Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

KETERSEDIAAN HAYATI

Disusun Oleh:
Agata Dessynta Putri

08 8114 129

Natalia Noveli Hardita

08 8114 130

Ananda Siwi Lesmana

08 8114 132

Evelyn Puspita Rini

08 8114 134

Hermanto

08 8114 136

Cornelius Brian Alfredo

08 8114 141

LABORATORIUM FARMAKOKINETIKA-BIOFARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2011

KETERSEDIAAN HAYATI
A. TUJUAN
1.

Mahasiswa mampu menetapkan dan menghitung parameter farmakokinetik


Paracetamol baik pada sediaan jadi generik maupun sediaan dengan nama dagang, setelah
pemberian dosis tunggal

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan terminology ketersediaan hayati


bioavailabilitas relative, absolute, dan biokivalensi
3. Mahasiswa mampu memahami makna, tujuan, prosedur, pengolahan data, dan
interpretasi hasil penetapan bioavailabilitas dan bioekivalensi suatu sediaan berdasarkan
data kadar obat dalam darah
B. DASAR TEORI
Bioavailabilitas suatu (beberapa) zat aktif dari suatu produk obat didefinisikan sebagai
"kecepatan dan banyaknya yang diabsorpsi dan menjadi tersedia pada tempat aksi (site of
action). Kecepatan absorpsi obat dan jumlah obat yang diabsorpsi dapat memperkirakan
bagaimana seharusnya definisi tentang bioavailabilitas (Ganiswarna 1995).
Farmakokinetik secara praktis berarti pengukuran konsentrasi obat dalam berbagai
jaringan dan cairan tubuh pada suatu periode waktu. Farmakokinetik terutama penting
dipandang dari sudut klinis karena intensitas dan lama kerja obat dihubungkan dengan
konsentrasi obat yang berada pada sisi aktif dan berapa lama konsentrasi obat efektif
diperoleh dari situ. Kemampuan untuk menghitung konsentrasi obat pada waktu tertentu akan
penting dalam menetapkan dosis dan frekuensi pemberian obat yang mempunyai indeks
terapi rendah seperti antikoagulan, glikosida jantung dan obat kanker (Mutscler, 1991).
Tujuan dalam desain pengaturan dosis adalah untuk mencapai dan menjaga konsentrasi
obat dalam plasma atau pada tempat yang aman dan efektif. Toksisitas dapat dihasilkan
karena pemberian dosi yang terlalu sering. Sebaliknya keefektifan tidak akan tercapai jika
laju pendosisan jarang sekali. Pengaturan pemberian dosis optimal adalah kombinasi dosis
dan frekuensi pemberian dosis yang akan menghasilkan konsentrasi keseimbangan mantap
(steady-state) dalam batas-batas yang dipilih. Dosis dan interval waktu pemberian dosis tidak
perlu terbagi sama. Steady-state bisa diperoleh selama pola pemberian dosis berulang dalam
siklus yang teratur (Lachman et al, 1989).

Beberapa parameter yang harus diperhatikan dalam penelitian farmakokinetika yakni:


tetapan (laju) absorbsi, volume distribusi (Vd), tetapan (laju) eliminasi, waktu paruh dalam
plasma (t1/2), bersihan renal (Clr), ekstrarenal (Clh), dan total (Clt) serta luas di bawah kurva
kadar dalam darah (AUC) dan bioavailabilitas. Parameter-parameter ini diperoleh dari
perubahan kadar obat dalam darah baik itu darah lengkap, plasma, serum dan urin terhadap
waktu (Mutschler, 1991).
Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan tubuh), metode yang digunakan harus
tepat, dan dalam pengerjaannya diperlukan suatu ketelitian yang cukup tinggi agar diperoleh
hasil yang akurat. Sehingga nantinya dapat menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis
ini, kesalahan hasil tidak boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang digunakan
dalam analisis) (Ritschel, 1976).
Farmakokinetik menggunakan model matematik untuk menguraikan proses absorbsi,
distribusi, biotransformasi, ekskresi dan besarnya kadar obat dalam plasma sebagai fungsi
dari besarnya dosis, interval pemberian dan waktu. Model farmakokinetik tubuh manusia:
-

Model 1 kompartemen. Menurut model ini tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen


tempat obat menyebar dengan seketika dan merata ke seluruh cairan dan jaringan tubuh.
Model ini terlalu sederhana.

