sedangkan dalam senyawa poliatom bergantung
pada senyawanya;
c. Biloks atom oksigen dalam senyawa adalah -2 kecuali dalam peroksida (H 2O2,
Na2O) sama dengan -1, dan dalam superoksida sama dengan -1/2;
d. Biloks atom hidrogen dalam senyawa adalah +1, kecuali dalam senyawa hidrida
sama dengan -1.
4. Jumlah total bilangan oksidasi dalam senyawa netral sama dengan nol. Jumlah total
bilangan oksidasi untuk ion sama dengan muatan ionnya.
Contoh: biloks total dalam molekul H2O = 0; biloks total dalam ion CO32- = -2; biloks
total dalam ion NH4+ = +1.
Konsep redoks berdasarkan peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi

Oleh karena banyak reaksi redoks yang tidak dapat dijelaskan baik dengan konsep
pengikatan oksigen maupun transfer elektron, maka para pakar kimia mengembangkan
konsep alternatif, yaitu perubahan bilangan oksidasi.
Menurut konsep ini, jika dalam reaksi, bilangan oksidasi atom meningkat, maka atom
tersebut mengalami oksidasi. Sebaliknya, jika bilangan oksidasinya turun, maka atom
tersebut mengalami reduksi.
Untuk mengetahui suatu reaksi tergolong reaksi redoks atau bukan menurut konsep
perubahan bilangan oksidasi, maka perlu diketahui biloks masing-masing atom, baik dalam
pereaksi maupun hasil reaksi.
Biloks SO2, O2, dan SO3 adalah 0 (aturan 4). Biloks O dalam SO 2 dan SO3 = 2 (aturan
3c), maka biloks S dalam SO2 adalah +4 dan biloks S dalam SO3 = +6. Secara diagram dapat
dinyatakan sebagai berikut:
+4

+6

SO2 + O2

SO3

Berdasarkan diagram di atas dapat disimpulkan bahwa:

Atom S mengalami kenaikan bilangan oksidasi dari +4 menjadi +6, peristiwa ini disebut
oksidasi.

Atom O mengalami penurunan bilangan oksidasi dari 0 menjadi 2, peristiwa ini disebut
reduksi.

Dengan demikian, reaksi di atas adalah reaksi redoks.


Oleh karena molekul O2 menyebabkan molekul SO2 teroksidasi, maka molekul O2
adalah oksidator. Molekul O2 sendiri mengalami reduksi akibat molekul SO2, sehingga SO2
disebut reduktor.
Reaksi Disproporsionasi
Reaksi disproporsionasi atau disebut juga reaksi swaredoks adalah suatu reaksi dimana
pereaksi mengalami oksidasi dan juga reduksi.
Contoh:
Hidrogen peroksida dipanaskan pada suhu di atas 60 oC dan terurai menurut persamaan reaksi
berikut:
H2O2 (l) H2O (l) + O2 (g)
Biloks atom O dalam H2O2 adalah -1 (aturan 3c). Setelah terurai menjadi -2 (dalam H 2O) dan
0 (dalam O2). Persamaan kerangkanya:
-1

-2

H2O2 (l) H2O (l) + O2 (g)


-1

Oleh karena molekul H2O2 dapat berperan sebagai oksidator dan juga sebagai reduktor, maka
reaksi di atas dinamakan reaksi disproporsionasi atau reaksi swaredoks.
(Sunarya, 2009)
G. Metodologi penelitian
Metode penelitian : Quasi-Eksperimen
Quasi eksperimen (eksperimen semu) adalah eksperimen yang dalam mengontrol
situasi penelitian tidak terlalu ketat atau menggunakan rancangan tertentu dan/atau
penunjukan subjek penelitian secara tidak acak untuk mendapatkan salah satu dari
berbagai tingkat faktor penelitian. (Rajab, 2008)
Dalam prakteknya sangat sulit untuk memilih anggota kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol secara acak, sebab dalam setting alaminya di sekolah peserta didik
telah dikelompokkan ke dalam kelas-kelas. Dengan demikian keacakan pemilihan
sampel penelitian tidak terpernuhi. Namun, bukan berarti kedua kelompok sampel
dibiarkan tidak setara. Kelompok yang diambil adalah dua kelompok yang
mempunyai kesamaan di antara keseluruhan kelompok yang tersedia. Kesamaan ini
dapat dilihat dari tingkat kecerdasan rata-rata peserta didik, perolehan hasil belajar,
fasilitas belajar yang dimiliki, lingkungan belajar yang dialami, dan sebagainya.
Kesetaraan dua kelompok seringkali ditunjukkan pula oleh kesamaan skor pre-test.
Berikut ilustrasi desain quasi-eksperimen
O-1
P1
O-1
P2
O-1= pre-test
O-2 = post-test
P-1 = perlakuan terhadap kelompok eksperimen
P-2 = perlakuan terhadap kelompok kontrol

