Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit infeksi
penyebab kematian peringkat atas dengan angka kematian (mortalitas) dan angka kejadian
penyakit (morbiditas) yang tinggi serta membutuhkan diagnosis dan terapi yang cukup lama
(WHO,2006). HIV merupakan virus yang menyerang sel darah putih (limfosit) di dalam
tubuh yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia sehingga menyebabkan
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).
Berdasarkan laporan global, pada tahun 2012 jumlah penderita HIV mencapai 35,3
juta orang (Global Report UNAIDS, 2013). Data dari Kementerian Kesehatan melaporkan
jumlah kumulatif kasus HIV yang telah dilaporkan hingga September 2013 sebanyak 118.787
kasus yang tersebar di 33 provinsi dengan 348 kab/kota di Indonesia. Di Indonesia persentase
kumulatif HIV paling banyak ditemukan kasus pada kelompok umur 25-49 tahun (73,4%).
Dan pada kasus AIDS yang paling banyak terdeteksi yaitu pada kelompok umur 30-39 tahun
(39,5%). Kelompok umur yang paling beresiko terhadap penularan HIV dan kejadian AIDS
adalah kelompok umur produktif yaitu rentang umur 20-39 tahun (Kemenkes, 2013). Saat ini,
ibu rumah tangga merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan HIV/AIDS. Secara
global, di dunia setiap harinya sekitar 2000 anak usia 15 tahun ke bawah terinfeksi HIV
akibat penularan dari ibu ke bayinya. Sementara itu, sekitar 1.400 anak-anak usia 15 tahun
meninggal akibat AIDS. (WHO, 2011).
Prevalensi HIV pada ibu hamil diproyeksikan meningkat dari 0,38% (2012) menjadi
0,49% (2016), dan jumlah ibu hamil HIV positif yang memerlukan layanan pencegahan
penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA) juga akan meningkat dari 13.189 orang pada tahun
2012 menjadi 16.191 orang pada tahun 2016. Demikian pula jumlah anak berusia di bawah
15 tahun yang tertular HIV dari ibunya pada saat dilahirkan ataupun saat menyusui akan
meningkat dari 4.361 (2012) menjadi 5.565 (2016), yang berarti terjadi peningkatan angka
kematian anak akibat AIDS.
Resiko penularan HIV dari ibu ke bayi berkisar 24-25%. Namun, resiko ini dapat
diturunkan menjadi 1-2% dengan tindakan intervensi bagi ibu hamil HIV positif, yaitu
melalui layanan konseling dan tes HIV sukarela, pemberian obat antiretroviral, persalinan
sectio caesaria, serta pemberian susu formula untuk bayi (Depkes,2008). Indonesia telah
mengembangkan upaya pencegahan HIV melalui pelayanan Voluntary Counselling and
testing atau yang dikenal dengan singkatan VCT (WHO, 2007).

BAB II
KASUS
IDENTITAS
Nama

: Ny. R

Nama Suami : Tn. A

Umur

: 39 tahun

Umur

: 23 tahun

Alamat

: Jl. Lembah II

Alamat

: Jl. Lembah II

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Buruh bangunan

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pendidikan

: SMP

ANAMNESIS
GIV PIII A0

Usia Kehamilan : 25-26 minggu

HPHT : 25-2-2015

Menarche

: 12 tahun

TP

Perkawinan

: II, 6 bulan

: 2-12-2015

Keluhan Utama

: Mual dan muntah

Riwayat Penyakit Sekarang

Dialami sejak 2 bulan yang lalu. Pada awalnya, muntah hanya terjadi pada pagi hari
namun saat ini muntah dialami saat pasien selesai makan dengan frekuensi 3x/hari dengan
volume 50-100 ml. Isi muntahan berupa makanan dan minuman yang dikonsumsi
sebelumnya, bercampur dengan cairan kuning yang diyakini pasien berasal dari lambung
karena terasa pahit. Keluhan mual dan muntah semakin bertambah setelah makan nasi namun
tidak muntah saat mengkonsumsi roti atau minum susu. Keluhan disertai dengan sakit pada
ulu hati. Pasien tidak merasakan haus yang berlebihan, bibir terasa kering, adanya penurunan
aktivitas maupun berat badan. BAB dan BAK lancar.
Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien sering menderita sakit maag sebelum hamil. Tekanan
darah tinggi (-), gula (-), kolesterol (-), asam urat (-), HIV (+).
Riwayat Obstetri

Hamil pertama: Kembar laki-laki dan perempuan, prematur 7 bulan dan langsung
meninggal, lahir normal ditolong bidan di puskesmas, tahun 1997

Hamil kedua : Anak laki-laki, 15 tahun, aterm, spontan LBK, lahir normal ditolong
bidan di puskesmas.

Hamil ketiga : Anak laki-laki, 6 tahun, aterm, spontan LBK, lahir normal ditolong
bidan di puskesmas.

Hamil keempat

: Hamil sekarang

Riwayat ANC

: Pasien memeriksakan kehamilan di Puskesmas Pantoloan


sebanyak 1 kali, mengikuti kelas ibu hamil sebanyak 2 kali, dan
memeriksakan kandungan di rumah bidan sebanyak 3 kali.

Riwayat Imunisasi

: Pasien sudah mendapatkan suntikan Tetanus Toxoid 1 kali


selama kehamilan ini

Data Psikososial
Kehamilan pasien ini merupakan kehamilan dengan suami kedua. Pasien mengetahui
dirinya menderita HIV sejak suami meninggal dan didiagnosis dengan HIV. Setelah suami
meninggal, ia melakukan pemeriksaan darah dan hasilnya (+) HIV sedangkan kedua anak
dari pernikahan pertama hasilnya (-). Pasien kemudian tidak melanjutkan KB suntik hingga
pasien kemudian hamil kembali. Pasien tidak mengetahui penyebab virus HIV pada suaminya
karena suaminya tidak pernah menggunakan narkoba, tidak melakukan hubungan seks bebas
sejak menikah dengan pasien.

Keterangan
: Penderita HIV
: Bukan penderita HIV
: Sudah meninggal
Pasien makan 3-4 kali sehari dengan nasi putih yang sedikit dan lauk seperti ikan,
sayur. Namun terkadang pasien lebih memilih mengkonsumsi susu dan roti dibandingkan
nasi.

