Anda di halaman 1dari 54

MATA KULIAH

: Hukum Bisnis

DOSEN

: Dahsan Hasan, S.H., M.H.

TUGAS INDIVIDU
KLAIM ASURANSI KORBAN AIRASIA QZ8501 MENURUT
UNDANG-UNDANG PENERBANGAN

Disusun oleh :
Mardiyanto (452 12 018)
KELAS : 3A D4

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI BISNIS D4


JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
TAHUN AJARAN 2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada saya sehingga dalam
penyelesaian tugas makalah ini menjadi lancar dan tanpa ada kesulitan
sedikitpun.
Kegiatan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan
oleh dosen pembimbing mata kuliah Hukum Bisnis. Kegiatan makalah ini
bertujuan agar

saya dan teman-teman dapat memahami penggunaan

surat berharga dengan baik dan benar.


Dengan adanya Makalah tentang " KLAIM ASURANSI KORBAN
AIRASIA QZ8501 MENURUT UNDANG-UNDANG PENERBANGAN" ini,
kita semua dapat mengetahui bagaimanakah klaim tentang asuransi
korban kecelakan dalam penerbangan. Demikian makalah ini kami susun,
kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.untuk
itu, segala kritik dan saran kami wadahi dalam penyempurnaan makalah
ini.
Harapan kami, semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca, khususnya bagi penyusun makalah ini.

Makassar, 27 Maret 2015


Penulis

Page | 1

DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................i
Daftar Isi......................................................................................................ii
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................1
1.1. Latar Belakang.................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah...........................................................................2
1.3. Tujuan .............................................................................................2
BAB II
PEMBAHASAN...........................................................................................3
2.1. Tinjauan Pustaka..............................................................................3
2.1.1. Pengertian Asuransi ..............................................................3
2.1.2. Sejarah Asuransi....................................................................4
2.1.3. Jenis-jenis Asuransi................................................................6
2.1.4. Fungsi Asuransi....................................................................11
2.1.5. Resiko Dalam Asuransi........................................................14
2.1.6. Dasar Hukum Kontrak / Perjanjian Asuransi........................15
2.1.7. Polis Asuransi.......................................................................17
2.1.8. Hak & Kewajiban Penanggung & Tertanggung....................21
2.1.9. Batal dan Sanksi Asuransi....................................................22
2.2. Analisis Masalah............................................................................27
2.2.1. Hal yang Dapat Membuat Klaim Asuransi AirAsia Ditolak...27
2.2.2. Analisis Masalah Kasus Klaim Asuransi AirAsia..................32
BAB III

Page | 2

PENUTUP..................................................................................................35
3.1. Kesimpulan....................................................................................35
3.2. Saran..............................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................36

Page | 3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Masalah


Hidup penuh dengan risiko yang terduga maupun tidak terduga,
oleh karena itulah kita perlu memahami tentang asuransi. Beberapa
kejadian alam yang terjadi pada tahun-tahun belakangan ini dan
memakan banyak korban, baik korban jiwa maupun harta, seperti
mengingatkan kita akan perlunya asuransi. Bagi setiap anggota
masyarakat

termasuk

ketidakberuntungan

dunia

usaha,

(misfortune)

resiko

seperti

untuk
ini

mengalami

selalu

ada

(Kamaluddin:2003). Dalam rangka mengatasi kerugian yang timbul,


manusia mengembangkan mekanisme yang saat ini kita kenal
sebagai asuransi.
Fungsi utama dari asuransi adalah sebagai mekanisme untuk
mengalihkan resiko (risk transfer mechanism), yaitu mengalihkan
resiko dari satu pihak (tertanggung) kepada pihak lain (penanggung).
Pengalihan resiko ini tidak berarti menghilangkan kemungkinan
misfortune, melainkan pihak penanggung menyediakan pengamanan
finansial (financial security) serta ketenangan (peace of mind) bagi
tertanggung. Sebagai imbalannya, tertanggung membayarkan premi
dalam jumlah yang sangat kecil bila dibandingkan dengan potensi
kerugian yang mungkin dideritanya (Morton:1999).
Pada dasarnya, polis asuransi adalah suatu kontrak yakni suatu
perjanjian yang sah antara penanggung (dalam hal ini perusahaan
Page | 1

asuransi) dengan tertanggung, dimana pihak penanggung bersedia


menanggung sejumlah kerugian yang mungkin timbul dimasa yang
akan datang dengan imbalan pembayaran (premi) tertentu dari
tertanggung.

1.2.

Rumusan Masalah
1. Hal-hal apa saja yang Dapat Membuat Klaim Asuransi AirAsia
Ditolak ?
2. Bagaimana analisis masalah kasus klaim Asuransi AirAsia
QZ8501?

1.3.
1.

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui hal hal apa saja yang Dapat Membuat Klaim
Asuransi AirAsia Ditolak
3. Untuk mengetahui analisis masalah kasus klaim Asuransi AirAsia
QZ8501

Page | 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Tinjauan Pustaka
2.1.1. Pengertian Asuransi
a) Menurut ketentuan pasal 246 KUHD, asuransi atau
pertanggungan

adalah

perjanjian

dengan

mana

penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan


menerima premi untuk memberikan penggantian kepadanya
karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan
yang diharapkan yang mungkin dideritanya akibat dari suatu
evenemen (peristiwa tidak pasti).
b) Abbas Salim (2007:1) : Asuransi ialah suatu kemauan untuk
menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit) yang sudah
pasti sebagai pengganti/substitusi kerugian-kerugian besar
yang belum terjadi
c) Asuransi merupakan suatu alat untuk mengurangi resiko
keuangan, dengan cara pengumpulan unit-unit exposure
dalam jumlah yang memadai, untuk membuat agar kerugian
individu dapat diperkirakan. Kemudian kerugian yang dapat
diramalkan itu dipikul merata oleh mereka yang tergabung.(
Prof. Mehr dan Cammack)

Page | 3

d) Prof. Mark R. Green : Asuransi adalah suatu lembaga


ekonomi yang bertujuan mengurangi risiko, dengan jalan
mengkombinasikan dalam suatu pengelolaan sejumlah
obyek yang cukup besar jumlahnya, sehingga kerugian
tersebut secara menyeluruh dapat diramalkan dalam batasbatas tertentu

e) C. Arthur William Jr dan Richard M. Heins : Asuransi adalah


suatu pengaman terhadap kerugian finansial yang dilakukan
oleh seorang penanggung dan asuransi adalah suatu
persetujuan dengan mana dua atau lebih orang atau badan
mengumpulkan

dana

untuk

menanggulangi

kerugian

finansial.

2.1.2. Sejarah Asuransi Di Indonesia


Bisnis

asuransi

masuk

ke

Indonesia

pada

waktu

penjajahan Belanda dan negara kita pada waktu itu disebut


Nederlands Indie. Keberadaan asuransi di negeri kita ini
sebagai akibat berhasilnya Bangsa Belanda dalam sektor
perkebunan dan perdagangan di negeri jajahannya.
Untuk menjamin kelangsungan usahanya, maka adanya
asuransi

mutlak

diperlukan.

Dengan

demikian

usaha

pera.suransian di Indonesia dapat dibagi dalam dua kurun


waktu, yakni zaman penjajahan sampai tahun 1942 dan zaman

Page | 4

sesudah Perang Dunia II atau zaman kemerdekaan. Pada


waktu pendudukan bala tentara Jepang selama kurang lebih
tiga

setengah

tahun,

hampir

tidak

mencatat

sejarah

perkembangan. Perusahaan-perusahaan asuransi yang ada di


Hindia Belanda pada zaman penjajahan itu adalah :
a. Perusahaan-perusahaan

yang

didirikan

oleh

orang

Belanda.
b. Perusahaan-perusahaan yang merupakan Kantor Cabang
dari Perusahaan Asuransi yang berkantor pusat di Belanda,
Inggris dan di negeri lainnya.
Dengan sistem monopoli yang dijalankan di Hindia
Belanda, perkembangan asuransi kerugian di Hindia Belanda
terbatas pada kegiatan dagang dan kepentingan bangsa
Belanda, Inggris, dan bangsa Eropa lainnya. Manfaat dan
peranan asuransi belum dikenal oleh masyarakat, lebih-lebih
oleh masyarakat pribumi.
Jenis asuransi yang telah diperkenalkan di Hindia Belanda
pada waktu itu masih sangat terbatas dan sebagian besar
terdiri dari asuransi kebakaran dan pengangkutan. Asuransi
kendaraan bermotor masih belum memegang peran, karena
jumlah kendaraan bermotor masih sangat sedikit dan hanya
dimiliki oleh Bangsa Belanda dan Bangsa Asing lainnya. Pada
zaman penjajahan tidak tercatat adanya perusahaan asuransi

Page | 5

kerugian satupun. Selama terjadinya Perang Dunia II kegiatan


perasuransian di Indonesia praktis terhenti, terutama karena
ditutupnya pemsahaan- perusahaan asuransi milik Belanda
dan Inggris.

