Anda di halaman 1dari 21

Fraktur Tertutup

Samuel Wosangara Billy


NIM : 102012152, Kelompok: E7
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2012, Jl.
Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510, Telp : 021-56942061, Fax : 021-563173, Email : samuelwosangara@gmail.com

Skenario
Seorang perempuan berusia 60 tahun, dibawa keluarganya ke UGD RS
dengan keluhan nyeri pada lengan bawah sebelah kanan, setelah jatuh
terduduk di kamar mandi dengan posisi tangannya menahan berat tubuhnya
2 jam yang lalu. Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital dalam batas
normal. Tampak adanya edema dan deformitas pada regio antebrachii dextra
1/3 distal. Pada palpasi, teraba adanya penonjolan fragmen tulang pada
bagian dorsal os radius 1/3 distal, nyeri tekan (+), tidak dapat digerakkan.

Pendahuluan
Latar Belakang
Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dalam kehidupan manusia,
alat gerak tubuh yang melibatkan kerja sama dari tulang, sendi, saraf, dan
otot merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk mendukung dan
membantu aktivitas. Akan tetapi, dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,
gangguang-gangguan terhadap alat gerak tubuh tersebut juga sering terjadi.
Gangguan yang tidak asing lagi ditemui terhadap alat gerak tubuh
melibatkan tulang adalah terjadinya fraktur pada tulang. Fraktur sendiri
1 | Page

adalah terputusnya keutuhan tulang yang umumnya disebabkan akibat


trauma. Fraktur tulang ini digolongkan sesuai jenis dan arah garis fraktur.

Rumusan Masalah
Dalam skenario yang dibahas dalam karya ilmiah ini, terdapat suatu
masalah. Masalah yang terdapat dalam karya ilmiah ini adalah adanya
seorang perempuan berusia 60 tahun mengalami nyeri pada lengan bawah
sebeblah kanan setelah jatuh terduduk dengan posisi tangannya menahan
berat tubuhnya. Pada pemeriksaan fisik, tanda - tanda vital nomal. Pada
perempuan ini juga tampak adanya edema dan deformitas pada regio
antebrachii dextra 1/3 distal. Dan pada palpasi teraba adanya penonjolan
fragmen tulang pada bagian dorsal os radius 1/3 distal, nyeri tekan (+) dan
tidak dapat digerakkan.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memberikan evaluasi
yang membuat pembaca karya ilmiah ini mengetahui mengenai apa itu
fraktur

berdasarkan

mengetahuinya

jenisnya

melalui

dan

amnanesa,

proses

mekanismenya,

pemeriksaan

fisik,

serta

pemeriksaan

penunjang, dan diagnosa. Karya ilmiah ini juga memberikan evaluasi


mengenai terapi, prognosis, komplikasi, dan pencegahan sehingga dapat
memberikan pelajaran yang berguna dan menjalankannya dalam kehidupan
sehari-hari.

2 | Page

Analisa Masalah

Rumusan
Masalah h.2
types of bone fractures

Kalsifikasi Fraktur

Amnanesis
Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis

Patofisiologi
Terapi

Komplikasi
Pencegahan

Prognosis
3 | Page

Hipotesis
Masalah yang dialami perempuan tersebut dapat diakibatkan oleh
faktor usia.

Isi
Fraktur
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang atau patahnya tulang.
Fraktur bisa bersifat patahan sebagian atau patahan utuh pada tulang yang
paling sering disebabkan oleh trauma. Fraktur sering terjadi pada anak-anak.
Fraktur

bisa

mengkhawatirkan

jika

terjadi

kerusakan

pada

lempeng

pertumbuhan, yaitu area tulang tempat pertumbuhan terjadi karena


kerusakan pada area ini bisa menyebabkan pertumbuhan yang tidak teratur
atau pemendekan tulang. Fraktur juga bisa melibatkan jaringan otot, saraf,
dan pembuluh darah di sekitarnya. Namun tulang anak - anak lebih mudah
pulih setelah fraktur dibandingkan tulang orang dewasa. Tulang anak - anak
juga memiliki lebih banyak pembuluh darah serta lapisan pelindung yang
lebih tebal dan kuat yang mengandung lebih banyak sel-sel pembentuk
tulang daripada tulang dewasa.1
Beberapa fraktur dapat terjadi setelah trauma minimal atau tekanan
ringan apabila tulang lemah atau tulang sendi sudah ada kelainan. Hal ini
disebut sebagai fraktur patologis. Fraktur patologis sering terjadi pada lansia
yang mengalami osteoporosis atau individu yang mengalami tumor tulang,
infeksi, atau penyakit lain.1
4 | Page

