Anda di halaman 1dari 37

REFERAT ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

HUBUNGAN SIDIK JARI DENGAN JENIS KELAMIN DAN GOLONGAN


DARAH DALAM IDENTIFIKASI

Dosen Penguji:
dr. Bianti Hastuti Machroes, SpKF, MH(Kes)

Residen Pembimbing:
dr. Devi Novianti Santoso, SH, MH(Kes)

Disusun Oleh:
Abdurrachman Machfudz

FK TRISAKTI

Amanda Friska

FK UPN

Nadya Marsha Fitri Yulistya

FK TRISAKTI

Pratiwi

FK TRISAKTI

Ruhmana Firah F.R

FK TRISAKTI

Tanya Edwina

FK TRISAKTI

KEPANITRAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
RSUP DR. KARIADI SEMARANG
PERIODE 29 JUNI 15 JULI 2015
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing, referat dari:


Nama

: Abdurrachman Machfudz

FK TRISAKTI

Amanda Friska

FK UPN

Nadya Marsha Fitri Yulistya

FK TRISAKTI

Pratiwi

FK TRISAKTI

Ruhmana Firah F.R

FK TRISAKTI

Tanya Edwina

FK TRISAKTI

Fakultas

: Kedokteran Umum

Universitas

: Universitas Trisakti dan Universitas Pembangunan Nasional

Bagian

: Ilmu Kedokteran Forensik FK UNDIP

Judul

: Hubungan Sidik Jari dengan Jenis Kelamin dan


Golongan Darah dalam Identifikasi

Ditujukan untuk memenuhi syarat menempuh ujian kepanitraan Ilmu Kedokteran


Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan
Universitas Pembangunan Nasional.
Semarang,

Juli 2015

Mengetahui,
Dosen Penguji

Residen Pembimbing

dr. Bianti Hastuti Machroes, SpKF, MH(Kes)

dr. Devi Novianti Santoso, SH, MH(Kes)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan
rahmatnya kami dapat menyelesaikan referat berjudul Hubungan Sidik Jari
dengan Jenis Kelamin dan Golongan Darah dalam Identifikasi. Referat ini dibuat
untuk memenuhi persyaratan ujian kepanitraan klinik Ilmu Kedokteran Forensik
dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dan Universitas
Pembangunan Nasional. Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan referat
ini tidak akan tercapai tanpa bantuan pihak-pihak yang telah membantu
kelancaran dalam penyusunan referat ini.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan
kepada:
1. dr. Bianti Hastuti Machroes, SpKF, MH(Kes) selaku dosen penguji yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar, meningkatkan
ilmu dan pengetahuan.
2. dr. Devi Novianti Santoso, SH, MH(Kes) selaku residen pembimbing
referat yang berkontribusi besar dalam memberikan bimbingan dan arahan
dalam pembuatan referat ini.
3. Teman-teman dokter muda di Kepanitraan Klinik Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Trisakti dan Universitas
Pembangunan Nasional.
Penulis sangat menyadari bahwa penyusunan referat ini masih jauh dari kata
sempurna, untuk itu segala kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan
kedepannya. Semoga referat ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat
serta menjadi sumber motivasi dan inspirasi untuk pembuatan referat selanjutnya.
Semarang,

Juli 2015

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Permasalahan

yang

terjadi dan meresahkan

masyarakat

saat ini

diantaranya adalah bencana alam, kecelakaan, dan kekerasan terhadap manusia.


Masyarakat dibuat resah bukan hanya karena bahaya dan dampak yang
ditimbulkan namun kesulitan dalam mencari identitas para korban juga masih
sangat

sulit

dilakukan

oleh

petugas

medik

yang

berwenang dalam

mengidentifikasi korban bencana. Bencana ddapat diklasifikasikan menjadi dua


jenis, yaitu bencana individual dan massal.
Bencana dapat diakibatkan baik oleh alam maupun manusia. Kondisi alam
memegang peran penting akan timbulnya suatu bencana, termasuk Indonesia.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dengan luas keseluruhan
lima juta kilometer persegi. Terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama
dunia yang memiliki setidaknya 400 gunung berapi dengan 150 diantaranya
adalah gunung berapi aktif. Disamping itu iklim tropis membuat beberapa bagian
daerah basah oleh curah hujan yang melimpah sehingga beresiko timbul bencana
banjir dan longsor. Sebaliknya pada daerah lain dapat mengalami kekeringan.
Faktor manusia juga turut berperan menimbulkan bencana.
Berbagai kejadian yang memakan banyak korban jiwa, terutama sejak
kejadian Bom Bali membuat kegiatan identifikasi korban bencana massal menjadi
kegiatan yang penting dan dilaksanakan hampir pada setiap kejadian yang
menimbulkan korban jiwa dalam jumlah yang banyak. Tujuan utama pemeriksaan
identifikasi pada kasus musibah bencana massal adalah untuk mengenali korban.
Dengan identifikasi yang tepat selanjutnya dapat dilakukan upaya merawat,
mendoakan serta akhirnya menyerahkan korban kepada keluarganya.
Proses identifikasi ini sangat penting bukan hanya untuk menganalisis
penyebab bencana, tetapi memberikan ketenangan psikologis bagi keluarga
dengan

adanya

kepastian

identitas

korban.

Prinsip

identifikasi

adalah
5

membandingkan data antemortem dan postmortem. mempunyai nilai yang sangat


tinggi bila dibandingkan dengan . Setiap bencana massal yang menimbulkan
banyak korban jiwa, baik akibat ataupun, memiliki spesifikasi tertentu yang
berbeda antara kasus yang satu dengan yang lain. Perbedaan ini menyebabkan
tindakan pemeriksaan identifikasi dengan skala prioritas bahan yang akan
diperiksa sesuai dengan keadaan jenazah yang ditemukan. Kejadian bencana
massal tersebut akan menghasilkan keadaan jenazah yang mungkin dapat intak,
separuh intak, membusuk, tepisah berfragmen-fragmen, terbakar menjadi abu,
separuh terbakar, terkubur ataupun kombinasi dari bermacam-macam keadaan.
Identifikasi terdiri dari dua jenis, yaitu identifikasi primer dan sekunder.
Identifikasi primer yang terdiri dari pemeriksaan sidik jari, rekaman gigi dan
pemeriksaan DNA serta identifikasi sekunder yang terdiri dari identifikasi medis,
property, dan fotografi, dengan prinsip identifikasi adalah membandingkan data
antemortem dan postmortem. Identifikasi primer mempunyai nilai yang sangat
tinggi bila dibandingkan dengan identifikasi sekunder.
Pemeriksaan sidik jari yang merupakan salah satu jenis identifikasi primer
masih dipercaya sebagai alat identifikasi yang cukup baik karena caranya
sederhana dan memiliki keakuratan yang tinggi. Dalam makalah ini akan dibahas
mengenai penggunaan sidik jari dalam proses identifikasi khusuny dalam
menentukan jenis kelamin dan golongan darah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses identifikasi dalam ilmu forensik?
2. Bagaimana peranan sidik jari dalam ilmu kedokteran forensik?
3. Apakah terdapat hubungan sidik jari dengan jenis kelamin dalam
proses identifikasi?
4. Apakah terdapat hubungan sidik jari dengan golongan darah dalam
proses identifikasi?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan menjelaskan proses identifikasi dalam ilmu forensik
2. Mengetahui dan menjelaskan peranan sidik jari dalam ilmu kedokteran
forensik
3. Mengetahui hubungan sidik jari dengan jenis kelamin dalam proses
identifikasi
4. Mengetahui hubungan sidik jari dengan golongan darah dalam proses
identifikasi
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
-