2.1.3. Jenis-Jenis Asuransi


Berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang
Usaha Perasuransian, dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Usaha Asuransi
1. Asuransi kerugian (non life insurance) merupakan
usaha memberikan jasa dalam penanggulangan resiko
atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab
hukum kepada pihak ketiga yang timbul dari peristiwa
yang tidak pasti.
2. Asuransi jiwa (life insurance) merupakan suatu jasa
yang diberikan oleh perusahaan asuransi dalam
penanggungan resiko yang dikaitkan dengan jiwa atau
meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan.
3. Reasuransi (reinsurance) merupakan suatu system
penyebaran resiko dimana penanggung menyebarkan
seluruh atau sebagian dari pertanggungan yang
ditutupnya kepada penanggung yang lain.

Page | 6

b. Usaha penunjang
1. Pialang asuransi, merupakan usaha yang memberikan
jasa keperantaraan dalam penutupan asuransi dan
penanganan penyelesaiaan ganti kerugian asuransi
dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung.
2. Pialang reasuransi, memberikan jasa keperantaraan
dalam

penempatan

reasuransi

dan

penangganan

penyelesaian ganti rugi reasuransi dengan bertindak


untuk kepentingan perusahaan asuransi.
3. Penilai kerugian asuransi, memberikan jasa penilaian
terhadap

kerugian

pada

objek

asuransi

yang

dipertanggungkan.
4. Konsultan aktuaria, merupakan usaha memberikan jasa
konsultan aktuaria.
5. Agen asuransi, merupakan pihak yang memberikan
jasa keperantaraan dalam rangka pemasaran jasa
asuransi untuk dan atas nama penanggung.
Dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 Pasal 1 ayat
(1) digariskan ada dua jenis asuransi, yaitu :
1. Asuransi kerugian (loss Insurance) dapat diketahuui dan
rumusan :

Page | 7

Untuk memberikan penggantian kepada tertanggung


karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan
yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada
pihak ketiga yang mungkin akan diderita oleh tertanggung.
2. Asuransi jumlah (sum insurance) yang meliputi asuransi
jiwa dan asuransi sosial, dapat diketahui dari rumusan :
Untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan
atas

meninggal

atau

hidupnya

seseorang

yang

dipertanggungkan.
Perbedaan antara asuransi kerugian dan asuransi jumlah
diantaranya :
Asuransi Kerugian
Asuransi Jumlah
Mengganti kerugian tertentu Penanggung berjanji akan
yang diderita oleh tertang- membayar

sejumlah

uang

gung sebesar kerugian yang yang sudah ditentukan sebediderita


Berlaku

lumnya (tidak distandarkan


Pasal

246

pada kerugian tertentu)


KUH Pasal 305 KUH Dagang

Dagang
Rumusan dalam undang-undang di atas searah dengan
praktik Asuransi pada umunya yang dibagi menjadi dua bagian
besar, yaitu Asuransi Kerugian dan Asuransi Jiwa, yang lebih
jauh dijelaskan di bawah ini :
1. Asuransi Kerugian
Asuransi kerugian adalah suatu perjanjian yang oleh
Tertanggung dan Penanggung (Perusahaan Asuransi) di
mana tertanggung bersedia mewmbeyar sejumlah uang
Page | 8

(premi asuransi) kepada Penanggung untuk jangka waktu


tertentu, dan Penanggung bersedia memberikan ganti
kerugian kepada Tertanggung manakala barang atau obyek
yang

dipertanggungkan

mengalami

kerusakan

akibat

peristiwa yang tidak diduga-duga.


Inti asuransi kerugian adalah menutup asuransi untuk
suatu peristiwa karena kerusakan atau kemusnahan harta
benda yang dipertanggungkan karena sebab-sebab atau
kejadian

yang

dipertang-gungkan

(sebab-sebab

atau

bahaya-bahaya yang disebut dalam kontrak atau polis


asuransi). Dalam asuransi kerugian penanggung menerima
premi dari tertanggung dan apabila terjadi kerusakan atau
kemusnahan atau harta benda yang dipertangungkan,
maka ganti kerugian akan dibayarkan kepada tertanggung.
Adapun jenis asuransi kerugian adalah :
a. Asuransi Kebakaran
b. Asuransi Kehilangan dan Kerusakan
c. Asuransi Laut
d. Asuransi Pengangkutan
e. Asuransi Kredit
f. Asuransi Kendaraan Bermotor
g. Asuransi Kerangka Kapal
h. Contrution All Risk (CAR)
i. Property/Industrial All Risk
j. Asuransi Customs Bond
k. Asuransi Surety Bond
2. Asuransi Jiwa atau Asuransi Jumlah
Asuransi Jiwa diatur dalam Kitab Undang-undang
Hukum Dagang (KUHDagang) hanya

dijumpai tujuh (7)

Page | 9

pasal yaitu Pasal 302 sampai Pasal 308. Pasal 302


KUHDagang

sebagai

dasar

asuransi

jiwa,

yang

menyatakan bahwa :
Jika seseorang dapat guna keperluan seseorang yang
berkepentingan, dipertanggungkan, baik untuk selama
hidupnya jiwa itu, baik untuk suatu waktu yang ditetapkan
dalam perjanjian.
Adapun jenis-jenis pertanggungan jiwa/jumlah adalah :
a. Asuransi Kecelakaan
b. Asuransi Kesehatan
c. Asuransi Jiwa Kredit.
Produk asuransi jiwa dalam praktik dijumpai sebagai
berikut :
a.

Prodak Asuransi Jiwa


1) Asuransi Jiwa Murini (Whole Life Insurance)
2) Asuransi Jiwa Berjangka Panjang
3) Asuransi Jiwa Jangka Pendek (Term Insurance)

b.

Produk Asuransi Jiwa dalam Program Asuransi Sosial


1) Program Dana Pensiun da Tabungan Hari Tua bagi
Pegawai Negeri dan ABRI yang diselenggarakan
oleh PT TASPEN dan PT ASABRI.
2) Asuransi Wajib Sosial yang diatur dalam UU NO.
33 Tahun 1964/PP No 17 Tahun 1965 tentang Dana
Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang dan

Page | 10

UU No 34 Tahun 1964/PP No 18 1965 Dana


Kecelakaan Lalu Lintas.
3) JAMSOSTEK

2.1.4. Fungsi Asuransi


a. Sebagai pemindahan resiko
Sebagaimana diketahui bahwa kehidupan manusia
selalu dihadapkan dengan suatu risiko akibat adanya
peristiwa yang tidak diharapkan terjadi, berupa bencana
alam, kecelakaan dan akibat lainnya. Oleh sebab itu,
manusia berusaha untuk mengalihkan risiko itu dengan
membuat perjanjian pertanggungan.
Tertanggung kemudian mengadakan asuransi dengan
tujuan mengalihkan risiko yang mengancam harta kekayaan
atau jiwanya. Dengan membayar sejumlah premi kepada
perusahaan asuransi (penanggung), sejak saat itu risiko
beralih kepada penanggung. Dengan membayar premi yang
relatif

kecil,

seseorang

memindahkan

ketidakpastian

atau
atas

perusahaan
hidup

dan

dapat
harta

bendanya (risiko) ke perusahaan asuransi.


b. Kumpulan dana
Premi

yang

diterima

kemudian

dihimpun

oleh

perusahaan asuransi sebagai dana untuk membayar risiko


atau pembayaran ganti kerugian yang terjadi.

Page | 11

c. Pembayaran ganti kerugian / Pembagian resiko


Jika suatu ketika sungguh-sungguh terjadi peristiwa
yang

menimbulkan

kerugian (risiko berubah

menjadi

kerugian), maka kepada tertanggung akan dibayarkan ganti


kerugian

yang

besarnya

seimbang

dengan

jumlah

asuransinya. Dalam praktiknya kerugian yang timbul itu


dapat bersifat sebagian (partial loss), tidak semuanya
berupa kerugian total (total loss). Dengan demikian,
tertanggung

mengadakan

asuransi

bertujuan

untuk

memperoleh pembayaran ganti kerugian yang sunguhsungguh diderita.


