Anda di halaman 1dari 32

Tinjauan Pustaka

MENIERE DISEASE

Oleh :
Desi Anugerah Sari Darmawani, S. Ked
Helda Sasti Dian Pertiwi, S.Ked

Pembimbing: Dr. Sri Handayani, Sp.S

DEPARTEMEN NEUROLOGI RSMH


1

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA


PALEMBANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Presentasi Kasus

Oleh:
Desi Anugerah Sari Darmawani, S.Ked
Helda Sasti Dian Pertiwi, S.Ked
Telah diterima sebagai salah satu syarat kepaniteraan kinik senior periode 11 Mei
- 15 Juni 2015 di Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya /
RSMH Palembang 2015.
2

Palembang, Juni 2015


Pembimbing

Dr. Sri
Handayani ,Sp. S

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan karuniaNya, akhirnya tinjauan pustaka yang berjudul Meniere Disease ini
dapat diselesaikan dengan baik. Tinjauan pustaka ini ditujukan sebagai
salah satu syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik senior di
3

Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya RSUP


Dr. Mohammad Hoesin Palembang.
Penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada Dr. Sri
Handayani, Sp.S selaku pembimbing tinjauan pustaka ini yang telah
memberikan bimbingan dan nasihat dalam penyusunan tinjauan
pustaka ini.
Penulis menyadari bahwa tinjauan pustaka ini masih memiliki
banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar tinjauan pustaka ini menjadi
lebih

baik.

Harapan

penulis

semoga

tinjauan

pustaka

ini

bisa

membawa manfaat bagi semua orang dan dapat digunakan dengan


sebaik-baiknya.

Palembang,

Juni

2015

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN.............................................................. ii
KATA PENGANTAR......................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 2
BAB III KESIMPULAN.........................................................................24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Penyakit Meniere adalah suatu gangguan kronis telinga dalam, tidak fatal

namun mengaggu kualitas hidup. Menurut guidelines of the American Academy


5

Of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (AAO-HNS), penyakit meniere di


tandai dengan 4 gejala, yaitu: Vertigo (pusing berputar), kurangnnya pendenganrn
ysng bersifat fluktuatif, tinitus dan rasa penuh di dalam telinga. 1 Adapun struktur
anatomi telinga yang terkena dampaknya adalah seluruh labirin yang meliputi
kanalis semisirkularis dan kokhlea. Pendapat ini kemudian dibuktikan oleh
Hallpike dan Cairn tahun 1938, dengan ditemukannya hidrops endolimfa setelah
memeriksa tulang temporal pasien dengan dugaan penyakit Meniere.2
Penyakit Meniere merupakan salah satu penyebab tersering vertigo pada
telinga dalam. Sebagian besar kasus bersifat unilateral dan sekitar 10-20% kasus
bersifat bilateral. Insidensinya mencapai 0,5-7,5 : 1000 di Inggris dan Swedia.2
Serangan khas dari Meniere didahului oleh perasaan penuh pada satu
telinga. Gangguan pendengaran yang bersifat fluktuatif dan dapat disertai dengan
tinnitus. Sebuah episode penyakit Meniere umumnya melibatkan vertigo,
ketidakseimbangan, mual, dan muntah. Serangan rata-rata berlangsung selama dua
menit sampai empat jam. Setelah serangan yang parah, kebanyakan pasien
mengeluhkan kelelahan dan harus tidur selama beberapa jam. Ada beberapa
variabilitas dalam durasi gejala. Beberapa pasien mengalami serangan singkat
sedangkan penderita lainnya dapat mengalami ketidakseimbangan konstan.(1)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Fisiologi keseimbangan

Gambar 7. Skema fisiologi keseimbangan

Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan


sekitarnya tergantung dari input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ
pengelihatan dan organ proprioseptif. Gabungan informasi ketiga reseptor
sensorik tersebut akan diolah di sistem saraf pusat sehingga akan menimbulkan
gambaran mengenai keadaan posisi tubuh pada suatu saat dan bagaimana
mengatur posisi tubuh seperti yang dikehendaki.
Organ pengelihatan menerima rangsangan melalui reseptor di retina yaitu
di makula lutea. Rangsang tersebut diteruskan melalui n. optikus (N.II) sampai ke
korteks visual di lobus oksipitalis. Fungsi pengelihatan memberikan informasi
tentang posisi dan gerak tubuh serta lingkungan sekitar. Organ proprioseptif
menerima rangsang gerak melalui reseptor muskuloskeletal terutama di daerah
leher yang di salurkan melalui saraf spinal kemudian medula spinalis, medula
oblongata, thalamus dan berakhir di korteks sensoris (post sentralis).
Organ vestibuler menerima rangsangan gerak dari reseptor di labirin yaitu
pada utrikulus, sakulus (makula) dan kanalis semisirkularis (krista ampularis).
Sel-sel pada organ otolit peka terhadap gerak linear sedangkan sel-sel pada kanalis
semisirkularis peka terhadap rotasi khususnya terhadap percepatan sudut