Pasien tinggal bersama suami kedua, kedua orang anaknya dan keponakannya di
rumah berbahan baku batu bata dengan luas 5x8 m2. Rumah dua lantai ini terdiri dari ruang
tamu, 2 kamar tidur, 1 ruang makan, 1 WC dan 1 kamar mandi. Lantai rumah terbuat dari
semen, plafon. Ruang tamu, dapur dan kamar memiliki jendela dan pencahayaan yang baik.
Sumber air yang dipakai untuk sehari-hari adalah air kran. Sumber listrik dari PLN,
sampah dibuang pada tempat sampah di halaman belakang rumah dan dibuang ke tempat
pembuangan sampah umum di lingkungan tersebut saat tempat sampah telah terisi penuh.
PEMERIKSAAN FISIK
KU

: Sedang

Tek. Darah

: 100/70 mmHg

Kesadaran

: Kompos mentis

Nadi

: 84x/menit

BB

: 41 Kg

Respirasi

: 20x/menit

TB

: 149 cm

Suhu

: 36,6C

Kepala Leher

Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra (-/-), pembesaran KGB (+),
pembesaran kelenjar tiroid (-).
Thorax

I : Pergerakan thoraks simetris, retraksi (-), sikatrik (-)


P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-)
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada jantung, batas paru-hepar SIC VI linea midclavicula dextra, batas jantung dalam batas normal.
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi jantung I/II murni
Reguler
Abdomen

I : Tampak cembung
A: Peristaltik (+) kesan normal
P : timpani
P : Nyeri tekan (+) regio epigastrium
Pemeriksaan Obstetri :
Situs

: Memanjang

Leopold I

: TFU : 21 cm, bokong teraba di fundus

Leopold II

: Punggung kanan

Leopold III

: Presentasi kepala

Leopold IV

: Kepala belum masuk PAP

DJJ

: 142 x/menit

HIS

: -

TBJ

: 1395 gram

Pergerakan Janin : Aktif


Janin Tunggal

: Ya

Genitalia

: Kesan normal. Untuk pemeriksaan dalam (VT) tidak dilakukan.

Ekstremitas

: Edema ekstremitas bawah -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
RESUME
Pasien , 39 thn, nausea dan vomiting sejak 1 minggu yang lalu. Vomiting terjadi
setelah makan dan minum atau saat mencium bau ikan dan berkurang saat istirahat, frekuensi
>10x/hari dengan volume -1 gelas. Vomiting berupa makanan dan minuman yang
dikonsumsi sebelumnya, bercampur dengan asam lambung. Vomiting disertai dengan sedikit
darah 1x sebelum ke rumah sakit. Malaise (+), penurunan aktivitas (+), merasa haus dan bibir
terasa kering, hipersalivasi (+), anoreksia (+), penurunan berat badan (+), nyeri epigastrium
(+). BAB tidak lancar dan BAK berwarna kuning kecoklatan dengan frekuensi 3x dalam
sehari dan jumlah yang sedikit.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi 98x/menit,
Respirasi 22x/menit, Suhu 36C. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri tekan (+)
regio epigastrium. Pemeriksaan obstetri : TFU: 1 jari di bawah pusat, DJJ: 154x/menit.
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan WBC 10,1 x 103/mm3, HGB 15.0 gr/dL, HCT
43.8 %, PLT 235 x 103/mm3 , RBC 5,08x 106/mm3.
DIAGNOSIS
GIVPIIIA0 gravid 25-26 minggu + emesis gravidarum + HIV

PENATALAKSANAAN

Tirah baring
Antasid syrup 3x1
Pemberian vitamin Fe dan asam folat 1 kali dalam sehari setelah mual hilang

Konseling

Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya dan cara penularannya


Menjelaskan pentingnya pemeriksaan CD4 dan viral load
Menjelaskan kepada pasien bahwa HIV dapat ditularkan ke janinnya melalui

persalinan normal dan ASI


Menjelaskan pentingnya pengobatan ARV saat kehamilan
Menjelaskan jenis persalinan yang sebaiknya dipilih dan jenis kontrasepsi setelah

melahirkan
Menyarankan pasien untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual
Menyarankan pasien untuk mengkonsumsi makanan bergizi dan menjaga kebersihan

PROGNOSIS
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

: Dubia
: Dubia
: Dubia

BAB III
PEMBAHASAN
Aspek klinis
Pada kasus ini, wanita G4P3A0 umur 39 tahun dengan keluhan berupa mual dan
muntah yang dialami sejak 2 bulan yang lalu. Muntah dialami saat pasien selesai makan
dengan frekuensi 3x/hari dengan volume 50-100 ml. Isi muntahan berupa makanan dan
minuman yang dikonsumsi sebelumnya, bercampur dengan cairan kuning yang diyakini
pasien berasal dari lambung karena terasa pahit. Keluhan mual dan muntah semakin
bertambah setelah makan nasi namun tidak muntah saat mengkonsumsi roti atau minum susu.
Keluhan disertai dengan sakit pada ulu hati. Riwayat HIV (+).
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening di
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sel darah putih
di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Orang
yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan
pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain bila
melakukan hubungan seks beresiko dan berbagi alat suntik dengan orang lain (KPAN,2012).
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan sindrom dengan gejala
penyakit infeksi opotunistik atau kanker tertentu akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh
oleh infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) (Daili et al,2009).
Cara penularan virus HIV, yaitu :
1. Penularan parenteral
Penularan dari darah dapat terjadi jika darah donor tidak ditapis (uji saring) untuk
pemeriksaan HIV, penggunaan ulang jarum dan semprit suntikan, atau penggunaan alat
medik lainnya yang dapat menembus kulit. Kejadian di atas dapat terjadi pada semua
pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, poliklinik, pengobatan tradisional melalui alat
penusuk/jarum, juga pada pengguna napza suntik (penasun). Pajanan HIV pada organ
dapat juga terjadi pada proses transplantasi jaringan/organ di fasilitas pelayanan kesehatan.
(Kemenkes,2013)

2. Penularan seksual
Penularan melalui hubungan seksual adalah cara yang paling dominan dari semua
cara penularan.Penularan melalui hubungan seksual dapat terjadi selama sanggama lakilaki dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki. Sanggama berarti kontak seksual
dengan penetrasi vaginal, anal, atau oral antara dua individu. Risiko tertinggi adalah

penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. Kontak
seksual oral langsung (mulut ke penis atau mulut ke vagina) termasuk dalam kategori
risiko rendah tertular HIV.Tingkatan risiko tergantung pada jumlah virus yang ke luar dan
masuk ke dalam tubuh seseorang, seperti pada luka sayat/gores dalam mulut, perdarahan
gusi, dan atau penyakit gigi mulut atau pada alat genital.1
3. Penularan perinatal
Lebih dari 90% anak yang terinfeksi HIV didapat dari ibunya. Virus dapat ditularkan
dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama hamil, saat persalinan dan menyusui.
Tanpa pengobatan yang tepat dan dini, setengah dari anak yang terinfeksi tersebut akan
meninggal sebelum ulang tahun kedua.1
a. Penularan in utero atau intra uterin
HIV melalui plasenta masuk kedalam tubuh bayi. Penularan in utero ini diketahui
karena didapatkannya HIV pada jaringan thymus,lien , paru dan otak dari janin 20
minggu yang digugurkan dari ibu pengidap HIV.6,8
b.

