Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa yan telah
memberikan Rahmat dan Berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal
skripsi ini demi kelancaran memperoleh data maupun penelitian untuk kelengkapan
skripsi yang akan disusun.
Dalam penulisan proposal ini penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihakpihak yang telah membantu dalam penulisan proposal ini.
Penulis memohon maaf atas penulisan proposal ini yang masih jauh dari sempurna,
karena penulis itu mengharapkan masukkan baik saran maupun kritik yang bersifat
membangun. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa melimpahkan berkah dna rahmat kepada
semua pihak yang memberikan bantuan dan dorongan dalam penulisan proposal
penelitian ini dan harapan penulis semoga proposal ini dapat bermanfaat dan menunjang
untuk kajian dan penelitian selanjutnya.

Samarinda, 26 mei 2015


Penulis

TEKNIK PENGENDALIAN AIR ASAM TAMBANG DENGAN


MENGGUNAKAN KAPUR TOHOR

ABSTRAK
Air asam tambang (AAT) atau acid mine drainage (AMD) merupakan salah satu
permasalahan penting di lokasi penambangan batubara yang dilakukan secara metode
tambang terbuka. Proses penambangan batubara secara terbuka dilakukan dengan
mengupas lapisan tanah dan batuan penutup (overburden) hingga ditemukan
singkapan batubara. Salah satu sumber AAT adalah air yang berasal dari unit
pengelolaan overburden yang mengandung mineral sulfida, seperti Pirit (FeS2)
yang tersingkap dan bereaksi dengan oksigen di udara maupun dalam air.
Analisis yang dilakukan adalah mempelajari faktor-faktor penyebab air asam tambang,
debit air dalam kolam pengendapan, pemeriksaan PH air yang terdapat di settling pond
jika PH air tidak normal maka melakukan penambahan kapur tohor secara berkala ke
dalam kolam pengendapan sampai PH air normal lalu melakukan perhitungan terhadap
jumlah kapur tohor yang akan di tambahkan kedalam settling pond serta
memperhitungkan debit air PH normal yang di alirkan ke badan sungai.
Kata kunci: Acid Main Drainage, Overburden, Mineral sulfida, Debit Air, Settling
Pond, Kapur Tohor, PH.

AIR CONTROL TECHNIQUE OF ACID MINE USING


QUICKLIME

ABSTRACT
Acid Mine Drainage (AMD) is one of the important issues in coal mining sites
conducted open pit methods. Coal mining process is done openly with peeling layers of
soil and rock cover (overburden) to be found coal outcrops. Acid Mine Drainage is one
of the sources of water from overburden management unit containing sulfide minerals
such as pyrite (FeS2) is exposed and reacts with oxygen in the air and in the water.
Analysis is conducted to study the factors that cause acid mine drainage, water flow in
the settling ponds, water PH examination contained in the settling pond if the PH of the
water is not normal then perform additional quicklime periodically into settling ponds
until normal water pH and perform calculations to the amount of quicklime which will
be added into the settling pond and discharge water into account normal PH piped into
water bodies.
Keywords: Acid Main Drainage, Overburden, sulfide minerals, Water Discharge,
Settling Pond, Quicklime, PH.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................i
ABSTRAK..............................................................................................................ii
ABSTRACT...........................................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................v
DAFTAR TABEL.................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................viii
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................3
1.3 Tujuan......................................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................4
2.1 Air Asam Tambang............................................................................4
2.2 Air hasil dari Tambang Batubara.................................................4
2.2.1 Logam Berat Besi...........................................................................5
2.2.2 Logam Terlarut Mangan.................................................................6
2.3 Pembentukan Air Asam Tambang...............................................7
2.4 Teknik pencegahan AAt..................................................................9
2.5 Karakterisasi Batuan......................................................................10
2.6 Tingkat Pelapukan dan Sifat Permeable Batuan.................13
2.7 Curah Hujan......................................................................................17
BAB 3 METODE PENELITIAN........................................................................19
3.1 Kerangka Penelitian...............................................................................19
3.2 Tahapan Penelitian.................................................................................21
3.2.1 Studi Literatur..............................................................................21
3.2.2 Ide Studi.......................................................................................21
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN..........................................................22
4.1 Analisis Awal.........................................................................................22
4.1.1 Hasil Analisis Awal......................................................................22
4.2 Penelitian Pendahuluan..........................................................................22
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN................................................................23
5.1 Kesimpulan............................................................................................23
5.2 Saran23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................24
LAMPIRAN A......................................................................................................26
LAMPIRAN B......................................................................................................27
LAMPIRAN C......................................................................................................28

LAMPIRAN D......................................................................................................29

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Prediksi Kriteria Uji NAG.....................................................................13

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pengaruh Ukuran Partikel kecepatan Oksidasi (Bowell dkk, 2006). 15
Gambar 2.2 Skema Proses Fisik Pada Kolom Uji (Nugraha, 2009b)...................16
Gambar 2.3 Kondisi Dengan Metode Lapisan Batuan Dengan Komposisi 10%,
20%, dan 30% PAF dibagian bawah (Bowell dkk, 2006)...................17
Gambar 2.4 Skema Proses Geokimia Pada Metode Lapisan batuan (Patria, 2008)
.............................................................................................................17