(perubahan dalam kecepatan sudut). Kemudian rangsang tersebut disalurkan


melalui n. vestibularis (N.VIII) ke medula oblongata dan berakhir di korteks
serebri gyrus temporalis superior dekat pusat pendengaran. Sebagian rangsangan
disalurkan langsung ke serebelum dan sebagian lagi ke medula spinalis melalui
traktus vestibulospinal menuju ke motor neuron yang menginervasi otot-otot
proksimal, kumparan otot leher dan otot punggung (postural). Sistem ini berjalan
dengan sangat cepat sehingga membantu mempertahankan keseimbangan tubuh.
Rangsang yang diterima oleh reseptor ketiga sistem tersebut disalurkan
melalui saraf perifernya ke sistem saraf pusat sebagai pusat integrasi. Koordinasi
antara ketiganya dan beberapa pusat di otak seperti serebelum, ganglia basalis dan
formatio

retikularis

akan

mempertahankan

fungsi

keseimbangan

tubuh.

Mekanisme kerjasama ketiga organ sensorik dan susunan saraf pust tersebut
berlangsung secara involunter. Mekanisme tersebut dapat berjalan sadar apabila
dalam keadaan tertentu misalnya berjalan di permukaan yang tidak rata, berlari
dan bermain ski. Dalam kehidupan sehari-hari, mekanisme tersebut berjalan
secara terus menerus untuk mempertahankan tonus otot-otot tubuh dan
ekstremitas agar tubuh tetap dalam posisi tegak atau mengubah posisi agar tidak
jatuh pada keadaan tertentu. Susunan saraf pusat yang selalu memberi perintah
melalui jaras vestibulospinal untuk mengatur kontraksi otot dan ekstremitas
inferior untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.6,7,8

2.2.

Penyakit meniere

Gambar 2:(A) Labirin pada telinga normal. (B)Labirin yang berdilatasi (hidrops endolimfa)
pada penyakit Meniere1

Penyakit Meniere adalah suatu gangguan kronis telinga dalam, tidak fatal
namun mengaggu kualitas hidup. Menurut guidelines of the American Academy
Of Otolaryngology-Head and Neck Surgery (AAO-HNS), penyakit meniere di
tandai dengan 4 gejala, yaitu: Vertigo (pusing berputar), kurangnnya pendenganrn
ysng bersifat fluktuatif, tinitus dan rasa penuh di dalam telinga. 1. Penyakit ini
merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan manusia tidak mampu
mempertahankan posisi dalam berdiri tegak. Hal ini disebabkan oleh adanya
hidrops (pembengkakan) rongga endolimfa pada kokhlea dan vestibulum.
Penyakit ini ditemukan oleh Meniere pada tahun 1861 dan dia yakin bahwa
penyakit itu berada di dalam telinga. Namun para ahli saat itu menduga bahwa
penyakit itu berada di otak. Pendapat Meniere kemudian dibuktikan oleh Hallpike
dan Cairn tahun 1938, dengan ditemukannya hidrops endolimfa setelah memerika
tulang temporal pasien dengan dugaan menderita penyakit Meniere.1
2.3.

Gejala-gejala penyakit Meniere


Vertigo berasal dari bahasa Yunani yang berarti memutar. Pengertian

vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitar
dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat
keseimbangan tubuh. Vertigo mungkin bukan hanya terdiri dari satu gejala
9

pusing saja, melainkan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari gejala
somatik (nistagmus, unstable), gejala otonom seperti pucat, keringat dingin,
mual, muntah dan pusing.
Tinitus merupakan gangguan pendengaran dengan keluhan selalu
mendengar bunyi namun tanpa ada rangsangan bunyi dari luar. Sumber bunyi
tersebut berasal dari tubuh penderita itu sendiri ( impuls sendiri ). Namun tinitus
hanya merupakan gejala, bukan penyakit, sehingga harus di cari penyebabnya.
Gangguan pendengaran biasanya berfluktuasi dan progresif dengan
pendengaran yang semakin memburuk dalam beberapa hari. Gangguan
pendengaran pada penyakit Meniere yang parah dapat mengakibatkan kehilangan
pendengaran permanen1,2,8.
2.4.

Epidemiologi
Penyakit Meniere adalah salah satu penyebab tersering vertigo pada

telinga dalam. Sebagian besar kasus bersifat unilateral dan sekitar 10-20% kasus
bersifat bilateral. Insiden penyakit ini mencapai 0,5-7,5 : 1000 di Inggris dan
Swedia.
Penyakit Meniere jarang ditemukan pada anak-anak. Pada sebagian besar
kasus timbul pada laki-laki atau perempuan usia dewasia. Paling banyak
ditemukan pada usia 20 -50 tahun. Kemungkinan ada komponen genetik yang
berperan dalam penyakit Meniere karena ada riwayat keluarga yang positif sekitar
21 % pada pasien dengan penyakit Meniere. Pasien yang dengan resiko besar
terkena penyakit Meniere adalah orang-orang yang memiliki riwayat alergi,
merokok, stres, kelelahan alkoholisme dan pasien yang rutin mengkonsumsi
Aspirin.

