Anda di halaman 1dari 38

BAB 1

Pengantar Psikologi Lingkungan


A. Pengertian Psikologi Lingkungan
Psikologi lingkungan mulai berkembang sebagai ilmu sejak tahun
1970-an. Pada awalnya, Prohansky membuat definisi lingkungan sebagai ilmu
yang mempelajari hubungan manusia dengan buatan. Pengertian dari
lingkungan buatan adalah lingkungan yang dibuat oleh manusia.
Pada tahun 1976 Paul Bell membuat definisi tentang psikologi
lingkungan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan interelasi antara
perilaku dan lingkungan buatan. Dalam pengertian tersebut sebagai interelasi
antara perilaku dan lingkungan buatan, yang artinya dalam hubungan antara
manusia dan lingkungan buatan saling mempengaruhi. Pada tahun 1978, Paul
Bell memperbaiki definisi Psikologi Lingkungan sebagai ilmu yang
mempelajari hubungan interelasi antara perilaku dan lingkungan buatan dan
alam. Hal ini untuk mempertegas bahwa interelasi yang terjadi pada manusia
dengan lingkungan tidak terbatas dengan lingkungan buatan, tetapi juga
terjadi dengan lingkungan alam.
Psikologi lingkungan yang merupakan salah satu cabang psikologi,
sudah tentu akan lebih menekankan pada proses psikologisnya dalam
pembentukan tingkah lakunya. Jadi tidak hanya membahas interelasinya yang
tampak, tetapi perlu dibahas bagaimana proses yang terjadi dalam diri
manusia tersebut, sehingga tingkah lakunya terjadi.
B. Karakteristik Psikologi Lingkungan
Psikologi Lingkungan sebagai salah satu cabang ilmu dari psikologi
mempunyai hal berbeda dengan cabang ilmu psikologi lainnya. Adapun
karakteristik Psikologi Lingkungan adalah sebagi berikut :
Di dalam membahas hubungan manusia dengan lingkungan harus dilihat
sebagai satu kesatuan. Hal ini dimaksudkan bahwa disiplin ilmu

psikologi lainnya sering kali memisahkan antara stimulus, manusia dan

respon atau tingkah lakunya.


Analisis mengenai situasi lingkungan sebagai kesatuan yang menyeluruh
merupakan pendekatan yang dinamis dan menerapkan metode
konstruktif. Metode konstruktif dalam hal pengembangan konsep umum
(general concepts) akan lebih memudahkan dalam menjelaskan tingkah
laku manusia. Metode kategirisasi mengelompokkan hal-hal yang sama
dalam satu kategori, dan pengelompokkan tersebut dapat mendasarkan
pada pengalaman yang bersangkutan. Sedangkan metode konstruktif,
dalam pengelompokkannya mendasarkan pada hubungan antarelemen

yang ada, sehingga menggambarkan suatu gagasan konstruktif.


Psikologi Lingkungan mempelajari hubungan interelasi antaratingkah
laku manusia dengan lingkungan. Dalam hal ini terjadi hubungan timbal

balik antara manusia dengan lingkungannya.


Psikologi Lingkungan merupakan kajian yang bersifat interdisiplin.
Dalam hal ini menganalisis interelasi antara tingkah laku manusia dan

lingkungan, tidak dapat dikaji dari satu disiplin ilmu.


Penelitian yang dilakukan dalam Psikologi Lingkungan sulit untuk
membedakan antara penelitian teoritis dengan terapan. Penelitian dalam
Psikologi Lingkungan pada umumnya diawali untuk menyelesaikan
permasalahan yang dihadapi oleh manusia dalam berinteraksi dengan
lingkungannya, dan bukan untuk membangun teori, tetapi untuk
kegunaan khusus. Dengan demikian, penelitian Psikologi Lingkungan
agak sulit untuk melakukan pemisahan antara penelitian terapan dan

teoritis.
Metode penelitian Psikologi Lingkungan menggunakan metode ekletik.
Hal ini disebabkan karena penelitian yang dilakukan dalam Psikologi
Lingkungan adalah untuk menyelesaikan masalah atau lebih besifat
terapan, sehingga metode penelitiannya adalah terpilih yang sesuai
dengan masalah yang harus diteliti. Namun demikian, metode dalam

Psikologi Lingkungan ada pula yang khas, yaitu metode pemetaan


tingkah laku. Metode pemetaan tingkah laku merupakan pengerjaan
menggambar oleh responden mengenai suatu lokasi.
C. Alur Bab Buku
Walaupun dikemukakan pada karakteristik Psikologi Lingkungan yang
menyatakan bahwa Psikologi Lingkungannya tidak memilah antara penelitian
terapan dan penelitian dasar yang mengahsilkan teori. Teori dasar yang
mengawali adalah bagaimana hubungan manusia dengan lingkungannya
dalam perspektif stimulus respon teori. Di mana dalam teori ini manusia
sebagai organism yang dipengaruhi oleh lingkungan. Teori dasar yang banyak
mewarnai dalam Psikologi Lingkungan adalah teori lapangan (Field Theory)
yang dikemukakan oleh Kurt Lewin.
Teori yang menjadi pembahasan dalam buku ini adalah teori tentang
beban lingkungan. Dalam hal ini dibahas mengenai bagaimana manusia
apabila mendapatkan beban lingkungan. Konsep-konsep dalam Psikologi
Lingkungan merupakan masalah yang dihadapi oleh manusia. Bagaimanakah
lingkungan mempengaruhi manusia, maka proses yang terjadi dalam diri
manusia adalah melakukan evaluasi lingkungan. Melalui evaluasi lingkungan
manusia dapat menyatakan lingkungan tersebut baik atau buruk, menarik atau
tidak menarik, dan sebaginya, sehingga dengan evaluasi lingkungan tingkah
laku manusia akan ditentukan.
Di dalam berinteraksi antar manusia akan terkait dengan ruang
personal (Persoanl Space). Ruang personal merupakan suatu ruangan yang
diperlukan dalam berinteraksi. Dengan ruang yang diciptakan oleh dirinya,
maka ia akan merasa nyaman dan berinteraksi. Pembangunan kota yang pesat
sering kali menimbulkan kebingungan bagi penduduk kota tersebut.
Perubahan kota yang terjadi dalam perkotaan akan mempengaruhi tingkah
laku penghuninya, kota akan selalu berkembang dari kota tradisional menjadi
kota yang lebih maju.

Pemetaan kognitif dan social merupakan metode yang dikembangkan


dalam Psikologi Lingkungan. Pemetaan lingkungan (dalam kognitif dan
social) dan konsep serta teori mengenai jaringan social, dapat digunakan
dalam perbaikan perencanaan kota atau wilayah. Dengan demikian,
permasalahan yang tidak perlu terjadi dalam pembangunan dapat diantisipasi
segera.

BAB 2
Teori Dasar dalam Psikologi Lingkungan

A. Pengantar
Di dalam bab ini kita memahami bagaimana teori-teori dasar dalam
psikologi membahas hubungan antara manusia dengan lingkungan. Teori-teori
dasar tesebut membahas reaksi manusia (perilaku dan aspek psikologis) dalam
berhubungan dengan lingkungan. Namun, setiap teori dasar tersebut
mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam memahas proses psikologi
yang terjadi dalam interaksi antara lingkungan dengan manusia.
Adapun teori-teori dasar psikologi tersebut yang akan dibahas adalah:
Teori Stimulus Respon
Teori Kognitif
Teori Lapangan
Melalui teori-teori dasar tersebut dapat dipahami bagaimana manusia
bereaksi terhadap lingkungan. Apakah manusia dipengaruhi lingkungan
ataukah lingkungan berubah karena perilaku manusia, ataukah manusia dan
lingkungan dapat saling mempengaruhi.
B. Teori Stimulus Respon
Stimulus meruapakan rangsangan dari luar manusia, atau sesuatu hal
yang mempengaruhi manusia. Psikologi Lingkungan membahas tentang
stimulus sebagai lingkungan yang akan mempengaruhi manusia yang
berinteraksi dengannya. Lingkungan dalam hal ini dapat lingkungan fisik atau
lingkungan sosial. Sedangkan respon merupakan perilaku atau tingkah laku
yang terjadi pada manusia setelah ia mendapatkan stimulus atau objek yang
terdapat di lingkungan. Dengan demikian, dalam teori stimulus-respon
merupakan sebab-akibat.
Dalam teori stimulus-respon terdiri dari dua aliran yang berbeda, yaitu
aliran pertama yang menyatakan hubungan yang tidak ada perantaranya.
Aliran yang kedua adalah aliran yang melihat adanya perantara dalam
hubungan antara lingkungan (stimulus) dengan tingkah laku, yaitu proses faali
dalam diri manusia. Secara sederhana, hubungan antara stimulus dengan

lingkungan atau hubungan lingkungan dan manusia dapat dilihat pada bagan
berikut ini:

Stimulus/
Lingkungan

Manusia

Tingkah Laku

Asosiatif
Bagan 2: Hubungan asosiatif antara stimulus dan lingkungan

Pada bagan 2 di atas tampak bahwa seolah-olah apa yang terjadi dalam
diri seseorang tidak diperhatikan. Hubungan demikian dapat terjadi pada
masalah yang sederhana. Aliran todak melihat peran proses yang terjadi dalam
diri manusia banyak dalam suatu proses belajar, yaitu proses belajar dengan
cara pengkondisian (conditioning learning) dari Ivan Paplov. Perkembangan
proses belajar dalam teori stimulus respon menyertakan variable lain, yaitu
pemberian hadiah atau hukuman sebagai variable yang dapat memperkuat
hubungan stimulus dengan respon. Aliran teori stimulus respon yang
memperhitungkan adanya peoses yang terjadi dalam diri manusia, dipelopori
oleh Hull. Ia mengatakan bahwa hubungan antara stimulus atau lingkungan
dengan manusia tidak hanya hubungan asosiatif tetapi dapat pula hubungan
nonasosiatif. Hull bermaksud menjelaskan

bahwa didalam diri manusia

terdapat suatu proses, yaitu proses faali.

C. Teori Kognitif
Kognitif merupakan proses sentral atau proses mental yang
mengantarai peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar diri seseorang dengan
yang terjadi di dalam diri manusia. Menurut Festinger pada tahun 1957
mengidentifikasikan elemen kognitof sebagai kognisi, dan didefinisikan
sebagai sesuatu yang diketahui oleh seseorang mengenai dirinya sendiri,
tingkah lakunya, dan lingkungan diskitar. Struktur kognitif sangat berperan
dalam proses belajar, persepsi dan proses psikologis lainnya. Dalam

berinteraksi antara manusia dengan lingkungan dipersepsi oleh manusia


dengan menggunakan dimensi psikologis yang ada dalam kognitifnya.
Teori kognitif membedakan dengan teori stimulus respon, yaitu di
dalam kajian teori kognitif menjelaskan tentang pemberian arti. Pemberian
arti merupakan konsep sentral dalam teori kognitif dan memainkan peranan
penting dalam menjelaskan secara teoritis mengenai proses psikologis yang
kompleks. Schreerer menyatakan bahwa persepsi merupakan representasi
fenomena objek distal yang terorganisasi, media dan stimulus proksimal
kemudian disimpulkan mengenai fenomena yang terorganisasi tersebut. Di
dalam persepsi tersebut terjadi proses pemberian makna atau arti tentang
objek yang dihadapi oleh orang yang mempersepsi.
Persepsi dalam Psikologi Lingkungan merupakan konsep yang sangat
penting dalam psikologi lingkungan. Hal ini dikarenakan bahwa setiap
interaksi manusia dengan lingkungannya, maka proses persepsi yang akan
mengawali dari perilaku yang terjadi. Di dalam proses persepsi dapat terjadi
perbedaan pemaknaan antara satu orang dengan orang yang lain.

D. Teori Lapangan (Field Theory)


Teori lapangan atau Field Theory tokohnya adalah Kurt Lewin.
Dalam membahas mengenai teori lapangan menggunakan psrisip gestalt.
Teori lapangan menekankan bahwa dalam analisis yang dilakukannya adalah
mendasarkan pada situasi secara keseluruhan. Setelah menganalisis secara
keseluruhan, akan menganalisis elemen yang lebih kecil. Dengan demikian,
analisis tersebut akan menjai lengkap.
Prinsip teori lapangan lain yang perlu diperhatikan adalah pendekatan
dinamis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan dinamis adalah dalam
menganalisis perubahan dalam diri seseorang. Perubahan dalam diri
disebabkan oleh adanya daya psikologi yang terjadi. Perilaku atau tingkah
laku terjadi adalah karena adanya perubahan dalam ruang kehidupan (life

space) seseorang. Tingkah laku seseorang terjadi karena adanya perubahan


dalam ruang kehidupan (life space) seseorang.
Prinsip lain yang perlu diperhatikan dalam teori lapangan adalah
menekankan pada proses psikologis. Sebagaimana dalam teori kognitif yang
menekankan pada pemberian makna yang bersifat subjektif, demikian pula
dalam teori lapangan psikologis yang dihadapi seseorang. Hal ini berarti
dalam interaksi manusia dan lingkungan, manusia hanya akan melakukan
interaksi terhadap lingkungan yang merupakan lapangan psikologisnya.
Lingkungan yang tidak menjadi lapangan psikologisnya tidak akan mendapat
respon yang memadai.
Interaksi antara personal atau individu manusia dengan lingkungan
disebut sebagai ruang kehidupan (life space). Ruang kehidupan merupakan
hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan yang berarti bagi manusia
tersebut atau disebut sebagai lingkungan psikologis. Dalam interaksi antara
manusia dengan lingkungan, manusia akan memberikan penialian terhadap
lingkungannya. Tujuan yang ingin dicapai oleh manusia akan berada
dilingkungannya. Penilaian tersebut akan memberikan nilai positif atau
negatif, jika lingkungan yang dihadapinya mempunyai nilai yang positif maka
lingkungan tersebut memiliki daya tarik yang disebut sebagai vektor atau daya
yang member arah. Demikian pula sebaliknya dengan nilai negatif pada
lingkungan akan memberikan daya tolah (vektor menjauh).
Teori lapangan menjelaskan pula mengenai tingkah laku yang terjadi
dengan daya-daya (forces) yang bekerja ketika interaksi antara manusia
dengan lingkungannya. Dalam menjelaskan mengenai daya yang ada, teori
lapangan mengemukakan mengenai daya yang mengarahkan (driving forces),
daya yang menghambat (restraining forces), daya yang dapat mempengaruhi
seseorang (induced forces) dan daya yang dapat berpengaruh namun bersifat
bukan manusia (impersonal forces).

BAB 3
Teori-teori dalam Psikologi Lingkungan
A. Fungsi Teori dalam Psikologi Lingkungan
Psikologi lingkungan merupakan ilmu inter disiplin dan merupakan ilmu
pengetahuan yang dalam penelitiannya mengembangkan pengelitian teoretis dan
praktis. Teori-teori dalam psikologi lingkungan adalah menjelaskan bagaimana
hubungan antara manusia dengan lingkungan. Variabel-variabel lingkungan akan
memengaruhi atau berhubungan dengan fungsi-fungsi psikologis manusia yang
dapat terjadi dalam dirinya atau iklim psikologis yang terbentuk dalam interaksi
antara manusia dengan lingkungan.
Teori-teori Psikologi Lingkyngan dapat menjebatani pemahaman dengan
disiplin ilmu lain yang lebih menjelaskan mengenai lingkungannya. Sedangkan
psikologi tidak mungkin menjelaskan lebih mendalam tentang aspek-aspek
lingkungannya dengan rinci. Misalnya dalam kaitannya antara pencemaran udara
dengan perilaku manusia.
Berdasarkan pada uraian diatas, paling tidak ada 3 fungsi teori:

1. Teori dapat membantu kita dalam menjelaskan dan memprediksi


hubungan antarvariabel yang berkaitan dalam hubungan antara
manusia dengan lingkungan.
2. Teori diperoleh dari suatu penelitian yang menghimpun sejarah besar
data.
3. Teori

yang

menyimpulkan

konsep-konsep

dan

menjelaskan

hubungannya akan menjadi pengetahuan bagi manusia.


