Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH ADAPTASI BAYI BARU LAHIR

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH


Fundamental Pathofisiologi Of Reproduksi System
Yang dibina oleh Ibu Ns. Rinik Eko Kapti M.Kep

Oleh :
Dhevi meilianawati

(125070211803004)

Duandy Sukma Pradewa

(115070207113030)

Hairul Anam

(125070211803024)

Silviani Amelia

(125070211803060)

Soraya dwi kusmiani

(125070211803032)

Yessie Rohan

(125070211803036)

PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

KATAPENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami
dapat menyelesaikan laporan mengenai Makalah tentang adaptasi bayi baru lahir.
Dalam penulisan laporan ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan laporan diskusi, khususnya kepada :
1.

Ibu Ns. Rinik Eko Kapti selaku dosen pembimbing kami pada mata kuliah

Fundamental Pathofisiologi Reproduksi System


2.

Orang tua dan teman-teman anggota kelompok.

3.

Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah

memberikan bantuan dalam penulisan tugas ini.


Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun, penulis harapkan demi mencapai kesempurnaan
makalah berikutnya.
Sekian

penulis

sampaikan

terimakasih

kepada

semua

pihak

yang

telah

membantu.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.

Kediri, 30 Agustus 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman sampul................................................................................................................1
Kata pengantar...................................................................................................................2
Daftar isi............................................................................................................................. 3
A. Pendahuluan..............................................................................................................4
1.1 Latar Belakang......................................................................................................4
B. Pembahasan..............................................................................................................5
2.1 adaptasi bayi baru lahir.....................................................................................5
2.2 adaptasi breastfeeding / laktasi........................................................................ 6
2.3 pengkajian APGAR...........................................................................................13
2.4 adaptasi neurological .......................................................................................14
2.5 adaptasi respiratory newborn.............................................................................17
2.6 adaptasi kardio dan sirkulasi newborn.......................................................... ....20
2.7 adaptasi renal system.......................................................................................24
2.8 adaptasi imun system.......................................................................................24
2.9 adaptasi Hepatic adaptasi.................................................................................24
2.10
adaptasi GI system....................................................................... ......25
2.11
adaptasi Termoregulasi adaptasi....................................................... ....25
2.12
adaptasi Ballart score............................................................................26
C. Kesimpulan................................................................................................................ 32
Kesimpulan............................................................................................................. 32
D. Daftar Pustaka .......................................................................................................... 33

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Bayi baru lahir yaitu kondisi dimana bayi baru lahir (neonatus), lahir melalui jalan

lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat, nafas
secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram. Neonatus (BBL) adalah
masa kehidupan pertama diluar rahim sampai dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan

yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim. Pada masa ini terjadi
pematangan organ hampir pada semua system.
Neonatus (BBL) bukanlah miniature orang dewasa,bahkan bukan pula miniature
anak.Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam rahim yang serba
tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri.Masa perubahan
yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama.Transisi ini hampir meliputi semua
system organ tapi yang terpenting bagi anastesi adalah system pernafasan sirkulasi,ginjal
dan hepar.Maka dari itu sangatlah diperlukan penataan dan persiapan yang matang untuk
melakukan suatu anastesi terhadap neonates (BBL).
1.2
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana adaptasi bayi baru lahir ?
2. Bagaimana breastfeeding / laktasi pada bayi baru lahir ?
3. Apa saja pengkajian APGAR
4. Apa saja adaptasi neurological ?
5. Apa saja adaptasi respiratory newborn?
6. Apa saja adaptasi kardio dan sirkulasi newborn?
7. Apa saja adaptasi renal system?
8. Apa saja adaptasi imun system?
9. Apa saja adaptasi Hepatic adaptasi?
10. Apa saja adaptasi GI system?
11. Apa saja adaptasi Termoregulasi adaptasi?
12. Apa saja adaptasi Ballart score?

1.3 TUJUAN
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas segala tentang adaptasi bayi baru lahir
sehingga dapat membantu mahasiswa untuk mudah mempelajari materi adaptasi bayi baru
lahir.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Adaptasi Bayi Baru Lahir
Pada periode pascapartum, bayi baru lahir mengalami perubahan biofisiologi dan
perilaku yang kompleks akibat transisi ke kehidupan ekstauterin. Beberapa jam pertama
setelah lahir , menampilkan suatu periode penyesuaian kritis bagi bayi baru lahir. Pada
sebagaian besar lingkungan , perawat memeberikan perawatan langsung kepada bayi
segera setelah lahir.
Faktor faktor yang mempengaruhi adaptasi bayi baru lahir

Pengalaman antepartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya, terpajan zat toksik dan

sikap orang tua terhadap kehamilan dan pengasuhan anak)


Pengalaman intrapartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya , lama persalinan,)
Kapasitas fisiologis bayi baru lahir untuk melakukan transisi ke kehidupan

ekstrauterin.
Kemampuan petugas kesehatan untuk mengjkaji dan merespon masalah dengan
tepat pada saat terjadi pada bayi.

Periode transisi pada bayi baru lahir


-

Periode ini merupakan fase tidak stabil selama 6 sampai 8 jam pertama kehidupan ,
yang akan dilaluioleh seluruh bayi, dengan mengabaikan usia gestasi atau sifat

persalinan dan melahirkan.


Pada periode pertama reaktivitas (segera setelah lahir), pernapasan cepat (dapat
mencapai 80 kali per menit ) dan pernapasan cuping hidung sementara, retraksi ,
dan suara seperti mendengkur dapat terjadi. Denyut jantung dapat mencapai 180 kali

per menit selama beberapa menit pertama kehidupan.


Setelah respons awal ini, bayi baru lahir menjadi tenang , relaks, dan jatuh tertidur ,
tidur pertama ini (diknal sebagai fase tidur) terjadi dalam 2 jam setelah kelahiran dan

berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam.


Periode kedua reaktivitas , dimulai bayi baru bagun, ditandai dengan respons
berlebihan terhadap stimulus, perubahan warna kulit dari merah muda menjadi agak

sianosis , dan jantung cepat.


Lendir mulut dapat menyebabkan masalah besar, misalnya tersedak, tercekik, dan
batuk

2.2 Adaptasi Breastfeeding / Laktasi


Menyusui merupakan gabungan kerja hormon, refleks dan perilaku yang dipelajari ibu
dan bayi baru lahir dan terdiri dari faktor-faktor berikut ini (Sinclair, 2009) :
a.Laktogenesis
Laktogenesis, yaitu permulaaan produksi susu dimulai pada tahap akhir kehamilan.
Kolostrum disekresi akibat stimulasi sel-sel alveola oleh laktogen plasenta, yaitu suatu
substansi yang menyurapai prolaktin. Produksi susu berlanjut setelah bayi lahir sebagai
proses otomatis selama susu dikeluarkan dari payudara.
b.Produksi susu
Kelanjutan sekresi susu terutama berkaitan dengan jumlah produksi hormon
prolaktin yang cukup dihipofisis anterior dan pengeluran susu yang efisien. Nutrisi
maternal dan masukan cairan merupakan faktor yang mempengaruhi jumlah dan
kualitas susu.
5