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Air asam tambang (AAT) atau acid mine drainage (AMD) adalah air yang
bersifat asam (tingkat keasaman yang tinggi dan sering ditandai dengan nilai PH
yang rendah dibawah 5) sebagai hasil dari oksidasi mineral sulfida yang perpajan
atau terdedah (exposed) di udara dengan kehadiran air. Merupakan salah satu
permasalahan penting di lokasi penambangan batubara yang dilakukan secara
metode tambang terbuka.
Karakteristik AAT tidak dapat dipisahkan dari nilai pH yang sangat
rendah, di beberapa tempat ditemukan pH air mencapai 2,9. Nilai pH yang
sangat rendah (2,0 4,0) dapat memacu pelarutan logam-logam (termasuk
logam berat jika ada). Oleh karena itu, air yang terkontaminasi dengan
AAT biasanya mengandung logam dalam konsentrasi tinggi yang dapat
meracuni organisme.
Secara garis besar, pengelolaan AAT dapat dilakukan dengan teknik perlakuan
aktif (active treatment) dan perlakuan pasif (passive treatment). Perlakuan
aktif dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan alkalin, seperti kapur
(CaCO3) untuk meningkatkan pH. Sedangkan perlakuan pasif, pada prinsipnya
membiarkan reaksi kimia dan biologi berlangsung secara alami, teknik ini dapat
dilakukan pada rawa buatan.
Sejauh ini,

metode

active treatment lebih

banyak digunakan dalam

pengelolaan AAT, antara lain dengan kapur. Karena itu, metode ini dinilai
sangat efektif untuk pengelolaan AAT dengan kandungan logam berat tinggi

Namun, pengelolaan secara aktif ini selain memerlukan biaya yang tinggi
juga menghasilkan endapan atau sludge sebagai hasil sampingannya. Sludge
dari

kolam

pengendapan

harus

dibuang

secara

berkala

agar

proses

pengelolaan AAT tidak terganggu.


Salah satu dampak negatif dari proses penambangan adalah timbulnya air asam
tambang. Timbulnya air asam tambang ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja
karena dampaknya yang besar bagi kelestarian lingkungan serta bagi masyarakat
sekitar baik secara langsung maupun tidak langsung, dan ini merupakan
tantangan besar bagi perusahaan pertambangan yang berwawasan lingkungan.
Air asam tambang terbentuk dari proses tersingkapnya batuan sulfida yang
kaya akan pyrite dan mineral sulfida lainnya yang bereaksi dengan air dan
udara. Air asam tambang dapat terbentuk secara alamiah dimanapun pada setiap
kondisi yang cocok.
Dalam kegiatan penambangan terbentuknya air asam tambang tidak dapat
dihindari. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya penambangan merupakan
kegiatan pembongkaran mineral dari batuan induk untuk kemudian diangkut,
diolah dan dimanfaatkan

sehingga dalam proses penambangan ini terjadi

penyingkapan batuan. Untuk penambangan batubara sangat potensial terbentuk


air asam tambang karena sifat batubara yang berasosiasi dengan pyrite dan air
asam

tambang akan semakin besar dan akan terbentuknya pada sistem

tambang terbuka karena sifatnya yang berhubungan langsung dengan udara


bebas akan mempermuda bereaksi dengan udara dan air, serta dipengaruhi oleh
kondisi cuaca.

1.2

Rumusan Masalah

Apa saja jenis batuan yang dapat menyebabkan air asam tambang ?
bagaimana tingkat permeabilitas dan pelapukan masing-masing batuan ?

Bagaimana pembagian penampatan overburden yang berpotensi air asam


tambang (PAF) dan material yang tidak berpotensi air asam tambang.

1.3

Tujuan
-

Mengetahui kualitas PH air asam tambang di kolam pengendapan.

Mengetahui jumlah optimal dari kapur tohor (Cao) untuk menetralkan air
asam tambang di kolam pengendapan.

Mengetahui pH optimal yang ditetapkan pemerintah.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Asam Tambang


Air asam tambang merupakan air dengan pH yang rendah dan kelarutan logam
yang cenderung meningkat yang terbentuk karena adanya reaksi antara mineral
sulfida, oksigen, dan air. Reaksi oksidasi melepaskan ion H+ ke dalam air
sehingga menurunkan nilai pH air. Dalam operasi penambangan terbuka, acid
mine avoiding sangat sulit dilakukan pada area penambangan yang memiliki
karakteristik dominan PAF sehingga pembentukkan AAT sulit dihindari.
Karakterisitik AAT yang asam dengan kelarutan logam tinggi berpotensi
memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. AAT merupakan isu utama
yang sering muncul dari kegiatan operasi penambangan (Indra Dkk, 2014).
Secara umum pertambangan terbuka (open pit mining) terdiri
dari area penambangan atau pit penambangan dan area
timbunan batuan penutup (disposal area). Area pit penambangan
merupakan area yang tidak dapat terhindari dari potensi
pembentukan AAT (Abfertiawan dan Gautama, 2010). Aliran air
yang

berasal

dari

pit

penambangan

dialirkan

ke

sistem

pengolahan sebelum dialirkan ke badan air penerima.Sedangkan


area

disposal

batuan

penutup

masih

memiliki

potensi

terbentuknya AAT walaupun upaya pencegahan dilakukan. (Indra


Dkk, 2014).
2.2

Air hasil dari Tambang Batubara

Tambang dan pengolahan batubara akan menghasilkan waste yang snagat besar.
Isu lingkungan yang paling berhubungan pada limbah batubara adalah

mengurangi kontak antara material (batubara , sulfida, dan Fe2+) denga oksigen
(Younger, 2004) konsekuensi hubungan hal ini adalah adanya AAT sampai dengan
pembakaran sendiri dari limbah tersebut.
Kegiatan

