Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar belakang.
Kita mengenal “Hydrocephalus” sebagai suatu kelainan yang biasanya terjadi pada
bayi, dan ditandai dengan membesarnya kepala melebihi ukuran normal. Dalam keada
an normal, tubuh memproduksi cairan otak (Cairan Serebro Spinal = CSS) dalam jum
lah tertentu, untuk kemudian didistribusikan dalam ruang-ruang ventrikel otak, s
ampai akhirnya diserap kembali. Dalam keadaan dimana terdapat ketidakseimbangan
antara produksi dan penyerapan kembali, terjadi penumpukan cairan otak di ventri
kel (Renyta, S.Ked, 2007).
Insidensi Hydrocephalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi Hydrocepha
lus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan ol
eh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk ked
ua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hydrocephalus dapat terjadi pada
semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis.
Hydrocephalus infantil; 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% k
arena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fos
sa posterior (Darsono, 2005:211).
Mengingat dampak dan gejala sisa yang ditimbulkan penyakit hydrocephalus yaitu b
erupa gangguan neurologis serta kecerdasan, mengalami retardasi mental sekitar 1
6% dari klien yang ditangani bahkan 7% penderita tidak dapat diselamatkan. Maka
perlu kiranya klien dengan Hydrocephalus mendapat tindak lanjut jangka panjang d
engan kelompok multidispliner.
Berkaitan dengan uraian diatas maka dalam makalah ini penulis menguraikan bebera
pa masalah Hydrocephalus secara teoritis serta usaha pencegahan dan penanganan t
erutama berkaitan dengan tindakan keperawatan dan menyangkut satu masalah yang p
aling menonjol sehingga muncul satu diagnosa keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1. Defenisi.
Hydrocephalus berasal dari bahasa Latin yaitu "Hydro" yang berarti "air" dan "Ce
phalus" yang berarti "kepala".
Hydrocephalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cai
ran serebrospinal dengan tekanan intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat p
elebaran ventrikel (Hassan, 2002). Pelebaran ventrikel ini akibat ketidakseimban
gan antara produksi dan absorbsi cairan serebrospinal (Huttenlocher, 2002). Hydr
ocephalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat penyakit atau kerusakan otak.
Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta terjad
i pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun (Wiknjosastro, 2003).
2.2. Anatomi fisiologi.
LCS terdapat dalam suatu system yang terdiri dari spatium liquor cerebrospinalis
internum dan externum yang saling berhubungan. Hubungan antara keduanya melalui
dua apertura lateral dari ventrikel keempat (foramen Luscka) dan apetura medial
dari ventrikel keempat (foramen Magendie). Pada orang dewasa, volume cairan cer
ebrospinal total dalam seluruh rongga secara normal ± 150 ml; bagian internal (v
entricular) dari system menjadi kira-kira setengah jumlah ini. Antara 400-500 ml
cairan cerebrospinal diproduksi dan direabsorpsi setiap hari.
LCS memberikan dukungan mekanik pada otak dan bekerja seperti jaket pelindung da
ri air. Cairan ini mengontrol eksitabilitas otak dengan mengatur komposisi ion,
membawa keluar metabolit-metabolit (otak tidak mempunyai pumbuluh limfe), dan me
mberikan beberapa perlindungan terhadap perubahan-perubahan tekanan (volume veno
sus volume cairan cerebrospinal).

