Anda di halaman 1dari 12

Tinea Cruris pada Lipatan Paha

Martha Leonora Haryatmo Tandri


102013051
Leonora_martha@yahoo.com
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Baraat 11510

Pendahuluan
Fungsi utama kulit ialah proteksi,absorpsi,ekskresi dan keratinasi. Dinegara yang
beriklim tropis dengan kelembaban udara relatif tinggi , akan menyebabkan kulit menjadi mudah
berpeluh, dan memicu terjadinya penyakit jamur.Pada infeksi kulit karena jamur selain gatal
gejalanya berupa bercak putih bersisik halus atau bintil merah . Tanda awal kulit terkena infeksi
jamur adalah rasa gatal yang hebat saat kulit berkeringat.Gejala penyakit jamur pada kulit juga
bergantung pada bagian kulit yang terkena serta jenis jamur penyebabnya . Pada dasarnya jamur
paling sering menyerang lokasi yang lembab dan sering terjadi pada orang yang kurang menjaga
kebersihan.infeksi pada penyakit kulit dapat ditimbulkan juga dari jamur.golongan jamur yang
menyerang ini mempunyai sifat mencernakan keratin.golongan dermatofita termasuk kelas fungi
imperfecti yang terbagi dalam 3 genus yaitu:microsparum,trichopyton dan epidermiphyton pada
dermatofitosis dapat menyerang stratum korneum pada epidermis,rambut dan
kuku.dermatofitosis sendiri berdasarkan tubuh yang diserang terbagi menjadi tinea kapitis,tinea
barbe,tinea kruris,tinea pedis,tinea unguium dan tinea korporis.
Abstrak
Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur yang mencerna keratin.
Penyakit ini menyerang jaringan yang mengandung zat keratin, yaitu stratum korneum pada
kulit, rambut dan kuku. Tinea kruris adalah penyakit dermatofitosis yang menyerang lipatan
paha,genitalia, daerah pubis, perineum dan perianal. Kebiasaan menggunakan pakaian yang ketat
dan lembab serta kebersihan yang kurang terjaga dapat menjadi faktor terjadinya tinea cruris.
Penatalaksanaan Tinea cruris ada yang secara medikamentosa dan non medikamentosa.
Kata kunci : dermatofitosis, tinea kruris, jamur pencerna keratin

Pembahasan
Skenario
Laki-laki berusia 30 tahun dating ke poliklinik dengan keluhan bercak coklat pada kedua lipatan
paha yang terasa gatal sejak 4 minggu yang lalu. Gatal terutama dirasakan saat cuaca panas atau
saat berkeringat banyak. Pasien mengobati sendiri dengan salep hidrokortison tetapi tidak
terdapat perbaikan dan kelainan kulit meluas.
Anamnesis

Riwayat Penyakit Sekarang

Kapan pertama kali pasien memperhatikan adanya ruam?


Di mana letaknya?
Apakah terasa gatal?
Adakah pemicu (misalnya makanan, sinar matahari, dan alergen potensial)?
Di mana letak benjolan?
Apakah terasa gatal?
Apakah berdarah?
Apakah bentuk/ ukuran/ warnanya berubah?
Adakah benjolan di tempat lain?
Bagaimana perubahan warna yang terjadi (misalnya pigementasi, ikterus)?
Siapa yang memperhatikan adanya perubahan warna?
Sudah berapa lama?
Adakah gejala penyerta yang menunjukkan adanya kondisi medis sistemik (misalnya
penurunan berat badan, artralgia)?
Pertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh kondisi kulit yang serius,
seperti kehilangan cairan, infeksi sekunder, penyebaran metastatik ke kelenjar getah
bening atau organ lain
Riwayat penyakit dahulu

Pernahkah pasien mengalami gangguan kulit, ruam, dan lain-lain?


Adakah riwayat kecenderungan atopi (asma, rinitis)?
Apakah pasien memiliki masalah dengan kulit di masa kecil?
Adakah riwayat kondisi medis lain yang signifikan?
Riwayat Pengobatan

Riwayat pemakaian obat yang lengkap penting bagi semua jenis pengobatan, baik
obat resep ataupun alternatif yang dimakan atau topikal.
Pernahkah pasien menggunakan obat penyakit kulit atau obat imunosupresan?
Alergi Obat

Perlu juga diketahui apakah pasien memiliki alergi obat?