Meningkatkan kemampuan dalam penyusunan suatu masalah dari

berbagai sumber dan teknik penulisan


Melatih kerjasama tim dalam penyusunan suatu masalah
Menambah pengetahuan dalam bidang ilmu kedokteran forensik

1.4.2 Bagi Instansi Terkait


-

Menambah bahan referensi bagi dokter dalam proses identifikasi


dalam bidang ilmu kedokteran forensik

1.4.3 Bagi Masyarakat


-

Memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat


bagaimana proses identifikasi para korban maupun pelaku pada
kasus tindak pidana yang terjadi di masyarakat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Identifikasi Forensik
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Menentukan identitas
personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan
dapat berakibat fatal dalam proses peradilan. Peran ilmu kedokteran forensik
dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak dikenal, jenazah yang rusak,
membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan massal, bencana alam, huru-hara
yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta potongan tubuh manusia
atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus
lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan orang tuanya. Identitas
seseorang yang dapat dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan
memberikan hasil positif.
Identititas adalah sebuah set karakteristik fisik, fungsional, atau psikis,
normal atau patologi yang mencirikan manusia. Baru-baru ini, telah ada
peningkatan minat dalam teknologi biometrik yang identifikasi manusia
berdasarkan fitur individu seseorang1.
Identifikasi primer yang terdiri dari sidik jari, catatan gigi dan DNA serta
identifikasi sekunder yang terdiri dari medis, properti dan fotografi, dll dengan
prinsip identifikasi adalah membandingkan data yang antemortem dan
postmortem. Pengidentifikasi primer mempunyai nilai yang sangat tinggi bila
dibandingkan dengan identifikasi sekunder. Identitas seseorang dapat dipastikan
bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif
2.1.1 Identifikasi Primer
1. Pemeriksaan Sidik Jari
Membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante-mortem. Saat ini
merupakan pemeriksaan yang diakui tinggi ketepatannya. Dibutuhkan penanganan

yang baik terhadap jari tangan jenazah, misalkan membungkus kedua tangan
dengan plastik.
2. Pemeriksaan Gigi
Pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang dengan pemeriksaan manual, sinarX, dan pencetakan gigi. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk,
susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Setiap individu memiliki susunan
gigi yang khas, dan data yang ditemukan dibandingkan dengan data ante-mortem.
3. Identifikasi DNA
Diperlukan DNA pembanding. Mahal dan hanya dapat dilakukan oleh ahli
forensik molekular. Identifikasi dapat menggunakan DNA inti, DNA mitokondria.
Pada laki-laki hanya dipergunakan DNA inti, sedangkan pada wanita dapat
digunakan DNA inti atau mitokondria
2.1.2 Identifikasi Sekunder
1. Metode Visual
Memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan anggota
keluarga atau temannya. Hanya efektif pada jenazah yang masih dapat dikenali
wajah dan bentuk tubuhnya oleh lebih dari satu orang. Ada kemungkinan faktor
emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal
identitas jenazah.
2.

Pemeriksaan Dokumen
Dokumen identifikasi (KTP, SIM, Paspor, dst) yang dijumpai bersama jenazah.
Tidak bisa dipastikan kepemilikan dokumen yang ditemukan, sulit diandalkan.

3.

Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan


Dari ciri-ciri pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah mungkin dapat
diketahui merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge yang
dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan.

2.1.3 Macam-macam Identifikasi


1. Identifikasi potongan tubuh manusia (kasus mutilasi)
Pemeriksaan bertujuan untuk menentukan apakah potongan berasal dari manusia
atau binatang. Bila berasal dari manusia, ditentukan apakah potongan-potongan
tersebut berasal dari satu tubuh atau beberapa bagian tubuh.
Penentuan juga meliputi jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan dan keterangan
lain seperti cacat tubuh, penyakit yang pernah diderita, status sosial ekonomi,
kebiasaan-kebiasaan tertentu dan sebagainya serta cara pemotongan tubuh yang
mengalami mutilasi. Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal
darimanusia, dapat digunakan beberapa pemeriksaan seperti pengamatan jaringan
secara makroskopik, mikroskopik, dan pemeriksaan serologik berupa reaksi
antigen-antibodi (reaksi presipitin).
Penentuan jenis kelamin dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik dan
diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopik yang bertujuan menemukan kromatin
seks wanita seperti pada drum stick pada lekosit dan Barr body pada sel epitel.
2. Identifikasi kerangka
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan membuktikan bahwa kerangka
tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi
badan, ciri-ciri khusus, deformitas dan bila memungkinkan dapat dilakukan
rekonstruksi wajah. Dicari pula tanda kekerasan pada tulang. Perkiraan saat
kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan kekeringan tulang.
Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi
dengan membandingkannya dengan data ante mortem. Bila terdapat dugaan
berasal dari seseorang, maka dilakukan identifikasi dengan membandingkannya
dengan data ante mortem. Bila terdapat foto terakhir wajah orang tersebut semasa
hidup,

