Anda di halaman 1dari 16

BIOSINTESIS LIPID

Raudina (1306370594)
Departemen Teknik Kimia, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia

Abstrak
Salah satu senyawa organik golongan ester yang banyak terdapat dalam tumbuhan,
hewan, atau manusia dan sangat berguna bagi kehidupan manusia adalah lemak (lipid). Makanan
yang mengandung lemak akan dicerna oleh tubuh dan dirombak menjadi asam lemak dan gliserol.
Selanjutnya, kelebihan asam lemak yang tidak digunakan oleh tubuh akan disintesis kembali
menjadi lemak dan dijadikan sebagai cadangan energi. Namun, sintesis lemak dapat pula dibentuk
dari glukosa maupun asam amino. Lipid memiliki berbagai peran seluler, lipid merupakan bentuk
utama energi yang tersimpan dalam sebagian besar organisme dan komponen utam dari
membran sel. Pada umumnya, ATP digunakan sebagai sumber energi metabolik dan pembawa
elektron pereduksi (NADPH) sebagai redutor. Biosintesis asam lemak digambarkan mulai dari
biosintesis asam lemak yang merupakan komponen utama dari triasilgliserol dan fosfolipid,
kemudian menseleksi dari penggabungan asam lemak menjadi triasilgliserol atau trigliserida dan
bentuk sederhana dari membran fosfolipid. Pada akhir biosintesis, terdapat sintesis kolesterol yang
merupakan komponen dari beberapa membran dan prekursor steroid seperti asam empedu dan
jenis hormon. Biosintesis asam lemak terdiri dari 4 tahapan yaitu, kondensasi, reduksi gugus
karbonil, dehidrasi dan reduksi ikatan rangkap. Sedangkan biosintesis triasilgliserol hanya terdiri
dari biosintesis asam fosfatidik dilanjutkan dengan biosintesis trigliserida. Untuk biosintesis
membran fosfolipid terdapat biosintesis gliserofosfolipid dan spingolipid. Serta biosintesis
kolesterol yang melibatkan sintesis mevalonate, isoprenoid, skualen dan terakhir hingga
menghasilkan kolesterol.
Kata Kunci : Asam Lemak, ACP, Eicosanoid, FAS I, FAS II, Triasilgliserol, Asam Fosfofatidik,
Fosfolipid, Gliserofosfolipid, Isoprenoid, Kolesterol, Mevalonate, Skualen, Spingolipid, Steroid
Pembahasan
Secara garis besar biosintesis lipid di deskripsikan awalnya dari biosintesis dari asam
lemak, yaitu komponen utama dari trigliserida dan fosfolipid, yang kemudian mengeksekusi
gabungan dari asam lemak hingga menjadi trigliserida dan membran fosfolipid sederhana. Pada
akhir, juga dipertimbangan sintesis dari kolesterol, yang merupakan komponen dari beberapa
membran dan pemicu dari steroid seperti asam empedu dan beberapa hormon.