Model 2 kompartemen. Tubuh dianggap terdiri dari kompartemen sentral (darah dan
jaringan yang banyak dialiri darah sehingga obat tersebar dan mencapai kesetimbangan
cepat) dan kompartemen perifer (jaringan yang dialiri darah sehingga obat masuk ke
dalamnya)

Model 3 kompartemen. Kompartemen perifer dibagi atas kompartemen perifer dangkal


dan kompartemen perifer yang dalam (Anonim, 1995)
Dalam model kompartemen dua dianggap bahwa obat terdistribusi ke dalam 2

kompartemen. Kompartemen kesatu disebut sebagai kompartemen sentral, yaitu darah, cairan
ekstraseluler dan jaringan-jaringan dengan perfusi tinggi, kompartemen-kompartemen ini
secara cepat terdistribusi oleh obat. Kompartemen kedua merupakan kompartemen jaringan,
yang berbasis dari jaringan-jaringan yang berkesetimbangan secara lebih lambat dengan obat.
Model ini menganggap obat dieliminasi dari kompartemen sentral (Shargel, 1985).
Parasetamol atau asetaminofen adalah senyawa turunan para aminofenol yang memiliki
rumus bangun seperti berikut:

OH
O
N
H

Secara farmakologi, parasetamol memiliki aksi antipiretik, analgesik ringan, dan aktifitas
antiinflamasi. Efek ini berhubungan dengan penghambatan sintesis prostaglandin sebagai
mediator nyeri. Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik yang
sama dan telah digunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretiknya ditimbulkan oleh gugus
aminobenzen (Mutschler, 1991). Pemerian serbuk hablur , putih, tidak berbau, rasa sedikit
pahit. Kelarutan: larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N, mudah larut
dalam etanol (Anonim, 1995).
C.

ALAT DAN BAHAN


Alat

Pipet volume 0,1; 0,2; 0,5; 1; 2;

2,5 ml

Labu takar 100 ml

Tabung reaksi

Beaker glass

Pipet ukur

Spektrofotometer Visible
Scalpel

Degassing
Bahan
Asam trikloroasetat (TCA) 20%
Natrium nitrit 10%
Asam sulfamat 15%
NaOH 10%
Asam klorida 6N
Sirup parasetamol
Darah kelinci

Tabung sentrifuge

Mikropipet
Evendorf
Pipet tetes
Vortex
Sentrifuge
Tabung sentrifuge
Stopwatch

D.

SKEMA KERJA
2 ekor kelinci ditimbang, masukkan holder. Bersihkan bulu telinga sekitar vena
marginalis dengan pisau cukur

Ambil darah kelinci melalui vena menginalis (untuk blanko), tampung dalam
evendorf berisi 3 tetes heparin, sentrifuge 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm,
ambil plasmanya dan digunakan sebagai blanko

Memberikan kepada kelinci parasetamol secara p.o., baik sirup merek generik
maupun merek dagang
Parasetamol A = 250 mg/kg BB
Parasetamol B = 250 mg/kg BB
C = 120/5 ml

Ambil darah kelinci pada menit ke 5, 10, 15, 20, 30, 45, 60, 90, 120, 150, 180,
tampung di evendorf yang telah berisi heparin 3 tetes.

Menambahkan 0,25 ml plasma dan 0,25 mL pelarut kemudian ditambah TCA


10% 2 mL dan dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge

Sentrifuge 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm.

Ambil 0,5 ml supernatan dalam tabung sentrifuge, masukkan dalam tabung reaksi.