Pada tabel di bawah ini akan menggambarkan tentang insidensi penyakit


Meniere di beberapa negara.

10

Insiden penyakit Meniere


Tahun

Negara

Kasus
(per juta penduduk)

1973

Swedia

114

1977
1979
1985
1990

Jepang
India
Italia
Amerika Serikat

160
200
85
153

Tabel 1. Insiden penyakit Meniere di beberapa negara(1)

Grafik 1. Grafik distribusi penyakit Meniere berdasarkan usia dan jenis kelamin(1)

Pada penelitian tahun 2010, penyakit meniere memiliki prevalensi yang di dapat
di Amerika serikat sekitar 190 per 100,000 pasien yang di rawat dan perbandingan
antara perempuan dan laki-laki adalah 1,89:1.16

2.5 Etiologi
11

Penyebab pasti penyakit Meniere belum diketahui. Namun terdapat


berbagai teori termasuk pengaruh neurokimia dan hormonal abnormal pada aliran
darah yang menuju labirin dan terjadi gangguan elektrolit dalam cairan labirin,
reaksi alergi dan autoimun.
Penyakit Meniere masa kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi
ketidakseimbangan cairan telinga dalam yang abnormal dan diduga disebabkan
oleh terjadinya malabsoprsi dalam sakus endolimfatikus. Selain itu para ahli juga
mengatakan terjadinya suatu robekan pada membran di labirin kokhlea sehingga
menyebabkan endolimfa dan perilimfa bercampur. Hal ini menurut para ahli dapat
menimbulkan gejala dari penyakit Meniere. Para peneliti juga sedang melakukan
penyelidikan dan penelitian terhadap kemungkinan lain penyebab penyakit
Meniere dan masing-masing memiliki keyakinan tersendiri terhadap penyebab
dari penyakit ini, termasuk faktor lingkungan seperti suara bising, infeksi virus
HSV, penekanan pembuluh darah terhadap syaraf (microvascular compression
syndrome). Selain itu gejala penyakit Meniere dapat ditimbulkan oleh trauma
kepala, infeksi saluran pernafasan atas, aspirin, merokok, alkohol atau konsumsi
garam berlebihan. Namun pada dasarnya adalah belum ada yang tahu secara pasti
apa penyebab penyakit Meniere(9).
Gejala klinis penyakit Meniere disebabkan oleh adanya hidrops endolimfa
(peningkatan endolimfa yang menyebabkan labirin membranosa berdilatasi) pada
kokhlea dan vestibulum. Hidrops yang terjadi dan hilang timbul diduga
disebabkan oleh meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri, menurunnya
tekanan

osmotik

dalam

kapiler, meningkatnya

tekanan

osmotik

ruang

ekstrakapiler, jalan keluar sakulus endolimfatikus tersumbat (akibat jaringan parut


atau karena defek dari sejak lahir)
Hidrops endolimfa ini lama kelamaan menyebabkan penekanan yang bila
mencapai dilatasi maksimal akan terjadi ruptur labirin membran dan endolimfa
akan bercampur dengan perilimfa. Percampuran ini menyebabkan potensial aksi
di telinga dalam sehingga menimbulkan gejala vertigo, tinitus dan gangguan

12

pendengaran serta rasa penuh di telinga. Ketika tekanan sudah sama, maka
membran akan sembuh dengan sendirinya dan cairan perilimfe dan endolimfe
tidak bercampur kembali namun penyembuhan ini tidak selalu sempurna.
2.6 Patofisiologi
Hidrops endolimfa (peningkatan endoifa yang menyebabkan
labirin membranosa berdilatasi) pada kokhlea dan vestibulum
Hidrops yang terajadi dan hilang timbul diduga disebabkan oleh
meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri
Penurunan tekanan osmotik dalam kapiler
Peningkatan tekanan osmotik ruang ekstrakapiler
Jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat (akibat jaringan parut)
Lama kelamaan hidrops menyebabkan penekana yang bila
mencapai dilatasi maksimal akan terjadi ruptur labirin
Membran dan endolimfa akan bercampur dengan perilimfa
Potensial aksi di telinga dalam

Timbul gejala vertigo, tinnitus, gangguan pendengaran dan rasa


penuh di telinga
Ketika tekanan sudah sama, membran akan sembuh dengan
sendirinya, cairan perilimfe dan endolimfe tidak bercampur kembali
namun penyembuannya tidak sempurna.