c.Ejeksi susu
Pergerakan susu di alveoli ke mulut bayi merupakan proses yang aktif di dalam
payudara. Proses ini tergantung pada refleks let-down atau refleks ejeksi susu. Refleks
let-down secara primer merupakan respon terhadap isapan bayi. Isapan menstimulasi
kelenjar hipofisis posterior untuk menyekresi oksitosin. Di bawah produksi oksitosin, selsel disekitar alveoli berkontraksi, mengeluarkan susu melalui sistem duktus ke dalam
mulut bayi.
d.Kolostrum
Kolostrum berwarna kuning kental berfungsi untuk kebutuhan bayi baru lahir.
Kolostrum mengandung antibody vital dan nutrisi padat dalam volume kecil, sesuai
sekali untuk makanan awal bayi. Menyusui dini yang efisien berkorelasi dengan
penurunan kadar bilirubin darah. Kolostrum secara bertahap berubah menjadi susu ibu
antara hari ketiga dan kelima masa nifas.
e.Susu ibu
Air susu ibu yng lebih awal keluar mengandung lebih sedikit lemak dan mengalir
lebih cepat daripada susu yang keluar pada bagian akhir menyusui. Air susu ibu pada
saat menjelang akhir pemberian makan, susu ini lebih putih dan mengandung lebih
banyak lemak. Kandungan lemak yang lebih tinggi ini memberikan rasa puas pada bayi.
Menyusui dengan cukup lama, membuat satu payudara menjadi lebih lunak, memberi
cukup kalori yang dibutuhkan untuk meningkatkan berat badan, menjarangkan jarak
antar menyusui dan mengurangi pembentukan gas dan kerewelan bayi karena
kandungan lemak yang lebih tinggi akan dicerna lebih lama, Woolridge, Fisher (1988 di
dalam Bobak 2004).
Bayi baru lahir yang cukup bulan dan sehat memiliki tiga refleks yang diperlukan agar
proses menyusui berhasil yaitu :
a. refleks rooting, refleks ini memungkinkan bayi baru lahir untuk menemukan puting
susu apabila diletakkan di payudara.
b. refleks mengisap yaitu saat bayi mengisi mulutnya dengan puting susu atau
pengganti puting susu sampai ke langit keras dan punggung lidah. Refleks ini
melibatkan rahang , lidah dan pipi.
c. refleks menelan yaitu gerakan pipi dan gusi dalam menelan areola, sehingga
refleks ini merangsang pembentukan rahang bayi (Saleha, 2009).
Keuntungan dan Manfaat Menyusui Bagi Bayi dan Ibu
Air susu adalah makanan pilihan utama untuk bayi. Seperti diketahui ASI adalah
makanan satu-satunya yang paling sempurna untuk menjamin tumbuh kembang bayi pada
enam bulan pertama.Menyusui memberi banyak keuntungan: nutrisi, imunologis dan
psikologis. Menurut Worthington-Roberts (1993, di dalam Bobak 2004) menyusui memiliki
6

banyak keuntungan sebagai berikut. Keuntungan menyusui bagi bayi antara lain: 1) bayi
mendapat immunoglobulin untuk melindunginya dari banyak penyakit dan infeksi; 2) bayi
lebih jarang menderita infeksi telinga dan saluran pernapasan atas; 3) bayi lebih jarang
mengalami diare dan penyakit saluran cerna lain; 4) bayi memiliki lebih sedikit kemungkinan
untuk menderita limfoma tipe tertentu; 5) jenis protein dalam ASI mengurangi kemungkinan
timbulnya reaksi alergi; 6) bayi yang disusui memiliki lebih sedikit masalah dengan
pemberian makanan yang berlebihan akibat (harus menghabiskan susu di botol); 7)
insidensi bayi untuk mengalami obesitas dan hipertensi pada dewasa menurun; 8) menyusui
meningkatkan kontak ibu-anak. Keuntungan Menyusui untuk Ibu antara lain: 1) menyusui
menyebabkan involusi uteri; 2) menyusui merupakan perlindungan terhadap kanker
ovarium; 3) resiko kanker payudara pramenopause menurun, khususnya jika laktasi
pertama terjadi sebelum usia 20 tahun dan berlangungsung selama sekurang-kurangnya 6
bulan; 4) resiko osteoporosis dapat dipastikan lebih kecil bagi wanita yang telah hamil dan
menyusui bayi mereka; 5) penundaan ovulasi mendukung pengaturan jarak anak; 6) sekresi
prolaktin meningkatkan relaksasi dan prolaktin serta oksitosin meningkatkan kelekatan ibuanak; 7) menurut Ruth Lawrence, memberdayakan seorang wanita untuk melakukan
sesuatu yang istimewa untuk bayinya. Hubungan seorang ibu dan bayinya melakukan
gerakan menghisap payudara mempertimbangkan sebagai ikatan paling kuat pada
manusia; 8) menghilangkan penggunaan kaleng formula, botol susu dan pelapis botol
menambah keuntungan dari sisi ekonomi (Sinclair, 2009).

Pemeliharaan Laktasi
Penyediaan berlangsung terus sesuai kebutuhan. Apabila bayi tidak disusui maka
penyediaan air susu tidak akan dimulai. Apabila seorang ibu dengan bayi kembar
menyusukan kedua bayinya bersama, maka penyediaan air susu akan tetap cukup untuk
kedua bayi tersebut. Makin sering bayi disusukan, penyediaan air susu juga makin banyak
(Saleha, 2009). Dua faktor yang mempengaruhi pemeliharaan laktasi adalah rangsangan
dan pengosongan payudara secara sempurna :
a. Rangsangan, yaitu sebagai respon dari pengisapan yang memacu pembentukan air
susu yang lebih banyak. Dan apabila bayi tidak dapat menyusu sejak awal maka ibu
dapat mmemeras air susu dari payudaranya dengan tangan atau menggunakan
pompa payudara. Akan tetapi, pengisapan oleh bayi akan memberikan rangsangan
yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kedua cara tersebut (Saleha, 2009).
b. Pengosongan sempurna payudara
Bayi sebaiknya mengosongkan payudara sebelum diberikan payudara yang lain.
Apabila payudara tidak mengosongkan yang kedua, maka pada pemberian air susu
yang berikutnya payudara kedua ini yang diberikan pertama kali. Apabila diinginkan
7

