Anda di halaman 1dari 8

Contoh Proposal PTK FISIKA SMA:

PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI


BERBASIS DEMONSTRASI UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR FISIKA
KELAS XI IPA SMA
Jumat, 15 Juli 2011 0 comments

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Salah satu karakteristik fisika adalah mempunyai objek yang bersifat real (nyata). Sifat
real ini merupakan salah satu faktor pendukung yang dapat membantu siswa mempelajari fisika.
Tetapi kenyataannya, fakta dilapangan menunjukkan bahwa fisika termasuk mata pelajaran
tersulit di sekolah.
Kebanyakan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan fisika ke dalam
situasi kehidupan real. Hal lain yang menyebabkan sulitnya fisika bagi siswa adalah karena
pembelajaran fisika kurang bermakna. Siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan
kembali dan mengkonstruksi sendiri ide-ide fisika sehingga anak cepat lupa dan tidak dapat
mengaplikasikannya.
Salah satu asumsi dibalik kurang memuaskannya hasil belajar fisika adalah
strategi pembelajaran maupun metode yang digunakan oleh pendidik kurang efektif dalam proses
pembelajaran. SMA NEGERI 1 MARE sebagai salah satu tempat penyelenggaraan pendidikan
tentu memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Berdasarkan hasil observasi
peneliti selama tentang proses belajar mengajar yang berlangsung, diperoleh informasi bahwa
guru pada umumnya masih menggunakan metode ceramah. Pada pembelajaran seperti ini
suasana kelas cenderung teacher centered atau mekanisme dimana siswa secara pasif menerima
rumus atau kaidah tanpa memberi kontribusi ide dalam proses pembelajaran. Meskipun demikian
guru lebih suka menerapkan model tersebut sebab tidak memerlukan alat atau bahan praktek dan
cukup menjelaskan konsep-konsep yang ada pada buku.
Oleh karena itu, perlu adanya suatu inovasi dalam pembelajaran fisika yakni perubahan
dalam strategi pembelajaran termasuk metode pembelajaran.
Kecenderungan bahwa anak
akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan
alamiah, belajar akan lebih bermakna jika

anak mengalami apa yang dipelajarinya, maka salah satu metode yang efektif dalam proses
pembelajaran adalah pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi.
Berdasarkan uaraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian Penerapan Pendekatan
Inkuiri
Berbasis
Demonstrasi Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Fisika (PTK Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1MARE.
2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah Apakah pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi dapat meningkatkan
hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA1 SMA NEGERI 1 MARE ?
3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah Untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA1 SMA NEGERI 1 MARE
melalui pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi
4. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :


1. Bagi siswa, dapat menjadi motivator untuk terus belajar dan mendalami konsep fisika terkhusus
kepada konsep-konsep yang belum dikuasai.
2. Bagi guru, menjadi masukan bagi guru-guru fisika tentang keutamaan penerapan pendekatan
inkuiri berbasis demonstrsi untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang fisika.
3. Bagi peneliti, dapat menjadi media belajar dalam usaha melatih diri menyatakan dan menyusun
buah pikiran secara tertulis dan sistematis, sekaligus mengaplikasikan ilmu yang diperoleh.
B. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS
1. Tinjauan Pustaka
a. Hakekat Belajar

Belajar adalah suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru atau merubah
kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri
terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.
Hal yang sama diungkapkan oleh Slameto (2003), Winkel (1991), Hamalik (1983),
Gredler (1991), dan Udin ( 2001 : 148 ) Gagne (1977), bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu
proses atau usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku melalui
latihan, pendidikan, pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya.
b. Pendekatan Inkuiri

Inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara


maksimalseluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis,
logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya
diri. Pembelajaran inkuiri beriorientasi pada keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses

1.

2.

3.