Jika ya, seperti apa reaksi alergi yang timbul?
Apakah pasien mengetahui kemungkinan alergen yang lain?
Pernahkan pasien menjalani patch test atau pemeriksaan respons IgE?
2

Riwayat Penyakit Keluarga

Adakah riwayat penyakit kulit atau atopi dalam keluarga?


Adakah orang lain di keluarga yang mengalami kelainan serupa?
Bagaimana riwayat pekerjaan pasien, apakah terpapar sinar matahari, alergen
potensial, atau parasit kulit?
Apakah menggunakan produk pembersih baru, hewan peliharaan baru?
Apakah pasien baru-baru ini berpergian ke luar negeri?
Adakah pajanan pada penyakit infeksi?

Pemeriksaan Fisik
Informasi yang didapatkan dari anamnesis dapat diperkuat oleh hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik umum mencakup pemeriksaan visual (inspeksi), pemeriksaan raba (palpasi),
pemeriksaan ketuk (perkusi) dan pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop (auskultasi). Saat
akan melakukan pemeriksaan fisik dokter hasrus terlebih dahulu meminta ijin pada pasien,
terutama bila pasien harus terlebih dahulu membuka pakaian. Dokter harus menunjukan sikap
sopan dan hormat, serta tidak menunjukkan kekakuan dan canggung. Pemeriksaan dilakukan
secara sistemik dan senyaman mungkin , mulai dari melihat keadaan umum ppasien, tanda tanda
vital, pemeriksaan jantung, paru , abdomen, dan ekstremitas. 4
Selain pemeriksaan yang menjurus ke penyakit pasien, perlu juga diperiksa tanda-tanda
vital pasien antara lain suhu, tekanan darah , frekuensi darah, dan frekuensi pernapasan. 1
Pemeriksaan fisik yang pertama dilakukan adalah inspeksi (melihat). Pada pemeriksaan
kulit, dapat dilihat terutama warna kulit dan ada/ tidaknya efloresensi kulit. Diperhatikan
beberapa hal berikut:3
o

Apakah pasien sakit ringan atau berat?

Perhatikan tingkat kebersihan dan nutrisi dari penderita.

Apakah pasien tampak pucat, syok, berpigmen atau demam?

(Kondisi serius yang mengenai daerah yang luas pada kulit bisa menyebabkan kehilangan cairan
yang membahayakan jiwa dan infeksi sekunder)
o

Apa kelainan kulit yang ditemukan?

Efloresensi primer (makula, papula, plak, pustula, vesikel, ulkus, kista)?


Efloresensi sekunder (skuama, krusta, erosi, likenifikasi, atrofi, parut, ekskoriasi)?
o

Periksa kulit, kuku dan rambut secermat mungkin, periksa rongga mulut dan mata

Bagian kulit mana yang terkena


o

Tentukan perluasan dan pola distribusi?

Perluasan: Soliter, lokal, regional, generalisata, atau universal


3

Pola distribusi: a/simetris, daerah pajanan, tempat tekanan, lipatan kulit


Lokasi berhubungan dengan pakaian, pajanan sinar matahari, atau perhiasan?
o

Bagaimana warna dan bentuk lesi

Bulat, lonjong, poligonal, anular, serpiginosa, bertangkai?

Warna
Nama
Indikasi
Biru
Sianosis
Kekurangan Oksigen
Merah
Eritema
Demam, Infeksi
Putih
Pucat
Anemia
Jingga
Sirosis
Gangguan hati, pancreas
Abu-abu
Berabu
Penyakit serius,kematian
Coklat-Jingga
Perunggu
Gangguan adrenal
Ungu
Ekimosis
Memar,luka jaringan dalam
Kuning
Ikterus
Gangguan empedu
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Warna Kulit dan Indikasinya5

Efloresensi
Papul
Makula
Vesikel
Pustul
Nevus
Nodul
Dekubitus

Deskripsi
Efloresensi
Deskripsi
Penonjolan kecil
Avulsi
Jaringan tersobek keluar
Rata
Eskoriasi
Jaringan tercabut
Papul + Cairan bening
Laserasi
Potongan, tepi rata
Papul + Nanah
Fisura
Terobek akibat tekanan
Penonjolan coklat
Robekan
Tepinya tidak rata
Bengkakan dibawah kulit
Punktura
Area kecil tapi luka dalam
Ulserasi
Tabel 2. Hasil Pemeriksaan Efloresensi Kulit dan Deskripsinya5