Penularan saat persalinan.


Terjadi karena bayi terkontaminasi darah ibu saat persalinan.8

c.

Penularan pasca persalinan.


Terjadi penularan melalui ASI pada masa menyusui karena adanya HIV pada kelenjar
payudara dan ASI pengidap HIV. Meskipun masih ada perbedaan pendapat mengenai
hal ini karena hasil penelitian yang berbeda, tetapi karena belum adanya vaksin untuk
HIV dan kemungkinan penularan ini tetap ada, maka disepakati pemberian ASI pada
bayi tetap masih di larang.6,8
Pada kasus ini, pasien mendapatkan virus HIV melalui kontak seksual dengan suami

pertama yang didiagnosis HIV. Karena saat ini pasien dalam kondisi hamil, maka ada
kemungkinan bayi yang dikandungnya tertular virus HIV.
Sampai saat ini belum didapatkan adanya pengaruh dari infeksi HIV terhadap
kehamilan. Tetapi jika sudah terjadi AIDS didapatkan pengaruh yang besar dengan terjadinya
prematuritas, kematian janin dalam kandungan. Diduga kondisi bayi dalam kandungan
dipengaruhi oleh makin memberatnya infeksi HIV. Dilaporkan tidak ada hubungan antara
infeksi HIV dengan makin meningkatnya cacat bayi. Meskipun kehamilan dikatakan
menambah beban terhadap sistim tubuh yang sudah berat menghadapi HIV, tetapi sampai
sekarang belum ada bukti yang menunjukkan bahwa HIV makin menjadi progresif setelah
adanya kehamilan.6
Manifestasi Klinik

Diagnosis Klinik

Diagnosis pasti

Stadium I
Asimptomatik
Limphadenopati

generalisata

persisten

Pembesaran KGB > 1 cm, tidak nyeri

Histology

pada 1 atau 2 tempat dengan sebab


yang tidak diketahui dan persisten
selama 3 bulan atau lebih

Stadium II
BB turun <10% BB sebelumnya

BB turun tanpa sebab yang jelas, atau

BB turun < 10% terdokumentasi

BB tidak bertambah pada kehamilan


URTI rekuren (>1x selama 6 bulan)

Sinusitis

LAB

Otitis Media
Tonsilopharyngitis
Herpes Zoster

Vesicular

rash,

nyeri

distribusi

Diagnosis klinik

dermatomal, tidak melewati midline


Angular cheilitis

tubuh.
Pecah2 pada sudut bibir yang bukan

Diagnosis klinik

diakibatkan oleh def fe, biasanya


berespon dengan pemberian terapi
antijamur
Ulserasi oral rekuren ( 2 x selama 6

Aphthous, nyeri, dan pseudomembran

bulan terakhir)

kuning abu-abu

Papular preuritic eruption


Seborrhoic dermatitis

Lesi popular
Kulit gatal, bersisik, terutama pada

Diagnosis klinik

Diagnosis klinik
Diagnosis klinik

daerah berambut
Infeksi jamur pada kuku

Paronikia

Kultur jamur

Onycholisis
Stadium III
BB turun > 10 % BB sebelumnya

BB turun tanpa sebab yang jelas.

BB turun > 10% terdokumentasi

Tampak kurus, BMI < 18,5 kg/m2atau


BB turun pada kehamilan
Diare kronik lebih dari 1 bulan

Diare kronik lebih dari 1 bulan yang

Pem feses

tidak dapat dijelaskan penyebabnya


Demam persisten

Demam persisten lebih dari 1 bulan

Suhu > 37.50, dengan kultur darah


negative, ziehl-nelsen negative, apusan
darah malaria negative, foto thorax
normal, dan tidak ada focus infeksi

Kandidiasis oral persisten

Berupa pseudomembraneus berwarna

Diagnosis klinik

putih atau erythematous form


Oral hairy leukoplakia

Diagnosis klinik

TB ( berulang)

Gejala kronik : batuk, batuk darah,

BTA sputum +, kultur positif

sesak, nyeri dada, BB turun, keringat


malam, demam. Dengan sputum BTA
+

atau

sputum

BTA

dengan

Infeksi bakteri berat (pneumonia,

gambaran radiologis yang mendukung.


Demam disertai gejala dan tanda

meningitis,

spesifik,

empiema,

pyomiositis,

infeksi tulang dan sendi, septicemia,

dan

merespon

Isolasi bakteri

terhadap

pemberian antibiotic.

PID)
Acute

necrotizing

ulcerative

Papilla gingival ulserasi, sangat nyeri,

gingivitis atau necrotizing

gigi tanggal, perdarahan, bau mulut

ulcerative periodontitis.

tidak sedap, dll.

Anemia ( (8 gr%)

Diagnosis klinik

Lab

Neutropenia (<0,5109/L)
Trombositopenia (<50109/L) kronik
Stadium IV
HIV wasting sindrom

BB turun > 10% , wasting, BMI < 18.5 kg/m2


Disertai salah satu :
Diare kronik > 1 bulan tanpa sebab yang jelas
Atau
Demam > 1 bulan tanpa sebab yang jelas

Pneumocystis pneumonia

Dispnoe on exertion atau batuk tidak

Cytology, imunofloresent mikroskopi.

produktif, takipneu, dan demam. Dan


CXR : infiltrate difus bilateral Dan
Tidak ada bukti infeksi pneumonia
bacterial,

krepitasi

bilateral,

dan

auskultasi dengan atau tanpa obs jalan


nafas
Pneumonia bacterial rekuren

2x selama 6 bulan terakhir, onset

Kultur

akut (<2 minggu), dengan gejala berat


( demam, batuk sesak, nyeri dada)
Dan konsolodasi pada pemeriksaan
foto thorax atau pemeriksaan fisik.
Herpes simplek kronik (orolabial,

Herpes simplek kronik (orolabial,

Antigen test
Kultur, DNA herpes simplek virus,

genital, anorectal)

genital, anorectal) lebih dari 1 bulan

citologi, histology.