Biosintesis Asam Lemak dan Eicosanoid


Oksidasi asam lemak melibatkan pemindahan dua unit
karbon (asetil-KoA). Pada awalnya biokimia berfikir bahwa
biosintesis dari asam lemak merupakan proses pembalikan dari
oksidasi asam lemak dengan tahapan enzimatik yang sama.
Namun pada akhirnya diketahui bahwa biosintesis asam lemak
terjadi dengan jalur yang berbeda, dikatalisis dengan enzim
yang berbeda juga serta di tempat yang berbeda di dalam sel.
Selain itu biosintesis membutuhkan tiga karbon intermediet,
malonil-KoA, yang tidak terlibat dalam pemecahan asam lemak.
Pembentukan malonil-KoA dari asetil-KoA merupakan
proses yang irreversibel, dan dikatalisis oleh asetil-KoA
korboksilase. Pada bakteri, dimiliki tiga subunit polipeptida yang
terpisah sedangkan ada hewan, ketiga akitvitas ada bakteri
terpisah dan merupakan bagian dari polipeptida yang
fungsional. Sel tumbuhan megandung keuda tipe dari asetil-KoA
karboksilase. Secara keseluruhan, enzim mengadung gugus
biotin berikatan kovalen dengan gugus amida dengan gugus amino dari residu Lisin pada tiga polipeptida atau molekul
Gambar 1.
enzim.
Reaksi asetil-KoA karboksilase
Asetil-KoA karboksilase memiliki tiga daerah fungsional:
protein pembawa biotin; biotin karboksilase, yang mengaktifkan
CO2 dengan menambahkannya kedalam nitrogen di cincin biotin
dalam reaksi ATP-dependent; dan transkarboksilase, dimana
terjadi pengaktifan transfer CO2 dari biotin menjadi asetil-KoA,
menghasilkan malonil-KoA. Rantai biotin yang panjang dan
fleksibel membawa CO2 yang sudah aktif dari biotin karboksilase
menuju transkarboksilase aktif.
Pada seluruh organisme, asam lemak rantai karbon
panjang adalah penggabungan dari pengulangan 4 langkah
berurutan. Sebuah gugus asil jenuh dihasilkan oleh masingmasing dari 4 langkah reaksi menjadi substrat untuk kondensasi selanjutnya dengan gugus malonil
aktif. Rantai lemak asil diperpanjang oleh dua karbon. Kedua elektron pembawa kofaktor dan
gugus aktivasi dalam urutan anabolik reduktif berbeda dari dari proses oksidasi katabolik. Dalam
oksidasi, NAD dan FAD berfungsi sebagai elekron penerima dan gugus aktivasi merupakan gugus
thiol (-SH) dari koenzim A. Sebaliknya, agen pereduksi dari urutan sintesis NADPH dan gugus
aktivasi adalah dua hal berbeda dalam ikatan enzim gugus SH.
FAS I (Fatty Acid Synthase I)
Sintesis asam lemak I ditemukan dalam veterbrata dan fungi. Pada vertebrata terdiri
dari satu rantai polipeptida yag multifungsional dengan 7 sisi aktif berbeda. Umumnya pada
mamalia, berfungsi sebagai homodimer. Tiap unit dari polipeptida bekerja secara independen
sehingga asam lemak hanya sedikit dipengaruhi jika terjadi penonaktifan sisi aktif. Sedangkan
pada fungi terdiri dari 2 polipeptida yang multifungsional yang membentuk strukur kompleks
dimana terdapat tiga sisi aktif yang berada di subunit dan empat sisi aktif yang berada di
subunit . Pada sistem FAS I, sintesis asam lemak menghasilkan satu produk, dan tidak
menghasilkan intermediet. Pada gambar 3, saat panjang rantai mencapai 16 karbon, palmitat
meninggalkan siklus. Karbon C-16 dan C-15 dari palmitat dihasilkan dari atom karbon metil
dan karboksil.
Gambar 2.
Gambar 3.
Pertambahan dua karbon
Proses sintesis palmitat
pada rantai asil

FAS II (Fatty Acid Synthase II)


Sintesis asam lemak II ditemukan dalam tumbuhan dan bakteria. Sintesis asam lemak
pada tumbuhan dan bakteri merupakan sistem yang terdisosiasi dimana setiap langkah
disintesis oleh enzim yang berbeda dan dapat berdifusi dengan bebas. Pada FAS II dihasilkan