Pemeriksaan sebaiknya dimulai dari wajah, dengan pemeriksaan difokuskan ke area


hidung, bibir, bagian dalam mulut, kelopak mata, dan telinga. Kemudian periksa kulit kepala,
rambut, hingga ke akarnya. Pemeriksaan kulit pada daerah tangan dilakukan dengan perhatian
khusus ke area diantara jari tangan dan dibawah kuku. Barulah dilanjutkan ke lengan bawah,
siku, lengan atas, bahu, dan ketiak. Pada pemeriksaan di daerah leher, dada, dan perut, jangan
lupa mengecek bagian bawah payudara (untuk pasien wanita dewasa muda). Berlanjut ke bagian
tengkuk, bagian belakang bahu, punggung, dan turun hingga ke bokong. Pemeriksaan pada
ekstremitas bawah tidak jauh berbeda dengan pemeriksaan pada ekstremitas atas. Terakhir,
barulah diperiksa daerah kemaluan.6
Pemeriksaan berikutnya barulah dilakukan palpasi (penekanan). Penggunaan sarung
tangan tidak diperlukan, kecuali pemeriksaan pada kulit maupun mukosa yang rusak, maka
menggunakan sarung tangan non-latex. Palpasi diawali secara menyeluruh, pada area-area yang
tidak mengalami lesi/ efloresensi, dengan memeriksa kasar/ tidaknya kulit serta suhu. Baru
setelah itu pemeriksaan dilakukan pada lesi individual, untuk memeriksa lunak/ tidaknya lesi,
4

permukaan lesi, dalamnya lesi, tekstur lesi, ketebalan lesi dari kulit (bila lesi menyembul),
mobilitas lesi (apakah lesi dapat digerakkan), sisik, dan pada lesi krusta, apa yang terdapat
dibawa krusta. Jangan lupa untuk menekan lesi, dan memeriksa kulit di sekitar lesi. Barulah
terakhir dilakukan diaskopi (penekanan dengan gelas transparan) untuk membedakan darah
intravascular dengan ekstravaskular.6
Pemeriksaan Penunjang
Pada tinea kruris, bahan untuk pemeriksaan jamur sebaiknya diambil dengan mengerok
tepi lesi yang meninggi atau aktif. Khusus untuk lesi yang berbentuk lenting-lenting, seluruh
atapnya harus diambil untuk bahan pemeriksaan. Pemeriksaan mikroskopik (dengan
menggunakan mikroskop) secara langsung menunjukkan artrospora (hifa yang bercabang) yang
khas pada infeksidermatofita Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis
terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk
mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan
dengan alkohol 70%.7
a. Pemeriksaan dengan sediaan basah
Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan memakai
scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes tunggu 1015 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45 kali, akan
didapatkan hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora
berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati, dan miselium
b. Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agarPemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan
bahan klinis pada medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan cyclohexamide
(mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan.
Identifikasi jamur biasanya antara 3-6 minggu (Wiederkehr, Michael. 2008)
c. Punch biopsi dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya
dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff, jamur akan tampak merah
muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam
(Wiederkehr, Michael. 2008).

Gambar 1.2 Pengecatan dengan (hematoxylin and eosin stain).


d. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan
tampak floresensi merah bata(Wiederkehr, Michael. 2008) Kebanyakan dermatofitosis tidak
fluorensen termasuklah penyebab tinea kruris. Pemeriksaan cahaya Wood dapat membantu
membezakan erithrasma yang disebabkan oleh bakteria Corynebacterium minutissimum, yang