Sedangkan beberapa fraktur lainnya dapat terjadi akibat fraktur stres


yang

terjadi

pada

tulang

normal

akibat

stres

tingkat

rendah

yang

berkepanjangan atau berulang. Fraktur stres juga disebut sebagai fraktur


keletihan (fatigue fracture). Fraktur stres paling sering terjadi pada individu
yang melakukan olahraga daya tahan seperti pelari jarak jauh.1
Gejala klinis fraktur adalah didapatkan adanya riwayat trauma,
hilangnya fungsi, tanda tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat,
pembengkakan local, merah / perubahan warna, dan panas pada daerah
tulang yang patah. Selain itu ditandai juga dengan deformitas, dapat berupa
angulasi, rotasi, atau pemendekan, serta krepitasi. Apabila fraktur terjadi
pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan LGS
(lingkup gerak sendi), pseudoartrosis dan gerakan abnormal. Selain itu ada
juga tanda tanda yang tidak pasti, yakni oedem, nyeri (nyeri gerak dan
nyeri sumbu), dan memar.2

Kalsifikasi Fraktur
Fraktur pada tulang terdapat 4 jenis yaitu fraktur tertutup, terbuka,
complete, dan incomplete. Namun terdapat juga beberapa jenis khusus
fraktur berdasarkan bentuk garis patah, jumlah garis patah, dan bergeser
atau tidaknya bergeser.3
I. Fraktur tertutup atau fraktur sederhana tidak merusak atau
menembus kulit diatasnya.
II. Fraktur terbuka adalah fraktur yang merusak atau menembus kulit
diatasnya, sehingga terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar.

5 | Page

III. Fraktur komplit adalah fraktur tulang dimana terjadi fraktur pada
seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran
IV. Fraktur tidak lengkap adalah fraktur dimana tempat terjadinya
fraktur hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

Gambar 1. Jenis-Jenis Fraktur4

Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme


trauma, fraktur dapat dibagi menjadi 5 antara lain:3
I. Garis patah melintang

: trauma angulasi atau langsung

II. Garis patah oblique

: trauma angulasi

III. Garis patah spiral

: trauma rotasi

IV. Fraktur kompresi

trauma

aksial-fleksi

pada

tulang

spongiosa
V. Fraktur Avulsi

: trauma tarikan atau traksi otot pada tulang


6 | Page

Gambar 2. Jenis-Jenis Fraktur Berdasarkan Bentuk Garis Patah Tulang 3

Berdasarkan jumlah garis patah fraktur dapat dibagi menjadi 3 antara


lain:3
I. Fraktur kominutif
Garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
II. Fraktur segmental

7 | Page

Garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis
patah disebut pula fraktur bifokal.
III. Fraktur multipel
Garis patah yang terjadi lebih dari satu, tetapi pada tulang yang
berlainan tempatnya.

Gambar 3. Jenis-Jenis Fraktur Berdasarkan Jumlah Garis Patah3

Berdasarkan bergeser atau tidak bergeser, fraktur dibedakan menjadi


fraktur undisplace atau fraktur yang tidak bergeser, dimana garis patah
komplit namun kedua fragmen tidak bergeser. Sedangkan fraktur displace
atau fraktur bergeser terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga
disebut sebagai dislokasi fragmen.3

8 | Page

Anamnesis
Anamnesis adalah suatu teknik pemeriksaan yang dilakukan lewat
suatu

percakapan

mempunyai

tujuan

antara

seorang

untuk

dokter

mengetahui

dengan

kondisi

pasiennya,

pasien

dan

yang
untuk

mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya. Jenis anamnesis


yang

dapat

dilakukan

ialah

autoanamnesis

dan

alloanamnesis.

Autoanamnesis dapat dilakukan jika pasien berada dalam keadaan sadar.