Penyakit Meniere dapat menimbulkan :


1. Kematian sel rambut pada organ kori di telinga dalam

13

Serangan berulang penyakit meniere menyebabkan kematian sel rambut organ


korti. Dalam setahun dapat menimbulkam tuli sensorineural unilateral. Sel rambut
vestibuler masih dapat berfungsi, namun dengan tes kalori menunjukkan
kemunduran fungsi.
2. Perubahan mekanisme telinga
Dimana disebabkan periode pembesaran kemudian penyusutan utrikulus dan
sakulus kronik.
Pada pemeriksaan histopatologi tulang temporal ditemukan perubahan
morfologi pada membrana Reissner. Terdapat penonjolan ke dalam skala vestibuli
terutama di daerah apeks kokhlea ( Helikotrema ). Sakulus juga mengalami
pelebaran yang dapar menekan utrikulus. Pada awalnya pelebaran skala media
dimulai dari apeks kokhlea kemudian dapat meluas mengenai bagian tengah dan
basal kokhlea. Hal ini dapat menjelaskan terjadinya tuli saraf nada rendah pada
penyakit ini(9,10).

2.7 Gejala Klinis


Penyakit Meniere dimulai dengan satu gejala lalu secara progresif gejala
lain bertambah. Gejala-gejala klinis dari penyakit Meniere yang khas sering
disebut Trias Meniere yaitu vertigo, tinitus dan tuli sensorineural fluktuatif
terutama di nada rendah. Serangan pertama dirasakan sangat berat, yaitu vertigo
disertai mual dan muntah. Setiap kali berusaha untuk berdiri pasien akan merasa
berputar, mual terus muntah lagi. Hal ini berlangsung beberapa hari sampai
beberapa minggu, kemudian keadaan akan berangsur membaik. Peyakit ini bisa
sembuh tanpa obat dan gejala penyakit bisa hilang sama sekali. Pada serangan
kedua dan selanjutnya dirasakan lebih ringan tidak seperti serangan pertama kali.
Pada penyakit Meniere, vertigonya periodik dan makin mereda pada seranganserangan selanjutnya.

14

Pada setiap serangan biasanya disertai gangguan pendengaran dan dalam


keadaan tidak ada serangan pendengaran dirasakan baik kembali. Gejala lain yang
menyertai serangan adalah tinitus yang kadang menetap walaupun di luar
serangan. Gejala yang lain menjadi tanda khusus adalah perasaan penuh dalam
telinga.
Vertigo periodik biasanya dirasakan dalam 20 menit hingga 2 jam atau
lebih dalam periode serangan seminggu atau sebulan yang diselingi periode
remisi. Vertigo menyebabkan nistagmus, mual, muntah. Pada setiap serangan
biasanya disertai gangguan pendengaran dan keseimbangan sehingga tidak dapat
beraktivitas dan dalam keadaan tidak ada serangan pendengaran akan pulih
kembali. Dari keluhan vertigonya kita sudah dapat membedakan dengan penyakit
yang lainnya yang juga memiliki gejala vertigo seperti tumor N.VIII, sklerosis
multipel, neuritis vestibularis atau vertigo posisi paroksismal jinak (VPPJ).
Pada tumor N.VIII serangan vertigo periodik, mula-mula lemah dan
semakin lama makin kuat. Pada sklerosis multipel vertigo periodik dengan
intensitas sama pada tiap serangan. Pada neuritis vestibuler serangan vertigo tidak
periodik dan makin lama menghilang. Pada VPPJ keluhan vertigo datang akibat
perubahan posisi kepala dan keluhan yang dirasakan sangat berat kadang disertai
rasa mual dan muntah namun tidak berlangsung lama.
Tinitus kadang menetap ( periode detik hingga menit ), meskipun diluar
serangan. Tinitus sering memburuk sebelum terjadi serangan vertigo. Tinitus
sering dideskripsikan pasien sebagai suara motor, mesin, bergemuruh, berdering,
dengung, dan denging dalam telinga.
Gangguan pendengaran mungkin terasa hanya berkurang sedikit pada saat
awal serangan, namun seiring berjalannya waktu dapat terjadi kehilangan
pendengaran yang tetap. Penyakit Meniere mungkin melibatkan semua kerusakan
saraf di semua frekuensi suara pendengaran namun paling umum terjadi pada
frekuensi yang rendah. Suara yang keras mungkin menjadi tidak nyaman dan
sangat mengganggu pada telinga yang terpengaruh.
15

