Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

Mata kering adalah kondisi yang sangat umum terjadi, yang mempengaruhi sebagian
besar orang pada tahap tertentu dalam kehidupan mereka. Hal ini juga kondisi mata yang paling
umum yang dilihat oleh ophtalmologis.2
Mata kering merupakan penyakit multifaktorial pada kelenjar air mata dan permukaan
okuler yang menghasilkan gejala-gejala ketidaknyamanan, gangguan pengelihatan, air mata yang
tidak stabil sehingga berpotensi untuk menimbulkan kerusakan pada permukaan okuler. Dry eye
sering disertai dengan peningkatan osmolaritas dari air mata dan peradangan dari permukaan
mata.
Sindrom mata kering, atau keratoconjunctivitis sicca (KCS) adalah penyakit mata dimana
jumlah atau kualitas produksi air mata berkurang atau penguapan air mata film meningkat. 1
Terjemahan dari "keratoconjunctivitis sicca" dari bahasa Latin adalah "kekeringan kornea dan
konjungtiva
DRY EYE
Dry Eye Syndrome atau yang disebut juga dengan keratokonjungtivitis sika terjadi pada
orang dengan produksi lapisan air mata tidak seimbang baik kualitas maupun kuantitasnya.
Fungsi lapisan air mata akan memberikan pelumasan di permukaan bola mata sehingga menjadi
jernih dan licin, maka orang dapat melihat dengan nyaman.
Sindroma mata kering (keratokonjungtivitis sika) dapat disebabkan oleh sembarang
penyakit yang berkaitan dengan defisiensi komponen-komponen air mata (akuosa, musinosa, atau
lipid), kelainan permukaan palpebra, atau kelainan-kelainan epitel. Walaupun terdapat berbagai
bentuk keratokonjungtivitis sika, yang berhubungan dengan arthritis rheumatoid dan penyakit
autoimun lainnya biasanya dikategorikan sebagai sindrom Sjorgen1.
Gejala keratokonjungtivitis sika didapati sebanyak 20% pada wanita dan 15% pada pria
antara usia 45 sampai 54 tahun. Sedangkan antara usia 55 sampai 60 tahun didapati sebanyak
22% wanita dan 10% pria yang mengalami gejala keratokonjungtivitis sika14.
Secara umum, mata kering disebabkan oleh gangguan pada unit fungsi lakrimal (UFL),
mencakup integrasi system glandula lakrimal, permukaan ocular dan kelopak mata, dan saraf
motorik dan sensorik yang menyambungkan mereka. Unit fungsional ini mengatur komponen
utama film air mata dalam regulasi dan berespon pada pengaruh lingkungan, endokrin dan
kortikal. Keseluruhan fungsi ini untuk memroses integritas film air mata, kejernihan kornea dan