intermediet yang juga dapat berdifusi dengan bebas dan masuk ke sistem lain. Pada sintesis
ini menghasilkan berbagai macam produk seperti asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh
dan asam lemak hidroksi. Sedangkan sintesis asam lemak pada mamalia, selama proses
sintesis, intermediet terikat secara kovalen sebagai tioester pada salah satu gugus tiol. Letak
gugus tiol yaitu pada residu sistein di -ketoasil-ACP sintesis dan protein pembawa asil (ACP).
Hidrolisis tioester merupakan reaksi yang sangat eksergonik, energi yang dilepaskan
membantu kelangsungan reaksi sintesis asam lemak.
Acyl carrier protein (ACP)
4-fosfopantethein adalah gugus prostetik, dimana
berkovalen dengan gugus hidroksil dari residu Ser pada
ACP. Fosfopantethein mengandung vitamin B asam
pantothenik, yang juga ditemukan dalam molekul koenzim
A. Gugus SH merupakan situs masuk utuk gugus malonil
selama sintesis asam lemak.
Acyl carrier protein (ACP) berfungsi sebagai rantai
fleksibel yang menghubungkan asam lemak yang sedang
berkembang dengan permukaan sintesis bersamaan
membawa intermediet dari satu sisi aktif ke sisi aktif
lainnya.
Pengisian Gugus Tiol dengan Gugus Asil
Pertama, gugus asetil dari asetil-KoA di pindahkan
ke ACP dalam reaksi katalisis dengan malonil/asetil KoAACP transferase. Gugus asetil kemudian dibawa ke gugus
Cys SH dari -ketoasil-ACP sintesis. Reaksi selanjutnya
adalah pemindahan dari gugus malonil dari malonil KoA ke
gugus SH dari ACP, yang juga dikatalisis oleh
malonil/asetil-KoA-ACP transferase.

Gambar 4. Acyl Carrier Protein

Sintesis Asam Lemak


Step 1: Kondensasi
Reaksi awal dari pembentukan rantai asam lemak adalah kondensasi. Pada tahapan awal
terjadi aktivasi gugus asetil dan malonil untuk membentuk asetoasil-ACO. Gugus asetil
dipindahkan dari grup Cys-SH di enzim ke gugus malonil di SH ACP yang dikatalis oleh ketoasil-ACP-sintesis.

Step 2: Reduksi Gugus Karbonil


Asetoasil-ACP mengalami reduksi di gugus karbonil pada C-3 untuk membentuk D- hidroksibutiril-ACP. Kemudian dikatilisis oleh -ketoasil-ACP-reduktase. Elektron untuk
mereduksi berasal dari NADPH.

Step 3: Dehidrasi
Air dihilangkann dari C-2 dan C-3 -hidroksibutiril-ACP untuk daerah ikatan rangkap dalam
produk, trans-2-butenoil-ACP. Enzim yang mengkatalisis dalam proses dehidrasi adalah hidroksiasil-ACP-dehidrase.

Step 4: Reduksi dari Ikatan Rangkap


Pada akhir, ikatan rangkap trans-2-butenoil-ACP direduksi (jenuh) untuk membentuk butirilACP dengan dikatalisis oleh enoil-ACP-reduktase. Elektron untuk reduksi berasal dari
NADPH.

Gambar 5.
Tahapan sintesis asam lemak
Reaksi sintesis asam lemak diulang untuk membentuk palmitat. Diawali dengan memulai
kembali siklus dengan cara mengikatkan gugus malonil lain ke fosfopantetein yang sebelumnya
tidak berikatan. Butiril dipindahkan dari gugus fosfopantetein SH di ACP ke gugus Cys SH di ketoasil-ACP-sintesis. Untuk memulai siklus berikutnya dengan 4 reaksi yang memperpanjang
rantai sebanyak 2 karbon, gugus malonil lainnya diikat dengan gugus fosfopantetein SH di ACP.
Kondensasi terjadi saat gugus butiril, yang berperan sebagai gugus asetil pada siklus pertama,
berikatan dengan 2 karbon dari gugus malonil-AC dengan melepaskan CO 2. Produk dari
kondensasi ini adalah 6 gugus karbon asil, berikatan kovalen dengan gugus fosfopantetein SH.
Gugus -keto direduksi pada 3 tahap berikutnya untuk menghasilkan gugus asil jenuh, yaitu 6
karbon jenuh.
7 kali siklus kondensasi dan reduksi dapat meghasilkan 16 gugus karbon palmitoil jenuh
yang berikatan dengan ACP. Siklus sintesis asam lemak kemudian berhenti dan palmitat
dilepaskan dari ACP dengan aktivitas hidrolitik (tioesterase) pada protein multifungsional.

