Anda di halaman 1dari 11

Menanam sopan santun pada anak

Hak Cipta Belajar Versus Bermain –


PsikologiZone.com

E-book ini dipublikasikan secara resmi melalui sistem penjualan dan


sistem reseller psikologizone.com. Semua teks dan grafis yang ada di
dalamnya merupakan hak cipta psikologizone.com referensi ummi
magazine.

Tidak satupun dari publikasi ini boleh digandakan, disebarkan, atau


direproduksi dengan cara apapun juga, termasuk mengcopi dan
mencetaknya tanpa ijin tertulis dari penulis.

Menanam Sopan Santun Pada Anak- psikologizone.com ©


2009
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

PERHATIAN: Bila anda menemukan terdapat oknum/situs tertentu


yang menawarkan, menjual, atau mereproduksi produk ini tanpa
melalui cara yang kami anjurkan, harap kesediaan anda beritahu
kami. Kami akan berikan imbalan menarik atas laporan Anda. Lapor
melalui email ke : mr_lim@psikologizone.com

www.psikologizone.com 2
Menanam sopan santun pada anak

Sopan santun

Itu kebiasaan meski ada juga yang


sekedar polesan

“Halo,…Ibu nggak ada. Nggak tau pergi kemana.” Klik. Dan telepon

pun ditutup. Sepele tampaknya, tapi kerap membuat kita berkerut dahi,
lantas berkata sendiri, “Kok begitu sih anak ini, nggak ada sopan
santunya. Nggak pernah diajari orangtuanya, apa!”

Nah lho, anak tidak santun, orangtua langsung kena tuding? Ya,
umumnya memang begitu, sebab sopan santun memang bukan bawaan
lahir melainkan hasil polesan lingkungan terutama orangtua

Coba ingat-ingat, sebagai orangtua, pernahkah anda mengalami


kejadian yang membuat muka anda merah padam. Misalnya, suatu hari
kerabat atau sahabat anda dating ke rumah. Anda mengenalkan anak-
anak anda dengan mereka sambil berkata, “Ayo salim dulu, ini teman
ayah.” Yang terjadi kemudian, anak justru memasang muka melengos
dan pasang muka cemberut dan kemudian asyik kembali dengan
kegiatanya semula, entah baca buku, main mobil-mobilan atau nonton
tv.

Atau di lain waktu, anda dan anaklah yang menjadi tamu. Lalu, ketika
sepiring kue disodorkan, anak anda dengan santainya mengambil kue
tanpa mengucapkan terimakasih, malah kemudian dia asyik
membongkar tumpukan buku cerita milik tuan rumah tanpa permisi.

www.psikologizone.com 3
Menanam sopan santun pada anak

“Duh anakku, kok malu-maluin orangtua saja.” Begitu mungkin pikiran


anda seketika itu. Tapi, sebelum mengeluhkan perilaku anak, ada
baiknya bertanya pada diri sendiri, sudahkah anak diajari sopan santun
sedari kecil?

Sopan santun tuntutan universal

Sopan santun yang kerap disebut good manner, oleh para ahli
pendidikan, adalah adab atau etika yang kita pelihara ketika kita
bersama-sama orang lain. Berhubung dengan setiap interaksi dengan
masyarakat, di mana pun juga, selalu ada macam-macam aturan yang
tidak tertulis. Semisal bagaimana cara menyapa orang yang lebih tua,
memanggil anak buah, menelepon seseorang, meminta tolong, makan
di meja makan, dan lain-lain. Jelaslah bahwa sopan santun adalah
modal manusia bergaul.

Kesopanan bersikap dan berperilaku merupakan tuntutan universal,


diamana pun, kapan pun. Namun, segala aturan tidak tertulis berkenaan
dengan interaksi ditengah masyarakat yang akdang kala disebut etika
ini adapula yang bersifat amat khas dan ditentukan oleh nhilai-nilai
masyarakat setempat. Norma dan budaya setempatlah yang paling
berpengaruh mengisi standar etiket ini.

Jangan sekedar polesan

Mengingat sopan santun bukan merupakan bawaan sejak lahir


melainkan hasil lingkungan terutama orangtua, maka mendidik
kesopanan harus dilakukan sejak dini. Dengan kesopanan, anak akan
dihormati, mudah diterima lingkungannya dan memiliki tingkat
kepercayaan diri yang baik. Kelak ketika mereka masuk dalam
lingkungan kehidupan nyata, mereka mudah melakukan negoisasi
dengan orang lian dan diterima dengan baik di masyarakat.