penambangan

batubara

ini

juga

menghasilkan

kehadiran batuan sedimen berbutir, baik yang berada di antara


batubara (seperti batu lempung dan batu pasir). Batubara dan
batuan asosiasinya ini biasanya mengandung besi sulfida,
termasuk pirit dan beberapa kehadiran dari markasit, galena,
kalkopirit, dan spalerit. Oksidasi sulfida ini akan menghasilkan
AAT, metal dan pelepasan metalloid (Kolker and Huggins, 2007).
Batubara dan kehadiran batuan sedimen lainnya, menghasilkan
karbon, hydrogen, dan sulfur yang signifikan. Kandungan total
sulfur bervariasi, dari 0.1 wt.% sampai yang paling ekstrim 10 wt.
%. Sulfur di batubara menghasilkan tiga jenis bentuk: (a) sulfur
pirit, (b) sulfur sulfat, dan (c) sulfur organik. Kebanyakan dari
sulfur ini, secara organik berada pada material padat karbonasius
(seperti maseral batubara), dan sulfur jenis ini tidak berkontribusi
dalam pembentukan AAT. Sulfur sulfat secara umum adalah hasil
dari oksidasi pirit di batubara dan merupakan indikator dari
weathering batubara sebelum atau sesudah penambangan.
Walaupun demikian, mengetahui presentase total sulfur yang
mempengaruhi pembentukan pirit merupakan hal penting.AAT di
kegiatan pertambangan batubara adalah mengenai oksidasi pirit
yang dihasilkan oleh batubara dan batuan sedimen asosiasi
batubara (Lottemoser, 2010).
Beberapa

batuan

buangan

dan

sisa

batubara

diketahui

mengandung Mn dan Fe oksida dalam jumlah yang besar


(Massey et al., 1969 dan Lekhakul, 1981 dalam Evangelou,
1995). Mangan biasanya dijadikan indikator bagi penghilang

logam pada air, hal ini dikarenakan karena rendahnya kinetika


laju oksidasi mangan (Mn2+) dan tingginya kelarutan Mn(OH)2
pada pH netral (Fajrin, 2006 dalam Patria 2008).
2.1.1

Logam Berat Besi

Besi ditemuka dalam bentuk kation ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Pada reaksi
alami dengan pH sekitar 7 dan kadar oksigen terlarut yang cukup, ion ferro yang
bersifat mudah larut di oksidasi menjadi ion ferri menjadi ferro terjadi
penangkapan elektron. Proses oksidasi dan reduksi besi tidak melibatkan oksigen
dan hidrogen (effendi, 2003 dalam Patria, 2008). Reaksi oksidasi ion ferro
menjadi ferri ditujukan dalam reaksi berikut :
Fe2+ Fe3+ + e..............(Persamaan 2.1)
Proses oksidasi dan reduksi besi biasanya melibatkan bakteri
sebagai mediator, misalnya bakteri Thiobacillus yang memiliki
sistem enzim sehingga dapat mentransfer electron dari ion ferro
kepada oksigen.
Secara umum, tidak adanya oksigen terlarut dan rendahnya pH
memberikan potensi bagi tingginya konsentrasi Fe 2+ terlarut. Dua
langkah dalam menurunkan konsentrasi Fe2+ terlarut adalah
dengan meningkatkan pH dan ketersediaan oksigen terlarut
dalam larutan. Reaksi dibawah ini menjelaskan pengaruh oksigen
terlarut dan pH terhadap konsentrasi besi terlarut (Fe 2+) pada
larutan :
Fe2+ + 1/4O2+ 2OH- + 1/2 H2O Fe(OH)3 .(Persamaan
2.2)
Reaksi diatas menunjukkan bahwa dengan adanya oksigen
terlarut dan basa, Fe2+ akan membentuk besi hidroksida (Fe(OH)3

yang tidak larut pada pH netral. Ketika Fe2+ di konversi menjadi


Fe3+, maka Fe3+tersebut dapat terhidrolisis menjadi senyawaan
oksihidroksida (FeOOH) atau hidroksida Fe (OH)3, dimana proses
ini

terjadi

secara

abiotik.

Reaksi

hidrolisis

logam

dapat

berlangsung lebih cepat bila dibandingkan laju reaksi oksidasi,


dan dapat diabaikan sama sekali pada pH yang rendah. Proses
hidrolisis Fe3+akan berlangsung cepat pada pH di atas 3 dan
berlangsung lambat pada pH di bawah 2.5 (Fajrin, 2006 dalam
Patria 2008).
2.1.2

Logam Terlarut Mangan

Mangan (Mn) adalah kation logam yang memiliki karakteristik


kimia serupa dengan besi.Secara umum, penghilangan Mn2+
terlarut dari suatu larutan dapat dicapai pada pH tinggi dan
kondisi teroksidasi yang sangta kuat.Oksidasi Mn secara abiotik
sangat lamban pada pH kurang dari 8 (Fajrin, 2006 dalam Patria,
2008).Mikroorganisme dapat mengkatalis oksidasi Mn2+, tetapi
aktivitas mikroorganisme tersebut terbatas pada kondisi aerobic
dengan pH >6 (Fajrin, 2006 dalam Patria, 2008).
Mangan (Mn) adalah kation logam yang memiliki karakteristik
kimia serupa dengan besi.Secara umum, penghilangan Mn2+
terlarut dari suatu larutan dapat dicapai pada pH tinggi dan
kondisi teroksidasi yang sangta kuat.Oksidasi Mn secara abiotik
sangat lamban pada pH kurang dari 8 (Fajrin, 2006 dalam Patria,
2008).Mikroorganisme dapat mengkatalis oksidasi Mn2+, tetapi
aktivitas mikroorganisme tersebut terbatas pada kondisi aerobic
dengan pH >6 (Fajrin, 2006 dalam Patria, 2008).
Fe teroksidasi dan terendapkan lebih cepat dibandingkan dengan
Mn, disamping itu Mn tidak dapat membentuk senyawaan

mengendap yang stabil pada lingkungan yang mengandung Fe


terlarut. Hal ini dikarenakan Fe2+ dapat bereaksi dengan mangan
oksida (MnO2) yang tidak larut (Evangelou, 1995 dalam Patria,
2008) mengikuti reaksi di bawah ini :
MnO2 + 4H+ + 2Fe2+

Mn2+ + 2Fe3+ + 2H2O

(persamaan 2.3)
Fe3+ + 3H2O

Fe(OH)3

3H+

(persamaan 2.4)
Reaksi di atas menunjukkan Fe2+ terlarut dapat mereduksi
mangan oksida ke dalam bentuk Mn2+ yang tidak larut. Dengan
demikian, proses pengendapan Mn dapat berlangsung dengan
baik apabila konsentrasi Fe terlarut dapat diturunkan pada
konsentrasi yang sangat rendah.
2.3

Pembentukan Air Asam Tambang

Air Asam Tambang terbentuk dimungkinkan karena ketersediaan


mineral sulfida, oksigen dan air yang mana mineral sulfida
teroksidasi

dan

mengalami

pelindian.Pembentukan

AAT

dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu geologi, hidrologi, serta


teknologi

kegiatan

pertambangan.

