Anda di halaman 1dari 3

Mengharap pada Bintang

Udara malam menerpa begitu aku keluar dari tenda. Dingin terasa di kulitku, seperti juga di hatiku. Namun dingin
yang ini lain. Dingin karena kehilangan, dingin karena bersedih. Karena di malam itu, di tempat ini, dia telah
direnggut dari hadapanku. Untuk selamanya.

***

"Malam-malam begini kamu masih belum tidur juga."

Kutengokkan kepalaku. Dulihat sesosok tubuh yang sangat familiar datang menghampiriku, dan duduk di
sampingku.

"Ah, Lea. Aku masih belum ngantuk. Temani aku dong..."

"Baiklah."

Kami duduk bersebelahan, terdiam. Lama kupandangi langit malam. Melihat kepada bintang-bintang yang banyak
bertaburan. Tiba-tiba, Lea berkomentar.

"Bintangnya banyak yang bisa terlihat, ya? Nggak seperti di Jakarta. Kalo di sini, Sagitarius bisa kelihatan jelas. Di
Jakarta, boro-boro. Bisa ketemu tiga bintang di busurnya aja udah bersyukur."

"Hahaha. Ya iyalah, masa kamu bandingin suasana langit Jakarta sama di sini? Jakarta tuh udah kebanyakan polusi,
sementara di sini masih cukup bersih."

Alea tersenyum. "Iya deh, aku tahu. Tapi memang beda ya, melihat bintang di Jakarta dan di sini, di Arcopodo."

"Ya, di sini tampak lebih indah. Nuansanya sungguh sesuai. Apalagi ditambah dengan segala cerita mengenai
Arcopodo. Benar-benar menyiratkan keindahan, dan juga misteri malam."

"Cerita?"

"Ya. Masa kamu belum pernah denger cerita-cerita tentang Arcopodo?"

"Belum. Ini kan pertama kalinya aku mendaki. Emang cerita yang kayak gimana?"

"Itu lho, cerita tentang orang-orang yang hilang di Arcopodo, dan tidak pernah ditemukan lagi. Mereka semua
hilang, lenyap, seakan memang tidak pernah ada di dunia ini."

"Ih, serem. Jangan sampai kejadian deh…"

"Ya, bener. Makanya, kamu sekarang tidur. Udah malam nih, hampir jam 11. Besok masih mau mendaki, kan?"

"Huu, kamu bisa aja. Ya udah, ayo tidur sekarang."

Aku mengantarnya kembali ke tendanya. Kemudian, aku menuju ke tendaku sendiri. Bimo, yang setenda denganku
sudah terlelap sejak tadi. Begitu juga dengan Siska, teman setenda Alea. Akhirnya, aku pun segera membaringkan
diriku. Aku terlelap.

***

Keesokan paginya, aku terbangun akibat keributan Bimo. Dia tampak seperti orang yang baru saja kemalingan.
Sampai-sampai tubuhku digoncang-goncang, dan namaku diteriakkan berkali-kali.

"Rian, Rian! Bangun, Rian! Aduh, gawat! RIAN!"

"Apa sih, Mo? Gue udah bangun dari tadi."

"Lo tuh parah banget sih?! Cewe lo ngilang, lo masih bisa tidur?!"

"Hah?" Aku bingung. Perasaan sih aku belum punya 'cewek'. Tapi aku ingat, mereka sering menyebut Alea sebagai
'cewek'-ku. Padahal kami hanya sahabat.

"Emang Alea ke mana, Mo?"

"Namanya juga ilang, ya gue gak tahu dia ke mana!"


Aku masih belum bisa mempercayainya. Cepat-cepat aku keluar tenda, menuju tenda Siska dan Alea. Dan di luar
tenda, kulihat Siska terduduk, menangis pilu.

"Apa yang terjadi? Di mana Alea?" aku bertanya gusar.