4.

kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara maksimal dalam proses kegiatan belajar,
mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri
(Mahmuddin, 2009).
Pendekatan inkuiri adalah pendekatan mengajar di mana siswa merumuskan masalah,
mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan
sendiri ( Zuhdan, 2009 ).
Ada tiga ciri pembelajaran inkuiri, yaitu pertama, strategi Inkuiri menekankan pada
aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (siswa sebagai subjek
belajar). Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan,
sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan
strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis,
logis dan kritis ( Mahmuddin, 2009 ).
Dalam Mahmuddin ( 2009 ) Sanjaya mengemukakan bahwa penggunaan inkuiri harus
memperhatikan beberapa prinsip, yaitu berorientasi pada pengembangan intelektual
(pengembangan kemampuan berfikir), prinsip interaksi (interaksi antara siswa maupun interaksi
siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan), prinsip bertanya (guru sebagai
penanya), prinsip belajar untuk berfikir (learning how to think), prinsip keterbukaan
(menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis
dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan).
Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan
demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada
proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan
strategi inkuiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan
tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan.
Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa
maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran
sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai
pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan pendekatan inkuiri adalah guru
sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya
sudah merupakan sebagian dari proses berpikir.
Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses
berpikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak

kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara
maksimal.
5. Prinsip Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai
kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah
menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan
secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.
Dalam implementasinya, pembelajaran inkuiri memiliki sintaks sebagai berikut :
1. Menyajikan pertanyaan atau masalah, guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan
masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok.
2. Membuat hipotesis, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam
membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan
dengan permasalahan dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan.
3. Merancang percobaan, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkahlangkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa
mengurutkan langkah-langkah percobaan.
4. Mengumpulkan dan menganalisis data, guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok
untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul.
5. Membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.
Sedangkan menurut Sudjana (1989), ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan
pembelajaran inkuiri, yaitu :
1. Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa
2. Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis
3. Mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab hipotesis atau permasalahan
4. Manarik kesimpulan atau generalisasi
5. Mengaplikasikan kesimpulan
Zuhdan K. Prasetya (2006) mengemukakan keuntungan dari pendekatan inkuiri antara lain :
a. Titik berat kegiatan terletak pada siswa bukan pada guru.
b. Siswa berkesempatan untuk mengembangkan bakatnya sehingga timbul rasa percaya diri untuk
menyelesaikan masalah khususnya masalah yang berhubungan dengan pelajaran fisika.
c. Menghindari siswa terlalu banyak belajar melalui hafalan.
d. Memotivasi siswa untuk dapat belajar mandiri.
Untuk seluruh kegiatan siswa menurut Zuhdan K Prasetyo ( 2006 : 3.25 ) dapat dibagi atas 5
fase :
Fase 1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan tantangan untuk diteliti.
Fase 2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat khusus dari objek teliti dan
pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi

Fase 3 : Siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan
bereksperimen untuk menguji hipotesis , sehingga diperoleh hubungan sebab-akibat.
Fase 4 : Merumuskan penemuan inkuiri hingga diperoleh penjelasan, pernyataan, atau prinsip yang lebih
formal.
Fase 5 : Melakukan analisis terhadap proses inkuiri, strategi yang dilakukan oleh guru maupun siswa.
Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah mencari sebab-akibat.
Untuk tingkat kerumitan lebih tinggi, guru harus pandai-pandai memotivasi siswa untuk
bertanya dan menggunakan kemampuan intelektualnya. Karena itu , tugas guru pada tiap fase
adalah mengarahkan siswa menuju pada proses penyelidikan.
Dengan demikian, menurut Zuhdan K. Prasetyo ( 2006 : 3.26 ) ada 4 fungsi selamainkuiri :
Pertama, menuntun siswa dalam kegiatan mencari data.
Kedua, menyajikan pernyataan atau penjelasan yang lebih formal dari masalah yang dihadapi.
Proses ini berlangsung selama fase 4 dengan melibatkan diskusi antarasiswa dan guru.
Ketiga, pembentukan model-model dari fenomena alam melalui proses analogi.
Keempat, siswa dapat menggeneralisasi dari peristiwa lain.
c. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian materi pelajaran melalui peragaan atau
pertunjukkan kepada siswa mengenai suatu proses, situasi atau gejalah tertentu yang dipelajari,
baik pada objek yang sebenarnya ataupun melalui tiruannya. Metode demonstrasi sering disertai
dengan penjelasan lisan. Dalam pengajaran IPA metode demonstrasi ini tidak hanya
dipergunakan untuk memperlihatkan sesuatu. Tetapi lebih banyak digunakan untuk tujuan
mengembangkan suatu pegertian, memperlihatkan penggunaan suatu prinsip, menguji kebenaran
hukum yang diperoleh secra teoritis dan untuk memperkuat suatu pengertian ( Udin, 2001 :
217 ).
Metode demonstrasi dalam pembelajaran IPA adalah cara penyampaian informasi (materi
pelajaran) dengan memperlihatkan peristiwa-peristiwa atau fenomena fisika dengan
menggunakan alat tertentu. Misalanya demonstrasi tentang benda-benda yang dapat ditarik oleh
magnet, demonstrasi tentang bahan yang dapat menghantarkan arus listrik, demonstrasi tentang
interferensi gelombang dan sebagainya ( Natsir, 2004 : 102 ).
Pendidikan IPA bertujuan untuk meningkatkan kemahiran mengamati dan melaksanakan
aktivitas sains. Ini mengandung pegertian bahwa siswa harus dilibatkan secara total dalam proses
belajar-mengajar. Tetapi karena terbatasnya waktu sekolah dan terbatasnya kemampuan siswa,
maka tidak semua hal dapat dilakukan oleh siswa sendiri. Untuk itu metode demonstrasi, untuk
hal tertentu masih dianggap metode yang utama untuk pendidikan IPA. Demonstrasi tidak mutlak
harus dilakukan oleh guru. Bagaimanapun baiknya demonstrasi yang dilakukan oleh guru, akan
lebih baik lagi jika siswa dapat mengalami sendiri peristiwa yang sedang dipelajarinya. Untuk
demonstrasi suatu pokok bahasan yang tidak memerlukan suatu ketermpilan tinggi, sebaiknya
demonstrasi dilakukan oleh siswa. Sehingga keterlibatan aktivitas siswa dalam proses belajar-