Namun, selain membiasakan sopan santun, anak perlu di bimbing agar


terbangun kesadaran kenapa harus berperilaku sopan santun. Jangan
www.psikologizone.com 4
Menanam sopan santun pada anak
sampai sopan santun yang muncul bukan berangkat dari ketulusan
tetapi akibat dari paksaan.

Bahkan cukup sering juga kita bertemu kesantunan yang nampak


sekedar polesan, manakala orang-orang tertentu seperti di bagian
pelayanan pelanggan (customer servise officer) misalnya berkata,
“Selamat pagi, ada yang bisa kami Bantu?” namun mimic wajah mereka
yang diberikan tidak menunjukkan keinginan beramah-tamah apalagi
membantu. Tambahan pula bila mata CSO nampak terfokus pada hal
lain, majalah yang dibacanya misalnya, atau sms pada handphone
mereka.

Itu sebabnya benar-benar menjadi penting mengajarkan anak untuk


bersikap dan berperilaku sopan santun dengan kesadaran. Kesadaran
bahwa sopan santun adalah perilaku yang baik, bahwa berperilaku baik
akan membawa berjuta kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.
Sehingga kesopansantunan anak pun bisa muncul dari sebuah
ketulusan, keikhlasan dan menjadi kebiasaan.

Untuk hasil yang maksimal, lebih membekas, sebaiknya orangtua pada


upaya membangun karakter berakhlak ini, khususnya pada anak usia
dibawah 12 tahun, sehingga sopannya anak kelak bukan sekedar
polesan perilaku, tapi sesuatu yang sudah tertanam di dalam dirinya
dan keluar sebagai sebuah kepribadian.

Permisi, maaf, tolong dan terimakasih

Permisi, maaf, tolong dan terimakasih adalah empat kata dasar


kesopanan sehari-hari. Namun, jangan menuntut anak hanya
menggunakan empat kata tersebut, sementara orangtua sendiri jarang
mencontohkanya. Misalnya, saat meminta pertolongan mengambilkan
minum, jangan katakan, “Air putih ayah, yang ada dimeja, ambilin
dong.”

Ups, hati-hati. Seharusnya ayah menyatakan “tolong” kepada anak-


anak. Misalnya, “Hilmi, ayah minta tolong ya, gelas air putih ayah yang
www.psikologizone.com 5
Menanam sopan santun pada anak
ada di atas meja makan bawa kesini karena adek masih mau dibacakan
buku sama ayah.” Setelah anak membawakan gelas itu, jangan lupa
ucapkan terimakasih.

Semakin dini kebiasaan itu diajarkan kepada anak, hasilnya akan


semakin baik. Di usia balita pun anak sudah dapat diajarkan meminta
izin ketika ingin meminjam barang milik oranglain, meminta maaf ketika
melakukan kesalahan, mengucapkan terimakasih ketika menerima
pemberian atau bantuan dan meminta tolong jika ingin mendapat
bantuan.

Pada usia 1-3 SD, dimana anak mulai memiliki hetman dan
kecenderungan pada teman sebaya, maka sikap memahami orang
lainlah yang perilu dilatih. Misalnya, saat temannya sedang sedih,
ekspresi apa yang harus di ucapkan. Kalau ada temanya yang jatuh, apa
yang harus dilakukan. Karena kebanyakan anak, bisa jadi kurangnya
pembiasaan adab, bukanya menolong tetapi malah menertawakan.

Bertahap

Mengharapkan perilaku yang baik bisa tertanam dan menjadi


spontanitas jelas tak mungkin tanpa pembiasaan. Beberapa cara berikut
adalah cara untuk mengajarkan sopan santun pada anak.

1. Ajarkan anak keterampilan social dalam satu waktu. Jika


orangtua mengajarkan beberapa ketrampilan social dalam satu
waktu, hasilnya adalah nol besar. Bersabarlah, lakukan satu
persatu.
2. Berikan penghargaan atas kesuksesannya. Ketika anak
menunjukkan perilaku yang tepat, berikan penghargaan segera.
3. Toleransi yang proporsional. Sesekali anak pasti berbuat salah.
Semakin sabar orangtua, semakin bagus hasil yang diperolehnya.
Misalnya, anak lupa pesan orang yang menelepon ayah, jangan
dimarahi, ingatkan saja. “Lain kali, pesannya tolong dicatat disini
ya.”