agar bayi benar-benar puas (kenyang), maka bayi perlu diberikan air susu pertama
(fore-milk) dan air susu kedua (hind-milk) untuk sekali minum. Hal ini hanya dapat
dicapai dengan pengosongan sempurna pada satu payudara (Saleha, 2009).
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain : 1) frekuensi pemberian
susu; 2) berat bayi saat lahir; 3) usia kehamilan saat melahirkan; 4) usia ibu dan paritas; 5)
stres penyakit akut; 6) mengonsumsi rokok; 6) mengonsumsi alkohol; 7) pil kontrasepsi
Sepuluh Langkah Keberhasilan Menyusui, Menurut Who/Unicef (1989)
Setiap fasilitas yang memberikan pelayanan maternitas dan perawatan neonatus
harus : 1) mempunyai kebijakan menyusui tertulis yang secara rutin dikomunikasikan
kepada semua staf perawatan kesehatan; 2) melatih keterampilan kepada semua staf
perawatan kesehatan dalam melaksanakan kebijakan ini; 3) memberitahu kepada semua
wanita hamil tentang keuntungan dan penatalaksanaan menyusui; 4) membantu ibu untuk
memulai menyusui setengah jam setelah melahirkan; 5) menunjukkan kepada ibu cara
menyusui dan bagaimana memelihara laktasi meskipun terpisah dari bayinya; 6) tidak
memberikan makanan atau minuman kepada bayi selain ASI jika tidak ada indikasi medik;
7) mempraktekkan perawatan bersama (rooming-in), izinkan ibu dan bayi untuk tinggal
bersama selama 24 jam sehari; 8) menganjurkan pemberian ASI sekehendak bayinya; 9)
tidak memberikan kempeng atau dot kepada bayi yang menyusu ibu; 10) membantu
mengembangkan pembentukan kelompok pendukung ibu menyusui dan merujuk ibu kepada
mereka ketika keluar dari rumah sakit atau klinik (Llewellyn,2001).
Cara Menyusui Yang Baik Dan Benar
Cara menyusui sangat mempengaruhi kenyamanan bayi menghisap air susu. Petugas
kesehatan perlu memberikan bimbingan pada ibu dalam minggu pertama setelah persalinan
(nifas) tentang cara-cara menyusui yang sebenarnya agar tidak menimbulkan masalah yaitu
dengan langkah-langkah berikut ini:
a. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit demi sedikit kemudian dioleskan pada
puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini bermanfaat sebagai desinfektan san
menjaga kelembaban puting susu (Suradi,dkk,2004).
b. Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara:
1. ibu duduk atau berbaring santai. Bila duduk lebih santai lebih baikmenggunakan
kursi yang lebih rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan punggung ibu bersandar
pada sandaran kursi

2. bayi dipegang satu lengan, kepala bayi terletak pasa lengkung siku ibu dan bokong
bayi terletak pada lengan. Kepala bayi tidak boleh tertengadah dan bokong bayi
ditahan dengan telapak tangan ibu
3. posisi tangan bayi diletakkan dibelakang ibu dan yang satu di depan
4. perut bayi menempel pada perut ibu, kepala bayi menghadap payudara (tidak
hanya membelokkan kepala bayi)
5. telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus
6. ibu menatap bayi dengan penuh kasih sayang (Suradi,dkk,2004).
c. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang dibawah.
Jangan menekan puting susu atau areolanya saja.
d. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara:
1.menyentuh pipi dengan puting susu atau,
2.menyentuh sisi mulut bayi
e. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu
dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi:
1. Usahakan sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi sehingga puting susu
berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat
penampungan ASI yang terletak di bawah areola
2. Setelah bayi mulai menghisap, payudara tak perlu dipegang atau disangga lagi
f.

(Suradi, dkk, 2004).


Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya ganti
menyusui pada payudara yang lain. Cara melepas isapan bayi: 1) jari kelingking ibu

dimasukkan ke mulut bayi; 2) dagu ditekan ke bawah


g. Menyusui berikutnya mulai dari payudara yang belum terkosongkan (yang dihisap
terakhir)
h. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu
i.

dan areola sekitarnya. Biarkan kering dengan sendirinya


Menyendawakan bayi. Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan
udara dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh-Jawa) setelah menyusui. Ketika
menyusui bayi ikut menelan udara yang dapat membuat perutnya penuh dan tidak enak
sebelum ia menyelesaikan minumnya. Menyendawakan bayi sangat penting dan
merupakan bagian dari proses menyusui. Lakukan setidaknya setidaknya setelah lima
menit bayi menyusui atau paling sedikit saat bayi berpindah payudara.
Ada tiga cara umum menyendawakan bayi : 1) gendong bayi dengan kuat di pundak,

wajah bayi menghadap ke belakang, beri dukungan dengan satu tangan pada bokongnya,
tepuk atau usap punggungnya dengan tangan lain; 2) telungkupkan bayi di pangkuan,
lambungnya berada di salah satu kaki, kepalanya menyandar di salah satu kaki lainnya.
Satu tangan memegangi tubuhnya dengan kuat, satu tangan lain menepuk atau mengusap
punggungnya sampai bersendawa; 3) dudukkan bayi di pangkuan, kepalanya menyandar ke
9

depan, dadanya ditahan dengan satu tangan. Pastikan kepalanya tidak mendongak ke
belakang. Tepuk atau gosok punggungnya (Danuatmaja, dkk.2007).
BODY POSITION (POSISI TUBUH)

Ibu santai & nyaman


Bahu tegang, condong kearah bayi
Badan bayi dekat, menghadap payudara
Badan bayi jauh dari badan ibu
Kepala bayi menyentuh payudara
Leher bayi berpaling
Dagu bayi menyentuh payudara (belakang bayi ditopang)
Dagu tidak menyentuh payudara (hanya bahu atau kepala yang ditopang)

RESPONSE (RESPON)
Bayi menyentuh payudara ketika ia lapar (bayi mencaripayudara)
Tidak ada respon terhadap payudara (tidak ada penelusuran)
Bayi mencari payudara dengan lidah
Bayi tidak berminat untuk menyusu
Bayi tenang dan siap pada payudara
Bayi gelisah atau menangis
Tanda-tanda pancaran susu (keluar setelah ada rasa sakit)
Bayi menghindar/tergelincir dari payudara
EMOTIONAL BONDING (IKATAN EMOSI)
Pelukan yang mantap dan percaya diri
Pelukan tidak mantap dan gugup
Perhatian terhadap muka dari si ibu
Tidak ada kontak mata ibu-bayi
Banyak sentuhan belaian dari ibu
Sedikit sentuhan atau menggoyang atau mendorong bayi
ANATOMY (ANATOMI)
Payudara lembek setelah menyusui
Payudara bengkak
Puting menonjol keluar, memanjang
Puting rata atau masuk ke dalam
Kulit tampak sehat
Fisura atau kemerahan pada kulit
Payudara tampak membulat sewaktu menyusui
Payudara tampak meregang atau
Tertarik
SUCKLING (MENGHISAP)
Mulut terbuka lebar
Mulut tidak terbuka lebar, mengarah ke depan
Bibir berputar keluar
Bibir bawah beputar ke dalam
Lidah berlekuk sekitar payudara
Lidah bayitidak tampak
10

Pipi membulat
Pipi tegang dan tertarik kedalam
Lebih banyak areola di atas mulut bayi
Lebih banyak areola dibawah mulut bayi
Mengisap pelan dan dalam, diselingi Istirahat
Dapat mengisap cepat
Dapat melihat atau mendengar
tegukannya
Dapat mendengar kecapan atau klikan

TIME (LAMANYA MENGISAP)