Sedangkan bila pasien tidak sadar, maka dapat dilakukan alloanamnesis
yang

menyertakan

kerabat

terdekatnya

yang

mengikuti

perjalanan

penyakitnya.5
Anamnesis sendiri terdiri dari beberapa pertanyaan yang dapat
mengarahkan kita untuk dapat mendiagnosa penyakit apa yang diderita oleh
pasien. Pertanyaan tersebut meliputi:6
a. Identitas
Menanyakan nama, umur, dan jenis kelamin pemberi informasi
(misalnya adalah pasien, keluarga, dll)
b. Keluhan utama
Pernyataan dalam bahasa pasien tentang permasalahan yang sedang
dihadapi

yang

membawanya

untuk

datang

berobat

ke

dokter.

Berdasarkan skenario7, diketahui bahwa keluhan utama pasien adalah


nyeri pada lengan bawah sebelah kanannya setelah jatuh di kamar
mandi 2 jam yang lalu.
c. Riwayat penyakit sekarang (RPS)
Menjelaskan penyakit berdasarkan kualitas, kuantitas, latar belakang,
waktu (kapan penyakitnya dirasakan, faktor faktor apa yang
membuat

penyakitnya

membaik

memburuk,

apakah

keluhan

konstan / hilang timbul. Informasi harus dalam susunan yang


kronologis,

termasuk

test

diagnostic

yang

dilakukan

sebelum

kunjungan pasien). Riwayat penyakit dan pemeriksaan apakah ada


demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah,
obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis.
9 | Page

Pada skenario didapatkan status lokalis region femur dekstra tampak


adanya edema, hematom, deformitas, posisi abduksi dan sedikit
eksorotasi, palpasi teraba fragmen tulang, terdapat nyeri tekan dan
terdapat nyeri gerak.
d. Riwayat penyakit dahulu (RPD)
Pernahkah pasien mengalami gejala yang sama sebelumnya.
e. Riwayat keluarga
Menanyakan umur, status anggota keluarga (hidup/meninggal), dan
apakah ada masalah kesehatan pada anggota keluarga.
f. Riwayat psychosocial (sosial)
Stressor (lingkungan kerja / sekolah, tempat tinggal), faktor resiko gaya
hidup (makan makanan sembarangan / tidak.

Dalam melakukan anamnesis riwayat penyakit sekarang, hal yang perlu


ditanyakan pada pasien yang datang dengan keluhan pada ekstremitasnya
adalah:
-

Riwayat

penyebab,

seperti

menanyakan

bagaimana

kejadiannya

sehingga mengalami keluhan utama


Sejak kapan terjadinya
Dimana letak traumanya
Gerakan apa saja yang tidak dapat dilakukan setelah kejadian terjadi
Apakah ada tempat lain yang mengalami nyeri
Bagaimana kesadarannya ketika kejadian sedang terjadi
Gejala lain yang muncul seperti demam, bengkak, dan lain-lain
Keluhan lain yang dirasakan pasien

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari
seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis
penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis
dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan
10 | P a g e

perencanaan perawatan pasien. Pemeriksaan fisik keadaan umum di mulai


dengan pengukuran tanda-tanda vital yang meliputi nadi, suhu tubuh,
tekanan darah, dan pernapasan. Namun pada melakukan pemeriksaan fisik
untuk mendiagnosa fraktur, diperlukan juga pemeriksaan status lokalis.7
Pada saat melakukan pemeriksaan status lokalis, yang perlu dilakukan
adalah look, feel, dan move. Ketika melakukan look atau melihat, kita dapat
mendapatkan apakah adanya deformitas dan fungsio laesa. Sedangkan
ketika melakukan feel kita bisa melihat apakah terdapat nyeri tekan dan
nyeri sumbu. Dan yang terakhir ketika melakukan move, kita dapat melihat
apakah ada krepitasi, nyeri ketika digerakkan, memeriksa seberapa jauh
gangguan-gangguan fungsi, dan gerakan yang tidak normal.3
Berdasarkan skenario yang terdapat pada karya ilmiah ini, pada
pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien perempuan berusia 60 tahun ini
memiliki tanda-tanda vital yang normal, kesadarannya compos mentis,
keadaan umumnya sakit berat, mengalami deformitas pada regio antebrachii
dextra, edema, nyeri tekan, penonjolan fragmen tulang, dan tidak dapat
digerakkan.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang adalah pemeriksaan yang dapat membantu
dokter untuk menyingkirkan diagnosis pembanding, untuk menegakkan
diagnosis, maupun untuk memilih terapi yang tepat untuk dijalankan oleh
pasien. Dalam memilih pemeriksaan penunjang, dokter haruslah bijaksana
dan haruslah mempertimbangkan berbagai faktor yang terlibat, selain itu
pemeriksaan penunjang yang akan di jalankan oleh pasien haruslah
informative untuk dokter tersebut. Beberapa pemeriksaan penunjang yang
dapat dilakukan oleh pasien tersebut adalah pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan radiologi antara lain:2,8
11 | P a g e

I. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang mungkin dapat dilakukan pada fraktur
adalah analisa cairan sendi, dan BMD untuk mengetahui faktor resiko
terjadinya fraktur.
II. Pemeriksaan radiologi

Roentgen
Foto roentgen harus memenuhi beberapa syarat antara lain
adalah:
Letak patah tulang di pertengahan foto dan sinar harus

menembus tempat secara tegak lurus


Dibuat 2 lembar foto dengan arah yang saling tegak lurus
Pada tulang panjang, persendian proksimal dan distal harus

turut difoto
Bila sanksi, buat foto anggota gerak yang sehat sebagai

pembanding
Bila tidak diperoleh kepastian adanya kelainan, seperti fisura,
sebaiknya foto diulang setelah satu minggu karena daerah
yang retak akan mengalami hyperemia sehingga terlihat
sebagai dekalsifikasi

CT scan.
Pemeriksaan khusus seperti CT scan kadang diperlukan
misalnya dalam hal patah tulang vertebra dengan gejala
neurologis. CT scan biasanya penting untuk memahami posisi

semua fragmen fraktur pada fraktur intraartikular kompleks.


MRI
MRI digunakan untuk mengevaluasi jaringan lunak, fraktur akut,
fraktur

trauma,

intraartikular.

cedera

MRI

medulla

sekarang

spinalis,

umum

dan

patologi

digunakan

mendiagnosis fraktur akut yang tidak terbaca di film polos.


Arteriografi
Arteriografi penting dilakukan untuk mengevaluasi

untuk

dan

memastikan tidak ada sendi yang rusak.


12 | P a g e

Diagnosa
Diagnosa pada skenario yang terdapat pada karya ilmiah dapat dibagi
menjadi working diagnosis dan differential diagnosis.
Working Diagnosis
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah
dilakukan terhadap pasien pada skenario, diduga bahwa pada tubuh pasien
terdapat adanya fraktur tertutup antebrachii dextra distal 1/3. Jenis fraktur
yang dialami pasien adalah fraktur tertutup, dimana fraktur ini terjadi dan
tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau
permukaan kulit. Fraktur dapat terjadi pada semua bagian tubuh dan salah
satunya adalah fraktur antebrachii 1/3 distal yaitu suatu patah yang
mengenai 1/3 bagian bawah tulang tulang tangan.3
Differential Diagnosis
Pada skenario yang terdapat pada karya ilmiah ini, sebelum ditemukan
working diagnosis, terdapat differential diagnosis yang diantaranya adalah
colles fraktur, smiths fraktur, galeazzi fraktur dislokasi, dan barton fraktur.
I. Colles fraktur adalah fraktur atau patah yang terjadi pada metafisis
distal radius. Kebanyakan dijumpai pada penderita-penderita wanita >
umur 50 tahun, karena tulang pada wanita > 50 tahun mengalami
osteoporosis post menopause. Biasanya colles fraktur ini dialami oleh
penderita jatuh terpeleset dan sedang tangan berusaha menahan
badan dalam posisi terbuka dan pronasi. Gejala klinik pada colles
fraktur pada inspeksi bentuk khas yang dapat dilihat seperti sendok
makan. Gejala-gejala yang lain seperti lazimnya gejala patah tulang
yaitu adanya pembengkakan, nyeri tekan, dan nyeri gerak. Pengobatan
pada

colles

fraktur

tanpa

adanya

dislokasi

hanya

diperlukan
13 | P a g e

immobilisasi dengan pemasangan gips sirkular below elbow selama 4


minggu.