Gambar 6.
Siklus kedua dari sintesis asam lemak
Dapat diperkirakan reaksi keseluruhan dari palmitat dari asetil-KoA dalam 2 reaksi. Reaksi
pertama adalah pembentukan 7 molekul malonil-KoA:

dan 7 siklus kondensasi dan reduksi:

Perhatikan bahwa hanya ada 6 molekul air yang diproduksi, hal ini dikarenakan satu molekul
digunakan untuk menghidrolisis thioester yang berikatan dengan produk palmitat ke enzim.
Sehingga reaksi keseluruhan dari dua reaksi di atas adalah:

Biosintesis asam lemak, seperti palmitat, membutuhan asetil Ko-A dan pemberian energi
kimia dalam dua bentuk: gugus transfer potensial ATP dan tenaga mereduksi NADPH. ATP
dibutuhkan untuk mengikat CO2 dengan asetil Ko-A untuk membuat malonil-KoA dan NADPH
dibutuhkan untuk mereduksi ikatan ganda.
Pada eukariotik nonfotosintetis, terdapat tambahan dalam sintesis asam lemak, karena asetil-KoA
dibentuk dalam mitokondria dan harus terlebih dahulu dibawa ke sitosol. Langkah ini memerlukan
dua ATP per molekul asetil Ko-A yang dibawa, menyebabkan pertambahan energi untuk sintesis
asam lemak menjadi 3 ATP per 2 unit karbon.
Dijelaskan sebelumnya bahwa pada eukariotik, asetil Ko-A harus dibawa ke sitosol terlebih
dahulu karena dibentuk dalam mitokondria. Pada eukarotik yang lebih tinggi, sintesis asam lemak

kompleks terjadi di sitosol, yaitu biosintesis enzim untuk nukleotida, asam amino dan glukosa.
Lokasi ini menyegragasi proses sintesis dari reaksi degradasi, yang banyak bertempat di matriks
mitokondria.
Terdapat segregasi oleh elektron yang membawa kofaktor digunakan pada
anabolisme (proses reduktif) dan katabolisme (proses oksidatif). Biasanya, NADPH adalah
elektron pembawa untuk reaksi anabolik, dan NAD+ untuk reaksi katabolik. Pada hepatosis, rasio
[NADPH]/[NADP+] sangat tinggi (hampir 75) pada sitosol, membentuk lingkungan reduksi yang
tinggi untuk sintesis reduksi asam lemak dan biomolekul lainnya. Sedangkan, rasio sitosolik
[NADH]/[NAD+] jauh lebih kecil (hanya sekitar 8 x 10 -4), sehingga NAD+ katabolisme oksidatif
glukosa yang berhubungan dapar terjadi di kompartemen yang sama dengan sintesis asam lemak.
Pada mitokondrion, rasio [NADH]/[NAD+] jauh lebih besar dibanding pada sitosol, karena
aliran elektron ke NAD+ dari oksidasi asam lemak, asam amino, piruvat dan asetil Ko-A. Rasio
yang tinggi ini menyebabkan reduksi oksigen dari rantai respirasi.

Gambar 7. Lokasi subselular dari metabolisme lipid


Pada hepasitosis dan adiposis, NADPH sitosilik dibentuk dari jalur pentosa fosfat dan
enzim malik. NADP-enzim malik yang beropreasi pada jalur asimilasi karbon C4 tidak
berhubungan. Piruvat yang diproduksi kembali memasuki mitokondrion. Pada hepatosis dan
hewan laktasi, NADPH yang dibutuhkan untuk sintesis asam lemak diberikan melalui jalur pentosa
fosfat.

Gambar 8. Produksi NADPH a) enzim malik b) jalur pentosa fosfat


Sedangkan pada sel fotosintetik tumbuhan, sintesis asam lemak terjadi tidak hanya pada
sitosol melainkan pada kloroplas stroma. NADPH juga diproduksi pada kloroplas oleh reaksi
terang fotosintesis.