Oesofagial candidiasis

Nyeri retrosternal, disfagi, disertai oral

Endoskopi, bronkoskopi, mikroskopi,

candidiasis

histology.

TB ekstraparu

Pleural,

pericardia,

peritoneal

Isolasi M.TB, CXR

involvement, meningitis, mediastinal


atau abdominal lymphadenopathy atau
ostetis.
Sarcoma kaposi

Typical gross appearance in skin or

Endoskopi, bronkoskopi, histology

oropharynx of persistent, initially flat,


patches with a pink or violaceous
colour,

skin

lesions

that

usually

develop into plaques or nodules.


CMV disease (selain hati, limfa, dan

Retinitis

KGB)
CNS toxoplasmosis

Kelainan

HIV encephalopati

Kultur, DNA, histologi


neurologis,

penurunan

Antibodi toxoplasma (+) dan satu atau

kesadaran, dan respon terhadap terapi

lebih

spesifik

pemeriksaan CT scan atau MRI

Gangguan

kognitif

motorik

masa

intracranial

pada

Neuroimaging

progressive yang tidak disebabkan


oleh sebab lain
Criptococcosis

ekstrapulmonal

(termasuk meningitis)

Demam, sakit kepala, meningism,

Isolasi criptococus neoformans atau

bingung,

antigen test

perubahan

tingkah

laku,

respon terhadap criptococcal terapi


Disseminated

non

tuberculous

Ditemukannya bakteri atipikal

multifocal

Gangguan

mycobacteria infection
Progressive
leukoencephalopathy.

neurologis

progresif

(gangguan kognitif, berbicara, berjalan,


penglihatan, kelemahan ekstremitas, dan
gangguan saraf cranial) disertai dengan
lesi hypodense pada white matter, atau

Chronic cryptosporidiosis
Chronic isosporiasis.
Disseminated

mycosis

(coccidiomycosis

(+) poliomavirus JC PCR pada LCS,


Cysts (+) pada pem Ziehl-Nielsen

Identifikasi Isospora.
Histology, antigen detection

atau

Atau culture

histoplasmosis).
Recurrent non-typhoid

Kultur darah

Salmonella bacteraemia.
Lymphoma (cerebral atau Bcell

non-Hodgkin).

Invasive ca cerviks

Histology
neuroimaging techniques

Histology atau cytologi

Atypical disseminated leishmaniasis.

Histology

Symptometic

HIV-associated

Biopsy ginjal

nephropathy.
Symptometic

HIV-associated

Kardiomegali, echo

cardiomyopathy.

Tabel 1. Kriteria Klinik HIV/AIDS pada dewasa dan anak (WHO)10

Dalam menegakkan diagnosa HIV, dilakukan beberapa pemeriksaan laboratorium


antara lain:
a. Pemeriksaan Antibodi anti-HIV dan deteksi virus
Pemeriksaan adanya antibodi spesifik dapat dilakukan dengan Rapid Test, Enzime
Linked Sorbent Assay (ELISA) dan Western Blot. Pada pemeriksaan ELISA, hasil test ini
positif bila antibodi dalam serum mengikat antigen virus murni di dalam enzyme-linked
antihuman globulin. Pemeriksaan Western Bolt merupakan penentu diagnosis AIDS setelah
test ELISA dinyatakan positif. Bila terjadi serokonversi HIV pada test ELISA dalam keadaan
infeksi HIV primer, harus segera dikonfirmasikan dengan test WB ini. Hasil test yang positif
akan menggambarkan garis presipitasi pada proses elektroforesis antigen-antibodi HIV di
sebuah kertas nitroselulosa yang terdiri atas protein struktur utama virus. Setiap protein
terletak pada posisi yang berbeda pada garis, dan terlihatnya satu pita menandakan reaktivitas
antibodi terhadap komponen tertentu virus. 6,11
b. Pemeriksaan Status imunologi
Pada pemeriksaan status imunologi ini yang dilakukan adalah menghitung kadar
CD4 dalam darah untuk menilai derajat beratnya infeksi HIV dan untuk memprediksi onset
terjadinya infeksi oportunistik. Pemeriksaan kadar CD4 ini harus diulang setiap 3 bulan untuk
menilai perkembangan penyakit dan dasar pertimbangan untuk tindakan profilaksis dan
pengobatan. Berikut ini adalah tabel hubungan antara jumlah limfosit T, kadar CD4 dan
tingkat gejala klinis penyakit. 6,11
Stadium klinis
Tanpa Gejala
Gejala Minor
Gejala Mayor dan infeksi
oportunistik
AIDS

Jumlah Limfosit T (/mm3)


>2500
1001-2500
501-1000
<500

Jumlah CD4 (/mm3)


501-600
351-500
200-300
<200

Tabel 2. Hubungan Stadium Klinis, Jumlah Limfosit T dan CD4.10

Penularan HIV dari ibu ke bayi memiliki resiko sebesar 15-35%. Terendah dilaporkan
di Eropa dan tertinggi di Afrika. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi, antara lain :
A. Faktor Ibu
1. Jumlah virus (viral load)
Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang atau saat persalinan dan jumlah
virus dalam air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya sangat mempengaruhi penularan
HIV dari ibu ke anak. Risiko penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah
(kurang dari 1.000 kopi/ml) dan sebaliknya jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml.
2. Jumlah sel CD4
Ibu dengan jumlah sel CD4 rendah lebih berisiko menularkan HIV ke
bayinya. Semakin rendah jumlah sel CD4 risiko penularan HIV semakin
besar.
3. Status gizi selama hamil
Berat badan rendah serta kekurangan vitamin dan mineral selama
hamil meningkatkan risiko ibu untuk menderita penyakit infeksi yang
dapat meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.
4. Penyakit infeksi selama hamil
Penyakit infeksi seperti sifilis, Infeksi Menular Seksual, infeksi
saluran

reproduksi

lainnya,

malaria,

dan

tuberkulosis,

berisiko

meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.


5. Gangguan pada payudara
Gangguan pada payudara ibu dan penyakit lain, seperti mastitis,
abses, dan luka di puting payudara dapat meningkatkan risiko penularan
HIV melalui ASI.1
B. Faktor Bayi
1. Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir
Bayi lahir prematur dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) lebih rentan tertular
HIV karena sistem organ dan sistem kekebalan tubuhnya belum berkembang dengan baik.
2. Periode pemberian ASI
Semakin lama ibu menyusui, risiko penularan HIV ke bayi akan semakin besar.
3. Adanya luka di mulut bayi

Bayi dengan luka di mulutnya lebih berisiko tertular HIV ketika diberikan ASI.
Respon imun neonatus.1

C. Faktor Obstetrik
Perinatal HIV Guidelines Working Group di Amerika Serikat mengajukan
rekomendasi penatalaksanaan obstetrik untuk mengurangi transmisi HIV vertikal.
Rekomendasi yang dianjurkan adalah: 1
1. Cara Persalinan :

Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang datang pada


kehamilan di atas 36 minggu, belum mendapat antiretrovirus, dan
sedang menunggu hasil pemeriksaan kadar HIV dan CD4 yang
diperkirakan ada sebelum persalinan.