Sedangkan

pada

fraktur

colles

yang

disertai

dislokasi

diperlukan tindakan reposisi tertutup. Pada reposisi tertutup dapat


dilakukan dengan tindakan lokal anestesi atau dengan anestesi
umum.3
II. Smiths fraktur merupakan fraktur yang lebih jarang terjadi
dibandingkan colles fraktur. Smiths fraktur ini banyak dijumpai pada
penderita laki-laki muda. Smiths fraktur ini biasanya dialami oleh
penderita jatuh, tangan menahan badan, sedang posisi tangan dalam
volar fleksi pada pergelangan tangan, pronasi. Garis patah biasanya
transversal, namun kadang-kadang intraartikular. Pengobatan yang
dilakukan pada smiths fraktur adalah dilakukannya reposisi dalam
anestesi lokal atau anestesi umum. Setelah itu dimobilisasi dalam gips
sirkulasi di bawah siku selama 4-6 minggu.3
III. Galeazzi fraktur dislokasi adalah fraktur radius 1/3 distal disertai
dislokasi sendi radio ulnar distal. Radius-ulna dihubungkan oleh
jaringan yang kuat yaitu membran interosseus sehingga apabila terjadi
salah satu tulang yang patah, dan tulang yang patah tersebut
dislokasi, pasti disertai dislokasi sendi yang berdekatan. Fraktur ini
biasanya terjadi pada anak-anak muda laki-laki akibat jatuh dengan
tangan terbuka menahan badan dan terjadi pula rotasi. Hal ini
menyebabkan patah pada radius 1/3 distal dan fragmen distalproksimal mengadakan angulasi ke anterior. Gejala klinik pada fraktur
ini adalah adanya tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal.
Pada pergelangan angan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna. Terapi
yang dapat dilakukan pada fraktur ini adalah dilakukannya reposisi
tertutup. Bila hasilnya baik, maka dilakukan immobilisasi dengan gips
sirkular di atas siku, dipertahankan selama 4-6 minggu. Jika hasil
reposisi kurang baik, maka diperlukan tindakan operasi reposisi
terbuka dengan internal fiksasi.3
14 | P a g e

IV. Barton fraktur adalah fraktur yang terjadi akibat terjatuh dengan
tangan terentang. Fraktur oblique intraartikular ini mengenai tepi
dorsal radius bagian distal. Terkadang hal ini juga ada kaitannya
dengan

dislokasi

persendian

pergelangan

tangan.

Bila

fraktur

mengenai permukaan volar radius bagian distal, fraktur ini disebut


sebagai kebalikan fraktur barton.3

Patofisiologi
Ketika tulang patah atau fraktur akan mengakibatkan terpajannya
sum-sum tulang atau pengaktifan saraf simpatis yang mengakibatkan
tekanan

dalam

sum-sum

tulang,

sehingga

merangsang

pengeluaran

katekolamin yang yang akan merangsang pembebasan asam lemak kedalam


sirkulasi yang menyuplai oragan, terutama organ paru sehingga paru akan
terjadi penyumbatan oleh lemak tersebut maka akan terjadi emboli dan
menimbulkan

distress

menyebabkan

fraktur

atau
(terbuka

kegagalan
atau

pernafasan.

tertutup)

yang

Trauma

yang

mengakibatkan

perdarahan terjadi disekitar tulang yang patah dan kedalam jaringan lunak
disekitar tulang tersebut dan terjadi perdarahan masif yang bila tidak segera
ditangani akan menyebabkan perdarahan hebat, terutama pada fraktur
terbuka (shock hypopolemik).9
Perdarahan masif pada fraktur tertutup akan meningkatkan tekanan
dalam suatu ruang diantara tepi tulang yang fraktur sehingga menyebabkan
oedema yang akan menekan pembuluh darah dan saraf disekitar tulang
yang fraktur sehingga terjadi sindrom kompartemen. Dengan adanya
sindrom kompartemen, warna jaringan menjadi pucat, sianosis, nadi lemah,
mati rasa, dan nyeri hebat. Perdarahan masif ini juga dapat menyebabkan
terjadinya hematoma pada tulang yang fraktur yang akan menjadi bekuan
fibrin yang berfungsi sebagai jalan untuk melekatnya sel-sel baru. Aktivitas
osteoblas segera teransang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut
15 | P a g e

sebagai kalus. Bekuan fibrin direabsorbsi sel-sel tulang baru secara perlahan
dan mengalami remodeling atau pembentukan tulang sejati. Tulang sejati ini
nanti akan menggantikan kalus dan secara perlahan-lahan mengalami
kalsifikasi menjadi tulang yang matur.9
Namun

secara

fisiologis,

tulang

mempunyai

kemampuan

untuk

menyambung sendiri setelah patah tulang. Proses penyambungan tulang


pada setiap individu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi
penyambungan tulang adalah usia pasien, jenis fraktur, lokasi fraktur, suplai
darah, dan kondisi medis yang menyertainya.9