Bayi melepaskan payudara
Ibu melepaskan bayi dari payudara
Tanda-Tanda Perlekatan Bayi Saat Menyusu
Jika bayi tidak melekat dengan baik maka akan menimbulkan luka dan nyeri pada
putting susu dan payudara akan membengkak karena ASI tidak dapat dikeluarkan secara
efektif. Bayi merasa tidak puas dan ia ingin menyusu sering dan lama. Bayi akan mendapat
ASI sangat sedikit dan berat bayi tidak naik dan lambat laun ASI akan mongering (IDAI,
2008).
Tanda-tanda perlekatan bayi saat menyusui yang benar antara lain: 1) tampak areola
masuk sebanyak mungkin. Areola bagian atas lebih banyak terlihat; 2) mulut terbuka lebar;
3) bibir atas dan bawah terputar keluar; 4) dagu bayi menempel pada payudara; 5) gudang
ASI termasuk dalam jaringan yang masuk; 6) jaringan payudara meregang sehingga
membentuk dot yang panjang; 7) puting susu sekitar 1/3-1/4 bagian dari dot saja; 8) bayi
menyusu pada payudara, bukan puting susu; 9) lidah bayi terjulur melewati gusi bawah
(dibawah gudang ASI), melingkari dot jaringan payudara Sulistyawati,2009).
Lama Dan Frekuensi Menyusui
Lamanya menyusu berbeda-beda tiap periode menyusu. Rata-rata bayi menyusu
selama 5-15 menit, walaupun terkadang lebih. Bila proses menyusu berlangsung sangat
lama (lebih dari 30 menit) atau sangat cepat (kurang dari 5 menit) mungkin ada masalah.
Pada hari-hari pertama atau pada bayi berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram), proses
menyusu terkadang sangat lama dan hal ini merupakan hal yang wajar (IDAI, 2008).
Rentang frekuensi menyusui yang optimal adalah antara 8 hingga 12 kali setiap hari.
Meskipun mudah untuk membagi 24 jam menjadi 8 hingga 12 kali menyusui dan
menghasilkan perkiraan jadwal, cara ini bukan merupakan cara makan sebagian besar bayi.
Banyak bayi dalam rentang beberapa jam menyusu beberapa kali, tidur untuk beberapa jam
dan bangun untuk menyusu lagi. Ibu sebaiknya dianjurkan untuk menyusui sebagai respon
11

isyarat bayi dan berhenti menyusui bila bayi tampak kenyang (isyarat kenyang meliputi
relaksasi seluruh tubuh, tidur saat menyusu dan melepaskan puting), (Verney, 2007).
Sebaiknya bayi disusui secara nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan
sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab
lain (karena kepanasan/kedinginan, atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa
perlu menyusukan bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 57 menit dan lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi akan
menyusu dengan jadwal yang tak teratur dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2
minggu kemudian (Suradi,dkk,2004). Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang
baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya.
Dengan menyusui, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui.
Ibu yang bekerja di luar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila
sering disusukan pada malam hari akan memacu produksi ASI (Suradi, dkk,2004).
2.3 Pengkajian Apgar
Penilaian APGAR score adalah salah satu sistem yang digunakan menilai tingkat
asfikisa berdasarkan 5 komponen, antara lain penilaian frekuensi jantung, kemampuan
bernapas, tonus otot, refleks terhadap rangsangan, dan warna kulit. Penilaian ini dilakukan
sesaat setelah bayi lahir (Aziz, 2008)
Tabel1.1 Komponen Penialian APGAR Score
Komponen

Frekuensi

Skor
0
Tidak ada

jantung
Kemampuan

Tidak ada

Lambat/tidak teratur

bernapas
Tonus otot

Lumpuh

Ektremitas agak fleksi

Refleks

1
<100x/menit

2
>100x/menit
>100x/menit

Menangis

kuat/

Tidak ada

Gerakan sedikit

gerakan aktif

Biru/pucat

Tubuh

Gerakan

kemerahan/ekstremita

kuat/melawan

Warna kulit

s biru
Seluruh

tubuh

kemerahan
Prosedur
12

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Hitung frekuensi jantung


Kaji kemampuan bernapas
Kaji tonus otot
Kaji kemampuan refleks
Kaji warna kulit
Hitung total skor yang didapat dari hasil pengkajian
Tentukan hasil penilaian ke dalam tiga kategori asfikisia, yaitu :
a. Adaptasi baik
: skor 7-10
b. Asfiksia ringan-sedang
: skor 4-6
c. Asfiksia berat
: skor 0-3

Penilaian tersebut dilakukan 1 menit, 5 menit, 10 menit dan 15 menit setela bayi baru lahir.
2.4 Adaptasi Neurological
1. Sistem neurologis bayi secara anatomik atau fisiologis belum berkembang sempurna.
2. Bayi baru lahir menunjukkan gerakan-gerakan tidak terkoordinasi, pengaturan suhu
yang labil, kontrol otot yang buruk, mudah terkejut, dan tremor pada ekstremitas.
3. Perkembangan neonatus terjadi cepat; sewaktu bayi tumbuh, perilaku yang lebih
kompleks (misalnya, kontrol kepala, tersenyum, dan meraih dengan tujuan) akan
berkembang.
4. Reflek bayi baru lahir merupakan indikator penting perkembangan
Refleks pada Bayi Baru Lahir
Refleks
Merangkak

Tonik leher atau fencing

Respon Normal
Bayi akan berusaha untuk

Respons Abnormal
Respons asimetris

merangkak ke depan dengan

pada cedera saraf SSP atau

ke dua tangan dan kaki bila

perifer atau fraktur tulang

diletakkan telungkup pada

panjang

permukaan datar
Ekstremitas pada satu sisi di

Respon

mana

bulan

akan

kepala

ditolehkan

ekstensi,

ekstremitas

dan
yang

terlihat

persisten
ke

setelah

empat

menandakan

dapat
cedera

neurologis.

Respons

berlawanan akan fleksi bila

menetap

tampak

pada

kepala bayi ditolehkan ke

cedera SSP dan gangguan

satu sisi selagi beristirahat.

neurologis.

Respons ini dapat tidak ada


atau tidak lengkap segera
Terkejut

setelah lahir.
Bayi melakukan abduksi dan

Tidak adanya respons dapat

fleksi

menandakan

seluruh

ekstremitas

dan dapt mulai menangis

neurologis

bila

Tidak

mendapat

gerakan

defisit
atau

adanya

cedera.
respons
13

mendapat mendadak atau

secara

lengkap

suara keras.

konsisten

terhadap

keras

dapat

ketulian.

tidak

berkurang

bunyi

menandakan

Respos

menjadi

Ekstensi silang

dan

dapat

ada

selama

atau
tidur

Kaki bayi berlawanan akan

dalam.
Respons yang lemah atau

fleksi dan kemudian ekstensi

tidak ada respons terlihat

dengan

pada

cepat

seolah-olah

berusaha

untuk

memindahkan stimulus ke

cedera

saraf

saraf

perifer atau fraktur tulang


panjang.

kaki yang lain bila diletakkan


telentang;

bayi

akan

mengekstensikan satu kaki


sebagai respons
Glabellar blink

Palmar grasp

terhadap

stimulus pada telapak kaki.


Bayi akan berkedip bila

Terus berkedip dan gagal

dilakukan 4 atau 5 ketuk

untuk berkedip menandakan

pertama pada batang hidung

kemungkinan

pada saat mata terbuka.


Jari bayi akan melekuk di

neurologis
Respons ini berkurang pada

sekeliling

prematuritas.

benda

menggenggamnya

dan
seketika

Tanda Babinski

Asimetris

terjadi pada kerusakan saraf

bila jari diletakkan di telapak

perifer

tangan bayi.

atau fraktur humerus. Tidak


ada

Plantar grasp

gangguan

Jari-jari

kaki

bayi

akan

(pleksus

repons

brakialis)

terjadi

pada

defisit neurologis yang berat.