dapat

dilaksanakan

metode

superimposisi,

yaitu

dengan

jalan

menumpukkan foto rontgen tulang tengkorak di atas foto wajah yang dibuat

berukuran sama dan diambil dari sudut pemotretan yang sama. Dengan demikian
dapat dicari adanya titik-titik persamaan.
Pemeriksaan anatomik dapat memastikan bahwa kerangka adalah kerangka
manusia. Kesalahan penafsiran dapat timbul bila hanya terdapat sepotong tulang
saja, dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan serologik (reaksi presipitin) dan
histologik (jumlah dan diameter kanal-kanal Havers).
Penentuan ras mungkin dilakukan dengan pemeriksaan antropologik pada
tengkorak gigi geligi dan tulang panggul atau tulang lainnya. Arkus zigomatikus
dan gigi insisivus atas pertama yang berbentuk seperti sekop memberi petunjuk
kearah ras Mongoloid.
Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang
tengkorak, sternum, tulang panjang serta skapula dan metakarpla. Pada panggul
indeks isio-pubis (panjang pubis dikali seratus dibagi panjang isium) merupakan
ukuran yang paling sering digunakan. Nilai laki-laki sekitar 83.6, wanita 99.5.
2.1.4 Proses Identifikasi Umum
1. Mengumpulkan Data Post Mortem
Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian. Pada
fase ini dilakukan berbagai pemeriksaan yang kesemuanya dilakukan untuk
memperoleh dan mencatat data selengkap lengkapnya mengenai korban.
2. Mengumpulkan Data Ante Mortem
Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian.
Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat
dengan jenazah. Data yang diperoleh dapat berupa foto korban semasa hidup,
interpretasi ciri ciri spesifik jenazah (tattoo, tindikan, bekas luka, dll), rekaman
pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa hidup, sampel DNA orang
tua maupun kerabat korban, serta informasi informasi lain yang relevan dan
dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi, misalnya informasi mengenai
pakaian terakhir yang dikenakan korban.

11

3. Pencocokan Data Ante Mortem dan Post Mortem


Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante
mortem. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi
menentukan apakah temuan post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante
mortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah. Apabila data yang
dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak.
Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap
negatif dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante
mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah.
2.1.5 Proses Identifikasi DVI (Disaster Victim Identification)
meliputi 5 fase, dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan yang
lainnya, yang terdiri dari:
1. Initial Action at the Disaster Site
Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian peristiwa (TKP)
bencana. Ketika suatu bencana terjadi, prioritas yang paling utama adalah untuk
mengetahui seberapa luas jangkauan bencana. Sebuah organisasi resmi harus
mengasumsikan komando operasi secara keseluruhan untuk memastikan
koordinasi personil dan sumber daya material yang efektif dalam penanganan
bencana. Dalam kebanyakan kasus, polisi memikul tanggung jawab komando
untuk operasi secara keseluruhan. Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI, ahli
patologi forensik dan petugas polisi) harus sedini mungkin dikirim ke TKP untuk
mengevaluasi situasi berikut :

Keluasan TKP : pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat


untuk area bencana.

Perkiraan jumlah korban.

Keadaan mayat.

Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI.

Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI.

Metode untuk menangani mayat.

Transportasi mayat.

Penyimpanan mayat.

Kerusakan properti yang terjadi.

Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs bencana, ada
tiga langkah utama. Langkah pertama adalah to secure atau untuk mengamankan,
langkah kedua adalah to collect atau untuk mengumpulkan dan langkah ketiga
adalah documentation atau pelabelan.
Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando DVI harus
mengambil langkah untuk mengamankan TKP agar TKP tidak menjadi rusak.
Langkah langkah tersebut antara lain adalah :

Memblokir

pandangan

situs

bencana

untuk

orang

yang

tidak

berkepentingan (penonton yang penasaran, wakil wakil pers, dll),


misalnya dengan memasang police line.

Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana.

Menyediakan jalur akses

yang terlihat dan mudah bagi

yang

berkepentingan.

Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk mengontrol siapa


saja yang memiliki akses untuk masuk ke lokasi bencana.

13

Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan tujuan


kehaditan dan otorisasi.

Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang harus
meninggalkan area bencana.

Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando DVI harus


mengumpulkan korban korban bencana dan mengumpulkan properti yang
terkait dengan korban yang mungkin dapat digunakan untuk kepentingan
identifikasi korban.
Pada langkah documentation organisasi yang memimpin komando DVI
mendokumentasikan kejadian bencana dengan cara memfoto area bencana dan
korban kemudian memberikan nomor dan label pada korban.
Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang sudah diberi nomor
dan label dimasukkan ke dalam kantung mayat untuk kemudian dievakuasi.
2. Collecting Post Mortem Data
Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian
dilakukan oleh post-mortem unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang
memimpin komando DVI. Pada fase ini dilakukan berbagai pemeriksaan yang
kesemuanya dilakukan untuk memperoleh dan mencatat data selengkap
lengkapnya mengenai korban. Pemeriksaan dan pencatatan data jenazah yang
dilakukan diantaranya meliputi :

Dokumentasi korban dengan mengabadikan foto kondisi jenazah korban.

Pemeriksaan fisik, baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jika


diperlukan.

Pemeriksaan sidik jari.

Pemeriksaan rontgen.

Pemeriksaan odontologi forensik : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri


khusus tiap orang ; tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang
berbeda.

Pemeriksaan DNA.

Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan,


dari bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, tatto hingga cacat tubuh dan
bekas luka yang ada di tubuh korban.

Data data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data


primer dan data sekunder sebagai berikut :

Primer: Sidik jari, Profil gigi dan DNA

Sekunder: Visual, Fotografi, Properti jenazah, Medik Antropologi.

Selain mengumpulkan data paska kematian, pada fase ini juga sekaligus dilakukan
tindakan untuk mencegah perubahan perubahan paska kematian pada jenazah,
misalnya

dengan

meletakkan

jenazah

pada

lingkungan

dingin

untuk

memperlambat pembusukan.
3. Collecting Ante Mortem Data
Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian.
Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat
dengan jenazah. Data yang diperoleh dapat berupa foto korban semasa hidup,
interpretasi ciri ciri spesifik jenazah (tato, tindikan, bekas luka, dll), rekaman
pemeriksaan gigi korban, data sidik jari korban semasa hidup, sampel DNA orang
tua maupun kerabat korban, serta informasi informasi lain yang relevan dan

15

dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi, misalnya informasi mengenai


pakaian terakhir yang dikenakan korban.
4. Reconciliation
Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante
mortem. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi
menentukan apakah temuan post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante
mortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah. Apabila data yang
dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak.
Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap
negatif dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante
mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah.
5. Returning to the Family
Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi
kosmetik terbaik kemudian dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan.
Apabila korban tidak teridentifikasi maka data post mortem jenazah tetap
disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post
mortem jenazah, dan pemakaman jenazah menjadi tanggung jawab organisasi
yang memimpin komando DVI. Sertifikasi jenazah dan kepentingan mediko-legal
serta administrative untuk penguburan menjadi tanggung jawab pihak yang
menguburkan jenazah.
Indikator kesuksesan suatu proses disaster victim investigation bukan didasarkan
pada cepat atau tidaknya proses tersebut berlangsung tapi lebih didasarkan pada
akurasi atau ketepatan identifikasi. Pada prosesnya di Indonesia, disaster victim
investigation terkadang menemui hambatan hambatan. Hambatan yang terjadi
terutama disebabkan oleh buruknya sistem pencatatan yang ada di negeri ini
sehingga untuk mengumpulkan data ante mortem yang dibutuhkan, misalnya data
sidik jari dari SIM (Surat Izin Mengemudi), rekam medis pemeriksaan gigi dan
lain sebagainya, tim ante-mortem sering menemui kendala2.