Teori harus selalu dievaluasi, karena setiap pengamatan yang melihat
suatu peristiwa sebagai hubungan sebab akibat, dapat menambah atau mengurangi
atau mengubah teori tersebut. Dengan demikian, suatu ilmu akan berkembang dan
memberikan pengetahuan yang semakin kompleks lepada manusia.
B. Teori Ekologi Psikologi
Perspektif teori yang dikemukakan oleh Barker dan Bell, adalah efek
yang spesifik dari lingkungan pada perilaku. Dalam teori psikologi ekologi
mengkaji hubungan antara lingkungan dengan tingkah laku adalah secara
ekologis saling tergantung. Fokus kajuan Barker dalam hal ini adalah pengaruh
seting perilaku pada tingkah laku banyak orang, yang disebut sebagai Extraindividual Behavior Pattern.
Perilaku manusia berinteraksi dengan lingkungan fisik yang berada dalam
tiga dimensi ruang. Stimulus lingkungan merupakan objek yang terdapat di
lingkungan. Manusia dalam berinteraksi antara lingkungan dengan objek yang
terdapat di lingkungan akan melakukan adjustment secara timbal balik antara
individu, lingkungan sosial dan lingkungan fisik.
Pemaknaan terhadap lingkungan dipengaruhi oleh dua faktor determinan
dalam persepsi, yaitu:
1. Faktor struktural yang terdiri dari objek distal yang membentuk objek
proximal dan kemudian mendistribusikan sinyal syaraf pengindraan ke
sistem jaringan saraf pusat.
2. Faktor fungsional yang merupakan daktor-faktor psikologis yang akan
memberikan arti, di mana dalam hal ini antara lain berfungsi pula

10

seperti misalnya emosi, suasana hati, kecerdasan, pengalaman masa


lalu, dsb.
Ketika kita mempersepsi objek yang berada di lingkungan, objek tersebut
tidak mengalami perubahan. Tetapi dalam proses pemaknaan tersebut, benda
tersebut memiliki makna tertentu.
C. Teori Beban Lingkungan
Masukan dari lingkungan yang akan masuk pada manusia dalam psikologi
disebut stimulus. Manusia memiliki keunikan dalam menghadapi stimulus, yaitu
menyeleksinya. Stimulus yang masuk sangat banyak, maka dari itu manusia akan
menyeleksi stimulus lingkungan mana yang relevan, dan akan diproses oleh
manusia.
Namun, manusia sering menghadapi situasi yang tak terhindarkan di mana
stimulus lingkungan yang masuk cukup banyak yang relevan. Dalam situasi
demikian, manusia akan sulit untuk menyeleksi stimulus tersebut sehingga
menimbulkan rasa jenuh.
Dalam situasi stimulus lingkungan yang banyak akan memberikan
informasi. Manusia akan memberikan perhatian yang menyempit untuk lebih
fokus pada informasi yang paling relevan. Namun, ketika informasi yang masuk
terlalu banyak, maka itu akan menekan dirinya. Stimulus demikian dapat
menyebabkan stress, dan stimulus lingkungan tersebut menjadi stressor.
Artinya, stimulus lingkungan dirasakan sebagai beban bagi ditinya.
Cohen dan Milgram (1970) menyatakan bahwa manusia mempunyai
kapasitas yang terbatas dalam mengolah informasi. Ketika manusia menerima
indormasi dalam jumlah banyak, dan informasi tersebut melebihi kapasitas untuk
memproses informasi, maka ia akan merasakan sebagai beban yang berlebih.
Strategi yang dilakukan oleh manusia dalam menghadapi situasi beban
lingkungan adalah dengan mengabaikan informasi yang masuk.
Cohen mengajukan empat asumsi dasar, yaitu:
1. Manusia mempunyai kapasitas yang terbatas untuk memproses
informasi/stimulus yang masuk, dan hanya dapat menyimpannya
dalam jumlah yang terbatas dalam satu waktu.

11

2. Ketika stimulus lingkungan telah melebihi kapasitas untuk mengolah


dan memberikan perhatian pada lingkungannya, maka strategi yang
normal adalah mengabaikan stimulus yang kurang relevan, dan
mmemberikan atensi kepada informasi yang berlebih.
3. Ketika stimulus lingkungan muncul pada manusia, maka ia akan
beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini berarti bahwa dalam
dirinya akan melakukan evaluasi tentang stimulus lingkungannya
dengan cara proses memantau, dan memberikan putusan cara
menghadapi hal-hal yang dihadapi.
4. Jumlah perhatian yang ada pada diri seseorang adalah tidak konstan,
dan mungkin dalam waktu temporer akan menyedot kapasitas dalam
memberikan perhatian.
Kondisi yang dirasakan oleh seseorang ketika ia mengalami beban
berlebih karena informasi yang diberikan lingkungan adalah tidak menyenangkan,
dan memunculkan ketegangan. Apabila ini terus berlanjut, maka akan
mengganggu konsentrasi dan pada akhirnya kinerja yang ditampilkan akan
menurun.
D. Teori Adaptasi
Wohlwill (1974) menyatakan stimulasi yang disukai manusia adalah
stimulasi yang moderat diungkapkan pada teori tingkatan adaptasi. Seseorang
menilai lebih atau kurangnya stimulus adalah dengan adanya pengindraan dan
persepsi. Hal ini berarti bahwa teori adaptasi mengacu pada teori kognitif. Pada
kognisi yang dimiliki seseorang akan menilai stimulus lingkungan, sehingga ia
akan melakukan adaptasi.
Dalam teori adaptasi, terdapat tiga dimensi yang membuat stimulus yang
muncul pada seseorang menjadi optimal, yaitu:
1. Intensitas stimulus yang mengenai manusia, ketika berinteraksi dengan
lingkungan.
2. Keragaman stimulus yang menerpa manusia dalam berinteraksi
dengan lingkungan.

12

3. Pola stimulus yang dipersepsi adalah meliputi struktur dan kejelasan


polanya.
Interaksi manusia dengan lingkungannya, ia akan mencari stimulus
lingkungan yang optimal, yaitu stimulus yang moderat dalam ketiga dimensi
diatas. Namun demikian, apabila stimulus lingkungan yang muncul adalah tidak
optimal, maka manusia akan menoleransi stimulus lingkungannya.
Wohlwill menyatakan bahwa manusia yang bergeser dari stimulus yang
optimal adalah tingkatan adaptasi. Adaptasi adalah suatu pergeseran kuantitatif
dalam memberikan penilaian atau respon afeksi sepanjang kuantitatif dalam
memberika penilaian atau respon afeksi sepanjang stimulus yang menerpa dirinya
secara terus menerus. Tingkatan adaptasi tidak hanya berbeda antara satu manusia
dengan manusia yang lain sebagai fungsi dari pengalaman, tetapi dapat terjadi
karena perbedaan tingkatan stimulasi dari satu waktu ke waktu. Dengan demikian
dalam tingkatan adaptasi akan terjadi pergeseran ambang toleransi seseorang
terhadap stimulus lingkungan yang muncul.
Ada pula pemahaman yang lain dalam membahas interaksi antara manusia
dengan lingkungan, yaitu adjustment. Sonnenfeld (1966) dalam Bell, meyatakan
bahwa adjustment adalah manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan, ia
mengubah lingkungan agar sesuai dengan keinginannya. Dalam hal ini manusia
berusaha mempertahankan standar yang dimiliki.
Perbedaan mekanisme adaptasi dan adjustment antara lain:
1. Adaptasi:
a. Manusia mengikuti kehendak lingkungan, dan ia menoleransi
lingkungannya. Atau ia memperbesar ambang toleransinya
terhadap lingkungan.
b. Manusia tidak perlu

melakukan

upaya

untuk

mengatasi

lingkungan.
2. Adjustment:
a. Manusia mengubah lingkungan agar seuai dengan standar yang
dimilikinya.
b. Manusia harus memiliki kemampuan untuk dapat mengubah
lingkungan, baik kemampuan intelektual, skill, maupun uang.

13

E. Teori Stres Lingkungan


Lingkungan yang berada di sekitar manusia memberikan stimulasi yang
dapat dimaknakan sebagai stressor atau stimulus yang dapat menimbulkan
tekanan pada seseorang. Karakteristik stressor atau stimulus lingkungan yang
menimbulkan tekanan pada diri seseorang adalah stimulus yang mengancam pada
diri seseorang. Namun, suatu peristiwa dapat dipersepsi sebagai ancaman atau
bahkan sebagai tantangan.
Fakto-faktor yang memungkinkan seseorang merasa terancam adalah
dikarenakan adanya penilaian terhadap objek lingkungan, dan dapat dikategorikan
sebagai berikut:
1. Peristiwa yang dikategorika sebagai kejadian yang mendadak, dan
tidak ada atau sedikit sekali memberikan peringatan bahwa akan
terjadi suatu peristiwa. Peristiwa ini disebut sebagai cataclysmic
events. Peristiwa ini dapat memberikan dampak yang besar, dan
biasanya membutuhkan upaya yang besar untuk mengatasinya.
2. Kategori stress personal yang merupakan stress yang dialami oleh
seseorang, dan tidak melanda banyak orang seperti cataclysmic events.
Dampak yang ditimbulkan pada seseorang berakibat berat, tetapi pada
umumnya cepat teratasi.
3. Stress yang berulangkali terjadi. Sehingga seseorang dapat mengalami
peristiwanya setiap hari. Stress ini bersifat relatif, dirasakan ringan
bila dibandingkan dengan dua kategori stes diatas.
Menurut Selye, seseorang berinteraksi dengan

stimulus-stimulus

lingkungan yang dapat menimbulkan stress bagi seseorang, maka di dalam


dirinya akan muncul gejala-gejala aktivitas saraf otonom meningkat. Aktivitas
saraf otonom secara otomatis bekerja karena dirinya merasakan stress.
Kemudian Lazarus memperbaiki pendapat itu. Seseorang

akan

mengalami stress apabila ia telah melakukan penilaian kognitif yang terdapat


dalam dirinya. Apabila hasil penelitian kognitif menyatakan bahwa stimulus
lingkungan yang dihadapinya tidak mengancam dirinya, maka proses fisiologis
tersebut tidak berlangsung dan kondisi psikologis ini seimbang kembali.