kualitas gambar yang diproyeksikan ke retina. Ketika penyakit dan kerusakan pada komponen
UFL dapat menyebabkan mata kering, mekanisme inti dari mata kering dikendalikan oleh
hiperosmolaritas air mata dan ketidakstabilan film air mata8.
Hiperosmolaritas air mata menyebabkan kerusakan pada permukaan epitel dengan
mengaktifkan kaskade inflamasi pada permukaan okular dan melepaskan mediator inflamasi
kedalam air mata. Kerusakan epitel melibatkan kematian sel dengan apoptosis, hilangnya sel
goblet dan gangguan paparan musin, memicu ketidakstabilan film air mata. Eksaserbasi
ketidakstabilan hiperosmolaritas permukaan okular dan melengkapi kemantapan lingkaran.
Ketidakstabilan film air mata dapat dimulai, tanpa kehadiran hiperosmolaritas air mata, oleh
beberapa etiologi, seperti xeroptalmia, alergi okular, penggunaan topikal dan pemakaian lensa
kontak8.
Kerusakan epitel disebabkan oleh mata kering yang menstimulasi akhir persarafan kornea,
mengarahkan pada gejala ketidaknyamanan, meningkatkan penutupan mata dan secara potensial
mengkompensasi refleks sekresi air mata. Hilangnya musin normal pada permukaan okular
berkontribusi pada gejala peningkatan resistensi gesekan antara kelopak mata dan bola mata8.
Hal utama yang diakibatkan oleh hiperosmolaritas air mata adalah berkurangnya aliran
akuos air mata, menghasilkan kegagalan lakrimal, dan/atau meningkatkan evaporasi film air
mata. Peningkatan evaporasi dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang rendah kelembaban dan
tingginya aliran udara dan menyebabkan secara klinis disfungsi glandula meibom (DGM), yang
menyebabkan ketidakstabilan lapisan lipid air mata. Kualitas minyak kelopak mata dimodifikasi
oleh aksi esterase dan lipase yang dilepaskan oleh flora komensal di kelopak mata, yang
jumlahnya meningkat pada blepharitis. Penurunan aliran akuos air mata adalah akibat
terganggunya pengiriman cairan lakrimal ke saccus konjungtiva. Masih belum jelas apakah hal
ini diakibatkan kejadian yang normal pada penuaan, tetapi ini dapat dipicu oleh obat-obatan
sistemik tertentu, seperti antihistamin dan agen antimuskarinik. Hal utama yang paling umu
menyebabkan kerusakan inflamasi lakrimal, terlihat pada kelainan autoimun seperti sindroma
Sjorgen dan juga non-Sjorgen. Inflamasi menyebabkan kerusakan jaringan dan hambatan
neurosekretorik yang reversibel. Penghambatan reseptor dapat juga disebabkan oleh sirkulasi
antibodi di reseptor M38.
Pengiriman air mata dapat terhambat oleh sikratiks konjungtiva akibat luka atau penurunan
refleks sensorik ke glandula lakrimal dari permukaan okular. Akhirnya, kerusakan permukaan
yang kronik dari mata kering mengarahkan pada gagalnya sensitivitas kornea dan penurunan
refleks sekresi air mata. Berbagai etiologi dapat menyebabkan mata kering, oleh mekanisme blok

refleks sekresi, termasuk operasi refraksi (LASIK), pemakaian lensa kontak dan penyalahgunaan
anastesi topikal yang kronik8.

MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan mata kering paling sering mengeluhkan tentang iritasi, benda asing
(berpasir), sensasi terbakar, ketidaknyamanan okular yang tidak spesifik, fotosensitivitas, mata
merah, sakit, air mata berlebihan (refleks lakrimasi) dari hanya akibat lingkungan yang kecil
seperti tiupan angin, dingin, kelembaban rendah, atau membaca dalam waktu yang lama 16,17. Pada
kebanyakan pasien, ciri paling luar biasa pada pemeriksaan mata adalah tampilan yang nyatanyata normal. Ciri yang paling khas pada pemeriksaan slitlamp adalah terputus atau tiadanya
meniskus air mata di tepian palpebra inferior. Benang-benang mukus kental kekuning-kuningan
kadang-kadang terlihat dalam fornix conjungtivae inferior. Pada konjungtiva bulbi tidak tampak
kilauan yang normal dan mungkin menebal, beredema dan hiperemik1.
Epitel kornea terlihat bertitik halus pada fissura interpalpebra. Sel-sel epitel konjungtiva
dan kornea yang rusak terpulas dengan bengal rose 1% dan defek pada epitel kornea terpulas
dengan fluorescein. Pada tahap lanjut keratokonjungtivitia sika tampak filamen-filamen dimana
satu ujung setiap filamen melekat pada epitel kornea dan ujung lain bergerak bebas. Pada pasien
dengan sindrom sjorgen, kerokan dari konjungtiva menunjukkan peningkatan jumlah sel goblet.
Pembesaran kelenjar lakrimal kadang-kadang terjadi pada sindrom sjorgen1.
DIAGNOSIS
a. anamnesis
perlu dilakukan pemeriksan riwayat penyakit untuk menegakkan
diagnosis sindroma dry-eyes seperti ada tidaknya:
Iritasi okuler dengan gejala klinis seperti rasa kering , rasa terbakar, gatal,
nyeri , rasa adanya benda asing pada mata, fotofobia, pandangan berkabut.
Biasanya gejala tersebut dicetuskan pada lingkungan berasap atau kering,
aktivitas panas indoor, membaca lama, pemakaian komputer jangka panjang.
Pada KCS, gejala-gejala akan semakin memburuk setiap harinya dengan
penggunaan mata yang lebih memanjang dan paparan lingkungan. Pasien
dengan disfungsi kelenjar meibomian kadang mengeluh mata merah pada