Tambah 0,5 ml HCl 6N dan 1 ml NaNO2 10%, diamkan selama OT (15 menit)

Tambah 1 ml asam sulfamat 15% lewat dinding tabung secara perlahan-lahan dan
3,5 ml NaOH 10%.

Degassing selama 10 menit sehingga gelembung hilang

Baca absorbansi dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang


maksimum 435 nm.

Buat plot Cp(t) parasetamol Vs t dan ln Cp(t) parasetamol Vs t.

Hitung parameter farmakokinetika parasetamol baik pada sediaan generik maupun


dagang.
E.
DATA DAN ANALISIS DATA
F. PEMBAHASAN
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk menetapkan dan menghitung
parameter farmakokinetika parasetamol pada sediaan generik maupun pada
sediaan dengan nama dagang setelah pemberian dosis tunggal, memahami dan
menjelaskan terminologi ketersediaan hayati (bioavailabilitas), bioavailabilitas
relatif, biavailabilitas absolut, dan bioekivalensi, serta memahami makna, tujuan,
prosedur, pengolahan data, dan interpretasi hasil penetapan bioavailabilitas dan
bioekivalensi suatu sediaan berdasarkan data kadar obat dalam darah.
Pada praktikum ini, digunakan sirup parasetamol merk dagang dan sirup
parasetamol generik sebagai obat pembanding. Parasetamol tersedia baik dalam
sediaan generik maupun sediaan dengan nama dagang, dalam bentuk sirup. Sirup
parasetamol generik dan merk dagang dipejankan secara per oral pada kelinci. Sirup
parasetamol diberikan dalam dosis yang sama yaitu 250 mg/kg BB. Hewan uji yang
dipakai adalah kelinci karena proses absorpsi, distribusi dan eliminasinya (ADME)
lebih mirip dengan manusia dibanding dengan hewan uji lainnya seperti tikus atau
mencit. Darah yang dimiliki oleh kelinci lebih banyak dibanding tikus atau mencit
sehingga dapat digunakan untuk pengambilan sampel darah secara berulang-ulang.
Parasetamol berkhasiat untuk efek analgesik-antipiretik.
Pengambilan sampel darah kelinci dilakukan pada pembuluh vena marginalis
telinga, karena pembuluh darah paling besar pada kelinci terdapat di daerah vena
marginalis sehingga pengambilan sampel darahnya lebih mudah dilakukan.
Pengambilan darah dilakukan sebelum dan sesudah pemberian parasetamol pada
kedua kelinci (kelinci dengan obat generik dan kelinci dengan obat merek
dagang). Sebelum dilakukan penusukan pada telinga kelinci terlebih dahulu bulu