fluoresen merah , dan tinea cruris, yang tidak fluoresen.apabila positif, uji Wood ini dapat
membantu menentukan lamanya infeksi, respon dan rawatan yang harus diberi. 7,8
Diagnosis
Working Diagnosis (WD)
Tinea Cruris
Tinea cruris termasuk dalam dermatofitosis. Dermatofitosis adalah penyakit pada
jaringan tubuh yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut
serta kuku yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita, yang mampu mencernakan
keratin. Tinea Cruris adalah dermatofitosis pada sela paha, perineum dan sekitar anus. Kelainan
ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsun seumur
hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerahgenito-krural saja atau bahkan meluas ke daerah
sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah atau bagian tubuh yang lain. Tinea cruris
mempunyai nama lain eczema marginatum, jockey itch, ringworm of the groin, dhobie itch
(Rasad, Asri, Prof.Dr. 2005).
Epidemiologi
Insiden dan prevalensi dermatofitosis cukup tinggi baik di dalam dan luar negri.9
Dermatofit tersebar diseluruh dunia dan menjadi masalah terutama di negara berkembang.
Berdasarkan urutan kejadian dermatofitosis 10% dari seluruh kasus dermatofitosis merupakan
tinea cruris.9 Angka kejadian lebih sering pada orang dewasa, terutama laki-laki dibandingkan
perempuan. Tidak ada kematian yang berhubungan dengan tinea cruris.Jamur ini sering terjadi
pada orang yang kurang memperhatikan kebersihan diri atau lingkungan sekitar yang kotor dan
lembab.10
Etiologi 10
Penyebab utama dari tinea cruris Trichopyhton rubrum (90%) dan Epidermophython fluccosum
Trichophyton mentagrophytes (4%), Trichopyhton tonsurans (6%) (Boel, Trelia.Drg.
M.Kes.2003) Lelaki lebih sering terkena daripada wanita. Maserasi dan oklusi kulit lipat paha
menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan infeksi. Tinea
kruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain. Jangkitan juga dapat
terjadi melalui sentuhan langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui
benda yang mengandung jamur, misalnya tuala, seluar, tempat tidur hotel dan lain-lain.
Trichophyton rubrum
Taksonomi dari Trichophyton rubrum adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Class

: Euascomycetes

Order

: Onygenales
6

Family

: Arthrodermataceae

Genus

: Trichophyton

Species

: Trichophyton rubrum

Pada jamur ini, mikrokonidia adalah bentuk spora yang paling banyak. Mikrokonidia
berdinding halus, berbentuk tetesan air mata sepanjang sisi- sisi hifa, pada beberapa strain
terdapat banyak mikrokonidia bentuk ini. Koloni sering menghasilkan warna merah pada sisi
yang sebaliknya. Beberapa strain dari T. rubrum telah dibedakan yaitu : T. rubrum berbulu halus
dan T. rubrum tipe granuler. T. rubrum berbulu halus mempunyai karakteristik yaitu produksi
mikrokonidia yang jumlahnya sedikit, halus, tipis, kecil, dan tidak mempunyai makrokonidia.
Sedangkan karakteristik T. rubrum tipe granuler yaitu produksi mikrokonidia dan makrokonidia
yang jumlahnya sangat banyak. Mikrokonidia berbentuk clavate dan pyriform, makrokonidia
berdinding tipis, dan berbentuk seperti cerutu. T. rubrum berbulu halus adalah strain jamur yang
paling banyak menginfeksi manusia. Strain ini dapat menyebabkan infeksi kronis pada kulit.
Sedangkan T. rubrum tipe granuler menyebabkan penyakit Tinea corporis.
Faktor- faktor pencetus infeksi jamur antara lain : lembab dan panas dari lingkungan, friksi atau
truma minor, misalnya gesekan pada paha orang gemuk, keseimbangan flora normal tubuh
terganggu karena pemakaian antibiotic atau hormonal dalam jangka panjang, penyakit tertentu
misalnya HIV/ AIDS dan diabetes, kehamilan dan menstruasi (kedua kondisi ini terjadi karena
ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga rentan terhadap jamur).
Epidermophyton floccosum
Mempunyai makrokonidia berbentuk gada berdinidng tebal dan terdirin atas 2-4 sel dan
tersusun pada satu konidiofora.beberapa makrokonidia ini tersusun pada satu konidiofor
mempunyai bentuk hifa yang lebarnya biasanya mikrokonidia tidak ditemukan.pada gambaran
mikroskopis bentuk hifa lebar,dan tersusun pada satu konidiofora,mikrokonidia biasanya tidak
ditemukan dan hal ini menyebabkan penyakit pada kelainan kulit contohnya pada tinea
korporis,tinea cruris dan tinea pedis.
Tricophyton mentagrophytes
Bersifat antropofilik.gambaran mikroskopis makrokonidia seperti tricophyton
rubrum,mikrokonidia kecil berbentuk bult dan membentuk banyak hifa spiral menyebabkan
kelainan pada rambut,kulit seperti penyakit tinea kapitis,tinea korporis,tinea cruris dan tinea
pedis.dengan corn meal agar atau potato dextrose agar maka tricphyton bewarna merah
sedangkan trichopyon mentagrophytes tidak bewarna merah.
Patofisiologi
Tinea kruris adalah penyakit infeksi berjangkit yang dapat ditularkan melalui pakaian
atau bahan yang dipakai yang terkontaminasi, seperti tuala,bantal, atau oleh autoinokulasi dari
reservoir dari tangan atau kaki (tinea manum, tinea pedis, tinea unguium). Agen penyebab ini
menghasilkan keratinases enzim yang bersifat toksin, yang membenarkan invasi ke dalam
lapisan sel tanduk pada epidermis. Respon imun badan akan menghalang invasi lebih dalam.
7