Tekanan rata-rata cairan cerebrospinal yang normal adalah 70-180 mm air; perubah
an yang berkala terjadi menyertai denyutan jantung dan pernapasan. Takanan menin
gkat bila terdapat peningkatan pada volume intracranial (misalnya, pada tumor),
volume darah (pada perdarahan), atau volume cairan cerebrospinal (pada hydroceph
alus) karena tengkorak dewasa merupakan suatu kotak yang kaku dari tulang yang t
idak dapat menyesuaikan diri terhadap penambahan volume tanpa kenaikan tekanan.
LCS dihasilkan oleh pleksus choroideus dan mengalir dari ventriculus lateralis k
e dalam ventriculus tertius, dan dari sini melalui aquaductus sylvii masuk ke ve
ntriculus quartus. Di sana cairan ini memasuki spatium liquor cerebrospinalis ex
ternum melalui foramen lateralis dan medialis dari ventriculus quartus. Cairan m
eninggalkan sistem ventricular melalui apertura garis tengah dan lateral dari ve
ntrikel keempat dan memasuki rongga subarachnoid. Dari sini cairan mungkin menga
lir di atas konveksitas otak ke dalam rongga subarachnoid spinal. Sejumlah kecil
direabsorpsi (melalui difusi) ke dalam pembuluh-pembuluh kecil di piamater atau
dinding ventricular, dan sisanya berjalan melalui jonjot arachnoid ke dalam ven
a (dari sinus atau vena-vena) di berbagai daerah kebanyakan di atas konveksitas
superior. Tekanan cairan cerebrospinal minimum harus ada untuk mempertahankan re
absorpsi. Karena itu, terdapat suatu sirkulasi cairan cerebrospinal yang terus m
enerus di dalam dan sekitar otak dengan produksi dan reabsorpsi dalam keadaan ya
ng seimbang.

Cerebrospinal atau CSS merupakan cairan yang membungkus otak & tulang belakang.
Fungsi CSS adalah :
a. Sebagai 'Shock Absorber' & melindungi otak.
b. Mengangkut zat makanan ke neuron SSP dan membuang produk sisa ke darah k
etika cairan direabsorpsi.
c. Mengalir antara tempurung kepala & tulang belakang guna mengkompensasi p
erubahan volume darah dalam otak.
d. Sebagai bantalan SSP (Valerie C. Scanlon, 2007).

2.3. Etiologi.
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSS)
pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan
tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi r
uangan CSS diatasnya (Allan H. Ropper, 2005). Pembentukan CSS yang terlalu banya
k dengan kecepatan absorbsi yang abnormal akan menyebabkan terjadinya hidrosefal
us, namun dalam klinik sangat jarang terjadi.
Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak ialah :
a. Kelainan bawaan (Congenital).
- Stenosis Aquaduktus Sylvii (penyempitan saluran pada otak tengah).
- Gangguan tumbuh kembang janin seperti : Spina bifida, kranium bifida ata
u encephalocele yaitu : hernia jaringan syaraf karena cacat tempurung kepala.
- Dandy-Walker Syndrom
- Kista araknoid (selaput otak) dan anomali pembuluh darah.
b. Infeksi.
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. Secara patologis terlihat peneb
alan jaringan piamater dan araknoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Pe
nyebab lain infeksi adalah toxoplasmosis.
c. Neoplasma.
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran C
SS. Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktu
s Sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, peny
umbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
d. Perdarahan.
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis lept
omeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akiba
t organisasi dari darah itu sendiri (Allan H. Ropper, 2005).
2.4. Jenis Hydrocephalus.
Dapat diklasifikasikan menurut :
a. Waktu pembentukan.
- Hydrocephalus Congenital, yaitu hydrocephalus yang dialami sejak dalam k
andungan dan berlanjut setelah dilahirkan.
- Hydrocephalus Akuisita, yaitu hydrocephalus yang terjadi setelah bayi di
lahirkan atau terjadi karena faktor lain setelah bayi dilahirkan (Harsono, 2006)
.
b. Proses terbentuknya hydrocephalus.
- Hydrocephalus Akut, yaitu hydrocephalus yang tejadi secara mendadak yang
diakibatkan oleh gangguan absorbsi CSS (Cairan Serebrospinal).
- Hydrocephalus Kronik, yaitu hydrocephalus yang terjadi setelah cairan CS
S mengalami obstruksi beberapa minggu (Anonim,2007).
c. Sirkulasi Cairan Serebrospinal.
- Communicating, yaitu kondisi hydrocephalus dimana CSS masih bisa keluar
dari ventrikel namun alirannya tersumbat setelah itu.
- Non Communicating, yaitu kondis hydrocephalus dimana sumbatan aliran CSS
yang terjadi disalah satu atau lebih jalur sempit yang menghubungkan ventrikel-
ventrikel otak (Anonim, 2003).