2.2 Sidik Jari


2.2.1 Definisi sidik jari
Sidik jari merupakan identitas diri seseorang yang bersifat alamiah, tidah berubah
dan tidak sama pada setiap orang. Sidik jari merupakan salah satu teknologi yang
dapat digunakan untuk identifikasi seseorang.
Sidik jari merupakan alat bukti yang sah yaitu sebagai alat bukti keterangan ahli
sesuai dengan Pasal 184 ayai (1) butir (b) KUHAP, yaitu dalam bentuk berita
acara terdiri dari:
-

Berita acara pengambilan sidik jari disertai rumusan sidik jari


Berita acara pemotretan, dan
Berita acara olah TKP
Sidik jari masih dipercaya sebagai alat identifikasi yang baik karena masih

memiliki efektifitas dan realibilitas yang kuat dari segi hukum. Terdapat dua aspek
yang menyebabkan sidik jari masih digunakan dalam proses identifikasi, pertama
bentuk dan pola sidik jari yang tidak pernah berubah sejak mulai pembentukannya
hingga seseorang mencapai keadaan mati. Kedua, tidak ada bentuk sidik jari yang
sama pada setiap orang.
Di zaman modern seperti sekarang ini, seiring dengan berkembangnya
peralatan canggih yang dapat membantu manusia dalam menyelesaikan
pekerjaannya, maka semakin mudah pula seseorang dalam melaksanakan
tugasnya yang terhitung sulit, misalnya saja tugas seorang polisi dalam
mengungkap

suatu

kejahatan,

salah

satu kecanggihan

teknologi

yang

berkembang saat ini adalah alat pemindai sidik jari. Fungsi dan peranan
sidik jari sangatlah penting bagi seorang penyidik dalam mengungkap suatu
tindak pidana, oleh karena itu sidik jari sangatlah berperan selain sebagai
untuk mengidentifikasi korban, juga untuk mengungkap seseorang yang
disangka melakukan tindak pidana, sidik jari sebenarnya adalah kulit yang
menebal dan menipis membentuk suatu punggungan pada telapak jari yang
membentuk suatu pola, sidik jari tidak akan hilang sampai seorang meninggal
dunia dan busuk, goresan-goresan atau luka biasanya pada waktu kulit

17

berganti akan membentuk pola yang sama. Kecuali kulit tersebut mengalami
luka bakar yang parah.
Identifikasi Sidik jari dikenal dengan daktiloskopi. Daktiloskopi adalah
merumus pola sidik jari pada telapak tangan yang sama, kiri maupun kanan.
Metodanya dikenal dengan metode Henry, Rocher dan Vucetich. Metode
Henry diciptakan di India dan dipakai dihampir semua negara di Eropa,
Metode Rocher digunakan di negara Jerman dan Jepang, sedangkan Metode
Vucetich digunakan pada negara-negara berbahasa Spanyol. Indonesia sendiri
menggunakan Metoda Henry. Fungsi dari sidik jari ialah untuk kepentingan
identifikasi korban dan juga bisa digunakan untuk pengungkapan kejahatan,
misalnya dari sidik jari laten (pengambilan sidik jari menggunakan serbuk kimia)
yang didapat dari barang-barang di tempat kejadian perkara, atau barang-barang
yang digunakan untuk melakukan kejahatan seperti pistol, pisau, tang obeng
dan sebagainya.
Sidik jari yang memiliki pola-pola khusus pada setiap orang dan tidak
akan berubah mulai sejak pembentukannya hingga mencapai keadaan postmortal
dipercaya memiliki kekuatan dalam kepeningan identifikasi. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Bhavana et al menyebutkan bahwa dari pola sidik jari dapat
ditentukan jenis kelamin dan golongan darah suau korban. Maka perlu diketahui
gambaran pola sidik jari seperti apa yang menggambarkan ciri khusus jenis
kelamin serta golongan darah dalam identifikasi suatu korban.
2.2.2 Embriologi Sidik Jari
Sidik jari terbentuk saat fase fetus. Pertama, tonjolan terelevasi pada sekitar
minggu ke-18 kehamilan dan terbentuk sempurna pada sekitar bulan ke-7
kehamilan. Struktur sidik jari tetap sama selama kehidupan individu, tapi dapat
terpengaruhi jejas. Observasi ini berhubungan dengan ketahanan sidik jari.
Struktur sidik jari secara umum terdiri dari tonjolan dan cekungan yang
ditentukan oleh faktor genetik. Namun, beberapa faktor dalam fase fetus, seperti
aliran cairan amnion atau posisi di rahim, menghasilkan deformasi minor yang
menghasilkan iregularitas di tonjolan sidik jari. Faktor-faktor ini juga

menghasilkan perbedaan di garis tangan dan sidik jari pada satu individu. Oleh
karena itu, detail halus sidik jari ditentukan faktor-faktor tersebut, yang akan
menghasilkan keunikan sidik jari. Namun, karena pembentukan sidik jari
berhubungan dengan gen, pola sidik jari tidak sepenuhnya berbeda3.
Bentuk, ukuran, dan jarak dasar dermatoglyphs dipengaruhi oleh faktor genetik.
Studi menunjukkan kemungkinan bahwa lebih dari satu gen terlibat, sehingga
pewarisan pola tidak dapat diprediksi dengan mudah. Diperkirakan bahwa
berbagai gen yang mengatur perkembangan berbagai lapisan kulit, otot, lemak,
dan pembuluh darah memiliki peran dalam penentuan pola tonjolan. Pada
penderita kelainan kromosom, pola epidermis pada tangan maupun jari terkadang
dapat digunakan sebagai alat diagnostik4.
Beberapa contoh penyakit yang telah ditemukan tanda pada dermatoglyphic5 :

Sindroma Down
Trisomi 21
Sindroma Turner (45, XO)
Sindroma Klinefelter (47, XXY)
Sindroma Rubinstein-Taybi

Kelainan
Sindroma Down

Tanda
Pola ulnar

loop (lebih Rajangam S et al (1995)


muncul Thomas Fogle (2002)

sering

dibandingkan kontrol pada Sardool

Singh (2005)
jari tengah)
Pola radial loop (lebih
sering

muncul

dibandingkan pada kontrol

pada jari manis)