Dalam pembayaran ganti kerugian oleh perusahaan
asuransi berlaku prinsip subrogasi (diatur dalam pasal 1400
KUH Perdata) dimana penggantian hak si berpiutang
(tertanggung) oleh seorang pihak ketiga (penanggung/pihak
asuransi) yang membayar kepada si berpiutang (nilai klaim
asuransi) terjadi baik karena persetujuan maupun karena
undang-undang.
Ditinjau dari beberapa sudut, maka asuransi mempunyai
tujuan dan teknik pemecahan yang bermacam-macam, antara
lain :
a. Dari segi Ekonomi, maka :

Page | 12

Tujuannya : mengurangi ketidakpastian dari hasil usaha


yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan dalam
rangka memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan.
Tekniknya : dengan cara mengalihkan risiko pada pihak lain
dan pihak lain mengombinasikan sejumlah risiko yang
cukup

besar, sehingga dapat diperkirakan dengan lebih

tepat besarnya kemungkinan terjadinya kerugian.


b. Dari segi Hukum, maka :
Tujuannya : memindahkan risiko yang dihadapi oleh suatu
objek atau suatu kegiatan bisnis kepada pihak lain.
Tekniknya : mellaui pembayaran premi oleh tertanggung
kepada penanggung dalam kontrak ganti rugi (polis
asuransi), maka risiko beralih kepada penanggung.
c. Dari segi Tata Niaga, maka :
Tujuannya : membagi riisko yang dihadapi kepada semua
peserta program asuransi.
Tekniknya : memindahkan risiko dari individu/perusahaan
ke lembaga keuangan yang bergerak dalam pengelelolaan
risiko (perusahaan asuransi), yang akan membagi risiko
kepada seluruh peserta asuransi yang ditanganinya.
d. Dari segi Kemasyarakatan, maka :
Tujuannya : menanggung kerugian secara bersama-sama
antar semua peserta program asuransi.

Page | 13

Tekniknya : semua anggota kelompok (kelompok anggota)


program

asuransi

memberikan

kontribusinya

(berupa

premi) untuk menyantuni kerugian yang dierita oleh


seorang/beberapa orang anggotanya.
e. Dari Segi Matematis, maka :
Tujuannya : meramalkan besarnya kemungkinan terjadinya
risiko dan hasil ramalan itu dipakai dasar untuk membagi
risiko

kepada

semua

peserta

(sekelompok

peserta)

program asuransi.

2.1.5. Resiko Dalam Asuransi


Adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kehendak
tertanggung yang menimbulkan kerugian bagi tertanggung,
resiko mana menjadi objek jaminan asuransi.

Page | 14

a. Resiko Murni (pure risk)


Kejadian yang masih tidak pasti bahwa suatu kerugian akan
timbul, dimana jika kejadian tersebut terjadi, maka timbullah
kerugian itu.
b. Resiko Spekulasi (speculative risk)
Kejadian yang terjadi menimbulkan 2 (dua) kemungkinan,
akan menguntungkan atau akan merugikan.
c. Resiko Khusus
Resiko yang terbit dari tindakan individu dengan dampak
hanya terhadap seorang tertentu saja.
d. Resiko Fundamental
Resiko yang bersumber dari masyarakat umum dan/atau
yang mempengaruhi masyarakat luas.
e. Resiko Statis
Resiko yang tidak berubah dari masa ke masa.
f. Resiko Dinamis

Page | 15

Resiko

yang

berubah-ubah

mengikuti

perkembangan

zaman.

2.1.6. Dasar Hukum Kontrak / Perjanjian Asuransi


Perjanjian asuransi adalah perjanjian untung untungan /
kans - Overenskom (Pasal 1774 KUH Perdata).
Suatu perjanjian untung-untungan adalah : suatu perbuatan yang hasilnya mengenai untung ruginya baik bagi
semua pihak maupun bagi salah satu pihak tergantung pada
suatu kejadian yang belum tentu.
a. Pasal 246 sampai dengan Pasal 308 Kitab Undang-undang
Hukum Dagang.
b. Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
c. Pasal 1774 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
d. Peraturan perundang-undangan di luar Kitab Undangundang Hukum Dagang dan Kitab Undang-undang Hukum
Perdata yaitu Undang-undang No. 2 Tahun 1992, tentang
Usaha Perasuransian.

2.1.7. Polis Asuransi

Page | 16

1. Fungsi Polis
Menurut ketentuan Pasal 225 KUHD perjanjian
asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta
yang disebut polis yang memuat kesepakatan, syaratsyarat khusus dan janji-janji khusus yang menjadi dasar
pemenuhan hak dan kewajiban para pihak (penanggung
dan tertanggung) dalam mencapai tujuan asuransi. Dengan
demikian, polis merupakan alat bukti tertulis tentang telah
terjadinya perjanjian asuransi antara tertanggung dan
penanggung. Akan tetapi pada Pasal 257 dan Pasal 258
KUH Dagang yang dapat disimpulkan bahwa polis dalam
perjanjian asuransi tidak merupakan syarat multak tetapi
hanya merupakan alat bukti.
Polis sebagai suatu akta yang formalitasnya diatur di
dalam undang-undang, mempunyai arti yang sangat
penting pada perjanjian asuransi, baik pada tahap awal,
selama perjanjian berlaku dan dalam masa pelaksanaan
perjanjian. Jadi polis tetap mempunyai arti yang sangat
penting di dalam perjanjian asuransi, meskipun bukan
merupakan syarat bagi sahnya perjanjian, karena polis
merupakan satu-satunya alat bukti bagi tertanggung
terhadap penanggung. Undang-undang menentukan bahwa
polis

dibuat

dan

ditandatangani

oleh

penanggung

Page | 17

sebagaimana diatur pada pasal 256 ayat 3 ; Polis tersebut


harus ditandatangani oleh tiap-tiap penanggung.
Meskipun kemudian sesuai dengan asas kebebasan
berkontrak yang disimpulkan dari pasal 1338 ayat (1) KUH
Perdata

diperkenankan

memperjanjikan

bahwa

saja

apabila

perjanjian

para

pihak

asueansi

baru

berlangsung setelah polis selesai atau setelah diserahkan


kepada tertanggung. Dalam hal yang demikian berarti polis
dijadikan sebagai syarat mutlak pada perjanjian asuransi
yang bersangkutan.
Mengingat fungsinya sebagai alat bukti tertulis maka
para pihak (khususnya tertanggung) wajib memerhatikan
kejelasan isi polis dimana sebaiknya tidak mengandung
kata-kata atau kalimat yang memungkinkan perbedaan
interpretasi sehingga dapat menimbulkan perselisihan
(dispute).
Upaya pembuktian bahwa telah ditutupnya suatu
perjanjian

asuransi/pertanggungan

dalam

hal

belum

dikeluarkannya polis oleh pihak penanggung, satu-satunya


dasar ialah pasal 258 ayat 1 dan 2. Pasal 258 :
Untuk membuktikan hal ditutupnya perjanjian tersebut,
diperlukan pembuktian dengan tulisan; namun demikian
bolehlah lain-lain alat pembuktian dipergunakan juga
manakala sudah ada suatu permulaan pembuktian dengan
tulisan. Namun demikian bolehlah ketetapan-ketetapan dan

Page | 18

syarat-syarat khusus, apabila tentang itu timbul suatu


perselisihan,

dalam

jangka

waktu

antara

penutupan

perjanjian dan penyerahan polisnya, dibuktikan dengan


segala alat bukti; tetapi dengan pengertian bahwa segala
hal yang dalam beberapa macam pertanggungan oleh
ketentuan-ketentuan

undang-undang,

atas

ancaman-

ancaman batal, diharuskan dibuktikan dengan tulisan.


Dalam periode setelah penyerahan polis, alat bukti
yang sangat penting ialah tulisan atau surat serta
permulaan pembuktian dengan surat. Dalam arti luas hal ini
yang

dimaksud

tentu

saja

polis

dengan

seluruh

persyaratannya. Hal ini berlaku mengenai diadakannya


perjanjian

pertanggungan

maupun

tentang

janji-janji

khusus. Keduanya hanya dapat dibuktikan dengan alat


bukti tertulis (perhatikan pasal 258 KUH Dagang).
Polis yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh
penanggung sebenarnya hanyalah mempunyai kekuatan
pembuktian yang sempurna untuk kepentingan tertanggung
atau orang-orang yang memperoleh hak daripadanya dan
hanya mempunyai kekuatan terhadap penanggungan yang
bersangkutan saja. Artinya penanggung dengan siapa
tertanggung

mengadakan

perjanjian

asuransi/

pertanggungan.
2. Isi Polis

Page | 19

Menurut ketentuan Pasal 256 KUHD, setiap polis


kecuali mengenai asuransi jiwa harus memuat syaratsyarat khusus berikut ini :
a. Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi
b. Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau pihak ketiga
c. Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan.
d. Jumlah yang diasuransikan (nilai pertanggungan)
e. Bahaya-bahaya/evenemen

yang

ditanggung

oleh

penanggung
f. Saat bahaya mulai berjalan dan berakhir yang menjadi
tanggungan penanggung.
g. Premi asuransi.
h. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh
penanggung

dan

segala

janji-janji

khusus

yang

diadakan antara para pihak, antara lain mencantumkan


BANKERS CLAUSE, jika terjadi peristiwa (evenemen)
yang

menimbulkan

kerugian

penanggung

dapat

berhadapan dengan siapa pemilik atau pemegang hak.