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.

3.

1.
2.
3.
4.
5.

mengajar semakin meningkat. Dalam hal ini guru hanya bertindak sebagai pemandu. Pada
akhirnya dengan dipandu guru, siswa akan dapat menarik kesimpulan dari pengamatannya
( Udin, 2001 : 217 ).
Metode demonstrasi yang baik adalah bila demonstrasi tersebut tidak semata-mata
dilaksanakan oleh guru, tetapi juga melibatkan siswa baik secara individual maupun secara
kelompok. Selama demonstrasi guru dianjurkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sehingga
peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Agar mencapai sasaran yang diharapkan
maka tujuan demonstrasi harus jelas dapat diamati oleh keseluruhan siswa dengan baik. Biasanya
metode ini dilaksanakan karena terbatasnya alat sehingga pelaksanaan metode eksperimen tidak
dapat dilaksanakan atau kegiatan tersebut harus dilakukan dengan sangat berhati-hati. Umpama
alat takut pecah karena harganya mahal, rusak atau membahayakan bagi siswa ( Wayan Memes,
2000 : 38-39 ).
Penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran fisika sangat bermanfaat baik
ditinjau dari segi pendidikan maupun dari segi hakikat IPA. Menurut Natsir ( 2004 : 102-104 )
manfaat metode demonstrasi dari segi pendidikan adalah :
Demontrasi dapat menghidupka pembelajaran.
Demonstrasi dapat mengaitkan antara teori dengan peristiwa alam dalam lingkungan kita.
Apabila dilaksanakan dengan tepat demonstrasi dapat menimbulkan rasa ingin tahu siswa.
Demonstrasi dapat mendorong motivasi siswa.
Demonstrasi dan hasilnya seringkali lebih mudah teringat daripada bahasa dalam buku pegangan
atau penjelasan guru.
Manfaat demonstrasi dari segi hakikat IPA adalah :
Demonstrasi membiasakan siswa untuk selalu menguji teori IPA dengan melalui percobaan.
Demonstrasi membantu menberi pemahaman pada siswa konsep IPA berkembang dengan
perumusan teori, kemudian uji coba melalui eksperimen, lalu berdasarkan hasil percobaan teori
dapat diterima, diervisi atau ditolak.
Demonstrasi melatih kemampuan siswa untuk bernalar.
Langkah-langkah penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran tergantung dari
strategi/model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Salah satu langkah penggunaan metode
demonstrasi dalam kegiatan pembelajaran sains adalah :
Guru mengajukan masalah yang akan diselidiki dengan percobaan tanpa memberi tahu hasil
percobaan.
Guru memperkenalkan alat secara singkat.
Guru membahas beberapa hal yang berkaitan dengan prosedur pelaksanaan demonstrasi melalui
tanya jawab.
Melaksanakan demonstrasi/percobaan, sambil melakukan tanya jawab dengan siswa dan
meminta mereka melakukan pengamatan secara kelompok/individu.
Siswa mengamati dan diminta untuk merumuskan hasil pengamatan secara lisan ataupun tertulis.