Rekomendasi

Ada beberapa regimen yang harus didiskusikan dengan jelas.


Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS harus mendapat terapi
antiretrovirus seperti regimen PACTG 076. Wanita hamil yang
terinfeksi HIV-AIDS dilakukan konseling tentang seksio sesarea
untuk mengurangi resiko transmisi dan resiko komplikasi
pascaoperasi, anestesi, dan resiko operasi lain padanya. Jika
diputuskan seksio sesarea, seksio direncanakan pada minggu ke-38
kehamilan,. Selama seksio, wanita hamil yang terinfeksi HIVAIDS mendapat zidovudin intravena yang dimulai 3 jam
sebelumnya, dan bayi mendapat zidovudin sirup selama 6 minggu.
Keputusan akan meneruskan antiretrovirus setelah melahirkan atau
tidak tergantung pada hasil pemeriksaan kadar virus dan CD4.

2. Cara Persalinan :

Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang datang pada


kehamilan awal, sedang mendapat kombinasi antiretrovirus, dan
kadar HIV tetap di atas 1000 kopi/mL pada minggu ke 36
kehamilan.

Rekomendasi

Regimen antiretrovirus yang digunakan tetap diteruskan. Wanita


hamil yang terinfeksi HIV-AIDS harus mendapat konseling bahwa
kadar HIV-nya mungkin tidak turun sampai kurang dari 1000
kopi/mL sebelum persalinan, sehingga dianjurkan untuk melakukan
seksio sesarea. Demikian juga dengan resiko komplikasi seksio
yang meningkat, seperti infeksi pascaoperasi, anestesi, dan operasi.

Jika diputuskan seksio sesarea, seksio direncanakan pada minggu


ke-38 kehamilan. Selama seksio, wanita hamil yang terinfeksi HIVAIDS mendapat zidovudin intravena yang dimulai minimal 3 jam
sebelumnya. antiretrovirus lain tetap diteruskan sebelum dan
sesudah persalinan. Bayi mendapat zidovudin sirup selama 6
minggu.
3. Cara Persalinan :

Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang sedang mendapat


kombinasi antiretrovirus, dan kadar HIV tidak terdeteksi pada
minggu ke 36 kehamilan.

Rekomendasi

Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS diberikan konseling


bahwa kemungkinan transmisi jika kadar HIV tidak terdeteksi
mungkin kurang dari 2 %, bahkan pada persalinan pervaginam.
Pemilihan cara persalinan harus mempertimbangkan keuntungan
dan resiko komplikasi seksio.

4. Cara Persalinan

Wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS yang sudah direncanakan


seksio sesarea elektif, namun datang pada awal persalinan atau
setelah ketuban pecah.

Rekomendasi

Zidovudin intravena segera diberikan. Jika kemajuan persalinan


cepat, wanita hamil yang terinfeksi HIV-AIDS ditawarkan untuk
menjalani persalinan pervaginam. Jika dilatasi serviks minimal dan
diduga persalinan akan berlangsung lama, dapat dipilih antara
zidovudine

intravena

dan

memberikan

pitosin

untuk

melakukan

seksio

mempercepat

sesarea

atau

persalinan.

Jika

diputuskan untuk menjalani persalinan pervaginam, elektrode


kepala, monitor invasife dan alat bantu lain sebaiknya dihindari.
Bayi sebaiknya mendapat zidovudin sirup selama 6 minggu.
Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Faktor obstetrik
yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke anak selama persalinan adalah:
1. Jenis Persalinan
Risiko penularan persalinan per vaginam lebih besar dari pada persalinan melalui
bedah sesar (sectio caesaria).
2. Lama Persalinan

Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke anak
semakin tinggi, karena semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan
lendir ibu.
3. Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan meningkatkan risiko penularan hingga
dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam.
4. Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps meningkatkan risiko penularan HIV
karena berpotensi melukai ibu atau bayi.1
Pada saat hamil, sirkulasi darah janin dan sirkulasi darah ibu dipisahkan oleh beberapa
lapis sel yang terdapat di plasenta. Plasenta melindungi janin dari infeksi HIV. Tetapi jika
terjadi peradangan, infeksi ataupun kerusakan pada plasenta, maka HIV bisa menembus
plasenta, sehingga terjadi penularan HIV dari ibu ke anak.Penularan HIV dari ibu ke anak
pada umumnya terjadi pada saat persalinan dan pada saat menyusui. Risiko penularan HIV
pada ibu yang tidak mendapatkan penanganan PPIA saat hamil diperkirakan sekitar 15-45%.1
Waktu
Selama hamil
Bersalin
Menyusui
Risiko penularan keseluruhan 20 50 %

Risiko
5 10 %
10 20 %
5 20 %

Tabel 3. Waktu dan Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Penanganan pasien hamil dengan HIV dibagi menjadi penanganan antepartum,


intrapartum dan postpartum, yakni :
1. Penanganan ante partum
a. Konseling
Pada konseling, ibu hamil diajak berkomunikasi dua arah, dengan memberikan
informasi mengenai HIV dan hubungannya dengan kehamilan, tanpa mengarahkan dimana
kemudian ibu hamil ini dapat mengambil keputusan mengenai kehamilannya dan
persalinannya. Pada kehamilan trimester pertama, konseling perlu dilakukan dengan
intensif untuk memutuskan apakah kehamilan akan diteruskan atau tidak.12
b. Pemeriksaan ante natal
Dilakukan pemeriksaan ante natal seperti biasa, tetapi perlu dilakukan eksplorasi
mengenai partner hubungan seksual, apakah pernah menderita penyakit hubungan seksual
(STD), atau pernah mendapatkan transfusi darah, dan ditanyakan juga apakah sering
mendapatkan pengobatan dengan suntikan.11
c. Pemberian obat anti virus
Tujuan

utama

pemberian

antiretrovirus

pada

kehamilan

adalah

menekan

perkembangan virus, memperbaiki fungsi imunologis, memperbaiki kualitas hidup,


mengurangi morbiditas dan mortalitas penyakit yang menyertai HIV. Pada kehamilan,

keuntungan pemberian antiretrovirus ini harus dibandingkan dengan potensi toksisitas,


teratogenesis dan efek samping jangka lama. Akan tetapi, efek penelitian mengenai
toksisitas, teratogenesis, dan efek samping jangka lama antiretrovirus pada wanita hamil
masih sedikit.12