Menyebabkan mangsa merasa gatal atau sedikit panas di tempat tersebut akibat timbulnya
peradangan dan iritasi. .Faktor risiko infeksi awal atau kekambuhan adalah memakai pakaian
ketat atau basah. Peluh yang berlebihan di kawasan tertentu. Cara penularan jamur dapat secara
langsung maupun tidak langsung. Penularan langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut yang
mengandung jamur baik dari manusia, binatang, atau tanah. Penularan tidak langsung dapat
melalui tanaman, kayu yang dihinggapi jamur, pakaian debu. Agen penyebab juga dapat
ditularkan melalui kontaminasi dengan pakaian, handuk atau sprei penderita atau autoinokulasi
dari tinea pedis, tinea inguium, dan tinea manum. Jamur ini menghasilkan keratinase yang
mencerna keratin, sehingga dapat memudahkan invasi ke stratum korneum. Infeksi dimulai
dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya didalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini
menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke jaringan epidermis dan menimbulkan reaksi
peradangan. Pertumbuhannya dengan pola radial di stratum korneum menyebabkan timbulnya
lesi kulit dengan batas yang jelas dan meninggi (ringworm). Reaksi kulit semula berbentuk
papula yang berkembang menjadi suatu reaksi peradangan. Beberapa faktor yang berpengaruh
terhadap timbulnya kelainan di kulit adalah :10
a. Faktor virulensi dari dermatofita Virulensi ini bergantung pada afinitas jamur apakah jamur
antropofilik, zoofilik, geofilik. Selain afinitas ini massing-masing jamur berbeda pula satu
dengan yang lain dalam hal afinitas terhadap manusia maupun bagian-bagian dari tubuh
misalnya: Trichopyhton rubrum jarang menyerang rambut, Epidermophython fluccosum paling
sering menyerang liapt paha bagian dalam
b. Faktor trauma->Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil lebih susah untuk terserang jamur.
c. Faktor suhu dan kelembapan.kedua faktor ini jelas sangat berpengaruh terhadap infeksi jamur,
tampak pada lokalisasi atau lokal, dimana banyak keringat seperti pada lipat paha, sela-sela jari
paling sering terserang penyakit jamur.
d. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan.Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi
jamur dimana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih
rendah sering ditemukan daripada golongan ekonomi yang baik
e. Faktor umur dan jenis kelamin (Boel, Trelia.Drg. M.Kes.2003)
Penatalaksanaan
1. Medikamentosa
Penatalaksanaan medikamentosa dapat dimulai berdasarkan hasil pemeriksaan
mikroskopik langsung pada sampel kulit. Pemeriksaan mikroskopik tidak dapat membedakan
spesies namun umumnya semua spesies dermatofit diyakini memberikan respon yang sama
terhadap terapi anti jamur sistemik dan topical yang ada.10
Terapi topical dan sistemik pada dermatofita 11
Azoles (fungistatik)
Topikal

Miconazole,

Allylamines
(fungicidal)
Terbinafine
8

Lainnya
Ciclopiroxolamine(fungicidal)

Sistemik

Clotrimazole,
Ketoconazole,
Oxiconazole,
Econazole
Ketoconazole
Itraconazole
Fluconazole

, Tolnaftate,
Haloprogin

Terbinafine

Griseofulvin(fungistatic)

