Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Periode segera setelah lahir merupakan awal kehidupan yang tidak
menyenangkan bagi bayi. Hal tersebut disebabkan oleh lingkungan kehidupan
sebelumnya (intrauterus) dengan lingkungan kehidupan sekarang (ekstrauterus) yang
sangat berbeda. Di dalam uterus, janin hidup dan tumbuh denga segala kenyamanan
karena ia tumbuh dari hari ke hari tanpa upaya dari dirinya sendiri. Hal ini berarti janin
tumbuh dan hidup bergantung penuh kepada ibunya (Surasmi, 2003).
Di luar uterus diawali dengan proses persalinan yang merupakan suatu keadaan
tidak nyaman (stressor) bagi bayi, Ia harus mampu hidup dengan upayanya sendiri,
jadi hidupnya tidak bergantung lagi pada ibunya. Proses penyesuaian kehidupan dari
dalam uterus ke luar uterus ini merupakan masa yang sulit bagi bayi. Masa transisi ini
adalah fase kritis bagi kehidupan bayi. Bagaimanapun beratnya proses adaptasi
lingkungan yang dihadapi bayi, umumnya bayi yang dilahirkan dalam kondisi normal
dapat melewati masa tersebut dengan baik (Handayani, 2003).
Sebaliknya bagi bayi yang dilahirkan dalam keadaan belum siap (premature)
ataupun bayi yang lahir disertai penyulit atau komplikasi, tentunya proses adaptasi
kehidupan tersebut menjadi lebih sulit untuk dilaluinya. Bahkan seringkali menjadi
pemicu timbulnya komplikasi lain yang menyebabkan bayi tersebut tidak mampu
melanjutkan kehidupan ke fase lanjut (meninggal). Bayi seperti ini yang kita sebut
dengan istilah bayi risiko tinggi (Surasmi, 2003).
Bayi risiko tinggi adalah bayi yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk
menderita sakit atau kematian dari pada bayi lain, tanpa memperhatikan usia gestasi
atau berat badan lahir yang mempunyai kemungkinan morbiditas atau martalitas yang

lebih besar. Istilah bayi risiko tinggi digunakan untuk menyatakan bahwa bayi
memerlukan perawatan dan pengawasan yang ketat. Pengawasan dapat dilakukan
beberapa jam sampai beberapa hari. Pada umumnya risiko tinggi terjadi pada bayi bayi
sejak lahir sampai usia 28 hari yang disebut neonatus. Hal ini disebabkan kondisi atau
keadaan bayi yang berhubungan dengan kondisi kehamilan, persalinan, dan
penyesuaian dengan kehidupan di luar rahim (Wong, 2003).
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bayi risiko
tinggi dapat hidup dengan baik tanpa mengalami cacat. Hal ini terjadi jika ia dirawat
di ruang perawatan intensif neonatus, dengan tenaga perawat yang memiliki keahlian
dibidaang tersebut. Data Infant Mortality Rate (IMR) di Indonesia masih tinggi,
kenyataan bahwa penyumbang terbesar dari IMR tersebut berasal dari kelompok bayi
risiko tinggi. Dengan demikian pengetahuan tentang perawatan bayi risiko tinggi
sangat penting untuk menurunkan IMR.
Di rumah sakit, bayi yang bermasalah dengan berat badan akan mendapatkan
perawatan intensif dari dokter dan para petugas medis agar dapat memperoleh berat
badan yang ideal. Seringkali perawatan dilakukan di ruang khusus. yakni Neo-natal
Intensive Care Unit (NICU). Meski teknologi kesehatan saat ini sudah bisa
mengurangi jumlah kematian bayi akibat BBLR, tetapi masih terdapat bayi-bayi yang
walau dapat bertahan hidup namun memiliki sejumlah masalah kesehatan. Seperti,
chronic lung disease (kelainan jantung), cognitive delays (keterlambatan dalam
belajar), cerebral palsy, dan neurosensory deficits (misal : ketulian dan kebutaan).
Perawatan BBLR

merupakan

hal

yang

kompleks dan membutuhkan

infrastruktur yang mahal serta staf yang memiliki keahlian tinggi, karena
bayi

tersebut

memerlukan

perawatan

dalam

inkubator,

selain

itu

p e r a w a t a n inkubator memiliki kendala yaitu adanya keterbatasan jumlah

inkubator, pengetahuan dan kemampuan dari staf rumah sakit sehingga hal
ini dapat mempengaruhi angka kematian pada neonatus dinegara tersebut. Inkubator
j u g a m e n y e b a b k a n b a y i t e r p i s a h d a r i i b u n ya d a n k u r a n g a d a n y a
k o n t a k dengan ibu.
Perlunya alternative lain untuk perawatan bayi prematur yang saat ini
dikenal Perawatan Metode Kangguru (PMK). Perawatan Metode Kangguru (PMK)
adalah pendekatan lebih humanistik dan merupakan metode perawatan dini dengan
sentuhan kulit ke kulit antara ibu dan bayi baru lahir dalam posisi seperti kanguru.
Dengan metode ini mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi baru lahir prematur
dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu. Sehingga
memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar. Perawatan kanguru
ini telah terbukti dapat menghasilkan pengaturan suhu tubuh yang efektif dan lama
serta denyut jantung dan pernafasan yang stabil pada bayi prematur. Perawatan kulit
ke kulit mendorong bayi untuk mencari puting dan mengisapnya, hal ini mempererat
ikatan antara ibu dan bayi serta membantu keberhasilan pemberian ASI (Henderson,
2006).
Selama hampir dua dekade dilakukan penerapan dan penelitian yang
berkaitan dengan metode ini untuk membuktikan bahwa PMK lebih dari
sekedar alternatif untuk perawatan dengan inkubator. Hasil penelitian dan penerapan
tersebut menunjukkan bahwa metode ini sangat efektif untuk mengontrol suhu
tubuh, pemberian ASI dan terjalinnya hubungan batin yang kuat antara ibu dan
bayi (bonding), tanpa memperhatikan tempat, berat badan, usia kehamilan, dan
kondisi klinisnya dan menurunkan kesakitan pada bayi baru lahir dengan
prematur dan BBLR (Perinasia, 2008).

Dengan ditemukannya metode kanguru telah terjadi perubahan perawatan


BBLR. Metode ini bermanfaat bagi bayi premature untuk membantu pemulihan akibat
dari prematuritasnya dan menolong orang tua agar lebih percaya diri serta berperan
aktif dalam merawat bayinya.
RSUD Raden Mattaher Jambi mencatat bahwa bayi yang mengalami BBLR
menempati peringkat tertinggi dibanding kasus lainnya serta adanya peningkatan
kasus bayi risiko tinggi dengan BBLR, secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.1
Distribusi proporsi Bayi dirawat berdasarkan Jenis Kasus
di Perinatologi RSDU Raden Mattaher Jambi tahun 2010
Jenis Kasus
BBLR
Aspiksia
Ikterik
Lain lain
Total

Jumlah
165
115
142
118
540

Persen
31 %
21 %
26,2 %
21,8 %
100 %

Medical record perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi

Bayi BBLR mempunyai masalah suhu tubuh yaitu hipertermi, untuk melakukan
perawatannya bayi dirawat dalam tempat tidur dengan inkubator. Jumlah inkubator yang
ada di ruang perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi masih sangat terbatas, tidak jarang
dalam satu inkubator diletakan 2 orang bayi BBLR, bahkan ada yang harus bergantian
untuk mendapatkan perawatan dalam inkubator. Masalah tersebut menjadi kendala belum
optimalnya pengaturan suhu bayi BBLR. Belum lama ini ruang perinatologi mencoba
memanfaatkan metode kanguru dalam membantu merawat bayi BBLR, namun hasilnya
belum optimal. Kurangnya pengetahuan ibu tentang perawatan bayi BBLR dengan metode
kanguru dan keterbatasan jumlah petugas untuk memberikan pendidikan kesehatan
menjadi salah satu kendala dalam keberhasilan penerapannya.

