Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

STRAUMA NODUSA NON TOKSIK (SNNT)

Disusun oleh :

Asti Febriana
(20100320115)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014/2015

A. Pengertian
Strauma adalah pembesaran pada kenlenjar tiroid yang biasanya terjadi
karena folikel folikel terisi koloid secara berlebihan. Setelah bertahuna tahun
folikel tumbuh semkin membesar dengan membentuk kista dan kelenjar
tersebut menjadi noduler. Struma nodosa non toksik adalah pembesaran
kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai
tanda-tanda hypertiroidisme.
B. Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid
merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :
1. Defisiensi iodium
Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang
kondisi air minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya
daerah pegunungan.
2. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.
a. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam
kol, lobak,
kacang kedelai).
b. Penghambatan
sintesa
hormon
oleh
obat-obatan
(misalnya:
thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).
3. Hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid.
Pada umumnya ditemui pada masa pertumbuan, puberitas,
menstruasi, kehamilan, laktasi, menopause, infeksi dan stress lainnya.
Dimana menimbulkan nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arseitektur
yang dapat bekelanjutan dengan berkurangnya aliran darah didaerah
tersebut.
C. Patofisiologi
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk
pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus,
masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar
tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang
distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi
molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk
dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin
(T3).
Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi
Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis,
sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa
obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme
tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan
umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis.
Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid

D. Pathway

E. Manifestasi Klinis
Pada penyakit
struma
nodosa
nontoksik
tyroid
membesar
dengan
lambat.
Awalnya
kelenjar
ini
membesar
secara difus dan permukaan licin. Jika struma cukup besar, akan menekan
area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga
esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Klien tidak
mempunyai keluhan karena tidak ada hipo atau hipertirodisme. Benjolan di
leher. Peningkatan metabolism karena klien hiperaktif dengan meningkatnya
denyut nadi. Peningkatan simpatis seperti ; jantung menjadi berdebar-debar,
gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, diare, gemetar, dan kelelahan.
Pada pemeriksaan status lokalis struma nodosa, dibedakan dalam hal :
1. Jumlah nodul; satu (soliter) atau lebih dari satu (multipel)
2. Konsistensi; lunak, kistik, keras atau sangat keras.
3. Nyeri pada penekanan; ada atau tidak ada
4. Perlekatan dengan sekitarnya; ada atau tidak ada.
5. Pembesaran kelenjar getah bening di sekitar tiroid : ada atau tidak ada.

F. Komplikasi
1. Gangguan menelan atau bernafas
2. Gangguan jantung baik berupa gangguan irama hingga pnyakit jantung
kongestif (jantung tidak mampu memompa darah keseluruh tubuh)
3. Osteoporosis, terjadi peningkatan proses penyerapan tulang sehingga
tulang menjadi rapuh, keropos dan mudah patah.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih,
konsistensinya kenyal.
2. Human thyrologlobulin( untuk keganasan thyroid)
3. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (troksin) dan T3
(triyodotironin) dalam batas normal. Nilai normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11
4. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau
tidaknya nodul.
5. Kepastian histologi dapat ditegakkan melalui biopsy aspirasi jarum halus
yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tenaga ahli yang berpengalaman
6. Pemeriksaan sidik tiroid. Hasil dapat dibedakan 3 bentuk yaitu :
a. Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang dibandingkan
sekitarnya. Hal ini menunjukkan fungsi yang rendah.
b. Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada
sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih.
c. Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya. Ini
berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.
H. Penatalaksanaan
1. Dengan pemberian kapsul minyak beriodium terutama bagi penduduk di
daerah endemik sedang dan berat.
2. Edukasi
Program ini bertujuan merubah prilaku masyarakat, dalam hal pola makan
dan memasyarakatkan pemakaian garam beriodium.
3. Penyuntikan lipidol
Sasaran penyuntikan lipidol adalah penduduk yang tinggal di daerah
endemik diberi suntikan 40 % tiga tahun sekali dengan dosis untuk orang
dewasa dan anak di atas enam tahun 1 cc, sedang kurang dari enam tahun
diberi 0,2 cc 0,8 cc.
4. Tindakan operasi (strumektomi)
Pada struma nodosa non toksik yang besar dapat dilakukan tindakan
operasi bila pengobatan tidak berhasil, terjadi gangguan misalnya :
penekanan pada organ sekitarnya, indikasi, kosmetik, indikasi keganasan
yang pasti akan dicurigai.
5. L-tiroksin selama 4-5 bulan
Preparat ini diberikan apabila terdapat nodul hangat, lalu dilakukan
pemeriksaan sidik tiroid ulng. Apabila nodul mengecil, terapi dianjutkan
apabila tidak mengecil bahkan membesar dilakukan biopsy atau operasi.
6. Biopsy aspirasi jarum halus
Dilakukan pada kista tiroid hingga nodul kurang dari 10mm

I.

Pengakajian Keperawatan
1. Identifikasi klien.
2. Keluhan utama klien.
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit dahulu
5. Riwayat kesehatan keluarga
6. Pemeriksaan Fisik

J.