d. Proses penyakit.
- Acquired, yaitu hydrocephalus yang disebabkan oleh infeksi yang mengenai
otak dan jaringan sekitarnya termasuk selaput pembungkus otak (meninges).
- Ex-Vacuo, yaitu kerusakan otak yang disebabkan oleh stroke atau cedera t
raumatis yang mungkin menyebabkan penyempitan jaringan otak atau athrophy (Anoni
m, 2003).
Meskipun banyak ditemukan pada bayi dan anak, sebenarnya hydrocephalus juga bisa
terjadi pada dewasa. Hanya saja, pada bayi gejala klinisnya tampak lebih jelas,
sehingga lebih mudah dideteksi dan di diagnosis. Hal ini dikarenakan pada bayi
ubun-ubunnya masih terbuka, sehingga adanya penumpukan cairan otak dapat dikompe
nsasi dengan melebarnya tulang-tulang tengkorak. Terlihat pembesaran diameter ke
pala yang makin lama makin membesar seiring bertambahnya tumpukan CSS. Sedangkan
pada orang dewasa, tulang tengkorak tidak lagi mampu melebar. Akibatnya berapap
un banyaknya CSS yang tertumpuk, takkan mampu menambah besar diameter kepala (Re
nyta, S.Ked, 2007).
2.5. Manifestasi klinis.
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidaksei
mbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono, 2005).
Gejala-gejala yang menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi intrakranial. M
anifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan
, yaitu :
a. Awitan Hydrocephalus terjadi pada masa neonatus.
- Pembesaran kepala abnormal.
- Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm.
- Pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama k
ehidupan.
- Kranium terdistensi dalam semua arah terutama pada daerah frontal.
- Fontanella terbuka dan tegang.
- Sutura masih terbuka bebas.
- Tulang kepala menjadi sangat tipis.
- Vena di sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok.
(Peter Paul Rickham, 2003).
b. Awitan Hydrocephalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak.
- Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestas
i hipertensi intrakranial.
- Lokasi nyeri kepala tidak khas.
- Disertai keluhan penglihatan ganda (diplopia) dan jarang diikuti penurun
an visus.
Secara umum gejala yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus di b
awah usia dua tahun adalah pembesaran abnormal yang progresif dari ukuran kepala
. Makrokrania mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran lingkar kepala le
bih besar dari dua deviasi standar di atas ukuran normal.
Makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial lainnya yaitu
:
- Fontanel anterior yang sangat tegang.
- Sutura kranium tampak atau teraba melebar.
- Kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol.
- Fenomena ‘matahari tenggelam’ (sunset phenomenon).
Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besar dibandi
ngkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala, muntah, kejang, gangguan ke
sadaran, gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala ganggu
an batang otak akibat herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia respirasi). (Darso
no, 2005:213).

2.6. Patofisiologi.
CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus khoroidalis kembali ke dal
am peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan arakhnoid yang meliputi se
luruh susunan saraf pusat (SSP). Cairan likuor serebrospinalis terdapat dalam su
atu sistem, yakni sistem internal dan sistem eksternal.
Pada orang dewasa normal jumlah CSS 90-150 ml, anak umur 8-10 tahun 100-140 ml,
bayi 40-60 ml, neonatus 20-30 ml dan prematur kecil 10-20 ml. Cairan yang tertim
bun dalam ventrikel 500-1500 ml (Darsono, 2005). Aliran CSS normal ialah dari ve
ntrikel lateralis melalui foramen monroe ke ventrikel III, dari tempat ini melal
ui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Lus
chka dan Magendie ke dalam ruang subarakhnoid melalui sisterna magna. Penutupan
sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorbsi CSS oleh sistem kapiler
. (DeVito EE et al, 2007).
Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. Gangguan alira
n likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus hidrosefalus. Peningkatan resisten
si yang disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara propo
rsional dalam upaya mempertahankan resorbsi yang seimbang.
Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu peningkatan teka
nan vena kortikal sehingga menyebabkan volume vaskuler intrakranial bertambah da
n peningkatan tekanan intrakranial sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertaha
nkan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang relatif tinggi. Konsekuensi
klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak. (Darsono, 2
005).
Web Of Caution