di sekitar pembuluh darah marginalis dikerok atau dibersihkan. Tujuannya agar


pembuluh darah lebih terlihat jelas dan tidak mengganggu saat pengambilan
sampel. Jika saat pengambilan sampel darah tersebut aliran darah tidak lancar,
maka luka atau bekas tusukan pada telinga kelinci diusap dengan parafin cair dan
diblower agar darah tidak membeku dan pembuluh darah mengalami
bronkodilatasi sehingga darah bisa keluar.
Pengambilan darah dimulai sejak saat kelinci belum diberi sirup parasetamol
secara p.o. Pengambilan darah sebelum pemberian parasetamol dimaksudkan
untuk menjadi blanko. Kemudian kelinci diberi sirup parasetamol secara p.o. dan
dilakukan pengambilan darah pada menit ke- 0, 5, 10, 15, 20, 30, 45, 60, 90, 120,
150, 180, kemudian darah ditampung dalam evendorf yang berisi heparin.
Heparin merupakan antikoagulan yang bekerja dengan meningkatkan waktu
pembentukan protrombin darah sehingga pembentukan fibrin akan terhambat,
akibatnya darah akan tidak akan menggumpal. Dalam praktikum digunakan
plasma darah karena sebagian besar parasetamol terikat dalam albumin yang
banyak terdapat dalam plasma darah. Jika digunakan serum darah, maka protein
akan menggumpal, sehingga parasetamol akan terjebak dalam gumpalan protein
dan jumlahnya akan berkurang sehingga tidak semua kadar parasetamol dapat
terukur.
Sampel darah diambil pada menit ke-0, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 75, 90, 120,
150, 180 setelah pemberian parasetamol. Pemilihan waktu ini didasarkan pada
nasib obat di dalam tubuh. Tujuan dilakukan pengambilan sampel darah pada
waktu tersebut adalah untuk dapat menggambarkan keseluruhan proses dari
absorbsi, distribusi, dan eliminasi, sehingga dapat menentukan model
kompartemen serta dapat memberikan gambaran apakah sebagian besar sampling
kita sudah tereliminasi atau belum.
Cuplikan darah kemudian ditetapkan kadar parasetamolnya (BM = 151,16)
menggunakan metode Chavezt berdasarkan reaksi diazotasi dan pengkoplingan.
Prinsipnya adalah pembentukan kompleks warna dari senyawa asal dengan
penambahan reagen. Parasetamol memiliki gugus kromofor dan gugus
auksokrom, namun tidak berwarna sehingga harus diubah menjadi senyawa

berwarna menggunakan senyawa pengkopling. Pengubahan menjadi senyawa


berwarna ini bertujuan untuk menghilangkan senyawa lainnya yang terdapat
dalam darah yang juga memiliki gugus kromofor. Jika parasetamol diubah
menjadi senyawa berwarna, kemudian diukur dalam panjang gelombang visibel,
maka senyawa lain dalam darah yang tidak berwarna tidak akan ikut terukur, dan
data yang diperoleh akan lebih valid.
OH

HN
O

parasetamol

Kadar obat dalam plasma dianalisis selama 3 jam setelah pemberian


parasetamol. Pemilihan waktu cuplikannya didasarkan pada nasib obat dalam
tubuh. Karena sampel biologis yang diambil adalah darah, maka pengambilan
cuplikan dilakukan pada 3-5 kali t eliminasi obat. Sampling darah diambil
sedini mungkin untuk mengamati proses absorbsi.
Setelah pengambilan sampel darah, dilakukan sentrifuge untuk memperoleh
plasma. Kemudian plasma ditambah dengan TCA untuk mengendapkan protein di
dalamnya sehingga Parasetamol berada dalam bentuk bebas (tidak terikat protein
plasma) dan dapat diukur. Reaksi yang terjadi antara protein dengan TCA yaitu:
O

O
R

H
C

OH

H
C

NH 3+

NH 2

Cl

Cl

Cl

O-

O
OH

H
C
NH 3+

OH

Kemudian dilakukan sentrifugasi untuk mempercepat proses pengendapan


protein. Protein akan mengendap, dan supernatannya diambil. 0,5 ml supernatan
ini kemudian ditambahkan 1 ml HCl 6N dan 2 ml NaNO2 10% dan didiamkan
selama 10 menit agar reaksi berjalan sempurna. Reaksi antara asam klorida dan
natrium nitrit menghasilkan gugus NO yang akan bereaksi dengan parasetamol:
HCl

+ NaNO2

HNO2 + NaCl

H+

HNO2 +

NO+

+ H2O

HCl berfungsi untuk memberikan suasana asam dan memberikan ion H +


kepada NaNO2 untuk membentuk HNO2. Asam nitrit tidak dapat langsung
diberikan karena sangat mudah terurai/tidak stabil. Sedangkan HNO2 berfungsi
sebagai penyedia ion NO yang akan bertindak sebagai elektrofil dan bereaksi
dengan parasetamol. Asam nitrit diberikan secara berlebih untuk menjamin agar
seluruh parasetamol bereaksi dengan NO membentuk 2-nitro, 4-asetamidofenol,
yang berwarna. Reaksinya sebagai berikut:
OH