Seri

reaksi

geokimia

pembentukan AAT adalah sebagai berikut (Gautama, 2012):


1. Reaksi pelapukan dari pirit disertai proses oksidasi, pirit
dioksidasi menjadi sulfat dan besi ferro.
2FeS2(s) + 7O2(g) + 2H2O(I)2 Fe2+(aq) + SO42-(aq) + 4H+(aq)
(Persamaan 2.5)
Dari reaksi ini dihasilkan dua mol keasaman dari setiap mol
pirit yang teroksidasi.
2. Aqueous ferric iron juga dapat mengoksidasi pirit

FeS2(S) + 14Fe3+(aq) + 8H2O(I) 15Fe2+(aq) + 16H+(aq)

..

(persamaan 2.6)
Reaksi oksidasi lanjutan dari pirit oleh besi ferri lebih cepat
dibandingkan dengan oksigen dan menghasilkan keasaman
yang lebih banyak per mol pirit.Tetapi reaksi ini terbatas
pada kondisi dimana terdapat jumlah yang cukup dari ion
ferri.
3. Besi ferro dioksidasi menjadi besi ferri.
4Fe2+(aq) + O2(g) + 4H+(aq) 4Fe3+(aq) + 2H2O(I) ..
(persamaan 2.7)
Pada reaksi ini terhadi konversi dari besi ferro menjadi besi
ferri yang mengkonsumsi satu mol keasaman.
4. Besi ferri dihidrolisis menjadi besi hydroxide yang tidak
terlarut (yellowboy)
Fe2+(aq) + 1/4O2(g) + 5/2H2O+(aq) Fe(OH)3(s) + 2H+(aq)......
(persamaan 2.8)
Ion ferri yang dihasilkan pada reaksi 1 dapat mengalami
oksidasi

dan

hidrolisa

serta

dapat

membentuk

ferri

hidroksida
5. Net reaction (reaksi 1 dan reaksi 4 digabungkan)
FeS2(s) + 15/4O2(g) + 7/2H2O(aq) 4Fe(OH)3(s) + 2SO42-(aq) +
4H+(aq)
Pirit

+ Oksigen +

Air

Yellowboy + Sulfat

Asam (persamaan 2.9)


2.4

Teknik pencegahan Air Asam Tambang

Penambangan

batubara

menghasilkan

batuan

sampingan,

seperticlaystone, siltstone, shale dan mudstone, yang secara


alami kandungan tersebut mengandung sulfida, yang sebagian
besar berupa pirit.Mineral sulfida merupakan sumber yang

mampu menghasilkan pembentukan air asam. Jika mineral


sulfida tersebut terekspose oleh udara dan air, maka akan
teroksidasi dan menghasilkan asam. Di dalam batuan yang tidak
terganggu, proses ini terjadi sangat lambat.Sedangkan pada
timbunan batuan buangan (waste rock), tingkat reaksi seperti itu
dapat berlangsung lebih cepat dalam kaitannya dengan area
permukaan yang ditinggalkan oleh pecahan batuan. (Patria,
2008).
Batuan buangan (waste rock) merupakan salah satu sumber air
asam

tambang.

meningkat

Jumlah

dengan

penambangan.

batuan

makin

Sebagai

buangan

akan

meningkatnnya

akibatnya,

batuan

semakin
kegiatan

buangan

yang

mengandung sulfur akan banyak berhubungan langsung dengan


udara terbuka membentuk senyawa sulfur oksida selanjutnya
dengan adanya air akan membentuk air asam tambang.
Pembentukkan AAT secara garis besar terjadi karena tiga faktor,
yaitu adanya oksigen, air dan mineral sulfida (Kusuma &
Gautama, 2007, dalam Patria 2008).
Terbentuknya air asam dapat dicegah dengan menghilangkan
satu

atau

lebih

dari

tiga

komponen

pembentuk

asam.

Pencegahan yang dapat dilakukan agar air asam tidak terbentuk


yaitu dengan melakukan minimasi kelarutan oksigen ke dalam
mineral sulfida, mengurangi infiltrasi air, mengisolasi batuan
buangan

sehingga

mengontrol
batugamping,

pH
fly

mineral

seperti
ash

sulfida

melakukan

dan

tidak

terkontaminasi,

penambahan

penambahan

bakterisida

kapur,
untuk

mencegah terjadinya oksidasi besi oleh bakteri. Pelapisan pada


batuan buangan dapat dilakukan dengan penambahan material

10

alkalin, yang mampu menetralkan keasaman dan mengurangi


konsentrasi logam berat.
2.5
Salah

Karakterisasi Batuan
satu

langkah

utama

dalam

usaha

pencegahan

pembentukan AAT adalah permodelan karakteristik geokimiawi


batuan

penutup

pembentukan

(overburden)
air

asam

sebagai

identifikasi

potensi

tambang

pada

rencana

penambangan.Karakterisasi

tersebut

menganalisis

batuan

kemampuan

bertujuan
dalam

untuk

menghasilkan

keasaman ataupun kemampuan batuan dalam menetralkan


keasaman,

sehingga

pembentukan

AAT

dapat
pada

dilakukan
saat

prediksi

dilakukannya

potensi
kegiatan

penambangan. Model tersebut akan menjadi dasar dalam


assessment

rencana

desain

kegiatan

penambangan

dan

reklamasi (Gunawan dkk, 2014).