Simian
crease
transversal

(garis

tunggal

di

telapak tangan)
Garis Sydney
Pola di area hipotenar dan
interdigital
19

Trisomi 21

Tangan dan kaki pendek Marylin

dan luas
Simian crease
Clinodactily
kelingking
dengan/tanpa

Preus et al (1972)
(jari
bengkok),
phalanx

tengan

Sindroma Turner

pendek/hilang.
Jarak lebar antar jempol

dan jari kaki


Deep plantar crease

Jari kelingking pendek


Kuku

Marylin Preus et al (1972)


)

distrofik/hiperkonveks
Kobyliansky E et
Pemendekan metakarpal
al (1997)
ketiga sampai keempat
Limfaedema tangan dn

kaki di balita
A-line di area thenar
Kenaikan sudut atd >120
Peluasan area hipotenar

bilateral
Pola ulnar loop
Kenaikan pada tinggi axis Marylin Preus et al (1972)

Klinefelter

yang

triradius di pola hipotenar,


dan penurunan pada pola
Rubinstein-Taybi

tenar.
Jempol tangan dan kaki Marylin Preus et al (1972)

luas
Deep plantar crease
Jari kaki saling tindih
Clinodictily pada jari
kelingking/polydactily

Merupakan

beberapa

kriteria

diagnostik mayor

Kulit yang menutupi permukaan tubuh khususnya pada daerah telapak


tangan dan telapak kaki berbeda dengan kulit di area lain karena memiliki tekstur
khusus yang dikenal sebagai sidik jari. Sidik jari terbentuk pada saat minggu ke
12 dan mencapai formasi lengkap pada minggu ke 14. Mulai sejak pembentukan,
garis atau rajah dari sidik jari tidak akan berubah hingga nantinya akan dirusak
secara alami saat kematian pada proses pembusukan, kecuali pada keadaan
tertentu seperti luka bakar yang sangat berat.
Sidik jari terbentuk oleh lapisan-lapisan kulit pada umumnya seperti
epidermis, dermis, dan hypodermis serta terdiri dari kelenjar-kelenjar ekskresi
kulit sehingga terdapat sekresi yang dikeluarkan melalui komponen pada sidik jari
tersebut dalam bentuk metabolit yang dapat dideteksi dan memiliki nilai bemakna
untuk kepentingan forensik. Karakteristik sidik jari yang bersifat global terlihat
sebagai pola garis-garis alur dan orientasi dari garis alur tersebut pada kulit.
2.2.3 Sifat sifat sidik jari
Prinsip sistem identifikasi sidik jari adalah suatu bentuk representasi dari suatu
pola pengenalan, untuk mengetahui siapa pemilik dari sidik jari yang telah
diambil sampelnya. Sidik jari telah terbukti cukup akurat, aman, dan nyaman
untuk dipakai sebagai identifikasi bila dibandingkan dengan sistem biometric
lainnya seperti retina mata atau DNA.
Sifat-sifat yang dimiliki oleh sidik jari, antara lain :
1. Perennial nature, yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit
manusia seumur hidup.
2. Immutability, yaitu sidik jari seseorang tidak pernah berubah, kecuali
mendapatkan kecelakaan yang sampai merusak atau menghancurkan jari.
3. Individuality, pola sidik jari adalah unik dan berbeda untuk setiap orang.
Lapisan lapisan sidik jari

21

a. Lapisan dermal
Lapisan yang menentukan bentuk dari garis garis yang terdapat pada permukaan
kulit
b. Lapisan epidermal
Merupakan lapisan kulit terluar dimana terdapat garis garis halus menonjol
keluar (garis papilair). Lukisan lukisan yang terbentuk oleh garis papilair itu
dipakai untuk menentukan bentuk pokok (pola dan ciri),perumusan dan
pemeriksaan perbandingan sidik jari.
2.2.4 Pola sidik jari

Pola sidik jari untuk setiap individu berbeda satu sama lainnya, pada umumnya
sidik jari terbagi atas 7 pola yaitu :
a. Loop
b. Arch
c. Whorl
d. Tented arch
e. Double loop
f. Central pocked loop
Namun yang paling banyak diketahui ada 3 pola:

Gambar.
Pengelompokan sistem sidik jari Arches , Loops, dan Whorl

a. Arch (Busur) adalah pola sidik jari yang semua garis garisnya datang
dari satu titik lukisan dan cenderung mengalir ke sisi. Pola garis alur
sidik jari berbentuk terbuka yang mencakup 5% dari populasi.
Arch terbagi menjadi dua,yaitu :
1. Plain arch
Merupakan bentuk pokok sidik jari dimana garis garis datang
dari sisi lukisan yang satu mengalir kearah sisi yang lain dengan
sedikit bergelombang naik ditengah.
2. Tented arch
Terdapat satu kelompok garis papilair yang mengalir dari satu sisi
ke sisi yang lain dan pada titik tengah aliran tersebut terdapat garis
tegak atau garis penyangga.
b. Loop (sangkutan)
Loop adalah jenis paling umum yaitu kurva melingkar meliputi 60%
sampai dengan 65 % dari populasi. Pola utama sidik jari dimana satu
garis atau lebih datang dari satu lukisan, melengkung menyentuh suatu
garis baying yang ditarik antara delta dan core berhenti atau cenderung
kembali ke sisi datangnya semula. Loop terbagi dua yaitu :
1. Ulnar loop adalah garisnya memasuki pokok lukisan dari sisi
yang searah dengan kelingking, melengkung ditengah pokok
lukisan dan kembali atau cenderung kembali ke arah sisi semula.
2. Radial loop adalah garisnya memasuki pokok lukisan dari sisi
yang searah dengan jempol, melengkung di tengah pokok lukisan
dan kembali atau cenderung kembali ke arah sisi semula.
c. Whorl (lingkaran)
Whorl adalah pola utama sidik jari yang mempunyai bentuk lingkaran
penuh dan paling sedikit dua buah delta dengan satu atau lebih garis
melengkung atau melingkar di hadapan dua delta. Ciri khas dari Whorl
adalah memiliki 2 titik pusat delta. Mencakup 30% sampai 35% dari
populasi.
Whorl terbagi menjadi empat, yaitu :
1. Pain whorl

23

Terdapat satu kelompok garis papilair yang berbentuk spiral, oval,


lingaran dan dua titk pusat delta yang membentuk sudut 30
2. Central pocket loop
Terdapat satu kelompok garis papilair yang melingkar dan 2 titik
pusat delta yang membentuk sudut 30
3. Double loop
Serupa dengan twin loop counter clock wise hanya saja pola ini
harus mempunyai 2 titik pusat delta
4. Achidental loop
Gabungan dua atau lebih titik pusat delta

Titik fokus sidik jari


Untuk setiap sidik jari manusia terdapat titik fokus yang menentukan pola sidik
jari tersebut. Ada 2 titik focus sidik jari, yaitu :

a. Delta (titik fokus luar)


Delta adalah suatu titik pada garis yang berada didepan pusat berpisahnya
garis pokok lukisan. Garis ini merupakan dua garis yang letaknya paling
dalam sekali dan kedua garis itu pada permulaan geraknya berjalan sejajar
(parallel), memisah, serta cenderung melingkupi pattern area (pokok
lukisan).