14

Namun demikian, manusia akan melakukan upaya mengatasi situasi stes.


Upaya itu disebut strategi. Strategi itu bisa berupa kemarahan, menghindar,
melawan stimulus, dll. Apabila berhasil, maka ia bertingkah laku adaptasi atau
adjustment. Apabila gagal menghadapi stress, maka ia akan mengalami
kejenuhan dan makin menderita yang bisa mengakibatkan gangguan psikologis.
F. Teori Jaringan sosial
Jaringan sosial merupakan bentuk perilaku manusia yang menghubungkan
manusia dengan objek jaringan sosialnya dalam suatu mobilisasi (pergerakan)
manusia dari suatu tempat ke tempat yang lain untuk keperluan khusus dan dalam

15

situasi yang khusus pula. Jaringan sosial merupakan lingkungan yang bermakna
bagi seseorang, sehingga ia harus melakukan pergerakan menuju objek jaringan
sosial. Jaringan sosial dapat berupa sekolah, saudara, kantor, dll.
Jaringan sosial mempunyai beberapa dimensi, yaitu:
1. Keragaman relasi,yaitu jumlah variasi relasi yang ada, seperti
kehidupan bertetangga, teman sekerja, saudara, dll.
2. Menunjukkan kedekatan dari persahabatan dengan jaringan sosialnya.
3. Hubungan simetris, yaitu adanya hubungan yang seimbang dan
memiliki keuntungan secara sama.
4. Tingkat komitmen dalam melakukan relasi, karena adanya intesitas
dalam melakukan interaksi.
5. Frekuensi para aktor yang terlibat dalam berinteraksi dengan jaringan
sosialnya di luar aktivitas sehari-harinya.
6. Jumlah aktor yang dapat dihubungi dalam melakukan perilaku
jaringan sosial.
7. Kesamaan usia, jenis kelamin, status sosial, pendidikan dalam
melakukan interaksi dengan jaringan sosialnya.
8. Keluasan hubungan antar aktor dinyatakan sebagai perbandingan dari
jumlah hubungan yang ada dengan jumlah kemungkinan hubungan.
9. Rata-rata jumlah hubungan antar dua aktor dengan jalur singkat.
10. Keluasan total jaringan sosial yang dipisahkan ke dalam klik atau
kelompok berbeda.
Altman dan Taylor menyatakan bahwa proses pertemanan atau
persahabatan dalam membentuk jaringan sosial diungkapkan sebagai proses
penetrasi sosial. Hipotesis yang diungkapkannya adalah sebagai berikut:
1. Proses penetrasi sosial bermula dari tingkatan yang bersifat dangkal
kearah mendalam (intim).
2. Proses penetrasi sosial bergerak secara bertahap dari tingkat
kedekatannya.
3. Tingkatan penetrasi sosial adalah bervariasi, sebagai fungsi dari
hubungan interpersonal yang ditandai oleh biaya dan keuntungan
dalam melakukan interaksi.
Salah satu aktivitas jaringan sosial dapat dilihat dari pola interaksi antar
tetangga di pemukimannya maupun di luar lokasi pemukimannya. Jaringan sosial

16

dapat dilihat dari hubungan dengan orang lain yang sedikit dikenalnya (looseknit),
dan jaringan sosial yang menunjukkan bahwa ia banyak saling kenal (closeknit).
Dengan demikian akan terlihat pola interaksi seseorang dengan jaringan
sosialnya.
Semakin luas jaringan sosial, maka aktivitasnya akan makin banyak.
Apabila seseorang dalam aktivitas jaringan sosial yang luas melakukan mobilitas,
maka hal ini akan terkait dengan permasalahan transportasi di dalam kota
sehingga perlunya mendapatkan perhatian yang lebih.
Perilaku jaringan sosial pada dasarnya merupakan fungsi dari proses
psikologis, objek jaingan, penggunaan fasilitas lain, daya tarik lingkungan
pemukiman, dan kemampuan jangkau. Proses psikologis dalam hal ini merupakan
proses persepsi, motivasi, dan sikap serta aspek psikologis lainnya.Apabila
dinotasikan dalam suatu rumusan, maka:
P.J.S = f (P.P, K.B, F.L, K.J, O.J)
Keterangan:
P.J.S = Perilaku Jaringan Sosial
f
= fungsi
P.P
= Proses Psikologis
K.B = Kehidupan Bertetangga atau Daya Tarik Lingkungan Pemukiman
K.J = Kemampuan Jangkau
O.J = Objek Jaringan Sosial
Rumusan di atas mendasarkan pada teori lapangan (field theory) yang
menggunakan rumus: B = f (P,E); di mana B adalah perilaku (behavior), f adalah
fungsi, P adalah person yang merupakan proses psikologis, dan E adalah

17

lingkungan (environment). Hubungan antarvariable tersebut terlihat pada bagan


ini.

BAB 4
Evaluasi Lingkungan dan Lingkungan yang Dipilih
A. Evaluasi Lingkungan dan Persepsi Lingkungan
Apabila seseorang menyatakan bahwa lingkungan yang dihadapinya baik
atau buruk, maka proses psikologis yang bekerja dalam evaluasi lingkungan
adalah persepsi. Di dalam diri manusia yang terjadi diawali oleh proses
pengindraan, kemudian proses kognisinya mengenai lingkungan yang dihadapi
adalah memberikan arti dan menilai. Dengan demikian, salah satu alat untuk
melakukan evaluasi lingkungan pada seseorang adalah persepsi.
Evaluasi berada dalam proses yang terjadi di komponen kognitif lebih
dalam dibandingkan persepsi. Di mana persepsi berada paling luar, sehingga
persepsi sangatlah subjektif dan mudah sekali berubah pemaknaannya. Sedangkan
proses evaluasi memerlukan fungsi kognitif lainnya, yaitu kemampuan analisis,
sehingga berbagai fungsi psikologis lainnya akan berperan.
Faktor psikologis yang sering dilakukan oleh seseorang adalah melibatkan
komponen psikologis lainnya. Apabila dalam persepsi hanya melibatkan
komponen kognitif, maka komponen afektif dan psikomotor dapat saja
digunakan. Seseorang dalam melakukan evaluasi lingkungan dapat menyatakan
rasa senang atau tidak senang. Evaluasi lingkungan tersebut melibatkan faktor

18

psikologis lainnya, yaitu sikap. Hal ini berarti bahwa ketiga komponen sikap,
yaitu kognisi, afeksi, dan konasi melakukan evaluasi terhadap lingkungannya.
B. Lingkungan Terpilih
Ketertarikan seseorang merupakan suatu proses yang cukup komperhensif.
Artinya ketertarikan terhadap suatu objek dapat dikarenakan sebagai hasil
evaluasi di komponen kognitif. Atau kertertarikannya tersebut disebabkan oleh
komponen emosi atau afektif karena ia menyenagi objek tersebut.
Hasil penelitian oleh Steven Kaplan dan Rachel Kaplan (1975) yang
menggunakan model prefensi adalah sebagai berikut:
COHERENCE: Tingkatan pemandangan objek yang saling tergantung
atau memiliki organisasi, semakin koheren akan semakin besar untuk dipilih
pemandangannya.
LEGIBILITY: Tingkatan yang dapat membedakan pengamat untuk
memahami atau mengategorikan isi pemandangan objek. Semakin besar legibility
akan semakin dipilih.
COMPLEXITY: Jumlah dan variasi dari elemen-elemen pemandangan
atau objek yang berada di lingkungan, seperti perumahan, kompleks pertokoan,
dan pusat perbelanjaan. Semakin bergam suatu lingkungan akan semakin
menarik.
MYSTERY: Tingkatan dimana pemandangan objek berisikan informasi
tersembunyi, dengan adanya salah satu yang tergambarkan dalam pemandangan
akan dicari informasinya. Demikian pula dengan informasi yang tersembunyi
akan menimbulkan keinginan seseorang untuk mencari tahu informasi yang
tersembunyi di lingkungannya.
Evaluasi lingkungan tidak hanya menggunakan konsep Kaplan, tetapi
seperti halnya penilaian lingkungan yang dilakukan oleh Berlyne, evaluasi yang
dilakukannya mengaitkan bagaimana orang menilai keindahan lingkungan.
Berlyne mengemukakan dua konsep utama dalam hal manusia menilai
lingkungan, yaitu dengan membandingkan hal-hal yang terdapat pada stimulus
atau objek lingkungan dan eksplorasi.