Page | 20

Untuk jenis asuransi tertentu, misalnya asuransi


kebakaran Pasal 287 KUHD menentukan bahwa dalam
polisnya harus pula menyebutkan :
a. Letak barang tetap serta batas-batasnya.
b. Pemakaiannya
c. Sifat dan pemakaian gedung-gedung yang berbatasan,
sepanjang berpengaruh terhadap objek pertanggungan.
d. Harga barang-barang yang dipertanggungkan.
e. Letak dan pembatasan gedung-gedung dan tempattempat

dimana

barang-barang

bergerak

yang

dipertanggungkan itu berada.

2.1.8. Hak dan Kewajiban Penanggung dan Tertanggung


a.

Hak Penanggung

Menerima premi

Menerima mededelingsplicht yaitu (keterangan tentang


keadaan benda yang sebenarnya dari benda yang
diasuransikan dari tertanggung).

Hak-hak

lain

sebagai

lawan

dari

kewajiban

Penanggung

Page | 21

b.

Kewajiban Penanggung

Memberikan polis

Memberikan ganti rugi terjadi peristiwa yang tidak boleh


bertentangan dengan asas indemtriteit (untuk asuransi
ganti rugi).

Memberikan pembayaran sejumlah uang berdasarkan


kata sepakat (untuk asuransi sejumlah uang)

Mengembalikan
sebagian

premi

atau

restorno

seluruh

(mengembalikan

premi

berhubungan

sebagian/seluruh resiko tak jadi dipertanggungkan).


Syarat premi restorno :
a) Itikad baik
b) Peristiwa belum terjadi
c) Perjanjian seluruh / sebagian tak sah.

c.

Kewajiban Tertanggung

Membayar premi

Memberikan mededelingsplidat

Page | 22


d.

Mencegah agar kerugian dapat diatasi.

Hak Tertanggung

Menerima polis

Mendapat ganti kerugian jika terjadi peristiwa yang


belum tentu terjadi

Hak-hak lain sebagai lawan dari kewajiban tertanggung.

2.1.9. Batal dan Sanksi Asuransi


Suatu pertanggungan hakikatnya adalah suatu perjanjian
maka ia dapat pula diancam dengan risiko batal atau dapat
dibatalkan apabila tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian
sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 PUH Perdata.
Selain itu KUHD mengatur tentang ancaman batal apabila
dalam perjanjian asuransi apabila :
1. Memuat keterangan yang keliru atau tidak benar atau bila
tertanggung

tidak

memberitahukan

hal-hal

yang

diketahuinya sehingga apabila hal itu disampaikan kepada


pebanggung akan berakibat tidak ditutupnya perjanjian
asuransi tersebut (Pasal 251 KUHD)
2. Memuat suatu kerugianyang sudah ada sebelum perjanjian
asuransi ditandatangani (Pasal 269 KUHD); memuat
Page | 23

ketentuan bahwa tertanggung dengan pemberitahuan


melalui pengadilan membebaskan si penanggung dari
segala kewajibannya yang akan datang (Pasal 272 KUHD)
3. Terdapat suatu penipuan atau kecurangan si tertanggung
(Pasal 282 KUHD)
4. Apabila

obyek

pertanggungan

menurut

peraturan

perundang-undangan tidak boleh diperdagangkan dan atas


sebuah kapal baik kapal Indonesia atau akal asing yang
digunakan
menurut

untuk
peraturan

mengangkut

obyek

pertanggungan

perundang-undangan

tidak

boeh

diperdagangkan (Pasal 599 KUHD).


Di dalam praktik dijumpai banyak sekali perusahaan yang
bergerak di bidang perasuransian. Ini menunjukkan bisnis
asuransi merupakan bisnis yang menguntungkan. Akan tetapi,
bisnis asuransi dapat juga merugikan masyarakat apabila
perusahaan asuransi dikelola secara tidak profesional.
Untuk itulah pemerintah telah menentukan sanksi bagi
perusahaan asuransi yang melakukan pelanggaran.
1. Sanksi Administratif
Setiap perusahaan perasuransian yang tidak memenuhi
ketentuan dalam Peraturan Pemerintah No, 73 tahun 1992
tertanggal 30 Oktober 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha

Page | 24

Perasuransian

(PP

No

73/1992)

serta

peraturan

pelaksanaannya yang berkenaan dengan :


a. Perizinan usaha
b. Kesehatan keuangan
c. Penyelenggaraan usaha
d. Penyampaian laporan
e. Pengumuman neraca dan perhitungan laba rugi atau
tentang pemeriksaan langsung.
Dikenakan sanksi peringatan, sanksi pembatasan
kegiatanusaha dan sanksi pencabutan izin usaha (Pasal 37
PP No 73/1992) Tanpa mengurangi ketentuan Pasal 37,
maka terdapat :
1) Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasurransi
yang tidak menyampaikan laporan keuangan tahunan
dan laporan operasional tahunan dan atau tidak
mengumumkan neraca dsan perhuitungan laba rugi,
sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan, dikenakan
denda administratif Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)
untuk setiap hari keterlambatan.
2) Perusahaan Pialang Asuransi atau Perusahaan Pialang
Reasuransi

yang

tidak

menyampaikan

laporan

Page | 25

operasional tahunan sesuai dengan jangka waktu yang


ditetapkan dikenakan denda administratif Rp. 5.00.000,(lima ratsu ribu rupiah) untuk setiuap hari keterlambatan
(Pasal 38 PP No 73/1992).
2. Sanksi Pidana
Sanksi pidana dikenakan pada kejahatan perasuransian yang diatur dalam Pasal 21 UU Asuransi, berikut ini;
a. Terhadap pelaku utama
Orang yang menjalankan atau menyuruh menjalankan
usaha perasuransian tanpa izi usaha, menggelapkan
premi

asuransi,

menggelapkan

dengan

cara

mengalihkan, menjaminkan, dan atau menggunakan


tanpa hak kekayaan Perasuransi Asuransi Kerugian atau
Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi,
diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas)

tahun

dan

denda

paling

banyak

Rp

2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).


b. Terhadap pelaku pembantu
Orang

yang

mengagunkan

menerima,
atau

menadah,

menjual

membeli,

kembali

atau

kekayaan

perusahaan hasil penggelapan dengan cara tersebut


yang diketahuinya atau patutu diketahuinya bahwa

Page | 26

barang-barang tersebut adalah kekayaan Perusahaan


Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau
Perusahaan

Reasuransi,

diancam

dengan

pidana

penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp


500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
c. Terhadap pemalsu dokumen
Orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama
melakukan

pemalsuan

atas

dokumen

Perusahaan

Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau


Perusahaan Reasuransi diancam dengan pidana penjara
paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp
250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).
Hal-hal lain yang perlu dikatahui dalam Asuransi :
a. Tarif Asuransi
Suatu harga satuan dari suatu kontrak Asuransi tertentu,
untuk obyek penanggungan

tertentu, terhadap risiko

tertentu, dan digunakan untuk masa depan tertentu pula.


Alat untuk mengukur risiko yang realistis (eality of risk),
yang berkisar dan tertanggung kepada mutunya, makin
besar kemungkinan rugi, makin besar pula tarifnya.
b. Obyek Pertanggungan

Page | 27

Yaitu semua obyek (properti dan manusia) yang dapat


dipertanggungkan aturannya karena kemungkinan akan
mengalami suatu risiko yang dapat menimbulkan kerugian
ditinjau dari segi keuangan. contoh :

Rumah tinggal, gedung, pabrik, tempat usaha,dan lainlain.

Mobil, kapal, pesawat, dan lain-lain.

Jiwa manusia, keehatan, dan lain-lain;

Proyek pembangunan dan pemasangan mesian.