Palmitat, produk penting dari sintesis asam lemak pada sel hewan, adalah pemicu dari
asam lemak rantai panjang lainnya. Palmitat dapat dipanjangkan untuk membentuk stearat atau
asam lemak jenuh lainnya dengan rantai yang lebih panjang dengan penambahan gugus asetil
melalui perlakuan sistem pemanjangan asam lemak yang muncul pada endoplasmik retikulum
halus dan mitokondria. Semakin aktif sistem pemanjangan ER memanjangkan 16 rantai karbon
palmitoil-KoA dengan 2 karbon, membentuk stearoil-KoA. Meski sistem enzim lainnya juga terlibat,
dan koenzim A adalah pembawa asil (bukan ACP), mekanisme pemanjangan ER identik dengan
sintesis palmitat.

Gambar 8. Sintesis asam lemak dari palmitat


Eicosanoid dibentuk dari asam lemak jenuh 20 karbon. Terdapat dua jalur sintesis dalam
biosintesis Eicosanoid yaitu jalur siklik dan jalur linier.

Jalur siklik
a. Produk yang dihasilkan dalam Jalur ini (mengandung
cincin)
- Sintesis Prostaglandin
- Sintesis Thromboxane (Keping Darah)
b. Proses Sintesis
- Phospholipase A2 menyerang membran
Phospholipid yang
mengandung arachnidonate
- Phospholipid
mengeluarkan
arachnidonate
(dari
gliserol)
- Dari arachnidonate kemudian diubah
menjadi PGG2 dengan katalis enzim
COX
- PGG2 dirubah menjadi
PGH2
dengan
mengkatalisis
PGG2
Gambar 9. Jalur siklik Sintesis Eicosanoid
dengan
bantuan
aktivitas
enzim
peroksida COX
- PGH2 merupakan prekursor dari sintesis
Prostaglandin
dan Tromboxane.

Jalur Linier

Gambar 10. Jalur Linier Sintesis Eicosanoid


a. Proses Sintesis:
- Proses katalisis penggabungan O2 ke dalam arachidonate dengan bentuan enzim
lipoxygenase
- Variasi dari leukotrien dibedakan pada posisi kelompok peroksida dalam rantai
- Sintesis Jalur Linier tidak dihambat oleh Aspirin atau senyawa NSAID lainnya
Biosintesis Triasigliserol

Hewan dapat menyintesis dan menyimpan triasigliserol dalam jumalhh besar, yang
kemudian digunakan untuk bahan bakar. Manusia dapat menyimpan hanya beberapa ratus gram
glikogen dalam hati dan otot, tidak cukup untuk menyuplai kebutuhan energi dalam tubuh selama
12 jam. Triasigliserol memiliki jumlah energi terbanyak dari seluruh nutrien yang disimpan, lebih
dari 38 kJ/gr. Kapanpun karbohidrat dicerna, dan memberikan kapasitas tubuh untuk menyimpan
glikogen, sisanya dikonversi menjadi triagliserol dan disimpan pada tisu adiposa. Tanaman juga
memprooduksi triagliserol sebagai bakan bakar penuh energi, yang biasa disimpan pada buah,
kacang dan benih.
Biosintesis Asam Fosfatidik
Pada mulanya terjadi pembentukan dihidroksi aseton fosfat dari glukosa. Dihidroksi aseton
posfat bereaksi dengan gliserol dibantu oleh ATP dan NADH hingga menghasilkan L-Gliserol 3fosfat. Penempelan dua gusus asil pada S1 da S2 dengan asil-KoA sintesis dan asil transferasi.
Pada hasil akhir reaksi terbentuk asam fosfatidik.
Gambar 11. Biosintesis Asam Fosfofatidik
Biosintesis Trigliserida
Diawali dengan pembentukan prekursor yaitu asam
fosfatidik.
Hidrolisis gugus fosfat pada asam fosfatidik dengan dibatu oleh
asam fosfatidik
fosfatase membentuk 1,2-diasilgliserol. Kemudian dengan proses
transesterifikasi oleh asiltransferasi menghasilkan triasilgliserol.