Respons yang berkurang

melekuk ke bawah bila jari

terjadi

diletakkan di dasar jari-jari

Tidak

kakinya.

pada defisit neurologis yang

Jari-jari

kaki

bayi

akan

hiperekstensi dan terpisah

pada
ada

prematuritas.
repons

terjadi

berat.
Tidak ada respons terjadi
pada defisit SSP

seperti kipas dari bila satu


sisi kaki digosok dari tumit ke
atas melintasi bantalan kaki.
14

Melangkah

Kaki akan bergerak ke atas

Refleks menetap melebihi 4-

dan ke bawah bila sedikit

disentuhkan ke permukaan

keadaan abnormal

keras
Ekstrusi

Galants

Moro

dijumai

pada

merupakan

4-8

minggu pertama
Lidah ekstensi ke arah luar

Ekstensi lidah yang persisten

bila disentuh, dijumpai pada

adanya sindrom down

usia 4 bulan
Punggung bayi bergerak ke

Tidak

arah

menunjukkan

samping

bila

di

adanya

refleks
lesi

stimulasi, dijumpai pada 4-8

medulaspinalis transversal

minggu pertama
Lengan ekstensi,

jari-jari

Refleks yang menetap lebih

mengembang,

kepala dari

terlempar
tungkai

ke

belakang,

sedikit

ekstensi,

lengan kembali ke tengah


dengan
belakang

dan

bulan.

Adanya

otak,

respons

kerusakan
tidak

simetris,

adanya

hemiparesis, fraktur klavikula

tangan atau

menggenggam

Rooting

minggu

cedera

pleksus

tulang brakialis, tidak ada respons


ekstremitas

ekstremitas bawah, adanya

bawah ekstensi. Lebih kuat

dislokasi pinggul atau cedera

selama 2 bulan menghilang

medula spinalis.

pada usia 3-4 bulan


Bayi memutar ke arah pipi

Tidak

yang

menunjukkan

digores,

refleks

ini

menghilang pada usia 3-4

adanya

refleks
adanya

gangguan neurologis berat

bulan, tetapi bisa menetap


sampai
Menghisap

usia

12

bulan,

khususnya selama tidur


Bayi menghisap dengan kuat

Refleks yang lemah atau

dalam berespons terhadap

tidak

ada

menunjukkan

stimulasi, refleks ini menetap

kelambatan

perkembangan

selama

atau

masa

bayi

dan

mungkin terjadi selama tidur

keadaan

neurologis

yang abnormal.

tanpa stimulasi.

2.5 Adaptasi Respiratory Newborn

15

Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta dan
setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru-paru bayi.Organ yang bertanggung
jawab untuk oksigensi janin sebelum bayi lahir adalah plasenta. Selama masa kehamilan
bayi mengalami banyak perkembangan yang menyediakan infrastruktur untuk mulainya
proses pernapasan. Pada masa kehamilan di trimester II atau III janin sudah
mengembangkan otot-otot yang diperlukan untuk bernapas, alveoli juga berkembang dan
sudah mampu menghasilkan surfaktan, fosfolipid yang mengurangi tegangan permukaan
pada tempat pertemuan antara udara- alveoli.Ruang interstitial antara alveoli sangat tipis
sehinga memungkinkan kontak maksimum antara kapiler dan alveoli untuk pertukaran
udara.
Pada saat bayi lahir, dinding alveoli disatukan oleh tegangan permukaan cairan kental
yang melapisinya.Diperlukan lebih dari 25 mmHg tekanan negatif untuk melawan pengaruh
tegangan permukaan tersebut dan untuk membuka alveoli untuk pertama kalinya.Tetapi
sekali membuka alveoli, pernapasan selanjutnya dapat di pengaruhi pergerakan pernapasan
yang relatif lemah.Untungnya pernapasan bayi baru lahir yang pertamakali sangat kuat,
biasanya mampu menimbulkan tekanan negatif sebesar 50 mmHg dalam ruang intrapleura.
Pada bayi baru lahir, kekuatan otototot pernapasan dan kemampuan diafragma untuk
bergerak, secara langsung mempengaruhi kekuatan setiap inspirasi dan ekpirasi.Bayi yang
baru lahir yang sehat mengatur sendiri usaha bernapas sehingga mencapai keseimbangan
yang tepat antar-oksigen, karbon dioksida, dan kapasitas residu fungsional. Frekuensi
napas pada bayi baru lahir yang normal adalah 40 kali permenit dengan rentang 3060 kali
permenit ( pernapasan diafragma dan abdomen ) apabila frekuensi secara konsisten lebih
dari 60 kali permenit, dengan atau tanpa cuping hidung, suara dengkur atau retraksi dinding
dada, jelas merupakan respon abnormal pada 2 jam setelah kelahiran.
Rangsangan gerakan pernapasan pertama terjadi karena beberapa hal berikut :
1. Tekanan mekanik dari torak sewaktu melalui jalan lahir (stimulasi mekanik)
2. Penurunan PaO2 dan peningkatan PaO2 merangsang kemoreseptor yang terletak di
sinus karotikus (stimulasi mekanik).
3. Rangsangan dingin di daerah muka dan perubahan suhu di salam uterus ( stimulasi
sensorik).
4. Refleks deflasi Hering Breur.
Pernapasan pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 menit pertama sesudah
lahir.Usaha bayi pertama kali untuk mempertahankan tekanan alveoli, selain karena adanya
surfaktan juga karena adanya tarikan nafas dan pengeluaran napas dengan merintih
sehingga udara bisa gtertahan di dalam. Cara neonatus bernapas dengan cara bernapas
difragmatik dan abdominal, sedangkan untuk frekuensi dan dalamnya bernapas belum
teratur. Apabila surfaktan berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru-paru kaku,
16

sehingga

terjadi

atelektasis.

Dalam

kondisi

seperti

ini(anoksia),

neonatus

masih

mempertahankan hidupnya karena adanya kelanjutan metabolism anaerobik.


a. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang dan
kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini terus
berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolus akan
sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas
sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan
hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan
alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
b. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
2) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru - paru secara mekanis.
Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat
menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang
diperlukan untuk kehidupan.
3) Penimbunan karbondioksida (CO2). Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam
darah dan akan merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan
pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan
tingkat gerakan pernapasan janin.
4) Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
c. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1). Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2). Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin /sfingomielin) yang
cukup dan aliran darah ke paru paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu
kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar 30-34 minggu
kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan permukaan paru dan
membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir
pernapasan. Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir
pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan
17

penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan
stres pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.
d. Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi melewati jalan
lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang
bayi yang dilahirkan secara sectio cesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga
dada dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan
beberapa kali tarikan napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus
BBL. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe
dan darah.
e. Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi

yang

memadai

merupakan

faktor

yang

sangat

penting

dalam

mempertahankan kecukupan pertukaran udara.Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah


paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak ada pembuluh
darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga
menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus
dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi
janin menjadi sirkulasi luar rahim.