Diagnosa Dan Intervensi Keperawatan


1. Pola nafas tidak efektif b/d obstruksi jalan nafas, pembengkakan,
perdarahan dan spasme laryngeal.
a. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di
harapkan ; klien tidak mengeluhkan sulit bernafas, klien menunjukan pola
nafas efektif
b. Rencana Tindakan:
1) Berikan pasien posisi semi fowler (untuk memudahkan pasien dalam
bernafas)
2) Kaji frekuensi dan kedalaman pernafasan (untuk mengetahui
kedalaman pernafasan klien)
3) Bantu pasien latihan pernafasan (untuk membantu pasien mudah
bernafas)
4) Berikan oksigen sesuai program (memaksimalkan bernafas dan
menurunkan kerja nafas)
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita
suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.
a. Tujuan : Klien dapat komunikasi secara verbal
b. Kriteria hasil: Klien dapat mengungkapkan keluhan dengan kata-kata.
c. Rencana tindakan:
1) Kaji pembicaraan klien secara periodik
2) Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.
3) Kunjungi klien sesering mungkin
4) Ciptakan lingkungan yang tenang.
d. Rasionalisasi:
1) Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua dari
odema jaringan / sebagai efek pembedahan.
2) Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak.
3) Mengurangi kecemasan klien
4) Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara perawat dan
klien.
3. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses
pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.
a. Tujuan : Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi
terpenuhi/terkontrol.
b. Kriteria : Tidak terdapat cedera
c. Rencana tindakan/intervensi
1) Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu tubuh,
takikardi (140 200/menit), disrtrimia, syanosis, sakit waktu bernafas
(pembengkakan paru).
2) Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka rangsang,
misalnya gerakan tersentak, adanya kejang, prestesia.

3) Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat tidur


pada posisi yang rendah.
4) Memantau kadar kalsium dalam serum.
5) Kolaborasi: Berikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat,
laktat).
d. Rasional
1) Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat mengakibatkan
peningkatan pengeluaran hormon yang menyebabkan krisis tyroid.
2) Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat terjadi 1 7
hari pasca operasi dan merupakan indikasi hypoparatiroid yang dapat
terjadi sebagai akibat dari trauma yang tidak disengaja pada
pengangkatan parsial atau total kelenjar paratiroid selama
pembedahan.
3) Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang.
4) Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum membutuhkan terapi
pengganti.
5) Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya sementara tetapi
mungkin juga menjadi permanen
4. Nyeri berhubungan dengan dengan tindakan bedah terhadap jaringan/otot
dan edema pasca operasi.
a. Tujuan: Rasa nyeri berkurang
b. Kriteria hasil: Dapat menyatakan nyeri berkurang, tidak adanya perilaku
uyg menunjukkan adanya nyeri.
c. Rencana tindakan
1)
Atur posisi semi fowler, ganjal kepala /leher dengan bantal keci.
2)
Kaji respon verbal /non verbal lokasi, intensitas dan lamanya nyeri.
3)
Intruksikan pada klien agar menggunakan tangan untuk menahan
leher pada saat alih posisi .
4)
Beri makanan /cairan yang halus seperti es krim.
5)
Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
d. Rasionalisasi
1) Mencegah hyperekstensi leher dan melindungi integritas pada jahitan
pada luka.
2) Mengevaluasi nyeri, menentukan rencana tindakan keefektifan terapi.
3) Mengurangi ketegangan otot.
4) Makanan yang halus lebih baik bagi klien yang menjalani kesulitan
menelan.
5) Memutuskan transfusi SSP pada rasa nyeri.
5. Ansietas b/d kurang pengetahuan klien tentang penyakit dan
pengobatannya atau persepsi yang salah tentang penyakit yang diderita.
a. Tujuan : setelah diberikan penkes sebanyak 2 kali, ansietas berkurang
dengan kriteria hasil:
1) Ekspresi wajah tampak rileks
2) Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik
3) Klien mengetahui penyakit dan upaya pengobatan
b. Intervensi keperawatan
1) Kaji pengetahuan klien tentang penyakit dan pengobatannya
2) Identifikasi harapan-harapan klien terhadap pelayanan yang diberikan
3) Buat rancangan pembelajaran yang mencakup jenis penyakit dan
penyebabnya, upaya penanggulangan, prognosa dan prevalensi
penyakit serta komplikasi.

4) Laksanakan pembelajaran bersama dengan


perhatikan kondisi klien dan lingkungan.

anggota

keluarga,

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito L Y, 2001, Hand Book of Nursing Diagnosis, Edisi 8, EGC : Jakarta


Doengoes, dkk, 2000, Nursing Care Plans : Guideline For Planning And
Dokumentating Care. EGC : Jakarta.
Hidayat, Syamat, dkk, 1997. Edisi Revisi Buku Ilmu Ajar Bedah,EGC : Jakarta.
Manjoer, Arief, dkk, 2000.Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Media Aesculapius