Identifikasi batuan yang ada di lokasi timbunan (overburden)
sangat penting dilakukan pada tahap awal penambangan, karena
bertujuan untuk mengetahui penyebaran lapisan batuan yang
berpotensi membentuk asam dan batuan yang tidak berpotensi
membentuk asam. Sehingga dapat dilakukan langkah-langkah
untuk mengendalikan terbentuknya AAT
Pengujian identifikasi batuan yang secara umum digunakan yaitu
dengan metode Acid-Base Accounting (ABA) dan Net Acid
Generation (NAG).Kedua metode ini merupakan bagian dari
geokimia statis sebab masing-masing melibatkan pengukuran
tunggal pada waktunya. Pengujian geokimia statik (static test)
perlu

dilakukan

untuk

mengevaluasi

keseimbangan

antara

11

potensi

pembentukan

asam

dan

proses

netralisasi

asam.

Sekarang ini uji statik yang paling praktis yaitu net acid
producing potential (NAPP) test dan net acid generation (NAG)
test (Saria, 2006, dalam Patria 2008).
Nilai yang dihasilkan dari ABA test merupakan hasil dari NAPP
(net acid producing potential atau potensi pembentukan asam)
yang merupakan pendekatan secara teoritis yang digunakan
sebagai indikator untuk batuan yang berpotensi menghasilkan
asam. Nilainya adalah selisih antara MPA (maximum potential
acid/keasaman potensial maksimum) dan ANC (acid neutralizing
capacity/kapasitas netralisasi asam).
MPA ditentukan dari kandungan sulfur yang dapat dihasilkan
pada sampel. Total sulfur pada suatu sampel ditentukan oleh
pembakaran pada temperature tinggi. Dimana kandungan sulfur
yang terukur tersebut adalah pirit (FeS2) dan pirit tersebut
bereaksi di bawah kondisi oksidasi untuk menghasilkan asam
sesuai dengan reaksi :
FeS2 + 3.75O2 + 3.5 H2O Fe(OH)3 + 2H2SO4
(persamaan 2.10)
Menurut reaksi diatas, MPA sampel yang berisi 1% S pirit setara
dengan 30.6 kg H2SO4 per ton batuan (yaitu kg H2SO4/t). ANC
ditentukan dengan cara mereaksikan sejumlah berat contoh
batuan dengan larutan standar HCL, kemudian dititrasi dengan
larutan standar NaOH. Jumlah asam setara dengan NaOH yang
dikonsumsi selama titrasi tersebut merupakan ANC contoh
batuan, nilai setara dengan kg H2SO4 per ton batuan

12

Penambahan tunggal NAG test digunakan bersama-sama dengan


NAPP

untuk

menggolongkan

potensi

suatu

sampel

untuk

membentuk keasaman. NAG test melibatkan reaksi suatu sampel


dengan hydrogen piroksida (H2O2) untuk mempercepat oksidasi
mineral sulfida yang terkandung pada sampel. Selama pengujian
NAG test, pembentukan asam dan reaksi penetralan asam dapat
terjadi secara bersamaan.Oleh karena itu, hasil akhir pengukuran
langsung menunjukkan jumlah asam yang dihasilkan pada suatu
sampel. Nilai ini biasanya dikenal sebagai kapasitas NAG dan
dinyatakan dengan satuan yang sama seperti pada NAPP, yaitu
kg H2SO4/t.
Pengujian tunggal NAG merupakan uji lapangan yang telah
disederhanakan dan melibatkan penentuan dari NAG pH atau
tambahan

larutan

NaOH

untuk

menggambarkan

jenis-jenis

material PAF dan NAF.Pada penambahan tunggal NAG melibatkan


penambahan 250 ml H2I2 15% untuk 2.5 gram sampel. Piroksida
akan bereaksi dengan sampel semalaman dan pada hari
berikutnya dipanaskan untuk mempercepat oksidasi dari sisa
sulfida yang ada pada sampel, kemudian setelah mendidih dalam
beberapa menit sisa piroksida akan terpisah. Setelah dingin pH
dan kadar keasaman cairan NAG diukur. Keasaman dari cairan
kemudian digunakan untuk memperkirakan keasaman yang
dihasilkan dari material tersebut. (EGI Pty Ltd,. Australia, 2002
dalam Patia, 2008)
Suatu indikasi dari bentuk keasaman disajikan oleh titrasi awal
pada cairan NAG untuk pH 4.5, kemudian titrasi dilanjutkan
hingga pH meningkat menjadi 7. Titrasi pada nilai pH 4.5
mengandung kadar keasaman serta besi dan alumunium yang

13

dapat larut. Titrasi pada nilai pH 7 juga mengandung ion logam


yang mempercepat proses hidroksida diantara pH 4 dan 7.
Nilai NAG dihitung dengan :
NAG =
Dimana :
NAG =

net acid generation (kg H2SO4/ton)

volume NaOH yang dititrasi (ml)

konsentrasi NaOH yang digunakan dalam titrasi

(mol/liter)
W

massa sampel yang direaksikan (gram)


Tabel 2.1 Prediksi Kriteria Uji NAG

A
( k g
H

S O

4
4
4

.
<

.
<

Cat

/ t )

(NAF)
Potentially acid forming-lower capacity

(PAF-LC)
Potentially acid forming

(PAF)

>
5

sampel
Non-acid-forming

Potensial asam dari

: *Nilai 5 dapat mencapai 10 tergantung kepada faktor spesifik

lokasi
Sumber : ARD Test Handbook, 2002

Dalam upaya pencegahan, strategi pelapisan atau capping


material PAF dengan menggunakan material NAF atau material
lainnya perlu dikembangkan untuk mendapatkan metode terbaik
yang efektif dan efisien sehingga pencegahan AAT di area
disposal dapat dilakukan. Sistem pengolahan baik dalam aspek
unit operasi maupun proses juga dikembangakan sehingga
proses netralisasi AAT dapat berjalan dengan optimal baik