Terapi
Pada kasus fraktur, pasien akan merasakan sakit terutama jika fraktur
hebat. Terkadang rasa sakit tersebut tidak tertahankan sehingga perlu
dibantu dengan obat-obatan analgesic seperti dari golongan NSAID. Pada
trauma berat, sangat mungkin untuk diberikan obat analgesic golongan
opioid. Selain itu untuk membantu mempercepat pemulihan tulang dibantu
dengan banyak mengkonsumsi kalsium dan vitamin D baik dari makanan
maupun suplemen tambahan.10
Pengobatan pada fraktur dibagi menjadi dua yaitu terapi konsevatif
atau operatif. Tujuan dari terapi ini adalah untuk mengembalikan fungsi
tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin.3

I. Terapi konservatif

Proteksi
Untuk fraktur dengan kedudukan yang baik.

Imobilisasi saja tanpa reposisi


16 | P a g e

Pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan


fraktur dengan kedudukan yang baik.

Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips


Melakukan reposisi dengan anestesi umum atau anestesi lokal
dengan menyintikkan obat anestesi dalam hematoma fraktur.
Fragmen

distal

dikembalikan

terhadap

fragmen

proksimal

pada
dan

kedudukan

semula

dipertahankan

dalam

kedudukan yang stabil dalam gips.

Traksi
Traksi dapat digunakan pada fraktur untuk reposisi secara
perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips
setelah tidak sakit lagi. Pada anak-anak dapat dipakai traksi
kulit. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban <5kg,
untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk
dipakai sebagai traksi definitif, bilaman tidak dapat diteruskan
dengan imobilisasi gips. Untuk orang dewasa, traksi definitif
harus traksi skeletal berupa balanced traction.

II. Terapi operatif

Reposisi terbuka dan fiksasi interna


Reposisi tertutup dan fiksasi eksterna
Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikut fiksasi

interna
Excisional arthroplasty
Eksisi fragmen dan pemasangan endoprostesis

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur dapat muncul pada saat
penyembuhan fraktur, komplikasi yang muncul dini, dan komplikasi lanjut.3
I. Komplikasi penyembuhan fraktur
17 | P a g e

Malunion
Fraktur sembuh dengan deformitas (angulasi, perpendekan, atau
rotasi).
Delayed union
Fraktur sembuh dalam jangkat waktu yang lebih dari normal
Nonunion
Fraktur yang tidak menyambung yang juga disebut sebagai
psuedartrosis. Disebubt nonunion bila tidak menyambung dalam
waktu 20 minggu. Pada fraktur dengan kehilangan fragmen
sehingga ujung-ujung tulang berjauhan, maka dari awal sudah
potensial menjadi nonunion dan boleh diberlakukan sebagai
nonunion.

II. Komplikasi dini

Compartment syndrome
Lesi medula spinalis atau saraf perifer
Emboli lemak

III. Komplikasi lanjut

Kekakuan sendi / kontraktur


Diuse atrofi otot-otot
Malunion
Nonunion / infected nonunion
Gangguan pertumbuhan (fraktur epifisis)
Osteoporosis post trauma

Pencegahan
Pencegahan agar tidak terjadinya fraktur adalah dengan menjaga atau
berhati-hati dan waspada ketika melakukan aktivitas serta mengkomsumsi
sumber-sumber kalsium, antara lain:11

18 | P a g e

Kalsium, dapat membantu dalam memperkuat pembentukan tulang,


membuat tulang jadi padat dan tulang tetap sehat seiring kita

bertambah usia. Kalsium adalah mineral yang penting dalam hidup.