Pengangkutan barang dan lain-lain.

c. SPPA (Surat Permintaan Penutupan Asuransi)


SPPA adalah formulir isian yang harus di isi oleh calon
tertanggung dalam rangka Penutupan Asuransi yang akan
digunakan oleh penanggung untuk mengevaluasi tingkat
risiko dari obyek pertanggungan tersebut. Adapun data
yang

di

isi

dalam

SPPA

adalah

seputar

obyek

pertanggungan, kondisi sekitar onyek pertanggungan, data


tertanggung,

data

tertanggung,

perincian

obyek

tertanggung, tingkat bahaya, dan lain-lain.

2.2.

Analisis Masalah

Page | 28

2.2.1. Hal-hal yang Dapat Membuat Klaim Asuransi AirAsia


Ditolak
Hal yang dapat membuat perusahaan asuransi bisa
menolak mencairkan klaim jika pesawat AirAsia QZ 8501
terbukti tidak layak terbang. Namun, jika hanya karena jadwal
terbang

yang

dilanggar

namun

pesawat

laik

terbang,

perusahaan asuransi tidak bisa menolak klaim.


Selain itu hal yang dapat menghambat pemberian ganti
rugi kepada pihak ahli waris yaitu ketika ahli waris tidak
menyerahkan

bukti

sebagai

waris sesuai

ahli

perundang-undangan

dokumen

yang

terkait

yang

membuktikan

dengan

ketentuan

berlaku,

tiket,

peraturan

bukti

bagasi

tercatatatau surat muatan udara, atau bukti lain yang


mendukung

dan

dapat

dipertanggungjawabkan.

Perlu

dilengkapi juga dengan surat keterangan dari pihak yang


berwenang mengeluarkan bukti telah terjadinya kerugian jiwa
dan raga dalam bentuk akta kematian.
Dibawah ini hal-hal yang dapat membuat klaim asuransi
ditiolak :
3.3. Polis sudah lapse atau tidak aktif

Page | 29

Ada beberapa faktor yang menurut saya dapat


menyebabkan suatu polis asuransi lapse atau tidak aktif.
Misalnya:
Telat bayar premi sampai maksimal 45 hari setelah jatuh
tempo. Jika ketika klaim polis sudah dinyatakan lapse,
maka sudah pasti klaim tidak akan dibayarkan oleh
perusahaan asuransi. Solusinya adalah bayarlah premi
tepat waktu, atau maksimal sebelum 30 hari dari batas
jatuh tempo.
Untuk asuransi berjenis unit link, suatu polis bisa
lapse salah satunya karena nilai tunai tidak cukup untuk
membayar biaya asuransi. Hal ini bisa terjadi karena nilai
tunai yang terbentuk sering diambil (dicairkan) atau kinerja
investasi sedang tidak baik. Solusinya adalah jangan
pernah mencairkan nilai tunai yang terbentuk kecuali dalam
keadaan sangat-sangat mendesak. Jika kinerja investasi
sedang tidak baik, maka tidak ada salahnya jika nasabah
melakukan top up di saat-saat tertentu.
3.4. Resiko yang terjadi tidak termasuk kedalam kriteria yang
diatur dalam polis
Didalam setiap polis asuransi ada banyak pasal-pasal
yang mengatur kriteria tentang resiko yang terjadi. Sebagai

Page | 30

contoh sederhana misalnya didalam polis disebutkan stroke


yang dicover pada adalah serangan serebrovaskuler yang
mengakibatkan gejala neurologis yang permanen, yang
berlangsung lebih dari 24 jam. Jika seseorang dinyatakan
terkena stroke oleh dokter namun serangan yang dimaksud
diatas tidak berlangsung lebih dari 24 jam, maka klaim akan
ditolak.

3.5. Resiko yang terjadi termasuk kedalam pasal pengecualian


Selain kriteria-kriteria yang mengatur kriteria tentang
resiko yang terjadi pada point 2 diatas, setiap polis
umumnya

ada pasal

mengenai

pengecualian. Pasal

pengecualian ini mengatur hal-hal yang dikecualikan, yang


jika terjadi maka tidak bisa diklaim ke perusahaan asuransi.
Misalnya pada jika nasabah meninggal dunia karena
tindakan bunuh diri, dihukum mati oleh pengadilan, atau
karena terlibat dalam suatu tindak kejahatan, maka klaim
tidak bisa dicairkan.
3.6. Polis masih dalam waiting period atau masa tunggu

Page | 31

Pada rider sakit kritis ada yang namanya waiting


period atau masa tunggu selama 90 hari. Jika seseorang
terkena sakit kritis dan memenuhi kriteria yang diatur dalam
polis namun masih dalam keadaan waiting period, maka
klaim tidak bisa dicairkan. Misalnya seorang nasabah
mengajukan rider sakit kritis pada tanggal 1 Januari. Lalu
pada tanggal 1 Maret nasabah tersebut terkena sakit kritis.
Karena jarak antara 1 Januari dengan 1 Maret kurang dari
90 hari, maka UP sakit kritisnya tidak bisa di klaim.
3.7. Pengajuan klaim melewati batas maksimum pengajuan
klaim
Setiap resiko biasanya mengatur batas maksimum
pengajuan klaim. Misalnya setiap berkas atau dokumen
syarat klaim harus di terima oleh kantor perusahaan
asuransi maksimal 60 hari setelah nasabah meninggal
dunia. Jika melewati batas tersebut tanpa ada alasan yang
masuk akal, maka pengajuan klaim bisa ditunda atau
bahkan ditolak.
3.8. Resiko terjadi karena penyakit yang disembunyikan ketika
pengajuan polis
Misalnya ketika pengisian SPAJ nasabah tidak
menyebutkan bahwa saat itu dia memiliki penyakit yang

Page | 32

termasuk kedalam kriteria sakit kritis. Lalu setelah melewati


masa waiting period, nasabah tersebut terserang penyakit
yang disembunyikan tadi. Ketika nasabah mengajukan
klaim,

biasanya

ada

pengecekan

lebih

lanjut

yang

dilakukan oleh pihak perusahaan asuransi. Jika ditemukan


ternyata penyakit tersebut sudah ada dari sebelum
pengisian SPAJ dan nasabah tersebut tidak jujur atau
menyembunyikan penyakit tersebut, maka klaim bisa
ditolak oleh perusahaan asuransi.
3.9. Syarat-syarat klaim tidak terpenuhi
Misalnya saja ketika klaim maslahat meninggal dunia
tidak ada polis asli, formulir klaim kematian, surat
keterangan meninggal dunia dari instansi pemerintah yang
berwenang, surat keterangan dari dokter mengenai sebab
kematian, dan dokumen-dokumen yang lainnya.

2.2.2. Analisis Masalah Kasus Klaim Asuransi AirAsia


Masalah asuransi sering saja terjadi kepada pihak penerima
asuransi atau ahli waris asuransi, apalagi asuransi yang harus
dibayarkan oleh pihak asuransi terlampau banyak, hal inilah
yang selalu di hindari oleh pihak asuransi agar tidak menderita
kerugian yang sangat besar dalam perusahaannya, termasuk
pihak AirAsia.

Page | 33

a. Posisi Kasus (sumber: http://www.ubaya.ac.id)


Tragedi kecelakaan jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501
beberapa waktu tentu menyisakan duka mendalam bagi
keluarga korban yang ditinggalkan karena tidak sedikit pula
korban yang berasal dari satu keluarga.
Dalam Peraturan Pelaksanaan Menteri Perhubungan
Nomor

77

Tahun

2011

Tentang

Tanggung

Jawab

Pengangkut Angkutan Udara yang menyatakan bahwa,


ganti rugi yang berhak diterima oleh keluarga korban
sebesar 1,25 milyar rupiah per penumpang yang meninggal
dunia.
Proses klaim asuransi yang perlu dilakukan oleh
keluarga korban kepada perusahaan penerbangan juga
sudah

diatur

dalam

Peraturan

Pelaksanaan

Menteri

Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung


Jawab Pengangkut Angkutan Udara, dimana pihak keluarga
korban perlu menyerahkan bukti dokumen terkait yang
membuktikan sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku, tiket, bukti
bagasi tercatatatau surat muatan udara, atau bukti lain yang
mendukung dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tertulis pada UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang
Penerbangan pasal 178 ayat 1, bila korban hilang dan
dalam jangka waktu 3 bulan sejak jadwal pesawat

Page | 34

seharusnya mendarat di tempat tujuan, korban dianggap


telah meninggal tanpa perlu putusan pengadilan.
b. Analisis Kasus
Dalam menganalisis kasus di atas, maka perlu
diketahui apa saja hak dari penerima asuransi AirAsia, Hak
penerima asuransi AirAsia yaitu :
Hak atas asuransi. Merujuk pada Konvensi Montreal
tentang

Unifikasi

Aturan-Aturan

Terkait

Penerbangan

Internasional, pihak maskapai wajib bertanggung jawab


secara hukum untuk memberikan pertanggungan kepada
penumpang. Besaran klaim, menurut Konvensi itu, berubah
dari waktu ke waktu, mengikuti laju inflasi global.
Yang kedua yaitu maskapai membayar biaya hidup
keluarga yang ditinggalkan, sebagai bentuk iktikad baik
perusahaan

terhadap

keluarga

penumpang

yang

meninggal. Untuk santunan tahap kedua ini, maskapai bisa


saja tidak memberikan santunannya jika mereka bisa
membuktikan tidak lalai atas insiden kecelakaan.
Pemerintah Indonesia juga bertanggung

jawab

memberikan santunan melalui PT Jasa Raharja.