6. Guru melakukan tanya jawab mengenai hasil percobaan, kesimpulan dan penjelasannya.
7. Setelah diskusi guru merumuskan penjelasan/kesimpulan percobaan secara lengkap di papan
tulis.
8. Guru member siswa pertanyaan dan latihan untuk melatih bahan yang didemonstrasikan.
Keunggulan metode demonstrasi antara lain :
1. Dengan demonstrasi pemikiran siswa dapat dibimbing oleh guru secara langsung.
2. Demonstrasi dapat dilakukan dalam pelajaran biasa dan tidak membutuhkan waktu diluar
sekolah.
3. Demonstrasi dapat diajarkan terpadu dengan teori.
4. Demonstrasi tidak membutuhkan ruangan yang khusus dan satu set peralatan sudah cukup.
Udin ( 2001 : 218 ) juga mengemukakan keunggulan metode demonstrasi :
1. Metode ini dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret.
2. Siswa akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang sedang dipelajarinya.
3. Proses pengajaran akan jauh lebih menarik.
4. Siswa menjadi lebih aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan dan dapat
mencoba melakukan sendiri.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum dan akan mengadakan demonstrasi :
1. Alat peraga demonstrasi harus dicheck kembali sebelum digunakan di depan siswa. Hal ini
penting dilakukan untuk menguji petunjuk penggunaan alat yang ada dalam buku. Sebab,
biasanya apa yang dituliskan dalam buku kadangkala tidak sesuai dengan apa yang diperoleh.
Dengan melakukan pengujian alat lebih dulu, guru dapat menghitung waktu yang dibutuhkan
untuk sebuah demonstrasi.
2. Tujuan yang hendak dicapai melalui metode demonstrasi hendaknya diketahui dan ditetapkan
dengan jelas. Hal ini berhubungan erat dengan konsep-konseo apa yang hendak dikembangkan
oleh guru melalui metode demonstrasi ini. Sebab tanpa dad perumusan yang jelas maka akan siasia demonstrasi yang diadakan.
3. Agar pesan yang ingin disampaikan melalui metode ini dapat diterima siswa secara efektif maka
perlu diusahakan agar demonstrasi mudah dilihat oleh semua siswa. Alat-alat yang digunakan
hendaknya berukuran cukup besar. Jika alat tersebut kecil, demonstrasi dilakukan oleh
siswa/kelompok secara bergantian.
4. Alat-alat yang digunakan dalam demonstrasi sebaiknya sederhana susunannya. Sebab jika alat
yang digunakan rumit, perhatian siswa dapat beralih dari konsep-konsep yang hendak dipelajari
ke bentuk alat yang rumit tersebut. Dengan demikian jika hal ini terjadi dapat menghilangkan
keeftifan metode demonstrasi itu sendiri.
5. Metode demonstrasi ini hendaknya sebanyak mungkin dimanfaatkan untuk mencapai tujuan
yang telah dipersiapkan. Biasanya siswa yang baru pertama kali berhadapan dengan metode
demonstrasi atau alat yang digunakan akan terpesona dan tidak memahami apa yang sedang
dilihatnya. Jika hal ini yang terjadi maka siswa tidak akan dapat menyerap apapun dari

demonstrasi yang dilakukan. Untuk mengatasi hal ini maka tujuan yang hendak dicapai dari
demonstrasi sudah dipersiapkan dan dikomunikasikan. Untuk men-check apakah siswa dapat
segera pesan yang disampaikan dalam metode demonstrasi guru dapat membuat daftar
pertanyaan-pertanyaan yang terarah sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

d. Hasil Belajar

Menurut Mulyono ( 2003 : 37 ) hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak
setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan gambaran tingkat penguasaan siswa
terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang diajarkan. Sebuah kegiatan belajar dapat
dikatakan efektif apabila dengan usaha belajar tertentu memberikan prestasi belajar. Sedangkan
menurut Munawar hasil nelajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila
dibandingkan pada saat sebelum dan setelah belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut
terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif dan psikomotorik

Anda mungkin juga menyukai