www.psikologizone.com 6
Menanam sopan santun pada anak
4. Ingatkan mereka jika lupa. Jika bertemu nenek, kakek, om,
tante, lantas anak lupa tidak mencium tangan, segera ingatkan
saja, “Ayo nak, salim dulu sama nenek.”
5. Jadilah contoh yang baik. Pendekatan, “Lakukan apa yang saya
katakana jangan tiru apa yang saya lakukan” terbukti tidak
ampuh. Jika kita mengharapkan anak-anak berperilaku sopan
santun dan ketrampilan sosial yang baik, maka mulai dari
sekarang, mulailah dari diri kita sendiri. Hal ini akan kami
jelaskan pada bab berikutnya, bahwa perilaku orangtua akan
menjadi model utama bagi anak.

www.psikologizone.com 7
Menanam sopan santun pada anak

Perilaku orangtua, model utama bagi


anak

Meski sering tidak disadari orangtua sesungguhnya merupakan tokoh


panutan bagi anak. Celoteh, tindak-tanduk, bahkan mimik muka kita
pun bisa ditiru anak. Untuk perilaku positif tentu kita senang. Tapi untuk
yang buruk? Tentu tak satu pun orangtua ingin menularkan pada anak
mereka.

Ada cerita soal imitasi ucapan ibu pada anaknya. Ketika seorang ibu
memanggil anak sulungnya keluar kamar, tiba-tiba anaknya dengan
dengan fasih meneruskan ucapan ibunya saat mengingatkannya untuk
segera bersiap sekolah.

“Nanti terlambat, sebentar lagi jam setengah tujuh, ayah sudah mau
berangkat, jangan sampai ketinggalan, ayo minum susunya, habisakan
rotinya!” tiru sang anak sambil bersungut-sungut manuju meja makan.
“Udah hafal deh Bu! Bosen” sambung sang anak cuek say duduk di
ruang makan. Sang ibu tidak menyangka kalau ucapan yang tanpa
sadar diucapkan berulang-ulang setiap pagi bisa ditiru persis sekali
sampai nada tinggi rendahnya pula.

Kemudian ada cerita lainya, saat seorang ayah mendapat pujian dari
jamaah masjid di daerahnya, “Hebat ya anak-anaknya pak ikhsan,
semua pada rajin ke masjid, sama kayak bapaknya.” Mendengar ini,
bisa terjadi jika sang ayah memberikan contoh yang baik bagi anak-
anaknya. Dan untuk menjadi contoh yang baik ini, sang ayah bertahun-
tahun harus melawan sifat malasnya untuk pergi shalat subuh di masjid.

Orang tua adalah model utama

www.psikologizone.com 8
Menanam sopan santun pada anak
Dalam bersikap dan bertingkah laku setiap anak memang banyak
meniru pada lingkungannya, mulai dari orangtua, nenek-kakek, om-
tante, pengasuh, tetangga, sekolah, guru, teman, bahkan dari tv dan
vcd yang ia tonton.

Anak mudah sekali meniru apa yang dia lihat dan menjadikan
lingkungan sebagai model kehidupan. Mulai dari ucapan, misalnya kata-
kata yang mudah untuk diikuti. Atau, tingkah laku yang dilihat dari
tontonan film.

Orangtua pada umumnya menjadi model utama bagi anak. Karena ayah
dn ibu adalah dua orang yang berperan dalam pola asuh anak sejak dia
hadir ke dunia. Maka, jangan kaget bila cara saat orangtua marah
maupun saat menunjukkan kasih sayang, semua kan ditiru dan
dipelajari anak.

Bila orangtua terbiasa menggunakan kata-kata kasar atau caci maki


saat kesal dengan orang lain, anak juga akn mempelajarinya dan
berpikitr, “oh, kalau marah atau kesal sama orang, begitu ya caranya.”
Sehingga, ketika anak kesal pada temannya, maka dia akan begitu juga.

Sebaliknya jika orang tua mengajarkan untuk saling sayang, saling


menghormati, tamu dating dihormati, hormat pada orangtua dan kakak,
sayang pada adik, bahkan binatang pun disayang. Anak pun akan
menirunya. Pada semua orang anak akan menunjukkan rasa hormatnya
dan bersikap santun.