Biosintesis Membran Fosfolipid


Membran fosfolipid dibagi menjadi dua
utama, yaitu gliserofosfolipid dan spingolipid. Pada
eukariotik, sintesis fosfolipid terjadi pada
permukaan retikulum endoplasma halus dan
dalam mitokondria. Secara umum,
penggabugan fosfolipid dari prekursor
sederhana membutuhkan 1) sintesis
molekul tulang belakang (gliserol atau
spingosin); 2) penyisipan asam lemak
(s) ke tulang belakang melalui ikatan
ester atau amida; 3) penambahan
kepala gugus hidrofolik ke daam tulang
belakang melalui ikatan fosfodiester,
dan dalam beberapa kondisi 4)
pemanjangan kepala gugus hingga
menghasilkan produk fosfolipid.

kelas
sel
membran

Gambar 12. Biosintesis Trigliserida


Gliserofosfolipid
Dalam
proses
biosintesis
gliserofosfolid, salah satu hidroksilnya
terlebih dahulu diaktifkan dengan
penambahan
cytidine
diphosphate
(CDP). Terdapat dua cara dalam
pengaktifan hidroksilnya yaitu:
Penambahan
CDP
di
diasilgliserol,
membentuk asam fosfatidat teraktivasi
(CDP-diasilgliserol)
Penambahan CDP di ujung gugus
fosfolipid.
Gambar 13. Dua Strategi Pembentukan Ikatan Fosfodiester dari Fosfolipif

Perubahan Gugus Fosfolipid


Fosfatidilserin (PS) dan Fosfatidilgliserol (PG) dapat berfungsi sebagai prekursor
lipid membran lainnya pada bakteri. Dekarboksilasi dari gugus serin di phosphatidylserine,
dikatalisasi oleh dekarboksilase Fosfatidilserin, dan menghasilkan fosfatidiletanolamin.
Kondensasi dua molekul fosfatidilgliserol dengan mengeliminasi satu gliserol,
menghasilkan cardiolipin dimana dua diasilgliserol bergabung pada gugus umum.

Gambar 14. Sintesis Cardioplin dan Fosfatidilinositol pada Eukariotik

Biosintesis Spingolipid
Biosintesis spingolipid berlangsung dalam empat tahapan yaitu,
Sintesis 18-karbon amina spinganin dari palmitoil-KoA dan serin
Pelekatan asam lemak dalam ikatan amida untuk menghasilkan N-asilspinganin
Desaturasi gugus spinganin untuk membentuk N-asilspingosin (ceramide)
Pelekatan ujung utama gugus fosfolipid untuk menghasilkan spingolipid seperti cerebroside
atau spingomyelin
Tahapan-tahapan ini terjadi di retikulum endoplasma namun ada pelekatan ujung utama fosfolipid
terjadi di badan golgi.

Gambar 15. Biosintesis Spingolipid


Biosintesis Kolesterol, Steroid dan Isoprenoid
Kolesterol seperti rantai panjang asam lemak yang terbentuk dari asetil KoA. Terdiri dari empat
langkah utama:

Sintesis mevalonate
Sintesis isoprenoid
Sintesis skualen
Sintesis akhir kolestrol

Adapun penjelasan dari 4 tahap di atas akan dijelaskan


sebagai berikut:
Sintesis Mevalonate
Tahapan awal dari sintesis kolesterol adalah
pembentukan mevalonate. Sintesis mevalonate
diawali dengan pembentukan asetoasetil-KoA yang
membutuhkan 3 molekul asetil-KoA. Dilanjutkan
dengan pembentukan -hidroksi--metilglutaril-KoA.
Proses ini melibatkan katalis thiolase dan HMG-KoA
sintesis. Kemudian, langkah terakhir yaitu reaksi
reduksi -hidroksi- -metilglutaril-KoA membentuk
mevalonate dengan didonornya 2 elektron dari
NADPH. Proses ini juga dibantu oleh katalis HMGKoA reduktase. Proses pembentukan mevalonate
terjadi di sitosol dengan bantua energi dari
mitokondria.