2. Penanganan intra partum


Pemilihan persalinan yang aman diputuskan oleh ibu setelah mendapatkan konseling
lengkap tentang pilihan persalinan, risiko penularan, dan berdasarkan penilaian dari tenaga
kesehatan. Pilihan persalinan meliputi persalinan per vaginam dan perabdominam (bedah
sesar atau seksio sesarea). Dalam konseling perlu disampaikan mengenai manfaat terapi
ARV sebagai cara terbaik mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Dengan terapi ARV
yang sekurangnya dimulai pada minggu ke-14 kehamilan, persalinan per vaginam
merupakan persalinan yang aman. Apabila tersedia fasilitas pemeriksaan viral load,
dengan viral load < 1.000kopi/L, persalinan per vaginam aman untuk dilakukan.
Persalinan bedah sesar hanya boleh didasarkan atas indikasi obstetrik atau jika pemberian
ARV baru dimulai pada saat usia kehamilan 36 minggu atau lebih, sehingga diperkirakan
viral load > 1.000 kopi/L.1
Kewaspadaan menyeluruh atau Universal Precaution harus diperhatikan untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya penularan dari ibu ke bayi, penolong maupun
petugas kesehatan lainnya.Hindari memecahkan ketuban pada awal persalinan, terjadinya
partus lama dan laserasi pada ibu maupun bayi. Karena itu pada kemacetan persalinan
maka tindakan Seksio Sesarea adalah lebih baik dari memaksakan persalinan per
vaginam.Petugas kesehatan harus memakai sarung tangan vynil, bukan saja pada pada
pertolongan persalinan tetapi juga pada waktu membersihkan darah , bekas air ketuban dan
bahan lain dari pasien yang melahirkan dengan HIV. Penolong persalinan harus memakai
kacamata pelindung, masker, baju operasi yang tidak tembus air dan sering kali
membersihkan atau mencuci tangan. Membersihkan lendir atau air ketuban dari mulut bayi
harus memakai mesin isap, tidak dengan kateter yang diisap dengan mulut.Bayi yang baru
lahir segera dimandikan dengan dengan air yang mengandung disinfektan yang tidak
mengganggu bayi.8
3. Penanganan pasca persalinan
Pada pasca persalinan dilakukan pencegahan terjadinya penularan melalui ASI, di
samping penularan parenteral melalui suntikan dan luka atau lecet pada bayi. Pencegahan
penularan melalui ASI sudah tentu dilakukan dengan mencegah pemberian ASI, tetapi

untuk daerah yang sedang berkembang hal ini masih menjadi perdebatan karena
dikhawatirkan bayi tidak mendapatkan pengganti ASI. Ibu pengidap HIV harus diadviskan
mencegah kehamilan berikutnya dengan alat kontrasepsi.12
Pada tahun 2013 WHO mengeluarkan aturan pemberian obat ARV untuk pencegahan
HIV dari Ibu ke bayi, yaitu :13
a. Untuk IBU :
Lini Pertama: TDF + 3 TC (atau FTC) + EFV sebanyak 1 kali sehari pada ibu yang
hamil dan sedang menyusui, termasuk ibu yang berada dalam trimester pertama
kehamilan
LiniKedua: 2 NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor) + PI (Ritonavir
boosted Protease Inhibitor)
NRTI lini kedua ini direkomendasikan jika
-

Kegagalan TDF + 3 TC (atau FTC), regimen pengobatan lini pertama gunakan


AZT+ 3TC dan NRTI sebagai dasar regimen lini kedua

Kegagalan AZT atau d4T + 3TC , regimen pengobatan lini pertama gunakan
TDF+ 3TC (atau FTC) dan NRTI sebagai dasar regimen pengobatan lini kedua.

Tabel 4. Regimen maternal

Tabel 5. Obat-obat pada antenatal,intrapartum dan postpartum12

b. Untuk bayi :
Profilaksis NVP (Niverapin) setiap hari selama 6 minggu setelah lahirnya bayi atau
postpartum apabila HIV diidentifikasi dan jika bayinya sedang menerima makanan
penganti,maka harus diberikan profilaksis NVP setiap hari (atau AZT dua kali sehari).
Regimen ARV
AZT
(rekomendasi hanya pada bayi dengan
makanan pengganti)
NVP

Usia Bayi
Sampai Usia 6 minggu

2000-2499 gram

Dosis
10 mg, 2x sehari
15 m, 2x sehari

2500 gram
Sampai Usia 6 minggu
2000-2499 gram

2500 gram
>6 minggu 6 bulan
>6bulan 9 bulan
>9 bulan berakhirnya periode

10 mg, 1x sehari
15 m, 1x sehari
20 mg, 1x sehari
30 mg, 1x sehari
40 mg, 1x sehari

menyusui

Tabel 6. Dosis Pemberian ARV dan NVP untuk Bayi yang menyusui.13

Tabel 7. Maternal dan Infant ART Profilaksis pada skenario klinik berbeda 13

Aspek Ilmu Kesehatan Masyarakat

Faktor-faktor yang berhubungan dengan HIV/AIDS adalah :


