Anda di halaman 1dari 7

Kata Pengantar

Puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT, karena berkat
rahmat dan hidayahnyalah saya dapat menyelesaikan hasil makalah ini dengan sebaik
mungkin yang berguna bagi para pembaca dalam proses belajar mengajar bahasa.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Inayah Hanum,
M.Pd. selaku dosen Fonologi yang telah membimbing penulis sehingga hasil makalah
ini dapat selesai dengan baik.
Di dalam makalah ini disajikan dengan pola bahasa yang sistematis dan
sederhana sehingga mudah dipahami oleh para pembaca. Pada setiap halaman
diuraikan materi dengan jelas.
Saya akan berusaha meningkatkan makalah ini dari segi kedalaman materinya.
Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca
sebagai bahan pertimbangan untuk meyempurnakan makalah ini. Saya berharap
semoga makalah ini bermanfaat dalam rangka mensukseskan program pendidikan
nasional terutama bagi calon guru.

Medan, Mei 2009

Penulis
Daftar Isi

Kata pengantar ......................................................................................................... i


Daftar Isi .................................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN

Menurut Hanum (2009: 115), “Fonem adalah kumpulan bunyi yang terdiri dari
bunyi lazim dipakai beserta dengan bunyi-bunyi lain yang menggantikan tempat yang
lazim itu pada kelompok bunyi yang lain.” Oleh karena itu fonem tidak sama dengan
bunyi bahasa yang telah tertentu formasi alat-alat ucapnya dan kualitasnya.
Fonem pada suatu bahasa tidaklah sama dengan bahasa yang lain. Ada
beberapa bahasa yang memiliki fonem yang berbeda dengan bahasa Indonesia,
contohnya untuk menentukan suatu fonem pada suatu bahasa dapat dilakukan melalui
analisis dengan beberapa prinsip yaitu:

A. Minimal Pair (Pasangan Minimal)


Apabila pada suatu kata pada lingkungan yang sama terdapat fonem yang
berbeda atau bertentangan dan keduanya membawa perbedaan arti, maka keduanya
dianggap fonem yang berbeda.
Contoh: /makam/ dan /makan/ : /m/ ≠ /n/, maka /m/ dan /n/ adalah dua fonem yang
berbeda

B. Zero Oposisi
Zero Oposisi adalah cara penentuan apakah sebuah bunyi merupakan fonem
atau tidak. Caranya adalah apabila oposisi bunyi yang pertama dengan sesuatu yang
kosong dan dengan masuknya bunyi itu maka artinya berubah makna bunyi itu kita
anggap sebagi fonem. (Hanum, 2009: 120)
Contoh: /tari/ dan /tarik/ : /ø/ ≠ /k/ maka /k/ adalah suatu fonem

C. Irreplacebility
Irreplaceblity merupakan salah satu langkah menentukan fonem pada suatu
kata yang salah satu fonemnya tidak dapat diduduki oleh fonem lain.
Contoh: /sunyi/ : fonem /i/ tidak dapat diduduki oleh fonem lain, maka /i/ merupakan
suatu fonem.

Selain melalui ketiga prinsip di atas, fonem dapat pula diidentifikasikan atas
fonem Segmental dan fonem Supra Segmental. Fonem segmental adalah fonem
yang dapat diidentifikasikan baik secara fisik maupun secara pendengaran. Sedangkan
fonem suprasegmental adalah fonem yang hanya dapat diidentifikasikan panjang-
pendek, tekanan dan jedanya.
BAB II
PEMBAHASAN

Dibawah ini adalah identifikasi fonem-fonem pada bahasa Alor:

1.
A. Prinsip Minimal Pair
Dengan prinsip ini akan dianalisis fonem-fonem sebagai berikut:
1. /pĕ/ dan /bĕ/ : /p/ ≠ /b/
2. /pa´ku/ dan /ma´ku/ : /p/ ≠ /m/
3. /fou/ dan /pau/ : /f/ ≠ /p/
4. /ke´la/ dan /pe´la/ : /k/ ≠ /p/
5. /a´ta/ dan /a´pa/ : /t/ ≠ /p/
6. /bala´sa/ dan /mala´sa/ : /b/ ≠ /m/
7. /tamã/ dan /kamã/ : /t/ ≠ /k/
8. /fu´lu/ dan /fu´lũ/ : /u/ ≠ /ũ/
9. /pi´to/ dan /pi´tu/ : /o/ ≠ /u/
10. /no/ dan /mo/ : /n/ ≠ /m/
11. /to´la/ dan /do´la/ : /t/ ≠ /d/
12. /ra´ja/ dan /la´ja/ : /r/ ≠ /l/
13. /kla´ki/ dan /kla´ke/ : /i/ ≠ /e/
14. /da´kã / dan /da´gã/ : /k/ ≠ /g/
15. /kamã´/ dan /hamã´/ : /k/ ≠ /h/
16. /halã´/ dan /hamã´/ : /l/ ≠ /m/
17. /ba´ta/ dan /ba´sa/ : /t/ ≠ /s/

Dari analisis diatas didapatlah fonem-fonem segmental:


/p,b,m,f,t,k,u,o,n,d,r,l,i,e,g,h,s,j/

Fonem-fonem supra segmental dalam bahasa Alor adalah sebagai berikut:


1. /fu´lu/ dan /fu´lũ/ : /u/ ≠ /ũ/
2. /uli´/ dan /ulĩ´/ : /i´/ ≠ / ĩ´/
3. /nonĕ´/ dan /none´/ : / ĕ´/ ≠ /e´/
4. /nŏ/ dan /no/ : /ŏ/ ≠ /o/
5. /halã´/ dan /hala´/ : /ã´/ ≠ /a´/

Fonem-fonemnya : /u,ũ,i´,ǐ, ĕ,e,ǒ,o,ã´,a´/


BAB III
KESIMPULAN

Dari analisis yang dilakukan terhadap bahasa Alor dapat ditarik beberapa kesimpulan:
1. Bahasa Alor memiliki fonem-fonem segmental yaitu :
/p,b,m,f,t,k,u,o,n,d,r,l,i,e,g,h,s,j/
2. Bahasa Alor memiliki fonem-fonem supra segmental yaitu : /u,ũ,i´,ǐ, ĕ,e,ǒ,o,ã´,a´/
3. Fonem-fonem tersebut dapat ditemukan dengan menggunakan prinsip minimal pair.
Daftar Bacaaan

Hanum, Inayah. 2009. Diktat: Fonologi. Medan: Kalangan Sendiri, Universitas


Negeri Medan.