14

selama tahap penambangan maupun pasca tambang. (Gunawan


dkk, 2014)
2.6

Tingkat Pelapukan dan Sifat Permeable Batuan

Ada dua kategori proses pelapukan, yaitu secara fisik dan secara
kimia, dan keduanya saling mendukung untuk memecah batuan
dan mineral menjadi ukuran yang lebih kecil dan lebih stabil.
Lebih lanjut, Nelson (2008) menyebutkan bahwa mineral dalam
batuan bereaksi dengan lingkungan baru untuk menghasilkan
mineral baru yang stabil dalam kondisi dekat permukaan,
terutama karena perubahan kondisi suhu dan tekanan, dan
adanya oksigen. Air dapat bertindak sebagai agen utama yang
berperan dalam reaksi kimia pelapukan. Jenis-jenis reaksi kimia
pelapukan adalah hidrolisis, pencucian, oksidasi, dehidrasi, dan
pembubaran lengkap. Meningkatkannya luas permukaan reaktif
batuan mengandung sulfida akan mempengaruhi proses kimia
dari pembentukan air asam tambang (AAT). Proses pembentukan
AAT akan cepat karena kondisi fisik batuan yang tergolong
batuan lunak, yang berarti bahwa batu itu secara fisik mudah
untuk pecah/lapuk sehingga meningkatkan total luas permukaan
reaktif untuk reaksi kimia.
Sebuah investigasi dilakukan di daerah penimbunan batuan
penutup (overburden) berumur 2 dan 10 tahun. Analisa geokimia
dengan uji NAG, Paste pH, Paste EC, ANC, serta mineralogi
melalui analisa XRF dan XRD dilakukan terhadap contoh batuan
dari setiap interval 20 cm sampai kedalaman 2 m. Hasil kegiatan
ini menunjukkan bahwa contoh batuan, baik yang berasal dari
timbunan berumur 2 maupun 10 tahun,

umumnya masih

memiliki kemungkinan untuk terus teroksidasi. Oksidasi yang


belum selesai pada timbunan berumur 2 tahun terutama

15

disebabkan oleh adanya mineral penetral, sedangkan pada


timbunan

berumur

10

tahun

terutama

disebabkan

oleh

ketidakcukupkan oksigen sebagai konsekuensi dari pemadatan


alami dan kandungan air yang tinggi dari lapisan permukaan
timbunan sebagai hasil pelapukan. Selain itu, keberadaan
gypsum

sebagai

hasil

oksidasi

mineral

sulphide

pyrite

terdiidentifikasi, menunjukkan bahwa mineral penetral telah


bereaksi dengan asam di umur awal timbunan. Gypsum juga
berperan dalam menyelimuti mineral sulphide (umumnya pyrite),
bersama-sama dengan mineral pembentuk tanah liat (Nugraha
dkk, 2009a).
Kondisi basah dan kering mendorong pelapukan batuan secara
fisik, yang umumnya memicu pelapukan secara kimia, karena
ukuran butiran yang lebih halus berarti meningkatkan total luas
permukaan reaktif. Hal ini juga berlaku bagi batuan yang
mengandung mineral sulphide, yang umumnya terdapat pada
batuan penutup di tempat penimbunan, yang akan mempercepat
laju oksidasi (Davis dan Ritchie, 1987; Devasahayam, 2006).
Ditinjau dari faktor fisik, perubahan ukuran partikel akan
mengurangi permeabilitas lapisan yang disebabkan oleh terisinya
ruang antar-batu dengan partikel halus yang dihasilkan dari
proses

pelapukan.

Penurunan

permeabilitas

juga

akan

mengontrol laju infiltrasi air dan difusi/adveksi oksigen ke dan di


dalam tempat penimbunan batuan (INAP, 2003). Karena oksigen
dan

air

sangat

penting

dalam

proses

oksidasi

batuan

mengandung sulphide, penurunan laju reaksi tersebut akan


meminimalkan potensi pembentukan AAT. Secara konseptual,
pengaruh ukuran butiran terhadap potensi pembentukan AAT
adalah seperti ditunjukkan oleh Gambar 2.1 disamping :

16

Gambar 2.1 Pengaruh Ukuran Partikel kecepatan Oksidasi (Bowell dkk, 2006)

Gambar 2.1 menunjukkan skema proses yang secara umum


menggambarkan kondisi kolom. Pada kondisi awal (Gambar 2.1),
material dalam kolom seluruhnya kering. Setelah dilakukan
Penyiraman

#1,

pelapukan

batuan

terjadi

pada

lapisan

permukaan (Layer 1), menciptakan partikel berukuran lebih kecil


yang mengisi rongga yang tersedia, dan meningkatkan derajat
pemadatan material. Selanjutnya, kolom bisa dinyatakan dalam
kondisi jenuh setelah keluarnya air lindi dari kolom (Gambar 2).
Proses pengeringan (Pengeringan #1) mempengaruhi kondisi
Layer 1 berubah menjadi kering, sedangkan Layer 2 berada di
transisi antara kondisi kering dan basah, dan Layer 3 tetap pada
kondisi jenuh (Gambar 2c). Proses pelapukan yang mirip dengan
Penyiraman #1 terjadi pada Penyiraman #2 namun dengan
intensitas pelapukan yang lebih tinggi dari karena lebih kecilnya
ukuran partikel pada lapisan permukaan yang sebelumnya
dibentuk oleh Penyiraman #1 dan Pengeringan #1. Selanjutnya,
kondisi ini menciptakan tingkat pemadatan yang lebih tinggi,
terutama

pada

Layer

dibandingkan

dengan

kejadian

sebelumnya (Gambar 2.2).