Delta adalah garis pertama yang terdapat didepan pusat

berpisahnya garis pokok lukisan


Delta terletak pada salah satu diantara garis garis berikut :
1. Sebuah garis membelah
2. Sebuah garis yang mendadak berhenti
3. Sebuah titik
4. Sebuah garis pendek
5. Pertemuan dari dua buah garis
6. Suatu titik pada garis melingkar pertama yang terletak pada pusat
berpisahnya garis pokok lukisan

Gambar Type Lines (garis pokok lukisan) sidik jari


b. Core (titik fokus dalam)
Core merupakan pusat atau titik tengah suatu sidik jari dari kelompok garis
papilair berbentuk U5.
2.3 Jenis Kelamin
2.3.1 Jenis Kelamin Ditentukan Kromosom Seks
Apakah seseorang ditakdirkan menjadi laki-laki atau perempuan adalah sebuah
fenomena genetic yang ditentukan oleh kromosom seks yang dimiliki mereka.
Saat 23 pasang kromosom terbelah saat meiosis, sperma atau ovum hanya
menerima satu dari dua bagian pasangan kromosom tersebut. Dari keseluruhan
pasangan, 22 pasang adalah kromosom autosomal yang mengandung kode
karakteristik umum manusia maupun karakteristik spesifik seperti warna mata.
Pasangan yang terakhir adalah kromosom seks, yang merupakan dua tipe yang
berbeda secara genetic-kromosom X yang lebih besar, dan kromosom Y yang
lebih kecil.
Penentuan jenis kelamin tergantug pada kombinasi kromosom seks. Laki-laki
secara genetic memiliki kedua kromosom X dan Y. Perempuan secara genetic
memiliki

dua

kromosom

seks

X.

Maka,

perbedaan

genetic

yang

bertanggungjawab atas semua perbedaan anatomis dan fungsional pada laki-laki


dan perempuan adalah kromosom Y. Laki-laki memiliki kromosom tersebut,
perempuan tidak.
Sebagai hasil meiosis saat gametogenesis, semua pasangan kromosom terpisahkan
sehingga semua hasil pembelahan sel memiliki hanya satu bagian dari setiap
25

pasangan, termasuk pasangan kromosom seks. Saat kromosom seks XY terpisah


saat pembentukan sperma, setengah dari sperma menerima kromosom X dan
sisanya menerima kromosom Y. Sebaliknya, saat pembentukan ovum, semua
ovum menerima kromosom seks X karena pemisahan pasangan kromosom seks
XX hanya akan menghasilkan kromosom seks X. Saat fertilisasi, kombinasi dari
sperma dengan kromosom seks X dan ovum dengan kromosom seks X akan
menghasilkan perempuan secara genetik, XX, sedangkan persatuan antara sperma
dengan kromosom seks Y dengan ovum dengan kromosom seks X akan
menghasilkan laki-laki secara genetik, XY. Maka, seks secara genetik ditentukan
pada waktu konsepsi dan tergantung pada kromosom seks yang terkandung dalam
sperma yang melakukan fertilisasi.
Diferensiasi lelaki atau perempuan tergantung ada atau tidaknya determinan
maskulinisasi:
Perbedaan antara laki-laki dan perempuan berada pada tiga tingkatan: jenis
kelamin menurut genetik, gonadal, dan fenotipik (anatomik).
2.3.2 Jenis Kelamin Menurut Genetic dan Gonad
Jenis kelamin menurut genetic, yang tergantung pada kombinasi kromosom seks
pada saat konsepsi, akan menentukan jenis kelamin menurut gonad, yaitu apakan
testis atau ovarium akan terbentuk.. Ada/tidaknya kromosom Y menentukan
diferensiasi gonad. Sampai satu bulan setengah masa gestasi, semua embrio
memiliki potensi untuk terdiferensiasi menjadi laki-laki ataupun perempuan
karena jaringan reproduksi keduanya sama dan tidak bisa dibedakan. Spesifisitas
gonad mulai muncul pada minggu ke tujuh kehidupan intrauterin ketika jaringan
gonad laki-laki secara genetik mulai terdiferensiasi menjadi testis atas pengaruh
regio penentu jenis kelamin (sex-determining region) di kromosom Y (SRY), satusatunya gen yang mempengaruhi determinasi jenis kelamin. Gen ini memicu
rantaian reaksi yang mengarah pada perkembangan fisik laki-laki. SRY memaskulinisasi gonad dengan mengkode produksi faktor determinan testis (testisdetermining factor (TDF))(dikenal juga sebagai protein SRY) pada sel gonad

primitive. TDF mengarahkan berbagai kejadian yang mengarah pada diferensiasi


gonad menjadi testes.
Karena perempuan secara genetik tidak memiliki gen SRY dan oleh karena itu
tidak memproduksi TDF, sel gonad mereka tidak akan menerima sinyal untuk
formasi testes, jadi pada minggu ke Sembilan semua jaringan gonad yang tidak
terdiferensiasi mulai membentuk ovarium sebagai gantinya.

2.3.3 Jenis Kelamin Menurut Fenotipik


Jenis kelamin menurut fenotipik, jenis kelamin yang terlihat secara anatomik pada
individu, termediasi hormon dan tergantung oleh jenis kelamin gonad yang
ditentukan secara genetik. Istilah diferensiasi seksual mengarah pada
perkembangan genitalia eksterna dan traktus reproduktivus menjadi laki-laki
maupun

perempuan

pada

embrio.