kelopak mata dan konjuntiva tetapi pasien-pasien tersebut memperlihatkan


perburukan gejala terutama pada pagi hari.
Terkadang, pasien mengeluh sekret air mata yang berlebihan, hal ini
disebabkan karena reflek menangis mata yang meningkat karena permukaan
kornea yang mengering
Pemakaian obat-obatan sistemik, karena dapat menurunkan produksi air
mata seperti antihistamin, beta bloker dan kontrasepsi oral.
Riwayat penyakit dahulu berupa kelainan jaringan ikat, artritis reumatoid,

atau abnormalitas tiroid. Terkadang pasien juga mengeluh mulut kering


b. Pemeriksaan fisik
gejala dari sindroma dry eyes meliputi:
Dilatasi vaskuler konjuntiva bulbi
Penurunan meniskus air mata
Permukaan kornea yang ireguler
Penurunan absorbsi air mata
Keratopati epitel kornea punctata
Kornea berfilamen
Peningkatan debris pada lapisan air mata
Keratitis puntata superfisialis
Sekret mukus
Pada kasus berat, ulkus kornea
Gejala-gejala dry eyes tidak berhubungan dengan tanda-tanda dry
eyes. Pada kasus berat, juga ditemukan defek epitel atau infiltrasi kornea
steril atau ulkus kornea. Keratitis sekunder juga dapat terjadi. Baik perforasi
kornea karena steril atau infeksi dapat terjadi.
Diagnosis dan penderajatan keadaan mata kering dapat diperoleh dengan teliti memakai
cara diagnostik berikut:1,3,16
A. Tes Schirmer
Tes ini dilakukan dengan mengeringkan film air mata dan memasukkan
strip Schirmer (kertas saring Whatman No. 41) kedalam cul de sac
konjungtiva inferior pada batas sepertiga tengah dan temporal dari palpebra
inferior. Bagian basah yang terpapar diukur 5 menit setelah dimasukkan.
Panjang bagian basah kurang dari 10 mm tanpa anestesi dianggap abnormal.
Bila dilakukan tanpa anestesi, tes ini mengukur fungsi kelenjar lakrimal
utama, yang aktivitas sekresinya dirangsang oleh iritasi kertas saring itu. Tes
Schirmer yang dilakukan setelah anestesi topikal (tetracaine 0.5%) mengukur
fungsi kelenjar lakrimal tambahan (pensekresi basa). Kurang dari 5 mm
dalam 5 menit adalah abnormal.

Tes Schirmer adalah tes saringan bagi penilaian produksi air mata.
Dijumpai hasil false positive dan false negative. Hasil rendah kadang-kadang
dijumpai pada orang normal, dan tes normal dijumpai pada mata kering
terutama yang sekunder terhadap defisiensi musin.