19

Membandingkan objek lingkungan dapat terjadi pada objek yang berada


di tempat yang sama atau membandingkan dengan lingkungan lain di masa
lalu.dalam upaya membandingkan objek lingkungan, seseorang akan terkesankan
oleh elemen kompleksitas yang terdapat di lingkungan. Hal ini berarti bahwa
elemen lingkungan yang memiliki variasi cukup akan menarik bagi manusia.
Elemen lingkungan yang menarik adalah adanya unsure keganjilan.
Elemen keganjilan karena adanya ketidaksesuaian di antara faktor yang terdapat
di lingkungan kita dan konteksnya. Untuk membandingkan suatu lingkungan
yang satu dengan yang lainnya, dapat dilakukan dengan hadirnya elemen yang
membuat seseorang heran. Keheranan ini terjadi karena adanya meluasnya
harapan kita pada suatu objek tanpad diketahui. Adanya elemen lain yang tidak
diketahui dan di luar harapan seseorang pada suatu lingkungan menyebabkan ia
menjadi heran.
Konsep lain yang dikemukakan oleh Berlyne adalah eksplorasi. Berlyne
membedakan dua bentuk eksplorasi, yaitu eksplorasi lingkungan yang mencari
variasi lain dan eksplorasi yang spesifik. Upaya mencari variasi lain adalah
dikarenakan stimulusnya kurang, sehingga ia berusaha mencari yang lain.
Sedangkan eksplorasi spesifik dilakukan karena penyelidikannya

untuk

mengurangi hla-hal yang kurang jelas atau kepuasan untuk memenuhi


keingintahuan terhadap stimulus yang muncul.
Penilaian atau evaluasi lingkungan berdasarkan konsep dari Kaplan atau
Berlyne merupakan suatu penilaian lingkungan dalam kondisi yang wajar dan
konsep tersebut dapat diterapkan pada pemilihan kunjungan daerah wisata.
Namun demikian, variable lain yang perlu diperhitungkan adalah variabel
keamanan dan kenyamanan di daerah tujuan wisata.
Russell dan Lanius mengemukakan suatu model afektif dalam memilih
suatu lingkungan. Lingkungan dapat menggugah atau tidak menggugah
perasaan pengunjunga. Demikian pula suatu lingkungan yang menyenangkan
dan tidak menyenangkan. Russell dan Lanius membuat konsep ini sebagai suatu
bagan, yaitu sebagai berikut.

20

Namun demikian, di dalam melakukan evaluasi lingkunagna tidaklah


sama komponen yang digunakan untuk melakukan penilaian lingkungannya. Post
occupancy evaluation sering digunakan oleh para arsitek dalam melakukan
pembaruan lingkungan. Sehingga post occupation evaluation merupakan salah
satu metode evaluasi lingkungan.
C. Estetik
Estetik dapat dikatakan sebagai refleksi kritis pada seni, budaya dan
alam.Namun demikian estetik pada dasarnya merupakan keputusan dari orang
yang melihatnya. Selera yang terkait dengan proses sensoris tersebut akan
berhubungan dengan emosi yang menyenangkan bagi orang yang melihatnya,
sehingga ia dapat menyatakan lingkungan adalah indah.
Sebelum seseorang dapat menikmati lingkungan, ia harus melakukan
interpretasi tentang lingkungan tersebut, di mana proses interpretasi tersebut
melibatkan fungsi psikologis, yaitu emosi, pengalaman, nilai dan intelektual.
Bila dikaji lebih lanjut mengenai estetik, maka perlu diketahui faktorfaktor yang memengaruhi seseotang dalam menyatakan indahnya suatu
lingkugan.

21

1. Emosi merupakan proses evaluasi yang singkat mengenai stimulus


atau lingkungan yang dihadapinya. Penilaian lingkungan yang positif
akan mengaitkan pada pengalaman subjektif mengenai emosi. Bower
menyatakan bahwa seseorang dalam suasana hati yang senang ketika
menghadapi lingkungan, maka ia akan mngaitkan perasaan senang
pada masa lampaunya. Hal ini terkait dengan pengalaman yang
menyenangkanbagi dirinya untuk melihat objek yang indah dan
dikaguminya.
2. Pandangan estetika yang menggunakan intelektual
Kemampuan analisis dalam melakukan penilaian akan turut berperan,
sehingga ia dapat memutuskan apakah lingkungannya indah atau
tidak. Hal ini membutuhkan kecerdasan dan pengetahuan.
3. Budaya
Keindahan pada setiap budaya berbeda-beda. Contohnya adalah warna
merah. Pada setiap budaya memiliki arti yang berbeda-beda, sehingga
keindahan atau estetikanya pun berbeda. Oleh karena itu, faktor
budaya akan mewarnai dalam estetik.
4. Pilihan
Estetika merupakan pilihan seseorang yang memiliki cita rasa, ataupun
yang terkait dengan nilai yang diyakininya, dan hal ini tidak terlepas
dari aspek intelektual.
5. Nilai
Nilai-nilai religi, seni, budaya, ekonomi, merupakan nilai-nilai yang
dapat menentukan seseorang dalam memutuskan suatu lingkungan
atau objek mempunyai estetika atau tidak. Estetika juga merupakan
suatu nilai yang dimiliki seseorang.
6. Estetika merupakan keputusan yang disadari
Keputusan yang dilakukan oleh seseorang untuk menyatakan bahwa
lingkungan yang diamati memiliki nilai estetik adalah keputusan yang
disadari. Hal ini berarti bahwa seseorang yang mengamati suatu
lingkungan menyadari adanya suatu hubungan intensi antara dirinya
dan lingkungannya.

22

BAB 5
Pemetaan Kognitif dan Kognitif Lingkungan
A. Pemetaan Kognitif dan Kognitif Lingkungan
Pemetaan kognitif pada dasarnya merupakan bagiann dari kehidupan
manusia sehari-hari karena ketika manusia akan pergi kesuatu tempat dia akan
membayangkan bagaimana cara menuju tujuannya baik itu membyangkan rute,
daerah dna lokasi yang dikenalnya. Singkatnya, suatu pemetaan kognitif
tergantung pada informasi yang masuk kedalam seseorang, yang diterima ke otak
akan diproses dan jika informasi tersebut kurang lengkap tentu akan menentukan
pemetaan kognitifnya.

23

1. Faktor-faktor dalam pemetaan kognitif meliputi informasi yang


diperoleh manusia, kemampuan mengingat, kemampuan abstraksi
ruang, dan persepsi lingkungan.
2. Informasi dalam pemetaan kognitif meliputi beberapa hal:

Tempat merupakan suatu tempat dan awal tujuan dimana perilaku


seseorang akan mengenal tempat tujuannya dan posisi ia akan
berangkat. Dengan informasi yang dia peroleh akan bisa
mengambarkan peta kognitifnya untuk mengenal tujuannya.

Hubungan spasial antartempat, jika seseorang sudah mengenali


tempat tujuannya maka ia akan menghubungkan dengan tempat ia
berada.

Rencana perjalanannya (rute). Setelah mendapatkan gambaran


mengenai tujuan maka ia akan membuat rencana mengenai
perjalanannya.

Landmark merupakan suatu penciri yang terdapat

dalam

pemetaan kognitif.
3. Daya ingat (memori) dalam pemetaan kognitif
Proses mengingat merupakan suatu kaitan aktivitas yang
berlangsung dalam diri seseorang. Informasi yang yang diterima oleh
seseorang akan dianalisis dalam pemikiran seseorang dan orang
tersebut

mengolah

informasi

berdasarkan

pengetahuan

yang

dimilikinya dengan begitu ia akan memahami informasi tersebut.