Sama

dengan

gonad

yang

belum

terdiferensiasikan, embrio kedua jenis kelamin memiliki potensi untuk


membentuk genitalia eksterna dan traktus reproduktivus laki-laki maupun
perempuan. Diferensiasi menjadi sistem reproduksi laki-laki dipicu oleh
androgen, yaitu hormone maskulinisasi yang disekresikan oleh testes yang sedang
berkembang. Testosteron adalah androgen yang paling kuat. Tidak adanya hormon
testis ini di fetus perempuan menghasilkan perkembangan system reproduktif
perempuan. Pada minggu 10-12 masa gestasi, jenis kelamin sudah dapat
dibedakan melalui penampilan anatomis genitalia eksterna.
2.4 Golongan Darah
Golongan darah adalah pengklasifikasian darah berdasarkan ada atau tidak
adanya substansi antigen (aglutinogen) yang terletak pada permukaan sel darah
merah. Antigen ini bisa berupa karbohidrat, glikoprotein, atau glikolipid. Terdapat
dua tipe aglutinogen, A dan B. Golongan darah ditentukan secara genetik. Antigen
A dan B dibuat oleh dua tipe enzim yang berbeda. 2 enzim tersebut dikode oleh
berbagai alllel yang berbeda dari suatu gen. Jika pada permukaan sel darah
terdapat antigen A, menandakan seseorang memiliki golongan darah A, jika

27

permukaan sel darah memilik antigen B, maka orang tersebut memiliki golongan
darah B. Jika dipermukaan sel darah memiliki 2 antigen yaitu anitgen A dan B,
maka orang tersebut memiliki golongan darah AB dan jika pada permukaan sel
darah tidak terdapat antigen A dan / atau B, maka orang tersebut memiliki
golongan darah O. Pembagian golongan darah juga dapat dilihat dari ada tidaknya
protein Rh. Jika sel darah memiliki protein Rh, menandakan seseorang memiliki
rhesus (+) sedangkan rhesus (-) jika di permukaan sel darah tidak memiliki protein
Rh7.

2.4.1 Golongan Darah Ditentukan Secara Genetik


Golongan darah ditentukan berdasarkan genetik yang diatur oleh
kromosom nomor 9 (9q 34.1-34.2). Pada kromosom tersebut terdapat lokus ABO
yang terdiri dari allel A, B dan O. Faktor penentu antigenik terdiri atas
oligosakarida yang terletak di glycospingolipids atau glikoprotein. Proses
penentuan golongan darah dimulai dari penambahan L fukose ( 1 2 linkage)
di terminal Galaktosa pada prekursor yang menempel pada lipid atau protein
dengan bantuan enzim 1,2-fukosiltransferase (H transferase) dan menghasilkan H
antigen. H antigen akan mensintesis enzim glikosiltransferasi spesifik sesuai

dengan gen ABO, yaitu A transferase untuk Allel A dan B transferase untuk Allel
B. Setelah itu Allel A akan mengkode enzim A transferase yang mengkatalisasi
penambahan gula spesifik sehingga terbentuk A antigen. Sedangkan Setelah itu
Allel B akan mengkode enzim B transferase yang mengkatalisasi penambahan
gula spesifik sehingga terbentuk B antigen. Sedangkan pada Allel O mengkode
protein tanpa glikolisiltransferase (O transferase) sehingga Allel O akan inaktif.
Setelah itu antigen tersebut akan menyebar dan menempel pada sel darah merah
dan menjadi penentu golongan darah seseorang8.

Semua orang menurunkan 2 allel gen, masing-masing satu dari ayah dan
ibu. Kombinasi dari kedua allel tersebut yang menentukan golongan darah
seseorang.

29

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hubungan Sidik Jari dengan Jenis Kelamin


Walau telah ditemukan bahwa laki-laki memiliki jumlah ridge lebih banyak dari
perempuan, hasil yang didapat tentang signifikansi statistik dari perbedaan jenis
kelamin tidak konsisten. Didapat bahwa perempuan cenderung memiliki
kepadatan ridge yang lebih tinggi (jumlah ridge dibagi luas area jari yang
dimaksud) dibandingkan laki-laki, tapi akurasi hal ini dalam perbedaan jenis
kelamin tidak memuaskan (Acree 1999).
Sidik jari perempuan memiliki karakteristik tinggi Rasio Tebal Ridge Tebal Celah
(Ridge Thickness Valley Thickness Ratio), dimana sidik jari laki-laki memiliki
hasil yang lebih rendah, dengan pengecualian presentase kecil dari keduanya
(Baldawi et al. 2008).
Sidik jari perempuan dikarakteristikan memiliki lebih banyak white lines, dengan
pengecualian sebagian kecil memiliki sedikit maupun tidak ada white lines sama
sekali, dan untuk laki-laki berlaku kebalikannya, dengan standar deviasi yang
tinggi dalam distribusinya terhadap kedua jenis kelamin, dengan hasi hitung ridge
pada perempuan =13.6671, =4.9845, sedangkan pada laki-laki =14.6914,
=4.9336, dengan t-value =4.802, dan -value=1.685E-06 (Badawi et al. 2008).

Ukuran jari memiliki hubungan kuat dengan hasil hitung jumlah dan kepadatan
ridge. Bila laki-laki memiliki hitung ridge lebih banyak dan densitas ridge lebih
rendah dari perempuan, maka perbedaan besar jari antara laki-laki dan perempuan
seharusnya memiliki signifikansi lebih dari hasil hitung jumlah dan kepadatan
ridge (Wang et al 2007)
Gungadin (2007) berpendapat bahwa hasil hitung 13 ridges/25mm 2 memiliki
kemungkinan lebih besar dimiliki oleh laki-laki dan hasil 14 ridges/25 mm2
memiliki kemungkinan lebih besar berasal dari perempuan. Hasil penelitiannya
adalah perempuan cenderung memiliki kepadatan ridge lebih tinggi dari laki-laki6.
Secara umum, jumlah kepadatan ridge pada regio radial 15 ridges/25mm2
kemungkinan besar wanita. Sedangkan, bila jumlahnya 13 ridges/25mm2
kemungkinan besar sidik jari pria. Pada regio inferior pada jari jumlah ridges >13
ridges/25mm2 memperkecil kemungkinan bahwa sidik jari tersebut adalah sidik
jari pria. Sedangkan, jumlah <9 ridges/25mm2 memperkecil kemungkinan sidik
jari tersebut adalah sidik jari wanita. Tetapi pada wanita jari pertama, kedua,
keempat terdapat perbedaan jumlah ridges yang signifikan pada regio ulnar, tetapi
tidak dijelaskan berapa besar perbedaan yang didapatkan. Pada regio inferior
terdapat perbedaan yang signifikan pada jari ketiga.
3.2 Hubungan Sidik Jari dengan Golongan Darah
Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chinakakani, India
didapatkan ada hubungan antara distribusi pola sidik jari dan golongan darah.
Dalam semua golongan darah, frekuensi pola sidik jari terbanyak adalah Loops
diikuti oleh Whorls dan Arches. Distribusi pola pada tiap-tiap jari individu
memiliki jumlah loop yang tinggi pada jari jempol dan kelingking sementara jari
manis memiliki lebih banyak Whorl dan jari tengah memperlihatkan penampakan
Arches yang tinggi pada golongan darah A, B dan O. Bila dikaitan dengan
golongan darah, sidik jari tipe Loops paling banyak terdapat pada golongan darah
O dan paling sedikit terdapat pada golongan darah AB, Whorls paling banyak
didapatkan pada golongan darah AB dan paling sedikit pada golongan darah AB
dan paling sedikit pada galongan darah O. Arches paling banyak pada golongan
31