Berdasarkan survey awal peneliti dengan melakukan wawancara terhadap 6 ibu


yang anaknya dirawat karena BBLR di ruang perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi,
semuanya menyatakan belum pernah mendengar dan tidak tahu sama sekali tentang
perawatan bayi dengan metode kanguru. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti
tertarik untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan bayi BBLR dengan
metode kanguru di ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian
ini adalah bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi dengan
metode kanguru sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada Ibu yang
mempunyai bayi Berat Badan lahir Rendah (BBLR) di Ruang Perinatologi RSUD
Raden Mattaher Jambi tahun 2011?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi dengan
metode kanguru sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada Ibu
yang mempunyai bayi Berat Badan lahir Rendah (BBLR) di Ruang Perinatologi
RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi dengan
metode kanguru sebelum diberikan pendidikan kesehatan pada Ibu yang
mempunyai bayi Berat Badan lahir Rendah (BBLR) di Ruang Perinatologi
RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011

b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi dengan


metode kanguru sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada Ibu yang
mempunyai bayi Berat Badan lahir Rendah (BBLR) di Ruang Perinatologi
RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2011

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini berguna dalam menambah wawasan dan pengetahuan peneliti
khususnya tentang perawatan bayi dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR)
dengan metode kanguru.
2. Bagi rumah sakit
Penelitian ini dapat dijadikan dasar pemikiran bagi rumah sakit terutama
dalam hal menyusun kebijakan tentang prosedur perawatan bayi dengan Berat
Badan lahir Rendah (BBLR) dengan metode kanguru.
3. Bagi masyarakat
Dengan adanya penelitian ini masyarakat mendapatkan informasi tentang
perawatan bayi dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR) sehingga bagi mereka
yang memiliki bayi dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR) dapat melakukan
perawatan di rumah menggunakan metode kanguru dengan baik dan benar.

E. Ruang Lingkup Penelitian


Metode penelitian ini adalah deskriptif dengan desain pre eksperimen karena
penelitian ini di tujukan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang
perawatan bayi dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR) dengan metode kanguru
sebelum dan setelah diberikan pendidikan. Penelitian dilakukan di ruang Perinatologi

RSUD Raden Mattaher Jambi dengan sampel penelitian adalah ibu yang memiliki bayi
dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR). Penelitian dilakukan pada tanggal 1 s/d 29
September 2011. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap ibu dan
memberikan intervensi berupa pendidikan kesehatan, dan analisis data menggunakan
analisis univariat.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
1. Definisi
Dahulu bayi baru lahir yang berat badannya 2500 gram atau kurang disebut bayi
prematur. Ternyata morbiditas dan mortalitas neonatus tidak hanya tergantung pada
berat badannya tetapi juga pada tingkat kematangan (maturitas) bayi tersebut.
World Health Organization (WHO) pada tahun 1961 menyatakan bahwa semua
bayi baru lahir yang berat badannya kurang atau sama dengan 2500 gram disebut
low birth weight infant (bayi berat badan lahir rendah) (Surasmi, 2003)
bayi yang lahir dengan berat rendah secara garis besar dibagi sebagai berikut :
a. Kurang dari 2500 gram : infant with low birth weight/ LBW (bayi lahir bobot
rendah).
b. Kurang dari 1500 gram : very low birth weight/ VLBW (berat sangat kurang)
c. Kurang dari 1000 gram : extremely low birth weight/ ELBW (berat sangat
kurang sekali).
2. Etiologi
a. Faktor Ibu
1) Tumor (misalnya : mioma, uteri, sistoma)
2) Ibu yang menderita panyakit antara lain:
a) Akut dengan gejala panas tinggi (misalnya : tifus abdominalis, malaria)
b) Kronis (misalnya : TBC, penyakit jantung)
c) Trauma pada masa kehamilan antara lain:
d) Fisik (misalnya : jatuh)
e) Psikologis (misalnya : stress)

3)

Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau hamil lebih dari 35
tahun

b. Faktor janin
1) Kehamilan ganda
2) Ketuban pecah dini
3) Cacat bawaan
4) Infeksi ( misalnya: rubella, sifilis, toksiopiasmosis)
5) Insufiensi plasenta
c. Faktor plasenta
1) Plasenta previa
2) Solusio plasenta
d. Tidak diketahui/ kebiasaan, seperti; Merokok

3. Tanda bayi prematur


Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, bergantung pada usia
kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin prematur atau makin kecil umur kehamilan
saat dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir cukup bulan,
adapun tanda dan gejala bayi prematur adalah sebagai berikut (Surasmi, 2003):
a. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu
b. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram
c. Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm
d. Kuku panjangnya belum melewati ujung jari
e. Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas
f. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm

10

g. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm


h. Rambut lanugo masih banyak
i. Jaringan lemak sub kutan tipis atau kurang
j. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakaannya lemah
k. Fungsi saraf belum matang, akibatnya refleks hisap, menelan , dan batuk masih
lemah, dan tangisan lemah

4. Penyulit yang dapat terjadi


Tingkat kematangan fungsi sistem organ neonatus merupakan syarat untuk dapat
beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim. Konsekuensi dari anatomi dan
fisiologi yang belum matang, bayi prematur cenderung mengalami masalah yang
bervariasi. Hal ini harus diantisipasi dan dikelola pada masa neonatal. Adapau
masalah-masalah yang dapat terjadi antara lain (Handayani, 2003):
a. Hipotermia
Dalam kandungan bayi berada dalam suhu lingkungan yang normal dan stabil
yaitu 36oC sampai dengan 37oC. Segera setelah lahir dihadapkan pada suhu
lingkungan yang umumnya lebih rendah. Perbedaan suhu ini memberi pengaruh
pada kehilangan panas tubuh bayi. Selain itu, hipotermia dapat terjadi karena
kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah
produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup
memadai, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya sistem saraf pengatur
suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibanding dengan berat
badan sehingga mudah kehilangan panas. Adapun tanda klinis hipotermia
adalah; suhu tubuh di bawah normal, kulit teraba dingin, akral dingin, dan
sianosis.

11

b. Sindrom Gawat Napas


Kesukaran pernapasan pada bayi prematur akibat belum sempurnanya
pembentukan membran hialin surfaktan paru yang merupakan suatu zat yang
dapat menurunkan ketegangan dinding alveoli paru. Pertumbuhan surfaktan
paru mencapai maksimum pada minggu ke 35 kehamilan. Adapun tanda klinis
sindrom gawat napas yakni; pernapasan cepat, sianosis perioral, merintih waktu
ekspirasi, retraksi substernal dan interkostal.
c. Hipoglikemia
Penyelidikan kadar gula darah pada 12 jam pertama menunjukan bahwa
hipoglikemia dapat terjadi sebanyak 50% pada bayi prematur. Glukosa
merupakan sumber energi utama selama masa janin. Bayi aterm dapat
mempertahankan kadar gula darah 50-60 mg/dl selama 72 jam pertama,
sedangkan bayi berat badan lahir rendah dalam kadar 40 mg/dl. Hal ini
disebabkan cadangan glikogen yang belum mencukupi. Hipoglikemi bila kadar
gula darah sama dengan atau kurang dari 20 md/dl.
Tanda klinis bayi mengalami hipoglikemia antara lain; gemetar/ tremor,
sianosis, apatis, kejang, apnea intermiten, tangisan lemah atau melengking,
letargi, kesulitan minum, dan keringat dingin.
d. Perdarahan intrakranial
Pada bayi prematur pembuluh darah masih sangat rapuh hingga mudah pecah.
Perdarahan intrakranial dapat terjadi karena trauma lahir, dissaminated
intravascular coagu;opathy atau trombositopenia idiopatik. Tanda klinis
perdarahan intrakranial meliputi; kegagalan umum untuk bergerak normal,
refleks morrow menurun atau tidak ada, tonus otot menurun, letargi, pucat dan

12

sianosis, kegagalan menetek dengan baik, muntah yang kuat, fontanela mayor
mungkin tegang dan cembung.
e. Rentan terhadap infeksi
Pemindahan substansi kekebalan dari ibu ke janin terjadi pada minggu terakhir
masa kehamilan. Bayi prematur mudah menderita infeksi karena imunitas
humoral dan seluler masih kurang, selain itu kulit dan selaput lendir membran
tidak memiliki perlindungan seperti bayi cukup bulan.
f. Hiperbilirubinemia
Hal ini dapat terjadi karena belum maturnya fungsi hepar. Kurangnya enzim
glukoronil transferase sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin
direk belum sempurna, dan

kadar albumin darah yang berperan dalam

transportasi bilirubin dari jaringan ke hepar kurang. Kadar bilirubin normal


pada bayi prematur 10 mg/dl. Tanda klinis hiperbilirubinemia antara lain;
sklera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, perut dan ekstremitas berwarna
kuning, letargi, kemampuan menghisap menurun, dan kejang
g. Kerusakan integritas kulit
Lemak subkutan kurang atau sedikit, struktur kulit yang belum matang dan
rapuh, sensitivitas yang kurang akan memudahkan terjadinya kerusakan
integritas kulit, terutama pada daerah yang sering tertekan dalam waktu lama.
Hati-hati penggunaan plester karena dapat mengakibatkan kulit bayi lecet atau
bahkan lapisan atas ikut terangkat.