Proses pengolahan ini disebut encoding. Setelah encoding, maka
seseorang akan masuk pada proses penyimpanan dan setelah itu maka
informasi tersebut akan digunakan sebagai pengetahuan yang
dimilikinya. Pengetahuan yang ditampilkan oleh seseorang berasal

24

dari memorinya. Pengetahuan tentang lingkungan dalam kaitannya


dengan ruang dapat digambarkan sebagai pemetaan kognitif.
4. Kemampuan abstraksi ruang
Perilaku spasial atau perilaku di ruang adalah perilaku yang
menghantarkan kita dalam berprilaku di ruang. Untuk melakukan
pemetaan kognitif membutuhkan suatu kemampuan abstraksi ruang.
Pemetaan kognitif memiliki kaitan yang erat dengan kecerdasan.
Dimana

dalam

pengukuran

kecerdasan

terdapat

komponen

kemampuan abstraksi atau yang sering disebut dengan kecerdasan


spasial. Kecerdasan tersebut merupakan kemampuan untuk memahami
bentuk dan image tiga dimensi yang melibatkan interpretasi dimensi
ruang yang mungkin tidak dapat dibayangkan.
B. Persepsi lingkungan
Proses persepsi mempunyai peran dalam pembentukan pemetaan kognitif.
Tempat akan mudah diingat apabila tenpat tersebut mempunyai makna tersebut.
Proses pemberian makna akan terjadi pada persepsi tentang lingkungan yang
diamatinya.
C. Keterkaitan pemetaan kognitif dengan berbagai aspek
1. keterkaitan pemetaan kognitif dengan perkembangan manusia
Manusia

dalam

berinteraksi

dengan

lingkungannnya

akan

membentuk pemetaan kognitifnya. Pembentukan itu terjadi pula dengan


perkembangan manusia sejak kecil, anak umur 1 tahun mulai dengan
mengeksplorasi ruang, anak mencoba mengenal lingkungannya dengan
menjelajahi ruang dirumahnya lalu ke rumah tetangganya, hal itu terus
berkembang hingga pemetaan kognitifnya semakin luas cakupannya dan
anak mampu memetakan dan mendeskripsikan lingkungannya.

25

2. keterkaitan pemetaan kognitif dengan kebiasaan dan budaya


Interaksi antar manusia dan lingkungan akan memengaruhi
perilaku individu ataupun suatu kelompok masyarakat atau budaya. Pola
perilaku tersebut dibentuk berdasarkan kebiasaan di masyarakat dan akan
terus berulang. Maka perilaku yang berulang tersebut akan memengaruhi
dan membentuk pemetaan kognitif individu dalam berprilaku didalam
masyarakat.
3. keterkaitan pemetaan kognitif dengan perencanaan
Pemetaan kognitif akan mudah terbentuk apabila suatu daerah
memiliki perencanaan yang baik dan dapat dilakukan pengawasan
lingkungannya. Dengan begitu saat manusia berinteraksi dengan
lingkungan akan mudan memproses pembuatan pemetaan lingkungan.
Pemetaan lingkungan yang terencana dengan baikdan dapat diawasi akan
mudah dibuat peta kognitifnya. Dalam membuat perencanaan yang perlu
dipertimbangkan adalah kemudahan pembentukan pemetaan kognitif bagi
penghuninya.

BAB 6
Ruang Personal, Teritorial, dan Kepadatan
A. Ruang personal
Ruang personal adalah ruang untuk berinteraksi dengan orang lain, batas
ruang disekitar kita yang tidak terlihat, orang lain tidak boleh memasuki ruang
personal seseorang dan orang tersebut akan mengatur bagaimana dalam
berinteraksi dengan orang lain dan dapat memilih jarak yang dekat ataupun jauh.
Hal ini berlaku dalam setiap aktivitas didalam kehidupan sehari-hari. Ada
beberapa fungsi dari ruang personal:
1. Menjaga ruang dalam berinteraksi dengan orang lain
2. Menjaga komunikasi yang nyaman

26

3. Menjaga norma didalam masyarakat yang mengatur cara berinteraksi.


4. Untuk mempertahankan diri dari suatu ancaman emosi dan fisik pihak
lawan komunikasinya.
Dalam ruang personal juga terdapat jarak yang mengatur dengan siapa kita
berkomunikasi baik itu jarak dekat yang dilakukan pada teman, hubungan
intim dan hubungan lain yang memang mengindikasikan mereka dekat
dan saling mengenal. Sedangkan jarak personal jauh seperti pada rekan
bisnis, interaksi dalam jarak publik seperti saat berpidato dan interaksi
sosial lainnya.
B. Faktor-faktor yang memengaruhi ruang personal
1. Faktor situasional
Interakasi yang terjalin diantara individu diawali dari adanya daya
tarik seseorang pada yang lain. selain adanya daya tarik dalam melakukan
interaksi, ada pula situasi lain yang dapat memengaruhi interaksi yaitu
jarak interpersonal. Dalam memulai interaksi dengan seseorang akan
terdapat situasi baru, dan saat itu berlangsung maka seseorang akan
mencari kenyamanan dalam berinterakasi, misalnya dalam situasi rapat
tentunya ruang personal yang dibawa oleh setiap peserta adalah berbeda
begitupun situasi posisi duduk dan lain sebagainya berbeda dengan saat
orang melakukan gosip maka situasi dan tata letaknya pun akan berbeda
yaitu berdekatan.
2. Perbedaan individual
Interaksi antara seseorang dengan orang lain dapat saja berbeda antara
satu orang dengan yang lain. perbedaan ini disebabkan faktor kepribadian
individu seperti ekstrovert dan introvert, keduanya akan berbeda dalam
menggunakan ruang personal mereka. selain itu jenis kelamin, usia
seseorang dan faktor budaya juga akan memengaruhi interaksi.
3. Faktor fisik

27

Faktor asitektural suatu bangunan akan berpengaruh pada ruang


personal. Tinggi rendahnya suatu atap, luas sempitnya suatu ruangan,
posisi duduk atau tata letak, dan pencahayaan pada suatu ruang akan
memengaruhi seseorang dalam melakukan interaksi dan menggunakan
ruang personal.
C. Teritorial
Teritorial adalah suatu tempat atau ruang yang dimiliki dan diawasi oleh
seseorang atau lebih. Teritorial sifatnya lebih menetap, batasnya terlihat dan
mempunyai aturan untuk berinteraksi. Adanya pengawasan yang ketat terhadap
suatu ruang yang dimilikinya, maka teritorial merupakan suatu aarea yang harus
dilindungi oleh yang memilikinya. Pemahaman teritorial dapat bersifat individual,
kelompok, seperti keluarga dan kelompok lainnya, bisa institusi juga yang
terpenting terdapat kesamaan didalam pemetaan kognitifnya. Altman membagi
tiga kategori teritorial yaitu,
1. Teritorial primer, merupakan teritorial yang memiliki tingkat pengawasan
sangat tinggi karena indvidu mempresepsi sebagai miliknya atau
menggunakannya dalam waktu yang lama.
2. Teritorial sekunder, merupakan suatu area yang dikuasai dalam waktu
tertentu. Tingkat kepemilikannya, tidak dimiliki tetapi dipersepsi sebagai
pemakai yang sah.
3. Teritorial publik, merupakan teritorial yang tingkat pengawasannya sangat
rendah. Hal ini karena setiap orang yang berada didaerah tersebut
memiliki peluang untuk menggunakan area tersebut.

Teritorial dan agresi, teritorial adalah mengenai kepemilikan dan


tingkat pengawasan. Hal ini berarti bahwa apabila ada pihak yang
melanggar wilayah teritorial seseorang maka orang yang merasa
terlanggar akan melakukan upaya pertahanan diri. Agresi pada
dasarnya perilaku yang menyakiti pihak lain, jika dikaitkan dengan

28

teritorial jika ada pihak yang melanggar dan dilanggar maka sangat
memungkinkan terjadinya adu kekuatan secara fisik.

Teritorial sebagai batas keamanan


Teritorial merupakan batas dimana seseorang melakukan interaksinya
dengan nyaman. Teritorial juga merupakan suatu batas keamanan agar
tidak terjadinya pelanggaran teritorial.

Ruang privasi dan teritorial


Ruang privasi adalah suatu proses pembatasan interpersonal dengan
cara mengatur berinteraksi dengan orang lain. seseorang dalam
berinteraksi butuh ruang privasi untuk membatasi, untuk menyendiri
melakukan evaluasi diri atau melakukan pekerjaan yang memerlukan
kesendirian tanpa diganggu oleh orang lain. ruang privasi tersebut
sudah pasti memberikan kenyamanan dan aman.