Pada kebanyakan kasus tinea kruris dpat dikelola dengan obat topical.Namun, steroid
topical tidak direkomendasikan. Agen topical memberikan efek menenangkan yang akan
menringankan gejala lokal. Formulasi topical dapat membasmi area yang lebih kecil dari infeksi
tetapi terapi oral diperlukan di mana wilayah infeksi yang lebih luas yang terlibat atau dimana
infeksi kronis atau berulang.12 Infeksi dermatofita dengan krim topical biasanya membutuhkan 3
sampai 4 minggu pengobatan dengan azoles dan sampai 2 minggu dengan krim terbinafine dan
tambahkan I minggu hingga secara klinis kulit bersih.13
Medikamentosa pada tinea cruris termasuk :13
1. Griseofulvin
Berbentuk fine particle dapat diberikan dengan dosis 0,5-1 untuk orang dewasa dan 0,250,5 g untuk anak anak sehari atau 10-25 mg per kg berat badan.
2. Butenafine
Salah satu antijamur topical terbaru diperkenalkan dalam pengobatan tinea kruris dalam
dua minggu pengobatan dimana angka kesembuhan 70%
3. Flukonazol (150mg sekali seminggu)
Selama 4-6 minggu terbukti efektif dalam pengelolaan tinea kruris dan tinea korporis, 74
% pasien mendapatkan kesembuhan
4. Itrakonazol
Dapat diberikan dosis 400 mg/hari diberikan sebagai dua dosis harian 200 mg untuk 1
minggu.
5. Terbinafine
250 mg/hari telah digunakan dalam konteks klinis dengan regimen umumnya 2-4 minggu
6. Itrakonazol diberikan 200 mg/hari selama 1 minggu dianjurkan meskipun rejimen 100 mg/hari
selama 2 minggu juga telah dilaporkan efektif
7. Ketokonazol bersifat fungistatik pada kasus resisten Griseofulvin dapat diberikan obat tersebut
sebanyak 200 mg perhari selama 10 hari- 2 minggu pada pagi hari setelah makan.
Non medikamentosa
9

Menggunakan pakaian yang menyerap keringat, mengeringkan tubuh setelah mandi atau
berkeringat, dan membersihkan pakaian yang terkontaminasi.12

Differential Diagnosis (DD)


1. Kandidiasis inguinal10
Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya oleh Candida
albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku,
bronki.Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki
maupun perempuan.
Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen. Faktor
endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina, kegemukan karena banyak
keringat, debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronis orang tua dan bayi, imunologik
(penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan kelembapan, kebersihan kulit kurang,
kebiasaan berendam kaki dalam air yang lama menimbulkan maserasi dan memudahkan
masuknya jamur, kontak dengan penderita.
Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian bawah payudara, bagian pusat, lipat
bokong, selangkangan, dan sela antar jari; dapat juga mengenai daerah belakang telinga, lipatan
kulit perut, dan glans penis (balanopostitis). Pada sela jari tangan biasanya antara jari ketiga dan
keempat, pada sela jari kaki antara jari keempat dan kelima, keluhan gatal yang hebat, kadangkadang disertai rasa panas seperti terbakar.
Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik,
basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lenting-lenting yang dapat berisi nanah
berdinding tipis, ukuran 2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas, Pada bagian tepi kadangkadang tampak papul dan skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting-lenting atau papul di
sekitarnya berisi nanah yang bila pecah meninggalkan daerah yang luka, dengan pinggir yang
kasar dan berkembang seperti lesi utama. Kulit sela jari tampak merah atau terkelupas, dan
terjadi lecet. Pada bentuk yang kronik, kulit sela jari menebal dan berwarna putih.
2. Eritrasma8
Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh
Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di
daerah ketiak dan lipat paha. Gejala klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Lesi
eritroskuamosa, berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. Variasi ini rupanya
bergantung pada area lesi dan warna kulit penderita. Tempat predileksi kadang di daerah
intertriginosa lain terutama pada penderita gemuk. Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang
eritematosa dan serpiginose. Lesi tidak menimbul dan tidak terlihat vesikulasi. Efloresensi yang
sama berupa eritema dan skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari eritrasma. Skuama
kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada pemeriksaan dengan
lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara (coral red).
10