Rasa penuh pada telinga dirasakan seperti saat kita mengalami perubahan
tekanan udara (menaiki dan menuruni bukit, pesawat terbang, dan sebagainya)
namun perbedaannya rasa penuh ini tidak hilang dengan perasat Valsava dan
Toynbee. (1,8,11)
2.8 Diagnosis
Kondisi penyakit lain dapat menghasilkan gejala yang serupa seperti
penyakit Meniere, dengan demikian kemungkinan penyakit lain harus
disingkirkan dalam rangka untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Evaluasi
awal didasarkan pada anamnesis yang sangat hati-hati.
Diagnosis penyakit ini dapat dipermudah dengan kriteria diagnosis :
1. Vertigo yang hilang timbul disertai tinitus dan rasa penuh pada telinga
2. Fluktuasi gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural
3. Menyingkirkan kemungkinan penyebab dari sentral, misalnya tumor
N.VIII
Beberapa diagnosis banding untuk penyakit Meniere adalah tumor
N.VIII, sklerosis multipel, neuritis vestibularis atau vertigo posisi
paroksismal jinak (VPPJ). Pada tumor N.VIII serangan vertigo periodik,
mula-mula lemah dan semakin lama makin kuat. Pada sklerosis multipel
vertigo periodik dengan intensitas sama pada tiap serangan. Pada neuritis
vestibuler serangan vertigo tidak periodik dan makin lama menghilang.
Pada VPPJ keluhan vertigo datang akibat perubahan posisi kepala dan
keluhan yang dirasakan sangat berat kadang disertai rasa mual dan muntah
namun tidak berlangsung lama
4. Pemeriksaan fisik diperlukan untuk menguatkan diagnosis. Bila dari hasil
pemeriksaan fisik telinga kemungkinan kelainan telinga luar dan tengah
dapat disingkirkan dan dipastikan kelainan berasal dari telinga dalam
misalnya dalam anamnesis didapatkan keluhan tuli saraf fluktuatif dan
ternyata dikuatkan dengan hasil pemeriksaan maka kita sudah dapat

16

mendiagnosis penyakit meniere, sebab tidak ada tuli saraf yang membaik
kecuali pada penyakit Meniere.
5. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis
penyakit Meniere adalah :
-

Pemeriksaan audiometri, menunjukan tuli sensorineural. Kemampuan


pendengaran dalam membedakan kata-kata yang mirip pengucapannya sering
menghilang. Selain itu ditemukan gambaran penurunan kemampuan
pendengaran pada frekuensi rendah

Gambar 10. Audiogram penyakit Meniere telinga kanan stadium awal (1)

17

Gambar 11. Audiogram penyakit Meniere telinga kanan stadium menengah (1)

Gambar 12. Audiogram penyakit Meniere telinga kanan stadium akhir(1)

Elektronistagmografi ( ENG ) dan tes keseimbangan, untuk mengetahui


secara objektif kuantitas dari gangguan keseimbangan pada pasien. Pada
18

sebagian besar pasien dengan penyakit Meniere mengalami penurunan


respons nistagmus terhadap stimulasi dengan air panas dan air dingin yang
digunakan pada tes ini.
-

Elektrokokleografi (ECOG), mengukur akumulasi cairan di telinga dalam


dengan cara merekam potensial aksi neuron auditoris melalui elektroda yang
ditempatkan dekat dengan kokhlea. Pada pasien dengan penyakit Meniere, tes
ini juga menunjukkan peningkatan tekanan yang disebabkan oleh cairan yang
berlebih pada telinga dalam yang ditunjukkan dengan adanya pelebaran
bentuk gelombang dengan puncak yang multipel

Brainstem Evoked Response Audiometry ( BERA ), biasanya normal pada


pasien dengan penyakit Meniere, walaupun kadang terdapat penurunan
pendengaran ringan pada pasien dengan kelainan pada sistem saraf pusat

Magnetic Resonance Imaging ( MRI ) dengan kontras yang disebut


gadolinium spesifik memvisualisasikan n.VII. Jika ada bagian serabut saraf
yang tidak terisi kontras menunjukkan adanya neuroma akustik. Selain itu
pemeriksaan MRI juga dapat memvisualisasikan kokhlea dan kanalis
semisirkularis(1,9,11).
2.9 Penatalaksanaan
Pasien yang datang dengan keluhan khas penyakit Meniere awalnya hanya

diberikan pengobatan yang bersifat simptomatik, seperti sedatif dan bila perlu
diberikan anti emetik. Pengobatan paling baik adalah sesuai dengan penyebabnya.
a. Diet dan perubahan gaya hidup
Diet rendah garam memiliki efek yang kecil terhadap konsentrasi sodium
pada plasma, karena tubuh telah memiliki sistem regulasi dalam ginjal untuk
mempertahankan

level

sodium

dalam

plasma.

Untuk

mempertahankan

keseimbangan konsentrasi sodium, ginjal menyesuaikan kapasitas untuk


kemampuan transport ion berdasarkan intake sodium. Penyesuaian ini diperankan
oleh hormon aldosteron yang berfungsi mengontrol jumlah transport ion di ginjal
19