13

B. Metode Kanguru
1.

Riwayat Metode Kanguru


Metode Kanguru atau perawatan bayi lekat ditemukan sejak tahun 1983,
sangat bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan
prematur, baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di rumah. Metode kanguru
atau perawatan bayi lekat bukan berasal dari Australia, melainkan dikembangkan di
Kolumbia. Nama kanguru digunakan karena metode penanganan bagi bayi
prematur atau bayi berat lahir rendah (BBLR) yaitu kurang dari 2500 gr ini meniru
perilaku binatang asal Australia yang menyimpan anaknya di kantong perutnya
sehingga diperoleh suhu optimal bagi kehidupan bayi (Suriviana, 2005).
Metode Kanguru (Kangaroo Mother Care) pertama kali dikembangkan Dr.
Edgor Rey di Bogota, Kolombia tahun 1978. Kemudian dilanjutkan Dr. Hector
Martinez dan Dr. Luis Mavarette. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kelangkaan
fasilitas sumber daya rumah sakit untuk merawat bayi prematur dan BBLR. Sejak
akhir tahun 1980-an metode kanguru dikembangkan oleh Colombian Departement
of Social Security dan World Laboratory sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) berbasis di Swiss (Hadi, 2005).

2.

Defenisi
Metode Kanguru adalah metode perawatan dini dan terus menerus dengan
sentuhan kulit ke kulit (Skin to skin contact) antara ibu dan bayi prematur dan
BBLR dalam posisi seperti kanguru (Hadi, 2005).

14

3.

Kriteria Bayi Untuk Metode Kanguru (Health Technology

Assesment Indonesia, 2008)


Pada umumnya bayi yang memenuhi kriteria untuk dilakukan PMK adalah:
a. Bayi BBLR
b. Berat lahir 2500 gram,
c. Tidak ada kegawatan pernapasan dan sirkulasi,
d. tidak ada kelainan kongenital yang berat,
e. dan mampu bernapas sendiri.
4.

Metode dan Waktu Pelaksanaan (Rahmi, 2008).


a. Tahap penggunaan metode kanguru menurut PERINASIA, yaitu :
1)

Persiapan ibu
a) Membersihkan daerah dada dan perut ibu dengan cara mandi dengan
sabun 2-3 kali sehari.
b) Membersihkan kuku dan tangan
c) Baju yang dipakai harus bersih dan hangat sebelum dopakai.
d) Selama pelaksanaan metode kanguru ibu tidak memakai BH.
e) Memakai kain baju yang dapat direnggang.

2)

Persiapan bayi
a) Bayi jangan dimandikan, tetapi cukup dibersihkan dengan kain bersih
dan hangat .
b) Bayi perlu memakai tutup kepala serta popok selama penggunaan metode
ini.
c) Pada saat ibu duduk atau tidur posisi bayi tetap tegak mendekap ibu.

b. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan metode kanguru dapat dilakukan pada waktu :

15

1)

Segera setelah lahir.

2)

Sangat awal, setelah 10-15 menit

3)

Awal, setelah umur 24 jam

4)

Menegah, setelah 7 hari perawatan

5)

Lambat, setelah bayi bernafas sendiri tanpa O2

6)

Setelah keluar dari perawatan inkubator

5.

Keuntungan dan Kerugian Metode Kanguru (Suriviana, 2008).


a. Keuntungan Metode Kanguru
1)

Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi dengan lebih baik.

2)

Mengurangi stress pada ibu dan bayi.

3)

Menstabilkan suhu tubuh, denyut jantung dan pernafasan bayi.

4)

Meningkatkan hubungan emosi ibu dan anak.

5)

Mengurangi lama menangis pada bayi.

6)

Meningkatkan perkembangan psikomotor bayi sebagai reaksi rangsangan


sensorik dari ibu ke bayi.

7)

Bermanfaat untuk ibu dan bayi, dimana suhu ibu merupakan sumber panas
yang efisien dan murah.

8)

Membuat bayi merasa aman dan nyaman.

9)

Mempersingkat masa rawat di rumah sakit.

10) Menurunkan resiko terinfeksi selama perawatan di rumah sakit.


11) Meningkatkan produksi ASI
12) Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi (Surivana, 2005).

16

b. Kerugian Metode Kanguru


Kerugian metode kanguru adalah apabila bayi keseringan digendong bisa
membuat bayi menjadi malas bergerak, malas menggerakkan kaki dan
pinggulnya untuk berjalan. Hal ini tentu akan menghambat pergerakan motorik
anak. Selain itu akibat lebih jauhnya pada pola perkembangan berikutnya adalah
kepercayaan diri anak bisa hilang atau anak jadi tidak percaya diri. Agar anak
tetap merasa aman dan nyaman meski tanpa kebiasaan digendong, sebaiknya
orangtua tidak melepaskan anaknya sama sekali. Menggendong tetap bisa
dilakukan pada saat-saat teretntu seperti sedang rewel, menangis, mimpi buruk
atau sakit. Ini penting untuk membangun rasa amannya. Menggendong
dihentikan bilausia bayi sudah di atas 8 bulan sudah dapat berdiri dan belajar
berjalan dan berat badannya sudah mencapai 8 kg lebih. Secara psikologis,
kebiasaan digendong, terutama setelah bayi berumur di atas 8 bulan akan
mendorongnya menjadi anak yang manja (Anonimous, 2007).

6.

Cara Melakukan Metode Kanguru (Suriviana, 2008).


a.

Beri bayi tutup kepala, popok dan kaos kaki bayi yang telah dihangatkan
terlebih dahulu.

b.

Letakkan bayi di dada ibu dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan
pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan
siku dan tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan
kepala agak sedikit ekstensi.

c.

Dapat pula memakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu, dan bayi
diletakkan diantara payudara ibu, kemudian ibu memakai selendang yang
dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh.

17

d.

Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi, dapat digunakan handuk atau kain
lebar yang elastis atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh
bayi.

e.

Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri,
duduk, jalan, makan dan mengobrol. Pada waktu tidur posisi ibu setengah
duduk atas dengan jalan meletakkan beberapa bantal dibelakang punggung
ibu.

f.

Bila ibu perlu istirahat, dapat digantikan oleh ayah atau orang lain.

g.

Dalam pelaksanaan perlu diperhatikan persiapan ibu, bayi, pisisi bayi,


pemantauan bayi, cara pemberian ASI dann kebersihan ibu dan bayi
(Surviana, 2005).

7.

Batas Penerapan Metode Kanguru


Batas penerapan metode kanguru adalah bila usia bayi sudah di atas 8 bulan
atau sudah dapat berdiri dan belajar berjalan dan petugas kesehatan harus terlebih
dahulu memeriksa retina agar kebutaan dapat dicegah begitu juga telinga, tulang dan
vaksinasi. Lalu tunggu hingga bayi beratnya mencapai 8 kg lebih (Rahmi, 2008).

C. Pendidikan Kesehatan
1. Pengertian
Pendidikan kesehatan sebagai sekumpulan pengalaman yang mendukung
kebiasaan, sikap dan pengetahuan yang berhubungan dengan kesehatan individu,
masyarakat dan ras (Notoatmodjo, 2007).
Dalam keperawatan, pendidikan kesehatan (penkes) merupakan satu bentuk
intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien baik individu,

18

kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui


kegiatan pembelajaran, yang didalamnya perawat berperan sebagai pendidik
(Herawani, 2001).
2. Tujuan
Secara umum yaitu mengubah perilaku individu/ masyarakat dibidang
kesehatan. Menurut Notoatmodjo (2010), tujuan pendidikan kesehatan yaitu:
menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat, menolong
individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan kegiatan untuk
mencapai tujuan hidup sehat, mendorong pengembangan dan penggunaan secara
tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada.
3. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan (Sumiati, 2001)
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara
lain dimensi sarana pendidikan kesehatan, tempat pelaksanaan pendidikan
kesehatan, dan tingkat pelayanan pendidikan kesehatan
a. Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu.
b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok.
c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat.
4.

Tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan (Herawani, 2001)


a. Pendidikan kesehatan di sekolah.
b. Pendidikan kesehatan di pelayanan kesehatan
c. Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh/karyawan.

5.

Tingkat pelayanan pendidikan kesehatan (Herawani, 2001)


a. Promosi kesehatan (healt promotion).
b. Perlindungan khusus (specific protection).
c. Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment).

19

d. Pembatasan cacat (disability limitation).


e. Rehabilitasi (rehabilitation).
6. Pendidikan kesehatan di Rumah Sakit
Menurut Notoatmodjo (2010), promosi kesehatan di rumah sakit sasarannya adalah
orang yang sakit (pasien) dan orang yang sehat (keluarga pasien) guna membantu
pasien dan keluarganya agar mereka dapat mengatasi masalah kesehatannya,
khususnya mempercepat kesembuhan dari penyakitnya. Dari segi psikososial
pasien dan keluarganya adalah dalam kondisi ketidaknyamanan: rasa sakit,
kekhawatiran, kecemasan, kebingungan, dan sebagainya, oleh karena itu mereka
sangat memerlukan bantuan bukan saja pengobatan, tetapi juga bantuan lain seperti
informasi, nasihat, dan petunjuk-petunjuk dari para petugas rumah sakit berkaitan
dengan masalah atau penyakit yang mereka alami. Dalam mengembangkan
promosi kesehatan rumah sakit, beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut :
a. Promosi kesehatan di rumah sakit dikhususkan untuk individu yang sedang
memerlukan pengobatan dan atau perawatan di rumah sakit. Disamping itu
promosi kesehatan juga ditujukan kepada pengunjung rumah sakit, baik pasien
rawat jalan maupun keluarga pasien yang mengantar atau menemani pasien di
rumah sakit, karena keluarga pasien diharapkan dapat membantu atau
menunjang proses penyembuhan dan pemulihan pasien.
b. Promosi kesehatan di rumah sakit pada prinsipnya adalah pengembangan
pengertian atau pemahaman pasien dan keluarganya terhadap masalah
kesehatan atau penyakit yang dideritanya. Pasien dan keluarganya harus
mengetahui hal-hal yang terkait dengan panyakit yang dideritanya seperti
penyebab penyakit, cara penularan penyakit (bila penyakit menular), cara

20

pencegahannya, proses pengobatan yang tepat, dan sebagainya. Hal tersebut


diharapkan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan.
c. Promosi kesehatan di rumah sakit juga mempunyai prinsip pemberdayaan pasien
dan keluarganya dalam kesehatan. Hal ini dimaksudkan, apabila pasien sudah
sembuh dan kembali ke rumahnya, mereka mampu melakukan upaya-upaya
preventive (pencegahan) dan promotif (peningkatan) kesehatannya, khususnya
terkait penyakit yang pernah dialami.
d. Promosi kesehatan di rumah sakit pada prinsipnya adalah penerapan proses
belajar kesehatan di rumah sakit. Artinya semua pengunjung rumah sakit, baik
pasien maupun keluarga memperoleh pengalaman atau pembelajaran dari
rumah sakit, bukan saja melalui informasi atau nasihat-nasihat dari para petugas
rumah sakit, tetapi juga dari apa yang dialami, didengar, dan dilihat di rumah
sakit. Penampilan rumah sakit yang bersih, nyaman, aman dan teduh, serta
penampilan para petugas rumah sakit, terutama dokter dan perawat yang bersih
dan rapi, ramah, murah senyum dan sebagainya, rumah sakit yang
membelajarkan pasien dan keluarga tentang kesehatan.

D. Pengetahuan
1. Defenisi
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari Tahu dan hal ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan dapat
terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran,
penciuman, perasa dan peraba.
Pengetahuan pada dasarnya terjadi dari sejumlah fakta dan teori yang
memungkinkan untuk dapat mencapai masalah yang dihadapinya. Pengetahuan

21

tersebut diperoleh dari pengalaman langsung maupun melalui pengalaman orang


lain (Notoatmodjo, 2003).
2. Domain kognitif
Menurut Notoatmodjo (2002) Tingkat pengetahuan terdiri dari 6 tingkatan, yaitu:
a.

Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya,
termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang diterima.

b.

Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi, harus
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan sesuatu
terhadap objek yang dipelajari.

c.

Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi yang (sebenarnya). Aplikasi disini dapat
diartikan aplikasi penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

d.

Analisis (Analysis)
Analisa adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
ke dalam komponen-komponen, tetapi dalam masalah suatu struktur
organisasi masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan dan mengelompokkan.

22

e.

Sintesis (Syntesis)
Sintesis Menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru,
dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk

menyusun suatu

formulasi baru dari formulasi yang ada.


f.

Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian-penilaian ini
berdasarkan suatu kriteri yang ditentukan sendiri atau mengusahakan kriteriakriteria yang telah ada.

23

Bagan 2.1
Kerangka teori

Faktor predisposisi
a. Pendidikan
b. Pengetahuan
c. Sikap
d. Biaya
e. Pekerjaan
f. Keyakinan
g. Motivasi

Faktor pendukung
a. Tersedianya
sarana kesehatan
b. Akses ke sarana
kesehatan
prioritas dan
komitmen
masyarakat

Faktor pendorong
a. Keluarga
b. Teman
c. Pengalaman
d. Petugas kesehatan
Sumber: Green (1980) dalam Notoatmodjo (2005:60)

Perilaku spesifik

24

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini mengacu pada teori Green (1980) dalam
Notoatmodjo (2007:18) yaitu faktor predisposisi (pengetahuan dan sikap), faktor
pendukung (sarana kesehatan, akses menuju sarana kesehatan, dan kepercayaan), dan
faktor penguat (keluarga, teman, pengalaman, dan dukungan sosial).
Namun dalam penelitian ini penulis tidak memasukan semua variabel ke dalam
kerangka konsep, hanya variabel pengetahuan Berdasarkan hal tersebut kerangka
konsep penelitian ini secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3..1
Kerangka Konsep
Pengetahuan ibu tentang
perawatan bayi dengan metode
kanguru sebelum diberikan
pendidikan kesehatan

Pengetahuan ibu tentang


perawatan bayi dengan metode
kanguru setelah diberikan
pendidikan kesehatan

B. Variabel dan definisi operasional


1. Variabel penelitian
Variabel yang akan diteliti pada penelitian ini adalah Pengetahuan ibu
2. Definisi operasional
Tabel 3.1
Definisi operasional
Variabel
Pengetahuan
ibu sebelum
diberikan
pendidikan
kesehatan

Definisi operasional
Segala sesuatu yang
diketahui ibu tentang
perawatan bayi
BBLR dengan
metode kanguru
sebelum diberikan
pendidikan kesehatan
yang meliputi:
pengertian,
karekteristik bayi
yang dirawat dengan

Cara Ukur
Wawancara

Alat ukur
Kuesioner

Hasil ukur
1. Kurang jika <
56%
2. Cukup jika
56- 75%
3. Baik jika >
76%
Sumber;
Arikunto, 2006

Skala ukur
Ordinal

25

metode kanguru,
keuntungan dan
kerugian metode
kanguru, metode/
cara perawatan
dengan metode
kanguru, serta waktu
penerapannya
Pengetahuan
ibu setelah
diberikan
pendidikan
kesehatan

Segala sesuatu yang


diketahui ibu tentang
perawatan bayi
BBLR dengan
metode kanguru
setelah diberikan
pendidikan kesehatan
yang meliputi:
pengertian,
karekteristik bayi
yang dirawat dengan
metode kanguru,
keuntungan dan
kerugian metode
kanguru, metode/
cara perawatan
dengan metode
kanguru, serta waktu
penerapannya

Wawancara

Kuesioner

1. Kurang jika <


56%
2. Cukup jika 5675%
3. Baik jika >
76%

Ordinal

Sumber;
Arikunto, 2006

C. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah pre eksperimen dengan pendekatan one
group pretest-posttest design
X
O1

O2

x= Intervensi berupa pendidikan kesehatan


O1= Pengetahuan sebelum diber penkes (sebelum intervensi)
O2= Pengetahuan sesudah diber penkes (sesudah intervensi)

D. Populasi dan sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang bayinya dirawat di ruang
perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi karena BBLR.

26

2. Sampel
a. Sampel adalah ibu yang mempunyai bayi BBLR yang di rawat di ruang
Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi, dengan kriteria prematuritas,
keadaan umum baik, tidak memakai alat bantu nafas, dan berat badan bayi
antara 1200 s/d 2400 gr. Jumlah sampel yang digunakan adalah 20 orang yaitu
jumlah rata-rata bayi BBLR yang dirawat di Perinantologi dalam satu bulan.
b. Teknik pengambilan sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik accidental
sampling artinya setiap orang tua yang bayinya dirawat akibat BBLR di RSUD
Raden Mattaher Jambi pada waktu penelitian dilakukan akan dijadikan sebagai
responden penelitian, kecuali orang tua yang tidak bersedia.

E. Tempat dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan di ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi
pada tanggal 1 hingga 29 September 2011.

F. Pengumpulan data
1. Sumber data :
Data primer; didapatkan melalui wawancara langsung terhadap responden
dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada ibu saat menunggui/
menjaga bayinya di rumah sakit
Data sekunder, didapatkan dari rekam medik RSUD Raden Mattaher Jambi
berupa jumlah pasien diare yang dirawat

27

2. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah kuesioner. Kuesioner yang
digunakan terdiri dari 10 pertanyaan untuk mengukur pengetahuan.
3. Proses Pengumpulan data
Pengumpulan data dimulai dengan cara wawancara sedangkan untuk data
pengetahuan sebelum pendidikan kesehatan dilakukan dengan wawanca setelah itu
peneliti memberikan pendidikan kesehatan kepada responden selama 30 35 menit.
Pendidikan kesehatan diberikan secara berkelompok yang terdiri dari 3 5 orang
responden. Materi yang diberikan terdiri dari pengertian metode kanguru, manfaat
dan kriteria bayi dengan metode kanguru, cara pelaksanaan metode kanguru, serta
waktu penerapan metode kanguru. Penjelasan cara pelaksanaan metode kanguru
dilakukan secara simulasi/ demonstrasi. Post test dilakukan satu hari setelah
diberikan pendidikan kesehatan
4. Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a) Editing ; memeriksa dan mengecek ulang pertannyaan yang diberikan, apakah
pengisian sudah sesuai dengan petunjuk atau belum
b) Coding ; Pemberian kode pada pertanyaan yang diberikan, serta mengelompokan
data tersebut (termasuk data kualitatif atau kuantitatif). Pemberian kode
dilakukan pada setiap variabel yaitu variabel pengetahuan kode 1 baik dan kode
0 kurang baik.
c) Scoring ; menetapkan skor (nilai) pada setiap pertanyaan kuesioner. Untuk
variabel pengetahuan terdiri dari 10 pertanyaan, bila jawaban benar diberi nilai 1
dan bila salah diberi nilai 0.

28

d) Entry; Pada tahap ini data yang telah dikumpulkan dilakukan pengelompokan
terhadap variabel independen, selanjutnya dibuat tabel distribusi frekuensi dan
dientry dengan menggunakan alat komputer.
e) Cleaning; Tahap ini memastikan kembali bahwa data yang sudah dientry
betul betul data yang tepat dan tidak ada kesalahan sehingga data siap untuk
dianalisis.

G. Analisa data
Analisa univariat ; analisa ini bertujuan untuk melihat gambaran distribusi
frekuensi dari setiap variabel yang diteliti meliputi variabel pengetahuan tentang
perawatan bayi BBLR dengan metode kanguru sebelum dan setelah diberikan
pendidikan kesehatan.

29

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian.
Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini tidak terlepas dari beberapa
keterbatasan. Adapun data diperoleh dengan cara pengukuran secara langsung dan
dengan melakukan wawancara, sehingga kualitas data sangat tergantung dari ketepatan
instrumen yang digunakan, kerja sama dan persepsi responden dalam menjawab
pertanyaan dan kejujuran responden dalam menjawab pertanyaan.
Penelitian ini menggunakan desain pre eksperimen dengan pendekatan one
group pretest-posttest design yakni dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan ibu
sebelum diberikan pendidikan kesehatan dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan
tentang perawatan bayi dengan metode kanguru.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan distribusi frekuensi masing-masing
variabel yang diteliti antara lain pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberikan
pendidikan kesehatan.
1. Pengetahuan ibu sebelum diberikan pendidikan kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan distribusi frekuensi jawaban
responden menurut pengetahuan sebagai berikut :

Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Jawaban Ibu menurut Pengetahuan Sebelum diberikan
Pendidikan Kesehatan tentang Perawatan Bayi dengan Metode Kanguru
Di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2011

No

A.

Pernyataan
Pengetahuan Ibu sebelum diberikan

Frekuensi Jawaban
Benar
Salah

30

pendidikan kesehatan

Jumlah
5

%
25

Jumlah
15

%
75

Kriteria bayi untuk metode kanguru

20

16

80

Persiapan ibu untuk metode kanguru

25

15

75

Cara melakukan metode kanguru

25

15

75

Persiapan bayi untuk metode kanguru

10

50

10

50

Posisi bayi saat melakukan metode kanguru jika ibu


duduk atau tidur

45

11

55

Waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan metode


kanguru

15

17

85

Yang bukan keuntungan metode kanguru

35

13

65

Batas penerapan metode kanguru

12

60

40

Apakah perawatan dengan metode kanguru pada


perawatan bayi

Total

31,5

68,5

Dari tabel 4.1 dikatakan bahwa sebagian besar ibu (68,5%) memiliki pengetahuan yang
kurang tentang perawatan bayi dengan metode kanguru. Diantara sepuluh pertanyaan
sebanyak 85% ibu belum mengetahui tentang kriteria bayi untuk metode kanguru dan
waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan metode kanguru.
Berdasarkan distribusi jawaban ibu tersebut kemudian dilakukan penghitungan skor
total pengetahuan Ibu sebelum diberikan pendidikan kesehatan dan dikategorikan baik jika
> 76%, cukup jika 56 75%, dan kurang jika <56%. Total skor hasilnya dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Ibu menurut Pengetahuan Sebelum diberikan Pendidikan
Kesehatan tentang Perawatan Bayi dengan Metode Kanguru
Di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2011
No
1

Pengetahuan
Baik

Jumlah
0

%
0

31

2
2

Cukup
Kurang Baik
Total

2
18
20

10
90
100,0

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 20 Ibu didapatkan sebanyak 18 (90%) Ibu
sebelum diberikan pendidikan kesehatan yang memiliki pengetahuan kurang baik
tentang perawatan bayi dengan metode kanguru dan sebanyak 2 (62,1%) ibu
memiliki pengetahuan yang cukup tentang perawatan bayi dengan metode kanguru,
serta tidak ada satupun responden yang mempunyai pengetahuan baik.
2. Pengetahuan ibu sesudah diberikan pendidikan kesehatan
Hasil penelitian tentang pengetahuan setelah diberikan pendidikan kesehatan
seperti pada tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Jawaban Ibu menurut Pengetahuan Sesudah diberikan
Pendidikan Kesehatan tentang Perawatan Bayi dengan Metode Kanguru
Di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2011

No B.

Pernyataan
Pengetahuan Ibu sesudah diberikan
pendidikan kesehatan

Frekuensi Jawaban
Benar
Salah
Jumlah
% Jumlah
%
20
100
0
0

Apakah perawatan dengan metode kanguru pada


perawatan bayi

Kriteria bayi untuk metode kanguru

20

100

Persiapan ibu untuk metode kanguru

20

100

Cara melakukan metode kanguru

15

75

25

Persiapan bayi untuk metode kanguru

20

100

Posisi bayi saat melakukan metode kanguru jika ibu


duduk atau tidur

20

100

Waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan metode


kanguru

18

90

10

32

Yang bukan keuntungan metode kanguru

20

100

Batas penerapan metode kanguru

20

100

Total

87,5

12,5

Dari tabel 4.3 dikatakan bahwa sebagian besar ibu (87,5%) memiliki pengetahuan yang
baik tentang perawatan bayi dengan metode kanguru setelah diberikan pendidikan
kesehatan. Diantara sepuluh pertanyaan sebanyak 10% ibu yang masih kurang mengetahui
tentang waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan metode kanguru, dan 25% ibu masih
belum mengetahui secara benar tentang cara melakukan metode kanguru.
Berdasarkan distribusi jawaban ibu tersebut kemudian dilakukan penghitungan skor
total pengetahuan Ibu sesudah diberikan pendidikan kesehatan dan dikategorikan baik jika
> 76%, cukup jika 56 75%, dan kurang jika <56%. Total skor hasilnya dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Ibu menurut Pengetahuan Sesudah diberikan Pendidikan
Kesehatan tentang Perawatan Bayi dengan Metode Kanguru
Di Ruang Perinatologi RSUD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2011
No
1
2
2

Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang Baik
Total

Jumlah
16
2
2
20

%
80
10
10
100,0

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 20 Ibu setelah diberikan pendidikan


kesehatan sebanyak 16 (80%) Ibu memiliki pengetahuan yang baik, 2 (10%) Ibu
memiliki pengetahuan cukup, dan 2 (10%) Ibu masih memiliki pengetahuan yang
kurang baik tentang perawatan bayi dengan metode kanguru.

33

BAB V
PEMBAHASAN

A. Pembahasan
1. Pengetahuan

Ibu

sebelum

diberikan

pendidikan

kesehatan

tentang

perawatan bayi dengan metode kanguru


Berdasarkan hasil analisis data didapatkan dari 20 Ibu sebanyak 18 (90%) Ibu
sebelum diberikan pendidikan kesehatan memiliki pengetahuan kurang baik
tentang perawatan bayi dengan metode kanguru dan sebanyak 2 (62,1%) ibu
memiliki pengetahuan yang cukup tentang perawatan bayi dengan metode
kanguru.
Sebagian besar Ibu belum mengetahui tentang pengertian metode kanguru,
kriteria bayi untuk metode kanguru, dan waktu yang paling baik untuk metode
kanguru. Ibu belum pernah mendapatkan informasi tentang metode kanguru pada
perawatan bayi, hal ini menjadi penyebab krang baiknya pengetahuan Ibu tentang
metode kanguru.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Pengetahuan juga merupakan salah satu faktor predisposisi yang
berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Semakin baik pengetahuan seseorang
akan semakin baik pula perilaku orang untuk hidup sehat (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Wahit (2007), ada beberapa faktor yang mempengaruhi
pengetahuan seseorang yaitu tingkat pendidikan, pekerjaan, umur, minat,

34

informasi, sosial budaya, pengalaman, dan sosial ekonomi. Berdasarkan


pengamatan peneliti, bahwa penyebab kurang baiknya pengetahuan Ibu tentang
perawatan bayi dengan metode kanguru adalah kurangnya informasi yang
diperoleh Ibu khususnya tentang pengertian, indikasi, dan cara perawatan bayi
dengan metode kanguru.
Penelitian terkait yang pernah dilakukan tentang pengaruh pendidikan
kesehatan terhadap pengetahuan dan motivasi Ibu tentang perawatan metode
kanguru pada bayi BBLR menunjukan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan
kesehatan terhadap pengetahuan Ibu tentang perawatan bayi dengan metode
kanguru, hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan pengetahuan ibu sebelum dan
sesudah diberikan penyuluhan kesehatan (Dian, 2008).
Upaya yang dapat dilakukan perawat untuk memotivasi Ibu adalah perawat
mengajarkan ibu cara perawatan bayi dengan metode kanguru dengan tujuan agar
Ibu mau menerapkan metode kanguru sebagai alternative perawatan bagi bayinya.
Pendekatan yang dilakukan perawat dalam memberikan informasi adalah dengan
melakukan komunikasi, memberikan informasi dan edukasi secara intens dan terus
menerus tentang pelaksanaan metode kanguru serta manfaatnya. Dengan pemberian
edukasi yang benar diharapkan Ibu mau menerapkan metode kanguru dalam
perawatan bayinya tidak hanya di rumah sakit tapi juga dapat diterapkan di rumah
setelah pulang dari rumah sakit.

2. Pengetahuan Ibu sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan


bayi dengan metode kanguru

35

Berdasarkan hasil analisis data didapatkan dari 20 Ibu sebanyak 16 (80%)


Ibu sesudah diberikan pendidikan kesehatan memiliki pengetahuan yang baik
tentang perawatan bayi dengan metode kanguru. Terjadi peningkatan pengetahuan
Ibu sebesar 80% sesudah diberikan pendidikan kesehatan.
Pengetahuan seseorang akan menjadi lebih baik setelah mendapatkan
informasi, hal ini sesuai dengan pendapat Wahit (2007) yang menyatakan bahwa
informasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang.
Pendidikan kesehatan menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan
individu. Dalam proses pelaksanaan pendidikan dipengaruhi oleh beberapa hal
diantaranya latar belakang pendidikan dan sosial budaya responden serta petugas
kesehatan itu sendiri (Walgito, 2003).
Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjao (2003) bahwa
pengetahuan atau kognitf merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang. Pengalaman dan penelitian telah membuktikan
bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sesuai dengan hal tersebut maka
perilaku Ibu untuk mau menerapkan metode kanguru dalam perawatan bayinya
setelah diberikan pendidikan kesehatan akan lebih lama bertahan dibanding
dengan perilaku Ibu yang tidak pernah mendapatkan pendidikan kesehatan tentang
metode kanguru. Tetapi masih ada ibu yang belum tahu setelah diberi penkes yaitu
tentang waktu yang paling tepat untuk menerapkan metode kanguru. Rekomendasi
peneliti agar ibu dapat melakukan metode kanguru
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

36

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sevagai berikut:


1. Sebelum diberikan pendidikan kesehatan terhadap 20 Ibu yang bayinya dirawat
akibat BBLR sebanyak 18 (90%) Ibu memiliki pengetahuan yang kurang baik
tentang perawatan bayi dengan metode kanguru, dan 2 (10%) Ibu memiliki
pengetahuan yang cukup tentang perawatan bayi dengan metode kanguru.
2. Sesudah diberikan pendidikan kesehatan terhadap 20 Ibu yang bayinya dirawat
akibat BBLR sebanyak 16 (80%) Ibu memiliki pengetahuan yang baik tentang
perawatan bayi dengan metode kanguru, 2 (10%) memiliki pengetahuan yang
cukup, dan 2 (10%) masih memiliki pengetahuan yang kurang baik.
3. Terjadi peningkatan pengetahuan Ibu sebesar 100% tentang perawatan bayi dengan
metode kanguru setelah diberikan pendidikan kesehatan.

B. Saran
1. Bagi rumah sakit
Berdasarkan hasil penelitian ini, rumah sakit dapat menyusun protap tentang
pelaksanaan

pendidikan

kesehatan

khususnya

tentang

metode

kanguru.

Menjadikan pendidikan kesehatan tentang metode kanguru sebagai kawajiban bagi


perawat yang bertugas di ruang perinatologi untuk selalu diberikan kepada Ibu
yang bayinya dirawat akibat BBLR.
2. Bagi masyarakat
Masyarakat khususnya Ibu- ibu yang memiliki bayi BBLR dapat menerapkan
metode kanguru dalam perawatan bayinya, karena metode kanguru sangat mudah
dan tidak memerlukan biaya dalam penerapanya.
3. Bagi peneliti
Bagi peneliti secara pribadi dapat mengembangkan penelitian ini dengan cara
melakukan penelitian lanjutan tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap

37

perubahan pengetahuan dan perilaku ibu dalam menerapkan metode kanguru


dalam perawatan bayi BBLR.

38

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.
Gambaran
pengetahuan
tentang
perawatan
bayi
prematur.
http://www.addy1571.files.wordpress.com. Diakses pada tanggal 14 Jinu 2011.
Arikunto. 2006. Manajemen Penelitian Prosedur suatu Pendekatan Praktek. PT Rineka
Cipta. Jakarta
Depkes. 2007. Hipotermi dan Resusitasi Bayi. Jakarta
Hadi. 2005. http://www.infoibu.com. Kesehatan ibu dan bayi. Diakses 18 Juni 2011
Handayani. 2003. Perawatan Bayi Risiko Tinggi. EGC. Jakarta
Henderson. 2006. Konsep Kebidanan. EGC. Jakarta
Herawani. 2001. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. EGC : Jakarta.
Medical Record RSUD Raden Mattaher Jambi. 2010. Data Bayi BBLR di Perinatologi.
RSUD Raden Mattaher. Jambi
Notoatmodjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT Rineka Cipta. Jakarta
___________. 2005. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT Rineka Cipta. Jakarta
___________. 2010. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT Rineka Cipta. Jakarta
Nursalam. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pediatrik. EGC. Jakarta
Rahmi. 2006. http://www.harianglobal.com. Merawat Bayi Prematur Dengan Metoda
Kanguru,. Diakses 18 Juni 2011
Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Alfabeta. Bandung.
Sumiati. 2001. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. EGC : Jakarta.
Surasmi.A. 2003. Perawatan Bayi Risiko Tinggi. EGC. Jakarta
Suriviana. 2005. http://www.infoibu.com. Diakses 18 Juni 2011
Wong, L.D. 2003. Pediatric Nursing. Lippincott. Philadelphia.

39

KUESIONER PENELITIAN
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERAWATAN BAYI DENGAN METODE
KANGURU SETELAH DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN PADA IBU YANG
MEMPUNYAI BAYI BBLR DI RUANG PERINATOLOGI
RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
TAHUN 2011
PRE TEST
1. Apakah yang dimaksud dengan metode kanguru pada perawatan bayi?
a. Metode perawatan dengan sentuhan kulit ke kulit antara ibu dan bayi
b. Metode perawatan dengan menggendong anak
c. Perawatan bayi dengan memeluk dan menggendong bayi memakai kain gendongan
2. Yang termasuk kriteria bayi untuk metode kanguru adalah?
a. Berat bayi > 2500 gram
b. Adanya penyakit penyerta pada bayi
c. Berat bayi < 2000 gram
3. Apa saja persiapan ibu untuk metode kanguru?
a. Membersihkan daerah dada dan perut ibu dengan cara mandi dengan sabun 2-3 kali
sehari
b. Selama pelaksanaan metode kanguru ibu memakai BH
c. Makan dan minum yang cukup gizi
4. Dibawah ini yang termasuk cara melakukan metode kanguru adalah?
a. Letakan bayi didada ibu dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu
b. Posisi bayi saat digendong adalah setengah duduk
c. Saat menggendong bayi ibu dilarang untuk beraktivitas lain
5. Persiapan bayi untuk metode kanguru adalah?
a. Bayi jangan dimandikan, cukup dibersihkan dengan air hangat
b. Bayi dimandikan terlebih dahulu
c. Bayi tidak perlu memakai tutup kepala
6. Bagaimana posisi bayi saat melakukan metode kanguru jika ibu duduk atau tidur?
a. Tetap tegak mendekap ibu
b. Digendong berbaring
c. Duduk saat ibu duduk dan tidur saat ibu tidur
7. Waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan metode kanguru adalah?
a. Sangat awal setelah 10-15 menit bayi lahir
b. Saat bayi berumur 3 bulan
c. Saat bayi berumur 4 bulan

40

8. Yang bukan keuntungan metode kanguru adalah?


a. Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi
b. Mengurangi stress pada ibu dan bayi
c. Bayi jadi malas bergerak
9.

Kapan batas penerapan metode kanguru ?


a. Bila usia bayi sudah lebih dari 8 bulan
b. Bila berat bayi mencapai 6 Kg
c. Bila bayi sudah cukup banyak makan

41

KUESIONER PENELITIAN
GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG PERAWATAN BAYI DENGAN METODE
KANGURU SETELAH DIBERIKAN PENDIDIKAN KESEHATAN PADA IBU YANG
MEMPUNYAI BAYI BBLR DI RUANG PERINATOLOGI
RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
TAHUN 2011
POST TEST
1. Apakah yang dimaksud dengan metode kanguru pada perawatan bayi?
a. Metode perawatan dengan sentuhan kulit ke kulit antara ibu dan bayi
b. Metode perawatan dengan menggendong anak
c. Perawatan bayi dengan memeluk dan menggendong bayi memakai kain gendongan
2. Yang termasuk kriteria bayi untuk metode kanguru adalah?
a. Berat bayi > 2500 gram
b. Adanya penyakit penyerta pada bayi
c. Berat bayi < 2000 gram
3. Apa saja persiapan ibu untuk metode kanguru?
a. Membersihkan daerah dada dan perut ibu dengan cara mandi dengan sabun 2-3 kali
sehari
b. Selama pelaksanaan metode kanguru ibu memakai BH
c. Makan dan minum yang cukup gizi
4. Dibawah ini yang termasuk cara melakukan metode kanguru adalah?
a. Letakan bayi didada ibu dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu
b. Posisi bayi saat digendong adalah setengah duduk
c. Saat menggendong bayi ibu dilarang untuk beraktivitas lain
5. Persiapan bayi untuk metode kanguru adalah?
a. Bayi jangan dimandikan, cukup dibersihkan dengan air hangat
b. Bayi dimandikan terlebih dahulu
c. Bayi tidak perlu memakai tutup kepala
6. Bagaimana posisi bayi saat melakukan metode kanguru jika ibu duduk atau tidur?
a. Tetap tegak mendekap ibu
b. Digendong berbaring
c. Duduk saat ibu duduk dan tidur saat ibu tidur
7. Waktu yang paling tepat untuk pelaksanaan metode kanguru adalah?
a. Sangat awal setelah 10-15 menit bayi lahir
b. Saat bayi berumur 3 bulan
c. Saat bayi berumur 4 bulan

42

8. Yang bukan keuntungan metode kanguru adalah?


a. Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi
b. Mengurangi stress pada ibu dan bayi
c. Bayi jadi malas bergerak
9.

Kapan batas penerapan metode kanguru ?


a. Bila usia bayi sudah lebih dari 8 bulan
b. Bila berat bayi mencapai 6 Kg
c. Bila bayi sudah cukup banyak makan

43

SATUAN ACARA PENGAJARAN


(SAP)
Materi
Sasaran
Hari/ Tanggal
Waktu/ Pertemuan

: Metode Kanguru pada perawatan bayi BBLR


: Ibu yang bayinya dirawat di PRT RSUD Rd.Mattaher Jambi
:: 1 x 35 menit

A. Tujuan Instruksional
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan pendidikan kesehatan ini diharpakan Ibu mampu menjelaskan
proses perawatan bayi BBLR dengan metode kanguru.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan pendidikan kesehatan ini diharapkan Ibu mampu:
a.

Menyebutkan definisi metode kanguru.

b.

Menyebutkan karakteristik bayi yang dirawat dgn metode kanguru.

c.

Menyebutkan keuntungan dan kerugian metode kanguru.

d.

Menjelaskan cara perawatan dengan metode kanguru.

e.

Menyebutkan waktu penerapan metode kanguru

B. Pokok Bahasan

: Perawatan bayi dengan metode kanguru

C. Sub Pokok Bahasan

: Tekhnik Perawatan bayi dengan metode kanguru

D. Kegiatan Belajar Mengajar:


Tahap
Kegiatan
(1)
Pendahuluan
(5 menit)

Penyajian 1
(20 menit)

Kegiatan Penyuluhan
(2)
o Mengucapkan salam
o Perkenalan
o Menjelaskan tujuan pembelajaran
o Apersepsi
o Menjelaskan pengertian metode
kanguru
o Menjelaskan karakteristik bayi
yang dirawat dgn metode kanguru
o Menjelaskan keuntungan dan
kerugian metode kanguru
o Menjelaskan cara perawatan
dengan metode kanguru
o Menjelaskan waktu penerapan

Kegiatan responden

(3)
Menjawab salam
Mendengarkan
Mendengar dan memperhatikan
Menjawab

Mendengar dan memperhatikan


Mendengar dan memperhatikan
Mendengar dan memperhatikan
Mendengar dan memperhatikan

44

metode kanguru
o Memberi kesempatan pada ibu
untuk bertanya
o Memberi kesempatan pada ibu lain
untuk menjawab pertanyaan
o Memberi kesempatan pada ibu lain
untuk menanyakan hal yang belum
dimengerti
o Memberi kesempatan pada ibu lain
untuk menjawab pertanyaan
o Menyimpulkan penjelasan yang
telah diberikan dengan
memberikan penekanan terhadap
hal hal yang perlu diperhatikan
o Menyimpulkan materi: perawatan
bayi BBLR dengan metode
kanguru
o Memberi kesempatan pada ibu
untuk bertanya
o Menjawb pertanyaan ibu
o Menyampaikan pokok bahasan
pada pertemuan berikutnya
o Mengucapkan salam

Penutup

Mendengar dan memperhatikan


Mengajukan pertanyaan
Menjawab pertanyaan/ memberi
komentar
Mengajukan pertanyaan
Menjawab pertanyaan/ memberi
komentar
Mendengar dan memperhatikan
Mendengar dan memperhatikan
Mengajukan pertanyaan
Mendengar dan memperhatikan
Mendengar dan memperhatikan

Menjawab salam

E. Media dan Alat Pengajaran


o Plipchart
o Spidol
F. Evaluasi
1. Ibu mampu menyebutkan dan menjelaskan pengertian metode kanguru
2. Ibu mampu menyebutkan dan menjelaskan karakteristik bayi yang dirawat dgn
metode kanguru
3. Ibu mampu menyebutkan dan menjelaskan keuntungan dan kerugian metode
kangur
4. Ibu mampu menyebutkan dan menjelaskan cara perawatan dengan metode
kanguru
5. Ibu mampu menyebutkan dan menjelaskan waktu penerapan metode kanguru

45

G. Referensi/ Kepustakaan
Rulina (2008), Perawatan Bayi BBLR dengan Metode Kanguru, Perinasia. Jakarta
Hadi Pratomo (2008), Perawatan Bayi BBLR dengan Metode Kanguru, Perinasia.
Jakarta
Surasmi. 2003. Asuhan Keperawatan pada anak Risiko Tinggi. EGC. Jakarta

46

MODUL
PERAWATAN BAYI BBLR DENGAN METODE KANGURU

A.

Latar Belakang
Setiap tahun di dunia diperkirakan lahir sekitar 20 juta bayi berat lahir rendah (BBLR).
Kelahiran BBLR sebagian disebabkan oleh lahir sebelum waktunya (prematur), dan
sebagian oleh karena mengalami gangguan pertumbuhan selama masih dalam
kandungan PJT (Pertumbuhan Janin Terhambat). Di negara berkembang, BBLR banyak
dikaitkan dengan tingkat kemiskinan. BBLR merupakan penyumbang utama angka
kematian pada neonatus. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO),
terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan angka mortalitas neonatus
(kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup, dan
98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang. Secara khusus angka kematian
neonatus di Asia Tenggara adalah 39 per 1000 kelahiran hidup. Dalam laporan WHO
yang dikutip dari State of the worlds mother 2007 (data tahun 2000-2003) dikemukakan
bahwa 27% kematian neonatus disebabkan oleh Bayi Berat Lahir Rendah. Namun
demikian, sebenarnya jumlah ini diperkirakan lebih tinggi karena sebenarnya kematian
yang disebabkan oleh sepsis, asfiksia dan kelainan kongenital sebagian juga adalah
BBLR. Di Indonesia, menurut survey ekonomi nasional (SUSENAS) 2005, kematian
neonatus yang disebabkan oleh BBLR saja sebesar 38,85%.
Perawatan BBLR merupakan hal yang kompleks dan membutuhkan infrastruktur yang
mahal serta staf yang memiliki keahlian tinggi sehingga seringkali menjadi pengalaman
yang sangat mengganggu bagi keluarga. Oleh karena itu, perawatan terhadap bayi
tersebut menjadi beban sosial dan kesehatan di negara manapun. Analisis terkini
menunjukkan bahwa sekitar 3 juta kematian bayi baru lahir (BBL) dapat dicegah per
tahun menggunakan intervensi yang tidak mahal dan tepat guna. Salah satu intervensi
tersebut adalah perawatan metode kanguru (PMK).
Perawatan dengan metode kanguru merupakan cara yang efektif untuk memenuhi
kebutuhan bayi yang paling mendasar yaitu kehangatan, air susu ibu, perlindungan dari
infeksi, stimulasi, keselamatan dan kasih sayang. Metode ini merupakan salah satu
teknologi tepat guna yang sederhana, murah dan sangat dianjurkan untuk perawatan
BBLR. Metode kanguru tidak hanya sekedar menggantikan peran inkubator, namun
juga memberikan berbagai keuntungan yang tidak dapat diberikan inkubator.
Dibandingkan dengan perawatan konvensional, PMK terbukti dapat menurunkan
kejadian infeksi, penyakit berat, masalah menyusui dan ketidakpuasan ibu serta
meningkatkan hubungan antara ibu dengan bayi.

47

B.

PERAWATAN METODE KANGURU


1. Definisi Metode Kanguru
Perawatan metode kanguru (PMK) adalah perawatan untuk BBLR dengan
melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu (skin-to-skin contact).
Metode ini sangat tepat dan mudah dilakukan guna mendukung kesehatan dan
keselamatan BBLR. Esensinya adalah:
Kontak badan langsung (kulit ke kulit) antara ibu dengan bayinya secara
berkelanjutan, terus-menerus dan dilakukan sejak dini.
Pemberian ASI eksklusif (idealnya).
Dimulai dilakukan di RS, kemudian dapat dilanjutkan di rumah.
Bayi kecil dapat dipulangkan lebih dini.
Setelah di rumah ibu perlu dukungan dan tindak lanjut yang memadai.
Metode ini merupakan metode yang sederhana dan manusiawi, namun efektif
untuk menghindari berbagai stres yang dialami oleh BBLR selama perawatan di
ruang perawatan intensif.
2. Manfaat Metode Kanguru
a. Manfaat PMK bagi bayi
Dari berbagai penelitian menyebutkan bahwa manfaat PMK pada bayi adalah
sebagai berikut :

Suhu tubuh bayi, denyut jantung dan frekuensi pernapasan relatif terdapat
dalam batas normal.

BBLR lebih cepat mencapai suhu yang 36,5 C terutama dalam waktu 1 jam
pertama

ASI selalu tersedia dan mudah didapatkan sehingga memperkuat sistem imun
bayi karena meningkatnya produksi ASI.
Kontak dengan ibu menyebabkan efek yang menenangkan sehingga
menurunkan stres ditandai dengan kadar kortisol yang rendah.
Menurunkan respon nyeri fisiologis dan perilaku yang ditandai dengan waktu
pemulihan yang lebih singkat pada uji tusuk tumit
Meningkatkan berat badan dengan lebih cepat
Meningkatkan ikatan bayi-ibu.

48

Memiliki pengaruh positif dalam meningkatkan perkembangan kognitif yang


dilihat dari lebih tingginya skor Indeks Perkembangan Mental Bayley.
Waktu tidur menjadi lebih lama yang antara lain ditandai dengan jumlah waktu
terbangun yang lebih rendah.
Menurunkan infeksi nosokomial, penyakit berat, atau infeksi saluran
pernapasan bawah
Memperpendek masa rawat
Menurunkan risiko kematian dini pada bayi.
Memperbaiki pertumbuhan pada bayi prematur.
Dapat menjadi intervensi yang baik dalam mengangani kolik.
Mungkin memiliki pengaruh positif dalam perkembangan motorik bayi.
Kelangsungan hidup pada bayi BBLR lebih cepat membaik pada kelompok
PMK daripada bayi dengan metode konvensional pada 12 jam pertama dan
seterusnya
Bayi yang sangat prematur tampaknya memiliki mekanisme endogen yang
diakibatkan oleh kontak antara kulit ibu dan bayi dalam menurunkan respon
nyeri.
Waktu pemulihan yang lebih singkat pada PMK secara klinis penting dalam
mempertahankan homeostasis.
b. Manfaat PMK bagi Ibu
Mempermudah pemberian ASI,
Ibu lebih percaya diri dalam merawat bayi,
Hubungan lekat bayi-ibu lebih baik,
Ibu sayang kepada bayinya,
Pengaruh psikologis ketenangan bagi ibu dan keluarga (ibu lebih puas, kurang merasa
stress)

3.

Kerugian Metode Kanguru


Kerugian metode kanguru adalah apabila bayi keseringan digendong bisa
membuat bayi menjadi malas bergerak, malas menggerakkan kaki dan

49

pinggulnya untuk berjalan. Hal ini tentu akan menghambat pergerakan motorik
anak. Selain itu akibat lebih jauhnya pada pola perkembangan berikutnya adalah
kepercayaan diri anak bisa hilang atau anak jadi tidak percaya diri. Agar anak
tetap merasa aman dan nyaman meski tanpa kebiasaan digendong, sebaiknya
orangtua tidak melepaskan anaknya sama sekali. Menggendong tetap bisa
dilakukan pada saat-saat teretntu seperti sedang rewel, menangis, mimpi buruk
atau sakit. Ini penting untuk membangun rasa amannya. Menggendong
dihentikan bilausia bayi sudah di atas 8 bulan sudah dapat berdiri dan belajar
berjalan dan berat badannya sudah mencapai 8 kg lebih. Secara psikologis,
kebiasaan digendong, terutama setelah bayi berumur di atas 8 bulan akan
mendorongnya menjadi anak yang manja (Anonimous, 2007).

4.

Kriteria Bayi Untuk Metode Kanguru (Health


Technology Assesment Indonesia, 2008)
Pada umumnya bayi yang memenuhi kriteria untuk dilakukan PMK adalah:
a. Bayi BBLR
b. Berat lahir 2500 gram,
c. Tidak ada kegawatan pernapasan dan sirkulasi,
d. tidak ada kelainan kongenital yang berat,
e. dan mampu bernapas sendiri.

5. Metode dan Waktu Pelaksanaan (Rahmi, 2008).


a. Tahap penggunaan metode kanguru menurut PERINASIA, yaitu :
1)

Persiapan ibu
a) Membersihkan daerah dada dan perut ibu dengan cara mandi dengan sabun
2-3 kali sehari.
b) Membersihkan kuku dan tangan
c) Baju yang dipakai harus bersih dan hangat sebelum dopakai.
d) Selama pelaksanaan metode kanguru ibu tidak memakai BH.

50

e) Memakai kain baju yang dapat direnggang.


2)

Persiapan bayi
a) Bayi jangan dimandikan, tetapi cukup dibersihkan dengan kain bersih dan
hangat .
b) Bayi perlu memakai tutup kepala serta popok selama penggunaan metode
ini.
c) Pada saat ibu duduk atau tidur posisi bayi tetap tegak mendekap ibu.

b. Cara pelaksanaan metode kanguru


Beri bayi tutup kepala, popok dan kaos kaki bayi yang telah dihangatkan terlebih
dahulu.
Letakkan bayi di dada ibu dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan
kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan
tungkai tertekuk, kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak
sedikit ekstensi.

Dapat pula memakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu, dan bayi
diletakkan diantara payudara ibu, kemudian ibu memakai selendang yang
dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh.
Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi, dapat digunakan handuk atau kain
lebar yang elastis atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh
bayi.
Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri, duduk,
jalan, makan dan mengobrol. Pada waktu tidur posisi ibu setengah duduk atas
dengan jalan meletakkan beberapa bantal dibelakang punggung ibu.

51

Bila ibu perlu istirahat, dapat digantikan oleh ayah atau orang lain.

Dalam pelaksanaan perlu diperhatikan persiapan ibu, bayi, pisisi bayi,


pemantauan bayi, cara pemberian ASI dann kebersihan ibu dan bayi (Surviana,
2005).

c. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan metode kanguru dapat dilakukan pada waktu :
1)

Segera setelah lahir.

2)

Sangat awal, setelah 10-15 menit

3)

Awal, setelah umur 24 jam

4)

Menegah, setelah 7 hari perawatan

5)

Lambat, setelah bayi bernafas sendiri tanpa O2

6)

Setelah keluar dari perawatan inkubator