2.6 Adaptasi Kardio Dan Sirkulasi Newborn


Sebelum lahir, janin hanya bergantung pada placenta untuk semua pertukaran gas
dan ekskresi sisa metabolik. Dengan pelepasan placenta pada saat lahir, sistem sirkulasi
bayi harus melakukan penyesuaian mayor guna mengalihkan darah yang tidak
mengandung oksigen menjurju paru untuk direoksigenasi. Hal ini melibatkan beberapa
mikanisme, yang dipengaruhi oleh penjepiitan tli pusat dan juga oleh penurunan resistensi
bantalan paru
Selama kehidupan janin hanya sekitar 10% curah jantung dialirkan menuju paru
melalui arteri pulmonalis. Dengan ekspansi paru dan penurunan resistensi vaskuler paru,
hampir semua curah jantung dikirim menuju paru. Darh yang berisi oksigen menuju ke
jantung dari paru meningkatkan tekanan di atrium kiri . pada saat hampir bersamaan,
18

tekanan di atrium kanan berkurang karena darah berhenti mengalir melewati tali pusat.
Akibaatnya, terjadi penutupan fungsional foramen ovale. Selama beberapa hari pertama
kehidupan, penutupan ini bersifat reversible, pembukaan dapat kembali terjadi bila resistensi
vaskuler paru tinggi, misalnya saat menangis yang menyebabkan serangan sianotik
sementara pada bayi. Septum biasanya menyatu pada tahun pertama kehidupan dengan
membentuk septum intra atrial, meskipun pada sebagian individu penutupan anatomi yang
sempurna tidak pernah terjadi
Adaptasi kardiovaskular
1. Berbagai perubahan anatomi berlangsung setelah lahir; beberapa perubahan terjadi
dengan cepat, dan sebagian lagi terjadi seiring dengan waktu (tabel 11-1)
2. Sirkulasi perifer lambat, yang menyebabkan akrasianosis (sianois pada tangan dan
kaki sekitar mulut).
3. Denyut nadi adalah 120-160 kali permenit saat bangun dan 100 kali per menit saat
tidur.
4. Rata- rata tekanan darh adalah 80/46 mmHg dan bervariasi sesuai dengan ukuran
dan tingkat aktivitas bayi.
5. Tabel di bawah memberikan nilai-nilai hematologi normal pada bayi baru lahir

19

Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
Perubahan Pada Sistem Peredaran Darah
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan
mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan. Untuk
membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan besar :
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem
pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan cara
mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam system pembuluh darah
1) Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan
atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya aliran darah
ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan
atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan
oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2) Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan
meningkatkan tekanan pada atrium

kanan oksigen pada pernafasan ini

menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru. Peningkatan

20

sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada


atrium kanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan pada
atrium kiri, toramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri, foramen ovali secara
fungsional akan menutup.Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika
dari tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan
setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3
bulan.
Perbedaan sirkulasi darah fetus dan bayi
a. sirkulasi darah fetus
1) Struktur tambahan pada sirkulasi fetus
a) Vena umbulicalis : membawa darah yang telah mengalami deoksigenasi dari
plasenta ke permukaan dalam hepar
b) Ductus venosus : meninggalkan vena umbilicalis sebelum mencapai hepar dan
mengalirkan sebagian besar darah baru yang mengalami oksigenasi ke dalam
vena cava inferior.
c) Foramen ovale : merupakan lubang yang memungkinkan darah lewat atrium
dextra ke dalam ventriculus sinistra
d) Ductus arteriosus : merupakan bypass yang terbentang dari venrtriculuc dexter
dan aorta desendens
e) Arteri hypogastrica : dua pembuluh darah yang mengembalikan darah dari fetus
ke plasenta. Pada feniculus umbulicalis, arteri ini dikenal sebagai ateri umbilicalis.
Di dalam tubuh fetus arteri tersebut dikenal sebagai arteri hypogastica.

2) Sistem sirkulasi fetus


a) Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke
permukaan

dalam

hepar.

Vena

hepatica

meninggalkan

hepar

dan

mengembalikan darah ke vena cava inferior


b) Ductus venosus : adalah cabang cabang dari vena umbilicalis dan mengalirkan
sejumlah besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior

21

c) Vena cava inferior : telah mengalirkan darah yang telah beredar dalam
ekstremitas inferior dan badan fetus, menerima darah dari vena hepatica dan
ductus venosus dan membawanya ke atrium dextrum
d) Foramen ovale : memungkinkan lewatnya sebagian besar darah yang
mengalami oksigenasi dalam ventriculus dextra untuk menuju ke atrium sinistra,
dari sini darah melewati valvula mitralis ke ventriculuc sinister dan kemudian
melaui aorta masuk kedalam cabang ascendensnya untuk memasok darah bagi
kepala dan ekstremitas superior. Dengan demikian hepar, jantung dan serebrum
menerima darah baru yang mengalami oksigenase
e) Vena cava superior : mengembalikan darah dari kepala dan ekstremitas superior
ke atrium dextrum. Darah ini bersama sisa aliran yang dibawa oleh vena cava
inferior melewati valvula tricuspidallis masuk ke dalam venriculus dexter
f)

Arteria pulmonalis : mengalirkan darah campuran ke paru - paru yang


nonfungsional, yanghanya memerlukan nutrien sedikit

g) Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus


dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis
dan ekstremitas inferior
h) Arteria hypogastrica : merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa
darah kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan nutrien
yang dipasok dari peredaran darah maternal
b. Perubahan pada saat lahir
1) Penghentian pasokan darah dari plasenta
2) Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru
3) Penutupan foramen ovale
4) Fibrosis
a) Vena umbilicalis
b) Ductus venosus
c) Arteriae hypogastrica
d) Ductus arteriosus
22

2.7 Adaptasi Renal System


Laju filtrasi glomerulus secara relatif rendah pada waktu lahir disebabkan oleh tidak

adekuatnya area permukaan kapiler glomerulus.


Meskipun keterbatasan ini tidak mengancam bayi baru lahir yang normal, tetapi

menghambat kapasitas bayi untuk berespon terhadap stressor.


Penurunan kemampuan untuk mengekskresikan obat-obatan dan kehilangan cairan

yang berkebhan mengakibatkan asidosis dan ketidakseimbangan cairan.


Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir dan dua
sampai enam kali sehari pada 1 sampai 2 hari pertama; setelah itu mereka berkemih

5 sampai 20 kali dalam 24 jam.


Urine dapat keruh karena lendir dan garam asam urat; noda kemerahan dapat
diamati pada popok karena kristal asam urat.

2.8 Adaptasi Imun System


Sel-sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada awal kehidupan janin. Namun
sel ini tidak aktif beberapa bulan. Selama tiga bulan pertama kehidupannya, bayi dilindungi
oleh kekebalan pasif yang diterima dari ibu. Barier alami seperti keasaman lambung atau
produksi pepsin dan tripsin yang mempertahankan kesterilan usus halus. IgA sebagai
pelindung membran lenyap dari traktus naps dan traktus urinarius dan traktus
gastrointestinal kecuali jika bayi diberi ASI. Bayi mulai menyintesa IgG dan mencapai
sekitar 40% kadar IgG orang dewasa pada usia 1 tahun, sedangkan kadar orang dewasa
dicapai pada usia 9 bulan. IgA, IgD dan IgE diproduksi secara lebih bertahap dan kadar
maksimum tidak dicapai sampai pada masa kanak-kanak dini (Bobak, 2005)
2.9 Adaptasi Hepatic Adaptasi
a. Selama kehidupan janin dan sampai tingkat tertentu setelah lahir, hati terus menerus
membantu pembentukan darah.
b. Selama periode neonatus, hati memproduksi zat yang esensial untuk pembekuan
darah.
c. Penyimpanan zat besi ibu cukup memadai bagi bayi sampai lima bulan kehidupan
ekstrauterin; pada saat ini bayi baru lahir menjadi rentan terhadap defisiensi zat besi.
d. Hati juga mengontrol jumlah bilirubin tak terkonjugasi yang bersirkulasi, pigmen
berasal dari hemoglobin dan dilepaskan bersamaan dengan pemecahan sel-sel darah
merah.
e. Bilirubin tak terkonjugasi dapat meninggalkan sistem vaskular dan menembus jaringan
ekstravaskular
f.

lainnya

(misalnya

kulit,

sklera,

dan

membran

mukosa

oral)

mengakibatkan warna kuning yang disebut jaundice atau ikterus.