OH

OH

NO+

parasetamol

+ H+

HN

HN

HN

Kemudian dilakukan penambahan NaOH 10% yang digunakan untuk


mengkopling senyawa 2-nitro,4-asetamidofenol membentuk senyawa warna
kuning dengan memperpanjang ikatan rangkap terkonjugasi. Adanya NaOH ini
akan memperkuat intensitas warna yang terbentuk. Reaksi pembentukannya:

OH

O
N

[O]

HN

OH

HN
O

N
O

N
O

OH

O
N

+ H2 O

N
O

Setelah itu ditambahkan asam sulfamat 10% untuk menghilangkan kelebihan


HNO2 yang terbentuk karena kelebihan asam nitrit ini dapat mempengaruhi
absorbansi dari parasetamol, juga untuk membentuk kompleks agar lebih stabil.
Penambahan asam sulfamat dilakukan sedikit demi sedikit karena menyebabkan
reaksi eksotermis, yang dapat menghasilkan panas dan semburan gas nitrogen.
Reaksi antara asam sulfamat dengan asam nitrit adalah:
HNO2

+ HSO3NH2

N2

H2SO4

H2O
asam nitrit

asam sulfamat

gas nitrogen asam sulfat

air

Kemudian dilakukan pengukuran absorbansi pada panjang gelombang 435


nm, setelah sebelumnya sampel didegassing terlebih dahulu selama 10 menit
untuk menghilangkan gas N2 yang terbentuk, agar tidak mempengaruhi
pengukuran absorbansi. Adanya gelembung gas akan dapat membiaskan sinar,
sehingga pengukuran absorbansi akan kacau.

+ H2 O

OH

OH

OH

NO+

parasetamol

+ H+

HN

HN

HN

Selanjutnya Parasetamol akan teroksidasi kemudian bereaksi dengan OH(dari NaOH) untuk memperpanjang gugus kromofornya (gugus kromofor
menyebabkan peningkatan panjang gelombang/pergeseran batokromik) sehingga
menimbulkan warna oranye kekuningan yang intensif dan ditetapkan kadarnya
dengan spektrofotometer visibel.
Tujuan dilakukannya uji ketersediaan hayati (bioavailabilitas) parasetamol
dalam obat generik dengan merek dagang adalah untuk mengetahui apakah
parasetamol generik mempunyai mutu dan efikasi yang sama dengan obat
inovatornya (sirup parasetamol merek dagang). Pengambilan cuplikan pada
waktu-waktu tertentu juga dimaksudkan untuk menggambarkan proses absorbsi,
distribusi dan eliminasi, sehingga dapat menentukan model kompartemen.
Operating time yang digunakan sebesar 15 menit dan panjang gelombang
maksimum 435nm. Persamaan kurva baku yang diperoleh dari percobaan
sebelumnya adalah y = 1,119.10-3 x 0,08. Data absorbansi yang diperoleh pada
percobaan ini kemudian dimasukkan kedalam persamaan kurva baku, dan
kemudian dapat diperoleh nilai kadar parasetamol (Ct).
Setelah dimasukkan ke dalam persamaan kurva baku, ternyata hitungan
kadarnya (Ct) bernilai minus. Hal ini terjadi karena nilai absorbansi yang
dihasilkan pun lebih kecil daripada intersept-nya. Nilai Ct seharusnya dapat
diubah menjadi ln Ct untuk memperkecil faktor kesalahan, dan kurva t vs ln Ct
kemudian dapat dibuat untuk mengetahui model kompartemen dari parasetamol.
Namun karena Ct bernilai negatif, maka tidak dapat diubah menjadi ln Ct dan
dilanjutkan pembuatan kurva t vs ln Ct sehingga tidak dapat diketahui model
kompartemen parasetamol (dalam percobaan ini), dimana berdasarkan teori,