Samakan pola asuh

Idealnya, gaya pengasuhan antara orangtua dan orang-orang yang ada


disekitarnya sebaiknya sama. Sebab, pola asuh yang berbeda, apalagi
bila bertolak berlakang sering membingungkan anak dan menjadikan
anak bermasalah. Setidaknya ada dua langkah dalam upaya
menyamakan pola asuh terkait dengan memberikan model yang baik
untuk anak.

www.psikologizone.com 9
Menanam sopan santun pada anak
Pertama, samakan pola asuh yang akan diterapkan suami istri.
Sebaiknya, pebicaraan dan kesepakatan ini sudah dimulai sebelum anak
lahir, apalagi karena orangtua merupakan dua karakter berbeda yang
berasal dari pola asuh berbeda pula. Bagusnya, saat anak lahir,
orangtua sudah punya pesepsi yang sama. Kalaupun saat menjalaninya
kadang aja saja yang melenceng dari komitmen, yang penting masing-
masing bisa saling mengingatkan dan konsisten.

Kedua, bila tinggal dengan keluarga besar dan ada banyak orang disitu,
maka pola asuh yang akan diterapkan bagi anak juga harus disamakan.
Tentu saja, dalam penyampaiannya harus dilihat karakter masing-
masing individu, misalnya karakter mertua atau karakter orangtua.

Memang tidak mudah untuk menyamakan pola asuh ini kepada


orangtua dan mertua. Apalagi mereka cenderung merasa lebih tahu dan
berpengalaman dalam mendidik dan membesarkan anak. Karena itu,
cara penyampaian pola asuh ini harus diupayakan dengan cara yang
baik dan tidak menyinggung perasaan.

Penyamaan pola asuh ini termasuk penjadwalan waktu anak, disiplin


yang diterapkan, cara komunikasi dan lain-lain. Bila tidak disamakan,
akan muncul ketidakkonsistenan dalam berbagai hal. Misalnya, orangtua
punya aturan jam makan, mandi, belajar,. Tapi ketika orangtua pergi
bekerja, neneknya memanjakan anak, terserah anak kapan mau mandi
atau belajar. Tentu saja, pola seperti ini harus kita hindari.

Ketiga, factor kontrol juga sangat penting. Orangtua harus jeli melihat
pekembangan anak. Ada apa dengan anak saya, kenapa suka mukul
orang dan banting barang? Apakah dari pembantunya, film, teman,
tetangga, atau jangan-jangan dari ayah ibunya sendiri? Setelah
dievaluasi, lihat lagi, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi
perilaku itu. Jadi kalau terdapat hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi
dan secepatnya diatasi, maka kita harus konsisten. Jangan hari ini
konsisten, tapi hari besoknya tidak konsisten lagi, tentu itu tidak akan
efektif.

www.psikologizone.com 10
Menanam sopan santun pada anak
Ayo, jadi model yang baik

Banyak orangtua yang memiliki harapan tinggi terhadap anaknya,


namun perilaku yang diharapkanya belum dilakukannya. Misalnya,
berharap anaknya senang membaca, tetapi orangtua sendiri tidak suka
membaca. Menyuruh anaknya sholat berjamaah, padahal dirinya sendiri
sering meninggalkanya. Tentu cara ini tidak akan efektif.

Contoh yang baik, akan lebih melekat pada anak bila diiringi dengan
penjelasan. Apa manfaatnya senang membeca buku, apa
keuntungannya berjamaah dimasjid, kenapa tidak boleh menonton film
sinetron tertentu dan sebagainya. Dengan begitu, selain melihat dan
meniru, anak secara perlahan mulai mengerti tentang pentingnya
melakukan perbuatan-perbuatan itu. Sehingga lama-lama, yang
diharapkan adalah anak melakukan perilaku tersebut secara sadar dan
menyenanginya, bukan karena paksaan.

Sejak bayi hingga usia SD, peran kaluarga sangat besar, peran keluarga
masih sangat besar dalam hal pembentukan perilakunya. Biasanya, bila
sudah duduk dibangku smp ke atas, peran teman lebih dominant,
dimana anak akan lebih melihat peer groupnya, atau pergaulan diluar
rumah. Oleh karena itu, dasar pendidikan sebelumnyua harus kuat, agar
anak tidak mudah terpengaruh lingkungan di luar rumah. Bila orangtua
belum menjadi model yang baik dalam pembentukan perilaku anak,
maka tarikan peer group dan lingkungan di luar rumah bisa lebih
dominant. Ngeri kan? Makanya, ayo mulai sekarang kita memaksakan
diri menjadi model yang baik.

Sekian

PsikologiZone.com
Zona ilmu psikologi, artikel, jurnal dan terapan

www.psikologizone.com 11