Pada stres dingin yang lama, glikolisis anaerobik terjadi, yang mengakibatkan
peningkatan produksi asam. Asidosis metabolik terjadi dan jika terdapat defek fungsi
pernapasan asidosis respiratorik dapat terjadi. Asam lemak yang berlebihan
menggeser bilirubin dari tempat-tempat pengikatan albumin. Peningkatan kadar

23

bilirubin tidak berikatan yang bersirkulasi mengakibatkan peningkatan resiko


kernikterus bahkan pada kadar bilirubin serum 10 mg/dL atau kurang.
2.10 Adaptasi Gi System
1. Enzim- enzim digestif aktif pada waktu lahir dan dapat menyokong kehidupan
ekstrauterin pada kehamilan 36 sampai 38 minggu.
2. Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai; pencernaan dan absorbsi lemak
kurang baik karena tidak adekuatya enzim-enzim pankreas dan lipase
3. Kelenjar saliva imatur waktu lahir; sedikit saliva diolah sampai bayi berusia 3 bulan.
4. Pengeluaran mekonium, yang merupakan tinja berwarna hitam kehijauan, lengket,
dan mengandung darah samar, diekskresikan dalam 24 jam pada 90% bayi baru
lahir yang normal.
5. Kemampuan menelan dan mencerna makanan masih terbatas, mengingat hubungan
esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang dapat menyebabkan
2.11

gumoh dan kapasitasnya sangat terbatas kurang lebih 30 cc


Adaptasi Termoregulasi Adaptasi
Suhu bayi lahir dapat turun beberapa drajat setelah kelahiran karena lingkungan

eksternal lebih dingin daripada lingkungan di dalam uterus.


Suplai lemak subkutan yang terbatas dan area permukaan kulit yang besar
dibandingkan dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas

pada lingkungan.
Kehilangan panas yang cepat dalam lingkungan yang dingin terjadi melalui konduksi,

konveksi, radiasi, dan evaporasi


Trauma dingin/ cold stres (hipotermia) pada bayi baru lahir, dalam hubungannya
dengan asidosis metabolik, dapat bersifat mematikan bahkan pada bayi cukup bulan

yang sehat.
Pada saat lingkungan dingin, terjadi pembentukan suhu tanpa melalui mekanisme
menggigil yang merupakan cara untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya serta
hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Adanya timbunan lemak
tersebut menyebabkan panas tubuh meningkat, sehingga terjadilah proses adaptasi.
Dalam pembakaran lemak, agar menjadi panas, bayi menggunakan kadar glukosa.
Selanjutnya cadangan lemak tersebut akan habis dengan adanya stres dingin dan

2.12

bila bayi kedinginan akan mengalami proses hipoglikemia, hipoksi, dan asidosis.
Ballart Score

Ballard score merupakan suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur ini penggunaan
kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang dan beristirahat,
sehingga lebih dapat diandalkan selama beberapa jam pertama kehidupan. Penilaian
menurut Ballard adalah dengan menggabungkan hasil penilaian maturitas neuromuskuler
dan maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan maturitas neuromuskuler diberi skor, demikian pula
kriteria pemeriksaan maturitas fisik. Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan
maturitas fisik digabungkan.
24

Organ
Kulit

Lanugo

Nilai
0
Gelatin

1
Merah

2
Superfisial

3
Pucat,

4
Keras,

5
Kasar,

merah,

muda,

mengupas

retak, vena pecah

pecah,

transparan

vena

dan/

tampak

ruam,

dalam,

vena

tanpa

jarang

pembuluh

Tidak ada

banyak

atau jarang

tipis

bagian

Daerah

darah
Sebagian

gundul

besar

Lipatan

Tidak ada Merah

Depan ada Lipata

gunsul
Lipatan kulit

telapak

lipatan

lipatan

anterior

menutup

transal

2/3

seluruh

redup

kaki
Payudara

Telinga

Sulit

Areola

Areola

Areola

telapak kaki
Areola

ditentukan

datar,

menimbul

menonjol,

penuh

puting

sedikit,

puting 3-4 puting 5-10

tidak ada

puting 1-2 mm

mm

Puncak

Puncaknya

mm
Lekungan

Berbentuk

Tulang

datar,

lekukan,

puncak

keras

rawan

hanya

lunak

telinga

dengan

tebal,

lipatan

dengan

baik,

kerutannya

telinga kaku

kerutan

sudah

Genetalia

Skrotum

berkerut
Testis

Testis

Testis

pria

kosong,

turun,

turun,

bergantung

tanpa

beberapa

rugae

Genita

rugae
Klitoris dan

rugae
Labia

cukup
Labia

dalam
Klitoris dan

wanita

labia

minora

mayora

minora

minora

dan

menonjol

mayora

minora

sama

kecil

dan besar,

keriput

rugae

tertutup
seluruhnya

monojol

25

1. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan
dengan hilangnya lapisan pelindung secara bertahap. Oleh karena itu, kulit akan mengering
dan menjadi kusut dan mungkin akan timbul ruam.Pada jangka panjang, janin dapat
mengalihkan mekonium ke dalam cairan ketuban. Hal ini dapat menambahkan efek untuk
mempercepat proses pengeringan, menyebabkan kulit mengelupas, menjadi retak seperti
dehidrasi, kemudian menjadi kasar.

2. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus menutupi tubuh janin. Pada orang dewasa, kulit tidak
memiliki lanugo. Hal ini mulai muncul di sekitar minggu 24 sampai 25 dan biasanya muncul
terutama di bahu dan punggung atas, pada minggu 28 kehamilan. Penipisan terjadi pertama
di atas punggung bawah, karena posisi janin yang tertekuk. Daerah kebotakan muncul dan
menjadi lebih besar pada daerah lumbo-sakral. Variabilitas dalam jumlah dan lokasi lanugo
pada usia kehamilan tertentu mungkin disebabkan sebagian ciri-ciri keluarga atau ras,
pengaruh hormonal, metabolisme, dan gizi tertentu. Sebagai contoh, bayi dari ibu diabetes
khas memiliki lanugo berlimpah di pinnae mereka dan punggung atas sampai mendekati
atau melampaui usia kehamilan. Untuk tujuan penilaian, pemeriksa memilih yang paling
dekat menggambarkan jumlah relatif lanugo pada daerah atas dan bawah dari punggung
bayi.