"Gue juga ga tau, Rian. Tadi pagi jam 3 dia bangunin gue, dia bilang mau keluar sebentar. Tapi sampai sekarang,
dia belum balik juga. Gue coba hubungin dia, pake handphone, pake walkie-talkie, tapi ga ada yang nyambung satu
pun. Cuma bunyi kresek-kresek," jawab Siska sambil menangis.

Tidak mungkin. Tiba-tiba saja, semua cerita mengenai Arcopodo mengalir ke benakku. Ketakutan merayapi hatiku,
perlahan. Jaring-jaring ketidakpercayaan membungkus hatiku. Perlahan tapi pasti, sulur berduri bernama
kehilangan merambat di hatiku, menancapkan durinya dan melukai hatiku. Dan tanpa sadar, kakiku melangkah
mundur. Perlahan. Langkah demi langkah kutempuh, dengan satu tujuan. Mencari Alea.

Tapi Bimo segera menyadarkanku. "RIAN! Mau ke mana lo? Jangan kabur!"

"Gue mau nyari Alea!"

"Jangan goblok lo! Gue udah nyari Alea dari tadi, dan gak ketemu. Lo mau kita tambah sedih karena lo ikutan
hilang?"

Aku berhenti. Kata-kata logis dari Bimo menyadarkanku untuk segera kembali ke realita. Aku mencoba
menyingkirkan segala emosi yang mengacaukan pikiranku. Kemudian aku kembali ke tenda, berkumpul kembali
bersama Bimo dan Siska.

***

Sudah berbulan-bulan polisi mencari Alea, namun ia masih belum bisa ditemukan. Dia lenyap begitu saja, seakan
ditelan bumi. Dan membawa kesedihan besar bagi kami semua, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Seisi kampus
pun gempar mendengar berita kehilangan di Arcopodo tersebut. Semua itu hanya membuatku membulatkan satu
tekad. Kembali ke Arcopodo, menyelamatkan dan menjemput Alea.

***

Tak kukatakan kepada ibuku bahwa aku akan kembali ke Arcopodo. Namun aku dapat melihat bahwa Beliau
mengetahui tujuan kepergianku. Dan Beliau pun mengiringi kepergianku dengan tangisan dan pelukan, seakan tak
rela kehilangan aku. Tapi niatku sudah jelas, tekadku sudah bulat. Tak ada seorang pun yang dapat menggagalkan
tekadku lagi.

Dan disinilah aku sekarang, terduduk sendiri menatap langit malam. Seperti malam terakhir aku bersamanya.
Malam yang berbeda, namun di tempat yang sama. Mengenang segala kebaikannya, mengenang dia yang sudah
tiada. Dan rasa sepi pun menusuk hatiku. Secercah pertanyaan muncul di hatiku. Di manakah engkau, sahabatku
tersayang? Sungguh, aku masih tak habis pikir mengapa dia tiba-tiba saja pergi meninggalkan kami. Tanpa jejak
pula! Tanpa meninggalkan sepotong petunjuk untuk menemukan tubuhnya.

Masih kutatap langit malam. Aku melihat konstelasi kesayangannya, Sagitarius, tepat di atas kepalaku. Ah, Alea.
Apakah kau masih bisa melihat Sagitarius menggantung di langit malam? Apakah kau masih bernaung di bawah
langit yang sama seperti kami semua? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiranku. Kebingungan dan
kerinduan bercampur menjadi satu, membungkus hatiku rapat-rapat.

Tiba-tiba, di tengah semua lamunanku itu, aku melihat sesuatu bergerak di langit. Bintang jatuh! Aku seketika
terduduk. Meski aku kurang mempercayai berbagai mitos mengenai bintang jatuh, namun kupejamkan mata juga.
Dan kugantungkan harapanku bersama bintang-bintang. Tak terasa air mataku mengalir. Begitu inginnya aku
harapan ini terkabul.