Gambar. Tes Schirmer

B. Tear film break-up time


Pengukuran tear film break-up time kadang-kadang berguna untuk
memperkirakan kandungan musin dalam cairan air mata. Kekurangan musin
mungkin tidak mempengaruhi tes Schirmer namun dapat berakibat tidak
stabilnya film air mata. Ini yang menyebabkan lapisan itu mudah pecah.
Bintik-bitik kering terbentuk dalam film air mata, sehingga memaparkan
epitel kornea atau konjungtiva. Proses ini pada akhirnya merusak sel-sel
epitel, yang dapat dipulas dengan bengal rose. Sel-sel epitel yang rusak
dilepaskan kornea, meninggalkan daerah-daerah kecil yang dapat dipulas,
bila permukaan kornea dibasahi flourescein.
Tear film break-up time dapat diukur dengan meletakkan secarik keras
berflouresein pada konjungtiva bulbi dan meminta pasien berkedip. Film air
mata kemudian diperiksa dengan bantuan saringan cobalt pada slitlamp,
sementara pasien diminta agar tidak berkedip. Waktu sampai munculnya
titik-titik kering yang pertama dalam lapisan flouresein kornea adalah tear
film break-up time. Biasanya waktu ini lebih dari 15 detik, namun akan
berkurang nyata oleh anestetika lokal, memanipulasi mata, atau dengan
menahan palpebra agar tetap terbuka. Waktu ini lebih pendek pada mata

dengan defisiensi air pada air mata dan selalu lebih pendek dari normalnya
pada mata dengan defisiensi musin.
C. Pemulasan Flouresein
Menyentuh konjungtiva dengan secarik kertas kering berflouresein
adalah indikator baik untuk derajat basahnya mata, dan meniskus air mata
mudah terlihat. Flouresein akan memulas daerah-daerah tererosi dan terluka
selain defek mikroskopik pada epitel kornea.
D. Pemulasan Bengal Rose
Bengal rose lebih sensitif dari flouresein. Pewarna ini akan memulas
semua sel epitel non-vital yang mengering dari kornea konjungtiva.

Gambar . Pemulasan Bengal Rose


DIAGNOSIS BANDING
1. Blepharitis12
Dalam blepharitis , kontak yang terlalu lama untuk mediator inflamasi dalam lapisan air mata saat
tidur dapat menyebabkan iritasi mata setelah bangun . Dengan demikian , pasien blepharitis
cenderung mendapatkan gejala pada pagi hari. Untuk pasien penyakit mata kering , mata sering
terpapar dengan lingkungan akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan sepanjang hari , sehingga
gejala mereka biasa puncaknya pada sore atau malam hari.13
2. Konjungtivitis alergi12
Orang dengan konjungtivitis alergi musiman biasanya memiliki gejala konjungtivitis alergi akut
untuk jangka waktu tertentu , yaitu pada musim semi , ketika alergen udara yang dominan adalah
serbuk sari pohon di musim panas, serbuk sari rumput, atau gulma serbuk sari . Biasanya, orang
dengan konjungtivitis alergi musiman adalah gejalanya hilang selama musim dingin karena
penularan melalui udara menurun dari alergen tersebut. Konjungtivitis alergi musiman dapat
memanifestasikan dirinya melalui ketidakstabilan lapisan air mata dan gejala ketidaknyamanan
pada mata selama musim serbuk sari . Satu studi menemukan bahwa di luar musim serbuk sari,
peradangan alergi tidak menyebabkan ketidakstabilan lapisan air mata permanen.14

TATALAKSANA

Modifikasi perilaku dan lingkungan :2


Istirahat saat membaca, dan ketika bekerja di depan komputer
Humidifikasi lingkungan
Menurunkan tinggi dari monitor komputer untuk mengurangi celah kelopak mata.
Moisture ruang eye-wear. Ini membungkus di sekitar mata, membantu untuk
mempertahankan kelembaban, dan melindungi mata dari iritasi.
INTERVENSI BEDAH
Oklusi punctal dapat dipertimbangkan pada pasien dengan defisiensi air mata, ketika

strategi lain tidak berhasil. Oklusi punctal dapat dilakukan dengan punctal plug sementara, atau
permanen, dengan canaliculoplasty argon laser, thermocautery, atau jarum radio frekuensi.2