2.7. Pemeriksaan penunjang.


Upaya penegakan diagnosis suatu kelainan dalam hal ini hidrosefalus dapat dilaku
kan dengan melakukan skrining atau deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak.
Dalam mendiagnosa Hydrocephalus dapat juga dilakukan lewat evaluasi klinis seora
ng dokter spesialis syaraf dengan bantuan teknik foto kepala seperti USG (Ultras
onography), CT (Computed Tomography), MRI (Magnetic Resonance Imaging) serta tek
nik-teknik lain untuk mengukur besarnya tekanan dikepala (Anonim, 2003).
Pada penderita dewasa tanda klinis tidak sejelas pada bayi. Patokan yang digunak
an adalah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakranial. Untuk membantu penegakan di
agnosis, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang radiologis dan laboratoris. Baik
pada penderita bayi maupun dewasa, pemeriksaan radiologis yang menjadi gold stan
dard adalah CT SCAN. Sedangkan pemeriksaan laboratoris meliputi pemeriksaan dara
h dan CSS untuk mendeteksi adanya infeksi (Renyta, S.Ked, 2007).
2.8. Diagnosis banding.
Pembesaran kepala dapat terjadi pada hidrosefalus, makrosefali, tumor otak, abse
s otak, granuloma intrakranial, dan hematoma subdural perinatal, hidranensefali.
Hal-hal tersebut dijumpai terutama pada bayi dan anak-anak berumur kurang dari
6 tahun. (Darsono, 2005).
2.9. Prognosis.
Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa, gangguan neurolog
is serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70% akan meninggal ka
rena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi berulang, atau oleh karena aspirasi
pneumonia. Namun bila prosesnya berhenti (arrested hidrosefalus) sekitar 40% an
ak akan mencapai kecerdasan yang normal (Allan H. Ropper, 2005). Pada kelompok y
ang dioperasi, angka kematian adalah 7%. Setelah operasi sekitar 51% kasus menca
pai fungsi normal dan sekitar 16% mengalami retardasi mental ringan. Adalah pent
ing sekali anak hidrosefalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelomp
ok multidisipliner. (Darsono, 2005).
2.10. Penatalaksanaan.
Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a. Mengurangi produksi CSS.
b. Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi.
c. Pengeluaran likuor (CSS) kedalam organ ekstrakranial. (Darsono, 2005)
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :
a. Penanganan Sementara.
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus
melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningka
tkan resorbsinya.
b. Penanganan Alternatif (Selain Shunting).
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radi
kal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. Sa
at ini cara terbaik untuk melakukan perforasi dasar ventrikel III adalah dengan
teknik bedah endoskopik. (Peter Paul Rickham, 2003)
c. Operasi Pemasangan ‘Pintas’ (Shunting).
Operasi pintas bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavita
s drainase. Pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneu
m. Biasanya cairan serebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang pada
hidrosefalus komunikans ada yang didrain ke rongga subarakhnoid lumbar. Ada dua
hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu: pemeliharaan luka
kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan kelancaran dan fungsi alat sh
unt yang dipasang. Infeksi pada shunt meningatkan resiko akan kerusakan intelekt
ual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. (Allan H. Ropper, 2005).