Menurut

Peraturan

Pelaksanaan

Menteri

Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung


Jawab Pengangkut Angkutan Udara yang menyatakan
bahwa, ganti rugi yang berhak diterima oleh keluarga

Page | 35

korban sebesar 1,25 milyar rupiah per penumpang yang


meninggal dunia.
Meskipun dalam pesawat AirAsia terdapat beberapa
korban yang satu keluarga, pihak AirAsia harus tetap
memberikan ganti rugi per penumpang, bukannya per
keluarga seperti tertulis dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan.
Pada pasal 141 ayat 1 disebutkan bahwa, pengangkut
bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang
meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang
diakibatkan kejadian angkutan udara di dalam pesawat
dan/atau naik turun pesawat udara. Ada suatu hal yang
perlu digaris bawahi, yaitu bentuk ganti rugi ini berlaku
untuk per penumpang.

Page | 36

BAB III
PENUTUP
3.1.

KESIMPULAN
-

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian dengan mana


penanggung

mengikatkan

diri kepada

tertanggung

dengan

menerima premi untuk memberikan penggantian kepadanya


karena kerugian, kerusakan dan kehilangan keuntugan yang
diharapkan yang mungkin dideritanya akibat dari suatu evenemen
-

(peristiwa tidak pasti).


Pada analisis kasus yaitu pihak asuransi dari AirAsia dan pihak
dari AirAsia wajib memberikan ganti rugi kepada ahli waris sesuai
dengan undang-undang penerbangan dan ganti rugi yang berhak
diterima oleh keluarga korban sebesar 1,25 milyar rupiah per
penumpang yang meninggal dunia. Namun sebelum itu pihak
yang terkait (ahli waris) harus menyerahkan bukti dan document
dokumen terkait dengan korban AirAsia tersebut. Serta Perlu
dilengkapi juga dengan surat keterangan dari pihak yang
berwenang mengeluarkan bukti telah terjadinya kerugian jiwa dan
raga dalam bentuk akta kematian.

3.2.

SARAN
Permasalahan ini terjadi karena ketidak jelasan informasi yang
diberikan, dan bila ahli waris ingin mengklaim asuransi maka
sebelumnya

harus

menyerahkan

bukti

dokumen

terkait

yang

Page | 37

membuktikan sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA
Januar,
Iffah.
2014.
Prinsip
Umum
Asuransi.
[Onlie].
[http://www.kompasiana.com, diupload 04 Januari 2014, diakses 18
Maret 2015]
Vartry, Fardhyus. 2013.
Asuransi Menurut Ahli. [Online].
[http://www.pengertianahli.com/, diupload Oktober 2013, diakses 18
Maret 2015]
Sinaga, Angelina. 2014. Pengantar Hukum Asuransi. [Online].
[https://angelinasinaga.wordpress.com/, diupload 14 Mei 2014,
diakses 18 Maret 2015]
Adelia, Vina. 2013. Asuransi [Online] [http://vinadeli4.blogspot.com/,
diupload 21 Mei 2013, diakses 18 Maret 2015]
Mega,
Prawardani.
2011.
Hukum
Asuransi.
[Online].
[http://www.scribd.com/, diupload 25 Juni 2014, diakses 18 Maret
2015]
Nababan,
Ranto.
2014.
Hukum
Asuransi.
[Online].
[http://rantonababan.blogspot.com/, diupload 16 Oktober 2010,
diakses 18 Maret 2015]
Jusuf, Iqbal. 2011. Perbedaan Asuransi Jiwa dan Asuransi Kerugian.
[Online]. [https://sebitakaful.wordpress.com/, diupload 8 Mei 2013,
diakses 18 Maret 2015]

Page | 38

LAMPIRAN

Page | 39

Nasabah Gugat Asuransi ACA Rp120 Miliar


12 March 2014 20:23 WIB
http://www.infobanknews.com/2014/03/nasabah-gugat-asuransi-acarp120-miliar/
JakartaPT Asuransi Central Asia (ACA) digugat oleh salah satu
nasabahnya pada 17 Februari 2014, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat
dengan Register Nomor Perkara: 65/Pdt.G/2014/PN.Jkt.Bar. Namun,
pihak Asuransi ACA masih belum berkomentar terkait hal ini.
Gugatan yang dilakukan nasabah kepada Asuransi ACA terkuak ketika
Infobank, menerima email yang dikirim oleh Hendra Onggowijaya. Dalam
emailnya, Hendra menginformasikan bahwa Asuransi ACA digugat oleh
nasabah karena ACA tidak menjalankan kewajiban sebagaimana
mestinya.
Dalam
suatu
situs
yang
diinformasikan
Hendra,
yaitu
www.acadigugat.blogspot.com, terungkap bahwa pada Selasa, 4 Maret
2014, PENGGUGAT dan Kuasanya H. Onggo telah bertemu dengan
Kuasa Hukum TERGUGAT Ridwan Tarigan serta telah menjalani proses
mediasi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Proses Mediasi berikutnya
dijadwalkan pada 12 Maret 2014 jam 09.00 di PN Jakarta Barat.
Adapun pokok perkara dalam gugatan tersebut adalah klaim kerugian
nasabah yang belum dibayar sejak 2007, sehingga saat ini ACA digugat
oleh nasabahnya dengan total nilai gugatan sekitar Rp120 miliar.
Dalam situs tersebut, oleh pemiliknya dituliskan juga bahwa melalui blog
tersebut akan terus dilakukan postingan semua berkas perkara mulai dari
Surat Gugatan, Jawaban, Replik, Duplik, Pembuktian Surat, Pembuktian
Saksi-Saksi, Kesimpulan dan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat
terkait kasus tersebut.
Alasan itu dilakukan dimaksudkan agar masyarakat secara jelas dapat
mengikuti dan mengawal jalannya persidangan yang terhormat agar
tercapai suatu keadilan sekaligus menjadi pembelajaran bagi masyarakat
untuk cerdas dan hati-hati memilih perusahaan asuransi kerugian.
Namun, pihak Asuransi ACA ketika dimintai keterangannya terkait
persoalan ini oleh Infobank masih belum menunjukkan respon. Hingga
tulisan ini diberitakan, penulis masih menunggu respon oleh dari Asuransi
ACA. (*)

Page | 40

Klaim Asuransi Korban AirAsia QZ8501 Menurut


Undang-Undang Penerbangan
13 Februari 2015
http://www.ubaya.ac.id/2014/content/interview_detail/93/Klaim-AsuransiKorban-AirAsia-QZ8501-Menurut-Undang-Undang-Penerbangan.html
Tragedi kecelakaan jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 beberapa waktu
tentu menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban yang ditinggalkan
karena tidak sedikit pula korban yang berasal dari satu keluarga.
Kehilangan anggota keluarga untuk selama-lamanya karena kecelakaan
tragis bukanlah hal yang cepat berlalu begitu saja, terlebih bila harus
menyelesaikan urusan yang menyangkut keadaan korban, seperti
mengumpulkan data ante-mortem dan klaim asuransi. Bila data antemortem tidak memakan waktu yang relatif lama untuk mengumpulkan,
sedikit berbeda dengan urusan klaim asuransi untuk keluarga korban.
Menurut Ketua LPPM Ubaya, Dr. Yoan Nursari Simanjuntak, S.H.,
M.Hum., pihak pengangkut yang dalam hal ini adalah pihak AirAsia, patut
bertanggung jawab atas penumpang yang menjadi korban. Hal tersebut
tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2009
Tentang Penerbangan. Pada pasal 141 ayat 1 disebutkan bahwa,
pengangkut

bertanggung

jawab

atas

kerugian

penumpang

yang

meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang diakibatkan kejadian


angkutan udara di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara.
Ada suatu hal yang perlu digaris bawahi, yaitu bentuk ganti rugi ini
berlaku untuk per penumpang. Meskipun banyak korban yang berasal dari
satu keluarga, tetap ganti rugi dalam bentuk asuransi wajib diberikan
adalah per orang penumpang tersebut, bukan per keluarga, tegas Yoan.
Dari undang-undang tersebut, terdapat juga Peraturan Pelaksanaan
Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab

Page | 41

Pengangkut Angkutan Udara yang menyatakan bahwa, ganti rugi yang


berhak diterima oleh keluarga korban sebesar 1,25 milyar rupiah per
penumpang yang meninggal dunia. Seluruh ganti rugi yang berlandaskan
hukum dari undang-undang tersebut wajib diberikan oleh perusahaan
penerbangan yang bersangkutan melalui asuransi konsorsium yang
ditunjuk. Selain dari perusahaan penerbangan, korban meninggal juga
berhak mendapatkan ganti rugi dari pihak Jasa Raharja, karena
kecelakaan yang terjadi adalah kecelakaan transportasi. Untuk korban
meninggal dunia, nominal yang berhak diterima oleh keluarga korban
adalah sebesar 50 juta rupiah. Bila semasa hidup korban juga
mengasuransikan diri, keluarga korban juga berhak menerima asuransi
dari perusahaan asuransi tersebut.
Proses klaim asuransi yang perlu dilakukan oleh keluarga korban kepada
perusahaan

penerbangan

juga

sudah

diatur

dalam

Peraturan

Pelaksanaan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 Tentang


Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, dimana pihak keluarga
korban perlu menyerahkan bukti dokumen terkait yang membuktikan
sebagai ahli waris sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku, tiket, bukti bagasi tercatatatau surat muatan
udara,

atau

bukti

lain

yang

mendukung

dan

dapat

dipertanggungjawabkan. Perlu dilengkapi juga dengan surat keterangan


dari pihak yang berwenang mengeluarkan bukti telah terjadinya kerugian
jiwa dan raga dalam bentuk akta kematian.
Akta kematian bisa didapat bila korban dinyatakan secara resmi
meninggal dunia, sedangkan masih ada korban kecelakaan ini yang
belum ditemukan. Bagaimana menyatakan kondisi korban tersebut sudah
meninggal atau belum? Tertulis pada UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang
Penerbangan pasal 178 ayat 1, bila korban hilang dan dalam jangka
waktu 3 bulan sejak jadwal pesawat seharusnya mendarat di tempat

Page | 42

tujuan, korban dianggap telah meninggal tanpa perlu putusan pengadilan.


Namun, selama ini yang sudah berjalan, masih tetap diperlukan putusan
pengadilan. Padahal, menurut acuan dasarnya, itu tidak diperlukan. Bila
sudah begini, dilalui dulu masa 3 bulan itu. Setelah itu baru dapat
dikatakan bahwa korban yang tadinya hilang itu sudah meninggal dan
dapat diajukan hak ganti rugi, ujar Yoan. Bila pihak perusahaan
penerbangan mempersulit proses ini, sudah dapat dikatakan sebagai hal
yang melanggar hukum, menurut pasal 1365 KUHPerdata.
Jika penjelasan tentang ganti rugi yang tercantum dalam undang-undang
ditujukan untuk penumpang, bagaimana penjelasan tentang ganti rugi
untuk awak pesawat yang menjadi korban? Dasar acuan undang-undang
tentang penerbangan tersebut hanya berlaku untuk penumpang, bukan
awak pesawat. Maka dari itu, pihak perusahan penerbangan sudah
mempersiapkan asuransi untuk awak pesawat di perusahaan asuransi
yang sesuai. Nominal ganti rugi pun juga berbeda dengan nominal wajib
yang diberikan kepada penumpang yang menjadi korban.
Berada dalam musibah yang menghilangkan anggota keluarga, tentu tidak
mudah bagi keluarga korban. Kepanikan dan minimnya informasi
membuat keluarga korban perlu adanya pendampingan secara hukum.
Pada kejadian keluarga korban yang tidak mau menerima ganti rugi
karena jenazah anggota keluarganya belum ditemukan. Bisa saja mereka
menunggu sampai lebih dari 3 bulan dan belum ada kabar ditemukannya
korban namun masih belum mau menerima hak asuransi ganti rugi.
Padahal, sesuai undang-undang, korban sudah dinyatakan meninggal dan
pihak keluarga berhak menerima ganti rugi. Kurangnya informasi dapat
membingungkan pihak keluarga dalam keadaan seperti itu. Maka dari itu,
sebaiknya pendampingan secara hukum diberikan kepada pihak keluarga
korban, tutup Yoan. (tir/wu)

Page | 43

Klaim Asuransi ditolak, Ahli Waris Gugat Prudential


22 Januari 2014
http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/01/22/klaim-asuransi-ditolak-ahliwaris-gugat-prudential?
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA PT Prudential Life Assurance digugat
ahli waris nasabahnya, Edy Suryanta Ginting di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan.
Riki Rikardo Manik, kuasa hukum Edy, menyebutkan kliennya adalah
Penerima Manfaat (beneficiary) dari almarhumah Ria Priana. Menurutnya,
Ria yang merupakan istri Edy memegang hak polis asuransi jiwa
No.77406019, sesuai

Polis tertanggal 07 Juni 2011 yang diterbitkan

Prudential.
Dikatakan Riki, Ria berhak mendapatkan pertanggungan asuransi dasar
sejumlah Rp 196 juta dan uang pertanggungan kondisi kritis Rp 35 juta.
"Prudencial melakuan wanprestasi dengan menolak klaim asuransi yang
diajukan Edy," katanya kepada Tribunnews.com, Rabu (22/1/2014).
Riki mengatakan, sebelum mengajukan polis Ria sudah melengkapi
dokumen Surat Pengajuan Asuransi Jiwa yang dibutuhkan. Hingga
akhirnya Prudential menerbitkan Polis Asuransi Jiwa No.77406019 atas
nama Ria Priana.
Kemudian tanggal 25 Juli 2012 Ria meninggal dunia. Hal ini dibuktikan
dengan surat keterangan kematian yang dikeluarkan oleh rumah sakit
Columbia Asia Medan.
Sesuai dengan ketentuan khusus polis asuransi pasal 2.1.2, Prudential
wajib membayar pertanggungan atas resiko meninggalnya Ria. Pasalnya,
Ria meninggal karena sakit, bukan karena hal-hal yang dikecualikan
dalam perjanjian seperti bunuh diri atau percobaan pencederaan diri.
Pertanggungan ini seharusnya dibayar kepada Edy selaku penerima
manfaat.
Page | 44

Ternyata, Prudential menolak klaim yang diajukan Edy bulan Agustus


2012 silam, meski Edy sudah melampirkan dokumen yang dibutuhkan.
Penolakan ini disampaikan dalam surat tertanggal 31 Agustus 2012, 23
Oktober 2012, 29 November 2012, dan 13 Februari 2013.
Menurut Riki, penolakan ini aneh karena alasan yang disampaikan dalam
masing-masing surat selalu berbeda. Misalnya, dalam surat tanggal 31
Agustus 2012 Prudential beralasan polis Almarhum Ria Priana dalam
status lapsed/tidak aktif. Sedangkan pada tanggal 23 Oktober 2012,alasan
penolakan karena Ria diketahui pernah menderita depresi berat sebelum
polis diterbitkan. Kemudian dalam surat terakhir tanggal 13 Februari 2013,
Prudential menolak klaim dengan alasan penyebab kematian Ria adalah
penyakit keturunan.
"Prudential sengaja mencari-cari alasan. Alasan Ria menderita depresi
tidak dapat dibuktikan dengan data medis," katanya.
Sebelum megajukan gugatan, Riki sudah berulang kali memperingatkan
Prudential untuk memenuhi kewajibannya melalui sejumlah somasi.
Namun, pihak Prudential tak pernah menanggapinya.
Dalam gugatan ini Edy meminta ganti rugi materiil sebesar pertanggungan
asuransi dasar Rp 196 juta dan pertanggungan kondisi kritis Rp 35 juta
serta ganti rugi immateriil Rp 1 miliar.
Terkait gugatan ini, pihak Prudential melalui Assistant Vice President
Corporate Communication Prudential Indonesia Widyananto Sutanto
mengaku akan mengikuti proses hukum yang berlangsung.
"Atas rincian polis, kami tidak bisa berkomentar," katanya.