Gambar 9. Pungtal plug silikon (kepustakaan 7)


PENGGANTI AIR MATA
Pengganti air mata dianggap pengobatan lini pertama untuk defisiensi air mata ringan
sampai sedang. Sediaan yang tersedia adalah tetes, gel dan salep. Pengganti air mata sebagian
besar mengandung selulosa untuk mempertahankan viskositas, dan agen penyebaran, misalnya
polietilen glikol, atau polivinil alkohol, untuk mencegah evaporasi.2
Sediaan yang lebih kental, misalnya gel dan salep, bisa meringankan gejala untuk jangka
waktu yang lama, tetapi dapat menyebabkan penglihatan kabur sesaat setelah pemberian.
Rekomendasi umum adalah dengan menggunakan sediaan ini sebelum waktu tidur.2
Sediaan yang bebas pengawet lebih disukai, yang mengandung pengawet seperti,
khususnya benzylkonium klorida, yang ditoleransi buruk, dan berpotensi berbahaya dalam kasus
sedang sampai berat dari dry eyes.2
TERAPI ANTI-INFLAMASI
SIKLOSPORIN
Siklosporin adalah agen imunosupresif digunakan secara sistemik dalam organ
transplantasi pasien. Pada tahun 1995, siklosporin telah disetujui di Amerika Serikat untuk
mengobati mata kering pada anjing. Pada tahun 2003, pengujian pada manusia menyebabkan
persetujuan US Food and Drug Administration untuk pengobatan dry eyes.2
Mekanisme yang tepat dari pemberian siklosporin dalam pengobatan mata kering tidak
sepenuhnya dipahami, namun diperkirakan sebagai imunomodulator parsial, dan anti-inflamasi,
yang mana dapat menghentikan aktivasi sel T, sehingga mencegah sel T yang akan melepaskan

sitokin untuk memulai siklus inflamasi pada dry eyes.2


Siklosporin A (Cyclokat) adalah emulsi kationik dari siklosporin A. Emulsi bermuatan
positif elektrostatis melekat pada lapisan epitel bermuatan negatif dari mata, sehingga
meningkatkan penyerapan okular. Siklosporin A adalah obat imunomodulasi yang bertindak
untuk mengurangi peradangan mata yang berhubungan dengan sindrom dry eyes dengan
peningkatan atau pemulihan sekresi kelenjar lakrimal. Cyclokat ditujukan untuk pengobatan
keratoconjunctivitis sicca yang berat. Hal ini diberikan secara topikal pada dosis 1mg/ml sekali
sehari.11
KORTIKOSTEROID
Beberapa studi telah menemukan bahwa kortikosteroid topikal atau sistemik efektif dalam
pengobatan mata kering. Namun, pasien harus secara teratur dipantau terkait komplikasi steroid ,
seperti glaukoma, infeksi dan subcapsular cataracts.2

Gambar 10. Kategori terapi dry eye (kepustakaan 5)

Gambar 11. Rekomendasi terapi menurut stadium (kepustakaan 5)


Perawatan dan Terapi :
Terapi antara pasien satu dengan yang lain berbeda tergantung dari

seberapa berat kondisi mata keringnya dan apa penyebabnya. Dokter mata
pada umumnya akan memberikan tetes mata buatan (artificial tears) yang
membantu mengurangi gejala diatas (sebaiknya dipilih yang tanpa
pengawet). Pengguna lensa kontak sebaiknya melepaskan kontak lensanya
sebelum memberikan tetes mata air buatan.
Perawatan di rumah yang dapat dilakukan :
- Memakai kacamata pelindung untuk mencegah tiupan angin dan panas
matahari
- Hindari tiupan AC-Hydryer langsung pada mata
- Usahan kelrembaban rumah antara 30-50 %
- Memakai obat tetes mata pelembab, lubrikan sediaan gel sebelum gejala
memberat
- Mata kadang dikompres dengan air hangat atau digosok dengan baby oil
agar mendapatkan lipid lebih tebal
- Jangan menahan berkedip, tutup mata selama 10 detik setiap 10 menit
setelah mata terbuka sehingga akan memberikan rasa nyaman pada mata