darah B dan paling sedikit pada golongan darah AB. Perbedaan jumlah individu
dengan tipe sidik jari Loops, Whorls dan Arches juga ditemukan pada Rh positif
dan Rh negatif dari tiap-tiap individu dengan golongan darah ABO. Tipe Loops
memiliki jumlah yang kurang lebih sama antara Rh positif dan Rh negatif, Arches
lebih banyak pada Rh positif dan Whorls lebih banyak pada Rh negatif7.
Pengelompokan sistem golongan darah dipelopori oleh Karl Landsteiner
pada tahun 1901. Terdapat 19 kelompok sistem penggolongan darah, namun
secara klinis hanya sistem ABO dan Rhesus yang penting digunakan. Sistem ABO
dibagi menjadi golongan darah A, B, AB , dan O berdasarkan ada
tidaknya antigen pada plasma. Sedangkan sistem Rhesus dibagi menjadi Rh +
dan Rh- berdasarkan keberadaan antigen D pada plasma.
Pada beberapa penelitian dikatakan bahwa pola sidik jari dapat
menggambarkan golongan darah seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh
Bhavana et al mengatakan bahwa pada seseorang yang memiliki pola sidik jari
Loops sebagian besar memiliki golongan darah O Rh+ lebih dari 50%, pada pola
sidik jari Whorls sebagian besar memiliki golongan darah AB Rh+ 37% dan pola
sidik jari bentuk arches memiliki golongan darah B Rh+ sebesar 12%. Hasil
penelitian tersebut sejalan dengan peneltian yang dilakukan oleh Sangan et al pada
tahun 2011 di India. Pola sidik jari dengan persentasi terbesar adalah bentuk
Loops karena pada 60 sampai 65 % populasi memiliki bentuk pola sidik jari
bentuk Loops.

BAB IV
ILUSTRASI KASUS
Ilustrasi Kasus 1
Bencana Massal
Pada hari Minggu, 26 Desember 2010 terjadi bencana tsunami yang melanda
Banda Aceh dan sekitarnya. Pada hasil investigasi didapatkan informasi mengenai
korban, antara lain korban yang meninggal sebanyak 1500 orang, 600 orang luka
berat, dan puluhan ribu orang mengalami luka-luka ringan. Para keluarga korban
yang merasa kehilangan sanak saudaranya berusaha memberikan informasi
selengkap mungkin dari identitas korban untuk mwmbantu mempercepat proses
identifikasi.. Tim Forenik Universitas Diponegoro diminta untuk membantu
proses identifikasi korban tsunami.
Identifikasi Korban
1. Initial Action at the Disaster Site

Perkiraan jumlah korban.

Keadaan mayat.

Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI.

33

Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI.

Metode untuk menangani mayat.

Transportasi mayat.

Penyimpanan mayat.

Kerusakan properti yang terjadi.

2. Collecting Post Mortem Data


JENAZAH 1
IDENTITAS UMUM
Nama

: tidak diketahui

Jenis Kelamin : Laki-laki


Usia

: Kurang lebih 19 tahun

BB

: 55 kg

TB

: 170 cm

IDENTITAS KHUSUS
- Tanda lahir berupa sebuah tompel pada pipi kiri dengan panjang lima sentimeter
dan lebar tiga senti meter berbatas jelas berwarna kecoklatan.
IDENTIFIKASI PRIMER
Pemeriksaan Sidik Jari

Tipe Sidik Jari


Jumlah Ridges
Ketebalan
White Lines

: Ulnar Loops
: 8 ridges/25mm2
: kurang tebal
: tidak ada

IDENTIFIKASI SEKUNDER
-

Pemeriksaan pakaian dan perhiasan: Menggunakan baju polo berwarna putih


polos dengan merek Giordano dengan ukuran L dengan celana pendek berbahan
jeans selutut dengan robekan pada celana sisi depan. Jam tangan berwarna hitam

dengan merek police.


Pemeriksaan Dokumen: (-)

3. Collecting Ante Mortem Data


Identitas yang didapat dari keluarga korban
IDENTITAS
Nama

: tidak diketahui

Jenis Kelamin : Laki-laki


Usia

: Kurang lebih 19 tahun

BB

: 55 kg

TB

: 170 cm

Gol. Darah

:O

35

Tipe Sidik Jari


Jumlah Ridges
Ketebalan
White Lines

: Ulnar Loops
: 8 ridges/25mm2
: kurang tebal
: tidak ada

*sidik jari didapatkan dari bekas barang-barang korban


- Menurut keterangan keluarga, korban menggunakan baju polo berwarna putih
polos dengan merek Giordano dengan ukuran L dengan celana pendek berbahan
jeans selutut saat terakhir kali.
- Terdapat sebuah tanda lahir berupa tompel pada pipi kiri
4. Reconciliation
5. Returning to the Family

BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
-

Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan


membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang untuk penyidikan
dalam proses peradilan. Identifikasi diklasifikasikan menjadi Identifikasi

Primer yaitu berupa sidik jari, rekam gigi dan pemeriksaan DNA.
Peran sidik jari dalam Identifikasi merupakan salah satu jenis identifikasi
primer yang

masih dipercaya sebagai alat identifikasi yang cukup baik

karena caranya sederhana dan memiliki keakuratan yang tinggi dengan


menggunakan pola yang identik pada masing-masing manusia.

Terdapat hubungan antara sidik jari dan jenis kelamin dimana jumlah ridge
pada laki-laki mempunyai jumlah yang lebih banyak sehingga lebih padat jika
dibanding dengan perempuan, tetapi ketebalan ridge perempuan lebih tebal

dari laki-laki.
Terdapat hubungan antara sidik jari dan golongan darah, dimana pola Arches
paling banyak pada golongan darah B yaitu sebanyak 12%, pola Loops
sebanyak 50% ditemukan pada golongan darah O, sedangkan Whorls paling
banyak pada golongan darah AB sebanyak 37%.

4.2 Saran
-

Tinjauan tentang identifikasi forensik dengan cara lain dapat lebih

dikembangkan selain dengan menggunakan sidik jari.


Tinjauan mengenai mekanisme terjadinya hubungan antar variabel
Mencari tahu hubungan faktor lain dengan sidik jari dalam proses identifikasi
Pembahasan cara mengurangi kesalahan dalam penggunaan fingerprint dalam
identifikasi forensik

DAFTAR PUSTAKA

37