a. Umur
Di Indonesia persentase kumulatif HIV paling banyak ditemukan kasus pada
kelompok umur 25-49 tahun (73,4%). Dan pada kasus AIDS yang paling banyak
terdeteksi yaitu pada kelompok umur 30-39 tahun (39,5%). Kelompok umur yang
paling beresiko terhadap penularan HIV dan kejadian AIDS adalah kelompok umur
produktif yaitu rentang umur 20-39 tahun (Kemenkes, 2013).
b. Jenis kelamin
Menurut Kemenkes (2013), jenis kelamin laki-laki merupakan prevalensi terbanyak
yang menderita HIV/AIDS
c. Pekerjaan
Masyarakat yang beresiko untuk penularan infeksi HIV cukup beragam, seperti
mahasiswa, lingkungan gay, penjara, pemandian, pelacuran, dan lingkungan
tunawisma. Ada variasi tingkat resiko dalam masyarakat tergantung dari masingmasing pekerjaannya, tetapi ketika HIV menyebar dalam diri mereka, biasanya
menyebar dengan cepat karena adanya jaringan terkait erat yang terhubung melalui
seks dan narkoba.
d. Pendidikan
Pendidikan formal yang ditempuh seseorang pada dasarnya adalah merupakan suatu
proses menuju kematangan intelektual, untuk itu pendidikan tidak dapat terlepas dari
proses belajar. Pendidikan merupakan upaya atau kegiatan untuk menciptakan
perilaku masyarakat yang kondusif. (Notoatmojo, 2007)
e. Status perkawinan
Menurut Meehan et al (2004), perkawinan dan kesetiaan perempuan tidak cukup
untuk melindungi mereka dari infeksi HIV di banyak negara. Contohnya wilayah
Zimbabwe, Durban dan Suweo (Afrika Selatan) yang dilaporkan 66% populasinya
hanya memiliki satu pasangan hidup, 79% tidak melakukan hubungan seks paling
kurang sampai mereka berusia 17 tahun. Namun 40% perempuan muda di sana telah
terinfeksi HIV meskipun mereka tetap setia dengan satu pasangan saja. Dari laporan
WHO, dikatakan bahwa jumlah infeksi baru yang cukup signifikan terjadi di kalangan
perempuan hamil yang sudah menikah dan ditularkan oleh suami mereka. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Barnoghausen (2008) menemukan bahwa resiko
progresivitas infeksi HIV 2 kali lebih besar terjadi pada kelompok yang belum
menikah.

f. Kepatuhan minum obat


Terapi antiretroviral (ARV) telah terbukti secara bermakna menurunkan angka
kematian dan kesakitan orang dengan HIV/AIDS. Untuk mencapai tujuan tersebut,
tentu dibutuhkan sikap dan perilaku yang mempengaruhi seseorang untuk patuh
terhadap minum obat. (Ditjen PPM, 2011).
g. Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap
objek melalui indra yang dimilikinya. Menurut Notoatmodjo (2007), yang
menyebabkan seseorang untuk berperilaku karena adanya 4 alasan pokok yaitu
pemikiran dan perasaan, acuan, dan referensi dari seseorang, sumber daya dan sosio
budaya. Bentuk dari pemikiran dan perasaan salah satunya adalah pengetahuan.
Seseorang akan berperilaku didasarkan beberapa pertimbangan yang diperoleh dari
tingkat pengetahuannya.
h. Keyakinan perilaku adalah hal-hal yang diyakini oleh individu mengenai sebuah
perilaku dari segi positif dan negatif. Keyakinan normatif yang berkaitan dengan
pengaruh lingkungan termasuk faktor lingkungan sosial khususnya orang-orang yang
berpengaruh bagi kehidupan individu dapat mempengaruhi keputusan individu. Selain
pengetahuan, keterampilan dan pengalaman, keyakinan individu mengenai suatu
perilaku akan dapat dilaksanakan ditentukan juga oleh ketersediaan waktu untuk
melaksanakan perilaku tersebut, tersedianya fasilitas untuk melaksanakannya, dan
memiliki kemampuan untuk mengatasi setiap kesulitan yang menghambat
pelaksanaan perilaku. Hal-hal inilah yang akhirnya membuat individu untuk
mempunyai niat dan kontrol diri dalam melakukan suatu tindakan.
Dilihat dari umur, maka usia pasien masuk dalam rentang kelompok usia produktif
yang sering ditemukan HIV/AIDS. Pasien dalam kasus ini merupakan ibu rumah tangga
lulusan SD yang tertular melalui suaminya yang semasa hidupnya bekerja sebagai pekerja di
kantor pelabuhan dan tukang gunting rambut kelilingan. Ada kemungkinan suami pasien
terpapar saat sudah menikah atau sebelum menikah dimana pasien tidak mengetahui
bagaimana perilaku suami saat sebelum menikah. Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang
sangat minimal membuat pasien lambat menyadari kondisi suami, sehingga ketika suami
datang ke tenaga kesehatan sudah dalam stadium akhir seperti diare dan batuk kronik,
penurunan berat badan, tumbuhnya jamur di dalam mulut. Saat ini pasien telah menikah
kembali dan dalam kondisi hamil, namun hingga saat ini pasien belum memberitahukan
penyakitnya kepada suami kedua sehingga ini menjadi kendala pasien dalam mengkonsumsi

obat dan melakukan tindakan pencegahan berupa pemakaian kondom saat melakukan
hubungan seksual.
Hukuman sosial atau stigma oleh masyarakat di berbagai belahan dunia terhadap
pengidap HIV-AIDS terdapat dalam berbagai cara, antara lain tindakan-tindakan
pengasingan, penolakan, diskriminasi dan penghindaran atas orang yang diduga terinfeksi
HIV. Kekerasan atau ketakutan atas hukuman sosial ini telah mencegah banyak orang untuk
melakukan tes HIV, memeriksa bagaimana hasil tes mereka atau berusaha untuk memperoleh
perawatan sehingga mungkin mengubah suatu sakit kronis yang dapat dikendalikan menjadi
hukuman mati dan menjadikan meluasnya penyebaran HIV AIDS.
Stigma AIDS sering dikaitkan dengan homoseksualitas, biseksualitas, seks bebas, dan
penggunaan narkoba melalui suntikan. Seseorang yang terjangkit HIV AIDS dapat
berdampak sangat luas dalam hubungan sosial dengan keluarga, hubungan dengan temanteman, relasi dan jaringan kerja akan berubah baik kuantitas maupun kualitas. Upaya kuratif
pada aspek sosial difokuskan dalam upaya mendorong pengidap HIV/AIDS agar menjadi
produktif dan punya kontribusi terhadap masyarakat, maka secara tidak langsung akan
mengurangi stigma buruk di masyarakat.
Nursalam (2005) menjelaskan bahwa seseorang penderita HIV/AIDS setidaknya
membutuhkan bentuk dukungan dari lingkungan sosialnya. Dimensi dukungan sosial meliputi
tiga hal, yaitu :
a. Emotional support, meliputi perasaan nyaman, dihargai, dicintai dan diperhatikan
b. Cognitive support, meliputi informasi, pengetahuan dan nasehat
c. Materials support, meliputi bantuan atau pelayanan berupa suatu barang dalam
mengatasi suatu masalah.
Dampak HIV/AIDS di bidang ekonomi dapat dimulai dari tingkat individu, keluarga,
masyarakat dan akhirnya pada negara dan mungkin dunia. Epidemi HIV/AIDS akan
menimbulkan biaya tinggi, baik pada pihak penderita maupun pihak rumah sakit. Hal ini
dikarenakan obat penyembuh yang belum ditemukan, sehingga biaya harus terus dikeluarkan
hanya untuk perawatan dan memperpanjang usia penderita.
Pengidap HIV/AIDS pada umumnya berada dalam situasi yang membuat penderita
merasakan menjelang kematian dalam waktu dekat. Individu yang dinyatakan terinfeksi HIV,
sebagian besar menunjukkan perubahan karakter psikososial. Pasien yang didiagnosis dengan
HIV akan mengalami masalah fisik, psikologis, sosial dan spritual. Masalah psikologis yang
timbul adalah :