PEMBAHASAN KASUS
Referensi

1. Salmon, JF. 2007.Lid Lacrimal Apparatus and Tears. In General


Ophthalmology Vaughan D, Asbury T, Rordian Eva P.The McGraw-Hill ED
17 : 95-98
2. James, B., Chew, C., Bron, A. Lecture Notes on Ophtalmology. Anatomy. 4-5, 593. Kanski, Jack J., 2007. Kanski Clinical Ophthalmology A Systematic
Approach. Ed_6. Elsevier;151, 205-212.
4. Modis, L., Szalai, E. 2012. Dry Eye Diagnosis and Management.
Available

from:

http://www.medscape.org/viewarticle/737035_7.

[Accessed 20 januari2013].
5. Mitra, S. 2012. Dry Eyes: Common Eye problem in the Middle East.
Available
http://www.gulfmd.com/dr_articles/Dryeyes_dr_Sandip_Mitra.asp?
id=24. [Accessed 20 januari 2013].

from:

6. Amerian Optomeric Association. 2006-12. Dry Eye. Available from:


http://www.aoa.org/x4717.xml. [Accessed 20 januari 2013].
7. The Ocular Surface. Special Issue: 2007 Report of International Dry Eye Workshop
(DEWS). The Ocular Surface Vol. 5, No. 2.
8. Lemp, M A, Foulks, G N. 2008. The Definition & Classification of Dry Eye Disease
Guidelines from the 2007 International Dry Eye Workshop.
9. The Ocular Surface. Special Issue: The Epidemiology of Dry Eye Disease : Report of the
Epidemiology Subcommittee of the International Dry Eye Work Shop (2007). Vol. 5, No.
2.
10. Foster,

C.S.

2012.

Dry

Eye

Syndrome.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/1210417-overview#aw2aab6b2b4. [Accessed 20
januari 2013].
11.

Perry,

H.D.

Classification,

2008.
and

Dry

Eye

Diagnosis.

http://www.ajmc.com/publications/

Disease:

Pathophysiology,

Available

from:

supplement/2008/2008-04-vol14-

n3Suppl/Apr08-3141pS079-S087/. [ Accessed 20 januari 2013].


12.
Remington, A. 2005. Chapter 9 Ocular Adneksa dan Sistem
Lakrimalis. In: Clinical Anatomy of the Visual System. USA: Elsevier Inc
p160-1, 163-4.
13.
Perry, H.D.
Classification,

2008.
and

Dry

Eye

Diagnosis.

http://www.ajmc.com/publications/

Disease:

Pathophysiology,

Available

from:

supplement/2008/2008-04-vol14-

n3Suppl/Apr08-3141pS079-S087/. [ Accessed 20 januari 2013].


14.
Schlote, T., Rohrbach, J., Grueb, M., Mielke, J. 2006. Chapter 4
Lacrimal Apparatus. Pocket Atlas of Ophthalmology. NewYork Thieme.
p34.
15.
Ilyas S. 2009. Ilmu penyakit mata edisi ketiga. Jakarta: Balai
penerbit FK UI; 140-141.
16.
Wagner, P. Lang, G.K. 2000. Chapter 3 Lacrimal System. In:
Lang,G.K. Opthalmology A Short Textbook. New York: Thieme. p50-51
17.
Khurana, A K. 2007. Diseases of the Lacrimal Apparatus. In
Comprehensive Ophthalmology Fourth Edition. India: New Age
Internationa; 363-366.