Page | 45

Direktur PT Priscila Anggun Sejahtera Sidoarjo,


Dilaporkan ke Polda Jatim
31 Oktober 2015
http://www.jejakkasus.info/2014/10/direktur-pt-priscila-anggunsejahtera.html
JEJAK

KASUS,

SIDOARJO

Diduga

melakukan

penipuan

dan

penggelapan terhadap dua rekanannya, Agus Irianto dan Drs Ec


Kristianto, Direktur PT Priscila Anggun Sejahtera, Christian J Muskitta
dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur, Senin (20/10/2014).
Christian J Muskitta yang beralamatkan di Graha Sampurna Indah E No 4
Kel Babatan Kecamatan Wiyung Surabaya, itu dilaporkan kedua
rekanannya

karena

dianggap

telah

mengingkari

perjanjian

yang

dituangkan dalam Surat Perjanjian Kontrak Kerja (SPKK) Nomor :


003/PAS/SPK/V/2014.
Laporan tersebut diterima Kompol Santoso Albasor, Kepala Siaga B SPKT
Polda Jatim dengan No: TBL/1253/X/2014/SPKT.
Dalam laporan tersebut disebutkan, Direktur PT Priscila Anggun
Sejahtera, Christian J Muskitta telah mendapatkan pekerjaan pengurukan
pasir batu (sirtu) pada lokasi lahan milik PT Surya Multi Cemerlang
(Perusahan Keramik Platinum) yang berlokasi di Desa Semambung,
Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Christian kemudian men-subkan pekerjaan tersebut kepada Agus Irianto dan Drs E Kristianto.
Namun, sejak awal pembayaran proyek tersebut sudah ada ketidak
beresan di lapangan. Agus Irianto dan Krisdianto mulai merasakan
"kebusukan" yang dilakukan pihak PT Priscila Anggun Sejahtera. Pada
saat kedua rekanan tersebut menanyakan kejelasan pembayaran

Page | 46

pengerjaan pengurugan sirtu tersebut, Cristian selalu mengelak dengan


dalih deposit.
Akibatnya, kedua rekananan itu merasa dirugikan soal pembayaran,
karena tidak sesuai dengan jumlah pekerjaan yang sudah dilaksanakan.
Padahal, Agus Irianto dan Krisdianto sudah memenuhi pekerjaan sesuai
dengan standar, spesifikasi, volume dan waktu yang ditentukan oleh PT
Priscila Anggun Sejahtera. Tetapi, PT Priscila Anggun Sejahtera tidak
menepati perjanjian bahkan mengabaikan masalah pembayarannya.
Ketika ditanya oleh keduanya soal kekurangan pembayaran, pihak PT
Priscila Anggun Sejahtera selalu berdalih kekurangan pembayaran
tersebut untuk deposit yang akan dibayarkan di kemudian hari. Tapi
kenyatannya,

begitu

pekerjaan

selesai,

Christian

mengklaim

jika

pembayaran sudah selesai. Hal ini sontak membuat Kristianto terkejut,


bahkan sambil menantang dan mempersilahkan melapor ke polisi.
Merasa mendapat ancaman dan tantangan, Kristianto yang juga pengurus
DPC KWRI (Komite Wartawan Reformasi Indonesia) dan sebuah LSM di
Mojokerto ini, kemudian melaporkan Christian ke Polda Jatim, didampingi
Sumidi, Ketua DPK- LP3-NKRI (Lembaga Pemantau Penyelenggara
Pemerintahan - NKRI) Mojokerto dan Suroso, Sekretaris DPC KWRI
Mojokerto dan Jejak Kasus.
Gara-gara kejadian ini, Agus Irianto dan Drs Ec Kristianto merasa nama
baiknya tercoreng, sehingga pemilik armada yang selama ini menjadi
mitra kerjanya, kini tidak percaya lagi.
Ditempat terpisah, saat ditemui wartawan Jejak Kasus di Polda Jatim,
Sumidi dan Suroso berjanji akan terus mengawal kasus tersebut sampai
tuntas. Bersambung. (tim smd/priasakti)

Page | 47

Perusahaan Abdullah Puteh Minta Pembatalan


Kontrak Pengelolaan Hutan Kayu
3 Juni 2014
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt538dea280e1dd/perusahaanabdullah-puteh-minta-pembatalan-kontrak-pengelolaan-hutan-kayu
PT Woyla Raya Abadi, perusahaan yang dipimpin oleh mantan Gubernur
Nangroe Aceh Darussalam (NAD) Abdullah Puteh menggugat pembatalan
akta perjanjian kerja sama hasil pemanfaatan hutan kayu dengan Herry
Laksmono di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Sidang sudah memasuki tahap akhir. Sejatinya, perkara ini akan diputus
hari ini Selasa (3/6), tetapi majelis menunda pembacaan putusan perkara
ini. Sidangnya ditunda satu minggu lagi, tutur kuasa hukum Herry
Laksmono, Djamaluddin kepada wartawan ketika ditemui di pengadilan,
Selasa (3/6).
Berdasarkan berkas gugatan, kasus ini berawal PT Woyla yang mendapat
izin dari Kementerian Kehutanan untuk melakukan pemanfaatan hasil
hutan kayu yang terletak di Dusun Mamfud Desa Barunang, Kecamatan
Kapuas Tengah, Kalimantan Tengah. PT Woyla meminta Herry Laksmono
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Mereka mengikat perjanjian ke
dalam akta tertanggal 27 September 2011.
Dalam perjanjian itu, PT Woyla memberikan hak kepada Herry untuk
melakukan penebangan dan pengelolaan serta melakukan penjualan atas
kayu pada lahan itu. Kayu yang dimaksud adalah berdiameter lebih dari
20 cm sedangkan kayu berdiameter kurang dari 20 cm tetap menjadi milik
PT Woyla. Kayu-kayu itu akan digunakan Woyla untuk pembangunan
Base Camp, perumahan, dan jembatan.

Page | 48

Terhadap perjanjian tersebut, dalam perjalanannya, PT Woyla menilai


Herry tidak melakukan apa yang diperjanjikan. Herry tidak melakukan
penebangan sesuai dengan blok yang sudah ditentukan, tetapi Herry
menebang secara acak dan melompat ke blok-blok lain. Herry juga tidak
melakukan sistem tebang habis, tetapi melakukan sistem tebang pilih.
Herry dinilai hanya menebang kayu yang berdiameter di atas 42 cm.
Akibatnya, Herry tidak memenuhi target volume kayu Rencana Kerja
Tahunan (RKT) 2012, yaitu sebanyak 85.312,43 m3. Herry hanya
mencapai 18.000 m3.
Tindakan tebang pilih tersebut telah merugikan PT Woyla. Volume
produksi hasil kayu perusahaan berkurang dan perusahaan juga tidak
dapat membangun lahan pembibitan tanaman pohon karet seluas 25
hektar yang telah direncanakan. Atas pelanggaran perjanjian ini, Abdullah
Puteh selaku CEO PT Woyla telah berulang kali mengingatkan Herry
untuk mematuhi perjanjian dan mengingatkan Herry untuk tidak
menebang pohon berdiameter di atas 30 cm agar pohon berdiameter 2029 cm tidak mengalami kerusakan.
Meskipun telah diingatkan Abdullah Puteh, Herry tidak mengindahkannya.
Alhasil, perusahaan memutuskan untuk membatalkan perjanjian yang
telah dibuat.
Herry selaku pelaksana kontrak proyek ini menampik seluruh dalil-dalil
yang ditudingkan PT Woyla. Justru, Herry menilai perusahaan yang tidak
profesional dalam melaksanakan kewajibannya. Tidak habisnya pohon
yang ditebang Herry lantaran perusahaan tidak melakukan sosialisasi
kepada masyarakat sekitar. Sebagai pelaksana lapangan, Herry berdalih
tidak dapat berbuat banyak untuk berhadapan dengan protes penduduk

Page | 49

lokal. Alhasil, Herry seringkali mengalami hambatan saat melakukan


penebangan.
Untuk permintaan Woyla yang ingin membatalkan kontrak kerja sama
tersebut, Herry justru meminta majelis untuk tetap menyatakan kontrak
tersebut mengikat para pihak. Herry dengan tegas menyatakan sama
sekali tidak lalai dalam melakukan perjanjian tersebut. Lagi-lagi, sebab
musababnya tidak tercapai target volume kayu lantaran kesalahan dari
perusahaan sendiri.
Atas kesalahan perusahaan, Herry mengklaim justru ia yang mengalami
kerugian baik material dan immaterial. Dalam berkas jawabannya, ia
menggugat balik PT Woyla dan menuntut ganti rugi sejumlah Rp103 miliar
ditambah biaya pengacara sejumlah Rp750 juta.

Page | 50