3. Psoriasis
Psoriasis penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai
dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis
dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Tempat predileksi pada
skalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas ekstensor terutama siku serta lutut
dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak eritema yang meninggi (plak) dengan
skuama diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan sering
bagian di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan
berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi dapat lentikular, numular
atau plakat, dapat berkonfluensi.biasanya penderita mengeluh gatal ringan.psoariasis juga dapt
menyebabkan kelainan kuku.kelainan yang khas adalah kuku keruh ,tebal bagian distalnya
terangkat pada lapisan tanduk di bawahnya,selain di kuku dapat juga di sendi umumnya bersifat
poliartikular kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks.
4. Dermatitis Intertrignosa
Penyakit kulit ini sering timbul pada orang yang sangat muda atau sangat tua karena
menurunnya imunitas, imobilisasi,dan inkontinensia. Tidak ada perbedaan pada ras dan jenis
kelamin. Faktor pencetusnya adalah gesekan, keringat, maserasi atau iritasi dari alat, urin,
drainase atau agen topical. Intertrigo berkembang dari faktor mekanik dan infeksi sekunder.
Kelainan kulit dapat berupa eritema dan dapat menjadi maserasi dan krusta. Fisura dapat menjadi
erosi. Pustul atau vesikel dapat menandakan infeksi/peradangan.
Kesimpulan
Tinea kruris adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum dan sekitar anus.
Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun bahkan dapat seumur hidup. Lesi kulit berbatas
tegas pada daerah genitor-krural atau meluas ke sekitar anus,gluteus dan perut bawah. Kelainan
kulit yang nampak pada sela paha adalah lesi berbatas tegas. Peradangan daerah tepi lebih nyata.
Penyakit ini dapat diobati secara topical dan sistemik dengan obat anti jamur. Pencegahan
melalui edukasi kepada pasien dan penjagaan kebersihan diri.

Daftar Pustaka

11

1. Setiyohadi B, Supartondo. Anamnesis. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata


M, Setiadi S. Buku ajar ilmu penyakit dalam: jilid 1. Edisi ke-5. Jakarta Pusat: InternaPublishing;
2009. Bab 8, Anamnesis; h.25-28
2. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Lecture notes on clinical medicine. Edisi ke-6. Jakarta:
Penerbit Erlangga; 2007. h.343-4
3. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2007.
h.42-3
4. Isbagio H, Setiyohadi B. Anamnesis dan pemeriksaan fisis penyakit muskuloskeletal. Dalam:
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiadi S. Buku ajar ilmu penyakit dalam:
jilid 3. Edisi ke-5. Jakarta Pusat: InternaPublishing; 2009. Bab 384, Anamnesis; h.2445-55
5. Martin DL. Kaplan medical assistant exam review. 2nd Ed. New York: Kaplan Publishing;
2009. p.67
6. Zengeya ST, Serane TV. The MRCPCH clinical exam made simple. New York: Oxford
University Press; 2011. p.180-3
7. Prof Dr.dr.Adhi Juanda, dr.A.Kosasih, dr. Jubianto, dr.Kuswadji, dr.I.Made Wisnu dkk. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima Cetakan Keempat.Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.Jakarta. 2007. hlm 89-109
8. Stephen Gillespie, Kathleen Bamford. Mikrobiologi Medis dan Infeksi. Edisi Ketiga. Penerbit
Erlangga. Jakarta. 2009. hlm 116-117
9. Paramata NR, Maidin A, Massi N. The Comparison of Sensitivity Test of Itraconazole Agent
The Causes of Dermatophytosis in Glabrous Skin in Makassar. Makassar : Bagian Mikrobiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Makassar. 2009
10.Djaenudin Natadisastra dr.Sp.Park. Parasitologi Kedokteran Ditinjau dari Organ Tubuh yang
Diserang. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2009. hlm 274-276
11. Risdianto A, Kadir D, Amin S. Tinea corporis dan tinea cruris cause by trichophyton
mentagrophytes type granular in asthma bronchiale patient. Department of Dermatovenerology
Universitas Hasanuddin.2013.
12. Nadalo D, Montoya C. What is the best way to treat tinea cruris?. The journal of Family
Practice. 2006; 55(3):256-7
13. Haber M. Dermatological fungal infections. Canadian Journal of Diagnosis University od
Calgarys. 2007.

12