17

Gambar 2.2 Skema Proses Fisik Pada Kolom Uji (Nugraha, 2009b)

Proses

tersebut

di

atas

berlanjut

sampai

Penyiraman #5

diterapkan, menghasilkan lebih tingginya proses pelapukan dan


pemadatan material yang mempengaruhi tingkat kejenuhan dan
permeabilitas. Interaksi antara faktor pelapukan batuan dan
kejenuhan air mempengaruhi ketersediaan oksigen dalam kolom,
mengakibatkan proses oksidasi terjadi dengan lambat dan
berpengaruh terhadap kualitas air. Kondisi ini memiliki potensi
untuk meningkatkan kinerja sistem penutup untuk mencegah
pembentukan AAT di tempat penimbunan batuan.
Pada kondisi penimbunan berlapis dimana PAF ditimbun dibawah
NAF, hasil studi menunjukkan adanya perbedaan warna material
pada

kolom

sebagai

hasil

dari

proses

oksidasi.

Hal

ini

menjelaskan proses reaksi didalam kolom dimana pada lapisan


atas (NAF) tidak terjadi proses oksidasi meskipun terpapar oleh
air dan oksigen. Hal ini berbeda dengan bagian tengah dan
bawah kolom. Berdasarkan perbedaan warna ini, dinyatakan
bahwa konsumsi oksigen terjadi pada bagian atas lapisan PAF,
yaitu

ditengah

kolom,

sampai

batas

lapisan

jenuh

air

dibawahnya. Pada lapisan jenuh air, oksidasi tidak terjadi karena


keterbatasan/ketidakadaan oksigen (Nugraha, 2009b).

18

Gambar 2.3 Kondisi Dengan Metode Lapisan Batuan Dengan Komposisi 10%, 20%,
dan 30% PAF dibagian bawah (Bowell dkk, 2006)

Gambar 2.4 Skema Proses Geokimia Pada Metode Lapisan batuan (Patria, 2008)

2.7

Curah Hujan

Besarnya curah hujan dinyatakan dalam mm, yang berarti jumlah


air hujan yang jatuh pada satu satuan luas tertentu. Data curah
hujan, umumnya disajikan delam data curah hujan tahunan,
bulanan, harian dan per jam. Analisis data curah hujan, sangat
bergantung pada kegunaan hasil analisis, misalnya data curah
hujan diperlukan untuk melakukan simulasi atau pemodelan
curah hujan pada suatu permukaan media penelitian.
Data curah hujan yang digunakan dalam perhitungan simulasi
curah hujan yang memasuki suatu daerah minimal harus 10
tahun. Hal ini dikarenakan curah hujan akan menunjukkan suatu

19

kecenderungan pengulangan yang memiliki kemungkinan akan


terjadi sekali dalam suatu jangka waktu tertentu.
Curah hujan yang digunakan dalam suatu percobaan hujan
buatan, didapatkan dengan melakukan perhitungan simulasi
curah hujan, dengan cara merata-ratakan curah hujan 10 tahun.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan suatu keseimbangan antara
curah hujan besar dan curah hujan kecil. Kemudian hasil yang
didapatkan, dikonversi ke dalam satuan luas permukaan yang
nantinya akan digunakan sebagai media pensimulasi curah hujan
(Patria, 2008).
Air dari curah hujan yang diterima pada suatu permukaan, jika
permukaan tidak kedap air, dapat bergerak ke dalam tanah
dengan gaya gravitasi disebut infiltrasi (Seyhan, 1990). Bila
infiltrasi berlanjut terus, permukaan yang langsung akan menjadi
jenuh, dan akan terjadi penurunan kandungan air pada jeluk
tanah. Infiltrasi dapat berubah-ubah sesuai dengan intensitas
curah hujan (Gautama, 1999, dalam Patria, 2008).

20

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1

Kerangka Penelitian
Studi Pustaka
Identifikasi
Masalah
Tujuan Penelitian

Pengumpulan Data yang Dibutuhkan


Pengukuran kecepatan
pada input dan output

Pengambilan sampel
Pengujian titrasi di
laboratorium

Perhitungan debit
air

Pengamatan pH

Pengujian dosis kapur


tohor secara teoritis di
lapangan

Pengamatan efektifitas
pengapuran di inlet-outlet

21

3.2

Alat dan Bahan

3.2.1

Alat

Ph meter dengan perlengkapannya


Dirijen wadah sample air asam tambang
Corong plastik
Gayung plastik
Ice box penyimpanan sample air asam tambang
Ember kapasitas 10 liter
Kamera digital
Alat tulis
Thermometer
Sarung tangan
Batang pengaduk
Pipet volume 10mL + bulp
Pipet tetes
Klem + statif
Buret
Gelas ukur 2000mL

22

Botol kaca 1000mL


Corong kaca
Labu takar 1000mL
Timbangan analitik
Beker gelas 50 mL

Stopwatch pengukur waktu


3.2.2

Bahan

Air asam tambang kolam pengendapan


Kapur tohor
Aquades
Larutan kapur (CaO)

3.3

Tahapan Penelitian

Tahap pengambilan data di lapangan yaitu untuk mencari data pengukuran


kecepatan alir air dan debit air yang masuk ke kolam pengendapan lumpur. Hal ini
dilakukan sebagai langkah penentuan jumlah dosis kapur yang tepat untuk proses
penetralan air asam tambang. Setelah dilakukan pengujian diatas, maka dapat
diketahui penggunaan dosis kapur yang tepat setelah diujikan di laboratorium,
selanjutnya hasil pengujian laboratorium dapat di aplikasikan ke lapangan untuk
mengetahui keefektivitasan pengapuran yang baik dan tepat setelah didapatkan
perhitungan debit air yang masuk ke kolam dan juga hasil pengukuran aliran air di
lapangan