Entah kenapa, aku merasa tiba-tiba atmosfernya berubah. Udara malam tidak menjadi terlalu dingin. Aku membuka
mataku. Tidak ada yang berubah. Ah, mungkin hanya bayanganku saja. Aku kembali berbaring di rerumputan dan
memejamkan mataku.

“Rian, jangan tiduran di rumput dong. Entar kamu sakit lho.”

Aku terkejut. Tidak mungkin, pikirku. Suara itu, tidak salah lagi, adalah suara Alea. Mungkinkah?
Aku membuka mataku kembali. Dan kulihat wajahnya. Matanya yang bening seakan menembus mataku, melihat
langsung ke dalam hatiku. Dan secercah senyuman manis menghias wajahnya. Wajah yang sangat dekat di hatiku,
dan sangat kurindukan.

“Alea?”

“Ya ampun, Rian kenapa sih? Kayak habis ngeliat hantu aja.”

“Kok kamu bisa di sini?”

“Lho? Aku emang selalu di sini kok. Aku malah heran kenapa kamu gak bisa ngeliat aku. Tapi ya sudahlah, yang
sudah berlalu biarkanlah berlalu.”

“Alea? Kita udah nyari kamu ke mana-mana, tapi kami masih belum juga bisa nemuin kamu. Kenapa kamu tiba-tiba
hilang? Kamu gak tau betapa kami merindukanmu?”

“Maafkan aku, Rian. Aku juga masih belum mengetahui alasan-alasan di balik rencana-Nya. Dan sekarang, karena
kau sudah di sini, maukah kau tinggal selamanya, menemani diriku? Aku kesepian tanpa kehadiranmu.”

“Maaf, Alea. Aku ingin sekali berkumpul bersamamu kembali. Tapi aku masih ingin kembali. Aku tidak ingin
menambah kesedihan semua orang, Alea.”

“Hmm, aku mengerti. Kau memang baik, Rian, tak pernah memikirkan dirimu sendiri. Selalu memikirkan
kebahagiaan orang lain. Mungkin itulah yang membuatku sangat menyayangimu.”

“Terima kasih, Alea. Aku juga menyayangimu, kau tahu. Sangat berat rasanya hidup tanpa dirimu. Kau selalu
mencerahkan duniaku.”

“Haha. Jangan khawatir, kini aku selalu bersamamu. Aku akan selalu tinggal di hatimu, menemanimu di setiap
langkahmu. Ingatlah itu selalu,” kata Alea sambil menggenggam tanganku erat. Sungguh lembut tangannya. Tapi
tidak ada lagi kehangatan di tangan itu. Dan hal itu membuatku sedih.

“Rian, kamu sedih? Jangan sedih, aku ingin melihatmu tersenyum, meski ini untuk yang terakhir kalinya. Maukah
kau tersenyum untukku?”

Meski sulit, namun kucoba untuk tersenyum. Dia pun balas tersenyum manis dan menatapku dengan pandangan
bahagia. Dan tiba-tiba, hal yang aneh terjadi. Seluruh tubuhnya bersinar. Dan memudar.

“Ah, sudah saatnya aku pergi, Rian. Maafkan aku, Dia sudah memanggilku kembali.” Alea melepaskan
genggamannya.

“Tunggu, Alea! Kenapa begitu cepat? Aku masih ingin bersamamu.”

“Belum waktunya, Rian. Akan tiba saatnya, nanti, saat kau akan bertemu denganku di pintu gerbang rumah-Nya.
Tapi bukan saat ini.”

“Alea…”

“Selamat tinggal, Rian. Aku menyayangimu,” kata Alea, sambil memelukku. Dan bersamaan dengan itu semua,
tubuhnya menghilang, begitu juga dengan pendaran cahaya itu.

Udara malam yang dingin kembali membelai kulitku. Aku jatuh terduduk, bertumpu pada lututku. Kembali, aku
sendiri.

-tamat-