Sintesis Isoprenoid
Dalam tahapan sintesis kolesterol, langkah
kedua adalah pembentukan isoprenoid. Langkah
awal yaitu dengan bantuan ATP dan katalis
mevalonate kinase, mevalonate akan difosforilasi
menjadi 5-fosfomevalonate. Dengan bantuan dengan
ATP dan fosfo-mevalonate kinase, 5-fosfomevalonate
akan diubah menjadi 5-pirofosfomevalonate. 3isopentenil pirofosfat dihasilkan dengan bantuan ATP
dan fosfomevalonate de-karboksilase. Selanjutnya 3isopentenil pirofosfat diubah menjadi 3-fosfo-5-piroGambar 16. Sintesis Mevalonate
osfomevalonat dengan hasil fosforilasi gugus hidroksi dari pirofosfomevalonate. Hingga di
akhir dihasilkan 3-isopentil pirofosfate atau dimetilalil pirofosfat.

Sintesis Skualen
Tahapan pembentukan selanjutnya adalah sintesis skualen dengan awalnya 3,3-dimetil
alil pirofosfat dan 3-isopentenil pirofosfat akan berkondensasi dengan bantuan dimetil alil
transferase membentuk geranil pirofosfat (10 C). Geranil pirofosfat akan di transfer ke
isopentenil pirofosfat dan akan menghasilkan farnesil pirofosfat (15 C). Proses ini dibantu oleh
pherenil tranferase. Hingga akhirnya 2 molekul farnesil pirofosfat akan berkondensasi
membentuk preskualen. Dengan bantuan sintesis preskualen akan dibentuk skualen yang
sudah simetris.

Gambar 18. Sintesis Skualen

Gambar 17. Sintesis Isoprenoid

Sintesis Kolesterol

Dengan
bantuan
enzim
skualen
monooksigenisase
dan
NADPH dan oksigen, skualen
akan diubah menjadi skualen
2,3-epoksida. Skualen 2,3epoksida disiklisasi dengan
enzim
siklase
skualen
epoksida menjadi ianosterol.
Ianosterol
akan
diubah
menjadi kolesterol dengan
reaksi perpindahan metil dan
reaksi reduksi.
Gambar 16. Sintesis Kolesterol

Steroid
Hormon steroid dibentuk dari pemecahan sisi rantai dan oksidasi dari kolesterol.
Hormon Steroid terdiri dari Progestagen, Glukokortikoid, Mineralokortikoid, Androgen
(hormon pria) dan Estrogen (hormon wanita).
Gambar 19. Sintesis Kolestrol

Gambar 20. Turunan Hormon Steroid untuk Kolesterol


Kesimpulan
Asam lemak jenuh rantai panjang dapat disintesis dari asetil-KoA dari sistem sitosolik dengan
6 aktivitas enzimatik dan protein pembawa acil (ACP)
Terdapa dua tipe sintesis asam lemak yaitu FAS I dan FAS II
6 Molekul malonil-ACP bereaksi membentuk palmitol-ACP yang merupakan produk akhir dari
reaksi sintesis asam lemak
Palmitat dapat dipanjangkan menjadi 18 karbon stearat yang dapat diubah menjadi asam
lemak
Triagliserol dibentuk dari reaksi antara 2 molekul asil lemak-KoA dengan gliserol 3-fosfat untuk
membentuk asam fosfatidik yang kemudian dapat diubah menjadi triasilsliserol
Diasilgliserol adalah pemicu terpenting dari gliserofosfolipid
Biosintesis spingolipid memiliki 4 tahap yang dimulai dari 18 karbon amina
Pembentukan kolestrol memiliki 4 tahap yaitu sintesis mevalonate, sintesis isoprenoid, sintesis
skualen dan sintesis akhir kolestrol
Hormon steroid diproduksi dari kolestrol dengan alterasi rantai sampingnya dan dengan ikatan
atom oksigen ke sistem cincin steroid
Daftar Pustaka

Lehninger, Nelson, dan Cox. 2008. Principles of Biochemistry. USA: Freeman and Company