D. Kepadatan
Kepadatan adalah pengertian di mana ukuran tingkat kepadatan penduduk
pada suatu daerah. Pengertian kepadatan penduduk ini biasanya dinyatakan
dengan jumlah penduduk di suatu daerah yang memiliki ukuran luas dan
dinyatakan dalam ukuran Km atau Ha.

29

BAB 7
Kebisingan, Cuaca Dan Ikim, Dan Pencahayaan
A. Kebisingan
Setiap orang memiliki pemaknaan kebisingan yang berbeda-beda. Suara
bising itu sendiri tidak hanya suara yang keluar dari sumbernya dengan tekanan
tinggi atau frekuensi yang tinggi, tetapi suara orang berbicara yang tidak
diinginkan pun bisa menjadi sebuah kebisingan. Seorang remaja yang sedang
mendengarkan musik menggunakan ear phone atau head phone dengan volume
tinggi sampai terdengar oleh temannya yang bersebelahan menurutnya itu tidak
bising walaupun gendang telinganya mendapatkan tekanan suara yang tinggi.
Lain halnya jika ada seseorang yang sedang mengerjakan suatu tugas tetapi ada
yang berbicara dan menganggu konsentrasinya. Walapun yang sedang berbicara
itu tidak memberikan tekanan suara yang tinggi pada gendang telinga tetapi jika
menangganggu konsentrasi kerja maka hal tersebut dinamakan kebisingan.
Oleh karena itu kebisingan tidak dipengaruhi secara langsung oleh factor
fisik tetapi fakor fisik juga tidak dapat diabaikan. Factor fisik merupakan
gelombang suara yang diterima oleh indra pendengaran kita dan memberikan
tekanan kepada gendang telinga orang yang mendengarnya. Manusia secara
normal dapat mendengar frekuensi suara antara 20-20.000 Hz (Hertz). Secara
psikologi freksuensi yang beragam disebut sebagai timbre atau kualitas tone.

30

Kualitas tone atau timbre yang menarik akan dimaknakan sedangkan kualitas tone
atau timbre yang kurang baik bisa menjadi sebuah gangguan bagi orang yang
mendengarnya. Adapun tinggi rendahnya suara secara psikologis yang disebut
sebagai amplitudo. Amplitudo adalah keras atau lemahnya suara. Dari beberapa
penjelasan di atas dapat diartikan bahwa aspek fisik dan psikologis tidak dapat
dipisahkan oleh stimulus.
Gelombang suara, amplitudo, dan timbre merupakan konsep-konsep dari
suara. Suara memberikan tekanan pada pendengaran kita sehingga kita dapat
mendengarnya. Skala tekanan suara adalah desibel (dB). Desibel adalah fungsi
logaritmik yang artinya tekanan 100 dB tidak sama dengan 2 x 50 dB. Manusia
yang memiliki kemampuan pendengaran yang normal mampu mendengar tekanan
yang paling rendah yaitu 0 dB sedangkan tekanan suara yang paling tinggi
meskipun masih mampu didengar oleh manusia tetapi dapat merusakn
pendengaran adalah 150 dB. Kita harus mengetahui sumber suara yang dapat
merusak telinga walaupun masih dapat didengar. Jika kita sudah mengetahui
sumber suara dari kebisingan kita dapat menghindarinya atau menggunakan
peralatan untuk menutup telinga.
Suara yang perlu dirancang pada suatu lingkungan tidak lebih dari 60 dB.
Oleh karena itu lingkungan kantor, ruang kelas, ruang museum, ruang keluarga
membutuhkan tekanan suara yang dapat memberikan ketenangan karena suasana
tenang dapat mempengaruhi perilaku manusia juga mempengaruhi manusia dalam
berinteraksi dengan lainnya.
1. Efek Kebisigan pada Fisiologis
Tekanan suara yang melebihi kemampuan fisiologisnya dapat
merusak pendengarannya atau dapat menyebabkan ketulian. Meskipun
tekanan suaranya 90 dB tetapi jika terus menerus menekan pendengaran
akan menyebabkan kerusakan pada pendengaran. Dan apabila seseorang
mendapatkan tekanan 150 dB maka akan mendapatkan kerusakan pada
gendang telinganya.

31

Menurut penelitian John S. Nimpoeno dan Zulrizka Iskandar (1991)


mengatakan bahwa gangguan suara pada lingkungan kerja lebih terasa pada
industri kecil dibandingkan dengan industri yang menggunakan teknologi
lebih maju. Pada industri maju kesehatan dan keselamatan para pekerja
diperhatikan, sedangkan industri kecil sebaliknya. Seorang pemusik juga
dapat mengalami kebisingan jika terus menerus mendengarkan dan
memainkan musik dengan tekanan suara tinggi. Tetapi kembali lagi,
kebisingan sangat bersifat subjektif. Apabila seseorang merasa senang
dengan suara yang keras dan memperoleh tekanan suara yang keras, suara
tersebut tidak dirasakan bising. Dapat dikatakan bahwa masalah suara tidak
hanya terkait dengan kebisingan saja, tetapi tekanan suara yang keras.
2. Efek Kebisingan pada Kesehatan
Suara yang keras dapat menyebabkan hilangnya pendengaran atau
tuli. Hilangnya pendengaran disebabkan karena adanya trauma pada
cochlea (cairan yang terdapat di rumah siput). Suara yang berulang kali
akan merusak sel-sel rambut di cochlea, yang pada akhirnya mengurangi
kemampuan pendengaran. Hilangnya pendengaran sejalan bertambahnya
usia. Orang yang sejak mudanya terus menerima tekanan suara yang tinggi
akan lebih cepat mengalami ketulian. Suara yang keras juga dapat
dikaitkan dengan kesehatan jantung. Kebisingan dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah, sakit kepala, fatigue, nyeri lambung, dan
vertigo.
3. Efek Kebisinganpada Aspek Psikologi dan Interaksi Sosial
Suara dengan volume keras akan menganggu komunikasi verbl dan
akan menimbulkan stress pada seseorang. Orang yang sedang melakukan
interaksi dengan keadaan lingkungan yang bising membuat orang tersebut
mengeraskan volume suaranya dan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

32

Suara bising juga dapat menimbulkan keterkejutan dn hal itu dapat


menyebabkan stress pada seseorang. Dalam berinterksi pun kondisi suara
perlu diperhatikan. Suara yang memiliki tekanan suara yang keras dapat
menimbulkan berkurangnya sensitivitas.
B. Cuaca dan Iklim
Manusia berinteraksi dengan lingkungan tidak dapat terlepas dari cuaca
dan iklim. Kedua hal ini dipersepsikan dengan berbagai makna oleh manusia.
Cuaca dan ilkim juga sangat dirasakan oleh manusia apalagi dengan adanya
pemanasan global.
1. Dampak Cuaca Panas pada Fisiologis
Manusia mempunyai mekanisme untuk beradaptasi jika mengalami
kepanasan temperatur sekelilingnya, yaitu dengan mengeluarkan keringat.
Jika manusia mengalami kedinginan maka akan menggigil. Jika
mekanisme adapasi gagal dilakukan maka stress kepanasan akan terjadi.
Dalam hal ini kegagalan fisiologis untuk menormalkan kembali panas
tubuh terjadi ketika seseorang mengalami cuaca yang amat panas. Dengan
demikian beberapa kondisi fisiologis dapat terjadi, yaitu:

Heat exhaustion terjadi karena sirkulasi darah yang berlebihan.


Untuk mengatasinya yaitu dengan beristirahat. Tanda-tanda yang
terjadi ialah pusing, muntah-muntah, sakit kepala, tidak bisa

istirahat, dan pingsan.


Heat stroke ditandai dengan kebingungan, sakit kepala,
mengigau, koma, dan meninggal. Hal ini terjadi karena tidak
berfungsinya mekanisme berkeringat. Panas dalam tubuh tidak
dapat hilang, otak kepanasan berlebihan. Tidakan yang cepat
adalah mencelupkan penderita ke air es. Apabila berkeringat akan
berlanjut pada heat exhaustion tetapi bila tidak berkeringat akan
berlanjut pada heat stroke.

33

Serangan jantung terjadi karena adanya tuntutan yang berlebihan


pada

system

kardiovaskuler,

karena

adanya

peningkatan

kebutuhan darah untuk mekanisme pendinginan tubuhnya.