O-2
O-2

(Firman, 2013)
Subyek penelitian:
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X semester 2 pada salah satu Sekolah
menengah Atas di Kota Bandung.
Instrumen penelitian :
Insrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Soal-soal mengenai reaksi redoks untuk mengetahui miskonsepsi konsep redoks
berdasarka peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi;
2. Soal-soal pretes-postes konsep redoks berdasarka peningkatan dan penurunan
bilangan oksidasi;

3. Angket analisis cara mengajar para pendidik dan ahli (dosen) terhadap konsep
redoks berdasarka peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi;
4. Wawancara analisis cara mengajar para pendidik dan ahli (dosen) terhadap konsep
redoks berdasarka peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi;
5. Literatur cara mengajar di dalam dan luar negeri pada konsep redoks berdasarka

peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi.


Alur penelitian

Analisis miskonsepsi
-

Analisis cara mengajar

Analisis materi

Hasil penelitian
Survey

Temuan miskonsepsi

Penyusunan RPP

Penyusunan Instrumen Penelitian


Tahap I
Pembuatan

Pengujian

Perbaikan

Pretes
wawancara
Pengumpulan data
Tahap II

Pengolahan data
Analisis

Tahap III

Kesimpulan hasil analisis

Analisis Data

H. Daftar Pustaka

Angket
Wawancara

Atkinson, Rita. L. 1992. Pengantar Psikologi Jilid I. Penerjemah Taufik Burhan. Jakarta:
Erlangga.
Firman, H. (2013). Penelitian Pendidikan Kimia. Bandung: Jurusan Pendidikan Kimia
FPMIPA UPI.
Hidayat, S. (2011). Pengaruh model problem based learning terhadap hasil belajar kimia
siswa pada konsep termokimia. Program Studi Pendidikan Kimia FITK Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jannah, B. S., Suryadharma, I. B. dan Fajaroh, F. (2013). Studi evaluasi pemahaman konsep
reaksi redoks menggunakan tes objektif beralasan pada siswa kelas x sma negeri 10
malang. Universitas Negeri Malang.
Kusumawati, I., Enawaty, E. Dan Lestari, I. (2014). Miskonsepsi siswa kelas xii sma negeri 1
sambas pada materi reaksi reduksi oksidasi. Program Studi Pendidikan Kimia FKIP
Untan.
Pratiwi, Y., Redjeki, Tri. dan Masykuri, M. (2014). Pelaksanaan model pembelajaran problem
based learning (pbl) pada materi redoks kelas x sma negeri 5 surakarta tahun pelajaran
2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia, 3 (3), hlm. 40-48.
Rajab, W. (2008). Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahapeserta didik Kebidanan. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Sunarya, Y. (2009). Kimia Dasar 1. Bandung: Yrama Widya
Suparno, P. (2005). Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika. Jakarta :
Grasindo.
Wasonowati, R. R. T., Redjeki, T. dan Ariani, S. R. D. (2014). Penerapan model problem
based learning (pbl) pada pembelajaran hukum-hukum dasar kimia ditinjau dari
aktivitas dan hasil belajar siswa kelas x ipa sma negeri 2 surakarta tahun pelajaran
2013/2014. Jurnal Pendidikan Kimia, 3 (3), hlm 66-75.
Zaduqisti, E. (2010). Problem-based learning: konsep ideal model pembelajaran untuk
peningkatan prestasi belajar dan motivasi berprestasi. Forum Tarbiyah, 8 (2), hlm 181191.
Zubaidah. (2010). Penguasaan konsep oleh siswa melalui metode problem solving pada
konsep sistem respirasi. Program Studi Pendidikan Biologi FITK Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah.