Anda di halaman 1dari 10

KERANGKA OPERASIONAL PEMANTAUAN KEJADIAN PHLEBITIS

RS ISLAM SITI RAHMAH

I.

PENDAHULUAN

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme, maka pelayanan keperawatan


dituntut untuk memberikan pelayanan secara professional. Pelayanan keperawatan
yang profesi diharapkan dapat dinilai melalui rendahnya angka kejadian infeksi luka
infuse/ phlebitis pada penderita yang dilakukan pemasangan infuse. Untuk menilai
keprofesionalisme tersebut, maka diadakan evaluasi pemantauan kejadian infeksi luka
infuse/ phlebitis di unit rawat inap RS Islam Siti Rahmah.
II.

TUJUAN
2.1. Tujuan Umum :
Untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melaksanakan
standar prosedur keperawatan pemasangan infus.

2.2. Tujuan umum :


Untuk mendapatkan gambaran tingkat pencapaian terhadap mutu pelaksanaan
standar prosedur pemasangan infus.
2.2.2. Untuk bahan pertimbangan dalam merevisi standar prosedur
keperawatan
yang telah ada.
III.

SASARAN
Semua perawat pelaksana asuhan keperawatan di unit rawat inap

IV.

RUANG LINGKUP
4.1. Unit Minza
4.2. Unit Vip
4.3 Unit Nicu
4.4..Unit KB
4.5. Unit Arafah
4.6. Unit Perawatan Intensive
4.7. Unit Safa
4.8. Unit Marwa

V.

FREKUENSI DAN WAKTU


Setiap hari dilaporkan 1 x / bulan

VI.

PENANGGUNG JAWAB
Ketua Komite Keperawatan

VII.

METODA
Observasi langsung pada penderita yang dilakukan pemasangan infuse yang
mengalami
infeksi selama perawatan di rumah sakit.
VIII. PELAKSANA

Pelaksana harian PPI ( IPCLN )


IX.

MEKANISME KERJA
9.1. Mengobservasi kejadian infeksi luka infus yang terjadi di ruamah sakit

pada
penderita yang dipasang infuse oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN )
dengan
mengisi formulir surveilans
9.2. Laporan ditulis setiap hari pada formulir A 1 dan dikirim ke Komite
Keperawatan pada bulan berikutnya.
9.3. Laporan yang masuk ke Komite Keperawatan akan direkap oleh Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan menggunakan formulir B1.
9.4. Hasil rekap akan dianalisa dan dibuat rekomendasi oleh Tim Pengendalian
Mutu Keperawatan dan Komite Keperawatan.
9.5. Menyampaikan hasil rekap dan rekomendasi kepada Direktur Rumah
Sakit, Manager unit terkait.
X.

BENTUK EVALUASI
10.1. Observasi langsung oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN )
10.2. Hasil observasi akan direkap setiap bulan dan dilaporkan ke Komite
PPIRS
10.3. Hasil rekap dari unit akan direkap oleh Tim Pengendalian Mutu
Keperawatan
10.4. Hasil rekap akan dianaliasa dan dibuat rekomendasi untuk unit terkait
10.5. Hasil analiasa dan rekomendasi akan disampaikan oleh Ketua Komite
Keperawatan kepada Direktur Rumah Sakit, Manager unit terkait.

KERANGKA OPERASIONAL PEMANTAUAN KEJADIAN DECUBITUS


RS ISLAM SITI RAHMAH

I.

PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme, maka pelayanan keperawatan
dituntut untuk memberikan pelayanan secara professional. Pelayanan
keperawatan yang profesi diharapkan dapat dinilai melalui rendahnya angka
kejadian
decubitus pada penderita yang dilakukan yang dirawat dengan tirah
baring..
Untuk menilai keprofesionalisme tersebut, maka diadakan evaluasi
pemantauan kejadian decubitus di unit rawat inap Siti Rahmah. Dengan
pemantauan tersebut akan direkomendasikan cara perawatan penderita tirah baring
dan untuk merevisi SOP yang telah ada.
II.

TUJUAN
2.1. Tujuan Umum :
Untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melaksanakan standar
prosedur keperawatan pasien tirah baring.

2.2. Tujuan umum :


2.2.1. Untuk mendapatkan gambaran tingkat pencapaian terhadap mutu
pelaksanaan standar keperawatan pasien tirah baring
2.2.2. Untuk bahan pertimbangan dalam merevisi standar prosedur
keperawatan
yang telah ada.
III.

SASARAN
Semua perawat pelaksana asuhan keperawatan di unit rawat inap

IV.

RUANG LINGKUP
4.1. Unit VIP
4.2. Unit NICU
4.3 Unit MIZA
4.4..Unit ARAFAH
4.5. Unit SAFA
4.6. Unit ICU
4.7. Unit MARWA
4.8. Unit KB

V.

FREKUENSI DAN WAKTU


Setiap hari dilaporkan 1 x / bulan

VI.

PENANGGUNG JAWAB
Ketua Komite Keperawatan

VII.

METODA
Observasi langsung pada penderita tirah baring selama perawatan di rumah

sakit.
VIII.

PELAKSANA
Pelaksana harian PPI ( IPCLN )

IX.

X.

MEKANISME KERJA
9.1. Mengobservasi kejadian decubitus yang terjadi di ruamah sakit pada
penderita yang tirah baring oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN ) dengan
mengisi formulir surveilan
9.2. Laporan ditulis setiap hari pada formulir A 1 dan dikirim ke Komite
Keperawatan pada bulan berikutnya.
9.3. Laporan yang masuk ke Komite Keperawatan akan direkap oleh Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan menggunakan formulir B1.
9.4. Hasil rekap akan dianalisa dan dibuat rekomendasi oleh Tim Pengendalian
Mutu Keperawatan dan Komite Keperawatan.
9.5. Menyampaikan hasil rekap dan rekomendasi kepada Direktur Rumah
Sakit, Manager Keperawatan dan unit terkait.

BENTUK EVALUASI
10.1. Observasi langsung oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN )
10.2. Hasil observasi akan direkap setiap bulan dan dilaporkan ke Komite
Keperawatan
10.3. Hasil rekap dari unit akan direkap oleh Tim Pengendalian Mutu
Keperawatan
10.4. Hasil rekap akan dianaliasa dan dibuat rekomendasi untuk unit terkait
10.5. Hasil analiasa dan rekomendasi akan disampaikan oleh Ketua Komite
Keperawatan kepada Direktur Rumah Sakit, Manager
Keperawatan dan unit
terkait.

KERANGKA OPERASIONAL PEMANTAUAN KEJADIAN


INFEKSI LUKA OPERASI RS ISLAM SITI RAHMAH

I.

PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme, maka pelayanan keperawatan
dituntut untuk memberikan pelayanan secara professional. Pelayanan
keperawatan yang profesi diharapkan dapat dinilai melalui rendahnya angka
kejadian infeksi
luka operasi pada penderita yang dilakukan operasi.
Untuk
menilai keprofesionalisme tersebut,
maka diadakan evaluasi
pemantauan kejadian decubitus di unit rawat inap Siti Rahmah. Dengan
pemantauan tersebut akan direkomendasikan cara perawatanluka operasi dan untuk
merevisi SOP yang telah ada.
II.

TUJUAN
2.1. Tujuan Umum :
Untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melaksanakan standar
prosedur keperawatan pasien luka operasi.

2.2. Tujuan umum :


2.2.1. Untuk mendapatkan gambaran tingkat pencapaian terhadap mutu
pelaksanaan standar keperawatan luka pasien operasi
2.2.2. Untuk bahan pertimbangan dalam merevisi standar prosedur
keperawatan
yang telah ada.
III.

SASARAN
Semua perawat pelaksana asuhan keperawatan di unit rawat inap

IV.

RUANG LINGKUP
4.1. Unit VIP
4.2. Unit NICU
4.3 Unit MIZA
4.4..Unit ARAFAH
4.5. Unit SAFA
4.6. Unit ICU
4.7. Unit MARWA
4.8. Unit KB

V.

FREKUENSI DAN WAKTU


Setiap hari dilaporkan 1 x / bulan

VI.

PENANGGUNG JAWAB
Ketua Komite Keperawatan

VII.

METODA
Observasi langsung pada penderita yang memiliki luka operasi selama
perawatan

VIII.
IX.

di rumah sakit.
PELAKSANA
Pelaksana harian PPI ( IPCLN )
MEKANISME KERJA
9.1. Mengobservasi kejadian infeksi luka operasi yang terjadi di rumah sakit

pada
penderita yang dioperasi oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN ) dengan
mengisi formulir surveilan
9.2. Laporan ditulis setiap hari pada formulir A 1 dan dikirim ke Komite
Keperawatan pada bulan berikutnya.
9.3. Laporan yang masuk ke Komite Keperawatan akan direkap oleh Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan menggunakan formulir B1.
9.4. Hasil rekap akan dianalisa dan dibuat rekomendasi oleh Tim Pengendalian
Mutu Keperawatan dan Komite Keperawatan.
9.5. Menyampaikan hasil rekap dan rekomendasi kepada Direktur Rumah
Sakit, Manager Keperawatan dan unit terkait.
X.

BENTUK EVALUASI
10.1. Observasi langsung oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN )
10.2. Hasil observasi akan direkap setiap bulan dan dilaporkan ke Komite
Keperawatan
10.3. Hasil rekap dari unit akan direkap oleh Tim Pengendalian Mutu
Keperawatan
10.4. Hasil rekap akan dianaliasa dan dibuat rekomendasi untuk unit terkait
10.5. Hasil analiasa dan rekomendasi akan disampaikan oleh Ketua Komite
Keperawatan kepada Direktur Rumah Sakit, Manager
Keperawatan dan unit
terkait.

KERANGKA OPERASIONAL PEMANTAUAN KEJADIAN


INFEKSI SALURAN KEMIH NOSOKOMIAL RSISLAM SITI RAHMAH

I.

PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme, maka pelayanan keperawatan
dituntut untuk memberikan pelayanan secara professional. Pelayanan
keperawatan yang profesi diharapkan dapat dinilai melalui rendahnya angka
kejadian infeksi
saluran kemih pada penderita yang dilakukan pemasangan
kateter.
Untuk
menilai keprofesionalisme tersebut,
maka diadakan evaluasi
pemantauan kejadian decubitus di unit rawat inap Siti Rahmah. Dengan
pemantauan tersebut akan direkomendasikan cara perawatanluka operasi dan untuk
merevisi SOP yang telah ada.
II.

TUJUAN
2.1. Tujuan Umum :
Untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melaksanakan standar
prosedur keperawatan pasien pemasangan kateter.

2.2. Tujuan umum :


2.2.1. Untuk mendapatkan gambaran tingkat pencapaian terhadap mutu
pelaksanaan standar keperawatan kateter
2.2.2. Untuk bahan pertimbangan dalam merevisi standar prosedur
keperawatan
yang telah ada.
III.

SASARAN
Semua perawat pelaksana asuhan keperawatan di unit rawat inap

IV.

RUANG LINGKUP
4.1. Unit VIP
4.2. Unit NICU
4.3 Unit MIZA
4.4..Unit ARAFAH
4.5. Unit SAFA
4.6. Unit ICU
4.7. Unit MARWA
4.8. Unit KB

V.

FREKUENSI DAN WAKTU


Setiap hari dilaporkan 1 x / bulan

VI.

PENANGGUNG JAWAB
Ketua Komite Keperawatan

VII.

METODA
Observasi langsung pada penderita yang dilakukan pemasangan kateter yang
mengalami infeksi selama perawatan di rumah sakit.
PELAKSANA
Pelaksana harian PPI ( IPCLN )

VIII.
IX.

MEKANISME KERJA

9.1. Mengobservasi kejadian infeksi saluran kemih nosokomial yang terjadi di


rumah sakit pada penderita yang dipasang kateter oleh pelaksana
harian PPI
( IPCLN ) dengan mengisi formulir surveilan
9.2. Laporan ditulis setiap hari pada formulir A 1 dan dikirim ke Komite
Keperawatan pada bulan berikutnya.
9.3. Laporan yang masuk ke Komite Keperawatan akan direkap oleh Tim
Pengendalian Mutu Keperawatan menggunakan formulir B1.
9.4. Hasil rekap akan dianalisa dan dibuat rekomendasi oleh Tim Pengendalian
Mutu Keperawatan dan Komite Keperawatan.
9.5. Menyampaikan hasil rekap dan rekomendasi kepada Direktur Rumah
Sakit, Manager Keperawatan dan unit terkait.
X.

BENTUK EVALUASI
10.1. Observasi langsung oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN )
10.2. Hasil observasi akan direkap setiap bulan dan dilaporkan ke Komite
Keperawatan
10.3. Hasil rekap dari unit akan direkap oleh Tim Pengendalian Mutu
Keperawatan
10.4. Hasil rekap akan dianaliasa dan dibuat rekomendasi untuk unit terkait
10.5. Hasil analiasa dan rekomendasi akan disampaikan oleh Ketua Komite
Keperawatan kepada Direktur Rumah Sakit, Manager
Keperawatan dan unit
terkait.

KERANGKA ACUAN LAPORAN DETEKSI DINI RS ISLAM SITI RAHMAH

I.

PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme, maka pelayanan keperawatan
dituntut untuk memberikan pelayanan secara professional.
Untuk menilai keprofesionalisme tersebut,maka diadakan evaluasi
pemantauan kejadian infeksi nosokomial di Rs Islam Siti Rahmah.
II.

TUJUAN

2.1. Tujuan Umum :


Untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melaksanakan
deteksi
dini infeksi nosokomial.
2.2. Tujuan umum :
2.2.1. Untuk mendapatkan gambaran tingkat pencapaian terhadap mutu
pelaksanaan standar keperawatan.
2.2.2. Untuk bahan pertimbangan dalam merevisi standar prosedur
keperawatan
yang telah ada.
III.

SASARAN
Semua perawat pelaksana asuhan keperawatan di unit rawat inap

IV.

RUANG LINGKUP
4.1. Unit VIP
4.2. Unit NICU
4.3 Unit MIZA
4.4..Unit ARAFAH
4.5. Unit SAFA
4.6. Unit ICU
4.7. Unit MARWA
4.8. Unit KB

V.

FREKUENSI DAN WAKTU


Setiap hari ada kejadian infeksi nosokomial

VI.

PENANGGUNG JAWAB
Ketua Komite Keperawatan

VII.

METODA
Observasi langsung pada penderita yang dilakukan pemasangan kateter yang
mengalami infeksi selama perawatan di rumah sakit.

VIII.

PELAKSANA
Pelaksana harian PPI ( IPCLN )

IX.

MEKANISME KERJA
9.1. Mengobservasi kejadian infeksi nosokomial yang terjadi di
rumah sakit pada pasien oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN )
dengan mengisi
formulir surveilan
9.2. Laporan ditulis setiap hari pada formulir deteksi dini dan dikirim KPPI.
9.3. Laporan yang masuk ke KPPI akan direkap.
9.4. Hasil rekap akan dianalisa dan dibuat rekomendasi oleh Tim KPPI dan
Komite Keperawatan.
9.5. Menyampaikan hasil rekap dan rekomendasi kepada Direktur Rumah
Sakit, Manager Keperawatan dan unit terkait.
X.

BENTUK EVALUASI
10.1. Observasi langsung oleh pelaksana harian PPI ( IPCLN )

10.2. Hasil observasi akan direkap setiap bulan dan dilaporkan ke Komite
Keperawatan
10.3. Hasil rekap dari unit akan direkap oleh Tim KPPI
10.4. Hasil rekap akan dianaliasa dan dibuat rekomendasi untuk unit terkait
10.5. Hasil analiasa dan rekomendasi akan disampaikan oleh Ketua Komite
Keperawatan kepada Direktur Rumah Sakit, Manager
Keperawatan dan unit
terkait.