sehingga akan mempengaruhi regulasi sodium di endolimfe sehingga mengurangi


serangan penyakit Meniere.
Banyak pasien dapat mengontrol gejala hanya dengan mematuhi diet
rendah garam (2000 mg/hari). Jumlah sodium merupakan salah satu faktor yang
mengatur keseimbangan cairan dalamm tubuh. Retensi natrium dan cairan dalam
tubuh dapat merusak keseimbangan antara endolimfe dan perilimfe di dalam
telinga.
Garam natrium yang ditambahkan ke dalam makanan biasanya berupa
ikatan natrium chlorida atau garam dapur, monosodium glutamat (vetsin), natrium
bikarbonat (soda kue), natrium benzoat (daging kornet).
Pemakaian rokok, alkohol, coklat harus dihentikan. Kafein dan nikotin
juga merupakan stimulan vasoaktif dan dapat menyebabkan terjadinya
vasokonstriksi dan penurunan aliran darah arteri kecil yang memberi nutrisi saraf
dari telinga tengah. Dengan menghindari kedua zat tersebut dapat mengurangi
gejala.
Olahraga yang rutin dapat menstimulasi sirkulasi aliran darah sehingga
perlu untuk dianjurkan ke pasien. Pasien juga harus menghindari penggunaan
obat-obatan yang bersifat ototoksik seperti aspirin karena dapat memperberat
tinitus.
Selama serangan akut dianjurkan untuk berbaring di tempat yang keras,
berusaha untuk tidak bergerak, pandangan mata difiksasi pada satu objek tidak
bergerak, jangan mencoba minum walaupun ada perasaan mau muntah, setelah
vertigo menghilang pasien diminta untuk bangun secara perlahan karena biasanya
setelah serangan akan terjadi kelelahan dan sebaiknya pasien mencari tempat yang
nyaman untuk tidur selama beberapa jam untuk memulihkan keseimbangan.
b. Farmakologi
Untuk penyakit ini diberikan obat-obatan vasodilator perifer, anti histamin,
antikolinergik, steroid dan diuretik untuk mengurangi tekanan pada endolimfe.
20

Obat-obat antiiskemia dapat pula diberikan sebagai obat alternatif dan neurotonik
untuk menguatkan sarafnya selain itu jika terdapat infeksi virus dapat diberikan
antivirus seperti acyclovir.
Tranzquilizer seperti diazepam ( valium ) dapat digunakan pada kasus akut
untuk membantu mengontrol vertigo, namun karena sifat adiktifnya tidak
digunakan sebagai pengobatan jangka panjang. Anti emetik seperti prometazin
tidak hanya mengurangi mual dan muntah tapi juga vertigonya. Diuretik seperti
thiazide dapat membantu mengurangi gejala penyakit Meniere dengan
menurunkan tekanan dalam sistem endolimfe. Pasien harus diingatkan untuk
makan makanan yang mengandung kalium seperti pisang, tomat dan jeruk ketika
menggunakan diuretik yang menyebabkan kehilangan kalium.
c. Latihan
Rehabilitasi penting dilakukan sebab dengan melakukan latihan sistem
vestibuler ini sangat menolong. Kadang-kadang gejala vertigo dapat diatasi
dengan latihan yang teratur dan baik. Orang-orang yang karena profesinya
menderita vertigo dapat diatasi dengan latihan yang intensif sehingga gejala yang
timbul tidak lagi mengganggu pekerjaan sehari-hari(1,9,12).
Ada beberapa latihan yaitu : Canalit Reposition Treatment (CRT) / Epley
manouver dan Brand-Darroff exercise. Dari beberapa latihan ini kadang
memerlukan seseorang untuk membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan
sendiri.
Dari beberapa latihan, umumnya yang dilakukan pertama adalah CRT jika masih
terasa ada sisa baru dilakukan Brand-Darroff exercise.

21

Latihan CRT / Epley manouver :

Gambar 13. CRT/Epley Manuver(13)

Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri ( pada gangguan keseimbangan /
vertigo telinga kiri ) (1), kemudian langsung tidur sampai kepala menggantung di
pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar / vertigo sampai hilang,
kemudian putar kepala ke arah kanan

perlahan sampai muka menghadap ke


22

lantai (3), tunggu sampai hilang rasa vertigo, kemudian duduk dengan kepala
tetap pada posisi menoleh ke kanan dan kemudian ke arah lantai (4), masingmasing gerakan ditunggu lebih kurang 30 60 detik. Dapat dilakukan juga untuk
sisi yang lain berulang kali sampai terasa vertigo hilang.

Latihan Brand-Darroff :

Gambar 14. Latihan Brand-Darroff(13)

Keterangan Gambar :
Pertama posisi duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi
kanan, kemudian balik posisi duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan
ke sisi kiri, masing-masing gerakan ditunggu kira-kira 1 menit, dapat dilakukan
berulang kali, pertama cukup 1-2 kali kiri kanan, besoknya makin bertambah.
Sebaiknya juga harus diperiksakan terlebih dahulu untuk memastikan penyebab
vertigo / gangguan keseimbangannya(13).