3. Garis Telapak Kaki

26

Bagian ini berhubungan dengan lipatan di telapak kaki. Penampilan pertama dari lipatan
muncul di telapak anterior kaki. ini mungkin berhubungan dengan fleksi kaki di rahim, tetapi
bisa juga karena dehidrasi kulit. Bayi non-kulit putih telah dilaporkan memiliki lipatan kaki
sedikit pada saat lahir. Tidak ada penjelasan yang dikenal untuk ini. Di sisi lain dilaporkan,
percepatan perkembangan neuromuskuler pada bayi kulit hitam biasanya mengkompensasi
ini, mengakibatkan efek lipatan kaki tertunda. Oleh karena itu, biasanya tidak ada
berdasarkan diatas atau di bawah perkiraan usia kehamilan karena ras ketika total skor
dilakukan. Bayi sangat prematur dan sangat tidak dewasa tidak memiliki lipatan kaki. Untuk
lebih membantu menentukan usia kehamilan, mengukur panjang kaki atau jarak jari dan
tumit

4. Payudara
Tunas payudara terdiri dari jaringan payudara yang dirangsang untuk tumbuh dengan
estrogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung pada status gizi janin. pemeriksa catatan
ukuran areola dan ada atau tidak adanya stippling (perkembangan papila dari Montgomery).
Palpasi jaringan payudara di bawah kulit dengan memegangnya dengan ibu jari dan
telunjuk, memperkirakan diameter dalam milimeter, dan memilih yang sesuai pada lembar
skor. Kurang dan lebih gizi janin dapat mempengaruhi variasi ukuran payudara pada usia
kehamilan tertentu. Efek estrogen ibu dapat menghasilkan ginekomastia neonatus pada hari
keempat kehidupan ekstrauterin

5. Mata / Telinga

27

Perubahan pinna dari telinga janin dapat dijadikan penilaian konfigurasi dan peningkatan
konten tulang rawan sebagai kemajuan pematangan. Penilaian meliputi palpasi untuk
ketebalan tulang rawan, kemudian melipat pinna maju ke arah wajah dan melepaskannya.
Pemeriksa mencatat kecepatan pinna dilipat dan kembali menjauh dari wajah ketika dilepas,
kemudian memilih yang paling dekat menggambarkan tingkat perkembangan cartilago.Pada
bayi yang sangat prematur, pinnae mungkin tetap terlipat ketika dilepas. Pada bayi tersebut,
pemeriksa mencatat keadaan pembukaan kelopak mata sebagai indikator tambahan
pematangan janin. Pemeriksa meletakan ibu jari dan telunjuk pada kelopak atas dan bawah,
dengan lembut memisahkannya. Bayi yang sangat belum dewasa akan memiliki kelopak
mata menyatu erat, yaitu, pemeriksa tidak akan dapat memisahkan fisura palpebra
walaupun dengan traksi lembut. Bayi sedikit lebih dewasa akan memiliki satu atau kedua
kelopak mata menyatu tetapi satu atau keduanya akan sebagian dipisahkan oleh traksi
ujung jari pemeriksa.

6. Genitalia Pria
Testis janin mulai turun dari rongga peritoneum ke dalam kantong skrotum pada sekitar
minggu 30 kehamilan. Testis kiri mendahului testis kanan yang biasanya baru memasuki
skrotum pada minggu ke-32. Pada saat testis turun, kulit skrotum mengental dan
membentuk rugae lebih banyak. Testis ditemukan di dalam zona rugated dianggap turun.

7.Genitalia Wanita

28

Untuk memeriksa bayi perempuan, pinggul harus dinaikan sedikit, sekitar 45 dari
horizontal dengan bayi berbaring telentang. hal ini menyebabkan klitoris dan labia minora
menonjol. Dalam prematuritas ekstrim, labia dan klitoris yang datar sangat menonjol dan
mungkin menyerupai kelamin laki-laki. Pematangan berlangsung jika ditemukan klitoris
kurang menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Lama-kelamaan, baik klitoris dan
labia minora surut dan akhirnya diselimuti oleh labia majora yang makin besar. Labia
mayora mengandung lemak dan ukuran mereka dipengaruhi oleh nutrisi intrauterin. Gizi
lebih dapat menyebabkan labia majora besar di awal kehamilan, sedangkan gizi kurang
seperti

pada

retardasi

pertumbuhan

intrauterin

atau

pasca-jatuh

tempo,

dapat

mengakibatkan labia majora kecil dengan klitoris dan labia minora relatif menonjol.

29

Hasil Pemeriksaan
Jumlah skor pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan,
kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan masa gestasinya.

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN
Adapatasi bayi baru lahir (BBL) adalah penyesuaian diri individu (BBL) dari keadaan

yang sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan
dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna (dalam kandungan Ibu)
yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke lingkungan eksterna
30

(diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang
lain untuk memenuhinya.
Periode adaptasi ini disebut sebagai periode transisi, yaitu dari kehidupan di dalam
rahim ke kehidupan di luar rahim. Periode ini berlagsung sampai 1 bulan atau lebih. Transisi
yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi, sistem
termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa.
Perubahan fisiologis yang terjadi pada bayi baru lahir meliputi : Perubahan sistim
pernapasan / respirasi, Perubahan pada sistem peredaran darah, Pengaturan Suhu,
Metabolisme Glukosa, Perubahan sistem gastrointestinal dan Sistem kekebalan tubuh/
imun.
Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh.
Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan
kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernapasan, denyut jantung, sirkulasi
darah dan refleks refleks primitive seperti menghisap dan mencari putting susu. Bila tidak
ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat
dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan
spontan dalam 10 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk
cacat. Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR Score).
Penilaian APGAR skor ini dilakukan pada menit pertama kelahiran untuk memberi
kesempatan kepada bayi memulai perubahan kemudian menit ke-5 serta pada menit ke-10.
Penilaian dapat dilakukan lebih sering jika ada nilai yang rendah dan perlu tindakan
resusitasi. Penilaian menit ke-10 memberikan indikasi morbiditas pada masa mendatang,
nilai yang rendah berhubungan dengan kondisi neurologis.

REFERENSI
1. Dewi,L.Nanny Vivian.(2010).Asuhan Neonatal Bayi dan Bidan.Jakarta:Salemba
Medika.
2. Stright, B. R. Panduan Belajar: Keperawatan Ibu-Bayi Baru Lahir. Ed-3. JAKARTA:
EGC.
3. Hidayat, Aziz Alimul. 2008. Buku Saku Praktikum keperawatan anak. Jakarta : EGC.
4. Stright, Barbara R. Panduan Belajar: Keperawtan Ibu-Bayi Baru Lahir; Editor Bahasa
Indonesia Nike Budhi Subekti- Ed, 3. Jakarta: ECG 2004

31

5. Darmayanti, Ika Putri, Dkk Buku Ajar Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ibu
Bersalin Dan Bayi Baru Lahir Ed, 1, Cet. 1- Yogyakarta: Deepublish, September
2014
6. Hidayat, A.Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
7. Panduan belajar: keperawatan ibu-bayi baru lahir / Barbara R. Stright; alih bahasa,
Maria A. Wijayarini ; editor edisi bahasa Indonesia, Nike Budhi Subekti. Ed.3.
Jakarta : EGC, 2004
8. Pengantar kuliah obstetri / penulis, Ida Bagus Gde Manuaba, Ida Ayu Chandranita
Manuaba, Ida Bagus Gde Fajar Manuaba, - Jakarta : EGC, 2007.
9. Perawatan bayi risiko tinggi / penulis, Asrining Surasmi, Siti Handayani, eni Nur
Kusuma ; editor, Monica Ester. Jakarta : EGC, 2003
10. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31540/4/Chapter%20II.pdf.

Diakses

30 Agustus 2015.
11. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/123/jtptunimus-gdl-ikaratnawu-6116-2-babii.pdf.
diakses 30 Agustus 2015.

32

Anda mungkin juga menyukai