Shunt for Hydrocephalus

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1. Pengkajian.
a. Identitas.
Meliputi : Nama, umur, alamat, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, tang
gal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medis, dan identitas penanggungjawab.
b. Alasan masuk rumah sakit.
Nyeri kepala, muntah, kejang, dapat disertai penurunan kesadaran,
c. Riwayat Kesehatan.
- Riwayat kesehatan sekarang.
Pembesaran kepala abnormal, kranium terdistensi ke segala arah terutama bagian f
rontal, nyeri kepala, muntah, kejang, penurunan kesadaran, peningkatan tekanan i
ntra kranial.
- Riwayat kesehatan dahulu.
Identifikasi adanya perdarahan dalam otak sebelum dan sesudah lahir, infeksi pad
a selaput meningen, kista arakhnoid, gangguan tumbuh kembang janin seperti : spi
na bifida, kranium bifida ataupun cacat tempurung kepala.
- Riwayat kesehatan keluarga.
Identifikasi penyakit Hydrocephalus pada anggota keluarga, atau penyakit infeksi
lain seperti toksoplasmosis.
d. Data tumbuh kembang.
• Riwayat kelahiran : cara lahir, usia kehamilan, berat dan panjang lahir,
serta keadaan lahir.
• Perkembangan kognitif :
- Fase sensori motor 0 – 2 tahun.
- Fase pre operasional 2 – 7 tahun.
- Fase operasional konkrit 7 – 11 tahun.
- Fase operasional formal 11 – 16 tahun.
• Perkembangan psikomotor.
• Perkembangan psikososial.
- Fase oral (0 – 18 bulan).
- Fase anal (18 bulan – 13 tahun).
• Perkembangan sosial emosional.
Sesuai dengan pertambahan usia : toddler, pra sekolah, sekolah hingga remaja.
e. Pemeriksaan fisik.
Tanda vital : dapat terjadi penurunan kecepatan denyut nadi (bradikardi), aritmi
a respirasi.
Tingkat kesadaran : dapat terjadi penurunan tingkat kesadaran, bahkan sampai kom
a.
Head to toe :
- Kepala : Pembesaran kepala abnormal, kranium terdistensi ke sem
ua arah terutama bagian frontal, tulang kepala menjadi sangat tipis, vena di sis
i samping kepala tampak melebar, Kulit kepala licin dan mengkilap.
- Mata : Bola mata terdorong kebawah, diplopia.
- Leher : Identifikasi pembesaran kelenjar tyroid, KGB
- Torak : Dapat terjadi aritmia respirasi.
- Abdomen : Identifikasi distensi, bising usus.
- Genitalia : Identifikasi kelengkapan dan hygiene.
- Ekstremitas : identifikasi adanya edema, cyanosis, turgor kulit.
f. Pemeriksaan penunjang.
• CT Scan : melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel.
• CT (Computed Tomography) : melihat letak dan ukuran ventrikel
• MRI (Magnetic Resonance Imaging) serta teknik-teknik lain untuk mengukur
besarnya tekanan dikepala.
• Analisa CSS (Cairan Serebrospinal) : untuk mendeteksi adanya infeksi.
• Kimia/ elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dal
am meningkatkan TIK.

3.2. Diagnosa Keperawatan.


a. Perubahan perfusi jaringan : serebral berhubungan dengan peningkatan vol
ume vascular intrakranial.
b. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan iritabilitas muatan neural dan k
emungkinan kejang.
c. Gangguan rasa nyaman: nyeri kepala berhubungan dengan hipertensi intrakr
anial.
d. Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyebab dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang pemajanan terhadap penyakit.
3.3. Intervensi keperawatan.
No Diagnosa keperawatan Tujuan/ kriteria hasil Rencana tindakan
Rasional
1.
Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan volum
e vaskular intrakranial. Tujuan :
Mempertahankan tingkat kesadaran, perbaikan kognisi dan fungsi motorik.
Kriteria :
- Menunjukkan tanda vital stabil.
- Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.
1. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyebab penuruna
n perfusi jaringan dan potensial peningkatan tekanan intrakranial.
2. Catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai norma
l.
3. Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vit
al.
4. Kaji adanya regiditas nukal, gemetar, kegelisahan yang meningkat, peka r
angsang dan adanya serangan kejang.
5. Pantau frekuensi/ irama jantung.
6. Pantau pernafasan: pola dan irama.
7. Berikan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman, seperti lingkungan yang t
enang, suara yang halus dan sentuhan yang lembut. Penurunan tanda/ gejala
neurologis mungkin menunjukkan bahwa klien perlu dipindahkan ke perawatan intens
if untuk pemantauan TIK.
Bermanfaat dalam menentukan lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
Perubahan TIK mungkin potensi herniasi batang otak
Indikasi adanya iritasi meningeal dalam periode akut.

Mencerminkan trauma/ tekanan batang otak


Indikasi perlunya intubasi disertai pemasangan ventilator mekanik
Meningkatkan istirahat dan menurunkan stimulasi sensori yang berlebihan.