23

d. Penatalaksanaan bedah
Operasi yang direkomendasikan bila serangan vertigo tidak terkontrol antara
lain :
-

Dekompresi sakus endolimfatikus

Gambar 15. Dekompresi sakus endolimfe(14)

Operasi ini mendekompresikan cairan berlebih di telinga dalam dan


menyebabkan

kembali

normalnya

tekanan

terhadap

ujung

saraf

vestibulokokhlearis. Insisi dilakukan di belakang telinga yang terinfeksi dan air


cell mastoid diangkat agar dapat melihat telinga dalam. Insisi kecil dilakukan pada
sakus endolimfatikus untuk mengalirkan cairan ke rongga mastoid.

24

Secara keseluruhan sekitar 60 % pasien serangan vertigo menjadi


terkontrol, 20 % tidak memperoleh penurunan gejala, 20 % mengalami serangan
yang lebih buruk. Fungsi pendengaran tetap stabil namun jarang yang membaik
dan tinitus tetap ada, 2 % mengalami tuli total dan vertigo tetap ada.
-

Labirinektomi
Operasi ini mengangkat kanalis semisirkularis dan saraf vestibulokokhlear.

Dilakukan dengan insisi di telinga belakang dan air cell mastoid diangkat, bila
telinga dalam sudah terlihat, keseluruhan labirin tulang diangkat. Setelah satu
atau dua hari pasca operasi, tidak jarang terjadi vertigo berat. Hal ini dapat diatasi
dengan pemberian obat-obatan. Setelah seminggu, pasien mengalami periode
ketidakseimbangan tingkat sedang tanpa vertigo, sesudahnya telinga yang normal
mengambil alih seluruh fungsi keseimbangan. Operasi ini menghilangkan fungsi
pendengaran telinga.
-

Neurektomi vestibuler

25

Gambar 14. Neurektomi vestibuler(14)

Bila pasien masih dapat mendengar, neurektomi vestibuler merupakan


pilihan untuk menyembuhkan vertigo dan pendengaran yang tersisa. Dilakukan
insisi di belakang telinga dan air cell mastoid di angkat, dilakukan pembukaan
pada fossa duramater dan n.VIII dan dilakukan pemotongan terhadap saraf
keseimbangan. Pemilihan operasi ini mirip dengan labirinektomi. Namun karena
operasi ini melibatkan daerah intrakranial, sehingga harus dilakukan pengawasan
ketat pasca operasi. Operasi ini diindikasikan pada pasien di bawah 60 tahun
yang sehat.
Sekitar 5 % mengalami tuli total pada telinga yang terinfeksi, paralisis
wajah sementara dapat terjadi selama beberapa hari hingga bulan, sekitar 85 %
vertigo dapat terkontrol.
-

Labirinektomi dengan zat kimia


26

Merupakan operasi dimana menggunakan antibiotik (strepomisin atau


gentamisin dosis kecil) yang dimasukkan ke telinga dalam. Operasi ini bertujuan
mengurangi proses penghancuran saraf keseimbangan dan mempertahankan
pendengaran yang masih ada. Pada kasus penyakit Meniere, diberikan
streptomisin intramuskular dapat menyembuhkan serangan vertigo dan
pendengaran dapat dipertahankan.
-

Endolymphe shunt
Operasi ini masih kontroversi karena banyak peneliti yang menganggap

operasi ini merupakan plasebo.


Ada dua tipe dari operasi ini yaitu :
a. Endolymphe subarakhnoid shunt : dengan menempatkan tuba diantara
endolymphe dan kranium
b. Endolymphe mastoid shunt : dengan menempatkan tuba antara sakus
endolimfatikus dan rongga mastoid(14,15).
2.10

Prognosis

Penyakit Meniere belum dapat disembuhkan dan bersifat progresif, tapi


tidak fatal dan banyak pilihan terapi untuk mengobati gejalanya. Penyakit ini
berbeda untuk tiap pasien. Beberapa pasien mengalami remisi spontan dalam
jangka waktu hari hingga tahun. Pasien lain mengalami perburukan gejala secara
cepat. Namun ada juga pasien yang perkembangan penyakitnya lambat.

Belum ada terapi yang efektif untuk penyakit ini namun berbagai tindakan
dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya serangan dan progresivitas penyakit.
Sebaiknya pasien dengan vertigo berat disarankan untuk tidak mengendarai mobil,
naik tangga dan berenang(15)
27

BAB III
KESIMPULAN

28

Penyakit Meniere disebut juga idiopathic endolymphatic hydrops.