23

Setelah diperoleh data tersebut maka tahapan berikutnya ialah melakukan tahapan
analisi untuk menentukan :
1. Penentuan dosis kapur tohor secara teoritis
Jumlah kapur tohor yang akan digunakan, dapat diketahui dari hasil
perhitungan debit air dan kecepatan aliran air yang masuk dalam waktu
satu jam, dan juga dari hasil pengujian dosis kapur di laboratorium.
2. Aplikasi terhadap estimasi dosis penentralan secara teoritis di lapangan
Setelah diketahui dosis kapur yang tepat dari hasil pengujian di
laboratorium maka pengujian selanjutnya dapat diaplikasikan ke lapangan
langsung yaitu di lakukan penggunan kapur pada saluran inlet dan outlet.
3. Pengamatan terhadap efektifitas penetralan di inlet dan outlet
Dalam hal ini, hasil pengujian di laboratorium dibuktikan di lapangan
untuk itu dari hasil pengujian akan diketahui keefektifan dosis kapurnya,
dimana penetralan air asam dengan kapur yang tepat
4. Analisis hasil akhir
Dari hasil kegiatan dan pengukian di lapangan maka diketahui keeektifan
dosis kapur kapur yang telah dilakukan pengujian di laboratorium, apa
efektif di saluran inlet atau saluran outlet.
Tahapan pengujian dilakukan dengan cara pengambilan sample air asam tambang
terlebih dahulu, air yang diambil sebanyak 1 liter kemudian untuk mengetahui
dosis yang tepat untuk menaikan pH tertentu maka dibutuhkan beberapa dosis
kapur untuk melakukan pengujian di laboratorium tersebut terhadap sample air
asam tadi, dari uji coba bisadi ketahui jumlah dosis yang tepat untuk diaplikasikan
dilapangan.
3.4

Studi Literatur

24

Hal pertama yang dilakukan sebelum penelitian langsung di


lapangan adalah studi literatur. Tahap ini dilakukan dengan cara
mencari

bahan-bahan

yang

menunjang

berkaitan

dengan

pengelolaan air asam tambang, karakterisasi sifat fisik dan kimia


batuan. Literatur berupa buku, jurnal, artikel, skripsi, tesis,
disertasi dan laporan penelitian terdahulu. Studi literatur, bertujuan
untuk mencari informasi yang berhubungan dengan aktifitas penyaliran tambang
sehingga membantu dalam proses selanjutnya. Metode observasi, yaitu melakukan
pengamatan dilapangan serta pengambilan data. Metode analisis, yakni
melakukan perhitungan dan pengukuran serta pembahasan.

25

BAB 4
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1

Analisis Awal

4.1.1

Hasil Analisis Awal

Gambar 4.5 Lokasi Pengambilan Sampel di Saluran Drainase Jalan Arief Rahman
Hakim (Google Maps, 2013)
Tabel 4.2 Data Primer Hasil Analisi Awal

4.2

Penelitian Pendahuluan

26

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan

5.2

Saran

27

DAFTAR PUSTAKA

Bowell, R. J., Sapsford, D. J., Dey, M., Williams, K. P. 2006.


Protocols affecting the reactivity of mine waste during
laboratory-based

kinetic

tests.

Proceeding

of

7th

International Conference on Acid Rock Drainage, St Louis,


MA
Davis, G.B., Ritchie, A.I.M. 1987. A model of oxidation in pyrite
mine waste: part 3: import of particle size distribution,
Appl Math Model. 11, pp. 417422.
Devasahayam, S. 2006. Application of particle size distribution
analysis in evaluating the weathering in coal mine rejects
and tailings, Fuel Process Technol. 88, pp. 295301.
Gunawan F., Gautama R.S., Abfertiawan M.S., Kusuma G.J. 2014.
Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengolahan Air
Asam Tambang di Lati Mine Operation. Seminar Air Asam
Tambang ke-5 dan Pasca Tambang di Indonesia. Bandung,
28 Oktober 2014.
Indra H., Lepong Y., Gunawan F., Abfertiawan M.S. Penerapan
Metode Active dan Passive Treatment Dalam Pengelolaan
Air Asam Tambang Site Lati. Seminar Air Asam Tambang
ke-5 dan Pasca Tambang di Indonesia. Bandung, 28
Oktober 2014.
International

Network

for

Acid

Prevention

(INAP).

2003.

Evaluation of the long-term performance of dry cover


systemsfinal report No. 68402, Prepared by OKane
Consultant Inc.

28

Nelson,

S. A. 2008.

Weathering

&

Clay Minerals. Tulane

University. http://www.tulane.edu. Retrived on 14/04/2009.


Novianti Y.S., Evaluasi Penanganan Air Asam Tambang Dengan
Metode In-Pit Water Treatment Pada Void M4E PT. Jorong
Barutama Grestone. Tesis.Januari 2014. Bandung.
Nugraha, C. 2009(b). Acid mine drainage generation due to
physical rock weathering at dumping site in coal mine,
Indonesia,

Dissertation,

Earth

Resources

Engineering

Department, Kyushu University, Japan.


Nugraha, C., Shimada, H., Sasaoka, T., Ichinose, I., Matsui, K.,
Manege,

I.

2008.

Lithology-based

rock

weathering

behavior in acid mine drainage generation, Proc. of Intl


Symposium on Earth Science and Technology 2008,
Fukuoka, Japan, pp. 381 388.
Nugraha, C., Shimada, H., Sasaoka, T., Ichinose, I., Matsui, K.,
Manege, I. 2009(a). Geochemistry of waste rock at
dumping area, Intl Journal of Mining, Reclamation, and
Environment. Vol. 23 No. 2 pp. 132 143.
Patria, A. M., 2008. Analisis Pencegahan Pembetukan Air Asam
Tambang

Dengan

Metode

Layering

Di

PT

Berau

Coal.Skripsi. Jurusan Teknik Pertambangan S1. Fakultas


Teknik Mulawarman. Samarinda

29

LAMPIRAN A
A.1Analisis Nitrogen-Ammonium

LAMPIRAN B

LAMPIRAN C
Tabel C.3 Hasil Analisis Parameter Uji

LAMPIRAN D

Gambar D.6 Kondisi Fisik Reaktor Running ke-1 Hari ke 2