a. Stres yang ditandai dengan menolak, marah, depresi dan keinginan untuk mati. Individu
yang terinfeksi HIV/AIDS atas pemberitahuan dokter, biasanya mengalami shock, bisa
putus asa karena shock berat. Penderita mengalami depresi berat, sehingga
menyebabkan penyakit semakin lama semakin berat, timbul berbagai infeksi
oportunistik, dan penderita semakin tersiksa. Biaya pengobatan tambah besar, penyakit
bertambah banyak, obat yang diberikan harus tambah banyak dengan berbagai efek
samping yang dapat memperparah keadaan penderita.
b. Keyakinan diri yang rendah pada penderita HIV/AIDS akan menyebabkan penderita
mengalami hypochondria, dimana penderita seringkali memikirkan mengenai
kehilangan, kesepian, dan perasaan berdosa di atas segala apa yang telah dilakukan
sehingga menyebabkan penderita kurang menitikberatkan langkah-langkah penjagaan
kesehatan dan kerohanian. Seorang pasien yang telah didiagnosis HIV positif dan
mengetahuinya, menyebabkan kondisi mental penderita akan mengalami fase yang
sering disingkat SABDA (Shock, Anger, Bargain, Depressed, Acceptance).
c. Semakin tinggi tingkat kecemasan pada penderita HIV/AIDS, maka kesejahteraan
psikologis pada penderita HIV/AIDS akan semakin rendah
Motivasi sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan penderita HIV/AIDS baik berupa
motivasi ekstrinsik (dukungan orang tua, teman dan sebagainya) maupun motivasi intrinsik
(dari individu sendiri). Dukungan sosial mempengaruhi kesehatan dan melindungi seseorang
terhadap efek negatif stres berat. Motivasi terhadap penderita HIV/AIDS dapat juga berupa
terapi yang mempunyai tujuan sebagai berikut :
1. Membantu penderita mempertahankan kontrol akan hidupnya dan membantu
menemukan mekanisme pertahanan yang sehat, termasuk sikap yang selalu positif
dalam menghadapi begitu banyak tantangan dan stres dalam perjalanan penyakitnya.
2. Membantu penderita menghadapi perasaan bersalah, penyangkalan, panik dan putus
asa.
3. Bekerja bersama penderita menciptakan perasaan menghormati diri sendiri dan
menyelesaikan konflik penderita jika ada.
4. Membantu penderita berkomunikasi dengan keluarga, pasangan hidup dan teman-teman
mengenai penyakitnya dan rasa takut akan penolakan serta ditinggalkan, juga
membantu membina hubungan interpersonal yang memuaskan.
5. Membantu penderita membangun strategi untuk berhadapan dengan krisis nyata yang
mungkin terjadi, baik dalam kesehatan maupun sosioekonomi, dan hal-hal dalam
kehidupan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Pedoman

Pencegahan

Penularan

HIV

dari

Ibu

ke

Anak.

KementerianKesehatanRepublik Indonesia. 30 Mei 2013. Available from: http://


www. depkes.com. Accessed 28thMarch 2014
2. Rencana Aksi Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA)
Indonesia 2013-2017.KesehatanRepublik Indonesia. 30 Mei 2013. Available from:
http:// www.depkes.com. Accessed 23thMarch 2014
3. Guidelines for second generation HIV surveillance: an update: Know your epidemic.
Joint United Nations Programme on HIV/ AIDS. June 2013. World Health
Organization. Available from http:// www.who.int. Accessed 21stMarch 2014

4. Situasi HIV/AIDS di Indonesia Tahun 1987-2006. Pusat Data dan Informasi,


Departemen Kesehatan R.I. Jakarta, 2006. Available from: http:// www.depkes.com.
Accessed 27thMarch 2014
5. Fauci A, Braunwald E, et.al. Human Immunodeficiency Virus Disease. In: Harrisons
Principles of Internal Medicine. 17th Edition. United States of America. McGraw-Hill
Companies 2008.p.1-10
6. Cunningham FG, Gant NF, Lereno KJ, Gilstrap III LC, Hanth JC, Wenstrom KD.
Human Immunodeficiency Virus Infection. In : WilliamsObstetric. 22nd Edition. New
York: Mc Graw-Hill; 2001.p.1-8
7. Djoerban Z, Djauzi S. HIV/AIDS

di

Indonesia.

Dalam

:Buku

Ajar

IlmuPenyakitDalam. Jilid 3. Edisi 4. Jakarta :Interna Publishing. 2006. Hal.1803-7


8. Decherney A, Goodwin M. et.al. Human Immunodeficiency Virus Infection. In :
Current Diagnosis and Treatment Obstetrics and Gynecology. 10th Edition. United
States of America. McGraw-Hill Companies 2007.p.1-6
9. Panduan Tatalaksana Klinis Infeksi HIV pada Orang Dewasa dan Remaja, Edisi
Kedua. Departemen Kesehatan R.I.2007. Available from: http:// www.depkes.com.
Accessed 15thMarch 2014
10. HIV classification:CDC and WHO Staging System. HRSA HIV/AIDS Bureau.. June
2012. World Health Organization. Available from http:// www. who.int. Accessed 28 th
March 2014
11. Marino T.

HIV

in

Pregnancy.

28

November

2012.

Available

from:

http://www.emedicine.com . Accessed 24th March 2014


12. PMTCT Guidelines. The South African Antiretroviral Treatment Guidelines. 13
March

2013.

Department

of

Health

South

Africa.

Available

from

http://web.up.ac.za/PMTCT%20guidelines_March%202013_DoH.pdf. Accessed 22nd


March 2014
13. Consolidated guidelines on the use of antiretroviral drugs for treating and preventing
HIV infection. Joint United Nations Programme on HIV/ AIDS. June 2013. World
Health Organization. Available from http:// www.who.int. Accessed 22nd March 2014
14. Programatic Update on use of antiretroviral drugs for treating pregnant woman and
preventing HIV infections in infants. Joint United Nations Programme on HIV/ AIDS.
April 2012. World Health Organization. Available from http:// www.who.int.
Accessed 22ndMarch 2014