2. Cuaca Panas dan Kinerja
Temperatur yang tinggi akan menyebabkan seseorang dehidrasi dan
akan berkurangnya kinerja seseorang dalam menjalankan suatu aktivitas.
3. Cuaca Panas dan Tingkah Laku Sosial
Dalam temperature panas, seseorang memiliki kecenderungan kurang
memberikan stimulasi dalam berinteraksi. Tingkah laku konflik dan tawuran
cemderung terjadi pada daerah yang memiliki iklim panas. Karena itu, iklim
yang panas dapat meningkatkan tingkah laku agresi yang bervariasi.
C. Pencahayaan
Interaksi antar manusia dengan lingkungan akan melibatkan pencahayaan.
Pencahayaan membatu kita membantu kita agar dapat memahami objek yang kita
lihat. Ada beberapa konsep yang perlu diperhatikan dalam pencahayaan ini dan
terkait dengan warna, yaitu:

Visibility seberapa baik suatu objek dapat dilihat oleh mata manusia.

Akan terjadi proses penilaian pada objek.


Brightness dari gelap ke terang. Dalam suatu warna akan terjadi

gradasi yang mencampur dari hitam ke putih.


Hue adalah variasi warna yang kontinu di lingkaran warna primer.
Warna yang berada diantaranya merupakan paduan dari warna dasarnya

atau warna primer.


Saturation merupakan variasi penuh warna pada lingkaran warna,
sehingga terlihat warna yang kuat, hingga di tengah lingkaran terlihat
sebagai abu-abu, yang merupkan peraduan.

34

1. Berapa Pencahayaan yang Diperlukan?


Untuk melakukan suakegiatan, pencahayaan sangat diperlukan.
Cahaya yang memadai akan embantu pada fungsi penglihatan. Gelombang
energy yang dipancarkan oleh warna yang terdapat pada benda akan mudah
ditangkap pleh retina.
No
1
2
3
4

Watt
5
10
10-20
20-50

Tipe Aktivitas
Area umum dengan sekitarnya gelap
Orientasi sederhana untuk kunjungan singka
Bekerja dengan fungsi mata kadang-kadang digunakan
Tugas mata membaca dengan huuf besar dan kontras yang tinggi,

50-100
100-200

misalnya membca bahan cetak


Tugas mata membaca dengan huruf kecil dan kontras yang sedang
Tugas mata membaca dengan kontras yang rendah degan huruf

200-500

kecil
Tugas mata membaca dengan huruf yang sangat kecil dan kontras

500-1000

yang sangat rendah dalam waktu yang lama


Membutuhkan waktu kerja yang lama dengan tugas khusus,

1000-

misalnya assembling elemen elektronik yang kecil


Tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi, seperti dokter bedah

5
6
7

2000
2. Aplikasi Pencahayaan
Dalam suatu pameran, pencahayaan sangatlah diperlukan untuk
meletakkan dan menyusun benda yang akan dipamerkan agar lebih menarik
perhatian. Dalam mempersiapkan pameran, perlu diperhatikan beberapa
prinsip psikologis dalam interaksi manusia dengan lingkungan pameran.
Aplikasi pencahayaan dala pameran merupakan suatu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Artinya antara cahaya yang diperlukan, benda yang akan
dipamerkan, penjelasannya artistic dalam penataannya, dan proses psikologis
yang terjadi dalam pameran, seperti proses belajar.

35

BAB 8
Pencemaran Udara, Tanggung Jawab, dan Tingkah Laku
Perlindungan Lingkungan

A. Pencemaran Udara
Seseorang dapat mempersepsikan lingkungannya tercemar bergantung
pada factor fisik dan psikologis. Pada umumnya orang akan mempersepsikan
pencemaran udara adalah negative karena baud an asap atau debu. Padahal udara
yang berbahaya adalah tidak mengandung bau dan asap (seperti gas CO). Gas
kendaraan dan bahan bakar minyak merupakan salah satu pencemaran udara.
1. Kualitas Udara di Kota Bandung
Di beberapa belahan kota Bandung sudah mengalami pencemaran
udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor yang sangat padat.
Pembangunan industri juga mempengaruhi udara di sebuah kota. Dalam
pembangunan industry sendiri membutuhkan bahan bakar dan materi
industry yang digunakan. Gas buangan tersebut dapat berbentu timbal (Pb)
(Power plant yang membutuhkan bensin, pengilangan minyak), SOx
(Sulfur dioxide, seperti power plant, kompor batu bara, pengilangan
minyak), NOx (Nitrogen oxide seperti industri yang menggunakan minyal
dari fosil, kendaraan), Toxic Pollutant yang berbahaya (seperti pabrik tiner
untuk cat, lem, dan asap rokok). Buangan gas mengakibatkan penyakit
yang berbahaya bagi manusia.
2. Dampak Pencemaran Udara
Seseorang yang menghirup udara kotor akan mengalami kekurangan
oksigen di dalam darah. Penyebabnya manusia akan merasa pusing, kerusakan

36

saraf, gangguan memori dan atensi. Kekurangan oksigen yang kronis dapat
menurunkan kecepatan memproses informasi dan mengingat, mengganggu short
term dan long term memory.

Symptom pernapasan: sel sel epitel di trachea akan mengalami

kerusakan
Masalah kulit: tungku yang menghasilkan arsenic dapat menimbulkan

kanker kulit
Gangguan pada: system saraf, liver, kesulitan dalam reproduksi, mata,
jantung, dan paru-paru.

3. Dampak Pencemaran Udara pada Daya Ingat


Kekurangan oksigen pada aliran darah di otak aka mempengaruhi short
term memory dan long term memory seseorang. Hal ini akan menganggu fungsi
otak dalam mengingat.
4. Dampak Pencemaran Udara pada Kinerja
Seseoang yang bekerja di jalan raya atau lalu lintas rentan sekali
mengalami pencemaran udara. Mereka akan banyak menghirup ga CO dari hasil
pembuangan gas CO kendaraan bermotor. Hal ini dapat menyebabkan hambatan
dalam mengambil keputusan waktu reaksi yang lambat, atensi yang terganggu,
kemampuan mengemudi mengalami penurunan, proses pengolahan informasi,
dan kemampuan mengingat terganggu.
5. Dampak Pencemaran Udara dengan Perilaku Sosial
Seseorang membuang gas saat berinteraksi dapat orang lain akan
menganggu psikologis orang tesebut bahkan bisa saja terjadi tidakan agresi yang
menyebabkan ketidaksenangan. Jika terjadi penolakan yang sangat kuat maka
akan terjadi stress pada orang yang terlibat dalam interaksi tersebut.
B. Tanggung Jawab Lingkungan

37

Pencemaran dan kerusakan lingkungan disebabkan oleh manusia itu


sendiri. Padahal tidak sedikit dari masyarakat yang mengerti pengetahuan tentang
lingkungan namun mereka seolah-olah tidak mempedulikan akibat yang akan
merugikan orang banyak. Pengetahuan tentang lingkungan dibutuhkan untuk
membentuk

perilaku

seseorang

terhadap

lingkungannya.

Norma

sosial

mempengaruhi tingkah laku seseorang. Jika norma sosialnya positif maka tingkah
laku yang ditimbulkan akan positif. Selain disosialisasikan kepada masyarakat,
nilai-nilai yang tertanam dari orangtua dan masyarakat sangat penting dalam
pembentukan rasa tanggung jawab pribadi. Sedangkan rasa tanggung jawab
personal lebih pada didasari oleh motivasi. Kognisi dan nilai yang dianut
mempengaruhi stimulasi lingkungan maka muncul lah kebutuhan dalam dirinya.
Kebutuhan personal juga hasil dari proses belajar yang dimulai dari proses
interaksi dan pembelajaran dari orang tuanya. Pendidikan seseorang juga
memperkuat dasar pengetahuan dan nilai-nilai norma yang sudah diajarkan
terlebih dahulu oleh orang tua.
C. Tingkah Laku Perlindungan Lingkungan
Tingkah laku perlindungan lingkungan akan lebih kuat apabila didukung
oleh control tingkah laku aktual. Terjadinya tingkah laku perlindungan
lingkungan dapat pula dipengaruhi oleh dukungan sosial, dukungan akan
memperkuat tingkah laku pemeliharaan atau perlindungan lingkungan. Factorfaktor lingkungan dalam berinteraksi dengan manusia dapat memberikan
keserasian

dan

keselarasan,

maka

diperlukan

langkah-langkah

untuk

membangkitkan tingkah laku perlindungan lingkungan, yang berbentuk


pendidikan luas. Keluarga perlu menanamkan nilai-nilai pentingnya lingkungan
alam untuk kehidupan manusia, memberikan pengetahuan tentang lingkungan
alam dalam berinteraksi dengan manusia, motivasi untuk memelihara lingkungan,
tanggung jawab personal pada ingkungan, dan self esteem pada anak-anaknya.

38