Vitamin K, berperan banyak dalam berbagai fungsi tubuh, tetapi
penelitian ilmiah telah menghubungkan nutrisi penting ini dengan
kesehatan tulang. Studi yang berlangsung saat ini mengindikasi bahwa
vitamin K dapat mencegah penyerapan kembali dan masuknya
makanan secara cukup, dimana hal ini penting untuk mencegah

kerapuhan tulang.
Vitamin D, selalu memainkan peranan penting dalam membangun dan
melindungi tulang. Vitamin D membantu daya serap kalsium, dan
memiliki kandungan vitamin D rendah memiliki tingkat kepadatan
tulang yang rendah. Mereka juga memiliki kecenderungan akan tulang
rapuh seiring bertambahnya umur. Vitamin D secara alami bisa
diperoleh di dalam makanan tertentu saja (misal minyak ikan cod),
tetapi juga dapat memperolehnya dari sinar matahari, dan banyak

makanan yang sudah diperkuat dengan nutrisi.


Magnesium, memiliki banyak fungsi bagi tubuh, dan salah satunya
adalah untuk membuat tulang tetap kuat (50% dari tubuh magnesium
ditemukan

dalam

tulang).

Memakan

berbagai

makanan

dapat

membantu untuk menjamin magnesium masuk ke tubuh secara cukup.


Wanita diatas 30 tahun harus memenuhi sekitar 320mg magnesium
setiap hari, sedangkan pria sekitar 400-420mg. Jumlah tersebut mudah
didapatkan dengan mengkonsumsi, kacang-kacangan seperti almond,
kacang kedelai, gandum, dan sayuran yang berwarna gelap seperti
bayam.

Prognosis
Prognosis tergantung pada jenis dan lokasi fraktur antebrachii, usia
dan status kesehatan individu serta adanya cedera secara bersamaan. Pada
19 | P a g e

individu-individu di atas usia 60 dengan fraktur antebrachii tertutup memiliki


tingkat kematian 17%. Tingkat non-union adalah sekitar 1%. Masalah
permanen dengan gaya berjalan mungkin terjadi, dan kecacatan/deformitas
dapat diakibatkan dari cedera lain yang berkelanjutan pada saat fraktur.9

Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan skenario yang terdapat dalam karya ilmiah ini, dengan
melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan terhadap
pasien, didapatkan bahwa pasien mengalami fraktur pada regio antebrachii
dextra 1/3 distal. Dalam penanganan fraktur perlu diperhatikan prinsip
reposisi

dan

menyambung

imobilisasi
kembali

supaya

dan

fungsi

berfungsi

bagian

dengan

yang

baik

dan

patah

dapat

tidak

terjadi

komplikasi.

Daftar Pustaka
1. Corwin EJ. Sistem muskoskeletal. Buku Saku Patofisiologi. 3 rd ed.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2009.h. 335-52
2. Sabiston DC. Sabiston Textbook of Sugery : the biological basis of
modern surgical practice. 19th ed. Philadelphia: Churchill Livingstone
Elsevier; 2012.p.441, 48091
3. Sapardan S, Simbardjo D. Orthopaedi. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah.
Tangerang: Binarupa Aksara; 2010.h. 457-83
4. Tambayang J. Gangguan fungsi muskoskeletal. Patofisiologi Untuk
Keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2000.h.124-5
5. Supartondo, Setiyohadi B. Anamnesis. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
5th ed. Jakarta: Interna Publishing. 2009.h.25-7.
6. Gleadle J. Anamnesis dan pemeriksaan fisik. At a Glance. Jakarta;
Erlangga. 2005.h.12-52.
20 | P a g e

7. Berman A, Snyder S, Kozer B, Erb G. Pengkajian kesehatan pada orang


dewasa.

Buku

Ajar

Praktik

Keperawatan

Klinis.

Jakarta:

Buku

Kedokteran EGC; 2009.h. 56-61


8. Ekayuda I. Trauma skelet. In: Sjahriar Rasad. Radiologi diagnostik. 2 nd
ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2011.h.312
9. Klippel JH. Primer on the rheumatic disease. Gout, Epidemiology,
Pathology and Pathogenesis. 12th ed. Atlanta: Arthritis Foundation;
2008.p. 307-24
10.
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2009. Hal.
904-6.
11.

Freddy PW, Sulistia Gan. Analgesik antipiretik analgesik anti-

inflamasi dan obat gangguan sendi lainnya. Farmakologi. 5 th ed.


Jakarta: FKUI; 2007.h.230-46.

21 | P a g e

Anda mungkin juga menyukai