parasetamol mengikuti model 2 kompartemen terbuka ekstravaskuler (karena jika


dapat diplotkan dalam bentuk kurva, kurvanya akan berbentuk bifasik) sehingga
kami menggunakan data kelompok lain yang lebih baik dan dapat diolah sesuai
parameter farmakokinetika.
a) Parameter absorpsi
Tetapan laju absorbsi obat (ka) menggambarkan kecepatan absorbsi suatu
obat. Selain ka, juga ditetapkan nilai dan . Nilai menggambarkan
penurunan awal yang cepat dari konsentrasi obat dalam kompartemen sentral
dikenal dengan fase distribusi dari kurva. Nilai menggambarkan hilangnya
obat dari kompertemen sentral setelah keadaan kesetimbangan yang
merupakan suatu proses tunggal orde 1 sebagai keseluruhan proses eliminasi
obat oleh tubuh. Proses ini berjalan lebih lambat dan dikenal sebagai fase
eliminasi. Dari data didapatkan hasil :
Berdasarkan teori seharusnya ka>>, yaitu kecepatan absorbsi lebih
besar dari distribusi dan kecepatan distribusi lebih besar dari eliminasi; atau
>ka>, yaitu kecepatan distribusi lebih besar daripada kecepatan absorbsi
dan kecepatan absorbsi lebih besar daripada kecepatan eliminasi. Dari hasil
percobaan yang dilakukan, pada sirup parasetamol dagang (A & B) dan
generik tidak sesuai dengan teori dimana kecepatan eliminasi lebih besar
daripada kecepatan absorbsi. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa
faktor yang mempengaruhi ka antara lain: fisiologi (pH dan kecepatan
pengosongan lambung, motilitas saluran cerna, dan sebagainya sebagai
variabel tidak terkendali), sifat fisika kimia obat dan bentuk sediaan obat.
Selain itu ketidaksesuaian nilai ka disebabkan karena kesalahan pada saat
penelitian.
Fa (fraksi obat yang diabsorbsi) menggambarkan fraksi obat yang
diabsorbsi dari dosis yang diberikan. Pada praktikum kali ini harga fa yang
digunakan adalah harga fa teoritis yaitu 1 karena pada penelitian ini tidak
dilakukan pemberian obat secara intravena tapi secara peroral.
b) Parameter distribusi

Dari fase distribusi parameter farmakokinetik yang didapat adalah k12,


k21, Vc (Volume Kompartemen Sentral), dan Vdss (Volume Distribusi pada
keadaan steady state).
1.
k12 dan k21
k12 menggambarkan kecepatan perpindahan obat dari kompartemen
I ke kompartemen II, k mengikuti kinetika orde I. Diharapkan adalah
k12 lebih besar dari k21 (k dalam harga mutlak) supaya obat dapat
mencapai jaringan dan berikatan dengan reseptor menimbulkan efek.
Berdasarkan teori, seharusnya K12 > k21. Dari percobaan didapatkan
data:

2.

Sirup Parasetamol
K21 (/ menit)
K12 (/ menit)
A (merk dagang)
B (generik)
Dibahas sesuai gk dengan teorinya!!!
Vc (Volume Kompartemen Sentral)
Vc berguna untuk menggambarkan perubahan konsentrasi obat
oleh karena kompartemen sentral umumnya merupakan kompartemen
yang diambil sebagai kompartemen cuplikan. Besaran Vc memberikan
petunjuk adanya distribusi obat dalam cairan tubuh. Vc juga berguna
dalam penentuan Vdss. Semakin besar Vc, obat yang terdistribusi
dalam cairan tubuh semakin besar sehingga obat semakin baik.