Penyakit ini adalah suatu kelainan telinga dalam dimana terjadi gangguan
pendengaran, tinitus, vertigo periodik dan rasa penuh di telinga.
Penyebab pasti penyakit Meniere belum dikerahui. Penambahan endolimfe
diperkirakan oleh adanya gangguan biokimia cairan endolimfe. Gejala klinis
penyakit Meniere disebabkan oleh adanya hidrops endolimfe (peningkatan
tekanan endolimfe yang menyebabkan labirin membranosa berdilatasi) pada
kokhlea dan vestibulum. Terdapat trias atau sindroma Meniere, yaitu vertigo,
tinitus dan tuli sarag yang bersifat fluktuatif. Serangan pertama dirasakan sangat
berat disertai dengan mual, muntah dan kelelahan setelah serangan sehingga
diperlukan tidur dalam waktu lama untuk meredakan gejala vertigo.
Diagnosis dipermudah dengan dibakukannya kriteria diagnosis, yaitu trias
Meniere dan menyingkirkan kemungkinan penyebab dari sentral, misalnya tumor
N.VIII. Kondisi penyakit lain dapat menghasilkan gejala yang serupa seperti
penyakit Meniere, dengan demikian kemungkinan penyakit lain harus
disingkirkan dalam rangka untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Evaluasi
awal didasarkan pada anamnesis yang sangat hati-hati. Pemeriksaan fisik
diperlukan untuk konfirmasi diagnosis. Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan

untuk

membantu

diagnosis

adalah

Pemeriksaan

audiometri ,

Elektronistagmografi ( ENG), Elektrokokleografi (ECOG), Brainstem Evoked


Response Audiometry ( BERA ), Magnetic Resonance Imaging ( MRI )
Pasien yang datang dengan keluhan khas penyakit Meniere awalnya hanya
diberikan pengobatan yang bersifat simptomatik, seperti sedatif dan bila perlu
diberikan anti emetik. Pengobatan paling baik adalah sesuai dengan penyebabnya.
Pengobatan secara komprehensif meliputi : diet dan pengaturan gaya hidup yaitu
dengan diet rendah garam, tidak mengkonsumsi rokok, alkohol, kafein, olahraga
rutin. Rehabilitasi dan latihan sistem vestibuler. Pengobatan medika mentosa
dengan memberikan obat anti emetik, tranzquilizer dan diuretik. Penatalaksanaan
bedah dilakukan apabila vertigo berat dan tidak terkontrol.

29

DAFTAR PUSTAKA

30

1. Hain

TC,

Yacovino

D.

Meniere

Disease.

2003.

Available

at

http://www.dizziness-andbalance.com/disorders/menieres/menieres_english.html. Accessed on July 26,


2010.
2. National Institut on Deafness and Other Communication Disordera. Menieres
Disease.

Available

at

http://www.nidcd.nih.gov/healthinfo/balance/menieresdisease.htm. Accesed on
July 27, 2010.
3. Ellis H. The Special Senses : The Ear. In : Clinical Anatomy, Applied
Anatomy for Students and Junior Doctor. 6 th Ed. Massachusetts. Blackwell
Publishing. 2006. 384-387.
4. Liston LS, Duvail AJ. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam :
BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Editor: Effendi H, Santosa K.
Jakarta: EGC. 1997.27-38.
5. Soetirto I, Hendamin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran. Dalam : Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke-6.
Editor: Soepardi EA, Iskandar N. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007. 10-16.
6. Sherwood L. Telinga : Pendengaran dan Keseimbangan. Dalam : Fisiologi
Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta : ECG.2006.176-189.
7. Anderson JH, Levine SC. Sistem Vestibularis. Dalam : BOIES Buku Ajar
Penyakit THT Edisi 6. Editor: Effendi H, Santosa K. Jakarta: EGC. 1997.3945.
8. Bashiruddin J, Hadjar E, Alviandi W. Gangguan Keseimbangan. Dalam : Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke-6.
Editor: Soepardi EA, Iskandar N. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2007. 94-101.
9. Hadjar E, Bashiruddin J. Penyakit Meniere. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke-6. Editor:
Soepardi EA, Iskandar N. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2007. 102-103.
31

10. Paparella MM. Pathogenesis and Pathophysiology of Meniere Disease. Acta


Otolaryngol (Stockh)2006;(Suppl 485)26.
11. Levine SC. Penyakit Telinga Dalam. Dalam : BOIES Buku Ajar Penyakit THT
Edisi 6. Editor: Effendi H, Santosa K. Jakarta: EGC. 1997.136-137.
12. Rutka JA. Evaluation of vertigo. In: Blitzer A, Pillsbury HC, Jahn AF, Binder
WJ, editors. Office based surgery in otolaryngology. New York: Thieme;1998.
p. 7178.
13. Diza M. Pengobatan Gangguan Keseimbangan ( Vertigo ).2009. Available at :
http://d132a.wordpress.com/2008/12/26/pengobatan-gangguan-keseimbanganvertigo/. Accessed on July 29, 2010.
14. Levenson, Mark J. Home of The Surgery Information Centre. Meniere
Syndrome.

2009.

Available

at

http://www.earsurgery.org/site/pages/conditions/menieres-syndrome.php.
Accessed on July 27, 2010.
15. Becker W, Naumann HH, Pfalfz CR. A Pocket Reference Ear, Nose And
Throat Disease . Second Revised Edition. New York: Thieme; 2004. 100-101.
16. Alexander TH, Harris JP. Current epidemiology of Meniere syndrome.2010,
diakses http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20712326 . 2 juni 2015.

32