Sirup Parasetamol
Vc (ml)
A (merk dagang)
B (Generik)
Dibahas sesuai gk dengan teorinya!!!
c) Vdss (Volume Distribusi pada keadaan steady state)
Pada keadaan steady state, besar k12 = k. 21 Jadi jumlah total obat
dalam tubuh pada keadaan steady state adalah sama dengan jumlah
obat pada kompartemen jaringan dan jumlah obat pada kompartemen
sentral. Vdss mencerminkan perubahan volume distribusi.
Sirup Parasetamol
Vdss (ml)
A (merk dagang)
B (generik)
Dibahas sesuai gk dengan teorinya!!!
c) Parameter eliminasi

1.
Dalam model dua kompartemen, menggambarkan penurunan
atau hilangnya obat dari kompertemen sentral setelah keadaan
kesetimbangan.
Sirup Parasetamol
(/menit)
A (merk dagang)
B (generik)
Dibahas sesuai gk dengan teorinya!!!

Keterangan
Nilai (-) merupakan angka arah
(Regresi Linear T vs Ct)

2. Clt
Menunjukkan jumlah darah yang dibersihkan t 1/2 dibersihkan dari
obat per satuan waktu. Dari hasil penelitian didapatkan hasil sebagai
berikut:
Sirup Parasetamol
A (merk dagang)

Clt (/menit)

Keterangan
tidak dapat dihitung karena
AUC0 ~ tidak

B (generik)

diketahui
Dibahas sesuai gk dengan teorinya!!!
3. t1/2 eliminasi
Menunjukkan waktu yang diperlukan tubuh untuk mengeliminasi
kadar obat dari dalam tubuh. Semakin kecil nilainya maka waktu
eliminasi obat akan semakin cepat. Keefektifan eliminasi obat antara
lain dipengaruhi oleh nilai kliren total, dimana bila nilai kliren kecil
,maka laju eliminasi diperlambat. Dari data didapatkan hasil:

Sirup Parasetamol
t1/2 eliminasi (/menit)
A (merk dagang)
B (generik)
Dibahas sesuai gk dengan teorinya!!!

Keterangan
Tidak dapat digunakan karena
bertanda (-) negatif

4. Kel ( tetapan laju eliminasi)


Kel merupakan parameter farmakokinetika sekunder. Kel untuk
masing-masing dosis nilainya sebanding dengan dosis yang diberikan,
makin besar dosisnya maka Kel juga makin meningkat. Besarnya nilai

Kel dipengaruhi oleh metabolisme obat dalam tubuh, harga Vd dan Cl


dari obat. Dari data didapatkan hasil:
Sirup Parasetamol
Kel
A (merk dagang)
B (generik)
Dibahas sesuai gk dengan teorinya!!!

Keterangan

G. Kesimpulan

1. Dari hasil percobaan, tidak dapat digunakan untuk menetapkan dan


menghitung parameter farmakokinetika parasetamol pada sediaan generik
maupun pada sediaan dengan nama dagang setelah pemberian dosis tunggal.
2. Dari percobaan kali ini mahasiswa mendapatkan gambaran secara lebih jelas
tentang terminologi ketersediaan hayati (bioavailabilitas), bioavailabilitas
relatif, biavailabilitas absolut, dan bioekivalensi.
3. Dari percobaan kali ini mahasiswa dapat memahami makna, tujuan, dan
prosedur. Untuk pemahaman tentang pengolahan data, dan interpretasi hasil
penetapan bioavailabilitas dan bioekivalensi suatu sediaan berdasarkan data
kadar obat dalam darah, indikator kepahaman dari mahasiswa belum dapat
diukur karena hasil percobaan tidak mendukung pemahaman tentang
pengolahan data dan interpretasi data.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1995, Farmakologi dan Terapi, 812-816, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta
Lachman, et al, 1989, Teori dan Praktek Farmasi Industri I, Edisi III, 505, UI Press,
Jakarta
Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi 1, Universitas Indonesia Press, Jakarta
Mutschler, E., 1991, Dinamika Obat, Edisi V, 35-37, Penerbit ITB, Bandung
Ritschel, W.A., 1976, Handbook of Basic Pharmacokinetics. (1st) Ed, 78, Drug
Intelligence Publication Inc. Hamilton Illinois, USA

Shargel, L., 1985 Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Edisi III, 37-38, 4554, 323, Airlangga University Press, Surabaya